Anda di halaman 1dari 7

Kelainan laring Kelainan laring dapat berupa kelainan congenital, peradangan, tumor lesi jinak serta kelumpuhan pita

suara. 1. kelainan congenital kelainan inidapat berupa laringomalasi, stenosis subglotik, selaput di laring, kista congenital, hemangioma dan fistel laringotrakeaesofagus. Pada bayi dengan kelainan congenital laring dapat menyebabkan gejala sumbatan jalan napas, suara tangisan melemah sampai tidak ada sama sekali, serta kadangkadang terdapat juga disfaia. a. Laringomalasia Kelainan ini sering ditemukan p0ada stadium awal ditemukan epiglottis lemah, sehingga pada waktu inspirasi epiglottis tertarik kebawahdan menutup rima glottis. Dengan demikian bila pasien bernafas,napasnya berbunyi (stridor). Stridor ini merupakan gejala awal, dapat menetap dan mungkin pula hilang timbul, ini disebabkan lemahnya ranga laring. Tanda sumbatan jalan napas dapat terlihat dengan adanya cekungan (retraksi) di daerah suprasternal, epigastrium, interkostal, dan supraklavikula. Bila sumbatan laring makin hebat, sebaiknya dilakukan intubasi endotrakea. Jangan dilakukan intubasi endotrakea. Jangan dilakukan trakeostomi, sebab sering kali laringomalasi deisertai dengan trakeomalasi. Orang tua pasien dinasehati supaya lekas datang kedokter bila terdapat peradangan di saluran nafas bagian atas, seperti pilek dan lain lain. b. Stenosis subglotik Pada daerah subglotik, 2-3 cm dari pita suara, sering terdapat penyempitan (stenosis). Kelainan yang dapat menyebabkan stenosis subglotis ialah : 1. penebalan jaringan submukosa dengan hiperplasia kelenjar mukus dan fibrosis 2. kelainan bentuk tulang rawan krikoid dengan lumen yang lebih kecil 3. bentuk tulang rawan krikoid normal dengan ukuran yang lebih kecil 4. pergeseran cincin trakhea pertama ke arah atas belakang ke dalam lumen krikoid gejala stenosis subglotik ialah stridor, dispnea, retraksi di suprasternal, epigastrium, interkostal serta subklavia. Pada stadium yang lebih berat akan

ditemukan sianosis dan apnea, sebagai akibat sumbatan jalan nafas, sehingga mungkin juga terjadi gagal pernafasan (respiratory sistress) terapi sianosis subglotis tergantung pada kelainan yang menyebabkannya. Pada umumnya terapi stenosis subglotis yang disebabkan oleh kelainan submukosa ialah dilatasi atau dengan laser CO2. stenosis subglotik yang disebabkan oleh kelainan bentuk tulang rawan krikoid dilakukan terapi pembedahan dengan melakukan rekonstruksi. c. selaput laring (laryngeal web) suatu selaput yang transparan (web) dapat tumbuh didaerah glotis, supraglotis atau subglotik. Selaput ini terbanyak tumbuh didaerah glotik (75%), subglotik (13%) dan supraglotik sebanyak (12%) terdapat gejala sumbatan laring, dan untuk terapinya dilakukan bedah mikro laring untuk membuang selaput itu dengan memahami laringoskop suspensi. d. kista kongenital kista sering tumbuh di pangkal lidah atau di plika ventrikularis. Untuk penanggulangannya adalah dengan mengangkat krista itu dengan bedah mikro laring. e. hemangioma hemangioma biasanya timbul didaerah subglotik. Sering pula disertai dengan hemangioma di tempat lain, seperti dileher. Gejalanya adalah terdapat juga gejala sumbatan larng. Terapinya adalah dengan bedah laser, kortikosteroid atau dengan obat-obat skleroting. f. fistel laringotrakea esofagal Kelainan ini terjadi karena kegagalan penutupan dinding posterior kartilago krikoid. Terdapat gejala penumonia, oleh karena aspirasi cairan dari esofagus, dan kadang- kadang terdapat juga gejala sumbatan laring. 2. peradangan laring dapat berupa laringitis akut atau laringitis kronis a. laringitis akut radang akut laring, pada umumnya merupakan kelanjutan dari rinifaring (common cold) . pada anak laringitis akut ini dapat menimbulkan

