Anda di halaman 1dari 59

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus, batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) yang memiliki ukuran, bentuk dan komposisi yang bervariasi (Smeltzer, 2001). Insiden kolelitiasis atau batu kandung empedu di Amerika Serikat diperkirakan 20 juta orang yaitu 5 juta pria dan 15 juta wanita. Pada pemeriksaan autopsy di Amerika, batu kandung empedu ditemukan pada 20 % wanita dan 8 % pria. Insiden batu kandung empedu di Indonesia belum diketahui secara pasti, karena kasuskasus yang ada belum terpublikasikan dengan baik. Banyak penderita batu kandung empedu tanpa gejala dan ditemukan secara kebetulan pada waktu dilakukan foto polos abdomen, USG, atau saat operasi untuk tujuan yang lain. Dengan perkembangan peralatan dan teknik diagnosis yang baru USG maka banyak penderita batu kandung empedu yang ditemukan secara dini sehingga dapat dicegah kemungkinan terjadinya komplikasi. Semakin canggihnya peralatan dan semakin kurang invasifnya tindakan pengobatan sangat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Di antara prosedur penatalaksanaan pada kasus kolelitiasis adalah dengan metode kolesistektomi laparaskopi yaitu suatu teknik bedah minimal invasif, sehingga pasien merasa lebih aman. Operasi dilakukan melalui tiga lubang kecil berukuran 0,5 sentimeter hingga satu sentimeter. Bedah laparoskopi berbeda dengan bedah konvensional karena pada bedah laparoskopi hanya membutuhkan akses minimal ke tubuh pasien sedangkan bedah konvensional, sayatan di perut bisa sepanjang belasan sentimeter. Bisa dikatakan, laparoskopi kolesistektomi saat ini telah menjadi standar pembedahan pada penyakit batu empedu, dan saat ini lebih dari

96% pembedahan pada penyakit batu empedu dilakukan secara bedah laparoskopi di negara-negara maju. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui dan memahami kasus pasien dengan gangguan empedu : kolelitiasis. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui dan memahami definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, gambaran klinis, diagnosis, penatalaksanaan dan asuhan keperawatan pada kolelitiasis. b. Membandingkan berbagai cara pendekatan dalam penatalaksanaan kolelitiasis. c. Mengetahui dan memahami proses keperawatan untuk perawatan pasien kolelitiasis dan pasien-pasien yang menjalani kolesistektomi. C. Epidemiologi Insiden kolelithiasis atau batu kandung empedu di Amerika Serikat diperkirakan 20 juta orang yaitu 5 juta pria dan 15 juta wanita. Kolelithiasis tidak lazim dijumpai pada anak-anak dan dewasa muda tetapi insidennya semakin sering pada individu berusia di atas 40 tahun. Pada pemeriksaan autopsy di Amerika, batu kandung empedu ditemukan pada 20 % wanita dan 8 % pria. Insiden batu kandung empedu di Indonesia belum diketahui dengan pasti, karena belum ada penelitian. Angka kejadian di Indonesia diduga tidak berbeda jauh dengan angka di negara lain di Asia Tenggara. Banyak penderita batu kandung empedu tanpa gejala dan ditemukan secara kebetulan pada waktu dilakukan foto polos abdomen, USG (Ultrasonografi), atau saat operasi untuk tujuan yang lain.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Anatomi Kandung Empedu (Vesika Felea) Kandung empedu merupakan kantong berbentuk seperti alpukat yang terletak tepat dibawah lobus kanan hati, berfungsi untuk menyimpan empedu (cairan pencernaan berwarna kuning kehijauan yang dihasilkan oleh hati). Kandung empedu mempunyai fundus, korpus, infundibulum, dan kolum. Fundus bentuknya bulat, ujungnya buntu dari kandung empedu. Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah bagian yang sempit dari kandung empedu. Empedu mengalir dari hati melalui duktus hepatikus kiri dan kanan, lalu keduanya bergabung membentuk duktus hepatikus utama. Duktus hepatikus utama bergabung dengan saluran yang berasal dari kandung empedu (duktus sistikus) membentuk saluran empedu utama. Saluran empedu utama masuk ke usus bagian atas pada sfingter Oddi, yang terletak beberapa sentimeter dibawah lambung.

B. Fisiologi Kandung Empedu (Vesika Felea) Kandung empedu (vesika biliaris) mampu menyimpan sekitar 45 ml empedu. Diluar waktu makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu, dan di sini mengalami pemekatan sekitar 50 %. Fungsi primer dari kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan absorpsi air dan natrium. Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang kedap, yang terkandung dalam empedu hepatik 5-10 kali dan mengurangi volumenya 80-90%. Menurut Guyton & Hall, 1997 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu:

a. Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak, karena asam empedu melakukan dua hal antara lain: asam empedu membantu mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi partikel yang lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah pancreas. Asam empedu membantu transpor dan absorpsi produk akhir lemak yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa intestinal. b. Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk buangan yang penting dari darah, antara lain bilirubin, suatu produk akhir dari penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang di bentuk oleh sel- sel hati. Sekitar separuh empedu dikeluarkan diantara jam-jam makan dan dialirkan melalui duktus sistikus ke dalam kandung empedu. Sisanya langsung mengalir ke dalam saluran empedu utama, menuju ke usus halus. Jika kita makan, kandung empedu akan berkontraksi dan mengosongkan empedu ke dalam usus untuk membantu pencernaan lemak dan vitaminvitamin tertentu. Dasar yang menyebabkan pengosongan adalah kontraksi ritmik dinding kandung empedu, tetapi efektifitas pengosongan juga membutuhkan relaksasi yang bersamaan dari sfingter oddi yang menjaga pintu keluar duktus biliaris komunis kedalam duodenum. Kandung empedu mengosongkan simpanan empedu pekatnya ke dalam duodenum terutama sebagai respon terhadap perangsangan kolesistokinin. Hormon kolesistikinin (CCK) ini disekresi oleh mukosa usus halus akibat pengaruh makanan berlemak atau produksi lipolitik dapat merangsang nervus vagus. Asam hidroklorik, sebagai digesti protein dan asam lemak yang ada di duodenum merangsang peningkatan sekresi empedu. Selain kolesistokinin, kandung empedu juga dirangsang kuat oleh serat-serat saraf yang menyekresi asetilkolin dari sistem saraf vagus dan enterik. Saat lemak tidak terdapat dalam makanan, pengosongan kandung empedu berlangsung buruk, tetapi bila terdapat jumlah lemak yang adekuat dalam

makanan, normalnya kandung empedu kosong secara menyeluruh dalam waktu sekitar 6 jam. Empedu terdiri dari: garam-garam empedu elektrolit pigmen empedu (misalnya bilirubin) kolesterol lemak.

C. Definisi Kolelitiasis Kolelitiasis (kalkulus/kalkuli, batu empedu) biasanya terbentuk dalam kandung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu yang memiliki ukuran, bentuk dan komposisi yang sangat bervariasi. (Brunner & Suddart, 2002) Kolelitiasis yaitu suatu material mirip batu yang dapat ditemukan dalam kandung empedu. Kolelithiasis disebut juga batu empedu, gallstones, biliary calculus. Jika material ini ditemukan di dalam saluran empedu disebut (koledokolitiasis). D. Etiologi Etiologi batu empedu masih belum diketahui secara pasti, adapun faktor predisposisi terpenting, yaitu: gangguan metabolisme yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi empedu, statis empedu, dan infeksi kandung empedu. Perubahan komposisi empedu kemungkinan merupakan faktor terpenting dalam pembentukan batu empedu karena hati penderita batu empedu kolesterol mengekresi empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol. Kolesterol yang berlebihan ini mengendap dalam kandung empedu (dengan cara yang belum diketahui sepenuhnya) untuk membentuk batu empedu.

Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan komposisi kimia, dan pengendapan unsur-unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu atau spasme spingter oddi, atau keduanya dapat menyebabkan statis. Faktor hormonal (hormon kolesistokinin dan sekretin) dapat dikaitkan dengan keterlambatan pengosongan kandung empedu. Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan batu. Mukus meningatakan viskositas empedu dan unsur sel atau bakteri dapat berperan sebagai pusat presipitasi/pengendapan. Infeksi lebih timbul akibat dari terbentuknya batu, dibanding penyebab terbentuknya batu. Faktor risiko batu empedu dikenal dengan singkatan 4F, yaitu Forty, Female, Fat, Family. Artinya, batu empedu lebih umum pada mereka yang berusia di atas 40 tahun, wanita, kegemukan dan punya riwayat keluarga terkena batu empedu. a. Usia lanjut. Batu empedu jarang sekali menyerang di usia 25 tahun ke bawah. Sekitar 30% lansia diperkirakan memiliki batu empedu, meskipun kebanyakan tidak menimbulkan gejala. b. Wanita. Wanita lebih banyak terkena batu empedu dibandingkan pria. Pada wanita insidennya sekitar 2 per 1000, dibandingkan hanya 0,6 per 1000 pada pria. Pada wanita hamil, kandung empedu menjadi lebih rendah dan batu empedu bisa berkembang. Hormon wanita dan penggunaan pil KB juga diduga ikut berperan. c. Obesitas. Kelebihan berat badan merupakan faktor risiko yang kuat untuk batu empedu, terutama di kalangan wanita. Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan memiliki BMI lebih dari 32 memiliki risiko tiga kali lebih besar untuk mengembangkan batu empedu dibandingkan yang memiliki BMI antara 24 s.d. 25. Risiko meningkat tujuh kali lipat pada wanita dengan BMI lebih dari 45.

d. Genetik. Bila keluarga inti Anda (orangtua, saudara dan anak-anak) memiliki batu empedu, Anda berpeluang 1 kali lebih mungkin untuk mendapatkan batu empedu. Komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah besar kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika caiiran empedu menjadu jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan diluar empedu. Sebagian besar batu empedu terbentuk didalam kandung empedu dan sebagian besar batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu. Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran atau setelah dilakukan pengangkatan kandung empedu. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati. Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya. E. Patofisiologi Sebagian besar batu empedu terbentuk di dalam kandung empedu dan sebagian besar batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu. Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran atau setelah dilakukan pengangkatan kandung empedu. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati. Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya. Sebagian

besar batu empedu dalam jangka waktu yang lama tidak menimbulkan gejala, terutama bila batu menetap di kandung empedu. Kadang-kadang batu yang besar secara bertahap akan mengikis dinding kandung empedu dan masuk ke usus halus atau usus besar, dan menyebabkan penyumbatan usus (ileus batu empedu). Yang lebih sering terjadi adalah batu empedu keluar dari kandung empedu dan masuk ke dalam saluran empedu. Dari saluran empedu, batu empedu bisa masuk ke usus halus atau tetap berada di dalam saluran empedu tanpa menimbulkan gangguan aliran empedu maupun gejala. Sekresi kolesterol berhubungan dengan pembentukan batu empedu. Pada kondisi yang abnormal, kolesterol dapat mengendap, menyebabkan pembentukan batu empedu. Berbagai kondisi yang dapat menyebabkan pengendapan kolesterol adalah: terlalu banyak absorbsi air dari empedu, terlalu banyak absorbsi garam- garam empedu dan lesitin dari empedu, terlalu banyak sekresi kolesterol dalam empedu. Jumlah kolesterol dalam empedu sebagian ditentukan oleh jumlah lemak yang dimakan karena selsel hepatik mensintesis kolesterol sebagai salah satu produk metabolisme lemak dalam tubuh. Untuk alasan inilah, orang yang mendapat diet tinggi lemak dalam waktu beberapa tahun, akan mudah mengalami perkembangan batu empedu. Batu kandung empedu dapat berpindah kedalam duktus koledokus melalui duktus sistikus. Didalam perjalanannya melalui duktus sistikus, batu tersebut dapat menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau komplet sehingga menimbulkan gejala kolik empedu. Kalau batu terhenti di dalam duktus sistikus karena diameternya terlalu besar atau tertahan oleh struktur, batu akan tetap berada disana sebagai batu duktus sistikus. a. Batu kolesterol Empedu yang di supersaturasi dengan kolesterol bertanggung jawab lebih dari 90 % kolelitiasis di negara Barat. Sebagian besar empedu ini

merupakan batu kolesterol campuran yang mengandung paling sedikit 75 % kolesterol serta dalam variasi jumlah fosfolipid, pigmen empedu, senyawa organik dan inorganik lain. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya tergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid dalam empedu). Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningktan sintesis kolesterol dalam hati, keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar getah empedu, mengendap, dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebgai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu. Menurut Meyers & Jones, 1990, proses fisik pembentukan batu kolesterol terjadi dalam empat tahap: 1) Supersaturasi empedu dengan kolesterol. 2) Pembentukan nidus atau inti pengendapan kolesterol 3) Kristalisasi/presipitasi. 4) Pertumbuhan batu oleh agregasi/presipitasi lamelar kolesterol dan senyawa lain yang membentuk matriks batu.

b. Batu pigmen Batu pigmen merupakan 10% dari total kasus batu empedu, mengandung <20% kolesterol. Batu pigmen dapat dibagi kepada 2, yaitu: 1) Batu kalsium bilirunat (pigmen coklat)

Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama. Batu pigmen cokelat terbentuk akibat adanya faktor stasis dan infeksi saluran empedu. Stasis dapat disebabkan oleh adanya disfungsi sfingter Oddi, striktur, operasi bilier, dan infeksi parasit. Bila terjadi infeksi saluran empedu, khususnya E. Coli, kadar enzim Bglukoronidase yang berasal dari bakteri akan dihidrolisasi menjadi bilirubin bebas dan asam glukoronat. Kalsium mengikat bilirubin menjadi kalsium bilirubinat yang tidak larut. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan adanya hubungan erat antara infeksi bakteri dan terbentuknya batu pigmen coklat. Baik enzim -glukoronidase endogen maupun yang berasal dari bakteri ternyata mempunyai peran penting dalam pembentukan batu pigmen ini. Umumnya batu pigmen cokelat ini terbentuk di saluran empedu dalam empedu yang terinfeksi.

2) Batu pigmen hitam Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi.Batu pigmen hitam adalah tipe batu yang banyak ditemukan pada pasien dengan hemolisis kronik atau sirosis hati dengan peningkatan beban bilirubin tak terkonjugasi (anemia hemolitik). Batu pigmen hitam ini terutama terdiri dari derivat polymerized bilirubin. Potogenesis terbentuknya batu ini belum jelas. Umumnya batu pigmen hitam terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu yang steril. F. Klasifikasi Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu empedu di golongkankan atas 3 (tiga) golongan :

1. Batu kolesterol. Berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari 70% kolesterol 2. Batu kalsium bilirubinan (pigmen coklat) Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama. 3. Batu pigmen hitam. Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi.

G. Manifestasi Klinis Batu empedu biasanya terjadi secara tersembunyi karena tidak mengalami rasa nyeri dan hanya menyebabkan gejala gastrointestinal yang ringan. Batu tersebut mungkin ditemukan secara kebetulan pada saat pembedahan atau evaluasi untuk gangguan yang tidak berhubungan sama sekali. Penderita penyakit kandung empedu akibat batu empedu dapat mengalami 2 jenis gejala : gejala yang disebakan oleh penyakit kandung empedu itu sendiri dan gejala yang disebabkan karena obsruksi pada lintas empedu olem batu ginjal. Gejala bisa bersifat akut atau kronis. Gangguan epigastrium, seperti rasa penuh, distensi abdomen dan nyeri yang samar pada kuadran kanan atas abdomen, dapat terjadi. Gangguan ini terjadi setelah individu mengkonsumsi makanan yang berlemak atau yang digoreng. Rasa nyeri dan kolik biler. Jika duktus sistikus tersumbat oleh batu empedu, kandung empedu akan mengalami distensi dan akhirnya infeksi. Pasien akan menderita panas dan mungkin teraba massa padat pada

abdomen. Pasien dapat mengalami kolik bilier disertai nyeri hebat pada abdomen kuadran kanan atas yang menjalar ke punggung atau bahu kanan ; rasa nyeri ini biasanya disertai dengan mual muntah dan bertambah hebat dalam beberapa jam setelah makan makanan dalam porsi besar. Pasien akan membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah karena tidak mampu menemukan posisi yang nyaman. Pada sebagian pasien nyeri bukan bersifat kolik melainkan persisten. Serangan kolik biner semacam ini disebabkan oleh kontraksi

kandung empedu yang tidak dapat mengeluarkan empedu keluar karena tersumbatnya saluran oleh batu. Dalam keadaan distensi, bagian fundus kandung empedu akan menyentuh dinding abdomen pada daerah kartilago kosta 9 dan 10 kanan. Sentuhan ini akan menimbulkan nyeri tekan yang mencolok pada kuadran kanan atas saat pasien melakukan inspirasi dalam, dan menghambat pengembangan rongga dada. Nyeri pada kolesistitis akut dapat berlangsung sangat hebat sehinggga diperlukan preparat analgesic yang kuat seperti mepiridin. Pemberian morfin dianggap dapat meningkatkan spasme sfinter Oddi sehingga perlu dihindari. Ikterus dapat dijumpai diantara penderita penyakit kandung empedu dengan persenase yang kecil dan biasanya terjadi pada obstuksi duktus koledokus. Obstruksi pengaliran getah empedu kedalam duodenum akan menimbulkan gejala yang khas, yaitu : getah empedu yang tidak lagi dibawa ke duodenum akan diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini menyebabkan kulit dan membrane mukosa berwarna kuning. Gejala ini sering disertai gejala gatal-gatal yang mencolok. Ekresi pigmen empedu oleh ginjal akan membuat warna urin sangat gelap. Feses yang tidak lagi diwarnai oleh pigmen empedu akan tampak kelabu, dan biasanya pekap yang disebut clay-colored.. Obstuksi aliran empedu juga mengganggu absorsi vitamin A, D, E, dan K yang larut lemak. Karena itu pasien dapat memperlihatkan defisiensi vitamin-vitamin ini jika obstruksi bilier berjalan lama. Defisiensi vitamin K dapat mengganggu pembekuan darah yang normal.

Jika batu empedu terlepas dan tidak lagi menyumbat duktus sistikus, kandung empedu akan mengalirkan isinya keluar dan proses inflamasi segera mereda dalam waktu yang relative singkat. Jika batu empedu terus menyumbat ini bisa menyebabkan abses, nekrosis dan perforasi disertai peritonitis generalisata.

