Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA DERMATITIS PADA PEKERJA PENCUCI MOBIL DI BENGKEL SEHAT KOTA MEDAN MEDAN 2012

Oleh: HARI KESUMA SHELLA MAYA DAMANIK TRI WIDIA NINGSIH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA MEDAN 2012

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian yang berjudul Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Dermatitis pada Pekerja Pencuci Mobil di Bengkel Sehat Kota Medan. Walaupun banyak kesulitan yang penulis harus hadapi ketika pembuatan laporan penelitian ini, namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, akhirnya laporan penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan rasa terima kasih dan penghargaan setinggitingginya kepada: 1. Bapak dr. H. Rahmad Nasution, DTM & H, M. Sc, Sp. ParK, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara. 2. Seluruh staff pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara yang telah banyak membantu dan banyak memberi masukan kepada penulis, sehingga proposal Karya Tulis Ilmiah dapat terselesaikan. 3. Terima kasih yang tiada tara penulis persembahkan kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang dan tiada bosan-bosannya mendoakan serta memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan. 4. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada sahabat-sahabat terbaik, yang telah bersama-sama saling membantu dan memberikan masukan serta menjadi inspirasi sehingga terselesaikannya tugas akhir ini. Untuk seluruh bantuan baik moril maupun materil yang diberikan kepada penulis selama ini, penulis ucapkan terima kasih.

Penulis menyadari bahwa laporan penelitian ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan penelitian ini. Semoga laporan penelitian ini dapat berguna bagi kita semua.

Medan, November 2012

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ..............................................................................................i DAFTAR ISI .............................................................................................................iii BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................................1 1.1. Latar Belakang .......................................................................................1 1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................2 1.3. Tujuan Penelitian ....................................................................................2 1.4.Manfaat ....................................................................................................2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................3 2.1 Definisi Dermatitis .. ................................................................................3 2.2 Epidemiologi ...........................................................................................3 2.3 Etiologi ....................................................................................................4 2.4 Patogenesis. ..............................................................................................4 2.5 Klasifikasi................................................................................................6 2.6 Manifestasi Klinis ...................................................................................6 2.7Diagnosis... ...............................................................................................8 2.8 Pengobatan ..............................................................................................8 2.9 Pencegahan ..............................................................................................9 2.10Kesehatan Kerja... ..................................................................................10 2.11 Bahan Kimia... .......................................................................................11

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL .......................12 3.1. Kerangka Operasional Penelitian ............................................................12 3.2. Variabel dan Defenisi Operasional .........................................................12

BAB 4 METODE PENELITIAN...............................................................................16 4.1. Metode Penelitian ....................................................................................16 4.2. Tempat dan waktu Penelitian ..................................................................18 4.3. Populasi Penelitian ..................................................................................18 4.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ...................................................................18 4.5 Besar Sample........................................................................................... 19 4.6. Variabel dan Defenisi Penelitian ..............................................................19 4.6.1. Variabel Penelitian ..........................................................................19 4.7 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................19 4.7.1 Data Primer .......................................................................................19 4.7.2 Data Sekunder ...................................................................................20 4.7.3 Langkah Langkah PengumpulanData............................................20 4.8. Pengolahan Data dan Analisa Data ..........................................................20 4.8.1. Pengolahan Data ..............................................................................20 4.9 Analisa Data ............................................................................................21 BAB 5 HASIL PENELITIAN ..............................................22 5.1 Gambaran Umum Perusahaan. 22 5.1.1 Latar Belakang dan Sejarah Bengkel Sehat Pro Auto Klinik................................................................22 5.2. Hasil Penelitian ....23

BAB 6 PEMBAHASAN.....30 6.1 Keterbatasan Penelitian.....30 6.2 Kejadian Dermatitis. 30 6.3 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis.... 32

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................36 6.1 Kesimpulan.............................................................................................36 6.2 Saran.......................................................................................................37 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 39 LAMPIRAN.....................................................

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kulit merupakan bagian terluar yang melapisi manusia dimana berfungsi sebagai proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh,

pembentukan pigmen, keratinisasi, dan pembentukan vitamin D. Kulitlah yang pertama kali terkena eksposure dari luar, seperti sinar UV, udara, zat kimia dan sejenisnya. Oleh karena itu, kulit sangat riskan mengalami inflamasi dan kerusakan akibat pengaruh zat-zat yang mengenainya.1 Kuantitas paparan kulit terhadap suatu zat sangat mempengaruhi percepatan dan keparahan dari inflamasi kulit. Dermatitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bahan/substansi yang menempel pada kulit. Semakin sering kulit kita bersentuhan dengan bahan kimia, semakin besar risiko kita mengalami dermatitis. Orang-orang yang memiliki risiko tinggi terhadap dermatitis, biasanya orang yang memiliki profesi dengan frekuensi paparan terhadap bahan kimia yang tinggi contohnya: tukang cuci mobil. Setiap harinya, pekerja-pekerja tersebut berinteraksi dengan bahan kimia (sabun). Bahan kimia dapat merusak berbagai lapisan kulit, seperti ada bahan yang merusak stratum korneum, adapula yang merusak lapisan lipid.1 Berdasarkan teori dan literature, didapatkan gambaran klinis penyakit akibat kerja yang paling umum adalah dermatitis, meliputi 90% keseluruhan kasus yang ditemukan ditingkat pelayanan kesehatan sekunder dan tersier. Peneliti mencoba mengobservasi kejadian dermatitis, dengan mengkhususkan pada tukang cuci mobil. Dalam observasi, peneliti menemukan kondisi-kondisi dari perusahaan cuci mobil, misalnya kondisi lingkungan kerja dimana peneliti melakukan observasi lembab, dan basah. Kejadian seperti ini diduga terjadi di semua perusahaan cuci mobil. Dapat diramalkan, berapa banyak tukang cuci mobil yang akan mengidap dermatitis.1,2
7

1.2. Rumusan Masalah I.2.1. Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis pada pekerja pencuci mobil?

1.3. Tujuan Tujuan umum : Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis akibat kerja pada pekerja pencuci mobil. Tujuan khusus : Untuk mengetahui apakah ada hubnungan usia dengan dermatitis Untuk mengetahui apakah ada hubungan masa kerja dengan dermatitis Untuk mengetaui apakah ada hubungan penggunaan APD dengan dermatitis

1.4. Manfaat Agar pekerja pencuci mobil dan pemilik usaha dapat mengetahui dan mengerti faktorfaktor yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis akibat kerja. Agar pekerja pencuci mobil dan pemilik usaha dapat mengetahui gejala awal dermatitis akibat kerja serta dapat mengantisipasi terjadinya dermatitis akibat kerja. Bagi mahasiswa dapat menjadi bahan pembelajaran dan acuan untuk penelitian selanjutnya. Agar masyarakat mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya dermatitis.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Dermatitis Dermatitis adalah peradangan kulit sebagai respon dari pengaruh faktor eksogen atau faktor endogen menimbulkan kelainan klinis berupa eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi dan keluhan gatal. Kelainan klinis ini tidak timbul selalu bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa. Faktor eksogen dan endogen ini akan menempel pada kulit yang menyebabkan kelainan klinis seperti di atas.1

2.2. Epidemiologi Penyakit Dermatitis dibagi menjadi dua yiatu dermatitis kontak alergi dan dermatitis kontak iritan. Penderita dermatitis kontak alergi jumlahnya lebih sedikit dari pada dermatitis kontak iritan. Ini disebabkan karena dermatitis alergi hanya menyerang orang dengan keadaan kulit yang sangat peka (hipersensitif).1 Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup banyak, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan (dermatitis kontak iritan akibat kerja), namun angkanya secara tepat sulit diketahui. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyak penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat, atau bahkan tidak mengeluh.1 Dahulu diperkirakan bahwa kejadian dermatitis kontak iritan akibat kerja sebanyak 80 % dan dermatitis kontak alergi sebanyak 20 %, tetapi data baru dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa dermatitis kontak akibat kerja karena alergi ternyata cukup tinggi yaitu berkisar antara 50 dan 60 persen. Sedangkan dari suatu penelitian ditemukan frekuensi dermatitis kontak alergi bukan akibat kerja tiga kali lebih sering dari pada dermatitis kontak alergi akibat kerja.

