Anda di halaman 1dari 44

HUBUNGAN POLA ASUH IBU DENGAN KEMANDIRIAN ANAK USIA PRA SEKOLAH USIA 4 - 6 TAHUN DI TK MELATI DHARMA WANITA

III MOJOROTO KOTA KEDIRI

KARYA TULIS ILMIAH

Oleh:

RETNO YUNITA SARI NIM. 10.054

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat di mana dia hidup, proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimun (Ihsan, 2010: 4). Sedangkan kemandirian adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajiban, tidak bergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya, mampu

bertanggungjawab atas keputusan, tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan. Keluarga sebagai unit sosial terkecil terdiri dari anggota keluarga seperti ayah, ibu, dan anak-anak (Dariyo, 2007: 9). Pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor penting dalam mengembangkan ataupun menghambat tumbuhnya kreativitas. Seorang anak yang dibiasakan dengan suasana keluarga yang terbuka, saling menghargai, saling menerima dan mendengarkan pendapat keluarganya, maka ia akan tumbuh menjadi generasi yang terbuka, fleksibel, penuh inisiatif, dan produktif, suka akan tantangan dan percaya diri. Perilaku kreatif dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kehidupan keluarga merupakan

lingkungan pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, pola pengasuhan orang tua menjadi sangat penting bagi anak dan akan mempengaruhi kehidupan anak hingga ia dewasa (Rachmawati dan Kurniati, 2010: 8). Data dari TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri jumlah anak pra-sekolah didapatkan tahun 2009 sebanyak 49 anak, tahun 2010 sebanyak 43 anak dan tahun 2011 sebanyak 46 anak. Selain itu didapat data dari para guru TK Melati Dharma Wanita Mojoroto Kediri bahwa sebagian besar anak pra-sekolah belum bisa mandiri sesuai perkembangan usianya (4 6 tahun) sesuai dengan lingkungan sekitarnya, hal ini dibuktikan dengan sebagian besar anak pra-sekolah belum bisa mengikat tali sepatu sendiri tetapi masih membutuhkan bantuan dari para guru di sekolah. Pola asuh orang tua yang menerima, akan membuat anak merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga, dan diberikan dukungan oleh orang tuanya. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial, percaya diri, dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. Sementara itu, pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima, tidak disayang, dikecilkan, bahkan dibenci oleh orang tuanya. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri, atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. Dampak negatif yang lain, anak akan mudah tersinggung, dan berpandangan negatif terhadap orang lain, bahkan terhadap kehidupannya, bersikap sangat agresif kepada orang lain, atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga (Wibowo, 2012: 79).

Orang tua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak membahayakan atau merugikan orang lain atau diri sendiri. Jangan mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orang tua. Anak tidak salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Selain itu orang tua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberi pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting pengembangan kreativitas anak (Ayuningsih, 2010: 91). Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan Pola Asuh Ibu dengan Kemandirian Anak Pra Sekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri.

B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dianalisa pada penelitian ini adalah Adakah hubungan pola asuh ibu dengan kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengidentifikasi hubungan pola asuh ibu dengan kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri? 2. Tujuan khusus a. Mengidentifikasi pola asuh ibu yang digunakan pada anak usia pra sekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri. b. Mengidentifikasi kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri. c. Menganalisa hubungan pola asuh ibu dengan kemandirian anak pra sekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Ibu atau Orang tua Hasil penelitian ini diharapkan meningkatkan pengetahuan pada ibu tentang pola asuh dalam memandirikan anak, sehingga anak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. 2. Bagi Guru Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi guru TK untuk mengajarkan kemandirian pada anak selama berada di sekolah dan diterapkan sampai di rumah.

3. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan dan pengalaman untuk penerapan ilmu yang telah di dapat selama kuliah, dalam rangka pemahaman pola asuh ibu tentang kemandirian anak prasekolah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pola Asuh 1. Definisi pola asuh Pola asuh atau parenting style adalah salah satu faktor yang secara signifikan turut membentuk karakter anak. Hal ini didasari bahwa pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan utama dan pertama bagi anak, yang tidak bisa digantikan oleh lembaga pendidikan manapun. Keluarga harmonis, rukun dan damai, akan tercermin dari kondisi psikologis dan karakter anakanaknya. Begitu sebaliknya, anak kurang berbakti, tidak hormat, bertabiat buruk, sering melakukan tindakan di luar moral kemanusiaan atau berkarakter buruk, lebih banyak disebabkan oleh ketidakharmonisan dalam keluarganya yang bersangkutan (Wibowo, 2012: 75). Pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor penting dalam mengembangkan ataupun menghambat tumbuhnya kreativitas. Seorang anak yang dibiasakan dengan suasana keluarga yang terbuka, saling menghargai, saling menerima dan mendengarkan pendapat keluarganya, maka ia akan tumbuh menjadi generasi yang terbuka, fleksibel, penuh inisiatif, dan produktif, suka akan tantangan dan percaya diri. Perilaku kreatif dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kehidupan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, pola pengasuhan orang tua

