Anda di halaman 1dari 24

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kubis (Brassica oleracea var.capitata L.) merupakan jenis sayuran yang populer di Indonesia.

Kubis pada umumnya dapat tumbuh di dataran tinggi. Jenis komoditas ini terkenal dengan ciri bentuknya yang khas yaitu bulat agak lonjong dengan warna hijau muda dan secara keseluruhan terdiri dari daun yang berbentuk sangat rapat. Wilayah dataran tinggi yang menjadi pusat dari budidaya kubis ini diantaranya yaitu terdapat di daerah Dieng, Wonosobo, Tawangmangu, Kopeng, Salatiga, Bobot Sari, Purbalingga, Malang, Brastagi, Argalingga, Tosari, Cipanas, Lembang, Garut, Pengalengan dan beberapa daerah lain di Bali, Timor Timur, Nusa Tenggara Timur serta Irian Jaya. Berdasarkan taksonomi nya, komoditas kubis tergolong pada divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, klas Dicotyledonae, famili Cruciferae, genus Brassica, spesies Brassica oleracea. Keberadaan kubis telah dikenal sejak jaman purbakala (2500-2000 SM) serta merupakan tanaman yang dipuja dan dimuliakan oleh masyarakat Yunani Kuno. Kubis yang dibudidayakan di Indonesia sendiri terdiri dari dua tipe, yaitu tipe semusim dan tipe dua musim. Kubis tergolong jenis sayuran yang diminati oleh konsumen karena harga dari kubis tergolong murah serta dapat disajikan menjadi berbagai jenis masakan yang tentunya memiliki nilai kandungan gizi yang tinggi. Manfaat mengkonsumsi kubis jika kita memakan 25-30 gram kubis secara mentahmentah sebagai lalapan atau jika direbus, memiliki dampak yan baik bagi tubuh. Kandungan zat aktifnya, sulforafan dan histidine dapat menghambat pertumbuhan tumor, mencegah kanker kolon dan rektun, detoksikasi senyawa kimia berbahaya, seperti kobalt, nikel dan tembaga yang berlebihan di dalam tubuh, serta meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan kanker. 1

Kandungan asam amino dalam sulfurnya juga berkhasiat menurunkan kadar kolesterol yang tinggi, penenang saraf dan membangkitkan semangat. Kubis juga memiliki manfaat lain jika digunakan pada pemakaian luar. Kubis dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit kulit, luka/nyeri di kulit baik karena digigit serangga atau bahkan karena kasus kebakaran, jerawat, pecah kulit, bisul, infeksi, dan bengkak ringan. Kubis juga dapat menjadi obat pada gatal akibat jamur candida (candidiasis), jamur dikulit kepala, tangan dan kaki, kadar kolesterol darah tinggi, radang sendi ( artritis), melindungi sebagai tubuh dari sinar radiasi seperti sinar racun di x-ray, hati, komputer, microwave dan televisi berwarna. Manfaat selanjutnya yaitu antidote pada mabuk alkohol (hangover), menghilangkan keluhan prahaid (premenstrual sindrom), meningkatkan produksi ASI, mencegah tumor membesar, mencegah kanker kolon dan rektum, serta borok (ulcus) pada saluran cerna, dan sulit buang air besar (sembelit). Kubis memiliki manfaat yang sangat besar sekali dalam kelangsungan kehidupan manusia sehingga besarnya produksi kubis menjadi harus diperhatikan. Perkembangan produksi kubis di Indonesia dari tahun 2009 ke 2010 yakni sebesar 1.358.113 ton dan 1.385.044 ton. Mengalami peningkatan sebesar 26.931 ton atau sebesar 1,98%. Jumlah produksi kubis di wilayah Jawa Tengah sendiri pada tahun 2009 sebesar 348,616 ton, lalu pada tahun 2010 sebesar 383,686 ton, dan pada tahun 2011 sebesar 384,685 ton. Jumlah produksi kubis ini terus mengalami peningkatan setiap tahun nya (Sumber BPS). Potensi yang demikian menjadi salah satu faktor pentingnya komoditas kubis untuk terus dikembangkan. Beberapa kendala utama dalam proses usaha tani kubis yaitu pada keberadaan fungsi fisik dalam menjalani proses pemasarannya. Kubis tergolong jenis komoditas yang memiliki sifat bulky, yakni volume besar namun harga yang dipasarkan kecil dan berbanding terbalik dari besarnya 2