Dermatitis akibat kerja sering ditemukan pada bagian dari awal latihan kerja, seperti orang-orang yang sedang magang untuk menjadi penata rambut di Inggris sebagian besar menghabiskan waktunya dengan tangan yang terus menerus basah oleh sampo pada kepala pelanggan mereka, sehingga sebagian mereka terkena dermatitis.

2.3. Etiologi Penyebab munculnya dermatitis adalah bila kulit terkena oleh bahan kimia seperti bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, dan serbuk kayu. Kelainan kulit yang terjadi sering kali dipengaruhi oleh faktor lain seperti penggunaan alat pelindung diri (APD). Faktor individu juga ikut berpengaruh pada dermatitis misalnya perbedaan ketebalan kulit, ras (kulit hitam lebih tahan dari pada kulit putih), dan jenis kelamin.1 Selain itu penyebab munculnya dermatitis adalah bahan kimia sederhana dengan berat molekul umumnya rendah (<1000 dalton), merupakan bahan kimia yang belum diproses disebut hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dapat menembus stratum korneum sehingga mencapai sel epidermis di bawahnya. Faktor yang berpengaruh dalam timbulnya dermatitis seperti luas daerah yang terkena, lama pajanan. Juga faktor individu seperti keadaan kulit pada lokasi bagian kulit yang terkena, status kekebalan tubuh seseorang (misalnya sedang menderita sakit, terpajan sinar matahari).1 2.4. Patogenesis Pada patogenesis ini, penulis akan membahas patogenesis dermatitis, yaitu dermatitis kontak alergi dan dermatitis kontak iritan. Pada dermatitis kontak iritan kerusakan sel yang terjadi diakibatkan oleh bahan iritan. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk. Bahan iritan kebanyakn bersifat toksik dan
10

merusak organel-organel sel seperti lisosom, mitokondria, atau komponen inti. Kerusakan membran sel, menyebabkan aktifnya posforlipase sehingga

melepaskan asam arakidonat, diasilgliserida, platelet activating factor (PAF) dan inositida (IP3). Asam arakidonat diubah menjadi prostaglandin dan leukotrin, keduanya menginduksi vasodilatasi serta meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingga mempermudah transudasi komplemen dan kinin. Prostaglandin dan leukotrin juga bertindak sebagai kemoatraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil, serta mengaktivasi sel mast melepaskan histamin. Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNF, suatu sitokin proinflamasi yang dapat mengaktivasi sel T, makrofag, dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adhesi sel dan pelepasan sitokin. Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik ditempat terjadinya kontak di kulit berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritan lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan sel di bawahnya oleh iritan. Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergen adalah mengikuti respon imun yang diperantarai oleh sel atau reaksi imunologik tipe IV, suatu hipersensitisasi tipe lambat. Reaksi ini melalui dua fase yaitu fase sensitisasi dan fase elisitasi. Hanya individu yang mengalami sensitisasi yang dapat menderita dermatitis kontak alergik. Pada fase elisitasi terjadi pajanan ulang alergen.1

11

2.5. Klasifikasi Seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa dermatitis terdiri dari dua macam, pertama adalah dermatitis kontak iritan yaitu dermatitis yang terjadi akibat kulit terpapar oleh bahan yang bersifat iritan, tanpa reaksi imunologik, kedua adalah dermatitis kontak alergi adalah dermatitis yang terjadi akibat sensitisasi terhadap suatu zat atau bahan allergen sehingga terjadi reaksi imunologik, yang menyebabkan inflamasi.2 Berdasarkan penyebab dan pengaruh dari faktor pencetusnya (individu, lingkungan). Dermatitis kontak iritan dibagi menjadi beberapa macam yaitu: dermatitis kontak iritan akut, dermatitis kontak iritan akut lambat, reaksi iritan, dermatitis kumulatif, dermatitis traumateratif, eksikasi ekzematik, pustularakneformis, noneritematosa, dan subyektif. Tabel 2.5. Perbedaan Dermatitis Kontak Iritan dan alergi NO Pembeda Dermatitis Kontak Iritan Dermatitis Kontak Alergi 1. 2. 3. 4. 5. Penyebab Kapan terjadi Penderita Kelainan kulit Keluhan umum Bahan iritan Kontak pertama Bisa semua orang Hebat Gatal, panas, nyeri Alergen Kontak berulang Tidak semua orang Lebih ringan Gatal dominan

2.6. Manifestasi Klinis Manifestasi pada dermatitis kontak sangat bergantung pada sifat iritannya (iritan kuat menimbulkan gejala akut, iritan lemah menimbulkan gejala kronis), faktor individu yang menderita dermatitis (ras, umur, lokasi atopi, penyakit kulit penyerta yang lain), serta faktor lingkungan (suhu, kelembapan). Pada awalnya dermatitis kontak alergen ataupun iritan memiliki gejala yang hampir sama, jika dermatitis kontak alergi gejalanya lebih banyak gatal, maka dermatitis kontak
12

iritan bisa disertai panas dan nyeri. Dermatitis kontak iritan dibagi menjadi beberapa macam sesuai dengan gejala klinisnya antara lain: 1. Dermatitis kontak iritan akut, contohnya luka bakar oleh zat kimia keras. Biasanya etiologinya adalah iritan yang kuat misalnya kalium hidroksida. Reaksinya berlangsung cepat dan segera timbul. Intensitasnya sebanding dengan konsenterasi dan lamanya kontak. Iritasinya terbatas pada daerah kontak saja. Gejala yang timbul yaitu: kulit terasa panas, perih, sensasi seperti terbakar, eritema, edema, bula, nekrosis. Ada batas tegas antara kulit yang iritasi danyang normal, dan pada umumnya asimetris. 2. Dermatitis kontak iritan akut lambat, gejalanya sama dengan dermatitis kontak iritan akut, tetapi baru muncul setelah 8-24 jam atau lebih pasca-kontak. Contoh bahan penyebabnya adalah: asam hidrofluorat, tretionin, antralin, bisa juga bulu serangga (dermatitis venenata). Gejala klinis awal belum muncul, kemudian setelah selang waktu 8-24 jam akan muncul eritema disertai nyeri, setelah itu berlanjut menjadi vesikel atau nekrosis. 3. Dermatitis kontak iritan kumulatif (dermatitis kronis) : dermatitis ini yang paling sering terjadi, terutama pada pekerja yang kontak secara kontinyu dengan bahan iritan, seperti montir mobil, tukang cuci, penata rambut, dan koki dapur. Kontak terhadap bahan iritan lemah terjadi secara berulang-ulang, misalnya faktor fisis seperti gesekan, truma mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin; bahan seperti detergen, sabun pelarut, tanah, dan air. Prosesnya bisa diakibatkan oleh satu bahan saja, tetapi biasanya proses menjadi dermatitis iritan melalui paparan berulang-ulang terhadap beberapa faktor dan bahan secara bersama.Setelah kontak berminggu-minggu atau bahkan hingga tahunan, baru timbul reaksi peradangan. Gejala klinis yang terjadi berupa kulit kering, skuama,eritema, kemudian menjadi hiperkeratosis dan likenifikasi, difus. Bila kontak terus berlanjut kulit bisa retak seperti luka iris (fisur). Pasien biasanya mengeluh gatal atau nyeri akibat fisur. Ada kalanya kelainan di kulit hanya berupa skuama tanpa eritema dan kulit kering sehingga sering diabaikan oleh penderita.
13

