Anda di halaman 1dari 20

BAB II ANALISA RESEP

2.1 Contoh Resep dari Poliklinik Penyakit Dalam

Keterangan Resep Klinik Tanggal Nama Pasien Umur No. RMK Alamat Pekerjaan Keluhan Utama Diagnosis 2.2. Analisa Resep 2.2.1. Penulisan resep Resep pada penulisan sudah ditulis dengan menggunakan tinta, sehingga diharapkan tulisan pada kertas resep tidak akan hilang selama penyimpanan. Secara umum resep kurang jelas terbaca dan sulit untuk dipahami. Sebaiknya suatu resep harus jelas dibaca sehingga apoteker lebih mudah membaca dan tidak menimbulkan kesalahan dalam pemberian obatobatan. Hal ini sesuai dengan aturan penulisan resep yang benar bahwa tulisan harus dapat dibaca dengan jelas agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian obat. : Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Ulin Banjarmasin : 29 November 2012 : Ny. Fauziah : 58 Tahun : 0-90-71-45 : Jl. Belitung No.25, Banjarmasin. : Swasta : Gatal di perut, bokong, dan tidak bias menahan kencing : DM tipe 2 + Tinea Corporis

10

Resep sudah ditulis dengan bahasa latin sehingga memenuhi kriteria resep yang benar.

Resep ini tidak menyertakan aturan pakai obat yang sesuai standar penulisan resep rasional. Aturan pemakaian seperti jumlah obat yang dikonsumsi sekali minum, kekuatan sediaan, aturan penggunaan sesudah atau sebelum makan, dan aturan penggunaan krim tidak disertakan.

Ukuran panjang kertas resep sekitar panjang 15 cm dan lebar 10 cm sesuai dengan ukuran resep ideal yaitu dengan lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm.

2.2.2. Kelengkapan Resep 1. Nama dan Alamat Dokter Identitas dokter berupa nama dokter penulis sudah tertulis pada resep, unit di Rumah Sakit tempat dokter tersebut bekerja juga sudah dicantumkan. Namun, dokter tidak mencantumkan tanda tangan. Almat lengkap rumah sakit juga tidak tercantum. 2. Nama kota serta tanggal dibuat Nama kota serta tanggal sudah ditulis. 3. Tanda R/ (superscriptio). Tanda R/ pada obat pertama yang diresepkan sudah tercantum. Namun, pada obat berikutnya yang diresepkan, tidak dicantumkan. 4. Inscriptio a) Pada resep mencantumkan nama setiap jenis obat/bahan yang diberikan. Jenis/bahan obat dalam resep ini terdiri dari : 11

Remedium

Cardinale

atau obat pokok yang

digunakan adalah Metformin 500 mg. Obat pokok lainnya untuk antijamur Ketokonazole tablet 200 mg dan Miconazole krim 2% juga digunakan. Pada resep, penulisan remedium cardinal tidak berurutan dari yang paling utama penyebab penyakit ini. Sebaiknya diawali dengan Metformin kemudian obat antifungi. Remedium Adjuvans atau obat tambahan yang digunakan dalam resep ini adalah antihistamin H1 yaitu Interhistin berisi Mebhidrolin Napadisilat 50 mg. Corrigens, resep ini tidak ada corrigens, karena bukan resep magistralis. Constituens atau vehikulum, resep ini tidak

menggunakan constituens atau vehikulum karena bukan resep magistralis. b) Resep ini tidak disertai penulisan sediaan obat pada Ketokonazole, Metformin dan Interhistin. c) Resep ini tidak mencantumkan berat tablet yang diinginkan. d) Resep ini sudah disertai penulisan jumlah obat yang ingin diberikan dan dituliskan dengan angka romawi. Namun, dokter tidak menuliskann berapa jumlah obat yang dikonsumsi sekali minum obat. 5. Subscriptio yang berisi cara pembuatan obat dan bentuk sediaan yang akan dibuat. Pada resep ini tidak dicantumkan cara pembuatan obat karena bukan merupakan resep magistralis.

