Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS KEANDALAN TRAFO DAYA 500 KV PADA SISTEM TRANSMISI PT. PLN P3B JAWA BALI BERDASAR SWEEP FREQUENCY RESPONSE ANALYSIS (SFRA) DENGAN METODE STOKASTIK

Dendi Pramana, I.G.N Satriyadi H ,ST.,MT., Dr.Eng. I Made Yulistya Negara, ST., M.Sc Program Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Gedung B dan C Sukolilo Surabaya 60111 Telp. 031-5947302, 5994251 s/d 54 pswt. 1206, 1239 Fax. 031-5931237

Abstrak :

PT. PLN P3B Jawa Bali sebagai perusahaan milik negara harus memenuhi standar operasi peralatan pendukung kinerjanya. Salah satu peralatan yang mempunyai peranan sangat penting dalam sistem transmisi tenaga listrik adalah transformator daya. Kegagalan pada transformator daya sering kali menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem transmisi. Oleh karena itu, perlu diketahui kondisi dari transformator daya. Kondisi transformator tersebut dapat diketahui dengan melakukan pegujian Sweep Frequency Response Analysis. Dari pengujian yang telah dilakukan, selanjutnya dianalisis sehingga didapatkan keadaan dari transformator tersebut. Setelah kondisi transformator diketahui, dapat diperkirakan keandalannya dengan mengaplikasikan sistem predictive maintenance. Sistem tersebut sangat berhubungan dengan keandalan dari peralatan tenaga listrik.

Pengaplikasian metode stokastik digunakan untuk mengetahui keandalan dari transformator daya. Salah satu metode stokastik yang dapat digunakan untuk menganalisis keandalan transformator daya adalah metode Poisson. Metode Poisson merupakan metode sederhana dari metode Markov. Selain itu, keandalan transformator juga dapat diketahui dengan memperhitungkan Forced Outage Rate dari transformator tersebut. Jika keandalan peralatan dapat diketahui, maka PT. PLN P3B Jawa Bali dapat mempertahankan kualitasnya sebagai pemasok energi listrik terbesar se-Jawa Bali.

Kata

Predictive

Outage Rate

kunci

:

Sweep

Maintenance,

Frequency

Metode

Response

dan

Analysis,

Forced

Poisson,

1. PENDAHULUAN

Sistem transmisi Jawa Bali merupakan sistem transmisi yang menanggung beban tertinggi di Indonesia. PT. PLN (Persero), sebagai satu satunya perusahaan milik negara yang menyediakan listrik, harus memenuhi standar operasi unit unit pendukung kinerjanya. Dalam hal ini, keandalan unit unit peralatan transmisi PT. PLN, khususnya sistem interkoneksi PT. PLN P3B JB, harus

Proceeding Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

menjadi prinsip dasar yang wajib dipenuhi untuk menjaga kontinyuitas sistem kelistrikan Indonesia. Namun, hal tersebut telah terabaikan dikarenakan terbatasnya dana dan kemampuan manusia. Keterbatasan tersebut dapat diatasi dengan mengaplikasikan predictive maintenance. Sistem ini dapat mengurangi faktor human error pada saat terjadi gangguan. Salah satu penyebab gangguan adalah kerusakan dan kegagalan pada transformator daya 500 kV. Transformator merupakan peralatan listrik yang penting karena berhubungan langsung dengan saluran transmisi dan distribusi listrik. Gangguan pada transformator dapat mengakibatkan terbakarnya transformator dan juga turunnya kinerja transformator. Oleh karena itu, perawatan dan pendeteksian kerusakan transformator perlu dilakukan secara rutin agar transformator bisa bekerja sesuai dengan masa pemakaian maksimumnya.

2.

TRANSFORMATOR DAYA DAN RESPON FREKUENSI

2.1.

