Anda di halaman 1dari 19

1.

KADAR EKIVALEN

BATAS,

NISBAH

PENGUPASAN,

KADAR

1.1 PERHITUNGAN KADAR BATAS (CUT-OFF GRADE) A. Kadar Batas Pulang Pokok (Break Even Cut-off Grade = BECOG) a. Dalam teori ekonomi, analisis pulang pokok terdiri dari penentuan nilai parameter yang diinginkan (misalnya: berapa jumlah produk yang harus dijual) sedemikian rupa sehingga pendapatan tepat sama dengan ongkos atau biaya yang dikeluarkan (keuntungan = nol). b. Dalam pertambangan, yang ingin kita ketahui adalah berapa kadar bijih yang menghasilkan angka yang sama antara pendapatan yang diperoleh dari penjualan bijih tadi dengan biaya yang dikeluarkan untuk menambang serta memrosesnya. Kadar ini dikenal dengan nama kadar batas pulang pokok atau break even cut-off grade. c. BECOG =

Ongkos (Mine + Mill + G& A) (Harga Jual - SRF) x Mill Rec x Smelter Rec x Faktor

d. Biasanya hanya biaya atau ongkos operasi langsung yang diperhitungkan dalam penentuan cut-off grade. Ongkos-ongkos

kapital dan biaya tak langsung seperti penyusutan (depresiasi) pada umumnya tidak dimasukkan. Untuk keperluan perancangan batas akhir penambangan (pit design), asumsi yang diambil adalah bahwa umur tambang cukup panjang sehingga depresiasi tidak lagi merupakan faktor yang penting. Mengapa ? Karena pada tahap terakhir dari penambangan, di mana batas lereng akhir dari tambang telah dicapai, kapital dan peralatan telah terdepresiasi secara penuh.

Optimasi Batas Penambangan - 1

B. Kadar Batas Internal (Internal Cut-off Grade = ICOG) a. Jika diasumsikan bahwa satu ton material pasti akan ditambang, berapa kadar minimum yang akan menghasilkan kerugian lebih kecil dari dua alternatif berikut : mengirimkan material hasil penambangan ke pabrik pemrosesan, atau mengirimkan material ini ke tempat pembuangan? (Ingat bahwa ongkos penambangan walau

bagaimanapun tetap harus dikeluarkan). b. Gunakan persamaan yang sama (seperti untuk BECOG), hanya dalam hal ini ongkos penambangan tidak dimasukkan. Jadi untuk menghitung ICOG, ongkos penambangan = nol. C. Kadar Batas Proses a. Bilakah kita dapat memperhitungkan cut-off grade tanpa memasukkan ongkos-ongkos G&A? i. Bila tingkat produksi dari pabrik pemrosesan bijih telah ditentukan, misalnya untuk pabrik flotasi bijih sulfida, maka perhitungan cut-off
grade harus memasukkan ongkos G&A.

ii.

Sebaliknya, bila tingkat produksinya tidak tertentu seperti pada kasus pelindian bijih oksida di leach pad, argumen bahwa kadar batas dapat dihitung tanpa memasukkan ongkos-ongkos G&A adalah argumen yang dapat diterima. Selama jangka waktu satu tahun pasti akan ada bijih berkadar lebih tinggi yang dapat menutupi biaya-biaya ini.

iii. Kadar batas ini kadang-kadang disebut kadar batas pengolahan (process cut-off), yakni kadar terendah yang dapat menutupi

biaya pengolahan langsung. Dalam operasi penambangan, jika anda mempunyai pabrik pengolahan (mill) dan tambang mengalami kekurangan bijih yang akut, maka process cut-off ini biasanya merupakan kadar terendah yang masih dapat

dipertimbangkan untuk dikirimkan ke pabrik. Namun demikian,

Optimasi Batas Penambangan - 2

tujuan dari perencanaan tambang jangka panjang adalah menghindari keadaan di atas.

