Anda di halaman 1dari 7

2. Imunitas tumor ialah proteksi sistem imun terhadap timbulnya tumor.

Meskipun adanya respon imun alamiah terhadap tumor yang dapat dibuktikan, namun imunitas sejati dapat terjadi pada subset tumor yang mengekspresikan antigen imunogenik, misalnya tumor yang di induksi virus onkogenik yang mengekspresikan antigen virus. Berbagai jenis virus yang dilaporkan menunjukkan hubungan dengan tumor. A. Imunitas Humoral

Melalui cara sebagai berikut: 1. 2. 3. lisis oleh antibodi dan komplemen opsonisasi melalui antibodi dan komplemen hilangnya adhesi oleh antibodi

Meskipun imunitas selular ada tumor lebih banyak berperan dibanfing imunitas humoral, tapi tubuh membentuk juga antibody terhadap antigen tumor. Antibody tersebut ternyata dapat menghancurkan sel tumor secara langsung atau dengan bantuan komplemen atau melalui sel efektor ADCC. Yang terakhir reseptor Fc misalnya sel NK dan makrofag (opsonisasi) atau dengan jalan memcegah adhesi sel tumor. Pada penderita tumor sering ditemukan kompleks imun, tetapi pada kebanyakan tumor sifatnya masih belum jelas. Antibody diduga lebih berperan terhadap sel yang bebas (leukemia, metastase tumor) disbanding tumor padat. Hal tersebut mungkin disebabkan karena antibody membentuk kompleks imun yang mencegah sitotoksisitas sel T. B. Imunitas selular

Pada pemeriksaan patologi anantomi tumor, sering ditemukan infiltrate sel-sel yang terdiri atas sel fagosit mononuclear , limfosit, sedikit sel plasma dan sel mast. Meskipun pada beberapa neuplasma, infiltrate sel mononuclear merupakan indicator untuk prognosis yang baik, tetapi pada umumnya tidak ada hubungan antara infiltrasi sel dengan prognosis. Sistem imun dapat langsung menghancurkan sel tumor tanpa sensitasi sebelumnya. Limfosit matang akan mengenal TAA dalam pejamu, meskipun TAA merupakan self-protein yang disandi gen normal. Adanya limfosit yang self-raktif nampaknya berlawanan dengan self-

toleran. Bila sel B dan T menjadi matang dalam sumsum tulang dan timus, limfosit yang terpajan dan berikatan dengan self-antigen akan mengalami apoptosis . namun banyak yang self-antigen tidak di ekspresikan dalam sumsum tulang dan timus. Oleh karena deletion sentral tidak lengkap dan limfosit sel reaktif yang mengenal antigen tidak di ekspresikan dalam sumsum tulang atau timus, maka sistem imun biasanya tidak responsive terhadap antigen oleh karena ada dalam keadaan energy. Mengapa sel autoreaktif dipertahankan dalam keadaan inaktif tidaklah jelas. Diduga limfosit anergik tidak memberikan respon terhadap self-antigen dengan kadar yang di ekspresikan pada keadaan normal oleh sel sehat, namun responsive terhadap peningkatan ekspresif antigen pada sel tumor.

1.

Cytolytic Thymus-Dependent Lymphocytes (Ctls) = Cytotoxic T Cells

Banyak studi menunjukkan bahwa tumor yang mengekspresikan antigen unik dapat memacu CTL/Tc spesifik yang dapat menghancurkan tumor. CTL biasanya mengenal peptide asal TSA yang diikat MHC-I. CTL tidak selalu efisien, disamping respon CTL tidak selalu terjadi pada tumor. CTLs, dapat membunuh tumor setelah dipresentasikan oleh MHC kelas I. sebagai sel-sel efektor utama dalam penolakan tumor cangkok dan tumor-tumor yang disebabkan oleh DNA virus. CTLs dapat membunuh sel-sel target melalui 2 pathway : 1. Pathway pertama, yang melibatkan sekresi protein dan protease serin alami keduanya ada dalam granula unik pada CTLs 2. Pathway kedua, memerlukan cross-linked ligands permukaan pada CTLs reseptor permukaan spesifik pada sel-sel tumor untuk merangsang (program kematian sel). dengan yang

apoptosis sel-sel tumor

2.

Sel NK

Sel NK adalah limfosit sitotoksik yang mengenal sel sasaran yang tidak antigen spesifik dan juga tidak MHC dependen. Diduga bahwa fungsi terpenting sel NK adalah anti tumor. Sel NK mengekspresikan FcR yang dapat mengikat sel tumor yang dilapisi antibody dan dapat membunuh sel sasaran melalui ADCC dan pengelepasan protease, perforin, dan granzim. Sel-sel NK dapat membunuh sel-sel tumor tanpa mensintesa sebelumnya Antigen spesifik, aktivitas-nya tidak memerlukan adanya MHC kelas I pada sel-sel target. Diperkirakan sel-sel NK ambil bagian dalam pengawasan tumor yang mulai timbul dan juga terhadap pertumbuhan metastatik tumor. NK, berkembang dalam bone marrow, kemudian diperoleh dalam peripheral blood, sel pit (sinusoid liver)dan sinusoid limpa . Dapat mensekresi interferon gamma, dan secara spontan membunuh sel yang diinfeksi virus dan sel-sel tumor. Mempunyai reseptor yang berikatan dengan bagian dari molekul IgG. Saat berikatan, sel-sel NK memasukkan suatu protein ke sel target, menyebabkan sel target membengkak dan pecah.