Karakteristik Material Transformator [7]

Secara umum transformator terdiri dari dua komponen penyusun, yakni material dielektrik, yang menyusun sistem isolasi transformator, yaitu isolasi cair (minyak transformator, askarel, dan silicon) dan isolasi padat (kertas kraft, pressboard, kayu, dan produk selulosa lainnya), dan material magnetik, yang terdiri dari belitan (winding) dan inti (core).

yang terdiri dari belitan ( winding ) dan inti ( core ). Gambar 2.1. Bagian Material

Gambar 2.1. Bagian Material Magnetik dan Dielektrik Transformator

1

Gambar 2.2. Rangkaian Ekivalen RLC Transformator 2.2. Definisi Fungsi Transfer Respon Frekuensi Fungsi transfer secara

Gambar 2.2. Rangkaian Ekivalen RLC Transformator

2.2. Definisi Fungsi Transfer Respon Frekuensi

Fungsi transfer secara umum didefinisikan sebagai representasi matematika dari hubungan antara input dan output sistem linear-time invariant dengan kondisi mula nol. Untuk sistem linear, fungsi transfer tidak tergantung sinyal input yang diberikan dan fungsi transfer menggambarkan karakteristik sistem. Fungsi transfer dapat dinyatakan dalam respon frekuensi, yang merupakan respon fasa dan magnitude terhadap frekuensi. Respon frekuensi fungsi transfer dapat ditentukan melalui pengukuran respon fasa dan magnitude dengan eksperimen.

pengukuran respon fasa dan magnitude dengan eksperimen. Gambar 2.3. Diagram Blok Fungsi Transfer Sweep frequency

Gambar 2.3. Diagram Blok Fungsi Transfer Sweep frequency merupakan metoda langsung untuk menentukan respon frekuensi karena sinyal input dalam daerah frekuensi tertentu langsung diberikan pada alat yang diukur.

frekuensi tertentu langsung diberikan pada alat yang diukur. Gambar 2.4. respon metoda sweep frequency Penentuan

Gambar 2.4.

respon metoda sweep frequency

Penentuan

frekuensi

pada

Proceeding Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

3.

METODE PENGUKURAN KEANDALAN TRANSFORMATOR DAYA

3.1.

Sweep Frequency Response Analysis (SFRA)

Sweep Frequency Response Analysis Test (SFRA) adalah pengujian yang dilakukan 1 kali dalam 2 tahun untuk mengetahui kondisi inti dan belitan didalam transformator sehingga pengukuran SFRA sangat perlu dilakukan untuk menghindari adanya gangguan transfer daya pada trafo. Ada beberapa alasan sehingga harus dilakukan

pengujian SFRA, antara lain :

kualitas

Tahap

transformator daya

Terjadinya hubung singkat pada transformator

Adanya pengujian impulse pada transformator

Diketahui terdapat penurunan kinerja dari sistem tekanan mekanis kumparan

agar

pembuatan

diketahui

 

 

 

 

 

Terdapat tanda tanda gangguan sistem transportasi pada transformator daya

Telah terjadi perpindahan letak transformator

daya Telah terjadi perpindahan letak transformator Gambar 3.1. Proses Pengujian SFRA Secara garis besar ada

Gambar 3.1. Proses Pengujian SFRA Secara garis besar ada dua tipe pengukuran FRA:

1. Pengukuran open circuit

2. Pengukuran short circuit

1. Pengukuran open circuit 2. Pengukuran short circuit Gambar 3.2. Konfigurasi Pengukuran SFRA Pada peralatan

Gambar 3.2. Konfigurasi Pengukuran SFRA Pada peralatan Sweep Frequency Response

Analyzer terdapat 3 probe, yang terdiri dari :

1. Probe Output, dihubungkan ke terminal bushing netral pada belitan transformator konfigurasi Y dengan netral atau dihubungkan ke bushing fasa pada belitan konfigurasi Δ.

2. Probe Referensi, dihubungkan ke bushing yang sama dengan probe output. Probe ini akan bertindak sebagai acuan titik netral pengukuran.

3. Probe Input, sebagai probe yang mengalirkan

arus/tegangan sinusoidal ke fasa yang diukur. Sweep Frequency Response Analyzer akan menginjeksikan sinyal input dengan nilai tegangan yang kecil namun dengan frekuensi yang nilainya bervariasi

2

(antara 20 Hz - 2 MHz). Sweep Frequency Response Analyzer ini kemudian dihubungkan dengan komputer yang akan menampilkan respon frekuensi transformator pada display monitor.

respon frekuensi transformator pada display monitor. Gambar 3.3. Rangkaian ekivalen pengukuran SFRA Pada kabel

Gambar 3.3. Rangkaian ekivalen pengukuran SFRA Pada kabel pengukuran terdapat resistansi sebesar 50 ohm. Analyzer pada penelitian ini menampilkan kurva FRA dalam bentuk fungsi transfer (H(jω)) antara tegangan output dan input, yang ditampilkan dalam bentuk hubungan matematis :

input, yang ditampilkan dalam bentuk hubungan matematis : Gambar 3.4. Alat SFRA doble M5100 3.2. Analisis
input, yang ditampilkan dalam bentuk hubungan matematis : Gambar 3.4. Alat SFRA doble M5100 3.2. Analisis

