Anda di halaman 1dari 3

Pemeriksaan Kulit

Pemeriksaan kulit untuk menilai warna, adanya sianosis, ikterus, eczema, pucat, purpura, eritema, makula, papula, vesikula, pustule, ulkus, turgor kulit, kelembapan kulit, tesktur kulit, dan edema.

Pemeriksaan Kuku
Pemeriksaan kuku dilakukan dengan mengadakan inspeksi terhadap warna, bentuk, dan keadaan kuku. Adanya jari tabuh (clubbed fingers) dapat menunjukkan penyakit pernapasan kronis atau penyakit jantung. Bentuk kuku yang cekung atau cembung menunjukkan adanya cedera, defesiensi besi, atau infeksi.

Pemeriksaan Rambut
Pemeriksaan rambut dilakukan untuk menilai adanya warna, kelebatan, distribusi, dan karakteristik rambut lainnya. Dalam keadaan normal, rambut menutupi semua bagian tubuh kecuali telapak tangan kaki, dan permukaan labia sebelah dalam.

Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening


Pemeriksaan kelenjar getah bening dilakukan dengan cara palpasi pada daerah leher atau inguinal yang lain. Pembesaran dengan diameter lebih dri 10 mm menunjukkan adanya kemungkinan tidak normal atau indikasipenyakit tertentu.

Pemeriksaan Kepala dan Leher


Pemeriksaan kepala dan leher meliputi pemeriksaan kepala secara umum, pemeriksaan wajah, mata, telinga, hidung, mulut, faring, laring, dan leher. Kepala Pemeriksaan ini menilai lingkar kepala. Lingkar kepala yang lebih besar dari normal, disebut makrosefali, biasanya dapat ditemukan pada penyakit hidrocefalus. Sedangkan lingkar kepala yang kurang dari normal disebut mikrosefali. Wajah Pemeriksaan wajah menilai apakah wajah asimetris atau tidak. Wajah yang asimetris dapat disebabkan oleh adanya paralisis fasialis, serta dapat menilai adanya pembengkakan daerah wajah. Mata Pemeriksaan mata menilai adanya visus atau ketajaman penglihatan. Pemeriksaan visus ini dapat dilakukan dengan pemberian rangsangan cahaya (khusus pada umur neonatus). Pemeriksaan mata yang lain adalah menilai apakah palpebra simetris atau tidak. Kelainan yang muncul antara lain ptosis, yaitu palpebra tidak dapat terbuka. Lagoftalmos, yaitu kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga sebagian kornea tidak dilindungi oleh kelopak mata. Pseudo lagoftamos ditandai dengan kedua belah mata tidak tertutup sempurna. Dan hordeolum yang merupakan infeksi local pada palpebra. Telinga Pemeriksaan telinga dapat dilakukan mulai dari telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam. Hidung Pemeriksaan hidung bertujuan untuk menilai adanya kelainan bentuk hidung dan juga menentukan ada atau tidaknya epistaksis. Pemeriksaan yang dapat digunakan adalah pemeriksaan rhinoskopi anterior dan posterior. Mulut

