Anda di halaman 1dari 14

TUGAS TERSTRUKTUR KELOMPOK Kelembagaan Pedesaan dilihat dari aspek cultural dan aspek struktural (Diajukan untuk memenuhi

tugas mata kuliah Sosiologi Pedesaan)

Disusun oleh: No. 1. 2. Nama Wahyu Puspitasari M. Linaldi Danial A. NPM 150610100052 150610100065

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERTANIAN Jl. Raya Jatinangor Ujung Berung km.21 Bandung Telp / Fax (022) 7796316

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai kelembagaan pedesaan dilihat dari aspek structural maupun aspek cultural. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah Sosiologi Pedesaan beserta semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.

Jatinangor, 23 September 2011

Penyusun

Kelembagaan Pedesaan dilihat dari aspek cultural dan aspek struktural 1.1. Makna kelembagaan Kelembagaan merupakan satu konsep yang tergolong membingungkan, dan dapat dikatakan belum memperoleh pengertian yang mantap dalam ilmu sosiologi. Dalam banyak literatur teoritis, baik berbahasa Inggris maupun Indonesia, istilah kelembagaan (social institution) selalu disilangkan dengan organisasi (social organization). Kedua kata ini sering sekali menimbulkan perdebatan di antara para ahli. What contstitutes an institution is a subject of continuing debate among social scientist.. The term institution and organixation are commonly used interchangeably and this contributes to ambiguityand confusion. belum terdapat istilah yang mendapat pengakuan umum dalam kalangan para sarjana sosiologi untuk menterjemahkan istilah Inggris social institution. Ada yang menterjemahkannya dengan istilah pranata .. ada pula yang bangunan sosial. Meskipun belum sepakat, namun dapat diyakini bahwa kelembagaan adalah social form ibarat organ-organ dalam tubuh manusia yang hidup dalam masyarakat. Kata kelembagaan menunjuk kepada sesuatu yang bersifat mantap (established) yang hidup (constitued) di dalam masyarakat. Suatu kelembagaan adalah suatu pemantapan perilaku (ways) yang hidup pada suatu kelompok orang. Ia merupakan sesuatu yang stabil, mantap, dan berpola; berfungsi untuk tujuan-tujuan tertentu dalam masyarakat; ditemukan dalam sistem sosial tradisional dan modern, atau bisa berbentuk tradisional dan modern; dan berfungsi untuk mengefisienkan kehidupan sosial. Tiap kelembagaan memiliki tujuan tertentu, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki pola perilaku tertentu serta nilai-nilai dan norma yang sudah disepakati yang sifatnya khas. Kelembagaan adalah kelompokkelompok sosial yang menjalankan masyarakat. Tiap

kelembagaan dibangun untuk satu fungsi tertentu. Karena itu kita mengenal kelembagaan pendidikan, kelembagaan-kelembagaan di bidang ekonomi, agama, dan lain-lain. Jadi, dunia berisi kelembagaan-kelembagaan. Semua manusia pasti masuk dalam kelembagaan. Tidak satu, tapi sekaligus dalam banyak kelembagaan, mulai dari di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di tempat ibadah, dan lain-lain. Dikalangan agen-agen pembangunan pedesaan dan pertanian,

