Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL (Test Urea dengan metode kinetika enzimatis)

Hari/Tanggal Praktikum : Senin/ 24 Oktober 2011 Waktu: 13.00-16.00

Disusun Oleh : Ibrahim Milyadi Sugijanto Valdis Reinaldo A. Fadhillah A. Imay A.H. Dian C. Sodik Indra Anggara A. Citra Caesaria F. Yanarita Anelindha F. 260110080011 (Alat dan Bahan, Prosedur) 260110080015 (Tujuan, Prinsip) 260110080081 (Editor) 260110080112 260110080113 (Teori, Daftar Pustaka) 260110080114 260110080115 (Data Pengamatan, Perhitungan) 260110080116 (Pembahasan, Kesimpulan) 260110080117

LABORATORIUM KIMIA KLINIK FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL (Test Urea dengan metode kinetika enzimatis)

I. TUJUAN 1. Melakukan pemeriksaan fungsi ginjal dengan test urea secara kinetika enzimatis. 2. Menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh.

II. PRINSIP

III. TEORI Setiap ginjal terdiri dari sekitar 1 juta unit penyaring (nefron). Sebuah nefron merupakan suatu struktur yang menyerupai mangkuk dengan dinding yang berlubang (kapsula Bowman), yang mengandung seberkas pembuluh darah (glomerulus). Kapsula Bowman dan glomerulus membentuk

korposkulum renalis. Darah yang masuk ke dalam glomerulus memiliki tekanan yang tinggi. Sebagian besar bagian darah yang berupa cairan disaring melalui lubang-lubang kecil pada dinding pembuluh darah di dalam glomerulus dan pada lapisan dalam kapsula Bowman; sehingga yang tersisa hanya sel-sel darah dan molekul-molekul yang besar (misalnya protein) (Mutschler, 1991). Cairan yang telah disaring (filtrat) masuk ke dalam rongga Bowman (daerah yang erletak diantara lapisan dalam dan lapisan luar kapsula Bowman) dan mengalir ke dalam tubulus kontortus proksimal (tabung/saluran di bagian hulu yang berasal dari kapsula Bowman); natrium, air, glukosa dan bahan lainnya yang ikut tersaring diserap kembali dan dikembalikan ke darah. Ginjal juga menggunakan energi yang secara selektif menggerakkan molekulmolekul yang besar (termasuk obat-obatan, misalnya penicillin) ke dalam

tubulus. Molekul tersebut dibuang ke dalam air kemih meskipun ukurannya cukup besar untuk dapat melewati lubang-lubang pada penyaring

glomerulus(Mutschler, 1991). Bagian berikutnya dari nefron adalah ansa Henle. Ketika cairan melewati ansa Henle, natrium dan beberapa elektrolit lainnya dipompa keluar sehingga cairan yang tersisa menjadi semakin pekat. Cairan yang pekat ini akan mengalir ke dalam tubulus kontortus distal. Di dalam tubulus distal, semakin banyak jumlah natrium yang dipompa keluar. Cairan dari beberapa nefron mengalir ke dalam suatu saluran pengumpul (duktus kolektivus). Di dalam duktus kolektivus, cairan terus melewati ginjal sebagai cairan yang pekat, atau jika masih encer, maka air akan diserap dari air kemih dan dikembalikan ke dalam darah, sehingga air kemih menjadi lebih pekat. Tubuh mengendalikan konsentrasi air kemih berdasarkan kebutuhannya terhadap air melalui hormonhormon yang kerjanya mempengaruhi fungsi ginjal (Mutschler, 1991).

