Anda di halaman 1dari 8

Hubungan Self Efficacy dengan Kepuasan Kerja di PPPPTK/VEDC Malang.

Ninin Nuraini Wirawati Universitas Wisnuwardhana Malang

Abstract: Work satisfaction is human interaction result with the work environment. Work satisfaction that accepted by employee is important factor that must be achieved because this matter will affect in employee work spirit later will have organization productivity level. One of [the] factor that can influence incidence work satisfaction employee attitude towards the job. When a employee felt not sure on the job so, will evoke taste unsatisfaction in the job result. Ssure feeling on the job is called with self efficacy, this matter is wanted because be important factor in reachess success top so much. Individual that has self efficacy tall bouncyer and better able to survive in do task, because he has confidence that he can to do task well, so that he will do amount of hard efforts and directional to will achieve satisfaction the work result. Keyword: Work Satisfaction; Organization Productivity.

Organisasi adalah sekelompok orang yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu untuk mencari keuntungan dan mengembangkan usahanya Salah satu unsur yang tidak dapat terlepas dari upaya organisasi untuk mencapai tujuannya, yaitu unsur karyawan. Tanpa adanya karyawan maka semua kegiatan manajemen dalam organisasi tidak akan dapat berjalan, sebab karyawan yang menjadi inti dan memegang peranan dalam mencapai tujuan. Apabila perusahaan ingin berkembang dan mengalami kemajuan maka yang pertama diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya adalah karyawannya. Karyawan mempunyai andil yang besar dalam sebuah organisasi dan perlu diperhatikan sebagai salah satu modal dasar dalam mencapai kesuksesan.

Alamat Korespondensi: Ninin Nuraini Wirawati, Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang. Jl. Danau Sentani 99 Malang.

Faktor penting yang harus dimiliki seorang karyawan dalam rangka membantu organisasi untuk mencapai tujuannya adalah semangat kerja, karenanya semangat kerja pada karyawan harus terus ditumbuhkan dalam setiap kegiatan organisasi. Semangat kerja yang menurun akan mempengaruhi produktivitas kerja dan kelangsungan hidup organisasi. Menurunnya semangat kerja karyawan disebabkan karena kurang adanya kepuasan pada hasil kerja. Seorang karyawan yang memiliki semangat tinggi tentu akan menghasilkan produktivitas yang tinggi pula, yang pada akhirnya akan memperoleh kepuasan kerja. Kepuasan kerja pada diri seorang karyawan dapat ditunjukkan dengan dimilikinya perasaan senang, lega dan bangga pada situasi kerja. Karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja secara memadai akan bersemangat, bergairah, rajin dalam bekerja dan mempunyai disiplin yang tinggi serta dapat mengurangi tingkat ketidakhadiran, sehingga kepuasan kerja penting bagi seorang karyawan. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja pada setiap karyawan, salah satunya adalah sikap kar8