kelembagaan umumnya dipersempit terutama hanya menjadi kelembagaan kelompok tani, koperasi, subak, kelompok petani peserta program, dan kelompok pengrajin. Sebagian besar literatur hanya membanding-banding apa beda kelembagaan dengan organisasi. Setidaknya ada empat bentuk cara membedakan yang terlihat. Pertama, kelembagaan cenderung tradisional, sedangkan organisasi cenderung modern. Pembedaan atas tradisional dan modern ini sejalan dengan pembedaan yang diajukan oleh Horton dan Hunt: institution do not have members, they have followers. Kedua, kelembagaan dari masyarakat itu sendiri dan organisasi datang dari atas. Cara pembedaan ini relatif mirip dengan pembedaan di atas, namun ini tidak dalam konteks tradisional-modern, namun bawah-atas. Pendapat ini digunakan misalnya oleh Tjondronegoro: lembaga semakin mencirikan lapisan bawah dan lemah, dan organisasi mencirikan lapisan tengah dengan orientasi ke atas dan kota. Ketiga, kelembagaan dan organisasi berada dalam satu kontinuum, dimana organisasi adalah kelembagaan yang belum melembaga. Menurut Norman Uphoff, tujuan akhir adalah organisasi yang melembaga, atau kelembagaan yang memiliki aspek organisasi. Jadi, mereka hanya berbeda dalam tingkat penerimaan di masyarakat saja. Organisasi dipandangnya hanyalah sebagai sesuatu yang akan dilembagakan. Pendapat ini sedikit banyak juga berasal dari dari Huntington yang menyatakan: Organization and procedures vary in their degree of institutionalizationInstitutionalization is the process by which organizations and procedures acquire value and stability. Keempat, organisasi merupakan bagian dari kelembagaan. Dalam konteks ini, organisasi merupakan organ dalam suatu kelembagaan. Keberadaan organisasi menjadi elemen teknis penting yang menjamin beroperasinya kelembagaan. Jika ditelusuri perkembangan dalam khasanah ilmu sosiologi, pada awalnya istilah institution dan organization cenderung tidak dibedakan dan bahkan adakalanya digunakan secara bolak balik. Lalu, semenjak tahun 1950-an, mulai tampak pembedaan yang semakin tegas, bahwa kelembagaan dan keorganisasian berbeda. Artinya, terjadi perubahan dari pengertian yang luas dan baur menjadi sempit dan tegas.

Dari kacamata ekonomi, Binswanger dan Ruttan mengemukakan pandangan, bahwa: An institution is usually defined as the set of behavioral rules that govern a particular pattern of section and relationship. An organization is generally seen as a decision making unit a family, a firm, a bureau that exercise control of resources.. the concept of institution will include that of organization (Binswanger, Hans P. dan VW. Ruttan. 1978. Induced Innovation: Technology, Institutions and Development. The Johns Hopkins University Press, Baltimore and London. Hal. 329). Sumner pada tahun 1906 misalnya, masih memasukkan unsur struktur di bawah entry kelembagaan. Ini karena kelembagaan merupakan bagian yang ia nilai jauh lebih penting dari suatu kelompok sosial, karena menjadi nyawa kehidupan sosial. Sebaliknya, Durkheim (tahun 1897) dan Cooley (tahun 1909) memasukkan unsur-unsur nilai, norma, dan kepercayaan ketika mengkaji organisasi sosial. Pembedaan yang mulai tegas terlihat misalnya pada Mac Iver dan Page setelah setengah abad kemudian, yaitu pada bukunya yang terbit tahun 1949, serta L. Broom dan P. Selznik tahun 1950. (Dalam: Mitchell, G. Duncan. ed. 1968. A Dictionary of Sociology. Routledge and Kegan Paul, London). Secara sederhana, sesuatu sosial relation dapat disebut sebagai sebuah kelembagaan apabila memiliki empat komponen, yaitu adanya: 1. Komponen person. Orang-orang yang terlibat di dalam satu kelembagaan dapat diidentifikasi dengan jelas. 2. Komponen kepentingan. Orang-orang tersebut sedang diikat oleh satu kepentingan atau tujuan, sehingga di antara mereka terpaksa harus saling berinteraksi. Misalnya, sesama anggota kelompok tani diikat oleh kepentingan yang sama secara horizontal, namun antara seorang petani dengan pedagang gabah diikat oleh kepentingan vertikal. Keduanya sama-sama dipaksa untuk berinteraksi. 3. Komponen aturan dan aturan. Setiap kelembagaan mengembangkan seperangkat kesepakatan yang dipegang secara bersama, sehingga seseorang dapat menduga apa perilaku orang lain dalam lembaga tersebut. 4. Komponen struktur. Setiap orang memiliki posisi dan peran, yang harus dijalankannya secara benar. Orang tidak bisa merubah-rubah posisinya dengan kemauan sendiri.

1.2. Kelembagaan Berisi Dua Aspek, yaitu: Aspek Kultural dan Aspek Struktural Kebanyakan tulisan hanya membandingkan dan membedakan mana yang disebut dengan organisasi dan mana yang kelembagaan. Penulis belum menemukan tulisan yang mengupas bagian dalam dari kedua bentuk tersebut. Menghadapi itu, penulis mengajukan satu konsep yang mudah dan lebih operasional. Adalah tidak produktif jika hanya sekedar membedakan bahwa subak adalah kelembagaan, kelompok tani adalah organisasi. Secara keilmuan, seluruh apa yang dikenal dengan organisasi formal dan nonformal, lembaga formal dan nonformal, institusi, asosiasi, maupun kelembagaan; penulis sebut saja dengan kelembagaan. Jalan ini ditempuh, karena seluruhnya mengandung aspek yang sama. Dua aspek yang dimaksud yakni aspek kultural dan aspek struktural. Dalam buku terdahulu, penulis sebut dengan aspek kelembagaan dan aspek keorganisasian. Aspek kultural terdiri dari hal hal yang lebih abstrak yang menentukan jiwa suatu kelembagaan yaitu nilai, norma, dan aturan, kepercayaan, moral, ide, gagasan, doktrin, keinginan, kebutuhan, orientasi, dan lain-lain Misalnya Norman Uphoff (1992. Local Institutions and Participation for Sustainable Development. Gatekeeper Series SA31. IIED, London) dan A. Fowler (1992. Prioritizing Institutional Development: A New Role for NGO. Centres for Study and Development. Sustainable Agriculture Programme Gatekeeper Series SA35. IIED, London) terbaca bahwa kelembagaan adalah a complex of norms and behaviours that persist overtime by serving some socially valued purpose. Juga Soejono Soekanto (1999. Sosiologi: Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Cet ke 28 ), yang menyatakan bahwa kelembagaan adalah sebagai jelmaan dari kesatuan norma-norma yang dijalankan. Sementara, aspek struktural lebih statis, yang berisi struktur, peran, hubungan antar peran, integrasi antar bagian, struktur umum, perbandingan struktur tekstual dengan struktur riel, struktur kewenangan, hubungan kegiatan dengan tujuan, aspek solidaritas, keanggotaan, klik, profil, pola kekuasaan, dan lain-lain. Kedua aspek ini secara bersama-sama membentuk dan menentukan perilaku seluruh orang dalam kelembagaan tersebut. Keduanya, merupakan komponen pokok yang selalu exist dalam setiap

kelompok sosial, selemah atau sekuat apapun ia. Keduanya ibarat dua sisi mata uang dalam sebuah kelembagaan. Jika dianalogkan dengan sebuah gedung. Maka aspek kultural adalah berbagai bentuk aktivitas manusia yang bekerja di dalamnya, yang aliran manusia di dalamnya dikendalikan dan dibatasi oleh dinding, tangga, dan pintu. Bangunan itu sendiri, berupa dinding, tangga, dan pintupintunya itulah yang dimaksudkan dengan aspek strukturalnya. Dan, jika dianalogkan kepada sistem komputer, maka aspek kultural adalah software-nya, dan aspek struktural adalah hardware-nya. Hardware memberi kesempatan software apa yang dapat dioperasikannya, namun sekaligus juga membatasi. Demikian pula dalam kelembagaan. Aspek struktur organisasi misalnya merupakan wadah sehingga seluruh orientasi dan gagasan dapat dijalankan, namun bersamaan dengan itu ia pun membatasi apa yang dapat diwadahinya. Pembedaan atas aspek kultural dan aspek struktural akan sangat membantu untuk memahami untuk mendiagnosa apa penyakit yang sedang dihadapi sebuah kelembagaan. Sehingga kita tahu apa yang harus diperbaiki. Berdasarkan pembedaan itu pula, kita dapat mempelajari bagaimana sebuah kelembagaan terbentuk. Apa yang selama ini dikenal sebagai kelembagaan tradisional adalah kelembagaan yang terbentuk secara alamiah, dimana aspek-aspek kultural lebih dulu terbentuk dibandingkan aspekaspek strukturalnya. Lawannya adalah kelembagaan introduksi yang dibentuk melalui rekayasa sosial, dengan mendahulukan pembentukan struktur dan pengurusnya saja (aspek struktural). Pada kondisi ini, yang ada baru rangkanya saja, isinya belum. Ibarat kantor, yang ada baru gedungnya, namun orang-orangnya belum. Di kalangan ahli ilmu ekonomi berkembang apa yang disebut dengan ekonomi kelembagaan. Menurut Douglass C. North, kelembagaan ekonomi dibentuk oleh aturan-aturan formal (formal constraints) berupa rules, laws, dan constitutions; dan aturan informal (informal constraints) berupa norma, kesepakatan, dan lain-lain. Seluruhnya merupakan penentu bagaimana terbentuknya struktur masyarakat dan kinerja ekonominya yang spesifik. Tidak berbeda dengan North, menurut Lionel Robin, institutions adalah the rules of the game in economic, political