volume kubis tersebut. Kubis juga merupakan jenis komoditas yang bersifat musiman, segar dan mudah rusak. Kaitannya dengan fungsi fisik di sini dibedakan menjadi tiga yaitu fungsi penyimpanan, fungsi pengangkutan, dan fungsi pengolahan. Fungsi fisik menjadi sorotan yang harus dipahami dalam menjalani saluran pemasaran kubis karena jika fungsi fisik ini tidak dipahami maka akan sangat mungkin komoditas kubis ini akan sampai pada konsumen dengan keadaan yang sudah tidak baik dan nantinya akan berpengaruh pada perubahan harga dari kubis tersebut. 2. Permasalahan 1. Bagaimana ciri umum dari produksi pertanian? 2. Bagaimana fungsi penyimpanan dalam komoditas kubis? 3. Bagaimana fungsi pengangkutan dalam komoditas kubis? 4. Bagaimana fungsi pengolahan dalam komoditas kubis? 5. Bagaimana saluran pemasaran dalam komoditas kubis? 3. Tujuan 1. Mengetahui ciri umum dari produksi pertanian. 2. Mengetahui fungsi penyimpanan dalam komoditas kubis. 3. Mengetahui fungsi pengangkutan dalam komoditas kubis. 4. Mengetahui fungsi pengolahan dalam komoditas kubis. 5. Mengetahui saluran pemasaran dalam komoditas kubis.

B. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinjauan Teoritis Kelemahan dalam sistem pertanian di negara berkembang, termasuk Indonesia, adalah kurangnya perhatian dalam bidang pemasaran. Fungsifungsi pemasaran, seperti pembelian, sorting atau grading, penyimpanan, pengangkutan, dan pengolahan, sering tidak berjalan seperti yang diharapkan, sehingga efisiensi pemasaran memang terbatas, sementara ketrampilan mempraktekan unsur-unsur manajemen juga demikian. Lemahnya manajemen pemasaran disebabkan karena tidak mempunyai pelaku-pelaku pasar dalam menekan biaya pemasaran (Soekartawi, 2002). Ciri-ciri dari produksi pertanian diantaranya yaitu : a. Produk pertanian adalah musiman Artinya tiap macam produk pertanian tidak mungkin tersedia setiap saat bila tanpa diikuti dengan manajemen stok yang baik. b. Produk pertanian bersifat segar dan mudah rusak Artinya tiap macam produk pertanian sebenarnya diperoleh dalam keadaan segar (masih basah), sehingga tidak dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama. Kalau saja diinginkan penyimpanan dalam waktu yang relatif lama, maka diperlukan perlakuan tambahan, misalnya pengeringan atau perlakuan pasca panen. c. Produk pertanian bersifat bulky Artinya volumenya besar tetapi nilainya relatif kecil. Akibatnya ialah dalam proses pengelolaannya diperlukan tempat yang luas. Ini artinya perlu biaya penyimpanan atau perawatan yang lain dalam jumlah yang relatif besar. d. Produk pertanian tidak selalu mudah didistribusikan ke lain tempat Artinya dimaksudkan agar bila produksi tersebut terserang hama dan penyakit, maka diharapkan tidak terjadi penularan. Di samping itu, untuk

mendistribusikan dalam waktu yang relatif singkat, memerlukan biaya yang besar mengingat sifat produksi pertanian bulky. e. Produk pertanian bersifat lokal atau kondisional Artinya tidak semua produk pertanian dapat dihasilkan dari satu lokasi, melainkan berasal dari berbagai tempat. Misalnya, tanaman apel dapat tumbuh di dataran tinggi dan tidak dapat tumbuh baik di dataran rendah. Sebaliknya, tanaman ketela rambat baik ditanam di dataran rendah daripada di dataran tinggi. (Soekartawi, 2002). Salah satu dari pendekatan pemasaran yang penting untuk dipahami oleh para produsen maupun distributor adalah pendekatan serba fungsi. Pendekatan ini dibedakan menjadi fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi penunjang. Fungsi pertukaran dibagi menjadi pembelian dan penjualan. Fungsi fisik membahas mengenai pola perpindahan barang-barang secara fisik dari produsen sampai ke konsumen. Fungsi fisik ini dibagi menjadi tiga fungsi yaitu fungsi penyimpanan, fungsi pengangkutan, dan fungsi pengolahan. Fungsi penunjang dibagi menjadi fungsi pembiayaan, penanggungan (Swastha, 1979). Fungsi penyimpanan dimaksudkan untuk menyeimbangkan periode panen dan periode paceklik. Ada empat alasan pentingnya penyimpanan untuk produk- produk pertanian, yaitu produk bersifat musiman, adanya permintaan akan produk pertanian yang berbeda sepanjang tahun. Alasan ke tiga yakni perlunya waktu untuk menyalurkan produk dari produsen ke konsumen, dan perlunya stok persediaan untuk musim berikutnya (Mubyarto, 1998). Fungsi penyimpanan ini menciptakan faedah atau kegunaan waktu karena melakukan penyesuaian antara penawaran dengan permintaannya. Khususnya untuk barang-barang yang sifatnya mudah rusak perlu tempat 5 resiko, grading dan standarisasi, informasi pasar