Hubungan Self Efficacy dengan Kepuasan Kerja di PPPPTK/VEDC Malang

yawan terhadap pekerjaannya. Apabila seorang karyawan merasa tidak yakin atas pekerjaannya maka, akan menimbulkan rasa ketidakpuasan pada hasil pekerjaannya. Perasaan yakin atas pekerjaannya disebut dengan self efficacy hal ini sangat dibutuhkan karena merupakan faktor penting dalam meraih puncak kesuksesan. Self efficacy merupakan keyakinan dari dalam individu untuk berhasil melaksanakan tugas yang dikerjakannya. Self efficacy juga dapat dikatakan sebagai faktor personal yang membedakan setiap individu, dan perubahan self efficacy dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku terutama dalam usaha untuk menyelesaikan tugas dan tujuan. Kepuasan kerja adalah sikap umum yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap faktor-faktor pekerjaan, penyesuaian diri, dan hubungan sosial individu di luar kerja. Kepuasan kerja mencakup aspek pekerjaan itu sendiri, gaji, pengawas, rekan kerja, jaminan kerja dan kesempatan berprestasi (Wexley dan Yukl, 1992). Menurut Lee dan Bobko (1994) self efficacy menekankan kepada keyakinan individu agar mampu melakukan suatu keterampilan. Sedang menurut Bandura (1997) self efficacy adalah belief atau keyakinan seseorang bahwa ia dapat menguasai situasi dan menghasilkan keluaran yang positif. Pencapaian self efficacy dihasilkan dari adanya interaksi manusia dan kognisi mental. Interaksi manusia berarti bahwa pemikiran dan kegiatan manusia berawal dari apa yang dipelajari dalam masyarakat. Sedangkan kognisi mental berarti terdapat adanya proses berpikir terhadap motivasi, sikap dan perilaku manusia. Individu yang memiliki self efficacy tinggi akan mampu menyelesaikan pekerjaan atau mencapai tujuan tertentu, mereka juga akan berusaha menetapkan tujuan lain yang tinggi. Individu yang memiliki self efficacy tinggi pada situasi tertentu akan mencurahkan semua usaha dan perhatiannya sesuai dengan tuntutan situasi tersebut dalam mencapai tujuan dan kinerja yang telah ditentukannya. Kegagalan dalam mencapai suatu target tujuan akan membuat individu berusaha lebih giat lagi untuk meraihnya kembali serta mengatasi rintangan yang membuatnya gagal dan kemudian akan
ISSN: 0853-8050

menetapkan target lain yang lebih tinggi lagi. Individu yang mempunyai self efficacy rendah ketika menghadapi situasi yang sulit dan tingkat kompleksitas tugas yang tinggi akan cenderung malas berusaha atau lebih menyukai kerja sama. Individu yang mempunyai self efficacy rendah menetapkan target yang lebih rendah pula serta keyakinan terhadap keberhasilan akan pencapaian target yang juga rendah sehingga usaha yang dilakukan lemah. Seorang individu yang memiliki keyakinan diri yang besar, akan membuatnya berpikir dengan cara yang positif dalam setiap kegiatan yang dilakukannya dan akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya. Orang yang memiliki keyakinan diri yang besar berarti orang tersebut memiliki kekuatan untuk memperoleh apa yang diinginkannya atau orang yang memiliki kayakinan diri yang besar akan mempunyai kesempatan serta kemungkinan yang besar dalam tercapainya suatu tujuan dan cita-citanya (Baron dan Greenberg, 1990). KEPUASAN KERJA Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individuil. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbedabeda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Ini disebabkan karena adanya perbedaan pada masing-masing individu. Kepuasan kerja juga berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan sesama karyawan. Selain itu kepuasan kerja merupakan sikap umum yang merupakan hasil dari beberapa sikap. Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan, dan sebaliknya. Kepuasan kerja adalah perasaan menyokong atau perasaan tidak menyokong yang dialami pekerja di dalam mengerjakan pekerjaannya (Keith Davis, 1990). Cooper dan Makin (1995) juga mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah perwujudan dari seorang karyawan dalam melaksanakan pekerjaan bukan hanya diinginkan dai segi organisasi, tetapi ju9

Ninin Nuraini Wirawati

ga sebagai sumbangan terhadap lingkungan sosial yang sehat. Selanjutnya Asad (2000) mengatakan kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan sesama karyawan. Terdapat banyak teori yang menjabarkan tentang kepuasan kerja, beberapa diantaranya sebagai berikut: Teori Dua faktor Teori yang berkaiatan dengan kepuasan kerja antara lain dikemukakan oleh Herzberg dengan teori dua faktor (two factor teory). Teori dua faktor ini adalah faktor yang membuat orang tidak puas. Faktor penyebab ketidakpuasan berkaiatan dengan kondisi kerja ekstrinsik yang disebut juga hygiene faktors yang meliputi: gaji, jaminan, pekerjaan, kondisi kerja, status, prosedur perusahaan, mutu supervisor dan mutu hubungan antar pribadi di antara rekan kerja, antara atasan dengan bawahan. Faktor penyebab kepuasan berkaitan dengan kondisi intrinsik yang disebut faktor motivator dan meliputi prestasi, pengakuan, tanggung jawab, kemajuan, pekerjaan itu sendiri, kemungkinan berkembang. Faktor-faktor kepuasan kerja dapat mengerakkan tingkat motivasi yang kuat, yang dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik. Bila faktor ini dioptimalkan, selain meningkatkan prestasi juga menurunkan tingkat perpindahan karyawan, menunjang sikap yang lebih toleran terhadap manajemen dan membuahkan kesehatan mental para karyawan. Faktor penyebab ketidakpuasan yang disebut extrinsic factor terdiri atas kebijaksanaan perusahaan dan administrasi, teknik supervisi, penggajian, hubungan perorangan, kondisi kerja, keamanan kerja dan jabatan. Faktor-faktor ini merupakan faktor penunjang kepuasan, yang bila kurang memadai akan terjadi ketidakpuasan di antara karyawan. Perbaikan atas faktor ini akan mengurangi adanya ketidakpuasan kerja. 10

Teori Keadilan Teori keadilan (equity theory) menjelaskan bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia akan merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Keadilan yaitu keadaan yang muncul dalam pikiran seseorang jika ia merasa rasio antara usaha dan imbalan adalah seimbang dengan rasio individu yang dibandingkan. Keadilan dikatakan ada jika karyawan beranggapan bahwa rasio antara masukan (input) dengan perolehan (hasil) sepadan dengan rasio karyawan lain. Input adalah sesuatu yang bernilai bagi seseorang yang dianggap mendukung pekerjaan seperti upah/gaji, keuntungan sampingan, simbol status, penghargaan, serta kesempatan untuk berhasil. Bila perbandingan itu tudak seimbang, tetapi menguntungkan bisa menimbulkan kepuasan, bila perbandingan itu tidak seimbang dan merugikan maka akan menimbulkan ketidakpuasan. Teori Ketidaksesuaian Teori ketidaksesuaian (discrepancy theory) pertama kali dipelopori oleh Porter yang mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara apa yang seharusnya ada dengan kenyataan yang dirasakan. Kepuasan dan ketidakpuasan atas sejumlah aspek pekerjaan tergantung pada selisih (discrepancy) antara apa yang dianggap telah didapatkan dengan apa yang diinginkan. Jumlah yang diinginkan dan karakteristik pekerjaan didefinisikan sebagai jumlah minim yang diperlakukan untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Seseorang akan terpuaskan jika tidak ada selisih antara kondisi yang diinginkan dengan kondisi aktual. Semakin besar kekurangannya maka semakin besar ketidakpuasannya. Jika terdapat lebih banyak faktor pekerjaan yang dapat diterima secara minimal dan kelebihannya menguntungkan, orang bersangkutan akan sama puasnya bila terdapat selisih dari jumlah yang diinginkan (Wexley dan Yukl, 1992).

PSIKOVIDYA VOLUME 13 NOMOR 1 APRIL 2009

Hubungan Self Efficacy dengan Kepuasan Kerja di PPPPTK/VEDC Malang

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Sering kali pihak managemen berupaya untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawannya dengan cara menaikan gaji/upah kerja mereka. Karena beranggapan bahwa gaji/upah kerja merupakan faktor utama untuk mencapai kepuasan kerja. Dengan gaji yang diperoleh para karyawan dapat melangsunkan kehidupannya sehari-hari. Namun kenyataannya gaji yang tinggi tidak selalu menjadi faktor utama untuk mencapai kepuasan kerja, karena banyak perusahaan yang memberikan gaji yang cukup tinggi, tetapi masih banyak karyawan yang merasa tidak puas dan tidak senang dengan pekerjaannya. Hal ini disebabkan gaji hanya memberikan kepuasan sementara yakni kepuasan yang dipengaruhi oleh kebutuhan dan nilai orang yang bersangkutan (Asad, 2000). Kepuasan kerja merupakan sikap seseorang terhadap pekerjaannya. Sikap tentang pekerjaannya dipengaruhi faktor aspek saja. Aspek kerja mencerminkan ciri-ciri yang ada di dalam organisasi, dan timbul karena kegiatan organisasi yang dapat mempengaruhi tingkah laku. Ciri-ciri tersebut bisa berupa peraturan kebijakan, sistem pemberian hadiah dan misi organisasi. Dengan kondisi yang demikian, maka organisasi akan cenderung untuk menarik dan mempertahankan orang-orang yang sesuai dengan aspek kerja. Aspek kerja dapat dipengaruhi motivasi dan kepuasan kerja, karena kondisi tersebut dapat membentuk harapan karyawan tentang konsekuensi yang akan timbul dari tindakannya dalam bekerja. Para karyawan mengharapkan imbalan, kepuasan, prestasi, atas dasar persepsi mereka terhadap organisasi (Anoraga, 1992). Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan. Faktor-faktor ini dalam peranannya memberikan kepuasan kepada karyawan tergantung pada pribadi masing-masing karyawan. Faktor-faktor kerja yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah upah/gaji, pekerjaan, pengawasan, teman kerja, jaminan kerja dan kesempatan kerja serta kesempatan berprestasi (promosi) (Wexley dan Yukl, 1992).
ISSN: 0853-8050

SELF EFFICACY Pengertian Self Efficacy Dalam kehidupan sehari-hari, sejumlah aktivitas dapat berlangsung dengan baik namun ada beberapa orang yang tidak dapat melakukannya dengan optimal, terdapat jarak antara yang diketahui dengan tindakannya (action). Hal ini disebabkan adanya perantara pada Self Refrent Though yang menghubungkan antara pengetahuan dan tindakan. Perantara tersebut adalah bagaimana seseorang menilai kemampuannya. Self efficacy ini berguna untuk melatih mengendalikan kejadian-kejadian yang mempengaruhi kehidupannya (Bandura, 1997). Oleh Bandura (1997) self efficacy didefinisikan sebagai suatu pendapat atau keyakinan yang dimiliki oleh seorang mengenai kemampuannya dalam menampilkan sesuatu bentuk perilaku dan hal ini berhubungan dengan situasi yang dihadapi oleh seseorang tersebut dan menempatkannya sebagai Elemen Kognitif dalam pembelajaran sosial. People judgments of their capabilities to organize and excute courses of action required to attain designated type of performances. It is concerned not with the skills one has but with judgments of what one can do with whatever skills one possesses (Bandura, 1997). Artinya self efficacy adalah penilaian seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisasikan dan melaksanakan sejumlah tingkah laku yang sesuai dengan unjuk kerja (performance) yang dirancang. To denote individuals beliefs in their capabilities to exert control aspects of their lives (Schunk, 1990). Artinya self efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengendalikan kejadian-kejadian dalam kehidupannya. Self efficacy adalah tingkat kepercayaan karyawan bahwa mereka dapat berhasil menjalankan tugas secara benar (Noe, dkk, 2000). Konsep self efficacy mengacu pada keyakinan seseorang pada kemampuannya untuk berhasil dalam suatu bidang perilaku tertentu (Betz, 2004). Namun, keberhasilan biasanya baru dapat diperoleh melalui pengem11