Faktor resiko

Sintesa kolesterol meningkat Sekresi as. Empedu dan lechhitin

Kemampuan melarutkan kolesterol menurun

Kristal kolesterol meningkat

Batu kolesterol Nyeri abdomen Kontraksi k. empedu spasme Sp. Oddi kanan atas Nyeri

Menghambat aliran cairan empedu

Jaundice, priritus icteric Feses berlemak

Gangguan integritas kulit gangguan nutrisi l, m un gangguan Cairan elektrolit kes. dan

Kandung empedu membesar

H. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis : 1. Obstruksi duktus sistikus 2. Kolik bilier 3. Kolesistisis akut (peradangan pada dinding kantung empedu); Empiema, Perikolesistisis, Perforasi : Perforasi lokal biasanya tertahan dalam omentum atau oleh adhesi yang ditimbulkan oleh peradangan berulang kandung empedu. ferforasi bebas lebih jarang terjadi tetapi mengakibatkan kematian sekitar 30%. 4. Kolesistisis kronis : Hidrop kandung empedu, Empiema kandung empedu, Fistel kolesistoenterik, Ileus batu empedu (gallstone ileus). Kolesistokinin yang disekresi oleh duodenum karena adanya makanan mengakibatkan/ menghasilkan kontraksi kandung empedu, sehingga batu yang tadi ada dalam kandung empedu terdorong dan dapat menutupi duktus sistikus, batu dapat menetap ataupun dapat terlepas lagi. Apabila batu menutupi duktus sitikus secara menetap maka mungkin akan dapat terjadi mukokel, bila terjadi infeksi maka mukokel dapat menjadi suatu empiema, biasanya kandung empedu dikelilingi dan ditutupi oleh alat-alat perut (kolon, omentum), dan dapat juga membentuk suatu fistel kolesistoduodenal. Penyumbatan duktus sistikus dapat juga berakibat terjadinya kolesistitis akut yang dapat sembuh atau dapat mengakibatkan nekrosis sebagian dinding (dapat ditutupi alat sekiatrnya) dan dapat membentuk suatu fistel kolesistoduodenal ataupun dapat terjadi perforasi kandung empedu yang berakibat terjadinya peritonitis generalisata. Batu kandung empedu dapat maju masuk ke dalam duktus sistikus pada saat kontraksi dari kandung empedu. Batu ini dapat terus maju sampai duktus koledokus kemudian menetap asimtomatis atau kadang dapat menyebabkan kolik. Batu yang menyumbat di duktus koledokus

juga berakibat terjadinya ikterus obstruktif, kolangitis, kolangiolitis, dan pankretitis. Batu kandung empedu dapat lolos ke dalam saluran cerna melalui terbentuknya fistel kolesitoduodenal. Apabila batu empedu cukup besar dapat menyumbat pad bagian tersempit saluran cerna (ileum terminal) dan menimbulkan ileus obstruksi.

I. Pemeriksaan Diagnostik 1. Rongten abdomen/pemeriksaan sinar X/Foto polos abdomen Dapat dilakukan pada klien yang dicurigai akan penyakit kandung empedu. Akurasi pemeriksaannya hanya 15-20%. Tetapi bukan merupakan pemeriksaan pilihan. 2. Kolangiogram/kolangiografi transhepatik perkutan. Yaitu melalui penyuntikan bahan kontras langsung ke dalam cabang bilier. Karena konsentrasi bahan kontras yang disuntikan relatif besar maka semua komponen sistem bilier (duktus hepatikus, D. koledukus, D. sistikus dan kandung empedu) dapat terlihat. Meskipun angka komplikasi dari kolangiogram rendah namun bisa beresiko peritonitis bilier, resiko sepsis dan syokseptik. 3. ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatographi) Pemeriksaan ini memungkinkan visualisasi struktur secara langsung yang hanya dapat dilihat pada saat laparatomi. Pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat optik yang fleksibel kedalam esofagus hingga mencapai duodenum pars desendens. Sebuah kanula dimasukan ke dalam duktus koleduktus serta duktus pankreatikus, kemudian bahan kontras disuntikan ke dalam duktus tersebut untuk menentukan keberadaan batu diduktus dan memungkinkan visualisassi serta evaluasi percabangan bilier.

J. Pemeriksaan Fisik 1. Batu kandung empedu Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum didaerah letak anatomis kandung empedu. Tanda Murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik nafas . 2. Batu saluran empedu Baru saluran empedu tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang. Kadang teraba hatidan sklera ikterik. Perlu diktahui bahwa bila kadar bilirubin darah kurang dari 3 mg/dl, gejal ikterik tidak jelas. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah berat, akan timbul ikterus klinis. K. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium (darah) : Kenaikan serum kolesterol Kenaikan fosfolipid Penurunan ester kolesterol Kenaikan bilirubin total Penurunan urobilirubin Peningkatan sel darah putih Peningkatan serum amilase, bila pankreas terlibat atau bila ada batu di duktus utama. 2. Pemeriksaan radiologis Foto polos Abdomen

Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus besar, di fleksura hepatika . Ultrasonografi (USG) Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstra hepatik. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau odema yang diakibatkan oleh peradangan maupun sebab lain. Batu yang terdapat pada duktus koledukus distal kadang sulit dideteksi karena terhalang oleh udara di dalam usus. Kolesistografi Kolesistografi oral akan gagal pada keadaan ileus paralitik, muntah, kadar bilirubun serum diatas 2 mg/dl, okstruksi pilorus, dan hepatitis karena pada keadaan-keadaan tersebut kontras tidak dapat mencapai hati. Pemeriksaan kolesitografi oral lebih bermakna pada penilaian fungsi kandung empedu .

L. Penatalaksanaan a. Konservatif 1) Penatalaksanaan pendukung diet Kurang lebih 80% dari pasien-pasien inflamasi akut kandung empedu sembuh dengan istirahat, cairan infus, penghisapan

nasogastrik, analgesik dan antibiotik. Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda dan evalusi yang lengkap dapat dilaksanakan, kecuali jika kondisi pasien memburuk. (Smeltzer, 2002). Manajemen terapi : Diet rendah lemak, tinggi kalori, tinggi protein Pemasangan pipa lambung bila terjadi distensi perut. Observasi keadaan umum dan pemeriksaan vital sign Dipasang infus program cairan elektrolit dan glukosa untuk mengatasi syok. Pemberian antibiotik sistemik dan vitamin K (anti koagulopati) 2) Pelarutan batu empedu Pelarutan batu empedu dengan bahan pelarut (misal: monooktanoin atau metil tertier butil eter/MTBE). Pelarut tersebut dapat diinfuskan melalui selang atau kateter yang dipasang perkutan langsung kedalam kandung empedu, melalui selang atau drain yang dimasukkan melalui saluran T-Tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan; melalui endoskop ERCP; atau kateter bilier transnasal. 3) ESWL ( Extracorporeal Shock- Wave Lithotripsy) Prosedur noninvasiv ini menggunakan gelombang kejut berulang (Repeated Shock Wave) yang diarahkan pada batu empedu didalam kandung empedu atau duktus koledokus dengan maksud memecah batu tersebut menjadi beberapa sejumlah fragmen. Gelombang kejut dihasilkan dalam media cairan oleh percikan listrik, yaitu piezoelektrik, atau oleh muatan elektromagnetik. Energy ini disalurkan ke dalam tubuh lewat rendaman air atau kantong yang berisi cairan.

4) Pemberian asam ursodeoksikolat dan kenodioksikolat digunakan untuk melarutkan batu empedu terutama berukuran kecil dan tersusun dari kolesterol. Zat pelarut batu empedu hanya digunakan untuk batu kolesterol pada pasien yang karena sesuatu hal sebab tak bisa dibedah. Batubatu ini terbentuk karena terdapat kelebihan kolesterol yang tak dapat dilarutkan lagi oleh garam-garam empedu dan lesitin. Untuk melarutkan batu empedu tersedia Kenodeoksikolat dan ursodeoksikolat. Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan sekresi kolesterol, sehigga kejenuhannya dalam empedu berkurang dan batu dapat melarut lagi. Therapi perlu dijalankan lama, yaitu : 3 bulan sampai 2 tahun dan baru dihentikan minimal 3 bulan setelah batu-batu larut. Recidif dapat terjadi pada 30% dari pasien dalam waktu 1 tahun , dalam hal ini pengobatan perlu dilanjutkan. b. Penanganan Operatif Penanganan bedah pada penyakit kandung empedu dan batu empedu dilaksanakan untuk mengurangi gejala yang sudah berlangsung lama, untuk menghilangkan penyebab kolik bilier dan untuk mengatasi kolesistitis akut. Pembedahan dapat efektif jika gejala yang dirasakan pasien sudah mereda atau bisa dikerjakan sebagai suatu prosedur darurat bilamana kondisi pasien mengharuskannya. Penatalaksanaan pra operatif : a) Pemeriksaan sinar X pada kandung empedu

b) Foto thoraks c) Elektrokardiogram

d) Pemeriksaan faal hati e) f) Vitamin K (diberikan bila kadar protrombin pasien rendah) Terapi komponen darah

