Anda di halaman 1dari 16

V - 1

BAB V
ANALISIS DAN PERENCANAAN TERHADAP LENTUR
METODA BEBAN KERJA
V.1. Umum
Secara umum perilaku balok prategang akibat lentur dapat dibedakan menjadi 5,
yaitu :
a. Tidak berdefleksi (No deflection), jika kondisi tegangan persegi (merata)
di setiap irisan penampang
b. Tidak tarik (No tension), jika kondisi tegangan segitiga dengan tegangan
nol pada tepi bawah penampang
c. Retak (Cracking), jika tegangan pada tepi bawah mencapai modulus retak
bahan
d. Leleh (Yielding), jika baja telah mencapai titik lelehnya
e. Ultimate, yaitu menggambarkan kondisi pada saat runtuh
Dan gambar V.1 menunjukkan grafik perilaku balok prategang akibat lentur
tersebut.
Gambar V.1. Perilaku Balok Prategang Akibat Beban Lentur
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 2
Adapun metoda desain yang digunakan dalam menganalisis merencanakan
balok prategang terhadap lentur, adalah :
a. Metoda Beban Kerja Berdasrkan tegangan
Membatasi response balok terhadap (DL + LL) dengan titik tension (atau
diijinkan terjadinya tarik dalam batas-batas tertentu)
b. Metoda Load Balancing Berdasarkan defleksi
Membatasi response balok terhadap (DL + LL) dengan titik Not deflection.
2 dapat diambil sama dengan nol atau nilai yang jauh lebih kecil daripada 1
c. Metoda Ultimate Berdasarkan kekuatan
Membatasi response balok terhadap beban ultimate (1 DL + 1 LL) dengan
titik ultimate
Berikut merupakan diagram alir proses desain balok prategang akibat beban
lentur.
Gambar V.2. Diagram alir proses desain balok prategang akibat lentur
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 3
METODA BEBAN KERJA
Analisis dan perencanaan terhadap dengan menggunakan metoda beban kerja
merupakan metoda yang perhitungannya berdasarkan tegangan dengan
membatasi response (reaksi) balok terhadap beban mati dan beban hidup
dengan titik No Tension atau apabila diijinkan terjadinya tarik dalam batas-batas
tertentu. Adapun distribusi tegangan yang terjadi pada penampang beton
prategang dengan beban kerja dapat dilihat pada Gambar V.1
Gambar V.1.a. Penampang Beton Prategang dengan Tendon Parabola
Gambar V.1.b. Komponen dan Resultan Gaya pada Penampang Beton
Prategang
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 4
Gambar V.1.c Distribusi Tegangan Akibat Prategang
Gambar V.1.d. Distribusi Tegangan Akibat Prategang dan Beban Kerja
Sedangkan, pemberian gaya-gaya prategang pada tendon dijelaskan pada
Gambar X.2.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 5
Gambar V.2. Gaya Prategang pada Tendon
Berikut merupakan properties-properties penting dalam penampang beton
prategang adalah sebagai berikut :
1. Momen decompression Mo atau Mdec, yaitu momen total tepat pada serat
bawah mengalami tegangan = 0.
b = 0
Sehingga,
0 = +
S
M
S
Pe
A
P
dec
Jadi,
(

+ =
s
Pe
A
P
S M
dec
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 6
2. Momen retak (Mcr), yaitu momen total tepat pada serat bawah mengalami
retak.
r b
f =
Sehingga,
r
cr
f
S
M
S
Pe
A
P
= +
Jadi,
(