sumbatan jalan nafas, sedangkan pada orang dewasa tidak secepat pada anak. Etiologi Sebagai oenyebab radang ini adalah bakteri yang menyebabkan radang lokal atau virus yang menyebabkan peradangan sistemik. Gejala dan tanda Pada laringitis akut terdapat gejala umum, seperti demam, dedar (malaise), serta gejaa lokal, seeprti suara parau sampai tidak beruara sama sekali (afoni), nyeri ketika menelan atau berbicara, serta gejala sumbatan laring. Selain itu terdapat batuk kering dan lama kelamaan disertai dengan dahak kental. Pada pemeriksaan tampak mukosa hiperemis, membengkak terutama diatas bawah pitasuara. Biasanya terdapat juga tanda radang akut di hidung atau sinus paranasal atau paru. Terapi Istirahat berbicara dan bersuara 2-3 hari. Menghurupudara lembab. Menghindari asap rokok, makanan pedas, atau minum es. Antibiotika perlu diberikan apabila peradangan berasal dari paru permasangan pipa endotrakeal, trakeostomi. b. laringitis kronis sering merupakan radang kronis laring disebabkan oleh sinusutis kronis, deviasi septum yg berat, polip hidung atau bronkitis kronis. Mungkin juga disebabkan oleh peenyalahgunan suara(vocal abuse) seperti berteriak teriak atau biasa berbicara keras. Pada peradangan ini seluruh mukosa laring hiperemis dan menebal, dan kadang-kadang pada pemeriksaan patologik terdapat metaplasi skuamosa. Gejalanya adalah suara parau yang menetap, rasa tersangkut di tenggorokan, sehimgga pasien sering mendehem tanpa mengeluarkan sekret, karena mukosa yg menebal. Pada pemeriksaan tampak mukosa menebal, permukaannya tidak rata dan hiperemis. Bila terdapat daerah yg dicurigai menyerupai tumor, maka perlu dilakuakan biopsi.] Terapi yg penting adalah megobati peradangan di hidung, faring serta bronkus yang mungkin menjadi penyebab laringitis kronis itu. Pasien di minta untuk tidak banyak berbicara (vocal rest) c. laringitis kronis spesifik Yang termasuk dalam laringitis kronis spesifik adalah : faringitis tuberkulosis dan faringitis leutika.

c.1 . laringitis tuberkulosis penyakit ini hampir selalu sebahai alkohol akibat tuberkulosis paru2 sering kali setelah diberi pengobatan, tuberkuulosis parunya sembuh trtapi laringitis tuberkulosisnya menetap. Hal ini terjadi karena struktur mukosa laring yg sangat lekat pada kartilago serta vaskularisainya lebih lama. Patogenesis Infeksi kuman ke laring dapat terjadi melalui udara pernafasan, sputum yang mengandung kuman, atau penyebaran melalui alran darah atau limfa. Tuberkulosis dapat menimbulkan gangguan sirkulasi. Edema dapat timbul di fosa interaritenoid, kemudian ke aritenoid, plika vokalis, plika ventrikularis, epiglotis, serta terakhir ialah dengan subglotik. Gambaran klinis Secara klinis laringitis tuberkulosis terdiri dari 4 stadium, yaitu: 1. stadium infiltrasi 2. stadium ulserasi 3. stadium perikondritis 4. stadium pembentukan tumor 1. stadium infiltrasi yang pertama tama mengalami pembengkakan dah niperemis ialah, ,ukosa laring bagian posterior. Kadang2 pita suara terkena juga. Pada stadium ini mukosa laring berwarna pucat. Kemudian diaerah submukosa terbentuk tuberkel, sehingga mukosa tidak rata, tampak bintik-bintik yang berwarna kebiruan. Tuberkel itu makin memebesar, serta beebrapa mukosa diatasnya meregang. Pada suatu saat, karfena sangat meregang, maka akan pecah dan timbul ulkus. 2. stadium ulserasi Ulkus yang timbul pada akhir stadium infiltrasi membesar. Ulkus ini dangkal, dasarnya ditutupi oleh perkejuan, serta sangat dirasakan nyeri oleh pasien. 3. stadium perikondritis Ulkus makain dalam, sehingga mengenai kartilago laring, dan yang paling sering terkena ialah kartilago aritenoid dan epiglotis. Dengan demikian terjadi kerusakan tulang rawan, sehingga terbentuk nanah yang berbau, proses ini akan melanjut, dan membentuk sekuester (squester) . pada stadium ini keadaan umum pasien sangat buruk dan dapat meninggal dunia. Bila pasien dapat bertahan maka proses penyakit berlanjut dan masuk dalam stadium terakhir yaitu stadium fibrobuberkulosa.