Pemeriksaan mulut bertujuan untuk menilai ada tidaknya trismus, yaitu kesukaran membuka mulut. Halitosis, yaitu bau mulut tidak sedap karena kurang dijaga kebersihannya. Dan labioskisis, yaitu bibir yang tidak simetris. Faring Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat adanya hyperemia, edema, abses retrofaringeal, peritonsilar, atau lainnya. Endema (tanda-tanda radang) faring umumnya ditandai dengan mukosa yang pucat dan sembab dan pada difteri dapat ditentukan dengan adanya bercak putih abu-abu yang sulit diangkat (pseudomembran). Laring Pemeriksaan laring sangat berhubungan dengan pemeriksaan pernapasan. Apabila ditemukan obstruksi pada laring, maka suara mengalami stridor yang disertai batuk dan serak. Pemeriksaan laring dilakukan dengan menggunakan alat laringoskop, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan cara dimasukkan kedalam secara perlahan-lahan sementara lidah ditarik keluar. Leher Pemeriksaan leher bertujuan untuk menilai adanya tekanan vena jugularis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengondisikan pasien dalam posisi telentang denga dada dan kepala diangkat setinggi 15-30 derajat. Selanjutnya, lakukan pemeriksaan untuk menilai ada atau tidaknya massa dalam leher. Pemeriksaa Dada Pada pemeriksaan dada, yang perlu diketahui adalah garis atau batas di dada. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, atau auskultasi. Dalam pemeriksaan dada, yang perlu diperhatikan adalah bentuk dan besar dada, kesimetrisan, gerakan dada, adanya deformitas, penonjolan, pembengkakan, atau kelainan yang lain. Dada memiliki beberapa bentuk, diantaranya : - Funnel chest - Pigeon chest - Barrel chest Pemeriksaan pada daerah dada yang lain meliputi pemeriksaan payudara, paru, dan jantung. Payudara Pemeriksaan payudara pada anak dilakukan untuk mengetahui perkembangan atau kelainan payudara sebelum anak mengalami masa pubertas, misalnya untuk melihat ada atau tidaknya ginekomastia patologis atau galaktore. Sedangkan pemeriksaan pada orang dewasa dilakukan untuk menilai ada atau tidaknya kanker payudara. Paru Pemeriksaan paru terdiri atas beberapa langkah, yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada pemeriksaan paru terdapat dua macam suara napas yaitu Suara Napas Dasar dan Suara Napas Tambahan. Dimana Suara Napas Dasar merupakan suara napas biasa, yang meliputi suara napas vesikuler, bronchial, amforik, cog wheel breath sound, dan metamorphosing breath sound. Sedangkan suara napas tambahan adalah suara napas yang dapat didengar melalui bantuan auskultasi yang meliputi ronki basah/ronki kering, wheezing, suara krepitasi, dan bunyi gesekan pleura (pleural fiction rub). Jantung Pemeriksaan tahap jantung pertama dilakukan dengan cara inspeksi, dan palpasi. Kemudian perkusi dan auskultasi. Pemeriksaan Abdomen

Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. Pemeriksaan auskultasi harus dilakukan terlebih dahulu agar bising usus atau peristaltic usus yang akan didengarkan tidak dipengaruhi oleh stimulasi dari luar melalui palpasi atau perkusi. Organ-organ yang diperiksa dalam pemeriksaan abdomen, antara lain hati, ginjal, dan lambung. Pemeriksaan Genitalia Pemeriksaan genital berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki pemeriksaan dilakukan dengan cara memerhatikan ukuran, bentuk penis, testis, serta kelainan yang ada, seperti hipospadia, epispadia, fimosis, adanya radang pada testis, dan skrotum. Sedangkan pemeriksaan pada perempuan dilakukan dengan cara memerhatikan adanya epispadia, dan adanya tanda-tanda seks sekunder. Pemeriksaan Tulang Belakang dan Ekstremitas Pemeriksaan tulang belakang dan ekstremitas dilakukan dengan cara inspeksi terhadap adanya kelainan tulang belakang seperti lordosis, kifosis, skoliosis, kelemahan, serta perasaan nyeri yang ada pada tulang belakang dengan cara mengobservasi pada posisi telentang, tengkurap, atau duduk. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan sebagai berikut: - Inspeksi, yaitu mengamati adanya berbagai kelainan pada neurologis. - pemeriksaan refleks, diantaranya refleks superficial, refleks tendon, dan refleks patologis. - pemeriksaan tanda menigeal, antara lain kaku kuduk. - pemeriksaan kekuatan dan tonus otot, nilai kekuatan otot 0-5. Pemeriksaan neurologis yang lain adalah pemeriksaan status kesadaran. Status kesadaran ini dilakukan dengan dua penilaian, yaitu penilaian kualitatif dan penilaian kuantitatif. Penilaian kualitatif antara lain: - Compos Mentis, kesadaran penuh (respon yang cukup) - Apatis, acuh tak acuh - Somnole, kesadaran yang lebih rendah (mengantuk, ingin tidur, dan tidak responsive) - Sopor, tidak memberikan respon ringan maupun sedang (sedikit respon) - Koma, tidak dapat bereaksi - Delirium, merupakan tingkat kesadran yang paling bawah. Penilaian kuantitatif dapat diukur denga Skala Koma Glasgow (Glasgow Coma Scale-GCS), adapun penilaian sebagai berikut: - Membuka mata - Respons verbal - Respons motorik Adapun jenis-jenis pemeriksaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :