Anda di halaman 1dari 31

Analisis Hukum Kasus Praperadilan Penyitaan 12 Kontainer Kayu Olahan di Kabupaten Kubu Raya, Propinsi Kalimantan Barat

Oleh : Zenwen Pador (Probono Lawyer FLEGT, Jakarta) A. Posisi Kasus 1. Dinas Kehutanan Kubu Raya telah melakukan penyitaan terhadap 12 kontainer kayu olahan yang dibawa dengan tongkang dan ditarik oleh KM Bintang Kapuas III di Sungai Kapuas pada tanggal 14 Februari 2009 sekitar jam 21.00 WIB. 2. Kayu tersebut diduga illegal karena pembawa kayu tak bisa menunjukkan FAKO dan hanya menunjukkan NAKO (Nota Angkatan Kayu Olahan) dan foto copy SAL (Surat Angkutan Lelang) yang diterbitkan Dinas Kehutana Kabupaten Ketapang 3. Polhut Dinas Kehutanan Kubu Raya mengamankan kayu tersebut di gudang PT Alas Kusuma. 4. Untuk memperkuat tindakan PPNS membuat surat tanda terima penyitaan kayu dan berita acara penyitaan, tetapi orang yang dianggap bertanggungjawab terhadap kayu tersebut karena dia yang pertama kali menghadapi PPNS Dishut KKR menyatakan bukan pemilik dan bukan pula orang yang bertanggungjawab terhadap kayu tersebut (H.Robbi) menolak menandatangani Berita Acara. 5. PPNS membuat surat tanda terima penyitaan dan berita acara baru dengan tanggal dan tempat yang sama yang kemudian surat tersebut ditandatangani oleh Adi Anak Meh (Nakhoda Kapal) sebagai orang yang membawa kayu yang diduga illegal tersebut. 6. PPNS Diskut Kubu Raya kemudian meminta persetujuan PN Menpawah dan Ketua PN mengeluarkarkan surat persetujuan atas tindakan penyitaan tersebut. 7. Dishut Kehutanan Kubu Raya digugat praperadilan oleh Mulyadi, Direktur PT Maya Lestari Khatulistiwa yang mengaku sebagai pemilik kayu tersebut. Gugatan praperadilan dilakukan karena Dishut Kubu Raya dinilai telah melakukan penangkapan, pengeledahan dan penyitaan kayu tidak sesuai dengan KUHAP. 8. Dalam sidang praperadilan, hakim berkeyakinan bahwa penyitaan masuk dalam kewenangan praperadilan dan menilai bahwa terdapatnya dua surat tanda terima penyitaan dan berita acara penyitaan dala proses telah menimbulkan kepastian hukum dalam proses pengusutan tersebut 9. Berdasarkan pertimbangan tersebut Hakim Pra Peradilan kemudian menerima permohonan PT Maya sebagian dan menyatakan tindakan penyitaan yang dilakukan Dinas Kehutanan Kubu Raya tidak sesuai dengan KUHAP dan dalam putusannya Hakim Praperadilan memerintahkan termohon untuk mengembalikan 12 kontainer kayu olahan tersebut kepada pemohon (PT Maya Lestari Khatulistiwa) B. Pertanyaan Hukum 1. Apakah tindakan PT Maya Lestari Khatulistiwa yang mengangkut 12 kontainer kayu olahan dengan hanya dilengkapi oleh Nota Angkutan Kayu Olahan (NAKO) dan foto copy Surat Angkutan Lelang (SAL) adalah perbuatan yang berindikasi tinda pidana kehutanan atau bukan? 2. Apakah keyakinan hakim yang memutuskan bahwa penyitaan masuk dalam kewenangan praperadilan dan menilai bahwa tindak penyitaan oleh Dishutbun Kubu Raya telah sesuai dengan KUHAP? C. Analisis Hukum atas Penyitaan Menurut keterangan PT Maya Lestari Khatulistiwa (MLK) 12 kontainer kayu yang mereka bawa adalah hasil lelang yang telah mereka menangkan di kabupaten Ketapang. Bila benar demikian maka menurut pasal 13 ayat (11) Permenhut No.P.55/Menhut-II/2006 menegaskan bahwa setiap pengangkutan kayu hasil lelang temuan, sitaan atau rampasan wajib disertai bersama-sama dengan Surat Angkutan Lelang yang diterbitkan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota setempat dengan menggunakan blanko model DKB. 402. Selanjutnya Pasal 36 Permenhut yang sama menegaskan pengangkutan KB/KBK/KO/HHBK hasil lelang baik sekaligus maupun bertahap, wajib disertai dokumen angkutan berupa Surat Angkutan Lelang yang diterbitkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota berdasarkan risalah lelang sesuai jumlah kayu lelang yang akan diangkut.

Dengan demikian jelas bahwa untuk pengangkutan kayu hasil pelelangan apapun jenisnya baik kayu bulat maupun kayu olahan maka dokumen pengangkutannya adalah Surat Angkutan Lelang (SAL). Pertanyaan berikutnya adalah apakah ketika diperiksa, pihak pengangkut dapat menunjukkan SAL dimaksud. Berdasarkan informasi di lapangan, ketika diperiksa pihak pembawa angkutan hanya menunjukkan Nota Angkutan Kayu Olahan (NAKO) sebanyak 12 lembar untuk 12 kontainer kayu olahan yang diangkut dan foto copy Surat Angkutan Lelang (SAL). Dalam perkembangan selanjutnya, khususnya dalam pemeriksaan Pra Peradilan di Pengadilan Negeri (PN) Mempawah, kuasa hukum PT MLK kemudian dapat mengajukan dokumen SAL sebagai salah satu alat bukti. Pertanyaannya kemudian, kenapa pada saat diperiksa, pihak pengangkut tidak menunjukkan dokumen SAL yang asli, kenapa hanya foto copy yang ditunjukkan? Padahal kalau mengacu kepada pasal 13 ayat (11) Permenhut No.P.55/Menhut-II/2006 di atas, jelas disebutkan bahwa setiap pengangkutan kayu hasil lelang temuan, sitaan atau rampasan wajib disertai bersama-sama dengan Surat Angkutan Lelang yang diterbitkan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota setempat dengan menggunakan blanko model DKB. 402. Keberadaan SAL yang muncul kemudian secara hukum patut dipertanyakan. Dan masih perlu ditelusuri apakah SAL yang diajukan sama dengan foto copy yang sebelumnya ditunjukkan pada saat pemeriksaan awal oleh PPNS di lapangan. Dengan demikian tindakan awal yang dilakukan oleh PPNS Dinas Kehutanan Kabupaten Kubu Raya secara hukum dapat dibenarkan. Adanya indikasi yang meragukan tentang legal atau tidak legalnya kayu yang dibawa, maka sesuai kewenangannya penyidik dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai hukum acara yang berlaku diantaranya melakukan penyitaan terhadap barang yang dicurigai sebagai hasil atau berkaitan dengan tindak pidana. D. Analisis Hukum terhadap Praperadilan Pasal 1 ayat 10 KUHAP menegaskan bahwa Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini, tentang : a. sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka; b. sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan; c. permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan. Pasal 77 KUHAP kembali menegaskan bahwa pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai ketentuan tang diatur dalam undang-undang ini tentang : a. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; b. ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan. Selanjutnya pasal 79 menyebutkan permintaan pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya. Sedangkan permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntu umum atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadilan negeri dengan enyebutkan alasannya (Pasal 80 KUHAP). Selanjutnya permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitasi akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan atau akibat sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan diajukan tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya.

Bila dibandingkan ketentuan di atas dengan gugatan praperadilan yang diajukan oleh Mulyadi yang bertindak sebagai direktur PT Maya Lestari Khatulistiwa (MLK), ada beberapa pertanyaan yang dapat diajukan : 1. Dalam kapasitas apakah pemohon mengajukan gugatan praperadilan? Mengacu kembali kepada ketentuan di atas jelas disebutkan bahwa atas sah atau tidaknya penangkapan dan penahanan, permohonan praperadilan hanya dapat diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya. Atas dihentikannya penyidikan atau penuntutan, permohonan praperadilan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepntingan. Sedangkan permohonan praperadilan berupa tuntutan ganti kerugian dan atau rehabilitasi atas tidak sahnya penyidikan dan atau penuntutan atau atas sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh tersangka atau kuasanya atau oleh pihak ketiga yang berkepentingan. Perlu didudukan apakah ketiga permohonan praperadilan diajukan Mulyadi selaku direktur PT MLK sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik. Kalau sudah artinya bisa sebagai tersangka prmohonana praperadilan diajukan. Tetapi memang celah yang paling mungkin adalah permohonan praperadilan memang dapat diajukan paling tidak selaku pihak ketiga yang berkepentingan. 2. Apakah tindakan penyitaan oleh penyidik termasuk dalam kewenangan praperdilan? Dalam permohonan praperadilan diajukan atas tindakan penangkapan, penggeledahan dan penyitaan yang dilakukan oleh penyidik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kubu Raya. Dalam putusannya Hakim Praperadilan menilai bahwa penangkapan dan penggeledahan tidak terbukti dilakukan penyidik. Hakim menilai bahwa penyidik telah melakukan penyitaan yang tidak sesuai dengan KUHAP. Hingga kemudian PN Mempawah menerima sebagian permohonan praperadilan dan memerintahkan termohon untuk segera melepaskan 12 kontainer kayu yang mash disita tersebut. Bila mengacu kepada Bab X bagian kesatu KUHAP jelas bahwa permohonan praperadilan hanya dapat dimohonkan atas : a. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; b. ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan. Dengan demikian nampaknya pertimbangan hakim praperadilan tentang penangkapan dan penggeledahan sudah sesuai dengan KUHAP tetapi menyangkut penyitaan nampaknya hakim praperadilan telah salah menerapkan hukum. Dalam KUHAP jelas tidak disebutkan tindakan penyitaan sebagai salah satu alasan yang dapat dimohonkan dan juga termasuk kewenangan hakim praperadilan. Memang tersangka dapat mengajukan permohonan ganti kerugian dan atau rehabilitasi dalam praperadilan tetapi hal ini hanya dapat dilakukan seseorang yang perkaranya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan. Ketentuan ini berkaitan dengan pasal 95 ayat (1) KUHAP yang menyebutkan tersangka, terdakwa atau terpidana berhak menuntut ganti kerugian karena ditangkap, ditahan, dituntut dan atau diadili atau dikenakan tindakan lain, tanpa alasan yang berdasakan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan Ayat (2) pasal yang sama menyebutkan tuntutan ganti kerugian oleh tersangka atau ahli warisnya atas penangkapan atau penahanan serta tindakan lain tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orang atau hukum yang diterapkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan negeri, diputus di sidang praperadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 77. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa atas tindakan lain di luar penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penuntutan dapat dimohonkan praperadilan dengan tuntutan ganti kerugian tetapi dengan ketentuan bahwa tindakan lain tersebut berada dalam tahapan proses hukum yang sudah jelas, tetap dan final yaitu dihentikannya proses hukum atau hakim telah menyatakan bahwa tersangka tidak bersalah. Bila sudah jelas bahwa tindakan penyidikan atau penuntutan telah dihentikan dengan dikeluarkan surat penghentian penyidikan (SP3) dan kasusnya tidak diajukan ke pengadilan maka atas segala tindakan yang

dilakukan penyidik yang dinilai merugikan tersangka dapat dilakukan tuntutan ganti kerugian dalam permohonan praperadilan. Misalnya salah satu tindakan penyidik adalah melakukan penyitaan. Maka permohonan praperadian berupa tuntutan ganti kerugian dapat diajukan ke pengadilan negeri. Begitu juga apabila hakim telah memutus bahwa tersangka tidak bersalah dan putusannya telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka gugatan ganti kerugian dapat diajukan ke pengadilan negeri atas segala tindakan yang dialami oleh tersangka/terdakwa selama proses hukum sebelumnya. Menurut pasal 95 ayat (4) KUHAP sedapat mungkin tuntutan ini diperiksa oleh hakim yang sama dengan menyidangkan perkara pidana yang bersangkutan. E. Kesimpulan 1. Perbuatan PT Maya Lestari Khatulistiwa yang mengangkut 12 kontainer kayu olahan dengan hanya dilengkapi oleh Nota Angkutan Kayu Olahan (NAKO) dan foto copy Surat Angkutan Lelang (SAL) adalah perbuatan yang terindikasi tindak pidana kehutanan. 2. Tindakan awal yang dilakukan oleh PPNS Dinas Kehutanan Kabupaten Kubu Raya secara hukum dapat dibenarkan. Adanya indikasi yang meragukan tentang legal atau tidak legalnya kayu yang dibawa, maka sesuai kewenangannya penyidik dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai hukum acara yang berlaku diantaranya melakukan penyitaan terhadap barang yang dicurigai sebagai hasil atau berkaitan dengan tindak pidana. 3. Hakim Praperadilan telah salah dalam menerapkan hukum. Penyitaan menurut KUHAP semestinya tidak masuk dalam kewenangan praperadilan. Seseorang memang bisa mengajukan tuntutan ganti kerugian atas tindakan lain yang dialaminya dalam proses hukum tetapi dengan status dan tahapan proses hukum yang sudah final dan selesai, penyidikan atau penuntutan telah dihentikan atau hakim telah memutus bahwa seseorang tersebut tidak bersalah dan putusannya telah memiliki kekuatan hukum tetap.

LENSAINDONESIA.COM: Sidang gugatan Praperadilan terhadap Kapolrestabes Surabaya berlangsung di ruang sidang Chandra Pengadilan Negeri Surabaya. Sidang gugatan praperadilan tersebut dihakimi oleh hakim tunggal, Ronius SH. Sidang dengan agenda Replik oleh pihak penggugat yang dibacakan oleh Koko Widyatmoko SH di dampingi pengacara Zarkasi OA, SH. Dalam Replik perkara No.06/Pid.Pra/2012/PN.Sby tersebut kuasa hukum Ruli CS, Koko menyatakan, bahwa dalam Eksepsi jawaban pertama termohon yang menyatakan penggeledahan bukan merupakan materi praperadilan adalah merupakan sempitnya dalam penafsirkan undang-undang (UU). Penggeledahan dan penyitaan yang dilakukan termohon berpijak pada dasar hukum pasal 32-37 KUHAP dan tentang penyitaan diatur dalam pasal 38-46 KUHAP.

