Anda di halaman 1dari 18

1

IRREVERSIBLE HYDROCOLLOID

1. 1.1

Introduksi Alginat Sejarah Pada akhir abad yang lalu, seorang ahli kimia dari Skotlandia

memperhatikan bahwa rumput laut tertentu yang berwarna coklat (algae) bisa menghasilkan suatu ekstrak lendir yang aneh. Ia menamakan algin pada substansi alami ini, kemudian diidentifikasi sebagai suatu polimer linier dengan berbagai kelompok asam karboksil dan dinamakan asam anhydro--d mannuronic (disebut juga asam alginik). Asam alginik serta kebanyakan garam anorganik tidak larut dalam air, tetapi garam yang di peroleh dengan natrium, kalium, dan amonium larut dalam air. Ketika bahan cetak agar menjadi langka karena perang dunia ke 2 (jepang adalah sumber agar utama) penelitian untuk menemukan bahan pengganti yang cocok semakin dipercepat. Hasilnya adalah hidrokoloid irreversibel atau bahan cetak alginat. 1.2 Definisi Irreversible hidrocolloid tidak dapat kembali kebentuk semula atau kembali menjadi wujud dasarnya setelah bereaksi dan membentuk sol. Sol adalah semua penghamburan koloid. Contoh dari irreversible hidrocolloid ini adalah alginat. Alginat adalah bahan cetak yang mengandung air, digunakan untuk mencetak detail minimal, seperti yang diperlukan untuk membuat model studi. Bahan ini paling banyak dipakai dibidang kedokteran gigi. Tersedia dalam bentuk bubuk dan bila dicampur dengan air akan membentuk adonan cair (fluid sol) yang bersifat plastis. Pada keadaan plastis alginat ini diaplikasikan pada objek yang dicetak, proses pengerasan (setting) terjadi beberapa menit akibat terbentuknya kolloidal yang padat tapi fleksibel. Perbandingan pemakaian volume air dengan bubuk yang normal yaitu 1:1. Kalau kita menginginkan adonan yang encer maka harus ditambahkan air. Adonan yang lebih encer akan lebih mudah mengalir (flow tinggi) ke tempat-tempat yang lebih sempit, dan pengerasan berjalan lebih lama. Kalium alginat yang tersisa setelah proses pengerasan mempunyai sifat

mengeluarkan air (sinersis), atau dapat mengambil air (ambibisi). Hal ini mempengaruhi kekerasan permukaan model dari gips, atau bila hasil cetakan negatif tidak segera dicor akan mengalami distorsi bentuk. Pengaplikasian alginat ini umumnya tidak digunakan untuk mencetak in lay, mahkota dan jembatan. Tetapi baik untuk pekerjaan prostetik dan ortodontik. Kestabilan dimensi alginat ini kurang jika dibandingkan dengan elastomer. 1.3 Kelebihan dan Kekurangan Alginat ini tidak memerlukan perlakuan khusus serta mudah digunakan dan harganya yang murah sehingga popular digunakan untuk mencetak yang tingkat kesulitannya tidak tinggi. Kelebihan dan kekurangan alginat (dikutip dari Phillips: Buku Ajar ilmu Bahan Kedokteran Gigi). Kelebihan alginat antara lain: dapat digunakan pada lingkungan lembab, bersih dan menyenangkan, bersifat hidrofilik, waktu penyimpanan lama, harganya murah. Sementara kekurangan dari alginat ini antara lain adalah kurang akurat, kasar, mudah sobek, langsung diisi, dapat memperlambat pengerasan stone.

2.