g) Penuhi kebutuhan nutrisi, pemberian larutan glukosa secara intravena bersama suplemen hidrolisat protein mungkin diperlukan untuk membantu kesembuhan luka dan mencegah kerusakan hati. c. Penanganan operatif: 1) Open kolesistektomi\ Operasi ini merupakan standar untuk penanganan pasien dengan batu empedu simtomatik. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut. Komplikasi yang berat jarang terjadi, infeksi. 2) Kolesistektomi laparoskopik Kelebihan tindakan ini meliputi nyeri pasca operasi lebih minimal, pemulihan lebih cepat, hasil kosmetik lebih baik, menyingkatkan perawatan di rumah sakit dan biaya yang lebih murah. Indikasi tersering adalah nyeri bilier yang berulang. Kontra indikasi absolut serupa dengan tindakan terbuka yaitu tidak dapat mentoleransi tindakan anestesi umum dan koagulopati yang tidak dapat dikoreksi. Komplikasi yang terjadi berupa perdarahan, pankreatitis, bocor stump duktus sistikus dan trauma duktus biliaris. Resiko trauma duktus biliaris sering dibicarakan, namun umumnya berkisar antara 0,51%. Dengan menggunakan teknik laparoskopi kualitas pemulihan lebih baik, tidak terdapat nyeri, kembali menjalankan aktifitas normal dalam 10 hari, cepat bekerja kembali, dan semua otot abdomen utuh sehingga dapat digunakan untuk aktifitas olahraga. 3) Kolesistektomi minilaparatomi. Modifikasi dari tindakan kolesistektomi terbuka dengan insisi lebih kecil dengan efek nyeri paska operasi lebih rendah. perdarahan, dan

M. Pencegahan Pembentukan Batu Empedu Ada berbagai faktor yang turut berperan dalam proses

pembentukan batu empedu, anatara lain faktor genetik, kegemukan, obatobatan, etnis, penyakit (misal kencing manis, sirosis hati, dsb), diet, kurang olahraga dll. Dari faktor-faktor tersebut, ada faktor yang bersifat dapat dikendalikan dan ada yang tidak dapat dikendalikan. Dalam rangka mencegah terbentuknya batu empedu, tentunya upaya yang dapat dikendalikan seperti faktor diet, mengatur berat badan dan olahraga. Ada banyak cara untuk mencegah terjadinya batu empedu, antara lain: 1) Membatasi asupan lemak Tidak semua lemak memberikan resiko terbentuknya batu empedu, namun lemak yang jumlahnya melebihi kapasitas dalam tubuh tanpa diimbangi dengan komponen lainnya akan membuat timbunan lemak yang akhirnya menimbulkan resiko terhadap gangguan penyakit tubuh, seperti terbentuknya batu empedu. Dengan membatasi dan mencukup asupan lemak dari berbagai jenis makanan maupun minuman merupakan salah satu langkah awal dalam mencegah terbentuknya batu empedu. Batasi makanan yang tinggi lemak jenuh, seperti daging merah dan mentega yang dapat menyebabkan terbentuknya batu empedu. Tubuh tetap membutuhkan lemak untuk memproduksi energi, oleh karenanya beralihlah mengkonsumsi lemak tak jenuh tunggal seperti minyak zaitun atau asam lemak omega 3 akan membantu mengurangi resiko terkena batu empedu. 2) Menjaga berat badan tetap sehat ideal Kelebihan berat badan atau memiliki obesitas semakin memperluas peluang resiko terbentuknya batu empedu. Hidup yang sehat juga perlu diimbangi dengan olahraga minimal 30 menit per sessi cukup 2-3 kali dalam seminggu.

3) Hindari diet tinggi lemak Diet bukan berarti mengurangi porsi makanan, hanya memperkecil porsi makan, mengurangi atau membatasi jumlah asupan lemak, makanan yang banyak mengandung kalori atau kolesterol tinggi. Lebih baik makan dengan porsi sedikit namun sering dibanding makan dalam jumlah atau porsi banyak namun jarang. Melakukan diet yang terlalu ketat tanpa diimbangi dan mencukupi kebutuhan komponen zat gizi, berat badan tubuh akan menurun drastis, dan kemudian membuat tubuh mudah lemas dan peluang terbentuknya batu empedu semakin meningkat, karena organ hati dan empedu tidak mendapatkan asupan atau kecukupan gizi, mineral, lemak dan kalori dalam jumlah normal. 4) Membatasi konsumsi alkohol dan kopi Alkohol tidak hanya terdapat pada jenis minuman saja, alkohol juga terkandung dalam beberapa jenis makanan seperti panganan yang menggunakan ragi, tuak, bir dsb. Kopi yang mengandung unsur kafein tak selalu berbahaya bagi tubuh. Konsumsi dalam takaran normal (1 cangkir = 100 ml). Unsur kafein dalam kopi akan berkontribusi di dalam kandung empedu yang dapat mengurangi proses pembentukan batu empedu. 5) Konsumsi serat pada buah dan sayuran hijau Diketahui berbagai jenis buah dan sayuran hijau memiliki kandungan tinggi serat yang sangat dibutuhkan tubuh. Mereka yang melakukan penurunan berat badan dan diet untuk membatasi jumlah lemak dengan mencukupi konsumsi serat maka akan membantu mengurangi resiko dari terbentuknya batu empedu. Konsumsi makanan yang mengandung jenis kacang-kacangan seperti almond, kacang tanah dan kenari sangat baik dalam pencegahan terjadinya batu empedu. Serat yang juga terkandung dalam jenis

sayuran hijau seperti brokoli, kol hijau, bayam, katuk dan sayuran hijau lainnya merupakan sumber serat penting bagi tubuh. Hal penting lainnya adalah membatasi atau mengurangi asupan makanan yang mengandung gula dan karbohidrat, karena dapat memberatkan kerja empedu. Selain itu jangan pernah melewatkan waktu atau jam makan anda, karena hal itu penting dalam pencegahan batu empedu RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KOLESISTEKTOMI A. Pengkajian data dasar a. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko: diabetes melitus, anemia sel sabit, pankreatitis, sirosis hepar, obesitas, penggunaan kontrasepsi oral kronis, kanker kandung empedu b. Pemeriksaan fisik berdasarkan pada pengkajian abdomen dapat menunjukan: Kolil bilier yang dapat disertai dengan mual dan muntah. Ini temuan bermakna paling umum (Kolik bilier adalah nyeri episodik berat sifat dan beratnya selama serangan akut. Ini dokarakteristikkan oleh awitan tiba-tiba daro nyeri epigastrik berat atau kuadran kanan atas, yang sering menyebar ke punggung. Intensitas dari puncak nyeri dalam satu jam atau kurang dan tetap menetap selama beberapa jam. Nyeri disebabkan oleh kontraksi kandung empedu terhadap batu yang tersangkut pada leher kandung empedu atau duktus kistik. Nyeri berkurang bila batu jatuh ke dalam kandung empedu atau masuk ke usus), demam, tanda Murphys positif (nyeri lokal tajam yang terjadi bila kandung empedu dipalpasi dan pasien diinstruksikan untuk napas dalam) dan Ikterik (bila batu menyumbat duktus koledukus) c. Pemeriksaan diagnostik: Amilase dan lipase serum sangat meningkat bila batu menyumbat duktus pankreas pada sfingter Oddi, bilirubin serum meningkat bila duktus koledukus tersumbat, ultrasound adalah tes skrining awal mendeteksi batu dalam kandung empedu tetapi tidak dapat

mengkaji kepatenan duktus koledekus (Ultrasound harus diikuti skaning radionukleida untuk memastikan diagnosa), Koleskintigrafi memastikan diagnosa kolestitis akut dan batu empedu yang ditunjukan dengan ultrasound dan mengkaji kepatenan dukter koledukus, Kolesistogram oral dilakukan kapabilitas ultrasound tak tresedia. Studi ini memberikan data diagnostik tentang kontraksi kandung empedu, kepatenan duktus, dan komposisi batu. JDL menunjukkan leukositosis Endoskopi retrogard kolangiopankreatografi (ERCP) berguna untuk mengkaji koledukolitiasis (batu di dalam duktus koledukus). Batu yang ditemukan pada duktus koledukus dengan ERCP diangkat saat prosedur opoerasi. B. Rencana asuhan keperawatan No Diagnosa 1. Resiko kekuranga n volume cairan dan elektrolit berhubung an dengan pembatasa n asupan Tujuan dan KH Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama kekurangan volume cairan dan elektrolit tidak terjadi. Kriteria hasil: 1. Intervensi Awasi masukan dan haluaran. R/ memberikan informasi tentang penggantian kebutuhan dan fungsi organ. Awasi tanda vital. Kaji membran mukosa, turgor kulit, nadi perifer, dan pengisian kapiler. R/ indikator keadekuatan volume sirkulasi/perfusi

2. Observasi tanda perdarahan R/ protombin menurun dan waktu koagulasi memanjang bilaaliran empedu terhambat, peningkatan resiko perdarahan/ hemoragi.