penyimpanan khusus, seperti buah-buahan, sayur-sayuran perlu disimpan dalam ruangan pendingin. Penyimpanan memungkinkan bagi penjual untuk mengatur pemasaran sampai kondisi pasar menguntungkan. Penyimpanan dapat dilakukan dengan menggunakan gudang (tempat penyimpanan) sendiri atau menyewa gudang umum (Swastha, 1979). Fungsi pengangkutan mempunyai peranan yang sangat vital dalam kehidupan manusia, terutama sekali dalam dunia perniagaan, hasil perkebunan, pertanian, peternakan, dan sebagainya akan sampai ke pasar atau tempat-tempat dimana ia menjual kembali dagangannya apabila ada pengangkutan. Barang-barang hasil produksi dari suatu perusahaan tidak akan sampai dan dapat dinikmati oleh konsumen tanpa adanya pengangkutan. Peranan pengangkutan dalam dunia perniagaan bersifat mutlak, sebab nilai suatu barang itu tidak hanya tergantung dari barang itu sendiri tetapi juga tergantung pada tempat di mana barang itu berada (Anonim, 2009). Fungsi pengangkutan merupakan fungsi pemindahan barang dari tempat barang dihasilkan ke tempat barang dikonsumsikan. Pengangkutan yang baik memungkinkan perluasan pasar dan memungkinkan pula spesialisasi dalam industri yang akan berakibat produksi secara besarbesaran. Kemajuan dalam pengangkutan telah meningkatkan macam ragam barang yang tersedia untuk konsumsi, serta telah mengurangi biaya penyebaran barang, sehingga distribusi barang dapat dilakukan lebih cepat (Swastha, 1979). Fungsi pengolahan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas barang baik dalam rangka memperkuat daya tahan barang (prosesing minimal) maupun meningkatkan nilainya. Kegiatan pengolahan memberikan kegunaan bentuk baik menambah maupun menciptakan utility. Selanjutnya mengakibatkan jumlah dan jenis konsumen akan bertambah banyak. Fungsi pengolahan bertujuan meningkatkan kualitas barang baik dalam rangka 6

memperkuat

daya

tahan

barang

maupun

meningkatkan

nilai

dan

menciptakan kegunaan bentuk (Anonim, 2010). Sistem Pemasaran yaitu suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan (Permana, 2010). Sedangkan definisi lain, dikemukakan oleh Philip Kotler dalam bukunya Marketing Management Analysis, Planning, and Control, mengartikan pemasaran secara lebih luas, yaitu pemasaran adalah suatu proses sosial, di mana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan, dan mereka inginkan dengan menciptakan dan mempertahankan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya. Perantara pemasaran produk bermacam-macam dan biasanya bertingkat. Tingkat pertama biasanya di tempati perwakilan wilayah yang biasanya ditangani oleh perusahaan sendiri, kemudian ada agen tunggal yang mencakup daerah pemasaran yang lebih kecil. Selanjutnya, disusul oleh pedagang biasa yang menjual tidak hanya satu produk perusahaan. Di tingkat ini biasanya produk sudah sampai ke konsumen akhir tetapi ada juga yang disalurkan ke tingkat yang lebih kecil lagi seperti warungwarung yang kemudian bisa dipakai langsung oleh konsumen akhir. Selain perantara distribusi ada satu lagi perantara penting walaupun tidak melakukan penjualan langsung, namun punya andil dalam menyampaikan barang ke konsumen yaitu fasilitator seperti agen iklan, distributor, bank dan lain lain. Saluran pemasaran adalah salah satu yang menentukan keputusan pemasaran yang lainnya seperti dalam hal penetapan harga produk (pricing). Ketika perusahaan memilih memasarkan produknya secara terbatas, pasti harganya pun tinggi karena adanya nilai eksklusifitas (Hartas, 2011).

