Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Protozoa merupakan hewan ber sel satu yang tersebar luas.

Kemampuan adaptasi dari anggota filum ini sangat tinggi, sehingga mudah ditemukan. Hewan ini ditemukan di daratan, lautan dan khususnya di tempat yang lembab dan basah, misalnya tepi pohon, genangan air, dan bangunan yang terkena rembesan air. Berdasarkan alat gerak terdapat empat kelas filum Protozoa, yaitu Rhizopoda, Ciliata, Flagellata, dan Sporozoa. Protozoa memiliki berbagai peranan dalam kehidupan, beberapa dapat memberikan manfaat pada kehidupan manusia seperti sebagai bioindikator, pakan alami, agen pengendali, bahan material, bahan pangan dan dekomposer.serta ada pula yang memiliki bahaya atau bersifat merugikan. Protozoa pada umumnya bersifat merugikan manusia karena dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya dan serius seperti disentri, diare, malaria, dan lain sebagainya ataupun merupakan predator bagi hewan lain. Sebagai predator, mereka memangsa uniseluler atau serabut ganging, bakteri dan mikrofungi. Protozoa memainkan peran baik sebagai herbivore dan konsumen di decomposer link pada rantai makanan serta dapat mengendalikan populasi bakteri. Berkenaan dengan hal di atas disini penulis akan membahas pengendalian dari dampak positif dan negatif yang ditimbulkan protozoa. 1.2 Maksud dan Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menelaah lebih jauh tentang pengendalian dampak positif dan negatif yang disebabkan protozoa dalam kehidupan.
1

1.3 Identifikasi Masalah Bagaimana cara pengendalian dampak positif dan negatif yang ditimbulkan protozoa dalam kehidupan?

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Protozoa Protozoa berasal dari kata protos yang berarti pertama dan zoo yang berarti hewan sehingga disebut sebagai hewan pertama. Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan maka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista. Ilmuwan yang pertama kali mempelajari protozoa adalah Anthony van Leeuwenhoek. 2.2 Ciri-Ciri Protozoa

Gambar 1. Jenis-jenis Protozoa

Ukuran protozoa bervariasi , yaitu mulai kurang dari 10 mikron(m) dan ada yang mencapai 6 mm, meskipun jarang.

Diperairan protozoa merupakan penyusun zooplankton. Makanan protozoa meliputi bakteri, jenis protista lain, atau detritus (materi organic dari organism mati). Protozoa hidup soliter atau berkoloni.jika keadaan lngkungan kurang

mneguntungkan protozoa akan membungkus diri membentuk sista untuk mempertahankan diri. Bila mendapat lingkungan yang sesuai hewan ini akan aktif lagi. Cara hidupnya ada yang parasit, saprofit dan hidup bebas. a) Struktur tubuh Organel organel untuk melakukan kegiatan hidup antara lain, membrane plasma, sitoplasma dan mitokondria. Beberapa jenis protozoa memiliki inti lebih dari satu. b) Alat gerak Alat gerak berupa bulu cambuk (flagella), bulu getar (silia) dan kaki semu (pseudopodia). c) Reproduksi Reproduksi aseksual (Vegetatif ) pada kebanyakan protozoa adalah dengan membelah diri. Namun adapula jenis protozoa yang bereproduksi secara konjugasi yaitu perpaduan antara dua individu yang belum dapat dibedakan jenis kelaminnya. Ciri-ciri protozoa : 1. Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof) 2. Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu, bulu getar (cillia) atau bulu cambuk (flagel). 3. Hidup bebas, saprofit atau parasit 4. Organisme bersel tunggal 5. Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati 6. Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)

7. Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup. sista, merupakan bentuk sel protozoa yang terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada bakteri 8. Protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering maupun basah 9. Protozoa tidak mempunyai dinding sel 10. Protozoa merupakan organisme mikroskopis yang prokariot. 2.3 Pembagian Kelas Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasar alat gerak

Gambar 2. Klasifikasi Protozoa Menurut Alat Geraknya

1. Rhizopoda (Sarcodina), Alat geraknya berupa pseudopoda (kaki semu), contoh: Amoeba proteus Entamoeba histolityca Entamoeba gingivalis Foraminifera sp.

Radiolaria sp.