12

6. Signatura a. Signatura telah dicantumkan. b. Aturan pakai obat pada resep ini tidak tercantum dengan lengkap. Pada setiap obat, penulisan dosis aturan pakai tidak baku serta tidak mencantumkan waktu pemakaian obat tersebut terutama pada penggunaan krim. Jadi pada resep ini tidak dapat diketahui berapa tablet yang dikonsumsi pasien sekali minum dan tidak diketahui kapan waktu pemberian obat (misalnya a.c, p.c, atau d.c). Penulisan dosis aturan pakai menggunakan bahasa latin dan singkatan yang sudah lazim dipakai secara internasional, seperti tdd (untuk 3 kali sehari), bdd (untuk dua kali sehari), bukan menggunakan angka arab. 7. Paraf dari dokter yang menuliskan resep tidak ada pada setiap obat yang diberikan. 8. Resep tidak ditutup. 9. Identitas pasien. Nama penderita sudah ditulis, namun usia, berat badan, dan dan alamat tidak ada. Seharusnya identitas penderita ditulis lengkap agar resep tidak tertukar saat pengambilan dan mudah menelusuri bila terjadi sesuatu dengan obat penderita. 2.2.3. Keabsahan Resep Kertas resep yang digunakan di sini adalah resep dokter rumah sakit. Untuk sahnya suatu resep harus tercantum hal-hal sebagai berikut :

13

Nama dokter penulis resep sudah tercantum begitu juga bagian/unit pelayanan Rumah Sakit tersebut tetapi tanda tangan dokter tidak tercantum. Pada setiap obat juga tidak diberikan paraf dokter.

Karena resep berasal dari rumah sakit, maka harus mencantumkan nama, alamat, bagian/unit pelayanan rumah sakit tersebut. Pada resep ini tidak tertulis alamat lengkap rumah sakit, hanya tertulis kota tempat rumah sakit berada. Bagian/unit telah dicantumkan.

Nama penderita sudah ditulis tapi tidak disertai dengan usia, berat badan dan alamat.

2.2.4. Dosis Obat, Frekuensi, Lama dan Waktu Pemberian Pada resep ini, obat yang digunakan adalah Ketokonazole, Mikonazole, Metformin, Interhistin. Pilihan penggunaan obat-obat tersebut akan dibahas dibawah ini. 1. Ketokonazole Kandungan obat ini adalah Ketokonazole golongan Azole. Indikasi pemberian obat ini adalah sebagai antifungi. Terapi sistemik direkomendasikan pada tinea corporis dengan keterlibatan infeksi kulit yang luas, immunosupresi, resisten terhadap terapi topikal, dan adanya infeksi bersamaan dengan dermatofitosis lain. Pemberian sistemik juga harus mempertimbangkan efek samping dari obat (5). Dosis referensi: dosis Ketokonazol 200-400 mg per hari diberikaan saat makan selama 3 minggu (6). Ada juga referensi lain yang menyebutkan

14

pemberian selama 10 hari - 2 minggu (7). Dalam resep dokter tidak menuliskan sediaan dan kekuatan obat yang diinginkan. Pada kasus ini Ketokonazole yang diberikan apoteker adalah tablet 200 mg. Jumlah dosis yang diberikan 2 kali 200 mg sehari sudah benar tetapi pemberian selama 7 hari masih tidak tepat karena minimal pemberian selama 10 hari. Dapat disimpulkan bahwa dosis tersebut tidak sesuai dengan dosis referensi. Ketokonazole tersedia dalam bentuk generik tablet 200 mg dan krim 10% 15 gram (8). Frekuensi dan dosis sudah dicantumkan, namun tidak menggunakan tata cara penulisan resep yang baku. Bentuk sediaan yang diinginkan tidak ditulis sehingga akan membuat apoteker kesulitan dalam memberikan obat. Tata cara pemberian obat tidak ada (sebelum makan/sesudah makan dan yang lainnya), hal ini dapat membuat apoteker yang menyediakan obat akan kesulitan untuk menuliskan kapan waktu pemberian obat tersebut pada etiket. Selain itu penderita juga tidak akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk meminum obat tersebut sehingga nantinya akan menimbulkan ketidakpatuhan penderita. 2. Mikonazole Kandungan obat ini adalah Mikonazole golongan Azole. Indikasi pemberian obat ini adalah antifungi. Mikonazole krim

direkomendasikan untuk infeksi lokal dermatofitosis yang tidak luas (7).

