Anda di halaman 1dari 32

URNAL PRAKTIKUM FORMULASI TEKHNOLOGI SEDIAAN STERIL (INJEKSI DEXAMETHASONE NATRIUM FOSFAT SEBAGAI EFEK ADRENERGIK)

Oleh :

ALI RIDWAN AHMAD SUHENDRO

(10.006) (10.004)

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA April 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Apabila obat tidak dapat diminum melalui oral karena ketidak mampuan untuk menelan, menurunnya kesadaran, inaktifasi obat oleh cairan lambung atau ada tujuan untuk

meningkatkan efektivitas obat, maka dapat dipilih rute parenteral. Pengobatan parenteral diberikan secara interdermal (di bawah kulit), subkutan (ke dalam jaringan lemak), intramuscular (di dalam otot), dan intravena (di dalam vena). Produk steril adalah sediaan teraseptis dalam bentuk terbagi bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Sediaan parenteral ini merupakan sediaan unik diantara bentuk sediaan obat terbagi bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke bagian dalam tubuh. Dan kemudian langsung menuju reseptor.Sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksik serta harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi dan luar biasa. Dalam injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan antara lain efek terapi lebih cepat didapat., dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan, cocok untuk keadaan darurat, untuk obat obat yang rusak oleh cairan lambung. Salah satu bagian dari obat otonom yaitu Deksametason natrium fosfat injeksi, USP adalah solusi steril natrium fosfat deksametason, dan tersedia dalam 4 mg / mL dan 10 mg / mL. Deksametason natrium fosfat injeksi, USP 4 mg / mL juga merupakansolusi steril untuk intravena, intramuskular, artikular intra-, administrasi jaringan intralesi dan lembut yang dapat menimbulkan efek adrenergik. Efek adrenergik dapat dikehendaki bagi pasien yang membutuhkan suplai energi tambahan bila penggunaan adrenalin tidak memungkinkan Obat adrenergic yakni obat dengan zat zat yang dapat menimbulkan ( sebagian ) efek yang sama dengan stimulasi susunan simpaticus ( SS ) dan melepaskan noradrenalin ( NA ) di ujung ujung sarafnya. SS berfungsi meningkatkan penggunaan zat oleh tubuh dan menyiapkannya untuk proses disimilasi dan di khususkan untuk memacu adrenalin. Sehingga pemakaiannya harus diperhatikan agar tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan dalam tubuh dengan tetap memperhatikan kontraindikasi pada pasien yang bersangkutan agar pemakaiannya maksimal. 1.2 TUJUAN 1.1.1 1.1.2 Mengetahui persiapan dan cara pembuatan sediaan injeksi dalam formulasi teknologi sediaan steril. Membuat dan memformulasikan sediaan injeksi Dexamethason sebagai efek adrenergik dalam bentuk sediaan steril.

1.3 MANFAAT 1.1.1 1.1.2 Dapat mengetahui persiapann dan cara pembuatan sediaan injeksi dalm formulasi tekhnologi sediaan steril. Dapat menformulasikan dan memproduksi sediaan injeksi Dexamethasone natrium fosfat sebagai efek adreneergik dengan baik dan benar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir.(FI.III.1979) Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya larutan obat dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler.(FI.IV.1995) Sediaan steril injeksi dapat berupa ampul, ataupun berupa vial. Injeksi vial adalah salah satu bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan pada dosis ganda dan memiliki kapasitas atau volume 0,5 mL 100 mL. Injeksi vial pun dapat berupa takaran tunggal atau ganda dimana digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan atau suspensi dengan volume sebanyak 5 mL atau pun lebih. (Anonim.Penuntun Praktikum Farmasetika I.2011) Berdasarkan R.VOIGHT(hal 464) menyatakan bahwa, botol injeksi vial ditutup dengan sejenis logam yang dapat dirobek atau ditembus oleh jarum injeksi untuk menghisap cairan injeksi. Injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan : Efek terapi lebih cepat . Dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan. Cocok untuk keadaan darurat. Untuk obat-obat yang rusak oleh cairan lambung. Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sediaan injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disusupensikan terlebih dahulu sebelum digunakan secara perenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek jaringan kedalam atau melalui kulit atau selaput lendir. Sediaan steril untuk sedian perenteral digolongkan menjadi lima jenis yang berbeda yaitu : Obat larutan, atau emulsi yang digunakan untuk injeksi ditandai dengan nama injeksi, contohnya adalah injeksi insulin. Sediaan padat kering atau cairan pekat yang tidak mengandung dapar, pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang memenuhi persyaratan injeksi. Sediaan ini dapat membedakannya dari nama bentuknya yaitu steril, contohnya Ampicilin Sodium steril. Sediaan seperti tertera pada no 2, tetapi mengandung satu atau lebih dapar, pengencer atau bahan tambahan lain dan dapat dibedakan dari nama bentuknya.yaitu untuk injeksi, contohnya Methicillin Sodium untuk injeksi. Sediaan berupa susupensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkansacara intravena atau di dalam saluran spinal, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya yaitu susupensi steril. Contoh Cortisao Suspensi steril.

1. 2. 3. 4.

1. 2.

3.

4.

5. Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan pembawanya yang sesuai. Dan dapat membedakannya dari nama bentuknya yaitu steril untuk suspensi. Contohnya Ampicilin steril untuk suspensi. 2.2 Rute-rute Injeksi 1. Parenteral Volume Kecil a. Intradermal Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul kecil. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme. b. Intramuskular Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset sedikit lebih normal daripada rute intravena, tetapi lebih besar daripada rute subkutan. c. Intravena Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak ada absorpsi, puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera, dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir sekejap. d. Subkutan Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM. e. Rute intra-arterial disuntikkan langsung ke dalam arteri, digunakan untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh. f. Intrakardial Disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal jantung. g. Intraserebral Injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia. h. Intraspinal Injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia. i. Intraperitoneal dan intrapleural Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal. j. Intra-artikular Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi. k. Intrasisternal dan peridual Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis untuk injeksi.

Intrakutan (i.c) Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah stratum corneum. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0,1-0,5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin. m. Intratekal Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai keadaan tubuh pasien. 2. Parenteral Volume Besar Untuk pemberian larutan volume besar, hanya rute intravena dan subkutan yang secara normal digunakan. a. Intravena Keuntungan rute ini adalah jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat efek sistemik dapat segera dicapai level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan. Kerugiannya adalah meliputi : gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar; perkembangan potensial trombophlebitis; kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septic pembatasan cairan berair. b. Subkutan Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika rute intravena tidak dapat digunakan. Cairan volume besar secara relatif dapat digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat. Dibandingkan dengan rute intravena, absorpsinya lebih lambat, lebih nyeri dan tidak menyenangkan, jenis cairan yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat tambahannya. 2.3 Keuntungan injeksi a. Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan, yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung, asma, shok. b. Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan, seperti insulin, hormon dan antibiotik. c. Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif, mual atau tidak sadar harus diberikan secara injeksi. d. Bila memungkinkan, terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien harus kembali untuk pengobatan selanjutnya. Juga dalam beberapa kasus, pasien tidak dapat menerima obat secara oral.

l.

e. f.

g. h. i. j. k. l. m.

Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti pada gigi dan anestesi. Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang, bentuk parenteral tersedia, termasuk injeksi steroid periode panjang secara intra-artikular dan penggunaan penisilin periode panjang secara i.m. Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan elektrolit. Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi total diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral. Aksi obat biasanya lebih cepat. Seluruh dosis obat digunakan. Beberapa obat, seperti insulin dan heparin, secara lengkap tidak aktif ketika diberikan secara oral, dan harus diberikan secara parenteral. Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral, tetapi dapat ditoleransi ketika diberikan secara intravena, misalnya larutan kuat dektrosa. Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok, pemberian intravena dapat menyelamatkan hidupnya.

2.4 Kerugian Injeksi a. Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian rute lainPada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat dihindari Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya. Yang terakhir, karena pada pemberian dan pengemasan, bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute yang lain. Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien, terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i.v. Dalam beberapa kasus, dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis. Sekali digunakan, obat dengan segera menuju ke organ targetnya. Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah penggunaan, efeknya sulit untuk dikembalikan lagi. Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Efek sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis, pada bagian yang diinjeksikan.

b. c. d. e. f.

g.

2.5 Komposisi Injeksi 1. Bahan aktif Data zat aktif yang diperlukan (Preformulasi) a. Kelarutan Terutama data kelarutan dalam air dari zat aktif sangat diperlukan, karena bentuk larutan air paling dipilih pada pembuaan sediaan steril. Data kelarutan ini diperlukan untuk menentukan bentuk sediaan. Zat aktif yang larut air membentuk sediaan larutan dalam air, zat aktif yang larut minyak dibuat larutan dalam pembawa minyak. Sedangkan zat yang tidak larut dalam kedua pembawa tersebut dibuat sediaan suspensi. Jika zat aktif tidak larut dalam air ada