2. Flagellata (Mastigophora), Alat geraknya berupa nagel (bulu cambuk). Dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: a) Golongan phytonagellata Volvax globator (makhluh hidup peralihah antara protozoa dengan ganggang) Noctiluca millaris (hidup di laut dan dapat mengeluarkan cahaya bila terkena rangsangan mekanik) b) Golongan Zooflagellata, contohnya : Trypanosoma gambiense & Trypanosoma rhodesiense. Trypanosoma cruzl Trypanosoma evansi Leishmania donovani Trichomonas vaginalis

3. Ciliata (Ciliophora), Alat gerak berupa silia (rambut getar) Paramaecium caudatum Balantidium coli.

4. Sporozoa Protozoa yang tidak memiliki alat gerak. Cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Pembiakan secara vegetatif (aseksual) disebut juga Skizogoni dan secara generatif (seksual) disebut Sporogoni. Contoh :

Toxopinsma dan Plasmodium.

2.4 Pengendalian Protozoa Sebuah protozoa parasit pada dasarnya adalah protozoa yang telah beradaptasi untuk menyerang dan hidup dalam sel dan jaringan organisme lainnya. Kita bisa mengatakan bahwa protozoa mengambil pelajaran dari parasit untuk belajar bagaimana mereka hidup dan bertahan, dan kemudian perlahan-lahan mulai berubah untuk menjadi seperti mereka. Sebuah protozoa mampu pergi dan bertahan hidup sendiri di lingkungan untuk mengambil manfaat dari organisme lain. Protozoa parasit tidak bisa hidup di lingkungan terbuka seperti protozoa lainnya, tetapi harus menyerang tubuh organisme lain untuk memperoleh perlindungan dan makanan. Ada beberapa protozoa parasit yang menyebabkan penyakit. Mereka hadir dalam makanan kita, tanah dan air, serta dapat membuat manusia atau hewan sakit jika mereka masuk ke dalam tubuh. Setiap protozoa parasit yang berbeda dapat menyebabkan penyakit yang berbeda di dalam tubuh. Beberapa dapat menyebabkan penyakit serius pada saluran pernafasan (saluran udara dari hidung ke paru-paru), dan saraf pusat sistem (otak, saraf kranial dan sumsum tulang belakang), sementara yang lain hidup dalam usus kita dan menyebabkan gejala seperti diare dan tidak mematikan. Beberapa contoh protozoa patogen non-mematikan adalah

Cryptosporidium, Giardia, dan Entamoeba histolytica. Sulit untuk melindungi diri dari protozoa parasit yang berada di lingkungan, karena mereka menghasilkan kista. Kista memiliki dinding yang sangat tahan yang mengelilingi dan melindungi parasit protozoa dan membuatnya mampu bertahan dalam keadaan lingkungan ekstrim, seperti perubahan besar suhu dan air baik terlalu banyak atau terlalu sedikit. Ini berarti bahwa, sekali protozoa parasit membentuk kista di lingkungan, mereka bisa menunggu lama untuk mencari kesempatan yang sempurna agar bisa masuk ke dalam tubuh untuk menginfeksi manusia atau hewan.

Karena mereka ada dimana-mana, penting untuk berhati-hati dan mencoba untuk menghindari mereka. Ingatlah untuk sepenuhnya memasak semua daging dan ikan, cuci tangan Anda sering mungkin dan tidak minum air kotor. Hal ini juga penting untuk ekstra hati-hati ketika berenang di danau, kolam dan bahkan kolam renang sekalipun. Sekali menelan sedikit air bisa cukup bagi protozoa parasit untuk menyelinap ke dalam tubuh meskipun jika air tersebut tampak bersih, kita sekarang tahu bahwa protozoa parasit bentuknya mikroskopis dan sangat sulit untuk menyingkirkan mereka. Jika kita bisa memastikan untuk mengikuti anjuran diatas, kita bisa selangkah lebih maju mencegah penyakit yang ditimbulkan oleh organisme kecil ini dan menghentikan mereka dari membuat manusia atau hewan sakit. 2.5 Klasifikasi Penyakit yang Disebabkan Protozoa Beserta Pengendaliannya Ada lima klasifikasi protozoa parasit yang menyebabkan penyakit menurut jenisnya: 1. Amoeba A. Acanthamoeba spesies