15

Dosis referansi: Terapi topikal diberikan dengan cara dioleskan pada bagian kulit terinfeksi hingga 2 cm lebih dari tepi aktif sebanyak 1-2 kali sehari selama 2 minggu (7). Pada kasus, aturan penggunaan Mikonazole tidak jelas berapa kali pemberiannya selama sehari, waktu pemberian, dan cara pengolesan. Pada resep hanya tertulis s.uc (untuk obat luar) saja. Dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis Mikonazole tidak jelas.

Mikonazole tersedia dalam bentuk generik krim 2% dan salep 2% 10 gr (8). Bentuk sediaan yang diinginkan sudah dituliskan. Frekuensi pemberian tidak dicantumkan pada resep sehingga dikhawatirkan terdapat kesalahan bagi apoteker untuk menjelaskan berapa kali pemakaian obat tersebut dalam satu hari.

Tata cara pemberian obat tidak ada dituliskan dalam resep (pagi hari/sore hari, cara pengolesan). Hal ini dapat membuat apoteker akan kesulitan untuk menuliskan tata cara pemberian obat tersebut pada etiket. Selain itu penderita juga tidak akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk meminum obat sehingga akan menimbulkan ketidakpatuhan penderita.

3.

Metformin Kandungan obat ini adalah Metformin golongan Biguanid. Indikasi pemberian obat ini adalah OHO (Obat Hipoglikemi Oral) lini pertama (9).

Dosis referensi : diawali dengan dosis rendah Metformin 500 mg 1-2 kali sehari bersamaan dengan makanan pada saat sarapan dan makan malam atau 850 mg 1 kali sehari saat makan. Jika 5-7 hari tidak terdapat efek samping 16

gejala gastrointestinal, dosis dapat dinaikkan hingga 850 mg 2 kali sehari atau 1000 mg 2 kali sehari dikonsumsi sebelum sarapan dan makan malam. Dosis dapat diturunkan ke dosis awal jika terdapat gangguan gastrointestinal. Dosis maksimum diberikan 1000 mg 2 kali sehari hingga 850 mg 3 kali sehari (9). Dalam resep ini, dokter telah menuliskan dosis obat Metformin 500 mg 2 kali sehari. Namun, aturan pemakaian obat dan waktu yang tepat mengkonsumsi obat tidak dicantumkan sehingga dapat menimbukan kesalahan terapi. Dapat disimpulkan bahwa dosis tersebut sesuai dosis referensi yang dianjurkan namun aturan pemakaian dan kapan waktu yang tepat mengkonsumsi obat tersebut tidak ditulis. Metformin tersedia dalam bentuk generik tablet 500 mg dan 850 mg (8). Bentuk sediaan tidak dituliskan. Namun, hal ini dapat dibenarkan jika sediaan yang ada hanya satu sediaan saja. Frekuensi dan dosis sudah dicantumkan. Namun jumlah tablet yang dikonsumsi sekali minum tidak dituliskan. Penulisan juga tidak menggunakan tata cara penulisan resep yang baku. Tata cara pemberian obat tidak ada dituliskan dalam resep (sebelum makan/ sesudah makan dan yang lainnya). Hal ini dapat membuat apoteker akan kesulitan untuk menuliskan kapan waktu pemberian obat tersebut pada etiket. Apoteker juga akan kesulitan menjelaskan kepada penderita kapan harus meminum obat tersebut. Selain itu penderita juga tidak akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk meminum obat tersebut sehingga nantinya akan menimbulkan kesalahan terapi.

17

4.

Interhistin Kandungan obat ini adalah Mebhidrolin napadisilat golongan antihistamin H1. Antihistamin H1 diindikasikan untuk pengobatan simtomatik berbagai penyakit alergi, mengurangi efek yang ditimbulkan akibat histamine release, dan mencegah atau mengobati mabuk perjalanan karena adanya mekanisme antikolinergik (4).

Dosis referensi : dosis dewasa 50-100 mg sehari (4). Dalam referensi lain disebutkan bahwa dosis aman pemakaian Mebhidrolin napadisilat adalah sampai 300 mg perhari hari dalam frekuensi pemberian 6 kali sehari (10). Pada kasus pasien mendapat Interhistin tablet 50 mg dengan dosis 2 kali sehari. Dapat disimpulkan bahwa dosis tersebut sesuai dosis referensi yang dianjurkan.

Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 50 mg dan sirup 50 mg/5 ml (10). Dalam resep yang dibahas, bentuk sediaan tidak dituliskan sehingga akan membuat apoteker kesulitan dalam memberikan obat bentuk tablet atau sirup.