Komposisi Alginat

Tabel 2. Pembalut Luka Alginat Komersial Material Garam Natrium atau kalium of alginic acid Jumlah(%) Fungsi Bahan reaktif utama; 11-16 membentuk sol dengan air dan berikatan membentuk gel Sumber ion Ca2 + yang CaSO4 . 2H2O (gypsum) 11-17 menyebabkan cross-linked dengan alginat Na3PO4 1-3 Digunakan untuk mengontrol waktu kerja Memberi bentuk dan 65-75 memudahkan manipulasi

Inert filler (diatomaceous earth) Indikator reaksi (terdapat pada beberapa produk)

Memberi perubahan warna ketika setting selesai Taken from Applied Dental Materials

3. Setting Reaksi Reaksi khas sol-gel dapat digambarkan secara sederhana sebagai reaksi alginat larut air dengan kalsium sulfat dan pembentukan gel kalsium alginat yang tidak larut. Kalsium sulfat bereaksi dengan cepat untuk membentuk kalsium alginat tidak larut dari kalium atau natrium alginat dalam suatu larutan cair. Produksi kalium alginat ini begitu cepat sehingga tidak menyediakan cukup waktu kerja. Jadi, suatu garam larut air ketiga seperti trinatrium fosfat di tambahkan pada larutan untuk memperpanjang waktu kerja. Strateginya adalah kalsium sulfat akan lebih suka bereaksi dengan garam lain di banding alginat larut air. Jadi, reaksi antara kalsium sulfat dan alginat larut air dapat dicegah asalkan ada trinatrium fosfat yang tidak bereaksi. Jika jumlah kalium sulfat, sodium alginat, dan trishodium fosfat sesuai dimana sebagaian ataupun seluruh bagian bahan ini larut dengan ukuran tepat dalam air, maka reaksi yang tejadi adalah :

2Na3PO4 + 3 CaSO4 ---> Ca3(PO4)2 + 3Na2SO4 ....... (1)


Ion kalsium dari kalsium sulfat yang soluble akan bereaksi dengan ion phospat dari Sodium phospat akan menghasilkan insoluable (tidak dapat larut) kalsium Phosphat. dimana kalsium phosphat dibentuk lebih cepat dari kalsium alginat karena kalsium phosphat memiliki solubilitas (daya larut) yang rendah (0,2%), dan karena alasan inilah maka sodium phosphat disebut sebagai retarder (penghambat). Setelah reaksi ini, Trisodium phosphat perlahan-lahan akan habis, sehingga ion kalsium dari kalsium sulfat mulai beraksi dengan Potassium alginat yang larut untuk menghasilkan kalsium alginat gel. dengan reaksi seperti dibawah ini :

K2nAlg + nCaSO4 --> n K2SO4 + CanAg .... (2)


Reaksi yang terjadi belakangan ini tidak memperbesar sifat elastis bahan gel kalsium alginat yang terbentuk sampai seluruh trisodium phosphat terpakai. dengan demikian pabrik dapat mengontrol waktu pengerasan produknya dengan mengatur jumlah ketentuan produknya.

4. Manipulasi Untuk dapat memperoleh hasil cetakan yang baik, perlu duperhatikan halhal berikut ini : a. Kontainer hendaknya dikocok terlebih dahulu sebelum dipakai, agar diperoleh distribusi konstitusi yang merata. b. Bubuk dan air hendaknya diukur sesuai dengan yang dianjurkan oleh pabrik. Salah satu merk bubuk tersedia dalam kantong yang larut dalam air, sehingga dapat diperoleh konsistensi yang sama setiap kali mencampur. c. Biasanya dipergunakan air dengan suhu kamar; apabila dikehendaki dapat diperoleh waktu setting yang lebih cepat atau lebih lambat dengan mempergunakan air hangat atau dingin. d. Retensi pada sendok cetak diperoleh dengan salah satu atau kedua cara berikut; 1. Mempergunakan sendok yang berlubang-lubang; 2. Memakai bahan adhesive seperti sticky wax yang dicairkan atau methyl cellulosa e. Pencampuran hendaknya dilakukan dengan rata dengan cara menyebar bahan ke sekeliling dinding mangkuk karet selama waktu tertentu (biasanya satu menit). f. Bahan cetak alginate hendaknya dikeluarkan dengan tiba-tiba/cepat dari jaringan, pelepasan secara mendadak ini menjamin keadaan elastis yang paling baik. Cetakan dikeluarkan setelah kira-kira dua menit sejak bahan mulai kelihatan elastis. g. Setelah dikeluarkan dari dalam mulut, cetakan hendaknya: 1. Disiram dengan air dingin untuk menghilangkan saliva, 2. Ditutup dengan kain kasa lembab untuk mencegah syneresis, dan 3. Diisi sesegera mungkin, sebaiknya tidak lebih dari 15 menit setelah pengambian cetakan. Dalam pemanipulasian bahan cetak alginat dilakukan pencampuran, pencetakan, dan pengeluaran cetakan dari dalam mulut yang memerlukan tenggang waktu yang disebut dengan mixing time, working time dan setting time.

