Anda di halaman 1dari 30

Apa Itu Hemofilia ?

38728 hit(s)

Hemofilia berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang terdiri dari dua kata yaitu haima yang berarti darah dan philia yang berarti cinta atau kasih sayang. Hemofilia adalah suatu penyakit yang diturunkan, yang artinya diturunkan dari ibu kepada anaknya pada saat anak tersebut dilahirkan. Darah pada seorang penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal. Proses pembekuan darah pada seorang penderita hemofilia tidak secepat dan sebanyak orang lain yang normal. Ia akan lebih banyak membutuhkan waktu untuk proses pembekuan darahnya. Penderita hemofilia kebanyakan mengalami gangguan perdarahan di bawah kulit; seperti luka memar jika sedikit mengalami benturan, atau luka memar timbul dengan sendirinya jika penderita telah melakukan aktifitas yang berat; pembengkakan pada persendian, seperti lulut, pergelangan kaki atau siku tangan. Penderitaan para penderita hemofilia dapat membahayakan jiwanya jika perdarahan terjadi pada bagian organ tubuh yang vital seperti perdarahan pada otak.

Hemofilia A dan B Hemofilia terbagi atas dua jenis, yaitu : - Hemofilia A; yang dikenal juga dengan nama : - Hemofilia Klasik; karena jenis hemofilia ini adalah yang paling banyak kekurangan faktor pembekuan pada darah. - Hemofilia kekurangan Factor VIII; terjadi karena kekurangan faktor 8 (Factor VIII) protein pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah. - Hemofilia B; yang dikenal juga dengan nama : - Christmas Disease; karena di temukan untuk pertama kalinya pada seorang bernama Steven Christmas asal Kanada - Hemofilia kekurangan Factor IX; terjadi karena kekurangan faktor 9 (Factor IX) protein pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah.

Bagaimana ganguan pembekuan darah itu dapat terjadi? Gangguan itu dapat terjadi karena jumlah pembeku darah jenis tertentu kurang dari jumlah normal, bahkan hampir tidak ada. Perbedaan proses pembekuan darah yang terjadi antara orang normal (Gambar 1) dengan penderita hemofilia (Gambar 2). Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan pembuluh darah yang terluka di dalam darah tersebut terdapat faktor-faktor pembeku yaitu zat yang berperan dalam menghentukan perdarahan.

a. Ketika mengalami perdarahan berarti terjadi luka pada pembuluh darah (yaitu saluran tempat darah mengalir keseluruh tubuh), lalu darah keluar dari pembuluh. b. Pembuluh darah mengerut/ mengecil. c. Keping darah (trombosit) akan menutup luka pada pembuluh. d. Faktor-faktor pembeku da-rah bekerja membuat anyaman (benang benang fibrin) yang akan menutup luka sehingga darah berhenti mengalir keluar pembuluh.

Gambar 1 a. Ketika mengalami perdarahan berarti terjadi luka pada pembuluh darah (yaitu saluran tempat darah mengalir keseluruh tubuh), lalu darah keluar dari pembuluh. b. Pembuluh darah mengerut/ mengecil. c. Keping darah (trombosit) akan menutup luka pada pembuluh. d. Kekurangan jumlah factor pembeku darah tertentu, mengakibatkan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna, sehingga darah tidak berhenti mengalir keluar pembuluh.

Gambar 2

Seberapa banyak penderita hemofilia ditemukan ? Hemofilia A atau B adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan. Hemofilia A terjadi sekurang - kurangnya 1 di antara 10.000 orang. Hemofilia B lebih jarang ditemukan, yaitu 1 di antara 50.000 orang.

Siapa saja yang dapat mengalami hemofilia ? Hemofilia tidak mengenal ras, perbedaan warna kulit atau suku bangsa.

Hemofilia paling banyak di derita hanya pada pria. Wanita akan benar-benar mengalami hemofilia jika ayahnya adalah seorang hemofilia dan ibunya adalah pemabawa sifat (carrier). Dan ini sangat jarang terjadi. (Lihat penurunan Hemofilia) Sebagai penyakit yang di turunkan, orang akan terkena hemofilia sejak ia dilahirkan, akan tetapi pada kenyataannya hemofilia selalu terditeksi di tahun pertama kelahirannya.

Tingkatan Hemofilia Hemofilia A dan B dapat di golongkan dalam 3 tingkatan, yaitu : Klasifikasi Kadar Faktor VII dan Faktor IX di dalam darah Berat Kurang dari 1% dari jumlah normalnya Sedang 1% - 5% dari jumlah normalnya Ringan 5% - 30% dari jumlah normalnya Penderita hemofilia parah/berat yang hanya memiliki kadar faktor VIII atau faktor IX kurang dari 1% dari jumlah normal di dalam darahnya, dapat mengalami beberapa kali perdarahan dalam sebulan. Kadang - kadang perdarahan terjadi begitu saja tanpa sebab yang jelas. Penderita hemofilia sedang lebih jarang mengalami perdarahan dibandingkan hemofilia berat. Perdarahan kadang terjadi akibat aktivitas tubuh yang terlalu berat, seperti olah raga yang berlebihan. Penderita hemofilia ringan lebih jarang mengalami perdarahan. Mereka mengalami masalah perdarahan hanya dalam situasi tertentu, seperti operasi, cabut gigi atau mangalami luka yang serius. Wanita hemofilia ringan mungkin akan pengalami perdarahan lebih pada saat mengalami menstruasi.
http://www.hemofilia.or.id/hemofilia.php http://books.google.co.id/books?id=pKwAI40ydccC&pg=PA133&dq=penyakit+hemofilia&cd=1#v=on epage&q=penyakit%20hemofilia&f=false karmana, oman.2006.cerdas belajar biologi untuk klas XII.jakarta:grafindo media pratama. http://medicastore.com/penyakit/768/Hemofilia.html = hemofilia1 http://trillion.wordpress.com/2008/05/17/mengenali-gejala-hemofilia/ = mengenai gejala hemofilia http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/hemofilia240906.htm http://www.indonesiaindonesia.com/f/13493-hemofilia/ = hm2 http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/10/04/16/111439-penyakit-hemofiliamasih-rawan-salah-diagnosis Hemofilia itu salah satu penyakit akibat gangguan pembekuan darah. Biasanya karena faktor keturunan.

Penyebab: kekurangan salah satu faktor pembekuan darah (faktor VIII atau faktor IX). Gejala: - mudah lebam - perdarahan dari luka kecil bisa berdarah berjam2-berhari2, dibagi 2 macam: 1. kalo penyebabnya krn kekurangan fak. VIII, perdarahan bisa berhenti sebentar, tapi ngga lama kemudian berdarah lagi. 2. kalo krn kurangnya fak. IX, perdarahan bisa lama banget berhentinya Tindakan yg harus dilakukan: - Hindari luka/benturan sekecil apapun. - Hindari obat2an yg bisa mengencerkan darah yg beku. - Rajin melakukan screening utk melihat kemungkinan terkena hepatitis atau penyakit gangguan fungsi hati lainnya. - Untuk bayi, segera di vaksin Hepatitis B. - Replacement therapi. http://books.google.co.id/books?id=tyvqKwsfM6UC&pg=PA202&dq=penyakit+hemofilia&cd=7#v=o nepage&q=penyakit%20hemofilia&f=false hull, david.derek I Johnston. 2008. Dasar dasar Pediatri edisi 3. Jakarta : EGC

Page 1
IDAI - Ikatan Dokter Anak Indonesia http://www.idai.or.id/hottopics/detil.asp?q=97 1 of 2 21/02/2007 11:34
Hari ini: 21 Februari 2007
Daftar Hot Topics Cari Cetak artikel ini Kirim ke rekan anda

Hemofilia
Penulis: Djajadiman Gatot

Bila terjadi pendarahan pada seseorang yang normal dan sehat, misalnya terluka, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama perdarahan tersebut akan berhenti sendiri, apakah itu dengan bantuan penekanan pada tempat luka ataupun tidak. Mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan itu dinamakan mekanisme pembekuan darah. Dalam mekanisme itu terlibat sebagai faktor yang berinteraksi satu sama lain membentuk sumbat pembekuan. Faktor-faktor yang terlibat terutama pembuluh darah, keping darah atau trombosit, dan faktor pembekuan. Bila salah satu faktor ini fungsinya kurang baik atau jumlah/kadarnya kurang, akan mengakibatkan perdarahn yang berlangsung lama atau bahkan dapat terjadi perdarahan spontan.

Gangguan fungsi atau kekurangan tersebut biasanya berdiri sendiri-sendiri. Contohnya, penyakit hemofilia. Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan. Penyakit ini diturunkan dari orang tua dan merupakan gangguan pembekuan yang terbanyak ditemukan. Namun demikian, sekitar 30% tidak mempunyai riwayat keluarga (turunan). Dikenal dua macam hemofilia. Hemofilia A karena kekurangan faktor VIII dan hemofilia B akibat kekurangan faktor IX. Faktor-faktor pembekuan berjumlah 13 dan diberi nomor dengan angka Romawi (I-XIII). Hemofilia, terutama A, tersebar di seluruh dunia dan umumnya tidak mengenai ras tertentu. Angka kejadiannya diperkirakan 1 di antara 5 ribu-10 ribu kelahiran bayi laki-laki. Sedangkan hemofilia B, sekitar 1 diantara 25 ribu-30 ribu kelahiran bayi laki-laki. Sebagian besar (sekitar 80%) hemofilia A. Hemofilia diturunkan oleh ibu sebagai pembawa sifat yang mempunyai 1 kromosom X normal dan 1 kromosom X hemofilia. Penderita hemofilia, mempunyai kromosom Y dan 1 kromosom X hemofilia. Seorang wanita diduga membawa sifat jika: ayahnya pengidap hemofilia 1. mempunyai saudara laki-laki dan 1 anak laki-laki hemofilia, dan 2. mempunyai lebih dari 1 anak laki-laki hemofilia 3. Karena sifatnya menurun, gejala klinis hemofilia A atau B dapat timbul sejak bayi, tergantung beratnya penyakit. Hemofilia A atau B dibagi tiga kelompok: Berat (kadar faktor VIII atau IX kurang dari 1%) 1. Sedang (faktor VIII/IX antara 1%-5%) dan 2. Ringan (faktor VIII/X antara 5%-30%). 3. Gejala bisa berupa perdarahan abnormal dan biasanya terletak didalam, seperti sendi otot atau jaringan lunak lain, dan kulit, ini biasanya ditemukan pada bayi yang mulai merangkak, atau bisa terjadi perdarahan hidung, saluran kemih, bahkan perdarahan otak. Pada hemofilia berat, perdarahan dapat terjadi spontan tanpa trauma. Sedangkan yang sedang, biasanya perdarahan didahului trauma ringan. Hemofilia ringan umumnya tanpa gejala atau dapat terjadi perdarahan akibat trauma lebih berat. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan riwayat perdarahan, gejala klinik yang ditemukan, dan pemeriksaan laboratorium secara khusus.