and social interactions. Ia merupakan wadah atau lingkungan dimana organisasi-organisasi hidup. (Institutions determine social organization).

Di kalangan ilmu ekonomi, ekonomi kelembagaan menurut Prof. Mubyarto adalah ilmu yang memperhatikan perbedaan-perbedaan budaya di masyarakat yang dipelajarinya. Sementara menurut Douglass C. North, kelembagaan ekonomi dibentuk oleh formal constraints berupa rules, laws, dan constitutions; dan informal constraints berupa norma, kesepakatan, dan lainlain; sedangkan institution adalah the rules of the game. Hal ini sejalan dengan Lionel Robin, yang menyatakan bahwa institutions adalah the rules of the game in economic, political and social interactions. Jadi, kelembagaan merupakan wadah tempat organisasi-organisasi hidup. Menurut Syahyuti (2003), kelembagaan/organisasi terdiri atas dua aspek, yakni: aspek kelembagaan (=aspek kultural) dan aspek keorganisasian (=aspek struktural). Aspek kultural merupakan aspek yang dinamis yang berisikan hal-hal yang abstrak, dan merupakan jiwa kelembagaan; yang berupa nilai, aturan, norma, kepercayaan, moral, ide, gagasan, doktrin, keinginan, kebutuhan, orientasi, dan lain-lain. Sementara aspek struktural merupakan aspek yang statis namun lebih visual yaitu berupa struktur, peran, keanggotaan, hubungan antar peran, integrasi antar bagian, struktur kewenangan, hubungan kegiatan dengan tujuan, aspek solidaritas, klik, profil, pola kekuasaan, dan lain-lain. Gabungan antara keduanya akan membentuk perilaku kelembagaan atau kinerja kelembagaan. 1.3. Analisis Kelembagaan Analisis kelembagaan pada prinsipnya adalah menggunakan aspekaspek kultural dan struktural dalam memahami sebuah kelembagaan, karena setiap kelembagaan memuat kedua aspek tersebut sekaligus. Penelitian kelembagaan pada sebuah desa misalnya, berarti mempelajari seluruh kelembagaan yang eksis di desa tersebut. Berbagai kelembagaan yang ada di pedesaan di antaranya adalah: kelompok tani, koperasi, kelembagaan permodalan, kelompok arisan warga, kelompok simpan pinjam, kelompok pengguna air irigasi (P3A), pemerintahan desa, kelembagaan pengolah hasil, kelembagaan perdagangan pupuk, kelembagaan perdagangan hasilhasil pertanian, dan lain-lain.