Fungsi Ginjal Fungsi ginjal ialah pengaturan keseimbangan air; pengaturan konsentrasi garam dalam darah dan keseimbangan asam-basa darah; dan eksresi bahan buangan dan kelebihan garam. Ginjal melakukan fungsi vitalsebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah (dan lingkungan dalam tubuh) dengan mengeksresikan solut dan air secara selektif. Kalau kedua ginjal karena sesuatu hal gagal melakukan fungsinya, maka kematian akan terjadi dalam waktu 3 sampai 4 minggu. Fungsi vital ginjal dilakukan dengan filtrasi plasma darah melalui golmerulus diikuti dengan reabsorpsi sejumlah solut dan air dalam jumlah yang tepat di sepanjang tubulus ginjal. Kelebihan solut dan air akan dieksresikan keluar tubuh sebagai kemih melalui system pengumpul (Sylvia,1995).

Fungsi Utama Ginjal: a. Fungsi Eksresi

Mempertahankan osmolalitas plasma sekitar 285 m-Osmol dengan mengubah-ubah eksresi air. Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang normal. Mempertahankan pH plasma sekitar 7,4 dengan mengeluarkan kelebihan H+ dan membentuk kembali HCO3 Mengeksresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein, terutama urea, asam urat dan kreatinin. b. Fungsi Non-eksresi Menghasilkan rennin peting untuk pengaturan tekanan darah. Menghasilkan eritropoietin factor penting dalam stimulasi produksi sel darah merah oleh sumsum tulang. Metabolisme vitamin D menjadi bentuk aktifnya. Degradasi insulin. Menghasilkan prostaglandin. (Sylvia,1995). Ginjal mengeksresikan bahan-bahan kimia asing tertentu (obat-obatan dan sebagainya), hormon-hormon dan metabolik lain, tetapi fungsinya paling utama adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstraseluler dalam batas-batas normal. Tentu saja ini dapat terlaksana dengan mengubah eksresi air dan solut, di mana kecepatan filtrasi yang tinggi memungkinkan pelaksanaan fungsi ini dengan ketepatan yang tinggi. Pembentukan rennin dan eritropoietin serta metabolisme vitamin D merupakan fungsi non ekskretor yang penting (Evelyn, 2002). Defisiensi eritropoietin dan pengaktifan vitamin D dianggap penting sebagai etiologi anemia dan penyakit tulang pada uremia. Ginjal juga penting sehubungan dengan degradasi insulin dan pembentukan sekelompok senyawa yang mempunyai makna endokrin yang berarti, yaitu prostaglandin. Sekitar 20 persen dari insulin yang dibentuk oleh pankreas didegradasi oleh sel-sel tubulus ginjal. Akibatnya penderita diabetis yang menderita payah ginjal mungkin membutuhkan insulin yang jumlahnya lebih sedikit. Prostaglandin

(PG) merupakan hormon asam lemak tidak jenuh yang terdapat dalam banyak jaringan tubuh. Medula ginjal membentuk PGA2 dan PGE2 yang merupakan vasodilator potensial. Prostaglandin mungkin mempunyai peranan penting dalam pengaturan aliran darah ginjal, pengeluaran renin dan reabsorpsi Na+. Kekurangan prostaglandin mungkin juga ikut berperan pada beberapa bentuk hipertensi ginjal sekunder, meskipun bukti-bukti yang ada sekarang ini masih kurang memadai (Evelyn, 2002).