4.1

Mixing time Waktu pencampuran adalah waktu yang diperlukan untuk pengadukan

bubuk alginat dengan air. Pada alginat tipe pengerasan normal waktu pengadukan adalah satu menit dan untuk tipe pengerasan cepat adalah 45 detik. Waktu pencampuran ini penting karena pengadukan yang tidak sempurna dapat mengurangi kekuatan gel hingga 50 %. Pengadukan yang baik akan menghasilkan campuran yang halus, dengan konsistensi seperti krim serta tidak menetes dari spatula apabila spatula diangkat dari bowl. 4.2 Working Time Pada alginat tipe pengerasan normal watu kerja adalah tidak kurang dari dua menit dan untuk tipe cepat tidak kurang dari satu menit 15 detik. 4.3 Setting time Waktu pengerasan alginat ditentukan oleh pabrik. Dalam hal ini pabrik akan memberikan batas waktu pengerasan dan perlu untuk memilih sebuah produk dengan waktu pengerasan yang sesuai. Waktu pengerasan untuk tipe normal adalah 2 4,5menit.

5. Sifat Fisis Dan Mekanis 5.1 1. Sifat Mekanik Strength Kekuatan gel maksimum diperlukan untuk mencegah fraktur dan menjamin bahwa cetakan cukup elastis ketika dikeluarkan dari dalam mulut. Menurut spesifikasi American Dental Association no 18, kekuatan gel harus lebih dari 0,343 Mpa (sekitar 0,5 0,8Mpa). Semua faktor manipulasi yang dikendalikan oleh klinisi dapat mempengaruhi kekuatan gel. Seperti perbandingan air dan bubuk yang digunakan, serta proses dan waktu pengadukan. Sebagai contoh, bila air yang digunakan untuk pengadukan terlalu banyak atau terlalu sedikit, gel akhir yang diperoleh akan lemah, dan kurang elastis. Pengadukan yang tidak sempurna menyebabkan campuran tidak tercampur dengan sempurna sehingga reaksi kimia berlangsung secara tidak seragam di dalam massa adukan. Pengadukan yang terlalu lama dapat memutuskan anyaman gel kalsium alginat dan mengurangi kekuatannya. Untuk itu perlu harus diikuti petnjuk yang terdapat dalam produk secara seksama. 2. Tear strength Gel alginat memiliki sifat mekanik yang buruk dan cenderung mudah robek saat dilepas dari undercut, khususnya di daerah interproksimal dan subgingiva. Materi ini lebih mudah untuk patah karena sobekan (tearing) melalui tegangan (tension) dari pada melalui kompresi (compression). Tear strength alginat bervariasi antara 300 - 700 gram / cm. Tingkat tear strength tersebut sangat rendah sehingga digunakan ketebalan 3 5 mm. 3. Viskoelestisitas Viskoelastisitas hidrokoloid adalah bahan yang tergantung pada kecepatan - regangan, jadi ketahanan terhadap robekan bertambah bila cetakan dikeluarkan dengan sentakan tiba tiba. Kecepatan mengeluarkan cetakan harus disesuaikan antara gerakan cepat dan kenyamanan pasien. Biasanya, cetakan alginate tidak melekat secara kuat pada jaringan mulut seperti bahan elastomer tanpa air, jadi cetakan alginate dapat dengan mudah dikeluarkan. 4. Fleksibilitas