Gambar 3 Acanthamoeba spesies Habitat di tanag dan air tawar. Penyakit yang disebabkan oleh Acanthamoeba termasuk amebic keratitis dan ensefalitis (lebih khusus ensefalitis amuba Granulomatous). Acanthamoeba memasuki mulut dan menyebar dengan cepat ke sistem saraf pusat. Seorang pasien yang telah vonis penyakit ini biasanya menampilkan gejala subakut,

termasuk status berubah mental, sakit kepala, demam, leher kaku, kejang, tanda-tanda neurologis fokal (seperti kelumpuhan saraf kranial dan koma), semua menyebabkan kematian dalam waktu satu minggu sampai beberapa bulan. Amebic keratitis adalah infeksi kornea yang disebabkan oleh spesies Acanthamoeba. Biasanya terjadi pada orang yang memakai lensa kontak. Amebic keratitis mungkin secara progresif merusak. Kebanyakan (85%) orang ditulari memakai lensa kontak. Infeksi lebih mungkin terjadi jika lensa dipakai selama berenang atau jika cairan pembersih lensa yang digunakan tidak steril. Beberapa infeksi timbul sesudah kornea terkikis. Biasanya, luka nyeri timbul di kornea. Gejala termasuk mata kemerahan, produksi air mata berlebihan, sensasi adanya benda asing, dan rasa sakit kalau mata terkena cahaya terang. Penglihatan biasanya rusak.

Pengendalian : Pengobatan Karena kelangkaan parasit ini dan kurangnya pengetahuan, saat ini tidak ada diagnosis yang baik atau pengobatan untuk infeksi Acanthamoeba. Awalnya, infeksi yang tidak serius bisa diobati lebih mudah. Jika luka tidak serius, dokter menggunakan alat dengan ujung kapas kapas untuk menyingkirkan sel yang terinfeksi dan rusak. Kombinasi dari dua atau lebih obat antimikroba, seperti polyhexamethylene biguanide (dulu digunakan sebagai

desinfekstan kontak lensa) ditambah propamidine (digunakan secara topikal/dioleskan), yang paling baik bekerjanya. Mereka digunakan sekali sejam untuk 3 hari pertama. Obat lain

digunakan secara topikal (seperti obat anti jamur clotrimazole atau fluconazole atau antibiotika chlorhexidine) kadang-kadang juga digunakan. Fluconazole atau itraconazole dapat diminum, khususnya jika infeksi hebat. Pengobatan intensif pada bulan pertama, lalu lambat laun berkurang sewaktu penyembuhan terjadi. Pengobatan sering dilakukan 6 sampai 12 bulan. Jika pengobatan dihentikan terlalu cepat, infeksi mungkin berulang. Pembedahan untuk memperbaiki kornea (keratoplasty) jarang diperlukan kecuali kalau diagnosa dan pengobatan terlambat.

B. Balamuthia mandrillaris

Gambar 4. Balamuthia mandrillaris Granulomatous Amebic Encephalitis adalah Radang otak

Granulomatous amebic adalah infeksi sistem saraf pusat yang fatal yang disebabkan oleh spesies Balamuthia mandrillaris. Biasanya

terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah atau kesehatannya buruk. Rute masuk Balamuthia mandrillaris adalah melalui saluran pernapasan dan kulit (masuk melalui luka di kulit diikuti oleh paparan tanah yang terkontaminasi, misalnya bekerja di kebun. Amuba yang menyebabkan infeksi ini tinggal di air, tanah, dan debu di seluruh dunia. Banyak orang terpapar, tetapi sedikit yang terinfeksi. Biasanya terjadi pada orang yang sistem imunitasnya melemah atau kesehatanny secara umum buruk. Amuba mungkin masuk lewat kulit atau paru-paru dan menjalar ke otak lewat aliran darah.
10

Gejala mulai secara perlahan. Orang mungkin mengalami demam dengan tingkat yang rendah, pandangan kabur, berubah kepribadian, dan bermasalah dengan berbicara, koordinasi, atau pandangan. Satu sisi badan atau muka mungkin menjadi lumpuh. Luka mungkin timbul di kulit. Sakit kepala dan pusing biasa terjadi. Kebanyakan orang terinfeksi meninggal, biasanya 7 sampai 120 hari sesudah gejala dimulai. Pengendalian : Pengobatan Computed tomography (CT) scan dan ketukan tulang belakang biasanya dilakukan. Tes ini menolong

meniadakan penyebab lainnya tetapi biasanya tidak bisa memperkuat diagnosa. Luka biasanya berisi amuba dan, jika ada, dilakuakn biopsi. Diagnosa sering dibuat setelah kematian. Beberapa antifungal obat dan antibiotika dapat digunakan. Dibromopropamidine, nampaknya paling pentamidine, berguna. atau propamidine termasuk

Yang

lain

amphotericin B, fluorocytosine, itraconazole, ketoconazole, miconazole, neomycin, paromomycin, atau trimethoprimsulfamethoxazole

11

C. Endolimax nana

Gambar 5. Endolimax nana Infeksi nana dapat menyebabkan diare akut atau kronis, nyeri abdomen umum, mual, muntah, perut kembung dan anoreksia.