menjadi sangat penting bagi anak dan akan mempengaruhi kehidupan anak hingga ia dewasa (Rachmawati dan Kurniati, 2010: 8). 2. Macam-macam pola asuh a. Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter ini ciri utamanya adalah orang tua membuat hampir semua keputusan. Anak-anak mereka dipaksa tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya apalagi membantah. Iklim demokratis dalam keluarga sama sekali tidak terbangun. Laksana dalam dunia militer, anak tidak boleh membantah perintah sang komadan/ orang tua meski benar atau salah. Secara lengkap, ciri khas pola asuh otoriter ini diantaranya: 1) Kekuasaan orang tua sangat dominan 2) Anak tidak diakui sebagai pribadi 3) Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat 4) Orang tua akan sering menghukum jika anak tidak patuh (Wibowo, 2012: 76) Kondisi tersebut mempengaruhi perkembangan diri pada anak. Banyak anak yang dididik dengan pola asuh otoriter ini, cenderung tumbuh berkembang menjadi pribadi yang suka membantah,

memberontak dan berani melawan arus terhadap lingkungan sosial. Kadang-kadang anak tidak mempunyai sikap peduli, antipati, pesimis dan anti sosial. Hal ini, akibat dari tidak adanya kesempatan bagi anak untuk mengemukakan gagasan, ide, pemikiran maupun insentifnya. Apapun

yang dilakukan oleh anak tidak pernah mendapat perhatian, penghargaan dan penerimaan yang tulus oleh lingkungan keluarga atau orang tuanya (Dariyo, 2007: 206). b. Pola asuh permisif Pola asuh permisif memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Orang tua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat 2) Dominasi pada anak 3) Sikap longgar atau kebebasan dari orang tua 4) Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orang tua 5) Kontrol dan perhatian orang tua terhadap anak sangat kurang, bahkan tidak ada (Wibowo, 20012: 77). Bila anak mempu mengatur seluruh pemikiran, sikap dan tindakannya dengan baik, kemungkinan kebebasan yang diberikan oleh orang tua dapat dipergunakan untuk mengembangkan kreativitas dan bakatnya, sehingga ia menjadi seorang individu yang dewasa, inisiatif dan kreatif. Tetapi hal itu tak banyak ditemui dalam kenyataan, karena ternyata sebagian besar anak tidak mampu menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Mereka justru menyalahgunakan suatu

kesempatan, sehingga cenderung melakukan tindakan-tindakan yang melanggar nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan sosial. Dengan demikian perkembangan diri anak cenderung menjadi negatif (Dariyo, 2007: 207).

c. Pola asuh demokratis Pola asuh demokratis ialah gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap dan tindakan antara anak dan orang tua. Baik orang tua maupun anak mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan suatu gagasan, ide atau pendapat untuk mencapai suatu keputusan. Dengan demikian orang tua dan anak dapat berdiskusi, berkomunikasi atau berdebat secara konstruktif, logis, rasional demi mencapai kesepakatan bersama. Karena hubungan komunikasi antara orang tua dengan anak dapat berjalan menyenangkan, maka terjadi pengembangan kepribadian yang mantap pada diri anak. Anak makin mandiri, matang dan dapat menghargai diri sendiri sendiri dengan baik. Pola asuh demokratis akan berjalan secara efektif bila ada 3 syarat yaitu: 1) Orang tua dapat menjalankan fungsi sebagai orang tua yang memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya. 2) Anak memiliki sikap yang dewasa yakni dapat memahami dan menghargai orang tua sebagai tokoh utama yang tetap memimpin keluarganya. 3) Orang tua belajar memberi kepercayaan dan tanggungjawab terhadap anaknya (Dariyo, 2007: 208). Pola asuh demokratis bertolak belakang dengan pola asuh otoriter. Orang tua memberikan kebebasan kepada putra-putrinya untuk

berpendapat dan menentukan masa depannya. Secara lengkap, pola asuh demokratis ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) Orang tua senantiasa mendorong anak untuk membicarakan apa yang menjadi cita-cita, harapan dan kebutuhan mereka 2) Pada pola asuh demokratis ada kerjasama yang harmonis antara orang tua dan anak 3) Anak diakui sebagai pribadi, sehingga segenap kelebihan dan potensi mendapat dukungan serta dipupuk dengan baik 4) Karena sifat orang tua yang demokratis, mereka akan membimbing dan mengarahkan anak-anak mereka 5) Ada kontrol dari orang tua yang tidak kaku (Wibowo: 2012: 77) d. Pola Asuh Indulgent (Penelantaran) Karakter pola asuh penelantaran mempunyai ciri sebagai berikut: 1) Menelantarkan secara psikis. 2) Kurang memperhatikan perkembangan psikis anak. 3) Anak dibiarkan berkembang sendiri. Efek pola asuh indulgent terhadap perilaku belajar anak : 1) Anak dengan pola asuh ini paling potensial telibat dalam kenakalan remaja seperti penggunaan narkoba, merokok diusia dini dan tindak kriminal lainnya. 2) Impulsive dan agresif serta kurang mampu berkonsentrasi pada suatu aktivitas atau kegiatan (RaiSamba, 2012)

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh a. Pendidikan Pendidikan adalah proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat di mana ia hidup, proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimun (Ihsan, 2010: 4). b. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Menurut Mariner yang dikutip dari Nursalam (2003) lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi

perkembangan dan perilaku orang tau kelompok (Wawan dan Dewi, 2010: 18). c. Sosial budaya Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat

mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi (Wawan dan Dewi, 2010: 18).

B. Konsep Kemandirian 1. Definisi kemandirian Menurut Lie (2004) kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya. Sedangkan menurut Mutadin (2002) kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara komulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu mampu berfikir dan bertindak sendiri. Dengan demikian seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk berkembang yang lebih mantap (Purno, 2007). 2. Klasifikasi tingkat kemandirian a. Minimal care Mandiri atau hampir tidak memerlukan bantuan, mampu makan dan minum sendiri, mampu berjalan sendiri, mampu berpakaian dan berdandan sendiri, mampu BAB dan BAK tanpa bantuan. b. Partial care Memerlukan bantuan orang lain sebagian, membutuhkan bantuan untuk berjalan, membutuhkan bantuan makan (menyuapi), membutuhkan dalam berpakaian dan berdandan, membutuhkan bantuan BAB dan BAK. c. Total care Memerlukan bantuan orang lain sepenuhnya dan memerlukan waktu yang lama, membutuhkan dua orang atau lebih dalam berjalan,

membutuhkan

bantuan

penuh

untuk

berpakaian

dan

berdandan,

membutuhkan bantuan penuh dalam makan, memrlukan bantuan penuh dalam mandi, membutuhkan bantuan penuh dalam BAB dan BAK 3. Bentuk-bentuk kemandirian anak pra-sekolah Bentuk-bentuk kemandirian yang perlu dikuasai anak pra sekolah adalah sebagai berikut: a. Usia 3-4 Tahun 1) Sikat gigi sendiri meski belum sempurna Ajak anak menyiapkan sikat gigi, odol dan gelas berisi air matang untuk berkumur. Dengan arahan orangtua, biarkan anak menggosok sendiri giginya. 2) Buka-pakai baju kaus dan celana berkaret Di akhir usia 3 tahun, anak dapat membedakan mana bagian depan dan mana bagian belakang baju kausnya sehingga tidak lagi terbolak-balik. Ajak anak menyediakan baju dan celana yang akan dipakai. Biarkan ia membuka baju/celana dan memakainya sendiri. Tak masalah jika dia memakai baju dari bagian tangannya terlebih dulu atau dari bagian kepalanya, tergantung mana yang lebih disukai anak. Begitupun untuk celana, boleh kaki kiri atau kanan duluan, suka-suka si kecil. Biasanya anak akan memakai celana dalam posisi duduk, baru

kemudian berdiri setelah kedua kakinya masuk ke dalam masingmasing lubang celana. 3) Memakai sepatu berperekat Sediakan sepatu dengan kancing berperekat, sehingga mudah dilepas-pasang oleh si kecil. Biarkan anak memakai dan membuka sepatunya sendiri. Umumnya anak 3 tahun sudah dapat memasukkan kakinya ke dalam sepatu. 4) Mandi sendiri dengan arahan Minta anak menyiram badannya dengan air, lalu menyabuninya. Sebaiknya gunakan sabun cair. Ingatkan bila ada bagian yang terlupa. Untuk menyabuni tubuh bagian belakang, si kecil masih butuh dibantu. Setelah itu, minta ia membilas badannya. Beri tahu jika masih ada busa sabun yang tersisa di badannya, agar ia menyiramkan air ke bagian tersebut. Usai mandi, minta anak mengeringkan badannya dengan handuk. 4) Pipis di toilet Begitu anak bilang ingin pipis, minta ia segera ke toilet dan membuka celananya sendiri. Usai pipis, ajari anak untuk membasuh alat kelaminnya dengan menyiramkan air pakai gayung atau semprotan air. Anak sudah bisa kok memegang dan menyendok air dengan gayung kecil, juga menekan semprotan air sendiri.

5) Mencuci tangan tanpa dibantu Setiap kali hendak makan atau setelah melakukan suatu aktivitas seperti bermain dan buang air, biasakan anak untuk mencuci tangannya dengan sabun hingga bersih. Ajak anak ke wastafel atau ke tempat keran air. Biarkan ia sendiri yang membuka keran air dan membasahi tangannya di bawah air yang mengalir, menyabuninya, sebaiknya menggunakan sabun cair, lalu membilasnya. Setelah itu, mengeringkannya dengan lap bersih yang telah tersedia. 6) Sediakan peralatan makan khusus untuk anak baik dalam bentuk, ukuran maupun bahannya yang tak mudah pecah. Orangtua bisa membantu menaruhkan makanan sesuai porsi makan si anak, baik berupa nasi dengan lauk pauknya, mie, dan sebagainya. 7) Menuang air tanpa tumpah dan minum sendiri dari gelas tanpa gagang maupun cangkir bergagang. Sediakan gelas/cangkir dan teko/botol kecil berisi air, letakkan di tempat yang mudah dijangkau anak. Setiap kali anak minta minum, suruh ia untuk menuangkan air minum dari teko/botol tersebut ke dalam gelas/cangkirnya. Ingat, semua peralatan tersebut terbuat dari bahan yang tak mudah pecah. Sebagai latihan menuang air, sangat baik bila orangtua juga menyediakan mainan seperangkat alat minum teh, sehingga anak bisa bermain tuang air ke dalam cangkir-cangkir