Alginat dan agar adalah bahan yang sama-sama fleksibel dan memiliki kesamaan nilai rentang tegangan kompresi. Beberapa produk alginat memiliki tingkat fleksibilitas lebih tinggi ditunjukkan oleh nilai maksimum dari tegangan kompresi. Pemulihan elastis sama untuk kedua bahan, meskipun agar membutuhkan standar untuk pemulihan dari deformasi sedikit lebih tinggi. Menurut A.D.A. no 18, fleksibilitas alginat harus berada diantara 5-20% diukur sebagai jumlah strain yang diproduksi ketika sampel stres antara 100-1000 gm/cm2. Alginat memiliki nilai 12 - 14%. 5. Elastisitas Alginat cukup elastis untuk dapat ditarik melewati undercut, walau demikian kadang-kadang bagian cetakan dapat patah jika melalui undercut yang dalam. 5.2 1. Sifat Fisik Dimensi cetakan Dimensi cetakan alginat tidak stabil, hal ini disebabkan karena adanya sineresis dan imbibisi. Pada proses synersis, hydrocolloid akan kehilangan kadar air pada suasana kering karena penguapan atau eksudasi cairan ke permukaan gel. Hilangnya air atau cairan akan menyebabkan penyusutan gel. Efek ini dikenal sebagai synersis. Sedangkan pada proses imbibisi saat hidrokoloid ditempatkan dalam air, air akan terserap dan membengkak, yang mana dapat menyebabkan perubahan dimensi asli dari gel. 2. Waktu kerja Bahan alginat memiliki waktu kerja yang terkendali dengan baik bergantung pada jenis produknya. 3. Keakuratan Sebagian besar cetakan alginat tidak mampu memproduksi detail yang halus yang dapat diperoleh dengan cetakan elastomerik lainnya. Kekerasan

permukaan cetakan dapat menyebabkan distorsi pada tepi gigi yang dipreparasi. Surfaktan memang dapat digunakan untuk menghasilkan permukaan yang halus, tetapi ditambahkannya selapis larutan diatas permukaan cetakan akan bisa mengaburkan keakuratannya. Untuk menjamin bahwa bahan alginat memberi gambaran realistik untuk pembuatan model studi cetakan harus ditangani dengan

benar. Namun demikian, bahan alginat cukup akurat untuk membuat gigi palsu parsial removable. 4. Tidak beracun dan tidak iritasi terhadap jaringan mulut Alginat - memiliki tanah diatom sebagai pengisi. Tanah diatom mengandung partikel silika halus yang terpisah. Beberapa dari partikel-partikel tersebut berada dalam bentuk debu yang terbentuk dari timah atau kontainer. Kemudian, partikel silika tersebut jika terhirup akan berbahaya bagi kesehatan. Untuk menghindari menghirup debu, wadah dibiarkan menetap untuk sementara waktu setelah jatuh lalu wadah dipegang jauh dari wajah ketika dibuka, atau digunakan alginat bebas debu. 5. Kompatibilitas dengan bahan die gipsum Alginat kompatibel dengan die stone dan bahan cor lainnya. 6. Electroplating Kesan tidak dapat dilapisi karena berupa struktur gel (kadar air besar). Electroplating adalah proses pelapisan logam, dengan menggunakan bantuanarus listrik dan senyawa kimia tertentu guna memindahkan partikel logam pelapiske material yang hendak dilapis.