Pengendalian : Pengobatan Metronidazol, Nitazoxanide dan kotrimoksazol telah terbukti menjadi pilihan pengobatan yang efektif untuk kedua B. hominis dan E. Infeksi nana.

D. Entamoeba histolytica

Gambar 6. Entamoeba histolytica Penyebab penyakit disentri. Dominan menjangkiti manusia dan kera, E. histolytica diperkirakan menulari sekitar 50 juta orang di seluruh dunia. mengakibatkan disentri amoeba atau liver abscess amoeba.

12

Gejala dapat termasuk disentri, diare berdarah, penurunan berat badan, kelelahan, sakit perut, dan amoeboma (suatu komplikasi yang mengakibatkan luka di usus) penyebarannya melalui makanan dan air minum yang terinfeksi dan juga dapat berlangsung melalui kontak seksual.

Pengendalian : Penyakit ini sukar dibasmi karena banyaknya pembawa kista tanpa gejala. Yang terpenting higiene perorangan dan pengadaan air bersih. Kista dapat dimusnahkan dengan memasak air sekurang-kurangnya 10 menit, sedangkan pemurnian air melalui klorinasi diragukan efektivitasya. Pengobatan dengan antimikroba Metronidazole untuk invasi trophozoites bagi mereka yang masih dalam usus kecil. Dilanjutkan dengan Paromomycin.

E. Naegleria fowleri

Gambar 7. Naegleria fowleri

Penyakit meningoencephalitis (radang selaput otak). Hampir semua kasus meningoencephalitis sangat erat hubungannya dengan kolam renang atau danau. Hal ini sangat mungkin terjadi trophoszoit masuk

13

melalui hidung pada waktu penderita menyelam dalam air. Kasus yang telah dilaporkan menunjukkan bahwa infeksi terjadi waktu orang Muslim berwudhu dengan membasuh hidung 5 X sehari terjadi pada petani muslim di Nigeria. Penyakit ini muncul dengan tiba-tiba mulai bifrontal atau bitemporal kepala, demam, mual, muntah, dan leher kaku. Gejalanya lesu, kebingungan, dan koma. Dalam rekaman semua kasus, pasien meninggal dalam waktu 48 jam hingga 72 jam.

Pengendalian : Pertama-tama dengan perlakuan agresif amphotericin B dan miconazole mungkin efektif, tetapi hampir semua pasien meninggal.

2.

Cilliates

A. Balantidium coli

Gambar 8. Balantidium coli Penyakit yang disebabkan balantidium disebut balantidiasis.

Balantidium adalah protozoa bersilia hanya diketahui menginfeksi manusia. Balantidiasis adalah penyakit zoonosis dan diperoleh oleh manusia melalui rute fecal-oral dari host normal, babi, dimana tanpa gejala. Air yang terkontaminasi merupakan mekanisme transmisi yang

14

paling umum. diare ledakan dapat terjadi sesering setiap dua puluh menit.

Pengendalian : Pengobatan Tetrasiklin sesuai petunjuk dari penyedia layanan kesehatan Anda. Tetrasiklin tidak dianjurkan untuk wanita hamil atau anak di bawah 8 tahun. Jika obat tidak tersedia, maka iodoquinol dan metronidazol dapat digunakan. Pencegahan Jangan gunakan kotoran manusia sebagai pupuk pertanian. Cuci tangan setelah pergi ke toilet dan sebelum makan. Hanya minum air murni. Cuci sayuran dan memasak daging dengan benar. Kista Balantidium coli infektif tewas oleh panas.

3.

Flagellates A. Giardia lamblia

Gambar 9. Giardia lamblia

15

Penyebab penyakit giardiasis (infeksi usus kecil). Dapat menjangkiti hewan yaitu sapi, domba, rusa, berang-berang, anjing, kucing, dll. Gejala infeksi meliputi: Diare, rasa tidak nyaman pada perut, buang gas yang berlebihan (kentut yang berbau busuk) bersendawa dengan bau seperti belerang yang menyebabkan seseorang ingin muak dan muntah, steatorrhoea (feses berwarna pucat, berbau busuk, dan licin), nyeri pada daerah epigastric (antara dada dan perut), perut sering kembung, mual, kurang nafsu makan, mungkin (tapi jarang) muntahmuntah yang banyak, kehilangan berat badan, Pus, lendir dan darah yang tidak biasa di feses.