1.2 NISBAH PENGUPASAN PULANG POKOK (BREAK EVEN STRIPPING RATIO = BESR)

A. Nisbah pengupasan didefinisikan sebagai nisbah dari jumlah material penutup (waste) terhadap jumlah material bijih (ore). Pada tambang bijih, nisbah ini biasanya dinyatakan dalam ton waste / ton ore. Di tambang batubara sering dipakai m3 waste / ton batubara. SR =
Ton Waste Ton ore atau SR = Ton total -1 Ton ore

Untuk geometri penambangan yang ditetapkan, nisbah pengupasan merupakan fungsi dari kadar batas. B. Jika kadar bijih diketahui dan jika semua keuntungan bersih dari menambang bijih tersebut dipakai untuk mengupas tanah penutup (waste stripping), berapa jumlah tanah penutup yang dapat dikupas? konsep BESR. BESR = (Pendapatan - Ongkos Penambangan & Pengolahan) / ton bijih Ongkos Pengupasan / ton waste Inilah

C. Catatan :

Nilai BESR adalah 0 pada titik BECOG (tidak dapat mendukung stripping). Untuk harga komoditas, perolehan, ukuran pabrik, tingkat produksi dan ongkos tertentu, BESR merupakan fungsi linier dari kadar bijih. BESR merupakan masukan dalam metoda perancangan tambang secara manual.

Optimasi Batas Penambangan - 3

1.3 PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN

A. Bilamana dalam cebakan bijih kita dapati lebih dari satu mineral (utama dan ikutan), biasanya perlu dipakai konsep kadar ekivalen untuk mengevaluasinya. B. Pertama kali, kita definisikan dahulu NSR (Net Smelter Return) sebagai nilai kotor dari satu ton bijih setelah dikurangi dengan ongkos-ongkos
smelting, refining dan freight (SRF).

C. Tahap-tahap perhitungan kadar ekivalen (misalnya Cu Ekivalen) adalah sbb : a. Hitung NSR dari 1 ton (atau 1 tonne) tembaga yang berkadar bijih 1%. b. Hitung NSR dari 1 ton (atau 1 tonne) mineral ikutan, misalnya moly dengan kadar 1% (atau emas dengan kadar 1 oz/ton atau 1 g/tonne, dst). c. Hitung faktor ekivalensi sebagai nisbah (ratio) antara NSR untuk mineral ikutan terhadap NSR untuk mineral utama. d. Jadi kadar Cu Ekivalen = Total Cu + Faktor x Moly e. Jika kadar Total Cu dan kadar moly (emas, perak, dst.) dalam blok diketahui, maka kadar Cu Ekivalen dari blok tersebut dapat dihitung. D. Kadar Ekivalen dapat pula dipahami atau didefinisikan sebagai kadar yang menghasilkan gabungan nilai NSR dari semua mineral yang ada. E. Kadang-kadang lebih mudah bagi kita untuk menggunakan nilai NSR dan bukan kadar ekivalen. a. Hitung nilai NSR untuk suatu blok dan gunakan angka ini sebagai sebuah variabel ekonomik untuk perencanaan tambang. b. Kadar batas pulang pokok (BECOG) hanyalah mengandung ongkos-ongkos penambangan, pengolahan dan G&A. Perolehan mill
Optimasi Batas Penambangan - 4

dan smelter, ongkos-ongkos SRF dan harga komoditas sudah diperhitungkan dalam NSR.

PERHITUNGAN KADAR BATAS

Contoh untuk Cu :

Ongkos Penambangan (Mining Cost) Ongkos Pengolahan (Milling Cost) Ongkos G & A Perolehan Pabrik (Mill Recovery) smelting, refining, freight Perolehan Smelter (Smelter Recovery) Harga Tembaga

per ton material per ton bijih per ton bijih per pound product per pound

$ 0.75 $ 3.25 $ 0.25 94% $ 0.275 96.15% $ 0.95

Penghasilan = Biaya (titik pulang pokok ; untuk satu ton bijih) Harga x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill + G&A) + SRF x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 Harga x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 - SRF x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill + G&A) (Harga - SRF) x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill + G&A) Ongkos (Mine + Mill + G& A) Kadar Batas Pulang Pokok = (Harga - SRF) x Mill Rec x Smlt Rec x 20 ( BECOG ) =
$ 0.75 + $ 3.25 + $ 0.25 ($ 0.95 - $ 0.275) x 0.94 x 0.9615 x 20

BECOG = 0.35% Cu
Catatan :

Angka 20 adalah faktor konversi dari % ke pound (dengan satuan pound per persen). Untuk proyek dengan satuan metrik faktor konversinya adalah 22.046.