4. Reaksi iritan, merupakan dermatitis iritan subklinis pada seseorang yang terpapar pekerjaan basah seperti penata rambut. Reaksi hanya terjadi pada awal pertama melakukan, kemudian umumnya akan sembuh sendiri atau akan menjadi dermatitis kontak iritan kumulatif. Gejala klinisnya berupa skuama,eritema, vesikel, pustul, dan erosi serta terjadi penebalan kulit. 5. Dermatitis kontak iritan traumatik ; biasanya akibat dari trauma panas dan laserasi. Penyembuhannya lambat, sekitar lebih dari 6 minggu, sering terjadi ditangan. 6. Dermatitis kontak iritan noneritematosa ;merupakan bentuk subklinik dari dermatitis kontak iritan, di mana ditandai dengan perubahan fungsi barrier stratum korneum tetapi tidak diikuti oleh gejala klinis. 7. Dermatitis kontak subyektif (dermatitis kontak sensori) ; tidak terlihat adanya kelainan di kulit, namun pasien mengeluh pedih dan terasa terbakar setelah bersentuhan dengan iritan. Bahan yang biasanya menimbulkandermatitis kontak subyektif adalah asam laktat.(1)

2.7. Diagnosis Diagnosis dermatitis didasarkan anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran klinis. Jika dermatitis akibat kerja, perlu ditanyakan apakah muncul kelainan kulit pada saat bekerja atau munculnya kelainan kulit sebelum terjadi kontak dengan bahan kimia.

2.8. Pengobatan Upaya pengobatan dermatitis yang terpenting adalah menghindari pajanan bahan kimia tersebut serta menyingkirkan faktor resiko yang memperberat. Bila hal itu dapat dilakukan, maka dermatitis dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan topikal, yang diperlukan hanya pelembab untuk memperbaiki kulit kering.

14

Jika diperlukan untuk mengatasi peradangan maka dapat diberikan kortikosteroid topikal seperti hidrokortisol atau jika lebih parah bisa dengan kortikosteriod yang lebih kuat.1

2.9. Pencegahan Secara teori, semua penyakit kulit akibat kerja dapat dicegah, satu satunya upaya yang akan berhasil adalah meniadakan faktor penyebab dermatitis akibat kerja dari pekerjaan dan lingkungan kerja serta menghilangkan seluruh resiko tenaga kerja kontak kulit dengan faktor penyebab yang bersangkutan. Penggunaan pakaian kerja dan alat pelindung diri adalah salah satu bentuk upaya preventif. Demikian pula adanya kepatuhan menjalankan prosedur kerja melalui pendidikan dan pelatihan juga merupakan suatu pendekatan yang baik dan hal ini merupakan salah satu upaya promotif. Memindahkan penderita dari pekerjaan dan lingkungan yang mengandung faktor penyebab penyakit kepekerjaan dan lingkungan kerja lain yang tidak berbahaya bagi kulit yang berangkutan merupakan upaya terakhir dan hal itu biasanya tidak mudah dilaksanakan dan sering kali menimbulkan problema lain. Tersedianya fasilitas tempat cuci dan pengeringan yang memadai ditempat kerja akan mendorong pekerja memakai fasilitas ini ditengah waktu istirahat dan sesudah selesai kerja. Pembersih kulit yang benar harus disediakan sedangkan deterjen yang kasar harus disingkirkan. Kebiasaan menggunakan deterjen yang keras sebagai pembersih kulit harus dilarang. Krim pelembut dan pelembab yang dipakai sehabis bekerja mungkin dapat membantu memulihkan fungsi kulit dan pemakaian alat pelindung diri.3 Krim pelindung Sebagian besar studi menemukan bahwa krim pelindung memberikan perlindungan yang terbatas. Pekerja yang memakai krim pelindung merasakan perlindungan palsu. Namun krim pelindung memberi manfaat
15

untuk menambah kesadaran pekerja membersihkan kulit mereka saat istirahat dan setelah selesai bekerja. Krim ini juga membantu membersihkan kulit.

Peralatan perlindungan perorangan Peralatan perlindungan perorangan misalnya: sarung tangan, apron, dan sepatu bot, bila dirawat dengan baik dan digunakan secara benar dapat sangat efektif untuk mencegah penyakit kulit akibat kerja. 3

2.10. Kesehatan Kerja Kesehatan kerja adalah merupakan aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu tempat kerja (perusahaan, pabrik, kantor, dsb) dan yang menjadi pasien dari kesehatan kerja adalah masyarakat pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Apabila dalam kesehatan masyarakat ciri utamanya adalah upaya preventif (pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan), maka dalam kesehatan kerja kedua hal tersebut juga menjadi ciri pokok. Oleh sebab itu dalam kesehatan kerja pedomannya adalah :penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat dicegah, maka upaya pokok kesehatan kerja adalah pencegahan kecelakaan akibat kerja.4 Tujuan dari kesehatan kerja adalah memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosial bagi masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungan perusahaan tersebut, melalui usaha usaha preventif, promotif, dan kuratif terhadap penyakit penyakit atau gangguan gangguan kesehatan akibat kerja dan lingkungan kerja.5

16

Dalam kesehatan kerja ada hal hal yang harus diperhatikan seperti: 1. Beban kerja, setiap pekerjaan apapun jenisnya apakah pekerjaan tersebut memerlukan kekuatan otot atau pemikiran adalah merupakan beban bagi yang melakukan. Oleh sebab itu, penempatan seorang pekerja atau karyawan seharusnya sesuai dengan beban optimum yang dapat di lakukan.6

2. Beban tambahan, dikelompokkan menjadi 5 faktor Faktor fisik : misalnya suhu udara yang panas,, kelembaban yang tinggi atau rendah dsb. Faktor kimia : bahan bahan kimia yang menimbulkan penyakit kerja, misalnya bau gas, uap atau asap, debu, deterjen, dsb Faktor biologi : mikroorganisme atau binatang yang mengganggu pekerjaan dan juga bisa menimbulkan penyakit seperti bakteri bakteri, virus, jamur, cacing lalat, nyamuk, dsb -

Faktor fisiologis : peralatan kerja yang tidak sesuai ukuran tubuh atau anggota badan. Faktor sosial-psikologis yaitu suasana kerja yang tidak harmonis, misanya adanya konflik.7

2.11. Bahan Kimia Bahan kimia adalah bahan yang karena reaksi kimia dapat menimbulkan kerusakan atau peradangan bila kontak dengan kulit dan lain-lain. Bahan kimia yang dapat menyebabkan kerusakan dan peradangan pada kulit adalah : a. Sabun, detergen, dan pembersih lainnya. b. Asam dan alkalis seperti asam hydrofluoric, asam kromat, fosfat, phenol metal salts c. Bahan bahan industri seperti petroleum, klorinat hidrokarbon, etil eter, dsb.
17

BAB 3 KERANGKAN OPERASIONAL PENELITIAN

3.1. Kerangka Operasional Penelitian Kerangka operasional penelitian tentang faktor faktor yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis pada pekerja pencuci mobil di Bengkel Sehat Kota Medan tahun 2012 dapat dilihat pada gambar 3.1. Gambar 3.1. Kerangka Operasional

Faktor-faktor risiko : Usia Masa Kerja Penggunaan APD Dermatitis Kejadian

Variabel independen

Variabel dependen

3.2. Variabel dan Defenisi Operasional 3.2.1. Variabel Variabel merupakan fokus penelitian yang akan diamati. Variabel terdiri dari : a. Variabel bebas (independen), yaitu variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terkait. Dalam penelitian ini variabel bebas adalah faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya dermatitis pada pekerja pencuci mobil di Bengkel Sehat kota Medan, seperti usia, faktor masa kerja, dan penggunaan APD.
18

b. Variabel terikat (dependen), yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini, variabel terkait adalah kejadian dermatitis.