Pengendalian : Pencegahan Pencegahan Pada daerah terbuka dimana jarang ditemukan air di permukaan tanah, memerlukan penyaringan dengan filter yang memiliki nominal 1-pori ukuran mikrometer. Disarankan untuk

menggunakan yodium atau klorin dioksida pada air yang akan dikonsumsi. Parameter air seperti suhu, kekeruhan, dan kepekatan juga dapat mempengaruhi efektivitas suatu

perawatan terhadap infeksi. Ingat, bahwa tidak semua orang terlihat bergejala walaupun di dalam tubuhnya terdapat Giardia. Oleh sebab itu diperlukan kewaspadaan universal dalam prilaku keseharian khususnya perhatian utama pada anak-anak yang bisa tertular penyakit ini dari makanan-minuman yang kebersihannya diragukan. Pengobatan Infeksi pada manusia secara konvensional diobati dengan metronidazole, tinidazole atau nitazoxanide. Metronidazole, walaupun pada saat ini merupakan obat terapi lini depan,

16

namun bisa menyebabkan mutagenic (mutasi gen) pada bakteri dan menyebabkan kanker pada tikus (putih) sehingga harus dihindari selama kehamilan.

B. Leishmania species

Gambar 10. Leishmania sp. Leishmaniasis adalah penyakit kulit dan selaput lendir yang disebabkan oleh protozoa yang berasal dari genus leishmania. Penyakit ini dimulai dengan tumbuhnya papula (bintil) yang membesar & pada akhirnya menjadi ulkus puru atau luka bernanah tidak terasa sakit (nyeri). Lesi dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu/beberapa bulan dan terkadang dapat bertahan setahun atau lebih. Jenis : o Leishmania donovani yang menyebabkan leishmaniasis viseral atau kala azar. o Leishmania tropika yang menyebabkan leishmaniasis kulit atau orental sore o Leishmania brasiliensis yang menyebabkan leishmaniasis mukokutis atau espundiz

Pengendalian : Pencegahan

17

Upaya pencegahan berbeda dari satu tempat ke tempat lain, tergantung kepada kebiasaan dari hospes mamalia dan

bionomic vector phlebotomine. Begitu kebiasaan hospes ini diketahui, maka langkah pencegahan yang tepat dapat dilakukan yang meliputi: Lakukan deteksi kasus secara sistematis dan obati penderita yang ditemukan secara dini untuk semua bentuk leishmaniasis dan merupakan salah satu cara penanggulangan terpenting untuk mencegah lesi selaput lender memburuk, di belahan Bumi bagian Barat dan mencegah bentuk recidivans di belahan Bumi bagian Timur, pada situasi dimana reservoir penyakit terutama atau hanya manusia. Gunakan insektisida yang mempunyai dampak residual secara rutin. Bersihkan timbunan sampah dan sarang lain untuk phlebotomines di Belahan Bumi bagian Timur. Musnahkan bintang sejenis tikus dan hancurkan lubang serta sarang mereka dengan cara menggalinya dalam-dalam. Didaerah tertentu perlu dilakukan pengawasan terhadap anjing. Di Belahan Bumi bagian Barat, orang agar menghindari dating ke daerah yang dihuni oleh lalat pasir seperti daerah yang berhutan, terutama pada waktu sore hari. Jika harus dating ke tempat tersebut gunakan pakaian pelindung yang memadai serta gunakan repelan agar terhindar dari gigitan lalat pasir. Lakukan manajemen lingkungan dengan baik dan bersihkan hutan secara berkala.

18

C.

Trypanosoma brucei gambiense dan Trypanosoma rhodesiense

Gambar 11. Trypanosoma brucei spesies yang menyebabkan trypanosomiasis Afrika (atau penyakit tidur) pada manusia dan nagana pada hewan di Afrika. Vektor serangga untuk T. brucei adalah lalat tsetse. Gejala pertama yang mencakup serangan demam, sakit kepala, nyeri sendi, dan gatal-gatal. Pada tahap kedua parasit melintasi penghalang darah-otak untuk menginfeksi sistem saraf pusat perubahan perilaku, kebingungan, gangguan sensorik dan koordinasi yang buruk. Gangguan siklus tidur, yang memberikan penyakit namanya, merupakan fitur penting dari tahap kedua dari penyakit. Tanpa pengobatan, penyakit tidur dianggap fatal.