Tindakan lain yang dimaksud dalam pasal 95 ayat (1) KUHAP adalah tindakan pejabat penyidik dalam melaksanakan ketentuan KUHAP. Koko mengatakan usai sidang. Apakah termohon dalam melaksanakan penggeledahan dan penyitaan memenuhi unsur-unsur yang diatur oleh KUHAP, sergahnya. Lanjut Koko, bahwa upaya hukum yang dilakukan oleh penggugat dalam upaya praperadilan tersebut guna menegaskan Bahwa tujuan daripada praperadilan adalah untuk menegakkan hukum, keadilan, kebenaran melalui sarana pengawasan harizontal. Upaya praperadilan adalah bentuk upaya paksa yang dilakukan oleh penyidik atau penuntut umum terhadap tersangka, agar tindakan itu benar-benar dilakukan profesional sesuai dengan UU, bukan merupakan tindakan yang bertentangan dengan hukum. Sebelum sidang digelar pengacara senior Zarkasi menuturkan, bahwa termohon telah memerintahkan Satreskrim Polrestabes Surabaya sebanyak delapan personil dari kepolisian untuk melakukan razia dan penggeledahan terhadap sejumlah toko di komplek pertokoan Tunjungan Electronic Centre (TEC). Lanjut Zarkasi, mengutib dari lembar replik, bahwa dalam penggeledahan tersebut, tanpa menjelaskan adanya ijin dari Ketua Pengadilan Negari Surabaya setempat, sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 ayat (1) KUHAP. Dalam permohonan, penggugat melalui penasehat hukumnya meminta, agar menerima permohanan pemohon dan mengabulkan permohonan pemohon. Selain itu penggeledahan yang dilakukan termohon pada 8 Februari 2012 lalu terhadap Toko X Game milik pemohon di pertokoan Tunjungan Elektronic Centre (TEC) Blok UG No. 16, Jl Tunjungan No. 5-7, Surabaya. Pihak pemohon juga menyatakan penyitaan yang dilakukan oleh pihak termohon terhadap 241 keping DVD PS 2 tanpa ijin Ketua PN Surabaya, adalah tidak sah. Maka pengadilan agar menghukum dan mengembalikan kepada Pemohon seluruh barang-barang milik Pemohon berupa 241 keping DVD PS 2. Pemohon juga menutut pada termohon harus membayar ganti rugi sebesar Rp 1.687.000, secara tunai sejak putusan memiliki kekuatan hukum tetap. Ruli mengatakan, Keping DVD yang disita dari seluruh toko sebanyak 20 ribu keping DVD. 20 ribu keping itu dari 14 toko. Sekarang kalau memang penyitaan yang dilakukan itu hanya untuk contoh guna pemeriksaan asli atau bajakan, kan cukup 3 sampai 5 keping. Ngapain dibawa semua, tambah Ruli. Ditanya upaya hukum apa yang akan dilakukan, Ruli menegaskan agar pihak kepolisian bisa menunjukkan surat ijin dari PN Surabaya.@ bambang

PRA PERADILAN DALAM HUKUM INDONESIA Ditulis oleh Tito Eliandi, SH. Akhir akhir ini kajian mengenai pra peradilan begitu mengemuka. Banyaknya persoalan hukum yang menjadi isu nasional, membuat perkara pra peradilan menarik perhatian masyarakat, diantaranya adalah di

kabulkannnya permohonan pra peradilan Anggodo oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan serta akan diajukannya pra peradilan oleh Susno Duaji, Mantan Kabareskrim yang saat ini menjadi tersangka kasus suap. Pra peradilan yang lama tidak pernah muncul, mulai menjadi bahan kajian kembali bagi ahli hukum terutama berkaitan dengan efektifitas pra peradilan melindungi HAM dalam tindakan upaya paksa aparat hukum, serta perdebatan mengenai perlu tidaknya pra peradilan diganti dengan peran hakim komisaris sebagaimana tercantum dalam RUU KUHAP. Banyak pihak menganggap pra peradilan masih di perlukan dalam perlindungan Hak Azasi Manusia (HAM) dari kesewenang wenangan hukum penguasa serta untuk menguji seberapa jauh aturan hukum acara pidana telah di jalankan aparat hukum.

Arti pra peradilan dalam hukum acara pidana dapat dipahami dari bunyi pasal 1 butir 10 Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menyatakan bahwa Pra Peradilan adalah wewenang pengadilan untuk memeriksa dan memutus dan memutus :

Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan, atas permintaan tersangka atau keluarganya atau permintaan yang berkepentingan demi tegaknya hukum dan keadilan; Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan yang berkepntingan demi tegaknya hukum dan keadilan dan; Permintaan ganti rugi atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atau kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.

Secara limitattif umumnya mengenai pra peradilan diatur dalam pasal 77 sampai pasal 88 KUHAP. Selain dari pada itu, ada pasal lain yang masih berhubungan dengan pra peradilan tetapi diatur dalam pasal tersendiri yaitu mengenai tuntutan ganti kerugian dan rehabilitasi sebagaimana di atur dalam pasal 95 dan 97 KUHAP. Kewenangan secara spesifik pra peradilan sesuai dengan pasal 77 sampai pasal 88 KUHAP adalah memeriksa sah atau tidaknya upaya paksa (penangkapan dan penahanan) serta memeriksa sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan, akan tetapi dikaitkan pasal 95 dan 97 KUHAP kewenangan pra peradilan ditambah dengan kewenangan untuk memeriksa dan memutus ganti kerugian dan rehabitilasi. Ganti kerugian dalam hal ini bukan hanya semata mata mengenai akibat kesalahan upaya paksa, penyidikan maupun penuntutan, tetapi dapat juga ganti kerugian akibat adanya pemasukan rumah, penggeledahan dan penyitaan yang tidak sah secara hukum sesuai dengan penjelasan pasal 95 ayat (1) KUHAP. Dalam keputusan Menkeh RI No. M.01.PW.07.03 tahun 1982, pra peradilan disebutkan dapat pula dilakukan atas tindakan kesalahan penyitaan yang tidak termasuk alat bukti, atau seseorang yang dikenankan tindakan lain tanpa alasan yang berdasarkan undang undang karena kekeliruan orang atau hukum yang diterapkan. Ganti kerugian diatur dalam Bab XII, Bagian Kesatu KUHAP. Perlu diperhatikan dalam pasal 1 butir 22 menyatakan Ganti kerugian adalah hak seseorang untuk mendapatkan pemenuhan atas tuntutannya yang berupa imbalan sejumlah uang karena ditangkap, ditahan, ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan undang undang atau karena kekeliruan orangnya atau hukum yang diterapkan menurut cara yang diatur undang undang ini. Beranjak dari bunyi pasal diatas, dapat ditangkap dengan jelas bahwa ganti rugi adalah alat pemenuhan untuk mengganti kerugian akibat hilangnya kenikmatan berupa kebebasan karena adanya upaya paksa yang tidak berdasar hukum. Kiranya sangat tepat jika negara bertanggung jawab untuk membayar ganti rugi, sebab tindakan upaya paksa tentu dilakukan oleh aparat hukum yang merupakan bagian dari negara. Dalam Bab X Bagian Kesatu mulai pasal 79 sampai dengan pasal 83 KUHAP diatur pihak pihak yang dapat mengajukan pra peradilan adalah :

Tersangka, keluarganya melalui kuasa hukum yang mengajukan gugatan praperadilan terhadap kepolisian atau kejaksaan di pengadilan atas dasar sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penyitaan dan penggeledahan; Penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepentingan atas dasar sah lam atau tidaknya penghentian penyidikan; Penyidik atau pihak ketiga yang berkepentingan atas dasar sah atau tidaknya penghentian penuntutan;

Tersangka atau pihak ketiga yang bekepentingan menuntut ganti rugi tentang sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan (pasal 81 KUHAP); Tersangka, ahli waris atau kuasanya tentang tuntutan ganti rugi atas alasan penangkapan atau penahanan yang tidak sah, penggeledahan atau penyitaan tanpa alasan yang sah atau karena kekeliruan orang atau hukum yang diterapkan, yang perkaranya tidak diajukan ke sidang pengadilan (pasal 95 ayat (2) KUHAP).

Khusus dalam hal pra peradilan yang dilakukan oleh penyidik terhadap penghentian penuntutan atau penuntut umum terhadap penghentian penyidikan hendaknya di pahami bukan untuk mencampuri urusan kewenangan masing masing kelembagaan tetapi lebih di pahami sebagai kontrol mekanisme penegakan hukum acara. Peran serta masyarakat baik itu melalui LSM maupun secara individu juga mutlak di perlukan dalam pengawasan penegakan hukum. Dalam pasal 80 KUHAP, pengertian pihak ketiga yang berkepentingan dalam mengajukan pra peradilan tentang penghentian penyidikan atau penuntutan, sering diartikan hanya sebatas saksi pelapor atau saksi korban tindak pidana. Kedepan pengertian itu perlu diperluas dengan melibatkan masyarakat luas yang diwakili LSM atau organisasi kemasyarakatan. M. Yahya Harahap dalam bukunya Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP menyatakan perlunya LSM atau organisasi kemasyarakatan di beri ruang sebagai pihak untuk mengajukan pra peradilan. Sebagai lembaga yang bertujuan mengawal penegakan hukum, jika tujuan mem pra peradilankan penghentian penyidikan maupun penghentian penuntutan adalah untuk mengkoreksi atau mengawasi kemungkinan kekeliruan maupun kesewenangan atas penghentian secara horizontal, cukup alasan untuk berpendapat, bahwa kehendak untuk melibatkan masyarakat luas yang di wakili LSM atau organisasi kemasyarakatan dapat di terima dalam proses pengajuan pra peradilan. Pengajuan pra peradilan di lakukan di pengadilan negeri, dengan membuat permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk nantinya di register dalam register khusus tentang pra peradilan. Dari permohonan tersebut, sesuai ketentuan pasal 78 ayat (2), Ketua Pengadilan Negeri akan menunjuk seorang hakim tunggal untuk memeriksa perkara pra peradilan dengan dibantu dengan seorang panitera. Untuk penetapan hari sidang sesuai dengan pasal 82 ayat (1) huruf c mensyaratkan untuk segera bersidang 3 hari setelah di catat dalam register dan dalam tempo 7 hari perkara tersebut sudah harus di putus, sedangkan untuk pemanggilan para pihak dilakukan bersamaan dengan penetapan hari sidang oleh hakim yan ditunjuk. Tata cara maupun bentuk putusan dalam pra peradilan tidak diatur dalam ketentuan khusus dalam KUHAP. Sesuai dengan sifat cepat dan sederhananya proses persidangan, hendaknya hakim dapat meyesuaikan dalam melaksanakan proses persidangan maupun putusan. M. Yahya Harahap menegaskan bertitik tolak dari pasal 82 ayat (1) huruf c yang mengatur pengajuan dan tata cara pemeriksaan pra peradilan, hakim diminta untuk tegas menentukan tahapan persidangan pra peradilan dan membuat putusan sesederhana mungkin atau bisa di gabung dengan Berita Acara Sidang asalkan putusan memuat pertimbangan hukum yang lengkap, jelas dan memadai. Memperhatikan Pasal 82 ayat (1) huruf d yang berbunyi Dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa P engadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan pra peradilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur maka pra peradilan dianggap gugur apabila :

Perkaranya telah diperiksa oleh Pengadilan Negeri dan ; pada saat perkaranya di periksa Pengadilan Negeri, pemeriksaan pra peradilan belum selesai.

Ketentuan pra peradilan gugur apabila pokok perkara telah masuk di Pengadilan Negeri, di maksudkan untuk menghindari penjatuhan putusan yang berbeda. Tidak tepat kiranya apabila pra peradilan tetap di periksa sementara perkara pokoknya telah masuk juga dalam tahap persidangan. Tentunya jika di paksakan bersidang dan terjadi perbedaan penjatuhan putusan antara pra peradilan dengan perkara pokok, akan menimbulkan akibat hukum yang tidak baik. Gugurnya permohonan pra peradilan dapat juga di lakukan oleh pihak pemohon ketika sidang belum menjatuhkan putusan, asalkan hal tersebut di setujui termohon. Putusan pra peradilan pada dasarnya tidak dapat dimintakan banding. kecuali atas putusan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan. Pasal 83 ayat (1) berbunyi Terhadap putusan pra peradilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 79, pasal 80 dan pasal 81 tidak dapat di mintakan banding, sedangkan pasal 83 ayat (2) berbunyi :

terhadap putusan yang menetapkan sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan tidak dapat diajukan permintaan banding;

terhadap putusan yang menetapkan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan permintaan banding; Pengadilan Tinggi (PT) yang memeriksa dan memutus permintaan banding tentang tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan, bertindak sebagai pengadilan yang memeriksa dan memutus dalam tingkat akhir.

Ketentuan pasal 83 ayat (1) tidak dimaksudkan untuk membatasi keinginan para pihak mencari keadilan tetapi justru dimaksudkan untuk mewujudkan acara cepat dan mewujudkan kepastian hukum dalam waktu yang relatif singkat, sebagaimana dasar pra peradilan, sebab dalam pasal 83 ayat (2) proses banding ke PT pun merupakan upaya terakhir dan final serta tidak dikenal upaya kasasi pra peradilan ke Mahkamah Agung (MA). Pra peradilan adalah hal biasa dalam membangun saling kontrol antara kepolisian, kejaksaan dan tersangka melalui kuasa hukumnya. Tidak usah suatu proses pra peradilan di tanggapi dengan kecurigaan bahwa antara lembaga hukum akan saling menjatuhkan. Dalam suatu negara hukum, saling kontrol adalah suatu hal lumrah untuk menghindari kesewenang wenangan penerapan upaya paksa (penangkapan dan penahanan) atau penghentian penyidikan dan penuntutan (SP 3 dan SKPPP) secara tidak beralasan apalagi diam diam. Upaya kontrol itu perlu sebagai peningkatan kinerja di lembaga penegak hukum, serta untuk membangun kembali citra penegak hukum yang saat ini telah terpuruk. Oleh sebab itu semua proses pra peradilan harus dapat diterima dengan lapang dada, begitu pula dengan putusan yang di hasilkan pra peradilan. Kepolisian, kejaksaan, hakim dan advokat harus mampu bekerja sama menampilkan hukum yang pasti, jelas dan memadai. Kepastian hukum akan membuat keadaan negara harmonis dan pencari keadilan merasa terlindungi.

Daftar Pustaka : Harahap, M. Yahya, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (Sinar Grafika, 2001).

Mahkamah Agung RI, Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Pengadilan Dalam Empat lingkungan Peradilan ( Buku II, edisi 2007).

