Anda di halaman 1dari 5

EZKA AMALIA 09/283366/SP/23675 Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah

Mada

REZIM INTERNASIONAL DALAM PERSPEKTIF NEOLIBERALISME: Interest-Based Theories


Studi tentang rezim internasional telah menjadi suatu bagian yang penting dalam mempelajari hubungan internasional. Sejak dua dekade yang lalu, studi tentang rezim internasional muncul sebagai usaha untuk memahami upaya dan kondisi dimana negara-negara bersedia untuk bekerjasama. Rezim internasional dikatakan sebagai alat untuk memfasilitasi kerjasama internasional, bukan sebagai produk yang dihasilkan oleh kerjasama internasional. Ketika realisme mengajukan pandangan yang mengatakan power merupakan poin utama dalam hubungan internasional, terutama dalam suatu rezim internasional, muncul ketidakpuasan ketika suatu rezim internasional yang jika dilihat dari sisi hubungan power bersifat statis dapat bertahan dan mewujudkan kerjasama antarnegara. Oleh karena itu muncul perspektif neoliberalisme dengan interest-based theories yang menurut saya dapat menjelaskan dengan lebih baik bagaimana dan mengapa rezim internasional terbentuk dan dapat memfasilitasi kerjasama internasional.

Rezim Internasional dan Neoliberalisme Rezim internasional menurut Krasner adalah prinsip-prinsip, norma-norma, aturanaturan, prosedur pembuatan keputusan yang ada dalam isu-isu tertentu dalam hubungan internasional dimana harapan-harapan negara-negara bertemu.1 Rezim internasional juga sering diartikan sebagai aturan main dalam hubungan internasional, terutama dalam isu-isu yang lebih spesifik seperti isu perdagangan, isu senajata, yang disetujui oleh aktor-aktor dalam hubungan internasional, biasanya negara-bangsa. Beberapa perspektif memandang pembentukan rezim internasional yang digunakan sebagai fasilitator untuk kerjasama antar negara secara berbeda, seperti pandangan dari perspektif neoliberalisme. Neoliberalisme muncul sebagai perspektif ketika banyak orang yang mulai kecewa dengan penjelasan yang diberikan oleh realisme, terutama dalam perkembangan dunia
1

S. Haggard & B. A. Simmons, Theories of International Regimes, Intenational Organization, vol. 41, no. 3, 1987, p. 493.

internasional saat ini, khususnya terkait kerjasama antar negara. Realisme berpendapat bahwa dunia yang anarki menyebabkan negara lebih mengutamakan untuk mendapatkan keuntungan yang relatif, seperti posisi negara vis--vis dengan negara lain. Oleh karena itu, kerjasama dalam perspektif realisme didasarkan pada power suatu negara atau adanya kekuatan hegemon dalam kerjasama tersebut. Kekuatan hegemon tersebut memastikan kerjasama muncul dan bekerja. Sayangnya, keberadaan kekuatan hegemon tidak dapat menjelaskan ketika muncul isu hegemoni bersifat statis dalam suatu kerjasama. Inilah yang kemudian memunculkan penjelasan lain yaitu neoliberalisme yang dapat menjelaskan sebuah kerjasama bertahan tanpa adanya kekuatan hegemon didalamnya Meskipun perspektif neoliberalisme juga percaya bahwa dunia ini anarki seperti apa yang dipercayai oleh realisme dan kerjasama memungkinkan untuk terjadi di antara negaranegara, menurut mereka negara akan mencoba mencari cara untuk memeroleh keuntungan yang absolut. Dengan negara-negara yang ada di dunia berusaha untuk mendapatkan keuntungan abosolut, maka dalam dunia yang anarki, situasi yang disebut dengan harmoni akan sangat susah dibentuk atau muncul. Hal ini dikarenakan dengan jumlah negara yang sangat banyak, tidak mungkin Oleh karena itu, kerjasama dijadikan sebagai sebuah solusi untuk mengelola keinginan negara-negara dalam mendapatkan keuntungan. Walaupun neoliberalisme mengakui bahwa kerjasama dipengaruhi oleh hubungan power antar negara, tetapi konstelasi kepentingan serta ekspektasi juga tidak kalah pentingnya dalam sebuah kerjasama. 2 Bahkan ketika tidak ada kekuatan hegemon di dalamnya, sebuah kerjasama menurut neoliberalisme akan bertahan karena keputusan negara untuk mendapatkan keuntungan yang besar dibandingkan jika mereka tidak bergabung dalam kerjasama tersebut. Kerjasama tersebut dibentuk melalui rezim internasional yang mengatur norma-norma, prinsip-prinsip dalam sebuah kerjasama. Senada dengan pandangan neoliberal terhadap kerjasama, rezim internasional menurut neoliberal juga dibentuk berdasarkan keinginan untuk mendapatkan keuntungan bersama melalui kepentingan dan tujuan yang sama. Teori yang membicarakan dan menjelaskan terbentuknya rezim dalam pandangan neoliberal disebut sebagai interest-based theories.

A. Hasenclever, P. Meyer & V. Rittberger, Theories of International Regimes, Cambridge University Press, Cambridge, 2004, p. 26.

