Anda di halaman 1dari 8

Kisah Nabi Isa

Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat paruhnya ke atas dan mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya lalu ia terjun ke air dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di sekitamya. Maryam terlupa untuk menyiram pohon bunga mawar yang tumbuh secara tiba-tiba di tengah dua batu yang tumbuh di luar masjid. Maryam menyelesaikan solatnya lalu ia keluar dari mihrab untuk menuju ke pohon mawar tersebut. Belum sempat untuk keluar lalu para malaikat memanggilnya:

"Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." (Surah Al- 'Imran: 42)

Dengan kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam memahami bahawa Allah SWT telah memilihnya dan menyucikannya serta menjadikannya penghulu para wanita dunia. Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali berkata kepada Maryam:

"Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang ruku." (Surah Al- 'Imran: 43)

Perintah tersebut ditetapkan setelah adanya berita gembira agar beliau meningkatkan kekhusyukannya, sujudnya, dan rukunya kepada Allah SWT. Maryam merasakan bahawa sesuatu yang besar akan terjadi kepadanya. Beliau merasakan hal itu sejak beberapa hari yang lalu tetapi perasaan itu bertambah kuat.

Pandangan pertama yang di lihat oleh Maryam kepada orang itu bahawa dia mengisyaratkan memiliki kemulian dengan menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Maryam bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang ini? Kemudian orang asing itu seakanakan membaca fikiran Maryam dan berkata: "Salam kepadamu wahai Maryam." Maryam terkejut mendengar suara manusia di depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:

"Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa." (Surah Maryam: 18)

Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia bertanya kepadanya, "Apakah engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepadanya?" Kemudian orang itu tersenyum dan berkata:

"Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (Surah Maryam: 19)

Orang asing itu belum selesai menyampaikan ucapannya sehingga tempat itu dipenuhi cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya lilin ataupun cahaya api tetapi terdapat cahaya yang sangat jernih. Kemudian terlintaslah difikiran Maryam ayat: "Aku adalah seorang utusan Tuhanmu." Kalau begitu, dia adalah penghulu para malaikat yang telah berubah wajah menjadi manusia.

Maryam mengangkat kepalanya dengan gementar. Jibril berdiri di depannya dalam bentuk manusia. Maryam memerhatikan kejernihan dahinya dan kesucian wajahnya. Benar apa yang diduganya bahawa Jibril memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Kemudian Maryam mengingat kembali ucapan yang diucapkan Jibril. Malaikat itu telah mengatakan bahawa ia adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk memberi Maryam seorang anak laki-laki yang suci. Sedangkan beliau belum menikah dan belum dilamar oleh seseorang pun, maka bagaimana ia dapat melahirkan anak tanpa melalui pernikahan. Fikiran- fikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada Jibril:

"Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang penzina!" (Surah Maryam: 20)

Jibril berkata:

"Demikianlah Tuhanmu berfirman: 'Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan."' (Surah Maryam: 21)

Maryam menerima ucapan Jibril. Tidakkah Jibril berkata kepadanya bahawa ini adalah perintah Allah SWT dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti akan terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus melahirkan tanpa disentuh oleh seorang manusia pun. Bukankah Allah SWT menciptakan Nabi Adam tanpa seorang ayah dan seorang ibu? Sebelum diciptakannya Nabi Adam tidak ada lelaki dan wanita. Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun diciptakan dari laki-laki, tanpa perempuan.

Biasanya manusia diciptakan melalui pasangan lelaki dan perempuan. Biasanya ia memiliki ayah dan ibu tetapi mukjizat terjadi ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi. Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya:

"Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari- Nya, namanya al-Masih Isa putera Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang yang soleh." (Surah Al- 'Imran: 45-46)

Kehairanan Maryam semakin bertambah. Ini kerana, sebelum mengandungkan anak itu di perutnya ia telah mengetahui namanya. Bahkan ia mengetahui bahawa anaknya itu akan berbicara dengan manusia sedangkan ia masih kecil. Sebelum Maryam menggerakkan lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril mengangkat tangannya dan mengerahkan udara ke arah Maryam. Kemudian datanglah hembusan udara yang bercahaya yang belum pernah di lihat sebelumnya oleh Maryam. Lalu cahaya tersebut ke jasad Maryam dan memenuhinya. Tak sempat Maryam melontarkan pertanyaan yang lain, Jibril yang suci telah pergi tanpa meninggalkan suara.