R. Soesilo, M. Karjadi, Kitab Undang Undang Hukum Pidana (Politeia Bogor, 1987).

Selasa, 12 Juli 2011 Putusan Perkara No: 01/Pid.Pra/2011/PNSBB PU T U S A N Nomor: 01 /Pid.Pra/2011/ PN SBB

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Sumbawa Besar yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara Permohonan Pra Peradilan pada peradilan tingkat pertama telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara Permohonan Pra Peradilan antara : HERI SAPTOAJI, SH : Umur 47 Tahun, Pekerjaan Advokat/Konsultan Hukum, beralamat di Jalan Gurami nomor 37 Sumbawa Besar, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 20 Juni 2011, telah memberikan kuasa kepada : 1. 2. 3. 4. 5. 6. ZAENUDDIN, SH. Ad Advokat/Pengacara; NEKI HENDRATA, SH. Advokat/Pengacara; AHMADUL KOSASIH, SH. Advokat/Pengacara; FATHURRAHMAN, SH. Advokat/Pengacara; INDI SURYADI , S.H. Avokat/Pengacara; ZUBHAN J. PRIHATIN,SH. Advokat/Pengacara;

ke 6 (enam) orang tersebut memilih beralamat di Jalan Gurami Nomor 37 Sumbawa Besar, untuk selanjutnya disebut sebagai : -------------------------------------------------------------------------------------------------------------PEMOHON -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------MELAWAN KEPALA KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA, CQ. KEPALA KEPOLISIAN DAERAH NUSA TENGGARA BARAT, beralamat di Mataram, yang selanjutnya disebut sebagai : ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------TERMOHON -------------------------------------------------Pengadilan Negeri tersebut ; Setelah memperhatikan permohonan Pra peradilan pemohon ; Setelah mendengar jawaban Pemohon ; Setelah memperhatikan replik dan duplik dari Pemohon dan Termohon ; Setelah memperhatikan kesimpulan Pemohon dan Termohon ; Setelah memperhatikan bukti surat yang diajukan oleh Pemohon maupun Termohon ; Setelah mendengar keterangan para saksi Pemohon dan saksi Termohon ;

Setelah mendengar keterangan Pemohon dan Termohon yang tetap pada dalil-dalilnya masing-masing dan mohon putusan pengadilan ;

TENTANG DUDUK PERKARANYA Menimbang bahwa Pemohon dengan surat permohonannya bertanggal 20 Juni 2011, yang terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Negeri Sumbawa Besar dengan nomor : 01/Pid.Pra/2011/PN-SBB. Telah mengajukan dalil-dalil permohonannya sebagai berikut : sehubungan dengan Perbuatan melawan Hukum yang telah dilakukan oleh oknum-oknum Dit.Reskrim Poda NTB dalam melakukan Penahanan dan /atau Penyitaan terhadap 1 (satu) unit mobil Toyotan Inova warna Hitam No.Pol.EA 1642 AZ Noka : MHFXW41G350003499 dan Nomor Mesin : 16040032 beserta STNK dan Kunci Kontaknya, milik Pemohon ( Prinsipal) sejak tanggal 4 November 2010 sampai saat ini dengan tanpa suatu prosedur hukum yang jelas, dengan dasar-dasar dan alasan sebagai berikut : 1. Bahwa pada tanggal 3 November 2010 telah datang ke rumah Pemohon ( Principal) beberapa oknum ACC Mataram (Finance) bersama Anggota Dit.Reskrim Polda NTB bernasma AZ.Muttakim dan Sam, mengklaim mobil Inova yang berada dalam Penguasaan Pemohon (Principal) adalah meruPakan asset dari ACC Mataram (Finance) yang telah digelapkan oleh Debiturnya yang bernama BURHANUDDIN, dan meminta Pemohon (Principal) untuk menyerahkan mobil Inova tersebut kepada mereka, apabila tidak diindahkan akan mengkaitkan Pemohon (principal) sebagai Penadah dalam persoalan Mobil tersebut ; 2. Bahwa Pemohon (Principal) menolak permintaan oknum-oknum tersebut karena merasa tidak mempunyai hubungan hokum apapun dengan pihak ACC Mataram (Finance) maupun dengan orang yang bernama BURHANUDDIN (Debiturnya) sebab kepemilikan dan /atau penguasaan Pemohon ( Prinsipal) terhadap mobil Inova Tersebut adalah berdasarkan kesepakatan jual beli yang sah antara Pemohon (Principal) dengan Show Room CV CAHAYA MOBIL Sumbawa pada tanggal 5 Maret 2010, yang pembayarannya dilakukan secara tukar tambah Yaitu dengan Mobil Kijang Kapsul LSX Th.1997 No.Pol.1176 vAD milik Pemohon (Principal) ditambah dengan sjumlah uang sebsar Rp.65.000.000,- (Enam puluh lima Juta rupiah) dengan disertai Surat Perjanjian jual beli, Kwitansi dan surat-surat lainnya ; 3. Bahwa Oknum-oknum tersebut tetap bersikukuh meminta Pemohon (Prinsipal) untuk menyerahkan Mobil Inova tersebut dan mereka tidak mau meninggalkan rumah Pemohon ( Principal) dari pukul 16.00 Wita s/d pukul 23.30 Wita, hingga membuat pemohon kesal dan marah, lalu oknum-oknum tersebut mendesak Pemohon/Principal agar menitipkan sementara penguasaan mobil Inova tersebut ke Mapolres Sumbawa, sesuai dengan Surat Tanda Penerimaan Penitipan Barang tanggal 3 November 2010 ; 4. Bahwa keesokan harinya yaitu tanggal 4 November 2010, berhubung ada kegiatan persidangan, Pemohon (principal) tidak sempat mengurus persoalan mobil tersebut di Polres Sumbawa, tetapi sekitar pukul10.30 Wita. oknum ACC Mataram (Finance) dengan mengendarai mobil Inova datang ke rumah mencari Pemohon (principal), Mengetahui hal tersebut tentu saja Pemohon tidak dapat menerimanya, dan langsung mengebel Penyidik Sat. Reskrim Polres Sumbawa yang menerima Penitipan Sementaranya guna mengkonfirmasi kebenarannya, ternyata benar mobil inova tersebut telah diPakai oleh oknum ACC Mataram (Finance) ; 5. Bahwa kemudian sekitar pukul 14.00. Wita. Pemohon dibel kembali oleh Penyidik Sat. Reskrim Polres Sumbawa yang menginformasikan bahwa telah datang kepadanya Oknum-oknum Sat. Reskrim Polda NTB untuk mengambil dan/atau membawa Mobil Inova tersebut ke Mataram guna dijadikan sebagai barang bukti. Hal tersebut Pemohon (Prinsipal) tidak membolehkannya, dan meminta penyidik tersebut untuk tetap menahan keberadaan Mobil Inova tersebut di Mapolres Sumbawa karena sifatnya penitipan sementara ; 6. Bahwa sekitar Pukul 16.00. Wita. ketika Pemohon (principal) sedang menjemput Istri dikantornya, dibel kembali oleh Anggota Sat. Reskrim Polres Sumbawa yang bernama Bripka. ARIFIN memberitahukan telah menunggu di rumah Pemohon bersama oknum-oknum Anggota Sat. Reskrim Polda NTB bernama AZ. MUTTAKIM, S.Adm. BRIPTU NRP 81071202 dan SAM, sehingga dengan terburu-buru Pemohon (principal)

bersama Istri beranjak pulang, dan melihat mobil inova tersebut telah terparkir didepan rumah dan Oknumoknum Sat. reskrim Polda NTB tersebut telah duduk diteras rumah Pemohon (principal) ; 7. Bahwa ketika Pemohon mengkonfirmasi maksud kedatangannya, pada intinya Oknum-oknum tersebut mengatakan kalau mereka diperintah oleh atasannya yang bernama AKP. ANDI DADI yang telah mendapat perintah " Lisan " dari Dir. Reskrim Polda NTB untuk melakukan Penyitaan terhadap Mobil Inova Pemohon (principal), dan meminta Pemohon (principal) mencabut Surat Penitipan sementaranya dari Polres Sumbawa serta menyerahkan Mobil Inova tersebut kepada mereka untuk dibawa ke Mataram (ke Polda NTB) ; 8. Bahwa hal tersebut tentu saja Pemohon (principal) menolaknya karena mereka tidak memperlihatkan "Surat Perintah Penyitaannya, dan/atau Surat-surat lainnya yang dapat menunjang syarat sahnya Penyitaan, baik dari Dir. Reskrim Polda NTB maupun dari Pengadilan Negeri Sumbawa Besar. Tetapi Oknum-oknum tersebut tetap mendesak Pemohon (principal) agar menyerahkan Mobil Inova tersebut sebagai barang bukti, dan bersikukuh untuk tetap akan membawa Mobil Inova tersebut, hingga mereka tidak beranjak dari rumah Pemohon (principal) sampai pukul 20.00 Wita. dan dalam situasi itu Anggota Sat. Reskrim Polres Pemohon (principal), padahal statusnya masih meruPakan Penitipan sementara, di Polres Sumbawa yang belum pernah dilakukan pencabutannya ; 9. Bahwa oleh karena kondisinya saat itu yang tidak kondusif dan guna menghindari Hal-hal yang tidak diinginkan, maka dengan terpaksa Pemohon (principal) menyerahkan Mobil Inova tersebut dan menanda tangani surat penyerahan barang bukti yang disodorkan oleh Oknum-oknum tersebut dengan disaksikan oleh rekan Pemohon (principal) yang bernama KAMIL TAKWIM, SH. (Advokat). Lalu oknum-oknum tersebut meyakinkan Pemohon bila telah selesai diklarifikasi dan/atau diidentifikasi dalam proses penyelidikannya, mobil Inova tersebut akan diserahkan kembali kepada Pemohon ; 10. Bahwa penyerahan mobil Inova tersebut Pemohon (principal) lakukan adalah Semata-mata karena mengingat status Pemohon (principal) sebagai salah satu pilar dalam penegakan hukum ( Catur Wangsa ), sehingga sangat menghargai hubungan kemitraan dengan Institusi Kepolisian dan mendukung proses hukum yang akan dilakukan terhadap persoalan Mobil Inova tersebut serta menjunjung tinggi Peraturan dan Perundang-undangan yang berlaku dengan suatu harapan agar proses hukumnya cepat terlaksana hingga persoalannya menjadi jelas dan terang ; 11. Bahwa ketika Pemohon mendatangi Polda NTB, yaitu ke Sat. Curanmor Dit. Reskrim POLDA NTB pada tanggal 07 November 2010 guna melakukan Investigasi terhadap persoalan dan/atau proses hukumnya, ternyata belum dilakukan sama sekali, sehingga saat itu juga Pemohon (prinsipal) meminta agar Mobil Inovanya dikembalikan sementara kasusnya belum berproses, tetapi oleh AKP. ANDI DADI Kanit Sat. Buser Reskrim POLDA NTB saat itu disarankan agar Pemohon (principal) mengajukan permohonan pinjam Pakai kepada Dir. Reskri m POLDA NTB ; 12. Bahwa hal tersebut tidak logis sama sekali, sebab penyerahan mobil lnova tersebut pada tanggal 4 November 2010 lalu Pemohon (principal) lakukan secara Kooperatif guna mendukung percepatan proses Penyelidikan perkaranya, bukan dalam Konteks Penyitaan karena prosedur penyitaan tidak jelas, hingga tidak seharusnya Pemohon (principal) membuat dan/atau mengajukan pinjam Pakai karena proses penyelidikannya sendiri belum berjalan sebagaimana mestinya ; 13. Bahwa akan tetapi karena didorong oleh kebutuhan yang sangat mendesak, dimana Pemohon sangat memerlukan sekali mobil inova tersebut, akhirnya Pemohon mengajukan permohonan pinjam Pakai secara tertulis (formil) yang ditujukan kepada Dir. Reskrim POLDA NTB. Melalui AKP. M. NASUTION, Kasat Curanmor Reskrim Polda NTB saat itu, yaitu pada tanggal 8 November 2010, setelah keterangan Pemohon (Prinsipal) di buatkan B.A.P-nya ; 14. Bahwa pada tanggal 08 November 2010 tersebut ketika keterangan Pemohon (principal) diambil dan/atau dibuatkan B.A.P.-nya oleh Penyidik (Termohon) Sat. Ranmor Polda NTB, pada saat itulah Pemohon (Prinsipal) mengetahui kalau Laporan Penggelapannya dilaporkan oleh Pihak ACC Mataram (Finance) tertanggal 4 November 2010, yaitu dalam Laporan Polisi Nomor LP/253/XI/2010/NTB/Dit. Reskrim tentang tindak pidana penipuan dan penggelapan serta jaminan fidusia sebagaimana dimaksud dalam pasal 378 KUHP dan pasal 35

dan 56 UU No. 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia terhadap debiturnya yang bernama BURHANUDDIN sebagai tersangkanya. Tetapi sampai saat itu tersangkanya belum pernah dipanggil atau diperiksa sama sekali ; 15. Bahwa kenyataan tersebut tentunya merupakan sesuatu hal yang sangat ganjil, hingga menimbulkan pertanyaan besar bagi Pemohon (principal), mengapa pada kepemilikan Mobil Inova tersebut sebagai milik ACC Mataram (finance) dan berupaya mengambil dan/atau melakukan Penyitaan terhadap Mobil Inova tersebut, sementara Laporan Penggelapannya sendiri baru dilaporkan kepada Termohon pada tanggal 4 November 2010, dan bagaimana mungkin Oknum ACC Mataram (Finance) tersebut melakukan Laporan Penggelapannya ke Polda NTB (Termohon), bila mereka pada tanggal 4 November 2010 itu masih berada di Sumbawa Besar dan melakukan pengambilan dan/atau penyitaan terhadap mobil inova tersebut dari penguasaan Pemohon (principal), serta bagaimana mungkin bisa ada perintah Penyitaan atas mobil tersebut bila Laporan Kasusnya sendiri baru dilaporkannya pada hari itu juga ; 16. Bahwa oleh karena itu Perbuatan hukum Oknum-oknum Sat. Reskrim Polda NTB mengambil alih dan/atau melakukan penyitaan terhadap Mobil Inova dari Penguasaan Pemohon (principal), kemudian menyerahkan kepada Institusinya sebagai barang sitaan, dan selanjutnya Polda NTB melakukan Penahanan dan/atau Penyitaan terhadap Mobil Inova Pemohon (principal) dengan tanpa prosedur dan proses hukum yang jelas hingga saat ini. Hal tersebut tentunya adalah suatu, indikasi yang jelas dari perbuatan melawan hukum Termohon ; 17. Bahwa apalagi setiap kali Pemohon (principal) mendatangi POLDA NTB (Termohon) guna menanyakan perkembangan perkaranya, selalu disebutkan telah dilimpahkan berkas dan/atau SPDP-nya ke Kejaksaan Tinggi Mataram. Tetapi ketika hal tersebut Pemohon (principal) konfirmasi ke Kejaksaan Tinggi Maram, ternyata baik berkas maupun SPDP-nya belum pernah sekalipun diberitahukan dan/atau dikirimkan ke Kejaksaan Tinggi Mataram. Hal tersebut Pemohon (principal) ketahui secara jelas karena secara intensif tetap memonitor perkembangannya 2 kali bahkan 3 kali dalam sebulan Pemohon (principal) ke Mataram ; 18. Bahwa kenyataan lainnya adalah selama Mobil Inova tersebut berada dalam Penahanan dan/atau Penyitaan Termohon, sering tidak berada ditempat parkirannya, ketika hal tersebut Pemohon (principal) menanyakan keberadaannya, oleh penyidiknya dikatakan bahwa mobil inova tersebut sedang dibawa ke bengkel karena kerusakan pada Accu-nya. Namun ketika Pemohon (principal) menyuruh keponakan dan/atau family yang ada di mataram untuk mengecek dan/atau memonitoring keberadaannya, ternyata sering berhari-hari Mobil Inova tersebut tidak berada ditempat penyimpanannya (parkirannya) ; 19. Bahwa hal tersebut tentu saja menimbulkan kecurigaan kalau sesungguhnya mobil inova tersebut telah dipakai dan/atau dimanfaatkan oleh pihak tertentu atas seizin dan/atau sepengetahuan Termohon dan digunankan bagi kepentingan tertentu hingga mengalami kerusakan. Bila hanya kerusakan pada sistim Accunya tidak mungkin memerlukan waktu lama untuk perbaikannya. Semestinya setiap Barang Sitaan harus dijaga keutuhannya, dan tidak boleh diPakai atau dimanfaatkan sama sekali oleh siapapun untuk kepentingan apapun, serta harus dikembalikan terlebih dahulu kepada Pemohon (principal) bila proses hukum perkaranya belum dilakukan dan/ atau belum berlanjut ; 20. Bahwa terhadap hal tersebut diatas Termohon dalam hal ini berdasarkan Suratnya Nomor : HUK.6.6/2802NI/2011 tanggal 9 Juni 2011 telah memerintahkan Kabid. Propam Polda NTB untuk menanggapi Surat Laporan/Pengaduan Pemohon (principal) atas Penahanan/Penyitaan Mobil Inova tersebut diatas, selanjutnya Kabid Propam Polda NTB dengan Suratnya Nomor : HUK.6.6.1 N1/2011/Bid Propam. memberitahukan kepada Pemohon (principal) telah melakukan Audit Investigasi ke Sat. Ops I Unit II Dit. Reskrim Um Polda NTB, dan mengakui adanya kesalahan Anggotanya yang tidak professional dalam melakukan Penyidikan, tidak menempatkan barang bukti pada tempatnya, melakukan penyitaan secara tidak Procedural, dan menempatkan mobil inova Pemohon (Principal) dalam pengamanannya, serta akan segera menuntaskan kasusnya dst.nya ; 21. Bahwa hal tersebut menurut hemat Kami selaku Pemohon hanyalah suatu retorika belaka, sebab bila diketahui Penahanan dan/atau Penyitaan terhadap Mobil Inova Pemohon (principal) telah dilakukan secara tidak Frofesional dan/atau tidak procedural, semestinya harus melepaskan terlebih dahulu Mobill inova tersebut dari status Penahanan dan/atau Penyitaannya, dan menyerahkannya kepada Pemohon Principal), bukannya akan segera menindak lanjuti kasusnya, sebab bagaimanapun bila ditinjau dari Laporan kasusnya maupun prosedur