Frekuensi dan dosis sudah dicantumkan, namun tidak menggunakan tata cara penulisan resep yang baku.

Tata cara pemberian obat tidak ada dituliskan dalam resep (sebelum makan/ sesudah makan dan yang lainnya). Hal ini dapat membuat apoteker yang menyediakan obat akan kesulitan untuk menuliskan kapan waktu pemberian obat tersebut pada etiket. Apoteker juga akan kesulitan menjelaskan kepada penderita kapan harus meminum obat tersebut. Selain itu penderita juga tidak

18

akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk meminum obat tersebut sehingga nantinya akan menimbulkan ketidakpatuhan penderita.

2.2.5. Bentuk Sediaan Obat 1. Ketokonazole Ketokonazole tersedia dalam bentuk tablet 200 mg, krim 2% 15 mg (8). Ketokonazole juga tersedia dalam bentuk shampoo 2 % (Ketomed shampoo) (10). Dalam resep ini, Ketokonazole yang diberikan dalam bentuk tablet 200 mg. Pemberian sediaan ini dipilih karena disesuaikan dengan pasien dewasa dan diketahui bahwa pasien tidak mengalami kesulitan dalam menelan (3). 2. Mikonazole Mikonazole tersedia dalam bentuk krim dan salep 2% 10 gram. Mikonazole juga tersedia dalam bentuk gel oral (Daktarin oral gel), dan bubuk 2% (Daktarin). Dalam resep ini, Mikonazole diberikan dalam bentuk krim yaitu Mikonazole krim 2% 10 g. Pemberian sediaan krim di daerah perut dan bokong tepat karena termasuk daerah lipatan (3). 3. Metformin Metformin tersedia dalam bentuk tablet 500 mg dan 850 mg. Dalam resep ini, diberikan dalam bentuk tablet generik yaitu Metformin 500 mg. Pemberian sediaan ini dipilih karena disesuaikan dengan pasien dewasa dan diketahui bahwa pasien tidak mengalami kesulitan dalam menelan.

19

4. Interhistin Interhistin tersedia dalam bentuk tablet 50 mg dan sirup 50 mg/ 5 ml. Dalam resep ini, Mebihidrolin napadisilat diberikan dalam bentuk tablet generic branded yaitu Interhistin 50 mg. Pemberian sediaan ini dipilih karena disesuaikan dengan pasien dewasa dan diketahui bahwa pasien tidak mengalami kesulitan dalam menelan. 2.2.6. Interaksi Obat Obat yang diberikan pada kasus ini yaitu Ketokonazole, Metformin, Interhistin, dan Mikonazole krim. Tidak ada interaksi pada semua obat oral yang diberikan. Metformin tidak di metabolisme di hati dan tidak terikat oleh protein plasma. Eksresinya melalui urin dalam keadaan utuh. Ketokonazole di metabolisme di hati dengan enzim CYP3A4. Mebihidrolin napadisilat dibiotransformasi di hati, paru-paru dan ginjal dengan enzim yang berbeda dengan Ketokonazole. Mikonazole tidak berinteraksi karena pemberian topikal (4,5). 2.2.7. Efek Samping Obat 1. Ketokonazole Efek samping obat ini paling sering dijumpai adalah mual dan muntah. Efek ini akan lebih ringan bila obat ditelan bersama makanan serta menghindari berkurangnya absorbsi akibat pH lambung yang tinggi. Efek samping lain lebih jarang adalah sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, pruritus, parestesia, gusi berdarah, erupsi kulit, dan trombositopenia. Obat ini dapat meningkatkan aktivitas enzim hati untuk sementara waktu dan kadang dapat