Udara yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil. Maryam segera kembali ke mihrabnya. Ia menutup pintu mihrab dan ia tenggelam dalam solat yang khusyuk dan ia pun menangis. Maryam merasakan kegembiraan, kebingungan dan kegoncangan serta kedamaian yang dalam. Kini, Maryam tidak lagi sendirian. Sejak Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahawa ia tidak lagi sendirian. Ia menggerakkan tangannya yang dipenuhi dengan cahaya, kemudian cahaya ini berubah di dalam perutnya menjadi anak, seorang anak yang akan menjadi kalimat Allah SWT dan roh-Nya yang diletakkan pada Maryam. Ketika anak itu besar, ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.

Pada malam itu, Maryam tidur dengan nyenyak dan ia bangun di waktu Subuh. Belum lama ia membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut ketika melihat mihrab dipenuhi dengan buah-buahan. Maryam hairan melihat hal itu. Ia mulai mengingati apa yang telah terjadi padanya kelmarin, iaitu bagaimana kejadian ketika menyiram pohon mawar, bagaimana pertemuannya dengan malaikat Jibril, bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya padanya, bagaimana ia kembali ke mihrab, dan bagaimana beliau tidur yang nyenyak. Maryam berkata kepada dirinya sambil melihat buah-buahan yang banyak: Apakah aku akan memakan sendirian buah-buahan ini. Kemudian ada suara dalam dirinya yang berkata: "Engkau tidak lagi sendirian wahai Maryam. Kini, engkau bersama Isa. Engkau harus makan dengan baik. Dan Maryam mulai makan.

Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeza dengan kandungan wanita lain. Ia tidak merasa sakit dan tidak merasa berat, ia tidak merasakan sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya tidak membuncit seperti wanita lain. Datanglah bulan yang ke sembilan. Ada sebahagian ulama yang mengatakan bahawa Maryam tidak mengandung Isa selama sembilan bulan, tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai mukjizat.

Pada suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahawa sesuatu akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu itu. Kakinya membimbing untuk menuju tempat yang dipenuhi dengan pohon kurma. Tempat itu tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun kerana terlalu jauh dan tempat itu tidak diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.

Tak seorang pun yang mengetahui Maryam sedang hamil dan ia akan melahirkan Isa. Mihrab yang menjadi tempat ibadahnya selalu tertutup. Orang-orang mengetahui bahawa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya. Maryam duduk berehat di bawah pohon kurma yang besar dan tinggi. Maryam mulai sakit dan rasa sakit tersebut semakin terasa. Akhirnya, Maryam melahirkan:

"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: 'Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." (Surah Maryam: 23)

Rasa sakit melahirkan anak yang dialami wanita suci ini menimbulkan penderitaanpenderitaan lain yang bakal menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut anak ini? Apa yang mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui bahawa ia adalah wanita yang masih perawan? Bagaimana seorang gadis perawan dapat melahirkan? Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seseorang pun yang menyentuhnya? Kemudian pandangan-pandangan keraguan mulai menyelimutinya. Maryam berfikir bagaimana reaksi manusia kepadanya dan bagaimana perkataan mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi dengan kesedihan. Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:

"Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, nescaya pohon itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: 'Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.'" (Surah Maryam: 24-26)

Maryam melihat anaknya yang tampan wajahnya. Wajahnya tidak kemerah-merahan dan rambutnya tidak keriting seperti anak-anak yang lahir di saat itu, tetapi ia berkulit lembut dan putih. Anak itu diselimuti dengan kesucian dan kasih saying. Anak itu berbicara kepada Maryam

agar ia menghilangkan kesedihannya dan meminta padanya agar menggoyangkan batang-batang pohon kurma supaya jatuh darinya sebahagian buahnya yang lazat dan Maryam dapat memakan dan meminum darinya sehingga hatinya penuh dengan kedamaian serta kegembiraan dan tidak berfikir tentang sesuatu pun. Jika Maryam melihat atau menemui manusia, maka hendaklah ia berkata kepada mereka bahawa ia bernazar kepada Allah SWT untuk berpuasa dan tidak berbicara kepada seseorang pun.