10

6. Modifikasi Bahan 6.1. Mengatur Waktu Setting dan Waktu kerja air dingin dalam pencampuran bubuk alginat dapat

1. Menggunakan

memperlambat waktu setting. 2. Bubuk alginate harus diaduk dengan kuat dan cepat agar udara yang terkandung dapat dipastikan sesedikit mungkin sehingga dapat memperlambat waktu setting. 3. Semakin tinggi temperatur, semakin pendek waktu gelasi. 4. Ditambahkan natrium atau kalium fosfat, kalium oksalat, atau kalium karbonat, trinatrium fosfat, natrium tripolifosfat dan tetra natrium pirofosfat untuk memperlambat waktu kerja dalam pengadukan karena garam tersebut merupakan pelambat reaksi (retarder). 5. Jumlah air dalam pengadukan bahan cetak gigi palsu harus disesuaikan karena dapat mempengaruhi waktu kerja pengadukan pengadukan. Contoh :apabila digunakan 15 g Alginat, maka jumlah air adalah 40 ml, waktu gelasi adalah sekitar 3 4 menit pada temperatur ruang 6. Trinatrium fosfat ditambahkan pada larutan untuk memperpanjang waktu kerja (tidak cepat mengeras). 6.2 Mengatur Viskositas Alginat Semakin tinggi suhu makaviskositas akan menurun. Hal ini disebabkan karena alginate merupakan senyawa yang berbentuk polimer rantai panjang yang mudah sekali terdegradasi. Jika semakin tinggi suhu ekstraksi maka banyak rantai panjang alginate terdegradasi menjadi rantai pendek sehingga menyebabkan viskositas turun. 6.3 Mengatur Rendemen (Persen Berat)

1. Semakin tinggi suhu maka rendemen semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi suhu ekstraksi, maka semakin banyak alginat yang dapat terlarut.

11

2. Penambahan pati ubi kayu kedalam bubuk bahan cetak alginate akan mengurangi proporsi atau konsentrasi alginat di dalam campurannya yang menyebabkan pembentukan gel terhambat sehingga turunnya kemampuan melakukan reproduksi detail. 6.4 Mengatur Kestabilan Dimensi Gel Untuk keadaan tertentu hemihidrat menghasilkan waktu penyimpanan bubuk yang lebih lama serta kestabilan dimensi gel yang lebih memuaskan.

12

7. Entrepreneur Alginat sampai saat ini belum dimanfaatkan untuk tekstil medis, terutama sebagai produk alternatif pembalut luka primer. Dari penelitian terdahulu diperoleh membran alginat berdaya serap tinggi, bersifat anti bakteri dan dapat mempercepat penyembuhan luka, namun bukan antibiotik. Penelitian ini adalah penelitian lanjutan yang bertujuan untuk membuat membran alginat yang mengandung obat (Basitrasin dan Neomisin), agar dihasilkan membran dengan kualitas lebih baik, karena dapat menyembuhkan luka yang terinfeksi. Oleh karenanya diperlukan penelitian lanjutan. Pengujian yang dilakukan meliputi uji fisika, analisa gugus fungsi dan struktur mikro serta uji pre klinis. Penelitian ini berhasil mendapatkan membran yang dapat mempercepat penyembuhan luka yang terinfeksi. Diharapkan, produk ini dapat digunakan untuk mensubstitusi kebutuhan pembalut luka impor. Dengan demikian, apabila bahan bakunya berasal dari sumber daya alam yang ada, maka selain akan lebih ekonomis lagi, diharapkan terciptanya diversifikasi produk yang mempunyai nilai tambah. Dari hasil uji ternyata kualitas produk dipengaruhi oleh kondisi proses. Semakin besar konsentrasi alginat, membran semakin kuat, berat dan tebal, namun mulurnya berkurang. Membran memenuhi beberapa kriteria sebagai pembalut luka dan media penyampaian obat topikal, yaitu berdaya absorpsi tinggi, berpori, memiliki sifat fisik yang memadai, dan dapat mempercepat penyembuhan luka yang terinfeksi. Kombinasi antara teknologi tekstil dan pengetahuan di bidang medis telah menghasilkan suatu hal baru yang disebut tekstil medis. Perkembangannya ratarata pertahun adalah sekitarr 36%, dan hal tersebut ditujukan untuk memenuhi tuntutan konsumen yang semakin tinggi terhadap kualitas produk. Pangsa pasar khusus, termasuk tekstil medis diperkirakan akan berkembang lebih pesat lagi, diantaranya pembalut luka. Pembalut luka selain berfungsi untuk menutupi/ melindungi jaringan penyembuhan luka. baru, juga diharapkan dapat mempercepat proses