20

menimbulkan kerusakan hati. Hepatotoksisitas yang berat lebih sering dijumpai pada wanita berumur lebih dari 50 tahun sebagai terapi onikomikosis atau penggunaan lama. Sebaiknya dilakukan pemantauan fungsi hati mengiringi terapi jangka panjang. Ginekomastia dapat terjadi pada sejumlah pasien pria dan dapat menyebabkan haid tidak teratur pada 10 % wanita. Hal ini disebabkan oleh efek penghambatan ketokonazole terhadap biosintesis steroid melalui inhibisi enzim sitokrom P450 (4). 2. Mikonazole krim Efek samping jarang, berupa iritasi, rasa terbakar, maserasi, dermatitis kontak alergi (5). 3. Metformin Efek sampinng 20 % mengalami mual, muntah, diare serta rasa kecap logam, tetapi dengan menurunkan dosis keluhan tersebut hilang. Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau sistem kardiovaskular pemberian Biguanid dapat menimbulkan peningkatan asam laktat dalam darah sehingga mengganggu keseimbangan elektrololit (4). 4. Interhistin Efek samping paling sering obat ini sedasi. Efek samping yang berhubungan dengan sentral adalah tinnitus, vertigo, cepat lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan kabur, diplopia, euphoria, gelisah, insomnia dan tremor. Efek samping yang sering dijumpai juga adalah mual, muntah, keluhan epigastrium, konstipasi atau diare, efek samping ini berkurang jika dikonsumsi bersama dengan makanan. Efek samping lain yang mungkin timbul oleh AH1 adalah

21

mulut kering, disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala. Jarang menimbulkan komplikasi leukopenia dan agranulositosis (4).

2.2.8. Analisa Diagnosa Dari data yang diperoleh dari status pasien, diketahui pasien terdiagnosis diabetes mellitus (DM) tipe 2 disertai tinea corporis. DM adalah suatu kelompok
penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada kerja insulin yaitu resistensi insulin di hati dimana terjadi peningkatan produksi glukosa hepatik dan jaringan perifer seperti otot dan lemak, berkurangnya sekresi insulin oleh sel beta pankreas, atau keduanya (11). DM tipe 2 ditandai dengan berkurangnya sekresi

insulin, produksi glukosa yang berlebihan di hepar, dan metabolisme lemak yang abnormal. Oleh karena insulin tetap dihasilkan oleh sel-sel beta pankreas, maka diabetes mellitus tipe 2 dianggap sebagai noninsulin dependent diabetes mellitus (NIDDM) (12). Modalitas yang ada pada penatalaksanaan DM terdiri dari: 1) terapi non farmakologis yang meliputi perubahan gaya hidup dengan melakukan pengaturan pola makan yang dikenal sebagai terapi gizi medis, meningkatkan aktivitas jasmani, dan edukasi berbagai masalah yang berkaitan dengan penyakit diabetes yang dilakukan secara terus menerus, 2) terapi farmakologis yang meliputi pemberian obat antidiabetes oral dan injeksi insulin. Terapi farmakologis ini pada prinsipnya diberikan jika penerapan terapi non farmakologis yang telah dilakukan tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah sebagaimana yang diharapkan.

22

Pemberian terapi farmakologis tetap tidak meninggalkan terapi non farmakologis yang telah diterapkan sebelumnya (13). Intervensi farmakologis dilakukan dengan pemberian Obat Hipoglikemia Oral (OHO) dan preparat insulin. Pemberian OHO dimaksudkan untuk memicu sekresi insulin: Sulfonilurea dan Glinid; menambah sensitivitas terhadap insulin: Metformin, Tiasolidindion; serta menghambat absorpsi glukosa. Indikasi pemberian insulin antara lain (11): 1. hiperglikemia berat yang disertai ketosis 2. ketoasidosis diabetik 3. hiperglikemia hiperosmolar non ketotik 4. hiperglikemia dengan asidosis laktat 5. gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal 6. stres berat 7. kehamilan dengan DM gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan 8. gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat 9. terdapat kontraindikasi dan/atau alergi terhadap OHO. Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Kalau dengan OHO tunggal sasaran kadar glukosa darah belum tercapai, perlu kombinasi dua kelompok obat hipoglikemik oral yang berbeda mekanisme kerjanya. Panduan pemberian terapi kombinasi ini dapat dilihat pada Tabel I dibawah (11).

