P. 1
Besar Aliran Permukaan, Erosi Tanah dan Produksi Tanaman Semusim Akibat Pengolahan Tanah Konservasi di Lahan Kritis Ultisol Daerah Tangkapan Air (DTA) Singkarak pada Tahun ke Empat

Besar Aliran Permukaan, Erosi Tanah dan Produksi Tanaman Semusim Akibat Pengolahan Tanah Konservasi di Lahan Kritis Ultisol Daerah Tangkapan Air (DTA) Singkarak pada Tahun ke Empat

|Views: 707|Likes:
Dipublikasikan oleh Joni Akbar

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Joni Akbar on May 10, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

11/22/2013

BESAR ALIRAN PERMUKAAN, EROSI TANAH DAN PRODUKSI TANAMAN SEMUSIM AKIBAT PENGOLAHAN TANAH KONSERVASI DI LAHAN KRITIS

ULTISOL DAERAH TANGKAPAN AIR (DTA) SINGKARAK, PADA TAHUN KEEMPAT

(Runoff, Soils Erosion and Annual Crop Production due to Conservation Tillage in Critical Lands at Ultisols of Singkarak Water Cathchment Area, in Fourth Years)

Oleh : Joni Akbar*, Aprisal dan Asmar** *) Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas **) Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas

ABSTRAK. Pengolahan tanah konservasi adalah setiap cara pengolahan tanah yang bertujuan untuk mengurangi besarnya aliran permukaan dan erosi yang terjadi. Aliran permukaan dan erosi tanah merupakan penyebab menurunya tingkat produktifitas tanah dan daya dukung tanah untuk produksi tanaman serta kualitas lingkungan hidup.Penelitian mengenai besar aliran permukaan, erosi tanah dan produksi tanaman semusim akibat pengolahan tanah konservasi di lahan kritis Ultisol Daerah Tangkapan Air Singkarak, kabupaten solok, Sumatera Barat telah dilaksanakan pada tahun 2012. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengolahan tanah, jenis tanaman dan interaksi antara pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap aliran permukaan, erosi dan produksi tanaman yang terjadi di lahan kritis DTA Singkarak. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi (RPT), dengan cara pengolahan tanah sebagai petak utama dan jenis tanaman sebagai anak petak. Data dianalisis secara statistik, bila F hitung > F tabel (berbeda nyata), maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap aliran permukaan, erosi tanah dan produksi tanaman. Pengolahan tanah dan jenis tanaman berpengaruh nyata pada erosi dan produksi tanaman, namun tidak pada aliran permukaan. Erosi tanah terendah terdapat pada cara pengolahan tanah dengan menggunakan pengolahan tanah konvesional + kapur + pupuk kandang + kompos alang-alang dan terdapat pada kedelai untuk jenis tanaman. Produksi tanaman tertinggi terdapat pada cara pengolahan tanah dengan menggunakan pengolahan tanah konvesional + kapur + pupuk kandang + kompos alang-alang dan terdapat pada tanaman kacang tanah untuk jenis tanaman. Kata kunci : pengolahan tanah konservasi, aliran permukaan, erosi, lahan kritis.

Abstract Conservation tillage is any tillage method that aims to reduce the amount of runoff and soils erosion that occurs. Runoff and soils erosion is a cause of declining soil productivity and carrying capacity of the land for crop production and environmental quality. The Research about runoff, soil erosion, and annuals crop production due to conservation tillage in critical land at Ultisol of Singkarak water catchment area, in solok regency, West Sumatra conducted in 2012. The purpose of this study were to know effect of soils tillage, crop types and to know the interaction beetwen the effect of soils tllage and crop types on runoff, soil erosion, and crop production that occurs in critical land of Singkarakwater cacthment area. This research used split plot design with tillage method used as the main plot and types of crop used as subplot. Data were analyzed statistically, if F count> F table (significantly different), then followed by a DNMRT test at 5% level. Theresult showed that there was not a real interaction between of soil tillage and crop types on runoff, soils erosion and crop productions. The soils tillage and crop typessignificant effect on soil erosion and crop production, but not for runoff. Lowest soils erosion was found in tillage method used conventional tillage + chalk + manure + compost and soybean for the crops types. The highest of production was found in tillage method used conventional tillage + chalk + manure + compost and peanut for the crops types. Keywords : conservation tillage,run off, soil erosion, critical land.