Optimasi Batas Penambangan - 5

Untuk logam mulia (mis : emas) tidak diperlukan faktor konversi karena satuannya sudah langsung dalam satuan produksi (oz/ton atau gram/ton).

PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN

Tembaga

Moly

Harga Komoditas Perolehan Pabrik Perolehan Smelter / Konverter Biaya Smelting Konversi per pound

$ 0.90 88% 96.1% $ 0.324

$ 3.00 70% 99% $ 0.81

1.

Hitung nilai NSR dari 1 ton bijih dengan kadar 1% Cu ($ 0.90 - $ 0.324) (1%) (0.88) (0.961) (20 lb/%) = $ 9.74

2.

Hitung nilai NSR dari 1 ton bijih dengan kadar 1% Moly ($ 3.00 - $ 0.81) (1%) (0.70) (0.99) (20 lb/%) = $ 30.35

3.

Faktor Ekivalen = NSR Moly / NSR Tembaga $ 30.35 / $ 9.74 = 3.1160

4.

Tembaga Ekivalen = Kadar Cu + 3.1160 x Kadar Moly

Optimasi Batas Penambangan - 6

PERHITUNGAN BESR

Cu Eq

NSR

BESR

0.266 0.30 0.35 0.40 0.45 0.50 0.55 0.60 0.65 0.70 0.75 0.80 0.85 0.90 0.95 1.00 1.05 1.10 1.15 1.20

3.40 3.83 4.47 5.11 5.75 6.39 7.03 7.66 8.30 8.94 9.58 10.22 10.86 11.50 12.13 12.77 13.41 14.05 14.69 15.33

-0.00 0.79 1.95 3.11 4.27 5.43 6.59 7.75 8.91 10.08 11.24 12.40 13.56 14.72 15.88 17.04 18.20 19.37 20.53 21.69

NSR dan BESR vs Cu Eq


25 20 NSR ($US) atau BESR 15 10 5 0 -5 0,2 0,4 0,6 0,8 Cu Eq (%) 1 1,2 1,4 NSR BESR

Optimasi Batas Penambangan - 7

2 PERANCANGAN BATAS AKHIR PENAMBANGAN (PIT LIMIT DESIGN)

2.1 KONSEP DASAR

A. Data yang ada : Model blok cebakan bijih


Data tekno-ekonomik (termasuk sudut lereng)

Pertanyaannya : Bagaimana menentukan batas akhir penambangan (bentuk / geometri dari final pit)? B. Kadar Batas Pulang Pokok (Break Even Cut-off Grade) dan Nisbah Pengupasan Pulang Pokok (Break Even Stripping Ratio): berdasarkan data ekonomik dan perolehan (recovery) kita dapat menghitung BECOG dan membuat suatu tabel yang menunjukkan BESR untuk berbagai kadar batas. C. Beberapa Algoritma Perancangan (Penentuan Pit Limit) a. Metoda Penampang (Manual Cross Section / 2-D) b. Pemrograman Dinamik 2-Dimensi (2-D Dynamic Programming atau Metoda Lerchs-Grossmann) c. Metoda Kerucut Mengambang (Floating Cone) 3-D d. Metoda Tiga Dimensi lainnya :
Teori Grafik (Graph Theory) 3-D Dynamic Programming Aliran Jaringan (Network Flow)

Optimasi Batas Penambangan - 8

2.2 PERANCANGAN TAMBANG : DEFINISI DAN DASAR PEMIKIRAN

A. Istilah perancangan tambang biasanya dimaksudkan sebagai bagian dari proses perencanaan tambang yang berkaitan dengan masalah-masalah geometrik. Di dalamnya termasuk perancangan batas akhir penambangan, tahapan (pushback), urutan penambangan tahunan / bulanan,

penjadwalan produksi dan waste dump. B. Aspek perencanaan tambang yang tidak berkaitan dengan masalah geometrik meliputi perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja, perkiraan biaya kapital dan biaya operasi. C. Penentuan Batas Penambangan (Final Pit Limit) a. Tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan batas-batas

penambangan pada suatu cebakan bijih (yakni jumlah cadangan dan kadarnya), yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan
bijih tersebut sebelum memasukkan faktor nilai waktu dari uang.

i.