23

Tabel I. Pengelolaan DM tipe 2

24

Satu-satunya senyawa Biguanida yang masih dipakai sebagai obat hipoglikemik oral saat ini adalah Metformin. Metformin masih banyak dipakai dibeberapa negara termasuk Indonesia, karena frekuensi terjadinya asidosis laktat cukup sedikit dan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan hati. Metformin adalah bekerja dengan menurunkan produksi glukosa di hepar dan meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adipose terhadap insulin. Senyawa-senyawa golongan biguanida tidak merangsang sekresi insulin, tidak menghambat perubahan glukosa menjadi lemak, dan hampir tidak pernah menyebabkan hipoglikemia (4). Pada kasus ini, pemberian Metformin 500 mg 2 kali sehari kepada pasien DM adalah terapi yang rasional sesuai dengan referensi. Selian DM tipe 2, pasien juga menderita tinea corporis sehingga perlu pemberian antifungi. Untuk mengatasi dermatofitosis dapat diberikan golongan Azole, Griseofulvin, dan Asam Salisilat. Golongan Azole bekerja dengan mekanisme menghambat enzim sitokrom P450 jamur dalam mensintesis ergosterol yang berfungsi sebagai bahan dasar membran sel jamur. Griseovulfin bekerja dengan mekanisme berikatan kuat dan berdeposit dalam sel keratin yang sehat sehingga memperkuat sel keratin pada serangan jamur. Sel keratin yang mengandung jamur akan terkelupas dan digantikan dengan sel normal yang lebih kuat sehingga jamur mati karena tidak ada keratin lagi yang bisa dimakan. Asam salisilat bekerja dengan sifat keratolitik terhadap kulit yang terinfeksi. Pemberian Ketokonazole kepada pasien tidak tepat karena adanya efek samping hepatotoksisitas yang berat dan lebih sering dijumpai pada wanita berumur lebih dari 50 tahun yang menggunakan obat ini untuk jangka lama (4).

25

Selain diberikan pengobatan antifungi sistemik, pasien juga diberi obat antifungi topikal berupa Mikonazole krim. Hal ini juga tidak efektif karena mekanisme kerja golongan Azole yang sama jika seandainya tujuan dokter

mengkombinasikan obat untuk memperkuat terapi dermatofitosis. Indikasi pemberian antifungi topikal adalah untuk infeksi lokal dermatofitosis. Namun, jika terdapat keterlibatan infeksi kulit yang luas, immunosupresi, resisten terhadap terapi topikal, dan adanya infeksi bersamaan dengan dermatofitosis lain digunakan terapi sistemik dengan mempertimbangkan efek samping dari obat (4). Pada resep ini, pemberian AH1 kepada pasien sudah rasional dengan tujuan mengurangi gejala gatal yang dialami pasien akibat dermatofitosis. Dosis yang diberikan juga sesuai dengan referensi. Antihistamin H 1 bekerja dengan mekanisme antagonis reseptor kompetitif terhadap histamin tubuh.

26

2.3. Usulan Resep Rasional RSUD ULIN BANJARMASIN RESEP UMUM


Jl. A. Yani km 1,5 Banjarmasin Telp : (0511) 3252180

Nama Dokter : dr. Imam S Gultom, Sp.PD. UPF/Bagian : Ilmu Penyakit Dalam

Tanda tangan dokter :

Banjarmasin, 10 Desember 2012 Harga (Rp) R/ Metformin tab 500 mg S. b.d.d. tab I d.c m et n No.LX

R/ Griseofulvin micronized tab 250 mg No.LX S. s.d.d tab II d.c.n (o.24.h) R/ Loratadin tab 10 mg S. prn. s.d.d tab I a.c BAB III KESIMPULAN VERIFIKASI : Umum Berdasarkan 5 tepat pada resep rasional, maka : Rawat Jalan RSUD. ULIN 1. Tepat obat Penggunaan INTERNA Metformin untuk kasus ini sudah tepat. Namun, penggunaan Ketokonazol serta Mikonazole secara bersamaan tidak tepat. Interhistin juga Nama Pasien : Ny. Fauziah Umur : 58 tahun/80 kg tidak tepat jika efekBanjarmasin. samping dan ekonomis. Alamat : Jl. ditinjau Belitungdari No.25, No. RMK : 09.071.45 2. Tepat dosis No. V

27

Pada resep ini dosis Metformin dan Interhistin yang diberikan sudah tepat. Namun, dosis obat lainnya masih belum tepat, diantaranya lama pemberian Ketokonazole yang terlalu singkat dan dosis Mikonazole krim yang tidak jelas. 3. Tepat bentuk sediaan Bentuk sediaan yang diberikan sudah tepat sesuai dengan keadaan pasien. 4. Waktu penggunaan obat Pada resep ini tidak dituliskan dengan jelas kapan obat seharusnya diminum. 5. Tepat penderita Terdapat obat yang tidak tepat penderita yaitu Ketokonazole yang seharusnya tidak diberikan pada wanita berusia diatas 50 tahun.

28