Pengendalian : Pengobatan Pengobatan Tahap Pertama: Pentamidin: ditemukan pada tahun 1941, digunakan untuk pengobatan tahap pertama Tb gambiense tidur sakit. Meskipun efek yang tidak diinginkan yang tidak dapat diabaikan, itu adalah secara umum ditoleransi dengan baik oleh pasien. Suramin: ditemukan pada tahun 1921, digunakan untuk pengobatan tahap pertama Tb rhodesiense. Ini menimbulkan

19

efek yang tidak diinginkan tertentu, saluran kemih dan reaksi alergi. Pengobatan tahap kedua: Melarsoprol: ditemukan pada tahun 1949, digunakan dalam kedua bentuk infeksi. Hal ini berasal dari arsen dan memiliki banyak efek samping yang tidak diinginkan. Yang paling dramatis adalah encephalopathy reaktif (sindrom

encephalopathic) yang bisa berakibat fatal (3% sampai 10%). Peningkatan resistensi terhadap obat tersebut telah diamati di beberapa fokus terutama di Afrika Tengah. Eflornithine: molekul ini, kurang beracun dari melarsoprol, telah didaftarkan pada tahun 1990. Hal ini hanya efektif melawan Tb gambiense. Rejimen ini ketat dan sulit untuk diterapkan. Sebuah pengobatan kombinasi nifurtimox dan eflornithine baru-baru ini diperkenalkan (2009). Ini menyederhanakan penggunaan eflornithine di monoterapi, tapi sayangnya itu tidak efektif untuk Tb rhodesiense. Nifurtimox terdaftar untuk pengobatan trypanosomiasis Amerika tetapi tidak untuk trypanosomiasis Afrika manusia. Namun demikian, setelah data keamanan dan kemanjuran yang disediakan oleh uji klinis, penggunaannya dalam kombinasi dengan eflornithine telah diterima dan dimasukkan dalam Daftar Obat Esensial WHO, dan itu disediakan secara gratis untuk tujuan ini oleh WHO.

20

D. Trypanosoma evansi

Gambar 12. Trypanosoma evanci Penyakit surra merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh protozoa Trypanosoma evansi. Parasit ini hidup dalam darah induk semang dan memperoleh glukosa sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah induk semangnya. Menurunnya kondisi tubuh akibat cekaman misalnya stress, kurang pakan, kelelahan, kedinginan dan sebagainya merupakan faktor yang memicu kejadian penyakit ini. Penularan terjadi secara mekanis dengan perantaraan lalat penghisap darah seperti Tabanidae, Stomoxys, Lyperosia, Charysops dan Hematobia serta jenis arthropoda yang lain seperti kutu dan pinjal. Gejala Umum meliputi o o o o o o Demam, lesu, lemah, nafsu makan berkurang, lekas letih. Anemia, kurus, bulu rontok, busung daerah dagu dan anggota gerak dan akhirnya akan mati. Di daerah endemik ternak mungkin terkena infeksi tetapi tidak terlihat adanya gejala. Keluar getah radang dari hidung dan mata. Selaput lendir terlihat menguning. Jalan sempoyongan, kejang dan berputar-putar (mubeng) disebabkan karena parasit berada dalam cairan Cerebrospinal sehingga terjadi gangguan saraf.

21

Pengendalian : Pencegahan Pembasmian serangga penghisap darah dengan tindakan penyemprotan kandang dan ternak dengan Asuntol atau insektisida lain yang aman bagi ternak. Pembersihan tempat yang basah dan rimbun. Pengeringan tanah dan penertiban pembuangan kotoran dan sampah sisa makanan ternak. Pemotongan hewan yang sakit di malam hari untuk menghindari lalat. Ternak yang sakit dapat dipotong dan dikonsumsi dibawah pengawasan dokter hewan. Pengangkutan ternak sakit ke Rumah Potong Hewan (RPH) hanya dapat dilakukan pada malam hari untuk menghindari penyebaran oleh lalat. Seluruh sisa pemotongan harus dibakar dan dikubur dalamdalam setelah pemotongan, lokasi disuci hamakan dengan disinfektan. Kulit yang berasal dari hewan sakit harus disimpan dari tempat terlindung dari caplak, lalat atau nyamuk sekurang-kurangnya selama 24 jam atau disemprot dengan insektisida sebelum digunakan.