3.2.2. Defenisi Operasional Tabel 3.2.2. Defenisi Operasional N0 Variable Defenisi operasional Lama waktu hidup pekerja (dalam tahun) dari sejak lahir sampai penelitian berlangsung. Instrumen Kreteria objektif 20 tahun >20 tahun Skala ukur Rasio

Usia

Wawancara

Masa Kerja

Jangka waktu pekerja mulai bekerja sampai waktu penelitian

Wawancara

1 tahun >1 tahun

Rasio

19

Penggunaan APD

Kelengkapan pekerja untuk menggunakan Alat Pelindung Diri guna melindungi bagian tubuh dari kontak langsung dengan bahan kimia selama melakukan pekerjaan.

Observasi

-Menggunakan APD -Tidak menggunakan APD

Ordinal

Kejadian Dermatitis

Peradangan kulit yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang menempel pada kulit pekerja dengan gejala kemerahan, bengkak, pembentukan lepuh kecil pada kulit, kering, mengelupas dan bersisik.

Wawancara

1.Dermatitis 2. Tidak dermatitis

Ordinal

20

3.2.3. Hipotesa Penelitian Hipotesa adalah suatu jawaban sementara dari penelitian. Hipotesa pada penelitian ini adalah : H0 = Tidak terdapat hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan terjadinya dermatitis pada pekerja pencuci mobil. Ha = Terdapat hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan terjadinya dermatitis pada pekerja pencuci mobil.

21

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian analitik dengan rancangan penelitian cross-sectional untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya penyakit dermatitis pada pekerja pencuci mobil di Bengkel Sehat Medan 2012. Metode penelitian analitik dengan rancangan crosssectional merupakan upaya mencari hubungan antara variabel (faktor risiko) dengan variabel tergantung (efek) dengan melakukan pengukuran sesaat. Tentunya tidak semua subyek harus diperiksa pada hari atau disaat yang sama, Namun baik variabel risiko maupun variabel efek dinilai hanya satu kali saja. Langkah-langkah pada penelitian cross-sectional, yaitu: a. Merumuskan pertanyaan penelitian beserta hipotesis yang sesuai b. Mengidentifikasi variabel bebas dan tergantung c. Menetapkan subyek penelitian d. Melaksanakan pengukuran e. Melakukan analisi.

Pengukuran faktor risiko dan efek dilakukan sekaligus Gambar 4.1. Struktur studi cross sectional untuk menilai peran faktor risiko dalam terjadinya efek. Faktor risiko dan efek diperiksa pada saat yang sama. a efek (+) b efek (-) Faktor risiko c efek (+) d efek (-)
22

Tabel 4.1. Tabel 2X2 menunjukkan hasil pengamatan studi cross sectional Faktor resiko Ya Ya Tidak Jumlah a c a+c Efek Tidak b d b+d Jumlah a+b c+d a+b+c+d

Keterangan : a = subyek dengan faktor risiko positif (+) yang mengalami efek b = subyek dengan faktor risiko positif (+) yang tidak mengalami efek c = subyek dengan faktor risiko negatif (-) yang mengalami efek d = subyek dengan faktor risiko negatif (-) yang tidak mengalami efek Ratio prevalence yaitu perbandingan antara proporsi subyek dengan dengan faktor risiko {a/(a+b)} dengan proporsi subyek tanpa risiko {c/(c+d)}.
RP dihitung dengan rumus :

RP =

a a+b

c c+d

RP <1 : variabel independen merupakan faktor protektif RP = 1 : variabel independen bukan merupakan faktor risiko RP >1 : variabel independen merupakan faktor risiko

23

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di seluruh Bengkel Sehat di kota Medan. 4.2.2. Waktu Penelitian Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan November 2012

4.3. Populasi Penelitian Populsi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Berdasarkan defenisi di atas yang menjadi polulasi penelitian ini adalah seluruh pekerja yang bekerja khusus dibagian pencucian mobil di bengkel sehat yang berjumlah 9 bengkel di kota medan dengan masing - masing berjumlah 5 orang pekerja disetiap cabang, maka jumlah pekerja seluruhnya sebanyak 45 orang.

4.4. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan kriteria ekslusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel. 1. Kriteria inklusi Pekerja yang bersedia dijadikan sampel penelitian Pekerja yang hanya bekerja sebagai pencuci mobil 2. Kriteria ekslusi Pekerja yang yang bekerja dibagian lain dibengkel tersebut Pekerja yang tidak bekerja setiap hari kecuali hari libur

24

4.5. Besar Sampel Sampel adalah subset (bagian) dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasinya. Dalam penelitian ini, sampel diambil dengan cara mengambil seluruh populasi menjadi sampel (total sampling) Di kota Medan terdapat 9 Bengkel Sehat dengan pekerja dibagian pencucian mobil sebanyak 45 orang, dengan setiap bengkel memiliki rata-rata pekerja sebanyak 5 orang.

4.6. Variabel Penelitian dan Defenisi Penelitian 4.6.1. Variabel Penelitian Variabel merupakan karakteristik subyek penelitian yang berubah dari satu subyek ke subyek lain. Dalam penelitian ada dua variabel penelitian, yaitu: 1. Variabel Bebas Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis, dengan pekerja sebagai responden. 2. Variabel Tergantung Dalam penelitian ini yang menjadi variabel tergantung adalah dermatitis akibat kerja. 4.7. Tehnik Pengumpulan Data 4.7.1. Data primer Data ini diperoleh dengan melakukan wawancara langsung kepada sampel penelitian.

25

4.7.2. Data Skunder Data ini diperoleh dari bagian administrasi bengkel, yang meliputi data jumlah karyawan atau pekerja yang bekerja sebagai pencuci mobil dibengkel tersebut. 4.7.3. Langkah-Langkah Pengumpulan Data 1) Langkah persiapan a) Mengurus perizinan kepada pimpinan tempat penelitian b) Menyusun pertanyaan penelitian yang akan digunakan pada saat mewawancarai pekerja saat penelitian. 2) Langkah pelaksanaan a) Menyerahkan surat izin untuk mengadakan penelitian di bengkel sehat medan b) Menetapkan sampel penelitian c) Melakukan wawancara kepada pekerja pencuci mobil di bengkel sehat medan d) Memproses dan menganalisa data-data yang terkumpul.

4.8. Pengolahan Data dan Analisa Data 4.8.1. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan secara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Editing Peneliti pada tahapini akan memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh responden, apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam pengisiannya.

26

b. Coding Peneliti akan mengklasifikasikan kategori-kategori dari data yang didapat dan dilakukan dengan cara memeri tanda atau kode berbenuk angka pada masing-masing kategori c. Tabulating Data yang telah diberi kode kemudian dikelompokkan, lalu dihitung dan dijumlahkan dan kemudian dituliskan dalam bentuk tabel.

4.9. Analisa Data

1. Analisa Univariat Tujuan analisa univariat adalah untuk menerangkan distribusi frekuensi masing masing variabel, baik variabel independen maupun dependen.

2. Analisa Bivariat Tujuan analisa bivariat adalah untuk melihat ada tidaknya hubungan antara dua variabel, yaitu variabel independen dan dependen. Untuk itu pengujian dilakukan dengan rasio prevalensi disertai dengan nilai interval kepercayaan yang dikehendaki, misalnya interval kepercayaan 95%.

27

BAB 5 HASIL PENELITIAN

5.1. Gambaran Umum Perusahaan 5.1.1 Latar Belakang dan Sejarah Bengkel Sehat Pro Auto Klinik Dengan semakin pesatnya perkembangan dunia otomotif dan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat pada dunia otomotif, hal ini mendasari berdirinya Bengkel SEHAT yang pertama pada tahun 1989, tepatnya di Jln. Hasanudin (SEHAT Auto Galery), dengan fasilitas cuci mobil dan ganti oli. Kemudian pada tahun 1993, Bengkel SEHAT menambah 2 outlet lagi yaitu di Jln. Gatot subroto (SEHAT Pusat Perawatan Mobil) dan di Jln. SM Raja (SEHAT Motor). Bersama itu pula Bengkel SEHAT menambah fasilitas layanan bengkel untuk Engine Repair, Spooring, Balancing, dan jasa bengkel lainnya. Pada tahun 1994, Bengkel SEHAT menambah satu outlet lagi Bengkel SEHAT di Jln. H. Adam Malik (SEHAT Perawatan dan Perbaikan Mobil) dengan tambahan fasilitas layanan OtoShop (aksesoris mobil ). Sejak itu pula semua Bengkel SEHAT meningkatkan pelayanannya dengan melengkapi fasilitas layanan bengkel di semua outlet yang ada. Menjawab permintaan pasar maka Bengkel SEHAT mencoba untuk menambah fasilitas yang ada dengan Layanan Body Repair (SEHAT Jln. Gatot Subroto) yaitu pada tahun 2001. Dengan motto selalu memberikan layanan yang terbaik dan terpercaya dan dengan kredibilitas yang sudah tidak di ragukan lagi di Wilayah Sumatera Utara maka Bengkel SEHAT membuka satu outlet lagi di Jln S. Parman tahun 2003. Menimbang perkembangan permintaan terhadap layanan Body repair maka pada tahun 2006, Bengkel Sehat Jl. Adam Malik menambah layanan Body Repair dengan nama divisi Micro Auto Body Repair I, setahun kemudian, pada tahun 2007 di buka Micro Auto Body Repair II di Jl. SM Raja. Kemudian di akhir tahun 2007 di buka Micro Auto Body Repair III di Jl. Gatot Subroto No. 80.

28

5.2. Hasil Penelitian 5.2.1. Analisis Univariat Hasil penelitian mengenai kejadian dermatitis diperoleh dari data wawancara. Variabel kejadian dermatitis dikategorikan menjadi dua yaitu dermatitis dan tidak dermatitis. Adapun hasil yang diperoleh mengenai kejadian dermatitis pada pekerja bagian pencucian mobil di bengkel sehat dapat dilihat dari tabel 5.1 berikut Table 5.1. Distribusi Kejadian Dermatitis pada Pekerja Pencuci Mobil Di Bengkel Sehat 2012 Kejadian dermatitis Dermatitis Tidak Dermatitis Jumlah Frekuensi 37 8 45 Persentase (%) 82 18 100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 45 pekerja, 37 (82%) mengalami dermatitis dan 8 (18 %) pekerja tidak mengalami dermatitis kontak.

a. Usia Hasil mengenai usia diperoleh dengan melakukan wawancara kepada responden. Distribusi faktor (usia) pada pekerja bagian pencuci mobil dapat dilihat pada tabel berikut.

29

Table 5.2. Distribusi Usia pada Pekerja Pencuci Mobil Di Bengkel Sehat 2012 Usia 20 tahun >20 tahun Jumlah Frekuensi 9 36 45 Persentase (%) 20 80 100

Usia dilihat dari lamanya responden berkerja dari pertama masuk sampai saat penelitian dihitung berdasarkan 20 tahun dan >20 tahun. Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa usia 20 pada pekerja bagian pencucian mobil adalah 9 atau 20% pekerja sedangkan usia >20 tahun adalah 36 atau 80% dari pekerja di bagian pencucian mobil di Bengkel Sehat Medan 2012.

b. Masa Kerja Hasil mengenai masa kerja diperoleh dengan melakukkan wawancara kepada responden. Distribusi faktor (masa kerja) pada pekerja bagian pencuci mobil dapat dilihat pada tabel berikut. Table 5.3 Tabel Distribusi Faktor Masa Kerja Pada Pekerja Pencuci Mobil Di Bengkel Sehat Tahun 2012 Masa kerja 1 tahun >1 tahun Jumlah Frekuensi 32 13 45 Persentase (%) 71 29 100

30

Masa kerja dilihat dari lamanya responden berkerja dari pertama masuk sampai saat penelitian dihitung berdasarkan 1 tahun dan >1 tahun. Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa masa kerja pada pekerja bagian pencucian mobil 1 tahun adalah 32 atau 71% dan masa kerja> 1 tahun adalah 13 atau 29%.

c. Penggunaan APD Hasil mengenai penggunaan APD diperoleh dengan melakukan observasi kepada responden. Distribusi faktor (penggunaan APD) pada pekerja bagian

pencuci mobil dapat dilihat pada tabel berikut.

Table 5.4 Tabel Distribusi Faktor Pengguanaan APD pada Pekerja Pencuci Mobil Di Bengkel Sehat Tahun 2012 Variabel Kategori Frekuensi Persentase (%) Penggunaan APD Memakai Tidak memakai Jumlah 19 26 45 42 58 100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 45 pekerja, 19 (42%) menggunakan APD dan 26 (58%) pekerja tidak menggunakan APD.

d. Lokasi Tubuh yang Terkena Dalam penelitian ini, lokasi tubuh yang terkena ditujukan untuk mengetahui lokasi tubuh yang paling sering terkena dermatitis. Hasil mengenai lokasi yang terkena diperoleh dengan melakukkan wawancara kepada responden. Distribusi lokasi yang terkena dermatitis pada pekerja bagian pencuci mobil dapat dilihat pada tabel berikut.

31

Table 5.5 Tabel Distribusi Lokasi Yang Terkena Dermatitis pada Pekerja Bagian Pencuci Mobil Lokasi yang terkena Tangan Kaki Tangan dan kaki Jumlah 7 21 9 37 Frekuensi 19 57 24 100 Persentase (%)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 37 pekerja yang terkena dermatitis dibagian tangan sebanyak 7 orang (19%) dan yang terdapat pada kaki sebanyak 21 orang (57%) serta yang terdapat ditangan dan kaki sebanyak 9 orang (24%).

5.2.2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat merupakan analisis lanjutan dari analisis univariat yang bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Uji yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis menggunakan uji rasio prevalensi yang hasilnya akan dijelaskan dibawah ini.

32

a. Hubungan Usia dengan Kejadian Dermatitis Tabel 5.7 Distribusi Faktor (Usia) dengan Kejadian Dermatitis pada Pekerja Bagian Pencucian Mobil di Bengkel Sehat Medan Tahun 2012 Variabel Dermatitis Dermatitis Usia 20 tahun >20 tahun Total 7 30 37 Tidak Dermatitis 2 6 8 9 36 45 Total

Berdasarkan tabel 5.7 diketahui hasil dari pengamatan cross sectional untuk menegetahui hubungan antara usia pekerja dengan kejadian dermatitis di Bengkel Sehat Medan 2012. RP = 7/9 : 30/36 = 0,92. Interpretasi hasil RP <1, maka berarti usia merupakan faktor protektif untuk terjadinya dermatitis pada pekerja bagian pencuci mobil di Bengkel Sehat Medan 2012. .