2.

Hasil Kajian Literatur / Pengumpulan Data Lapang Jawa Tengah merupakan wilayah yang paling berpotensial dalam pengembangan komoditas kubis. Keberadaan wilayahnya sangat sesuai dengan kondisi suhu dan tempat dalam pengembangan kubis. Wilayahwilayah tersebut seperti daerah Banjarnegara, Wonosobo dan magelang. Kubis yang dibudidayakan di Indonesia ada dua jenis, yaitu jenis semusim (annual type) yakni tipe kubis yang dapat tumbuh, berkrop, berbunga dan berbiji di daerah tropis pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, tanpa memerlukan periode pendinginan terlebih dahulu. Jenis kedua yaitu jenis dwi musim (biennial type) yakni dapat tumbuh di daerah tropis namun tidak dapat berbunga secara alami karena tidak adanya musim dingin panjang untuk merangsang pembungaannya. Jenis dwi musim inilah yang banyak diminta konsumen karena kropnya keras/padat, tidak rapuk dan tidak renyah seperti kubis semusim. Namun pengembangan dari sisi pemuliaan dan produksi benihnya terkendala oleh ketidak-mampuan jenis kubis ini untuk berbunga (Departemen Pertanian, 2004).

Gambar 2.1 Keberadaan Komoditas Kubis di Jawa Tengah

Komoditas kubis biasanya dikonsumsi sebagai sayuran atau bahan campuran masakan yang dapat direbus atau dimakan mentah (lalapan). Dapat juga dijadikan obat untuk beberapa penyakit. Tidak semua wilayah di Pulau Jawa dapat dikembangkan usaha kubis. Dapat dilihat pada data dari Badan Pusat Statistik mengenai produksi kubis di masing-masing provinsi di Pulau Jawa. Berikut data mengenai luas panen dan produksi kubis di Jawa Tengah : Tabel 2.1 Luas Panen dan Produksi Kubis di Pulau Jawa
2009 Provinsi Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Yogyakarta Luas Panen (Ha) 13.604 18.843 10.748 4 Produksi (ton) 298.332 348.616 197.985 70 Luas Panen (Ha) 12.811 20.843 9.993 0 2010 Produksi (ton) 286.647 383.686 181.344 0 Luas Panen (Ha) 12.063 20.731 8.972 6 2011 Produksi (ton) 270.780 384.685 182.007 23

Sumber : BPS Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa provinsi Jawa Tengah menempati posisi pertama dalam luas panen dan produksi kubis per tahunnya. Tahun 2009 luas panen 18.843 Ha dan produksi 348.616 ton. Tahun 2010 luas panen 20.843 dan produksi 383.686 ton. Tahun 2011 luas panen 20.731 Ha dan luas panen 384.685 ton. Sehingga sangat jelas bahwa pengembangan komoditas kubis sangat sesuai bila dikembangkan di Jawa Tengah. Kubis memiliki bentuk fisik yang cukup besar dan sangat membutuhkan tempat lebih besar jika akan dilakukan proses distribusi ke berbagai wilayah yang akan didistribusikan. Berdasarkan data sekunder yang diperoleh, harga normal kubis berkisar Rp1.000-Rp1.500 per kilogram di tingkat petani. Dilihat dari ciri produk pertanian maka kubis bersifat bulky,

yaitu memiliki volume besar namun harga jual relatif rendah. Hal demikian menjadi salah satu permasalah dalam proses pemasaran kubis. Sifat lain dari komoditas kubis ini adalah bersifat segar dan mudah rusak. Kubis merupakan salah satu bagian dari jenis sayuran di Indonesia sehingga salah satu sifatnya yaitu mudah rusak. Perlu adanya penyimpanan yang baik dalam komoditas kubis agar kubis tetap dalam kondisi segar dan harga jual tidak semakin menurun. Berbagai upaya yang dilakukan dalam usaha tani kubis di Jawa Tengah setelah memasuki fase pasca panen adalah proses penyimpanan yaitu setelah kubis dipanen, hasil panen disimpan di tempat penampungan atau gudang penyimpanan yang teduh untuk dilakukan sortasi dan grading. Penyimpanan terbaik di ruang gelap pada temperatur 20oC, kelembaban 75-85% atau kamar dingin dengan temperatur 4,4oC dengan kelembaban 85-95%. Pada ruangan-ruangan tersebut kubis akan tetap segar selama 2-3 minggu. Penyimpanan di gudang sudah harus tersedia rak-rak bertingkat, keadaan lingkungan gudang cukup lembab, sirkulasi udaranya baik, dan suhu udaranya relatif rendah. Lebih ideal lagi bila di tempat penampungan tersedia fasilitas gudang khusus yang bersuhu dingin 0 oC dan kelembabannya 90% atau disebut Cold storage.