E. Trichomonas fetus

Gambar 13. Trichomonas fetus

22

Trichomoniasis pada sapi adalah penyakit veneral yang ditandai dengan sterilitas, abortus muda dan pyometra. Penularan dari sapi betina ke betina lainya dapat melalui pejantan yang mengawininya. kegagalan perkawinan pembengkakan vulva dan jaringan sekitarnya yang disertai keluarnya cairan mukopurulen adanya serpihan serpihan nanah didalam cairan yang keluar dari alat kelamin. Trichomoniasis pada sapi akan menyebabkan vaginitis kataralis yang menyebabkan mukosa vagina menjadi berwarna merah dan basah Pengendalian : Pencegahan Disamping itu pengolahan semen yang digunakan untuk IB dengan baik merupakan merupakan cara pengendalian dan pencegahan penyakit Trichomoniasis pada sapi . Semen yang beredar secara komersial dapat diberi perlakuan khusus dengan pemberian antibiotik untuk menghindari ancaman infeksi sapi betina yang di IB. Pengobatan Trichomoniasis pada sapi dapat berhasil dengan menggunakan antibiotik spektrum luas baik untuk pejantan maupun sapi betina. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah isolasi dan memberikan waktu istirahat untuk kegiatan seksual selama 3 bulan sampai siklus birahi nampak kembali normal.

Pengobatan Penanggulangan Trichomoniasis pada sapi dapat dilakukan pengobatan menggunakan antibiotik secara lokal pada betina yang terinfeksi. Sedangkan pada pejantan yang terinfeksi dapat dilakukan dengan pencucian atau pembilasan kantong penis (preputium) dengan antiseptik atau antibiotik seperti larutan berenil 1 % sebanyak 100-150 ml. Pengobatan pada pejantan lebih sulit sehingga pengobatan sebaiknya dilakukan hanya pada sapi jantan yang mempunyai mutu genetik yang tinggi. Sapi induk yang menderita pyometra dapat diberikan estrogen atau prostaglandin F2 dengan tujuan terjadi kontraksi uterus sehingga terjadi pengeluaran nanah dari uterus/rahim yang

23

selanjutnya dilakukan spool atau irigasi uterus dengan anti septik ringan.

4.

Sporozoa A. Babesia species

Gambar 14. Babesia sp. Protozoa parasit dari darah yang menyebabkan suatu penyakit hemolitik yang dikenal sebagai Babesiosis (demam texas).

Pengendalian : Pencegahan Yang paling efektif tindakan kesehatan masyarakat untuk Babesia adalah menghindari paparan tick (kutu). Hal ini dapat dilakukan melalui strategi pencegahan pribadi seperti daerahdaerah menghindari tik-infested (terutama selama musim tick tinggi antara Mei dan September), yang tersisa ditutupi dengan pakaian ringan, mencari untuk kutu setelah berada di alam terbuka, dan menghapus menemukan kutu dari kulit. [9 ] langkah-langkah pencegahan lainnya termasuk menerapkan diethyltoluamide (DEET), sebuah penolak umum yang adalah efektif terhadap kutu dan serangga. (Bagi orang yang bereaksi negatif ke DEET, repellents serangga alternatif harus digunakan).

24

Pengobatan Pengunaan obat atovaquone dengan azitromisin.

B. Cyptosporidium parvum

Gambar 15. Cyptosporidium parvum Gejala utama dari infeksi C. parvum yang akut, berair, dan nonberdarah diare . Infeksi C. parvum menjadi perhatian khusus di immunocompromised pasien, dimana diare bisa mencapai 10-15L per hari. Gejala lain mungkin termasuk anoreksia , mual / muntah dan perut nyeri.

Pengendalian : Pengobatan Terapi suportif seperti adalah utama untuk C. parvum infeksi. paromomycin dan Nitazoxanide dapat mengurangi beberapa gejala diare, namun yang terakhir ini kontraindikasi untuk pasien AIDS.

25

C. Plasmodium falciparum, P. malarie, P. ovale, P. vivax (Plasmodium sp.)

Gambar 16. Plasmodium spesies Plasmodium yang menyebabkan malaria pada manusia. Hal ini ditularkan oleh betina Anopheles nyamuk . parasit ini bersembunyi dan berkembang biak di dalam hati (liver) kemudian menginfeksi sel darah merah sehingga menyebabkan gejala seperti demam dan sakit kepala, yang mana pada kasus yang parah akan megarah ke koma(tidak sarkan diri) dan kematian.

