Anda di halaman 1dari 46

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Susu merupakan salah satu dari sekian banyaknya prodak hasil ternak yag bersumber dari ternak perah seperti sapi, kerbau kambing dan lain sebagainya. Susu mengandung rotein dan kandungan gizi lainnya yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Di masa sekarang ini susu dari ternak bisa dibilang sudah menjadi kebutuhan dari masyarakat. Mulai dari anak-anak/bayi susu dari ternak sudah mulai di konsumsi oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dalam bertumbuh dan berkembang. Seiring berkembangnya zaman dan pertambahan populasi manusia di bumi ini membuat kebutuhan akan susu menjadi terbatas karena di Indonesia sendiri perbandingan antara produksi susu dengan jumlah konsumsi masyarakat masih sangat kurang. Berdasarkan kondisi tersebut, usaha sapi perah untuk menghasilkan susu segar sangat prospektif. Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit.Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya. Hal inilah yang menjadi latar

belakang dilaksanakannya Praktek Lapang Produksi Ternak Perah di Kabupaten Enrekang. B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang kami dapatkan sehingga dilakukannya praktek lapang ini yaitu membuktikan teori yang didapatkan dalam kuliah dan melihat dan menyaksikan secara langsung peternakan sapi perah yang ada di kabupaten enrekang. B. Tujuan dan Kegunaan Tujuan diadakannya Praktek Lapang Ilmu Ternak Perah adalah untuk mengetahui bentuk aspek hukum, aspek teknis dan produksi, aspek organisasi dan manajemen, aspek keuangan dan kelayakan usaha pada Usaha Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Enrekang. Kegunaan diadakannya Praktek Lapang Ilmu Ternak Perah yaitu agar kita dapat membandingkan antara teori yang didapatkan di perkuliahan dengan Kelayakan Usaha Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Enrekang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Bangsa Bangsa Sapi Perah Sapi adalah hewan ternak penting yang memiliki fungsi sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja, dan kebutuhan energi lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50 persen (45 55 persen) kebutuhan daging di dunia, 95 persen kebutuhan susu, dan 85 persen kebutuhan kulit. Sapi berasal dari familia Bovide, seperti halnya Bison, Banteng, Kerbau (Bubalus), Kerbau Afrika (Scnyherus), dan Anoa. Penyebaran sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke tanah Eropa, Afrika, dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19 sapi Ongole dari India mulai masuk ke pulau Sumba dan sejak itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni. Pada permulaan abad ke-20 banyak sekali perusahaan sapi perah dipinggiran kota-kota besar di pulau Jawa dan Sumatera. Mayoritas perusahaan merupakan milik pengusaha dari Eropa, Cina, India dan Arab. Hanya segelintir kecil milik pribumi (penduduk asli). Bangsa sapi perah yang terdapat pada masa tersebut adalah Frisian Holstein atau biasa disebut Fries Holland, Jersey, Ayrshire, Dairy Shorhorn dan Hissar, namun pada kenyataannya jenis sapi perah yang terus berkembang adalah Fries Holland. Sedangkan bangsa sapi Hissar masih terus tetap diternakkan didaerah Sumatera bagian Utara dan Daerah Istimewa Aceh, namun populasinya tidak terlampau besar.

Adapun Bangsa-Bangsa Sapi Perah yaitu (Anonima, 2010) : Menurut Asal-Usulnya, dari daerah: a. Tropis : Sapi Sahiwal, Sapi Red Sindhi, Sapi Australian Milking Zebu (AMZ), dan lain-lain. b. Subtropis : Sapi Fries Holland (Holstein Friesian), Sapi Jersey, Sapi Guernsey, Sapi Brown Swiss, Sapi Ayrshire, Sapi Milking Shorthorn, dan lain-lain. Menurut Kemurniannya/Keasliannya, terbagi atas: a. Pure Bread (Bangsa Asli/Murni) : Sapi Friesian Holland (FH), Sapi Guernsey, Sapi Brown Swiss, Sapi Milking Shorthorn, dan sebagainya. b. Silangan : Sapi Friesian Holland Grati (FH Grati), Sapi Jersey, Sapi Ayrshire, Sapi Australian Milking Zebu (AMZ), dan sebagainya. a. Fries Holland (Holstein Friesian) Sapi Fries Hollands atau disebut juga FH berasal dari negara Belanda Utara dengan kriteria sebagai berikut :

Bobot badan Ideal sapi FH betina dewasa seitar 682 kg dan jantan dewasa sekitar 1000 kg.

Produksi susu sapi FH di Indonesia rata-rata 10 liter/ ekor per hari atau lebih kurang 30.050 kg per laktasi.

Kadar lemak susu FH 3,65% dengan rata-rata 7.245 kg per laktasi di Amerika Serikat.

Bulu sapi FH pada umumnya bewarna hitam dan putih, namun ada juga yang bewarna merah dan putih dengan batas-batas warna yang jelas.

Bobot anak sapi FH yang baru dilahirkan mencapai 43 kg. 4

b. Jersey Bangsa Sapi ini terbentuk di Pulau Jersey yang terletak di selat Channel antara Prancis dan Inggris. Nenek moyang dari sapi Jersey adalah sapi liar Bos (Taurus) Typicus Longifrons yang kemudian dikawin silangkan dengan sapi di Paris dan Normandia (Prancis). Kriteria sapi Jersey sebagai berikut :

Badan sapi Jersey memiliki badan paling kecil diantara bangsa sapi perah lainnya.

Kadar lemak susunya tinggi 4,85% Memiliki sifat nerveous atau gelisah dan bereaksi cepat terhadap rangsangan. dengan kata lain sapi jersey tidak begitu jinak.

c. Guernsey Sapi Guernsey berasal dari sapi liar sub-spesies Bos (Taurus) Typicus longifrons di pulau Guernsey. terletak disebelah barat laut pulau Jersey, di selat Channel. Kriteria sapi Guernsey :

Bentuk badan agak kasar dibandingkan sapi Jersey Warna bulu cokelat bercak putih Susu sapi Guernsey biasanya diolah menjadi mentega. Bangsa sapi Guernsey bersifat aga jinak.

d. Brown Swiss Bangsa sapi Brown Swiss adalah bangsa sapi perah tertua yang berasal dari spesies sapi liar sub-spesies Bos (Taurus) Typicus Longifrons yang berasal dari lereng-lereng gunung di Swiss. Kriteria sebagai berikut : 5

Bobot badannya terberat kedua setelah sapi FH. Warna bulu cokelat dengan ragam ragam dari cokelat terang sampai cokelat gelap.

Susu sapi Brown Swiss biasanya diolah menjadi keju. Kadar lemak susu sapi Brown Swiss rendah. Produksi susu rata-rata 5.939 per laktasi.

e. Ayrshire Bangsa sapi Ayrshire terbentuk di Ayr yang terletak di barat daya Skotlandia. Nenek moyang sapi Ayrshire adalah Bos (Taurus) Typicus Primigenius dan Bos (Taurus) Typicus Longifrons. Kriteria sapi Ayrshire adalah:

Badan sapi Aryshire lebih besar dari sapi Guernsey dan Jersey. warna bulu bervariasi dari merah dan putih sampai warna mahoni dan putih.

Bobot badan betina 545 kg, jantan 841 kg dan bobot saat lahir 34 kg.

f. Milking Shorthorn Sapi Milking Shorthorn termasuk bangsa sapi tertua dan terbentuk di Inggris bagian timur laut di lembah Sungai Thames. Nenek moyang sapi ini adalah bos (Taurus) Typicus Premigenius. Awal mulanya sapi ini dikenal sebagai bangsa sapi tipe dwiguna ( perah dan pedaging). Pada tahun 1969 peternak pembibit di Amerika Serikat bangsa sapi ini hanya digunakan sebagai sapi perah. Keriteria sapi ini sebagai berikut :

Warna bervariasi dari hampir putih sampai merah semua, dan ada yang bewarna campuran merah dan putih.

Bobot badan ideal jantan 955 kg, berat pada saat lahir 34 kg Kadar lemak susunya 3,65% Produksi susunya 5.126 kg per laktasi

g. Sahiwal Sapi Sahiwal berasal dari India. Sapi ini merupakan tipe perah dari tropis yang terbaik didaerah asalnya. Kriteria sapi tersebut sebagai tersebut :

Potongan atau bentuk tubuh berat. Kaki pendek. Warnanya kemerahan atau coklat muda, kadang-kadang terdapat warna putih.

Persentase lemaknya 3,7% Bulunya sangat halus. Ambing besar dan kadang-kadang bergantung.

h. Red Sindhi Sapi ini berasal dari India. Dalam segala hal hampir sama dengan Sahiwal tetapi dengan ukuran yang lebih kecil dengan kriteria sebagai berikut :

Bobot sapi betina dewasa 300-350 kg, jantan dewasa 400-454 kg. bobot anak sapi betina baru lahir 18-20 kg, anak sapi jantan yang baru lahir 21-24 kg.

Produksi rata-rata untuk satu masa laktasi 1.662 atau berkisar 5-6 liter per hari.

Kadar lemaknya 4,9%.

i. Australian Milking Zebu (AMZ) Sapi ini merupakan hasil silang antara sapi Sahiwal, Red Sindhi, dan sapi Jersey. Sapi ini mengandung darah sapi Zebu 20-40% dan Jersey 60-80%. Adapun kriteria dari sapi AMZ ini adalah :

Warna bulu dominan kuning emas sampai coklat kemerah-merahan. Produksi susu rata-rata 7 liter per hari dengan kisaran produksi susu 1.445-2.647 kg per 330,5 hari. namun ada yang berproduksi hingga 4.858 kg per 330,5 hari atau 16 liter per hari.

B. Potensi Sumber Daya Alam dan Manusia Keberhasilan dari suatu usaha tidak lepas dari dua factor aitu factor sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang ada.. Di samping itu juga, pengembangan usaha sapi perah dan peningkatan produksi susu memerlukan dorongan baik dari pihak pemerintah ataupun swasta seperti industri-industri persusuan dan sarana-sarana lain yang diperlukan dan prospek atau masa depan pengembangan usaha ternak sapi perah (Nurani, 2011). Salah satu komoditas peternakan yang dikembangkan dengan prinsip keterkaitan antara daerah yaitu sapi perah yang diusahakan dalam skala peternakan rakyat dengan pola pengusahaan yang masih sebagai sambilan di kabupaten Enrekang dimana saat ini populasi sapi perah telah mencapai 900 ekor yang bertujuan mengembangkan produksi susu untuk mendukung kegiatan pengolahan dangke yang merupakan makanan khas Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Enrekang. Disamping nilai gizi yang tinggi, produk olahan susu ini disukai oleh masyarakat kabupaten Enrekang karena penduduk Enrekang tidak terbiasa mengkonsumsi susu segar (Nurani, 2011). Sejak tahun 2001 pemerintah Sulawesi Selatan mencoba

mengembangkan sapi perah di kabupaten Sinjai melalui bantuan ternak dari Direktorat Jenderal Peternakan dengan jumlah peternak yang semakin meningkat dimana pada tahun 2004 berjumlah 40 orang dan tahun 2007 berjumlah 168 orang dengan kepemilikan sapi perah 330 ekor dan produksi susu berfluktuasi sekitar 350 liter perhari, sasaran utama produksi adalah produk susu pasteurisasi untuk konsumsi masyarakat sampai ke Kota Makassar (Nurani, 2011). 9

Variasi produksi yang tinggi dan penurunan ini sangat dipengaruhi oleh pakan yang diberikan petani terutama yang berasal dari konsentrat. Petani yang tidak mampu membeli konsentrat mempunyai produksi susu yang rendah, demikian pula dengan penggantian komposisi dan peningkatan komponen lokal bahan pakan menyebabkan penurunan produksi. Dengan demikian petani sangat mengharapkan adanya pembinaan menyangkut perbaikan pakan tersebut (Nurani, 2011). Adanya permasalahan-permasalahan yang dihadapi peternak

merupakan faktor kurangnya kesadaran dalam memanfaatkan sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang ada, maka itu perlu dilakukan usaha usaha berikut (Nurani, 2011) : 1. Dukungan Pemerintah Pemerintah perlu memberikan dukungan nyata untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil ternak (susu) kepada para peternak. Daya saing susu yang dihasilkan peternak hanya dapat ditingkatkan apabila produktivitas dan kualitas tersebut ditingkatkan. Untuk itu, penelitian dan pengembangan khususnya mengenai teknis dan manajemen produksi perlu ditingkatkan. 2. Perlu dibentuk wadah kemitraan Sistem peternakan kontrak (contract farming) merupakan satu mekanisme kelembagaan yang memperkuat posisi tawar menawar peternak dengan cara mengkaitkannya secara langsung ataupun tidak langsung dengan badan usaha yang secara ekonomi relatif lebih kuat. Melalui kontrak, peternak kecil dapat beralih dari usaha tradisional/subsistem ke produksi yang bernilai tinggi dan berorientasi ekspor. 10

3. Kemajuan koperasi susu Koperasi susu perlu didorong dan difasilitasi agar dapat melakukan pengolahan sederhana susu segar antara lain pasteurisasi dan pengemasan susu segar, pengolahan menjadi yogurt, keju dan sebagainya. Hal ini disertai dengan program promosi secara luas kepada masyarakat terutama anak-anak tentang manfaat mengkonsumsi susu segar dan produk-produk olahannya. Pendirian pabrik pengolahan susu yang dimiliki koperasi juga perlu didorong. Langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi makin menguat dan relatif stabilnya nilai kurs rupiah terhadap US dolar yang dapat mengakibatkan industri pengolahan susu kembali mengimpor sebagian besar bahan baku susunya dari luar negeri. 4. Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah Pemerintah Pusat maupun Daerah seyogyanya mengeluarkan kebijakankebijakan yang mampu memperkuat posisi tawar peternak sapi perah khususnya dan pengembangan agribisnis berbasis peternakan umumnya. Ini antara lain dapat dilakukan dengan menghapuskan retribusi yang menyebabkan ongkos produksi bertambah mahal, menghapuskan pajak pertambahan nilai bila pengolahan masih dilakukan oleh peternak serta pemberlakuan tarif bea masuk terhadap susu impor untuk melindungi produksi dalam negeri. Salah satu kunci keberhasilan pengembangan sapi perah yaitu melakukan penguatan kelembagaan antara lain dengan peternakan kontrak yang bertujuan adanya hubungan yang saling menguntungkan antara peternak dengan perusahaan agribisnis, serta memberikan insentif kepada peternak untuk meningkatkan produknya dengan memperbaiki grades dan standar (Nurani, 2011). 11

Selain itu, pemerintah mampu memperbaiki sarana dan iklim investasi untuk bidang peternakan sapi perah, dan pemerintah menyediakan infrastruktur publik seperti jalan, jembatan, listrik, telekomunikasi, pasar dan penegakan hukum dalam perjanjianperjanjian usaha sehingga penggunaan/alokasi

sumberdaya pada usaha sapi perah tercipta secara efisien, merata dan berkelanjutan (sustainable). Untuk melakukan penguatan kelembagaan pada usaha sapi perah diperlukan kerjasama antara peternak, perusahaan dan Pemerintah Daerah serta Pemerintah Pusat (Nurani, 2011).

12

C. Analisis Usaha 1. Aspek Umum dan Hukum Latar Belakang Usaha Berusaha di bidang ternak perah harus mempunyai pengetahuan studi kelayakan usaha untuk mendapatkan keuntungan yang optimal. Untung rugi usaha ternak sapi perah akan mudah diketahui apabila biaya pokok untuk menghasilkan per liter air susu dapat dihitung secara tepat (AAK, 1995). Maksud dan Tujuan Maksud studi kelayakan usaha peternakan sapi perah yaitu untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha peternakan sapi perah pada tingkat perusahaan khususnya pada aspek finansialnya (AAK, 1995). Adapun tujuan studi kelayakan usaha peternakan sapi perah yaitu dapat memberikan pengetahuan tentang cara-cara mengetahui tingkat kelayakan usaha peternakan sapi perah terutama pada aspek financial (AAK, 1995). UU / Peraturan Pemerintah Pusat dan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3102) (AAK, 1995). 2. Aspek Ekonomi dan Pemasaran Kondisi Ekonomi Menurut Ditjennak, Peningkatan konsumsi susu nasional tidak diimbangi dengan peningkatan produksi susu nasional. Dimana konsumsi susu masyarakat Indonesia terus meningkat (Pradana, 2009).

13

Perkembangan Sapi Perah di Indonesia Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rata-ratanya hanya 5-8 liter/hari) (Pradana, 2009). Seiring dengan perkembangan waktu, perkembangan agribisnis persusuan di Indonesia dibagi menjadi tiga tahap perkembangan, yaitu Tahap I (periode sebelum tahun 1980) disebut fase perkembangan sapi perah, Tahap II (periode 1980-1997) disebut periode peningkatan populasi sapi perah, dan Tahap III (periode 1997-sampai sekarang) disebut periode stagnasi. Stagnasi tersebut menyebabkan sampai saat ini Indonesia belum mampu untuk memenuhi kebutuhan susu dalam negeri (Pradana, 2009). Adanya peristiwa ini terjadi akibat banyaknya kendala dalam melakukan pengembangan usaha ternak sapi perah seperti keterbatasan modal, tingginya harga pakan konsentrat, keterbatasan sumber daya dan juga lahan untuk penyediaan hijauan, minimnya rantai pemasaran susu. Hal lain yang menjadi kelemahan dalam usaha ternak sapi perah adalah terbatasnya teknologi (Pradana, 2009). 14

Strategi Pemasaran Sektor industri peternakan sapi perah dapat menyerap cukup banyak lapangan pekerjaan sekaligus mengurangi tingkat pengangguran. Selain itu, pemerintah diminta untuk lebih mendorong pemberdayaan industri hilir (upstream) atau pengolahan yang yang berbasis pada sumber daya lokal khususnya agribisnis persusuan karena jika difasilitasi dengan baik, maka kita dapat memenuhi permintaan susu dalam negeri secara maksimal tanpa harus bergantung dengan produk susu impor yang harganya terkadang lebih murah dari harga susu nasional (Pradana, 2009). 3. Aspek Finansial (Keuangan) Investasi Besarnya pengeluaran tetap sangat bergantung dari besarnya modal yang diinvestasikan untuk pembelian tanah, pembuatan kandang, peralatan dan bibit. Untuk memperhitungkan ongkos tetap sebagai biaya produksi, peternak harus mengetahui nilai depresiasi bangunan kandang / peralatan dan bibit serta pengeluaran lain. Nilai depresiasi tersebut dapat dicari dengan cara membagi jumlah seluruh investasi dengan jumlah daya pemakaiannya (AAK, 1995). Biaya Produksi Biaya produksi dikelompokkan menjadi biaya tetap (fix cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap merupakan biaya-biaya yang tidak terpengaruh dengan volume produksi. Biaya variable merupakan biaya yang berubah-ubah sesuai dengan volume produksi (Pradana, 2009).

15

Perkiraan Pemasukan Hasil produksi susu diperkirakan 10 liter per hari. Apabila biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan susu per liter adalah Rp. 5.000,- per hari maka biaya yang dikeluarkan adalah sekitar Rp. 50.000,- per hari. Jika harga susu per liter adalah Rp. 10.000,- maka perkiraan pemasukan sekitar Rp. 100.000,-. Jadi, perkiraaan pemasukan adalah Rp. 100.000 Rp. 50.000 = Rp. 50.000 x 30 hari = Rp. 1.500.000 (Pradana, 2009). Parameter Finansial Payback Record Payback record merupakan suatu kondisi dimana diperoleh kalkulasi yang menguntungkan atau sudah diperoleh pengembalian investasi (Pradana, 2009). Break Even Point (BEP) BEP (Break Even Point) merupakan suatu kondisi dimana diperoleh kalkulasi yang impas usaha agroindustri susu pada posisi tidak rugi dan tidak untung. Perhitungan BEP dapat dilakukan dengan satuan harga dan jumlah produk (Pradana, 2009). 4. Aspek Lingkungan dan Sosial Budaya Pembangunan Berwawasan Lingkungan Dalam pembangunan kandang harus menyediakan bangunan kandang yang dapat mengamankan sapi terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Disamping itu, pembangunan peternakan sapi perah sebaiknya tidak mencemari lingkungan sekitar rumah penduduk (Pradana, 2009).

16

Dampak Usaha Peternakan Sapi Perah Terhadap Lingkungan Sekitar Menurut Pradana (2009), hal lain yang menjadi kelemahan dalam usaha ternak sapi perah adalah terbatasnya teknologi pengolahan kotoran hewan ternak saat ini yang menyebabkan pencemaran lingkungan di sekitar area peternakan sapi perah seperti air sungai, selokan dan sebagainya. Oleh karena itu, usaha peternakan sapi perah sebaiknya tidak mencemari lingkungan sekitar rumah penduduk .

17

D. Kualitas Susu Susu adalah salah satu dari hasil ternak selain daging dan telur. Susu merupakan bahan pangan yang tersusun oleh zat-zat makanan dengan proporsi seimbang. Susu dipandang sebagai bahan mentah yang mengandung sumber zatzat makanan penting. Penyusun utamanya adalah air, protein, lemak, mineral dan vitamin. Kualitas atau mutu susu merupakan bagian penting dalam produksi dan perdagangan susu. Derajat mutu susu hanya dapat dipertahankan selama waktu tertentu, yang selanjutnya akan mengalami penurunan dan berakhir dengan kerusakan susu. Mutu atau kualitas susu merupakan hubungan sifat-sifat susu yang mencerminkan tingkat penerimaan susu tersebut oleh konsumen. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat fisik, kimiawi, dan mikrobiologi. Sifat fisik susu menunjukkan keadaan fisik susu yang dapat diuji dengan peralatan tertentu atau panca indera. Sifat fisik susu yang dapat diuji dengan alat antara lain berat jenis, kekentalan. Sedangkan sifat yang dapat diuji dengan pancra indera yaitu bau, rasa, warna, dan konsistensi. Sifat kimiawi susu menunjukkan komposisi zat gizi serta kandungan zat kimia tertentu termasuk adanya cemaran. Sifat mikrobiologis susu menunjukkan jumlah mikroba yang ads didalam susu serta beberapa parameter lain yang berkaitan dengan pertumbuhan mikroba. Dalam praktek, mutu susu sering disebutkan berdasarkan kelompok sifatnya sehingga dikenal mutu fisik susu, mutu kimiawi susu, ataupun mutu mikrobiologis susu. Bahkan dalam menguji mutu susu sering hanya dilakukan 18

terhadap beberapa atribut yang dianggap penting, misalnya bobot jenis, kadar lemak dan total bakteri. Akan tetapi secara menyeluruh mutu susu harus menggambarkan sifat-sifat susu yang mencakup sifat fisik, kimiawi dan mikrobiologis. Gabungan basil penilaian sifat-sifat susu akan mencerminkan nilai atau derajat mutu susu. Pemeriksaan kulitas susu dapat dilakukan sebagai berikut (Dwi, 2011).: 1. Uji Reduktase dengan Methylen Blue 2. Uji Warna, Bau, Rasa dan Kekentalan 3. Uji Didih 4. Uji Alkohol 5. Uji Kebersihan atau Sedimentasi 6. Pemeriksaan Susunan Susu 7. Uji Pemalsuan dan Pengawetan Susu Pemalsuan dengan Air Beras/Air Tajin Pengujian adanya bahan pengawet formalin Adapun kriteria kulitas susu segar yang baik adalah sebagai berikut (Dwi, 2011) : 1. Berat Jenis (pada suhu 27,5C) minimum 1,0280 gr/cm. 2. Kadar lemak minimum 3,0 %, b/b3 3. Kadar bahan kering tanpa lemak minimum 8,0 %, b/b. 4. Kadar protein minimum 2,7 %, b/b. 5. Warna, bau, rasa dan kekentalan tidak ada perubahan. 6. Derajat asam 6 - 7SH. 7. Uji alkohol (70 %) negatif . 19

8. Cemaran mikroba maksimum : a. Total kuman Maksimum 1 x 10 koloni/ml b. Salmonella negatif c. E. coli (patogen) negatif d. Coliform maks 20/ml e. S taphylococus aureus maks 1x102/ml 9. Cemaran logam berbahaya, maksimum : a. Timbal (Pb) Maks 0,3 mg/kg b. Seng (Zn) Maks 0,5 mg/kg c. Merkuri (Hg) Maks 0,5 mg/kg d. Arsen (As) Maks 0,5 mg/kg. 10. Kotoran dan benda asing dan uji pemalsuan negatif. 11. Titik beku -0,520C s/d -0,560C 12. Angka reduktase 2 - 5 (jam) 13. Uji Katalase Maksimal 3 ml

20

E. Hasil Produksi dan Hasil Ikutan Susu sebagai cairan yang cukup mengandung banyak zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh juga merupakan media yang sangat sangat disukai oleh mikroorganisme. Oleh sebab itu, pada penanganan pasca panen susu perlu dilakukan metode untuk memperpanjang daya simpan dari susu tersebut sehingga juga dapat dilakukan pengolahan menjadi produk olahan susu seperti keju, mentega, yoghurt, susu pasteurisasi, susu skim dan es krim (Malaka, 2010). Hasil ikutan dari pemotongan ternak adalah kulit, tulang, bulu serta kotoran (feses dan urin) ternak. Hasil ikutan ini bisa memiliki nilai ekonomis dan dapat ditingkatkan kualitasnya apabila dilakukan penanganan yang baik, sehingga memiliki daya guna dan memberikan nilai tambah (Saleh, 2012). Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina. Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak (Anonimb, 2010). Dangke Dangke adalah makanan tradisional yang berasal dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dangke terbuat dari fermentasi susu kerbau yang diolah secara tradisional. Dangke memiliki tekstur seperti tahu dan memiliki rasa yang mirip dengan keju. Dangke juga terkenal memiliki kandungan protein betakaroten yang cukup tinggi (Irma, 2012).

a.

