Anda di halaman 1dari 1

Diagnosis dan Manajemen Neuritis Optik Retrobulbar Anthony Christanto Pembimbing : dr. Djoko Heru Sp.

M Neuritis optik retrobulbar, atau disebut juga Neuritis optik posterior, adalah reaksi peradangan dan/atau demielinisasi daripada nerves optikus yang terjadi di belakang lamina kribosa. Anamnesis Anamnesis pada pasien dengan neuritis optik retrobulbar, jika dilakukan dengan baik, akan dapat memberikan petunjuk yang cukup besar mengenai kecurigaan dokter terhadap penyakit ini. Biasanya gejala yang khas adalah adanya pandangan yang berkabut atau kabur, titik hitam pada mata (skotoma), salah menyebutkan warna (diskromatopsia), dan salah menafsirkan terang-gelap. Kesemuanya ini sering terjadi unilateral jika terjadi pada orang dewasa. Riwayat demam akibat infeksi viral akan lebih membantu diagnosis neuritis optik retrobulbar. Wanita dan orang berusia 20-40 tahun juga sangat rentan terkena penyakit demikian. Pemeriksaan Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain : - Pemeriksaan visus dengan Optometri Snellen. Akan didapatkan penurunan visus yang setara dengan progresivitas penyakit. - Pemeriksaaan lapang pandang dengan Field Analyzer. Akan didapatkan skotoma yang sentral maupun sekosentral, namun skotoma sentral lebih sering dijumpai. - Pemeriksaan Swinging Flashlight akan menunjukkan adanya pupil Marcuss-Gunn atau RAPD (Relative Afferent Visual Defect) - Funduskopi pada penderita Neuritis Optik Retrobulbar akan memberikan gambaran fundus normal meski penglihatan akan sangat menurun. Biasanya pasien akan mengeluh penglihatannya sangat menurun, namun dokter tak akan menemukan apapun saat pemeriksaan, sehingga penyakit ini identik dengan istilah Both the patient and the doctor cant see anything Manajemen Pengobatan ditujukan untuk memperlambat progresivitas penyakit akibat reaksi imun yang berlebihan. Biasanya diberikan prednisone oral sebanyak 1 mg/kgBB/hari selama 14 hari, diikuti tapering off selama 4 hari.