10

Gambar 2.2 Kegiatan Panen Kubis di Wilayah Jawa Tengah

Gambar 2.3 Kegiatan Panen Kubis di Wonosobo, Jawa Tengah Kegiatan penyimpanan dapat bersifat sementara, jangka pendek, dan jangka panjang. Penyimpanan bersifat sementara diperlukan segera. Tujuan penyimpanan jangka menengah akan mengendalikan melimpahnya komoditas ke pasar tanpa terlalu banyak menimbulkan kemunduran mutu. Kegiatan ini dapat berlangsung dari 1-6 minggu, tergantung pada keperluannya. Kegiatan penyimpanan jangka panjang terutama dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi. Komoditas-komoditas itu disimpan pada waktu produksi puncaknya dan secara berkesinambung dipasarkan selama waktuwaktu yang tersisa dalam tahun itu, yang memungkinkan para produsen dan penjual dapat memperoleh harga yang cukup tinggi. Keberhasilan penyimpanan akan diperoleh dengan adanya produk yang baik, suhu dan kelembaban yang layak, stadia panen dan kematangan yang tepat serta bebas dari penyakit dan kerusakan (Thompson dan Kelly, 1976). Penyimpanan kubis disusun di atas rak-rak 1-2 lapis krop, dan tidak bertumpuk terlalu tinggi. Khusus untuk yang akan dikirim dengan jarak jauh (ekspor), selama di gudang penyimpanan harus dilakukan pelumuran pangkal krop dengan larutan kapur tohor (50%-100%), larutan tawas (30%)

11

atau silikagel (100%) untuk mencegah kemungkinan penyakit busuk lunak. Dalam penyimpanannya, harus dihindari penyimpanan bersama dengan buah apel atau pear, karena kedua jenis buah tersebut mengeluarkan etilen yang berefek buruk terhadap kubis. Tata cara dalam melumuri pangkal krop adalah mula-mula dibuatkan larutan bahan yang ada (kapur tohor, tawas, silikagel) pada persentase yang dianjurkan, kemudian pangkal krop kubis dipotong sedikit dan beberapa helai daun luar dibuang, selanjutnya larutan tadi dioleskan pada pangkal krop tersebut. Kubis yang telah dioleskan selanjutnya disimpan kembali di rak-rak penyimpanan agar bahan luka pada pangkal krop cepat kering. Bila pangkal krop kering berarti sudah siap untuk dikemas.

Gambar 2.4 Penyimpanan Kubis dengan Rak-Rak Susun Proses selanjutnya setelah penyimpanan yaitu proses pengemasan sebelum dilakukan proses pengangkutan. Cara pengemasan yang dilakukan oleh produsen kubis di Jawa Tengah pada umumnya diletakkan di wadah seperti peti kayu, keranjang bambu, karung plastik, atau keranjang plastik. Proses pengemasan untuk kubis yang akan didistribusi ke wilayah yang cukup jauh dan membutuhkan waktu berhari-hari yaitu dengan cara :

12

1. Membungkus krop kubis satu per satu dengan kertas Koran beberapa lapis. 2. Memasukkan krop yang tadi dan menyusun dalam karung jala plastik berisi rata-rata 5-8 kg/karung. 3. Selanjutnya kubis siap diangkut menggunakan truk atau kapal sampai ke tujuan yang dikehendaki.

Gambar 2.5 Pangkal Kubis yang Telah Diolesi Larutan Tata cara pengemasan untuk wilayah pemasaran yang tidak terlalu jauh dapat dilakukan dengan memasukkan kubis ke keranjang anyaman bambu berukuran 60x50x50 cm. Cara pengemasannya yaitu dimulai dari pangkal krop disusun pada lapisan terbawah, agar pangkal kropnya menghadap ke bawah. Selanjutnya lapisan pinggir disusun dengan arah pangkal krop menghadap ke luar. Bagian tengah nya diisi dan dipadatkan secara hati-hati sampai penuh, kemudian wadah pengemas diikat dengan tali, dan kubis siap diangkut ke sasaran pasar.