beberapa alternatif yang dapat diambil sebelum memutuskan untuk membuat sediaan suspensi atau larutan minyak yaitu dengan mencari bentuk garam dari zat aktif, melakukan reaksi penggaraman, atau dicari bentuk kompleksnya b. pH stabilita pH stabilita adalah pH dimana penguraian zat aktif paling minimal, sehingga diharapkan kerja farmakologinya optimal. pH stabilita dicapai dengan menambahkan asam encer, basa lemah atau dapar. c. Stabilitas zat aktif Data ini membantu menentukan jenis sediaan, jenis bahan pembawa, metodasterilisasi atau cara pembuatan. Beberapa factor yang mempengaruhi penguraian zat aktif adalah: Oksigen (Oksidasi) Pada kasus ini, setelah air dididihkan maka perlu dialiri gas nitrogen dan ditambahkan antioksidan. Air (Hidrolisis) Jika zat aktif terurai oleh air dapat dipilih alternatif : - Dibuat pH stabilitanya dengan penambahan asam/basa atau buffer - Memilih jenis pelarut dengan polaritas lebih rendah daripada air, seperti campuran pelarut air-gliserin-propilenglikol atau pelarut campur lainnya. - Dibuat dalam bentuk kering dan steril yang dilarutkan saat disuntikkan. Suhu Jika zat aktif tidak tahan panas dipilih metode sterilisasi tahan panas, seperti filtrasi. Cahaya Pengaruh cahaya matahari dihindari dengan penggunaan wadah berwarna cokelat. d. Tak tersatukannya (homogenitas) zat aktif , Baik ditinjau dari segi kimia, fisika, atau farmakologi. e. Dosis Data ini menentukan tonisitas larutan dan cara pemberian. f. Rute pemberian Rute pemberian yang akan digunakan akan berpengaruh pada formulasi, dalam hal:Volume maksimal sediaan yang dapat diberikan pada rute tersebut (Lihat datanyapada bagian rute pemberian). Pemilihan pelarut disesuaikan dengan rute pemberian Isotonisitas dari sediaan juga dipengaruhi oleh rute pemberian. Pada larutan intravena isotonisitas menjadi kurang penting selama pemberian dilakukan dengan perlahan untuk memberikan waktu pengenceran dan adjust oleh darah. Injeksi intraspinal mutlak harus isotonis. 2. Bahan tambahan a. Antioksidan : Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit, metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu digunakan :Asam askorbat, Sistein, Monotiogliseril, Tokoferol. b. Bahan antimikroba atau pengawet : Benzalkonium klorida, Benzil alcohol, Klorobutanol, Metakreosol, Timerosol, Butil p-hidroksibenzoat, Metil p-hidroksibenzoat, Propil phidroksibenzoat, Fenol. c. Buffer : Asetat, Sitrat, Fosfat. d. Bahan pengkhelat : Garam etilendiamintetraasetat (EDTA). e. Gas inert : Nitrogen dan Argon. f. Bahan penambah kelarutan (Kosolven) : Etil alcohol, Gliserin, Polietilen glikol, Propilen glikol, Lecithin g. Surfaktan : Polioksietilen dan Sorbitan monooleat. h. Bahan pengisotonis : Dekstrosa dan NaCl

i. j.

Bahan pelindung : Dekstrosa, Laktosa, Maltosa dan Albumin serum manusia. Bahan penyerbuk : Laktosa, Manitol, Sorbitol, Gliserin.

3. Bahan Pembawa Bahan pembawa injeksi dapat berupa air maupun non air. Sebagian besar produk parenteral menggunakan pembawa air. Hal tersebut dikarenakan kompatibilitas air dengan jaringan tubuh, dapat digunakan untuk berbagai rute pemberian, air mempunyai konstanta dielektrik tinggi sehingga lebih mudah untuk melarutkan elektrolit yang terionisasi dan ikatan hydrogen yang terjadi akan memfasilitasi pelarutan dari alkohol, aldehid, keton, dan amin. Syarat air untuk injeksi menurut USP : Harus dibuat segar dan bebas pirogen Tidak mengndung lebih dari 10 ppm dari total zat padat. pH antara 5-7 Tidak mengandung ion-ion klorida, sulfat, kalsium dan amonium, karbondioksida,dan kandungan logam berat serta material organik (tanin, lignin), partikel berada pada batas yang diperbolehkan. a) Air Pro Injeksi Aqua bidest dengan pH tertentu, tidak mengandung logam berat (timbal, Besi, Tembaga), juga tidak boleh mengandung ion Ca, Cl, NO3, SO4, amonium, NO2, CO3. Harus steril dan penggunaan diatas 10 ml harus bebas pirogen. Aqua steril Pro Injeksi adalah air untuk injeksi yang disterilisasi dan dikemas dengan cara yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya Cara pembuatan : didihkan air selama 30 menit dihitung dari setelah air mendidih di atas api lalu didinginkan. Cara : Aqua p.i + karbon aktif 0,1% dari volume, dipanaskan 60-70oC selama 15 menit. Tidak boleh menggunakan Aqua DM karena ada zat-zat organik yang tidak bermuatan dapat lolos, ditanggulangi dengan filtrasi karbon adsorben dan filtrasi bakteri. Air Pro Injeksi Bebas CO2 CO2 mampu menguraikan garam natrium dari senyawa organic seperti barbiturate dan sulfonamide kembali membentuk asam lemahnya yang mengendap. Cara pembuatan : Mendidihkan air p.i selama 20-30 menit lalu dialiri gas nitrogen sambil didinginkan. (Rep. Tek Fa. Steril hal 4) Air Pro Injeksi bebas O2 Dibuat dengan mendidihkan air p.i selama 20-30 menit dan pada saatpendinginannya dialiri gas nitrogen. Dipakai untuk melarutkan zat aktif yang mudah teroksidasi, seperti apomorfin, klorfeniramin, klorpromazin, ergometrin, ergotamine, metilergotamin, proklorperazin, promazin, promesatin HCl, sulfamidin, turbokurarin. b) Pembawa Non Air Pembawa non air digunakan jika: Zat aktif tidak larut dalam air Zat aktif terurai dalam air Diinginkan kerja depo dalam sediaan Syarat umum pembawa non air . Tidak toksik, tidak mengiritasi dan menyebabkan sensitisasi Dapat tersatukan dengan zat aktif Inert secara farmakologi Stabil dalam kondisi di mana sediaan tersebut biasa digunakan Viskositasnya harus sedemikian rupa sehingga dapat disuntikan dengan muda

Harus tetap cair pada rentang suhu yang cukup lebar Mempunyai titik didih yang tinggi sehingga dapat dilakukan sterilisasi dengan panas Dapat bercampur dengan air atau cairan tubuh

2.6 Syarat-syarat Injeksi a. b. c. d. e. f. g. h. Bebas dari mikroorganisme, steril atau dibuat dari bahan-bahan steril di bawah kondisi yang kurang akan adanya kombinasi mikroorganisme (proses aseptik). Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik lainnya. Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut. Sterilitas Bebas dari bahan partikulat Bebas dari Pirogen Kestabilan Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah.

2.7 Wadah Injeksi Wadah untuk injeksi termasuk penutup tidak boleh berinteraksi melalui berbagai cara baik secara fisik maupun kimiawi dengan sediaan, yang dapat mengubah kekuatan, mutu atau kemurnian di luar persyaratan resmi dalam kondisi biasa pada waktu penanganan, pengangkutan, penyimpanan, penjualan, dan penggunaan. Wadah terbuat dari bahan yang dapat mempermudah pengamatan terhadap isi. Tipe kaca yang dianjurkan untuk tiap sediaan umumnya tertera dalam masing-masing monografi. (FI Ed. IV, hal 10). Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan di dalamnya baik secara kimia maupun secara fisika, yang dapat mengakibatkan perubahan khasiat, mutu dan kemurniannya. (FI ed. III, hal XXXIV) Bagaimanapun bentuk dan komposisi wadah, wadah pengemas merupakan sumber dari masalah stabilitas sediaan, bahan partikulat, dan sumber pirogen. (Diktat Steril, hal 82) Ada dua tipe utama wadah untuk injeksi yaitu dosis tunggal dan dosis ganda. Wadah dosis tunggal yang paling sering digunakan adalah ampul dimana kisaran ukurannya dari 1100 ml. pada kasus tertentu, wadah dosis ganda dan sebagainya berupa vial serum atau botol serum. Kapasitas vial serum 1-50 ml, bentuknya mirip ampul tetapi disegel dengan pemanasan. Ditutup dengan penutup karet spiral. Botol serum juga dapat sebagai botol tipe army dengan kisaran ukuran dari 75-100 ml dan memiliki mulut yang lebar dimana ditutup dengan penutup karet spiral. Labu atau tutup yang lebih besar mengandung 250-2000 ml, digunakan untuk cairan parenteral yang besar seperti NaCl isotonis. 1. Gelas Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam tipe I, Tipe II, dan Tipe III (tabel 8). Tipe I adalah mempunyai derajat yang paling tinggi, disusun hampir ekslusif dan barosilikat (silikon dioksida), membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim. Gelas tipe I, meskipun paling mahal, ini lebih disukai untuk produk terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. Gelas tipe II adalah gelas soda-lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi permukaan alkalinoksida), sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas soda lime. Gelas tipe II dan III digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak. Tipe II dapat

digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7,0 sebaik sediaan asam dan netral. USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipe gelas berbeda. Formulator harus mengetahuidan sadar bahwa masing-masing tipe gelas adalah berbeda dan level bahan tambahannya (boron, sodium, potassium, kalsium, besi, dan magnesium) yang berefek terhadap sifat kimia dan fisika. Oleh karena itu, formulator sebaiknya mempunyai semua informasi yang diperlukan dari pembuatan gelas untuk memastikan bahwa formulasi gelas adalah konsisten dan dari batch dan spesifikasi bahan tambahan adalah konsisten ditemukan. Gelas untuk parenteral volume kecil Tabel 8 Batas Definisi Tipe Test USP ml 0,02 N Umum Ukuran (ml) asam I Paling Gelas Semua 1,0 resisten, gelas serbuk borosilikat II Gelas dibuat Attack 100 atau 0,7 dari soda lime water kurang 0,2 lebih 100 III Gelas soda Gelas Semua 8,5 lime serbuk IV Gelas soda Gelas Semua 15,0 lime-tujuan serbuk umum Wadah gelas ambar digunakan untuk produk yang sensitif terhadap cahaya. Warna ambar dihasilkan dengan penambahan besi dan mangan oksida untuk formulasi gelas. Namun demikian, dapat leach ke dalam formulasi dan mempercepat reaksi oksidasi. a. Keuntungan wadah gelas : mempunyai daya tahan kimia yang baik sehingga tidak bereaksi dengan kandungan wadah dan tidak mengabsorbsi atau mengeluarkan senyawa organik. Bersifat tidak permeable sehingga apabila ditutup dengan baik maka pemasukan atau hilangnya gas-gas dapat diabaikan. Wadah gelas mudah dicuci karena permukannya licin Bersifat transparan sehingga dapat diamati kandungnnya dalam wadah. Mempunyai sifat kaku, kuat dan bentuknya stabil. Tahan terhadap tusukan dapat divakumkan, dapat dipanaskan pada suhu 121O C pada sterilisasi uap dan 2600 C pada sterilisasi kering tanpa mengalami perubahan bentuk. b. Kerugian wadah gelas: mudah pecah dan bobotnya relatif berat. Wadah yang biasa digunakan untuk sedian injeksi adalah berupa vial atau ampul. Untuk zat aktif yang mudah teroksidasi biasanya digunakan ampul berwarna gelap (biasanya coklat) untuk melindungi sediaan dari cahaya. Gelas tipe I untuk membuat wadah tiup dalam bentuk tabung, misalnya vial, ampul, badan alat suntik (syringe) dan bagian infus set. Beberapa sediaan parenteral volume kecil dikemas dalam alat suntik gelas sekali pakai (disposable one-trip glass syringe). 2. Karet

Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral volume kecil untuk penutup vial dan catridge dan penutup untuk pembedahan. Formulasi ini betul-betul kompleks. Tidak hanya mereka mengandung basis polimer karet, tetapi juga banyak bahan tambahan seperti bahan pelunak, pelunak, vulkanishing, pewarna, aktivator dan percepatan, dan antioksidan. Banyak bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi atau pemurnian dan dapat bersumber dari masalah degradasi fisika dan kimia dalam produk parenteral. Seperti gelas, formulator harus bekerja dengan tertutup dengan pembuat karet untuk memilih formulasi karet yang tepat dengan spesifikasi tetap dan karakteristik untuk mempertahankan kestabilan produk. Paling banyak polimer karet digunakan dalam penutup sediaan parenteral volume kecil adalah alami dan butil karet dengan silikon dan karet neopren digunakan jarang. Butil karet lebih disukai karena ini diinginkan sedikit bahan tambahan, mempunyai penyerapan uap air rendah (oleh karena itu, baik untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban) dan sifat sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan reaktivitas dengan produk farmasetik. Masalah dengan penutup karet termasuk leaching bahan ke dalam produk, penyerapan bahan aktif atau pengawet antimikroba oleh elastomer dan coring karet oleh pengulangan insersi benang. Coring menghasilkan partikel karet yang berefek terhadap kualitas dan keamanan potensial produk. Silikonisasi penutp karet adalah umum dilakukan untuk memfasilitasi pergerakan karet melalui peralatan sepanjang proses dan peletakan ke dalam vial. Akan tetapi, silikon tidak bercampur dengan obat hidrofilik, khususnya protein. Kontak yang luar biasa dengan karet tersilikonisasi dapat menghasilkan agregasi protein. Pembuatan elastomer mempunyai perkembangan formulasi yang tidak menginginkan penggunaan silikon untuk menggunakan dalam operasi produksi kecepatan tinggi. 3. Plastik Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk bentuk sediaan mata yang diberikan oleh botol plastic fleksibel, orang yang bersangkutan memeras untuk mengeluarkan tetesan larutan steril, suspensi atau gel. Wadah plastic parenteral volume kecil lain dari produk mata menjadi lebih luas dipakai karena pemeliharaan harga, eliminasi kerusakan gelas dari kenyamanan penggunaan. Seperti formulasi karet, formulasi plastik dapat berinteraksi dengan produk, menyebabkan masalah fisika dan kimia. Formulasi plastik adalah sedikit. Kompleks daripada karet dan cenderung mempunyai potensial lebih rendah untuk bahannya. Paling umum digunakan plastik polimer untuk sediaan mata adalah polietilen densitas rendah. Untuk sediaan parenteral volume kecil yang lain, formulasi polyolefin lebih luas digunakan sebaik polivinil klorida, polipropilen, poliamida (nilon), polikarbonat dan kopolimer (seperti etilenvinil asetat). Tabel 9- Komponen karet Dapat Diautoklaf Digunakan Dalam Sediaan Parenteral Volume Kecil Bahan Penyerapan Uap Reaksi Potensial Tipe Tambahan Air Dengan Produk Butil Sederhana Rendah Sederhana Natural Tinggi Sederhana Tinggi Neupren Tinggi Sederhana Tinggi Polisopren Tinggi Sederhana Sederhana

Silikon

Sederhana

Sangat tinggi

Rendah

4. Container / wadah Tipe wadah yang paling umum digunakan untuk sediaan parenteral volume kecil adalah gelas atau vial polietilen dengan penutup karet dan besi. Gelas ampul digunakan paling banyak untuk sistem pengemasan parenteral volume kecil, tetapi jarang digunakan sekarang karena masalah aprtikel gelas ketika leher ampul dibuka. Masing-masing pembedahan dan wadah catridge mempunyai peningkatan popularitas dan penggunaan karena kenyamanan mereka dibandingkan vial dan ampul. Vial dan ampul menginginkan kemunduran produk dari kemasan. Injeksi, sebaliknya produk-produk dalam pembedahan dan catridge adalah siap untuk diberikan. Keduanya digunakan untuk parenteral volume besar (LVP). 2.7 Evaluasi Dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang etiket dan dikemas 1. Evaluasi Fisika Penetapan pH . (FI ed. IV, hal 1039-1040) Bahan Partikulat dalam Injeksi <751> ( FI> ed IV, hal. 981-984). Penetapan Volume Injeksi Dlam Wadah <1131> (FI ed. IV Hal 1044). Uji Keseragaman Bobot dan Keseragaman Volume (FI ed III hal. 19) Uji Kejernihan Larutan (FI ED. IV, hal 998) Uji Kebocoran (Goeswin Agus, Larutan Parenteral. Pada pembuatan kecil-kecilan hal ini dapat dilakukan dengan mata tetapi untuk produksi skala besar hal ini tidak mungkin dikerjakan. Wadah-wadah takaran tunggal yang masih panas setelah selesai disterilkan dimasukkan kedalam larutan biru metilen 0,1%. Jika ada wadah-wadah yang bocor maka larutan biru metilen akan dimasukkan kedalamnya karena perbedaan tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut. Cara ini tidak dapat dilakukan untuk larutan-larutan yang sudah berwarna. Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik, jika ada kebocoran maka larutan ini akan keluar dari dalam wadah. Wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan, kebocorannya harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah tersebut ke dalam eksikator yang divakumkan. Jika ada kebocoran akan diserap keluar. Uji Kejernihan dan Warna ( Goeswin Agus, Larutan Parenteral, HAL 201) Umumnya setiap larutan suntik harus jernih dan bebas dari kotoran-kotoran. Uji ini sangat sulit dipenuhi bila dilakukan pemeriksaan yang sangat teliti karena hampir tidak ada larutan jernih. Oleh sebab itu untuk uji ini kriterianya cukup jika dilihat dengan mata biasa saja yaitu menyinari wadah dari samping dengan latar belakang berwarna hitam dan putih. Latar belakang warna hitam dipakai untuk menyelidiki kotoran-kotoran berwarna muda, sedangkan latar belakang putih untuk menyelidiki kotoran-kotoran berwarna gelap. 2. Evaluasi Biologi Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba <61> (FI ed IV, HAL 854-855) Uji Sterilitas <71> (FI ed. IV, HAL 855-863) Uji Endotoksin Bakteri <201> (FI ed. IV, HAL 905-907) Uji Pirogen <231> (FI ed. IV, HAL. 908-909) Uji Kandungan Zat Antimikroba <441> (FI ed. IV, HAL. 939-942) 3. Evaluasi Kimia

Uji Identifikasi (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing) Penetapan Kadar (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing

2.9 Penandaaan Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluarsa, nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau bets yang menunjukkan identitas. Nomor lot dan nomor bets dapat memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian, pengemasan, dan penandaan. Bila dalam monografi tertera berbagai kadar zat aktif dalam sediaan parenteral volume besar, maka kadar masing-masing komponen disebut dengan nama umum misalnya injeksi Dekstrosa 5% atau Injeksi Dekstrosa (5%). Bila formula lengkap tidak tertera dalam masing-masing monografi, Penandaan mencakup informasi berikut : a. Untuk sediaan cair, persentase isi atau jumlah tiap komponen dalam volume tertentu, kecuali bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk membuat larutan isotonik, dapat dinyatakan nama dan efek bahan tersebut b. Sediaan kering atau sediaan yang memerlukan pengenceran sebelum digunakan, jumlah tiap komponen, komposisi pengencer yang dianjurkan, jumlah yang diperlukan untuk mendapat konsentrasi tertentu zat aktif dan volume akhir larutan yang diperoleh , uraian singkat pemerian larutan terkonstitusi, cara penyimpanan dan tanggal kadualarsa. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual. 2.10 Pengemasan dan Penyimpanan

Volume injeksi wadah dosis tunggal dapat memberikan jumlah tertentu untuk pemakaian parenteral sekali pakai dan tidak ada yang memungkinkan pengambilan isi dan pemberian 1 liter. (FI Ed. IV, Hal 11) Untuk penyimpanan obat harus disimpan sehingga tercegah cemaran dan penguraian, terhindar pengaruh udara, kelembaban, panas dan cahaya. Kondisi penyimpanan tergantung pada sediaannya, misalnya kondisi harus disimpan terlindung cahaya, disimpan pada suhu kamar, disimpan di tempat sejuk, disimpan di temapat dingin (FI Ed. III, Hal XXXIV)