21

Dangke dibuat dengan merebus campuran susu kerbau, garam, dan sedikit getah buah pepaya. Hasil rebusan tersebut kemudian disaring, dibuang airnya, dan kemudian dicetak sesuai bentuk yang diinginkan (Irma, 2012). Dangke dapat langsung disajikan atau diolah lagi menjadi variasi makanan lain seperti dangke bakar dan sejenisnya. Dangke dibuat dengan cara menambahkan getah pepaya pada susu sapi. Getah pepaya mengandung

enzim papain yang berfungsi memisahkan protein dengan air (Irma, 2012). Menu olahan susu sapi menjadi dangke mulai dikembangkan oleh kelompok tani di Enrekang yang sering membuat makanan yang terbuat dari susu segar. Susu segar yang langsung diperah dari sapi lalu dituangkan kedalam loyang kemudian di masak. Setelah panas maka dituangkan getah pepaya sebanyak satu sendok teh sehingga membeku seperti tahu (Irma, 2012). Kripik Susu Kerupuk susu termasuk dalam kelompok kerupuk bersumber protein (kerupuk halus), kandungan protein minimal yang harus dipenuhi adalah 5%. Agar kandungan protein pada kerupuk susu terpenuhi, digunakan curd kadar protein 12 215 yang diperoleh dengan cara memisahkan protein susu (curd) dari cairannya (whey) menggunakan enzim (Irma, 2012). Protein dalam adonan disamping meningkatkan nilai gizi juga mempengaruhi daya kembang kerupuk, demikian juga kadar lemak curd yang tinggi akan mengganggu perkembangan granula pati sehingga untuk meningkatkan daya kembang kerupuk disamping menurunkan kadar lemak juga perlu penambahan bahan pengembang (Irma, 2012). 22

b.

BAB III METODE PELAKSANAAN PRAKTEK

A. Waktu dan Tempat Praktek lapang Ilmu Ternak Perah pada hari sabtu - minggu 20 21 April 2013 bertempat di Peternakan Rakyat Milik Sunusi Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. B. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktek lapang Ilmu Ternak Perah adalah alat tulis menulis, laktodensimeter, cerek, sendok dan termometer. Bahan yang digunakan pada praktek lapang Ilmu Ternak Perah adalah kertas saring/tisu dan susu sapi, C. Metode Praktikum Metode yang digaunakan dalam praktek lapang ini adalah metode wawancara dan praktek mengenai Bj dari susu sapi yang dihasilkan oleh sapisapi yang ada di peternakan pak Sunusi, Dusun Talaga Kelurahan Juppandang, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

23

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Bangsa-Bangsa Sapi Perah Berdasarkan praktek lapang yang telah dilakukan, maka dapat kita ketahui pada Usaha peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Sunusi yang

terletak di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan terdapat beberapa jenis sapi perah yang di ternakkan disana yaitu Sapi Peranakan Fries Holland (Holstein Friesian) dan Sapi Jersey. Sapi Peranakan Fries Holland (Holstein Friesian) ini adalah hasil persilangan antara sapi jawa atau Madura dengan sapi FH. Hasil persilangan tersebut kini popular dengan sebutan sapi Grati karena banyak diternakkan di Jawa Timur terutama di daerah Grati. Tanda-tanda sapi Peranakan Fries Holland menyerupai sapi FH, yaitu produksi relative lebih rendah dari pada FH dan badannya pun lebih kecil. Hal ini sesuai dengan Anonima (2010) yang menyatakan bahwa ciri sapi Peranakan Fries Holland menyerupai FH yaitu warna belang hitam putih, pada dahi umumnya terdapat warna putih berbentuk segitiga, kaki bagian bawah dan bulu ekornya berwarna putih, tanduk pendek serta menjurus kedepan, dan lambat dewasa. Ditambahkan Blakely dan Bade (1991) bahwa sifat sapi Peranakan Fries Holland menyerupai Fries Holland dalam bertingkah laku, yaitu jinak dan tenang, sehingga mudah untuk dikuasai, tidak tahan terhadap panas, tetapi lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.

24

Sapi Jersey berasal dari Inggris Selatan. Memiliki ciri-ciri warna coklat muda terkadang ada yang hampir putih atau kuning dan ada yang agak merah, tetapi pada bagian-bagian tertentu terkadang ada warna putihnya, yang jantan warnanya agak lebih tua. Hal ini sesuai dengan Anonima (2010) yang menyatakan, tanda-tandanya warna coklat muda terkadang ada yang hampir putih atau kuning dan ada yang agak merah, tetapi pada bagian-bagian tertentu terkadang ada warna putihnya, yang jantan warnanya agak lebih tua.

25

B. Potensi Sumber Daya Alam dan Manusia Potensi sumber daya alam dan manusia di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan yaitu memiliki prospek yang sangat baik, akan tetapi proses untuk menunjang potensi sumber daya alam dan manusia masih dalam skala yang kurang efektif, misalnya salah satu komoditas peternakan yang dikembangkan dengan prinsip keterkaitan antara daerah yaitu sapi perah yang diusahakan dalam skala peternakan rakyat dengan pola pengusaha yang masih sebagai sambilan di kabupaten Enrekang. Permasalahan pola pengusaha peternakan sapi perah dipengangaruhi oleh kurangnya sumbangsi pemerintah dalam memberikan dukungan nyata untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil ternak (susu) kepada para peternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurani (2011) bahwa adanya permasalahan-permasalahan yang dihadapi peternak merupakan faktor

kurangnya kesadaran dalam memanfaatkan sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang ada, seperti pemerintah perlu memberikan dukungan nyata untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil ternak (susu) kepada para peternak.

26

1. Potensi Sumber Daya Alam Bahan baku pakan utama dari sumber daya alam yang digunakan pada peternakan sapi perah milik Pak Sunusi yang terletak di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini adalah hijuan segar berupa rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang diperoleh dari padang rumput di sekitar areal peternakan tersebut yang ditanam sendiri. Hijauan rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan makanan pokok bagi ternak sapi perah karena mengandung serat kasar yang tinggi dengan poduksi persatuan luas yang sangat tinggi. Kebutuhan rumput segar pada peternakan sapi perah Sunusi sekitar 1.500 kg/hari. Rumput ini dicincang terlebih dahulu, sesudah itu baru diberikan kepada sapi perah. Rumput gajah memiliki produksi pertahun yang cukup tinggi dan pada waktu masih muda nilai gizinya cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat AAK (1995), bahwa rumput gajah (Pennisetum purpureum) berumur panjang dengan produksi persatuan luas yang sangat tinggi, pertumbuhannya sangat cepat dan pada waktu masih muda memiliki nilai gizi yang cukup tinggi. Itulah sebabnya maka dianjurkan untuk melakukan pemotongan pada saat tanaman ini masih muda atau menjelang berbunga. Akan tetapi selama musim kemarau penyediaan hijauan menjadi kendala terbesar dalam pemeliharaan sapi perah milik pak Sunusi. Olehnya itu, untuk memenuhi kebutuhan pakan diberikan pakan tambahan seperti ampas tahu dan dedak.