PENDAHULUAN Daerah Tangkapan Air (DTA) suatu danau adalah suatu wilayah disekeliling danau yang dibatasi oleh punggung bukit yang menampung air hujan yang jatuh di atasnya dan mengalirkannya melalui sungai-sungai atau melalui aliran permukaan (run off) serta aliran bawah tanah menuju danau. Danau Singkarak yang berlokasi di Provinsi Sumatera Barat ini memiliki luas DTA sekitar 129.000 ha, dimana sekitar 39.000 ha dari luasnya merupakan lahan kritis yang ditumbuhi alang-alang (Imperata cylindricl) (Oldeman et al., 1979; cit Agus et al., 2004). Kusuma et al. (1990), menambahkan bahwa sekitar 90 % DTA mempunyai kemiringan lereng berkisar antara 26 % hingga 75%. Kanagarian Aripan Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok merupakan salah satu dari sekian banyak daerah lahan kritis yang berada di DTA Singkarak. Lahan kritis yang ditumbuhi alang-alang di Kanagarian Aripan Kabupaten Solok penyebarannya cukup luas, dimana sekitar 35 % dari 4.460 ha total luas wilayahnya. Kanagarian Aripan terletak di daerah bayangan hujan, dengan curah hujan yang tidak dapat diprediksi (Ekspos Wali Nagari Aripan, 2009; cit Seriosta, 2011). Permasalahan dalam pemanfaatan lahan yang ditumbuhi oleh alang-alang untuk pertanian adalah produktivitasnya yang rendah, dan memiliki sifat fisik serta kimia yang buruk Permasalahan lain yang terdapat pada DTA ini adalah ordo tanahnya , dimana ordo tanah pada DTA ini termasuk dalam ordo Ultisol. Menurut Ultisol merupakan salah satu tanah mineral masam dengan produktivitas tanah yang rendah, namun mempunyai potensi yang besar dalam perluasan areal pertanian (Hakim et al., 1986). Ultisol dicirikan oleh adanya akumulasi liat pada horizon bawah permukaan (Horizon Argilik) yang menyebabkan berkurangnya daya resap air sehingga dapat meningkatkan aliran permukaan dan erosi tanah. Erosi merupakan salah satu kendala fisik pada tanah Ultisol dan sangat merugikan karena dapat mengurangi kesuburan tanah. Hal ini disebabkan karena kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kandungan bahan organik pada lapisan atas (top soil). Bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin bahan organik dan hara.

Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh air atau angin ke tempat lain. Sedangkan Aliran permukaan merupakan bagian dari hujan yang tidak terabsorbsi oleh tanah dan tidak menggenang di permukan tanah, tetapi bergerak ke tempat yang rendah. Tanah tererosi adalah tanah yang terhanyut oleh aliran permukaan, sehingga hubungan antara aliran permukaan berbanding lurus dengan erosi. Erosi dan aliran permukaan adalah penyebab kerusakan lahan sehingga lahan kritis menjadi semakin luas penyebarannya. Untuk meningkat produktivitas tanah Ultisol yang ditumbuhi alang-alang tersebut, agar menjadi lahan pertanian yang produktif dan bersifat lestari, maka perlu dilakukan perbaikan sifat sifat - tanah dengan cara pengolah tanah konservasi dan pengaturan pola tanam yang sesuai dengan kondisi daerah setempat. Pengolahan tanah konservasi (conservation tillage) yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi besarnya erosi, aliran permukaan, dan dapat mempertahankan atau meningkatkan produksi tanaman. Penelitian terdahulu yang dilakukaan oleh Rusman et al. (2009) dan Putra (2011), melaporkan bahwa cara pengolahan tanah P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) sangat efektif dalam menghambat laju erosi tanah dibandingkan pengolahan tanah P1 (konvesional + alang-alang dibakar) dan P2 (konvesional + mulsa alangalang. Bertitik tolak dari uraian di atas, maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Besar Aliran Permukaan, Erosi Tanah dan Produksi Tanaman Semusim Akibat Pengolahan Tanah Konservasi di Lahan Kritis Ultisol Daerah Tangkapan Air (DTA) Singkarak, Pada Tahun Keempat”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1) mengetahui pengaruh pengolahan tanah konservasi terhadap besarnya aliran permukaan dan erosi yang terjadi di lahan kritis Aripan, DTA Singkaarak, 2) mengetahui pengaruh jenis tanaman yang dibudidayakan terhadap besarnya aliran permukaan dan erosi yang terjadi di lahan kritis Aripan, DTA Singkaarak, serta 3) untuk mengetahui pengaruh interaksi antara cara pengolahan tanah dan jenis tanaman yang dibudidayakan terhadap besarnya

aliran permukaan dan erosi yang terjadi di lahan kritis Aripan, DTA Singkarak. METODE PENELITIAN Penelitian ini telah dilaksanakan pada Lahan kritis Ultisol yang ditumbuhi alang-alang di Jorong Data Tampunik, Kanagarian Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, dimulai dari bulan Maret sampai dengan September 2012. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT). Petak utama terdiri atas tiga macam cara pengolahan tanah, P1 (alang-alang dibakar + tanah diolah secara konvesional), P2 ( tanah diolah secara konvesional + alang-alang dijadikan mulsa, dan P3 (tanah diolah secara konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang). Anak petak terdiri atas jenis tanaman semusim, T1 (jagung), T2 (kedelai) dan T3 (kacang tanah). Petak utama dibuat dengan ukuran 2,5 m x 18 m dan membaginya menjadi 3 anak petak HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Sampel Tanah Awal Analisis sampel tanah awal merupakan data hasil akhir dari penelitian sebelumnya (Penelitian Tahun II) yang meliputi pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap sifat fisika tanah dan pengaruh pengolahan

dengan tiga kali ulangan. Contoh tanah awal merupakan data akhir penelitian sebelumnya (Putra, 2011), contoh tanah akhir diambil setelah 3 bulan tanah diperlakukan. Contoh tanah diambil pada lapisan (kedalaman) 0 – 20 cm, pada setiap petak percobaan untuk dianalisis sifat-sifat tanahnya. Penyulaman, pemupukan, dan pemiliharaan tanaman dilakukan selama percobaan berlangsung. Parameter yang diamati terdiri dari 1) analisis sifat fisika tanah, meliputi berat volume (BV), total ruang pori (TRP), dan bahan organik (BO) tanah. BV dan TRP tanah ditetapkan dengan metode Ring. Pengukuran BO tanah dengan metoda Walkley dan Black, dan 2) pengamatan curah hujan, aliran permukaan, erosi tanah, dan produksi tanaman di lapangan. Data hasil penelitian dianalisis dengan ANOVA menggunakan program Statistik 8.0, dan apabila berbeda nyata maka diuji lanjut dengan uji DNMRT (Duncan’s New Multiple Range Test) pada taraf 5 %.