Analisis kelembagaan pada sebuah di desa dilakukan pada tiga level, yaitu: 1. Level superstruktur, yaitu mempelajari berbagai aturan dan kebijakan yang diciptakan pemerintah serta kondisi sosial, ekonomi, politik dan lingkungan alam yang memiliki pengaruh kepada bagaimana berjalannya sebuah kelembagaan/organisasi. 2. Level desa, yaitu mempelajari karakteristik sosial ekonomi masyarakat dimana kelembagaan tersebut hidup. Hal ini dipelajari melalui kuesioner Community Profile (lihat contoh kuesioner pada lampiran). 3. Level internal kelembagaan, yaitu mempelajari secara mendalam kondisi dan keberadaan kelembagaan yang ada di desa satu per satu. Hal ini dipelajari melalui kuesioner Organizational Profile, dimana satu kuesioner untuk tiap kelembagaan (lihat contoh kuesioner pada lampiran). 1.4. Lembaga Lembaga Kemasyarakatan Di Desa dalam buku sosiologi pedesaan kupasan lembaga-lembaga kemasyarakatan akan lebih banyak di tunjukan pada lembaga pemerintahan desa serta yang terkait dengan itu. Sebab, untuk masyarakat desa di Indonesia umumnya, lembaga pemerintahan ini memiliki peranan yang penting. Mengenai hal ini yang perlu kita ketahui adalah bahwa Indonesia mempunyai beragam suku, adapt istiadat dan budaya. Besarnya peranan lembaga pemerinthan di suatu desa sangat berbeda dengan desa yang lain. Untuk desa yang di dasarkan pada hubngan darah sangat berbeda dengan desa yang berdasarkan pada hubungan kedaerahan. System desa yang pertama kepemimpinan desa tidak begitu berpengaruh, karena masyarakatnya di bentuk oleh kebiasaan adapt istiadat, sedangkan desa yang kedua system kepemimpinan desa sangat berpengaruh, di dalamnya ada suaatu bentuk kerja sama dengan melakukan pemilihan kepala desa yang di pilih. Adapun lembaga kemasyarakatan di pedesaan adalah :

1. Lembaga Musyawarah Desa (LMD) LMD merupakan permusyawaratan yang keanggotaannya terdiri dari kepala-kepala dusun, pmpinan lembaga-lembaga kemasyrakatan, dan pemuka masyarakat di desa sebgai wujud dari demokrasi pancasila di desa. LMD ini di pandang sebagai wakil-wakil rakyat pada penentuan kebijaksanaan pembangunan di desanya. Anggotanya terdiri dari tokoh agama, tokoh

adat, kepala dusun, sosial polotik dan golongan propesi yang bertempat tinggal di desanya. LMD befungsi sebagai pembawa aspirasi rakyat desa. Dalam LMD inilah tokoh formal dan informal di pertemukan sehingga dapat seiring sejalan dalam membangun desa. Sesuai dengan sifatnya, LMD mempunyai fungsi untuk mengesahkan setiap keputusan desa. Oleh karena itu, anggota LMD harus memperhatikan perkembangan yang terjadi dalam masyrakat dan memperhatikan kebutuhan masyarakat untuk dimusyawarahkan dalam rapat musyawarah desa.

2. Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) LKMD merupakan wadah yang menampung aspirasi, partisipasi, kegiatan dan peranan masyrakat dalam pembangunan di daerah pedesaan. Lembaga ini mempunyai tugas membantu kepala desa dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta menggerakkan masyarakat secara aktif dan positif untuk melaksanakan pembangunan secara terpadu. Usaha tersebut di lakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan dari pemerintah maupun suwadaya gotong royong masyarakat. Tugas lainnya yaitu menumbuhkan kondisi dinamis masyrakat dalam rangka mengembangkan ketahanan di desa. Fungsi LKMD antaralain sebagai berikut : a. Sebagai wadah partisipasi dalam perencanaan dalam pelaksaan pembangunan. b. Mananamkan pengertian dan kesadaran penghayatan serta pengamalan pancasila c. Menggali, memamfaatkan semua potensi, serta menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat untuk pembangunan. d. Sebagai sarana komunikasi antara pemerintah dan masyarakat serta antar warga masyarakat itu sendiri. e. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. f. Membina dan menggerakan potensi pemuda untuk pembangunan. g. Meningkatkan peran wanita dalam mewujutkan keluarga sejahtera. h. Membina kerjasama antar lembaga yang ada dalam masyarakat untuk pembangunan. i. Melaksanakan tugas-tugas lain dalam membantu pemerintahan desa untuk menciptakan ketahan yang mantap.