Mekanisme Urinaria Sekresi Urine dan Mekanisme Fungsi Ginjal. Glomerulus adalah saringan. Setiap menit kira-kira 1 liter darah yang mengandung 500 ccm plasma, mengalir melalui semua glomeruli dan sekitar 100 ccm (10 persen) dari itu disaring keluar. Plasma yang berisi semua garam, glukosa, dan benda halus lainnya, disaring. Sel dan protein plasma terlalu besar untuk dapat menembusi pori saringan dan tetap tinggal dalam aliran darah. Cairan yang disaring, yaitu filtrat glomerulus, kemudian mengalir melalui tubula renalis dan sel-selnya menyerap semua bahan yang diperlukan tubuh dan ditinggalkan yang tidak diperlukan. Dengan mengubah-ubah jumlah yang diserap atau ditinggalkan dalam tubula, maka sel dapat mengatur susunan urine di satu sisi dan susunan darah di sisi sebaliknya. Dalam keadaan normal semua glukosa diabsorpsi kembali; air sebagian besar diabsorpsi kembali, kebanyakan produk buangan dikeluarkan. Dalam keadaan tertentu tubula menambah bahan pada urine (Evelyn, 2002). Mikturisi ialah peristiwa pembungan urine. Karena urine dibuat di dalam maka ia mengalir melalui ureter ke dalam kandung kencing. Keinginan untuk membuang air kecil disebabkan oleh penambahan tekanan di dalam kandung kencing, dan tekanan ini disebabkan oleh isi urine di dalamnya. Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170 sampai 230 ml. Mikturisi ialah gerakan refleks yang dapat dikendalikan dan ditahan oleh pusat-pusat persarafan yang lebih tinggi pada manusia. Gerakannya ditimbulkan oleh kontraksi otot abdominal yang menambah tekanan di dalam rongga abdomen; dan berbagai organ yang

menekan kandung kencing membantu mengosongkannya. Kandung kencing dikendalikan oleh saraf pelvis, dan serabut saraf simpatis dari plexus hipogastrik (Evelyn, 2002).

Komposisi Urin Normal Urine terutama terdiri atas air, urea dan natrium khlorida. Pada seorang yang menggunakan diit yang rata-rata berisi 80 sampai 100 gram protein dalam 24 jam, jumlah persen air dan benda padat dalam urine adalah seperti berikut: Air 96 % Benda padat 4 % (terdiri atas urea 2 % dan produk metabolik lain 2 %) Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan dieksresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 30 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang dimakan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum. Asam Urat. Kadar normal asam-urat di dalam darah adalah 2 sampai 3 mg setiap 100 cm, sedangkan 1,5 sampai 2 mg setiap hari dieksresikan ke dalam urine. Kreatine adalah hasil buangan keratin dalam otot. Produk metabolisme lain mencakup benda-benda purine, oxalat, fosfat, sulfat, dan urat. Elektrolit atau garam seperti natrium dan kalium khlorida dieksresikan untuk mengimbangi jumlah yang masuk melalui mulut (Evelyn, 2002).

Ciri-Ciri Urine Normal Jumlahnya rata-rata 1-2 liter sehari, tetapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang dimasukkan. Banyaknya bertambah pula bila terlampau banyak protein dimakan, sehingga tersedia cukup cairan yang diperlukan untuk melanjutkan ureanya. Warnanya kuning oranye pucat tanpa endapan, tetapi adakalanya jonjot lendir tip[is nampak terapung di dalamnya. Baunya tajam. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6. Berat jenis berkisar dari 1010 sampai 1025 (Evelyn, 2002).

Tes Fungsi Ginjal

Terdapat banyak macam tes, tetapi beberapa yang sederhana, ialah: 1. Tes untuk protein (albumin) Bila ada kerusakan glomeruli atau tubula, maka protein dapat membocor masuk urine. Orang dewasa normal dan sehat mengeksresikan sedikit protein dalam kemih sampai 150 mg/hari yang terutama terdiri dari albumin dan protein Tamm-Horsfall. Yang terakhir ini dieksresikan oleh tubulus distal. Proteinuria dalam jumlah yang lebih besar dari 150 mg/hari dianggap patologis. 2. Mengukur konsentrasi ure darah Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan ureum maka ureum darah naik di atas kadar normal 20-40 miligram per 100 ccm darah. Karena filtrasi glomerulus harus menurun sampai sebanyak 50 persen sebelum kenaikan kadar urea darah terjadi, maka tes ini bukan tes yang sangat peka. 3. Tes konsentras. Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai berapa tinggi berat jenis naik. 4. Laju filtrasi glomerulus Tes ini jarang digunakan dalam klinik, karena melibatkan proses infuse intravena dengan kecepatan yang konstan dan pengumpulan kemih pada saatsaat tertentu dengan kateter. Tes bersihan kreatinin endogen (terbentuk di dalam tubuh) jauh lebih sederhana pelaksanaannya (Sylvia,1995). Fungsi ginjal bisa dinilai melalui analisa darah dan urin. Laju penyaringan ginjal bisa diperkirakan dengan cara mengukur kreatinin serum. Kadar urea nitrogen darah juga bisa menunjukkan fungsi ginjal. Creatinine clearance adalah tes yang lebih akurat, yang menggunakan suatu rumus yang menghubungkan kadar serum kreatinin dengan usia, berat badan dan jenis kelamin (Davey, 2002).