tanah dan jenis tanaman terhadap aliran permukaan, erosi tanah serta produksi tanaman, yang selanjutnya hasil analisis tanah awal tersebut dapat dilihat di Tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap sifat fisika tanah hasil penelitian tahun II Perlakuan BV (g/cm3) TRP (%) BO (%) Pengolahan Tanah (P) P1 (konvesional + alang-alang dibakar) 1,10 57,18 1,10 P2 (konvesional + mulsa alang-alang) 0,97 60,80 1,30 P3 (konvesional + kapur + kompos alang0,98 62,53 2,05 alang + pupuk kandang) Jenis Tanaman (T) T1 (jagung) T2 (kedelai) T3 (kacang tanah)
Sumber : Putra, 2011.

1,43 1,48 1,57

1,09 1,01 0,95

58,05 58,76 63,71

Tabel 1 di atas memperlihatkan bahwa kandungan bahan organik (BO) tanah hasil penelitian tahun II termasuk dalam kriteria sangat rendah untuk semua perlakuan pengolahan tanah dan jenis tanaman yang

diberikan, kecuali pada pengolahan tanah P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang), termasuk dalam kriteria rendah. Kandungan BO tertinggi terdapat pada perlakuan pengolahan tanah P3 yaitu sebesar

2,05 % dan jenis tanaman T3 (kacang tanah) sebesar 1,57 %. Sedangkan berat volume (BV) dan total ruang pori (TRP) tanah untuk semua perlakuan pengolahan tanah dan jenis tanaman termasuk dalam kriteria sedang (LPT, 1979). Rendahnya kandungan BO dalam tanah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu penyebabnya adalah erosi tanah. Prasetyo dan

Suriadikarta (2006), menjelaskan bahwa erosi merupakan salah satu kendala fisik pada Ultisol dan sangat merugikan karena dapat mengurangi kesuburan tanah. Hal ini karena kesuburan Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kandungan BO pada lapisan atas tanahnya, bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin bahan organik dan hara.

Tabel 2. Pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap aliran permukaan, erosi tanah dan produksi tanaman hasil penelitian tahun II Aliran permukaan Produksi tanaman Erosi tanah Perlakuan (ml/petak) (Rp) (g/petak) Pengolahan Tanah (P) P1 (konvesional + alang-alang dibakar) 3.365 11.833 18,40 P2 (konvesional + mulsa alang-alang) 2.880 13.800 18,30 P3 (konvesional + kapur + kompos alang2.545 34.266 8,37 alang + pupuk kandang) Jenis Tanaman (T) T1 (jagung) T2 (kedelai) T3 (kacang tanah)
Sumber : Putra, 2011.

10,71 11,37 23,00

3.061 2.860 2.874

12.933 14.167 32.800

Dari Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa aliran permukaan dan erosi terendah terdapat pada pengolahan tanah P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang). Ini menunjukkan bahwa pengolahan tanah P3 lebih efektif dalam menurunkan laju erosi tanah dan aliran permukaan dibandingkan pengolahan tanah P1 (Konvesional + alang-alang dibakar) dan pengolahan tanah P2 (Konvesional + Mulsa alang-alang). Hal ini disebabkan pengolahan tanah P3 mampu menyumbangkan bahan organik yang besar kedalam tanah, yang sangat berperan besar dalam menghambat terjadinya erosi dan aliran permukaan. Selain itu bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan menyediakan unsur hara dalam tanah yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Analisis Sampel Tanah Akhir Analisis Sifat Fisika Tanah di Laboratorium Bahan Organik (BO) Tanah Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap kandungan BO tanah.

Tabel 2 juga memperlihatkan bahwa erosi tanah terendah terdapat pada jenis tanaman T1 (jagung), yaitu sebesar 10,71 g/petak, Namun aliran permukaan terendah terdapat pada jenis tanaman T2 (kedelai), sebesar 2.860 ml/petak. Sedangkan untuk produksi, hasil tertinggi terdapat pada pengolahan tanah P3 (34.266 rupiah) dan jenis tanaman T3 (32.800 rupiah). Menurut Arsyad (2000), pengaruh tanaman terhadap aliran permukaan dan erosi dapat dibagi dalam lima bagian, yaitu : a) intersepsi hujan oleh tajuk tanaman, b) mengurangi kecepatan aliran permukaan dan kekuatan perusak air, c) pengaruh akar dan kegiatankegiatan biologi yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetasi, d) pengaruhnya terhadap stabilitas struktur dan porositas tanah, dan e) transpirasi yang mengakibatkan kandungan air berkurang

Pengaruh interaksi antara pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap kandungan BO tanah disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh interaksi antara pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap bahan organik tanah. Jenis Tanaman (T) Perlakuan Jagung Kedelai Kacang Tanah (T1) (T2) (T3) Pengolahan Tanah (P) Bahan Organik (%) P1 (Konvesional + Alang-alang dibakar ) 3,36 A a 4,13 A a 4,12 B a 3,47 A c 4,14 A b 4,93 A a 3,63 A b 3,61 B b 5,02 A a

P2 (Konvesional + Mulsa alang-alang)

P3 (Konvesional + Kapur + Kompos alang-alang + Pupuk kandang)

Keterangan : Huruf kecil dibaca vertikal, untuk membandingkan antara perlakuan P pada T yang sama. Sedangkan huruf besar dibaca horizontal, untuk membandingkan T pada perlakuan P yang sama.