Tidak diperhitungkannya nilai waktu dari uang akan menghasilkan bentuk pit yang paling besar untuk suatu set parameter ekonomik tertentu.

ii.

Dengan menambahkan faktor bunga (interest), besar pit akan berkurang.

b. Mengapa faktor nilai waktu dari uang tidak dimasukkan? Beberapa alasan : i. Untuk proyek dengan jangka waktu panjang (misal : lebih dari 15 tahun), tahap-tahap penambangan terakhir akan memiliki dampak yang minimal terhadap tingkat pengembalian modal atau rate of
return.

ii.

Selain itu, untuk proyek yang berjangka panjang seperti ini, cukup masuk akal bahwa faktor teknologi yang semakin canggih akan mengimbangi faktor nilai waktu dari uang.

Optimasi Batas Penambangan - 9

c. Walaupun butir (a) di atas merupakan tujuan yang paling umum, ada beberapa kasus - terutama pada cebakan bijih dengan nisbah pengupasan yang tinggi - di mana nilai waktu dari uang perlu dipertimbangkan pada tahap awal dari evaluasi. D. Berapa banyak energi yang harus dicurahkan untuk menentukan batas penambangan ? a. Pada fase kelayakan suatu proyek yang berjangka panjang, tahap-tahap penambangan terakhir akan memiliki dampak yang minimal terhadap rate of return. Karena itu, mencurahkan terlalu

banyak waktu untuk perancangan batas penambangan barangkali kurang memiliki alasan yang kuat. i. Usaha yang tidak begitu memakan waktu dapat meliputi penggunaan program floating cone atau 3-D Lerchs-Grossmann untuk menentukan pit limit, dan melakukan pengecekan awal apakah hasilnya masuk akal. ii. Studi sensitivitas dengan melakukan perubahan-perubahan kecil pada parameter pokok seperti sudut lereng, harga komoditas, ongkos-ongkos, dll. akan membantu dalam pemilihan skenario untuk dasar perancangan. b. Untuk proyek penambangan dengan jangka waktu yang relatif singkat, misalnya kurang dari 15 tahun, diperlukan energi dan waktu yang lebih banyak untuk menentukan batas penambangan, terutama bila lereng akhir (final pit walls) akan dibuat pada tahap-tahap awal. i. Usaha yang lebih serius dapat meliputi perancangan dua geometri pit yang berbeda, lengkap dengan jalan angkutnya dan dengan lereng akhir pada berbagai posisi yang berlainan, kemudian dipilih alternatif mana yang terbaik. c. Pada tahap-tahap belakangan, khususnya ketika lereng akhir dengan nisbah pengupasan yang relatif besar akan dibuat, energi yang besar perlu dicurahkan untuk perancangan pit limit ini.

Optimasi Batas Penambangan - 10

i.

Studi kelayakan yang memakan waktu beberapa bulan dapat dilakukan. Beberapa alternatif rancangan dapat dibuat untuk melihat detail dari penjadwalan produksi, kebutuhan alat serta ongkos-ongkos.

2.3 METODA PENAMPANG 2-DIMENSI (MANUAL)

A. Penentuan

batas

penambangan

secara

manual

membutuhkan Dua orang yang

pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya subyektif.

berbeda mungkin akan memperoleh batas-batas penambangan (pit limit) yang tidak persis sama. B. Deskripsi metoda penampang (2-D manual cross-sectional method) a. Mulai dengan model blok (skala horisontal = skala vertikal). Tentukan sudut lereng keseluruhan. Hitung BECOG dan buat tabel yang

menunjukkan BESR untuk berbagai kadar batas. b. Untuk setiap penampang tentukan batas penambangan (trial pit limit) pada sudut lereng tersebut. Temukan posisi lereng akhir di mana BESR kumulatif dari blok-blok bijih akan dapat membayar

pengupasan tanah penutupnya. c. Pindahkan trial pit limit dari penampang vertikal (cross-section) ke horisontal (level / plan map). Dalam memindahkan rancangan pit, hanya titik-titik pada level di mana terjadi perubahan rancangan yang berarti perlu dipindahkan. Level atau jenjang yang penting meliputi bagian atas dan bawah dari lereng yang panjang, dan jenjang di mana sudut lereng berubah. Tidak semua titik pada setiap jenjang perlu dipindahkan. d. Buat kontur batas penambangan pada penampang horisontal. Rancangan batas akhir penambangan harus cukup halus.