Maryam melihat al-Masih dengan penuh kecintaan. Anak itu baru dilahirkan beberapa saat tetapi ia langsung memikul tanggung jawab ibunya di atas pundaknya. Selanjutnya, ia akan memikul penderitaan orang-orang fakir. Maryam melihat bahawa wajah anak itu menyiratkan tanda yang sangat aneh. Yaitu tanda yang mengisyaratkan bahawa ia datang ke dunia bukan untuk mengambil darinya sesuatu, tetapi untuk memberinya segala sesuatu. Maryam menghulurkan tangannya ke pohon kurma yang besar. Belum lama ia menyentuh batangnya hingga jatuhlah darinya buah kurma yang masih muda dan lazat. Maryam makan dan minum dan kemudian ia memangku anaknya dengan penuh kasih sayang.

Akhirnya, masa pengasingan Maryam telah berakhir dan Maryam harus kembali ke kaumnya. Maryam kembali dan waktu menunjukkan Ashar. Pasar besar yang terletak di jalan yang dilalui Maryam menuju masjid dipenuhi dengan manusia. Mereka sibuk dengan jual-beli. Mereka duduk berbincang-bincang sambil minum anggur. Maryam melalui pasar itu sehingga manusia melihatnya membawa seorang anak kecil yang didakapnya. Salah seorang bertanya: "Bukankah ini Maryam yang masih perawan? Lalu, anak siapa yang dibawanya itu?" Seorang yang mabuk berkata: "Itu adalah anaknya." Mari kita dengar cerita apa yang akan disampaikannya. Akhirnya, orang-orang Yahudi mula "mengepung" dengan berbagai macam pertanyaan: "Anak siapa ini wahai Maryam, mengapa engkau tidak mengembalikannya, apakah itu memang anakmu, bagaimana engkau datang dengan membawa seorang anak sedangkan engkau adalah gadis yang masih perawan?"

"Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina." (Surah Maryam: 28)

Maryam dituduh melakukan pelacuran. Mereka menyerang Maryam tanpa terlebih dahulu mendengarkan sanggahannya atau membuktikan bahawa perkataan mereka memang benar. Maryam dicerca sana-sini dan ia diingatkan, bahawa bukankah ia seseorang yang tumbuh dari rumah yang baik dan bukanlah ibunya seorang pelacur? Lalu mengapa semua ini terjadi padanya? Menghadapi semua tuduhan itu, Maryam tampak tenang dan tetap menunjukkan kebaikannya. Wajahnya dipenuhi dengan cahaya keyakinan. Ketika pertanyaan semakin menjadi-jadi dan keadaan semakin sulit, maka Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Ia menunjuk ke arah anaknya dengan tangannya. Maryam menunjuk Isa.

Orang-orang yang ada di situ tampak kebingungan. Mereka memahami bahawa Maryam berpuasa dari berbicara dan meminta kepada mereka agar bertanya kepada anak itu. Para pembesar Yahudi bertanya: "Bagaimana mereka akan melontarkan pertanyaan kepada seorang anak kecil yang baru lahir beberapa hari? Apakah anak itu akan berbicara di buaiannya" Mereka berkata kepada Maryam:

"Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" (Surah Maryam: 29)

Berkata Isa:

"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) solat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. " (Surah Maryam: 30-33)

Selepas melalui zaman dakwah dan sebagainya nabi Isa diangkat oleh Allah s.w.t ke langit. Seterusnya nabi Isa diturunkan semula ke dunia. Dari sudut akidah, kita seharusnya percaya dengan apa yang telah diceritakan al-quran bahawa nabi Isa lahir tanpa bapa. Semua ini

terjadi dengan kekuasaan Allah s.w.t dan kita sebagai hambanya harus beriman dengan apa yang diceritakan oleh al-quran.

Rujukan 1. http://harmoni-my.org/arkib/kisahnabi/index.htm#page=kisahnabiisaas.htm 2. Abdullah bin Abdul Rahman(1420H). Syarah Usul As-sunnah. Riyadh: Darul Masir