13

Berdasarkan cara pembuatan, pembalut luka dibagi menjadi produk tenun (kain kasa, perban) dan produk non-woven (lembaran, lapisan tipis/ membran dan komposit), sedangkan berdasarkan cara peng-gunaannya dibagi menjadi primary dressing (yang kontak dengan luka) dan secondary dressing (digunakan setelah pembalut utama). Primary dressing harus menyerap cairan luka, menjaga suhu/ kelembaban sekitar luka, mampu mengatur uap air dan gas yang keluar dari luka, sehingga luka menjadi lembab dan penyembuhan menjadi lebih cepat. Persyaratan utama primary dressing yaitu nontoksik, tidak menyebabkan alergi, mudah disterilkan, mempunyai sifat mekanik memadai (kuat, elastis), biodegradable dan biocompatibility (kesesuaian alami). Pembalut luka primer umumnya merupakan produk komposit yang dilapisi oleh lapisan tipis yang berfungsi sebagai pelindung luka agar mudah dilepaskan, sehingga tidak merusak jaringan baru (Tabel 1). Produk yang sesuai dengan persyaratan tersebut antara lain alginat, karena mempunyai daya absorpsi yang tinggi, dapat menutup luka dan menjaga keseimbangan lembab di sekitar luka, mudah digunakan/dihilangkan, alergi, bersifat elastis, antibakteri dan nontoksik, tidak dan

menyebabkan

non-carcinogenic,

biodegradable

biocompatible, karena dapat terurai menjadi gula sederhana dan dapat diabsorpsi oleh tubuh. Diketahui pula bahwa penyembuhan luka 30% - 50% lebih cepat apabila digunakan pembalut luka alginat. Alginat (Gambar1) yang terkandung dalam rumput laut coklat banyak digunakan di berbagai bidang, termasuk tekstil medis. Secara ekonomis penggunaan alginat produksi dalam negeri akan lebih murah dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Di Indonesia rumput laut tersebar di seluruh pantai dan merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir dan mulai dibudidayakan dalam areal yang tidak terlau luas di daerah Nusa Tenggara, Bali, pantai utara Laut Jawa, perairan maluku dan Irian Jaya. Namun potensi alam ini belum digunakan secara optimal, guna meningkatkan perekonomian.

14

Gambar 1. Asam Alginat

Tabel 2. Pembalut Luka Alginat Komersial Merk Dagang Keterangan A flat non-woven pad/Layer alginate Sorbsan SA (9 x 11 cm) (Maersk Medical) fiber bonded centrally onto polyurethane foam, coated with acrylic adhesive Sorbagolon ( 5 x 5 cm) (Hartmann) Tegagel ( = Sorbsan) Nonwoven calcium alginate fiber Nonwoven dressing (pressuring the carded wed with pressure roller) Made by needle punching nonwoven felt

Curasorb (Kendall Healthcare)

Pada penelitian terdahulu, telah berhasil dibuat benang dan membran alginat dengan menggunakan bahan baku rumput laut lokal. Produk tersebut, terutama membran diharapkan dapat digunakan sebagai produk alternatif tekstil medis, karena sesuai dengan persyaratan yang berlaku dan mempercepat penyembuhan luka serta tidak menyebabkan iritasi kulit. Produk serupa umumnya berupa komposit yang memerlukan beberapa peralatan untuk fabrikasinya (antara lain Wet Spinning Machine, Needle Punch atau Carding Machine dan Pressure Roller serta zat kimia sebagai zat aditif), sedangkan membran prosesnya lebih sederhana dan tidak memerlukan peralatan tersebut, sehingga lebih ekonomis dan menghemat waktu.