13

Gambar 2.6 Penyimpanan Kubis dengan Menggunakan Keranjang Proses selanjutnya setelah pengemasan yaitu pengangkutan. Kubis yang sudah dikemas sedemikian rupa maka siap untuk dilakukan proses pengangkutan. Pengangkutan merupakan mata rantai penting dalam penanganan, penyimpanan, dan distribusi sayur-sayuran. Pengangkutan hasil dimulai dari kebun ke tempat pengumpulan. Dari tempat pengumpulan dilakukan pengangkutan hasil oleh para pengecer, tengkulak, pedagang besar, pengeskpor dan pengimpor, pusaat-pusat pengemasan, tempat-tempat penyimpanan, tempat-tempat pengiriman dan tempat pembongkaran atau pasar. Setiap konsumen selalu menginginkan komoditas yang akan dibelinya dalam keadaan segar dan tidak rusak. Kubis yang baru dipanen dari pertanaman harus diperlakukan dengan wajar untuk mencegah kerusakan ataupun kehilangan hasil. Pengangkutan kubis pada umumnya diangkut dengan truk tanpa menggunakan pengepakan. Kubis dimasukkan ke dalam truk dengan cara satu per satu, kemudian pembongkaran di pasar juga dilakukan satu per satu. Perlakuan seperti ini menimbulkan banyak kerugian terhadap komoditas yakni kerusakan

14

mekanis, kurangnya kebersihan, timbulnya panas dan kelembaban yang semakin meningkat pada timbunan kubis sehingga mempercepat terjadinya pembusukan. Selain itu akan menyulitkan perhitungan jumlah komoditas, timbulnya kehilangan hasil karena pencurian selama pengangkutan dan bongkar muat. Khususnya untuk kubis yang akan di ekspor maka membutuhkan pengangkutan yang sesuai. Data dari Global Rate System (GTS) 2010 menyatakan bahwa ekspor kubis Indonesia ke wilayah Malaysia dan Singapura berada pada peringkat ke 2 : Tabel 2.2 Volume Ekspor Kubis Beberapa Negara ke Malaysia Negara Asal Tahun 2009 China Indonesia Thailand Netherland 63% 21% 15% 1%

Sumber : Global Rate System (GTS) 2010 Tabel 2.3 Volume Ekspor Kubis Beberapa Negara ke Singapura Negara Asal Tahun 2009 China 71% Indonesia 18% Malaysia 8% Thailand Vietnam 1% 1%

Sumber : Global Rate System (GTS) 2010 Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dikatakan bahwa kubis di Indonesia cukup diminati oleh pasar Internasional namun jumlahnya memang masih tergolong kecil jika dibanding oleh China. Salah satu yang harus diperbaiki dalam kelanjutan ekspor kubis yaitu pada proses pengangkutan. Pengangkutan yang baik yaitu yang menggunakan sistem pengangkutan terpadu. Sistem pengangkutan terpadu yaitu yang menerapkan informasi dari berbagai bidang ilmu, seperti bidang biokimia, fisiologi

15

hortikultura, patologi, pengemasan, pendinginan, pemasaran, pengangkutan, dan perekayasaan.

Gambar 2.7 Proses Pengemasan Kubis Sebelum dilakukan Proses Penyimpanan

Gambar 2.8 Proses Pengangkutan Kubis di Jawa Tengah

16

Gambar 2.9 Proses Pengangkutan Kubis Menuju Pasar Tradisional Proses pengolahan juga menjadi suatu hal yang harus diperhatikan oleh para produsen serta saluran pemasaran kubis agar kualitas kubis tersebut dapat lebih meningkat dalam rangka memperkuat daya tahan kubis maupun meningkatkan nilai. Fungsi dari pengolahan disini juga dapat menciptakan kegunaan bentuk. Umumnya petani kubis di Jawa Tengah melakukan panen kubis dengan mengikut sertakan daun luar kubis yang berwarna kehijauan untuk dipasarkan. Cara demikian merupakan salah satu contoh sederhana dalam melakukan pengolahan. Namun pedagang kurang menghendaki adanya daun kubis yang diikut sertakan, karena akan menimbulkan limbah yang cukup banyak. Penanganan limbah kubis sampai saat ini belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, sedangkan cara-cara penanganan yang lain untuk kubis-kubisan telah banyak dilakukan yaitu dengan cara pengawetan. Pengawetan adalah suatu usaha untuk membuat bahan makanan menjadi tahan lama. Salah satu cara pengawetan yang dapat diterapkan oleh komoditas kubis yaitu dengan fermentasi. Fermentasi merupakan suatu