33

b. Hubungan Masa Kerja dengan Kejadian Dermatitis

Tabel 5.8 Distribusi Faktor (Masa Kerja) dengan Kejadian Dermatitis pada Pekerja Bagian Pencucian Mobil di Bengkel Sehat Medan Tahun 2012 Variabel Kejadian Dermatitis Dermatitis Masa kerja 1 tahun >1 tahun Total 24 13 37 Tidak Dermatitis 8 0 8 32 13 45 Total

Berdasarkan tabel 5.7 diketahui hasil dari pengamatan cross sectional untuk menegetahui hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatitis di Bengkel Sehat Medan 2012. RP =24/32 : 13/13 =0,75. Interpretasi hasil RP <1, maka berarti masa kerja merupakan faktor protektif untuk terjadinya dermatitis pada pekerja bagian pencuci mobil di Bengkel Sehat Medan 2012.

34

c. Hubungan Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis

Tabel 5.9 Distribusi Faktor ( Pengguanaan APD ) dengan Kejadian Dermatitis pada Pekerja Bagian Pencucian Mobil di Bengkel Sehat Medan Tahun 2012 Variabel Kejadian Dermatitis Terkena Penggunaan APD Ada Tidak ada Total 13 24 37 6 2 8 Tidak terkena 19 26 45 Total

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa pengguna APD pada pekerja yang mengalami dermatitis adalah 13, dan yang tidak terkena 6 pekerja. Pada pekerja yang tidak menggunakan APD dan mengalami dermatitis adalah 24 pekerja dan yang tidak terkena sebnyak 2 pekerja. Ratio prevalence dari tabel tersebut di atas yang akan membandingkan antara proporsi subyek dengan dengan faktor risiko
dengan proporsi subyek tanpa risiko sectional untuk menegetahui hubungan antara

pemakaian APD dengan kejadian dermatitis di Bengkel Sehat Medan 2012. RP =13/19 : 24/26 =0,73. Interpretasi hasil RP <1, maka berarti penggunaan APD merupakan faktor protektif untuk terjadinya dermatitis pada pekerja bagian pencuci mobil di Bengkel Sehat Medan 2012.

35

BAB 6 PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian Dalam pelaksanaan penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan penelitian yaitu : 1.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Desain ini tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibat, hanya menjelaskan hubungan keterkaitan. Meskipun demikian, desain ini dipilih karena paling sesuai dengan tujuan penelitian, serta efektif dari segi waktu. 2.Pemeriksaan kejadian dermatitis hanya dilihat secara umum dari gejala gejala, tanpa mengunakan uji tempel untuk memperkuat hasil. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan biaya dan waktu penelitian. 3.Tidak ada data sekunder mengenai kondisi kesehatan pekerja. Hal ini menyebabkan peneliti sulit menilai pencegahan kesehatan dan keselamatan kerja yang sudah dilaksanakan secara baik dan efektif untuk mencegah terjadinya dermatitis di perusahaan. 4.Hasil penelitian sangat dipengaruhi oleh kejujuran responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan setiap variabel.

6.2 Kejadian Dermatitis Dermatitis yang terjadi pada pekerja adalah dermatitis akibat kerja. Dermatitis akibat kerja didefinisikan sebagai penyakit kulit dimana pajanan di tempat kerja merupakan faktor penyebab yang utama serta faktor kontributor. Hasil penelitian menunjukan bahwa 82 % dari 45 orang pekerja di bagian pencucian mobil di Bengkel Sehat Medan menderita dermatitis. Hal tersebut sejalan dengan studi epidemiologi di Indonesia yang memperlihatkan bahwa 97% dari 389 kasus adalah dermatitis kontak, dimana 66,3% diantaranya adalah dermatitis iritan dan 33,7% adalah dermatitis alergi. (Hudyono, 2002).
36

Kontak dengan bahan kimia merupakan penyebab terbesar pada kejadian dermatitis akibat kerja. Pekerja di bagian pencucian mobil di Bengkel Sehat Medan berkontak dengan bahan kimia saat melakukan proses pekerjaan. Bahan kimia tersebut terdapat didalam sabun dan sampo yang digunakan untuk mencuci mobil. Bahan-bahan kimia tersebut berpotensi untuk menimbulkan dermatitis.

Bahan kimia yang terkandung dalam sabun umumnya bersifat iritan lemah dan sensitizer, sehingga dapat menyebabkan dermatitis. Terlihat dari 82,2 % pekerja yang menderita dermatitis timbul kelainan kulit setelah berulang kali kontak dengan zat kimia, dengan kelainan kulit berupa, likenifikasi (penebalan kulit), visura (retakan) serta timbul gejala seperti nyeri, panas, kulit kering bahkan tanpa gejala, bercak kemerahan, papula (tonjolan padat), vesikel (tonjolan berisi cairan), endema (bengkak) dan gejala gatal serta kulit seperti bersisik. Lokasi terjadinya dermatitis pada pekerja pencucian mobil di Bengkel Sehat Medan pada bagian tangan sela jari, volar tangan. Serta terbanyak pada bagian kaki yang terdapat di sela-sela jari kaki serta telapak kaki. Hal tersebut terjadi karena dalam melakukan pekerjaan, pekerja tersebut lebih sering mencuci tangan serta mengeringkannya ketika disela-sela pekerjaannya dan tidak memperdulikan keadaan kakinya yang tetap dalam keadaan lembab terutama yang tidak menggunakan APD. Umumnya pekerja yang mengalami dermatitis ringan hanya menunjukan gejala gatal-gatal, nyeri, kulit kering dan retak-retak, sedangkan pekerja yang mengalami dermatitis berat merasakan nyeri, panas, serta kulit bengkak. Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa faktor penyebab utama terjadinya dermatitis pada pekerja pencuci mobil di Bengkel Sehat Medan adalah akibat kontak dengan bahan kimia yang terkandung dalam sabun serta lingkungan yang selalu lembab. Berdasarkan pengamatan peneliti, dermatitis yang terjadi pada pekerja timbul akibat kebiasaan kerja yang buruk, serta ketidak peduliannya terhadap kesehatan kerja serta ketidak tahuan dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Hal tersebut memperbesar peluang untuk terjadinya dermatitis pada pekerja.
37

Maka dapat disimpulkan bahwa kejadian dermatitis pada pekerja pencuci mobil di Bengkel Sehat Medan, terjadi akibat proses kerja yang mengharuskan para pekerja berkontak dengan bahan kimia yang terdapat didalam sabun dalam jangka waktu yang lama setra keadaan lingkungan yang lembab, kelalaian pekerja serta faktor-faktor lain yang mendukung untuk terjadinya dermatitis pada pekerja. Dibawah ini akan dijelaskan lebih lanjut hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dan tidak berhubungan dengan terjadinya dermatitis pada pekerja dibagian pencucian mobil di Bengkel Sehat Medan.