Tabel 3 di atas menjelaskan bahwa terdapat interaksi terhadap BO tanah, bila pengolahan tanah (P1, P2 dan P3) dikombinasikan dengan penanaman jenis tanaman kedelai (T2) dan kacang tanah (T3). Jarak tanam yang rapat dan batang tanaman yang tidak terlalu tinggi pada jenis tanaman T2 dan T3 akan mempengaruhi kerapatan akar dan luas penutupan tanah, yang selanjutnya dapat mencegah kehilangan bahan organik tanah akibat terbawa oleh erosi tanah dan aliran permukaan. Ziliwu (2002), menjelaskan bahwa efektifitas tutupan lahan dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan tergantung pada ketinggian, jumlah tutupan lahan, kerapatan penutupan tanah dan kerapatan akar. Tanaman yang memiliki batang pendek akan lebih baik dalam mencegah erosi dan aliran permukaan, karena dapat mengurangi kecepatan aliran permukaan dan mencegah terkonsentrasinya aliran permukaan. Pada Tabel 3 di atas juga terlihat bahwa tidak terdapat interaksi terhadap bahan organik tanah, jika jenis tanaman (T1, T2 dan T3) dikombinasikan dengan pengolahan tanah P1 (konvesional + alang-alang dibakar), Namun interaksi baru terbentuk apabila jenis tanaman (T1, T2 dan T3) dikombinasikan dengan pengolahan tanah P2 (konvesional + mulsa) dan Berat Volume (BV) Tanah Hasil analisis menunjukkan bahwa pengolahan tanah dan jenis tanaman serta interaksi antara kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap berat volume tanah.

P3 (Konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang). Hal ini disebabkan pada pengolahan tanah P2 dan P3, proses terjadinya penghancuran butiran tanah sebagai akibat pukulan energi kinetik butiran air hujan secara langsung kepermukaan tanah dapat diminimalisir melalui penutupan lahan bila dibandingkan dengan pengolahan tanah P1, sehingga hilangnya BO tanah akibat terbawa oleh erosi dan aliran permukaan dapat dicegah. Pada Tabel 3 juga dapat dilihat bahwa interaksi perlakuan terbaik terdapat pada pengolahan tanah P3 yang dikombinasikan dengan penanaman jenis tanaman T3. Hal ini disebabkan interaksi antara kedua kombinasi perlakuan tersebut menghasilkan kandungan BO tanah tertinggi dan berbeda nyata dari kombinasi perlakuan lainnya. BO tanah yang tinggi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas Ultisol yang memiliki banyak permasalahan seperti kesuburan tanah yang rendah, sifat fisika tanah yang jelek serta tanahnya yang peka terhadap erosi. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Prasetyo dan Suriadikarta (2006), bahwa peningkatan produktivitas tanah Ultisol dapat dilakukan melalui perbaikan tanah (ameliorasi), pemupukan dan pemberian bahan organik.

Untuk melihat pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap berat volume tanah dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap berat volume tanah. Perlakuan BV (g/cm3) Pengolahan Tanah (P) P1 (konvesional + alang-alang dibakar) P2 (konvesional + mulsa alang-alang) P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) Jenis Tanaman (T) T1 (Jagung) T2 (Kedelai) T3 (Kacang tanah) 1,13 a 1,07 a 1,01 a

1,06 a 1,04 a 1,11 a

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut uji lanjut DNMRT pada taraf 5 %.

Tabel 4 di atas memperlihatkan bahwa pengolahan tanah tidak berpengaruh nyata terhadap BV tanah. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan hal yang serupa (Putra, 2011). Hal ini diduga disebabkan pengolahan tanah secara konvesional yang dilakukan pada semua petak percobaan terlalu sempurna, sehingga mengakibatkan kepadatan tanah menjadi berkurang dan tanah menjadi gembur. Menurut Djuniwati (1998; cit Gonggo et al., 2005) pengolahan tanah menyebabkan rendahnya BV, karena meningkatnya distribusi ruang pori. Tidak adanya pengaruh yang signifikan dari masing-masing cara pengolahan tanah (P1, P2 dan P3) terhadap BV tanah, terutama pengolahan tanah P2 dan P3 diduga juga disebabkan karena BO tanah yang dihasilkan dari masing-masing cara pengolahan tanah masih tergolong rendah, sehingga belum cukup efektif dalam memperbaiki sifat fisik tanah daerah penelitian, seperti BV tanah yang tinggi dan sebagainya. Menurut Sarief (1989), pemberian BO kedalam tanah akan menciptakan rongga-rongga atau pori-pori yang lebih banyak sehingga tanah tersebut gembur, semakin tinggi bahan organik suatu tanah maka BV semakin kecil. Buckman dan Brady (1982; cit Refliaty et al., 2009) Total Ruang Pori (TRP) Tanah Hasil analisis menunjukkan bahwa pengolahan tanah dan jenis tanaman serta interaksi antara kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap berat total ruang