17

proses biokimia yang menghasilkan energi di mana komponen organik bertindak sebagai penerima elektron. Beberapa contoh makanan yang diproduksi melalui fermentasi dalam komoditas kubis adalah fermentasi asam laktat dengan produk-produknya antara lain sayur asin, sayur asam (sauerkraut), dan kimchi (kimchee). Setelah mengetahui pentingnya fungsi fisik dalam komoditas kubis maka dengan demikian akan dapat ditentukan strategi pemasaran yang sesuai untuk kubis di wilayah Jawa Tengah. Produk hasil panen kubis dari petani produsen ke konsumen akhir akan melalui suatu mata rantai pemasaran. Lokasi produsen kubis yang jauh dari konsumen maka akan sangat sulit untuk terjadinya transaksi langsung antara petani produsen dan konsumen akhir. Pada kenyataannya beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses distribusi kubis, tergantung atas tipe pemasarannya. Strategi pemasaran kubis secara umum dapat melalui beberapa tipe rantai pemasaran, yaitu seperti : Saluran I Saluran II : Petani produsen Pengecer Konsumen. : Petani produsen Tengkulak/Pedagang desa Pengecer Konsumen Saluran III : Petani produsen Pedagang pengumpul Pedagang besar Pengecer Konsumen Saluran IV : Petani produsen Tengkulak/Pedagang desa Pedagang pengumpul Pedagang besar Pengecer Konsumen Saluran pemasaran I dan II merupakan saluran pemasaran lokal yaitu pemasaran di pasar-pasar lokal yang ada di daerah pusat produksi atau untuk memenuhi permintaan konsumen sekitar daerah produksi. Saluran III dan IV merupakan saluran antar daerah yaitu saluran pemasaran untuk memenuhi permintaan konsumen di luar daerah produksi. Semakin panjang saluran pemasaran juga menimbulkan semakin tingginya marjin pemasaran. Hal

18

demikian dapat merugikan petani produsen karena harga awal kubis yang rendah namun sampai di tangan konsumen akhir dengan harga yang cukup tinggi. Perbedaan harga kubis di setiap saluran pemasaran disebabkan juga oleh keadaan cuaca yang semakin tidak menentu sehingga terkadang sangat menggangu proses budidaya kubis di Jawa Tengah. Saluran pemasaran lain yang termasuk efektif juga yaitu dengan mendistribusikan langsung ke supermarket-supermarket besar dan juga ke restoran-restoran yang menggunakan kubis dalam menu makanannya. Pemasaran ke supermarket juga dapat mengurangi proses perusakan kubis akibat dari pergesekan pada proses pengangkutan. Kubis yang sudah masuk ke supermarket maka akan dimasukan ke freezer atau kulkas pendingin sehingga kubis tidak rusak atau tidak cepat busuk. Kubis yang didistribusikan langsung ke restoran-restoran juga akan memperkecil resiko kerusakaan pada kubis karena sesampainya di restoran maka kubis-kubis tersebut akan langsung diolah menjadi menu-menu makanan dari restoran tersebut.

19

C. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa : a. Jawa Tengah merupakan wilayah yang paling berpotensial dalam pengembangan komoditas kubis. b. Keberadaan wilayahnya sangat sesuai dengan kondisi suhu dan tempat dalam pengembangan kubis. Wilayah-wilayah tersebut seperti daerah Banjarnegara, Wonosobo dan magelang. c. Kubis bersifat bulky, yaitu memiliki volume besar namun harga jual relatif rendah. Hal demikian menjadi salah satu permasalah dalam proses pemasaran kubis. d. Perlu adanya penyimpanan yang baik dalam komoditas kubis agar kubis tetap dalam kondisi segar dan harga jual tidak semakin menurun. e. Berbagai upaya yang dilakukan dalam usaha tani kubis di Jawa Tengah setelah memasuki fase pasca panen adalah proses penyimpanan yaitu setelah kubis dipanen, hasil panen disimpan di tempat penampungan atau gudang penyimpanan yang teduh untuk dilakukan sortasi dan grading. f. Penyimpanan terbaik di ruang gelap pada temperatur 20 oC, kelembaban 7585% atau kamar dingin dengan temperatur 4,4oC dengan kelembaban 85-95%. Pada ruangan-ruangan tersebut kubis akan tetap segar selama 2-3 minggu. g. Proses selanjutnya yaitu pengangkutan. Pengangkutan yang baik yaitu yang menggunakan sistem pengangkutan terpadu. h. Sistem pengangkutan terpadu yaitu yang menerapkan informasi dari berbagai bidang ilmu, seperti bidang biokimia, fisiologi hortikultura, patologi, pengemasan, pendinginan, pemasaran, pengangkutan, dan perekayasaan.