Menghubungkan setiap titik secara kaku pada level map tidak akan memberikan hasil yang diinginkan. Beberapa titik pada level map ini mungkin harus diabaikan.

Optimasi Batas Penambangan - 11

e. Untuk penampang-penampang (sections) di dekat ujung cebakan bijih, sudut lereng dapat dibuat sedikit lebih landai. f. Kuantitas dan kadar cadangan yang terdapat di dalam batas penambangan dapat ditabulasikan dari jumlah, berat dan kadar blok di tiap-tiap jenjang. C. Asumsi Implisit Metoda Penampang 2-D a. Walau bagaimanapun, penambangan di bagian tengah dari cadangan pasti akan terjadi. Kita hanya perlu menetapkan batas penambangan yang paling luar saja. b. Cebakan bijih memiliki bentuk cukup memanjang ke arah yang tegak lurus dari penampang-penampang vertikal yang digunakan. D. Pedoman Pokok Dalam Menentukan Batas Penambangan a. Setiap blok bijih yang akan ditambang harus dapat membayar atau mendukung pengupasan (stripping) dirinya sendiri. b. Jika sebuah blok bijih dapat ditambang karena kontribusi dari blok-blok bijih lain yang terletak di atasnya (dan pada jalur penambangan blok ini), maka blok bijih ini harus ditambang. Kontribusi dari tiap-tiap blok dapat dijumlahkan, jadi rata-rata untuk beberapa blok diperbolehkan. c. Jika dua blok bijih yang terpisah satu sama lain dapat ditambang karena kontribusi simultan dari pengupasan waste yang sama, maka kedua blok ini harus ditambang. d. Tidak ada blok waste yang boleh ditambang kecuali bila ia terletak pada jalur penambangan dari suatu blok bijih yang terletak di bawahnya.

Optimasi Batas Penambangan - 12

2.4 PEMROGRAMAN DINAMIK 2-D (METODA LERCHS-GROSSMAN)

A. Pemrograman Linier vs. Pemrograman Dinamik a. Pemrograman linier (linear programming) dirancang untuk proses satu tahap. Biasanya di dalamnya tidak terlibat elemen waktu atau urut-urutan berdasarkan waktu (one shot decision).

T (D, S) Masukan S

S' Keluaran S'

Keputusan D Return R1

Solusi optimal (yaitu nilai-nilai keputusan) diperoleh dengan mengikuti Algoritma Simplex. Tujuan : Mengoptimalkan R1 b. Pemrograman dinamik (dynamic programming) ditujukan untuk proses beberapa tahap (multi-stage process). Biasanya melibatkan elemen waktu dan keputusan-keputusan yang berurutan (sequential decisions). Critical Path Method atau CPM adalah suatu contoh baik. Proses multi-tahap merupakan suatu masalah di mana keputusan yang berurutan harus diambil, dan tiap keputusan akan

mempengaruhi ruang lingkup pengambilan keputusan berikutnya.

T (D,S) S D R R1

S' S'

T' (D',S') D' R' R2

S'' S'' ...

T* (D*,S*) S* D* R* Rn

S** S**

Tujuan : Mengoptimalkan R =

i=1

Ri

dengan memilih secara tepat

nilai-nilai variabel keputusan.

Optimasi Batas Penambangan - 13

Solusi optimal diperoleh dengan mengikuti Prinsip Optimalitas Dinamik dari Bellman yang intinya : apapun yang telah kita lakukan di masa yang lalu, keputusan-keputusan mendatang harus optimal relatif terhadap situasi saat ini. Solusi optimal ini merupakan suatu kumpulan keputusan-keputusan yang berurutan, misalnya sebuah kebijakan (policy). B. Pemrograman
Dinamik 2-Dimensi (Metoda Lerchs-Grossman)