menambahkan bahwa penambahan bahan organik kedalam tanah dapat menurunkan BV, karena bahan organik merangsang granulasi sehingga menimbulkan kondisi lepas dan sarang. Tabel 4 juga menunjukkan bahwa jenis tanaman (T) tidak berpengaruh nyata terhadap BV tanah. Hal ini disebabkan daun atau bagian tubuh tanaman yang jatuh kepermukaan tanah membutuhkan proses yang lama untuk melapuk dan menjadi sumber BO tanah, sehingga peranan BO dalam memperbaiki sifat fisika tanah belum efektif. Seperti yang dijelaskan oleh Anderson dan Ingram (1993; cit Aprisal 2004), bahwa pelapukan bahan organik memerlukan waktu yang cukup untuk membentuk koloid organik tanah. Lama waktu pelapukan bahan organik tersebut tergantung dari komposisi bahan organik yang diberikan. Selain pengolahan tanah, bahan organik tanah, tanaman atau vegetasi, hal lain yang turut mempengaruhi BV tanah menurut Haridjaja (1980), adalah tekstur tanah. Tanah dengan tekstur liat lebih sulit untuk diolah karena bersifat lengket dan kadar airnya lebih banyak. Tingginya kandungan liat pada tanah mengakibatkan akar tanaman sulit menembus tanah dan berkembang.

pori tanah. Untuk melihat pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap total ruang pori tanah dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap total ruang pori tanah Perlakuan Pengolahan Tanah (P) P1 (konvesional + alang-alang dibakar) P2 (konvesional + mulsa alang-alang) P3 (konvesioanl + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) Jenis Tanaman (T) T1 (Jagung) T2 (Kedelai) T3 (Kacang tanah)

TRP (%) 56,18 a 58,49 a 60,64 a

58,98 a 59,46 a 56,86 a

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut uji lanjut DNMRT pada taraf 5 %.

Tabel 5 memperlihatkan bahwa pengola- maka penambahan BO kedalam tanah merupahan tanah belum berpengaruh nyata terhadap kan salah satu langkah yang tepat, karena TRP tanah. Pengaruh yang tidak nyata terhadap menurut Basyra (2000) bahan organik yang TRP tanah diduga disebabkan terjadinya terdapat diantara partikel tanah setelah peningkatan porositas tanah akibat pengolahan mengalami perombakkan oleh mikroorganisme tanah secara konvesional yang dilakukan pada tanah akan membentuk rongga atau pori tanah, semua petak percobaan. Seperti pendapat sehingga meningkatkan TRP tanah dan menuUtomo (1995), yang menyatakan bahwa pengo- runkan BV tanah dan kekerasan tanah. lahan tanah dapat memperbaiki kegemburan dan Jenis tanaman memperlihatkan pengaruh meningkatkan porositas tanah. yang tidak nyata terhadap TRP tanah (Tabel 5). TRP tanah hasil penelitian tidak berbeda Hal ini diduga disebabkan sistem perakaran nyata, hal ini sebanding dengan BV Tanah hasil yang dihasilkan oleh gulma tanaman turut penelitian (Tabel 4) yang tidak berbeda nyata. mempengaruhi TRP tanah, akibat tidak dilakuIni dikarenakan nilai TRP tanah selalu kannya penyiangan pada saat tanaman telah berkolerasi negatif dengan nilai BV tanah. Jadi berumur + 2 bulan sampai dengan selesai panen. apabila nilai BV tanah meningkat maka TRP Menurut Arsyad (2000), sistem perakaran tanatanah akan menjadi rendah, begitupun sebalik- man dan kegiatan-kegiatan biologi yang berhunya. Seperti yang dijelaskan oleh Soepardi bungan dengan pertumbuhan vegetasi, berpe(1983; cit Refliaty et al., 2009) bahwa semakin ngaruh terhadap stabilitas struktur dan porositas tinggi TRP maka BV semakin rendah. tanah, dan transpirasi yang mengakibatkan Untuk menurunkan nilai BV tanah yang kandungan air tanah berkurang. berarti akan meningkatkan nilai TRP tanah . Pengamatan Curah Hujan, Aliran Permukaan, Erosi tanah dan Produksi Tanaman di Lapangan Curah Hujan Salah satu faktor iklim yang paling berpengaruh terhadap kejadian erosi dan aliran permukaan adalah curah hujan. Hujan menyebabkan erosi tanah melalui dua cara, yaitu pelepasan butiran tanah oleh pukulan air hujan

pada permukaan tanah dan kontribusi curah hujan terhadap aliran permukaan. Jumlah curah hujan selama 3 bulan penelitian ditampilkan pada Gambar 1.