3. Gunakan jarum kecil untuk injeksi, dan lakukan penekanan lebih lama dari biasanya pada bekas suntikan. R/ menurunkan trauma, resiko perdarahan/hematoma 4. Anjurkan klien memiliki pembersih dari katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi. R/ menghindari trauma dan perdarahan pada gusi 5. Kolaborasi: Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh Hb/Ht, elektrolit, kadar protombin/waktu perdarahan. R/ memberikan informasi tentang volume sirkulasi, keseimbangan elektrolit, dan keadekuatan faktor pembekuan. Berikan cairan IV, produk darah, sesuai indikasi: Elektrolit R/ memperbaiki ketidakseimbangan akibat kehilangan dari gaster/luka berlebihan. Vitamin K R/ memberikan penggantian faktor yang diperlukan untuk proses pembekuan. 2. Nyeri berhubung an dengan kolesistitis akut Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x15 menit nyeri dapat terkontrol. Kriteria hasil Mempertahankan tirah baring dan membantu memilih posisi nyaman R/ istirahat menurunkan stimulasi gastrik dan

Melaporkan nyeri berkurang Ekspresi wajah relaks Tidak merintih

pankreas. Petahankan pada posisi semi-Fowlers R/ untuk memfasilitasi pernapasan Siapakan opasien untuk tidakan operasi R/ perawatan praoperasi rutin membantu menjamin pasien secara fisiologis siap untuk pembedahan sehingga meminimalkan risiko terhadap komplikasi pascaoperasi. Kolaborasi: berikan analgesik narkotik yang diresepkan dan evaluasi keefektifannya. R/ analgesik narkotik diperlukan untuk nyero hebat.

No

Diagnosa keperawatan

Tujuan

dan

Intervensi

Kriteria Hasil

3.

Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual

Setelah dilakukan tindakan keperawat

1. Kaji distensi abdomen, sering berdahak, berhatihati menolak bergerak r/tanda non verbal ketidaknyaman

an 1x 24 berhubungan jam gangguan pencernaan Kebutuha nyeri gas. n nutrisi dengan

atau muntah, dispepsia, nyeri

pasien terpenuhi. Kriteria hasil : Nafsu makan bertambah BB stabi atau tidak turun Mual- muntah hilang 4. Berikan suasana menyenangkan pada saat makan r/untuk meningkatkan nafsu makan atau 3. Timbang sesuai indikasi r/ mengawasi keefektifan rencana diet 2. Hitung pemasukan nyeri r/mengindentifikasi kekurangan kebutuhan nutrisi atau

menurunkan muntah

5. Ambulasi dini dan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi r/membantu dalam mengeluarkan penurunan abdomen. flatus, distensi

6. Kolaborasi : tambahkan diet sesuai toleransi, biasanya rendah lemak, tinggi serat, batasi makanan penghasil gas (contoh : bawang,kol, jagung), dan makanan/minuman tinggi lemak (contoh: mentega, makanan gorengan, kacangan).

r/memenuhi kebutuhan nutrisi meminimalkan rangsangan pada dan

kandung empedu 7. Berikan garam empedu contoh Biliron : Zanchcl, asam dehidrokolik (Decholin) sesuai indikasi. r/ meningkatkan pencernaan absorpsi dan lemak,

vitamin larut dalam lemak, Berguna kolesterol. pada

kolelitiasi kronik.

No

Diagnosa keperawata n

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

4 .

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Setelah

dilakukan

tindakan keperawatan selama ..jam Ktiteria hasil : Menyatakan pemahaman proses penyakit,pengobatan,pr ognosisi Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan. x

1. Kaji ulang penyakit. r/ memberikan pengetahuan

pasien dapat mem pilihan informasi.

berdas

2. Berikan penje alasan tes persiapannya. r/informasi menur

cemas dan rangs simpatis.

3. Kaji ulang program r/batu empedu berulang,perlu jangka panjang.

4. Anjurkan pasien menghindari makanan/minuman tinggi lemak r/ mencegah/mem

terulangnya

ser

kandung empedu.

5. Anjurkan istirahat posisi semi-f setelah makan. r/ meningkatkan

empedu dan rela umum selama

pencernaan awal.

6. Anjurkan membatasi meng permen karet, men permen keras/ atau merokok. r/meningkatkan

pembentukkan gas dapat

meningk

distensi/ketidaknya gaster.

BAB III TINJAUAN KASUS A. Identitas klien Nama No.CM Usia Jenis kelamin Diagnosa medis Tindakan Alamat : Tn. Amin Habib : 41. 03. 29 : 38 tahun : laki-laki : Cholelitiasis : Laparascopy Cholecystectomy : Taman madurasa estate blok A 1 No. 2 Rt 05/02 kawangan, temanggung Jawa Tengah Riwayat penyakit Alergi Rencana Operasi Anastesi Ahli bedah Ahli Anastesi Perawat instrument Perawat sirkuler : Tidak ada riwayat penyakit : Dingin : Laparascopy cholecystectomy : Umum : Dr. Arief : Dr. Ayu : Zr. Likitha : Zr Yani

B. Asuhan Keperawatan PREOPERASI pada Tn. A 1. Pengkajian Umum Keluhan utama: klien merasakan nyeri perut pada kuadran kanan atas.

Riwayat penyakit sekarang: Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan l Nyeri itu sudah 6 tahun terakhir. Nyeri itu dapat hilang timbul. Klien mengatakan saat nyeri dapat terjadi mual muntah. sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan penyakit saat ini: Klien datang ke kamar persiapan operasi dengan kesadaran compos mentis, Keadaan umum : TD 130/07 mmHg; N: 85 x/menit; P: 20x/ menit; S:370C, klien mengeluh nyeri tampak meringis dan memegang perut bagian kanan atas, klien mengatakan puasa dari pukul 22.00 WIB. Riwayat penyakit dahulu: klien merasakan gejala penyakit ini dari 6 tahun yang lalu (2007). Riwayat penyakit keluarga: hipertensi(-), DM (-) riwayat jantung (-), asma (-) Riwayat Alergi : Tidak ada Riwayat Asma : Tidak ada Pola aktivitas/istirahat: saat ini klien bekerja dinas di militer angkatan darat sebagai kapten. a. Sistem kardiovaskuler dan sirkulasi 1) Bunyi jantung: S1 dan S2 terdengar, murmur(-), dan gallop(-) 2) TD 130/07 mmHg; N: 85 x/menit; P: 20x/ menit; S:370C 3) Capillary refill < 3 detik 4) Mukosa bibir tidak tampak sianosis, dan kulit tidak pucat 5) Bunyi nafas vesikuler +/+, mengi -/-, stridor -/b. Kebutuhan nutrisi: Klien makan 3x sehari, tetapi nafsu makan menurun. 1) Eliminasi: klien BAB 1x sehari, BAK dalam sehari tidak tentu, tergantung seberapa banyak klien minum 2. Pemeriksaan fisik :

Kepala : kulit kepala tidak ada lesi, kepala tidak ada benjolan, rambut lembab. Mata: simetris, konjungtiva anemis, sclera anikterik, pupil isokor, Hidung: simetris, tidak terdapat serumen, luka (-), bengkak (-), polip (-) Telinga: Simetris, tidak terdapat serumen, fungsi pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu Pendengaran: Tidak terdapat peningkatan JVP, tidak terdapat pembesaran kelenjar Tiroid Dada : Tidak terdapat perdarahan, fraktur (-), lesi (-), bunyi paru : tidak terdapat lesi, perdarahan (-), BU 12x/m, vesikuler, pergerakan simetris, bunyi jantung regular. Abdomen timpani. nyeri pada kuadran kanan atas, saat ditekan pasien merasakan nyeri,

3.

Ekstremitas atas : Tidak terdapat oedem, tidak terdapat benjolan, lesi (-) dan fraktur (-) Ekstremitas bawah : Tidak terdapat oedem, lesi (-), varises (-), dan hofman sign (-)

Pemeriksaan Penunjang a. Hasil laboratorium terakhir No Jenis Hematologi rutin Hb Ht Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC Koagulasi Protombine Time Kontrol Pasien APPT Kontrol Hasil Nilai normal

16,5 49 5,4 12230 23000 90 30 34 11,7 11,6 34,3

13-18 g/dl 40-52 % 4,3-6,0 juta/uL 4800-10800 /uL 150000-400000/uL 80-96 f/L 27-32 32-36 g/dl Detik 9,8-12,6 Detik

Pasien Kimia klinik Bilirubin total SGOT (APT) SGPT (ALT) Ureum Kreatinin Glukosa darah (sewaktu) Natrium (Na) Kalium (K) Klorida (Cl) 4. Analisa data No 1 DS: DO: 2 kanan atas. Data

37,4 0,70 26 35 44 1,4 84 145 3,9 104

27-39 detik < 1,5 mg/dl 0,40 ml/g 0-41 ml/dl 0-50 mg/dl 0,5-1,5 mg/dl < 140 mg/dl 135-147 mmol/L 3,5-5,0 mmol/L 95-105 mmol/L

Masalah keperawatan Nyeri berhubungan dengan

Pasien mengeluh nyeri perut kuadran proses penyakit Klien mengatakan skala nyeri 5

Klien tampak memegangi perutnya Ansietas berhubungan dengan tindakan pembedahan

- Klien tampak meringis. DS : Klien mengatakan takut dengan operasi yang akan dia jalani DO : klien tampak gelisah TD : 130/70 mmHg N : 80 x/menit RR : 20 x/menit S : 36 C

5. Rencana Asuhan Keperawatan Dx Keperawatan Tujuan dan KH Nyeri b.d proses Tujuan : penyakit Setelah dilakukan tindakan 1x15mnt nyeri berkurang. Atur posisi yang nyaman Posisi yang tepat dapat mencegah komplikasi dan meningkatkan kenyamanan Ajarkan tehnik relaksasi Teknik relaksasi dapat mengurangi nyeri Kriteria hasil: Nyeri berkurang Intervensi Kaji tingkat nyeri Rasional Menentukan intervensi yang tepat.

