Anda di halaman 1dari 6

MOTOR INDUKSI

A.

DEFINISI
Motor induksi merupakan motor listrik arus bolak balik (ac) yang paling luas digunakan Penamaannya berasal dari kenyataan bahwa motor ini bekerja berdasarkan induksi medan magnet stator ke statornya, dimana arus rotor motor ini bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh arus stator. Motor induksi sangat banyak digunakan di dalam kehidupan seharihari baik di industri maupun di rumah tangga. Motor induksi yang umum dipakai adalah motor induksi 3-fase dan motor induksi 1-fase. Motor induksi 3-fase dioperasikan pada sistem tenaga 3-fase dan banyak digunakan di dalam berbagai bidang industri, sedangkan motor induksi 1-fase dioperasikan pada sistem tenaga 1-fase yang banyak digunakan terutama pada penggunaan untuk peralatan rumah tangga seperti kipas angin, lemari es, pompa air, mesin cuci dan sebagainya karena motor induksi 1-fase mempunyai daya keluaran yang rendah.

B.

KOMPONEN
Motor induksi pada dasarnya mempunyai 3 bagian penting sebagai berikut. 1. Stator : Merupakan bagian yang diam dan mempunyai kumparan yang dapat menginduksikan medan elektromagnetik kepada kumparan rotornya. 2. Celah : Merupakan celah udara: Tempat berpindahnya energi dari startor ke rotor. 3. Rotor : Merupakan bagian yang bergerak akibat adanya induksi magnet dari kumparan stator yang diinduksikan kepada kumparan rotor. Konstruksi stator motor induksi pada dasarnya terdiri dari bahagian-bahagian sebagai berikut. 1. Rumah stator (rangka stator) dari besi tuang. 2. Inti stator dari besi lunak atau baja silikon. 3. Alur, bahannya sama dengan inti, dimana alur ini merupakan tempat meletakkan belitan (kumparan stator).

4. Belitan (kumparan) stator dari tembaga. Rangka stator motor induksi didisain dengan baik dengan empat tujuan yaitu: 1. Menutupi inti dan kumparannya. 2. Melindungi bagian-bagian mesin yang bergerak dari kontak langsung dengan manusia dan dari goresan yang disebabkan oleh gangguan objek atau gangguan udara terbuka (cuaca luar). 3. Menyalurkan torsi ke bagian peralatan pendukung mesin dan oleh karena itu stator didisain untuk tahan terhadap gaya putar dan goncangan. 4. Berguna sebagai sarana rumahan ventilasi udara sehingga pendinginan lebih efektif. Berdasarkan bentuk konstruksi rotornya, maka motor induksi dapat dibagi menjadi dua jenis seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.1, yaitu. 1. Motor induksi dengan rotor sangkar (squirrel cage). 2. Motor induksi dengan rotor belitan (wound rotor)

a) Rangka Stator b) Rotor Belitan c) Rotor Sangkar Gambar 3.1 Bentuk konstruksi dari motor induksi Konstruksi rotor motor induksi terdiri dari bahagian-bahagian sebagai berikut. 1. Inti rotor, bahannya dari besi lunak atau baja silikon sama dengan inti stator.

2. Alur, bahannya dari besi lunak atau baja silikon sama dengan inti. Alur merupakan tempat meletakkan belitan (kumparan) rotor. 3. Belitan rotor, bahannya dari tembaga. 4. Poros atau as. Diantara stator dan rotor terdapat celah udara yang merupakan ruangan antara stator dan rotor. Pada celah udara ini lewat fluks induksi stator yang memotong kumparan rotor sehingga meyebabkan rotor berputar. Celah udara yang terdapat antara stator dan rotor diatur sedemikian rupa sehingga didapatkan hasil kerja motor yang optimum. Bila celah udara antara stator dan rotor terlalu besar akan mengakibatkan efisiensi motor induksi rendah, sebaliknya bila jarak antara celah terlalu kecil/sempit akan menimbulkan kesukaran mekanis pada mesin. Bentuk gambaran sederhana penempatan stator dan rotor pada motor induksi diperlihatkan pada gambar 3.2.

Gambar 3.2 Gambaran sederhana motor induksi dengan satu kumparan stator dan satu kumparan rotor Tanda silang (x) pada kumparan stator atau rotor pada gambar 3.2 menunjukkan arah arus yang melewati kumparan masuk ke dalam kertas (tulisan ini) sedangkan tanda titik (.) menunjukkan bahwa arah arus keluar dari kertas. Belitan stator yang dihubungkan dengan suatu sumber tegangan akan menghasilkan medan magnet yang berputar dengan kecepatan sinkron (ns =, 120f/2p). Medan putar pada stator tersebut akan memotong konduktor-konduktor pada rotor, sehingga terinduksi arus; dan sesuai dengan Hukum Lentz, rotor pun akan turut berputar mengikuti medan putar stator. Perbedaan putaran relatif antara stator dan rotor disebut slip. Bertambahnya beban, akan memperbesar kopel motor yang oleh karenanya akan memperbesar pula arus induksi pada rotor, sehingga slip antara medan putar stator dan putaran rotor pun akan bertambah besar. Jadi. Bila beban motor bertambah, putaran rotor cenderung menurun.

