P. 1
Pedoman_Pelaksanaan_DJTP_2012

Pedoman_Pelaksanaan_DJTP_2012

|Views: 116|Likes:
Dipublikasikan oleh Ahmad Sakri

More info:

Published by: Ahmad Sakri on May 10, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2013

pdf

text

original

Pedoman Pelaksanaan Program

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan. Dalam konteks ini, arahan pokok dan strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan (breakthrough), bukan langkah-langkah biasa (business as usual). Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah, terfokus, seimbang, dan berkelanjutan. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan dalam suatu sistem. Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dapat dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah, yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. Mengacu pada visi tersebut, tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif, Berkelanjutan dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat.2) Pembangunan dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong pertumbuhan (pro-growth), 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job), 3) menanggulangi kemiskinan (pro-poor), dan 4) mendorong pelestarian lingkungan yang ramah (pro-environment). Ketahanan pangan merupakan salah satu program pembangunan dengan status prioritas nasional. Sasaran yang perlu dicapai pada prioritas nasional dimaksud adalah: a. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan pokok b. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin
1) 2)

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1|Page

Pedoman Pelaksanaan Program
c. d. e. f. g. h. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89,8 Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air dan irigasi Meningkatnya PDB sektor pertanian, perikanan dan kehutanan dengan pertumbuhan 3,2 persen Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 110.

Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut, diperlukan prakarsa-prakarsa baru. Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi: - Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) - Percepatan Pembangunan Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara - Penguatan Penanggulangan Kemiskinan - Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun. Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. Pada tahun anggaran 2012, Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program, yang dilaksanakan oleh 12 unit eselon I, dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu) program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni Program Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Program ini difokuskan pada penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri, baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu). Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. Pembangunan tanaman pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan pendapatan. Untuk itu, faktor peningkatan produktivitas, peningkatan kapasitas usaha, serta optimalisasi efisiensi usaha, nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2|Page

arah dan kebijakan Program Peningkatan Produksi.Pedoman Pelaksanaan Program Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. ketiga komoditi tersebut merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Dengan memperhatikan komitmen tersebut. gembili. yaitu padi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada: 1) Komoditi utama dan unggulan nasional. Direktorat Jenderal Hortikultura. kegiatan dan anggaran dapat didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. jagung. sorgum. jagung. ubi kayu. karena faktor keterbatasan yang ada. garut. Produktivitas. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui APBN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 3|Page . sejak tahun 2011. dan berbagai jenis lainnya. Dalam perkembangannya. dan Direktorat Jenderal Perkebunan. Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. Produktivitas. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012. disusunlah Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Dalam hal ini. dana alokasi khusus (DAK). dan ubi jalar. Namun demikian. dana subsidi. dana tugas pembantuan.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan kedelai. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut. pedoman pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas. kacang tanah. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari komoditas utama dan unggulan nasional. Komoditi ini merupakan komoditi utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional. Oleh karena itu. Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. Saat ini. gandum dan lain-lain. Pedoman pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. 2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas. seperti dana dekonsentrasi. proses penetapan dan tahapan pelaksanaan program. dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan. kacang hijau. kedelai. komoditi yang menjadi skala prioritas difokuskan pada padi.

Pedoman yang disusun terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program. TUGAS PEMBANTUAN.Pedoman Pelaksanaan Program DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN (RPJP – RPJM – RKP) DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS ALOKASI DANA (DANA DEKONSENTRASI. DAK. EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA DAN KEUANGAN DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM.2. dan 3) pedoman teknis. DLL) PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN SOSIAL PEDOMAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI KEUANGAN PEDOMAN PENGENDALIAN. Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan 1. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 4|Page . KEGIATAN DAN ANGGARAN DITJEN TP (RENSTRA – RKT – PK – DIPA/RKA-KL/POK) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN TANAMAN PANGAN PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN MASING-MASING ESELON II PEDOMAN TEKNIS TERUTAMA ATURAN TEKNIS PENGELOLAAN BANTUAN YANG DIALOKASIKAN KEPADA PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA PEMERINTAH Gambar 1. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN (RENSTRA – RKT – PK) PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM. Dasar Hukum Penyusunan Pedoman Pelaksanaan merupakan suatu tuntutan yang wajib harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. 2) pedoman pelaksanaan kegiatan.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. sebagaimana telah diubah beberapa kali. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Program      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. junto Peraturan Presiden               Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 5|Page . Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.

Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010.3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.140/12/2011 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk: a. Produktivitas.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012.Pedoman Pelaksanaan Program Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Penelaahan. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. memberikan acuan dalam melaksanakan Program Peningkatan Produksi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6|Page .02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Produktivitas. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.02/2011 Tentang Pagu Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012.140/12/2011 tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2012.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK. Tujuan             1.

meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program. efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud dan penerima manfaat langsung.4. Produktivitas. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 7|Page . istilah dan pengertian Bab II Menguraikan sasaran. meningkatkan transparansi. Produktivitas. kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan evaluasi serta pelaporan kinerja. kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab VI Penutup Pedoman pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau pedoman teknis kegiatan. tujuan. dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab V Menguraikan pengendalian. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. kegiatan. c. sasaran. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program. dasar hukum. 1. evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program. dan strategi pembangunan tanaman pangan Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan program. Sasaran penyusunan Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi.Pedoman Pelaksanaan Program Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif. kebijakan. kegiatan dan anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah. Sasaran b. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Menguraikan latar belakang. tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia.

yaitu RPJMN I tahun 2005-2009. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. kebijakan umum. visi. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. kewilayahan dan lintas kewilayahan. RPJMN III Tahun 2015-2019. RKP ini merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. melalui urutan pilihan. 5. Istilah dan Pengertian Beberapa istilah dan pengertian pada Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. RPJMN II Tahun 2010-2014. serta program Kementerian/Lembaga. RKP merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN. 2. memuat prioritas pembangunan. yang memuat strategi pembangunan nasional. 6. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut: 1. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. 3. Produktivitas. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional.5. disusun berdasarkan RenjaKL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga). lintas Kementerian/ Lembaga. 4. dan RPJMN IV Tahun 2020-2024. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan). Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari misi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 8|Page .Pedoman Pelaksanaan Program 1. kewilayahan dalam bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.

Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. 16. 15. 14. 8. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). modal. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 9|Page . dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun anggaran. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Program 7. 12. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. 11. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. termasuk peralatan dan teknologi. 13. barang. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur. 10. 9. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan.

menyetorkan. menatausahakan. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 22. 21. dan mempertanggung jawabkan 17. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. tidak termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada Menteri/Pimpinan lembaga terkait. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. 20. menyimpan. maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. Tanpa indikator kinerja. 19.Pedoman Pelaksanaan Program Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. 24. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan. Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. 18. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). tahap pelaksanaan (on-going). 23. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 10 | P a g e . Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. 25. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan.

dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing. atau pasar keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang telah disepakati. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi. termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan kewajiban pembayaran dikemudian hari. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan yang bersama. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali. 32. atau kota. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program. 35. 34. 27. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk devisa. 28. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. barang. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. 31. 26. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. kabupaten. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. 30. 33. menyimpan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 11 | P a g e . menatausahakan. 29. badan/lembaga keuangan internasional. membayarkan.Pedoman Pelaksanaan Program uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. pemerintah negara asing.

Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu program/kegiatan yang sedang berjalan. 43. sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih 37. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya secara berkelanjutan. 40. Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 12 | P a g e . efisien. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup. dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang berjalanmaupun yang telah selesai. dengan ketentuan tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. efektivitas pelaksanaan. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha agribisnis. Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif. 42. dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan. keluaran (output). 38. Pemantauan dilakukan pada seluruh program/kegiatan. sosial dan keagamaan. serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. 41.Pedoman Pelaksanaan Program 36. 39. dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS). Evaluasi dapat diartikan pula merupakan rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan.

penyediaan aksesibilitas. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. seperti gaji. Pembedayaan sosial. belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. 46. perlindungan sosial. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan. (d) untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. dan (e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung. 49. dan kompensasi sosial. 48.Pedoman Pelaksanaan Program selektif. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian. menjual. jaminan sosial. mengekspor. (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial. 47. tunjangan. dan/atau penguatan kelembagaan. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD. 45. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 13 | P a g e . kualitas. 44. (b) bersifat sementara atau berkelanjutan. kelangsungan hidup. atau mengimpor barang dan jasa. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. penanggulangan kemiskinan dan bencana. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya.

dan 6. dan berkelanjutan. Dalam mewujudkan visi tersebut. 6. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. 1. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. 4. 3. 1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan tujuan. STRATEGI. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan. efektif. 7. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi sebagai berikut. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan. Sebagai implementasi visi dan misi tersebut. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 14 | P a g e . dan tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi. menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan. sebagai berikut. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai ketahanan pangan. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien. 2. 5. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan. 5. yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014. 4.Pedoman Pelaksanaan Program BAB II SASARAN. 3. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan. 2.

pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas utama dan komoditas alternatif.000.874. Dalam hal ini.235 24. kacang hijau.00 11.865 4.556. Sasaran Luas Tanam. kedelai. Namun demikian.000 785.000 Luas Panen (Ha) 13. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional.98 190.700 Produktivitas (Ku/Ha) 53. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Luas Tanam (Ha) 14. Sasaran Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014 merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan. Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas Kementerian/Pemerintahan.100.Pedoman Pelaksanaan Program 2. c) mewujudkan peningkatan nilai tambah. kebutuhan pakan. daya saing. b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan.300.900.312.13 51. ubi jalar.000 1. Luas Panen.026.771 4.430 1.315.655.55 15. kebutuhan energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya.250.000 Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 (untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 15 | P a g e .000 825. dan ekspor.500 1.000 342.437 1. serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani.381. kacang tanah.000 390. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan ketahanan pangan nasional. dampak kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara. dan ubi kayu.600 1.000 25.000 2.000.00 Produksi (Ton) 72.026. Tabel 1.1.700 325. jagung.600 207.000 1.00 117. baik kebutuhan pangan.800 196. Selain itu.20 14. penetapan sasaran produksi hanya dilakukan pada komoditi padi. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian Pertanian. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

Direktorat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 16 | P a g e . DAYA SAING. DAN EKSPOR PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Gambar 2. TUJUH GEMA REVITALISASI PERTANIAN LAHAN PERBENIHAN/PERBIBITAN INFRASTRUKTUR DAN SARANA SUMBER DAYA MANUSIA PEMBIAYAAN PERTANIAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR EMPAT SUKSES SWASEMBADA BERKELANJUTAN DAN SWASEMBADA DIVERSIFIKASI PANGAN NILAI TAMBAH. Untuk itu. sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian. subsidi ataupun insentif lainnya. (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani. (6) Revitalisasi Kelembagaan Petani. Namun demikian.Pedoman Pelaksanaan Program 2. pemerintah memberikan stimulan baik berupa bantuan. (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana. peningkatan produksi diharapkan dapat memacu peningkatan pendapatan. orientasi peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. Berkaitan dengan peningkatan produksi. serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. harus disadari bahwa ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non pemerintah. (2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan. Strategi Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut. (4) Revitalisasi Sumber Daya Manusia.2. Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus meningkatkan pendapatan. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. Secara harfiah.

Perluasan areal dan optimasi lahan 3. Gambar 3. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1) peningkatan produktivitas. on-farm. 2) perluasan areal tanam. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 17 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan yaitu: 1. 3) pengamanan produksi. maupun hilir. Hal ini dilakukan sebagai proses penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan 4. dan 4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Peningkatan produktivitas 2. Peningkatan manajemen. Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu.

efektivitas. 9 (sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 2.3. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Pada prinsipnya.3) 3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 18 | P a g e . (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional. Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2010-2014. akuntabilitas. Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan dari RKP tahun 2011. (4) pencapaian swasembada kedelai. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi. (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani. yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya. yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012. serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012 adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi.(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu. (3) pemantapan swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan. Tema ini merupakan landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan. Dari 23 arah kebijakan tersebut. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). alsintan. subsidi pupuk. antara lain: bantuan benih/bibit unggul. (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan nasional. (2) melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). transparansi. dan partisipasi. penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

3) pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor MP3I. 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan Timur (Direktif Presiden). pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung. (2) Bea Masuk Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman pangan semakin ketat. karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara. Pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan harga. Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait.Pedoman Pelaksanaan Program Secara operasional. Produk impor lebih murah dari produk dalam negeri. jagung dan kedelai. sehingga mampu menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang terjamin. Dalam hal ini. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain: (1) Harga Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 19 | P a g e . baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun tingkat pusat. khususnya komoditas strategis seperti padi. Karena itu. serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan. Hal ini dapat menghancurkan pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri.

Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih) yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta lingkungan. pemerintah Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor. Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan taraf hidup petani. hasil bahan asal hewan. Untuk mengatasi penyelundupan produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas. Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu dapat dicegah melalui pengawasan karantina. alih fungsi. penyakit dan organisme pengganggu. karantina merupakan suatu instrumen yang penting untuk memperlancar arus perdagangan. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu yang panjang. (3) Karantina Tumbuhan Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa aneka ragam jenis tumbuhan. dan fragmentasi lahan pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 20 | P a g e . berakibat terjadinya degradasi. hewan. Oleh karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan. (4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri. perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. ikan dan/atau benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri. asal bahan hewan. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu. ikan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya dari berbagai hama. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan. hewan. maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. baik ekspor maupun impor. Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka kebijakan World Trade Organization (WTO). hama dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya. Pada era perdagangan bebas ini.

e) meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 21 | P a g e . h) mempertahankan keseimbangan ekologis. perseorangan. g) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak. b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. ketahanan. dan kedaulatan pangan. c) mewujudkan kemandirian.Pedoman Pelaksanaan Program pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. Upaya pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh milyar rupiah. Sanksi bagi orang. dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. f) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani. d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani.

serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan. Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil (outcome) dan keluaran (output). 2) komponen prioritas pemberdayaan. 4) jenis belanja. 7) pengukuran indikator kinerja outcome maupun output. BUTIR-BUTIR PENJELASAN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR KINERJA OUTCOME DAN OUTPUT KOMPONEN PRIORITAS PEMBERDAYAAN LOKASI ANGGARAN DAN JENIS DANA JENIS BELANJA POLA PENGELOLAAN BANSOS MEKANISME PENGADAAN BARANG/JASA PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA PENILAIAN RESIKO ATAS KEBERHASILAN PROGRAM/KEGIATAN Gambar 4. Penjelasan program dan kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang direncanakan. 6) mekanisme pengadaan barang/jasa. 3) lokasi anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan). Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 22 | P a g e . 5) pola pengelolaan bansos.Pedoman Pelaksanaan Program BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 Pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal.

2. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 7. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). 6.1 Program Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan. 3. 4. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia. Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi. 5. Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 8. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 23 | P a g e . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu Program Peningkatan Produksi. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT): Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan. maka perlu didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu: 1.

4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana yang timbul. Produktivitas. dan BPTPH). penangkar benih. Kode 018. pelaku usaha pascapanen.03. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 24 | P a g e . dan lembaga yang mengakar di masyarakat. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2012. BPSBTPH. 3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI. komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah: 1) mengoptimalkan bantuan kepada petani.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 2.06 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Program dan Kegiatan Program Peningkatan Produksi. 2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan.

Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan - 4. 7. 8 Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan - Pemberian Modal Usaha Kepada LM3 Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam Mengatasi Bencana Alam Pemberian Insentif Mantritani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 25 | P a g e . 5.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 3. 1. Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia - 2. Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Komponen Prioritas Pemberdayaan/Penguatan SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL SLPTT Model Spesifik Lokasi SLPTT Model Peningkatan IP Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam (Jagung) Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Pemberian BLBU Penguatan UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Penguatan Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Penguatan UPB Bantuan Sarana Pasca Panen Survei Susut Hasil Padi Penguatan P3OPT Gerakan Pengendalian OPT/bantuan pestisida Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu (LPHP) Pemberdayaan THL POPT-PHP Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih No. Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan TP Dari Gangguan OPT & DPI 6. Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi 3.

347. 1.-. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan.00 17.00 130.00 16. dan BPTPH).230 9.899. Luas Panen. 3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp.690 268.51 13.000 475.000 300.781. Ketiga sekolah lapangan ini akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain.000 1.536.245.680 139.455.000.000 285.000 542.416.000.00 250.000 200. Sekolah lapangan ini difokuskan pada komoditas padi.Alokasi dana dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI. 2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp.880 Komoditas Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari: 1) Dana pusat sebesar Rp.Alokasi dana tugas pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani tanaman pangan. jagung dan kedelai.000 150. sasaran luas tanam SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012 terlihat pada tabel 4 dibawah ini.000 350.500 19.560 10.498.50 65. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 26 | P a g e .010 25.195.500 142.00 77. Tabel 4.000 2.350 Luas Panen (Ha) 2.000 190.00 37. Alokasi dana pusat dikelola unit kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan).000 332.000 6.000. Sasaran Luas Tanam.700.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark) pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). BPSBTPH.. Untuk komoditas lain dilakukan melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area).000 20.00 Produksi (Ton) 16. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).565.830 Produktivitas (Ku/Ha) 64.104. 512.000 500. 1.. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012 Luas Tanam (Ha) 2.000 6.235.260 164.250 1.