Ninin Nuraini Wirawati

bangan dan pengujian suatu bentuk tingkah laku dan strategi yang tentunya menuntut adanya usaha-usaha. Sedangkan pada orang yang ragu-ragu mereka sering cepat mundur dalam proses pengembangan tingkah laku ini, bila awal-awal usahanya tidak memberikan hasil yang baik. Pada diri seseorang ada suatu kecenderungan untuk menghindari tugas yang ia nilai diluar kemampuannya, tetapi bila seseorang menilai bahwa tugas yang dihadapi mampu ia kerjakan dengan baik ia akan melakukan tugas tersebut. Orang yang ragu mengenai kemampuan yang mereka miliki akan mengurangi usaha yang mereka lakukan ataupun cepat menyerah, sedangkan orang yang mempunyai self efficacy yang kuat akan melakukan usaha yang besar dan melihatnya sebagai tantangan yang harus diatasi. Brown (2005) menyatakan self efficacy sebagai a belief that one can perform a specific behavior, dan self efficacy is concerned not with the skills one has but with judgement of what one can do with whatever skills one possesses. Hal itu berarti individu dengan self efficacy tinggi meyakini bahwa kerja keras untuk menghadapi tantangan hidup, sementara rendahnya self efficacy kemungkinan besar akan memperlemah bahkan menghentikan usaha seseorang. Self efficacy menentukan seberapa besar usaha yang dilakukan oleh seseorang dan seberapa lama dapat bertahan dalam mengatasi hambatan yang dihadapi. Self efficacy juga mempengaruhi apa yang dilakukan seseorang dalam menghadapi lingkungannya, bagaimana bertingkah laku, bagaimana pola berpikir seseorang serta reaksi-reaksi emosional terhadap situasi tertentu. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Efficacy

Menurut Bandura (1997), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi self efficacy yaitu: Pengalaman Keberhasilan (mastery experiences) Keberhasilan yang sering didapatkan akan meningkatkan self efficacy yang diPSIKOVIDYA VOLUME 13 NOMOR 1 APRIL 2009 12

miliki seseorang, sedangkan kegagalan akan menurunkan self efficacynya. Apabila keberhasilan yang didapat seseorang lebih banyak karena faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh terhadap peningkatan self efficacy. Akan tetapi, jika keberhasilan tersebut didapatkan dengan melalui hambatan yang besar dan merupakan hasil perjuangannya sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan self efficacynya. Pengalaman Orang Lain (vicarious experiences) Pengalaman keberhasilan orang lain yang memiliki kemiripan dengan individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan meningkatkan self efficacy seseorang dalam mengerjakan tugas yang sama. Self efficacy tersebut didapat melalui social models yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang kurang pengetahuan tentang kemampuan dirinya sehingga mendorong seseorang untuk melakukan modeling. Namun self efficacy yang didapat tidak akan terlalu berpengaruh bila model yang diamati tidak memiliki kemiripan atau berbeda dengan model. Persuasi Sosial (Social Persuation) Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh seseorang yang berpengaruh biasanya digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa ia cukup mampu melakukan suatu tugas. Keadaan fisiologis dan emosional (physiological and emotional states) Kecemasan dan stress yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan tugas sering diartikan sebagai suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang cenderung akan mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai oleh ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan somatic lainnya. Self efficacy biasanya ditandai oleh rendahnya tingkat stress dan kecemasan sebaliknya self efficacy yang rendah ditandai oleh tingkat stress dan kecemasan yang tinggi pula.