C.

KONSTRUKSI
terdiri dari : ROTOR & STATOR STATOR

a. Sama sperti mesin serempak b. Dibuat dari besi berlaminasi yang mempunyai alur2 tempat kumparan stator c. Bila ada 3 kumparan phasa distator & diberi tegangan 3 Medan Putar dengan kecepatan sinkron ns = (f.60) / p akan menginduksikan emf pada rotor

ROTOR

Ada dua macam : a. Rotor Sangkar 90 % b. Rotor Gelung (Wound Rotor)

Rotor Sangkar Sederhana & Kuat dibuat dari besi berlaminasi & beralur diisi dengan tembaga /aluminium kedua ujungnya dihubungkan singkat. Batang2 tembaga Aluminium dicor dalam alur2 tidak dapat dibuka. Alur2 rotor dibuat agak bergeser dari sumbu Axial : a. Untuk mengurangi noise b. Untuk mencegah rotor terkunci pada saat start ROTOR GELUNG Mempunyai kumparan, biasanya 3 phasa seperti pada STATOR,kumparan dihubungkan bintang (y), ujung2nya dikeluarkan melalui Slip Ring & dihubungkan dengan tahanan diluar. Ini dilakukan pada saat START setelah jalan, singkat diangkat & Kumparan dihubungkan singkat
D.

E.

PRINSIP KERJA
Jika pada belitan stator diberi tegangan tiga fasa, maka pada stator akan dihasilkan arus tiga fasa. Arus ini akan mengalir melalui belitan yang akan menimbulkan fluks dan karena adanya perbedaan sudut fasa sebesar 120 antara ketiga fasanya, maka akan timbul medan putar, dengan kecepatan sinkron ns, n_{s}=\frac{120f}{p}(rpm) Dimana : ns : kecepatan sinkron f : frekuensi p : jumlah kutub Dalam stator sendiri akan timbul

tegangan pada masing-masing fasa yang dinyatakan: E_{1}=4,41fN_{1}\Phi Dalam keadaan rotor masih diam, medan putar stator akan memotong batang konduktor pada rotor. Akibatnya pada kumparan rotor timbul tegangan induksi (ggl) sebesar E2: E_{2}=4,41fN_{2}\Phi_{m} Dengan : E1 : tegangan stator E2 : tegangan rotor N1 : jumlah kumparan stator N2 : jumlah kumparan rotor m: fluks maksimum Perbedaan kecepatan sinkron medan putar stator (ns) dan kecepatan rotor (nr) disebut slip. Besarnya slip yang terjadi adalah, s=\frac{n_{s}n_{r}}{n_{s}}100\% Dimana : s : slip motor ns : kecepatan stator nr : kecepatan rotor Pada saat rotor dalam keadaan berputar, besarnya tegangan yang terinduksi pada kumparan rotor akan bervariasi tergantung besarnya slip, dan tegangan induksi ini dinyatakan dengan E2s. E_{2s}=4,41sfN_{2}\Phi _{m} Dengan : E2s: tegangan rotor saat keadaan berputar sf sama dengan f2: frekuensi rotor Aliran Daya Aktif Motor Induksi Kita dapat mengidentifikasi dan menghitung tiga hal penting dari motor induksi tiga fasa berdasarkan diagram aliran daya pada gambar berikut, yaitu efisiensi, daya dan torsi dari motor induksi. Aliran Daya Pada Motor Induksi Aliran Daya Pada Motor Induksi,daya motor induksi,konstruksi motor induksi,sturktur motor induksi,definsi motor induksi,aplikasi motor induksi,prinsip kerja motor induksi,konstruksi motor induksi,bagian motor induksi,aliran arus motor induksi,motor induksi,karakter motor induksi,rumus motor induksi,haga motor induksi,jual motor induksi,tegangan motor induksi,persamaan motor induksi,sistem kerja motor induksi,bagian motor induksi,rotor motor induksi,stator motor induksi,komponen motor induksi Efisiensi. Dari definisinya, efisiensi merupakan rasio dari daya output dengan daya input, di rumuskan dalam persamaan sebagai berikut: efisiensi(\eta )=\frac{P_{L}} {P_{e}} Rugi-rugi I2R pada rotor. Rugi-rugi I2R pada rotor (Pjr) berhubungan dengan daya input rotor Pr , dan digambarkan melalui persamaan berikut: P_{jr}=sPr Daya Mekanik. Daya mekanik Pm yang dihasilkan oleh motor sama dengan daya yang dikirim pada rotor dikurangi rugi-rugi pada rotornya. P_{m}=(1-s)Pr Torsi Motor. Torsi, Tm dihasilkan oleh motor pada semua atau berapapun kecepatan motornya, dengan persamaan: T_{m}=\frac{9,55P_{r}}{n_{s}}