Apabila terjadi perdarahan pada penderita, misalnya di sendi, tindakan sementara yang dapat segera dilakukan ialah RICE. Jadi, sendi yang mengalami perdarahan diistirahatkan (Rest), dikompres es (Ice), ditekan/dibebat (Compression), dan ditinggikan (Elevation). Kemudian, dalam dua jam, sudah harus diberikan Page 2
IDAI - Ikatan Dokter Anak Indonesia http://www.idai.or.id/hottopics/detil.asp?q=97 2 of 2 21/02/2007 11:34

Page 1
IDAI - Ikatan Dokter Anak Indonesia http://www.idai.or.id/hottopics/detil.asp?q=97 1 of 2 21/02/2007 11:34
Hari ini: 21 Februari 2007
Daftar Hot Topics Cari Cetak artikel ini Kirim ke rekan anda

Hemofilia Penulis: Djajadiman Gatot Bila terjadi pendarahan pada seseorang yang normal dan sehat, misalnya terluka, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama perdarahan tersebut akan berhenti sendiri, apakah itu dengan bantuan penekanan pada tempat luka ataupun tidak. Mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan itu dinamakan mekanisme pembekuan darah. Dalam mekanisme itu terlibat sebagai faktor yang berinteraksi satu sama lain membentuk sumbat pembekuan. Faktor-faktor yang terlibat terutama pembuluh darah, keping darah atau trombosit, dan faktor pembekuan. Bila salah satu faktor ini fungsinya kurang baik atau jumlah/kadarnya kurang, akan mengakibatkan perdarahn yang berlangsung lama atau bahkan dapat terjadi perdarahan spontan. Gangguan fungsi atau kekurangan tersebut biasanya berdiri sendiri-sendiri. Contohnya, penyakit hemofilia. Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan. Penyakit ini diturunkan dari orang tua dan merupakan gangguan pembekuan yang terbanyak ditemukan. Namun demikian, sekitar 30% tidak mempunyai riwayat keluarga (turunan). Dikenal dua macam hemofilia. Hemofilia A karena kekurangan faktor VIII dan hemofilia B akibat kekurangan faktor IX. Faktor-faktor pembekuan berjumlah 13 dan diberi nomor dengan angka Romawi (I-XIII).

Hemofilia, terutama A, tersebar di seluruh dunia dan umumnya tidak mengenai ras tertentu. Angka kejadiannya diperkirakan 1 di antara 5 ribu-10 ribu kelahiran bayi laki-laki. Sedangkan hemofilia B, sekitar 1 diantara 25 ribu-30 ribu kelahiran bayi laki-laki. Sebagian besar (sekitar 80%) hemofilia A. Hemofilia diturunkan oleh ibu sebagai pembawa sifat yang mempunyai 1 kromosom X normal dan 1 kromosom X hemofilia. Penderita hemofilia, mempunyai kromosom Y dan 1 kromosom X hemofilia. Seorang wanita diduga membawa sifat jika: ayahnya pengidap hemofilia 1. mempunyai saudara laki-laki dan 1 anak laki-laki hemofilia, dan 2. mempunyai lebih dari 1 anak laki-laki hemofilia 3. Karena sifatnya menurun, gejala klinis hemofilia A atau B dapat timbul sejak bayi, tergantung beratnya penyakit. Hemofilia A atau B dibagi tiga kelompok: Berat (kadar faktor VIII atau IX kurang dari 1%) 1. Sedang (faktor VIII/IX antara 1%-5%) dan 2. Ringan (faktor VIII/X antara 5%-30%). 3. Gejala bisa berupa perdarahan abnormal dan biasanya terletak didalam, seperti sendi otot atau jaringan lunak lain, dan kulit, ini biasanya ditemukan pada bayi yang mulai merangkak, atau bisa terjadi perdarahan hidung, saluran kemih, bahkan perdarahan otak. Pada hemofilia berat, perdarahan dapat terjadi spontan tanpa trauma. Sedangkan yang sedang, biasanya perdarahan didahului trauma ringan. Hemofilia ringan umumnya tanpa gejala atau dapat terjadi perdarahan akibat trauma lebih berat. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan riwayat perdarahan, gejala klinik yang ditemukan, dan pemeriksaan laboratorium secara khusus. Apabila terjadi perdarahan pada penderita, misalnya di sendi, tindakan sementara yang dapat segera dilakukan ialah RICE. Jadi, sendi yang mengalami perdarahan diistirahatkan (Rest), dikompres es (Ice), ditekan/dibebat (Compression), dan ditinggikan (Elevation). Kemudian, dalam dua jam, sudah harus diberikan pengobatan komprehensif dengan memberikan faktor pembekuan yang kurang (faktor VIII atau IX). Faktor pembekuan diperoleh dari plasma beku segar, bagian dari plasma yang dibekukan, atau faktor yang dimurnikan. Tetapi, faktor-faktor ini mahal, khususnya yang dimurnikan.

Obat yang dapat mengganggu pembekuan darah, seperti aspirin, tidak dibenarkan untuk penderita hemofilia. Penanganan hemofilia perlu dilakukan ahli terkait, seperti hematologi, tulang, transfusi darah, patologi klinik, fisioterapi, infeksi, gizi, psikoterapi, dan terapi okupasional. Dengan penanganan yang baik, penderita merupakan sumber daya manusia berkualitas dan produktif, sama seperti orang normal. Namun di Indonesia, penanganannya belum memuaskan sehingga cukup banyak penderita yang menderita cacat. Akibatnya, lapangan kerja bagi mereka sulit terbuka. Penyebab tidak terlaksananya pengobatan secara baik karena asuransi kesehatan swasta tidak menyantuni penderita hemofilia ini. Maka, hemofilia memerlukan penanganan yang baik dan menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, kalangan medis saja http://www.hemofilia.or.id/file_upload/IDAI_Ikatan_Dokter_Anak_Indonesia.pdf

This is the html version of the file http://www.hemofilia.or.id/file_upload/Pusat_Data_Informasi_PERSI.pdf. Google automatically generates html versions of documents as we crawl the web.

Page 1
Pusat Data & Informasi PERSI http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=1038&tbl=psejati 1 of 3 21/02/2007 16:25

About Us PERSI cabang Contact Us Site Map Home Rabu, 21 Feb 2007 31 Tahun Bertarung dengan Hemofilia Gunarso: Siapa Bilang Hemofili Berusia Pendek? Senin, 25 Jul 2005 18:17:01 Pdpersi, Jakarta - Sepintas, tak ada yang spesial

dari figur Gunarso. Ayah satu anak bernama lengkap Muhammad Gunarso ini, seperti halnya kalangan profesional Jakarta lainnya. Setiap hari ia mesti bergelut dengan kesibukan rutinnya sebagai teknisi teknologi informasi pada sebuah perusahaan keuangan di Jakarta. Senin hingga Jumat, Gunarso mengendarai mobilnya membelah kemacetan antara Cinere, tempat ia bersama keluarga kecilnya tinggal, menuju kantornya di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat. Namun, setiap Kamis, Gunarso mesti menjalani aktivitas rutin yang sama sekali tak biasa. Setiap hari dalam satu pekan, pria berkacamata ini mesti menyambangi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Di klinik hemofilia, yang terletak di salah satu sudut RS pemerintah terbesar di negeri ini, secara rutin Gunarso men-charger kembali tubuhnya. Satu labu darah dihabiskan suami Novi Riandini ini untuk menyambung kembali energi hidupnya. Hemofilia yang diidap Gunarso membuat sosok yang gemar mengotak-atik internet ini benar-benar bergantung pada pasokan darah yang didonorkan orang lain. Aliran darah yang mengalir dalam tubuh lelaki ini memang berkarakter khusus. Ketiadaan zat pembeku darah dalam darah Gunarso membuat setiap pekan ia harus mendapat tranfusi. Terlambat tranfusi sehari saja, tubuh Gunarso yang dari luar terlihat sangat sehat ini, akan mengalami penderitaan luar biasa. Bukan saja rasa pegal yang dideritanya, namun juga nyeri dan sakit yang mendera.