Interest-based Theories dalam Rezim Internasional Interest-based theories merupakan teori mainstream yang sering digunakan untuk menganalisa rezim internasional. Berasal dari perspektif neoliberal yang percaya pada rasionalism, salah satu pendekatan dalam interest-based yang terkenal adalah kontraktualisme milik Keohanne. Pendekatan yang banyak dipengaruhi oleh teori ekonomi institusi modern ini mengkondisikan negara dalam keadaan spesifik yaitu negara terlibat dalam isu yang sama, mempunyai tujuan yang sama dan hanya dapat diwujudkan melalui kerjasama. Teori milik Keohanne ini dapat dijelaskan dengan baik melalui Prisoner Dilemma yang berisi kemungkinan situasi yang mendasari keputusan dalam teori kontraktualisme. Prisoner Dilemma menggambarkan ketika pihak-pihak dalam hal ini aktor-aktor dalam hubungan internasional dapat saling bekerjasama (cooperation) atau saling bersikap berseberangan/keras (defection). Selain kedua kemungkinan tersebut, dalam prisoner dilemma akan dapat ditemukan kemungkinan ketika salah satu pihak bekerjasama sedangkan pihak lainnya bersikap berseberangan yang tentunya akan merugikan pihak yang bekerjasama dan menyebabkan suatu pihak lebih memilih bersikap keras. Contoh prisoner dilemma dalam hubungan internasional yang paling jelas tentunya adalah pada masa perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Jika menggunakan prisoner dilemma sebagai alat untuk menganalisis situasi tersebut, kedua pihak secara logis lebih memilih untuk bersikap defect dengan tetap mengembangkan senjata nuklir karena mereka tidak yakin bahwa lawan mereka akan menghentikan produksi nuklir. Ini juga dapat disebut sebagai security dilemma dimana ketika satu pihak meningkatkan persenjataanya, pihak lain yang memiliki friksi dengan negara tersebut akan merasa terancam dan dengan sendirinya mempersiapkan persenjataannya. Kedua belah pihak akhirnya bersama-sama meningkatkan militernya karena paranoia. Pendekatan kontraktualisme menekankan bahwa rezim internasional dibentuk sebagai upaya-upaya mendapatkan keuntungan bersama. Keuntungan bersama tersebut didapatkan bukan dengan mengubah kepentingan negara, melainkan dengan mengubah kalkulasi keuntungan yang mungkin didapat. Hal ini dilakukan dengan merasionalisasi strategi lain, selain defection. Dengan ketakutan akan dikhianati oleh negara lain dalam sebuah kerjasama dan ketidakyakinan akan komitmen kerjasama yang kemudian mencegah negara-negara untuk bekerjasama, diperlukan rezim internasional sebagai fasilitator. Rezim internasional berfungsi sebagai

penyedia informasi bagi negara sebagai jaminan mengenai partner kerjasama, penghalang defection oleh anggota dan pemberi kesan adanya keberlangsungan suatu kerjasama seiring waktu. Selain memperkenalkan teori kontraktualisme, Keohanne juga memperkenalkan penjelasan fungsional mengenai penyebab terbentuknya suatu rezim. Menurut Keohanne, rezim dibentuk oleh negara sebagai alat atau instrument untuk mencapai tujuan tertentu. 3 Dengan mennghubungan regime formation dengan regime maintenance, Keohanne mengaplikasi pendekatan fungsionalnya. Rezim mengurangi biaya transaksi seperti biaya untuk negosiasi, pengawasan namun di sisi lain membentuk dan mempertahankannya juga memerlukan biaya, maka dari itu biaya pembuatan serta keuntungan pembentukan rezimnya akan menjadi pertimbangan bagi negara. Semakin efisien rezim yang akan dibentuk, semakin besar kemungkinannya akan direalisasikan. Hal ini menjelaskan perkembangan ketergantungan antara negara dan komunitasnya seiring dengan perkembangan rezim internasional.

Kesimpulan Rezim internasional yang berfungsi sebagai fasilitator untuk memunculkan kerjasama sangat baik dijelaskan melalui perspektif neoliberalisme. Apalagi ketika kepentingan negara juga menjadi pertimbangan negara untuk bersedia bersikap kooperatif terhadap negara lain. Ketika paranoia muncul, diperlukan rezim internasional untuk menghilangkan paranoia dan menumbuhkan kepercayaan antar aktor. Misalnya saja prinsip-prinsip perdagangan yang ada di dalam WTO dibuat dan disepakati oleh negara-negara baik negara maju maupun berkembang dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan bersama dan menghilangkan paranoia seperti kecurigaan negara berkembang terhadap negara maju dimana jika negara berkembang bersikap kooperatif, negara maju bersikap keras yang tentunya merugikan negara berkembang. Begitu pula sebaliknya ketika negara berkembang bersikap keras dan negara maju bersikap kooperatif, ketakutan muncul ketika nantinya negara maju menggunakan pengaruhnya yang akan merugikan negara berkembang. Tidak seperti realis yang hanya menekankan kepada power, perspektif neoliberalisme dapat menjelaskan rezim internasional dan hubungannya dengan power dan kepentingan negara.

Hasenclever, Meyer & Rittberger, Theories of International Regimes, p. 37.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Hasenclever, A., Mayer, P. & Rittberger, V., Theories of Inernational Regimes, Cambridge University Press, Cambridge, 2004.

Jurnal Haggard, S. & Simmons, Theories of International Regimes, Intenational Organization, vol. 41, no. 3, 1987.