Kaji tanda-tanda vital

Memantau kondisi pasien

Kolaborasi: pemberiaan analgetik Ansietas berhubungan dengan tindakan pembedahan setelah dilakukan tindakan 1x 15 mnt cemas teratasi.Kriteria hasil: Menunjukkan Tujuan: Sediakan waktu kunjungan pada keluarga sebelum pembedahan jika memungkinkan.

Obat

analgetik

obat dapat mengurangi nyeri Dapat menjamin dan meredakan keresahan pasien dan juga menyediakan informasi untuk perawatan intra operasi formulatif

35

sikap santai Pasien tampak tenang. Melaporkan penurunan rasa cemas ketingkat yang dapat diatasi

Identifikasi tingkat Rasa cemas yang rasa cemas yang mengharuskan dilakukannya penundaan prosedur pembedahan Beritahu pasien kemungkinan dilakukannya pembiusan umum. Sedikan informasi akurat dan actual. Anjurkan pasien berdoa. Anjurkan pasien untuk relaksasi. Temani pasien selama diruangan persiapan. Bimbing pasien sebelum pembiusan. Perkenalkan staf pada waktu pergantian ruang operasi. Menciptakan hubungan dan kenyamanan psikologis Mengurangi ansietas bahwa mungkin klien melihat prosedur. Mengidentifikasi rasa takut yang spesifik kan membantu pasien untuk mengahadapinya secara realistis berlebihan atau terus menerus akan mengakibatkan reaksi

6. Impelementasi pada Tn. A


36

Dx. Keperawatan Nyeri berhubungan dengan proses penyakit

Implementasi Mengkaji tingkat nyeri hasil skala nyeri 3 Mengajarkan tehnik relaksasi dengan tehnik tarik nafas dalam Atur posisi yang nyaman supine Kaji tanda-tanda vital TD: 130/80, N: 88x/menit, RR: 20x/menit, S=36C Kolaborasi : pemberiaan

Evaluasi S: klien mengatakan nyeri berkurang O: klien menggunakan relaksasi nafas dalam Klien tampak santai. A: masalah teratasi sebagian P: discharge dengan perawat intraoperasi

Cemas

b.d

obat analgetik tindakan Menyediakan

waktu S:

klien

mengatakan

pembedahan

kunjungan pada keluarga sudah agak tenang. sebelum masuk ke ruang operasi Mengidentifikasi tingkat rasa cemas yang A: masalah teratasi mengharuskan dilakukannya penundaan P: intervensi dihentikan. prosedur pembedahan Memberitahu pasien akan dilakukannya pembiusan umum. O: klien tampak lebih santai, gelisah berkurang.

37

Memperkenalkan ruang operasi. Menganjurkan berdoa

staf

pada waktu pergantian

pasien

Menemani pasien selama diruang persiapan

38

C. Asuhan Keperawatan IntraOperatif pada Tn. A 1. Pengkajian : 1) Pasien masuk ke kamar operasi pukul 08.00 2) Posisi pasien dimeja operasi : Supine 3) Persiapan pasien : Sign in : Pasien telah dikonfirmasikan: identifikasi dan gelang pasien, lokasi operasi, prosedur dan surat izin. Mesin dan obat-obat anastesi sudah dicek lengkap Pulse oximeter sudah terpalang dan berfungsi Riwayat alergi (-) Kesulitan bernafas/resiko aspirasi (-) Resiko kehilangan darah > 500 ml (-)

Time out Kelengkapan operasi : lengkap Membacakan secara verbal tindakan yang telah dilakukan :ya Membacakan kelengkapan jumlah kassa dan jarum : ya Memastikan kelengkapan dokumentasi operasi sebelum ke RR : ya Penanganan jaringan: ya, batu empedu dan jaringan dibawa ke laboratorium patologi. 4) Pemberian anastesi Umum pukul 08. 10 Obat : Fortanes 5 mg, Fentanyl : 50 mg 5) Dilakukan intubasi, ETT dan OPA pukul 08.20 6) Terpasang DC pukul 08.23 7) Terpasang IV line 1 kolf Rl di tangan kanan kiri pasien 08.30 8) Desinfeksi daerah abdomen dengan betadin 10% pukul 08.35 9) Mulai dilakukan prosedur pembedahan pukul 08. 40

2. Analisa data Data Fokus DS : DO : Masalah Resiko Kekurangan volume Cairan dan elektrolit Yg ditandai dg:
39

Etiologi-symptom Pembatasan intake

Infus terpasang RL ditangan kanan 33 tts/menit Keadaan umum : sedang TD:130/80,N: 88x/menit, RR:20x/menit, S=36C Puasa dari jam 22.00 WIB Pasien tampak lemas Mukosa bibir kering Turgor kulit kering Terpasang kateter Pendarahan 100cc 3. Rencana Asuhan Keperawatan pada Tn. A Dx keperawatan Resiko kekurangan volume cairan dan elektrolit b.d pembatasan intake Tujuan dan KH Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 1x15mnt kekurangan volume cairan teratasi. Kriteria hasil: Turgor kulit elastis Tidak ada tandatanda syok hipovolemik Mukosa bibir lembab Tidak lemas Pantau suhu kulit, palpasi denyut Pantau tanda-tanda vital Intervensi Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran, tinjau

lemas Mukosa bibir kering Turgor kulit kering

Rasional Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan.

ulang catatan rekam medis.

Hipotensi, takikardi, dan peningkatan pernapasan mengindikasikan kekurangan cairan. Kulit yang digin atau lembab, denyut yang
40

perifer.

lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk pergantian cairan tambahan.

Kolaborasi Pemberian cairan parenteral. Pasang kateter urinarius sesuai kebutuhan

Gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan. Memberikan mekanisme untuk memantau pengeluaran urinarius secara akurat.

Pantau hasil lab misalnya Hb,Ht.

Indikator hidrasi atau volume sirkulasi. Anemia praoperasi dan atau Ht yang rendah dikombinasikan dengan kehilangan cairan yang tidak digantikan pada masa perawatan dan akan memperburuk potensial defisit

4. Implementasi pada Tn. A Dx. Keperawatan Implementasi Evaluasi Resiko kekurangan Mengukur dan mencatat S: Klien masih mengeluh
41

volume

cairan

b.d pemasukan pengeluaran Hasil :

dan lemas. O: S=36C, kering,

Pembatasan intake

Intake cairan : Infus RL TD: 130/80, N:88x/menit, terpasang 3 kolf masuk RR:20x/menit, 1500cc, IWL = A: Mengkaji vital dengan hasil: TD : 130/80, N : 88x/menit, P: Intervensi dilanjutkan RR : 20x/menit, S=36C Mengkaji kulit, tanda-tanda bibir, ke post operasi dan observasi di RR dehidarasi : suhu, turgor mukosa palpasi denyut perifer. Hasil : akral dingin, nadi teraba lemah, turgor kulit elastis, kering Mengkaji hasil lab Hasil: Hb : 16,5 g/dl, Ht: 49 % D. Asuhan Keperawatan PostOperatif pada Tn. A 1. Pengkajian : 1) Dilakukan ekstubasi pukul 12.15 2) Pasien masuk ke ruang RR pukul 12.30 3) Tanda-tanda Vital : TD : 160/97, Suhu 35C, RR 18x/menit, N : 82x/menit
42

Output cairan: mukosa

bibir

jumlah 500cc,

turgor kulit elastis Masalah belum

tanda-tanda teratasi

mukosa

bibir

4) KU tampak lemah 5) Terpasang RL 1 kolf dan novalgin 2000 mg 2cc/jam 6) Pasien mengeluh sesak 7) Pasien mengeluh ngilu dan nyeri pada luka post operasi 8) Pasien mengeluh kedinginan 9) Ekstremitas tampak bergetar

2. Analisa data Data fokus DS: klien mengeluh sesak klien mengeluh sakit saat bernapas. DO: TD : 160/97, Suhu 35C, RR 18x/menit, N : 82x/menit KU tampak lemah Ronkhi (+) Menggunakan alat bantu nafas nasal kanul DS: Klien mengeluh dingin DO: Perubahan suhu tubuh hipotermi Penggunaan zat anastesi,dehidrasi,pemajanan lingkungan. Masalah Bersihan jalan nafas tidak efektif Etiologi-symptom efek anestesi

43

Ekstremitas tampak bergetar Akral dingin Suhu: 35,5C

DS: Klien mengeluh sakit seperti ngilu dibagian perut setelah luka post operasinya DO: TD: 130/97 Saturasi oksigen = 99% N:65x/m Diberikan Novalgin 2000 mg 2 cc/jam

Nyeri

Insisi post operasi

3. Rencana asuhan keperawatan pada Tn. A Dx. Keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. efek anestesi Tujuan dan KH Tujuan : Setelah dilakukan intervensi 1x 15 mnt bersihan jalan nafas efektife. Kriteria hasil: Ronki(-) Kaji/ pantau
44

Intervensi Auskultasi bunyi nafas

Rasional Spasme bronkus dimanifestasikan dengan adanya bunyi krekels, bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi

frekuensi pernafasan

Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/ adanya proses infeksi akut.