Penyitaannya, semata-mata adalah suatu hal yang sangat dipaksakan dan merupakan rekayasa sistematis guna mengikuti settingan dari pihak ACC Mataram (Finance) saja ; 22. Bahwa Kalau saja Termohon sejak awal mengembalikan Mobil Inova tersebut kepada Pemohon (principal) terlebih dahulu sementara kasusnya belum berjalan, tentunya memberi ruang dan kesempatan kepada Pemohon (principal) atau Pihak ACC Mataram (Finance) untuk melakukan upaya hukum tertentu dalam menentukan kepemilikannya, sehingga status haknya menjadi jelas dan tidak mengambang, serta tidak memberikan persoalan yang panjang bagi Pemohon (Principal) ; 23. Bahwa dengan demikian tentunya cukup alasan bagi Kami selaku Pemohon untuk melakukan Permohonan Praperadilan ini, karena Institusi Kepolisian sebagai Pengayom dan perangkat Negara guna menjaga ketertiban masyarakat telah tidak mampu membina Kesatuannya dalam penegakan hukum, dan Perbuatan hukum Kapolda NTB yang telah melakukan Penahanan dan/atau Penyitaan terhadap Mobil Inova Pemohon (principal) secara tidak procedural sejak tanggal 4 November 2010 hingga saat ini lebih 7 (tujuh) bulan lamanya,adalah suatu bentuk kesewenang-wenangan oleh Penguasa (ondrecght Matighdaagheeid) yang dapat dikwalifikasikan sebagai suatu perbuatan melawan hukum, menyalahi aturan hukum yang berlaku, yaitu Pasal 17, 18 dan Pasal 38 ayat (1) KUHAP ; 24. Bahwa akibat perbuatan hukum Termohon sebagaimana tersebut diatas, tentu saja menimbulkan kerugian Materiil dan Moril yang cukup besar bagi Pemohon (principal), karena dengan tanpa keberadaan Mobil Inova tersebut sangat menghambat aktifitasnya sehari-hari, untuk itu Kami selaku Pemohon memohon agar terhadap Termohon patut dibebankan ganti rugi sebagaimana layaknya menurut ketentuan hukum yang berlaku ; 25. Bahwa sedangkan alasan hukum Kami mengajukan permohonan Praperadilan ini ke Pengadilan Negeri Sumbawa Besar, karena tempat peristiwa hukumnya (locus delicktinya) dan/atau pengambilan Mobil Inova tersebut adalah di rumah Pemohon (principal) sendiri yaitu di Sumbawa Besar yang masuk dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Sumbawa Besar, sehingga tentu saja Pengadilan Negeri Sumbawa Besar dalam hal ini sangat relevans dan berkompeten untuk memeriksa dan mengadiIi perkaranya ; Berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas, Kami selaku Pemohon memohon kepada Bapak Ketua Pengadilan Negeri Sumbawa Besar kiranya berkenan memanggil dan memeriksa serta mengadili semua pihak yang terkait dalam perkara ini, untuk selanjutnya menjatuhkan Putusan sebagai berikut : 1. Mengabulkan Permohonan Pemohon seluruhnya ;

2. Menyatakan Penahanan dan/atau Penyitaan yang dilakukan Termohon terhadap Mobil Inova Pemohon (principal) sejak tanggal 4 November 2011 sampai saat ini tidak sah menurut hukum, karena tidak dilandasai oleh suatu prosedur hukum yang jelas ; 3. Menghukum Termohon untuk mengembalikan Mobil Inova yang berada dalam Penahanan dan/atau Penyitaannya kepada Pemohon (Principal) dalam keadaan baik seperti semula ; 4. Menghukum Termohon untuk mengganti segala kerugian yang dialami oleh Pemohon (principal) baik materiil ataupun Moril kepada Pemohon (principal), dihitung sejak Penahanan/Penyitaannya dilakukan oleh Termohon yaitu tanggal 4 November 2011 sampai sampai dengan perkaranya diputuskan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku untuk itu Atau Mohon putusan yang seadil-adilnya. Menimbang bahwa pada hari sidang pertama pemohon datang beserta para kuasa hukumnya tersebut di atas, sedangkan dari pihak Termohon hadir : 1. Nama : : : I NYOMAN NURSANA, SH

Pangkat/Nrp Jabatan

AKP/ 65040344 Kaur Kermalem Subbid Sunluhkum Bidkum Polda NTB

2.

Nama : :

I WAYAN GATOT MADIYASA, SH

Pangkat/Nrp Jabatan 3. Nama

PENATA/196807132002121001 Kaur Banhatkum Subbid Bankum Bidkum Polda : GHUFRON SUBEKI NTB

Pangkat/Nrp Jabatan :

BRIGADIR/81110231 Anggota Subdit I Dit Reskrimum Polda NTB

Yang ketiga-tiganya beralamat di Jalan Langko No. 77 Mataram, berdasarkan surat Perintah Kapolda Nusa Tenggara Barat Nomor : HUK.12.15./1157/VI/2011 tanggal 30 Juni 2011. Menimbang bahwa Hakim Pra Peradilan telah mendamaikan kedua belah pihak, akan tetapi tidak berhasil, maka kepada PEMOHON telah membaca Permohonannya yang isi dan tuntutannya tetap dipertahankan ; Menimbang bahwa atas Permohonan PEMOHON Pra Peradilan maka kuasa TERMOHON telah menyampaikan jawabannya tanggal 4 Juli 2011 yang pada pokonya sebagai berikut: I. DALAM EKSEPSI

1. Bahwa permohonan/gugatan Praperadilan yang diajukan Pemohon adalah tidak sah, karena Instansi/pejabat yang digugat/dimohonkan Praperadilan salah (Error in pesona) dan tidak lengkap ; Ketentuan pasal 77 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) menyatakan Pengadilan Negeri Berwenang untuk memeriksa dan memutus tentang: a. Sah atau tidaknya Penangkapan, Penahanan dan Penghentian Penyidikan atau Penghentian Penuntutan ;

b. Ganti kerugian dan rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan ; Ketentuan tersebut apabila dikaitkan atau dihubungkan dengan ketentuan Pasal 1 angka 2 menyatakan bahwa Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undangundang ini untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti tersebut membuat terangnya tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya ; Ketentuan Pasal 1 angka 1 KUHAP menjelaskan bahwa "Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk melakukan Penyidikan" ; Kemudian berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) a KUHAP menyatakan Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dan pasal 7 huruf d berwenang melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan; Ketentuan-ketentuan tersebut di atas, jelas menunjukan bahwa kewenangan Pejabat Penyidik terhadap suatu tindak pidana terletak pada pejabat penyidik yang berdasarkan surat Perintah Penyidikan mendapat perintah untuk melakukan penyidikan dengan segala pertanggungjawabannya dan konskwensinya dibebankan pada penyidik yang bersangkutan dan bukan dibebankan pada pimpinan/atasan penyidik ; Pemohon dalam surat Permohonan Praperadilannya telah mendudukan Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat selaku Termohon adalah suatu kesalahan karena seharusnya yang dijadikan pihak Termohon adalah pejabat penyidik sebagaimana yang tertuang dalam surat Perintah Penyidikan mengingat uraian di atas mengenai pertanggungjawaban penyidikan terletak pada pejabat penyidik yang melakukan proses penyidikan ;

Lebih fatal kekeliruan Pemohon dengan menyebutkan jabatan Kapolda NTB sebagai Kepala Penyidik Polda NTB karena didalam peraturan Perundangundangan (KUHAP) maupun ketentuan yang lain dan struktur organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia tidak ada istilah Kepala Penyidik yang ada adalah Pejabat Penyidik ; Yang perlu diketahui bahwa Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat adalah pejabat didalam lingkungan Lembaga Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diberikan tugas dan tanggungjawab untuk memimpin anggota Polri didalam wilayah Nusa Tenggara Barat ; Rupanya Pemohon tidak mau mencermati identitas lengkap Termohon sebelum mengajukan permohonan Praperadilan sehingga tidak memahami dengan benar perbedaan antara Lembaga, Pejabat dan Person ; Pada petitum permohonan Praperadilan Pemohon antara lain Pemohon menyatakan penahanan dan/atau penyitaan yang dilakukan termohon terhadap mobil inova pemohon (principal) sejak tanggal 4 Nopember 2010 sampai saat ini tidak sah menu rut hukum, karena tidak dilandasi oleh suatu prosedur hukum yang jelas ; Namun rupanya Pemohon lupa ketentuan pasal 1 angka 16 KUHAP menjelaskan bahwa Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan dibawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan ; Oleh karena mobil Inova milik Pemohon adalah barang bergerak dan terkait dengan Laporan dari pihak ACC Mataram yang isinya menyatakan bahwa mobil inova milik Pemohon merupakan barang jaminan Fidusia pihak ACC Mataram sebagai kreditur, maka terhadap barang bergerak milik Pemohon berupa mobil Inova segera dilakukan penyitaan untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan tindak pidana Jaminan Fidusia yang dilakukan oleh tersangka BURHANUDDIN sebagai Debitur ; Berdasarkan alasan Pemohon Praperadi!an pada point 2 bahwa kepemilikan dan/atau penguasaan Pemohon terhadap mobil inova berdasarkan jual beli yang sah antara Pemohon dengan Show Room CV. Cahaya Mobil Sumbawa tanggal 5 Maret 2010 yang pembayarannya dilakukan secara tukar tambah dengan mobil kijang capsul LSX Th 1997 No. Pol.; 1176 AD milik Pemohon ditambah dengan uang sebesar Rp. 65.000.000,- (enam puluh lima juta rupiah) dengan disertai surat perjanjian jual beli, kwitansi dan surat-surat lainnya ; Akan tetapi Pemohon lupa bahwa transaksi jual beli mobil inova yang dilakukan Pemohon tidak dilengkapi BPKB sebagai bukti kepemilikan, sedangkan Pemohon yang memiliki status selaku Advokat yang mengerti dan lebih tahu hukum seharusnya patut curiga bahwa mobil inova yang dijual tanpa dilengkapi BPKB adalah barang hasil dari kejahatan ; 2. Bukan Kewenangan Praperadilan.

Sebagaimana ketentuan pasal 77 KUHAP yang telah diuraikan diatas tentang kewenangan hakim Praperadilan memeriksa dan memutus suatu perkara dalam lingkup proses penyidikan sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian Penyidikan atau penghentian penuntutan, berdasarkan ketentuan tersebut permohonan tentang hal lain bukan kewenangan Praperadilan ; Bahwa Pemohon da!am petitum permohonannya menyatakan penahanan dan/atau penyitaan yang dilakukan Termohon terhadap mobil inova Pemohon (principal) sejak tanggal 4 Nopember 2010 sampai saat ini tidak sah menurut hukum, bukan merupakan ruang lingkup kewenangan hakim Praperadilan karena dalam pasal 82 ayat (3) huruf d hanya menjelaskan "dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada yang tidak termasuk alat pembuktian, maka dalam putusan dicantumkan bahwa benda tersebut harus segera dikembalikan kepada tersangka atau dari siapa benda itu disita" dengan demikian permohonan tersebut merupakan kesalahan formil dalam acara Praperadilan ; Berdasarkan uraian tentang eksepsi sebagaimana tersebut di atas, telah cukup memberikan dasar hukum dan alasan bagi hakim yang memeriksa dan memutus perkara ini untuk menyatakan menolak permohonan Praperadilan atau setidak-tidaknya dinyatakan permohonan Praperadilan tersebut tidak dapat diterima.

Sebelum Termohon menyampaikan jawaban, tanggapan, dan bantahan ini, terlebih dahulu mohon agar uraian DALAM EKSEPSI di atas dijadikan satu kesatuan yang utuh dan dianggap diulang lagi dalam jawaban, tanggapan, dan bantahan DALAM POKOK PERKARA sebagaimana terurai di bawah ini sebagai berikut :

1. Bahwa Termohon menolak dengan tegas semua dalil/pernyataan yang disampaikan Pemohon, kecuali yang dengan tegas pula diakui kebenarannya oleh Termohon ; 2. Bahwa walaupun permohonan/gugatan Praperadilan ini tidak sah, karena subyek gugatan tidak lengkap, namun Pemohon menganggap perlu untuk memberikan jawaban, tanggapan, dan bantahan atas permohonan pemeriksaan Praperadilan ini sehingga duduk perkara yang sesungguhnya menjadi jelas ; 3. Bahwa memang benar apa yang diuraikan oleh Pemohon dalam permohonan/gugatan Praperadilan tersebut, Termohon berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/253/XI/2010/NTB/Dit. Reskrim tanggal 4 Nopember 2010 telah melakukan penyidikan tindak pidana Jaminan Fidusia yang dilakukan oleh tersangka BURHANUDIN (Debitur) adalah sah menu rut hukum karena diduga telah melakukan tindak pidana Jaminan Fidusia yaitu Pemberi Fidusia yang mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) yang dilakukan tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Penerima Fidusia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000 (lima puluh juta) rupiah (vide pasal 36 UU No 42 tahun 1999 tentang Fidusia) ; Benar Termohon selaku penyidik telah melakukan penyitaan barang bukti berdasarkan pasal 38 ayat (2) KUHAP yang berbunyi "dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat ijin terlebih dahulu, tanpa mengurangi ketentuan ayat (1) penyidik dapat melakukan penyitaan hanya atas benda bergerak dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat guna memperoleh persetujuan berupa 1 (satu) unit mobil merk Toyota Kijang Inova warna hitam No. Pol.: EA 1642 AZ Nomor Rangka : MHFXW41G350003499, Nomor Mesin: 16040032, beserta STNK a.n BURHANUDIN dan kunci kontaknya pada tanggal 4 Nopember 2010 dari Pemohon yang terkait dengan perkara tindak pidana Jaminan Fidusia dengan tersangka BURHANUDIN (Debitur) bahwa dengan sengaja mengalihkan 1 (satu) unit mobil merk Toyota Kijang Inova warna hitam No. Pol.: EA 1642 AZ Nomor Rangka: MHFXW41G350003499, Nomor Mesin : 16040032 yang menjadi obyek Jaminan Fidusia pada orang lain tanpa sepengetahuan atau memberitahukan Penerima Fidusia dan ; Setelah itu dimintakan ijin persetujuan penyitaan kepada Ketua Pengadilan Negeri Sumbawa atas barang bukti 1 (satu) unit mobil merk Toyota Kijang Inova warna hitam No. Pol.: EA 1642 AZ Nomor Rangka : MHFXW41G350003499, Nomor Mesin: 16040032 berdasarkan Surat permohonan persetujuan ijin penyitaan No. Pol.: B/165.aN1/2011/Dit Reskrim tanggal 13 Juni 2011, namun Pengadilan Negeri Sumbawa menolak untuk menerbitkan surat penetapan persetujuan ijin penyitaan dimaksud dengan alasan pelaksanaan sudah lama, akan tetapi menurut Termohon tidak ada aturan yang mengatur secara jelas tentang batas waktu/kedaluwarsa atas permintaan persetujuan ijin penyitaan terhadap benda bergerak yang perkaranya sedang di sidik dan sudah diberkas oleh penyidik Termohon ; 5. Bahwa dalam penanganan perkara tindak pidana Jaminan Fidusia dengan tersangka BURHANUDIN (Debitur) dari alat bukti yang didapat berupa keterangan saksi dan keterangan tersangka dikuatkan dengan adanya barang bukti berupa 1 (satu) unit mobil merk Toyota Kijang Inova warna hitam No. Pol. : EA 1642 AZ Nomor Rangka: MHFXW41G350003499, Nomor Mesin : 16040032 yang ada bahwa tersangka BURHANUDIN telah cukup bukti melakukan tindak pidana Jaminan Fidusia dan berkasnya telah siap untuk diajukan ke Penuntut Umum untuk diteliti, tinggal menunggu ijin persetujuan penyitaan dari Pengadilan Negeri Sumbawa ; 6. Bahwa dari pernyataan Pemohon yang menyatakan atas kejadian tersebut Pemohon sangat dirugikan secara materiil dan moril karena tanpa keberadaan mobil inova tersebut sangat menghambat aktivitasnya seharihari, dalam hal ini Termohon tidak akan menanggapi karena bukan materi pokok dalam Praperadilan ;

7. Bahwa Termohon tidak akan menguraikan lebih rinci terhadap seluruh dalildalil yang dikemukakan oleh Pemohon pada surat permohonannya termasuk penyitaan karena dalam Petitum Pemohon yang menyatakan bahwa penahanan dan/atau penyitaan yang dilakukan Termohon terhadap mobil inova Pemohon (principal) sejak tanggal 4 Nopember 2010 sampai saat ini tidak sah menurut hukum karena tidak dilandasi oleh suatu prosedur hukum yang jelas semata-mata hal tersebut hanya untuk melepaskan diri dari jeratan hukum belaka agar mobil Inova yang disita darinya bisa dikembalikan/dipinjam Pakaikan ; Bahwa oleh karena tindakan penyitaan yang dilakukan oleh Termohon telah sesuai dengan hukum yang berlaku, maka dengan demikian penyitaan yang dilakukan oleh Termohon adalah telah sah menurut hukum maka selanjutnya penyitaan terhadap 1 (satu) unit mobil merk Toyota Kijang Inova warna hitam No. Pol. : EA 1642 AZ Nomor Rangka : MHFXW41G350003499, Nomor Mesin : 16040032, STNK a.n BURHANUDDIN telah memenuhi syarat untuk diteruskan ; Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum terurai tersebut diatas, Termohon mohon kehadapan yang terhormat hakim Praperadilan yang memeriksa dan memutus perkara Praperdilan ini, berkenan memutuskan dengan amar putusan sebagai berikut :

1.

DALAM EKSEPSI

Menyatakan permohonan Praperadilan dari Pemohon ditolak atau setidak-tidaknya tidak dapat diterima; 2. a. DALAM PERKARA POKOK Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya tidak dapat diterima;

b. Menyatakan Penyitaan 1 (satu) unit mobil merk Toyota Kijang Inova warna hitam No. Pol.: EA 1642 AZ Nomor Rangka : MHFXW41G350003499, Nomor Mesin: 16040032 dari Pemohon sah dan mempunyai kekuatan hukum dan oleh karena itu penyitaan 1 (satu) unit mobil merk Toyota Kijang Inova warna hitam No. Pol.: EA 1642 AZ Nomor Rangka: MHFXW41G350003499, Nomor Mesin: 16040032 dari Pemohon dapat diteruskan/dilanjutkan; c. Menghukum Pemohon untuk membayar segala biaya perkara yang timbul dalam perkara ini.

Menimbang bahwa, atas jawaban dari Kuasa Termohon tersebut diatas kuasa Pemohon mengajukan replik tanggal 5 Juli 2011, sedangkan termohon mengajukan pula duplik atas replik dari pemohon tanggal 6 Juli 2011 yang pada pokoknya tetap pada dalilnya masing-masing. Menimbang bahwa baik pemohon dan kuasa termohon telah pula mengajuka kesimpulannya masing-masing tanggal 8 Juli 2011 yang selengkapnya sebagaimana termuat dalam berita acara sidang dan sama-sama mohon putusan pengadilan : Menimbang bahwa untuk membuktikan dan menguatkan dalil-dalil permohonannya, pemohon telah mengajukan alat bukti surat berupa : 1. Foto copy surat Kepala Kepolisian Republik Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat Nomor : HUK.6.6/ NI/2011/Bid Propam tertanggal Juni 2011 perihal Perkembangan hasil penelitian Lapaoran Polisi/pengaduan Sdr. Heri Saptoaji, SH. (tanda bukti P.I ); 2. Foto copy Surat Tanda Penerimaan No. Pol. STP.165.01XI/2010/ DIT.Reskrim tanggal 04 November 2010 (tanda bukti P.2) ; 3. Foto copy Surat Tanda Penerimaan Penitipan Barang tertanggal 3 Nopember 2010 (Tanda bukti P.3.) ;

4. Foto copy surat Laporan dari Advokat/Konsuitan Hukum Heri Saptoaji, SH. Nomor : 09/AK/HS/2011, tertanggal11 Mei 2011 (tanda bukti PA) ; 5. foto copy berita acara pemeriksaan (saksi) atas nama Heri Saptoaji, SH. Alias Eeng tertanggal 8 Nopember 2010 (tanda P.5 ) ; Menimbang ,bahwa selain mengajukan bukti surat tersebut di atas kuasa para Pemohon juga mengajukan 4 (empat) orang saksi yaitu : 1. 2. 3. 4. TITI ACIN SAAT KAMIL TAQWIM, SH. MUHAMMAD IKHWAN,SH. IMAN SANTOSO

SAKSI 1. TITI ACIN SAAT, dibawah sumpah menerangkan sebagai berikut :


Bahwa saksi kenal dengan Pemohon dan isterinya, namun tidak ada hubungan keluarga dekat dengannya,serta tidak kenal dengan Termohon ; Bahwa yang saksi tahu adalah bahwa pada tanggal 3 Nopember 2011 sekitar jam 3.30 wita ada orang datang mencari Pak Heri Saptoaji, SH. o Bahwa yang datang mencari P. Heri Saptoaji, SH berjumlah 6 orang dan mereka datang mengendarai mobil warna silver; Saksi tidak tahu apa keperluan mereka mencari P. Heri Saptoaji,SH. o Bahwa benar, saat itu Pak. Heri Saptoaji, SH. Ada di rumahnya, kemudian saksi mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu, dan saksi langsung masuk ke ruang keluarga ; Bahwa jarak ruang tamu dengan ruang keluarga dekat ; Bahwa pembicaraan Pak Heri dengan tamunya di ruang tamu saksi dengar ; o Saksi mendengar Pak Heri menanyakan kepada tamunya apa keperluannya dan mereka bilang mau mengambil mobil Inova dan mereka juga mengatakan kami datang dengan Polisi dari Polda dan kemudian ada Pak. Wim datang ; o Bahwa saksi juga mendengar Pak Heri berdebat dengan tamunya karena mereka bersikeras mau membawa mobil Inovanya Pak Heri dan Pak Heri tetap bersikeras tidak mau memberinya dan saksi mendengar mereka mengatakan kalau Pak Heri tetap bersikeras tidak mau memberikan mobil Inova terseut maka Pak Heri akan dikenakan pasal penadahan ; o Bahwa saat itu mobil inova tersebut ada di depan rumah ; o Bahwsa setelah itu mobil tersebut di bawa ke Polres oleh Pak Heri ; o Bahwa saksi melihat sekembalinya Pak Heri dari Polres saksi tanya ke isterinya Pak Heri mana mobilnya dan dijawab sudah dititip di Polres demi keamanan ; o Bahwa tamunya Pak Heri datang dari jam 3.30 wita sampai jam 10 malam; o Bahwan besok paginya tanggal 4 Nopember 2010 sekitar jam 10 wita datang lagi 2 orang cari Pak Heri, tetapi karena Pak Heri tidak ada kemudian mereka pulang dan sorenya datang lagi 5 orang dan mereka datang mengendarai mobil Inovanya Pak Heri ; o Saksi tidak kenaI dengan 5 orang tersebut ; o Bahwa saksi melihat setelah Pak Heri datang masuk ke dalam rumah 3 orang dan mereka mengatakan kalau mobil Inovanya Pak Heri mau di sita dan Pak Heri disuruh tanda tangan surat tapi Pak Heri tidak mau tanda tangan dan mereka bilang kalau mereka di suruh oleh Dir, kemudian masuk lagi satu orang dan berbicara dengan isterinya Pak Heri ; o Bahwa saksi mendengar mereka mengatakan kalau mobil tersebut disita untuk penyelidikan dan itu atas perintah lisan dari Dir ; o Bahwa orang yang datang pada tanggal 3 Nopember 2010 sarna dengan orang yang datang tanggal 4 Nopember 2010; Bahwa pada hari pertama tanggal 3 Nopember 2010 mobil tersebut ada di rumah Pak Heri dan malamnya mobil tersebut di bawa ke Polres ;

Saksi tanya orang itu dari mana dan mereka jawab dari Mataram ; Bahwa saksi melihat tidak lama kemudian datang Pak Wim ke rumahnya Pak Heri ; Saksi tanya ke isterinya Pak Heri dari mana dapat mobil tersebut dan dijawab oleh istemya Pak Heri mobil tersebut di tukar dengan mobil pertamanya wama hijau dan di tambah dengan uang kontan Rp. 65.000.000,- di showroom di Pengkolan Aceh Jarak saksi dengan Pak Heri saat itu dekat dan yang saksi dengar yang dibicarakan adalah kalau mereka mau menarik mobil Inovanya Pak Heri dan mereka mengatakan kalau mereka datang dengan Polisi dari Polda ; Saksi tidak tahu masalah mobil tersebut sebelumnya ;

Atas keterangan saksi tersebut kuasa Pemohon membenarkannya,sedangkan kuasa Termohon menolaknya ; SAKSI 2. KAMIL T AQWlM. SH. dibawah sumpah menerangkan sebagai berikut :

Bahwa saksi tidak mengetahui asal permasalahnnya secara pasti ; Bahwa yang saksi tahu kira-kira tahun 2010 saksi di telepon oleh isterinya Pak Heri di minta datang ke rumahnya ; Bahwa pada saat itu Isterinya Pak Heri bilang tolong ke rumah karena ada orang dari Polda ; Saat saksi tiba di rumahnya Pak Heri saksi ada dengar disinggung masalah mobil dan apa isi pembicaraannya saksi tidak begitu jelas mendengarnya ; Bahwa Saat itu ada mobilnya Pak Heri di depan rumahnya ; Bahwa setelah tamunya Pak Heri pulang, saksi sempat mengobrol dengan Pak Heri dan Pak Heri bilang kalau mobilnya mau di tarik karena ada masalah dengan pembayarannya ; Saksi tidak ada lihat surat-surat yang di tanda tangani oleh Pak Heri ; Saksi ada mendengar selentingan kalau mobil tersebut sudah diambil oleh dealer; Bahwa pada waktu saksi tiba di rumah Pak Heri ada kendaraan parkir di depan rumahnya Pak Heri ; Bahwa saksi tahu mobil Pak Heri adalah Inova ; Bahwa yang ada di ruang tamu rumahnya Pak Heri saat itu adalah saksi, Pak Heri, Pak Arifin anggota Reskrim Sumbawa dan yang 2 orangnya saksi tidak kenaI ; Saksi tidak ada dengar pembicaraan mengenai surat perintah ; Pemohon Heri Saptoaji tidak pemah minta pendapat saksi untuk tanda tangan surat; Bahwa benar istri Pemohon juga hadir dan sempat keluar menghidangkan minuman saat itu ; Bahwa saksi tidak ketemu dengan saksi TITI ; Bahwa pada Saat itu saksi duduk di ruang tamu ; Bahwa saksi lupa apakah saksi pemah di bawah ke ruang keluarga oleh isterinya Pak Heri; Bahwa saksi tidak pernah mendengar dari isterinya Pak Heri yang mengatakan kalau mobilnya mau di sita oleh Polda tanpa surat ; Bahwa saksi pemah menghubungi ANDI DADI dari rumah saksi karena teman dan saksi tanya mengenai masalah mobilnya Pak Heri dan di jawab silahkan Pak Heri datang membayar ; Saksi tidak tahu apa kepentingan tamunya datang ke rumahnya Pak Heri ; Saksi ada mendengar yang dibicarakan sepintas adalah masalah mobil dan saksi tidak tanya apa masalah sebenarnya ;