6.3 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis 6.3.1 Hubungan antara Faktor Usia dengan Kejadian Dermatitis Usia merupakan salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari individu. Selain itu usia juga merupakan salah satu faktor yang dapat memperparah terjadinya dermatitis. Berdasarkan tabel 5.6 Hasil analisis rasio prevalensi menunjukkan bahwa usia merupakan faktor protektif terhadap kejadian dermatitis pada pekerja bagian pencuci mobil di Bengkel Sehat Medan 2012. Dimana didapatkan hasil 7 pekerja yang berusia 20 tahun terkena dermatitis dan 30 pekerja >20 tahun yang terkena dermatitis. Beberapa penelitian menunjukan bahwa pekerja dengan usia muda juga berpotensi mengalami dermatitis. Seperti penelitian Fatma Lestari (2007) pada pekerja PT.Inti Pantja Press Industri, didapatkan hasil 26 pekerja yang berusia 30 tahun terkena dermatitis kontak dan 13 pekerja yang berusia >30 tahun yang terkena dermatitis. Maka dalam penelitian ini, peneliti menarik kesimpulan bahwa walaupun sebagian besar usia pekerja bagian pencucian mobil di Bengkel Sehat Medan relatif muda, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mengalami dermatitis. Pekerja muda mempunyai fungsi proteksi kulit yang lebih baik dibanding pekerja tua, akan tetapi apabila dalam melaksanakan prosedur kerjanya tidak memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja, maka akan berpotensi untuk mengalami dermatitis. Oleh karena itu, untuk mencegah pekerja terkena
38

dermatitis ataupun memperparah keadaan kulit pekerja, perlu dilakukan program pemeriksaan kesehatan pada pekerja. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan sebelum bekerja dan pemeriksaan secara berkala. Diajurkan juga untuk seluruh pekerja menggunakan APD dan memperhatikan kebersihan diri masing-masing pekerja.

6.3.2 Hubungan antara Faktor Masa Kerja dengan Kejadian Dermatitis Masa kerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga kerja itu bekerja di suatu tempat. Masa kerja dalam penelitian ini merupakan jangka waktu pekerja mulai bekerja di bagian pencucian mobil di Bengkel Sehat Medan sampai waktu penelitian. Masa kerja penting diketahui untuk melihat lamanya seseorang telah terpajan dengan bahan kimia. Berdasarkan data pada tabel 5.3 diketahui bahwa distribusi pekerja menurut masa kerja cukup bervariasi, dengan pekerja paling lama adalah 5 tahun dan paling cepat 1 minggu. Berdasarkan hasil penelitian dengan menghitung rasio prevalensi,

menunjukkan bahwa masa kerja merupakan faktor protektif untuk kejadian dermatitis, dengan interpretasi hasil nilai RP <1. Dimana didapatkan hasil 24 pekerja 1 tahun terkena dermatitis dan dermatitis. Hasil ini tidak sebanding dengan hasil penelitian Trihapsoro (2008) pada pekerja industri batik di Surakarta, pekerja dengan masa kerja 1 tahun lebih banyak menderita dermatitis dari pada dengan masa kerja <1 tahun. Hal ini bisa disebabkan kulit yang harus beradaptasi terhadap lingkungan yang baru sehingga mudah terkena dermatitis. Oleh karena itu, baik pekerja baru maupun pekerja lama sebaiknya diberi pelatihan terlebih dahulu mengenai hal-hal yang dapat menggangu keselamatan dan kesehatan pekerja tersebut selama bekerja, yaitu melalui training mengenai proses kerja aman, baik pada awal penerimaan bekerja maupun safety briefing terkait melaksanakan standar dan prosedur kerja aman setiap hari sebelum mulai bekerja. Selain itu juga perlu disediakan alat pelindung diri yang lengkap dan
39

13 pekerja >1 tahun yang terkena

mencukupi seluruh jumlah pekerja, sehingga dapat terhindar dari bahaya-bahaya bahan kimia. Rotasi kerja ke bagian yang tidak mempunyai risiko kontak langsung dengan penyebab terjadinya dermatitis juga perlu dilakukan.

6.3.2 Hubungan antara Faktor Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis Penggunaan APD merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya dermatitis akibat kerja, karena dengan mengunakan APD dapat terhindar dari kontak langsung dengan bahan kimia yang terkandung di dalam sabun pencuci mobil. Berdasarkan penelitian terdahulu menunjukan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan APD dengan kejadian dermatitis kontak. Diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Erliana (2008) pada pekerja percetakan paving blok, menunjukan bahwa pekerja yang tidak menggunakan APD 87,5% menderita dermatitis dibandingkan dengan pekerja yang

menggunakan APD hanya 19%. Pada penelitian ini menunjukan penggunaan APD merupakan faktor protektif terhadap kejadian dermatitis, dengan interpretasi hasil nilai RP <1. Dimana

didapatkan hasil 13 pekerja yang mengguanakan APD terkena dermatitis dan 24 pekerja yang tidak menggunakan APD terkena dermatitis. Hal tersebut menunjukan bahwa penggunaan APD merupakan faktor yang sangat penting terhadap terjadinya dermatitis. Berdasarkan pengamatan peneliti, tidak semua pekerja menggunakan APD, padahal dari pihak perusahaan telah

menyediakannya. Alat pelindung diri yang tersedia diantaranya sarung tangan karet, baju pelindung, dan sepatu boat. Sepatu boat merupakan alat pelindung diri yang wajib digunakan pekerja guna meminimalisir kontak langsung antara kulit dengan bahan kimia serta agar tidak selalu lembab. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, pekerja bagian banyak yang tidak menggunakan sepatu boat dan ada juga yang tidak mengetahui pemakaian sepatu boat secara benar saat melakukan proses pekerjaannya. Berikut

40

penuturan salah seorang pekerja saat diwawancarai mengenai ketidakpatuhan mereka terkait penggunaan APD : kalau pakai sepatu boat susah gerak, jadinya pekerjaan lambat dan kalau bagian atas sepatu boat di masukkan kedalam celana bagian dalam sepatu boat bisa menggesek kulit dan menjadi kemerahan. Berdasarkan penuturan salah seorang pekerja tersebut, terlihat minimnya pengetahuan pekerja terhadap pentingnya penggunaan APD. Sebagian besar pekerja merasa risih dan berpendapat bahwa dengan mengunakan APD akan memperlambat pekerjaan mereka. Mereka tidak mengetahui kontak langsung dengan bahan kimia serta membiarkan kaki dalam keadaan lembab sepanjang hari selama melakukan proses pekerjaan dapat mengakibatkan penyakit kulit akibat kerja. Oleh karena itu, pihak manajemen perlu memberikan penyuluhan kepada pekerja terkait pentingnya penggunaan APD untuk mencegah terjadinya kecelakaan ataupun penyakit akibat kerja, khususnya penyakit dermatitis. Penyuluhan mengenai ciri-ciri, gejala serta penyebab penyakit dermatitis juga perlu dilakukan, sehingga pekerja dapat menghindari dan mencegah bahaya tersebut.

41

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada Tukang Cuci Mobil di Bengkel Sehat Kota Medan, dengan jumlah pekerja 45 orang, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Gambaran pekerja yang mengalami kejadian dermatitis sebesar 82% dan pekerja yang tidak mengalami kejadian dermatitis sebesar 18%. 2. Gambaran pekerja dengan usia dilihat dari usia pekerja yaitu 20 tahun dan >20 tahun. Pekerja dengan usia 20 pada pekerja bagian pencucian mobil sebesar 20% sedangkan usia >20 tahun adalah sebesar 80%. 3. Gambaran pekerja yang menggunakan APD adalah sebesar 42 % dan pekerja yang tidak menggunakan APD adalah 58 %. 4. Gambaran distribusi lokasi yang terkena kejadian dermatitis adalah, yang tidak terkena 18%, tangan 15 %, kaki 47 %, tangan dan kaki 20 %. 5. Untuk variabel usia diperoleh RP = 0,93. Interpretasi hasil RP <1, maka berarti usia merupakan faktor protektif untuk terjadinya dermatitis. 6. Untuk variabel masa kerja diperoleh RP = 0,75. Interpretasi hasil RP <1, maka berarti masa kerja merupakan faktor protektif untuk terjadinya dermatitis. 7. Untuk variabel penggunaan APD diperoleh RP = 0,73. Interpretasi hasil RP <1, maka berarti penggunaan APD merupakan faktor protektif untuk terjadinya dermatitis.