Gambar 3.4. Alat SFRA doble M5100

3.2. Analisis Hasil Tes SFRA

Hasil yang didapatkan dari pengukuran SFRA kemudian dibandingkan dengan kondisi normalnya (tanpa gangguan). Referensi transformator keadaan normal dapat diperoleh dari:

1. Transformator baru atau pengujian pada beberapa tahun sebelumnya.

2. Transformator sejenis yang memiliki daya yang sama dan dengan merek yang sama (sister unit).

3. Fasa lainnya pada transformator yang sama untuk

pengujian kondisi antar fasa belitan. Gangguan dapat terdeteksi dengan menganalisis setiap tingkat frekuensi sesuai referensi transformator dalam keadaan normal, dimana perbedaan dengan pembanding maksimal +/- 3 dB (≤ +/- 3dB = baik ; > +/- 3dB = buruk).

Proceeding Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

Low frequency dominan pada frequency 10 Hz sampai 1kHz, biasanya range ini mendeteksi gangguan di inti trafo (frekuensi rendah) diantaranya :

a. Deformasi/kerusakan pada inti transformator

b. Gangguan magnetisasi pada inti

c. Hubung singkat pada belitan (intertrip short turn circuit)

d. Belitan terbuka (open winding)

short turn circuit) d. Belitan terbuka (open winding) Gambar 3.5. Contoh SFRA sebelum gangguan Gambar 3.6.

Gambar 3.5. Contoh SFRA sebelum gangguan

(open winding) Gambar 3.5. Contoh SFRA sebelum gangguan Gambar 3.6. Contoh SFRA setelah gangguan Middle frequency

Gambar 3.6. Contoh SFRA setelah gangguan

Middle frequency dominan pada frequency 1kHz

sampai 1MHz, biasanya range ini mendeteksi gangguan pada belitan trafo diantaranya :

a. Hoop buckling Gangguan yang terjadi akibat adanya pengendoran/benjolan pada belitan.

b. Axial Shift Gangguan yang terjadi akibat belitan bergeser/merenggang.

c. Kerusakan pada belitan utama atau tap belitan

d. Kerusakan pada struktur penjepit (clamping

structure) Pergeseran kurva pada frekuensi tinggi, 1 MHz 2 MHz menunjukkan adanya :

a. Pergeseran lead (ujung) belitan utama atau tap belitan

b. Terdapat tes penempatan ujung belitan

c. Perubahan formasi dalam belitan

3

3.3. Perhitungan Forced Outage Rate (FOR) Dalam menentukan keandalan peralatan tegangan

tinggi juga dapat ditentukan dengan cara memperhitungkan FOR, yaitu dengan cara membandingkan lamanya terjadi kerusakan pada peralatan dengan lamanya peralatan

tersebut

bekerja. Setelah itu, keandalan dapat ditentukan

dengan

berdasar hasil FOR tersebut. Bila dirumuskan

sebagai berikut :

hasil FOR tersebut. Bila dirumuskan sebagai berikut : Dimana : FOR FOH SH A = Keandalan
hasil FOR tersebut. Bila dirumuskan sebagai berikut : Dimana : FOR FOH SH A = Keandalan

Dimana :

FOR

FOH

SH

A = Keandalan

= Forced Outage Rate = Forced Outage Hours (jam) = Service Hours (jam)

3.4. Proses Poisson [10]

Fungsi laju kegagalan :

3.4. Proses Poisson [ 1 0 ] Fungsi laju kegagalan : Dimana :   : Probabilitas

Dimana

:

  : Probabilitas dalam t tertentu
 

:

Probabilitas dalam t tertentu

:

Perbandingan jumlah kegagalan dengan periode

0

Krian I - BBC Belitan 500 kV

 

-20

 
2005

2005

-13

-20   2005 -13 100 Hz

100

Hz

 

-26 -33 -33

-33

  -26 -33 500 Hz

500

Hz

 

-40

 
-40   5 kHz

5

kHz

 

-60

-60 50 kHz

50

kHz

 

-63 -67  500 kHz

  -63 -67 500 kHz

500

kHz

-80

   