kecilnya. Ingatkan untuk tidak terlalu penuh menuangnya agar tidak tumpah. 8) Membereskan mainan usai bermain Sediakan beberapa kotak dengan warna berbeda sebagai wadah penyimpan mainan. Setiap kali usai bermain, ajak anak menyimpan kembali mainannya ke dalam kotak-kotak tersebut. Bila ada mainan yang tercecer, minta anak untuk mengambil mainan itu dan menaruh ke dalam wadahnya. 9) Buka-tutup pintu, baik dengan pegangan yang diputar maupun ditekan ke bawah. Anak juga dapat memutar anak kunci. Minta anak untuk membukakan pintu ketika terdengar suara ketukan di pintu atau menutup pintu kamar ketika ia habis keluarmasuk kamar. Hindari menggantungkan anak kunci di sisi dalam pintu untuk menghindari risiko anak terkunci sendirian di dalam ruangan/kamar. b. Usia 4-6 Tahun Selain kemampuan-kemampuan yang sudah dikuasai di usia 3-4 tahun, maka di usia 4-5 tahun anak seharusnya dapat pula melakukan aktivitas-aktivitas berikut ini: 1) Menggunakan pisau untuk memotong makanan. Berikan pisau yang tidak terlalu tajam. Di atas piring, letakkan makanan yang mudah dipotong seperti sejuring pepaya yang sudah

dikupas, ubi atau kentang rebus, dan lainnya. Tunjukkan bagaimana cara memotongnya, lalu minta anak untuk melakukannya sendiri. Bila anak mengalami kesulitan, bantu dengan cara memegang tangannya. Bisa juga, saat ibu sedang memotong-motong sayuran yang hendak dimasak, libatkan si kecil. Atau, ajak anak bermain masakmasakan, misal memotong tahu yang dibuat dari lilin mainan. 2) Buka-pakai baju berkan-cing depan Latih anak membuka kancing dan memasangkannya dengan menggunakan kancing agak besar. Tunjukkan bagaimana caranya, lalu minta anak untuk melakukannya sendiri. Bila anak mengalami kesulitan, bantu dengan memegang tangannya. Setelah anak terampil buka-pasang kancing besar, barulah latih dia buka-pasang kancing dari bajunya. 3) Buka-tutup celana beresleting Contohkan bagaimana cara membuka dan menutup resleting, lalu minta anak melakukannya sendiri. Bila mengalami kesulitan barulah dibantu dengan memegang tangannya. 4) Menalikan sepatu Tunjukkan bagaimana cara mengikat dan membuka tali sepatu. Minta anak melakukannya sambil dibantu. Sering-seringlah mengajak anak melakukan latihan ikat-buka tali sepatu.

5) Mandi sendiri tanpa arahan. Anak sudah bisa mandi sendiri dengan menggunakan gayung mandi maupun shower tanpa arahan. Begitupun membersihkan badannya dengan sabun. Meski demikian, tak ada salahnya orangtua sesekali mengontrol cara anak mandi dan menyabuni badan. 6) Cebok sehabis buang air kecil/besar Khusus anak perempuan, ajarkan cara membasuh alat

kelaminnya dari arah depan ke belakang dan bukan sebaliknya, terutama usai buang air besar. Jelaskan alasannya dengan bahasa sederhana, yakni agar kotoran dan kuman yang mungkin tertinggal di anus tidak terbawa ke vagina. Setelah itu, minta anak untuk mengeringkan alat kelaminnya dengan handuk kecil yang bersih agar tidak lembap. Saat memakai celana kembali, ingatkan anak untuk berpegangan pada dinding kamar mandi agar tidak terjatuh akibat ketidakseimbangan tubuhnya. 7) Menyisir rambut Setiap usai mandi, minta anak untuk menyisir sendiri rambutnya. Bagi si Upik yang berambut panjang, tentu masih perlu bantuan orangtua bila rambutnya hendak diikat kuda ataupun dikepang (Basuki, 2012)

4. Fakor-faktor yang mempengaruhi kemandirian anak Menurut Soetjiningsih faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemandirian anak usia sekolah adalah sebagai berikut: a. Faktor internal merupakan faktor yang ada dari diri anak itu sendiri, meliputi: 1) Faktor emosi yang ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak terganggunya kebutuhan emosi anak. 2) Faktor intelektual yang ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi anak. b. Faktor eksternal merupakan faktor yang datang atau ada dari luar diri anak itu sendiri, meliputi: 1) Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapainya atau tidak tingkat kemandirian anak usia prasekolah. Pada usia ini anak memerlukan kebebasan untuk bergerak kesana-kemari dan mempelajari lingkungan. 2) Karekteristik sosial dapat mempengaruhi kemandirian anak, misalnya: tingkat kemandirian abak dari keluarga miskin berbeda dengan anak dari keluarga kaya. 3) Stimulasi, anak yang mendapat stimulasi terarah dan teratur akan lebih cepat mandiri dibanding dengan anak yang kurang atau tidak mendapat stimulasi

4) Pola asuh, anak dapat mandiri akan membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan. Peran orang tua sebagai pengasuh sangat diperlukan bagi anak sebagai penguat perilaku yang telah

dilakukannya. Oleh karena itu pola pengasuhan merupakan hal yang penting dalam pembentukan kemandirian anak. 5) Cinta dan kasih sayang kepada anak hendaknya diberikan sewajarnya karena ini akan mempengaruhi kemandirian anak bila diberikan berlebihan akan menjadi anak kurang mandiri. 6) Kualitas informasi anak-orang tua yang dipengaruhi pendidikan orang tua, dengan pendidikan yang baik informasi dapat diberikan kepada anak karena orang tua dapat menerima informasi dari luar terutama tentang cara meningkatkan kemandirian anak. 7) Status pekerjaan ibu, apabila ibu bekerja diluar rumah untuk mencari nafkah maka ibu tidak dapat memantau kemandirian anak sesuai perkembangan usianya. Sedangkan ibu yang tidak bekerja bisa memantau langsung kemandirian anak dan memandirikan anaknya (Wulandari, 2007).

C. Konsep Anak Pra-sekolah 1. Definisi Masa prasekolah merupakan fase perkembangan individu pada usia 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria dan

wanita, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training), dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya) (Mansur, 2011: 78). Menurut Munandar masa prasekolah merupakan masa-masa untuk bermain dan mulai memasuki taman kanak- kanak. Waktu bermain merupakan sarana untuk tumbuh dalam lingkungan dan kesiapannya dalam belajar formal. Pada tahap perkembangan anak usia prasekolah ini, anak mulai menguasai berbagai ketrampilan fisik, bahasa, dan anak pun mulai memiliki rasa percaya diri untuk mengeksplorasi kemandiriannya. Pendidikan prasekolah merupakan suatu pola pendidikan formal dan informal yang di lakukan dari usia lahir sampai umur enam tahun sebelum memasuki usia sekolah dasar (Wibowo, 2012). 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak a. Faktor instrinsik Faktor instrinsik yang mempengaruhi kegagalan berkembang terutama berkaitan dengan terjadinya penyakit pada anak, yaitu: 1) Kelainan kromosom (misalnya sindroma Down dan sindroma Turner) 2) Kelainan pada sistem endokrin, misalnya kekurangan hormon tiroid, kekurangan hormon pertumbuhan atau kekurangan hormon lainnya. 3) Kerusakan otak atau sistem saraf pusat yang bisa menyebabkan kesulitan dalam pemberian makanan pada bayi dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan.

4) Kelainan pada sistem jantung dan pernafasan yang bisa menyebabkan gangguan mekanisme penghantaran oksigen dan zat gizi ke seluruh tubuh 5) Anemia atau penyakit darah lainnya 6) Kelainan pada sistem pencernaan yang bisa menyebabkan malabsorbsi atau hilangnya enzim pencernaan sehingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi. Menurut Soetjiningsih secara umum terdapat dua faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu faktor genetik (instrinsik) dan faktor lingkungan (ekstrinsik). Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor ini adalah bawaan yang normal dan patologis, jenis kelamin, suku bangsa/ bahasa, gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering diakibatkan oleh faktor ini, sedangkan di negara yang sedang berkembang, gangguan pertumbuhan selain diakibatkan oleh faktor genetik juga faktor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh kembang anak yang optimal. b. Faktor ekstrinsik 1) Faktor psikis dan sosial (misalnya tekanan emosional akibat penolakan atau kekerasan dari orang tua) 2) Depresi bisa menyebabkan nafsu makan anak berkurang. Depresi bisa terjadi jika anak tidak mendapatkan rangsangan sosial yang cukup, seperti yang dapat terjadi pada bayi yang diisolasi dalam suatu

inkubator atau pada anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. 3) Faktor ekonomi (dapat mempengaruhi masalah pemberian makanan kepada anak, tempat tinggal dan perilaku orang tua). Keadaan ekonomi yang pas-pasan dapat menyebabkan anak tidak memperoleh gizi yang cukup untuk perkembangan dan pertumbuhannya. 4) Faktor lingkungan (termasuk pemaparan oleh infeksi, parasit atau racun). Lingkungan merupakan faktor yang menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan ini merupakan lingkungan bio-psikofisiko-sosial yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya. c. Faktor pendukung Faktor-faktor pendukung perkembangan anak, antara lain: 1) Terpenuhi kebutuhan gizi pada anak tersebut 2) Peran aktif orang tua 3) Lingkungan yang merangsang semua aspek perkembangan anak 4) Peran aktif anak 5) Pendidikan orang tua

3. Perkembangan dalam masa prasekolah a. Perkembangan fisik Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya. Dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh, baik yang menyangkut ukuran berat dan tinggi, maupun kekuatannya,

memungkinkan anak untuk dapat lebih mengembangkan ketrampilan fisiknya dan mengeksplorasi lingkungannya dengan atau tanpa bantuan dari orang tuanya. Perkembangan sistem saraf pusat memberikan kesiapan kepada anak untuk dapat lebih meningkatkan pemahaman dan penguasaan terhadap tubuhnya. Proporsi tubuhnya berubah secara dramatis, seperti pada usia tiga tahun, rata-rata tingginya sekitar 80-90 cm, dan beratnya sekitar 10-13 kg, sedangkan pada usia lima tahun tingginya mencapai 100-110 cm. Tulang kakinya tumbuh dengan cepat, namun pertumbuhan tengkoraknya tidak secepat usia sebelumnya. Pertumbuhan tulang-tulangnya semakin besar dan kuat. Pertumbuhan giginya semakin lengkap/ komplit, sehingga dia sudah menyenangi makanan padat, seperti daging, sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan (Mansur, 2011: 78). b. Perkembangan emosi Pola emosi umum yang terjadi pada masa anak-anak antara lain adalah sebagai berikut:

1) Takut, yaitu perasaan terancam oleh suatu objek yang dianggap membahayakan. 2) Cemas, yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada objeknya. 3) Marah, merupakan perasaan tidak senang, atau benci baik terhadap orang lain, diri sendiri atau objek tertentu yang diwujudkan dalam bentuk verbal (kata-kata kasar/makian/ sumpah serapah) atau nonverbal (seperti mencuit, memukul, menampar, menendang, dan merusak). 4) Cemburu, yaitu perasaan tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah merebut kasih sayang dari seseorang yang telah mencurahkan kasih sayang kepadanya. 5) Kegembiraan, kesenangan, dan kenikmatan, yaitu perasaan yang positif, nyaman karena terpenuhinya keinginannya. 6) Kasih sayang, yaitu perasaan senang untuk memberikan perhatian atau perlindungan terhadap orang lain, hewan atau bend. 7) Fobia, yaitu perasaan takut terhadap objek yang tidak patut ditakutinya (takut yang abnormal) seperti takut ulat, kecoa, dan lain-lain. 8) Ingin tahu, yaitu perasaan ingin mengenal, mengetahui segala sesuatu atau objek-objek, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik.

c. Perkembangan bahasa Beberapa perkembangan bahasa menurut Clara dan William Sterm, adalah sebagai berikut: 1) Prastadium (tahun pertama) Kata pertama yang diucapkan anak dimulai dari suara-suara raban seperti yang kita dengar keluar dari mulut seorang bayi. 2) Kalimat satu kata (12-18 bulan) Satu perkataan dimaksudkan untuk mengungkapkan satu perasaan atau satu keinginan. 3) Masa memberi nama (18-24 bulan) Perkembangan bahasa ini seakan-akan terhenti selama beberapa bulan karena anak memusatkan perhatiannya untuk belajar berjalan. 4) Masa kalimat tunggal (24-30 bulan) Bahasa dan bentuk kalimat makin baik dan sempurna. Anak telah menggunakan kalimat tunggal. Sekarang ia mulai menggunakan awalan dan akhiran yang membedakan bentuk dana warna bahasanya. 5) Masa kalimat majemuk (>30 bulan) Anak mengucapkan kalimat yang makin panjang dan bagus. Anak telah mulai menyatakan pendapatnya dengan kalimat majemuk. Sesekali ia menggunakan kata perangkai, akhirnya timbullah anak kalimat.

d. Perkembangan bermain Usia anak prasekolah dapat dikatakan sebagai masa bermain, karena setiap waktunya diisi dengan kegiatan barmain. Kegiatan bermain yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan kebebasan batin untuk memperoleh kesenangan. e. Perkembangan kepribadian Pada masa ini berkembang kesadaran dan kemampuan untuk memenuhi tuntutan dan tanggung jawab. Oleh karena itu, agar tidak berkembang sikap membandel anak yang kurang terkontrol, pihak orang tua perlu menhadapinya secara bijaksana, penuh kasih sayang, dan tidak bersikap keras. Meskipun mereka mulai menampakkan keinginan untuk bebas dari tuntutan orang tua, namun pada dasarnya mereka masih sangat membutuhkan perasaan, asuhan, bimbingan, atau curahan kasih sayang orang tua. f. Perkembangan moral Pada masa ini anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman berinteraksi dengan temannya, anak belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku mana yang baik/ boleh/ diterima/ disetujui atau buruk/ tidak boleh. Berdasarkan pengalamannya itu, maka pada masa ini anak harus bertingkah laku (seperti mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi sebelum tidur) (Mansur, 2011: 78).

D. Kerangka Konseptual Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005: 69).
Anak pra-sekolah Faktor-faktor pola asuh: 1. Faktor pendidikan 2. Faktor lingkungan 3. Faktor sosial budaya

Faktor internal: 1. Emosi 2. Intelektual Faktor eksternal: 1) Lingkungan 2) Karekteristik sosial 3) Stimulasi 4) Pola asuh 5) Cinta dan kasih sayang 6) Kualitas informasi anak-orang tua 7) Status pekerjaan ibu

Kemandirian

Pola asuh ibu

Minimal care

Total care

Parsial care

Otoriter

Permisif

Demokratis

Penelantaran

Keterangan: : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti : Berpengaruh : Berhubungan

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Hubungan Pola Asuh Ibu dengan Kemandirian Anak Pra-Sekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri

E. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dri rumusan masalah atau pertanyaan penelitian. Menurut La Biondo-Wood dan Haber (1994) hipotesis adalah suatu pernyataan asumsi tentang hubungan antara dua atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab suatu pertanyaan dalam penelitian (Nursalam, 2008: 56). Ho : Tidak ada hubungan pola asuh ibu dengan kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri.

BAB III METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya (Arikunto, 2006: 160). Pada bab ini akan disajikan antara lain:

A. Desain Penelitian Desain atau rancangan penelitian merupakan hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2008: 77). Sedangkan menurut Alimul (2003), desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah korelasi, dimana penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor apakah yang terjadi sebelum atau bersamasama tanpa adanya suatu intervensi dari peneliti (Nursalam, 2008: 80). Rancangan penelitian yang digunakan cross sectional, yaitu peneliti hanya melakukan observasi dan pengukuran variabel pada satu saat tertentu saja, setiap subjek hanya dikenai satu kali pengukuran tanpa dilakukan tindak lanjut atau pengulangan penelitian (Saryono, 2008: 49).

B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 2012. 2. Tempat Penelitian Lokasi penelitian di di TK Melati Dharma Wanita Mojoroto Kota Kediri.

C. Kerangka Kerja Kerangka kerja merupakan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian yang ditulis dalam bentuk kerangka atau alur penelitian (Alimul, 2003: 58).

Penelitian Masalah Hubungan pola asuh ibu dengan pembentukan kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita Mojoroto Kota Kediri

Populasi Semua ibu dan semua anak pra sekolah usia 4-6 thn di Tkmelati darmawanita Wanita Mojoroto Kota Kediri sebanyak 46 anak Tehnik sampling Consecutive sampling Sampel Sebagian ibu dan anak pra sekolah usia 4-6 tahun di TK Melati Dharma Wanita Mojoroto Kota Kediri yang sesuai dengan kriteria inklusi

di Puskesmas Kota Kediri Instrumen danMrican Pengumpulan Data Ibu yang sesuai dengan kriteria inklusi diberi penjelasan dan menandatangani informed consent kemudian diberi kuesioner untuk diisi setelah selesai dikumpulkan kembali pada peneliti

Analisa Data Setelah data terkumpul kemudian ditabulasikan dan dikelompokkan sesuai dengan sub variabel yang diteliti, kemudian untuk mencari hubungan menggunakan uji statistik spearman rank

Hasil

Kesimpulan Diagram 3.1 Kerangka Kerja Hubungan Pola Asuh Ibu dengan Pembentukan Kemandirian Anak Prasekolah di TK Melati Dharma Wanita Mojoroto Kota Kediri

D. Samping Desain 1. Populasi penelitian Populasi adalah setiap subyek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008: 89). Sedangkan menurut Notoatmodjo (2005: 79) populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Populasi dalam penelitian adalah semua ibu dan anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri sebanyak 46 anak. 2. Sampel Penelitian Sampel adalah bagian populasi terjangkau yang dapat digunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2008: 91). Sedangkan menurut Notoatmodjo (2005: 79) sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu dan anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri yang sesuai dengan kriteria inklusi. Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Alimul, 2003: 35). Kriteria inklusi dalam penelitian adalah sebagai berikut: 1) Ibu yang mempunyai anak prasekolah 2) Ibu yang mempunyai anak sekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri 3) Ibu yang bersedia menjadi responden

4) Ibu yang bisa membaca dan menulis 3. Sampling Penelitian Sampling adalah proses penyeleksi dari populasi untuk dapat mewakili populasi. Teknik sampling merupakan cara-cara yang tepat dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2008: 93). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik consecutive sampling, di mana teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/ masalah dalam penelitian), sehingga sampel dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya berdasarkan kriteria (Nursalam, 2008: 94).

E. Identifikasi Variabel Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dan lain-lain) (Nursalam, 2008: 97). Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2006: 118). 1. Variabel independen (X) Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau dianggap menentukan variabel terikat. Variabel ini dapat merupakan faktor risiko, prediktor, kausa/ penyebab (Suryono, 2008: 36). Variabel independen dalam penelitian ini adalah pola asuh ibu.

2. Variabel dependen (Y) Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi. Variabel ini disebut juga kejadian, luaran, manfaat, efek atau dampak (Saryono, 2008: 36). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kemandirian anak prasekolah.

F. Definisi Operasional Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Alimul, 2009: 79). Adapun definisi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 3.1 Definisi Operasional Hubungan Pola Asuh Ibu Dengan Kemandirian Anak Prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri
Variabel Independen: Pola asuh ibu Definisi Operasional Kemampuan orang tua dalam menyediakan waktu, perhatian dan dukungan agar dapat berkembang dengan sebaikbaiknya secara fisik, mental dan sosial kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehariParameter Pola asuh ibu: 1. Otoriter 2. Permisif 3. Demokratis 4. Penelantaran Alat Ukur Kuesioner Skala Nomi nal Skor Jawaban Ya : 1 Tidak : 0 Tiap pola asuh skor maksimal adalah 5, maka jawaban yang paling banyak adalah pola asuh yang digunakan orang tua

Dependen: kemandirian anak prasekolah

1. Menggunakan pisau untuk memotong makanan. 2. Buka-pakai

Kuesioner

Ordin al

Skor jawaban jika: 4 : Selalu 3 : Sering 2 : Kadang 1 : Tidak pernah

hari sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya

3.

4. 5. 6.

7.

baju berkancing depan Buka-tutup celana beresleting Menalikan sepatu Mandi sendiri tanpa arahan. Cebok sehabis buang air kecil/besar Menyisir rambut

Selanjutnya dijumlahkan kemudian dikategorikan: 22-28 : minimal care 15-21 : partial care 7-14 : total care

G. Pengumpulan Data dan Analisa Data 1. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2006: 160). Dalam penelitian ini alat ukur pengumpulan data yang digunakan adalah angket/ kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2006: 151). 2. Proses Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan cara peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian (Alimul, 2009: 86). Dalam proses pengumpulan data terlebih dahulu peneliti meminta permohonan ijin kepada beberapa pihak terkait, yaitu kepada Kepala TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri.

Selanjutnya peneliti meminta ijin kepada responden secara door to door melalui lembar informed consent untuk proses pengambilan data yang ada di tempat penelitian. Untuk pola asuh pengumpulan data secara primer (langsung pada ibu) sedangkan untuk kemandirian anak pengumpulan data secara sekunder (melalui ibu). 3. Analisa Data Analisa data adalah kegiatan dalam penelitian dengan melakukan analisis data yang meliputi: persiapan, tabulasi dan aplikasi data (Alimul, 2003: 40). Setelah semua data terkumpul melalui angket atau kuesioner, maka langkah selanjutnya adalah analisa data yaitu dengan melakukan tabulasi atau pengelompokkan suatu sub variabel yang diteliti dengan cara pemberian skor dan penilaian. a. Mengukur pola asuh ibu Variabel pola asuh ibu diberi kode sebagai berikut: 1 2 3 4 : Otoriter : Permisif : Demokratis : Penelantaran menetapkan pemberian skor, skor diukur dengan

Selanjutnya

menggunakan jawaban ya = 1 dan jawaban tidak = 0 kemudian dijumlahkan sesuai tiap pola asuh dengan skor maksimal adalah 5, maka jawaban yang paling banyak adalah pola asuh yang digunakan orang tua.

b. Mengukur pembentukan kemandirian Kemandirian anak diberi kode sebagai berikut: 4 3 2 1 : Selalu : Sering : Kadang : Tidak pernah

Selanjutnya dijumlahkan kemudian dikategorikan: 22-28 15-21 7-14 : Minimal care : Partial care : Total care

Nilai terendah adalah 7 Data yang dikumpulkan kemudian diuji dengan menggunakan tabulasi silang Spearman Rank dengan menggunakan rumus:

1
Keterangan:

6 bi n(n 2 1)
2

= Koefisien korelasi Spearman Rank = Jumlah responden Setelah nilai ditemukan, ada tidaknya korelasi antara pola asuh ibu

dengan pembentukan kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri dikonsulkan ke dalam SPSS pada taraf kesalahan 0,05%.

a. Tidak ada hubungan pola asuh ibu dengan kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri, bila harga rho hitung harga rho tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima. b. Tidak ada hubungan pola asuh ibu dengan kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri, bila harga rho hitung harga rho tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. (Sugiyono, 2006) c. Tabulating Tabulasi penyusunan data dalam bentuk tabel adalah kegiatan untuk mengolah data yang rusak (data mentah) ke dalam tabel-tabel yang telah disiapkan (Nursalam, 2003). Rencana tabel yang digunakan adalah sebagai berikut: 1) Distribusi frekuensi berdasarkan data khusus responden Tabel 3.3 Distribusi frekuensi pola asuh ibu di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri No. 1 2 3 4 Pola Asuh Otoriter Permisif Demokratis Penelantaran Jumlah Frekuensi Prosentase

Tabel 3.4 Distribusi frekuensi kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri No. Kemandirian 1 Minimal care 2 Partial care 3 Total care Jumlah Frekuensi Prosentase

2) Tabulasi silang pola asuh ibu dengan pembentukan kemandirian anak Tabel 3.5 Tabulasi silang pola asuh ibu dengan kemandirian anak prasekolah di TK Melati Dharma Wanita III Mojoroto Kota Kediri Pola Asuh Kemandirian Minimal care Partial care Total care Otoriter (a) (e) (i) Permisif Demokratis Situasional (b) (f) (j) (c) (g) (k) (d) (h) (l)

H. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan ijin dari kepada Kepala TK Melati Dharma Wanita Mojoroto untuk mendapatkan persetujuan. Kemudian kuesioner dikirim ke subjek yang diteliti dengan menekankan pada masalah etik yang meliputi: 1. Lembar persetujuan menjadi responden (Informed Consent) Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Tujuan Informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian,

mengetahui dampaknya (Alimul, 2008: 83). Responden yang memenuhi syarat akan diberi penjelasan tentang tujuan penelitian, jika responden bersedia untuk diteliti. Maka responden harus menandatangani lembar persetujuan (Informed), hanya diberi kode tertentu. 2. Anonomity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek, peneliti tidak

mencantumkan nama responden pada lembar kuesioner dan lembar tersebut hanya diberi kode tertentu. 3. Confidentility (kerahasiaan) Kerahasiaan merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Alimul, 2008: 83). 4. Keterbatasan Keterbatasan merupakan suatu masalah dalam suatu penelitian baik berupa waktu, tempat, dan alamat, serta masalah-masalah lainnya yang dapat menghambat peneliti dalam melakukan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz. (2003). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika. ___________. (2008). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika. Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Ayuningsih, Diah. (2010). Psikologi Perkembangan Anak: Pola Pendidikan Sesuai Karakter dan Kepribadian Anak. Yogyakarta: Pustaka Larasati. Basuki. (2011). Kemandirian Anak, tigamedia.blogspot.com, diunduh tanggal 23 Juni 2012, jam 10.07 WIB Fuad Ihsan, Haji. (2010). Dasar-dasar Kependidikan: Komponen MKDK. Jakarta: Rineka Cipta. Dariyo, Agoes. (2007). Psikologi Perkembangan: Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung: PT. Refika Aditama. Mansur, Herawati. (2011). Psikologi Ibu dan Anak Untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika. Notoatmodjo, Soekidjo. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Purno, Arief. (2007). Pola Asuh dengan Kemandirian Anak Usia Sekolah, digilib.unimus.ac.id, diunduh tanggal 07 Juni 2012, jam 14.46 WIB. Rachmawati, Yeni dan Kurniati, Euis. (2010). Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Saryono. (2008). Metodologi Keperawatan Kesehatan: Penuntun Praktis Bagi Pemula. Jakarta: Mitra Cendikia Press. Sugiyono, (2006). Statistika untuk Penelitian. Jawa Barat: IKAPI.

Wibowo, Agus. (2012). Pendidikan Karakter Usia Dini: Strategi Membangun Karakter di Usia Emas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wawan dan Dewi. (2010). Teori dan Pengukuran: Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika. Wulandari, Isni. (2007). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Anak Usia Prasekolah, digilib.unimus.ac.id, diunduh tanggal 23 Juni 2012, jam 11.32 WIB