800 10.478.420 27.600 9.000 3.000 474.412.000 1.536 7.000 2.410.000 4.000 2.403.561.801. 16.000 1.814.310 46.878. 27.300 11.000 100.587. LOKASI DINAS A.516.000 4.221.000 250.797. 12.000 299.000 2.000 500.178.000 1.800 1.600.916.061.900 15.000 5. 4.000 1. 10.000 3.731.969.000 2.489. B 1. 21.278.907.480 BBI BPSBTPH BPTPH SUB TOTAL (DANA TUGAS PEMBANTUAN) TOTAL UNIT KERJA KAB/KOTA 1.000 2.500 3.000 7.850 23.400 15. 31.487.000 300.400 14.483.439.200 1.900 9.320.000 400.991 Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012.676.618.820 28.000 27.000 1.400 13.500 4.260.566.000 1.500 7.000 339.147.180 122.731.492.400 6. 3. belanja modal.000 700.100 4.114.562.500 11.377.870.000 698.263.591.300 8. 15.750.000 821.017.020 207. PUSAT DITJEN TP-PUSAT BBPPMBTPH BBPOPT BPMPT PROVINSI & KAB/KOTA ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 267.000 2.500 550.000 1.000 350.330 28.609.957.500 16.985.084.500 512.628.160 47.000 4.000 1.039.850.783. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.300 803.700 9.934.491.820 47.800 11. dan belanja bantuan sosial.000 600. 32.000 2.799.000 2.176.041.478. kemudian diikuti Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 27 | P a g e .740 34.051. 24. 3.000 2.494.142.300.447.000 6.500 18.288.543.500 18.350 12.089.000 4.846.220 50.000 100.500 3.400. 1.926.480 385.000 500.400 2.100 11.320 46.700 4.218. 2.000 3. 26.180.000 803.498.659.000 2.156.000 1.000 4.000 3.400 34.188.800.459.600 1.802.771.000 3. 30.000 3.817.500 8.600 5. Bila dilakukan perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78.300.900 9.000 6.125.500 11.500 14.462.084.893.000 385.500 8.242.350 92.372.581.000 4.395.010. 29. 13.465.500 4.000 400.392.404.710 32.120 246.520 69.000 1.473.600 5.549.000 600.817.000 2.114.600.582.414.000 2.056.500 910.113.000 750.670.642.090.007. 5.625 49.020 15.804.000 1.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 5.500 3.455 54.245.640 53.895.480 92.100 13.900 14.620 1.558.500 1.100 18.633.693. 22.000 3.000 250.365.899.533.300 3.278.000 1.445.21%. 8.600 13.000 3.000 721.038.187.000 2.150.330.700 22.500 7.841.678.500 11. alokasi anggaran untuk belanja pegawai.100 12.176.621.500 2.400 21.297.448.449.000 803.500 5.700 9.926.160 21.200 31.830 16.500 12.480.100 21.500 3. 11.130 24.000 1. 17.805.000 230.405. 6.436.067.600 10.000 600.201.000 350.374.825. 20.900 6.140 14.152.249.300 20.560 34.713. 000) UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI) NO.900 37.398.100 28.000 9.900 18.100 200.820.725 34.000 2.000 1.544.400.023.592. 33.100 67.104.060 28.420 67.900 23.567.600 16.800 21.353. 2012 ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp.587.314.246.000 2.400 11.260.843. 9. 2.100 36.588.750.000 1.498.976.250.598.085.093. 18.600 16.000 4.880 13.546.303.000 4.910 66.455 82.500 6.750 76.940 5.860 10.428.000 5.746.800 4.626.184.536 1.000 1.200 14.600 13.100 38.840. 4.067.208.450.260 4.007.115.700 1.155.709. 7.600 44.362.238.676.114.001.055.644.374.030.019.131.000 61.250.304.580 348.700 432.030.161.940 12.110 4.847.200 16.100 6.000 2.300 28.000 5.049.000 8.600 19.992.180 3.604.759.000 3.715.000 2.168.500 1.000 250. 25.016.901.738.642. 19.630 16.000 12.100 18.800 47.000 1.800 5.582. 23.618.186.610.700 30.000 2.420 163.810 1.185.987.000 152.327.400 7. 28.210 21.990.552.000 1.138. 14.000 500.500.465.600 1.347.740 23.680 24. belanja barang.

900 0 7.468 3.Pedoman Pelaksanaan Program belanja barang 18.500 847.002. Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.668.000 154.536.411. belanja yang merupakan fasilitasi langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial.000 1763 0 151.749.000 231.516.871.115.000 1764 0 178. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Kode Program dan Kegiatan Belanja Pegawai Jenis Belanja (Rp.03.436.834. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan 53.88%.491.000 90.775 2.435.735 0 0 172.194.961 1767 3.292.991 1761 0 20.000 0 0 0 0 0 0 Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Rupiah Murni Pendamping PNBP Pinjaman Dalam Negeri Badan Layanan Umum Stimulus Hibah Dalam Negeri Hibah Luar Negeri Hibah Langsung Dalam Negeri Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012 Dari keempat jenis belanja diatas.000 248.342.129.800.187.441.300.000 1765 0 22. Berkaitan dengan belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 28 | P a g e .092 109.568 506.085 6.699.894.520 175.534.219 19.919 588.353.991 0 0 297.000 1768 4.507.246 588.418.200.000 1766 46.950 1.150 430.235. Produktivitas. Tabel 6.628.460 36.067.869 0 0 124.350 944.834.000 67.251.18%.436.115.453.829 36.813. belanja pegawai 1.315 1.919 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5. 000) 018.962.998 1.468 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9.73% dan belanja modal 1.000.040 0 0 0 0 0 0 0 2.600 186. 000) Belanja Belanja Barang Modal Belanja Bantuan Sosial Total (Rp.062.496.289.016.000 3.06 Program Peningkatan Produksi.532 3.800.650 73.285 53.960 0 0 0 0 0 0 156.164.510 889.030 1762 0 96.052 9.

Namun demikian. Secara umum.4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. Ubinan SLPTT Padi 2. Dalam administrasi.Pedoman Pelaksanaan Program belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan penanganan bencana. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial. persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan unit kerja pengelola langsung. Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada tabel 7. Namun demikian. sebagai berikut: 1. evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT.919 unit 3. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. maka penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang diberikan. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 3.500 unit 371 Kab/Kota 242 Kab/Kota 175 Kab/Kota 4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. Ubinan SLPTT Kedelai 14. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan tersebut). pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan indikator output. hal ini disebut dengan lex specialist. pengukuran indikator kinerja output dilakukan dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi anggaran yang ditetapkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 29 | P a g e . Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer uang dan/atau transfer barang.136 unit 1. Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 termasuk perubahannya. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Metodologi pengukuran kinerja SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat).

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 7. 6. 2. 4. Jenis Output SLPTT Padi SLPTT Jagung Optimalisasi Pengembangan Areal Jagung Hibrida SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Ubi Jalar/Kacang Tanah BLBU PJK Wilayah Jawa Kayu/Ubi V V V V V* V V V V V V V Pusat Provinsi Kab/Kota Pemberdayaan Sosial Komponen Belanja Bantuan Sosial Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Penanganan Kemiskinan Pola Pelaksanaan Transfer Uang Transfer Barang V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V* V V V V V V BLBU PJK Wilayah Luar Jawa Pemberdayaan Penangkar PJK Bantuan Pasca Panen Sarana Pengendali OPT (BPTPH) Bantuan Bencana Alam Bantuan Modal untuk LM3 Keterangan: * : sedang dalam proses penegasan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 30 | P a g e . 13. 12. 8. 1. 10. 3. 9. 11. Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Lokasi DIPA No. 5. 7.

Produktivitas. penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah: 1) penetapan model stimulan pembangunan. 2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki. monitoring dan evaluasi. 6) ketepatan pembentukan tim pembina. evaluasi. 4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 8) kekonsistenan dalam mengendalikan. 5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan kesatkeran. Penilaian risiko atas keberhasilan Program Peningkatan Produksi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi a) penilaian risiko pada saat perencanaan.2. pengawalan. Penilaian Risiko atas Keberhasilan Program Secara umum. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 31 | P a g e . penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program. b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan rencana. 3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran). Secara umum. dan pelaporan. Titik risiko ini akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. 7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan. dan melaporkan pelaksanaan. serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian. mengevaluasi. Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama.

Kegiatan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis kegiatan. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 32 | P a g e . Pengendalian. dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut: 3. kinerja Program Peningkatan Produksi. Pada tahun anggaran 2012. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Aspek Penyusunan Rencana II. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan berkelanjutan.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 8. Evaluasi dan Pelaporan Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketepatan pembentukan tim pembina. No. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Serealia. monitoring dan evaluasi Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam pengendalian Kekonsistenan dalam mengevaluasi Kekonsistenan dalamn melaporkan 3.3. pengawalan.1.3. Pelaksanaan Rencana Titik Risiko Penetapan model stimulan pembangunan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran - III.

dan alsintan).850. Biaya untuk SLPTT ini belum termasuk bantuan benih. dan jagung (hibrida). 25 ha areal SLPTT padi lahan kering. SLPTT Padi Sawah Non Hibrida Sawah Hibrida Lahan Kering Jagung 2. Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung.700. 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. 64. Penerapan pola ini diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan. kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan diberikan bantuan full paket. SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida spesifik lokasi.000. sekaligus sebagai tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan.-/Ha. Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. 1. 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi. dan alsintan). Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 33 | P a g e . Masing-masing ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. 10 ha areal SLPTT padi hibrida. pupuk. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini. maka disusun standar biaya untuk masing-masing SLPTT. pembinaan manajemen kelompok.-/Ha.000. serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler sebesar Rp. hibrida dan lahan kering). 3.000. pupuk. 3) SLPTT Indeks Pertanaman dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana bantuan yang diberikan hanya berupa benih. dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP. Luasan/1 Unit SLPTT (Ha) 25 10 25 15 No. dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp.600.-/Ha. 44. yang berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani. Penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi daerah sekitarnya.Pedoman Pelaksanaan Program (non hibrida.

biaya pertemuan kelompok tani.300 500 25.1 unit SLPTT Model sama dengan 25 Ha C.000 160.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 9.000 kg 1 unit 1 paket 1. 2012 SL-PTT A.000 690.Papan nama Satuan/Ha 100 kg 300 kg 1.000 - 10 kali 10 kali 1 buah 170.600. SLPTT Model Padi Hibrida .300 500 170.000 160.600 2.000 Jumlah (Rp/unit SL) 3.000.Jenis komoditas: Padi Non Hibrida.000 500. Padi Lahan Kering.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 25.000 150.000 1.000 150.700.000 - - Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.000 500.000 500.000 Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi. SLPTT Model Padi Non Hibrida .000. .750.000.000 25.000 Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.000 150.700.750.000 3. insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.000 kg 10 kali 10 kali 1 buah Harga Satuan (Rp) 1. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA.700. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 34 | P a g e .000 3.000 500.000 44.000 150.Sisa lahan dalam 1 LL hanya diberikan bantuan benih B.000 1. Jagung Hibrida.000 690.000 3.000 500.000 500.000 kg 1 unit 1 paket 1.000 50.700. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak . Padi Hibrida.000 150.600 2.000. SLPTT Reguler .000 50.850.300 500 25.750.000 64.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.750. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .000 3.Terdapat 1 LL dalam 1 unit SLPTT (1 LL = 1 Ha) yang diberikan bantuan full paket (benih dan pupuk) .Model Spesifik Lokasi .000 50.600 2.000 150.000 10 kali 10 kali 1 buah 170.Model terdiri dari SLPTT Spesifik Lokasi dan SLPTT Peningkatan IP .000 690.000 160.000 1.1 unit SLPTT Model sama dengan 10 Ha Jenis Fasilitas Urea NPK Pupuk Organik Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping .

Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Kegiatan SLPTT a. 26 Provinsi. seperti pengolahan tanah.000 ha. 25 Provinsi.550 Ha 14.651. Selain itu. pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan. Pangan Alternatif 3. monitoring dan evaluasi serealia. 10 Provinsi Pusat. padi hibrida seluas 290. 30 Provinsi. Padi Non Hibrida Peningkatan IP d. padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33. Monitoring. No. Pengawalan. Padi Lahan Kering g. padi non hibrida peningkatan IP seluas 14.550 ha. pengaturan tanam.000 ha. Padi Non Hibrida b.750 Ha 290. 22 Provinsi. pemilihan benih.700 Ha 9. 362Kab/Kota 60 Kab/Kota 30 Kab/Kota 199 Kab/Kota 148 Kab/Kota 260Kab/Kota 242 Kab/Kota Sasaran Lokasi 371 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.750 ha.300 Ha 500. pengawalan.700 ha.700 ha. Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan 2.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non hibrida seluas 2. padi hibrida spesifik lokasi 9. pemupukan.000 Ha 200. lahan kering seluas 500. pengendalian OPT hingga panen. pengairan.000 Ha 10 Paket 403 Satker 31 Provinsi. Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi c. Padi Hibrida e. 13 Provinsi. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia.651. dan Evaluasi Serealia 2. Tabel 10. Padi Hibrida Spesifik Lokasi f. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah: (1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT.300 ha. Pembinaan. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 35 | P a g e . 31 Provinsi.700 Ha 33. 17 Provinsi. 1. dan jagung hibrida seluas 200. (2) ketepatan alokasi anggaran.

Tabel 11. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 36 | P a g e . Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 No. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. (b) tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan. pengawalan. maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai model. monitoring dan evaluasi. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia. Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL).2. (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan.3. Uraian SLPTT Padi SLPTT Jagung Titik Risiko Ketepatan dalam menetapkan CPCL Ketepatan pemanfaatan anggaran Ketepatan pengolahan tanah Ketepatan dalam pemilihan teknologi Ketepatan pemberian sosial Faktor alam (tingkat intensitas cuaca) Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan 3. 2. 1. Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai. penyediaan dan penyaluran bantuan. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. mengevaluasi.Pedoman Pelaksanaan Program anggaran.

000 500.930. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian.000 250.500 Volume Harga/Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 3.000 500.000 200.000 80.000 250.000 250.390.000 500. Urea dan Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan benih VUB.300 1.000 500.600 2.000 500.000 150. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai No.000 1. POPT. Peneliti.000 160. A.Pedoman Pelaksanaan Program Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. Tabel 12.000 500 250.000 1. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1 Ha. Selain itu pada areal SL-PTT dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling ubinan.000 160.000 Kg Pestisida 2 Ltr Herbisida 5 Ltr Pendampingan Penyuluh 1 Paket Benih 40 Kg 1.300 1.000 250.000 250.000 1.000 13.000 3. B.000 500. Uraian SLPTT Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket Pupuk Organik 500 Kg Pestisida/Herbisida 2 Ltr Papan nama 1 Paket Pendampingan Penyuluh 1 Paket Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp Pengembangan Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket (RYZOBIUM) Pupuk Organik 1.000 500 250.000 150.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 37 | P a g e . PBT dan Mantri Tani.000 400.000 500.280.390.000 230. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK.000 540.000 230.000 200.600 2.