Aktivasi Sel NK dan ADCC 3. Makrofag

Memiliki enzim dengan fungsi sitotoksik dan melepas mediator oksidatif seperti superoksik dan oksida nitrit. Makrofag juga melepas TNF- yang mengawali apoktosis. Diduga makrofag mengenal sel tumor melalui IgG-R yang mengikat antigen tumor. Makrofag dapat memakan dan mencerna sel tumor dan mempresentasikannya ke sel CD4+. Jadi makrofag dapat berfungsi sebagai inisiator dan efektor imun terhadap tumor. Reaksi imunologi tubuh terhadap tumor: Oleh karena sel-sel tumor mempunyai antigen baru yang oleh mesin imunologik dianggap bukan sebagai "self" antigen, maka lambat laun akan terjadi suatu proses terbentuknya suatu reaksi imun terhadapnya. Pada prinsipnya reaksi imun itu dapat dibagi atas dua bagian, yaitu pertama, dengan jalan terbentuknya suatu molekul imunoglobulin yang mempunyai daya

antibodi yang spesifik terhadap TSTA, dan kedua, dengan jalan terbentuknya sel-sel limfosit yang sensitif terhadap antigen itu. Dengan lain perkataan, didalam tubuh dapat terjadi dua macam reaksi imunologik, yang satu dibawakan oleh system humoral dan yang lainnya dibawakan oleh system sel.

Agar respons imun dapat dimulai, maka antigen harus dilepaskan terlebih dahulu oleh sel-sel tumor dan dengan aliran darah atau limfe, akhirnya sampai kedalam limfonodus dan/atau limpa. Didalam organ-organ tersebut, antigen itu akan diproses oleh sel-sel makrofag agar selanjutnya dapat bereaksi dengan sel-sel limfosit. Sel ini, yang umumnya berasal atau berada dibawah pengaruh sumsum tulang, dikenal sebagai sel limfosit-B (dari "Bone Marrow"), dan setelah mengadakan kontak dengan antigen tersebut lambat laun sel ini akan berkembang dan mengalami proses diferensiasi. Sel limfosit tersebut akhirnya akan menjadi sel yang matang dan siap untuk mensintesa molekul imunoglobulin, yaitu suatu molekul yang 'mempunyai daya antibodi yang spesifik; dalam hal ini, spesifik terhadap antigen sel tumor tadi. Antibodi-antibodi yang dibentuk ternyata dapat mempunyai beberapa aktifitas; dan dari sekian banyak antibodi, yang mempunyai hubungan dengan pasang-surutnya pertumbuhan tumor hanya ada dua macam, yaitu "cytotoxic antibody" dan "enhancement antibody". Antibodi yang pertama ini dapat mengaktifkan sistem komplemen didalam peredaran darah. Biasanya antibodi ini termasuk kelas IgG yang mempunyai sifat dapat mengikat sistem komplemen tadi. Selanjutnya secara proses yang bertingkat, maka seluruh komponen didalam sistem komplemen itu diaktifkan sehingga dapat berfungsi, yaitu dengan jalan melakukan pengrusakan pada membran sel tumor. Pada "enhancement antibody" keadaan yang sebaliknya akan ditemukan; dalam hal ini, justru dengan adanya antibodi tersebut, sel-sel tumor dapat tumbuh dengan baik. Agaknya antibodi ini memperlihatkan suatu daya "blocking efect" terhadap serangan imunologik yang dibawakan oleh sistem sel. Hal ini disebabkan karena antibodi tersebut ternyata hanya bereaksi dengan TSTA akan tetapi tidak mengaktifkan system komplemen. Dengan terjadinya reaksi antara antigen dan antibodi itu, maka antigenik determinan pada TSTA justru akan terlindung terhadap serangan sel-sel imun.