BAB III PREFORMULASI 3.1 Uraian Bahan Aktif

Deksametason natrium fosfat, steroid adrenokortikal sintetis, adalah bubuk, putih atau agak kuning kristal. Hal ini mudah larut dalam air dan sangat higroskopis. Berat molekul 516,41. Hal ini ditunjuk sebagai kimia 9-fluoro-11 ,17-dihidroksi-16-metil-21(phosphonooxy) pregna-1, 4-diena-3 ,20-dion garam dinatrium. Rumus empiris C22H28FNa2O8P dan struktur formula adalah : Deksametason natrium fosfat injeksi, USP adalah solusi steril natrium fosfat deksametason, dan tersedia dalam 4 mg / mL dan 10 mg / mL. Deksametason natrium fosfat injeksi, USP 4 mg / mL adalah solusi steril untuk intravena, intramuskular, artikular intra-, administrasi jaringan intralesi dan lembut. ML masing-masing berisi: Aktif: Deksametason natrium fosfat 4,4 mg (setara dengan deksametason 4 mg fosfat). Pengawet: Methylparaben 1,5 mg, 0,2 mg propylparaben. Inactives: Edetate Disodium 0,11 mg, Natrium Sitrat anhidrat 10 mg, Asam sitrat dan / atau Sodium Hidroksida qs untuk menyesuaikan pH 7,0-8,5 dan Air untuk Injeksi qs ke 1 mL. Deksametason natrium fosfat injeksi, USP 10 mg / mL adalah solusi steril untuk penggunaan intravena atau intramuskular saja. ML masing-masing berisi: Aktif: Deksametason natrium fosfat 11 mg (setara dengan deksametason 10 mg fosfat). Pengawet: Methylparaben 1,5 mg, 0,2 mg propylparaben. Inactives: Edetate Disodium 0,11 mg, Natrium Sitrat anhidrat 10 mg, Asam sitrat dan / atau Sodium Hidroksida qs untuk menyesuaikan pH 7,0-8,5 dan Air untuk Injeksi qs ke 1 mL. 3.2 Klinis Farmakologi Deksametason natrium fosfat injeksi memiliki onset yang cepat namun durasi singkat tindakan bila dibandingkan dengan persiapan kurang larut. Karena ini, sangat cocok untuk pengobatan gangguan akut responsif terhadap terapi steroid adrenokortikal. Glukokortikoid alami (hidrokortison dan kortison), yang juga memiliki garam-sifat penahan, digunakan sebagai terapi pengganti di negara-negara defisiensi adrenokortikal. Analog sintetik mereka, termasuk deksametason, terutama digunakan untuk mereka yang ampuh anti-inflamasi efek pada gangguan sistem organ banyak. Glukokortikoid menimbulkan efek metabolisme yang mendalam dan bervariasi. Selain itu, mereka memodifikasi respon kekebalan tubuh terhadap rangsangan yang beragam. Pada equipotent anti-inflamasi dosis, deksametason hampir sepenuhnya tidak memiliki properti natrium penahan dari hidrokortison dan derivatif terkait erat dari hidrokortison. 3.3 Indikasi dan Penggunaan A. Dengan suntikan intravena atau intramuskular ketika terapi oral tidak layak a. Gangguan Endokrin: 1. Primer atau sekunder adrenocortical insufisiensi (hidrokortison atau kortison merupakan obat pilihan, analog sintetis dapat digunakan dalam hubungannya dengan mineralokortikoid mana yang berlaku, pada masa bayi, suplemen mineralokortikoid adalah sangat penting)

2. Akut insufisiensi adrenokortikal (hidrokortison atau kortison merupakan obat pilihan, suplementasi mineralokortikoid mungkin diperlukan, terutama ketika analog sintetik yang digunakan). 3. Sebelum operasi, dan dalam hal trauma yang serius atau penyakit, pada pasien dengan insufisiensi adrenal diketahui atau ketika cadangan adrenocortical diragukan. Mengejutkan tidak responsif terhadap terapi konvensional jika insufisiensi adrenokortikal ada atau dicurigai. Bawaan adrenal hyperplasia. 4. Nonsuppurative tiroiditis. 5. Hypercalcemia terkait dengan kanker b. Gangguan rematik: 1. Sebagai terapi tambahan untuk jangka pendek pemerintah (untuk pasang pasien selama episode akut atau eksaserbasi) di: 2. Post-traumatic osteoarthritis. 3. Sinovitis osteoarthritis. 4. Rheumatoid arthritis, termasuk rheumatoid arthritis remaja (kasus tertentu mungkin memerlukan dosis rendah terapi pemeliharaan). 5. Akut dan subakut bursitis. 6. Epicondylitis. 7. Akut nonspesifik tenosinovitis. 8. Akut gout arthritis. 9. Psoriatic arthritis. 10. Spondilitis spondilitis. c. Penyakit Kolagen: 1. Selama eksaserbasi atau sebagai terapi pemeliharaan dalam kasus-kasus yang dipilih: Sistemik lupus erythematosus. 2. Akut rematik karditis. d. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Penyakit Dematologi: Pemfigus. Parah eritema multiformis. (Stevens-Johnson Syndrome) Eksfoliatif dermatitis. Bulosa dermatitis herpetiformis. Parah seboroik dermatitis. Parah psoriasis. Mikosis fungoides.

e. Alergi Serikat: 1. Pengendalian kondisi alergi parah atau melumpuhkan keras untuk uji coba yang memadai dari pengobatan konvensional di 2. Asma bronkial. 3. Dermatitis kontak. 4. Dermatitis atopik. 5. Serum sickness. 6. Musiman atau perennial alergi rhinitis.

7. Obat reaksi hipersensitivitas. 8. Urtikaria reaksi transfusi. 9. Akut edema laring tidak menular (epinefrin merupakan obat pilihan pertama). f. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. g. 1. 2. 3. h. 1. 2. 3. Penyakit Kedokteran : Alergi parah dan inflamasi proses akut dan kronis yang melibatkan mata, seperti: Herpes zoster ophthalmicus. Iritis, iridocyclitis. Chorioretinitis. Menyebarkan uveitis posterior dan Choroiditis. Optic neuritis. Simpatik ophthalmia. Anterior segmen peradangan. Alergi konjungtivitis. Keratitis. Alergi marjinal ulkus kornea. Penyakit Gastrointestinal : Untuk pasang pasien selama periode kritis penyakit dalam: Ulcerative colitis (terapi sistemik). Regional enteritis (terapi sistemik).

Penyakit Pernafasan : Gejala sarkoidosis Berylliosis. Fulminan atau disebarluaskan TB paru bila digunakan bersamaan dengan kemoterapi antituberkulosis yang tepat 4. Sindrom Loeffler tidak dikelola dengan cara lain 5. Aspirasi pneumonitis. i. Gangguan hematologi: 1. Acquired (autoimun) anemia hemolitik. 2. Idiopathic thrombocytopenic purpura pada orang dewasa (IV saja; IM administrasi kontraindikasi). 3. Sekunder trombositopenia pada orang dewasa. 4. Erythroblastopenia (RBC anemia) 5. Congenital (erythroid) hipoplasia anemia. j. 1. 2. 3. Penyakit neoplastik: Untuk manajemen paliatif. Leukemia dan limfoma pada orang dewasa. Leukemia akut dari masa kanak-kanak

k. Edematous Serikat 1. Untuk menginduksi diuresis atau remisi proteinuria pada sindrom nefrotik, tanpa uremia, jenis idiopatik atau yang disebabkan lupus eritematosus.

l. Miscellaneous: 1. Tuberkulosis meningitis dengan blok subarachnoid atau blok yang akan datang bila digunakan bersamaan dengan kemoterapi antituberkulosis yang tepatm 2. Trichinosis dengan keterlibatan neurologis atau miokard. m. Diagnostik pengujian hyperfunction adrenokortikal. n. Edema serebral yang berhubungan dengan tumor otak primer atau metastasis, kraniotomi, atau cedera kepala.Gunakan dalam edema serebral bukan merupakan pengganti untuk evaluasi bedah saraf dan pengelolaan cermat definitif seperti bedah saraf atau terapi spesifik lainnya. B. Dengan intra-artikular atau injeksi jaringan lunak a. 1. 2. 3. 4. 5. Sebagai terapi tambahan untuk jangka pendek pemerintah (untuk pasang pasien selama episode akut atau eksaserbasi) di: Sinovitis osteoarthritis. Rheumatoid arthritis. Akut dan subakut bursitis. Akut gout arthritis. Epicondylitis. Akut nonspesifik tenosinovitis. Post-traumatic osteoarthritis

C. Dengan suntikan intralesi a. b. c. d. e. f. g. 3.4 Keloid. Localized hipertrofik, disusupi, lesi inflamasi dari: lichen planus, plak psoriatik. Nicotinamide granuloma, dan lichen simpleks chronicus (neurodermatitis) Diskoid lupus erythematosus Necrobiosis lipoidica diabeticorum. Alopecia areata. Mungkin juga berguna dalam tumor kistik dari aponeurosis atau tendon (ganglia). Kontraindikasi

a. Sistemik infeksi jamur. b. Karena kasus langka reaksi anaphylactoid telah terjadi pada pasien yang menerima terapi kortikosteroid parenteral, tindakan pencegahan yang tepat harus diambil sebelum pemberian, terutama ketika pasien memiliki riwayat alergi terhadap obat apapun. Anaphylactoid dan reaksi hipersensitivitas telah dilaporkan untuk injeksi deksametason natrium fosfat. (Lihat Efek samping). c. Kortikosteroid dapat memperburuk infeksi jamur sistemik dan, karena itu, tidak boleh digunakan dengan adanya infeksi tersebut kecuali mereka dibutuhkan untuk mengendalikan reaksi obat karena amfoterisin B. Selain itu, ada kasus telah dilaporkan di mana penggunaan seiring amfoterisin B dan hidrokortison adalah diikuti oleh pembesaran jantung kongestif dan gagal.