27

Ampas tahu kadang diberikan dan merupakan salah satu pakan tambahan yang berasal dari sisa hasil pembuatan tahu yang dikombinasikan dengan dedak yang memiliki kandungan energi metabolis yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonimb (2010) yang menyatakan bahwa ampas tahu merupakan hasil buangan dari proses pembuatan tahu yang kaya akan

kandungan protein dan mengandung pro vitamin A yang dapat merubah vitamin A dalam tubuh makhluk hidup. Selanjutnya ditambahkan oleh Darmono (2010) yang menyatakan bahwa dedak ini merupakan salah satu bahan pakan potensial yang mengandung protein dan energi metabolis yang tinggi. Lebih lanjut diungkapkan oleh Soetarno (2003) yang menyatakan bahwa ampas tahu yang terbuat kedelai ini memiliki kandungan protein 41,7%, lemak 3,5%, serat kasar 6,5% dan energi metabolisme 2.240Kcal/kg, sedangkan untuk dedak memiliki kandungan protein 11,8%, lemak 3,0%, serat kasar 11,2% dan energi metabolisme 1.140 Kcal/kg. Dedak memiliki kandungan energi metabolisme yang tinggi. Pemberian jumlah pakan setiap ternak disesuaikan berdasarkan umur dari masing-masing ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang menyatakan bahwa umur saat penyapihan tergantung pada waktu yang diperlukan oleh pedet-pedet itu untuk berkembangnya fungsi rumen dan makan ransum starter sebanyak 0,75 - 1 kg perhari, untuk sapi dara (heifer) pemberian pakan diberikan sebanyak 1,5 2 kg setiap hari, sedangkan untuk sapi betina laktasi diberikan kombinasi hijauan dan konsentrat 1,25 1,8 kg ransum kering untuk tiap 45 kg berat badan. Pemberian pakan konsentrat untuk sapi betina kering sekitar 1,5 kg konsentrat untuk setiap 100 kg berat badan. 28

2. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia yang digunakan pada usaha peternakan sapi perah milik Pak Sunusi yang terletak di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini adalah tenaga kerja yang berasal dari keluarga sendiri dan tetangga sekitar. Masing masing tenaga kerja ini diberikan gaji Rp. 1.000.000,- /orang/bulan. Setiap pagi dan sore tiga orang laki laki melakukan pembersihaan kandang dan melakukan pemerahan susu sapi kemudian diolah oleh dua tenaga kerja perempuan yang lain menjadi dangke dan kerupuk susu. Hal ini sesuai dengan pendapat Ako (2010) bahwa usaha peternakan sapi perah modern harus mempunyai tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman, seorang peternak dapat memelihara 40-50 ekor sapi perah tanpa bantuan tenaga orang lain.

29

C. Analisis Usaha 1. Aspek Hukum dan Izin Usaha Berdasarkan praktek lapang yang telah dilakukan, diketahui bahwa analisis usaha Peternakan Sapi Perah Pak Sunusi yang terletak di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan yaitu memiliki prospek yang sangat baik, karena aspek hukum dalam izin usaha peternakan sapi perah Peternakan Rakyat milik Pak Sunusi di dapatkan dari kemitraan dengan Dinas Peternakan setempat dimana perijinan usaha di Indonesia yang berskala menengah hingga besar harus melewati beberapa proses tertentu sesuai dengan Perda yang berlaku ditempat perusahaan tersebut. Sertifikasi halal diperlukan untuk memasarkan produk ke pasaran luas hal ini ditinjau langsung dari badan POM Indonesia. Ditetapkan peraturan ini demi membantu dimanfaatkannya usaha kecil untuk memberikan kemudahan dalam pendanaan dan berbagai upaya keringanan persyaratan dalam pendanaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Tohar (2000) yang menyatakan bahwa pemerintah menumbuhkan iklim usaha bagi usaha kecil melalui penetapan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan. Perundang-undangan dan kebijaksanaan tersebut mencakup aspek pendanaan itu dimaksudkan untuk memperluas sumber pendanaan yang dapat dimanfaatkan oleh usaha kecil dan untuk memberikan kemudahan dalam pendanaan dan berbagai upaya pemberian keringanan persyaratan dalam pendanaan.

30

2. Ansalisis Finansial Dan Kelayakan Usaha Dari hasil praktek lapang yang telah dilakukan, diperoleh hasil ansalisis finansial dan kelayakan usaha Peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Sunusi yang terletak di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi sebagai berikut. Tabel 1. Analisis Finansial dan Kelayakan Usaha pada Peternakan Sapi Perah Pak Sunusi.
No A. URAIAN Penerimaan a. Dangke b. Krupuk c. Pedet Total Penerimaan Biaya d. Biaya Tetap Penyusutan Kandang Karpet Total Biaya Tetap e. Biaya Variabel 1.Pakan Hijauan Ampas Tahu Dedak 2.Listrik 3. Air 4. Tenaga Kerja 5. Obat Dan Antibiotik Total Biaya Variabel Total Pengeluaran Pendapatan (A-B) R/C atau (A/B) B/C a. BEP Produksi b. BEP Harga 13.253,9 13.235,7 Satuan Bungkus Bungkus Ekor Volume 30 60 12 Harga / NILAI (Rp) Unit (Rp) 15.000 10.000 4.000.000 135.000.000 180.000.000 14. 400.000.000 14. 715.000.000

B.

20 tahun 5 tahun

75.000.00 0 350.000

3.214.000 60.000 3.274. 285

Kg Kg Kg Kwh Orang -

35 1,4 2 Bulan Bulan 5 Bulan

5.00 1.000 1.600 1.000.000 -

52.000.000 5.880.000 9.600.000 450.000 100.000 5.000.000 3.100.000 76.130.000 79.404.000 283.595.715 4,57 3,57

C. D. E. F.

Sumber : Data Primer Hasil Praktek Lapang Ilmu Ternak Perah, 2013.

31

Berdasarkan data pada tabel 1 diatas, maka dapat diketahui bahwa aspek keuangan dan kelayakan usaha peternakan Sapi Perah Pak Sunusi, yang berkaitan dengan analisis finansial dimana total penerimaan hanya bersumber dari produksi susu namun yang dijual adalah produk olahan berupa dangke dan krupuk susu ditambah dengan jumlah sapi pedet dengan total yaitu Rp.14.715.000.000. Sedangkan total biaya pengeluaran sebesar Rp. 79.404.000 dimana meliputi biaya variabel dan biaya tetap. Maka, pendapatan/laba yang diperoleh Pak Sunusi sebesar Rp.

14.715.000.000 dengan rasio BEP harga produksi 13.253,7 ,- dan BEP volume produksi 13.253,9. Sehingga aspek keuangan dan kelayakan usaha peternakan sapi perah sangatlah bergantung pada banyaknya biaya-biaya yang dikeluarkan. Seperti biaya penyusutan, biaya variabel serta serta biaya tetap dalam menjalankan usaha peternakan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Nursam (2006) bahwa dalam usaha peternakan terdapat pengeluaran tetap dan tidak tetap (variable), yang digolongkan ongkos (pengeluaran) tetap adalah modal yang diinvestasikan dan tak mudah hilang seperti tanah, bangunan kandang, dan peralatannya. Besarnya ongkos tetap untuk pemeliharaan sapi perah adalah tergantung pada jumlah investasi untuk tanah, kandang, peralatan dan lain-lain. Pada usaha peternakan Pak Sunusi ini memperoleh BEP Harga Produksi sebesar Rp.135.000.000 dan BEP Volume Produksi sebesar 30. Dengan kecilnya angka BEP yang didapatkan Pak Dariatmo pertahunnya sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh keuntungan.