memiliki motivasi bahwa pada dasarnya penentuan batas penambangan yang optimum menggunakan penampang (2-D cross section) mudah dilakukan. C. Asumsi-asumsi dasar a. Nilai ekonomik tiap blok diketahui / dapat dihitung. b. Sudut lereng keseluruhan diberikan sebagai masukan. c. Tujuan : memaksimalkan keuntungan total (nilai material yang ditambang dikurangi ongkos penambangan) D. Algoritma a. Sudut lereng i. Jika ukuran blok dalam model sudah pasti, tentukan jumlah blok ke atas dan ke bawah untuk setiap blok (pada penampang) yang paling mendekati kendala sudut lereng ii. Jika ukuran blok masih dapat diatur, pilihlah sedemikian rupa sehingga geometri ukuran blok sesuai dengan sudut lereng b. Hitung nilai ekonomik dari tiap blok, yaitu pendapatan dari nilai jual dikurangi ongkos penambangan blok tersebut, ongkos pengolahan dan ongkos G&A (general & administrative costs = overhead). Nilai ekonomik ini kita sebut sebagai nilai pertama dari blok atau mij. Pada penampang 2-dimensi, blok (i,j) terletak pada baris i dan kolom j.

Optimasi Batas Penambangan - 14

c. Hitung jumlah nilai ekonomik dari blok-blok yang berada di satu kolom dengan blok (i,j). Ini kita definisikan sebagai nilai kedua dari blok atau
Mij.
Mij =

mkj
k=1

d.

Pada penampang kita tambahkan baris 0, lalu hitung nilai ketiga dari
blok atau Pij sebagai berikut :

P0j = 0
kemudian, untuk tiap kolom mulai dari kolom 1 :

Pij = Mij + max (Pi+k, j-1)


Pi1, j1 Pij = Mij + max Pi, j1 P i+1, j1

untuk k = -1, 0, 1

atau

e. Beri tanda panah untuk menandai maksimum dari blok (i,j) ke blok (i+k, j-1). Tanda panah ini harus mengarah dari kanan ke kiri. i. ii. Untuk kolom pertama (j = 1), buatlah Pij = Mij Pij mewakili nilai paling besar yang dapat diperoleh dari penambangan blok (i,j) dan semua blok di atasnya, serta blok-blok di sebelah kirinya yang ditandai oleh tanda panah. e. Pilih jalur optimal (yang akan menandai kontur permukaan tambang atau batas penambangan) dengan mencari kolom j yang memiliki nilai Pij positif dan terbesar di permukaan (di baris 1). i. Kontur batas penambangan akan diperoleh dengan mengikuti arah anak panah dari kanan ke kiri, mulai dari blok ini. ii. Jika nilai Pij di permukaan (baris 1) semua negatif, berarti tidak ada blok yang ekonomik untuk ditambang pada penampang yang bersangkutan.

Optimasi Batas Penambangan - 15

2.5 METODA KERUCUT MENGAMBANG / FLOATING CONE (3-DIMENSI)

A. Tujuan Menentukan batas akhir satu tambang terbuka (ultimate pit limit) dengan menggunakan analisis ekonomik pulang pokok (break even economic analysis) a. Sasaran yang ingin dicapai dalam batas penentuan akhir batas akhir

penambangan

mengharuskan

tersebut

dihitung

menggunakan dasar ekonomik pulang pokok b. Keuntungan dari menambang tahapan bijih terakhir harus tepat membayar biaya pengupasan lapisan penutupnya B. Masukan Data Yang Diperlukan a. Model Blok Cadangan Bijih

Model komputer yang membagi cebakan bijih menjadi blok-blok yang seragam Tiap blok memiliki informasi tentang topografi, geologi dan taksiran kadar mineral Informasi yang disimpan dalam tiap blok cukup untuk menghitung nilai ekonomiknya dari data ekonomi yang ada

b. Data Ekonomik

Harga komoditas (Cu, Au, Ag, Mo, ., dll.) Semua ongkos-ongkos yang berkaitan dengan penambangan dan pengolahan bijih:
ongkos penambangan per ton bijih ongkos penambangan / pengupasan per ton lapisan penutup ongkos pengolahan (penggerusan, milling / leaching) per ton

bijih
perolehan (recovery) dari proses pengolahan

Optimasi Batas Penambangan - 16

ongkos peleburan, pemurnian dan pengangkutan (SRF) per

unit produk akhir komoditas


perolehan (recovery) dari peleburan dan pemurnian ongkos umum dan administrasi (G&A) per ton bijih ongkos royalti