d. Pada pasien pada terapi kortikosteroid terkena salah stres yang tidak biasa, peningkatan dosis kortikosteroid cepat bertindak sebelum, selama, dan setelah situasi stres ditunjukkan. e. Obat-induced insufisiensi adrenokortikal sekunder bisa terjadi akibat penarikan terlalu cepat kortikosteroid dan dapat diminimalkan dengan pengurangan bertahap dosis. Jenis insufisiensi relatif dapat bertahan selama berbulan-bulan setelah penghentian terapi, sehingga dalam setiap situasi stres yang terjadi selama periode tersebut, terapi hormon harus dihidupkan kembali. Jika pasien menerima steroid sudah, dosis mungkin harus ditingkatkan. Karena sekresi mineralokortikoid mungkin terganggu, garam dan / atau mineralokortikoid harus diberikan secara bersamaan. f. Kortikosteroid dapat menutupi beberapa tanda-tanda infeksi, dan infeksi baru mungkin muncul selama penggunaannya. Mungkin ada resistensi menurun dan ketidakmampuan pelokalan infeksi ketika kortikosteroid digunakan. Selain itu, kortikosteroid dapat mempengaruhi tes nitroblue-tetrazolium untuk infeksi bakteri dan menghasilkan hasil negatif palsu. g. Pada malaria serebral, percobaan double-blind telah menunjukkan bahwa penggunaan kortikosteroid dikaitkan dengan perpanjangan koma dan insiden yang lebih tinggi dari pneumonia dan perdarahan gastrointestinal. Kortikosteroid dapat mengaktifkan amebiasis laten. Oleh karena itu, dianjurkan bahwa amebiasis laten atau aktif dikesampingkan sebelum memulai terapi kortikosteroid dalam setiap pasien yang telah menghabiskan waktu di daerah tropis atau dalam setiap pasien dengan diare yang tidak dapat dijelaskan. h. Penggunaan jangka panjang kortikosteroid dapat menghasilkan katarak subcapsular posterior, glaukoma dengan kemungkinan kerusakan pada saraf optik, dan dapat meningkatkan pembentukan infeksi okular sekunder karena jamur atau virus. i. Dosis rata-rata dan besar kortison atau hidrokortison dapat menyebabkan peningkatan retensi tekanan darah, garam dan air, dan peningkatan ekskresi kalium. Efek ini kurang mungkin terjadi dengan derivatif sintetis kecuali bila digunakan dalam dosis besar. Garam pembatasan diet dan suplemen kalium mungkin diperlukan. Semua kortikosteroid meningkatkan ekskresi kalsium. j. Administrasi vaksin virus hidup, termasuk cacar, merupakan kontraindikasi pada orang yang menerima dosis imunosupresif dari kortikosteroid. Jika vaksin virus atau bakteri yang dilemahkan yang diberikan kepada orang yang menerima dosis imunosupresif dari kortikosteroid, respon antibodi serum yang diharapkan tidak dapat diperoleh. Namun, prosedur imunisasi dapat dilakukan pada pasien yang menerima kortikosteroid sebagai terapi pengganti, misalnya, untuk penyakit Addison. k. Pasien yang berada di obat yang menekan sistem kekebalan tubuh lebih rentan terhadap infeksi daripada individu yang sehat. Cacar air dan campak, misalnya, dapat memiliki kursus lebih serius atau bahkan fatal pada non-imun anak-anak atau orang dewasa di kortikosteroid. Pada anak-anak atau orang dewasa yang tidak memiliki penyakit ini, perhatian khusus harus diambil untuk menghindari paparan. Risiko mengembangkan infeksi disebarkan bervariasi antara individu dan dapat berhubungan dengan rute, dosis dan lama pemberian kortikosteroid serta penyakit yang mendasari. Jika terkena cacar, profilaksis dengan globulin imun varicella zoster (VZIG) dapat diindikasikan. Jika cacar berkembang, pengobatan dengan antivirus yang dapat dipertimbangkan. Jika terkena campak, profilaksis dengan immune globulin (IG) dapat diindikasikan. (Lihat sisipan paket masing-masing untuk VZIG dan IG untuk informasi resep lengkap.)

l.

m.

n.

o. p.

q.

Penggunaan deksametason natrium fosfat injeksi, USP dalam TB aktif harus dibatasi kepada orang kasus fulminan atau disebarluaskan TB di mana kortikosteroid digunakan untuk pengelolaan penyakit dalam hubungannya dengan rejimen antituberkulosis yang tepat. Jika kortikosteroid ditunjukkan pada pasien dengan TB laten atau reaktivitas tuberkulin, pengamatan dari dekat diperlukan karena reaktivasi dari penyakit dapat terjadi. Selama terapi kortikosteroid berkepanjangan, pasien harus menerima kemoprofilaksis. Sastra laporan menunjukkan hubungan yang jelas antara penggunaan kortikosteroid dan ventrikel kiri pecah bebas dinding setelah infark miokard, sehingga terapi dengan kortikosteroid harus digunakan dengan hati-hati pada pasien ini. Penggunaan dalam Kehamilan Karena penelitian yang memadai reproduksi manusia belum dilakukan dengan kortikosteroid, penggunaan obat ini pada kehamilan atau pada wanita usia subur mensyaratkan bahwa manfaat yang diharapkan ditimbang terhadap kemungkinan bahaya bagi ibu dan embrio atau janin. Bayi yang lahir dari ibu yang telah menerima dosis besar kortikosteroid selama kehamilan harus hati-hati diamati tanda-tanda hypoadrenalism. Kortikosteroid muncul dalam ASI dan bisa menekan pertumbuhan, mengganggu produksi kortikosteroid endogen, atau menimbulkan efek yang tidak diinginkan lainnya. Ibu mengambil dosis farmakologis kortikosteroid harus dianjurkan untuk tidak menyusui. Tindakan

3.5 a. b.

c. d. e.

f.

g. h.

Produk ini, seperti banyak formulasi steroid lainnya, yang sensitif terhadap panas. Oleh karena itu, tidak boleh diautoklaf bila diinginkan untuk mensterilkan bagian luar botol. Setelah terapi berkepanjangan, penarikan kortikosteroid dapat mengakibatkan gejala dari sindrom penarikan kortikosteroid termasuk demam, myalgia, arthralgia, dan malaise. Hal ini dapat terjadi pada pasien bahkan tanpa bukti insufisiensi adrenal. Ada efek disempurnakan kortikosteroid pada pasien dengan hypothyroidism dan pada mereka dengan sirosis. Kortikosteroid harus digunakan hati-hati pada pasien dengan herpes simpleks okular karena takut perforasi kornea. Gunakan dosis serendah mungkin kortikosteroid harus digunakan untuk mengontrol kondisi di bawah pengobatan, dan ketika pengurangan dosis mungkin, pengurangan harus dilakukan secara bertahap. Derangements psikis mungkin muncul ketika kortikosteroid yang digunakan, mulai dari euforia, insomnia, perubahan suasana hati, perubahan kepribadian, dan depresi parah pada manifestasi psikotik frank. Juga, ada emosi tidak stabil atau psikotik kecenderungan dapat diperburuk oleh kortikosteroid. Aspirin harus digunakan dengan hati-hati dalam hubungannya dengan kortikosteroid di hypoprothrombinemia. Steroid harus digunakan dengan hati-hati pada kolitis ulseratif nonspesifik, jika ada kemungkinan perforasi yang akan datang, abses, atau infeksi piogenik lainnya, juga di divertikulitis, segar usus anastomoses, aktif atau laten ulkus peptikum, insufisiensi ginjal, hipertensi, osteoporosis, dan myasthenia gravis. Tanda-tanda iritasi peritoneal mengikuti perforasi gastrointestinal pada pasien yang menerima dosis besar kortikosteroid mungkin minim atau tidak ada. Emboli lemak telah dilaporkan sebagai komplikasi kemungkinan hypercortisonism.

i. j. k. l.

m.

n.

o. p. q. r.

s. t. u. v. w.

Ketika dosis besar diberikan, beberapa pihak berwenang menyarankan bahwa antasida diberikan antara waktu makan untuk membantu mencegah ulkus peptikum. Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak-anak pada terapi kortikosteroid berkepanjangan harus hati-hati diikuti. Steroid dapat menambah atau mengurangi motilitas dan jumlah spermatozoa pada beberapa pasien. Fenitoin, fenobarbital, efedrin, dan rifampisin dapat meningkatkan clearance metabolik kortikosteroid, sehingga kadar darah menurun dan aktivitas fisiologis berkurang, sehingga membutuhkan penyesuaian dalam dosis kortikosteroid. Interaksi ini dapat mengganggu tes penekanan deksametason yang harus ditafsirkan dengan hati-hati saat pemberian obat. Hasil negatif palsu dalam tes penekanan deksametason (DST) pada pasien yang diobati dengan indometasin telah dilaporkan. Dengan demikian, hasil DST harus ditafsirkan dengan hati-hati pada pasien ini. Waktu protrombin harus sering diperiksa pada pasien yang menerima kortikosteroid dan antikoagulan kumarin pada saat yang sama karena laporan bahwa kortikosteroid telah mengubah respon terhadap antikoagulan. Penelitian telah menunjukkan bahwa efek biasanya dihasilkan dengan menambahkan kortikosteroid adalah penghambatan respon terhadap kumarin, meskipun ada beberapa laporan yang saling bertentangan dari potensiasi tidak didukung oleh penelitian. Ketika kortikosteroid diberikan bersamaan dengan diuretik depleting kalium, pasien harus diperhatikan dengan seksama untuk pengembangan hipokalemia. Intra-artikular suntikan kortikosteroid dapat menghasilkan efek sistemik maupun lokal. Pemeriksaan yang tepat dari setiap hadir cairan sendi perlu untuk mengecualikan proses septik. Tanda peningkatan dalam nyeri disertai dengan pembatasan lokal pembengkakan, lanjut gerak sendi, demam, dan malaise adalah sugestif dari arthritis septik. Jika komplikasi ini terjadi dan diagnosis sepsis dikonfirmasi, terapi antimikroba yang sesuai harus dilembagakan. Injeksi steroid ke situs yang terinfeksi adalah harus dihindari. Kortikosteroid tidak boleh disuntikkan ke sendi tidak stabil. Pasien harus terkesan kuat dengan pentingnya tidak overusing sendi di mana manfaat simptomatik telah diperoleh selama proses inflamasi tetap aktif. Sering intra-artikular injeksi dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan sendi. Tingkat penyerapan lambat dengan pemberian intramuskular harus diakui.