094 Ha. 9 Kab/Kota 24 Provinsi Pusat. Kegiatan SL-PTT Kedelai Pengembangan Kedelai (Model) Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Koordinasi Non Kedelai Pembinaan. pengembangan kedelai model seluas 2. 2. pemupukan. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. mengevaluasi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 38 | P a g e . Monitoring. pengaturan tanam. dan Evaluasi Ubinan SL-PTT Kedelai Sasaran 350. 4 Kab/Kota 2 Provinsi. 175 Kab/Kota 11 Provinsi.000 Ha. 1.500 Ha Lokasi 28 Provinsi. 4. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut.500 Ha. Pengawalan. dan pengembangan ubi jalar seluas 850 ha. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 No. pengembangan kacang tanah seluas 100 ha. 5. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. 6.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas 350. pengairan. pemilihan benih. seperti pengolahan tanah. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3. Tabel 13. 28 Provinsi. 2 Kab/Kota 1 Provinsi. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. penyediaan dan penyaluran bantuan. pengendalian OPT hingga panen. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. 8. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran. (2) ketepatan pengalokasian anggaran dengan realiasi tanam. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. 29 Kab/Kota 1 Provinsi.000 Ha 2. 180 Kab/Kota 175 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. pengembangan ubi kayu seluas 300 ha. monitoring dan evaluasi. 28 Provinsi. 3. pengawalan. 7.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Paket 209 Satker 3.

dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. Pengembangan Kedelai - III Pengembangan Kacang Tanah - IV Pengembangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 39 | P a g e . I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Uraian SL-PTT Kedelai Titik Risiko Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan. dan petunjuk teknis Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL) Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan Ketepatan waktu ketersediaan benih Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. No.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 14. pedoman teknis. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar II. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. pedoman teknis. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis.

bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida. dan monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih. ubikayu. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan.3. dan Cadangan Benih Nasional (CBN). Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut: a. jagung. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani. pembinaan. Selain itu. serta penggunaan sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH).3. padi hibrida. padi lahan kering. dan ubijalar). pemberdayaan penangkar. Kedelai 67. ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden). (2) tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non SL-PTT. pengawalan. serta (4) pengawalan dan monitoring BLBU. serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT). pembinaan.00 persen.50 ribu ton benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 | P a g e . Selain itu. pengawalan. c.Pedoman Pelaksanaan Program 3. dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang tanah.31 persen. operasional Balai Benih Induk (BBI). Pada TA 2012. Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat. jagung hibrida.90 persen. subsidi. b. monitoring evaluasi BLBU. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1) pelaksanaan penyaluran BLBU padi. mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu. pembangunan dan optimalisasi UPB. dan kedelai sebanyak 101. provinsi maupun kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu komoditas tanaman pangan. dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan SLPTT dan non SLPTT. Jagung 72. Padi 67. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah. kacang hijau.pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas.

dan CBN di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota. monitoring evaluasi BLBU. Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini. meringankan beban petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi kelompok tani/petani. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 | P a g e . (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi. dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). kekeringan. (7) pembinaan. dan penangkar kedelai seluas 2. serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi.05 juta Ha. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana alam (banjir. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. penangkar jagung seluas 700 ha. Subsidi harga benih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas. jagung.(3) pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi. monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230 kabupaten/kota. sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi. (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan. subsidi.(4) pelaksanaan pemberdayaan penangkar padi seluas 10. Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT.Pedoman Pelaksanaan Program untuk luas tanam 4. Komoditas yang difasilitasi adalah padi. dan kedelai.000 Ha. Selain bantuan langsung benih unggul. meringankan beban petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu.500 ha. pemerintah terus mengupayakan pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. pengawalan. Rencana alokasi BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). (8) pembinaan.

2012 Kegiatan BLBU 2. 373 Kab/Kota 7.Padi . 11. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu. 165 Kab/Kota 5 Provinsi. Monev Pembangunan Penangkaran Benih Pembinaan. CBN Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 230Kab/Kota Pusat.000 ha 32 Balai 817 Orang 32 Balai 31 Balai 200 Unit 10.500 Ha 4 Unit 8 Unit 1 Paket 257 Paket 257 Paket Sasaran Lokasi Pusat Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar: .000 ha 4.000 ton 200. 2012 Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai aturan dan petunjuk yang ditetapkan. 32 Provinsi. Monev BLBU. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 | P a g e .000 ha 14. 14 Kab/Kota 13 Provinsi.000 Ha 14 Unit 700 Ha 100 Unit 2. 8.500 ton 500. Pengawalan. 5. 1. 9. Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Hibrida Kedelai 67. 100 Kab/Kota 4 Provinsi 8 Provinsi Pusat 27 Provinsi. jumlah atau kualitas yang tidak sesuai speck. 10.500 ton 2.500 ton 300. Pembangunan UPB Operasional UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.000 ha 3. agar kegiatan yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. 4. 6. No. 3. Oleh karena itu.000 ton 350.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 15.Kedelai 32 Provinsi 31 Provinsi 32 Provinsi 31 Provinsi 23 Provinsi.Jagung .000 ha 12. Subsidi.700.

mengevaluasi. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Ketepatan pembayaran insentif Ketepatan waktu perbanyakan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan waktu dalam pembinaan. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Uraian Titik Risiko BLBU mendukung SL-PTT padi. maka yang paling tinggi faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. pengawalan Pembangunan Unit Prosesing Benih (UPB) Optimalisasi Balai Benih Palawija - VIII. Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan - III. pendampingan dan pengawalan Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB II. VII. Pembinaan. Tabel 16.Pedoman Pelaksanaan Program Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan. No. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 | P a g e . IV. jagung dan kedelai Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam mengendalikan. Insentif Pengawas Benih Tanaman Pangan Perbanyakan Benih Sumber Pemberdayaan Penangkar - VI. pendampingan. Bantuan Langsung Benih Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. V. BLBU juga sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan.

Padi . Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling terkait.Vertical Dryer .3. 1. 204 Kab/kota Pusat. Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 236 Satker 220 Satker 13 Satker 13 Satker 11 Satker 11 Satker 20 Satker 4 Satker 9 satker 1 Satker Lokasi Pusat. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Pascapanen. No. Tabel 17. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 | P a g e . (6) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan sosial: . 2012 Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan. (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan. mengevaluasi. serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan.Kedelai . 4. penyediaan dan penyaluran bantuan.4.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 3. 16 Provinsi. Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu. (4) ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen. 31 Provinsi.Ubi jalar Dukungan manajemen lainnya Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. 12 Provinsi 183 Kab/kota 11 kab/Kota 11 Kab/Kota 20 Kab/Kota 4 Kab/Kota 9 Kab/kota Pusat 5.Jagung . (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi. 2. dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman pangan.Ubi kayu . Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. (5) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis. 204 Kab/Kota Pusat.

penyediaan dan penyaluran bantuan Kekonsistenan dalam mengendalikan. - - - Titik Risiko Ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi Ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis Ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 No. mengevaluasi.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 18. 4. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 45 | P a g e . - 3. 1. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan social penanganan pascapanen tanaman pangan Dukungan manajemen lainnya - 2. 5.

(3) menguatnya peran dan fungsi kelembagaan perlindungan. Pengendalian OPT/DPI (P3OPT/DPI) Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian OPT/adaptasi DPI Surveilans OPT Pemberdayaan PPAH Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT): . bimbingan teknis.168 Orang 2. 10. monitoring dan evaluasi Pengujian pestisida. 3.908 Orang 1 Paket 1 Paket Lokasi BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH LPHP BPTPH/ LPHP LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH BPTPH BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP Ditlin/ Pusat BPMPT/ Pusat 9.Sarana pengendalian OPT .Operasional BPT .Pelatihan regu pengendali hama (RPH) Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) Koordinasi. dan residu pestisida Sasaran 1. 12. Peramalan. (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI. 1. 4.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Tabel 19. (6) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 46 | P a g e . 8. (2) meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. 7. 2. 5.Renovasi/Bangun gudang pestisida .5. Tanaman Pangan TA. Indikator kinerja kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT. (2) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI. dan (3) 95 % luas areal tanaman pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan DPI. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Komponen Kegiatan SLPHT kelompok SLPHT tindak lanjut SLI Pengamatan. pupuk. 11. (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan adaptasi DPI. 6.3. No.635 Unit 315 Unit 130 Unit 32 Unit 95 Unit 2 Paket 620 Kel. 57 unit 2 paket 86 unit 221 kelas 1. Sumber. 2012 Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini. RK-KL Ditjen. Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan.

Database perlindungan tanaman pangan SLPHT & SLI 5. dan (7) menguatnya database perlindungan tanaman pangan dan SIM OPT. Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 No. terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. sehingga berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Tabel 20. 3. 2. Uraian Perencanaan kegiatan Bantuan sarana pengendalian OPT - Titik Risiko Ketersediaan SDM Koordinasi unit kerja Ketepatan waktu Identifikasi CPCL Pelaksanaan pendampingan penggunaan bantuan Pengaruh faktor iklim dan OPT Dukungan sarana pengolah data Sumberdaya manusia Pemberdayaan alumni Pemasyarakatan teknologi PHT Keseimbangan ekosistem Ketepatan dukungan administrasi dan teknis Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. Jenis risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas. 1. Evaluasi dan pelaporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 47 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program tersedianya sarana pengendalian OPT. 4.

Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di pusat selama satu tahun. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. peramalan dan pengendalian OPT. (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi. Indikator kinerja dari kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang dikembangkan. peramalan. Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan. dan pengendalian OPT. produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan. dan (3) jumlah provinsi yang menerapkan teknologi pengamatan. divalidasi dan disyahkan. 3. keuangan. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 48 | P a g e . (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem mutu. Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Cimanggis. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI. (2) jumlah teknologi pengamatan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar Peramalan OPT.8.6. dan (2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT.3. umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi.3.3. Keluaran kegiatan ini adalah terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor selama satu tahun.7. 3. Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1) operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT).

Statistik (termasuk honor petugas SIMONEV) Dukungan Manajemen Lainnya LM3. 8. 6. 374 Kab/Kota Pusat. 2012 Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi dampak bencana alam.161 Orang 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja Lokasi Pusat. 9. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 3. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 33 Provinsi. Bencana Alam. Tabel 21. 5. 374 Kab/Kota Pusat Pusat Pusat No. Kegiatan dan Anggaran Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN) Pengelolaan Bidang Umum Evaluasi. 374 Kab/Kota Pusat. dan Kekeringan Gaji dan Operasional Kantor 7. 374 Kab/Kota Pusat Pusat. 33 Provinsi. 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2. 33 Provinsi. 4. 1. 33 Provinsi Pusat. Keluaran kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut. Kegiatan Insentif Mantri Tani Honor Pengelola Satuan Kerja dan Adminitasi Perencanaan Program. Monitoring Evaluasi. 33 Provinsi. Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 3. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 49 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program penyaluran bantuan modal untuk LM3.

Proses tender . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 50 | P a g e .Identifikasi Calon Lokasi . Bantuan Bencana Alam dan Kekeringan 3.Faktor alam .Kelayakan Proposal .Pengaruh intervensi pihak luar . LM3 Uraian Titik Risiko . Dokumen Manajemen dan Teknis Lainnya .Kelengkapan administrasi pencairan dana bantuan LM3 .Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) .Ketepatan dukungan administrasi dan teknis . 1.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 22.Pengawalan penggunaan dana penerima bantuan LM3 2.Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 51 | P a g e . BPSBTPH dan BPTPH).1. Tata Hubungan Kerja Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja. Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki. perlu dipahami bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. pengendalian dan pelaporan. pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola. khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN.Pedoman Pelaksanaan Program BAB IV TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 4. diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi melalui APBD yang dimiliki. Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing daerah. dilakukan melalui hubungan koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD (BBI. sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai bersama. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks. Untuk itu. koordinasi dan teknis fungsional. dengan penjelasan sebagai berikut: Hubungan Hierarki Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. dipertanggung jawabkan dan dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut. sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan. Dengan koordinasi ini. Hubungan Koordinasi Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan. Hubungan hierarki tersebut terwujud dalam sistem perencanaan.

Besarnya jumlah anggaran ditentukan melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR. Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. 4. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Sedangkan anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. terutama untuk keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. dan berdaya saing. Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. khususnya perselisihan antar daerah. teknis perbenihan/perbibitan. Wujud dari hubungan teknis fungsional tersebut. dan teknis pelatihan bagi aparat pertanian dan pelaku usahatani. teknis perlindungan tanaman. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan. efisien. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. panen dan pasca panen.2. teknis usahatani. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan. Hubungan Teknis Fungsional Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 52 | P a g e . dan juga dalam aspek penyelesaian masalah (arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan. dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis penyiapan sarana produksi.Pedoman Pelaksanaan Program Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah. Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. Pengorganisasian Pelaksanaan program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah administrasi pemerintahan. Dengan demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi secara efektif. sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa. kegiatan dan anggaran di daerah. Untuk pelaksanaan program.

3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan lainnya yang terkait dengan unit kerjanya. kegiatan dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dikelompokkan sebagai berikut : a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan dan anggaran. 2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. Tingkat Provinsi 1) Gubernur sebagai penanggung jawab program. pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). b) Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut : a. Tingkat Pusat 1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab Program Pembangunan Pertanian. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program. b. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 53 | P a g e . kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. dan Kabid/Pejabat eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Program Pelaksanaan program. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Kepala Balai Besar selaku Kepala Satuan Kerja dan KPA. 5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH. 4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program.

1) 3 saker di Pusat. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). c. dengan rincian sebagai berikut. masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh 442 satuan kerja. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). 4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. 4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi. dan 3) 374 satker di kabupaten/kota. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. 3) Untuk kelancaran operasional program. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari.Pedoman Pelaksanaan Program Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan. serta bertanggung jawab terhadap seluruh keberhasilan aktivitas program. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2) 65 satker di provinsi. Bupati/Walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. Tingkat Kabupaten/Kota 1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program. 3) Untuk kelancaran operasional program. masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). kegiatan dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. Pada TA 2012. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 54 | P a g e . Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan program. Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan.

Dinas Provinsi . Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 No.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 23.500 31. 1 2 3 4 II.991 2 BPTPH III.007. 3.000 267.347.104.000 7.498. 2.498. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No. 2012 374 442 Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat pada tabel dibawah ini. 000.353. 2.-) 1. Kabupaten/Kota 1 Dinas Kabupaten/Kota TOTAL Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 55 | P a g e .400. Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota TOTAL Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.BPSBTPH *) Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 374 374 442 Alokasi Anggaran (Rp.536 1.300. I.899. III.846. I. II.245.500.BBI *) .245.455 1.000 152. Lokasi Pusat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Provinsi Dinas Pertanian di Provinsi Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kabupaten/Kota Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 1.491.455 3.084.746.000 1. 1.000 512.536 3.500 61.000 9. 1.093. 1 Unit Kerja Pusat Ditjen Tanaman Pangan BPMPT BBPPMBTPH BBPOPT Provinsi Dinas Provinsi .115. Tabel 24.

10) Evaluasi. 5) Pembinaan. monitoring. dan kedelai. SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan umbi. diantaranya: 1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi. 9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). 6) Penyaluran insentif Mantri Tani. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. tunjangan. Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah: 1) Peningkatan kualitas pelayanan publik. statistik dan pemberian honor petugas Simonev. monitoring dan evaluasi BLBU. penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta. 2012 Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing satuan kerja di tingkat Pusat. 2. kegiatan dan anggaran. honorarium. 3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi. 7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi. dan dukungan manajemen lainnya. pascapanen. dan hibrida spesifik lokasi). dan perlindungan tanaman pangan). 8) Perencanaan program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 56 | P a g e . jagung. pembinaan. 2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif. Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. 12) Pengelolaan gaji.: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi) Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari.pengawalan. 4) Penyusunan deregulasi perbenihan. 13) Pelaksanaan dukungan manajemen dari kegiatan teknis. penanganan bencana alam.Pedoman Pelaksanaan Program Ket. subsidi dan CBN. dan kekeringan. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi memayungi kegiatan-kegiatan. bidang umum. pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT budidaya tanaman serealia. non hibrida peningkatan IP. 11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). perbenihan. 2) Koordinasi.

P3OPT (BPTPH). Kegiatan pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih. statistik. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. honor pengelola Satker dan Administrasi. Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT). monitoring evaluasi. Pembangunan dan optimalisasi UPB. apresiasi dan monitoring evaluasi pascapanen. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 57 | P a g e . Pemberian insentif Mantri Tani. Balai Benih. Pemberdayaan PPAH. aneka kacang dan umbi. kegiatan dan anggaran. bimbingan teknologi. Renovasi gudang Brigade. subsidi dan CBN). Penyaluran sarana pengendalian OPT. penguatan kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan. dan pelaporan (termasuk honor petugas Simonev). 4. 3. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. Pelaksanaan survei susut padi. SLHT dan SLI. pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia. pengelolaan data OPT. Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan. Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH. BLBU. Dinas Pertanian Provinsi. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH. Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP). Operasional POPT PHP. Perencanaan program.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Pembinaan. dan Evaluasi. THL POPT-PHP . Kegiatan pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui pengamatan. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. 5. peramalan OPT dan dampak perubahan iklim. Pembinaan. penangkaran benih.

yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan memaksimumkan keluaran (output).Pedoman Pelaksanaan Program 1) 2) Pelaksanaan kegiatan SLPTT padi non hibrida. Ubinan SL-PTT kedelai. penangkaran benih. padi hibrida. CBN. Honor pengelola Satker dan administrasi. lokasi dan jenis belanja. 4. ubi jalar. jagung. ubi kayu. dan Dukungan manajemen dan teknisnya. fungsi. kegiatan dan anggaran. Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kinerja. Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 58 | P a g e . subsidi. kedelai. BBI. jagung hibrida. BPSBTPH dan BPTPH) maupun di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan ubi jalar. Pembinaan. BLBU. jagung. kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). pascapanen). 2) Anggaran. Evaluasi. dan kedelai. Anggaran berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program. Dalam pelaksanaannya. dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan. dan pelaporan(serealia. statistik (termasuk honor petugas Simonev). kacang tanah. kegiatan. monitoring evaluasi. aneka kacang dan umbi. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. kedelai. pengawalan. Perencanaan program. padi lahan kering. bukan pengawasan. monitoring.3. dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome). dan pengeluaran). Pengembangan kedelai (model). Pemberdayaan Penangkar Benih padi. Pengelolaan Anggaran Struktur Anggaran Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola. ubi kayu.

transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 59 | P a g e . 5) Menguji. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil.-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen. Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis.000. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.000.Pedoman Pelaksanaan Program membidangi tanaman pangan tingkat provinsi. tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. efisien.000.000. 3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK). serta kelompok masyarakat. ekonomis. membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN. taat pada peraturan perundang-undangan. keputusan penetapan penyediaan barang jasa. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib. 7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). jadwal. 100. 6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP). 3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. BPSBTPH dan BPTPH. kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas seratus juta rupiah (Rp. b. 4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat.-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp 50. efektif. 8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa.000. Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai berikut: a.

Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian barang/jasa. 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 60 | P a g e . Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai kegiatan masing-masing. vakasi). LS. Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan. Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak. Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur. Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa. TUP dan NIHIL. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Dalam melaksanakan pekerjaannya. Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). serta dokumen pendukungnya dan menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah membayar (SPM). Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang bersangkutan. serta memerintahkan pembayaran atas beban APBN. Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang membebani Uang Persediaan. Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. honor. GUP. Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan. Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).Pedoman Pelaksanaan Program 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya masing-masing. Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja. UP. Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran anggaran Satuan Kerja. Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara swakelola. Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik. Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran.

8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat Komitmen (PPK). Direktur. 5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM 1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah ditetapkan. 3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan dalam DIPA. 11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 61 | P a g e . 4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. 6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan langsung. 10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan prinsip yang mungkin timbul. 9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output. Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan. Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atas nama KPA. Penanggungjawab Teknis Kegiatan Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat Jenderal. d. diberi wewenang untuk: 1) Menandatangani cek. 7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya. 2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran. 2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan.Pedoman Pelaksanaan Program c.

Bendahara Penerimaan Menerima. Bendahara Pengeluaran 1) Menerima. Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). f. 2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran. alamat. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya. 3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. menyimpan. Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu pembayaran). e. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja . 6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. ketepatan penjumlahan. nomor rekening dan nama bank). membayarkan. menyimpan. 1) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2) Pedoman Pelaksanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 62 | P a g e . 5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA. KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan. 4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.Pedoman Pelaksanaan Program 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. 4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. 5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi. 3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. menyetorkan. pengurangan. apabila persyaratan tersebut diatas tidak terpenuhi. mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai berikut. 6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu dari segi ketelitian. perkalian. 7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta menyampaikan SPM ke KPPN setempat.

maka merupakan penerimaan APBN dan penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 4. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara. dan Ganti Rugi Beberapa ketentuan pidan. yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75.4. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan). Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya. 1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke rekening Kas Umum Negara. Sanksi Administratif. sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu diperhatikan adalah. 2) 3) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 63 | P a g e . Ketentuan Pidana.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) Petunjuk Operasional Pelaksanaan (POK) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan Pelaksanaan Anggaran per Mata Anggaran Kegiatan (MAK) 8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus dipertanggungjawabkan 9) Menyiapkan Buku Bank 10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak 11) Dan lainnya. atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk anggaran berikutnya.

monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik dalam bentuk pembinaan. serta 5) Pemantauan Pengendalian Intern. ada lima (5) unsur pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. Kegiatan dan Anggaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. kegiatan dan anggaran. PENGAWASAN. Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu : a. Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program dan anggaran. terbuka. d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara transparan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB V PENGENDALIAN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan Pedoman Pelaksanaan sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan. 2) penilaian risiko. arahan serta sejenisnya. penyusunan anggaran. akuntabel. 3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 64 | P a g e .1. 3) Kegiatan Pengendalian. keefektifan sumber daya. serta untuk mengatasi dan mencari pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul. 2) Melakukan sosialisasi Pedoman sebelum pelaksanaan kegiatan. maka pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Dalam melaksanakan pengendalian intern. 4) Informasi dan Komunikasi. c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern. workshop atau kursus perencanaan program. bimbingan. 5) Melakukan supervisi (orientasi. efektif dan efisien. 4) Memberikan pelatihan. sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah. namun termasuk proses pengambilan keputusan. Pengendalian Program. dan berbagai hal lainnya. b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusi pemecahannya.

bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai dasar perencanaan program. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan fungsi. b. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. Pengawasan Program. 3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 65 | P a g e . yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. BPKP dan Bawasda. kegiatan pengawasan fungsional pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. Kegiatan dan Anggaran Pada sistem penganggaran berbasis kinerja. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan. 5. yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak. Pengawasan fungsional terhadap program. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara berdaya guna dan berhasil guna. a. sehingga akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. kegiatan dan anggaran tahun 2013. 2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan dan anggaran kinerja. b. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program.2. pengujian. mempunyai aspek pelayanan masyarakat. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan.

c. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang. Indikator kinerja ditetapkan untuk: a. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas NILAI MASUKAN (Rp) MASUKAN PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN EKONOMIS (HEMAT) EFISIENSI (DAYA GUNA) EFISIENSI PEMBIAYAAN EFEKTIVITAS (HASIL GUNA) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 66 | P a g e . Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan menggunakan indikator kinerja. keluaran. Ukuran efisiensi dan efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut: Gambar 5. Membangun dasar bagi pengukuran.Pedoman Pelaksanaan Program c. Memperjelas status jenis. b. Evaluasi pelaksanaan program. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kegiatan. Monitoring dan Evaluasi 5. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran tertentu. termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya. hasil. kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan. manfaat dan dampak). d. Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.3. sedangkan efektivitas (hasil guna) dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. analisis dan evaluasi kinerja suatu instansi/organisasi. kegiatan dan anggaran dilakukan dengan pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan.

Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 67 | P a g e . tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. aspek teknis dan anggaran. evaluasi dan pelaporan. yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. aparat pelaksana kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi. dan Kabupaten/Kota. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Evaluasi awal dan evaluasi saat pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring pelaksanaan kegiatan. tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan.07/2010. merupakan penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai akhir pelaksanaan. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi. Sesuai dengan pelaksanaan monitoring. 5. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan pertanian kepada Menteri Pertanian. Masing-masing penanggung jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. kegiatan dan anggaran ini. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013.4.Pedoman Pelaksanaan Program Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante). Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat keberhasilannya. Pelaporan Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 2008. kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh Tim. menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan). sedang pelaksanaan kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Pelaporan hasil pelaksanaan program. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Evaluasi program.

yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang bersifat insidentil (mendesak). Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and punishment. misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. baik untuk anggaran dekonsentrasi. tugas pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota. Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota. Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Laporan insidentil. yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan.Pedoman Pelaksanaan Program Pangan dan Dinas pertanian provinsi. dan Bupati/Walikota selaku penerima penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran dimaksud kepada Menteri Pertanian. Laporan yang disampaikan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 68 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
BAB VI PENUTUP Keberhasilan pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran berbasis kinerja sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara, kepercayaan masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. Untuk itu, perlu terus ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui pemantapan sistem dan metoda perencanaan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, penataan kelembagaan, dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait. Pedoman ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. Pedoman ini akan dilengkapi dengan Pedoman yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. Sebagai tindak lanjut diterbitkannya seluruh Pedoman dimaksud, kepada daerah diberikan keleluasaan untuk menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/Pedoman Teknis sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi setempat. Keberhasilan pembangunan tanaman pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau pedoman teknis.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 69 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 70 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. 2012
NO. 1. 1. 2. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 3. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 KODE SATKER DKI JAKARTA 010082 010091 JAWA BARAT 020069 020534 020614 020730 020823 020932 021009 021107 021241 021334 021439 021510 021614 021714 021816 021933 022024 022102 025312 026009 JAWA TENGAH 030010 030106 030203 030309 030403 030505 030627 030729 030830 030932 031024 031104 031217 031313 031429 031532 031635 031703 031812 031934 032030 032118 032203 032305 NAMA SATKER Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI Jakarta Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu Dinas Pertanian Kab Majalengka Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat Dinas Pertanian Kota Sukabumi Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Dinas Pertanian Kab Demak Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 71 | P a g e

Jombang 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo. 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember. 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun 052330 052407 052504 052604 052739 052832 052930 ACEH 060060 060106 060216 060317 060415 060517 060621 060714 060813 060916 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Dinas Pertanian Provinsi Aceh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Yogyakarta 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul 040227 Dinas Pertanian. 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 6. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto 050322 Dinas Pertanian. Banyuwangi. YOGYAKARTA 040070 Dinas Pertanian Provinsi D. 47 48 49 50 51 52 4. Aceh Besar Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 72 | P a g e . Karanganyar 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri DI. Gunung Kidul 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo JAWA TIMUR 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur 050132 Dinas Pertanian. 53 54 55 56 57 5.Pedoman Pelaksanaan Program NO. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 KODE SATKER NAMA SATKER 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Sragen 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Klaten 032505 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 051139 Dinas Kehutanan. Perkebunan Dan Kehutanan Kab.I. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali 032637 Dinas Pertanian Kab. Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab.

Peternakan. Kelautan Dan Perikanan Kab. Padang Pariaman 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura. Deli Serdang 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo 070305 Dinas Pertanian Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam SUMATERA UTARA 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara 070108 Dinas Pertanian Kab. Pasaman Barat 085538 Dinas Pertanian. Nias Utara 072703 Dinas Pertanian.Peternakan. Labuhan Batu 070730 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan. Pakpak Barat 071604 Dinas Pertanian Kab. Tanaman Pangan. Labuhan Batu Utara 072603 Dinas Pertanian. Gayo Luwes 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan SUMATERA BARAT 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota 080408 Dinas Pertanian. Nagan Raya 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh 085708 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 73 | P a g e . Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok 080522 Dinas Pertanian. Peternakan. Batubara 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab. Peternakan. Padang Lawas 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Humbang Hasundutan 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab.Mandailing Natal 071411 Dinas Pertanian. Langkat 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Asahan 071152 Dinas Pertanian Kab Nias 071228 Dinas Pertanian. Nias Barat 075714 Dinas Pertanian. Dairi 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir 071331 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya 061315 Dinas Pertanian Kab. 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 8. 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 KODE SATKER NAMA SATKER 061106 Dinas Pertanian. Tapanuli Selatan 071032 Dinas Pertanian Kab. Padang Lawas Utara 072502 Dinas Pertanian Kab. Aceh Tamiang 061709 Dinas Pertanian Tp. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Pesisir Selatan 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. 99 100 101 102 103 104 105 106 107 7. Kehutanan Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab.

Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh SUMATERA SELATAN 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 9. Lampung 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah 120330 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Kuantan Sengingi 091308 Dinas Pertanian . Oku Selatan 111210 Dinas Pertanian. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir 111702 Dinas Tanaman Pangan. Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau LAMPUNG 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Mesuji 121201 Dinas Pertanian. Kehutanan. Indragiri Hilir 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 10. Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Ogan Komering Ilir 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Perikanan Dan Peternakan Kab. Tulang Bawang Barat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 74 | P a g e . Peternakan Dan Perikanan Kab. Pesawaran 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Muara Enim 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas 110809 Dinas Pertanian Kab. Pelalawan 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Empat Lawang 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Pringsewu 121101 Dinas Pertanian. Lampung Barat 120503 Dinas Pertanian. Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kampar 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam 115518 Dinas Tanaman Pangan. Tebo 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi 105202 Dinas Pertanian. Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Tanjung Jabung Timur 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Batanghari 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Indragiri Hulu 090436 Dinas Tanaman Pangan. Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti JAMBI 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Sarolangun 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Tanjung Jabung Barat 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanggamus 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 ) 120822 Dinas Pertanian. Lampung Utara 120427 Dinas Pertanian Kab. 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 KODE SATKER NAMA SATKER RIAU 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau 090118 Dinas Pertanian. Bungo 100418 Dinas Pertanian Kab. 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 11. 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 12. Rokan Hilir 090932 Dinas Pertanian.

Kalimantan Timur 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau 160505 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau 141107 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Kutai Barat 160807 Dinas Pertanian. Kubu Raya KALIMANTAN TENGAH 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas 140232 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang 130814 Dinas Pertanian Kab Landak 130904 Dinas Pertanian. Tana Tidung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 75 | P a g e . Peternakan Dan Perikanan Kab. Sambas 130237 Dinas Pertanian. Malinau 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur 160721 Dinas Perkebunan. Perikanan Dan Peternakan Kab. Peternakan. Penajam Paser Utara 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara 161204 Dinas Pertanian. Balangan KALIMANTAN TIMUR 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Tanaman Pangan. Sukamara 140908 Dinas Pertanian. 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 14. Sanggau 130306 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Katingan 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 KODE SATKER NAMA SATKER KALIMANTAN BARAT 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kehutanan. Hulu Sungai Utara 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura . Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya 141306 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan 140612 Dinas Pertanian Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab. 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 15. Kelautan Dan Perikanan Kab. Kayong Utara 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur KALIMANTAN SELATAN 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan 150058 Dinas Pertanian. Sekadau 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Perikanan Dan Peternakan Kab. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 16. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi 131004 Dinas Pertanian. Tabalong 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan 160518 Dinas Pertanian. 13. Banjar 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala 150730 Dinas Tanaman Pangan. Perkebunan Dan Peternakan Kab.

273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 20. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kehutanan. Buol 180605 Dinas Pertanian. 17. Bolaang Mongondow Utara 171303 Dinas Kelautan. Sigi SULAWESI SELATAN 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kepulauan Selayar 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Bolaang Mongondow Selatan 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Bolaang Mongondow Timur 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago SULAWESI TENGAH 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso 180205 Dinas Pertanian. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 19. Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon 170706 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perkebunan Kab. Toraja Utara 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo SULAWESI TENGGARA 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 76 | P a g e . 297 298 299 KODE SATKER NAMA SATKER SULAWESI UTARA 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 170085 Dinas Pertanian. Minahasa Tenggara 171163 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pertanian Dan Kehutanan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Perikanan. Minahasa Utara 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tana Toraja 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros 190918 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali 180706 Dinas Pertanian. Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan 170704 Dinas Pertanian. Tojo Una-Una 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 18. Banggai Kepulauan 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong 180908 Dinas Pertanian. Perkebunan. Pangkep 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara 192420 Dinas Pertanian.

300 301 302 303 304 305 21. Kehutanan. Dan Kelautan Kabupaten Jembrana 220307 Dinas Pertanian. Perkebunan. Buru Selatan BALI 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng 220204 Dinas Pertanian. Belu 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima NUSA TENGGARA TIMUR 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 240103 Dinas Pertanian. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Ngada 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Perkebunan Dan Hortikultura Kab. Lombok Utara 235106 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur 240806 Dinas Pertanian. Timor Tengah Utara 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan NUSA TENGGARA BARAT 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima 230535 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung 220403 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kab. Peternakan. Konawe Utara Dinas Pertanian Provinsi Maluku Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat 230802 Dinas Pertanian .Pedoman Pelaksanaan Program NO. Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 230715 Dinas Kehutanan. Timor Tengah Selatan 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor 240617 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Kolaka Utara Dinas Pertanian Kab Konawe Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 24. Bombana Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 77 | P a g e . Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. 306 307 308 309 310 311 312 313 314 22. Maluku Tenggara Barat Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur 210904 Dinas Pertanian Kab. Maluku Barat Daya 211002 Dinas Pertanian. Kehutanan. Lembata 241412 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende 240904 Dinas Pertanian. Kolaka Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kab. Kehutanan. 315 316 317 318 319 320 321 322 323 23. Maluku Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem 220610 Dinas Pertanian. 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 KODE SATKER 200444 200507 200627 200809 200909 201003 MALUKU 210003 210103 210230 210309 210410 NAMA SATKER Dinas Pertanian.

Pohuwato 310407 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura BENGKULU 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara 260204 Dinas Pertanian Kab. Rejang Lebong 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang 260903 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. 350 351 352 353 354 25. Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 78 | P a g e . 395 KODE SATKER NAMA SATKER 241503 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kelautan Kab. Nagekeo 241802 Dinas Pertanian. Perkebunan. Bengkulu Tengah 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu MALUKU UTARA 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Bengkulu Selatan 260335 Dinas Pertanian Kab. Sumba Tengah 241902 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan GORONTALO 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo 310306 Dinas Pertanian Kab. 389 390 391 392 393 394 31. Perikanan Dan Kelautan Kab. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. 373 374 375 376 377 378 379 28. Manggarai Timur PAPUA 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 380 381 382 383 384 385 29. Gorontalo Utara KEPULAUAN RIAU 320017 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat 241705 Dinas Pertanian. Bone Bolango 310704 Dinas Pertanian. Kehutanan. Halmahera Utara 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat 280808 Dinas Pertanian. 355 356 357 358 359 360 361 26. Jayapura 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire 251706 Dinas Pertanian. 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 27. Sumba Barat Daya 242002 Dinas Pertanian. Pandeglang 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang 295301 Dinas Pertanian Kota Serang KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 300062 Dinas Pertanian. Perkebunan. 386 387 388 30. Kehutanan. Pulau Morotai BANTEN 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Halmahera Tengah 280314 Dinas Pertanian Kab.

