Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Luka bakar dapat dialami oleh siapa saja, dan dapat di mana saja baik di rumah, tempat kerja bahkan di jalan atau di tempat-tempat lain. Penyebab luka bakarpun bermacam-macam bisa berupa api, cairan panas, uap panas bahkan bahan kimia, aliran listrik dan lain-lain. Luka bakar merupakan luka yang unik di antara bentuk-bentuk luka lainnya karena luka tersebut meliputi sejumlah besar jaringan mati (eksar) yang tetap berada pada tempatnya untuk jangka waktu yang lama. luka bakar dengan cepat akan didiami oleh bakteri patogen mengalami eksudasi dengan perembesan sejumlah air, protein serta elektrolit dan sering kali memerlukan pencangkokan kulit dari bagian tubuh yang lain untuk menghasilkan penutupan luka yang permanen (Muttaqin, 2011) Berdasarkan catatan journal of burn care and rehabilitation edisi 1992, diperkirakan ada 2,4 juta kasus luka bakar dalam setahun di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut ada 650.000 yang ditangani oleh ahli medis dan 75.000 ditangani di rumah dan 12.000-nya berakhir dengan kematian (Mer, 2003). Data lain dari the national institute for burn medicine menyebutkan bahwa sebagian besar pasien luka bakar di Amerika Serikat (75%) disebabkan kelalaian korban. Penyebab luka bakarantara lain: air panas, korek api, arus listrik, dan merokok pada penggunaan obat bius dan alkohol. Penelitian di Belanda menunjukkan 70% kejadian luka bakar terjadi di lingkungan rumah tangga, 25% di tempat industri, dan kira-kira 5% akibat kecelakaan lalu lintas. Berdasarkan data statistik unit pelayanan khusus RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, jumlah kasus yang dirawat selama tahun 1998 sebanyak 107 kasus atau 26,3% dari seluruh kasus bedah plastik yang dirawat. Dari kasus tersebut terdapat lebih 40% merupakan luka bakar derajat II-III dengan angka kematian 37,38% (Kristanto, 2005). Luka bakar yang terjadi akan menimbulkan kondisi kerusakan kulit selain itu juga dapat mempengaruhi berbagai sistem tubuh. Cedera luka bakar yang dalam dan luas masih merupakan penyebab utama kematian dan disfungsi berat jangka panjang.

B. Rumusan Masalah Bagaimana asuhan keperawatan pada penderita luka bakar? C. Tujuan Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang tepat pada klien dengan luka bakar berdasarkan patofisiologi terjadinya luka bakar.

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Definisi Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu (Perry, 2006) Luka bakar adalah luka yang unik di antara bentuk-bentuk luka lainnya karena luka tersebut meliputi sejumlah besar jaringan mati yang tetap berada pada tempatnya untuk jangka waktu yang lama (Muttaqin, 2011) Luka bakar adalah luka yang timbul akibat kulit terpajan suhu tinggi, syok listrik, atau bahan kimia (Corwin, 2002) Luka bakar adalah suatu trauma yang di sebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Soetomo, 2001) Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang di sebabkan oleh kontak langsung atau terpapar sumber-sumber panas, listrik, zat kimia, radiasi dan benda-benda fisik yang menghasilkan efek baik memanaskan atau mendinginkan. B. Etiologi Menurut penyebabnya, luka bakar dapat dibagi dalam beberapa jenis meliputi halhal berikut: 1. Panas basah (luka bakar) yang disebabkan oleh air panas (misalnya : teko atau minuman) 2. Luka bakar dari lemak panas akibat memasak lemak 3. Luka bakar akibat api unggun, alat pemanggang, dan api yang di sebabkan oleh merokok ditempat tidur. 4. Benda panas (misalnya radiator) 5. Luka bakar akibat zat kimiawi: kontak, tercerna, inhalasi, atau injeksi asam, alkalis, atau vesikan yang menyebabkan cedera dan nekrosis jaringan 6. Luka bakar akibat listrik: nekrosis koagulasi yang di sebabkan oleh panas mendalam, biasanya muncul setelah kontak dengan sususnan kabel yang salah atau saluran kekuatan voltase tinggi atau ketika pita lstrik terkunyah (oleh anak-anak kecil). 7. Luka bakar friksi atau abrasi: kulit bergesekan keras dengan permukaan kasar 8. Luka bakar akibat sinar matahari: paparan sinar matahari berlebihan.

9. Luka bakar termal: percikan api, kilatan cahaya, air mendidih atau kontak dengan benda panas (misalnya kebakaran di daerah tempat tinggal, kecelakaan sepeda motor, bermain dengan korek api, bensin yang tersimpan dengan tidak benar, malfungsi pemanas ruangan atau listrik) atau memegang petasan dengan tidak benar, kecelakaan akibat tertumpah air mendidih dan kecelakaan didapur (misalnya anak naik ke bagian atas tungku atau memegang setrika dalam keadaan panas). C. Klasifikasi Luka Bakar 1) Berdasarkan kedalaman luka bakar Klasifikasi Etiologi Penampilan Luka bakar Terbakar superficial matahari Karakteristik Sensasi Penyembuhan Penyembuhan terjadi secara spontan dalam tiga sampai empat hari Bekas luka

Luka bakar Pajanan partialair panas. thickness.

Terbatas di Nyeri. epidermis. Terdapat eritema, tetapi tidak segera timbul lepuh Meluas ke Sangat epidermis nyeri dan ke dalam lapisan dermis,serta menimbulkan bula dalam beberapa menit.

Luka bakar partialthickness dalam

Pajama air panas, kontak langsung dengan api, atau minyak panas.

Meluas ke seluruh dermis. Namun, daerah di sekitarnya biasanya mengalami luka bakar derajat kedua superficial yang nyeri.

Nyeri dengan tekanan parsial

Tidak menimbulkan jaringan parut. Biasanya ridak timbul komplikasi. 7-20 hari Luka bakar ini biasanya sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut. Komplikasi jarang terjadi, walaupun mungkin timbul infeksi sekunder pada luka. Penyembuhan Folikel beberapa rambut minggu. mungkin Memerlukan utuh, dan tindakan akan tumbuh debridement kembali. Pada untuk luka bakar ini membuang selalu terjadi jaringan yang pembentukan mati. jaringan Biasanya di parut. perlukan tandur kulit.

Luka bakar Pajanan fuulair panas, thickness kontak langsung dengan api, minyak panas, uap panas, agen kimia, dan listrik tegangan tinggi.

Meluas ke epidermis, dermis, dan jaringan subkutis. Kapiler dan vena mungkin hangus dan aliran darah ke daerah tersebut berkurang.

Saraf rusak sehingga luka tidak terasa nyeri, kecuali dengan tejanan dalam. Namun, daerah di sekitarnya biasanya nyeri seperti pada luka bakar derajat dua.

Luka bakar jenis ini mungkin memerlukan waktu berbulan bulan untuk sembuh dan di perlukan pembersihan secara bedah dan penanduran

Luka bakar derajat ketiga membentuk jaringan parut dan jaringan tampak seoperti kulit yang keras. Resiko tinggi untuk terjadinya kontraktur.

2) Berdasarkan luas luka bakar Penilaian luas luka bakar dilakukan dengan persentase total luas permukaan tubuh (TBSA) yang di sebabkan oleh cedera. Penilaian estimasi yang akurat dari TBSA sangat penting untuk intervensi selanjutnya. Penilaian luas luka bakar dapat menggunakan metode lund dan browder, metode rumus Sembilan (rule of nines), atau metode telapak tangan. a) Metode lund dan browder. Metode lund dan browder mengakui bahwa persentase luas luka bakar pada berbagai bagian anatomik, khususnya kepala dan tungkai akan berubah menurut pertumbuhan. Dengan membagi tubuh menjadi daerah-daerah yang sangat kecil dan memberikan estimasi proporsi luas permukaan tubuh untuk bagian-bagian tubuh tersebut, kita bisa memperoleh estimasi luas permukaan tubuh yang terbakar. Evaluasi pendahuluan di buat ketika pasien tiba di rumah sakit dan kemudian di revisi pada hari kedua, serta ketiga pasca luka bakar karena garis demarkasi biasanya baru tampak jelas sesudah periode tersebut.

LOKASI Kepala Leher Dada & Perut Punggung Pantat Kiri Pantat Kanan Kelamin Lengan Atas Ka. Lengan Atas Ki. Lengan Bawah Ka Lengan Bawah Ki. Tangan Ka Tangan Ki Paha Ka. Paha Ki. Tungkai Bawah Ka Tungkai Bawah Ki Kaki Kanan Kaki kiri

0-1 19 2 13 13 2,5 2,5 1 4 4 3 3 2,5 2,5 5,5 5,5 5 5 3,5 3,5

1-4 17 2 13 13 2,5 2,5 1 4 4 3 3 2,5 2,5 6,5 6,5 5 5 3,5 3,5

USIA (Tahun) 5-9 10-15 13 10 2 2 13 13 13 13 2,5 2,5 2,5 2,5 1 1 4 4 4 4 3 3 3 3 2,5 2,5 2,5 2,5 8,5 8,5 8,5 8,5 5,5 6 5,5 6 3,5 3,5 3,5 3,5

DEWASA 7 2 13 13 2,5 2,5 1 4 4 3 3 2,5 2,5 9,5 9,5 7 7 3,5 3,5

b) Rumus Sembilan (Rule of Nines) Rumus sembilan merupakan cara yang cepat untuk mmenghitung luas daerah yang terbakar. System tersebut menggunakan persentase dalam kelipatan Sembilan terhadap permukaan tubuh yang luas. Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama the rule of nine atau rule of wallace yaitu: 1) Kepala dan leher 2) Lengan masing-masing 9% 3) Badan depan 18%, badan belakang 18% 4) Tungkai maisng-masing 18% 5) Genetalia/perineum Total : 9% : 18% : 36% : 36% : 1% : 100%

Penentuan presentase berbeda pada bayi, anak dan orang dewasa sehingga perhitungan luas luka bakar dibagi dalam tiga kelompok yaitu :

Luasnya Luka Bakar : Rumus 10 untuk bayi Rumus 10-15-20 untuk anak Rumus 9 untuk orang dewasa

c) Metode Telapak Tangan Pada banyak pasien dengan luka bakar menyebar, metode yang dipakai untuk memperkirakan persentase luas luka bakar adalah metode telapak tangan (palm method). Lebar telapak tangan pasien kurang lebih sebesar 1 % luas permukaan tubuhnya. Lebar telapak tangan dapat digunakan untuk menilai luas luka bakar. 3) Fase Luka Bakar Berdasarkan perjalanan penyakitnya luka bakar dibagi menjadi 3 fase, yaitu: a) Fase Akut Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Secara umum pada fase ini, seorang penderita akan berada dalam keadaan yang bersifat relatif life thretening. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. Problema sirkulasi yang berawal dengan kondisi syok (terjadinya ketidakseimbangan antara paskan O2 dan tingkat kebutuhan respirasi sel dan jaringan) yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang masih ditingkahi denagn problema instabilitas sirkulasi. b) Fase Sub Akut Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan: 1. Proses inflamasi dan infeksi. 2. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ organ fungsional. 3. Keadaan hipermetabolisme.

c) Fase Lanjut Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur. D. Manifestasi Klinik Adapun manifestasi klinis dari luka bakar adalah: 1) Keracunan karbon monoksida: di tandai dengan kekurangan oksigan dalam darah, lemas, bingung, pusing, mual, muntah, bahkan meninggal. 2) Distress pernapasan: di tandai dengan serak, ngiler, dan ketidakmampuan menangani sekresi. 3) Cedera pulmonal: di tandai dengan pernapasan cepat atau sulit, krakles, stridor, dan batuk pendek. 4) Gangguan hematologic: tanda yan di temukan adalah kenaikan hematokrit, penurunan SDP, leukosit meningkat, penurunan trombosit. 5) Gangguan ginjal: tanda yang di temukan adalah peningkatan haluaran urine, dan mioglobinuria. 6) Gangguan metabolic: tanda yang di temukan adalah hipermetabolisme dan kehilangan berat badan. E. Evaluasi Diagnostik 1. Elektrolit serum: kalium meningkat karena cedera jaringan/kerusan SDM dan penurunan fungsi ginjal. Natriun awalnya menurun pada kehilangan air. Alkalin fosfat: peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitial/gangguan pompa natrium. 2. Urin: adanya albumin, Hb, dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam dan kehilangan protein. 3. Fotorontgen dada: untuk memastikan cedera inhalasi. 4. Scan paru: untuk menunjukkan luasnya cedera inhalasi. 5. EKG untuk mengetahui adanya iskemik miocard/disritmia pada lika bakar listrik 6. BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal. 7. Kadar karbonmonoksida serum meningkat pada cedera inhalasi. 8. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap 9. Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein dan edema cairan.

10. Fotografi luka bakar: memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya. 11. Kadar nitrogen urea darah dan kreatinin bisa naik. 12. Jumlah darah lengkap menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. 13. Kadar gas darah arterial bisa memperlihatkan hipoksia F. Patofisiologi Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas ke tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, luka bakar radiasi, dan luka bakar kimia. Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula yang mengandung banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bulayang terbentuk pada luka bakar derajat 2, dan pengeluaran cairan keropeng luka bakar derajat 3. Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya tetapi bila lebih dari 20% akan terjadi syok hipopolemik dengan gejala yang khas seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi pelan-pelan maksimal terjadi 8 jam. Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan nafas karena gas, asap atau uap panasyang terhisap. Udem laring yang ditimbulkannyadapat menyebabkan hambatan jalan nafas dengan gejala sesak nafas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap akibat jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya. Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tidak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung pusing, mual, dan muntah. Pada keracunan yang berat bisa terjadi koma. Bila lebih ddari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal. Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuuh darah. Ini ditandai dengan meningkatnya diuresis.

Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan mediumyang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapaioleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis. Padahal pembuluh ini membawa sistem pertahaanan tubuh tau antibiotik. Kuman penyebab infeksi pada luka bakar, selain berasal dari kulit penderita sendiri, juga dari kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial ini biasanya sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah resisten terhadap berbagai antibiotik. Perubahan Fisiologis Pada Luka Bakar Perubahan Tingkatan hipovolemik ( s/d 48-72 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Vaskuler ke Hemokonsentrasi insterstitial. oedem pada lokasi luka bakar. Aliran darah renal Oliguri. berkurang karena desakan darah turun dan CO berkurang. Tingkatan diuretik (12 jam 18/24 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Interstitial ke Hemodilusi. vaskuler.

Pergeseran cairan ekstraseluler. Fungsi renal.

Peningkatan Diuresis. aliran darah renal karena desakan darah meningkat. Kehilangan Na+ Defisit sodium. melalui diuresis (normal kembali setelah 1 minggu).

Kadar Na+ direabsorbsi Defisit sodium. sodium/natrium. oleh ginjal, tapi kehilangan Na+ melalui eksudat dan tertahan dalam cairan oedem. Kadar potassium. K+ dilepas Hiperkalemi sebagai akibat cidera jarinagn sel-sel darah merah, K+ berkurang ekskresi karena fungsi renal berkurang. Kehilangan Hipoproteinemia. protein ke dalam jaringan akibat kenaikan permeabilitas.

K+ bergerak Hipokalemi. kembali ke dalam sel, K+ terbuang melalui diuresis (mulai 4-5 hari setelah luka bakar).

Kadar protein.

Kehilangan Hipoproteinemia. protein waktu berlangsung terus katabolisme.

Keseimbangan nitrogen.

Katabolisme Keseimbangan jaringan, nitrogen negatif. kehilangan protein dalam jaringan, lebih banyak kehilangan dari masukan. Metabolisme Asidosis anaerob karena metabolik. perfusi jarinagn berkurang peningkatan asam dari produk akhir, fungsi renal berkurang (menyebabkan retensi produk akhir tertahan), kehilangan bikarbonas serum. Terjadi karena Aliran darah trauma, renal berkurang. peningkatan produksi cortison.

Katabolisme jaringan, kehilangan protein, immobilitas.

Keseimbangan nitrogen negatif.

Keseimbnagan asam basa.

Kehilangan Asidosis sodium metabolik. bicarbonas melalui diuresis, hipermetabolisme disertai peningkatan produk akhir metabolisme.

Respon stres.

Terjadi karena Stres karena luka. sifat cidera berlangsung lama dan terancam psikologi pribadi.

Eritrosit

Terjadi karena Luka panas, pecah termal. menjadi fragil. Curling ulcer (ulkus pada gaster),perdarahan lambung, nyeri

bakar Tidak terjadi Hemokonsentrasi. pada hari-hari pertama.

Lambung.

Rangsangan Akut dilatasi dan Peningkatan central di paralise usus. jumlah cortison. hipotalamus dan peingkatan jumlah cortison. Peningkatan zat CO menurun. MDF (miokard depresant factor) sampai 26 unit, bertanggung jawab terhadap syok spetic.

Jantung.

MDF meningkat Disfungsi 2x lipat, jantung. merupakan glikoprotein yang toxic yang dihasilkan oleh kulit yang terbakar.

G. Web of Caution (WOC) Teoritis


Bahan Kimia Termis Radiasi Listri/Petir

Biologis

Luka Bakar

Psikologis

Pada wajah

Di Ruang Tertutup Kercunan gas CO

Kerusakan kulit

MK: Ggn Konsep diri Kurang pengetahuan Ansietas

Kerusakan mukosa

Penguapan meningkat Terputusnya kontinuitas jaringan

Oedema Laring

CO mengikat HB HB tidak mampu mengikat O2

Peningkatan pembuluh darah kapiler

Chemical respons

Ostruksi jalan nafas Gagal nafas

Ekstravasasi Cairan (H2O,) elektrolit, protein

Bradikinin, serotonin, histamisn, prostaglandin

Hipoksia otak MK: Jalan nafas tidak efektif Tekanan onkotik menurun Merangsang ujung saraf bebas

MK: Gangguan perfusi jaringan serebral

Korteks serebri Cairan intravaskuler menurun

Persepsi nyeri

MK: Gangguan rasa nyaman nyeri MK: Gangguan perfusi jaringan perifer Hipovolemia dan hemokonsentra si Luka terbuka

MK: Resiko tinggi infeksi

Gangguan sirkulasi makro MK: Kekurangan volume cairan

Sambungan WOC
Gangguan sirkulasi makro

Gangguan perfusi organ penting

Gangguan sirkulasi seluler

Otak

Kardiova skuler

Ginjal

Hepar

GI traktus

Neurolo gi

Imun

Gangguan perfusi

hipoksia

Kebocora n kapiler

Hipok sia ginjal

Pelepasa n katekola min

Dilatasi lambun g

Ganggu an neurolog i

Sel Otak mati

Penuruna n curah jantung

Daya tahan tubuh menuru n

Laju metabolisme meningkat

Fungsi ginjal

Glukoneogenesis, glokogenolisis

Hipoksia hepatik

Hambatan pertumbu han

MK: Perubahan Nutrisi

Multi sistem organ failure

H. Diagnosa, Intervensi, dan Rasional Keperawatan 1) Perawatan Pasien Selama Fase Darurat/ Resusitasi Perawatan Luka Bakar No. Diagnosa Keperawatan 1. Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional

Kerusakan Tujuan: 1. Berikan oksigen 1. Oksigen yang pertukaran gas pemeliharaan yang sudah dilembabkan akan b.d keracunan oksigenisasi dilembabkan. memberikan karbon jaringan yang kelembaban pada monoksida, adekuat jaringan yang inhalasi asap cedera, suplementasi dan obstruksi K. Hasil : oksigen saluran napas - Tidak ada meningkatkan si atas. o2oksigenasi dispnea. alveoli. - Frekuensi respirasi 2. Hasil pengkajian ini antara 12 & 20 memberikan data x/ menit. 2. Kaji bunyi dasar untuk - Paru bersih napas, frekuensi pengkajian pada pernapasan, selanjutnya dan auskultasi irama, dalam dan bukti peningkatan - Saturasi simetrisnya penurunan oksigen arteri pernapasan. pernapasan. > 96 % dengan Pantau pasien oksimetri nadi. untuk 3. Tanda ini - Kadar gas mendeteksi menunjukkan darah arteri tanda-tanda kemungkinan cedera dalam batas hipoksia. inhalasi dan risiko normal. disfungsi 3. Amati hal-hal pernapasan. berikut: a. Eritema/pem bentukan bula (lepuh). b. Lubang hidung yang gosong. c. Luka bakar pada muka, leher atau dada. d. Bertambahny a keparauan suara.

4. Pantau hasil gas 4. Peningkatan pCO2 darah arteri, hasil dan penurunan pemeriksaan pCO2 serta saturasi oksimetri denyut O2 dapat nadi dan menunjukkan kadarkarboksiperlunya ventilasi hemoglobin. mekanis.

5. Laporkan pernapasan yang berat, penurunan dalamnya pernapasan, atu tanda-tanda hipoksia dengan segera kepada dokter. 6. Bersiap untuk membantu dokter dalam intubasi.

5. Intervensi yang segera diperlukan untuk mengatasi kesulitan pernapasan.

6. Intubasi memungkinkan ventilasi mekanis. 7. Pemantauan kemungkinan deteksi dini penurunan status respirasi atau komplikasi pada ventilasi mekanis.

2.

Jalan napas tidak efektif b.d edema dan efek inhalasi asap.

Tujuan: Pemeliharan saluran napas yang paten dan bersihan saluran napas adekuat. K. Hasil: - jalan napas paten. - Sekresi respirasi minimal, tidak berwarna dan encer. - Frekuensi respirasi, pola dan bunyi 3. Dorong pasien agar mau napas normal. membalikkan tubuh, batuk dan

7. Pantau dengan ketat keadaaan pasien yang menggunakan alat ventilator mekanis. 1. Pertahankan 1. Jalan napas yang kepatenan jalan paten sangat krusial napas melalui untuk fungsi pemberian posisi respirasi. pasien yang tepat dan pembuangan 2. Kelembaban akan sekresi. mengencerkan secret dan mempermudah 2. Berikan oksigen espektorasi yang sudah dilembabkan. 3. Aktivitas ini meningkatkan mobilisasi dan pembuangan sekresi.

3.

Kekurangan volume cairan b.d peningkat permeabilitas kapiler dan kehilangan lewat evaporasi dari luka bakar.

napas dalam. Anjurkan agar pasien menggunakan spirometri intensif. Tindakan pengisapan jika diperlukan. Tujuan: 1. Amati TTV , 1. Hipovolemia Pemulihan pengeluaran urin, merupakan risiko keseimbangan dan waspada utama sesudah luka cairan dan terhadap tandabakar. elektrolit yang tanda optimal dan hipovolemia atau perfusi orgakelebihan beban 2. Pengeluaran urin organ vital. cairan. dan BB memberikan K. Hasil: 2. Pantau informasi tentang - kadar elektrolit pengeluaran urin perfusi renal, serum berada sedikitnya setiap kecukupan dalam batas jam sekali dan penggantian cairan, normal. menimbang BB dan kebutuhan serta pengeluaran urin pasien setiap kecukupan cairan. berkisar antara hari. 0,5 dan 1,0 3. Pemberian cairan ml/kg/jam. yang adekuat diperlukan untuk mempertahankan 3. Pertahankan keseimbangan pemberian infuse cairan dan elektrolit dan mengatur serta perfusi prgantetesannya pada organ vital adekuat. kecepatan yang tepat sesuai 4. Perubahan yang dengan program cepat pada status medik. cairan dan elektrolit mungkin terjadi dalam periode pasca luka bakar. 4. Amati gejala defisiensi atau kelebihann kadar na, K, Ca, fosfoor dan bikarbonat.

5. Naikkan bagian 5. Peninggian akan kepala tempat meningkatkan aliran tidur pasien dan balik darah vena. tinggikan ekstremitas yang terbakar. 6. Beri tahu dokter dengan segera jika terjadi penurunan pengeluaran urin, tekanan darah dan peningkatan denyut nadi. 6. Karena terjadinya perpindahan cairan yang cepat pada syok luka bakar, deficit cairan harus dideteksi secara dini sehingga syok sirkulasi tidak terjadi. 4. Hipotermia b.d gangguan mikrosirkulasi kulit dan luka yang terbuka. Tujuan : 1. Berikan 1. Lingkungan yang Pemeliharaan lingkungan yang stabil mengurangi suhu tubuh yang hangat dengan kehilangan panas adekuat. penggunaan lewat evaporasi. perisai pemanas, selimut berongga, lampu 2. Pajanan yang atau selimut minimal mengurangi pemanas. kehilangan panas 2. Bekerja dengan dari luka. cepat kalau lukanya terpajan 3. Kaji suhu tubuh udara dingin. yang frekuen membantu mendeteksi terjadinya 3. Kaji suhu inti hipotermia. tubuh dengan sering.

5.

Nyeri b.d cedera jaringan dan saraf serta dampak emosional cedera.

Tujuan : 1. Gunakan skala 1. Tingkat nyeri Pengendalian rasa nyeri untuk menentukan data nyeri menilai tingkat dasar untuk K. Hasil: nyeri (1-10). mengevaluasi Bedakan dengan efektivitas tindakan - Menyatakan tanda-tanda mengurangi nyeri. tingkat nyeri hipoksia. menurun. 2. Penyuntikan - Tidak ada preparat analgetik petunjuk 2. Berikan preparat intravena diperlukan nonverbal Analgetik ipioid karena terjadinya tentang nyeri. menurut program perubahan perfusi medik. Amati jaringan akibat luka kemungkinan bakar. supresi pernapasan pada pasien yang tidak memakai ventilasi mekanis. 3. Dukungan Lakukan emosional sangat penilaian respons penting untuk pasien terhadap mengurangi pemberian ketakutan dan analgetik. ansietas akan meningkatkan 3. Berikan persepsi nyeri. dukungan emosional dan menentramkan kekhawatiran pasien.

2) Perawatan Pasien Selama Fase Akut Perawatan Luka Bakar No. Diagnosa Keperawatan 1. Kelebihan volume cairan b.d pemulihan kembali kapiler dan perpindahan cairan dari kompartemen interstitial ke dalam kompartemen intravaskuler. Tujuan dan Kriteria hasil Tujuan : 1. Pantau TTV, 1. Tanda dan gejala Pemeliharaan asupan, cairan,dan inbi menunjukkan keseimbangan BB. Kaji edema, status cairan. cairan yang distensi vena optimal. jugularis dan K.Hasil: krekels. 2. Semua tanda ini menunjukkan - Asupan, cairan 2. Beri tahu dokter jika peningkatan volume & BB pengeluaran urin ,30 cairan. memiliki ml/jam, terjadi korelasi penambahan BB, dengan pola ronkhi, dan tekanan yang arteri pulmonalis. 3. Pengaturan infus diharapkan. akan mencegah - TTV tetap 3. Pertahankan cairan bolus cairan yang dalam batas infus dengan alat tidak sengaja. yang pengendali tetesan ditentukan. infus. 4. Dopamin akan meningkatkan 4. Kolaborasi pengeluaran urin. pemberian preparat Diuretik diuretik atau meningkatkan dopamin. pembentukan urin serta pengeluaran urin dan menurunkan volume intravaskuler. Intervensi Rasional

2.

Risiko infeksi b.d hilangnya barier kulit dan terganggunya respons imun.

Tujuan: 1. Gunakan tindakan 1. Tindak aseptik akan Tidak adanya asepsis dalam semua meminimalkan infeksi yang aspek perawatan risiko kontaminasilokal dan pasien. silang dan sistemik. penyebarluasan K. Hasil: kontaminasi bakteri. - Kultur luka 2. Menghindari agen memperlihatka 2. Lakukan skrining terhadap para penyebab infeksi n jumlah pengunjung untuk yang dikenali akan bakteri yang mendeteksi masalah mencegah masuknya minimal. respirasi, mikroorganisme - Hasil kultur gastrointestinal dan tambahan. darah, urin dan integumen. sputum 3. Tanda-tanda

normal. Tidak adanya tanda-tanda dan gejala yang menunjukkan infeksi dan sepsis.

3. Inspeksi luka untuk mendeteksi tandatanda infeksi atau perubahan warna. 4. Pantau jumlah leukosit.

tersebut menunjukkan infeksi lokal. 4. Peningkatan jumlah leukosit menunjukkan infeksi. 5. Antibiotik mengurangi jumlah bakteri.

Perubahan 1. 3 nutrisi: kurang 3 dari kebutuhan 3 b.d keadaan . hipermetabolis me dan . kesembuhan luka

Tujuan: 1. Pasien memerluka Pencapaian status nutrient yang cukup nutrisi anabolik. untuk kesembuhan K. Hasil: luka dan peningkatan - Tidak kebutuhan memperlihatka metabolisme. n tanda-tanda defisiensi 2. Pantu BB pasien dan 2. Tindakan ini vitamin, jumlah asupan membantu protein dan kalorinya setiap menentukan apakah mineral. hari. kebutuhan makanan - Memenuhi telah terpenuhi. seluruh kebutuhan 3. Suplemen ini nutrisi yang 3. Berikan suplemen memenuhi diperlukan nutrisi sesuai kebutuhan nutrisi. lewat asupan ketentuan medik. oral. 4. Tknik intervensi 4. Berikan nutrisi nutrisi menjamin parenteral total jika terpenuhinya kebutuhan diet tidak kebutuhan nutrisi. terpenuhi lewat asupan per-oral. 5. Tanda-tanda ini 5. Laporkan distensi dapat menunujukkan abdomen, volume intoleransi terhadap residu lambung yang jalur atau tipe besar atau diiare pemberian nutrisi. kepada dokter.

5. Kolaborasi pemberian antibiotik. 1. Berikan diet tinggi kalori dan protein, mencakup kesukaan pasien.

4.

Kerusakan integritas kulit b. d luka bakar terbuka

Tujuan: Intgritas kulit tampak membaik. K. Hasil: - Kulit secara umum tampak utuh dan bebas dari tandatanda infeksi, tekanan dan trauma. - Luka yang terbuka berwarna merah muda, memperlihatka n repitelisasi dan bebas dari infeksi.

1. Bersihkan luka setiap hari.

1. Pembersihan setiap hari akan mengurangi potensi kolonisasi bakteri. 2. Perawatan akan mempercepat penyembuhhan luka. 3. Perawatan luka akan mengurangi potensi kolonisasi bakteri dan mempercepat penyembuhhan luka. 4. Tindakan ini akan mempercepat pelekatan graft dan kesembuhan. 5. Nutrisi yang memadai sangat penting untuk pembentukan granulasi yang normal dan kesembuhan. 6. Intervensi dini untuk mengatsi kesembuhan luka atau pelekatan graft yang buruk sangat esensial.

2. Lakukan perawatan luka bakar sesuai prosedur.

3. Oleskan preparat antibiotik topical dan memasang balutan sesuai dengan ketentuan medik.

4. Cegah penekanan, infeksi dan mobilisasi pada autograft.

5. Berikan dukungan nutrisi yang memadai.

6. Kaji luka dan lokasi graft. Laporkan tanda-tanda kesembuhan yang buruk atau trauma kepada dokter.

5.

Nyeri b.d serabut saraf terbuka, kesembuhan luka dan penanganan luka.

Tujuan: 1. Kaji tingkat nyeri Pengurangan atau dengan skala nyeri. pengendalian rasa Amati indicator nyeri. nonverbal yang K.Hasil: menunjukkan rasa nyeri. - Menyatakan rasa nyeri berkurang 2. Jelaskan kepada - Tidak pasien mengenai membberi perjalanan nyeri petunjuk yang lazim terjadi fisiologik atau pada penyembuhan nonverbal luka dan berbagai bahwa rasa pilihan untuuk nyeri sedang pengendalian nyeri. atau berat. - Dapat tidur 3. Ajarkan pasien tanpa teknik relaksasi, terganggu rasa imajinasi, dan nyeri. distraksi.

1. Datahasil pengkajian akan memberikan informasi dasar untuk mengkaji respons terhadap nyeri. 2. Pengetahuan akan mengurangi kecemasan.

3. Tindakan nonfarmakologik untuk mengatasi nyeri akan memberikan berbagai cara intervensi yang dapat mengurasi sensasi nyeri. 4. Membantu dalam memastikan teknik pengendalian nyeri yang terbaik. 5. Untuk mengurangi nyeri.

4. Kaji dan catat respons klien terhadap intervensi.

6.

Kerusakan mobilitas fisik b.d edema serta rasa nyeri pada luka dan kontraktur persendian.

Tujuan: Pencapaian mobilitas fisik yang optimal. K. Hasil: - Bertambah berat settiap hmari setelah sebelumnya mengalami penurunan BB. - Memenuhi seluruh kebutuhan

5. Kolaborasi pemberian analgetik. 1. Atur posisi pasien 1. Pengaturan posisi dengan seksama yang benar akan untuks mencegah mengurangi risiko posisi yang terjadinya terfiksasi pada kontraktur fleksi. daerah tubuh yang 2. Latihan rentang terbakar. gerak akan 2. Iatihan yang meminimalkan dilaksanakan latihan atrofi otot. rentang gerak 3. Mobilitas dini beberapa kali sehari. mendorong 3. Bantu pasien untuk peningkatan duduk dan ambulasi pemakaian otot-otot. dini.

7.

Koping individu tidak efektif b.d perasaan takut dan ansietas cemas, berduka dan pendensi pada pemberi perawatan.

4. Gunakan bidai dan 4. Alat-alat tersebut alat-alat latihan yang akan mendorong dianjurkan oleh aktivitas pasien spesialis terapi sementara posisi oksupasi dari sendi yang benar fisioterapi. tetap dipertahankan. 5. Dorong perawatan 5. Perawatan mandiri mandiri sampai taraf akan mempercepat yang sesuai dengan kemandirian kemampuan pasien. maupun peningkatan aktivitas. Tujuan: 1. Kaji kondisi pasien 1. Data-data Penggunaan untuk mengetahui psikososial akan strategi koping kemampuan koping memberikan yang tepat untuk yang dilaksanakan informasi dasar menghadapi dengan berhasil untuk merencanakan berbagai masalah dimasa lalu. perawatan. pasca-luka bakar. 2. Tunjukkan 2. Penerimaan akan K. Hasil: penerimaan pada mendorong pasien. Berikan timbulnya harga diri - Menggunakan dukungan dan dan proses yang dengan kataumpan balik yang berkelanjutan kea kata reaksi positif. rah independensi. terhadap luka 3. Bantu pasien untuk 3. Penetapan tujuan bakar, menetapkan tujuan jangka-pendek akan prosedur jangka-pendek yang membawa kepada terapeutik, dan dapat dicapainya pola keberhasilan kehilangan. guna meningkatkan bagi pasien. Tujuan - Mengatasi independensi pada jangka-panjang kesedihan dan aktivitas hidup mungkin tidak kehilangan sehari-hari. realistic atau tidak yang terjadi 4. Gunakan dapat dicapai bagi akibat luka pendekatan pasien. bakar. multidisiplin untuk 4. Komunikasi antara - Turut mempercepat berbagai berpartisipasi mobilitas dan disiplinilmu akan dalam independensi. menghasilkan cara pengambilan 5. Konsultasi dengan pendekatan yang keputusan anggota tim konsisiten. yang perawatan pasien 5. Kolaboarsi berkenaan untuk membantunya memanfaatkan dengan dalamm mengatasi keahlian dari profesi perawatan. perlilaku yang atau spesialis yang regresif atau lain. maladaptif.

nutrisi yang diperlukan lewat asupan oral.

8.

Kurang pengetahuan mengenai proses penanganan luka bakar.

Tujuan: - Pasienn dan keluarga mengungkapk an pemahaman penanganan luka bakar. K.Hasil: - Menyatakan dasar pemikiran untuk berbagai aspek penanganan yang berbeda. - Pasien dan keluarga turut berpartisipasi dalam menyusun rencana penatalaksana an jika sdiperlukan.

1. Kaji kesiapan pasien dan keluarganya untuk belajar. 2. Jajaki pengalaman pasien dan keluarganya yang berhubungan dengan perawatan di RS dan penyakit. 3. Tinjau proses penanganan luka bakar bersama pasien dan kelaurganya. 4. Jelaskan pentingnya partisipasi pasien dalam perawatan untuk memperoleh hasil-hasil yang optimal. 5. Jelaskan lama waktu yang diperlukan untuk sembuh dari luka bakar.

1. Terbatasnya pendidikan mengurangi kemampuan pasien dan keluarganya untuk menerima informasi. 2. Informasi ini memberikan datadata dasar untuk penjelasan dan indikasi yang menunjukkan harapan pasien serta keluarganya. 3. Mengetahui apa yang akan terjadi, memeprsiapkan pasien dan kelaurganya dalam menghadapi kejadian mendatang. 4. Iinformasi ini memberikan arah spesifik kepada pasien. 5. Kejujuran meningkatkan harapan realistis.

I. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan Adapun penatalaksanaan medis dan keperawatan pada pasien luka bakar, yaitu: 1. Penatalaksanaan Medis 1) Prioritas pertama dalam mengatasi luka bakar adalah menghentikan proses luka bakar. Ini meliputi intervensi pertolongan pertama pada situasi: a) Untuk luka bakar termal (api), berhenti, berbaring, berguling. Tutup korban dengan selimut dan gulingkan pada api yang lebih kecil. b) Untuk luka bakar kimia (cairan), bilas dengan jumlah banyak air untuk menghilangkan zat kimia dari kulit. c) Untuk luka bakar listrik, pertama matikan aliran listrik sebelum berusaha untuk memindahkan korban dari bahaya.

2) Prioritas kedua adalah menciptakan nafas paten. Untuk pasien dengan kecurigaan cedera inhalasi, berikan oksigen melalui masker 10 l/menit. Gunakan intubasi endotrakeal dan tempatkan pada ventilasi mekanik bila gas-gas darah arteri menujukkan hiperkapnea berat meskipun dengan oksigen suplemen. 3) Prioritas ketiga adalah resusitasi cairan agresif untuk memperbaiki kehilangan volume plasma. Secara esensial setengah dari perkiraan volume cairan diberikan pada 8 jam pertama pasca luka bakar, dan setengahnya lagi diberikan selama 16 jam kemudian. Tipe-tipe cairan yang yang digunakan meliputi kristaloid, seperti larutan Ringer Laktat atau koloid seperti albumin atau plasma. 4) Prioritas keempat adalah perawatan luka bakar: a) Pembersihan setiap dan pemberian krim antimikroba topikal seperti silver sulfadiazin (silvadene) b) Penggunaan berbagai tipe balutan sintetik atau balutan biologis (tandur kulit) khususnya pada luka bakar penuh ketebalan penuh. 5) Upaya menciptakan penampakan jaringan parut sebaik mungkin. Hal ini merupakan problem utama dari pasien-pasien luka bakar. Upaya terpenting yang bisa dikerjakan ialah dengan pemberian tekanan diatasnya selama 6 12 bulan. Pasien dapat menunggu terjadinya pertumbuhan kulit baru. Penantian ini umunya memakan waktu yang lebih lama. Alternatif yang lebih cepat ialah dengan skin graft (cangkok kulit). Cara ini dikerjakan dengan mengambil kulit dari suatu bagian tubuh yang kemudian ditanam pada daerah yang memerlukan. Lokasi pengambilan (donor site) biasanya di daerah paha karena ini lebar dan gampang sembuh. Agar pertumbuhan terjadi, dibutuhkan beberapa syarat. Kulit donor haruslah kulit yang sehat. Lokasi resipien (tempat donor ditanam) mesti memiliki jaringan pembuluh darah yang baik. Jika tidak, kulit donor tidak akan bisa tumbuh. Stetelah kulit donor diletakkan, satu-satunya hal yang mesti dikerjakan ialah membiarkannya. Jangan memberi tekanan apapun. Kita hanya melindungi cangkok tersebut dan menantinya tumbuh. Umumnya petumbuhan akan terjadi dalam 4 -7 hari.

2. Penatalaksanaan Keperawatan 1) Perawatan luka umum Perawatan luka yang mencakup pembesihan luka dan debridemen, pengolesan preparat, antibiotik topikal serta pembalutan. Kassa yang terbut dari bahan biologik, biosintetik dan sintetik dapat digunakan. Pencngkokan kulit split thickness diperlukan untuk menuytup luka bakar derajat III (full thickness) dan II (deep partial thickness). Prosedur khusus harus diikuti dalam perawatan luka bakar pada muka, telinga, mata dan genitalia. Penggunaan terapi oksigen hiperbarik untuk mempercepat kesembuhan luka merupakan masalah yang kontroversial dan bukan komponen yang rutin dalam perawatan luka bakar. 2) Pembersihan luka Berbagai tindakan dapat dilakukan untuk membersihkan luka bakar. Hidroterapi dengan perendaman total dikerjakan pada beberapa rumah sakit. Pada rumah sakit yang lain, pasien digantung dengan sebuah ayunan vinil di atas bak dan kemudian disiram. Bak mandi rendamm atau whirlpool dapat digunakan. Guncangan air dalam whirlpool akan meningkatkan proses pembersihan luka dan secara lembut memijat jaringan. Selama berendam, pasien didorong agar sedapat mungkin bergerak dengan aktif. Hidroterapi merupakan media yang sangat baik untuk melatih ekstremitas dan membersihkan seluruh tubuh. 3) Terapi antibiotik topikal Beberapa bentuk terapi antimikroba yang diterapkan pada luka bakar merupakan metode perawatan setempat yang terbaik untuk luka bakar yang luas. Terapi antibakteri topikal tidak mensterilkan luka bakar tetapi hanya mengurangi jumlah bakteri agar keseluruhan populasi mikroba dapat dikendalikan oleh mekanisme pertahananan tubuh pasien itu sendiri. Terapi topikal akan meningkatkan upaya untuk mengubah luka yang terbuka dan kotor menjadi luka yang tertutup dan bersih. Tidak ada satupun preparat yang secara universal efektif. Penggunaan berbagai jenis preparat antibiotik yang berbeda dalam periodde pasca luka bakar mungkin diperlukan. Pemeriksaan kultur bakteriologik harus dikerjakan untuk memantau efek pengobatan topikal tersebut. Sebelum preparat topikal yang baru dioleskan, preparat topikal yang digunakann sebelumnya harus dibersihkan dahulu dengan seksama. Frekuensi penggantian

pembalut dan perendaman luka harus direncanakan untuk meningkatkan efek terapeutik preparat yang optimal. 4) Penggantiaan balutan Balutan dapat diganti di kamar pasien, ruang hidroterapi atau pun di bagian perawatan kurang-lebih 20 menit sesudah pemberian analgetik. Pembalut juga dapat diganti di kamar bedah sesudh pasien dianastesi. Masker, penutup rambut, apron plastik yang sekali pakai atau gaun bedah dan sarung tangan steril harus dikenakan oleh petugas kesehatan pada saat melepas balutan atau kassa penutup luka. Pembalut luar dapat digunting dengan gunting yang ujungnya tumpul (guntung verban), sedangkan balutan yang kotor dilepas dan dibuang dengan mengikuti prosedur yang ditetapkan untuk pembuangan bahan-bahan yang terkontaminasi. Balutan atau kasa yang menempel pada luka dapat dilepas tanpa menimbulakan sakit jika sebelumnya dibasahi dengan larutan salin atau bila pasien dibiarkan berendam selama beberapa saat dalam bak rendaman. Pembalut dapat dilepas dengan hati-hati dan perlahan-lahan memakai forseps atau tangan yang mengenakan sarung tangan steril. Kemudian luka dibersihkan dan didebrideman untuk menghilangkan debris, setiap preparat yang tersisa, eksudat dan kulit yang mati. Gunting serta forseps yang steril dapat memangkas eskar yang lepas dan mempermudah pemisahan kulit yang sudah mati. 5) Debridemen Debridemen merupakan sisi lain dari pada perawatan luka bakar. Tindakan ini memiliki dua tujuan: Untuk menghilangkan jaringan yang terkontaminasi oleh bakteri dan benda asing, sehingga pasien dilindungi terhadap kemungkinan invasi bakteri Untuk menghilangkan jaringan yang sudah mati atau eskar dalam persiapan bagi graft dan kesembuhan luka.

6) Penatalaksanaan nyeri Ciri yang menonjol pada nyeri luka bakar adalah intensitasnya dan durasinya yang lama. Lebih lanjut, perawatan luka harus menyertakan antisipasi rasa nyeri dan kecemasan pasien; rasa nyeri yang dialami pasien kerap kali sangat parah. Pada saat melakukan perawatan luka bakar pasti pasien akan merasakan nyeri, yang bisa dilakukan perawat pada saat pasien nyeri anjurkan nafas dalam dan kolaborasikan pada dokter pemberian analgesik. 7) Dukungan Nutrisi Hipermetabolisme akan terus bertahan sesudah terjadinya luka bakar sampai luka tersebut tertutup, dengan demikian kebutuhan metabolik basal akan meningkat sampai sebesar 100%. Tujuan dukungan nutrisi pada luka bakar adalah untuk meningkatkan stats keseimbangan nitrogen yang positif. Dukungan nuutrisi yang diperlukan ditentukan berdasarkan status pasien pra-luka bakar dan luas permukaan tubuh yang terbakar. 8) Tatalaksana resusitasi cairan Resusitasi cairan diberikan dengan tujuan preservasi perfusi yang adekuat dan seimbang di seluruh pembuluh darah vaskular regional, sehingga iskemia jaringan tidak terjadi pada setiap organ sistemik. Selain itu cairan diberikan agar dapat meminimalisasi dan eliminasi cairan bebas yang tidak diperlukan, optimalisasi status volume dan komposisi intravaskular untuk menjamin survival/maksimal dari seluruh sel, serta meminimalisasi respons inflamasi dan hipermetabolik dengan menggunakan kelebihan dan keuntungan dari berbagai macam cairan seperti kristaloid, hipertonik, koloid, dan sebagainya pada waktu yang tepat. Dengan adanya resusitasi cairan yang tepat, kita dapat mengupayakan stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologik dalam persiapan menghadapi intervensi bedah seawal mungkin. Resusitasi cairan dilakukan dengan memberikan cairan pengganti. Ada beberapa cara untuk menghitung kebutuhan cairan ini: Formula Baxter Luas luka bakar 4 mL x BB (kg) x (%) Separuh dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.

Contoh kasus : Tn. A (45th) mengalami luka bakar jam 08.00 pagi dan langsung dibawa ke RSUD AA oleh keluarganya. Setelah dilakukan pemeriksaan, luas luka bakar 65%. BB = 50 kg Hitung jumlah cairan yang dibutuhkan.

Cara pemberian cairannya adalah sebagai berikut : Formula = (4 ml x kg BB x %luas luka bakar) Ringer Laktat Jumlah cairan yang dibutuhkan = 4 ml x 50 kg x 65% = 13.000 ml (13 liter/24 jam). a. 8 jam I diberikan : 6.500 ml b. 8 jam II diberikan :3.250 ml c. 8 jam III diberikan 3.250 ml d. monitoring produksi urin dan tekanan vena sentralis (CVP) untuk mengetahui apakah perfusi tetap terjadi dan tidak overload cairan. e. Pada 24 jam kedua, Baxter menganjurkan : Jika keadaan umum memungkinkan, cairan sedapat mungkin diberikan secara oral pada hari ke-2. Jika cairan per oral belum memungkinkan, maka infus dipertahankan dengan Dextrose 5% sebanyak 2.000 - 5.000 ml/24jam. Pemberian glukosa bertujuan untuk kebutuhan metabolisme, mengganti cairan yang hilang melalui sekuestrasi, dan memudahkan ekskresi sodium sehingga kadar serum sodium menjadi normal (138-142 mEq/L)c. Pada hari ke 2, koloid sudah dapat diberikan bersamaan dengan Ringer laktat karena permeabilitas membran kapiler sudah pulih kembali. Koloid diberikan dalam bentuk Dextran atau Plasma. Pada luka bakar lebih dari 50% diberikan koloid 1.000 ml

BAB III KASUS A. Uraian Kasus Tn. LB, 29 tahun dirawat di ruang Cendrawasih RSUD Pekanbaru karena tersiram minyak panas saat berjualan gorengan 3 hari yang lalu. Kedua lengan Tn. LB terdapat gelembung-gelembung berisi cairan berwarna jernih tetapi kental, rasa nyeri /sakit yang mengganggu, dan bila gelembung tersebut pecah akan terlihat kulit yang berwarna kemerahmerahan. Dada dan perut terkena minyak tapi kulit hanya memerah dan kulit kaki kanan menjadi putih/kuning tapi tidak ditemukan rasa sakit. Tanda-tanda vital BP: 130/80 mmHg, P: 70 x/i, RR: 20 x/i, T: 39. 1 0C. B. Pengkajian 1. Identitas Klien Nama Umur Jenis kelamin 2. Riwayat Kesehatan a) Keluhan utama Klien mengatakan tersiram minyak panas saat berjualan gorengan 3 hari yang lalu. Kedua lengan Tn. LB terdapat gelembung-gelembung berisi cairan berwarna jernih tetapi kental, rasa nyeri /sakit yang mengganggu, dan bila gelembung tersebut pecah akan terlihat kulit yang berwarna kemerah-merahan. b) Keluhan tambahan Klien juga mengatakan dada dan perut terkena minyak tapi kulit hanya memerah dan kulit kaki kanan menjadi putih/kuning tapi tidak ditemukan rasa sakit. c) Pemeriksaan fisik TD N RR T : 130/80 mmHg : 70 x/i : 20 x/i : 39. 1 oC : Tn. LB : 29 tahun : Laki-laki

C. Analisa Data 1. Data Subjektif : - Klien mengatakan tersiram minyak panas saat berjualan gorengan 3 hari yang lalu - Klien mengeluh nyeri /sakit pada kedua lengannya - Klien mengeluh nyeri yang sangat mengganggu - Klien mengatakan dada, perut dan kaki kanan terkena minyak tapi tidak sakit 2. Data Objektif : - Klien berusia 29 tahun - Kedua lengan klien terdapat gelembung-gelembung berisi cairan berwarna jernih tetapi kental - Kulit disekitar luka bakar pada kedua lengan berwarna kemerah-merahan, apabila gelembung gelembung tersebut pecah - Dada dan perut klien terkena minyak tapi kulit hanya memerah - Kulit kaki kanan klien menjadi putih/kuning - BP -P - RR - T NO 1. DS: - Klien mengeluh nyeri /sakit pada kedua lengannya - Klien mengeluh nyeri sangat mengganggu DO: - Kedua lengan klien terdapat gelembunggelembung berisi cairan berwarna Gangguan rasa nyaman nyeri Korteks serebri Persepsi nyeri Nyeri yang Chemical respons Bradikinin, serotonin, histamisn, prostaglandin Merangsang ujung saraf Hipotalamus : 130/80 mmHg : 70 x/i : 20 x/i : 39. 1 C Data Etiologi Minyak panas Luka bakar Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman nyeri

jernih tetapi kental - Kulit disekitar luka bakar pada kedua lengan berwarna kemerahmerahan, apabila gelembung gelembung tersebut pecah 2. DS: - Klien mengatakan dada, perut dan kaki terkena kanan minyak Terputusnya kontinuitas jaringan Luka bakar Minyak panas Kerusakan Integritas kulit

tapi tidak sakit DO: - Dada dan perut klien terkena Kerusakan Integritas Kulit Kerusakan Jaringan Kulit

minyak tapi kulit hanya memerah - Kulit kaki kanan klien menjadi

putih/kuning

3.

DS: - Klien mengatakan tersiram minyak panas saat berjualan gorengan 3 hari yang lalu. - Klien mengeluh nyeri /sakit pada kedua lengannya - Klien mengeluh nyeri yang sangat mengganggu DO: - Kedua lengan klien terdapat gelembunggelembung berisi cairan berwarna jernih tetapi kental - Kulit disekitar luka bakar pada kedua lengan berwarna kemerahmerahan, apabila gelembung gelembung tersebut pecah - T : 39. 1 C

Minyak panas

Infeksi

Luka bakar

Gelembung pecah

Infeksi kuman patogen

Infeksi

D. WOC Kasus

Minyak goreng panas

Luka Bakar

Chemical respons

Terputusnya kontinuitas jaringan

Bradikinin, serotonin, histamisn, prostaglandin Merangsang ujung saraf bebas Hipotalamus

Kerusakan Jaringan Kulit

Gelembung pecah

MK : Kerusakan Integritas Kulit

Luka terbuka berwarna kemerahan

Infeksi Kuman Patogen

Korteks serebri

MK : Infeksi

Persepsi nyeri

MK : Gangguan Rasa Nyaman Nyeri

E. Asuhan Keperawatan No. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri b.d serabut saraf terbuka, kesembuhan luka dan penanganan luka. Tujuan dan Kriteria hasil Tujuan: 1. Kaji tingkat 1. Datahasil Pengurangan atau nyeri dengan pengkajian akan pengendalian rasa skala nyeri. memberikan nyeri. Amati indicator informasi dasar K.Hasil: nonverbal yang untuk mengkaji menunjukkan respons terhadap - Menyatakan rasa nyeri. nyeri. rasa nyeri berkurang 2. Pengetahuan - Tidak 2. Jelaskan kepada akan mengurangi membberi pasien mengenai kecemasan. petunjuk perjalanan nyeri fisiologik atau yang lazim nonverbal terjadi pada bahwa rasa penyembuhan nyeri sedang luka dan atau berat. berbagai pilihan - Dapat tidur untuuk tanpa pengendalian terganggu rasa nyeri. 3. Tindakan nyeri. nonfarmakologik 3. Ajarkan pasien untuk mengatasi teknik relaksasi, nyeri akan imajinasi, dan memberikan distraksi. berbagai cara intervensi yang dapat mengurasi sensasi nyeri. 4. Membantu dalam memastikan teknik pengendalian nyeri yang terbaik. 5. Untuk mengurangi nyeri. Intervensi Rasional

4. Kaji dan catat respons klien terhadap intervensi.

5. Kolaborasi pemberian analgetik.

2.

Kerusakan integritas kulit b. d luka bakar terbuka

Tujuan: 1. Bersihkan luka Intgritas kulit setiap hari. tampak membaik. K. Hasil: - Kulit secara umum tampak utuh dan bebas 2. Lakukan dari tandaperawatan luka tanda infeksi, bakar sesuai tekanan dan prosedur. trauma. - Luka yang 3. Oleskan terbuka preparat berwarna antibiotik merah muda, topical dan memperlihatka memasang n repitelisasi balutan sesuai dan bebas dari dengan infeksi. ketentuan medik. 4. Cegah penekanan, infeksi dan mobilisasi pada autograft.

1. Pembersihan setiap hari akan mengurangi potensi kolonisasi bakteri. 2. Perawatan akan mempercepat penyembuhhan luka. 3. Perawatan luka akan mengurangi potensi kolonisasi bakteri dan mempercepat penyembuhhan luka. 4. Tindakan ini akan mempercepat pelekatan graft dan kesembuhan. 5. Nutrisi yang memadai sangat penting untuk pembentukan granulasi yang normal dan kesembuhan. 6. Intervensi dini untuk mengatsi kesembuhan luka atau pelekatan graft yang buruk sangat esensial.

5. Berikan dukungan nutrisi yang memadai.

6. Kaji luka dan lokasi graft. Laporkan tandatanda kesembuhan yang buruk atau trauma kepada dokter.

3.

infeksi b.d hilangnya barier kulit dan terganggunya respons imun.

Tujuan: 1. Gunakan 1. Tindak aseptik Tidak adanya tindakan asepsis akan infeksi yang dalam semua meminimalkan lokal dan aspek perawatan risiko sistemik. pasien. kontaminasiK. Hasil: silang dan penyebarluasan - Kultur luka kontaminasi memperlihatka bakteri. n jumlah bakteri yang 2. Lakukan 2. Menghindari minimal. skrining agen penyebab - Hasil kultur terhadap para infeksi yang darah, urin dan pengunjung dikenali akan sputum untuk mencegah normal. mendeteksi masuknya - Tidak adanya masalah mikroorganisme tanda-tanda respirasi, tambahan. dan gejala gastrointestinal yang dan integumen. menunjukkan infeksi dan 3. Inspeksi luka 3. Tanda-tanda sepsis. untuk tersebut mendeteksi menunjukkan tanda-tanda infeksi lokal. infeksi atau perubahan warna. 4. Pantau jumlah leukosit. 4. Peningkatan jumlah leukosit menunjukkan infeksi.

5. Kolaborasi pemberian antibiotik.

5. Antibiotik mengurangi jumlah bakteri.

F. Penatalaksanaan Farmakologi dan Non Farmakologi 1) Penatalaksanaan Farmakologis Tabel Obat-Obatan Antimokroba Topical Yang Digunakan Pada Luka Bakar (Luckmann, Sorensen, 2004) Obat Krim Silver Sulfadia-zine 1%Mafenide acetate Larutan Mafenide acetate 5% Silver nitrate 5% Spektrum Antimikroba Spektrum luas, termasuk jamurSpektrum luas, Mempunyai aktivitas terhadap jamur meskipun sedikit. Spektrum luas Spektrum luas Penggunaan 2x/hari,tebal 1/16 inci.Tak usah dibalut. 2x/hari,1/16 inci. Tdk usah dibalut. Balutan tipis diperlukan dan dibasahi denganlarutan untuk luka Balutan yang tebal diperlukan dan dibasahi dg larutan untuk luka Efek Samping Leukopenia setelah 2-3 hari pamakaian.Ruam pada otot Hyperchloremic metabolisme acidosis dari diuresis bicarbonat karena hambatan anhydrase carbonic. Menimbulkan rasa nyeri. Pruritus. Ruam pada kulit Kolonisasi jamur. Hyponatremia Hypochloremia Kaji efek samping Kaji keadekuatan managemen nyeri. Cek serum elektrolit setiap hari. Penetrasi terhadap eschar buruk Perawatan Kaji efek samping.Kaji keadekuatan managemen nyeri. Jika nyeri dan rasa tak nyaman berlanjut, maka perlu dipertimbangkan penggunaan topikal lainnya. Gunakan secara hati-hati pada klien dengan gagal ginjal.

2) Penatalaksaan Non-Farmakologis Penggunaan madu sebagai obat telah dikenal sejak puluhan ribu tahun yang lalu,misalnya dalam pengobatan penyakit lambung, batuk, dan mata. Selain itu madu juga dapatdigunakan sebagai terapi topikal untuk luka bakar, infeksi, dan luka ulkus. Sampai saat ini telah banyak hasil penelitian yang melaporkan bahwa madu efektif untuk perawatan luka, baik secara klinis maupun laboratorium. Ada beberapa hasil penelitian yang melaporkan bahwa madu sangat efektif digunakan sebagai terapi topikal pada luka melalui peningkatan jaringan granulasi dan kolagen serta periode epitelisasi secara signifikan. Madu berasal dari nektar bunga yang disimpan oleh lebah dari kantung madu. Oleh lebah nektar tersebut diolah sebelum akhirnya menghasilkan madu dalam sarangnya. Madu dihasilkan oleh serangga lebah madu (Apis mellifera) termasuk dalam superfamili apoidea. Madu adalah obat alami karena tidak perlu diolah di laboratorium. Madu sudah ada di alam dan tinggal diolah dari sarangnya. Madu mengandung senyawa radikal hidrogen peroksida yang bersifat dapat membunuh mikroorganisme pathogen dan senyawa organik yang bersifat antibakteri antara lain seperti polypenol, dan glikosida. Selain itu dalam madu terdapat banyak sekali kandungan vitamin,asam mineral, dan enzim yang sangat berguna bagi tubuh sebagai pengobatan secara tradisional, antibodi, dan penghambat pertumbuhan sel kanker, atau tumor. Madu juga mengandungantioksidan, asam amino essensial, dan non essensial. G. Health Education (HE) 1) Pendidikan kesehatan mengenai pengertian luka bakar 2) Pendidikan kesehatan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan luka bakar 3) Pendidikan kesehatan mengenai tanda dan gejala luka bakar 4) Pendidikan kesehatan mengenai cara pencegahan luka bakar 5) Pendidikan kesehatan mengenai cara pengobatan luka bakar H. Tujuan Pembelajaran Setelah membaca dan mempelajari makalah ini, mahasiswa dapat memahami : 1) 2) 3) 4) Faktor-faktor penyebab luka bakar Proses patofisiologi luka bakar Penatalaksanaan yang harus dilakukan secara farmakologi dan nonfarmakologi Asuhan keperawatan pada klien dengan luka bakar

I. Terminologi Inhalasi : Penarikan udara atau instansi lain ke dalam paru-paru.

Debriment : Pengangkatan benda asing atau jaringan yang mati dari atau yang berdekatan dengan lesi akibat trauma atau infeksi sampai sekeliling jaringan yang sehat tampak. Alkalis : Salah satu kelas persenyawaan yang membentuk sabun yang dapat larut dalam asam lemak, mengubah litmus merah menjadi biru,

dan membentuk karbonat yang dapat larut. Abrasi Termal : Pengelupasan lapisan yang tumbuh berlebihan. : Suhu

Superficial : Permukaan luar Eritema :Kemerahan pada kulit yang di hasilkan oleh kongesti

pembuluh kapiler. Estimasi proporsi : Perkiraan atau persenan Paralise usus : Kehilangan atau gangguan fungsi motorik pada suatu bagian akibat lesi pada mekanisme saraf atau otot, juga secara analogi gangguan fungsi sensorik. Bronkoskopi : Pemeriksaan bronki melalui sebuah bronkoskop. Hipodinamik : Tenaga yang berkurang secara abnormal. Hiperdinamik : Tenaga yang bertambah seecara abnormal. Instabilitas sirkulasi : Peredaran yang tidak stabil. Hipertropi : Pembesaran atau pertumbuhan berlebihan dari organ atau bagian akibat peningkatan ukuran sel-sel pembenttuknya. Kleoid : Jaringan kulit tambahan yang tumbuh di bekas luka.

Deformitas : Perubahan bentuk tubuh sebagian atau umum. Disritmia : Perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang di sebabkan oleh konduksi elektrikal abnormal atau otomatis.