Atas keterangan saksi tersebut,para pihak akan menanggapinya dalam kesimpulannya masing-masing ; SAKSI 3. MUHAMMAD IKHWAN. SH. tidak disumpah karena masih ada hubungan keluarga dengan Pemohon Heri Saptoaji, SH. menerangkan sebagai berikut :

Bahwa yang saksi tahu adalah setelah mobil tersebut di sita oleh Polda ; Bahwa saksi tahu yang di Polda karena saksi yang mendampingi Pemohon Heri Saptoaji ke Polda pada tanggal 7 Nopember 2010 ; Bahwa Saksi ketemu dengan Andi Dadi dan diarahkan ke anggotanya bemama Pak Nasution untuk di BAP ; Bahwa saksi tahu mau diBAP itu maksudnya karena adanya laporan polisi ; Bahwa setelah di BAP disarankan oleh Andi Dadi untuk pinjam Pakai mobil tersebut ;

Bahwa saksi juga tanya ke Pak Nasution aPakah para pihak lain sudah di periksa dan di BAP dan Pak Nasution bilang belum karena Pemohon adalah orang yang pertama di BAP ; Bahwa pada saat itu mobil inova tersebut ada parkir di belakang Reskrim; Saksi dampingi Pemohon ke Polda 3 kali tanggal 7 dan 8 Nopember dan 2 minggu kemudian saksi juga mendampingi Pemohon ke Polda ; Bahwa sampai sekarang mobil tersebut belum di kasih pinjam Pakai ; Bahwa setelah itu saksi tahu Pemohon membawa surat penitipan barang dan memperlihatkan kepada saksi ; Bahwa beberapa kali Pemohon juga menelpon saksi menyuruh saksi untuk melihat mobil tersebut di Polda dan saksi pergi ke Polda dan melihat mobil tersebut tidak ada saksi di parkir di Polda; Saksi pemah diperlihatkan surat oleh pemohon ; Kemudian Hakim memperlihatkan surat bukti P.3 kepada saksi dan saksi membenarkan kalau surat tersebut yang diperlihatkan oleh saksi ; Surat itu adalah surat Penitipan barang bukan surat penyitaan Bahwa menurut saksi Status hukum mobil tersebut tidak sempat saksi tanya ; Bahwa dasar Pemohon di BAP adalah adanya laporan polisi dari ACC Finance; Saksi tidak pernah melihat laporan polisi dari ACC tersebut ; Penyidiknya saat itu yang membuat BAP pemohon adalah Nasution ; Saksi mendampingi Pemohon ke Polda sebagai Saudara; Mobil inova tersebut sampai ada di Polda karena ada tindak pidana penggelapan dan apa masalah pokoknya saksi tidak tahu ;

Atas keterangan saksi tersebut para pihak akan menanggapinya dalam kesimpilannya masing-masing ; SAKSI 4. IMAN SANTOSA. tidak disumpah karena masih ada hubungan keluarga dengan Pemohon Heri Saptoaji, SH. menerangkan sebagai berikut :

Bahwa yang saksi tahu adalah saksi di telepon oleh isterinya Pemohon kalau ada orang yang mau mengambil mobil setibanya saksi di rumah Pemohon saksi dengar perkataan tamunya Pemohon kalau saudara tetap bertahan saudara akan di kenakan pasal penadahan dan di jawab oleh Pemohon apa saudara tahu unsurunsur penadahan tersebut ; Bahwa saksi melihat mobil tersebut di bawa ke Polres untuk di titip ; Bahwa keesokan harinya saksi ke rumah Pemohon dan saksi lihat ada lagi orang datang dan saksi lihat ada Pak Wim datang dan saksi juga lihat istemya Pemohon pegang tangannya Pak Wim dan bilang gimana kak ini disuruh tanda tangan surat penyitaan dan Pak Wim bilang tanda tangan saja ;

Atas keterangan saksi tersebut para pihak akan menanggapinya pada kesimpulannya masing-masing ; Menimbang, bahwa selanjutnya untuk membuktikan dalil-dalil sangkalannya, pihak Termohon telah mengajukan bukti-bukti surat sebagai berikut ; 1. Foto Copi Laporan Polisi Nomor : LP / 253 / .xII 2010/ NTB / Dit Reskrim, tangga14 Nopember 2010 a.n. pelapor Bambang Imam Wahyudi, Ir. MM, (bukti T.l ) 2. Foto Copi Surat Perintah Penyidikan No. Pol. : SP.Sidik /62911 XI 12010 / Dit Reskrim, tanggal4 Nopember 2010. (bukti T.2) ;

3. Foto Copi Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan No. Pol. : B / 73 / VI /2011/ Reskrimum, tangga1l4 Juni 2011, (bukti T.3 ) 4. Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Saksi/Pelapor Bambang Imam Wahyudi, Ir. MM tanggal4 Nopember 2010, (bukti T.4)

5. Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Saksi NATASA KARWUR. ST, tanggal 23 Nopember 2010, (bukti T.5 ) ; 6. Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Saksi MUHAMAD IW AN RIY ADI, tanggal 18 Nopember 2010, (bukti T.6 ) ; 7. Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Saksi ANG KlAN GI alias ANGGIE, tanggal 31 Desember 2010, (bukti T.7); 8. Foto Copi Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Saksi H. ARIF SOFYANTO.

Tanggal 28 Januari 2011 (bukti T.8 ) ; 9. Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Saksi SINTA W AT! alias SINTA. Tanggal 28 Januari 2011, (bukti T.9 ) 10. Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Saksi SAKIRIN alias KIRIN, tangga1 28 Januari 2011, (bukti T.lO) 11. Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Saksi HERI SAPTOAJI, tanggal 8 Nopember 2010 (bukti T.11 ) 12. Foto Copi Berita Acara Pemeriksaan Tersangka atas nama BURHANUDDIN, tanggal 7 Juni 2011. (bukti T.12 ) 13. Foto Copi Surat Perintah Tugas No. Pol: Sprin.gas /628/ XI 2010/ Reskrim, tanggal4 Nopember 2010 (bukti T.13 ) 14. Foto Copi Surat Perintah Penyitaan No. Pol: Sprin.Sita /1651 XI 12010 I Dit Reskrim, tanggal4 Nopember 2010 (bukti T.14) 15. Foto Copi Berita Acara Penyitaan, tanggat 4 Nopember 2010. (bukti T.15)

16. Foto Copi Surat Tanda Penerimaan No. Pol. : STP / 165.c / XI 12010 I Reskrim, tangga14 Nopember 2010 (bukti T.16) ; 17. Foto Copi Permintaan Persetujuan Penyitaan Nomor : B 1 165.a 1 VI 12011 / Dit Reskrimum, tang gal 13 Juni 2011 (bukti T.17) ; 18. Foto Copi Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia dengan No. Perjanjian 01.400.602.00092297.7 tanggal24 Agustus 2009, (bukti T.18 ) ; 19. 20. Foto Copi Sertifikat Jaminan Fidusia dengan Nomor : W.24-2368-HT. 04.TH.2009/STD, (bukti T.19 ) Foto Copi Akta Jaminan Fidusia dengan Nomor: 64 tanggalll September 2009. (bukti T.20 )

21. Foto Copi Surat dari Advokad dan Pengacara Abdul Hanan, SH dan Rekan dengan nomor : 11 1 LP-eks 1 H / 2010, tanggal 25 Oktober 2010 tentang laporan pidana, (bukti T.21 ), Menimbang, bahwa selain mengajukan bukti-bukti surat tersebut di atas,untuk mendukung dan meneguhkan dalil-dalil bantahannya Termohon juga menghadirkan 2 (dua) orang saksi yaitu : SAKSI 1. SHAM MARLON ROM, dibawah sumpah menerangkan sebagai berikut :

Saksi mengerti sehubungan dengan permasalahan untuk menyita mobil Inova dari tangan pemohon di Sumbawa Besar ; Bahwa saksi mengerti sehubungan dengan permasalahan penyitaan mobil inova Pemohon warna hitam EA 1642 AZ ;

Bahwa Saksi berangkat dari Mataram ke Sumbawa tanggal 3 Nopember 2010 untuk mencari kendaraan mobil tersebut dan setibanya di Sumbawa saksi berkordinasi dengan Polres Sumbawa ; Bahwa saksi ke Sumbawa untuk mengadakan penyelidikan awal karena saksi mendapat informasi kalau mobil inova tersebut berada di Sumbawa Bahwa saksi membawa Surat Perintah untuk melakukan penyelidikan awal terhadap mobil tersebut ; Bahwa pada tanggal 3 tersebut saksi tidak ada membawa surat perintah penyitaan ; Bahwa pada tanggal 3 tersebut kami dari Polda di antar oleh Pak Hanan Pengacaranya ACC ke rumah Pak Heri dan temyata mobil tersebut ada di rumahnya Pak Heri clan saksi langsung lapor ke atasan saksi ; Bahwa saksi ketemu dengan orang ACC di Sumbawa di hotel Tambora ; Bahwa saksi berangkat dari Mataram dengan atasan saksi AZ MUTAKIM : Bahwa pada waktu saksi ke rumah Pak Heri saksi bersama dengan orang ACC karena mereka yang menunjukkan rumahnya Pak Heri ;

Bahwa saksi ke rumah Pak Heri bersama dengan senior saksi AZ MUTAKIM, Pak Hanan dan orang ACC ; Bahwa dasar untuk melakukan penyelidikan karena adanya laporan polisi ; Bahwa sebelum tanggal 3 apa ada laporan polisi mengenai mobil inova tersebut saksi tidak tahu karena saksi berada di lapangan ; Bahwa pada tanggal 3 saksi di rumah Pak Heri dari jam 15.30 sampai malam; Bahwa kami berada di rumah Pak Heri sampai malam karena kami lama berbicara dengan Pak Heri ; Bahwa sebagai Penyidik di Polda melakukan penyelidikan berdasarkan laporan Polisi dan kalau sudah jelas di tingkatkan ke penyidikan, dan penyidikan di lakukan oleh penyidik ; Bahwa setelah di temukan Barang bukti mobil tersebut di Sumbawa pada tanggal 3 Nopember 2010 tidak dilakukan penyitaan dan baru pada tanggal 4 Nopember 2010 di lakukan penyitaan di rumahnya Pak Heri dengan menjelaskan pada Pak Heri kalau surat Perintah Penyitaannya tertinggal di Mataram ; Bahwa saksi melakukan penyitaan atas nama ANDI DADI Kanit Serse; o Bahwa pada tanggal 3 Nopemver 2010 itu saksi balik lagi ke Mataram dan sampai Mataram jam 2 malam dan paginya tanggal 4 Nopember balik lagi ke Sumbawa dari Mataram dengan membawa Surat Periantah Penyitaan (bukti T. 14 ) ; o Bahwa setelah di sita mobil tersebut langsung di bawa ke Mataram ; o Bahwa Mobil tersebut di sita karena ada tindak pidana dan siapa tersangkanya saksi tidak tahu; o Bahwa pada tanggal 3 dan 4 Nopember 2010 saksi juga tidak tahu siapa tersangkanya karena setelah menyita mobil tersebut langsung di serahkan ke penyidik ; Bahwa Penyitaan mobil tersebut di rumah Pak Heri tanpa Paksaan ; Bahwa dasar melakukan penyelidikan karena ada surat perintah tugas ; Bahwa surat tugas keluar karena adanya laporan ;

Bahwa Surat Perintah tugas terkait keberadaan mobil inova tersebut ;


Bahwa yang diperintahkan untuk melakukan penyitaan adalah saksi dan AZ MUTAKIM; Bahwa Senior saksi AZ MUTAKIM memperlihatkan kepada saksi Surat Penyitaan tersebut dan yang memerintahkan untuk penyitaan adalah atasan saksi ANDI DADI; Bahwa yang menyerahkan mobil tersebut untuk dilakukan penyitaan adalah Pak Heri sendiri di rumahnya Pak Heri dan mobil tersebut sebelum diserahkan oleh Pak Heri diambil di Polres dengan ijin dari Pak Heri ; Bahwa Mobil tersebut ada di Polres karena ada kesepakatan antara ACC dengan Pak Heri;

Bahwa Mobil tersebut ada di rumah Pak Heri karena saksi yang bawa dari Polres dan saksi sudah minta ijin secara lisan kepada Pak Heri ;

Bahwa saksi pernah di Polres saksi diperlihatkan Surat Penitipan Barang ; Bahwa Saksi tidak tahu apa ada surat pengembalian barang ke Pak Heri ; Bahwa Saksi lupa apa ada atau tidak Surat Pencabutan Penitipan Barang di Polres ;

Bahwa Saat mobil tersebut di sita di rumah Pak Heri ada dibuatkan Surat Tanda Penerimaan ; Bahwa yang ada saat itu di rumah Pak Heri adalah saksi, AZ Mutakim, 1 orang anggota Polres dan orang ACC ; Bahwa Surat Tanda Penerimaan Barang tersebut di buat di Mataram ; Benar surat Bukti P.3 adalah surat Tanda Penerimaan Penitipan Barang dan yang menyaksikan saat itu anggota Polres Sumbawa dan beberapa orang yang saksi lupa; Bahwa Mobil tersebut harus di bawa kembali ke rumah Pak Heri karena harus minta ijin dulu ke Pak Heri untuk dilakukan penyitaan ; Bahwa tujuan saksi tanggal 4 kembali ke rumah Pak Heri untuk minta ijin dan tanda tangan atas penyitaan barang tersebut ; Bahwa pada tanggal 4 Nopember 2010 saat dilakukan penyitaan prosesnya sudah dilengkapi Bahwa Sampai sekarang saksi tidak tahu apa sudah ada atau belum Persetujuan Penyitaan dari Pengadilan Negeri karena itu sudah bukan tugas saksi lagi ;

Atas keterangan saksi tersebut para pihak akan menanggapi dalam kesimpulannya masing-masing ;

SAKSI 2. MUHAMAD IWAN RIYADI dibawah sumpah menerangkan sebagai berikut :