Prosedur imaging

Foto polos abdomen dapat memperlihatkan ukuran dan letak ginjal, tetapi kedua hal tersebut biasanya akan terlihat lebih baik pada pemeriksaan USG. Urografi intravena adalah suatu teknik rontgen yang digunakan untuk menampilkan ginjal dan saluran kemih bagian bawah. Suatu zat radioopak disuntikkan melalui pembuluh vena. Zat tersebut akan terdapat dalam ginjal biasanya dalam waktu kurang dari 5 menit. Kemudian dilakukan pemotretan, yang hasilnya akan menunjukkan gambaran ginjal serta perjalanan zat radioopak ke dalam kandung kemih. Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, maka urografi intravena tidak akanmemberikan hasil yang baik, karena ginjal tidak dapat mengkonsentrasikan zat radioopak di dalam ginjal. Sebagai efek samping dari penyuntikan zat radioopak, terjadi gagal ginjal akut pada 1 dari 200 kasus. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi resikonya lebih tinggi pada: a. usia lanjut atau memiliki riwayat gangguan ginjal b. diabetes melitus c. dehidrasi d. mieloma multipel. Kepada orang-orang tersebut, sebelum zat radioopak disuntikkan, diberikan cairan infus dan dosis yang rendah. Atau sebagai pilihan, kadang digunakan pemeriksaan CT scan. Sistogram adalah suatu gambaran rontgen dari kandung kemih, yang diperoleh melalui urografi intravena. Sistogram retrograd diperoleh dengan cara memasukkan zat radioopak melalui uretra, sehingga didapat gambaran yang lebih jelas mengenai kandung kemih dan uretra. Foto rontgen diambil sebelum, selama dan sesudah berkemih (Davey, 2002). Pada urografi retrograd, zat radioopak dimasukkan melalui kateter ke dalam ureter. Dengan teknik ini akan diperoleh gambaran yang jelas dari kandung kemih, ureter dan ginjal bagian bawah, jika urografi intravena gagal. Urografi retrograd juga bisa digunakan untuk menemukan adanya penyumbatan ureter atau untuk menilai seseorang yang alergi terhadap zat radioopak intravena. Kerugian dari teknik ini adalah resiko terjadinya infeksi dan perlu dilakukan pembiusan. USG menggunakan gelombang suara untuk

menghasilkan gambaran struktur anatomi ginjal. Teknik ini sederhana, tidak menimbulkan nyeri dan aman. USG bisa digunakan untuk: a. Mempelajari ginjal, ureter dan kandung kemih; dengan gambaran yang baik meskipun ginjal tidak berfungsi baik. b. Mengukur laju pembentukan urin pada janin yang berumur lebih dari 20 minggu dengan cara mengukur perubahan volume kandung kemih. Dengan demikian bisa diketahui fungsi ginjal janin. c. Pada bayi baru lahir, USG merupakan cara terbaik untuk mengetahui adanya massa di dalam perut, infeksi saluran kemih dan kelainan bawaan pada system kemih. d. Memperkirakan ukuran ginjal dan mendiagnosis sejumlah kelainan ginjal, termasuk perdarahan ginjal. e. Menentukan lokasi yang terbaik guna mengambil contoh jaringan untuk keperluan biopsi. USG merupakan metode diagnostik terbaik untuk penderita gagal ginjal stadium lanjut, yang ginjalnya tidak dapat mengambil atau mentolerir zat radioopak. Kandung kemih yang terisi dengan urin bisa terlihat dengan jelas pada USG. USG juga dapat digunakan untuk mendeteksi tumor kandung kemih, tetapi hasilnya lebih baik jika digunakan CT scan. CT Scan merupakan pemeriksaan yang lebih mahal dibandingkan dengan USG dan urografi intravena, tetapi mempunyai beberapa keuntungan: a. CT scan dapat membedakan struktur padat dengan cairan, sehingga sangat berguna dalam menilai jenis dan luasnya tumor ginjal atau massa lainnya yang menyebabkan perubahan pada saluran kemih. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, bisa disuntikkan zat radioopak melalui pembuluh vena. b. CT scan dapat membantu menentukan penyebaran tumor ke luar ginjal. c. Campuran air dan zat radioopak yang dimasukkan ke dalam kandung kemih selama pemeriksaan CT scan dapat dengan jelas menggambarkan tumor kandung kemih (Davey, 2002).

Sekitar 25% darah masuk untuk difiltrasi oleh ginjal, fungsi ginjal adalah untuk mempertahan homeostasis (keseimbangan cairan dan elektrolit. Terdiri dari jutaan glomerolus (sebagi filtrasi) uang terdiri atas kapsula bowmwn. Darah dari arteri afferent membuat liku-liku dan membentuk arteri efferent. Dari kapsula bowman darah yang difiltrasi akan melewati tubulus yang berlekuk-lekuk dan bersambung dengan glomerulus yang lain dan bermuara pada pelvis renis. Dari pelvis renis hasil filtrasi (air, ureum, creatinin, dan amoniak) akan dikeluarkan melewati melewati ureter yang kemudian ditampung di vesika urinaria. Hasil filtrasi ginjal yang dapat digunakan sebagai indikator kerusakan ginjal adalah ureum dan kreatinin. Hampir seluruh ureum dibentuk di dalam hati, dari metabolisme protein (asam amino). Urea berdifusi bebas masuk ke dalam cairan intra sel dan ekstrasel. Zat ini dipekatkan dalam urin untuk diekskresikan. Pada keseimbangan nitrogen yang stabil, sekitar 25 gram urea diekskresikan setiap hari. Kadar dalam darah mencerminkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi urea (Riswanto, 2010). Ureum berasal dari penguraian protein, terutama yang berasal dari makanan. Pada orang sehat yang makanannya banyak mengandung protein, ureum biasanya berada di atas rentang normal. Kadar rendah biasanya tidak dianggap abnormal karena mencerminkan rendahnya protein dalam makanan atau ekspansi volume plasma. Namun, bila kadarnya sangat rendah bisa mengindikasikan penyakit hati berat. Kadar urea bertambah dengan bertambahnya usia, juga walaupun tanpa penyakit ginjal (Riswanto, 2010).

IV. ALAT DAN BAHAN

Alat:

1. Spektrofotometer 2. Kuvet 3. Pipet piston

10

4. Beaker glass 5. Tabung reaksi + rak tabung reaksi 6. Stop watch 7. Sentrifugasi Bahan: 1. Serum, EDTA plasma, urin 2. Alkohol 70% Reagensia: 1. Buffer Tris-buffer 150 mmol/l, pH 7,6

2. Reagen enzim: Urease GLDH NADH Adenosin-5-diphosphat Alpha-oxoglutarat 3. standar: Urea


V. PROSEDUR

>= 10 U/mL >= 2 U/mL 0,26 mmol/L 3 mmol/L 14 mmol/L

80 mg/100 mL (13,35 mmol/L)

Cara pembuatan dan stabilitas larutan 1. Buffer: Isi larutan siap untuk digunakan. Stabil sampai waktu kadaluarsa jika disimpan pada 2-8 derajat Celsius. 2. Reagen enzim: UR 220: lakukan rekonstitusi sati vial dari reagen enzim 2 dengan 15 mL larutan buffer 1. Larutan stabil selama 4 minggu pada 2-8 derajat Celsius atau selama 2 hari pada 15-25 derajat Celsius. UR 221, UR 222, UR 2364: Lakukan rekonstitiusi terhadap satu vial dari reagen enzim 2 dengan sebagian larutan buffer 1 dan kemudian buffer 1 dan kemudain pindahkan seluruhnya pada botol buffer 1, bilas botol reagen enzim beberapa kali.