Peternakan. 403 404 405 406 407 408 KODE SATKER PAPUA BARAT 330047 330136 330238 330412 330604 330716 331006 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May Brat SULAWESI BARAT 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat 340106 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 79 | P a g e . 32. Peternakan. Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. 396 397 398 399 400 401 402 33. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Pertanian. Teluk Wondama Dinas Pertanian. Polewali Mandar 340509 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju 340303 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat Dinas Pertanian.

15. 2. 7. 3. 10. 18. 12. 6. Agenda Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Musrenbangtan Tingkat Provinsi Penetapan Pagu Indikatif Musrenbangtan Nasional Penyusunan Renja KL Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Pembahasan RKA-KL dengan DPR Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Nota Keuangan dan RUU RAPBN Penetapan UU APBN Penetapan Pagu Indikatif Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian ke Menteria Pertanian Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Penerbitan DIPA Penetapan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan/Teknis oleh Kementerian dan Unit Eselon I Waktu Pertengahan Maret Akhir Maret Maret Awal April April Mei Juni Juni Juli Juli Agustus September Oktober Oktober-November NovemberDesember NovemberDesember Desember Akhir Desember Akhir Desember Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 80 | P a g e . 4. 1. 14. 5. 16. 13. 8. 19. Agenda Perencanaan Nasional No.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 2. 9. 17. 11.

4. BPSBTPH. Lampung. Div re Bulog Dinas Provinsi. Pertemuan apresiasi penanganan April pascapanen tanaman pangan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Rakor Regional II (Bengkulu. Kepri) Koordinasi/workshop penanganan pascapanen tanaman pangan Pertemuan persiapan survey susut hasil 2. 1. III. Dinas Kabupaten. BPTPH. penyaluran benih bersubsidi & bantuan benih Forum Perbenihan Maret April Agst Jabar Sumsel 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 3. 2. BPSBTPH. BPSBTPH. DIY. Dinas Kabupaten. Jatim. Sumbar. 4. Koordinator PBT BPSBTPH. BUMN. BPMPT Ka BPSBTPH. Gorontalo. Maluku. II. NTB) Dinas Provinsi 4. Bakorluh Dinas Provinsi Dinas 12 Provinsi (Aceh. Peb. BBPPMBTPH. 3. 5. Penyuluh BPTPH BPTPH Dinas Provinsi. I. Ka BBI. BBI. Kalbar) Koordinasi Teknis Perbenihan Sosialisasi pengawasan. 2012 Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan Maret ARAM I 2012 Makasar 2. Mei Peb. BPSBTPH. 3. VI. Sulteng. Papua Barat. Produsen Benih Dinas Provinsi. Dinas Kabupaten. Lampung. BPTPH. 3. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Peb. Kabid Tanaman Pangan / Kasie Benih Ka BPSBTPH. Dinas Kab. Sumut. 1. BPTPH. V. DIY NTB Dinas Provinsi. BPSBTPH. Kalteng) Sosialisasi P2BN Pemantapan Pelaksanan P2BN Pertemuan adopsi teknologi budidaya serealia Rapat evaluasi P2BN Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Rakor Regional V (Bali. stakeholders Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Direktorat Budidaya Serealia Rakor Regional III (Jateng. Riau 2. 2. Malut. 1. Papua) Koordinasi pengembangan agribisnis kedelai Koordinasi pengemb. Riau. Jambi. Babel. 1. BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. Sulsel Jabar Sumut Dinas Provinsi. Banten. Sumsel. Jabar. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Waktu Februari Lokasi Jatim Peserta Dinas Provinsi. 3. 4. BPS Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Rakor Regional IV (Sulut. Sultra. 1. Sumsel. Maret April Sept. Banten. Peb. Kalsel Bali Jakarta Bandung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 81 | P a g e . Kalsel. Nov. Kalsel. Kaltim. Maret Mei Juni Juli Jabar DIY Jatim Sulsel Bali Jatim DIY Jatim Peb. Jatim. Jateng. Tanaman Pangan TA. Sulsel. NTB. Bakorluh Dinas Provinsi. stakeholders Dinas Provinsi. Sumut. NTT. BPTPH. Sulbar) Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. stakeholders Dinas Provinsi. Bakorluh Dinas Provinsi. 3. 1. BPTPH. DI Yogyakarta. IV. Sulsel. Jabar. No. BBPOPT. Div re Bulog Dinas Provinsi Dinas Provinsi. Div re Bulog Dinas Provinsi. agribisnis aneka kacang & umbi Koordinasi& sosialisasi pengembangan kedelai melalui PAT Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Rapat Regional I (Aceh.

6. BPTPH. 10. Stakeholders Dinas Provinsi. Bandung Jateng Bali Palembang Bali Jakarta Kalsel 11. Nov. BPS Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi. 7. Okt. BPSBTPH. 13. BPSBTPH Dinas Provinsi. NTB Sulsel DIY DIY Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. BPSBTPH Dinas Provinsi Dinas Provinsi. Okt. 14. 5. BPTPH. BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. 9. BPSBTPH 4. BPSBTPH Dinas Provinsi. 3. BPTPH. 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 82 | P a g e .2012 Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA 2013 Waktu Maret Lokasi Medan Peserta Dinas Provinsi. 8. Bendahara) Koordinasi Pelaporan dan SPI Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan ARAM II 2012 Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara TA 2013 Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Workshop Penyusunan Laporan SAK / Pertemuan Update Program SIMONEV Wilayah Barat dan Timur Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun 2012 Workshop Penyusunan Laporan SIMAKBMN Evaluasi Program dan Kegiatan TA. BPTPH. BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. April Mei Juni Juni Juni Juli Sept. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Koordinasi Penyusunan Rancangan Program dan Kegiatan Tanaman Pangan 2013 TOT Refreshing Pengolah data Statistik Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM. 12.BPTPH. Sept.BPTPH.Pedoman Pelaksanaan Program No. BBI Dinas Provinsi. BPS Dinas Provinsi.

DAN 5. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA. PROSEDUR. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TUGAS DAN FUNGSI DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI BIDANG TANAMAN PANGAN FUNGSI : 1. PERLINDUNGAN. BUDIDAYA. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. 3. DAN KRITERIA DI BIDANG PERBENIHAN. PERLINDUNGAN. BUDIDAYA. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. STANDAR. 2. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN. 4. PENYUSUNAN NORMA.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 4. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 83 | P a g e . PERLINDUNGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. BUDIDAYA. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN.

3. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN 3. 3. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 2. 5. SUBBAGIAN TATA USAHA. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 5. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN: 1. 2. SUBDIREKTORAT JAGUNG. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 7. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 1. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT UBI KAYU. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 4. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 3. SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN. BAGIAN UMUM 4. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI. DAN 6. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 84 | P a g e . BAGIAN PERENCANAAN 2. 2. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. 3. 4. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 6. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 1. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 1. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 8.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 5. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. 2. 4. 4. DAN 5. DAN 5. SUBBAGIAN TATA USAHA. DAN 5. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 1. SUBDIREKTORAT KEDELAI. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 9.

SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 1. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 85 | P a g e . KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI 3. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. KEPALA BAGIAN UMUM 2. 4. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI.Pedoman Pelaksanaan Program DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 1. KEPALA BAGIAN UMUM 2. DAN 6. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. 2. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. SUBDIREKTORAT PADI. 3. 5. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. 2. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 1. INFORMASI DAN DOKUMENTASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 1. 3. SUBBAGIAN TATA USAHA. 4. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN. DAN 6. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU 5. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG.

4.256 40.27 152. N.366. 32.59 18.006 17. 20.266. BALI & N.300.98 164.B.78 822.550 7.599 47.321. 12.050 3.173 770.975 1.08 782. 21.65 241.426 784.068.016 85.844 159.770.235 NO 1.324 132.687.821 52.257 38.669 53.040 4. 31.291 383. 25.325 46. dan Produksi Padi Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 381.769 33.T.610.899 54.679 126.028 151.32 1.468.88 169.148 1.333 45.825 1.003 17.745 39.978.385 1.740 33.967 1.708 195. 15.14 127.530 40.026.693 794.13 PRODUKSI (TON) 1.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT PAPUA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 86 | P a g e . 17. 8.270 30.54 1. 5.556.19 78.08 229.55 957. 18.83 13.401 165.026.014 46.561.85 627.000 611.434 7.396 47.514 36. 16.994 8.801 46.033 149.720 50. 13.386 1.705 3. 7. 11. 26.746 10. 14.066 77.33 60.510.765 38.940 58.980 877.528 60. 19. 28.272 68.933.995.20 2.206 148.040 634.865 53. 23.037.100.T.115 92. ACEH D.967.099 52.796 1.52 155. 27.691 49.145 639.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 6.752 3.084.T.925.399 630. 29. PROVINSI N.809 924.99 457.255 2.250 335.080 2. 22.244 134.000 2.194.936 47.805 1.88 515.281 221.472.310 67.950 12.568 115. 9. 30.271.348 28.538 321.24 477.034 475.380 38.21 132. 10. Luas Panen.675 2.110 52.767. 2. 6.216 62.691 437.290 12.540 42.142.771 13.572.145 3.141 39.000 10.227 47.629 56.415.74 3.608. Produktivitas.602 443.24 89. 24.47 798.570 4. 33. Sasaran Luas Tanam.600 509.262 40.68 14.669 40.19 20.703 10.515 49.893.95 2.186 49.059 59.22 6.17 1.365 41.510 48.12 209.452 32.10 134.091 19.365 233.780 708.59 7.171 6.594 62.450.039.078 497.760 408.00 410 395 50.14 1.670 529. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.666 50.079 407.824 641. 3.75 156.749.850 2.249 72.310.765 4.74 10.66 432.07 29.251.58 412.860 46.913.129.660 625.022.529 51.985 859.

068 17. 21. 20.55 PRODUKSI (TON) 193.688.997 192. Luas Panen.332 101.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 7.375 7. 19.482.637.556 3.599 3.82 18.025 4.91 39.566 2.467 73.568 134.51 31.371. 12.800 2. BALI & N.940 408. 10.689 6.463 61.000 10.068.059 178.707.T. 32.091 30 29 187.131 52.114 829.652 38.268 472.442 4.30 36.13 55.684 1.67 56. 6.484 35.430 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 37.591 16. 16. N.200 1.244. 23.T.361.868 93.099 1.407 748 714 25. 31.81 34.633 968. 8. 22. 5.153 174.31 32.280 13.62 54.069 54.551 494.368 80.012.572 93.98 33. 9. Sasaran Luas Tanam.665 3.95 33.270 36.10 54.760 24.737 215.657 29.437 27.072 12.654 745.614 4.345 240.228 1. 17.543 658. 13. dan Produksi Jagung Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN (HA) (HA) 53.276 59.91 46.277 29.060 1.238 10.441 2.77 58. 26.235 33.27 34.192 358.748 11.909 1.485 1.292.872 97. 15.497 183.69 27.391.096 51.868 50. 11.300 88.97 55.529 123.733 4.535 1. 27.090.492 375.160 8.491 51.019 42.92 51.70 56. 29.640 166.049 711 679 1.363 257.668 24. 25.334 45. 18.661 6.118 53.636 1.655.000. 14.80 42.760 461.986 30.260 77.362 92.30 24.23 41.297 12. 2.284.09 46.77 33.000 123.42 53.09 49.059.332 1.874.602 2.544 26.87 24.994 167.B.088 269.800 143.398.82 63.799 403.880 712. 4. 3.596.944 23.871 2.910 338. 30. 33.000 NO 1.88 21.300.91 17.009 482.844 5. 7.T.849 27.306 868. 24.499 314.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 87 | P a g e .579 98 993.62 46.38 51.08 43.437 4. 28.008 26. Produktivitas.600 3.405 31.49 53.64 63.34 39. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.45 31.257 11.110 9.194 469.013.20 26.17 38.41 42.189 353.083 76.168 2.863.804 13.640 8.945 26.

400 135.100 9.400 10.700 723.700 371.60 48.500 3.000 42.000 NO 1. 6.000 8.566 13.59 802.342 13. 5. 13.79 10.47 4.500 4. 25. 24.400 7.30 557.000 26.900 3. 19.38 194.B.249 15.53 94.757 15.500 5.79 19.800 16. 9.30 26.200 12.26 4.098 14.600 27. 31.500 45. 18.700 3.48 174.400 7. 16.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 8.300 6. N.900 112.79 14.700 78.009 13.312.32 308.000 13.700 35.89 174.800 30. 30.515 15.900 79.26 6.413 15.097.26 18. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N. 32.539 15.T.51 40.300 16.000 364.600 12.800 9.100 1.012 14. 33.400 549.20 1.649 13.47 4.946 13.600 20. 29.000 7.400 9.500 54.000 15.T.26 8.462 13.800 7.900 24.885 14.34 22. 22.47 5.159 13.123 16.300 13.900 117.400 18.400 12.013 16. 21.500 11. 2.000 17. 3.200 57.000 1.119 13.95 221.718 13.700 106.30 13.91 125.700 13. 11.800 6.47 10.620 13.67 22.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 88 | P a g e .000 17. 12. Luas Panen.400 25. 26.900 189.700 47.675 15.000 231.000 3.200 197.67 10.900.600 15.803 14.200 2.250.87 32. Produktivitas.600 243.500 6.30 20. 10. Sasaran Luas Tanam.823 15.77 24. BALI & N.485 13.400 16.319 14.397 15.034 14. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 121.977 13.600 175. 20.620 13.200 8.000 4.937 15.100 588.26 14. 8.530 42.400 153. 7. 23.000 10.156 14.700 23.500 158.387 13.796 13.50 334. 17. 28.47 14.87 34.498 13.000 3.65 1. 4.400 14.T.79 17. 14.800 11.900 12.900 10.600 701. 27.954 13.896 14. 15.30 65.

993 26.246 9. 29.655 263. 25.713 8.681 9.15 14.114 74.300 98.067 18.T.00 9.33 14. 20.076 19.309 34.228 157.346 6.227 50.100 25. 33.019 5.781 9.977 11.44 11.295 2.624 1.884 356.360 206.804 2.484 15. Sasaran Luas Tanam.677 15.87 13.882 6.402 2.827 5.075 36.35 16.36 10. 32.02 13.078 3.52 13.668 597 201 80.234 5.547 2. 17.612 6.24 11.55 14.52 10.84 12. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.406 4.201 6.907 59.949 9.216 785.608 74. 15.387 825. 8.445 15.48 14.015 16.860 3. 16.090 3.T.96 15.08 16.04 10.B.747 1.73 14.253 22.89 13.557 628 208 102. 18.T.55 12.605 4.760 2.490 21. 5.248 2.487 743.78 12.26 13.054 29 124.26 18.282 14. 19.950 8.741 2.100.732 2.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 89 | P a g e .245 76.684 569 191 76. 28.456 3. 10.375 2.89 13.000 6.839 88.468 2.699 24. Produktivitas.544 9. 27.802 18.187 3.142 19.700 14.441 24 75.100 4.743 27.65 12.40 12.23 14.20 13.45 12. 24.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 9.695 11. 2.00 9.531 70. dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 7.742 17.147 4.858 2. 30.756 1.54 15.53 14.281 4. 14. 4.496 2.411 2.804 34.372 3.743 9.012 8. 31. 23.392 276.557 80.000 NO 1.701 107.649 548.977 13. 11.805 228.530 20. 22. 26.00 11.250 275.889 44.079 217. 6.44 12.264 25 79.856 522. 21.561 42.955 3.742 27.82 11.706 9.617 78.613 16.76 12.07 14.22 14. Luas Panen. N.674 30. 3. 7.406 3.07 12.953 24.046 2. BALI & N.35 12.968 17.296 1. 9. 12. 13.453 150.843 25.52 14.648 9.

44 11.300 1 22.600 LUAS PANEN (HA) 2.67 12.570 77. 16. 12.955 6.02 9. 31.764 748 485 896 1.39 10.275 4.615 13.51 11. 17.680 194. 2.T.198 3.374 2.724 1.980 342.079 616 3.11 12.055 643 1.582 229.986 2.44 11.959 1.586 325.794 1.522 25. 22.970 379 1.457 81.870 390.546 184.130 1.757 26. 10.532 1. dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012 NO 1.587 1. 4.568 629 397 778 1.14 12.51 15.376 1 27.457 160.B.574 2.69 11. 33.975 585 2. Produktivitas.435 12.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM (HA) 2.883 1.707 5.13 13.576 1. 11.00 13.774 2. 18. 7.32 10.17 12.942 140.T.614 2.265 53. 15.531 1.28 12.393 706 4.751 1.48 8.600 116.75 12.507 1. 19.855 5.183 47.02 13.579 1 23.87 10.21 11. 8. 26. N.084 73.095 147.90 12.138 2. 20.821 94.888 2.254 476 912 32.808 5. 5.75 11.073 81.305 1.556 7. Luas Panen.581 358 1. 25. 30.771 1. 9.26 12.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 90 | P a g e .89 9. 29.281 661 418 819 1.373 501 960 34.971 28.370 35. 27.63 10.914 1.26 10.245 50.734 2.620 1.962 2.812 2.67 11.099 1. 28.602 26.328 3.T.36 7.21 9.38 9. 23.495 99.29 12.184 15.141 77. 13.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 10.12 13.797 5.14 10.500 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 12.45 11.789 1.918 1. 21.031 1.370 43. 14.98 PRODUKSI (TON) 3. 24.08 15.12 12.115 1. 3. Sasaran Luas Tanam.117 5.478 1. BALI & N. 32.284 2.14 15.177 1. 6.061 4. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.494 30.02 10.074 399 1.874 791 93.

119 17.729 14.878 1.823 207 6.351 28.339 12.442 241.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 11.464.140 391.670 6.779 2.754 114.256 153 9. BALI & N.749 4. Luas Panen.781 11.781 7.667 1.381 141.516 74. Produktivitas. 4. 32.171 130 705.080.519 170 12. 6.002 4.664 13. 13. 10.754 159 253.917 132 45.569 197 213. 8.592 254 2.985 113 117.535.600 1. 29.334 1.999 127 94.092. 2.T.352 117 3.449 8.906 150 1.227 11.570 31.113 3.744 52.964 144 14. 30.645 136 12. 31.588 127 4.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 91 | P a g e .412 573. 23.381.261 185 71.564 138 5.671 9. 24.000 NO 1. 3.000. dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 4. 33.476 118 18. 17. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.073 1.451 1.027 160 7.768. 28.800 190 PRODUKSI (TON) 51.315.645 128 2. 26.411 124 352.216 149.242 44.T.186 175 1.425 203.828 193.829 92.T.142 67.084.971 179 14.647 120 4.210 124 9.617 1.790 224.320.498 118.680 30.711 178 13.570 81.227 11.040 149 6.704 149 675.374 335.492 155 9.669 4.235 123 31. 12.940 652 2.560 9.533. 14. 22.104 155 8.803 43.050 111.446 4.030 422.485 89. 16. 27.089 201 1.112 2. 21.564 31.117 12.012.449 20.335. 7.658 263.031 8.270 113 444.590 114.890 120. 15.895 14.503 188. 18.372 170 13. 9. 5. 25.666 90.114 5.695 63.698 672. 20.078.512 248.883 238 56 53 123 124.893 8.902 643.622 207 6.B.243 158. 19.001 1.091 138.469 163 46.172 25.555 902.439 657.892 6. Sasaran Luas Tanam.519 14.164 42.764 171 33.446 149 66.266 3.227 66.293 10. N. 11.

667 1.359 666 633 93 5. Luas Panen.403 134 864.149 2.903 37.682 1.822 121 94.631 3.456 4.503 91 13.177 91 19. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 NO 1.181 101 62.686 111 184.998 124 37.T.897 16.557 125 19.225 123 51.897 596 566 104 5. ACEH D. 19.815 608 578 102 5.084 105 273.769 16. 11.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 3.897 333 316 93 2.646 2.B.333 2. 26.395 3. 5.949 42.359 6.217 106 23.256 141 173.720 15.179 4.051 878 835 92 7. 3. PROVINSI N.700 117 2. 20.505 6. 27. 31.958 104 30.422 105 25.462 19. 8.440 1.560 16. Sasaran Luas Tanam.421 112 15.462 12. 30. 15. 14.897 1. N.713 139.436 207.667 3.944 1. 32. 13.773 139 456.368 89 12. 23.355 40.375 73 17. 7.435 106 47.300.226 110 35.385 17.218 99 31.846 3.154 67.T.373 95 22. 17.097 34. 25. 21.744 3.288 5.247 107 429.297 109 1. 33.155 2. 24.450 26.897 12.224 132. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.885 110 185.304 35. 22.326 106 35. Produktivitas.500 2.582 1.435.385 2.668 4. 2.923 2. 10.564 6.410 110 48.552 1.500 3.975 128 76.112 2.359 2.446 4.667 1.355 43. 4. 6.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 12.640 4.475 100 14.179 4.291 2.524 18.552 95 176.000 196.776 64.099 113 485.385 514 489 121 5.498 2.638 1.897 17.489 32.495 1.549 2.231 7. 18. BALI & N. 9.T.386 3.590 8. 29.448 115 408. 12.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 92 | P a g e .221 45.888 121 191. 16.923 27. 28.

monev SLPTT & pengembangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 93 | P a g e .900 Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif Pembinaan. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp.642.289.000 18.714.261.2.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Pkt 1 Pusat 28 Prov 184 Kab h.00 Ribu ha 2. d.559.988.478. c.000 25.064.000 630.85jt/Unit) SLPTT Padi Hibrida (Rp 3.600 107.000 160.868.500 6.Tanah (Rp. SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3.5 jt) Pengembangan Ubi Kayu (Rp10.93jt/LL) Pengembangan Kedelai Model (Rp 4. e.750 5.950 3.651. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.900 Kab/Kota 673.000 764. d.350.510 70.727.500 6. 1 Kegiatan dan Output Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia a.000 6.700 38. b.414.929.064.000 7.504.000 764.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 13.85jt/Unit) SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64. monev SLPTT & pengembangan 350 Ribu Ha 2.504.000 8. pengawalan.000. SL-PTT Kedelai (Rp 3.320 292.195.000.7 jt/LL) 3.451.000 74.000.215jt/ha.55 Ribu Ha 14.000 790.000 87.410.725 Ha 10 Prov 1 Pusat 31 Prov 371 Kab 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi a.180.000 5.-/Unit) 3.000. 2012 No.642.500 41.550.-) Pengembangan Ubi Jalar (Rp7.000 83.70 Ribu Ha 33. pengawalan.950 3.000 49.230 137.6jt/ Unit) SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3.000.030 137.710 630.939.400 Provinsi 192.718 jt/ha) Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali) Pembinaan.056.800 392.332.028. g.320 292.100 Volume Pusat 78. f.000.350.868.000 6.749.700 7.7jt/LL) SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64.43jt/Unit)) Pengembangan Kc.700 Jumlah 944.000 175. c.75 Ribu Ha 290.110. SLPTT : b.400 7.760.800 2.700.350.100 49.70 Ribu Ha 9.550.30 Ribu Ha 500 Ribu Ha 200 Ribu Ha 12.7jt/ LL) SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44.500 Ribu Ha 70.7 jt/LL) SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3.750 2.

800.000 2.941.000 16.000 1. Monev Perbenihan.000 130.000 3.000 10.625 43.000 3.000. i.000.450.000 66. f.546.000 77.Pedoman Pelaksanaan Program No.000.500 Ribu Ha Ha Ribu Ha UPB UPB Paket Prov Kab Pusat Prov Kab 1.000 720.394.000 11.000 Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Padi Jagung Kedelai g.000 35.386.614.000 42.000 2. Apresiasi.000.000 16.000 7. Pengawalan.500 151.500 19.135.812.937.000 10 700 2.000.5 rb/kg) @40kg/ha 102 68 5 13 3 14 32 817 32 31 Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Balai Orang Balai Balai 406. Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 442 15 25 12 10 12 1 31 204 Pkt Pkt Pkt Pkt Pkt Prov Pkt Prov Kab 6.909.590.000 16. Monev Pemb.878.000 67.000 2.400 9.862. j.451.500 63.839.536.000.525 Jumlah 1. BLBU: b.209.000 8.000 2.000 600.997.846.000 1. BLBU & CBN 1 32 373 4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan a.451. Pengawalan. d.500 166. & Monev Pascapanen Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 94 | P a g e .300.000 111.110.684.247.375 76.000 13.941.414.000 18.000 Volume Pusat 794.500 15. Bimbingan Teknis.880. h.000 45.400. c.796.000 15.500. Penangkar Survei Susut Hasil Padi Pembinaan.575 Provinsi 121. Pembangunan UPB Optimalisasi UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.000 1.400 47.500/kg) @25kg/ha BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha BLBU kedelai (13.200. c. e.000 74.846.730.137. Pembinaan.890.394.000 1.500 1.578.450.000 90. BLBU padi non hibrida (Rp 8.105.549.000 15.100 6.880.400. Bantuan Sarana Pascapanen : b.000 7. 3 Kegiatan dan Output Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan a.125.500 45.000 7.000 1.549.900 Kab/Kota 536.251.453.336.250.5 4 8 1 28 230 k.500 100.411.000 11.600 47.000.

Pedoman Pelaksanaan Program
No. 5 Kegiatan dan Output Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. 6 Operasional P3OPT (BPTPH) Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida Renovasi Gudang Brigade Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH Surveilans OPT dan Monev SL Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln) Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Operasional Diperta Provinsi Operasional THL POPT-PHP Pembinaan, Pengawalan, Monev Perlintan Operasional BPMPT 505 Kab 80 Kali 86 Unit 158 Unit 77 Unit 143 Kelas 66 Pkt 2.908 Orang 1.941 Unit 130 Unit 620 Unit 95 Unit 14 Prov 1.168 Orang 1 Paket 1 Paket 12.558.500 3.500.000 9.353.000 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 4.129.295 804.799 4.418.906 8.000.000 4.350.000 7.000.000 18.096.000 39.000.000 2.600.000 6.200.000 8.015.000 2.315.000 19.911.000 Volume Pusat 16.058.500 Provinsi 154.341.500 20.000.000 9.900.000 8.954.500 Kab/Kota 15.800.000 15.800.000 Jumlah 186.200.000 20.000.000 9.900.000 8.954.500 15.800.000 8.000.000 4.350.000 7.000.000 18.096.000 39.000.000 2.600.000 6.200.000 8.015.000 2.315.000 19.911.000 12.558.500 3.500.000 9.353.000 4.129.295 804.799 4.418.906

Pengembangan Peramalan Serangan OPT a. b. c. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Peramalan Serangan OPT

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 95 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program

No. 7

Kegiatan dan Output Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih a. b. c. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih

Volume

Pusat 7.300.000

Provinsi 26.467.900 10.144.200 2.820.000

Kab/Kota 37.400.000 -

Jumlah 7.300.000 3.164.532 1.170.004 2.965.464 248.813.961 46.507.092 10.840.047 30.000.000 45.600.000 10.144.200 16.610.800

1 Thn 1 Thn 1 Pkt

3.164.532 1.170.004 2.965.464 184.946.061

8

Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP a. b. c. d. e. f. Gaji Operasional Kantor LM3 Bencana Alam Insentif Mantritani Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 1 Pkt 3.074 Org 1 Pusat 33 Prov 374 Kab g. Perencanaan Program & Kegiatan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab h. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab i. Evaluasi, Pelaporan, Pengawasan & Data Statistik 1 Pusat 33 Prov 374 Kab j. k. Pengelolaan Bidang Umum Dukungan Manajemen Lainnya Total 1 Pusat 1 Pusat

46.507.092 10.840.047 30.000.000 45.600.000 1.000.000

12.790.800 12.000.000 6.264.000 9.350.000 4.350.000 3.739.500 7.480.000 4.380.000 3.500.200 7.779.200 5.900.000 24.368.922 1.104.899.536 512.347.000 1.498.245.455 5.900.000 24.368.922 3.115.491.991 15.659.400 15.569.500 27.614.000

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 96 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 14. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012
SLPTT Padi (Ha) No. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.200 3.500 13.600 12.500 2.000 2.500 7.400 15.500 17.400 10.000 15.000 3.000 4.000 7.400 3.500 12.000 7.000 1.200 7.200 2.500 137.900 8.400 3.750 11.450 4.450 5.150 9.700 9.550 4.200 8.500 7.000 9.000 8.250 3.150 1.350 3.150 7.000 4.450 2.500 5.600 3.150 2.650 3.750 4.150 3.150 4.450 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.800 1.800 600 600 600 1.100 1.100 550 550 Padi Non Hibrida Peningkatan IP 1.000 1.000 500 500 1.000 1.000 500 500 Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Benih Benih 14.150 850 10.000 2.175 32.500 249 850 450 50 500 450 50 300 1.430 70 500 500 200 950 50 975 875 950 50 3.100 350 2.500 49 1.430 70 500 150 2.500 50 950 50 150 11.000 100 1.430 70 150 6.000 50 950 50 950 50 1.430 70 450 50 575 1.430 70 800 450 50 250 300 2.500 500 1.000 450 50 1.000 7.000 300 200 14.000 7.500 10.050 8.000 750 300 1.500 750 450 900 2.000 1.500 1.500 300 1.500 200 2.500 750 100 600 500 2.000 1.500 500 1.450 300 400 750 500 1.000 525 750 150 900 450 750 500 100 750 1.000 750 100 300 300 500 1.450 300 750 500 225 1.250 225 225 1.500 300 500 Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 100 700 50 50 50 50 100 100 50 50 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 125 Padi 21 Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 2 Ubi Kayu Ubi Jalar Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) SLI (unit)

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37

ACEH Dinas Provinsi Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Singkil Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Tenggara Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Bireuen Kab. Aceh Pidie Kab. Simeuleu Kab. Gayo Lues Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Jaya Kab. Nagan Raya Kab. Aceh Tamiang Kab. Bener Meriah Kab. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh SUMUT Dinas Propinsi Kab. Asahan Kab. Dairi Kab. Deli Serdang Kab. Tanah Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Nias Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara Kab. Toba Samosir Kab. Pakpak Barat Kab. Humbang Hasundutan Kab. Serdang Bedagai Kab. Padang lawas Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kota Gunung Sitoli Kab. Nias Selatan Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab. Labuhan Batu Selatan Kab. Labuhan Batu Utara Kab Nias Barat Kab. Nias Utara Kab. Batu Bara Kota Sidikalang Kota Lubukpakam Kota Stabat Kota Tarutung

82

6

25 25 25

25 25

4 2 2 4 4 2 3 19 1

2

125

-

1

-

-

3

110

7

25

4 2 4 2 4 2 -

25 25

1

25

25 -

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 97 | P a g e

200 350 1.500 500 4. Dharmas Raya 11 Kab.350 250 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 97.000 8.800 8.000 4.950 3.000 10.000 10.175 1.000 3 SUMBAR Dinas Propinsi 1 Kab.900 9.100 500 300 550 400 100 180 250 250 400 100 3.000 600 750 1.500 7. Kep Mentawai 4 Kab. Pasaman Barat 13 Kota Bukit Tinggi 14 Kota Padang Panjang 15 Kota Padang 16 Kota Payakumbuh 17 Kota Sawahlunto 18 Kota Solok 19 Kota Pariaman 20 Kota Painan 21 Kota Lubuk Sikaping 4 RIAU Dinas Propinsi 1 Kab.500 9.500 8. Sijunjung 8 Kab. Indragiri Hilir 3 Kab. Solok 9 Kab.500 1. Pesisir Selatan 7 Kab.000 750 50 1. Solok Selatan 12 Kab.200 400 1.200 1.000 48.000 225 550 400 100 180 1.150 1.900 9. Tanah Datar 10 Kab.800 250 1.500 7.500 3. Lima Puluh Kota 2 Kab. Kampar 5 Kab.000 9.500 9.750 2.450 4.000 1.850 2.500 5.000 4.000 225 300 750 500 1.200 1. Kuantan Singingi 6 Kab.500 4.155 3.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 4.500 180 1. Agam 3 Kab. Pasaman 6 Kab.200 300 9.700 250 500 150 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 600 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 4 1 Kedelai - Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 2 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 4 13 2 2 2 2 1 2 2 1 2 7 - - - - - 2 30 2 2 - 2 1 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 98 | P a g e .000 240 100 500 1. Pelalawan 7 Kab. Siak 10 Kota Dumai 11 Kota Pekanbaru 12 Kota Rengat 13 Kab Meranti SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.100 500 1. Bengkalis 2 Kab.500 1.500 2.500 900 500 3. Indragiri Hulu 4 Kab. Rokan Hilir 8 Kab.400 4.000 8. Padang Pariaman 5 Kab.000 750 100 600 2.900 2. Rokan Hulu 9 Kab.

000 13.000 375 600 1.500 13.500 3.125 147.000 300 500 500 525 1. Lahat 2 Kab. Ogan Ilir 11 Kab.250 4.525 4.950 2. Lebong 8 Kab. Bungo 3 Kab. Sarolangun 7 Kab.000 150 100 550 150 1. Musi Rawas 4 Kab. Empat lawang 12 Kota Palembang 13 Kota Prabumulih 14 Kota Pagar Alam 15 Kota Lubuk Linggau 16 Kab Baturaja 7 BENGKULU Dinas Propinsi 1 Kab. Muara Enim 5 Kab.300 300 500 600 500 2.000 700 50 1.500 550 50 500 375 500 550 1. OKU Timur 9 Kab. Muaro Jambi 6 Kab.000 2.500 4.400 100 2.100 500 2. Rejang Lebong 4 Kab.000 300 750 250 300 550 2.300 225 400 500 1.700 4.000 3.000 20.500 500 250 550 500 450 250 1.650 450 500 50 2.000 250 1.950 15.500 1.400 100 1.800 1. Kaur 5 Kab.900 5.450 2.300 225 400 1.100 500 550 50 500 2. Bengkulu Selatan 2 Kab.200 14.Pedoman Pelaksanaan Program No.400 100 1.400 11.000 48.500 2.200 50 2. Batanghari 2 Kab.750 6. Ogan Komering Ilir 6 Kab.350 9.500 8.500 12.800 1. Tj. Tebo 10 Kota Jambi 11 Kota Sungai Penuh 6 SUMSEL Dinas Propinsi 1 Kab.250 4.100 1. Merangin 5 Kab.900 100 600 2. Musi Banyuasin 3 Kab.500 3.700 5 JAMBI Dinas Propinsi 1 Kab.000 3.800 150 1.000 3.100 500 2.000 12.000 10.300 1. Bengkulu Utara 3 Kab.875 3.250 250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 350 50 50 50 50 50 50 50 350 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 175 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 Kedelai 1 Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 3 SLPHT (unit) 44 SLI (unit) 2 25 25 25 25 25 2 2 1 2 1 27 2 4 3 3 1 3 4 4 3 5 - - 1 - - 3 65 4 1 - - - - - 2 29 2 1 1 1 1 1 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 99 | P a g e . Muko-muko 7 Kab.900 4. Banyuasin 8 Kab.000 11.000 300 500 3.750 1. Kepahiang 9 Kab Bengkulu Tengah 10 Kota Bengkulu SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.400 3.000 225 2.000 7. Ogan Komering Ulu 7 Kab.000 300 400 50 500 2.000 3.400 12.050 900 2.400 100 2.400 100 1.550 500 1.900 600 20.000 600 500 2.600 8. OKU Selatan 10 Kab. Kerinci 4 Kab.300 300 1.000 16.500 1.500 6.250 750 600 3.875 2.000 2.500 1. Jabung Timur 9 Kab. Seluma 6 Kab.400 100 2.450 6. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 58.000 11.650 3. Tanjung Jabung Barat 8 Kab.

470 30 2.750 1. Ciamis 5 Kab.275 970 30 1.500 14.500 500 180 70 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 50 50 100 50 50 50 50 Jagung Kedelai 125 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 1 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 65 SLI (unit) 3 26 3 3 4 2 3 2 2 2 2 1 1 1 - 1 - - - - - 1 3 - 650 100 50 50 50 50 50 100 100 50 50 - 300 45 2 2 3 3 4 4 3 4 1 2 3 4 3 2 3 2 - 2 - - 3 179 14 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 1 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 100 | P a g e . Bandung Barat 19 Kota Cimahi 20 Kota Tasikmalaya 21 Kota Bandung 22 Kota Bekasi 23 Kota Bogor 24 Kota Cirebon 25 Kota Depok 26 Kota Sukabumi Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Bogor 4 Kab. Sumedang 16 Kab.430 70 500 750 1.430 70 6. Lampung Selatan 3 Kab.500 1.430 70 3.500 2.000 375 500 1. Mesuji 11 Kab. Sukabumi 15 Kab. Cirebon 7 Kab.000 1.120 1.500 7.500 1.000 10.500 19.000 14.500 197. Bekasi 3 Kab.500 1.250 5.100 500 1.000 1.000 12. Lampung Tengah 4 Kab.000 50 500 930 70 250 8.500 1.500 975 600 100 1.650 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 975 1.120 50. Purwakarta 13 Kab.600 1.500 1.430 70 3.200 1.250 8.450 12. Tanggamus 7 Kab.650 550 550 550 1. Tasikmalaya 17 Kota Banjar 18 Kab.000 6.500 100 1.430 70 1.850 21.000 2.000 18.260 375 1.000 12. Lampung Barat 2 Kab.250 625 8 LAMPUNG Dinas Propinsi 1 Kab.500 10.500 1.250 1.875 525 930 70 1.430 70 3.625 750 970 30 300 1. Garut 8 Kab.000 6.500 12.000 17.750 1.750 2.970 30 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147. Tulangbawang Barat 13 Kota Bandar Lampung 14 Kota Metro 9 DKI Dinas Propinsi 1 Kab Adm Kep Seribu 2 Kota Adm Jakarta Barat 3 Kota Adm Jakarta Pusat 4 Kota Adm Jakarta Selatan 5 Kota Adm Jakarta Timur 6 Kota Adm Jakarta Utara 10 JABAR Dinas Propinsi 1 Kab.000 18.500 500 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.125 750 2.000 11.470 30 970 30 200 450 500 450 1.000 1.880 1.500 9.500 2.350 1.550 6.500 1.350 1. Tulang Bawang 8 Kab. Way Kanan 9 Kab.000 11.250 1.500 11.000 2.500 25 930 70 1.000 12.470 30 1. Pesawaran 10 Kab. Lampung Timur 6 Kab. Indramayu 9 Kab.000 11.000 100 1.470 30 1.430 70 7. Kuningan 11 Kab.500 10. Karawang 10 Kab.700 300 12.000 100 930 70 5. Pringsewu 12 Kab.500 1.000 8.970 30 1.500 1.000 300 1.000 500 930 70 2.250 260 1.625 12.000 975 600 150 970 30 1. Cianjur 6 Kab. Lampung Utara 5 Kab.750 12.430 70 500 1.250 750 5.500 10.350 11.430 70 2.950 17.625 1.950 12.350 50 2. Subang 14 Kab.500 18. Majalengka 12 Kab.250 1.000 14.000 7.180 70 1.000 300 1. Bandung 2 Kab.

125 7. Magelang 17 Kab.500 6.800 10.000 9. Bantul 2 Kab.100 100 500 500 50 375 1.500 3.500 8. Gunung Kidul 3 Kab.500 7. Sleman 5 Kota Yogyakarta Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.250 - 11 JATENG Dinas Propinsi 1 Kab.500 430 70 525 2. Brebes 7 Kab.600 1.000 2.000 680 70 4.100 500 500 19.500 1.000 1.960 45. Semarang 24 Kab. Purbalingga 21 Kab.430 70 850 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 10. Pekalongan 19 Kab.040 1.500 6.000 20.000 7.625 3. Grobogan 10 Kab. Karanganyar 12 Kab.600 51.250 3.000 975 5. Wonosobo 30 Kota Tegal 31 Kota Magelang 32 Kota Pekalongan 33 Kota Salatiga 34 Kota Semarang 35 Kota Surakarta 12 DI YOGYAKARTA Dinas Propinsi 1 Kab.200 1.000 12. Kudus 16 Kab.000 680 70 850 1.500 500 430 70 75 525 500 430 70 600 430 70 850 750 2.500 5.500 2.000 8. Temanggung 28 Kab.000 750 2.430 70 5. Kendal 14 Kab.125 27. Kebumen 13 Kab.000 1.000 1. Sragen 25 Kab.000 1. Cilacap 8 Kab.700 900 5. Pemalang 20 Kab.500 8.000 9.500 6.500 1.000 50 430 70 750 430 70 2.000 1.500 430 70 3.000 8.500 500 480 70 3.000 18.100 7. Klaten 15 Kab.500 4.000 375 375 250 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.500 8.300 450 2.300 1.000 430 70 975 880 70 250 975 430 70 5.050 2.000 500 500 1. Rembang 23 Kab. Batang 4 Kab.000 7.500 430 70 1.960 1.500 3.750 4.050 2. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 198.300 1.000 10.500 5.000 6.000 500 75 375 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 500 50 50 50 50 100 100 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 3 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 173 SLI (unit) 18 61 2 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 5 2 1 2 - 2 1 2 25 25 25 25 25 25 1 75 25 25 25 - 2 1 1 - - 3 38 3 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 101 | P a g e .000 675 2.625 12.050 430 70 5.000 50 680 70 450 930 70 4.000 6.500 4.000 430 70 850 1. Kulon Progo 4 Kab. Boyolali 6 Kab. Pati 18 Kab.000 100 1.430 70 700 900 430 70 900 1. Blora 5 Kab.000 8.875 3. Jepara 11 Kab. Demak 9 Kab.000 100 500 175 450 1.500 1.150 1.000 900 430 70 850 900 430 70 450 4.000 3. Banyumas 3 Kab.500 10.500 8. Tegal 27 Kab.000 330 70 750 2.500 5.080 70 2.200 1. Banjarnegara 2 Kab.500 130 70 3. Purworejo 22 Kab. Sukoharjo 26 Kab. Wonogiri 29 Kab.000 430 70 750 500 2.000 33.

480 4. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Kota Madiun KALBAR Dinas Propinsi Kab.500 11.500 3.775 900 2. Murung Raya Kab.000 8. Landak Kab. Sumenep Kab.500 3.000 20 1.800 600 600 600 1.000 700 20.300 225 2.980 4.000 300 3. Banyuwangi Kab.500 1.980 980 480 2.375 150 - Pengembangan (Ha) Kedelai Model 170 Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 100 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 100 50 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 190 SLI (unit) 16 54 70 25 25 25 50 4 2 2 2 2 5 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 2 25 25 25 1 2 25 25 25 2 2 10 50 - - - - 25 - - - - 3 55 3 25 - - - - - 2 2 1 3 2 2 - - - - 2 30 3 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 102 | P a g e .500 2.000 5. Seruyan Kab.000 4.980 2.980 1.500 5.500 900 50 100 3.000 20 1.000 500 500 500 500 1.500 16.980 4.350 21.480 5.000 2.000 20 10. Mojokerto Kab.000 17.980 500 1. Melawi Kab.000 2. Lumajang Kab.675 750 1. Pulang Pisau Kab.500 1.800 3.000 6. Katingan Kab. Kotawaringin Timur Kab. Pontianak Kab.000 15.480 5.500 7. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 197.250 150 500 20 8.000 3.350 20 1.750 225 100 1.000 74. Jember Kab. Sambas Kab.500 8.050 12. Kapuas Kab.050 20 975 20 1.000 4.000 22.500 2. Sanggau Kab.500 20 4.875 4.Pedoman Pelaksanaan Program No. Bangkalan Kab.980 2.250 150 500 900 2. Barito Utara Kab.500 9.500 3.300 560 20 1.480 750 5.500 4.000 6.500 20 825 1.000 750 1.050 5.000 200 400 300 400 500 250 1.980 500 2.200 9.000 1. Magetan Kab.000 7.000 2. Kotawaringin Barat Kab.775 1.450 10.875 2.500 6.480 980 2. Kubu Raya Kab. Bengkayang Kab.000 20 3.300 1.000 1.800 1.675 1.000 2. Ponorogo Kab. Ketapang Kab. Ngawi Kab.000 4. Sidoarjo Kab. Probolinggo Kab. Lamandau Kab.300 700 100 3.980 1.000 20 5.100 1. Gresik Kab.250 200 5.500 20 4.500 4. Madiun Kab.500 5.500 29.980 1. Tuban Kab. Gunung Mas Kota Palangka Raya Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 2.000 1.000 14.825 3.875 1.000 6.500 5.000 20 2. Sekadau Kab.500 20 1. Situbondo Kab. Malang Kab.450 1.500 2.500 4.750 20 1. Trenggalek Kab. Pamekasan Kab. Pasuruan Kab.000 4.000 6.980 1.480 2. Kapuas Hulu Kab.125 500 1.000 12.480 4. Barito Selatan Kab.450 1.250 300 1.500 4.440 1. Blitar Kab.900 5.000 8.500 20 600 2. Sintang Kab.000 48.300 300 100 1.500 8.980 2.625 1.000 300 2. Kediri Kab.500 20 450 1.480 1.550 650 200 50 150 - SLPTT Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Kering Hanya Kedelai (Ha) Spesifik Hibrida (Ha) Bantuan Lokasi Benih 560 62.300 750 800 1.000 20 4.500 150 650 225 100 600 100 100 300 20. Pacitan Kab.000 20 3. Nganjuk Kab.850 121.000 4.050 11.700 1.000 4.200 750 2. Jombang Kab.250 - 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JATIM Dinas Propinsi Kab. Lamongan Kab.500 11.450 4.000 3.000 20 525 1.500 9.850 1.000 20 1.000 20 450 10.500 97.980 3.250 2.300 900 8.350 4.050 6.480 980 1. Bondowoso Kab. Sukamara Kab. Kayong Utara Kota Pontianak Kota Singkawang KALTENG Dinas Propinsi Kab.500 2.000 20 1.050 20 9. Bojonegoro Kab.800 20 1.480 1. Sampang Kab.050 20 900 7.200 225 100 300 50 100 1.480 1. Barito Timur Kab.000 2.000 20 300 5.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Padi Non Padi Hibrida Hibrida Hanya Peningkatan Bantuan IP Benih 1.000 3.500 1.500 5.800 100 2.

000 2.000 1.900 17.000 8. Sangihe 10 Kab. Kota Baru 7 Kab.000 1.000 5.100 1. Kutai Timur 5 Kab. Banjar 2 Kab.000 125 495 1.950 10.500 2.000 400 100 1. Minahasa 3 Kab.500 500 2.700 300 15.100 350 900 10.100 100 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 10. Kep. Minahasa Selatan 5 Kota Tomohon 6 Kab.000 7.000 10. Tanah Laut 9 Kab.400 600 2.775 2.250 16 KALSEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 8.625 48. Bolmang Timur 12 Kep Siau Tagulandang B 13 Kota Bitung 14 Kota Manado 15 Kota Kotamobagu Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.275 1.000 15.695 1.450 12.700 1.500 600 1. Bolmong Utara 9 Kab.000 33.770 1.500 1.500 1.000 4. Barito Kuala 3 Kab. Berau 2 Kab.000 1.350 495 500 350 795 750 375 495 500 325 600 1.200 200 1.200 4. Kutai Barat 4 Kab. Bulungan 3 Kab.000 390 70 150 2.650 550 550 550 1.350 9.000 750 650 1.995 250 500 300 750 1. Bolmang Selatan 11 Kab. Tabalong 8 Kab.000 500 3.600 315 2.500 170 1. Nunukan 7 Kab.000 16.750 600 2.000 7.500 400 1. Bolaang Mangondow 2 Kab. Tenggarong 18 SULUT Dinas Propinsi 1 Kab.450 1. Hulu Sungai Selatan 4 Kab. Penajem Paser Utr 9 Kab.000 23.000 3.500 2.000 1. Hulu Sungai Utara 6 Kab.100 1.450 2.000 2.000 1.525 3.950 3.000 630 700 2.250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 400 50 50 50 50 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 125 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 7 23 25 25 25 25 25 - 4 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 10 1 3 2 1 2 - - - - 2 39 2 - - 1 - - 2 48 2 2 - 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 103 | P a g e .500 14.500 3. Tanah Bumbu 12 Kota Banjarmasin 13 Kota Banjar Baru 14 Kab Tala 17 KALTIM Dinas Propinsi 1 Kab.650 1.000 11. Kutai Kertanegera 10 Kota Balikpapan 11 Kota Bontang 12 Kota Samarinda 13 Kota Tarakan 14 Kab. Balangan 11 Kab. Minahasa Tenggara 8 Kab.000 8. Tapin 10 Kab.000 2.650 300 2. Pasir 8 Kab. Hulu Sungai Tengah 5 Kab.650 7.100 550 550 1.500 200 2.200 400 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 137. Malinau 6 Kab.450 2. Tana Tidung 15 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.250 1.450 20.575 250 1.000 840 500 1. Talaud 4 Kab.500 900 100 500 400 100 1. Minahasa Utara 7 Kab.125 750 1.500 4.

Buton 2 Kab.500 2.375 19.300 600 2.000 7.500 500 7. Tojo Una-Una 9 Kab.450 10.500 1.020 2.500 600 2.900 1.250 450 4.500 800 920 70 1. Kolaka 4 Kab.500 5.800 5.100 750 300 810 750 500 500 650 1.500 900 350 500 4.680 70 2. Toraja Utara 23 Kota Pare-Pare 24 Kota Makassar 21 SULTRA Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.250 1.550 850 4.800 1.430 70 2. Konawe 3 Kab. Barru 3 Kab.025 495 900 765 1.650 1.500 3.200 250 800 300 1. Poso 7 Kab.000 - 19 SULTENG Dinas Propinsi 1 Kab. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab.500 1. Buol 3 Kab.500 500 1.500 1.000 2.000 300 4.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 500 5. Konawe Utara 10 Kab.000 1. Toli-Toli 4 Kab.950 2. Luwu Timur 22 Kab.000 73.350 3.500 10. Banggai Kepulauan 10 Kab.500 7. Maros 11 Kab.100 1. Selayar 14 Kab. Luwu Utara 10 Kab. Luwu 9 Kab.500 2.000 29. Konawe Selatan 6 Kab. Bulukumba 5 Kab.000 3.500 7.930 70 1.500 900 11.000 1.000 7.250 2.550 350 1.000 450 600 11.000 9. Buton Utara 11 Kota Bau-Bau 12 Kota Kendari Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.930 70 1.100 1.500 1.430 70 2. Sidenreng Rappang 15 Kab.300 2.950 70 1.805 20.500 12.250 2.690 1.500 11.000 17.430 70 3. Donggala 5 Kab.000 7.500 3.930 70 500 825 500 930 70 250 750 375 600 10.000 625 73.280 2. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 73.000 182. Tana Toraja 19 Kab.930 70 4.000 500 8. Soppeng 17 Kab.000 1.450 20.500 3.250 1.450 2.400 4. Bombana 7 Kab.400 14. Jeneponto 8 Kab.930 70 2.650 550 550 550 1.000 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 750 2. Takalar 18 Kab.000 50 1.500 12.000 15.645 2. Gowa 7 Kab. Pangkep 12 Kab.310 2. Muna 5 Kab.000 300 375 750 375 150 350 2.980 300 950 70 1.450 4.000 6. Wakatobi 8 Kab.000 950 50 450 1.000 11. Banggai 2 Kab.500 750 900 1.500 3.310 35.430 70 2.000 2.200 4.250 50 900 70 1.000 16.500 10.000 25. Pinrang 13 Kab. Bone 4 Kab.000 4.550 2.950 5. Enrekang 6 Kab.125 900 700 1.450 7.430 70 2.000 7.000 700 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 100 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 9 2 2 3 2 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 56 SLI (unit) 2 375 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 34 2 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 4 2 4 2 2 - - 2 - - 3 104 9 1 1 - 1 - - - 2 50 2 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 104 | P a g e .500 12. Kep.150 150 1.000 1. Kolaka Utara 9 Kab.000 1. Sinjai 16 Kab. Morowali 6 Kab.680 70 2. Bantaeng 2 Kab. Parigi Moutong 8 Kab. Sigi 11 Kota Palu 20 SULSEL Dinas Propinsi 1 Kab.100 1.100 550 550 1.930 70 3.000 1.