Hubungan Self Efficacy dengan Kepuasan Kerja di PPPPTK/VEDC Malang

Manfaat Self Efficacy Betz (2004), mengemukakan beberapa manfaat self efficacy yaitu: Pilihan Perilaku Dengan adanya self efficacy yang dimiliki, individu akan menetapkan tindakan apa yang akan ia lakukan dalam menghadapi suatu tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Pilihan Karier Self efficacy merupakan mediator yang cukup berpengaruh terhadap pemilihan karier seseorang. Bila seseorang merasa mampu melaksanakan tugas-tugas dalam karier tertentu maka, biasanya ia akan memilih karier tersebut. Kuantitas Usaha dan Keinginan untuk Bertahan pada Suatu Tugas. Individu yang memiliki self efficacy yang tinggi biasanya akan berusaha keras untuk menghadapi kesulitan dan bertahan dalam mengerjakan suatu tugas bila mereka telah mempunyai keterampilan prasyarat. Sedangkan individu yang mempunyai self efficacy yang rendah akan terganggu oleh keraguan terhadap kemampuan diri dan mudah menyerah bila menghadapi kesulitan dalam mengerjakan tugas. Kualitas Usaha Penggunaan strategi dalam memproses suatu tugas secara lebih mendalam dan keterlibatan kognitif dalam belajar memiliki hubunngan yang erat dengan self efficacy yang tinggi. Suatu penelitian dari Pintrich dan De Groot menemukan bahwa karyawan yang memiliki self efficacy tinggi cenderung akan memperhatikan penggunaan kognitif dan strategi dalam bekerja yang lebih bervariasi. Dimensi Self Efficacy Bandura (1997) mengatakan bahwa self efficacy pada seseorang dapat dibedakan atas beberapa dimensi, antara lain: Magnitude atau tingkat kesulitan tugas, hal ini berdampak pada pemilihan perilaku
ISSN: 0853-8050

yang akan dicoba atau dikendaki berdasarkan pengharapan efikasi pada tingkat kesulitan tugas (level of difficulty). Individu akan mencoba perilaku yang dirasakan mampu untuk dilakukan. Sebaliknya ia akan menghindari situasi dan perilaku yang dirasa melampaui batas kemampuannya. Generality atau luas bidang perilaku, hal ini berkaiatan dengan seberapa luas bidang perilaku yang diyakini untuk berhasil dicapai oleh individu. Beberapa pengharapan terbatas pada bidang perilaku khusus, sedangkan beberapa pengharapan mungkin menyebar pada berbagai bidang perilaku. Strenght atau kemantapan keyakinan, hal ini berkaitan dengan keteguhan hati terhadap keyakinan individu bahwa ia akan berhasil dalam menghadapi suatu permasalahan. HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN KEPUASAN KERJA Self efficacy mempengaruhi individu dalam memilih aktivitas, pola berpikir dan reaksi emosionalnya. Di samping itu self efficacy juga turut menentukan sebarapa besar usaha yang dilakukan individu dalam mengerjakan tugas dan berapa lama seseorang mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan dan hambatan yang dihadapinya (Bandura, 1997). Self efficacy yang dimiliki oleh seorang karyawan dapat mempengaruhi besarnya usaha yang dilakukan seorang karyawan dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaannya. Seorang karyawan yang mempunyai self effi-cacy yang tinggi akan lebih bersemangat dan lebih mampu untuk bertahan dalam mengerjakan tugas, karena ia mempunyai keyakinan bahwa ia mampu mengerjakan tugas dengan baik. Sehingga ia akan melakukan sejumlah usaha-usaha yang keras dan terarah untuk mencapai kepuasan akan hasil kerjanya (Judge dan Bono, 2001). Jewell (1998) mengatakan kepuasan kerja berkaitan dengan sejauh mana seorang individu selalu yakin atas kemampuan yang dimilikinya. Pendapat lain menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan 13