Antigen-antigen tumor selain mengadakan kontak dengan sel-sel Iimfosit-B, juga dapat merangsang sel-sel yang berasal atau berada dibawah pengaruh kelenjar timus; sel seperti ini disebut sel-sel Iimfosit-T (dari "Thymus"). Sel tersebut bila telah mengadakan kontak dengan antigenik determinan sel tumor, segera akan berkembang dan melakukan diferensiasi sehingga menjadi suatu sel limfosit yang peka atau sensitif. Nanti bila ada rangsangan antigen yang serupa untuk kedua kalinya, sel tersebut akan segera bereaksi dengan jalan mengeluarkan suatu zat yang disebut "Iymphokine". Zat ini mempunyai daya merangsang sel-sel fagosit diseluruh tubuh; selain sel-sel tersebut akan memperbayak diri dan mengadakan migrasi ketempat terjadinya tumor, juga dapat mengakibatkan sel-sel itu melakukan penyerangan secara fagositosis. Pengrusakan jaringan oleh sistem sel ternyata lebih bermanfaat dan hebat daripada sistem humoral. Adanya proses imun yang dibawakan oleh system sel ini, dapat dibuktikan pada binatang percobaan, yaitu dengan jalan memindahkan sel-sel limfosit yang peka dari hewan yang imun ke hewan yang tidak imun. Hewan yang menerima sel tersebut segera akan memperlihatkan suatu reaksi imunologik. Pada hewan-hewan yang telah dilakukan suatu timektomi atau pada penderita yang mempunyai kelainan pada kelenjar timusnya, tidak akan memperlihatkan suatu reaksi imun sel; dan biasanya pada hewan atau penderita semacam itu akan lebih mudah terjangkit tumor. Peran respon imun dalam menangkal tumor Sel tumor kebanyakan terbentuk pada keadaan system imun tersupresi, ketika tidak ada respon imun sel T, sel tumor yang seringkali muncul pada keadaan tersebut adalahlymphoproliferative. Efektivitas respon imun dalam melawan sel tumor 1. Sel tumor berada pada situs daerah istimewa

Mata dan jaringan dari nervous system adalah bagian dari situs istimewa yang kemudian keberadaan sel tumor ini akan hancur oleh respon system imun. 2. Modulasi antigen dari antien tumor Kehadiran dari blocking factor

Respon imun akan merusak seluruh antigen sel tumor. 3.

Proses penghancuran sel tumor oleh komponen dari system imun merupakan blockade sel tumor tersebut dari sirkulasi atau perputaran sel tumor dalam tubuh. 4. Supresor T limfosit

Antigen spesifik supresor sel T berperan dalam regulasi system imun. 5. Imun supresi oleh sel tumor

Sel tumor memproduksi prostaglandin, yang dapat mengurangi sensitivitas respon imun. 6. Pertumbuhan pesat dari sel tumor

Respon imun dan komponen-komponenya mempunyai keterbatasan dalam menghancurkan sel tumor, hal ini dapat terjadi pada saat system imun sdang lemah atau sel tumor dan mekanisme pertumbuhannya dapatmengelabui system imun.

3. Gen yang meningkatkan pertumbuhan otonom pada sel kanker disebut onkogen. Gen ini berasal dari mutasi protoonkogen dan ditandai dengan kemampuan mendorang pertumbuhan sel walaupun tidak terdapat sinyal pendorang pertumbuhan yang normal. Produk gen ini disebut Onkoprotein, yang mirip dengan produk normal protoonkogen, kecuali bahwa onkoprotein tidak memiliki elemen regulatorik yang penting, dan produksi gen tersebut dalam sel yang mengalami tranformasi tidak bergantung pada faktor pertumbuhan atau sinyal eksternal lainnya. Proto-onkogen dapat menjadi onkogen dengan sedikit modifikasi pada fungsi aslinya. Ada dua tipe pengaktifan:

Terjadi mutasi pada satu onkogen yang berakibat perubahan pada struktur protein, yang disebabkan oleh:

kenaikan aktivitas protein (enzim) hilangnya regulasi terjadinya hibrid antar protein melalui kerusakan kromosom pada pembelahan sel. Telah diketahui bahwa kerusakan kromosom yang terjadi saat pembelahan sel pada sumum tulang belakang dapat menimbulkan leukemia.

Meningkatnya konsentrasi protein, yang disebabkan oleh:

meningkatkan ekspresi protein akibat kesalahan regulasi meningkatnya stabilitas protein, yang membuat keberadaan dan aktivitasnya dalam sel menjadi lebih lama

duplikasi gen, yang berakinat meningkatnya jumlah protein dalam sel.

Ketika protoonkogen mengalami mutasi ( mutasi titik, translokasi, amplifikasi, inserasi atau delesi ) menjadi onkogen, maka mekanisme fisiologi proses pembelahan sel normal akan mengalami gangguan dan menuju pada lesi gen. Perubahan ini akan terjadi proses pembelahan sel neoplasik. Efek dari aktivasi Onkogen : 1. Mengkode protein yang berfungsi sebagai faktor pertumbuhan sehingga tumbuh berlebihan dan merangsang diri sendiri misalnya c- sis. 2. Memproduksi reseptor faktor pertumbuhan yang tidak sempurna, yang memberi isayarat pertumbuhan terus menerus meskipun tidak ada rangsangan misalnya c-erb-B. 3. Pada amplifikasi gen terbentuk reseptor faktor pertumbuhan yang berlebih, sehingga sel tumor sangat peka terhadap faktor pertumbuhan yang rendah, yang berada dibawah ambang rangsang normal misal c- neu. 4. Memproduksi protein yang berfungsi sebagai pengantar isyarat didalam sel yang tidak sempurna, yang terus menerus menghantarkan isyarat meskipun tidak ada rangsangan dari luar sel misalnya c- K-Ras 5. Memproduksi protein yang berikatan langsung dengan inti yang merangsang pembelahan sel misalnya c-myc. Onkogen hanya ada jika protoonkogen mengalami mutasi pada satu onkogen yang berakibat perubahan pada struktur protein dan Meningkatnya konsentrasi protein.