Bahwa Saksi kenaI dengan mobil Inova tersebut, platnya EA 1642 atas nama Burhanuddin; Bahwa Burhanuddin sekarang khabar terakhimya berada di Kalimantan; Bahwa posisi angsuran mobil tersebut sudah tidak terbayar dari Maret 2010 sampai dengan sekarang ; Bahwa yang dilakukan oleh PT ACC adalah mencari mobil tersebut dan saksi mendapat informasi kalau mobil tersebut berada di Sumbawa tepatnya di Pak Heri Saptoaji ; Sebelumnya saksi tidak pemah ada kontak dengan Pak Heri tapi bagian penagihan pemah menghubungi Pak Heri dan saksi mendapat informasi dari bagian penagihan kalau mobil tersebut tidak dibayar ; Burhanuddin baru membayar kredit mobil tersebut selama 6 bulan ; Ada Laporan Polisi mengenai penggelapan mobil tersebut dan tanggalnya saksi tidak tahu karena yang amelakukan laporan adalah atasan saksi Pak Bambang ; Tanggal 3 Nopemher 2010 saksi ke Sumbawa untuk mencari mobil tersebut dan untuk menarik mobil tersebut dari Pah Heri ; Awalnya saksi tidak bersama dengan Polisi dari Polda dan kami baru ketemu di hotel tambora dengan polisi dari Polda ; Bahwa yang kontak polisi adalah Pak Hanan Pengacaran PT ACC. Bahwa angsuran Burhanudin tiap bulan terhadap PT ACC sebesar Rp. 4.020.000,Bahwa pada tanggal 3 Nopember 2010 ada perintah dari atasan saksi dan saksi berangkat dengan Pak Hanan Pengacara PT ACC. Bahwa pada tanggal 4 Nopember 2010 yang ada di rumah Pak Heri adalah Pak Heri dan isterinya ; Bahwa yang menyaksikan penyerahan mobil tersebut Pak Heri sendiri ; Bahwa setelah 6 bulan tidak ada cicilan, baru ada laporan dari atasan saksi ke Polisi dan Yang dilaporkan adalah Pak Burhanudin; Bahwa Mobil tersebut ada di Pak Heri tapi bukan Pak Heri yang di laporkan ke Polisi karena yang dilaporkan Pak Burhanudin karena konsumen PT ACC adalah Pak Burhanudin ;

Bahwa pada Tanggal 3 Nopember 2010 saksi ke rumah Pak Heri bersama dengan Polisi satu mobil ;

Bahwa Hubungan Barawijaya dengan ACC adalah kerja sama ada kontraknya; Bahwa saksi Tidak tahu kalau sebelum dilaporkan mobil tersebut berada di Brawijaya ; Bahwa pembiayaan mobil Inova tersebut dari ACC ; Bahwa BPKB mobil tesebut atas nama SERASIH dan terakhir atas nama Burhanudin ; Bahwa pada waktu Atas nama Serasih masih plat B dan setelah atas nama Burhanudin platnya EA; Bahwa kalau tanpa BPKB tidak bisa Mutasi dan mobil tersebut yang mengurus mutasinya adalah dealer Brawiaja Motor; Bahwa pada tanggal 3 Nopember 2010 waktu ke rumah Pak Heri kami pergi ber 4, saksi, Pak Sham, AZ Muttakim dan Pak Hanan/Pengacara ACC ;

Bahwa saksi tahu ada penitipan di Polres Sumbawa untuk pengamanan karena itu adalah aset dari ACC ; Bahwa Pak Heri ngotot tidak mau menyerahkan dan dengan memperlihatkan bukti kepemilikan dan ACC juga punya bukti makanya diambil jalan tengah untuk dititip di Polres ; Bahwa setelah mobil tersebut dititipkan ke PoIres saksi bersama Pak Hanan ke rumah orang tuanya Pak Hanan dan Polisi balik ke Hotel Tanggal 3 malam apakah anggota dari Polda itu masih ada atau tidak di hotel saksi tidak tahu karena saksi balik ke hotel sudah malam dan langsung tidur ; Bahwa pada pagi hari tanggal 4 Nopember 2010 Polisi Polda itu masih ada di hotel sampai siang; Bahwa saksi Tahu mobil tersebut di bawa ke rumah Pak Heri dan yang bawa adalah orang Polda; Bahwa ACC ada kerjasama dengan show room cahaya motor; Bahwa Ada surat yang diperlihatkan ke Pak Heri oleh orang Polda dan apa isinya saksi tidak tahu;

Atas keterangan saksi para pihak akan menanggapi dalam kesimpulannya masing-masing ; Menimbang ,bahwa kedua belah pihak menyatakan tidak akan mengajukan sesuatu hal lagi dan selanjutnya mohon putusan Pengadilan ; Menimbang bahwa menurut ketentuan pasal 82 ayat (1) huruf b KUHAP yang berbunyi sebagai berikut Dalam memeriksa dan memutus tentang sah atau tidaknya penangkapan atau penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan, permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitasi akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan, akibat sahnya penghentian, penyidikan atau penuntutan dan ada benda yang disita yang tidak termasuk alat pembuktian, hakim mendengar keterangan baik dari tersangka atau pemohon maupun dari pejabat yang berwenang. Menimbang bahwa dengan mengacu pada ketentuan pasal tersebut di atas maka kuasa Pemohon menyatakan bahwa tidak akan menghadirkan Pemohon incasu Heri Saptoaji,SH. Untuk didengar keterangannya di sidang Pra peradilan ini, dan menganggap permohonan Pemohon sebagai keterangan dari Pemohon, demikian pula kuasa Termohon menyatakan bahwa jawaban Termohon meruPakan keterangan dari Termohon ; Menimbang bahwa setelah memperhatikan bukti-bukti surat dari Pemohon dan Termohon dikaitkan dengan ketentuan tentang bea materai, dimana telah dibubuhi materai secukupnya, sehingga dapat dijadikan alat bukti dalam perkara permohonan Pra peradilan ini dan sah diterima sebagai alat bukti. Menimbang bahwa segala kejadian dalam persidangan perkara ini adalah merupakan satu kesatuan dan turut pula dipertimbangkan dalam putusan ini. TENTANG HUKUMNYA

Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan Pra peradilan dari Pemohon adalah sebagaimana telah diuraikan diatas. Menimbang bahwa atas permohonan Pemohon, Termohon melalui Kuasa Hukumnya telah mengajukan jawaban yang pada intinya sebagai berikut : DALAM EKSEPSI : I. Bahwa permohonan/gugatan praperadilan yang diajukan Pemohon adalah tidak sah, karena instansi/pejabat yang digugat/dimohonkan praperadilan salah (Error in persona) dan tidak lengkap, kemudian Termohon juga pada intinya mendalilkan bahwa pertanggungjawaban dan konsekwensi penyidikan dibebankan pertanggungjawabannya pada penyidik itu sendiri dan bukan kepada pimpinan atau atasan penyidik,sehingga mendudukkan kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, sebagai Termohon adalah keliru.Kemudian

Termohon juga mendalilkan bahwa tidak ada istilah Kepala Penyidik Poda NTB yang ada adalah Pejabat Penyidik sebagaimana ketentuan peraturan perundang-undangan. II. Bahwa menurut Termohon Bahwa Pengadilan Negeri atau Hakim Praperadilan tidak berwenang memeriksa perkara ini, karena menurut ketentuan pasal 77 KUHAP kewenangan Hakim Praperadilan adalah memeriksa dam memutus perkara dalam lingkup proses Penyidikan, sah atau tidak sahnya penagkapan,penahanan,penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan, sedangkan mengenai kewenangan hakim praperadilan sebagaimana dimaksud pasal 82 ayat (3) huruf d hanya menjelaskan dalam hal menetapkan bahwa benda yang disita ada yang tidak termasuk alat pembuktian ; Menimbang, bahwa sebelum Hakim Pra peradilan perkara ini memeriksa materi pokok Pra peradilan ini lebih lanjut, maka eksepsi dari Kuasa Termohon tersebut akan dipertimbangkan apakah beralasan ataukah tidak ? Menimbang, bahwa Eksepsi Termohon pada poin 1 adalah sebagaimana terurai di atas ; Menimbang, bahwa menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di mana menggarisbawahi bahwa setiap Institusi Negara ini mempunyai tanggung jawab yang tidak hanya melekat pada setiap individu atau Pejabat yang memimpin Institusi tersebut,namun juga bertanggung jawab atas tindakan setiap yang mengatas namakan institusi tersebut baik yang diberikan secara langsung oleh ketentuan hukum atau peraturan perundang-undangan maupun atas perintah pejabat atasannya, apakah itu pejabat sipil maupun militer, ataukah eksekutif maupun legislatif ; Menimbang, bahwa pertanggung-jawaban intitusi senantiasa diartikan bahwa kewenangan yang diberikan oleh undang-undang dan mengatas namakan undang-undang, harus selalu dalam menjalankannya berpegang teguh pada asas hukum atau aturan yang mengaturnya, dan bukan atas nama pribadi atau golongan Pejabat aquo ; Menimbang, bahwa Penempatan Termohon sebagai pihak dam perkara permohonan ini adalah selaku institusi penegakan Hukum dalam bidang Penyelidikan dan Penyidikan, dimana Termohon sebagai Pejabat Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat yang merupakan atasan dari Penyidik aquo, bertanggung jawab dalam perlaksanaan tugas kedinasan anggotanya, terlebih lagi dalam rangka proses penanganan perkara yang merupakan tugas dan tanggung jawab Termohon yang merupakan institusi yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan ; Menimbang, bahwa pada ketentuan Pasal 5 UU Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisiaan Negara Republik Indonesia ayat (2) menyatakan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Kepolisian Nasional yang merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tersebut ; Menimbang, bahwa dalam Pasal 6 ayat (2) menyatakan bahwa dalam rangka pelaksanaan peran dan fungsinya Kepolisian Negara Republik Indonesia dibagi dalam daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia ; Menimbang, bahwa dalam Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa pimpinan Kepolisan Negara Republik Indonesia di daerah hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan wewenag kepolisian secara hierarki, sedangkan ayat (2) menyatakan ketentuan mengenai tanggung jawab secara hierarki sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kapolri ; Menimbang, bahwa Lembaga Kepolisian merupakan Institusi dimana di tingkat pusat dipimpin oleh Kapolri, di tingkat propinsi dipimpin oleh Kapolda, kemudian di Tingkat kabupaten atau kota dipimpin oleh Kapolres atau Kapolresta, serta di tingkat kecamatan dipimpin oleh Kapolsek, yang mempunyai fungsi dan tugas masingmasing serta secara berjenjang memiliki tugas dan kewenangan yang melekat yang membawa konsekwensi yuridis dan pertanggung jawaban secara yuridis pula ;

Menimbang, bahwa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya secara berjenjang tersebut para aparat kepolisian disetiap tingkatan haruslah mengikuti dan melaksanakan aturan hukum yang berlaku serta haruslah memperhatikan dan mempedomani aturan dan norma-norma moral dan etika serta Profesionalisme dalam menjalankan tugasnya ; Menimbang, bahwa menurut hemat Hakim mengenai diikutsertakannya Termohon Aquo Kapolda Nusa Tenggara Barat sebagai Termohon, adalah beralasan hukum karena susunan, organisasi dan tata kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pelaksaan tugas dan wewenangnya diatur lebih lanjut dengan keputusan Presiden incasu pemerintah sebagaiman ketentuan Pasal 7 Undang- undang nomor : 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. Menimbang, bahwa pada Pasal 8 ayat (1) dengan jelas disebutkan bahwa Kepolisian Republik Indonesia berada di bawah Presiden selanjutnya disebutkan pada ayat (2) Kepolisian Republik Indonesia dipimpin oleh Kapolri yang pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab pada Presiden sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan tersebut jelaslah penempatan Kepala Kepolisan Daerah Nusa Tenggara Barat sebagai Termohon dalam perkara ini haruslah di artikan sebagai kesatuan yang utuh dari sebuah intitusi Negara yang bernama Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang pertanggungjawaban secara hierarki akan tugas dan kewenangannya yang melekat dan tidak terpisahkan sebagai sebuah satu kesatuan jalur komando yang utuh sebgaimana amanat Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tersebut di atas, sehingga hakim berpendapat bahwa karena eksepsi Termohon pada poin 1 tersebut adalah tidak beralasan hukum sehingga eksepsi Termohon pada poin I tersebut di atas beralasan untuk ditolak. Menimbang, bahwa menyangkut eksepsi pada poin ke II tersebut diatas, kami Hakim mempertimbangkan bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 77 KUHAP yang berisi Pengadilan negeri berwenang memeriksa dan memutus ,sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini tentang : a. Sah atau tidaknya penagkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan ;

b. Ganti rugi dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan ; Menimbang, bahwa ketentuan tersebut pada Pasal 77 Kuhap tidaklah dapat dipisahkan dengan ketentuan lain dalam pasal-pasal selanjutnya, yaitu Pasal 82 ayat (1) huruf b KUHAP yang berbunyi dalam memeriksa dan memutus tentang sah atau tidaknya penangkapan atau penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan, permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi akibat tidak sahnya pengkapan atau penahanan, akibat sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan dan ada benda yang disita yang tidak termasuk alat pembuktian, hakim mendengar, keterangan baik dari tersangka atau pemohon, maupun dari pejabat yang berwenang, sedangkan dalam Pasal 82 ayat (3) huruf d KUHAP dengan jelas disebutkan bahwa, dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada yang tidak termasuk alat pembuktian, maka dalam putusan dicantumkan bahwa benda tersebut harus segera dikembalikan kepada tersangka atau dari siapa benda itu disita ; Menimbang, bahwa pasal-pasal tersebut berkaitan pula dengan ketentuan Pasal 95 ayat (2) yang berbunyi : tuntutan ganti kerugian oleh tersangka atau ahli warisnya atas penangkapan atau penahanan serta tindakan lain tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekliruan mengenai orang atau hukum yang diterapkan, sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan negeri, diputus di sidang praperadilan sebagimana dimaksud pada Pasal 77, sedangkan ayat (5) pasal tersebut di atas menyebutkan pemeriksaan terhadap ganti kerugian sebagaimana ayat (4) mengikuti acara praperadilan ; Menimbang, bahwa bertitik tolak dari pasal-pasal tersebut diatas, hakim berpendapat, bahwa praperadilan tidak hanya diatur pada pasal-pasal tentang kewenangan praperadilan pada Pasal 77 KUHAP saja,akan tetapi juga diatur dalam Pasal 95 KUHAP tersebut di atas ; Menimbang, bahwa pada penjelasan Pasal 95 ayat (1) KUHAP yang dimaksud dengan kerugian karena tindakan lain ialah kerugian yang ditimbulkan oleh pemasukan rumah, penggeledahan dan penyitaan yang tidak

sah menurut hukum termasuk penahanan tanpa alasan ialah penahanan yang lebih lama daipada pidana yang dijatuhkan ; Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan pasal-pasal tersebut di atas menurut Hakim, maka eksepsi Termohon yang menyatakan pengadilan dalam praperadilan ini tidak berwenang adalah tidak beralasan, karena jelas disebutkan bahwa Penyitaan juga merupakan ruang lingkup dari pada Praperadilan, sehingga dengan demikian maka eksepsi Termohon pada poin 2 juga beralasan hukum untuk ditolak. Menimbang, bahwa oleh karena itu maka eksepsi Termohon beralasan hukum untuk ditolak seluruhnya.