15

Selain itu, tidak diperlukan proses pemutihan untuk proses ekstraksinya. Dengan demikian, apabila bahan bakunya berasal dari sumber daya alam yang ada, maka selain akan lebih ekonomis lagi, diharapkan terciptanya diversifikasi produk yang mempunyai nilai tambah. Penelitian lanjutan ini bertujuan untuk mendapatkan membran dengan kualitas yang lebih baik, karena berfungsi juga sebagai media penyampaian obat topikal untuk luka yang terinfeksi. Hal ini diperlukan, karena luka yang kronis akan mengeluarkan cairan dan seringkali terkontaminasi oleh bakteri, sehingga mengganggu proses

penyembuhan luka. Khususnya penderita yang terlalu lama berbaring, terutama pada lansia/penderita tulang belakang/ penderita diabetes. Penelitian yang serupapun telah dilakukan, namun dengan menggunakan alginat impor dan masih berkisar antara karakterisasi sifat-sifatnya, sedangkan uji pre klinis lengkap yang sangat diperlukan berupa uji sterilisasi, uji iritasi, uji khasiat dan efeknya terhadap penyembuhan luka belum mendapat perhatian khusus. Oleh karenanya diperlukan serangkaian percobaan dan pengujian, untuk mengakomodasi strategi dalam optimasi teknologi pembuatan produk di atas, dengan menggunakan bahan baku sumber daya alam lokal. Dari uraian di atas, maka dilakukan penelitian pembuatan membran alginat yang mengandung senyawa yang aktif terhadap bakteri gram positif (Basitrasin) dan gram negatif (Neomisin), yang berfungsi sebagai pembalut luka primer dan media penyampaian obat topikal guna mengobati luka yang terinfeksi oleh bakteri gram positif (Staphylococcus aureus) dan gram negatif (Escherichia coli). Penelitian ini dilakukan bersama dengan tenaga ahli di bidangnya, yaitu peneliti yang berpengalaman di bidang Farmakologi dan Toksikologi dari ITB dan Mikrobiologi dari UNPAD. Adapun bahan baku yang digunakanadalah rumput laut jenis Sargassum Sp dari Pameungpeuk - Garut dan dibuat tanpa melalui proses pemutihan (relatif lebih ekonomis). Selain itu, dilengkapi pula dengan uji kimia dan fisika {analisa gugus fungsi (FTIR), analisa struktur permukaan (SEM), sifat fisika (kekuatan, mulur, daya basah, ketebalan)} dan uji pre klinis (uji resistensi terhadap bakteri dan uji khasiat). Uji resistensi diperlukan untuk mengetahui daya tahannya terhadap bakteri, sedangkan uji khasiat diperlukan untuk mengetahui kemampuan produk

16

untuk berfungsi sebagai media penyampaian obat topikal, dan efeknya terhadap penyembuhan luka dengan melihat pertumbuhan jaringan baru. Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah membran alginat yang mengandung obat dapat berfungsi pembalut luka dan media penyampaian obat topikal, yang mampu meningkatkan efek penyembuhan luka, terutama luka yang terinfeksi Diharapkan dari hasil penelitian yang sederhana ini dapat diperoleh suatu produk yang dapat memenuhi syarat sebagai tekstil medis, sehingga di masa yang akan datang dapat diaplikasikan ke industri untuk mensubstitusi pembalut luka import yang dapat memberikan nilai tambah karena adanya diversifikasi produk.

17

8.

Kesimpulan Alginat adalah contoh dari Irreversible Hydrocolloid. Tidak dapat kembali

ke semula dan membentuk sol. Baik digunakan untuk bahan prostetik dan ortodontik. Alginat mempunyai beberapa sifat fisik dan mekanik. Terdapat working time, setting time dan mixing time dalam manipulasi pengerjaannya. Alginat juga mempunyai beberapa kelebihan yaitu tak perlu perlakuan khusus, murah, lingkungan lembab, bersih, hidrofilik, serta waktu penyimpanan lama. Alginat bisa diaplikasikan sebagai produk alternatif pembalut luka primer yang berdaya absorpsi tinggi, berpori, memiliki sifat fisik yang memadai, dan dapat mempercepat penyembuhan luka yang terinfeksi.

18

DAFTAR PUSTAKA

(http://eprints.undip.ac.id/3753/1/makalah_penelitian_Rizki__dan_Marita.pdf) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/5900/1/08E00838.pdf http://repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/54.pdf McCabe, John F., Walls, Angus W.G. and Munksguard, Blackwell., 2008. Applied Dental Materials.