32

BEP (Break even point) berarti titik pulang pokok yang artinya bagaiman hubungan antara pengeluaran serta pendapatan dalam suatu tingkatan Produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Umar (2003) bahwa titik pulang pokok adalah suatu alat analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara beberapa variable didalam kegiatan perusahaan, seperti luas produksi atau tingkat produksi yang dilaksanakan, biaya yang dikeluarkan, serta pendapatan yang diterima peruusahaan dari kegiatannya. R/C (ratio) menunjukkkan perbandingan antara total produksi dengan biaya produksi. Dimana, pada usaha ini diperoleh R/C yaitu 4,57. Nilai ini berarti bahwa setiap Rp. 1 modal yang dikeluarkan maka Pak Sunusi memperoleh keuntungan sebesar Rp 4,57. Hal ini menunjukkan bahwa usaha tersebut memperoleh keuntungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Umar (2003), bahwa jika R/C < 1 maka usaha tersebut dikatakan rugi, jika R/C > 1 maka usaha tersebut dikatakan untung, sedangkan jika R/C = 1 maka usaha tersebut dikatakan tidak untung dan juga tidak rugi. Pada dasarnya keuntungan yang diperoleh dari Pak Sunusi sangatlah besar hal ini disebabkan karena pak Sunusi menggunakan tenaga kerja dari sebagian keluarganya.

33

D. Kualitas Susu Dari hasil praktek lapnag pada Usaha peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Sunusi yang terletak di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan diketahui kualitas susu yang dihasilkan. Pengujian kualitas susu ini dilakukan dengan menentukan berat jenis (BJ) susu dan uji kotoran melalui kertas saring. Berat jenis susu yang diperoleh dari susu segar milik Pak Sunusi adalah 1,035 dengan suhu susu 310C. Hasil pengujian ini menandakan bahwa susu yang diproduksi oleh peternakan sapi Pak Sunusi sudah memenuhi kriteria sebagai susu layak konsumsi. Kelayakan susu untuk dikonsumsi diketahui karena susu yang dihasilakan dari sapi perah miliki pak Sunusi memiliki BJ 1,035 yang mana standar BJ untuk susu layak konsumsi adalah 1,027 sampai 1,035 serta setelah melalui uji dengan kertas saring tampak bahwa tidak ada kotoran yang terkandung dalam susu. Hal ini didukung oleh pendapat Dwi (2011), bahwa air susu mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada air, yaitu umumnya 1.027-1.035 dengan rata-rata 1.031. Akan tetapi menurut codex susu, BJ air susu adalah 1.028. Codex susu adalah suatu daftar satuan yang harus dipenuhi air susu sebagai bahan makanan. Daftar ini telah disepakati para ahli gizi dan kesehatan sedunia, walaupun disetiap negara atau daerah mempunyai ketentuanketentuan tersendiri. Berat jenis harus ditetapkan 3 jam setelah air susu diperah.

34

E. Hasil Produksi dan Hasil Ikutan Hasil produksi pada Usaha peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Sunusi yang terletak di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan yaitu susu yang dalam sehari seekor ternak dapat menghasilkan 16 liter susu dari 8 ekor sapi betina laktasi. Produksi susu ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena dilakukan penangan yang baik, seperti pengolahan susu menjadi dangke dan krupuk dangke yang memiliki nilai tambah. Penggunaan susu sapi dalam pengolahan dangke harus dilakukan untuk mempertahankan keberadaan dangke baik sebagai salah satu kekayaan budaya asli Indonesia, maupun sebagai industri skala rumah tangga yang telah memberikan sumbangan pendapatan, dan memiliki kandungan nutrisi yang tinggi untuk sebagian masyarakat peternak di pedesaan Kabupaten Enrekang. Sedangkan krupuk dangke merupakan hasil olahan susu yang difermentasikan menjadi olahan dangke kemudiaan diolah lagi menjadi krupuk dangke dengan berbagai rasa seperti rasa original, balado, dan rasa coklat. Bahan dasar dari kerupuk susu yakni dangke, yang dihasilkan tidak menggunakan susu sebagai bahan dasar pembuatan kerupuk ini, melainkan dangke sehingga namanya kerupuk dangke. Hal ini sejalan dengan Nurani (2011) bahwa Penggunaan susu sapi dalam pengolahan dangke harus dilakukan dalam rangka mempertahankan keberadaan dangke baik sebagai salah satu kekayaan budaya asli Indonesia, maupun sebagai industri skala rumah tangga yang telah memberikan sumbangan pendapatan untuk sebagian masyarakat peternak di pedesaan Kabupaten Enrekang. 35

Anonim (2012) menambahkan bahwa Bahan dasar dari kerupuk susu yakni dangke, kerupuk yang dihasilkan tidak menggunakan susu sebagai bahan dasar pembuatan kerupuk ini, melainkan dangke sehingga namanya kerupuk dangke. untuk menghasilkan 1 kg krupuk dangke dibutuhkan sekitar 4 - 5 buah dangke. Pembuatan 1 bungkus dangke diperoleh dari susu segar sebanyak 1,5 liter. Proses pembuatan dangke yaitu: (1) Susu segar dimasak hingga mendidih, (2) Memberi sedikit tambahan getah papaya (membuat lemak susu mengendap dan memisah dari air susu), (3) Mengambil endapan susu yang telah terapung di permukaan panci, (4) Mencetak pada tempurung kelapa, (5) Membungkus dangke yang telah jadi menggunakan daun pisang, dan (6) Dangke siap untuk dipasarkan. Produk susu yang satu ini dijual dengan harga Rp. 15.000,00-. Berbeda dengan pembuatan kerupuk susu. Prosesnya lebih mudah yaitu: (1) Mencampurkan dangke (matang) dengan tepung beras, (2) Memasukkan adonan kedalam cetakan krupuk, (3) Digoreng dengan minyak panas, (4) Krupuk susu dibungkus dengan plastik dan diberi label, dan (5) Krupuk susu siap untuk dipasarkan. Produk kerupuk susu ini dijual senilai Rp. 5.000 sampai Rp.15.000/ bungkus.