DALAM POKOK PERKARA : Menimbang, bahwa apa yang telah dipertimbangkan dalam bagian eksepsi tersebut di atas merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan pertimbangan pada pokok perkara ini ; Menimbang, bahwa setelah meneliti keseluruhan permohonan Pemohon, maka yang menjadi dalil pokok dari Pemohon adalah sebagai berikut : Adanya Penyitaan atas 1 (satu) unit mobil inova warna hitam No.Pol EA 1642 AZ Nomor ERangka : MHFXW41G350003499 dan nomor mesin :16040032 besert6a STNK dan kunci kontaknya, sejak tanggal 4 Nopember 2010 sampai dengan saat ini tanpa suatu prosedur hukum yang berlaku ; Menimbang, bahwa sebelum mempertimbangkan dalil-dalil permohonan Pemohon terlebih dahulu akan dipertimbangkan mengenai batasan kewenangan hakim Praperadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 10 KUHAP berbunyi sebagai berikut : Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini tentang : a. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka. b. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan. c. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan. Menimbang, bahwa dalam Pasal 77, 78, 79 KUHAP, disebutkan tentang kewenangan pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus permohonan praperadilan sebagaimana tersebut pada Pasal 1 angka 10 KUHAP tersebut diatas, disamping itu juga kewenangan hakim praperadilan diatur pada Pasal 95 ayat (2) yang menyatakan secara implisit tentang permohonan ganti kerugian atas tindakan lain yang dilakukan tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan maupun penangkapan dan penahanan yang tidak sah dapat diajukan tuntutan ganti rugi dalam sidang praperadilan. Menimbang, bahwa M. YAHYA HARAHAP, SH. Dalam bukunya pembahasan dan permasalahan KUHAP dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan tindakan lain adalah : Penggeledahan, Penyitaan, dan Memasuki Rumah ; Menimbang, bahwa berdasarkan wewenang tersebut diatas, maka pengadilan akan meneliti dan menelaah apakah dalil-dalil permohonan Pemohon telah sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh ketentuan tersebut diatas. Menimbang, bahwa atas dalil permohonan tersebut, Termohon telah menyangkalnya sebagaimana dalil-dalil bantahannya tersebut di atas ;

Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalilnya masing-masing para pihak telah mengajukan alat bukti dan saksi tersebut di atas ; Menimbang, bahwa selanjutnya Hakim akan mempertimbangkan dalil-dalil para pihak sebagai berikut : Menimbang, bahwa mengenai dalil yang menyatakan bahwa penyitaan yang dilakukan oleh Termohon atas sebuah mobil inova tersebut adalah menyalahi ketentuan hukum yang berlaku, ataukah tidak, hakim akan memberikan pertimbangan sebagai berikut : Menimbang, bahwa terlebih dahulu Hakim akan menjelaskan mengenai apakah yang dimaksud Penyidik. ; Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan Penyidik adalah Pejabat polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan Penyidikan ; Menimbang, bahwa selanjutnya yang dimaksud dengan Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan dibawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan ; Menimbang, bahwa dengan demikian tindakan penyitaan merupakan suatu tindakan atau proses hukum, dimana telah terlebih dahulu ditetapkan adanya tersangka,yang diawali dengan adanya laporan polisi, dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi, kemudian baru dilakukan penyitaan, yang berarti proses perkara haruslah sudah pada tahap Penyidikan ; Menimbang, bahwa ternyata bukti bertanda P-2 dari Pemohon menerangkan bahwa mobil yang ada dalam penguasaan pemohon telah disita oleh Termohon pada tanggal 4 November 2010, yang sebelumnya diawali dengan proses penitipan pada Polres Sumbawa pada tanggal 3 November 2010, yang menurut Pemohon disebabkan oleh karena adanya desakan dari pihak Termohon,incasu Penyidiknya yang telah datang ke rumah Pemohon untuk mengambil obyek Penyitaan /mobil inova tersebut incasu bukti P-3 ; Menimbang, bahwa atas kejanggalan tersebut pemohon telah melaporkan tindakan penyidik sesuai bukti P-4, Pemohon telah melaporkan perbuatan para penyidik Termohon tersebut, sehingga keluar jawaban dari pihak Termohon bukti P-1 yang menyatakan bahwa tindakan para Termohon incasu penyidik dalam hal ini telah bertentangan dengan prosedur hukum yang berlaku, tentang proses Penyitaan, maupun penitipan barang bukti aquo. Bahwa kejanggalan lainnya yaitu para saksi dalam dugaan kasus penggelapan, baru diperiksa setelah mobil tersebut disita dari Pemohon, yaitu saksi Heri Saptoaji diperiksa pada tanggal 8 Nopember 2010 bukti bertanda P-5 ; Menimbang, bahwa para saksi dari Pemohon juga menjelaskan bahwa benar Termohon dengan ditemani oknum ACC mataram telah mengambil mobil Inova tersebut dari tanggal 3 Nopember 2010 dan baru dibuatkan Penyitaannya tanggal 4 Nopember 2010 ; Menimbang, bahwa ternyata terbukti bahwa atas kasus yang ditangani Penyidik berdasakan bukti T-1 ternyata laporan polisi atas kasus penggelapan yang mobilnya dijadikan barang bukti baru dilaporkan tanggal 4 Nopember 2010, bersamaan waktunya dengan tanggal dimintakannya Keterangan saksi Pemohon dan Termohon jelas menerangkan Bahwa para Penyidik telah berada di Sumbawa sejak tanggal 3 Nopember 2010 ;

Menimbang, bahwa Ternyata Bukti T-2 tentang surat printah penyidikan baru terbit tanggal 4 Nopember 2010 sama dengan tanggal dikeluarkannya penyitaan ; Menimbang, bahwa bukti surat perintah dimulainya Penyidikan dikeluarkan tanggal 14 Juni 2010 bukti T-3, sedangkan bukti P-4 merupakan berita acara pemeriksaan saksi pelapor tanggal 4 Nopember 2010, hari yang sama dengan tanggal penyitaan mobil tersebut ;

Menimbang, bahwa bukti lainya bertanda T-5 s/d T-12 adalah berupa Berita Acara pemeriksaan saksi-saksi setelah tanggal 4 Nopember 2010 ; Menimbang, bahwa bukti T-13 adalah perintah tugas untuk menyita mobil, padahal keterangan saksi pemohon, pada tanggal 3 Nopember 2010 tersebut telah datang ke Sumbawa dengan membawa surat tugas untuk penyelidikan keberadaan mobil tersebut, kemudian balik ke Mataram untuk melaporkan dan membawa surat perintah penyitaan, padahal menurut keterangan saksi kedua Termohon bahwa saksi ke1 Termohon tidak pernah meninggalkan Sumbawa, dengan demikian terjadi pertentangan antara keterangan para saksi Termohon ; Menimbang, selanjutnya Hakim akan mempertimbangkan lebih lanjut tentang Penyitaan yang dilakukan oleh Termohon apakah sah ataukah tidak ? Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, Penyidik Kepolisian Republik Indonesia incasu Penyidik Polda NusaTenggara Barat adalah pejabat yang diberikan wewenang untuk melakukan Penyitaan ; Menimbang, bahwa apakah semua barang bukti bisa dilakukan Penyitaan?, Menimbang, bahwa Penyidik dapat melakukan Penyitaan atas semua barang bukti yang berkaitan dengan suatu tindak pidana yang didahului dengan prosedur seperti pertimbangan tersebut di atas, yaitu adanya tersangka, adanya pemeriksaan awal kepada para saksi dan lain-lain dan tentunya didahului oleh adanya suatu laporan/pengaduan polisi ; Menimbang, bahwa dalam perkara aquo telah ada tersangkanya menurut Termohon yaitu Burhanudin, berdasarkan bukti-bukti Termohon tersebut, namun suatu hal yang tidak lazim/tidak prosedural dalam proses Penyitaan yaitu adanya laporan polisi yang bersamaan waktunya (bukti Pemohon dan Termohon) yaitu pada tanggal 4 Nopember 2010 yang telah diakui oleh para Pihak, malahan sejak tanggal 3 Nopember 2010 Termohon atau Penyidik dalam perkara aquo telah menguasai obyek Penyitaan tersebut, padahal pemeriksaan saksi pelapor dan para saksi lainnya belum dilakukan ; Menimbang, bahwa apakah setiap barang bukti yang diduga hasil atau diPakai atau terkait dengan tindak pidana dapat disita ?, menurut Hakim Barang bukti seperti tersebut di atas dapat disita oleh Penyidik dengan syarat terpenuhinya ketentuan Pasal 38 ayat (1) KUHAP yang menyatakan Penyitaan hanya dapat dilakukan oleh Penyidik dengan surat izin ketua Pengadilan Negeri setempat ; Menimbang, bahwa barang bukti ternyata berada di wilayah hukum Pengadilan Negeri Sumbawa, berarti tindakan Penyitaan harus terlebih dahulu mendapat ijin dari Ketua Pengadilan Negeri Sumbawa Besar ; Menimbang, bahwa ternyata menurut Termohon dalam jawabannya mengakui bahwa sampai saat ini tidak ada izin dari Pengadilan negeri Sumbawa untuk menyita mobil inova tersebut ; Menimbang, selanjutnya pasal 38 ayat (2) memberikan ruang bagi penyidik bila dalam keadaan perlu dan mendesak bilamana Penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, tanpa mengurangi ketentuan ayat (1) Penyidik dapat melakukan penyitaan hanya atas benda bergerak dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada ketua Pengadilan Negeri setempat guna memperoleh persetujuannya ; Menimbang, bahwa bertitik tolak dari pasal tersebut di atas bahwa izin Ketua Pengadilan tempat barang yang akan disita berada adalah mutlak harus ada sebelum penyitaan dilakukan, kecuali bila karena adanya alasan yang mendesak dan perlu sifatnya penyidik dapat melakukan penyitaan terlebih dahulu,akan tetapi wajib segera meminta persetujuan ketua pengadilan negeri setempat incasu Pengadilan Negeri Sumbawa Besar ; Menimbang, bahwa apakah Penyitaan yang dilakukan oleh Termohon dapat dikatagorikan dalam keadaan perlu dan mendesak ;

Menimbang bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dan diakui oleh para pihak, maka menurut pendapat hakim bahwa tidak terdapat hal-hal yang perlu dan mendesak sifatnya yang menggugurkan ketentuan Pasal 38 ayat (1), karena obyek sengketa dikuasai oleh Pemohon ,seorang advokat yang mengerti hukum, sedangkan barang bukti bukanlah zat yang bersifat cepat rusak atau mudah dihilangkan, sehingga dalam kasus aquo seharusnya Penyidik meminta izin Pengadilan Negeri Sumbawa Besar terlebih dahulu, bukannya malah pergi ke Mataram untuk meminta surat Perintah Penyitaan dari atasan Penyidik tersebut, Menimbang, bahwa kalaupun demikian bila hal-hal yang menurut Termohon sangat perlu dan mendesak seharusya tidak berapa lama atau maksimal 2 (dua) minggu menurut Hakim setelah dilakukannya penyitaan tanggal 4 Nopember 2010, sebagai sebuah toleransi seharusnya Penyidik meminta persetujuan Pengadilan atas tindakan penyitaan barang bukti mobil inova tersebut, bukan malahan Termohon tidak mempergunakan waktu yang ada dan baru memintakan persetujuan penyitaan tanggal 13 Juni 2011, setelah 7 ( tujuh) bulan lebih dari saat Penyitaannya tersebut ; Menimbang, bahwa sampai acara pembuktian perkara permohonan ini dan sampai saat penjatuhan putusan praperdilan ini, persetujuan penyitaan dimaksud belum dapat diajukan oleh Termohon sebagai dasar sahnya Penyitaan yang dilakukan oleh Termohon atas mobil inova warna hitam EA 1642 AZ tersebut, sehingga dengan demikian sifat segera sebagaimana syarat dapatnya dilakukan penyitaan atas Pasal 38 ayat (1) telah gugur karenanya ; Menimbang, bahwa oleh karena tidak ada izin dan atau persetujuan penyitaan atas mobil inova tersebut diatas dari Pengadilan Negeri Sumbawa Besar, maka pemohon telah mampu membnuktikan dalil-dalil permohoanannya dan Termohon telah gagal membuktikan dalil-dalil sangkalannya ; Menimbang, bahwa dengan demikian Penyitaan terhadap mobil inova dan harus dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum ; EA 1642 AZ adalah tidak sah

Menimbang, bahwa karena terhadap Penyitaan mobil inova warna hitam tersebut tidak berdasarakan hukum, maka diperintahkan kepada Termohon untuk mengembalikannya kepada pemohon dalam keadaan semula tanpa beban dan syarat apapun jua ; Menimbang, bahwa mengenai tuntutan ganti rugi, hakim tidak dapat mengabulkannya, karena tidak jelas berapa tuntutan yang diminta oleh Pemohon dalam permohonannya ; Menimbang, bahwa karena permohonan dikabulkan sebagian dan Termohon dinyatakan pada pihak yang kalah maka dihukum untuk membayar biaya perkara yang besarnya akan disebutkan dalam amar putusan dibawah ini. Mengingat, ketentuan Pasal 1 butir 10, Pasal 38, Pasal 77, Pasal 78, Pasal 79, Pasal 95 KUHAP dan pasal-pasal yang lainnya dari undang-undang yang bersangkutan ;

M E N G A D I L I: DALAM EKSEPSI. Menyatakan menolak eksepsi dari Termohon untuk seluruhnya ;

DALAM POKOK PERKARA Mengabulkan permohonan pemohon praperadilan untuk sebagian ;

Menyatakan Penyitaan yang dilakukan Termohon terhadap mobil Inova Pemohon (Principal) warna hitam nomor polisi EA 1642 AZ sejak tanggal 4 November 2010 sampai saat ini tidak sah menurut hukum ;

Memerintahkan Termohon untuk mengembalikan Mobil inova yang berada dalam Penyitaannya kepada Pemohon (Principal) dalam keadaan baik seperti semula ; Menghukum termohon membayar biaya perkara ini sebesar nihil ; Menolak permohonan Pemohon untuk selainnya ;

Demikian diputuskan pada hari Selasa tanggal 12 Juli 2011 oleh kami S U B A I, SH. Hakim Pengadilan Negeri Sumbawa Besar yang ditunjuk sebagai hakim praperadilan, putusan mana diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh hakim tersebut dengan dibantu oleh LISA ELYANTI,SH. Panitera Pengganti Pengadilan Negeri tersebut, dengan dihadiri oleh Pemohon dan Kuasanya serta Kuasa Termohon.

Panitera Pengganti, LISA ELYANTI, SH. S U B A I, SH.

Hakim Tersebut,