11

Larutan stabil selama 4 minggu pada 2-8 derajat Celsius atau selama 2 hari pada 15-25 derajat Celsius. 3. Standar Larutan standar siap untuk digunakan Stabil sampai waktu kadaluarsa jika disimpan pada 2-8 derajat Celsius.

Cara kerja: Panjang gelombang: 340 (Hg 334 nm atau Hg 365 nm) Kuvet Temperatur : 1 cm : 37 derajat Celsius

Pengukuran dilakukan terhadap blanko reagen. Untuk setiap seri pengukuran cukup digunakan satu blanko reagen dan satu standar. Pipetkan ke dalam tabung standar: BR (l) Standar Sampel Reagen 1000 Standar (l) 10 1000 Sampel (l) 10 1000

Campurkan dan baca absorbansi pertama tepat setelah 30 detik dan stop watch mulai dijalankaan. Baca tepat sesuadah 1,2 dan 3 menit.

12

VI. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


A. DATA PENGAMATAN Reagen 1 A1 Blanko Standar Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 Rata-rata sampel 0,312 0,321 0,294 0,307 0,337 0,31267 A2 0,288 0,306 0,340 0,3113 A1 1,873 1,823 1,817 1,823 1,802 1,814 Reagen 2 A2 1,821 1,832 1,822 1,825

Pengamatan

B.

PERHITUNGAN

Sampel 1

atau

13

Sampel 2

atau

VII.

PEMBAHASAN

Tujuan percobaan kali ini adalah melakukan fungsi ginjal dengan test urea secara kinetika enzimatis dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh. Untuk menetapkan kadar urea dalam serum pasien digunakan metode kinetika enzimatis. Prinsip pengukurannya adalah urea diukur setelah mengalami hidrolisis yang akan menghasilkan ammonia dan karbon dioksida. Ammonia yang dihasilakan selanjutnya akan mengalami reaksi kombinasi dengan 2--oxoglutarate menghasilkan glutamate. Glutamate sebagai produk akhir atau indikator akan dihitung dengan menggunakan spektrofotometri UVVis.

14

Hampir seluruh ureum dibentuk di dalam hati, dari metabolisme protein (asam amino). Urea berdifusi bebas masuk ke dalam cairan intra sel dan ekstrasel. Zat ini dipekatkan dalam urin untuk diekskresikan. Pada keseimbangan nitrogen yang stabil, sekitar 25 gram urea diekskresikan setiap hari. Kadar dalam darah mencerminkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi urea. Ureum berasal dari penguraian protein, terutama yang berasal dari makanan. Pada orang sehat yang makanannya banyak mengandung protein, ureum biasanya berada di atas rentang normal. Kadar rendah biasanya tidak dianggap abnormal karena mencerminkan rendahnya protein dalam makanan atau ekspansi volume plasma. Namun, bila kadarnya sangat rendah bisa mengindikasikan penyakit hati berat. Kadar urea bertambah dengan bertambahnya usia, juga walaupun tanpa penyakit ginjal. Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak retroperitoneal, di kedua sisi kolumna vertebralis daerah lumbal. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Kutub atasnya terletak setinggi kosta 12, sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi kosta 11. Setiap ginjal terdiri dari 600.000 nefron. Nefron terdiri atas glomerulus dengan sebuah kapiler yang berfungsi sebagai filter. Penyaringan terjadi di dalam sel-sel epitelial yang menghubungkan setiap glomerulus. Ginjal merupakan organ terpenting dari tubuh manusia maka dari itu ginjal mempunyai beberapa fungsi seperti : mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorpsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit, serta

mengekskresikan kelebihannya sebagai kemih. Ginjal juga mengeluarkan sampah metabolisme (seperti urea, kreatinin, dan asam urat) dan zat kimia asing. Akhirnya selain regulasi dan ekskresi, ginjal juga mensekresi renin yang penting untuk mengatur tekanan darah, juga bentuk aktif vitamin D yaitu penting untuk mengatur kalsium, serta eritropoeitin yang penting untuk sintesis darah.

15

Jika ginjal gagal, baik akut maupun kronik, produk akhir dari metabolisme nitrogen terakumulasi, menaikan kadar nitrogen non-protein (NPN). Hal ini tampak dari menaiknya nitrogen urea darah (BUN) dan kreatin serum. Kenaikan nitrogen akan menyebabkan azotemia. Azotemia adalah uremia, yaitu ginjal gagal membuang waste product dari metabolisme. Prinsip dari percobaan praktikum kali ini adalah kadar urium berbanding lurus dengan laju filtrasi glomerulus (GFR). Apabila kadar ureum dalam urin rendah berarti terjai kerusakan ginjal, karena laju filtrasi glomerulus rendah sehingga ureum tertahan di peredaran darah. Reaksinya adalah sebagai berikut : Urea + H2O NH3
+ urease

2NH3 + CO2
6LDH

- ketoglutarat + NADH

L-Glutamat + NAD+

Prosedur percobaan kali ini pertama-tama dibuat terlebih dahulu reagen enzim dan larutan standar serta buffer. Kemudian dibuat larutan standar yaitu standar dipipet sebanyak 10 l dan reagen sebanyak 1000 l dipipet ke dalam kuvet. Setelah serum didapat, diambil sebanyak 10 L dan ditambahkan reagen sebanyak 1000 L dan dikocok dengan tujuan agar serum dan reagen homogen. Larutan direplikasi sebanyak 3 (triplo), sehingga masing-masing tabung berisi 10 L serum dan 1000 L reagen. Tujuan dari pembuatan larutan blanko adalah untuk membuktikan bahwa pelarut yang digunakan tidak memiliki daya absorbansi (sama dengan nol) sehingga ketika kita mengukur sampel, hanya kadar yang ingin kita ukur saja (kadar ureum) saja yang terbaca. Kemudian dibuat juga larutan standar yang berisi 1000 L reagen dan 10 L larutan standar ureum. Larutan standar ini sebagai pembanding ketiga sampel yang ada. Kemudian campuran tersebut didiamkan selama 30 detik (operating time). Hal ini dimaksudkan agar supaya didapatkan hasil optimal di mana reagen dan serum bereaksi optimal. Setelah itu dibuat larutan sampel yaitu sampel sebanyak 10 l dan reagen 1000 l dipipet ke dalam kuvet. Reagensia yang telah disiapkan diinkubasikan dengan alat pemanas hingga suhunya mencapai 37C. Alasan digunakan suhu 37C adalah karena

16

suhu ini merupakan suhu yang optimal untuk reaksi antara reagensia dan larutan sampel sesuai dengan prinsip reaksi di atas. Setelah suhunya mencapai suhu 37C, sebanyak 1 ml reagensia dipipetkan ke dalam kuvet yang