175

163,17 mm Jumlah Curah Hujan 94,96 mm

Curah Hujan (mm)

150 125 100 75 50 25 0 Juni Juli Agustus 36,32 mm

Bulan Pengamatan
Gambar 1. Jumlah curah hujan selama 3 bulan penelitian (Juni-Agustus 2012). dan jumlah hujan yang rendah dalam waktu yang pendek menimbulkan erosi yang kecil. Rusman (1989; cit Seriosta, 2011), mengemukakan bahwa pengaruh jumlah dan intensitas hujan terhadap erosi berbeda-beda. Jumlah hujan yang besar belum tentu menimbulkan erosi bila intensitas rendah. Demikian pula intensitas hujan yang tinggi belum tentu menimbulkan erosi bila jumlah hujan sedikit karena tidak terdapat cukup air untuk menghanyutkan tanah. Sebaliknya bila jumlah hujan banyak dan intensitasnya tinggi akan menimbulkan erosi yang hebat. perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap aliran permukaan. Untuk melihat pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap aliran permukaan dapat dilihat pada Tabel 6. Pada Gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa curah hujan di lokasi penelitian berkisar antara 36,32–163,17 mm. Jumlah curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Juli (163, 17 mm) dan terendah pada bulan Agustus (36,32 mm). Menurut Arsyad (2000), besarnya curah hujan adalah tinggi air yang jatuh pada suatu areal tertentu yang dinyatakan dalam liter persatuan luas atau secara umum dinyatakan dalam milimeter (mm) tinggi air. Curah hujan yang tinggi dalam waktu yang lama dapat menimbulkan jumlah tanah yang tererosi besar .Aliran Permukaan Hasil analisis memperlihatkan bahwa pengolahan tanah dan jenis tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap aliran permukan, demikian juga dengan interaksi antara kedua Tabel 6.

Pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap aliran permukaan. Perlakuan Aliran Permukaan (ml/petak) Pengolahan Tanah (P) P1 (konvesional + alang-alang dibakar) 4.294 a P2 (konvesional + mulsa alang-alang) 3.973 a P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) 3.986 a Jenis Tanaman (T) T1 (Jagung) T2 (Kedelai) T3 (Kacang tanah)

4.087 a 3.999 a 3.986 a

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut uji lanjut DNMRT pada taraf 5 %.

Pengolahan tanah belum berpengaruh nyata terhadap besarnya aliran permukaan yang terjadi (Tabel 6). Pengaruh yang tidak nyata diduga disebabkan perlakuan yang diberikan belum

cukup efektif dalam menghambat laju aliran permukaan, terutama pada perlakuan pengolahan tanah P2 (konvesional + mulsa alang-alang) dan pengolaan tanah P3

(konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang), yang mana peranan mulsa alang-alang dan kompos + pupuk kandang belum nyata menurunkan aliran permukaan. Menurut Rachman et al. (2004), penggunaan mulsa dipermukaan tanah dapat melindunginya dari energi hempasan butir-butir hujan, mengurangi terjadinya penyumbatan pori, sehingga meningkatkan volume air yang terinfiltrasi yang juga mengurangi daya angkut aliran permukaan. Putra (2011), menambahkan bahwa pemberian pupuk kandang dan kompos dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme, memantapkan struktur tanah, meningkatkan infiltrasi, sehingga mengurangi aliran permukaan. Menurut Ziliwu (2002), Pengaruh jenis tanaman terhadap aliran permukaan ialah tanaman dapat mengurangi energi aliran, meningkatkan kekasaran tanah sehingga mengurangi kecepatan aliran permukaan dan selanjutnya memotong kemampuan aliran permukaan untuk melepas dan mengangkut . Erosi Tanah Hasil analisis memperlihatkan bahwa pengolahan tanah dan jenis tanaman berpengaruh nyata terhadap erosi tanah, Namun interaksi antara kedua perlakuan tidak

partikel sedimen. Perakaran tanaman meningkatkan kekuatan tanah, granularitas dan porositas. Namun hasil analisis menunjukkan bahwa jenis tanaman (T) belum nyata memperkecil aliran permukaan. Hal ini diduga dikarenakan aliran permukaan terjadi secara merata pada setiap petak percobaan erosi di khususnya diawal tanam. Seperti yang dijelaskan oleh Rusman et al. (2009), bahwa aliran permukaan besar pada semua perlakuan saat tanah belum tertutup oleh tanaman. Namun seiring dengan makin besarnya tanaman dan semakin luas tajuk tanaman maka aliran permukaan juga semakin kecil. Penutup kanopi oleh tanaman dapat memberikan kesempatan terjadinya penguapan langsung dari dedaunan dan dahan, dan kemudian menangkap butir hujan (intersepsi), sehingga mengurangi aliran permukaan dan erosi menjadi kecil. Perlindungan yang cukup terhadap aliran permukaan paling sedikit 70% lahan harus tertutup tanaman (Ziliwu, 2002).

berpengaruh nyata terhadap erosi tanah. Untuk melihat pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap erosi tanah dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap erosi tanah Perlakuan Erosi tanah (g/petak) Pengolahan Tanah (P) P1 (konvesional + alang-alang dibakar) 33,56 a P2 (konvesional + mulsa alang-alang) 23,89 b P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) 21,67 b Jenis Tanaman (T) T1 (Jagung) T2 (Kedelai) T3 (Kacang tanah)

25,98 ab 23,19 b 29,94 a

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut uji lanjut DNMRT pada taraf 5 %.

Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa pengolahan tanah dengan P2 (konvesional + mulsa alang-alang) dan pengolahan tanah P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) dapat menurunan erosi tanah lebih rendah dibandingan pengolahan tanah P1 (konvesional + alang-alang dibakar). Hal ini disebabkan bahwa penggunaan mulsa alang-

alang pada pengolahan tanah P2 dan pupuk kandang dan kompos alang-alang pada pengolahan tanah P3 lebih efektif dalam menekan erosi tanah. Mulsa alang-alang berperan dalam melindungi permukaan tanah dari pukulan langsung butiran hujan sehingga mengurangi terjadinya erosi. Selain itu pemanfaatan mulsa di lahan pertanian juga

dapat bermanfat untuk menekan pertumbuhan gulma. Menurut Suwardjo (1981; cit Subagyono et al., 2003), mulsa dapat dimanfaatkan untuk melindungi permukaan tanah dari pukulan langsung butiran air hujan sehingga mengurangi terjadinya erosi percik (splash erosion), selain itu juga mengurangi laju dan volume aliran permukaan. Bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan kompos alang-alang pada pengolahan tanah P3 dapat memperbaiki sifat fisik tanah, yaitu menurunkan kepadatan tanah, meningkatkan porositas tanah, sehingga infiltrasi meningkat serta aliran permukaan dan erosi tanah dapat dikurangi. Selain itu menurut Rachman et al. (2004), bahan organik yang masih berbentuk padat (pupuk kandang), berbentuk serasah, seperti daun, ranting dan sebagainya yang belum hancur akan mampu menutupi permukaan tanah, sehingga dapat melindungi tanah dari kekuatan perusak butirbutir hujan yang jatuh . Jenis tanaman menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap erosi tanah (Tabel 7). Hasil Produksi Tanaman Hasil analisis menunjukkan bahwa pengolahan tanah dan jenis tanaman berpengaruh nyata terhadap hasil produksi tanaman, Namun interaksi antar kedua perlakuan tidak

Hal ini disebabkan tanaman dapat melawan faktor-faktor erosi seperti hujan, topografi, dan karakteristik tanah. Menurut Asdak (1995), pengaruh tanaman terhadap erosi adalah 1) melindungi permukaan tanah dari tumbukan air hujan, 2) menurunkan kecepatan dan volume air larian, 3) menahan partikel-partikel tanah pada tempatnya melalui sistem perakaran dan serasah yang dihasilkan, dan 4) mempertahankan kemantapan kapasitas tanah dalam menyerap air. Tabel 7 di atas memperlihatkan bahwa tanaman kedelai (T2) lebih efektif dalam menekan laju erosi tanah dibandingkan tanaman jagung (T1) dan kacang tanah (T3). Hal ini diduga disebabkan jarak tanam kedelai yang lebih rapat dibandingkan tanaman jagung dan kacang tanah. Menurut Ziliwu (2002), kerapatan tanaman mempengaruhi luasan lahan yang tertutup tanaman, semakin rapat tanaman yang ada dipermukaan lahan maka semakin kecil energi kinetik hujan yang sampai ke tanah dan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi.

berpengaruh nyata terhadap hasil produksi tanaman.Untuk melihat pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap produksi tanaman disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap produksi tanaman setelah dikonversikan ke rupiah (Rp) Produksi Tanaman Perlakuan (rupiah/petak) Pengolahan Tanah (P) P1 (konvesional + alang-alang dibakar) 47.106 b P2 (konvesional + mulsa alang-alang) 46.072 b P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) 79.194 a Jenis Tanaman (T) T1 (Jagung) T2 (Kedelai) T3 (Kacang tanah)

59.111 b 25.511 c 87.750 a

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut uji lanjut DNMRT pada taraf 5 %.

Pada Tabel 8 di atas, hasil produksi tanaman dikonversikan ke rupiah (Rp) berdasarkan harga pasar untuk masing-masing tanaman pada saat panen, bertujuan untuk menyamakan unit satuannya, sehingga

memudahkan dalam analisis statistiknya. Pengolahan tanah P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) memperlihatkan hasil produksi tanaman tertinggi (Tabel 11) dan berbeda nyata bila

dibandingkan dengan pengolahan tanah P1 (konvesional + alang-alag dibakar) dan pengolahan tanah P2 (konvesional + mulsa alangalang). Hal ini disebabkan pada pengolahan tanah P3, pemberian pupuk kandang dan kompos alang-alang yang dilakukan memberikan sumbangan bahan organik yang besar kedalam tanah, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Tanah yang subur merupakan media tumbuh yang baik bagi tanaman, sehingga pertumbuhan tanaman dapat optimal dan dapat berproduksi dengan baik. Menurut Utomo (1995), bahan organik mampu memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation, menambah kemampuan tanah menahan air, dan meningkatkan biologi tanah, pada beberapa tanah masam bahan organik dapat meningkatkan pH tanah (menetralkan Al dengan membentuk Al Organik). Bahan organik juga KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan beberapa kesimpulan, yaitu : 1. Interaksi antara pengolahan tanah dan jenis tanaman hanya terjadi pada bahan organik tanah. Interaksi perlakuan terbaik diperlihatkan pada pengolahan tanah P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) yang dikombinasikan dengan jenis tanaman T3 (kacang tanah), yang mengasilkan kandungan bahan organik tertinggi sebesar 5,02 %. 2. Tidak ada pengaruh pengolahan tanah dan jenis tanaman terhadap berat volume (BV) tanah, total ruang pori (TRP) tanah dan aliran permukaan. Nilai BV, TRP dan aliran permukaan tanah cenderung hampir sama. Namun pengolahan tanah dan jenis tanaman berpengaruh terhadap erosi tanah dan produksi tanaman. DAFTAR PUSTAKA Agus F., M. V. Noordwijk, dan S. Rahayu (Editor). 2004. Dampak Hidrologis Hutan, Agroforestri, dan Pertanian Lahan Kering sebagai Dasar Pemberian Imbalan kepada Penghasil Jasa Lingkungan di Indonesia. Prosiding Lokakarya di Padang/Singkarak, Sumatera Barat. ICRAF-SEA, Bogor. Halaman 107 – 125.

dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah melalui khelat. Tabel 11 juga memperlihatkan bahwa jenis tanaman kacang tanah (T3) memperli-hatkan hasil produksi tanaman yang tertinggi dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan hasil produksi tanaman pada tanaman jagung (T1) dan kedelai (T2). Tingginya hasil produksi tanaman pada tanaman kacang tanah diduga disebabkan oleh faktor lingkungan dan kondisi lahan yang mendukung dan sesuai untuk pertumbuhan kacang tanah. Menurut Rukmana (1998), tanaman kacang tanah cocok ditanami di dataran rendah yang berketinggian di bawah 500 meter diatas permukaan laut (dpl). Iklim yang dibutuhkan kacang tanah adalah bersuhu tinggi (panas) antara 28o C – 32o C, sedikit lembab (RH 65 – 75%), curah hujan 800 – 1.300 mm/tahun, tempat terbuka (mendapat sinar matahari penuh), dan musim kering.

3. Erosi tanah terendah terdapat pada pengolahan tanah P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) yaitu sebesar 21,67 g/petak dan jenis tanaman T2 (kedelai) sebesar 23,19 g/petak. 4. Pengolaan tanah P3 (konvesional + kapur + kompos alang-alang + pupuk kandang) dan jenis tanaman T3 (kacang tanah) menunjukkan produksi tanaman tertinggi, yaitu sebesar 79.194 rupiah dan 87.750 rupiah. Untuk mengurangi besarnya aliran permukaan dan erosi tanah, serta meningkatkan produktivitas tanaman, disarankan untuk melakukan pengolahan tanah konservasi yaitu dengan pemberian bahan organik berupa pupuk kandang dan kompos alang-alang.

Aprisal. 2004. Model Reklamasi Lahan Alangalang dalam Meningkatkan Produktivitas Lahan di Daerah Transmigrasi Pandan Wangi, Peranap, Riau. Stigma Volume XII No. 3. Halaman 305-310. Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor. 290 halaman.

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Halaman 204 – 470. Basyra, B. S. 2000. Pengaruh cara Pengelolaan Lahan terhadap Perubahan Sifat-sifat Tanah Oxisol dan Hasil Kedelai di DAS Singkarak. Stigma Volume VIII No. 3, Juli-September 2000. Gonggo, B. M., B. Hermawan, dan D. Anggraeni. 2005. Pengaruh Jenis Tanaman Penutup dan Pengolahan Tanah terhadap Sifat Fisika Tanah Pada Lahan Alang-alang. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia, Volume 7, No 1. Halaman 4450. Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Diha, G. B. Hong, dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. 488 halaman. Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta. Raja Grafindo Persada. 360 halaman. Haridjaja, O. 1980. Pengantar Fisika Tanah. Institut Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian. IPB. Bogor. 70 halaman. Prasetyo, B. H dan D. A. Suriadikarta. 2006. Karakteristik, Potensi, dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 25 (2). Halaman 39-47. Rachman, A., Dariah, A., dan Husen, E. 2004. Olah Tanah Konservasi. Hlm 189-210 dalam Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang pertanian, Departemen Pertanian Refliaty, Y. Farni, dan S. Sinta. 2009. Pengaruh Leguminose Cover Crop (LCC) tehadap

Sifat Fisik Ultisol bekas Alang-alang dan Hasil Jagung. Jurnal Agronomi Vol.13. No. 2. Halaman 51-56. Rukmana, R. 1998. Kacang Tanah. Kanisisus. Yogyakarta. 77 halaman. Rusman, B., Aprisal, M. Kasim, I. Dwipa, dan Refdinal. 2009. Model Usaha Tani Konservasi Integrasi di Lahan Marjinal dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Keluarga Petani Miskin di Daerah Pedesaan di Daerah Tangkapan Air Singkarak. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Andalas. Padang Sarief, E. S. 1989. Fisika-Kimia Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung. 220 halaman Seriosta, A. 2011. Pengaruh Cara Pembukaan Lahan Alang-alang terhadap Besarnya Unsur Hara yang terbawa oleh Erosi Tanah dan Produksi Tanaman di Lahan Kritis Daerah Tangkapan Air Singkarak. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang. Subagyono, K., S. Marwanto, dan U. Kurnia. 2003. Teknik Konservasi Tanah secara Vegetatif. Balai Penelitian Tanah. Bogor Subandi, M. Dahlan dan A. Rifin. 1994. Hasil dan Strategi Penelitian Jagung, Sorgum dan Terigu dalam Pencapaian dan Pelestarian Swasembada Pangan. Penelelitan Tanaman Pangan III. Halaman 286–306. Utomo, M. 1995. Kekerasan Tanah dan Serapan Hara Tanaman Jagung Pada Olah Tanah Konservasi Jangka Panjang. Jurnal Tanah Trop. 1. Halaman 1–7. Ziliwu, Y. 2002. Pengaruh Beberapa Macam Tanaman terhadap Aliran Permukaan dan Erosi. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->