Kendati begitu, kewajiban tranfusi setiap pekan serta kondisi tubuh yang rawan, bukan hambatan yang berarti bagi Gunarso. Dia tetap berupaya hidup normal, layaknya orang sehat. Bekerja, berumah tangga serta tentunya menikmati hidup. Banyak orang yang beranggapan, karena bergantung pada pasokan darah, hemofili atau pengidap hemofilia tidak dapat hidup nomal. Nyatanya, saya hidup seperti yang dijalani orang kebanyakan. Namun, tentunya dengan ekstra hati-hati, teratur tranfusi dan menjaga kondisi tubuh secermat mungkin, kata Gunarso yang ditemui Pusat Data Persi di ruang kerjanya. Sebagai orang yang telah hidup selama 31 tahun dengan hemofilia, Gunarso dengan lancar berbicara tentang penyakit kelainan darah bawaan itu. Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan yang terdiri dari faktor satu hingga delapan. Penyakit ini diturunkan dari orang tua. Namun demikian sekitar 30% tidak diketahui penyebabnya. Sekali divonis mengidap hemofilia, pengidapnya bergantung pada tranfusi darah untuk menambah faktor pembeku darah. Gunarso sendiri diketahui mengidap hemofilia saat belia. Gejalanya, saat Gunarso kecil yang gemar bermain mengalami benturan, muncul memar kebiruan pada tubuhnya. Jika benturan itu tidak menimbulkan luka terbuka, maka memar yang akan melingkupi tubuh Gunarso. Namun, jika pendarahan terjadi terbuka, efeknya lebih parah. Pendarahan sangat sulit dihentikan. Pada manusia normal, memar dan luka terbuka tidak akan menimbulkan efek yang hebat karena zat pembeku darah akan langsung bekerja. Pada pengidap hemofilia, benturan sepele saja akan menimbulkan memar yang parah atau luka yang mengeluarkan darah terus menerus, kata ayah satu anak lelaki berusia lima tahun ini. Jika pendarahan di atas permukaan kulit dapat dijaga dengan ekstra hati-hati menghindari perlukaan, namun pendarahan di dalam kulit yang dipicu oleh benturan

sangat sulit diantisipasi. Parahnya lagi, timbulnya memar juga diiringi rasa sakit dan nyeri yang mendera. Rasa sakit dan nyeri itu bukan cuma terjadi ketika pengidap hemofilia mengalami benturan dengan benda keras, namun juga timbul saat pasokan darah terlambat ditranfusi. Persendian seperti siku tangan maupun lutut kaki adalah bagian tubuh yang kerap dirasa sakit yang hebat. Saya tranfusi setiap Kamis, namun pada Rabu atau bahkan Selasa, tubuh saya sudah terasa sakit dan nyeri. Bahkan, untuk melangkah saja sakitnya bukan main. Telapak kaki terasa sakit saat menginjak lantai. Kaki juga terpincang-pincang menahan nyeri, ujar pria lulusan Fakultas Teknik Komputer Universitas Gunadharma Jakarta ini yang saat ditemui Pusat Data Persi juga tengah mengalami nyeri pada kakinya. Bila terjadi pendarahan pada seseorang yang normal dan sehat, misalnya terluka, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama perdarahan tersebut akan berhenti sendiri, apakah itu dengan bantuan penekanan pada tempat luka ataupun tidak. Mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan itu dinamakan mekanisme pembekuan darah. Dalam mekanisme itu terlibat sebagai faktor yang berinteraksi satu sama lain membentuk sumbat pembekuan. Faktor-faktor yang terlibat terutama pembuluh darah, keping darah atau trombosit, dan faktor pembekuan. Bila salah satu faktor ini fungsinya kurang baik atau jumlah/kadarnya kurang, akan mengakibatkan perdarahn yang berlangsung lama atau bahkan dapat terjadi perdarahan spontan. Gangguan fungsi atau kekurangan tersebut biasanya berdiri sendiri-sendiri. Contohnya, penyakit hemofilia. Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan. Penyakit ini diturunkan dari orang tua dan merupakan gangguan pembekuan yang terbanyak ditemukan. Namun demikian, sekitar 30% tidak mempunyai riwayat keluarga (turunan). Dikenal dua macam hemofilia. Hemofilia A karena kekurangan faktor VIII dan hemofilia B akibat kekurangan faktor IX. Faktor-faktor pembekuan berjumlah 13 dan diberi nomor dengan angka Romawi (I-XIII). Hemofilia, terutama A, tersebar di seluruh dunia dan umumnya tidak mengenai ras tertentu. Angka kejadiannya diperkirakan 1 di antara 5 ribu-10 ribu kelahiran bayi laki-laki. Sedangkan hemofilia B, sekitar 1 diantara 25 ribu-30 ribu kelahiran bayi laki-laki. Sebagian besar (sekitar 80%) hemofilia A.

Hemofilia diturunkan oleh ibu sebagai pembawa sifat yang mempunyai 1 kromosom X normal dan 1 kromosom X hemofilia. Penderita hemofilia, mempunyai kromosom Y dan 1 kromosom X hemofilia. Seorang wanita diduga membawa sifat jika: 1. ayahnya pengidap hemofilia 2. mempunyai saudara laki-laki dan 1 anak laki-laki hemofilia, dan 3. mempunyai lebih dari 1 anak laki-laki hemofilia Karena sifatnya menurun, gejala klinis hemofilia A atau B dapat timbul sejak bayi, tergantung beratnya penyakit. Hemofilia A atau B dibagi tiga kelompok: 1. Berat (kadar faktor VIII atau IX kurang dari 1%) 2. Sedang (faktor VIII/IX antara 1%-5%) dan 3. Ringan (faktor VIII/X antara 5%-30%). Gejala bisa berupa perdarahan abnormal dan biasanya terletak didalam, seperti sendi otot atau jaringan lunak lain, dan kulit, ini biasanya ditemukan pada bayi yang mulai merangkak, atau bisa terjadi perdarahan hidung, saluran kemih, bahkan perdarahan otak. Pada hemofilia berat, perdarahan dapat terjadi spontan tanpa trauma. Sedangkan yang sedang, biasanya perdarahan didahului trauma ringan. Hemofilia ringan umumnya tanpa gejala atau dapat terjadi perdarahan akibat trauma lebih berat. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan riwayat perdarahan, gejala klinik yang ditemukan, dan pemeriksaan laboratorium secara khusus. Apabila terjadi perdarahan pada penderita, misalnya di sendi, tindakan sementara yang dapat segera dilakukan ialah RICE. Jadi, sendi yang mengalami perdarahan diistirahatkan (Rest), dikompres es (Ice), ditekan/dibebat (Compression), dan ditinggikan (Elevation). Kemudian, dalam dua jam, sudah harus diberikan pengobatan komprehensif dengan memberikan faktor pembekuan yang kurang (faktor VIII atau IX). Faktor pembekuan diperoleh dari plasma beku segar, bagian dari plasma yang dibekukan, atau faktor yang dimurnikan. Tetapi, faktor-faktor ini mahal, khususnya yang dimurnikan. Obat yang dapat mengganggu pembekuan darah, seperti aspirin, tidak dibenarkan untuk penderita hemofilia. Penanganan hemofilia perlu dilakukan ahli terkait, seperti hematologi, tulang, transfusi darah, patologi klinik, fisioterapi, infeksi, gizi, psikoterapi, dan terapi okupasional. Dengan penanganan yang baik, penderita merupakan sumber daya manusia berkualitas dan produktif, sama seperti orang normal. Namun di Indonesia, penanganannya belum memuaskan sehingga cukup banyak penderita yang menderita cacat. Akibatnya, lapangan kerja bagi mereka sulit terbuka.

Penyebab tidak terlaksananya pengobatan secara baik karena asuransi kesehatan swasta tidak menyantuni penderita hemofilia ini. Maka, hemofilia memerlukan penanganan yang baik dan menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, bukan kalangan medical saja. Penulis: Djajadiman Gatot http://dr-anak.com/hemofilia.html

Penyakit darah
Hemofilia adalah gangguan di mana darah tidak membeku secara normal. Sementara gangguan darah biasanya hanya terjadi pada laki-laki, ada pengecualian langka di mana perempuan akan memilikinya.. Gejala hemofilia meliputi perdarahan (yang mungkin terjadi secara internal di sendi dan otot) dan memar. Pengobatan yang paling sering melibatkan terapi penggantian, di mana faktor pembekuan yang hilang pada orang dengan penyakit ini diganti.
Apakah hemofilia?
Hemofilia adalah jarang, perdarahan mewarisi kekacauan di mana darah tidak membeku secara normal. Orang yang mungkin berdarah untuk jangka waktu yang lebih lama cedera atau kecelakaan.). Orang dengan kelainan tersebut juga dapat berdarah secara internal, terutama pada sendi (seperti lutut, pergelangan kaki, dan siku). . Sekitar 18.000 orang di Amerika Serikat telah hemofilia, dan sekitar 400 bayi yang lahir setiap tahun dengan gangguan di Amerika Serikat Meskipun biasanya terjadi hanya pada laki-laki, ada pengecualian yang sangat langka di mana seorang perempuan akan memiliki kelainan darah. Orang dengan hemofilia memiliki masalah dengan protein tertentu dalam darah mereka, yang disebut faktor pembekuan. Hemofilia dapat terjadi jika ada tingkat rendah salah satu faktor pembekuan atau jika faktor pembekuan benar-benar hilang. . Ketika faktor pembekuan yang hilang, atau tubuh Anda tidak memiliki cukup faktor pembekuan, maka diperlukan waktu yang lama untuk darah untuk membeku setelah cedera atau kecelakaan.

Understanding Clotting and Clotting Factors Memahami faktor pembekuan dan penggumpalan darah
Cedera (seperti memotong) ke pembuluh darah menyebabkan rantai kompleks peristiwa yang akan menghasilkan gumpalan darah. pembekuan, yang juga dikenal sebagai koagulasi darah. Pembekuan adalah reaksi tubuh Anda untuk pendarahan untuk membuat Anda dari kehilangan darah terlalu banyakKehilangan darah terlalu banyak dapat mengancam kehidupan dan bisa merusak organ internal Anda. Faktor pembekuan adalah protein dalam darah yang bekerja dengan trombosit - fragmen sel darah kecil - untuk membantu darah untuk membeku. Ketika pembuluh darah rusak, faktor pembekuan membantu platelet plug tetap bersatu untuk memotong dan istirahat di tempat cedera.