3.6 Informasi untuk Pasien Pasien rentan yang berada di dosis imunosupresan kortikosteroid harus diperingatkan untuk menghindari paparan cacar air atau campak. Pasien juga harus disarankan bahwa jika mereka terkena, saran medis harus dicari tanpa penundaan. 3.7 Efek Samping 1. a. b. c. Cairan dan gangguan elektrolit: Sodium retensi Retensi cairan Gagal jantung kongestif pada pasien rentan

d. Kalium loss e. Hipokalemia alkalosis f. Hipertensi 2. a. b. c. d. e. f. g. h. 3. a. b. c. d. e. 4. a. b. c. d. e. f. g. Musculoskeletal: Kelemahan otot Steroid miopati Kehilangan massa otot Osteoporosis Vertebra patah tulang kompresi Aseptic nekrosis kepala femoral dan humeri Tendon pecah Patologis fraktur tulang panjang Gastrointestinal: Ulkus peptikum dengan perforasi berikutnya mungkin dan perdarahan Perforasi dari usus kecil dan besar, terutama pada pasien dengan penyakit inflamasi usus Pankreatitis Perut distensi Ulseratif esophagitis Dermatologic: Gangguan penyembuhan luka Tipis rapuh kulit Petechiae dan ekimosis Eritema Peningkatan berkeringat Dapat menekan reaksi terhadap tes kulit Terbakar atau kesemutan terutama di daerah perineum (setelah injeksi IV) reaksi kulit lainnya, seperti dermatitis alergi, urtikaria, edema angioneurotic.

5. Neurologis: a. Kejang b. Peningkatan intrakranial tekanan dengan papilledema (pseudotumor cerebri) biasanya setelah pengobatan c. Kegamangan d. Sakit kepala e. Psikis gangguan 6. a. b. c. d. Endokrin: Menstruasi penyimpangan Pembangunan negara cushingoid Penekanan pertumbuhan pada anak-anak Sekunder adrenocortical dan hipofisis unresponsiveness, terutamapada saat stres, seperti dalam trauma, operasi, atau penyakit e. Penurunan karbohidrat toleransi

f. g. h. i. j. k. l. m.

Manifestasi dari diabetes mellitus laten Peningkatan persyaratan untuk insulin atau agen hipoglikemik oral pada penderita diabetes Hirsutisme Kedokteran: Posterior subcapsular katarak Peningkatan tekanan intraocular Glaukoma Exophthalmos.

7. Metabolik: a. Nitrogen saldo negatif karena katabolisme protein 8. Kardiovaskular: a. Myocardial pecah setelah infark miokard. 9. a. b. c. d. e. f. g. Lainnya: Anafilaktoid atau reaksi hipersensitivitas Thromboembolisme Berat badan Peningkatan nafsu makan Mual Rasa tidak enak Cegukan Reaksi-reaksi berikut merugikan tambahan terkait dengan terapi kortikosteroid parenteral: Langka kasus kebutaan terkait dengan terapi intralesi sekitar wajah dan kepala Hiperpigmentasi atau hipopigmentasi Subkutan dan atrofi kulit Steril abses Post-injection flare (berikut intra-artikular penggunaan) Charcot-seperti arthropathy

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Overdosis 1. Laporan toksisitas akut dan / atau kematian setelah overdosis glukokortikoid jarang terjadi. Dalam hal overdosis, antidot yang spesifik yang tersedia, pengobatan suportif dan simptomatik. 2. The LD50 oral deksametason pada tikus betina adalah 6,5 g / kg. The LD50 intravena natrium fosfat deksametason pada tikus betina adalah 794 mg / kg. 3.8 Dosis dan Adminitrasi

1. Deksametason natrium fosfat injeksi, USP 4 mg / mL adalah untuk intravena, intramuskular, artikular intra-, injeksi intralesi jaringan dan lembut. 2. Deksametason natrium fosfat injeksi, USP 10 mg / mL adalah untuk penggunaan intravena atau intramuskular saja.

3. Deksametason natrium fosfat injeksi, USP dapat diberikan langsung dari botol, atau dapat ditambahkan ke injeksi natrium klorida atau injeksi dekstrosa dan dikelola oleh infus. Solusi yang digunakan untuk pemberian intravena atau pengenceran lebih lanjut dari produk ini harus bebas bahan pengawet bila digunakan pada neonatus, terutama bayi prematur. 4. Ketika dicampur dengan larutan infus, tindakan pencegahan steril harus diamati. 5. Karena larutan infus umumnya tidak mengandung bahan pengawet, campuran harus digunakan dalam waktu 24 jam. 3.9 Persyaratan Dosis 1. Intravena dan Injeksi Intramuskular Dosis awal injeksi deksametason sodium fosfat bervariasi 0,5-9 mg sehari tergantung pada penyakit yang sedang dirawat. Dalam waktu kurang dosis penyakit berat lebih rendah dari 0,5 mg mungkin cukup, sedangkan pada penyakit yang berat dosis lebih tinggi dari 9 mg mungkin diperlukan. Dosis awal harus dipertahankan atau disesuaikan sampai respon pasien memuaskan. Jika respon klinis yang memuaskan tidak terjadi setelah jangka waktu yang wajar, menghentikan injeksi deksametason sodium fosfat dan mentransfer pasien terhadap terapi lainnya. Setelah respon awal yang menguntungkan, dosis perawatan yang tepat harus ditentukan dengan mengurangi dosis awal dalam jumlah kecil dengan dosis terendah yang mempertahankan respon klinis yang memadai. Pasien harus diamati dengan cermat untuk tanda-tanda yang mungkin memerlukan penyesuaian dosis, termasuk perubahan status klinis akibat remisi atau eksaserbasi dari respon, penyakit obat individu, dan efek dari stres (misalnya, pembedahan, infeksi, trauma). Selama stres mungkin perlu untuk meningkatkan dosis sementara Jika obat ini harus dihentikan setelah lebih dari beberapa hari pengobatan, biasanya harus ditarik secara bertahap. Ketika rute intravena administrasi yang digunakan, dosis biasanya harus sama dengan sediaan oral. Dalam tertentu yang luar biasa, akut, situasi yang membahayakan jiwa, namun, administrasi dalam dosis melebihi dosis biasa dapat dibenarkan dan mungkin dalam kelipatan dari dosis oral. Tingkat penyerapan lambat dengan pemberian intramuskular harus diakui Syok Ada kecenderungan dalam praktek medis saat ini untuk menggunakan tinggi (farmakologis) dosis kortikosteroid untuk pengobatan syok responsif.

a.

b. Dosis Dosis berikut injeksi deksametason sodium fosfat telah diusulkan oleh berbagai penulis Cavanagh 3 mg / kg berat badan per 24 jam dengan infus intravena konstan setelah suntikan intravena awal 20 mg Dietzman 2 sampai 6 mg / kg berat badan sebagai injeksi intravena tunggal Frank

40 mg awalnya diikuti dengan injeksi intravena ulangi setiap 4 sampai 6 jam sementara kejutan berlanjut Oaks 40 mg awalnya diikuti dengan injeksi intravena ulangi setiap 2 sampai 6 jam sementara kejutan berlanjut Schumer 1 mg / kg berat badan sebagai injeksi intravena tunggal Pemberian terapi kortikosteroid dosis tinggi harus dilanjutkan hanya sampai kondisi pasien telah stabil dan biasanya tidak lebih dari 48 sampai 72 jam. Meskipun reaksi buruk yang terkait dengan dosis tinggi, terapi kortikosteroid jangka pendek jarang terjadi, ulserasi lambung mungkin terjadi. Cerebral Edema Deksametason natrium fosfat umumnya diberikan injeksi awalnya dalam dosis 10 mg intravena diikuti oleh empat mg setiap enam jam intramuskular sampai gejala mereda edema serebral. Respon biasanya dicatat dalam waktu 12 sampai 24 jam dan dosis dapat dikurangi setelah dua sampai empat hari dan secara bertahap dihentikan selama lima sampai tujuh hari. Untuk manajemen paliatif pasien dengan tumor otak berulang atau bisa dioperasi, terapi pemeliharaan dengan dua dua atau tiga kali mg sehari mungkin efektif.

c.

d. Akut Gangguan Alergi Dalam akut, self-terbatas gangguan alergi atau eksaserbasi akut gangguan alergi kronis, jadwal dosis berikut menggabungkan terapi parenteral dan oral disarankan: Deksametason natrium fosfat injeksi, USP 4 mg / mL; hari pertama, 1 atau 2 mL (4 atau 8 mg), intramuskular. Deksametason natrium fosfat tablet, 0,75 mg, hari kedua dan ketiga, 4 tablet dalam dua dosis terbagi setiap hari, hari keempat, 2 tablet dalam dua dosis terbagi, hari kelima dan keenam, 1 tablet setiap hari, hari ketujuh, tidak ada perawatan; hari kedelapan , tindak lanjut kunjungan. Jadwal ini dirancang untuk memastikan terapi yang memadai selama episode akut, sambil meminimalkan risiko overdosis dalam kasus-kasus kronis. 2 Intra-artikular, Injection intralesional dan Soft Tissue Suntikan jaringan intra-artikular, intralesi dan lembut umumnya digunakan ketika sendi yang terkena atau daerah yang terbatas pada satu atau dua situs. Dosis dan frekuensi injeksi bervariasi tergantung pada kondisi dan tempat suntikan. Dosis umum adalah 0,2-6 mg. Frekuensi biasanya berkisar dari sekali setiap tiga sampai lima hari untuk sekali setiap dua sampai tiga minggu. Sering intra-artikular injeksi dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan sendi. Beberapa dosis tunggal biasa adalah: Site of Jumlah Injeksi Deksametason Fosfat (mg) Besar sendi (misalnya, Lutut) 2 sampai 4 Kecil sendi (misalnya, interphalangeal, Temporomandibular) 0,8-1 Bursae 2 sampai 3 Tendon selubung 0,4-1 Infiltrasi jaringan lunak 2 sampai 6 Ganglia 1 sampai 2

Produk obat parenteral harus diperiksa secara visual untuk partikel dan perubahan warna sebelum pemberian, setiap kali izin solusi dan kontainer. Deksametason natrium fosfat injeksi, USP sangat dianjurkan untuk digunakan dalam hubungannya dengan salah satu, kurang larut lagi-bertindak steroid untuk intra-artikular dan injeksi jaringan lunak. Deksametason natrium fosfat injeksi, USP 4 mg / mL adalah untuk-intravena, intramuskular, intra-artikular, intralesi dan jaringan lunak administrasi tersedia sebagai berikut: Nomor NDC Isi Volume Ukuran Pack 0069-4547-02 1 mL Single-Dose Vial 25's 0069-4543-02 5 mL Multi-Dose Vial 25's 0069-4545-02 30 mL Multi-Dose Vial 10's Deksametason natrium fosfat injeksi, USP 10 mg / mL adalah untuk injeksi intravena dan intramuskular hanya tersedia sebagai berikut: Nomor NDC Isi Volume Ukuran Pack 0069-4541-02 10 mL Multi-Dose Vial 10's Simpan pada 20 sampai 25 C (68 sampai 77 F). [Lihat Suhu USP Kamar Terkendali]. Lindungi dari cahaya Sensitif terhadap panas. Jangan autoclave. Melindungi dari pembekuan.

BAB IV FORMULASI DAN METODE PEMBUATAN 4.1 Formulasi (Fornas hal 94) Tiap 4 ml mengandung : Dexamethason Natrium fosfat Na Benzoat Aqua p.i ad 4.2 Latar Belakang Pemilihan Bahan: a. Dexamethason Natrium fosfat digunakan karena mudah larut larut dalam air sedangkan dexametason praktis tidak larut dalam air, karena sediaan injeksi akan dibuat menggunakan air sebagai pelarut b. Digunakan aqua pi suatu pembawa yang berfungsi sebagai pelarut.

10 mg 0,5 % 4 ml

c.

Pengawet yang digunakan adalah Na. Benzoat yang berfungsi sebagai antimikroba. Digunakan pengawet karena injeksi dalam wadah vial pengambilannya berulang dan mudah terkontaminasi dengan udara. Na. Benzoat dengan pH 8,0 bisa untuk mempertahankan pH zat aktif. d. Dosis Dexamethason Natrium Fosfat dipilih 10 mg untuk mendapatkan efek adrenergik (0,524 mg/hari) e. Sterilisasi pada Dexamethason Natrium Fosfat digunakan dengan cara filtrasi karena stabilitas dexamethason tidak tahan panas atau tidak stabil. 4.3 Monografi Bahan 1. Dexamethasone Natrium Fosfat (FI III .198) Pemerian : serbuk hablur putih atau agak kuning, tidak berbau lemah agak higroskopis Kelarutan : mudah larut dalam air sukar larut dalam etanol (95%), praktis tidak larut dalam CHCl3 dan dioksan PH : 7,5 10,5 2. Natrium Benzoat Pemerian 4.4 Perhitungan Bahan Dibuat 2 vial 4 ml : V = vol + ( 10-30% ) = (2 x 4 ml) + (30% x 2 x 4 ml) = 8 + 2.4 = 10.4 ~ 11 ml Dex. Na. fosfat = x 10 mg = 55 mg Na. Benzoat = x 11 ml = 0,055 mg Aqua pi = 11 ml (0,055 + 0,000055) = 10, 94 ml 4.5 Pembuktian Hipertonis a. 0,28 = 0,28 = 0,28 =

b. h = = = = 8.6811 = = jadi berat NaCl

c.

0,28 = + 0,28 = + 0,28 = + 0,28 = 0,68 0,28 = 0,68 hipertonis

4.6 Alat dan Bahan Alat : Beaker glass 1. Gelas ukur 2. Batang pengaduk 3. Corong 4. Pipet 5. Botol+ tutup 6. Kertas saring 4.7 Tabel Sterilisasi Alat No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Alat Beaker glass Gelas ukur Batang pengaduk Pinset Sendok tanduk Corong Botol+tutup Kertas saring

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Bahan : Dexamethason NaCl Asam sitrat Natrium fosfat Fenil merkuri Aquadest Carbo adsorben

N Ph

sterilisasi autoklaf autoklaf oven Oven Oven autoklaf Alkohol 70% autoklaf

Suhu (0C) 121 121 170 170 170 121 121

Waktu 15 menit 15 menit 1 jam 1 jam 1 jam 15 menit 15 menit

4.8 Metode Kerja a. Sterilisasi Saring Cara sterilisasi dengan penyaringan sebaiknya tidak dipakai karena sterilisasi carapanas masih memungkinkan. Larutan disterilkan dengan penyaringan dengan ukuran nominal pori 0,22 mikron atau yang sama kemampuannya menahan mikroba. Hasil saringan ditampung di dalam wadah yang sudah disterilkan. Keutuhan perangkat saringan hendaklah diperiksa dengan metode yang tepat misalnya uji tekanan titik-gelembung atau uji tekanan aliran-maju yang dilakukan segera sebelum dan sesudah pemakaian saringan. Hasil pemeriksaan dicatatpada catatan bets. Saringan tidakboleh menimbulkan akibat yang merugikan pada larutan, misalnya menyerap bahan berkhasiat dari larutan atau melepas zat ke dalam larutan. Karena sterilisasi cara saring mengandung risiko yang lebih besar dibandingkan cara sterilisasi lain dianjurkan melakukan penyaringan ulang melalui saringan bakteri steril segera sebelum pengisian.

Masa pakai saringan steril hendaklah dibatasi untuk memastikan tidak terjadinya pertumbuhan mikroba di dalam saringan tersebut. b. Pembuatan Sediaan Injeksi

1. Penimbangan Semprot tangan dengan etanol 70% Semprot meja praktikan dengan etanol 70% Penimbangan bahan dilakukan di ruangan steril Penimabangan bahan dialakukan dengan menggunakan alat-alat yang sudah disterilkan. 2. Perlu Diperhatikan : cek ph dengan indikator universil/pH meter setelah volume larutan mendekati volume yang diminta. Menghilangkan pirogen dengan norit setelah larutan dibuat sampai volume yang diminta / direncanakan Pirogen : Zat yang mengakibatkan reaksi demam apabila disuntikkan kedalam tubuh manusia ( 10 ml ) cek kejernihan dari bahan yang akan dipergunakan sebagai bahan aktif injeksi perlu adanya pengawet tertentu, apabila sediaan dalam multipledose sehingga dapat terjadi kontak langsung dengan udara dan mikroba perlu ditambah antioksidan dan pembuatannya dialiri gas inert. 3. Cara pembuatan Disiapkan alat dan bahan yang digunakan Api (Air Pro Injeksi) disiapkan ; aquadest di didihkan, setelah dipanaskan selama 30 menit, untuk Api bebas O2 : Dipanaskan ditambahkan 10 menit kemudian di dinginkan (dilakukan di white area) Ditimbang bahan aktif dengan kaca arloji bersih menggunakan neraca analitik, (dilakukan pada grey area). Mengumpulkan bahan yang ditimbang dan alat alat yang diperlukan selama pembuatan ke dalam keranjang, untuk kemudian di pindahkan ke white area melalui passbox Keranjang perlengkapan diambil dari grey area ke white area melalui passbox Ambil API secukupnya. Bahan aktif dilarutkan pada kaca arloji, lalu dimasukkan ke dalam gelas piala. Kaca arloji kemudian dibilas dua kali dengan sedikit API. Kemudian API dimasukkan ke dalam gelas piala. Kaca arloji kemudian dibilas dua kali dengan sedikit API. Larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur, catat volume larutan. Ad kan dengan air bilasan sampai tepat 4 ml. Basahi kertas saring lipat yang akan digunakan dengan menggunakan API di atas erlenmeyer kosong. Pindahkan corong beserta kertas saring ke erlenmeyer lain yang bersih dan kering. Saring larutan dalam gelas ukur melalui corong ke dalam Erlenmeyer yang telah disiapkan. Periksa pH apakah sudah sesuai

Sisa 1 ml digunakan untuk membilas gelas piala berulang kali, ditampung dalam gelas ukur kemudian disaring ke dalam Erlenmeyer yang berisi filtrate larutan 3 ml. Homogenkan Wadah dikalibrasi dan volume dilebihkan sesuai ketentuan. Isikan larutan sebanayak 4 ml ke dalam wadah dengan menggunakan spuit. Tutup vial dengan tutup karet dan aluminium Disiapkan gelas beker glass kecil, vial dimasukkan ke dalam gelas beker. Disterilisasi dengan autoklaf pada temperatur 115 116 oC selama 30 menit, pada praktikum dispensasi disterilisasi dengan autoklaf selama 10 menit. Pemberian etiket / label.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL EVALUASI 1. Evaluasi Fisika Penetapan pH Bahan Partikulat dalam Injeksi Penetapan Volume Injeksi Dalam Wadah Uji Keseragaman Bobot dan Keseragaman Volume Uji Kejernihan Larutan Uji Kebocoran Uji Kejernihan dan Warna 2. Evaluasi Biologi Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba Uji Sterilitas Uji Endotoksin Bakteri Uji Pirogen Uji Kandungan Zat Antimikroba 3. Evaluasi Kimia Uji Identifikasi Penetapan Kadar 4.1 PEMBAHASAN Formulasi dalam paraktikum ini menggunakan bahan aktif Dexamethason Natrium fosfat, selain dikehendaki efek therapinya sebagai adrenergik juga digunakankarena mudah larut larut dalam air sedangkan dexametason praktis tidak larut dalam air, karena sediaan