Pengendalian : Pencegahan Pencegahan malaria dapat pula dilakukan dengan memasang kelambu untuk menangkal gigitan nyamuk pada saat tidur. Selain itu pemakaian obat nyamuk bakar maupun semprot dapat mengusir nyamuk dari dalam ruangan, walaupun mempunyai efek jangka panjang yang kurang baik bagi kesehatan. Pencegahan dengan cara menyingkirkan genangan air dan membersihkan tempat-tempat yang menjadi tempat nyamuk berkembang biak lebih disarankan daripada penggunaan bahan kimia berbahaya. Mengusahakan keadaan di dalam rumah tidak ada tempat yang gelap dan lembab,membersihkan baju baju kotor yang ada
26

digantungan,dan menjauhkan kandang ternak dari pemukiman penduduk. Pencegahan penyakit malaria yang lain adalah menghindari kontak langsung dengan penderita malaria. Demikian cara mencegah penyakit malaria. Pengobatan Berikut adalah daftar obat yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit malaria, diantaranya Atovaquone/Proguanil (Malarone), Klorokuin, Doxycycline, dll.

D. Toxoplasma gondii

Gambar 17. Toxoplasma gondii Penyakit toxoplasmosis yang disebabkan oleh Parasit Protozoa bernama Toxoplasma gondii bisa menjadi penyebab janin cacat dan janin tidak berkembang. Bila janin selamat hingga lahir, umumnya menderita infeksi mata berat setelah lahir, penyakit kuning abnormal, pembesaran Liver dan limpa, serta epilepsi. Pada penderita HIV/AIDS, Infeksi Toxoplasma bisa menyebabkan infeksi Otak yang sering berakibat pada kematian. Gejala akibat Toxoplasmosis pada orang sehat, antara lain demam, sakit kepala, pembesaran kelenjar limfa (Getah bening), lemah, lesu, nyeri tenggorokan, nyeri dan pegal di seluruh badan.

27

Pengendalian : Pencegahan Masak daging dengan sempurna, minimal dengan suhu 70OC Cuci tangan, dan peralatan yang berhubungan dengan pengolahan daging dengan sabun Cuci buah-buahan dan sayuran dengan bersih Gunakan sarung tangan pada saat berkebun atau kontak dengan tanah. Tanah yang terkontaminasi toxoplasma melalui feces kucing adalah sumber infeksi yang potensial. kucing atau binatang piaraan yang ada di rumah segera bawa ke dokter hewan, untuk mengetahui apakah binatang peliharaan terinfeksi parasit toksoplasma secara aktif atau tidak. Jangan lupa untuk member-sihkan kandang kucing setiap hari.

Pengobatan Pengobatan dengan pyrimetamin dan sulfonamide bersamaan banyak digunakan sebagai obat toxoplasmosis ini.

5. Status tak tergolongkan A. Blastocystis hominis

Gambar 18. Blastocystis hominis Patogenesisnya masih kontroversial, akan tetapi diindikasikan

penyebab diare pada manusia dan kera.

28

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

1. Pada umumnya penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa penyerang pencernaan dan sistem saraf pusat. 2. Beberapa penyakit yang disebabkan protozoa menyebabkan kematian. 3. Pencegahan terbaik dimulai dari kehigienisan masing-masing individu, mengkonsumsi makanan dan minuman yang telah dimasak secara benar. 4. Pengobatan penyakit yang disebabkan protozoa parasit harus

diindentifikasi terdahulu sebelum diberikan agen antimikroba pada penderita.

29

DAFTAR PUSTAKA Amifidi.blogspot.com/2010/05/endolimax-nana.html health.detik.com/read/2010/02/12/172346/1298530/770/disentri# Hoan Tjay, Tan & Rahardja, Kirana. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta: Gramedia. Jawetz, Melnick, & Adelbergs. 2005. Medical Microbilogy. Penerjemah Bagian Mikrobilogi Fakultas Kedokteran UNAIR. Jakarta: Salemba Medika. lib.ugm.ac.id/digitasi/index.php?idbuku=572&module=cari_hasil_full ntb.litbang.deptan.go.id/ind/pu/psds/Penyakit.pdf Pelczar and Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi I. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). www.kucingkita.com/penyakit-kucing/tindakan-pencegahan-toxoplasma www.scribd.com/doc/73240248/Makalah-Parasit-Acanthamoeba-Dan-Naegleria

30