Kaji pasien untuk posisi yang nyaman Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan grafitasi. Pertahankan polusi Pencetus tipe reaksi lingkungan minimum alergi pernafasan yang dapat mentriger episode akut Dorong / bantu latihan nafas abdomen atau Perubahan suhu tubuh hipotermi b.d penggunaan zat lingkungan. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan selama 1x15 menit : Hipotermi teratasi Sediakan selimut penghangat Kehilangan panas dapat terjadi waktu
45

Memberikan pasien beberapa cara untuk mengontrol dipsnea. Dapat menstabilkan suhu tubuh pasien

bibir Pantau suhu lingkungan diruang operasi dan recovery room

anastesi,dehidrasi,pemajanan keperawatan

kulit dipajankan Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal Sianosis (-) Menggigil (-) Klien mengatakan sudah tidak kedinginan Mukosa bibir lembab Pantau tanda-tanda Penghangatan atau vital selama fase intra dan post operatif pendinginan yang terus-menerus yang melembabkan inhalasi anastesi digunakan untuk mempertahankan kelembaban dan keseimbangan suhu Nyeri berhubungan dengan insisi post operasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 1x15 menit nyeri berkurang Ajarkan teknik Kriteria hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang Klien tampak rileks dan mampu istirahat / tidur dengan tepat Berikan obat analgetik sesuai indikasi 4. Implementasi pada Tn. A Dx.Keperawatan Bersihan jalan nafas tidak Implementasi Mengauskultasi bunyi nafas Evaluasi S : Klien mengatakan sesak Obat analgetik dapat mengurangi nyeri Kaji tanda-tanda vital Memantau kondisi pasien relaksasi nafas dalam Teknik relaksasi dapat mengurangi nyeri Ubah posisi untuk kenyamanan dan mencegah komplikasi paru dan vaskuler tubuh Kontrol nyeri yang diakibatkan oleh depresi selektif terhadap sistem saraf pusat pada lingkungan yang dingin

46

efektif b.d. efek anestesi

Hasil : bunyi nafas ronkhi Mengkaji frekuensi pernafasan Hasil : 18x/menit, tampak penggunaan nasal kanul Mengkaji posisi yang nyaman untuk pasien Hasil : posisi supine

berkurang O : RR : 18x/menit, ronkhi (+), tampak penggunaan nasal kanul, klien tampak tidur dengan posisi supine, KU : lemah A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan asuhan

Melakukan penghisapan secret Melepaskan OPA Memantau suhu lingkungan room Menyediakan selimut penghangat Memantau tanda-tanda vital selama fase intra dan post operatif : rata-rata TD E. Obat-obatan yang digunakan saat operasi 1. Ceftriaxone 1 gr Komposisi : cefotaxime Na

keperawatan diruangan, pantau bunyi nafas

Perubahan suhu tubuh anastesi,dehidrasi,pemajanan lingkungan.

hipotermi b.d penggunaan zat diruang operasi dan recovery

Indikasi : infeksi saluran nafas, telinga, kulit dan jaringan lunak, tulang dan sendi, abdominal, sepsis, endokarditis, meningitis, profilaksis peri-op dan terhadap infeksi dengan imunitas yang menurun.

47

Kontra indikasi :.hipersensitif terhadap sefalosporin, penderita ginjal berat Dosis :. Dewasa dan anak > 12 tahun1 gr tiap 12 jam, bayi dan anak 50100mg/kgBB/hari dalam 2-4 dosis. Profilaksis pra-op 30-60 menit sebelum operasi Efek Samping : hematologi, reaksi hipersensitif, gangguan funsi hati dan ginjal, saluran cerna, inflamasi iritatif, dan nyeri pada tempat suntikan 2. Midazolam 2,5 mg Komposisi: midazolam Indikasi: untuk persiapan anestesi sebelum pembedahan, mengurangi kecemasan dan mencegah memori tentang operasi. Kontra indikasi:. Alergi terhadap midazolam. Efek samping : nausea, fomitting, ruam kemerahan, agitasi, mudah lelah, tremor, agresif, irama jantung lemah dan tidak teratur. 3. Notrixum 40 mg Komposisi : Atracarium besylate Indikasi : tambahan terhadap anestesi umum pada prosedur intubasi trakea dan untuk merelaksasi otot rangka selama pembedahan atau untuk mengendalikan ventilasi, untuk memudahkan ventilasi mekanik pada pasien ICU. Dosis : dewasa IV 0.3-0.6 mg/kg BB. Intubasi endotrakeal 0.5-0.6 mg/kg BB. Pasien ICU mempertahankan blok neuromuskular 11-13 mcg/kg BB/menit Efek Samping : sensasi hangat dan kemerahan pada wajah, hipotensi ringan sementara atau bronkospasme. 4. Fentanyl 10 mg Komposisi: fentanyl Indikasi: suplemen analgesic narkotik pada anestesi regional atau generik Kontra indikasi:.depresi nafas, cederea kepala, alkoholisme akut, serangan asma akut 5. Isoflurane (obat anestesi) Komposisi: isoflurane Dosis : dosis bersifat individual Indikasi: anestesi inhalasi umum

48

Kontra indikasi:.diketahui atau diduga ada kecendrungan terjadi hipertermia maligna. Pasien dengan ikterus dan demam yang tidak diketahui sebebanya setelah diberikan anestesi inhalasi. Efek Samping : hipotensi, depresi putih, menggigil, mual dan muntah. pernapasan, aritmia, peningkatan sel darah

49

6. Tramadol 100 mg Komposisi : tramadol HCL Indikasi : bedah. Kontra indikasi :. Keracunan akut oleh alkohol, hipnotik, analgesik atau obat obat yang mempengaruhi SSP lainnya. Penderita yang mendapat pengobatan penghambat monoamin oksidase (MAO). Penderita yang hipersensitif terhadap tramadol. Dosis : dewasa dan anak > 16 tahun 50 mg dosis tunggal, dapat ditingkatkan 50 mg tiap 4-6 jam. Maksimal 400 mg/hari Efek Samping : pusing, sedasi, mialgia, sakit kepala, pruritus, berkeringat, kulit kemerahan, mulut kering, mual, muntah, dispepsia, konstipasi. untuk mengobati dan mencegah nyeri yang sedang hingga berat, seperti tersebut di bawah ini: Nyeri akut dan kronik yang berat, Nyeri pasca

50

7. Nacl 0,9 % Komposisi: sodium chlorida 0,9 % Indikasi: pengganti cairan plasma isotonik yang hilang, pengganti cairan pada alkalosis hipokloremia. Kontra indikasi:.hipernatremia, asidosis, hipokalemia Efek samping : demam, iritasi atau infeksi pada tempat njeksi, trombosis atau plebitis yang meluas dari tempat injeksi, ektravasasi. Dosis : 1000 ml/70 KgBB/hari dengan kecepatan infus sampai dengan 7,7ml/KgBBjam.

51

BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian Pengkajian yang dilakukan pada kasus ini, meliputi pengkajian umum dari semua sistem tubuh dan pengkajian selama proses perioperatif yang meliputi pengkajian preoperatif, intraoperatif, dan postoperatif. Pengkajian Umum 1) Sistem Kardiovaskular dan Sirkulasi Pemeriksaan yang dilakukan terhadap system kardiovaskular dan sirkulasi meliputi, Pada klien dengan masalah cholelitiasis adalah Tekanan darah, denyut nadi, capillary refill, saturasi oksigen, warna kuku. Umumnya pada pasien dengan masalah cholelitiasis tidak mempunyai keluhan terhadap sirkulasi dan system kardiovaskular, ini sesuai dengan teoeri yang ditemkan, pada pasien Tn.A ini dapat dilihat dari rentang TTV pasien sebelum masuk ke tahap anestesi atau intra-operasi, TD: 120/80 mmHg, N: 71 x.menit, Capillary refill < 3 detik. Temuan kelainan pada pemeriksaan fisik system kardiovaskular dan sirkulasi tidak mengalami gangguan. 2) Sistem Pernafasan Sistem pernafasan yang dikaji pada pasien cholelitiasis meliputi frekuensi nafas, kedalaman nafas, pola nafas, suara paru. Suara paru yang dapat terdengar saat pengkajian dengan pasien gangguan jantung adalah dapat vesikuler. Pada Tn.A tidak ditemukan suara nafas tambahan, suara nafas Tn.A adalah vesikuler. Pemeriksaan pada lapang paru secara perkusi tidak dapat dilakukan karena saat pemeriksaan akan dilakukan pasien harus menjalani dilakukan operasi. 3) Kebutuhan Nutrisi
52

Pola nutrisi yang dapat mucul pada pasien dengan cholelitiasis, pasien pada umumnya nafsu makan baik, makan1 porsi habis, tidak mengalami penurunan nafsu makan. Hal ini tidak menunjukkan gangguan pola nutrisi. Pada pasien Tn.A dengan usia 38 tahun, memiliki berat badan 71 kg dengan tinggi badan 175 cm. 4) Pola Eliminasi Pengkajian pada pola eliminasi pasien dengan pasien cholelitiasis, tidak mengalami penurunan pada frekuensi buang air besar dan tidak mengalami penurunan pada frekuensi berkemih. Pada Tn.A, klien merasa tidak mengalami penurunan pola eliminasi fekal maupun urine, yaitu BAB 1 x sehari, pola BAK tidak sama setiap harinya, tetapi rata 7-8 x/hari. B. Pemeriksaan Diagnostik 1) Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium yang perlu dilakukan pada pasien dengan cholelitiasis yang akan menjalani prosedur pembedahan laparascopy cholesistectomy meliputi darah lengkap, kimia darah, Pemeriksaan laboratorium yang tidak dilakukan pada Tn.A adalah pemeriksaan kolesterol dalam darah, padahal pemeriksaan ini penting untuk mengetahui keadaan pasien sebelum pelaksanaan operasi.