c. Data Sudut Lereng


Satu sudut lereng yang sama untuk pit, atau Sudut lereng yang bervariasi dengan zona-zona di pit

d. Lebar Pit Bottom Minimum cukup untuk ruang kerja peralatan 3. Algoritma floating cone bekerja dalam dua tahap: a. Pada tahap pertama, taksiran kadar blok dan parameter ekonomik (harga komoditas, ongkos penambangan dan pengolahan, perolehan dan royalti) digunakan untuk membuat suatu model blok ekonomik. Setiap blok memiliki nilai moneter, blok bijih nilainya positif dan blok lapisan penutup (waste) negatif. Nilai uang ini mewakili keuntungan bersih dari penambangan blok yang bersangkutan. b. Pada tahap kedua analisis kerucut mengambang dilakukan terhadap blok-blok dalam model, dari atas ke bawah. Dasar (bagian lancip) dari suatu kerucut terbalik diletakkan di pusat setiap blok bijih (blok yang nilainya positif). i. Suatu analisis ekonomik kemudian dilakukan dengan

menjumlahkan nilai uang dari seluruh blok di dalam kerucut terbalik ini. Jika hasilnya positif, semua blok ini harus ditambang / dikeluarkan dari model dan tidak lagi

diperhitungkan dalam analisis berikutnya.

Optimasi Batas Penambangan - 17

ii.

Kerucut ini digerakkan secara sistematis dalam model blok hingga semua material yang ekonomis habis ditambang. Kerucut dimulai dari atas dan bergerak ke bawah, kemudian mulai lagi dari atas model blok untuk mengambil blok-blok yang mungkin sekarang menjadi ekonomis karena pengupasan material waste oleh blok-blok bijih di bawahnya. Ini akan berlangsung hingga tak ada lagi material yang dapat ditambang.

iii. Dinding lereng dari kerucut ini memiliki sudut yang sama dengan sudut lereng tambang yang ditentukan. iv. Jari-jari penambangan minimum atau lebar minimum pada pit
bottom merupakan salah satu masukan.

Biasanya jari-jari ini

dibuat berukuran 1.5 kali ukuran blok, sehingga luas / jumlah minimum di pit bottom adalah 9 blok (cukup untuk beroperasinya peralatan). v. Analisis kerucut mengambang ini menggunakan pendekatan blok utuh terdekat. Jadi, jika pusat blok berada di dalam kerucut maka seluruh blok itu dianggap berada dalam kerucut. vi. Sembarang bentuk
pit

dapat

didekati satu

dengan lain.

membuat
Overlap

kerucut-kerucut

overlapping

sama

dimungkinkan karena blok-blok yang ditambang pada kerucut sebelumnya berubah statusnya menjadi blok udara, sehingga tidak lagi diperhitungkan dalam analisis ekonomik kerucut berikutnya. Jika semua kerucut terbalik ini kita gabungkan, sebuah geometri pit akan terbentuk. Selubung paling luar dari bentuk pit ini berada pada posisi pulang pokok relatif terhadap data masukan (input) yang kita berikan. D. Aspek Lain : Penerapan metoda kerucut mengambang untuk

perancangan penahapan penambangan (pushback)

Optimasi Batas Penambangan - 18

a. Jika harga komoditas diturunkan, BECOG akan naik dan BESR akan turun. Geometri kerucut mengambang yang diperoleh akan menjadi lebih kecil dan cadangan tertambangnya lebih kecil pula.

b. Jika harga komoditas terus diturunkan, akan diperoleh suatu serial geometri pit (bentuk / geometri open pit dari besar ke kecil). Proses penambangannya akan mentargetkan dulu blok-blok dengan potensi keuntungan paling besar (untuk harga komoditas paling rendah). Blok-blok yang merupakan target berikutnya secara bertahap akan ditambang hingga batas akhir dari pit tercapai (pada harga komoditas yang diproyeksikan). c. Serial geometri pit ini menjadi indikator atau pedoman urutan pengambilan bijih. Hal ini amat berguna dalam merancang tahap-tahap penambangan (phase / pushback design).

Optimasi Batas Penambangan - 19