-79

 

-100

 
-100   1.5 MHz

1.5

MHz

 

Krian III - Elin Belitan 500 kV

 

0

-5 -10 -10 1988 2006 2009 -28 -25 -25 -28 -28 -34 -45 -48 -48
-5
-10
-10
1988
2006
2009
-28 -25
-25 -28
-28 -34
-45
-48
-48
-57
-57
-59
-72
-78
-78
 
100 Hz

100

Hz

-20

-20 500 Hz

500

Hz

-40

-40 5 kHz

5

kHz

-60

-60 50 kHz

50

kHz

-80

-80 500 kHz

500

kHz

-100

-100 1.5 MHz

1.5

MHz

t

: Waktu yang diinginkan

Gangguan gangguan yang terjadi pada

1. Transformator I BBC, gangguan frekuensi

a. Pergeseran lead (ujung) belitan utama

n

: Jumlah kegagalan yang diinginkan

transformator tersebut. Gangguan tersebut adalah sebagai

3.5.

Korelasi [6]

berikut :

Bila terdapat dua buah kumpulan data x dan y, serta menyatakan rata rata dari data x dan menyatakan rata rata dari data y, maka korelasi antara x

tinggi :

atau tap belitan

dan y ditunjukkan dengan persamaan berikut :
dan y ditunjukkan dengan persamaan berikut :

Bila x dan y memiliki hubungan linier, maka nilai corr(x,y) bernilai = 1, sedangkan bila tidak memiliki hubungan maka nilai corr(x,y) adalah = 0. Nilai korelasi yang mendekati 1 menunjukkan kecenderungan kedua buah data memiliki hubungan linier.

4.

ANALISIS KEANDALAN TRAFO DAYA

4.1.

GITET Krian

Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi Krian mempunyai 3 set transformator daya dengan susunan tegangan yang sama pada sisi tengan tinggi dan rendahnya.

Dimana transformator I bermerek BBC (Brown Bovery

Company), transformator II bermerek A-BB (ASEA-Brown

Bovery), dan transformator III bermerek Elin.

Proceeding Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

b. Terdapat tes penempatan ujung belitan

c. Perubahan formasi dalam belitan

2. Transformator III Elin, gangguan di setiap range frekuensi pada 6 Mei 2006 :

a. Deformasi pada inti transformator

b. Deformasi pada belitan transformator

4.2. GITET Grati

Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi Grati hanya mempunyai 1 transformator daya 500 KV. Merek dari transformator di GITET Grati ini adalah Alsthom, namun merek pada transformator 1 fasa pada fasa R, yaitu GEC Alsthom. GITET Grati telah melakukan 2 kali pengujian SFRA pada transformator daya tersebut. Dimana pengujian I dilakukan saat kondisi baru (initial new) yaitu pada

tanggal 17 Januari 2007. Dan pengujian selanjutnya dilakukan dengan alasan pemeliharaan rutin yaitu pada tanggal 22 Nopember 2009.

4

Grati I - GEC Alsthom Belitan 500 kV 0 Hz 100 -12 2007 -12 -16
Grati I - GEC Alsthom Belitan 500 kV
0
Hz
100
-12
2007
-12 -16
2009
-20
-21
-21
-26
Hz
500
-40
5
kHz
--4647
--4747
-60
50
kHz
-65
kHz
500
-77
-80
MHz
1.5
-100

Paiton III - Siemens Belitan 500 kV

0

-20

-80

-100

2009 -17

2009 -17

-282009 -17 -44 -55 -52   -85

-44 -55 -52 -55 -52

-55 -52

 

-85

100 Hz

100

Hz

500 Hz

500

Hz

5 kHz

5

kHz

50 kHz

50

kHz

500 kHz

500

kHz

1.5 MHz

1.5

MHz

-40Hz 5 kHz 50 kHz 500 kHz 1.5 MHz -60 Gangguan – gangguan yang terjadi pada

-605 kHz 50 kHz 500 kHz 1.5 MHz -40 Gangguan – gangguan yang terjadi pada transformator

Gangguan gangguan yang terjadi pada transformator Alsthom GEC Alsthom tersebut. Gangguan terjadi pada fasa T pada tanggal 22 Nopember 2009 di batas frekuensi menengah dan frekuensi tinggi. Gangguan yang terjadi adalah :

a. Hoop buckling

b. Axial shift

c. Perubahan formasi pada ujung dan dalam belitan utama

4.3. GITET Paiton

Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi Paiton mempunyai 2 set transformator daya utama yang bermerek Elin dan A-BB (ASEA-Brown Bovery) dan 1 set transformator daya cadangan yang bermerek Siemens. Pengujian SFRA di GITET Paiton dilakukan sebanyak 1 kali untuk transformator Elin, 2 kali untuk transformator A-BB, dan 1 kali untuk transformator Siemens. Pengujian dilakukan dengan alasan transformator baru dan pemeliharaan rutin.