3. Lembaga Kewanitaan Desa (PKK) Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) meruapakan salah satu bagian dari LKMD. Sasarannya adalah agar kaum wanita desa aktif dan berpartisipasi dalam pembangunan desa. PKK harus diketahui oleh istri kepala desa yang sekaligus sebagai ketua II LKMD. Tujuan dari organisasi tersebut dalam rangka membina mengembangkan kesejahteraan keluarga lahir dan batin. Bidang pembinaan kesejahteraan keluarga terdiri dari 10 segi PKK. a. Pengamalan pancasila, b. Gotong royong, c. Pangan, d. Sanddang, e. Perumahan dan tata laksana rumah tangga, f. Pendidikan dan keterampilan, g. Kesehatan, h. Pengembangan hidup berkoperasi, i. Kelestarian lingkungan hidup, j. Perencanan sehat.

4. Koperasi Unit Desa (KUD) Lembaga lain yang sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat desa selain dari LKMD adalah KUD. Koperasi Unit Desa mempunya peranan yang besar dalam masyarakat desa Khususnya dalam bidang pertanian. Sebagai mana diketahui, bahwa pertanian merupakan sumber kehidupan yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat desa pada umumny. Maka lembaga apapun yang mengupayakan perkembangan, kemajuan maupun kelestarian, dengan sendirinya mempunyai peranan yang sangat penting. Dalam menjalankan tugasnya, KUD mempunyai beberapa fungsi ditengah masyarakat pedesaan, yaitu meningkatkan produksi hasil pertanian, melakukan penjagaan dan penyelamatan terhadap hasil produksi dari berbagai ancaman. Dalam instruksi presiden pasal 5 no 4/1973 menyebutkan fungsi KUD sebagai berikut :

Penyuluhan pertanian lapangan (PPL)

BRI unit desa yang mengurus fungsi perkreditan rakyat Pengecer, kios, warung unit desa yang berfungsi menyalurkan sarana produksi, pestisida, benih dan alat pertanian.

KUD berfungsi sebagai pengelola serta pemasaran hasil produksi

5. Rukun Kampung (RK) Lembaga lain yang berperan langsung dalam perkembangan desa adalah Rukun Keluarga. RK berada di bawah dusun, namun RK sejajar dengan Rukun Warga (RW). Rw lembaga yang mempunyai kedudukan di bawah lingkungan kelurahan sedangakan RK satu kesatuan hokum yang berada di bawah dusun yang berhak mengurusi rumah tangga sendiri. Adapun wilayah RW?RK ini de bawahnya lagi di urusi oleh RT yang menjalankan tugas dari RW/RT pada wilayah masing-masing. Fungsi dan tugas RW/RK adalah sebagai berikut : 1. Mengatur runah tangga sendiri 2. Menjalankan tugas dan peranan desa di wilayah masing-masing 3. Membangunkan dan membagkitkan motivasi masyarakt dalam pembangunan 4. Membina kerukunan, keamana dan ketertiban antar masyarakat 5. Menjalankan administrasi masyarakat di wilayah kerjanya. Misalnya melakukan pendataan bagi masyarakt melalui KK. Melakukan atau memberikan surat pengantar bagi masyarakat yang memerlukan. 6. Mengembangkan sikap gotong royong, saling tolong menolong dalam kehidupan barmasuarakat.

6. Lembaga Lain-Lain Lembaga kemasyarakatan lain yang berkembang ditengah masyarakat pedesaan antara lain sebagai berikut : 1. Lembaga adat 2. Lembaga keagamaan

3. Yayasan sosial dan pendidikan 4. Organisasi kepemudaan (Krangtaruna, Pemuda Mrsjid, KNPI, Taruna Tani dan lain-lain) Kesemuanya itu ada di tengah masyarakat dan mempunyai peranan penting dalam melakukan pembangunan desa untuk jadi lebih maju serta memiliki system norma yang mengatur mereka. Fungsinya bagi pemuda dan masyarakat pedesaan adalah tempat mereka belajar, menyampaikan aspirasi dan karya yang berguna membangun desa dari ketertinggalan.

DAFTAR PUSTAKA http://kelembagaandas.wordpress.com/analisis-kelembagaan/syahyuti/ http://comunitydevelopment.blogspot.com/2011/04/lembanga-lembanga-sosial-pedesaan.html