36

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan Praktek Lapang Peternakan yang telah dilaksanaknan di Dusun Talaga Kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, tepatnya di peternakan milik Pak Sunusi yang dapat ditarik kesimpulan bahwa jenis sapi yang diternakan disana yaitu jenis sapi Peranakan Fries Holland (Holstein Friesian), Sapi Peranakan Sahiwal, Sapi Brown Swiss dan Sapi Jersey. Peternakan sapi perah ini mempunyai prospek yang baik dan menjanjikan jika ditinjau dari segi ekonominya karena produk hasil ternak sapi perah ini bukan hanya susu segar saja tetapi bisa diolah lagi menjadi produk yang mempunyai nilai jual yang lebih. Prodak ini antara lain Dangke dan Keripik Susu. B. Saran Adapun saran dari saya untuk praktek lapang kedepannya yaitu agar praktikan lebih di perhatikan dan di usahakan memperhatikan dengan baik praktikum yang dijalankan karena pada saat praktikum seperti penghitungan Bj banyak yang tidak memperhatikannya.

37

DAFTAR PUSTAKA
Ako Ambo. 2012. Ilmu Ternak Perah. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Makassar. Anonima. 2010. Tentang Ternak Perah. http://anakkandang.multiply.com/ journal/item/ 2/tentang_ternak_perah. Diakses pada Diakses pada tanggal 18 April 2013. Anonim b. 2010.Ternak Perah. http://peternakan_sapi perah.co.id. Diakses pada tanggal 18 April 2013. Blakely, J dan Bade, D.1991. Ilmu Peternakan. UGM Press. Yogyakarta. Darmono. 2010. Ternak Sapi. http://agromaret.com. Diakses pada tanggal 18 April 2013. Dwi. 2011. Penentuan Kulitas Susu. http://Hariani_dwi.blogspot.com. Diakses pada tanggal 24 April 2013. Irma. 2012. Dangke. http://shamawar.wordpress.com/2012/12/04/gurihnya-siputih-dangke/. Diakses pada tanggal 29 April 2013. Malaka, R. 2010. Pengantar Teknologi Susu. Masagena Press. Makassar. Nurani, S. 2011. Potensi Peternakan di Sulawesi Selatan. http://ilmu peternakan. co.id. Diakses pada tanggal 24 April 2013. Nursam 2006. Analisis Kelayakan Financial Usaha Peternakan Ayam Petelur pada UD. Cahaya Mario Rappang Kabupaten Sidrap (studi kasus). FAPET UH. Makassar. Pradana, M. N. 2009. Revitalisasi Peternakan Sapi Perah Harus Digalakkan. http://disnakeswan.kalbarprov.go.id/index.php?option=com. Diakses pada tanggal 24 April 2013. Prihadi. S. 1994. Tata Laksana Dan produksi ternak Perah. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Saleh. 2012. Berbagai Produksi Hasil Ternak. http:// muhammad_saleh.com. Diakses pada tanggal 24 April 2013. Soetarno, T. 2003. Manajemen Ternak Perah. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.

38

LAMPIRAN

Perhitungan Analisis Finansial dan Kelayakan Usaha 1. Biaya Tetap Biaya penyusutan kandang = = = Rp 3. 214. 285 Peralatan =

= = = Rp. 60.000
2. Biaya variabel Hijauan

=Jumlah hijauan yang dibutuhkan x 300 hari x jumlah Sapi Dara x harga
hijauan = 35 kg x 300 hari x 10 ekor x Rp. 500 = Rp. 52.000.000

39

Ampas Tahu = Jumlah ampas tahu yang dibutuhkan x 300 hari x jumlah Sapi Dara x harga ampas tahu = 1,4 kg x 300 hari x 10 ekor x Rp. 1.400 = Rp 5.880.000 Dedak = Jumlah dedak yang dibutuhkan x 300 hari x jumlah Sapi Dara x harga dedak = 2 kg x 300 hari x 10 ekor x Rp. 1.600 = Rp 9.600.000 3. Biaya Listrik Rp. 450.000 4. Biaya Air Rp. 100.000

5. Tenaga Kerja 5 x Rp. 1000.000 = Rp. 5.000.0000 6. Obat dan Antibiotik = Rp. 3.100.000 Total Biaya = Biaya tetap + Biaya Variabel = Rp. 3.274.285 + Rp. 76.130.000 = Rp. 79.404.285 Hasil produksi susu harian (Penerimaan) Dangke V = Jumlah produksi perhari x harga satuan x 300 hari V = 30 x Rp 15.000 x 300 hari V = Rp 135.000.000

40

Kerupuk Dangke V = Jumlah produksi perhari x harga satuan x 300 hari V = 60 x Rp. 10.000 x 300 hari V = Rp. 180.000.000 Pedet V = Jumlah pedet x harga satuan V= 12 x 4.000.000 V = Rp. 48.000.000 Total Penerimaan = hasil produksi dangke x hasil produksi kerupuk dangke x hasil penjualan pedet Total Penerimaan = Rp. 135.000.000 + Rp. 180.000.000 + Rp. 48.000.000 = Rp. 363.000.000 Pendapatan Pendapatan = Total Produksi (Penerimaan) Total Biaya (Pengeluaran) = Rp. 363.000.000 - Rp. 79.404.285

= Rp. 283.595.715 BEP BEP Produksi Dangke BEP Produksi Dangke =

= = 5.293,6

41

BEP Produksi Krupuk Dangke BEP Produksi Krupuk Dangke =

= = 7.940,4 BEP Produksi pedet BEP Produksi pedet =

= = 19,85 BEP Harga Dangke BEP Harga Dangke =

= = 8.822,7 BEP Harga Kerupuk Dangke BEP Harga Kerupuk Dangke =

= = 4.411,3

42

BEP Harga Pedet BEP Harga Pedet =

= = 1,65 Retur Coct Ratio (R/C) R/C =

R/C = R/C = 4,57 Benifit Cost Rasio (B/C) B/C =


( )

B/C = B/C

=3,57

43

Perhitungan Menentukan Berat Jenis (BJ) Susu Diketahui : suhu susu = 31 0C Skala Lakto + FK (Suhu susu suhu tera lakto) BJ(i )= 1,000 + 1000 (Suhu susu suhu tera susu) X FK BJ(ii)= BJ (i) + 1000 0,991410 BJ(iii)= BJ (ii) X 0,996400 Keterangan : FK = 0,2 Skala Lakto = 38,8 0C Skala Tera Susu = 27,5 0C. 38,8 0C + 0,2 (310C 27,50C) BJ(i)= 1,000 + 1000 38,8 0C + 0,7 0C = 1,000 + 1000 = 1,000 + 0,0395 = 1,0395 (Suhu susu suhu tera susu) X FK BJ(ii)= BJ (i) + 1000 (310C 27,50C) X 0,2 = 1,0395 + 1000 = 1,0395 + 0,0007 = 1,0402

44

0,991410 BJ(iii)= 1,0402 X 0,996400 = 1,0402 X 0,994990 = 1,0349907 = 1,035

45

Foto Dokumentasi

46