0

Paiton I - Elin Belitan 500 kV

 

2005

2005 100 Hz

100

Hz

-20

 
-20   500 Hz

500

Hz

-25500 kV   2005 100 Hz -20   500 Hz -40 5 kHz -46 -50 50

-40

-40 5 kHz

5

kHz

-46 -5050 kHz

-46 -50 50 kHz

50

kHz

-60

-60 500 kHz

500

kHz

 

-80

-67 -66-74

-74-67 -66

-80 -67 -66 -74 1.5 MHz

1.5

MHz

 

Paiton II - A-BB Belitan 500 kV

 

0

-6 2007 2009 -17 -20 -25 -33 -32 -38 -55 -56 -62 -64 -66
-6
2007
2009
-17
-20
-25
-33
-32 -38
-55
-56
-62
-64 -66
 
100 Hz

100

Hz

-20

-20 500 Hz

500

Hz

5 kHz

5

kHz

-40

 
50 kHz

50

kHz

-60

-60 500 kHz

500

kHz

1.5 MHz

1.5

MHz

-80

 

Terlihat bahwa tidak terdapat gangguan gangguan yang terjadi pada seluruh transformator di GITET tersebut. Meskipun terdapat perbedaan respon frekuensi, tetapi perbedaan tersebut dapat ditoleransi karena perbedaan yang terjadi tidak terlalu signifikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kondisi seluruh transformator di GITET Paiton dalam keadaan baik. Namun, dengan adanya hasil respon frekuensi yang tidak cukup baik, maka gangguan berpeluang besar akan terjadi pada pengujian selanjutnya.

4.4. GITET Kediri

Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi Kediri mempunyai 2 set transformator daya 500 KV dengan merek Elin dan Mitsubishi. Dimana susunan tegangan dari transformator tersebut adalah 500 KV untuk sisi tegangan tinggi (primer), 150 KV untuk sisi tegangan rendah (sekunder), dan 70 KV untuk sisi tegangan rendah (tersier). Di GITET Kediri, hanya transformator mitsubishi saja yang telah melakukan tes SFRA. Pengujian SFRA hanya dilakukan 1 kali untuk

kondisi initial new atau pengujian awal sebagai basis untuk perbandingan pengujian pengujian selanjutnya.

Kediri II - Mitsubishi Belitan 500 kV

0

-20

-40

-60

-80

2009

-282009 -44 -52 -55 -72 -67

-442009 -28 -52 -55 -72 -67

-52 -552009 -28 -44 -72 -67

-72 -672009 -28 -44 -52 -55 2009 -28 -44 -52 -55

100 Hz

100

Hz

500 Hz

500

Hz

5 kHz

5

kHz

50 kHz

50

kHz

500 kHz

500

kHz

1.5 MHz

1.5

MHz

Terlihat bahwa tidak terdapat gangguan gangguan yang terjadi pada seluruh transformator di GITET tersebut. kondisi transformator di GITET Kediri

dalam keadaan baik.

4.5. Perhitungan FOR Transformator Daya 500 KV

Perhitungan berdasarkan data kegagalan transformator dalam 8 tahun terakhir (1 Feburari 2002 31

Januari 2010) atau 70.080 jam. Dengan menggunakan

Proceeding Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

5

persamaan Force Outage Rate (FOR), maka dihasilkan nilai FOR dan keandalan transformator.

GITET

 

Trafo

FOR

Keandalan

GITET Krian

I

- BBC

0,0009

0,9991

III - Elin

0

1

GITET Grati

I - Alsthom

0,012

0,988

 

I

- Elin

0

1

GITET Paiton

II - A-BB

0,0016

0,9984

III - Siemens

0

1

GITET Kediri

II - Mitsubushi

0,0008

0,9992

4.6.