500 500 30.500 7. Sumbawa 7 Kota Bima 8 Kab. Kepulauan Aru 6 Kab.200 600 600 1.500 3.000 100 1. Lembata 6 Kab.000 3. Sabu Raijua 21 Kota Kupang 25 MALUKU Dinas Propinsi 1 Kab.500 25.500 300 600 500 1.350 7. Flores Timur 4 Kab.000 1.500 1.375 2.450 5.750 50 900 1.000 4.500 1.400 2. Badung 2 Kab.000 4. Kupang 5 Kab. Lombok Tengah 5 Kab.000 3. Timor Tengah Utara 13 Kab. Jembrana 6 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 33.200 1.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 2.500 5.000 10. Maluku Barat Daya 10 Kota Ambon 11 Kota Tual Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Seram Bag Timur 8 Kab. Buru Selatan 9 Kab.050 750 450 50 9.000 3.000 32.000 9. Bima 2 Kab.500 20. Lombok Barat 4 Kab. Seram Bag Barat 7 Kab.300 300 250 900 400 100 1.400 14.050 450 300 200 300 1.575 450 600 1. Pulau Buru 5 Kab. Alor 16 Kab.500 1. Sumba Barat Daya 19 Kab. Bangli 3 Kab.500 500 3.100 1.575 900 450 1.500 19.650 2.450 750 300 4.000 2.000 2. Ende 3 Kab.000 3.000 2. Buleleng 4 Kab. Sikka 9 Kab.500 2.500 59.000 1.500 1. Lombok Timur 6 Kab.000 4.950 5. Maluku Tngra Barat 2 Kab.000 1. Sumba Timur 11 Kab.200 200 50 450 450 1.475 875 200 50 1.500 7.800 1.850 3.500 6. Maluku Tenggara 4 Kab.500 1.000 3.900 4.300 1.000 5.900 300 1. Sumbawa Barat 9 Kab.000 6.000 1. Rote-Ndao 14 Kab.000 2. Maluku Tengah 3 Kab.000 1.000 500 500 1. Dompu 3 Kab.100 1.500 9.800 450 6.Pedoman Pelaksanaan Program No.250 750 1.100 550 550 1.000 1.500 900 450 5.800 15.500 500 450 50 1.000 2.275 3.500 50 900 100 5.000 450 50 450 450 1. Manggarai 7 Kab.650 500 500 150 700 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 150 50 50 50 500 50 50 100 50 100 50 50 50 250 50 50 50 50 50 150 50 50 50 Jagung 400 50 50 50 50 100 50 50 Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 2 1 3 1 18 4 2 1 3 3 4 1 4 2 2 3 2 2 Kedelai 2 2 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 57 SLI (unit) 1 150 25 25 25 25 25 25 4 2 1 - - 2 52 5 2 1 1 1 - - - 12 - 3 54 3 3 3 3 3 26 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 105 | P a g e . Karangasem 7 Kab. Manggarai Barat 15 Kab.500 500 900 100 900 2.250 1.500 900 100 1.000 500 450 50 9.500 1.000 4.450 4.350 450 1. Tabanan 9 Kota Denpasar 10 Kab. Negara 23 NTB Dinas Propinsi 1 Kab.000 5. Nagekeo 17 Kab.000 2. Lombok Utara 10 Kota Mataram 24 NTT Dinas Propinsi 1 Kab. Timor Tengah Selatan 12 Kab.000 750 8. Gianyar 5 Kab.450 117.000 10.900 450 100 900 1.000 14. Belu 2 Kab. Klungkung 8 Kab.500 - 22 BALI Dinas Propinsi 1 Kab. Sumba Barat 10 Kab.500 1. Manggarai Timur 20 Kab. Ngada 8 Kab. Sumba Tengah 18 Kab.

Supiori 21 Kab Deiyai 22 Kab. Kepulauan Sula 5 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 10. Tolikara 16 Kab. Pandeglang 3 Kab. Puncak 29 Kab. Asmat 19 Kab.000 50 775 1.000 - Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Biak Numford 2 Kab. Jayapura 3 Kab. Paniai 8 Kab.000 500 400 100 10.000 500 500 - 26 PAPUA Dinas Propinsi 1 Kab. Yahukimo 14 Kab. Halmahera Timur 4 Kab. Pegunungan Bintang 15 Kab.100 400 100 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 100 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 1 1 2 2 10 4 1 2 3 1 1 1 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 4 Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 20 SLI (unit) 1 1 - - - - - 3 25 1 50 - 2 - - 3 55 3 25 25 2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 106 | P a g e .500 500 850 150 11. Membramo Tengah 27 Kab.500 500 500 7.000 1.975 100 450 50 500 250 1.000 875 148. Nduga 28 Kab. Boven Digoel 17 Kab. Membramo Raya 26 Kab. Halmahera Selatan 6 Kab. Dogiyai 23 Kab.600 150 150 1.150 1.000 1.Intan Jaya 24 Kab.200 400 100 700 400 100 300 100 300 500 100 2. Halmahera Utara 7 Kab.000 500 8.Pedoman Pelaksanaan Program No. Jayawijaya 4 Kab. Keerom 13 Kab.500 3. Waropen 20 Kab.500 500 850 150 2. Tangerang 5 Kota Cilegon 6 Kota Serang 7 Kota Tangerang 8 Kota Tangerang Selatan SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 150 1. Halmahera Barat 3 Kab. Lebak 2 Kab.000 1. Pulau Morotai 8 Kota Ternate 9 Kota Tidore Kepulauan 28 BANTEN Dinas Propinsi 1 Kab.500 500 25. Halmahera Tengah 2 Kab.375 750 750 4.000 2.000 39. Sarmi 12 Kab.000 150 3. Mappi 18 Kab.500 41. Merauke 5 Kab. Mimika 6 Kab. Nabire 7 Kab. Puncak Jaya 9 Kab. Lanny Jaya 25 Kab. Yalimo 27 MALUT Dinas Propinsi 1 Kab.500 44. Kep Yapen Waropen 10 Kota Jayapura 11 Kab.000 450 5.500 19. Serang 4 Kab.

000 2. Sungai Liat 30 GORONTALO Dinas Propinsi 1 Kab.000 9.750 1. Bangka Selatan 4 Kab. Belitung 3 Kab.500 5.500 2. Kaimana 8 Kab. Marisa 31 KEPRI Dinas Propinsi 1 Kab.250 1.000 450 3. Limboto 8 Kab. Kep. Bangka Tengah 7 Kota Pangkal Pinang 8 Kab.400 400 1. Natuna 2 Kab. Majene 3 Kab.500 7.000 1.500 750 2. Mamuju 2 Kab.900 5.750 38.000 1.000 5.100 550 550 29 BABEL Dinas Propinsi 1 Kab. Bintan 3 Kab.125 1. Fak-Fak 4 Kab. Teluk Bintuni 6 Kab.450 2.000 2. Pohuwato 4 Kab.150 2.500 63.950 19. Mamuju Utara 5 Kab. Bangka 2 Kab. Teluk Wondama 7 Kab.500 12.400 375 500 400 375 500 200 1.000 2.500 3. Gorontalo utara 6 Kota Gorontalo 7 Kab.500 675 820 450 500 225 60 100 375 700 100 60 100 50 125 225 100 2.000 1.500 5.000 1. Gorontalo 3 Kab.100 1.125 700 500 1.000 2.000 2. Mamasa 4 Kab.500 225 7.025 19. Anambas 6 Kota Batam 7 Kota Tanjung Pinang 8 Kab Dumai 32 PAPUA BARAT Dinas Propinsi 1 Kab. Blitung Timur 5 Kab. Sorong Selatan 9 Kota Sorong 10 Kab.500 3. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 3. Boalemo 2 Kab. Maybrat 11 Kab Tambrauw 33 SULBAR Dinas Propinsi 1 Kab.300 5. Manokwari 3 Kab. Sorong 2 Kab.075 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 450 1. Lingga 5 Kab. Bone Bolango 5 Kab.000 3.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 1.000 1.500 21.000 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 250 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 2 4 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 15 SLI (unit) - - 1 - - - 3 42 2 3 1 - 1 - - - - - - - - - 3 1 2 - - - - 6 1 2 3 20 1 1 1 1 2 2 - - - - - - 2 33 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 107 | P a g e . Bangka Barat 6 Kab.000 1.000 1. Polewali Mandar SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.450 6.000 1.000 3. Karimun 4 Kab. Raja Ampat 5 Kab.100 1.250 2.000 1.100 550 550 1.000 5.

Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 108 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 15.

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 16. Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah RPJM RENSTRA Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Rencana Kerja dan Angaran (RKA) Penetapan Kinerja (PK) Kinerja Aktual Lapuran Keuangan (SAI) LAKIP Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 109 | P a g e .

PK) Pengukuran Kinerja Pelaporan Kinerja Evaluasi Kinerja Capaian Kinerja Nilai Total BOBOT 35 20 15 10 20 100 Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 110 | P a g e . 1 2 3 4 5 KOMPONEN YANG DINILAI Perencanaan Kinerja (Renstra. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah NO. RKT.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 17.

Evaluasi dan Pelaporan BAPPENAS Nasional Outcome/Impact Nasional Kementerian Pertanian Sektor/ Program Outcome/Impact Sektor Unit Eselon I Program Outcome Unit Eselon II. Alur Sistem Pemantauan. UPT Pusat.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 18. Dekon/TP SKPD Provinsi Kegiatan Output Tugas Pembatuan di SKPD Kab/Kota Kegiatan Output Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 111 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan
WAKTU PENYAMPAIAN

NO. I. 1.

JENIS LAPORAN LAPORAN RUTIN Laporan PP 39/2006

PELAPOR

PENERIMA LAPORAN

Setjen Kementerian Pertanian

14 hari kerja setelah triwulan terakhir 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir

Form-A Form-B Form-C

2. 3.

Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Penetapan Kinerja Es-II Penetapan Kinerja Es-I Penetapan Kinerja Kementerian Pertanian LAKIP Eselon-II LAKIP Eselon-I LAKIP Kementerian Pertanian

Penanggung jawab kegiatan Penanggung jawab program Kepala SKPD Kab/Kota, Prov, Satker Pusat, UPTPusat Eselon - I Eselon-II Eselon-I Kementerian Pertanian Eselon - II Eselon - I Kementerian Pertanian Eselon-I Eselon - I Eselon - I Eselon - I Eselon – II Eselon – I Kementan Eselon - I

Penanggung jawab program Kepala Satker masing-masing Instansi Kepala Daerah Cq Kepala Bappeda dan Menteri Pertanian

Bappenas Eselon-I Menteri Pertanian Kementerian PAN & RB

Tahunan / lima tahunan 31 Januari 15 Februari 31 Maret 31 Januari T + 1 15 Februari T + 1 10 Maret T + 1

4. 5. 6. 7.

Rapim Kementan (Rapim A) Tindak lanjut Rapim A Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Laporan Kinerja Eselon – II Laporan Kinerja Eselon - I Laporan Kinerja Kementan

Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Eselon I Menteri Pertanian Menteri PAN & RB Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai permintaan

Dua mingguan Sesuai jadwal Bulanan Bulanan 10 Desember 15 Desember 20 Desember Sesuai Permintaan Sesuai Permintaan

II. 8. 9.

LAPORAN KHUSUS Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet / RDP / Raker DPR-RI Insidental lain

Catatan : Sumber:

Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 20. Mekanisme Penyusunan Kementerian/Lembaga RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran

1.

SATKER Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL dan tata cara pengisiannya. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi program Aplikasi RKA-KL. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL. Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut: a. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan: 1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. 2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru, Satker menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item biaya. b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang direncanakan. b. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan: 1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker. Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program, kegiatan, akun pendapatan, dan jenis penerimaan.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau penerimaan fungsional. 2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional). c. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa: 1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK). 2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG. Penggunaan GBS mengacu pada contoh format. 3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan Satuan Kerja BLU. 4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya kegiatan/output, atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya. 6) Data pendukung terbaik, antara lain berupa: a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait, disampaikan kepada Unit Eselon I.

d.

2.

UNIT ESELON – I a. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan. b. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL. c. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran; (2) sumber dana, dan (3) sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output). d. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada masing-masing KK RKA-KL. e. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program, Unit Eselon-I melakukan koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL. f. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Hasil. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra Unit Eselon-I) 2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan. 3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan 4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang berjalan dan yang diusulkan. g. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL, Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I, Formulir 3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain: 1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai, sarana, dan prasarana) dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja). 2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan. 3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng sedang berjalan dengan yang diusulkan.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 114 | P a g e

e. 3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari rupiah murni. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit Eselon – I. 2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung Jawab. i. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L. Mengisi informasi pada Bagian I. Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Sasaran Strategis. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 115 | P a g e . K/L melakukan koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I berkenaan. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan: 1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran K/L). Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L. c. g. antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra K/L).Pedoman Pelaksanaan Program h. Pinjaman Hibah Luar Negeri. 3. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L. KEMENTERIAN / LEMBAGA a. (3) sasaran kinerja. Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran. 2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian Keuangan c.Kementan.q. dan PNBP (sumber pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak diperbolehkan berubah/bergeser). Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai sasaran strategis. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan. f. (2) Simber dana. b. d. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program.

Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi angagran K/L. KK RKA-KL. maka K/L menyesuaikan RKA-KL. K/L menyesuaikan RKA-KL dengan: a. b. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 116 | P a g e . penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTIM). Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L.Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka. d. 3. RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl.Kementan. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL. Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. Usulan program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 21. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. 2. 2. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. dan usulan program/kegiatan/output baru maka. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR terdapat dalam formulir B. parameter non-ekonomi. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. ada beberapa kemungkinan: 1. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. c. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka.

Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA. 5. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 22. DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA. 6a. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan 1. 3. Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi KPA. 4. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 2. akan ditetapkan Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA. SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN. akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan menyampaikannya ke KPA. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL). Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKAKL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu). 6b.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 117 | P a g e . 6.

KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker). KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui. mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. 5.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 118 | P a g e . KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi. 3. 6. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker. akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke KPA. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/ Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1. dilakukan pengesahan DIPA Revisi dan disampaikan ke KPA. 2. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 7. 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 23.

2a. 5. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan melakukan pengesahan DIPA Revisi. 3. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 4. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA. jika tidak terjadi perubahan DIPA. KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN berserta ADK RKA-Satker. 2.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 119 | P a g e . KPA mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKASatker. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKASatker) sesuai kewenangannya. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 24. 6. KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA.

10. 7.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 25. dikirimkan kembali kepada Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Wilayah DJPBN. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. 6. 2b. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. 4a. 4b. 5. 9a. Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL). 8b. sebagai bahan pencocokan dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran 1. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL dilakukanpenelaahan pada DJA. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL). data revisi ditransfer ke database Kantor Pusat DKPBN. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA. disampaikan kepada KPPN. 3. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. 2a.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 120 | P a g e . ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA. 8a. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama. data RKA-KL diunggah (di-upload) ke Database bersama oleh DJA.

Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1a. 2b. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. disampaikan kepada KPPN. 3a. 1b. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN. 4. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. disampaikan kepada KPPN. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN. 2a.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 121 | P a g e . Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. 3b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 26. data revisi ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN.

02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 122 | P a g e . disampaikan kepada KPPN. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama. 2b. disampaikan kepada KPPN. ADK POK revisi satker kantor pusat. 3b. 4. ADK POK revisi satker daerah. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1a. 2a. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN. 1b. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor pusat/daerah.. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN. 3a. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 27. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->