C. Pengkajian Perioperatif 1. Pengkajian Praoperatif Pengkajian praoperatif pada cholelitiasis meliputi pengkajian fisik semua sistem, dan pemeriksaan penunjang. Aspek yang penting pada pre operatif adalah informed consent, pemeriksaan alergi, gigi palsu, persiapan darah. Pengkajian pre operatif sesuai dengan teori diatas, hanya tidak di lakukan pemeriksaan darah lengkap, yang merupakan indicator yang penting untuk persiapan darah, dan saturasi oksigen. 2. Pengkajian Intraoperatif

53

Pengkajian intraoperatif meliputi reaksi alergi pada anestesi, jenis anastesi, dosis anestesi yang digunakan, lokasi penyuntikan anestesi, posisi operasi, jenis operasi, lokasi yang akan dioperasi, persiapan alat-alat sebelum operasi, persiapan tim operasi yang meliputi operator, perawat scrub dan perawat sirkuler, tim anastesi, Pengkajian juga meliputi kelengkapan instrument yang akan digunakan dan penghitungan instrument dan kassa yang akan digunakan untuk proses operasi. Melakukan time out juga harus dilakukan untuk memastikan patient safety. Pada proses operasi Tn.A pengkajian yang dilakukan praoperasi sudah sesuai standar operasional prosedur yang berlaku. 3. Pengkajian Postoperatif Pengkajian postoperative, meliputi tanda-tanda vital post operasi, keadaan umum, kesadaran, pernafasan, sirkulasi, turgor kulit, mukosa mulut, ekstremitas, posisi klien, perdarahan, jaringan PA, dan formulir. Pengkajian post operatif pada Tn.A tanda-tanda vital terakhir TD: 130/80 N: 98 RR: 22 S: 36 SpO2:99%. Pasien mengatakan ngilu pada luka post operasi yang ditutup dengan hansaplast.

54

D. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang muncul meliputi diagnosa pada masalah keperawatan secara keseluruhan meliputi semua sistem, dan diagnosa keperawatan selama perioperative. Secara teori, diagnosa yang muncul diantaranya adalah Pada Tn.A diagnosa yang muncul, dari hasil pengkajian adalah . Diagnosa yang lain tidak diangkat karena data data yang kurang actual, lengkap, dan mendukung. Diagnosa perioperative yang muncul secara teori adalah cemas/takut berhubungan dengan prosedur pembedahan (preoperative), pada intraoperative diagnosa yang muncul adalah resiko tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan efek anastesi, resiko devisit volume cairan berhubungan dengan pembatasan intake, resiko tinggi infeksi berhubungan dengan proses pembedahan dan tindakan invasive, resiko cedera berhubungan dengan posisi yang tidak tepat selama pembedahan dan benda asing tertinggal. Pada Tn.A diagnosa yang muncul adalah pada preoperatif cemas/takut berhubungan dengan prosedur pembedahan, pada intraoperative diagnosa yang mncul adalah resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pembatasan intake, pada post operatif bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anestesi, perubahan suhu tubuh 2) Intervensi Keperawatan Intervensi keperawatan yang dapat direncanakan pada Tn.A hanya meliputi intervensi pada saat perioperatif saja, karena intervensi keperawatan secara keseluruhan di ruang perawatan umum. Intervensi keperawatan perioperative, pada praoperatif yaitu mengatasi diagnosa yang muncul pada praoperatif yaitu cemas/ takut berhubungan dengan prosedur operasi. Pada intraoperative, intervensi yang dapat dilakukan adalah mengatasi semua diagnosa yang mungkin muncul. Pada post operatif, intervensi yang dapat dilakukan adalah mengatasi maslah semua diganosa yang muncul meliputi, resiko tidak efektif jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret, resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
55

berhubungan dengan pembatasan intake, hipotermi berhubungan dengan lingkungan OK dan efek anestesi dan nyeri berhubungan dengan insisi post operasi.

3) Implementasi Implementasi yang dilakukan pada Tn.A meliputi asuhan keperawatan perioperative. Pada praoperatif, implementasi yang dilakukan adalah memberikan penjelasan kepada orang tua Tn.A dan memberikan ketenangan kepada Tn.A agar Tn.A tidak merasa takut. Implementasi yang dilakukan pada proses intraoperative adalah diantaranya memantau tanda-tanda vital, perdarahan selama proses operasi, mencegah terjadinya hipotermi dengan memasang mesin penghangat pada pasien, mempertahankan proses aseptik selama pembedahan, mengecek instrument dan jumlah kassa yang telah digunakan selama proses pembedahan.

4) Evaluasi Evaluasi, meliputi: S = Kesadaran klien composmentis O = TTV dalam batas normal, klien nafas spontan, sianosis (+), suara jantung reguler murmur (-), gallop (-), mukosa mulut lembab, turgor kulit elastis. A = Intervensi pre dan intraoperasi tercapai Intervensi post operasi tercapai sebagian karena pasien langsung di bawa ke ruang perawatan P = Lanjutkan intervensi post operasi dan di ruangan.

E. Laparascopy cholecystectomy Laparscopy berasal dari kata 'lapara' yaitu bagian mulai iga paling bawah sampai dengan panggul dan 'skopein' yaitu melihat/memeriksa. tindakan dilakukan dengan
56

menggunakan kamera video pada alat laparsakopi yang dimasukkan ke dalam lubang berukuran 1/2-1 cm pada 2-3 tempat. jalannya opersi dipantau melalui monitor dan dilakukan tim khusus yang terdiri dari dokter bedah/kebidanan yang memiliki sertifikat pelatihan khusus dan dokter anestesi serta perawat. laparaskopi ini bisa digunakan sebagai alat diagnostik dan terapetik (pengobatan). keunggulan operasi dengan teknik laparaskopi adalah sayatan atau luka operasi kecil berkisar antara 1-2 cm, sehingga kerusakan otot perut minimal dan dengan demikian pasien akan lebih nyaman rasa sakit berkurang dibandingkan dengan operasi biasa, sehingga penggunaan obat-obatan dapat diminimalisasi Cholelithiasis adalah peradangan dari dinding kandung empedu, disebabkan oleh adanya batu empedu didalam kandung empedu peradangan ini menjadi kronis bila tidak dilakukan tindakan pengobatan dan akan menyebabkan penebalan dinding kandung empedu indikasi operasi batu kandung empedu salah satunya adalah cholelithiasis yang disertai keluhan simptomatik yaitu nyeri hilang timbul didaerah ulu hati atas perut. rasa nyeri dapat menjalan ke punggung atau ujung bahu kanan dapat disertai mual dan muntah-muntah

57

BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus, batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) yang memiliki ukuran, bentuk dan komposisi yang bervariasi (Smeltzer, 2001). Di antara prosedur penatalaksanaan pada kasus kolelitiasis adalah dengan metode kolesistektomi laparaskopi yaitu suatu teknik bedah minimal invasif, sehingga pasien merasa lebih aman. Operasi dilakukan melalui tiga lubang kecil berukuran 0,5 sentimeter hingga satu sentimeter. Bedah laparoskopi berbeda dengan bedah konvensional karena pada bedah laparoskopi hanya membutuhkan akses minimal ke tubuh pasien sedangkan bedah konvensional, sayatan di perut bisa sepanjang belasan sentimeter. Diagnosa keperawatan yang paling sering muncul pada pasien dengan kolelitiasis adalah Resiko kekurangan volume cairan, nyeri, cemas. B. Saran Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam proses makalah ini, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini bisa dikembangkan kembali dan dapat memberikan manfaat. Amin

58

DAFTAR PUSTAKA Anjani, AJ et al. 2009. NCCN Clinical Practice Guidelines In Oncology Gastric Cancer: national comprehensive cancer network.V2 Clark et al.2006.Current Problems In Surgery: gastric cancer vol , 43 pp. 566-670 Declich, P, Tavani, E, et all. 2005. Sporadic fundic gland polyps: clinico-pathologic features and associated diseases. Polish journal of pathology : official journal of the Polish Society of Pathologists. Devita,VT,hellman,S, Rosenber,SA. 2001. Cancer: Principles And Practice Of Oncology 6th .6th Edition: Lippincott wiliams and wilkins publisher Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan :Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :EGC Ganong, W. F. 2001. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 17. Jakarta : EGC

Sylvia A..Prince, Lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi; Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Ed 6. Jakarta; EGC.

59