Prediksi

Keandalan

dengan

Perhitungan

Stokastik

Analisis ini menggunakan data histori kerusakan inti dan belitan pada transformator

Gardu Induk

 

Trafo

Tanggal kerusakan

keterangan

   

24/11/2004

gangguan

GITETKrian

I

- BBC

05/03/2005

hasil tes SFRA

 

20/05/2008

gangguan

 

III

- Elin

06/05/2006

hasil tes SFRA

GITETGrati

I - Alsthom/GEC Alsthom

08/01/2007

gangguan

22/11/2009

hasil tes SFRA

 

I

- Elin

06/03/2005

hasil tes SFRA

GITETPaiton

II - A-BB

18/10/2009

hasil tes SFRA

III - Siemens

- -

 

GITETKediri

II - Mitsubishi

- -

 
Dengan proses Poisson didapatkan probabilitas kerusakan untuk transformator. Perbandingan kurva untuk beberapa
Dengan proses Poisson didapatkan probabilitas
kerusakan untuk transformator. Perbandingan kurva untuk
beberapa transformator daya 500 KV dengan probabilitas
minimal 1 kerusakan selama 1 – 5 tahun.
A-BB GITET Paiton
Alsthom GITET Grati
BBC GITET Krian
1,00
0,80
0,7769 0,8466
0,6753
0,6321 0,7135
0,60
0,5276
0,5276
0,40
0,3935
0,3935 0,4647
0,3127
0,3127
0,20
0,2212
0,2212
0,1175
0,00
1
2
3
4
5

4.7. Korelasi Probabilitas Kerusakan dengan Hasil SFRA

ResponFrekuensi GITET Transformator LajuKerusakan( ) Frekuensi PerubahanRespon LamaWaktu(tahun) LajuPerubahan(∆)
ResponFrekuensi
GITET
Transformator
LajuKerusakan( )
Frekuensi
PerubahanRespon
LamaWaktu(tahun)
LajuPerubahan(∆)
100
Hz
-66,67
-3,7
500
HZ
200
11,11
5kHz
100
5,55
18
0,125
GITETKrian
Elin - 500 KV
50
kHz
-100
-5,55
500kHz
166,67
9,26
1.5MHz
-200
-11,11
rata-rata
5,56

Proceeding Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

GITET Krian Elin - 500 KV

300

 

200

 

100

 
100  
100  

0

 
0  

-100

100 Hz 500 HZ

100 Hz 500 HZ

5 kHz

50 kHz

50 kHz

500

1.5

-200

   

kHz

MHz

MHz

-300

 

Sesuai dengan perhitungan korelasi pada persamaan 3.10, nilai corr(∆, ) adalah 0.693133. Dimana laju perubahan respon frekuensi (∆) dari transformator daya

menunjukkan kecenderungan memiliki hubungan linier dengan laju kerusakan dari transformator tersebut ( ).

dengan laju kerusakan dari transformator tersebut ( ). 5. PENUTUP 5.1. Kesimpulan 1. Transformator
dengan laju kerusakan dari transformator tersebut ( ). 5. PENUTUP 5.1. Kesimpulan 1. Transformator

5.

PENUTUP

5.1.

Kesimpulan

1. Transformator daya 500 KV pada sistem transmisi Jawa Bali berada pada kondisi baik. Dari 7 set transformator yang telah dianalisis, hanya terdapat 3 set transformator yang pernah mengalami kerusakan saat pengujian Sweep Frequency

Response Analysis (SFRA). Selain itu, dari 11

pengujian yang dilakukan pada seluruh

transformator, hanya 3 kali pengujian terdeteksi kerusakan pada transformator tersebut. Secara keseluruhan, kerusakan tersebut terjadi pada belitan dari transformator.

2. Nilai keandalan transformator berdasarkan perhitungan Forced Outage Rate (FOR) dalam 8 tahun terakhir atau 70.080 jam berada dalam kondisi baik. Nilai FOR terbesar 0.012 dan nilai keandalan terkecil 0.988 untuk transformator Alsthom GEC Alsthom di GITET Grati.

3. Berdasarkan perhitungan dengan metode Poisson, transformator berada dalam kondisi baik. Peluang terjadinya kerusakan pada inti dan belitan transformator dalam 1 tahun ke depan, untuk keseluruhan transformator, sebesar 0.6321. Selain itu, peluang untuk masing masing transformator adalah kurang dari 0.32.

