Anda di halaman 1dari 2

Kebutuhan Nutrisi pada Masa Pemulihan Antar Pertandingan

Pemenuhan kebutuhan nutrisi pada masa pemulihan antar pertandingan merupakan hal penting, karena tidak jarang waktu yang diperlukan untuk pemulihan tidak cukup lama sebelum akhirnya seorang atlet harus segera bertanding kembali. Hal yang berkaitan dengan kebutuhan nutrisi pada masa pemulihan yaitu mengembalikan cadangan glikogen otot dan hati, regenerasi, perbaikan dan proses adaptasi dari kerusakan jaringan otot rangka akibat olahraga yang berkepanjangan serta penggantian cairan dan elektrolit yang hilang dari keringat. Beberapa nutrisi yang menjadi perhatian pada masa pemulihan adalah karbohidrat, protein, cairan dan elektrolit. Kebutuhan karbohidrat minimal untuk memenuhi cadangan glikogen otot dan hati adalah sebesar 710 gram/kg massa tubuh. Jenis karbohidrat yang diperlukan pada masa pemulihan adalah karbohidrat sederhana (mono atau disakarida) atau karbohidrat yang memiliki indeks glikemik (IG) sedang-tinggi. Jenis karbohidrat tersebut dapat segera diserap oleh tubuh dalam waktu singkat untuk disimpan menjadi cadangan glikogen di otot rangka. Pada masa latihan dan pertandingan cadangan glikogen inilah yang selanjutnya dimetabolisme untuk menjadi sumber energi utama bagi tubuh. Beberapa penelitian pernah dilakukan untuk membandingkan pemberian karbohidrat dalam bentuk small-frequent feeding berupa camilan beberapa kali makan atau beberapa makanan utama. Hasilnya memperlihatkan tidak ada perbedaan cadangan glikogen dan kadar insulin apabila karbohidrat dikonsumsi dalam bentuk camilan, makanan utama maupun kombinasi keduanya. Karbohidrat tersebut harus diupayakan pemberiannya dengan segera, yaitu pada masa satu jam pertama setelah bertanding. Konsumsi camilan tinggi karbohidrat mungkin dapat dijadikan pilihan bagi atlet yang mengalami kelelahan pasca pertandingan. Selama kondisi olahraga yang berkepanjangan, terjadi penguraian protein otot rangka dan pembebasan asam amino rantai bercabang. Asam amino rantai bercabang (isoleusin, leusin, dan valin) memiliki peran khusus di dalam otot rangka, karena merupakan asam amino yang dapat dimetabolisme di jaringan luar hati dan bermanfaat menghasilkan energi berupa adenosine triphosphate (ATP). Protein juga bermanfaat untuk perbaikan jaringan otot rangka yang rusak akibat olahraga berkepanjangan atau pertandingan. Agar tubuh dapat menyimpan asam amino kembali untuk membentuk protein otot baru diperlukan konsumsi makanan atau minuman tinggi protein. Leusin memiliki manfaat positif dalam membentuk protein otot selama masa pemulihan. Pemberian protein (protein hidrolisat maupun leusin) bermanfaat dalam mendeposit protein otot, memperbesar ukuran otot rangka (hipertrofi otot) dan meningkatkan kekuatan otot rangka. Koopman dkk melakukan penelitian pada atlet dengan memberikan tiga jenis minuman yang berbeda, yaitu membandingkan efek pemberian minuman yang mengandung karbohidrat 0,3/kg/jam; minuman dengan kombinasi karbohidrat 0,3/kg/jam dan protein hidrolisat 0,2/kg/jam; serta minuman kombinasi karbohidrat 0,3/kg/jam, protein hidrolisat 0,2/kg/jam dan leusin 0,1/kg/jam. Hasilnya memperlihatkan bahwa konsumsi minuman dengan kombinasi karbohidratprotein hidrolisat-leusin mampu memperbaiki keseimbangan protein tubuh selama masa pemulihan, dibandingkan pemberian minuman karbohidrat saja atau minuman kombinasi karbohidrat-protein hidrolisat. Pada kondisi olahraga berat dan berkepanjangan, segera setelah bertanding idealnya dilakukan rehidrasi cairan. Minuman yang mengandung glukosa dan elektrolit, biasanya mampu dikonsumsi lebih banyak oleh atlet daripada berupa air mineral saja. Minuman manis mampu merehidrasi cairan sekitar 79% dari total kehilangan keringat, sedangkan air mineral dapat menggantikan sekitar 63% dari total kehilangan keringat. Elektrolit utama yang hilang melalui

keringat adalah natrium, terjadi sekitar 2080 mmol/L. Penggantian natrium dapat dilakukan dengan mengkonsumsi cairan elektrolit yang mengandung natrium sekitar 50 mmol/L. Minuman yang diperkaya natrium dapat meningkatkan keinginan minum karena lebih memiliki rasa dibandingkan air mineral. Rehidrasi cepat melalui larutan fisiologis intravena dapat dilakukan apabila diperlukan penggantian cairan secara cepat, misalnya seorang atlet mengalami dehidrasi sedang, tidak dapat minum melalui oral, atau mungkin waktu yang disediakan untuk istirahat antar pertandingan amat singkat. Rehidrasi melalui oral maupun intravena memiliki efektifitas yang hampir seimbang. Untuk mengurangi rasa haus, lebih disarankan menggunakan rehidrasi oral dibandingkan intravena. Sedangkan untuk mencapai rehidrasi optimal, sebaiknya menggunakan kombinasi antara rehidrasi oral dengan intravena.