42

7.2 Saran

Untuk mengurangi kejadian dermatitis pada pekerja tukang cuci mobil di Bengkel Sehat, disarankan :

1. Bagi Pekerja

a. Pekerja seharusnya menggunakan alat pelindung diri dengan lengkap selama melaksanankan proses kerja, terutama sarung tangan, baju kerja dan sepatu kerja, sehingga dapat mencegah terjadinya kontak langsung dengan bahan kimia. b. Pekerja seharusnya memperhatikan kebersihan diri selama berada di lingkungan kerja, seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan proses kerja, langsung membilas bagian tubuh saat terkena bahan kimia dan menggunakan pakaian yang bersih selama melakukan proses pekerjaan.

2. Saran Bagi Bengkel Sehat Kota Medan

a.Menyediakan alat pelindung diri yang lengkap seperti sarung tangan,

baju

kerja dan sepatu kerja, serta mencukupi jumlah APD bagi seluruh pekerja. b. Pekerja baru maupun pekerja lama seharusnya diberi pelatihan dan penyuluhan mengenai proses kerja yang aman, pentingnya penggunaan APD dan perilaku hidup bersih dan sehat selama bekerja. c. Meningkatkan pengawasan yang bukan hanya mengawasi proses kerja tetapi juga mengawasi personal hygiene dan penggunaan APD pekerja. d. Memberikan peringatan atau pun sangsi tegas bagi pekerja yang tidak patuh terhadap peraturan untuk menjaga kebersihan diri dan penggunaan APD.
43

3. Saran Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Penelitian selanjutnya sebaiknya dapat melakukan uji tempel untuk memperkuat hasil diagnosa mengenai kejadian dermatitis. b. Penelitian selanjutnya sebaiknya dapat meneliti ukuran molekul, daya larut serta konsentrasi dari bahan kimia yang kontak dengan kulit. c. Penelitian selanjutnya sebaiknya dapat meneliti variabel suhu dan kelembaban, jika dilakukan pada kondisi lingkungan kerja yang berbeda beda. d. Penelitian mengenai dermatitissebaiknya lebih difokuskan pada satu jenis dermatitis saja. e. Perlu diadakan penelitian kualitatif untuk menggali lebih dalam pekerja yang tidak lengkap dalam penggunaan APD dengan kejadian dermatitis.

44

DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen Ilmu Kedokteran Kulit dan Kelamin FK UI. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-6. Jakarta; Departemen Ilmu Kulit dan Kelamin FK UI; 2011. 2. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC; 2010. 3. Sumamur P.K. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Edisi ke-3. Jakarta: CV Haji Masagung; 1987. 4. Notoatmodjo S. Prinsip prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta; 2003. 5. Sumamur P.K. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja (Hiperkes). Jakarta: Sagung Seto; 2009. 6. Notoatmodjo S. Ilmu dan seni kesehatan masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta; 2007. 7. Harrington M.J, Gill F.S. Buku saku kesehatan kerja. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC; 2005. 8. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar dasar metodologi penelitian klinis. Edisi Ke-3. Jakarta: Sagung Seto; 2010. 9. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010. 10. Wahyuni A.S. Statistika Kedokteran (Disertai Aplikasi dengan SPSS). Jakarta: Bamboedoea Communication; 2007. 11. Suryani, F. Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitispada Pekerja Bagian Processing dan Filling PT. Cosmas Indonesia Tangerang Selatan Tahun 2011. Skripsi tidak diterbitkan. Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011. 12. Savitri, D. Sukanto, H. Penderita DermatitisAkibat Kerja di Divisi Alergi Unit Unit Rawat Jalan Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya Periode 1997 2001. Vol XV. Surabaya: Airlangga University Press; 2003. 13. Handoyo, J. 2002. Dermatosis Akibat Kerja. Majalah Kedokteran Indonesia, November 2002.

45

L A M P I R A N

46

MASTER TABEL No Nama Usia Masa kerja Penggunaan APD memakai Tidak memakai memakai Tidak memakai memakai Tidak memakai Tidak memakai memakai Tidak memakai Tidak memakai Tidak memakai memakai Kejadian dermatitis Tidak Terkena Terkena Terkena Tidak terkena Terkena Terkena Terkena Tidak Terkena Terkena Terkena Terkena Terkena Lokasi yang terkena Kaki Kaki Tangan dan kaki Tangan dan kaki Kaki Tangan Kaki Kaki Kaki

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Agus M. Ali Jaka Gusti Ilham Surya Andre Riki Anto Rohim Salman Reza

21 tahun 24 tahun 28 tahun 21 tahun 22 tahun 30 tahun 24 tahun 19 tahun 35 tahun 32 tahun 27 tahun 19 tahun

10 bulan 8 bulan 5 tahun 1 minggu 3 bulan 2 bulan 3 tahun 1 bulan 2 tahun 4 bulan 1 tahun 1 tahun

47

13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Abdi Rahman Adi Topan Saipul Didi Ucok

23 tahun 20 tahun 24 tahun 26 tahun 28 tahun 23 tahun 22 tahun

3 minggu 1 bulan 5 bulan 4 bulan 5 bulan 4 bulan 6 bulan

memakai memakai Tidak memakai Tidak memakai Tidak memakai memakai memakai

Tidak Terkena Terkena Terkena Terkena Terkena Tidak Terkena Terkena

Kaki Tangan dan kaki Tangan Tangan Tangan dan kaki Tangan Kaki Kaki Kaki Kaki Kaki

20. 21. 22. 23. 24. 25. 26.

Ari Putra Pajar Hamid Imron Jamil Topik

20 tahun 25 tahun 33 tahun 20 tahun 28 tahun 22 tahun 37 tahun

1 tahun 8 bulan 2 bulan 1 minggu 3 minggu 5 bulan 1 tahun

Tidak memakai Tidak memakai Tidak memakai memakai Tidak memakai memakai Tidak memakai

Terkena Terkena Terkena Tidak Terkena Terkena Terkena Terkena

48

27. 28. 29. 30.

Untung Dodi Adam Adi

26 tahun 22 tahun 27 tahun 21 tahun

7 bulan 4 bulan 8 bulan 1 tahun

memakai memakai Tidak memakai Tidak memakai

Terkena Terkena Terkena Terkena

Tangan dan kaki Kaki Tangan Tangan dam kaki Kaki Kaki Kaki Tangan dan kaki Tangan Tangan dan kaki Kaki Kaki Kaki

31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40.

Joko Budi Hendri Edi Yatno Rolan Tunggul Atang Roby Wawan

24 tahun 33 tahun 24 tahun 22 tahun 31 tahun 26 tahun 27 tahun 32 tahun 24 tahun 26 tahun

5 bulan 7 bulan 1 tahun 8 bulan 1 minggu 2 bulan 4 bulan 1 tahun 2 tahun 5 bulan

memakai memakai Tidak memakai Tidak memakai Tidak memakai Tidak memakai memakai Tidak memakai Tidak memakai memakai

Terkena Terkena Terkena Terkena Tidak Terkena Terkena Terkena Terkena Terkena Terkena

49

41. 42. 43. 44. 45.

Sapril Usman Rohim Teguh Darma

24 tahun 29 tahun 20 tahun 20 tahun 19 tahun

3 bulan 1 bulan 9 bulan 14 bulan 1 bulan

memakai memakai Tidak memakai Tidak memakai Tidak memakai

Tidak Terkena Terkena Terkena Terkena Terkena

Tangan Tangan dan kaki Kaki Kaki

50

GAMBAR WAWANCARA DI BENGKEL SEHAT MEDAN

51