. Pada orang dengan hemofilia, darah tidak membeku sebagaimana mestinya karena hilang atau tingkat rendah faktor pembekuan.. Jika ini terjadi, mungkin ada berat kehilangan darah atau jaringan tubuh terluka dan organ, yang dapat berakibat kerusakan permanen atau bahkan kematian.

http://blood.emedtv.com/blood/hemophilia-disease.html http://books.google.co.id/books?id=cv46oAFyQNgC&pg=PA382&dq=penyebab+penyakit+ hemofilia&hl=id&ei=943RS-v-GMwrAfCu5zvDQ&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CD0Q6AEwAw#v=on epage&q&f=false Kummar,mitchell.abas fausto.2009.Buku saku dasar Patologis Penyakit.Jakarta:EGC http://www.hemofilia.or.id/komplikasi.php

Pendarahan berlebihan
Besarnya perdarahan tergantung pada jenis dan beratnya hemofilia. Anak-anak yang telah hemofilia ringan mungkin tidak memiliki gejala kecuali mereka mengalami pendarahan yang berlebihan dari prosedur gigi, kecelakaan, atau pembedahan. Pria yang telah hemofilia berat dapat mengalami pendarahan berat setelah sunat. Pendarahan dapat terjadi pada permukaan tubuh (pendarahan eksternal) atau di dalam tubuh (pendarahan internal). Tanda-tanda perdarahan eksternal yang berlebihan meliputi:

Perdarahan dalam mulut dari luka atau gigitan atau dari pemotongan atau kehilangan gigi Mimisan tanpa alasan yang jelas Berat pendarahan dari luka kecil Pendarahan dari luka yang kembali setelah berhenti untuk waktu yang singkat

. Tanda-tanda pendarahan internal termasuk darah dalam urin (dari pendarahan pada ginjal atau kandung kemih) dan darah dalam tinja (dari pendarahan di usus atau perut).

Bleeding in the Joints Pendarahan di Sendi


Pendarahan di lutut, siku, atau sendi lain merupakan bentuk lain dari pendarahan internal umum pada orang yang memiliki hemofilia. Pendarahan ini dapat terjadi tanpa cedera jelas. Pada awalnya, pendarahan menyebabkan sesak pada sendi tanpa nyeri nyata atau terlihat tanda-tanda pendarahan. bersama kemudian menjadi bengkak, panas menyentuh, dan menyakitkan untuk membungkuk. Pembengkakan berlanjut sebagai pendarahan terus hilang. Akhirnya, gerakan dalam bersama untuk sementara. Nyeri dapat pendarahan parah. Bersama yang tidak cepat diobati secara permanen dapat merusak sendi.

Bleeding in the Brain Pendarahan di Otak Internal pendarahan di otak adalah komplikasi yang sangat serius dari hemofilia yang bisa terjadi setelah benjolan sederhana di kepala atau cedera serius lebih. Tanda-tanda dan gejala pendarahan di otak meliputi:

Tahan lama, menyakitkan sakit kepala atau nyeri leher atau kekakuan Muntah berulang Kantuk atau perubahan perilaku Mendadak kelemahan atau kejanggalan dari lengan atau kaki atau masalah berjalan Double visi Kejang atau kejang

http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/hemophilia/hemophilia_causes.html = trsl 1
Hemofilia A adalah tipe yang paling umum hemofilia. Ia juga dikenal sebagai defisiensi faktor VIII atau hemofilia klasik. Ini sebagian besar adalah gangguan warisan di mana salah satu protein yang dibutuhkan untuk membentuk gumpalan darah hilang atau berkurang. Pada sekitar 30% kasus, tidak ada riwayat keluarga gangguan dan kondisi adalah hasil dari mutasi gen spontan.

Kira-kira satu laki-laki 5.000 lahir di Amerika Serikat telah hemofilia. Semua ras dan kelompok ekonomi dipengaruhi sama. Ketika orang dengan hemofilia terluka, dia tidak berdarah lebih keras atau lebih cepat daripada orang tanpa hemofilia, ia berdarah lagi. luka kecil atau memar permukaan biasanya tidak menjadi masalah, tetapi luka lebih traumatis dapat mengakibatkan masalah serius dan cacat potensial (disebut "episode berdarah"). Ada berbagai tingkat hemofilia: ringan, sedang, dan berat: Orang dengan hemofilia ringan (6% sampai 49% level factor) biasanya memiliki masalah dengan pendarahan hanya setelah cedera serius, trauma, atau pembedahan. Dalam banyak kasus, hemofilia ringan tidak ditemukan sampai cedera atau pembedahan atau hasil ekstraksi gigi di perdarahan yang tidak biasa. Episode pertama tidak mungkin terjadi sampai dewasa. Orang dengan hemofilia sedang, sekitar 15% dari penduduk hemofilia, cenderung mengalami pendarahan episode setelah cedera. Mereka juga mungkin mengalami pendarahan kadang-kadang tanpa alasan jelas. Ini disebut "episode perdarahan spontan." Orang dengan hemofilia berat, sekitar 60% dari penduduk hemofilia, mengalami pendarahan berikut cedera dan mungkin sering mengalami episode perdarahan spontan, sering digunakan ke dalam sendi dan otot.

Semua orang mewarisi kromosom seks dua, X dan Y, dari orangtuanya. Seorang wanita mewarisi satu kromosom X dari ibunya dan satu kromosom X dari ayahnya (XX). Seorang laki-laki mewarisi satu kromosom X dari ibunya dan satu kromosom Y dari ayahnya (XY). Gen yang menyebabkan hemofilia terletak pada kromosom X.

Seorang wanita yang melahirkan anak dengan hemofilia sering memiliki saudara laki-laki lain yang juga memiliki hemofilia. Kadang-kadang, bayi akan lahir dengan hemofilia bila tidak ada riwayat keluarga yang dikenal. Ini juga berarti bahwa gen tersebut telah "tersembunyi" (yaitu, turuntemurun beberapa operator perempuan tanpa mempengaruhi setiap anggota keluarga laki-laki) atau perubahan pada kromosom X yang baru (mutasi "spontan"). Ada empat hasil yang mungkin untuk bayi seorang wanita yang carrier. Keempat kemungkinan yang berulang untuk setiap dan setiap kehamilan: 1. Seorang gadis yang tidak carrier 2. Seorang gadis yang carrier 3. Seorang anak laki-laki tanpa hemofilia 4. Seorang anak laki-laki dengan hemofilia Dengan setiap kehamilan, seorang wanita yang pembawa memiliki kesempatan 25% dari mempunyai anak dengan hemofilia. Karena ayah kromosom X menentukan bayi akan menjadi gadis, semua anak-anak perempuan manusia dengan hemofilia akan menjadi pembawa. Tidak ada anakanaknya, yang ditentukan oleh sang ayah lewat kromosom Y-nya, akan memiliki hemofilia.

konseling genetik tersedia di HTCs paling. Para profesional ini memiliki informasi untuk membantu Anda membuat keputusan keluarga berencana. Secara umum, pemotongan kecil dan goresan diperlakukan dengan bantuan reguler pertama-: bersih dipotong, lalu menerapkan tekanan dan band-aid. Individu dengan hemofilia ringan dapat menggunakan produk darah yang disebut non-desmopressin asetat (DDAVP) untuk mengobati pendarahan kecil. Deep luka atau pendarahan internal, seperti pendarahan ke dalam sendi atau otot, memerlukan perawatan lebih kompleks. Faktor pembekuan hilang (VIII atau IX) harus diganti sehingga anak dapat membentuk bekuan untuk menghentikan pendarahan. Beberapa produk faktor yang dibuat dari produk darah manusia seperti disumbangkan plasma. Lainlain, yang disebut "faktor rekombinan," dibuat di laboratorium dan tidak menggunakan produk darah manusia. Kedokteran dan Dewan Penasehat Ilmiah Nasional Yayasan hemofilia mendorong penggunaan produk rekombinan faktor pembekuan karena mereka lebih aman. Dokter atau Anda HTC akan membantu Anda memutuskan yang tepat untuk Anda. Semua perlakuan faktor yang disuntikkan atau infus langsung ke dalam pembuluh. Dalam kasus hemofilia parah, dokter kadang merekomendasikan memberikan perawatan penggantian rejimen faktor reguler (disebut terapi profilaksis) untuk mencegah perdarahan episode sebelum terjadi. Kedokteran dan Dewan Penasehat Ilmiah Nasional Yayasan hemofilia merekomendasikan profilaksis sebagai terapi yang optimal untuk anak-anak dengan hemofilia berat A dan B.

Beritahu dokter atau HTC jika anak Anda tidak menanggapi faktor dosis biasa. Pada kasus yang jarang, orang dapat mengembangkan inhibitor, untuk faktor perlakuan standar. Dalam hal ini terjadi, dokter Anda atau HTC akan bekerja dengan Anda untuk mengembangkan rencana perawatan khusus. http://www.hemophilia.org/bdi/bdi_types1.htm

Pada penderita hemofilia A, aktivitas FVIII atau kadar FVIII-nya rendah bahkan sangat rendah sehingga mereka mudah mengalami perdarahan. Gejala utama hemofilia adalah perdarahan berulang yang disertai dengan rasa nyeri. Perdarahan dapat terjadi di seluruh tubuh termasuk di susunan saraf pusat namun paling sering terjadi di persendian dan otot. Perdarahan berulang dapat menyebabkan kecacatan dan perdarahan tertentu dapat berakibat fatal (1,2). Berdasar pada gejala klinik maupun kadar FVIII dalam darah, hemofilia A diklasifikasi menjadi hemofilia A ringan, hemofilia A sedang, dan hemofilia A berat