sebelumnya telah diisi larutan standar. Tiga puluh detik setelah pencampuran reagensia dan larutan standar dilakukan pengukuran absorbansi larutan standar menggunakan spektrofotometer. Absorbansi tersebut dianggap sebagai nilai absorbansi pertama (A1). Kemudian 60 detik setelah pengukuran absorbansi larutan standar (A1), larutan standar tersebut kembali diukur absorbansinya dengan alat spektrofotometer yang sama dan nilai absorbansi yang dihasilkan dianggap sebagai nilai absorbansi kedua (A2). Kedua nilai absorbansi tersebut dicatat. Dari hasil percobaan didapatkan nilai A1 standar adalah sebesar 0,321 dan A2 standar sebesar 1,823. Selanjutnya, dilakukan penyiapan dan pengukuran absorbansi larutan sampel dengan prosedur yang sama seperti pengukuran absorbansi. Dari hasil percobaan didapatkan nilai A1 sampel adalah sebesar 0,294; 0,307; 0,337 dan A2 sampel sebesar 1,817; 1,823; 1,802. Setelah itu data dimasukkan ke dalam perhitungan dengan rumus: Curea sampel 1 = =

Asampel X Cstandar Astan dar

0,31267 x 50 mg/dl 0,321

= 48,7 mg/dl

Curea sampel 2 = =

Asampel X Cstandar Astan dar


1,814 x 50 mg/dl 1,823

= 49,75 mg/dl

Hasil kadar ureum yang didapat masih dalam batas normal karena masih jauh di bawah nilai standarnya. Sehingga pasien dapat dikatakan tidak mengalami gangguan ginjal.

17

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin dalam darah dapat menjadi acuan untuk mengetahui adanya Gagal ginjal akut (GGA) yaitu suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan mendadak (dalam beberapa jam sampai beberapa hari) kecepatan penyaringan ginjal, disertai dengan penumpukan sisa metabolisme ginjal (ureum dan kreatinin). Salah satu hasil metabolisme yang akan dibuang oleh ginjal yaitu ureum dan kreatinin adalah sebagai indikator derajat kesehatan pada ginjal. Apabila keduanya meningkat, hal ini menunjukkan fungsi ginjal yang tidak baik. Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 20 mg 40 mg setiap 100 ccm darah (20 40 mg/dl), tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang dimakan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum. Hampir seluruh ureum dibentuk di dalam hati, dari metabolisme protein (asam amino). Urea berdifusi bebas masuk ke dalam cairan intra sel dan ekstrasel. Zat ini dipekatkan dalam urin untuk diekskresikan. Pada keseimbangan nitrogen yang stabil, sekitar 25 gram urea diekskresikan setiap hari. Kadar dalam darah mencerminkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi urea. Ureum dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kerusakan pada ginjal karena ureum merupakan hasil metabolisme protein di hati menjadi NH3. Bila NH3 bereaksi dengan CO2 hasil respirasi sel dalam tubuh, dia akan menghasilkan urea/ ureum. Ureum ini harus diekskresikan oleh ginjal dan dikeluarkan bersama urin. Jika terdapat kerusakan pada ginjal dan Glomerulus Filtration Rate (Kecepatan Filtrasi Glomerulus) menurun, maka ureum tidak dapat dikeluarkan bersama urin, serta tertahan lebih lama di dalam darah. Hal ini akan menyebabkan kadar urem dalam darah meningkat. Pemeriksaan kadar ureum ini sangat dipengaruhi oleh diet makanan (protein).

18

VIII. KESIMPULAN

Kadar ureum yang didapatkan bila di bandingkan dengan kadar standar normal masih berada jauh dibawahnya sehingga pasien tidak memiliki gangguan ginjal.

19

DAFTAR PUSTAKA

Davey, P. 2002. At a Glance Medicine. PT Gelora Aksara Pratama. Jakarta.

Evelyn, P.C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT Gramedia. Jakarta. Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat Farmakologi Dan Toksikologi. Penerbit ITB. Bandung.

Riswanto.

2010.

Ureum

Darah

(Serum).

Tersedia

pada

http://labkesehatan.com/2010/03/ureum-darah-serum.html [Diakses pada tanggal 29 Oktober 2011].

Riswanto. 2010. Urinalisis. Tersedia pada http://labkesehatan.com/2010/02 /urinalisis-1.html [Diakses pada tanggal 29 Oktober 2011].

Sylvia, P.A. 1995. Patofisiologi; Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

20