:5 : Homogen : Sesuai : Seragam : Jernih : Tidak Bocor : Jernih

:::::-

::-

injeksi akan dibuat menggunakan air sebagai pelarut. Digunakan aqua pi suatu pembawa yang berfungsi sebagai pelarut. Pengawet yang digunakan adalah Na. Benzoat yang berfungsi sebagai antimikroba. Digunakan pengawet karena injeksi dalam wadah vial pengambilannya berulang dan mudah terkontaminasi dengan udara. Na. Benzoat dengan pH 8,0 bisa untuk mempertahankan pH zat aktif. Dosis Dexamethason Natrium Fosfat dipilih 10 mg untuk mendapatkan efek adrenergik (0,5-24 mg/hari)Sterilisasi pada Dexamethason Natrium Fosfat digunakan dengan cara filtrasi karena stabilitas dexamethason tidak tahan panas atau tidak stabil. Sebelum melakukan praktikum dilakukan terlebih dahulu tahap sterilisasi yang menggunakan sterelisasi saring. Cara sterilisasi dengan penyaringan sebaiknya tidak dipakai karena sterilisasi carapanas masih memungkinkan. Larutan disterilkan dengan penyaringan dengan ukuran nominal pori 0,22 mikron atau yang sama kemampuannya menahan mikroba. Hasil saringan ditampung di dalam wadah yang sudah disterilkan.Keutuhan perangkat saringan hendaklah diperiksa dengan metode yang tepat misalnya uji tekanan titik-gelembung atau uji tekanan aliran-maju yang dilakukan segera sebelum dan sesudah pemakaian saringan. Hasil pemeriksaan dicatatpada catatan bets. Saringan tidakboleh menimbulkan akibat yang merugikan pada larutan, misalnya menyerap bahan berkhasiat dari larutan atau melepas zat ke dalam larutan. Karena sterilisasi cara saring mengandung risiko yang lebih besar dibandingkan cara sterilisasi lain dianjurkan melakukan penyaringan ulang melalui saringan bakteri steril segera sebelum pengisian.Masa pakai saringan steril hendaklah dibatasi untuk memastikan tidak terjadinya pertumbuhan mikroba di dalam saringan tersebut. Setelah melakukan sterilisasi langkah selanjutnya adalah penimbangan. Langkah pertama dalam melakukan penimbangan ialah semprot tangan dengan etanol 70%, semprot meja praktikan dengan etanol 70%, kemudian penimbangan bahan dilakukandi ruangan steril dan penimabangan bahan dialakukan dengan menggunakan alat-alat yang sudah disterilkan. Hal hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan proses praktikum ialah,cek ph dengan indikator universil/pH meter setelah volume larutan mendekati volume yang diminta, menghilangkan pirogen dengan norit setelah larutan dibuat sampai volume yang diminta / direncanakan, pirogen adalah zat yang mengakibatkan reaksi demam apabila disuntikkan kedalam tubuh manusia ( 10 ml ), cek kejernihan dari bahan yang akan dipergunakan sebagai bahan aktif injeksi, perlu adanya pengawet tertentu, apabila sediaan dalam multipledose sehingga dapat terjadi kontak langsung dengan udara dan mikroba, perlu ditambah antioksidan dan pembuatannya dialiri gas inert. Tahapan dan proses cara pembuatan sediaan steril injeksi Deksametason natrium fosfat langkah pertama ialah disiapkan alat dan bahan yang digunakan, Api (Air Pro Injeksi) disiapkan, aquadest di didihkan, setelah dipanaskan selama 30 menit, untuk Api bebas O2 : Dipanaskan ditambahkan 10 menit kemudian di dinginkan (dilakukan di white area), ditimbang bahan aktif dengan kaca arloji bersih menggunakan neraca analitik, (dilakukan pada grey area), mengumpulkan bahan yang ditimbang dan alat alat yang diperlukan selama pembuatan ke dalam keranjang, untuk kemudian di pindahkan ke white area melalui passbox, keranjang perlengkapan diambil dari grey area ke white area melalui passbox, ambil API secukupnya. bahan aktif dilarutkan pada kaca arloji, lalu dimasukkan ke dalam gelas piala. Kaca arloji kemudian dibilas dua kali dengan sedikit API, kemudian API dimasukkan ke dalam gelas piala. Kaca arloji kemudian dibilas dua kali dengan sedikit API, larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur, catat volume larutan. Ad kan dengan air bilasan

sampai tepat 4 ml, basahi kertas saring lipat yang akan digunakan dengan menggunakan API di atas erlenmeyer kosong, pindahkan corong beserta kertas saring ke erlenmeyer lain yang bersih dan kering, saring larutan dalam gelas ukur melalui corong ke dalam Erlenmeyer yang telah disiapkan, periksa pH apakah sudah sesuai, sisa 1 ml digunakan untuk membilas gelas piala berulang kali, ditampung dalam gelas ukur kemudian disaring ke dalam Erlenmeyer yang berisi filtrate larutan 3 ml. Homogenkan, wadah dikalibrasi dan volume dilebihkan sesuai ketentuan., isikan larutan sebanayak 4 ml ke dalam wadah dengan menggunakan spuit, tutup vial dengan tutup karet dan aluminium, disiapkan gelas beker glass kecil, vialdimasukkan ke dalam gelas beker, disterilisasi dengan autoklaf pada temperatur 115 116 oC selama 30 menit, pada praktikum dispensasi disterilisasi dengan autoklaf selama 10 menit, kemudian terakhir ialah pemberian etiket / label. Setelah melakukan evaluasi secara fisika didapatkan hasil : Penetapan pHadalah 5, bahan Partikulat dalam Injeksi homogen, penetapan volume injeksi dalamwadah sesuai, uji keseragaman bobot dan keseragaman volume seragam, uji kejernihanlarutan jernih, uji kebocoran tidak bocor dan uji kejernihan dan warna jernih. pH ideal yang sesuai standar sediaan injeksi ialah 5 7 sedangkan pH yang dihasilkan ialah 5, walaupun telah masuk dalam rentan namun akan lebih baik lagi jika tingkat keasaman pH tersebut berada diantara 6 dan 7 mengingat kemungkinan stabilitas zat pendapar yang kemungkinan dapat berubah sewaktu waktu karena adanya perubahan suhu dan tekanan udara. Namun secara keseluruhan hasil evaluasi yang dilakukan secara fisika dapa dikatakan memenuhi standar literatur. Untuk evaluasi secara biologi dan kimia memang tidak dilakukan karena keterbatasan jumlah sediaan yang dibuat, selain daripada itu tujuan utama dari praktikum ini adalah untuk mengetahui persiapan dan cara pembuatan sediaan injeksi dalam formulasi teknologi sediaan steril dan untuk membuat dan memformulasikan sediaan injeksi Dexamethason sebagai efek adrenergikdalam bentuk sediaan steril tanpa uji kualitas dan khasiat sediaan yang telah dibuat.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN Meskipun formula yang telah dibuat dalam bentuk sediaan steril injeksiDexamethason Natrium fosfat sebagai efek adrenergik telah memiliki hasil evaluasi mutu fisik yang baik namun secara biologi dan kimia belum dilakukan uji evaluasi untuk mengetahui kualitas, stabilitas, khasiat, dan keamanan dari sediaan tersebut, maka sediaan masih tetap dikatakaan belum memenuhi syarat standar dari literatur yang telah ditetaapkan. 5.2 SARAN Hendaknya dalam memformulasikan suatu sediaan seorang praktikan harus benarbanar memperhatikan karakteristik bahan, konsentrasi bahan, sifat dari masing-masing bahan

serta interaksi antar bahan yang besar kemungkinannnya sangat bisaterjadi. Sehingga dengan demikian sediaan yang diformulasikan akan menghasilkan suatu sediaan yang benar-benar layak pakai dan seminimal mungkin dapat mengurangi kekurangan dari sediaan injeksi yang telah diformulasikan tersebut. Selain itu hal halyang perlu diperhatikan adalah pada proses sterilisasi, penimbangan pembuatannya.Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka diharapkan dalam praktiknya dapat menghasilkan sediaan yang benar benar layak dan sesuai denga literatur standar pustaka yang ada.

DAFTAR PUSTAKA Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI press Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ediai IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Pharmacopee Ned edisi V Soetopo dkk. 2002. Ilmu Resep Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan Voigt. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press Lachman dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta Van Duin. 1947. Ilmu Resep. Jakarta : Soeroengan Anonim. Farmakope Herbal Anief. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Pres Martindale, The Extra Pharmacopeia Twenty-eight Edition. The Parmaceutical Press, London. 1982. 13. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Jakarta: PT Infomaster. 14. Departement of pharmaceutical Science. 1982. Martindale the Extra Pharmacoeia 28th edition. London: The Pharmaceutical Press. 15. Badan Pengawas Obat dan Makanan. ISFI. 2006. ISO Indonesia, volume IV. Jakarta: PT. Anem Kosong Anem (AKA). 16. Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The Pharmaceutical Press. 17. Hardjasaputra, S. L. Purwanto, Dr. dkk. 2002. Data Obat di Indonesia (DOI), edisi 10. Jakarta: Grafidian medi press. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.