Angka kejadian hemofilia A adalah 1 dari 5000 kelahiran bayi laki-laki. Hal ini disebabkan oleh mekanisme penurunan hemofilia A yang bersifat X-linked dan tingginya laju mutasi pada gen FVIII yang berkisar antara 2,5 x 10-5 sampai dengan 4,2 x 10-5 (3). Hemofilia sekunder atau acquired hemophilia karena autoimun merupakan mekanisme yang berbeda, seringkali idiopatik, dan sangat jarang terjadi dengan insiden 0,2-1 kasus dari 1 juta populasi per tahun (4,5). Manajemen modern terhadap hemofilia meliputi: comprehensive care (pelayanan terpadu dari berbagai disiplin ilmu) (6,7), replacement therapy (6,7), home therapy / terapi mandiri (6,7), diagnosis prenatal dan konseling genetik (6,8), serta yang sekarang sedang diupayakan yaitu terapi gen (9). Manajemen yang adekuat terhadap penderita hemofilia memungkinkan penderita hemofilia hidup produktif dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti berolah raga, bersekolah, berumah tangga dan bekerja. Replacement Therapy Replacement therapy atau terapi penggantian adalah memberikan FVIII bagi penderita hemofilia A. Strategi pemberian replacement therapy adalah on-demand (replacement therapy diberikan pada saat terjadi perdarahan) atau prophylaxis (replacement therapy diberikan secara rutin walaupun tanpa episode perdarahan, bersifat mencegah perdarahan) (2). Pada awalnya, berbagai upaya digunakan untuk pengobatan hemofilia A, dari adrenalin sampai serum binatang atau serum manusia. Selanjutnya, setelah diketahui bahwa pengobatan untuk penderita hemofilia A adalah transfusi untuk menggantikan faktor yang hilang, maka dimulailah era modern pengobatan hemofilia. Mula-mula penderita hemofilia A diberi replacement therapy berupa darah segar (7,10). Setelah ditemukan metode untuk memisahkan sel darah dengan plasma, dan sitras sebagai anti pembekuan darah, maka bagi penderita hemofilia A diberikan komponen darah Fresh Frozen Plasma (FFP) (6). Perkembangan teknologi transfusi selanjutnya memungkinkan penderita hemofilia A mendapat transfusi yang lebih rasional yaitu dengan ditemukannya kriopresipitat oleh Judith Pool tahun 1965 (2,6,10). Kriopresipitat diperoleh dengan cara mencairkan FFP pada suhu 40C. Pada proses pencairan, ada bagian yang mengendap. Bagian yang mengendap ini (dinamakan kriopresipitat) ternyata banyak mengandung protein faktor VIII, faktor von Willebrand (VWF), dan fibrinogen (2,10). Kriopresipitat dipisahkan sebagai komponen darah tersendiri, dan diberikan sebagai replacement therapybagi penderita hemofilia A. Melalui proses penyadapan darah dan manufaktur yang baik, dalam satu kantong kriopresipitat pada umumnya terkandung 80 unit FVIII (2). Informasi tentang volume per kantong kriopresipitat dan kandungan FVIII per kantong kriopresipitat dapat diperoleh dari unit transfusi darah yang memproduksinya. Kriopresipitat disebut juga komponen darah Anti-Haemophilic Factor (AHF). Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi perubahan besar dalam pemberian replacement

therapy bagi penderita hemofilia A. Hal ini disebabkan teknologi manufaktur komponen FVIII telah berubah dari kriopresipitat menjadi konsentrat FVIII. Konsentrat FVIII merupakan olahan lebih lanjut dari kriopresipitat sehingga FVIII tersajikan dalam bentuk bubuk dengan cairan pelarut bervolume kecil. Teknologi konsentrat FVIII, dibandingkan dengan kriopresipitat, menyebabkan risiko syok anafilaktik sangat terkurangi karena banyak protein yang tidak diperlukan oleh penderita hemofilia A dapat disingkirkan. Sebelum tahun 1970, teknologi pemurnian konsentrat FVIII dilakukan pada tingkat madya (intermediate purity), setelah itu konsentrat FVIII dibuat dengan tingkat pemurnian yang lebih tinggi(11). Kandungan FVIII bervariasi antara 250 unit sampai 1000 unit atau lebih dalam setiap kemasannya, namun informasi ini tertulis pada setiap kemasan. Dipacu oleh perkembangan biologi molekular dan aplikasinya di bidang bioteknologi, FVIII ada yang diperoleh melalui teknologi rekombinan (rFVIII atau rAHF). Cara memproduksinya adalah dengan menyisipkan gen FVIII manusia ke sel bakteri, sel jamur, sel tanaman, atau sel hewan. Dari segi proses produksi, sel hewan mamalia merupakan sel yang paling memadai. Sel yang telah disisipi oleh gen FVIII manusia kemudian memproduksi faktor VIII, dan setelah mencapai jumlah tertentu maka FVIII yang diproduksi tersebut dipanen / dikumpulkan (12,13). Kandungan rFVIII tertulis pada setiap kemasan. Dari aspek pemakaian plasma terdapat dua jenis rFVIII yaitu rFVIII (memakai plasma dalam proses produksinya) dan rAHF-PFM (Plasma/Albumin-Free Method atau tidak memakai plasma dalam proses produksinya) (14). Faktor VIII dari replacement therapy terdistribusi di sirkulasi dalam hitungan menit, kemudian terjadi keseimbangan antara FVIII di plasma dan ruang ekstravaskular. Fase ini disebut equilibration phase (fase keseimbangan). Selama fase keseimbangan, umumnya dalam empat jam pertama, kadar FVIII dalam plasma menjadi setengah dari yang diberikan. Setelah fase keseimbangan, kadar FVIII yang tersisa di plasma turun pula kadarnya sesuai dengan laju katabolismenya. Fase ini disebut catabolic phase (metabolic phase/fase katabolik). Fase keseimbangan dan katabolik menggambarkan waktu paruh dalam plasma, yang berkisar antara 12 jam atau kurang (2). Gen dan protein FVIII Faktor VIII diproduksi oleh berbagai jenis sel, terutama hepatosit. Gen FVIII terletak di ujung lengan panjang kromosom X (Xq28), tersusun atas 186 kb pasangan basa dan mengandung 26 ekson (3). FVIII disintesis sebagai satu rantai glikoprotein yang sangat panjang dengan struktur domain NH2-A1-A2-B-A3-C1-C2-COOH. Molekul FVIII matur tersusun atas 2332 asam amino dengan urutan domain A1 (residu 1-336), domain A2 (residu 373-710), domain B (residu 741-1648), domain A3 (residu 1690-2019), domain C1 (residu 2020-2172), dan domain C2 (residu 2173-2332). Domain a1, a2, dan a3 merupakan acidic region, masing-masing di domain A1, A2, dan A3 (gambar 1) (15,16). Tabel Klasifikasi dan Gejala Hemofilia Klasifikasi Gejala Kadar FVIII Hemofilia A berat Perdarahan spontan tanpa ada penyebab berupa trauma atau tindakan operatif. Perdarahan spontan dapat terjadi pada saat < 0,01 unit / ml plasma melakukan aktivitas sehari-hari. Pada umumnya ditemukan pada usia dini

bahkan kurang dari satu tahun. Hemofilia A sedang Perdarahan yang sukar / tidak dapat berhenti pada trauma atau tindakan operatif. Pada umumnya terdeteksi pada saat ekstraksi gigi atau operasi minor seperti sirkumsisi. 0,01 0,05 unit / ml plasma

Hemofilia A ringan Perdarahan yang sukar / tidak dapat 0,051 -0,39 unit / ml berhenti pada trauma atau tindakan operatif plasma yang lebih berat. Faktor VIII beredar di sirkulasi dalam bentuk heterodimer rantai berat dan rantai ringan. Rantai berat / terminal N yaitu A1-a1-A2-a2-B mempunyai Mr bervariasi dari 90 sampai dengan 210 kDa. Rantai ringan / terminal C yaitu a3-A3-C1-C2 mempunyai Mr 80 kDa. Kedua rantai ini dihubungkan oleh jembatan ion metal (Gambar 1) (17). Gambar 1: Gambar skematik protein FVIII

A. Faktor VIII matur tersusun atas 2332 asam amino dengan urutan domain A1 (residu 1336), a1 (residu 337-372), domain A2 (residu 373-710), a2 (residu 711-740), domain B (residu 741-1648), a3 (residu1649-1689), domain A3 (residu 1690-2019), domain C1 (residu 2020-2172), dan domain C2 (residu 2173-2332). Domain a1, a2, dan a3 merupakan acidic region, masing-masing di domain A1, A2, dan A3. Faktor von Willebrand berikatan dengan FVIII di rantai ringan B. Faktor VIII di sirkulasi beredar dalm bentuk heterodimer rantai berat (A1-a1-A2-a2-B) dan rantai ringan (a3-A3-C1-C2) yang dihubungkan dengan jembatan ion metal. Berat molekul rantai berat 90-21 kDa dan berat molekul rantai ringan 80 kDa. Faktor VIII berikatan dengan VWF di rantai ringan. (Dirangkum dari kepustakaan no 17,19,20,21) Faktor VIII di sirkulasi berikatan secara non-kovalen dengan faktor von Willebrand / von Willebrand Factor (VWF). Faktor von Willebrand adalah protein yang diproduksi oleh sel endotel (3). In vitro, 1 molekul VWF dapat berikatan dengan 1 molekul FVIII dengan afinitas yang tinggi (Kd = 0,2-0,4 nmol/L). In vivo, karena jumlah FVIII terbatas maka rasio dapat mencapai 1: 50 (1 molekul FVIII berikatan dengan 50 molekul VWF) (18,19). Faktor von Willebrand berfungsi menstabilisasi FVIII agar tidak segera didegradasi oleh enzim proteolitik dalam plasma, atau dengan kata lain VWF memperpanjang waktu paruh FVIII (3,17). Faktor von Willebrandberikatan dengan FVIII di rantai ringan (gambar 1) (20). Peranan Faktor VIII Faktor VIII berperanan dalam jenjang koagulasi pada jalur intrinsik. Bila ada perdarahan FVIII teraktivasi menjadi FVIIIa, dan berfungsi sebagai kofaktor dari FIXa untuk