4. stadium fibrotuberkulosa Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dari subglotik. Gejala klinis Tergantung pada stadiumnya, disamping itu terdapat gejala sebagai berikut : - rasa kering, panas dan tertekan di daerah laring - suara parau berlangsung berminggu minggu, sedangkan pada stadium lanjut dapat timbul afoni - hemoptosis - nyeri waktu menelan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan nyeri karena rdang lainnya, merupakan tanda yg khas. - Keadaan umum buruk - Pada pemeriksaan paru (secara klinis dan radiologik) terdapat proses aktif (biasanya pada stadium eksudatif atau pada pembentukan kaverne) Diagnosis banding 1. 2. 3. 4. laring luetika karsinoma laring aktinomikosis laring lupus vulgaris laring

diagnosis berdasarkan : 1. anamnesis 2. gejala dan pemeriksaan klinis 3. labolaturium 4. foto rontgen torax 5. laringoskopi langsung/tak langsung 6. pemeriksaan patologi anatomik terapi - obat anti tuberkulosis primer dan sekunder - istirahat suara prognosis

tergantung pada keadaan sosial ekonomi pasien, kebiasaan hidup sehat serta ketekunan berobat. Bila diagnosis dapat ditegakkan pada stadium dini maka prognosis baik. d. laringitis luetika Radang menahun ini jarang ditemukan. Seperti telah diuraikan dalam ilmu penyakit kulit kelamin terdapat 4 stadium lues. Dalam hubungan penyakit dilaring yang perlu dibicarakan ialah lues stadium tertier (ketiga) yaitu pada stadium pembentukan guma. Bentuk ini kadang-kadang menyerupai keganasan laring Gambaran klinik Apabila guma pecah, maka akan timbul ulkus. Ulkus ini mempunyai sifat khas, yaitu sangat dalam, bertepi dengan dasar yg keras, bewarna merah tua serta mengeluarkan eksudatyang bewarna kekuningan. Ulkus ini tidak menyebabkan nyeri dan menjalar sangat cepat, sehingga bila tidak terbentuk proses ini akan menjadi perikondritis. Gejala Suara parau dan batuk kronis. Disfagia timbul bila guma terdapat dekat introitus esofagus. Diagnosa ditegakkan selain dari pemeriksaan laringoskopik juga dengan pemeriksaan serologik Komplikasi Bila terjadi penyembuhan spontan dapat terjadi stenosis laring, karena terbentuk jaringan parut. Terapi penisilin dengan dosis tinggi pengangkatan sekuester bila terdapat sumbatan laring karena stenosis, dilakukan trakeostomi.

3. Lesi jinak laring a. nodul pita suara ( vocal neduler) kelainan ini biasanya disebabkan oleh penyalahgunaan suara dalam waktu lama, seperti pada seorang uru, penyanyi dan sebagainya.. kelainan ini disebut singers node terdapat suara parau, kadang-kadang disertai denga batuk. Pada pemeriksaan terdapt nodul di pita suara sebesar kacang bijau atau lebih kecil berwarna keputihan. Predileksi nodul terletak di sepertiga anterior pita suara dan sepertiga medial. Nodul biasanya bilateral banyak dijumpai

pada wanita dewasa muda. Diagnosis di tegakkandengan pemeriksan laring tak langsung/ langsung nodul tersebut terjadi akibat trauma pada mukosa pita suara karena pemakaian suara laring berlebihan dan dipaksakan. Untuk penanggulangan awal adalah istirahat biacra danterapi suara. Tindakan bedah mikro laring dilakukan apabila ada kecurigaan keganasan, atau lesi fibrotik. Nodul kemudian diperiksa patologik anatomik, gambaran patologiknya ialah epitel gepeng yg mengalami poliferassi dan sekitaknya terdapat jaringan yg mengalami kongesti. b. polip pitasuara polip pita usara biasanya bertangkai, pesi bias terletak di sepertiga anterior, sepertiga tengah bahkan seluruh suara. Biasanya unulateral, dapat terjadi pada segala usia umum nya orng dewasa gejlanya sama seperti pada nodul yaitu suara parau. Ternyata 2 jenis polip akibat mukid dan angiomatosa. c. kista pitasuara d. kelumpuhan pita saura