Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peluang ekspor yang cukup besar, namun modal yang diinvestasikan pada usaha perkebunan karet cukup besar dengan masa pengembalian investasi yang relatif lambat. Selain itu, produksi dan produktivitas karet yang masih rendah serta umur ekonomis yang sudah tidak mungkin dieksploitasi, maka perlu adanya usaha peremajaan karet dengan menggunakan klon unggul.

A. Latar Belakang
Sebanyak 1.106 hektare tanaman karet pada berbagai unit kebun yang mengusahakan komoditas tersebut di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII tengah diremajakan pada akhir tahun 2009 ini. Penanaman perdana peremajaan tanaman tersebut dilakukan di Kebun Jalupang, Kec. Cipeundeuy, Kab. Subang, Rabu (4/11). Peremajaan tanaman karet khusus di Kabupaten Subang dilakukan total 250 hektare, masing-masing pada unit Kebun Jalupang (181 hektare) dan Kebun Wangunreja (70-an hektare), dan Kebun Cikumpay Purwakarta (100 hektare). Selebihnya dilakukan pada unit-unit kebun karet PTPN VIII di Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, yang dilakukan serentak. Direktur Komoditas non-Teh PTPN VIII, Endhang Rahmat, mengatakan, tanaman-tanaman karet yang diremajakan tersebut umumnya sudah berusia 49 tahun. Diharapkan tanaman hasil peremajaan karet tahun 2009 ini sudah dapat diproduksi pada tahun keempat dengan masa produksi bisnis, di mana jenis klon yang digunakan adalah PB 260. Sementara yang berasal dari bibit unggul, pada umumnya kebun yang menggunakan bibit unggul yang dibangun dengan proyek-proyek perkebunan besar, seperti; PRPTE (Peremajaan Perluasan Tanaman Ekspor), SRDP (*Small Holder Rubber

Devolment Project*), PIR/NES (Perkebunan Inti Rakyat/*Nucleus Estite and Small Holder*), serta proyek-proyek yang didanai oleh pemerintah lainnya. Selain itu pemeliharaan tanaman yang kurang baik, justru menjadi kendala, diantaranya pemupukan, pembersihan kebun, dan pengendalian hama penyakit tanaman. Hampir semua kebun-kebun yang ditanam dengan pola-pola tersebut, saat ini sudah tua, dan sudah masanya untuk diremajakan. Semuanya saat ini termasuk ke dalam kategori kebun karet tua yang perlu diremajakan. Karena untuk meningkatkan produktivitas tanaman karet sekaligus meningkatkan pendapatan petani karet, maka yang sangat mendesak untuk dilakukan saat ini, adalah melalui peremajaan.

B. Permasalahan
Terbatasnya modal menjadi alasan klasik bagi peremajaan perkebunan karet rakyat di negeri ini. Petani karet rakyat yang hidup miskin, sudah tentu tidak memiliki modal tersebut. Sementara, pemerintah juga ikut-ikutan mengaku tidak punya anggaran cukup untuk membantu modal bagi petani karet yang hendak meremajakan kebun karet mereka. Selain itu, para petani pemilik kebun karet tua meminta agar pemerintah memfasilitasi untuk mengonversi tanaman karet tua menjadi perkebunan kelapa sawit. Dinas Perkebunan menyadari sepenuhnya akan terjadi dampak berantai akibat tersendatnya peremajaan tanaman karet. Luas areal karet tua bertambah dengan produksi yang terus menurun, pada akhirnya semakin menurunkan pendapatan petani itu sendiri. Tahun 2002 lalu memang ada peremajaan yang dilakukan di beberapa pemerintah kabupaten, namun masih minim, hal ini jelas tidak akan mampu melakukan peremajaan terhadap tanaman karet karena biaya yang mahal. Biaya penanaman atau peremajaan karet generasi ke-4 (G-4) klon IRR-118 sebanyak 500 pohon, pada tahun pertama sekitar Rp 3.095.500 perhektar. Itu belum termasuk biaya pemeliharaan pada tahun berikutnya.

Padahal, usia produktif karet adalah usia enam tahun hingga usia 25 atau 30 tahun. Pada usia produktif, tanaman karet rakyat ini rata-rata bisa menghasilkan sekitar 900 kilogram

per hektar per tahun.Sementara 100.000 hektar tanaman rakyat tersebut, saat ini sudah diatas usia produktif tersebut. Itu akan menjadi permasalahan lain. Hal yang utama adalah peremajaan pohon yang sudah tua saat ini. Waktu semakin mendesak. Ribuan petani tidak akan terusmenerus bisa menyadap pohon karet tua milik mereka. Beberapa tahun lagi karet-karet itu akan berhenti mengalirkan getahnya. Padahal, pohon itulah satu-satunya sumber penghidupan para petani karet. Jika itu sudah terjadi, ratusan ribu petani dan keluarganya akan kehilangan penghidupan. Harga pembelian perusahaan tersebut rendah, hanya Rp 150.000 permeter kubik di pabrik, Rp 60.000 per meter kubik di pinggir jalan,dan Rp 30.000 meter kubik jika dibeli langsung di kebun petani.. Pembangunan Asia, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), serta APBD sebenarnya pernah mendanai proyek peremajaan, rehabilitasi, dan perluasan tanaman karet. Berbagai proyek pernah dilakukan, misalnya, PeremajaanRehabilitasi dan Peremajaan Tanaman Ekspor (PRPTE), Nucleus Estateand Smallholder (NES), Tricrop Smallholder Development Project(TCSDP), Pengembangan Perkebunan Daerah

Transmigrasi (P2DT),Pertanian Rakyat Terpadu (PRT), dan Smallholder Rubber Development Project (SRDP). Terlepas masalah adanya korupsi di sebagian proyek tersebut, jika

diakumulasikan, sebenarnya sudah bisa diremajakan sekitar 2.000 hektar tanaman karet rakyat di setiap Provinsi setahun atau 4.000 hektar dalam dua tahun. Namun sejak tahun 2000, proyek peremajaan karet rakyat yang didanai pinjaman luar negeri tidak ada lagi. C. Tujuan Berdasarkan permasalahan yang ada, maka makalah ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan biaya produksi, harga jual karet, dan jumlah produksi terhadap keuntungan usaha peremajaan karet. Makalah ini dibuat sebagai upaya untuk memberikan informasi tentang kondisi tanaman karet di Indonesia pada umumnya serta upaya dalam peremajaannya maupun cara-cara melakukan peremajaan tanaman karet.

Kesimpulan : Peremajaan tanaman karet di Indonesia harus segera dilakukan untuk


mendapatkan keuntungan dari akan semakin membaiknya bisnis komoditas itu tahun-tahun mendatang.