meningkatkan kemampuan FIXa dalam mengaktivasi FX menjadi FXa. Faktor VIIIa dan FIXa membentuk kompleks dengan bantuan ion Ca2+ dan fosfolipid (gambar 2) (20,21). Faktor VIIIa adalah FVIII yang telah terpisahkan dari VWF, berubah bentuk menjadi heterotrimer, dan domain B dilepaskan. Heterotrimer terdiri dari dimer pada rantai berat dan monomer pada rantai ringan. Rantai ringan dan rantai berat dihubungkan dengan jembatan ion metal Ca 2+ (gambar 2) (20,21). Enzim yang mengaktivasi FVIII adalah FIIa (trombin) dan FXa. Lepasnya VWF berarti hilangnya efek perlindungan terhadap FVIII sehingga makin memudahkan FVIIIa untuk berikatan dengan FIXa (3,17,20,21). Faktor VIII yang telah teraktivasi berarti berada pada akhir dari siklus hidupnya karena segera didegradasi oleh berbagai enzim proteolitik dan dikeluarkan dari sirkulasi (clearance) (3). Inhibitor pada Penderita Hemofilia A dengan Replacement Therapy Replacement therapy dapat menimbulkan komplikasi yang berat dan sangat meningkatkan biaya perawatan serta pengobatan. Komplikasi tersebut adalah terbentuknya inhibitor atau antibodi terhadap FVIII yang diberikan (22). Laporan pertama tentang inhibitor terhadap FVIII adalah pada tahun 1941. Inhibitor FVIII ini ditemukan dalam darah penderita hemofilia yang mendapat transfusi berulang kali. Enam tahun kemudian, Craddock dan Lawrence mengajukan teori bahwa antikoagulan tersebut, demikian istilah yang mereka pakai saat itu, sesungguhnya adalah antibodi terhadap FVIII dari replacement therapy. Dengan cara mencampur darah penderita hemofilia dengan darah individu sehat pada berbagai perbandingan, para peneliti berhasil melakukan pemeriksaan yang bersifat semikuantitatif terhadap inhibitor FVIII. Dengan elektroforesis dipastikan pula bahwa protein tersebut termasuk fraksi gamaglobulin. Pada tahun 1959 diperkenalkan metode Oxford yang bersifat pemeriksaan kuantitatif, dan didapatkan bahwa antibodi terhadap FVIII tersebut dominan IgG4 (23). Inhibitor terhadap FVIII adalah aloantibodi (antibodi yang terbentuk terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh). Benda asing dalam hal ini adalah FVIII eksogenus atau FVIII dari replacement therapy. Inhibitor terhadap FVIII dapat pula merupakan autoantibodi namun tidak tercakup dalam tulisan ini. Inhibitor bersifat menetralisasi FVIII dari replacement therapy sehingga replacement therapy tersebut menjadi tidak efektif. Kecurigaan terhadap timbulnya inhibitor muncul bila perdarahan tidak dapat diatasi dengan dosis biasa replacement therapy (24,25). Berdasar pada keberadaannya, inhibitor FVIII diklasifikasikan menjadi persistenst inhibitor dan transient inhibitor. Persistent inhibitor berarti dalam tubuh penderita tersebut senantiasa terdapat inhibitor. Transient inhibitor berarti ada episode tidak ditemukan inhibitor dalam pemeriksaan (16). Pemeriksaan kuantitatif untuk inhibitor FVIII adalah Uji Bethesda. Prinsip dari Uji Bethesda adalah mencampurkan normal pooled plasma (plasma dari beberapa individu normal) sebagai sumber FVIII, dengan plasma dari penderita hemofilia yang dicurigai terdapat inhibitor. Setelah dicampurkan, dilakukan inkubasi selama dua jam pada suhu 370C. Pada akhir masa inkubasi dilakukan lagi pemeriksaan kadar FVIII dalam campuran. Satu BU (1 BU) didefinisikan sebagai inhibitor FVIII yang menginaktifkan setengah dari jumlah awal kadar FVIII dalam normal pooled plasma. Selain Uji Bethesda cara lain untuk mendeteksi kadar

inhibitor adalah dengan Nijmegen modification assay (24). Penderita hemofilia A dengan persistent inhibitor diklasifikasikan lagi menjadi low responder dan high responder. International Society on Thrombosis and Haemostasis (ISTH) merekomendasikan bahwa high responder adalah mereka dengan kadar inhibitor > 5 BU/ mL plasma dan low responder < 5 BU/mL plasma (16). Pada high responder terdapat anamnestic response bila diberikan replacement therapy sehingga terjadi refraktorines yang signifikan terhadap replacement therapy tersebut. Perdarahan menjadi sulit dikontrol atau dihentikan. Pada low responder seringkali tidak terdapat gejala yang signifikan terhadap replacement therapy (16,24). Penderita hemofilia A dengan transient inhibitor pada umumnya kadar inhibitornya tidak tinggi, dan secara spontan inhibitor hilang dalam waktu beberapa bulan tanpa adanya perubahan dalam strategi penatalaksanaan (16,24). Lower limit dengan Uji Bethesda umumnya adalah 0,6 BU dan 0,4 BU dengan Nijmegen modification assay (26). Inhibitor dikategorikan de novo bila (i) sebelumnya, pasien tidak mempunyai riwayat inhibitor atau reaksi anamnestik terhadap replacement therapy (ii) pasien mempunyai riwayat membentuk inhibitor namun dengan titer pada low baseline inhibitor level (26). Kurun waktu pembentukan inhibitor sering dideskripsikan dalam exposure days (ED), yaitu jumlah hari selama FVIII diberikan ditambah dengan jumlah hari selama FVIII dihentikan sebelum pemberian berikutnya. Dari pengalaman klinik didapatkan ED adalah 50 100 hari (26). Dalam epidemiologi tentang inhibitor, prevalensi menggambarkan jumlah penderita hemofilia dengan long-standing inhibitor. Prevalensi tidak mencakup penderita hemofilia dengan jenis transient inhibitor yang regresi secara spontan, penderita yang telah menjalani immune tolerance induction sehingga inhibitornya telah tereliminasi, dan mereka yang meninggal. Insiden adalah jumlah kasus baru / jumlah penderita hemofilia yang baru membentuk inhibitor dalam jangka waktu tertentu misalnya satu tahun. Dalam studi di klinik, yang lebih sering dilaporkan adalah observed incidence yaitu jumlah penderita hemofilia dengan inhibitor selama studi dilakukan (26). Insiden penderita hemofilia A berat yang membentuk inhibitor dalam beberapa tahun pertama hidupnya, dilaporkan dalam jumlah yang bervariasi yaitu 10-50% (umumnya 20-30%). Angka prevalensi lebih rendah yaitu 10-20%. Angka insiden dapat meningkat karena pemeriksaan makin sering dilakukan (24). Gambar 2: Gambaran skematik peranan FVIII dalam jenjang koagulasi

A. Faktor VIII di sirkulasi yang masih berikatan dengan VWF. B. Pada jenjang koagulasi jalur intrinsik, FVIII teraktivasi menjadi FVIIIa. Faktor VIIIa adalah FVIII yang telah terbebas dari VWF, dan berfungsi sebagai kofaktor bagi FIXa untuk meningkatkan kemampuan FIXa dalam mengaktivasi FX menjadi FXa. Faktor Xa dan FIIa yang terbentuk, berfungsi untuk mengaktivasi FVIII menjadi FVIIIa. C. Faktor VIIIa, selain tidak berikatan lagi dengan VWF juga berubah bentuk menjadi heterotrimer dan domain B dilepaskan. Heterotrimer terdiri dari dimer pada rantai berat dan monomer pada rantai ringan. Rantai ringan dan rantai berat dihubungkan dengan jembatan ion metal Ca 2+. (Dirangkum dari kepustakaan no 20,21) Terdapat dua tipe kinetika inhibitor FVIII yaitu tipe 1 dan tipe 2. Inhibitor tipe 1 (type 1 kinetics atau simple kinetics) menetralisasi FVIII secara lengkap dan sesudah itu menetralisasi dirinya sehingga tidak bereaksi dengan FVIII dari replacement therapy berikutnya.

Gambar 3: Gambar skematik mekanisme terbentuknya inhibitor FVIII

Pembentukan inhibitor FVIII bersifat T-cell dependent. Sel yang terlibat antara lain Antigen Presenting Cells (APC), limfosit TH CD4+ , dan limfosit B. Faktor VIII yang berasal dari replacement therapy (exogenous FVIII / FVIII eksogenus) berikatan dengan reseptornya di permukaan APC. Sesudah endositosis, dalam APC, protein FVIII yang merupakan rangkaian panjang asam amino dipotong melalui proses proteolitik menjadi rangkaian-rangkaian pendek asam amino. Rangkaian pendek asam amino ditransfer kembali ke permukaan membran APC dan dipresentasikan ke limfosit TH CD4+ melalui molekul MHC kelas II. Rangkaian pendek asam amino ini merupakan antigen bagi limfosit TH CD4+, yang diikat melalui reseptornya (TCR). Dalam proses ini diperlukan ko-stimulator yaitu ikatan antara B7.1(CD80) dan B7.2(CD86) dengan CD28, untuk memaksimalkan aktivitas TH CD4+ dan merangsang produksi sitokin. Sitokin kemudian berikatan dengan reseptornya (CK-R), dan memberikan rangsangan bagi

gen respon imun serta molekul ko-stimulator di permukaan limfosit B maupun T. Meningkatnya aktivitas sitokin dan molekul ko-stimulator serta interaksi antara CD40 dan CD40L menginduksi limfosit B untuk berproliferasi, berdiferensiasi menjadi sel plasma dan sel memori, serta memproduksi antibodi. Aktivitas limfosit TH dihambat oleh ikatan antara cytotoxic T-lymphocyte antigen 4 (CTLA4) dengan molekul B7 di permukaan APC. (Dirangkum dari kepustakaan no 28,30) Sebagian besar penderita hemofilia A membentuk inhibitor tipe ini. Inhibitor tipe 1 bersifat dose-dependent linear fashion (makin tinggi kadarnya, makin cepat menetralisir FVIII). Inhibitor tipe 2 (type 2 kinetics atau complex kinetics) menetralisasi FVIII secara tidak lengkap, dan sesudah itu tidak menetralisasi dirinya sehingga masih mempunyai kemampuan untuk menetralisasi FVIII dari replacement therapy berikutnya. Inhibitor tipe 2 lebih umum ditemukan pada autoantibodi daripada aloantibodi (24,27). 1. Epitop inhibitor FVIII Epitop adalah bagian antigen yang dikenali / berikatan dengan antibodi. Ikatan antara inhibitor FVIII dengan epitop (asam amino) tertentu di FVIII akan menghambat aktivitas FVIII. Dari berbagai studi didapatkan bahwa lokasi epitop bervariasi pada domain A2, A3, acidic region, dan C2 (20). Dengan adanya inhibitor pada lokasi fungsional dalam protein FVIII maka aktivitas FVIII terhambat. Antibodi yang menempati lokasi ikatan (binding site) antara FVIII dan FIX menyebabkan FIX tidak dapat berikatan dengan FVIII sehingga aktivitas FIX dalam mengaktivasi FX tidak adekuat. Antibodi yang menempati lokasi ikatan antara FVIII dan trombin menyebabkan trombin tidak dapat mengaktivasi FVIII. Ikatan FVIII dengan fosfolipid dan lepasnya VWF dari FVIII dapat pula terhalangi oleh inhibitor (20). 2. Mekanisme terbentuknya inhibitor Pembentukan inhibitor FVIII bersifat T-cell dependent. Sel yang terlibat antara lain Antigen Presenting Cells (APC), limfosit TH CD4+ , dan limfosit B Faktor VIII yang berasal dari replacement therapy (exogenous FVIII / FVIII eksogenous) berikatan dengan reseptor di permukaan APC. Sesudah endositosis, protein FVIII yang merupakan rangkaian panjang asam amino (polipeptida) dipotong melalui proses proteolitik menjadi rangkaian-rangkaian pendek asam amino (peptida). Rangkaian pendek asam amino ditransfer kembali ke permukaan membran APC dan dipresentasikan ke limfosit TH CD4+ melalui molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II atau disebut juga Human Leucocyte Antigen (HLA) kelas II. Rangkaian pendek asam amino ini merupakan antigen bagi limfosit TH CD4+, yang diikat melalui reseptornya (TCR). Dalam proses ini diperlukan ko-stimulator yaitu ikatan antara B7.1(CD80) dan B7.2(CD86) dengan CD28, untuk memaksimalkan aktivitas TH CD4+ dan merangsang produksi sitokin. Sitokin kemudian berikatan dengan reseptornya (CK-R), dan memberikan rangsangan bagi gen respon imun serta molekul kostimulator di permukaan limfosit B maupun T. Meningkatnya aktivitas sitokin dan molekul ko-stimulator serta interaksi antara CD40 dan CD40L menginduksi limfosit B untuk berproliferasi, berdiferensiasi menjadi sel plasma dan sel memori, serta memproduksi antibodi. Aktivitas limfosit TH dihambat oleh ikatan antara cytotoxic T-lymphocyte antigen 4 (CTLA4) dengan molekul B7 di permukaan APC (gambar 3) (27,28). Dari sebuah studi di Inggris (belum dipublikasikan) didapatkan bahwa inhibitor paling

banyak terbentuk pada dekade pertama kehidupan, insiden makin kecil pada dekade kedua, ketiga, dan keempat. Yang paling kecil insidennya pada dekade keenam. Diperkirakan bahwa penyebab terbentuknya inhibitor pada awal kehidupan berbeda dengan yang terbentuk pada periode berikutnya. Inhibitor yang muncul pada awal pemberian replacement therapy mungkin berkaitan dengan intoleransi primer (primary intolerance), sedangkan inhibitor yang muncul setelah replacement therapy jangka panjang berkaitan dengan gagalnya mekanisme toleransi (29). 3. Faktor Risiko Terbentuknya Inhibitor Mengapa ada yang membentuk inhibitor sementara yang lainnya tidak, belum diketahui dengan pasti. Beberapa faktor risiko yang telah dipelajari antara lain: a. Berat ringannya hemofilia Selama ini telah diketahui bahwa inhibitor paling banyak ditemukan pada penderita hemofilia A berat dibandingkan dengan hemofilia A sedang atau ringan. Inhibitor terhadap replacement therapy terjadi pada sekitar 25%-30% penderita hemofilia A berat, dan 5% pada penderita hemophilia A sedang dan ringan (30). b. Riwayat keluarga Risiko membentuk inhibitor makin meningkat secara signifikan pada penderita hemofilia yang mempunyai riwayat keluarga membentuk inhibitor. Pada observasi yang dilakukan oleh Astermark dkk pada 388 keluarga menunjukkan bahwa pada yang mempunyai riwayat keluarga membentuk inhibitor, 48% penderita hemofilia membentuk inhibitor. Pada yang tidak memiliki riwayat keluarga membentuk inhibitor, 15% yang membentuk inhibitor. Dari Malmo International Brother Study (MIBS) didapatkan bahwa pada mereka yang mempunyai kakak laki-laki penderita hemofilia dan membentuk inhibitor, relative risk (RR) terbentuknya inhibitor adalah 3,2. Cox-Gill melaporkan bahwa insiden terbentuknya inhibitor makin tinggi pada saudara kandung (50%), dibandingkan dengan yang lebih jauh hubungan kekerabatannya (9%) (28,29,30). c. Ras dan Etnis Dari meta-analisis terhadap tiga penelitian pada penderita hemofilia yang belum pernah diterapi, Scharrer dkk secara jelas menunjukkan adanya pengaruh ras terhadap terbentuknya inhibitor. Pada bangsa Afrika, insiden penderita hemofilia berat membentuk inhibitor, dua kali lebih tinggi daripada Kaukasian (51,9% vs 25,8%). Data serupa dilaporkan oleh Astermark et al melalui MIBS (28,30). d. Tipe Mutasi Gen Faktor FVIII Penderita hemofilia dengan tipe mutasi yang menyebabkan tidak adanya FVIII di sirkulasi sehingga menimbulkan fenotipe hemofilia berat (null mutations, large deletion, inversions, dan nonsense mutations), lebih berisiko membentuk inhibitor (28,30). Selain tipe mutasi, nampaknya risiko terbentuknya inhibitor berkaitan dengan lokasi mutasi. Penderita hemofilia dengan nonsense mutations yang terjadi di rantai ringan berisiko lebih tinggi membentuk inhibitor dibandingkan dengan yang terjadi di rantai berat (28). e. Molekul Major Histocampatibility Complex (MHC) Antigen Presenting Cells (APC) mempresentasikan antigen kepada limfosit TH CD4+ melalui molekul MHC kelas II. Antigen atau peptida yang terikat pada molekul MHC tergantung pada kesesuaian bentuk dan rangkaian asam aminonya dengan struktur molekul

MHC tersebut. Beberapa studi menghubungkan antara risiko terbentuknya inhibitor dengan struktur molekul MHC. Diharapkan, dengan diketahuinya struktur MHC pada penderita hemofilia A yang membentuk inhibitor kemungkinan diketahui bentuk peptida dari FVIII eksogenous yang berisiko memicu terbentuknya inhibitor (28,30). Oldenburg dkk dan Hay dkk menunjukkan bahwa MHC kelas II DR15 dan DQB0602 sering ditemukan pada mereka yang membentuk inhibitor daripada yang tidak membentuk inhibitor, sehingga struktur ini dikatakan risk allele dengan Relative Risk (RR) 2,2 dan 3,7. MHC kelas II DR13 dan DQB0603 jarang ditemukan pada mereka yang membentuk inhibitor dan sering ditemukan pada yang tidak membentuk inhibitor, sehingga struktur ini dikatakan protective allele dengan RR 0,1. Penelitian kohort mereka dilakukan pada penderita hemofilia A dengan tipe mutasi intron 22 inversions (30). Meskipun demikian sampai saat ini belum ditemukan korelasi antara struktur molekul MHC kelas II dengan risiko terbentuknya inhibitor (28,30). f. Usia saat pertama kali diberikan replacement therapy. Insiden terbentuknya inhibitor lebih tinggi pada mereka yang mendapat replacement therapy sebelum berusia 6 bulan. Sebuah studi di Spanyol mendapatkan bahwa insiden terbentuknya inhibitor pada mereka yang pertama kali mendapatkan replacement therapy pada usia kurang dari 6 bulan, usia 6-12 bulan, dan 1 tahun lebih adalah sebesar 41%, 29%, dan 12%. Meskipun demikian, masih diperlukan studi yang lebih komprehensif yang melibatkan faktor genetik seperti tipe mutasi gen untuk mengetahui korelasi antara insiden terbentuknya inhibitor dengan usia saat pertama kali replacement therapy diberikan (28,29). g. Immune system challenges Secara teoritis, kondisi yang mengaktivasi sistem imun berpotensi memicu terbentuknya inhibitor. Beberapa kondisi ini antara lain infeksi, imunisasi yang membutuhkan replacement therapy untuk pertama kali, serta pembedahan dan perdarahan hebat sehingga sistem imun tubuh terpapar oleh berbagai molekul yang bersifat imunogenik. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut dalam hal ini (28,31). h. Jenis konsentrat Pada tahun 1990-an, pada saat FVIII dari teknologi rekombinan diperkenalkan, timbul kejadian luar biasa di Belanda, Jerman, dan Belgia berupa terbentuknya inhibitor. Pengalaman ini mengindikasikan bahwa modifikasi dalam proses manufaktur berpotensi memicu pembentukan inhibitor. Meskipun demikian masih diperlukan studi kohort dengan desain yang lebih komprehensif terhadap hal ini, seperti melibatkan tipe mutasi gen dan faktor lainnya (16). Pada produk FVIII yang diperoleh dari plasma, VWF yang terikat pada FVIII masih ada. Ini menyebabkan produk FVIII dari plasma belum dapat sepenuhnya digantikan oleh FVIII rekombinan, karena belum dapat disingkirkan kemungkinan pasien mendapat keuntungan dari VWF yang bersifat imunosupresif / mencegah timbulnya inhibitor (16,28). i. Pemberian faktor VIII antenatal dan pemberian ASI Masih sangat sedikit studi tentang pemberian FVIII in utero pada janin yang telah diketahui menderita hemofilia dengan risiko terbentuknya inhibitor, karena sulitnya investigasi dilakukan. Tentang pemberian ASI, Yee yang pertama kali mengusulkan bahwa pemberian ASI berkemungkinan mereduksi insiden terbentuknya inhibitor karena pemberian ASI menginduksi oral tolerance. Knobe dkk melakukan survei terhadap 100 pasien dengan 19 di antaranya membentuk inhibitor. Dari survei ini belum didapatkan efek protektif pemberian

ASI. Santagostino dkk dan Goudemand dkk, melalui penelitiannya, juga belum menemukan pengaruh dari pemberian ASI (29). j. Intensitas dan cara pemberian replacement therapy Replacement therapy yang dilakukan secara intensif berkemungkinan menjadi faktor risiko terbentuknya inhibitor FVIII pada penderita hemofilia A ringan / sedang. Duapertiga kasus inhibitor terjadi setelah pemberian replacement therapy yang intensif karena diperlukan saat pembedahan atau trauma. Terapi profilaksis sejak dini diperkirakan mempunyai efek protektif. Santagostino dkk mendapatkan secara signifikan bahwa penderita hemofilia yang diberi terapi profilaksis sebelum berusia 35 bulan lebih jarang membentuk inhibitor dibandingkan dengan mereka yang diberi terapi profilaksis setelah usia tersebut (29).

Sumber: Hemofilia dalam Gambar Replacement therapy secara continuous infusion juga dievaluasi hubungannnya dengan pembentukan inhibitor walaupun masih diiperlukan studi lebih lanjut. Secara teoritis, waktu kontak dengan plastik selang infus yang makin lama, waktu penyimpanan yang makin lama, atau paparan dengan sistem imun yang makin lama, berpotensi mengubah antigenitas FVIII (22,28).

F. Replacement therapy pada penderita hemofilia A dengan inhibitor The International Consensus Conference on Inhibitor Treatment in Hemophilia A and B yang diadakan di Cambridge, Massachusetts pada 24-26 Maret 2006 bertujuan untuk memformulasikan rekomendasi tentang penatalaksanaan penderita hemofilia A yang membentuk inhibitor. Respon terhadap replacement therapy pada penderita hemofilia yang membentuk inhibitor, sangat bersifat individual oleh karena itu tidak dapat dibuat rekomendasi secara umum namun disepakati bahwa penderita hemofilia yang membentuk inhibitor dan dalam episode perdarahan, harus segera di terapi. Penderita hemofilia yang

membentuk inhibitor merupakan kasus khusus sehingga penderita sebaiknya dirawat di sentra kesehatan yang mempunyai fasilitas dan kemampuan untuk menangani hal tersebut. Penderita hemofilia yang membentuk inhibitor dengan deep tissue bleeding termasuk hematoma otot, memerlukan terapi profilaksis sesudah perdarahan sampai dengan terjadinya kesembuhan jaringan (31). Pilihan replacement therapy dalam menanggulangi inhibitor antara lain (i) menggunakan bypassing agent yaitu Prothrombin Complex Concentrates (PCC), activated PCC (aPCC), dan recombinant activated FVIIa (rFVIIa) (32,33) (ii) replacement therapy dengan konsentrat FVIII dosis tinggi (32) (iii) Immune Tolerance Induction (ITI) (34). ITI merupakan upaya untuk mengeliminasi respon anamnestik dari mereka yang high-responder sehingga farmakokinetika FVIII menjadi normal kembali (34). Berbagai pertimbangan pada manajemen hemofilia, menimbulkan pemikiran untuk memproduksi FVIII dengan waktu paruh yang lebih panjang. Modifikasi protein FVIII dengan cara mengkonjugasikannya dengan polyehtylene glycol (PEG) polymer atau PEGylation merupakan salah satu cara untuk mencapai hal tersebut, namun masih diperlukan studi lebih lanjut tentang farmakokinetika maupun pengaruhnya terhadap cost-therapy dan peranannya dalam mereduksi perdarahan (35). Besarnya FVIII yang dibutuhkan menimbulkan pemikiran untuk mencari sumber FVIII yang lebih banyak dan terjangkau harga produksinya. Salah satu alternatif yang sekarang sedang dipelajari adalah memperoleh FVIII dari susu hewan transgenik (milk transgenic livestock). Berdasar pada volume susu yang dihasilkan, karakteristik sel kelenjar susu, serta kedekatan aspek biomikia dan fisiologi dengan manusia, maka saat ini yang dipakai sebagai hewan transgenik adalah babi (36). http://www.hemofilia.or.id/artikel.php?col_id=4&coldtl_id=39 Faktor VIII diproduksi oleh berbagai jenis sel, terutama hepatosit. Gen FVIII terletak di ujung lengan panjang kromosom X (Xq28), tersusun atas 186 kb pasangan basa dan mengandung 26 ekson
Faktor VIII adalah suatu glikoprotein yang dibentuk di sel sinusoidal hati. Produksi F VIII dikode oleh gen yang terletak pada kromosom X. Di dalam sirkulasi F VIII akan membentuk kompleks dengan faktor von Willebrand. Faktor von Willebrand adalah protein dengan berat molekul besar yang dibentuk di sel endotel dan megakariosit. Fungsinya sebagai protein pembawa F VIII dan melindunginya dari degradasi proteolisis. Di samping itu faktor von Willebrand juga berperan pada proses adhesi trombosit. Faktor VIII berfungsi pada jalur intrinsik system koagulasi yaitu sebagai kofaktor untuk F IXa dalam proses aktivasi F X (lihar skema koagulasi). Pada orang normal aktivitas faktor VIII berkisar antara 50 150%. Pada hemofilia A, aktivitas F VIII rendah. Faktor VIII termasuk protein fase akut yaitu protein yang kadarnya meningkat jika terdapat kerusakkan jaringan, peradangan, dan infeksi. Kadar F VIII yang tinggi merupakan faktor resiko trombosis. Faktor IX adalah faktor pembekuan yang dibentuk di hati dan memerlukan vitamin K untuk proses pembuatannya. Jika tidak tersedia cukup vitamin K atau ada antagonis vitamin K, maka yang terbentuk adalah protein yang mirip F IX tetapi tidak dapat berfungsi. Gen yang mengatur sintesis F IX juga terletak pada kromosom X. Faktor IX berfungsi pada jalur intrinsik system koagulasi yaitu mengaktifkan faktor X menjadi Xa (lihat skema koagulasi). Nilai rujukan aktivitas F IX berkisar antara 50 150%. Aktivitas F IX yang rendah bisa dijumpai pada hemofilia B, defisiensi vitamin K, pemberian antikoagulan oral dan penyakit hati.

Diagnosis Hemofilia Diagnosis hemofilia dibuat berdasarkan riwayat perdarahan, gambaran klinik dan pemeriksaan laboratorium. Pada penderita dengan gejala perdarahan atau riwayat perdarahan, pemeriksaan laboratorium yang perlu diminta adalah pemeriksaan penyaring hemostasis yang terdiri atas hitung trimbosit, uji pembendungan, masa perdarahan, PT (prothrombin time - masa protrombin plasma), APTT (activated partial thromboplastin time masa tromboplastin parsial teraktivasi) dan TT (thrombin time masa trombin). Pada hemofilia A atau B akan dijumpai pemanjangan APTT sedangkan pemerikasaan hemostasis lain yaitu hitung trombosit, uji pembendungan, masa perdarahan, PT dan TT dalam batas normal. Pemanjangan APTT dengan PT yang normal menunjukkan adanya gangguan pada jalur intrinsik sistem pembekuan darah. Faktor VIII dan IX berfungsi pada jalur intrinsik sehingga defisiensi salah satu dari faktor pembekuan ini akan mengakibatkan pemanjangan APTT yaitu tes yang menguji jalur intrinsik sistem pembekuan darah.

Diagnosis Banding Hemofilia A Untuk membedakan hemofilia A dari hemofilia B atau menentukan faktor mana yang kurang dapat dilakukan pemeriksaan TGT (thromboplastin generation test) atau dengan diferensial APTT. Namun dengan tes ini tidak dapat ditentukan aktivitas masing - masing faktor. Untuk mengetahui aktivitas F VIII dan IX perlu dilakukan assay F VIII dan IX. Pada hemofilia A aktivitas F VIII rendah sedang pada hemofilia B aktivitas F IX rendah. Selain harus dibedakan dari hemofilia B, hemofilia A juga perlu dibedakan dari penyakit von Willebrand, Karena pada penyakit ini juga dapat ditemukan aktivitas F VIII yang rendah. Penyakit von Willebrand disebabkan oleh defisiensi atau gangguan fungsi faktor von Willebrand. Jika faktor von Willebrand kurang maka F VIII juga akan berkurang, karena tidak ada yang melindunginya dari degradasi proteolitik. Di samping itu defisiensi faktor von Willebrand juga akan menyebabkan masa perdarahan memanjang karena proses adhesi trombosit terganggu. Pada penyakit von Willebrand hasil pemerikasaan laboratorium menunjukkan pemanjangan masa perdarahan, APTT bisa normal atau memanjang dan aktivitas F VIII bisa normal atau rendah. Di samping itu akan ditemukan kadar serta fungsi faktor von Willebrand yang rendah. Sebaliknya pada hemofilia A akan dijumpai masa perdarahan normal, kadar dan fungsi faktor von Willebrand juga normal.

Kesimpulan Hemofilia merupakan kelainan pembekuan darah yang diturunkan secara X-linked recessive. Dikenal 2 macam hemofilia yaitu hemofilia A karena defisiensi F VIII dan hemofilia B dengan defisiensi faktor IX. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat perdarahan, gambaran klinik dan pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan hemostasis penyaring dijumpai APTT memanjang sedang semua tes lain memberi hasil normal. Untuk membedakan hemofilia A dengan hemofilia B dapat dikerjakan pemerikasaan TGT atau diferensial APTT, tetapi dengan tes ini tidak dapat ditentukan aktivitas F VIII atau IX. Untuk mengetahui aktivitas masing masing faktor perlu dilakukan assay F VIII dan F IX. Hemofilia A juga perlu dibedakan dari penyakit von Willebrand karena penyakit ini dapat dijumpai aktivitas F VIII yang rendah. Untuk membedakannya dilakukan pemeriksaan masa perdarahan dan pemeriksaan terhadap faktor von Willebrand.

http://www.hemofilia.or.id/artikel.php?col_id=4&coldtl_id=2

Pencegahan

Hindari trauma Hindari mengkonsumsi obat-obatan yang mempengaruhi kerja trombosit yang berfungsi membentuk sumbatan pada pembuluh darah, seperti asam salisilat, obat antiradang jenis nonsteroid, ataupun pengencer darah seperti heparin. Kenakan tanda khusus seperti gelang atau kalung yang menandakan bahwa ia menderita hemofilia.

Hal ini penting dilakukan agar ketika terjadi kecelakaan atau kondisi darurat lainnya, personel medis dapat menentukan pertolongan khusus.