4. Dari perhitungan didapatkan korelasi sebesar 0.693133 yang berarti ada kecenderungan memiliki hubungan linier antara laju perubahan

respon frekuensi dan laju kerusakan pada suatu

transformator daya 500 KV.

5.2.

Saran

1. Karena keterbatasan data, maka hasil yang

didapatkan kurang akurat. Agar mendapatkan hasil analisis yang lebih akurat maka diperlukan data pengujian transformator yang lebih banyak sehingga mendekati dengan keadaan sebenarnya.

6

2. Perlu dilakukan pengujian SFRA dengan lebih sering oleh PT. PLN P3B Jawa - Bali, minimal sekali dalam 2 tahun, untuk mengetahui kondisi dari transformator daya sehingga keandalan dari transformator tersebut dapat dipertahankan.

3. Diperlukan pengujian lebih lanjut tentang aplikasi metode Poisson sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu metode yang dapat digunakan sebagai pendukung sistem predictive maintenance untuk mengetahui keandalan peralatan dalam suatu sistem tenaga listrik.

DAFTAR PUSTAKA

1. PT. PLN P3B Jawa Bali, “Resume Rapat Klarifikasi SCANFORX dan SIM T, PT. PLN, 30 Juni 2009.

2. PT. PLN P3B Jawa Bali, “Transformer Assessment Concept”, PT. PLN, 30 Juni 2009.

3. Hydroelectric Research and Technical Services

Group, “Facilities Instructions Standard and Techniques Volume 3 - 31, Transfomer Diagnostics”, United States Department of The Interior Bureau of Reclamation, United States, 2003.

4. Aradhana Ray, Sweep Frequency Response Analysis Training, Omicron , Jakarta, 2009.

5. IGN Satriyadi, I Made Yulistya N., Lailiyana Farida, “Analisis Kualitas Transformator Daya150 KV/70KV Di GI Banaran Berdasarkan HasilPengujian Isolasi Minyak Menggunakan Metode Stokastik”, Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri, ITS, Surabaya, 2009.

6. I Made Yulistya N., IGN Satriyadi, Shanti Aranda S., “Analisis Kualitas Saluran Kabel Distribusi 20 KV Akibat Partial Discharge Di PT. PLN (Persero) Distribusi Jaya Dan Tangerang Dengan Metode Oscillating Wave Test System”, Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri, ITS, Surabaya, 2008.

7. Suwarno, Donald Fransisco, “Teknik FRA (Frequency Response Analysis Untuk Diagnostik Pergeseran Belitan Transformator daya”, Program Studi Teknik Elektro Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, ITB, Bandung, 2008.

8. Zuhal, “Dasar Tenaga Listrik”. ITB Bandung, Bandung, 1991.

9. PT. PLN P3B Jawa - Bali, Data Hasil Pengujian Sweep Frequency Response Analysis, PT. PLN (Persero), 2010.

10. Anders , George J. ”Probability Concepts in Electric Power System”, Ontario Hydro Research Division, Kanada, 1989.

11. PT. PLN P3B Jawa - Bali, “Sweep Frequency Response Analysis, PT. PLN (Persero), 2010.

12. Charles Sweetser, Tony McGrail, “Sweep Frequency Response Analysis Transformer Applications”, Doble Engineering, 2003

Proceeding Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS RIWAYAT HIDUP PENULIS Nama : Dendi Pramana Tempat/Tanggal Lahir : Surabaya,

Nama : Dendi Pramana

Tempat/Tanggal Lahir :

Surabaya, 02 Oktober 1988

Agama : Islam

Nama Ayah : Agoes Priambodo

Nama Ibu : Ina Dijah Retnowulan

Riwayat Pendidikan :

SD Negeri Kertajaya XIII Surabaya ( 1994 2000)

SLTP Negeri 19 Surabaya ( 2000 2003 )

SMA Negeri 9 Surabaya ( 2003 2006 )

Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan mengambil bidang studi Teknik Sistem Tenaga.

Di samping mengikuti kuliah, penulis juga aktif dalam organisasi di Jurusan Teknik Elektro ITS. Penulis menjadi anggota Departemen Riset dan Teknologi Himatektro periode 2008 2009 dan pernah menjadi ketua IEE Expo 2009. Selain itu, penulis juga tercatat sebagai asisten laboratorium Teknik Tegangan Tinggi. Pada bulan Juni 2010, Penulis mengikuti seminar dan ujian Tugas Akhir di Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana teknik elektro.

7