20

i. Cara pengolahan paling sederhana dalam komoditas kubis umumnya petani kubis di Jawa Tengah melakukan panen kubis dengan mengikut sertakan daun luar kubis yang berwarna kehijauan untuk dipasarkan. j. Pengolahan lainnya yaitu dengan fermentasi. Fermentasi merupakan suatu proses biokimia yang menghasilkan energi di mana komponen organik bertindak sebagai penerima elektron. k. Strategi pemasaran kubis secara umum dapat melalui 4 jenis tipe rantai pemasaran, yaitu : Saluran I Saluran II Saluran III Saluran IV : Petani produsen Pengecer Konsumen. : Petani produsen Tengkulak/Pedagang desa Pengecer
Konsumen

: Petani produsen Pedagang pengumpul Pedagang besar


Pengecer Konsumen

: Petani produsen Tengkulak/Pedagang desa Pedagang pengumpul Pedagang besar Pengecer Konsumen

l. Saluran pemasaran I dan II merupakan saluran pemasaran lokal yaitu pemasaran di pasar-pasar lokal yang ada di daerah pusat produksi atau untuk memenuhi permintaan konsumen sekitar daerah produksi. m. Saluran III dan IV merupakan saluran antar daerah yaitu saluran pemasaran untuk memenuhi permintaan konsumen di luar daerah produksi. n. Saluran pemasaran lain yang termasuk efektif juga yaitu dengan mendistribusikan langsung ke supermarket-supermarket besar dan juga ke restoran-restoran yang menggunakan kubis dalam menu makanannya. 2. Saran Sebaiknya petani produsen kubis lebih memperhatikan lagi tentang fungsi fisik dari komoditas kubis yakni mulai dari fungsi penyimpanan, fungsi pengangkutan, serta fungsi pegolahan. Setelah memahami lebih lanjut mengenai

21

fungsi fisik dari komoditas kubis maka dapat ditentukan saluran pemasaran yang sesuai agar nilai marjin pemasaran tidak terlalu tinggi. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2009. Fungsi Pemasaran, Perantara dan Kolaborator. www.pemasarankokrepot.blogspot.com Diakses pada 24 Mei 2012 pukul 20.45. Anonim, 2010. Pemasaran Produk Pertanian. www. blogs.unpad.ac.id Diakses pada 24 Mei 2012 pukul 20.30. Hadi, Anggoro Permadi. Sastrosiswojo, Sudarwohadi. 1993. Kubis. Program Nasional, Lembang. Hartas, Siffa. 2011. Saluran Pemasaran dan Manajemen Rantai Pasokan. www.blogsiffahartas.blogspot.com Diakses pada 26 Mei 2012 pukul 15.00. Mubyarto, Pengantar Ekonomi Pertanian. 1998. LSPI. Jakarta Permana, Erik. 2010. Sistem Pemasaran. www.erik-permana.blogspot.com Diakses pada 26 Mei pukul 14.00. Permana, Lucky. 2010. Kubis Si Sayur Ajaib. www.cangkruk.com Diakses pada 25 Mei 2012 pukul 20.30. Raymond, 2011. Strategi Pemasaran Tanaman Kubis. www.josephbokotei.blogspot.com Diakses pada 25 Mei 2012 pukul 21.00. Rukmana, Rahmat. 1994. Bertanam Kubis. Kanisius, Yogyakarta. Soekartawi, 2002. Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Sunarjono, Hendro. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya, Depok. Swastha, Basu. 1979. Saluran Pemasaran. BPFE, Yogyakarta. Thompson, K.F. 1976. Cabbages, kales etc. Brassica oleracea (Cru-ciferae) , p. 4952. In N.W. Simmonds (ed) : Evolution of Crop Plants. Longman. London and New York.

22

Hubungan Penyimpanan Serta Pengangkutan Kubis (Brassica oleracea) dalam Saluran Pemasaran di Jawa Tengah
MATA KULIAH TATA NIAGA PERTANIAN

DISUSUN OLEH : Nama Kelas : Indri Cahya Lestari : Agribisnis B (H0810064)

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

23

2012

24