Anda di halaman 1dari 2

Fajri-Dedi Sampaikan Eksepsi ----sub Dakwaan Jaksa Cacat Hukum dan Tidak Sah SAMARINDA-Fajri Tridalaksana dan Dedi

Sudarya, dua terdakwa perkara bantuan sosial Kutai Kertanegara tahun 2005 kembali menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Samarinda kemarin dengan agenda pembacaan eksepsi atau keberatan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam eksepsi setebal 17 halaman dibacakan penasehat hukumnya Arjunawan SH itu, dakwaan Jaksa dianggap melanggar pasal 15 UU 31/1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU 20/2001 tentang tindak pidana korupsi. Terutama dakwaan subsidair maupun dakwaan lebih-lebih subsidair Penuntut Umum. Dalam dakwaan tersebut, kedua terdakwa dituduh melakukan pembantuan terhadap perbuatan yang dilakuan Setia Budi bersama-sama Samsuri Aspar. Karenanya oleh JPU dijonctokan ke pasal 56 ke-1 KUHP. Penjelasan pasal 15 ini merupakan aturan khusus karena ancaman pidana pada percoba atau pembantuan tindak pidana pada umumnya dikurangi sepertiga dari ancaman pidananya, kata Arjunawan. Karena itu, jika dihubungkan dengan dakwaan subsidair dan lebih-lebih subsidair Penuntut Umum, maka jelaslah bertentangan dengan pasal 15 UU 31/1999 karena menerapakan pasal 56 KUHP. KArena itu jelas surat dakwaan Penuntut Umum tidak dapat diterima, kata Arjunawan di hadapan majelis hakim diketui Polin Tampubolon, serta hakim adhoc Rajali dan Poster Sitorus. Selain itu, dakwaan tidak dapat diteria karena berkas perkara penyidikan juga tidak sesuai dan bertentangan dengan surat perintah penyidikan nomor Print06/Q.4.12/Fd.1/11/2010 tanggal 10 Nopember 2010 juncto Surat Perintah Penyidikan Noomr Print-05/Q.4.12/Fd.1/10/2011 tanggal 12 Oktober 2011. Dalam surat perintah penyidikan 10 Nopember 2010 tersebut, jaksa yang ditunuk penyidik adalah Akhmad Muhdhor, Sofyan Latoriri, Agus Priyatna, Meilany Magdalena dan Agus Purwantoro. Dan pada surat perintah tanggal 12 Oktober 2011, jaksa penyidik adalah IC Widi Susilo dan Ridhayani Natsir. Namun, terkait penyitaan barang bukti yang dugunakan dalam perkara ini bukan disita oleh jaksa penyidik tersebut. Barang bukti yang digunakan adalah 33 macam yang disita tanggal 15 Juli 2009 sesuai surat perintah penyidikan oleh

Kejati Kaltim tanggal 26 Mei 2009 dengan jaksa penyidik Cthairna Astrid. Sesuai dengan pasal 7 ayat (1) KUHAP jo pasal 38 KUHAP, maka dapat disimpulkan berkas perkara cacat demi hokum dan tidak sah. Karena barang bukti disita jauh sebelum dibentuk penyidik. Jaksa yang menyita barang bukti juga tidak memiliki legal standing, katanya. Terakhir, Fajri dan Dedi juga keberatan atas dakwaan jaksa karena tak ada perhitungan kerugian Negara oleh BPK dalam perkara mereka. Hasil perhitungan kerugian Negara hanyalah dapat digunakan untuk perkara Samsuri Aspar dan Setia Budi dan tidak secara mutatis-mutandis dapat dipergunakan dan dilampirkan dalam berkas perkara terdakwa yang sekarang, tandas Arjunawan. Persidangan perkara ini akan dilanjutkan pekan depan dengan putusan sela majelis hakim. Arjunawan berharap hakim menolak dakwaan jaksa dan menerima keberatan yang mereka sampaikan. (al)