Anda di halaman 1dari 2

EZKA AMALIA 09/283366/SP/23675 Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah

Mada

REFORMASI MILITER: Menarik Diri dari Dunia Politik


Perjalanan militer di Indonesia penuh dengan lika-liku. Di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, militer merupakan penjamin utama dari rezim otoriter yang ada di Indonesia saat itu. Militer ditempatkan di posisi-posisi strategis dalam pemerintahan di semua tingkat, baik nasional hingga provinsi. Namun, dengan adanya tuntutan dari pihak masyarakat sipil di Indonesia agar pemerintah melakukan reformasi dan peningkatan jumlah dari militer sendiri yang berkeinginan agar militer memisahkan diri dari kehidupan berpolitik, kuasa militer dalam kehidupan politik maupun sosial di Indonesia berakhir. Hal ini ditunjukkan dengan program reformasi yang dilakukan oleh pengganti Soeharto, yaitu Presiden B.J Habibie, salah satunya dalam militer Reformasi dalam militer tersebut sebenarnya adalah inisiatif dari para pejabat militer sebagai respon terhadap demo besar-besaran dari masyarakat karena pihak militer tidak ingin semua berubah mejadi lebih buruk. Reformasi awal dalam militer adalah menarik para anggota militer dari partisipasi dalam politik. Meskipun begitu, pada masa kepresiden Abdurrahman Wahid dan Megawati dorongan untuk mereformasi militer hilang karena ketidakefektifan pemerintah di masa Gus Dur dan perekrutan yang dilakukan oleh Megawati terhadap anggota militer dari garis keras untuk menduduki posisi-posisi penting. Meski militer sempat merusak usaha pemerintah dalam kebijakan referendum di Timur-Timor saat Habibie dan kebijakan pemerintahan Gus Dur dalam negosiasi di Aceh, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan presiden pertama hasil dari pemilu langsung dari rakyat melakukan satu langkah besar ke depan dengan berhasilnya usaha perdamaian di Aceh. Hal ini menandai terbentuknya kontrol sipil di militer. Namun, masalah tetap ada di dalam militer dengan masih melekatnya doktrin dari Orde Baru dalam hal finansial para anggota militer yang berujung pada korupsi. Ditambah lagi dengan masih adanya kebebasan dari hukuman yang dimiliki oleh personil militer yang didakwa sebagai pelaku pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Pertanyaan: 1. Pemerintah masa reformasi menginginkan militer untuk lebih meningkatkan keprofesionalan mereka dalam bertugas. Sejauh apa peningkatan yang telah dilakukan oleh militer di Indonesia? 2. Bagaimana usaha pemerintah dalam menjerat para pelaku pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang berasal dari pihak militer?