Ninin Nuraini Wirawati

antara kepuasan kerja dengan selff efficacy (Birgit dan Gernot, 2002). Apabila seorang karyawan merasa kurang yakin atas kemampuannya dalam bekerja maka, secara langsung akan berakibat individu tersebut memiliki rasa tidak puas pada hasil pekerjaannya (Andrea Dixon dkk, 2005). Judge dan Bono (2001) juga mengungkapkan bahwa self efficacy merupakan kepercayaan terhadap kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas. Orang yang percaya dengan kemampuannya akan cenderung untuk berhasil, sedangkan orang yang selalu merasa gagal akan cenderung untuk gagal. Self efficacy berhubungan dengan kepuasan kerja dimana jika seseorang memiliki self efficacy yang tinggi maka cenderung untuk berhasil dalam tugasnya sehingga meningkatkan kepuasan atas apa yang dikerjakannya. KESIMPULAN Orang dengan self efficacy yang baik maka, ia akan mampu merasakan kepuasan yang diperolehnya dari usaha-usaha dirinya sendiri dalam mengorganisasikan dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, untuk menghadapi tuntutan dan hambatan dari lingkungan. Ia tidak akan mudah menyerah oleh kegagalan atau hambatan yang ada bahkan lebih terpacu untuk mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik serta memiliki persepsi yang sehat dan jernih mengenai kemampuan dan keterampilan dirinya. Dan sebaliknya bila mendapat hambatan dan tuntutan yang lebih dari lingkungannya, orang yang memiliki self efficacy tidak akan menghindarinya bahkan akan justru akan dijawabnya dengan usaha kerasnya. Karena, jika ia menghindar akan dapat menimbulkan stres yang pada akhirnya akan mengaburkan persepsi terhadap kemampuan dirinya, sehingga tidak sehat dan tidak efektif untuk kepuasan kerjanya (Judge dan Bono, 2001). Secara umum maka, dapat terlihat bahwa self efficacy sangat penting bagi seorang karyawan dalam mencapai kepuasan kerjanya.

DAFTAR RUJUKAN

Andrea Dixon Rayle, Patricia Arredondo, Sharon E. Robinson Kurpius. 2005. Educational of self efficacy: implication for theory, research, and practice. Journal of counseling&Development. Vol. 83, pp. 361-366. Anoraga, dkk. 1992. Psikologi dalam perusahaan. Jakarta: Rineka Cipta. Asad, Moh. 1999. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

-------------. 2000. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta. Bandura, A. 1990. Self-Efficacy, Mechanism In Human Agency: American Psychologist Vol 37, no 2. ---------------. 1997. Self-Efficacy : The Exercise of Control. New York: Freeman. Baron, Robert Greenberg. 1990. Social psychology-ninth edition. Boston: Allyn and Bacon.

Birgit Schyns, Gernot von Collani. 2002. A new occupational self efficacy scale and its relation to personality contructs and organizational variables, European journal of work and organizational psychology, 11(2), 219-241. Brown, Ulysses J. 2005. College students and AIDS awareness: the effects of condom perception and self-efficacy. College Student journal. March 2005. Betz, E. Nancy. 2004. Contributions of self efficacy theory to career counselling ; a personal perspective, the career development quarterly. Journal of applied psychology, 52, 340-353.

14

PSIKOVIDYA VOLUME 13 NOMOR 1 APRIL 2009

Hubungan Self Efficacy dengan Kepuasan Kerja di PPPPTK/VEDC Malang

Cooper dan Makin. 1995. Psikologi Untuk Manager. Terjemahan oleh Suseno. 1997. Jakarta: Arcan. Jewell dan Marc S. 1998. Psikologi Industri/ Organisasi Modern. Terjemahan oleh Hadyana Pudjaatmaka dan Meitasari. Jakarta: Arca Keith Davis. 1990. Human Behavior at Work Human Relations and Organizational Behavior. New York: Mc. Graw-Hill, Inc. Lee, C., dan Bobko, P. 1994. Self-Efficacy Belief: Comparison of Five Measures. Journal of Applied Psychology, Vol. 79: 364.

Noe, Hollenbeck, Gerhant, Wright. 2000. Human resource management gaining a competitive advantage. New York: International Edition. Timothy A. Judge, Joyce E.Bono. 2001. Relationship of core self evaluations traits-self esteem, gemeralized self efficacy, Locus of control, and emotional stability-eith job satisfaction and job performance: a meta analysus, Journal of applied psychology, vol. 86, no.1, 80-92. Wexley, K.N dan Yukl. 1992. Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia. Jakarta: Rineka Cipta.

ISSN: 0853-8050

15