+ + =
r cr
f
s
Pe
A
P
S M
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 7
Sedangkan pada Gambar V.3. ditunjukka berbagai bentuk penampang balok
prategang yang umumnya terdapat di lapangan.
Gambar V.3. Bentuk Penampang Balok Prategang
Berdasarkan Gambar V.3, perhitungan tegangan yang terjadi pada penampang
balok prategang dapat dilakukan sebagai berikut :
Tegangan serat atas :
a a
a
S
M
S
Pe
A
P
+ =
Tegangan serat atas :
b b
b
S
M
S
Pe
A
P
+ =
Tegangan pada lokasi y dibawah sumbu pusat penampang :
I
My
I
Pey
A
P
y
+ =
dimana :
S = Modulus penampang
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 8
Sa = Modulus penampang serat atas :
a a
a
c
I
y
I
S = =
Sb = Modulus penampang serat atas :
b b
b
c
I
y
I
S = =
Secara umum, pengecekan kondisi tegangan pada metoda beban kerja meliputi
dua tahap, yaitu :
1. Tahap Awal
Pengecekan tegangan beton sesaat sesudah penyaluran gaya prategang
(sebelum terjadinya kehilangan tegangan sebagai fungsi waktu)
2. Tahap Layan/Akhir
Pengecekan tegangan beton pada kondisi beban layan (sesudah
memperhitungkan semua kehilangan prategang yang mungkin terjadi).
Berdasarkan SNI Beton Pasal 20.4, batasan tegangan beton sesaat sesudah
penyaluran gaya prategang/tahap awal adalah :
- Tegangan serat tekan terluar dibatasi maksimum (untuk mempertahankan
linearitas) :
'
6 . 0
ci
f
- Tegangan serat tarik terluar, kecuali seperti yang diizinkan pada point
dibawah dibatasi maksimum (untuk mencegah retak) :
'
4
1
ci
f
- Tegangan serat tarik terluar pada ujung-ujung komponen struktur di atas
perletakan sederhana dibatasi maksimum :
'
2
1
ci
f
Sedangkan untuk batasan tegangan pada kondisi layan/akhir, adalah :
- Tegangan serat tekan terluar akibat pengaruh prategang, beban mati dan
beban hidup tetap dibatasi maksimum : 0.45 fc
- Tegangan serat tekan terluar akibat pengaruh prategang, beban mati dan
beban hidup total dibatasi maksimum : 0.6 fc
- Tegangan serat tarik terluar dalam daerah tarik yang pada awalnya
mengalami tekan dibatasi maksimum :
'
2
1
c
f
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 9
- Tegangan serat tarik terluar dalam daerah tarik yang pada awalnya tekan
dari komponen struktur (kecuali pada sistem pelat dua arah), dimana analisis
yang didasarkan pada penampang retak transformasi dan hubungan momen-
lendutan bilinier menunjukkan bahwa lendutan seketika dan lendutan jangka
panjang memenuhi persyaratan dan dimana persyaratan selimut beton juga
dipenuhi, dibatasi maksimum :
'
c
f
Untuk batasan tegangan tarik tendon prategang, SNI 2003 Pasal 20.5
menetapkan sebagai berikut :
- Akibat gaya pengangkuran tendon : 0.94 fpy, tetapi tidak boleh lebih besar
dari nilai terkecil dari 0.80 fpu dan nilai maksimum yang direkomendasikan
oleh pabrik pembuat tendon prategang atau perangkat angkur
- Sesaat setelah penyaluran gaya prategang : 0.82 fpy , tetapi tidak boleh
lebih besar daripada 0.74 fpu
- Tendon pasca tarik, pada daerah angkur dan sambungan, segera setelah
penyaluran gaya : 0.70 fpu
Sedangkan untuk penetapan daerah batas tendon dapat dilakukan dengan
memperhatikan kondisi tarik dan tekan.
- Tahap Awal (Batas bawah)
Kondisi tarik (serat atas)
( ) ( )
a
o a
c
i
ti
S
x M
r
c x e
A
P
f |

\
|

2
1
( )
( )
i
o
c
a
i
a ti
P
x M
A
S
P
S f
x e + + =
( ) ( )
( )
i
a ti o
b
P
S f x M
k x e
+

c
a
a
b
A
S
c
r
k = =
2
Kondisi tekan (serat bawah)
( ) ( )
b
o b
c
i
ci
S
x M
r
c x e
A
P
f |

\
|
+
2
1
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 10
( )
( )
i
o
c
b
i
b ci
P
x M
A
S
P
S f
x e +
( ) ( )
( )
i
b ci o
a
P
S f x M
k x e


c
b
b
a
A
S
c
r
k = =
2
- Tahap Layan/Akhir (Batas atas)
Kondisi tekan (serat atas)
( ) ( )
a
t a
c
e
cs
S
x M
r
c x e
A
P
f |

\
|

2
1
( )
( )
e
t
c
a
e
a cs
P
x M
A
S
P
S f
x e + +
( ) ( )
( )
e
a cs t
b
P
S f x M
k x e
+

Kondisi tarik (serat bawah)
( ) ( )
b
t b
c
e
ts
S
x M
r
c x e
A
P
f + |

\
|
+
2
1
( )
( )
i
t
c
b
i
b ts
P
x M
A
S
P
S f
x e +
( ) ( )
( )
i
b ts t
a
P
S f x M
k x e


Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 11
Gambar V.4. Daerah Batas Pemasangan Tendon
Contoh Soal :
Diketahui sebuah balok beton prategang pratarik dengan data-data sebagai
berikut :
Kuat tekan material beton :
'
c
f = 36 MPa
Kuat tekan beton pada saat prategang awal :
'
ci
f = 0.75 x
'
c
f = 27 MPa
Tegangan awal tendon : fps = 1500 MPa
Modulus elastisitas tendon : Eps = 1.974 x 10
5
Mpa
Luas tendon : Aps1 = Aps2 = 440 mm
2
Berat sendiri beton bertulang = 24 kN/m
3
Beban mati merata = 0,4 kN/m
Bentang : L = 16 m
Loss of prestress = 20 %
Syarat-syarat tegangan :
Awal : Tarik
'
4
1
ci
f Tekan
'
60 , 0
ci
f
Akhir : Tarik
'
4
1
c
f Tekan
'
45 , 0
c
f
Ditanyakan :
Periksa tegangan-tegangan di tengah bentang pada kondisi awal !
Berapa beban hidup (terbagi rata) maksimum yang terdukung?
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 12
Berapa tegangan di bajanya pada akhir?
1000
350 350
1
2
0
6
0
0
1
5
0
300
A
ps2
6
0
A
ps1
6
0
150
I
II II
III
III
Jawab :
Modulus Elastisitas beton, Ec = 4700
'
c
f = 4700 36 = 28200 MPa
00 . 7
28200
10 975 . 1
5
= = =
c
ps
E
E
n
Luas Ai (mm
2
)
Lengan terhadap
tengah-tengah I (mm)
A
i
x c
i
(mm
3
)
I 300 x 600 = 180000 0 0
II 2 x (120 x 350) = 84000 (600/2)-(120/2) = 240 20160000
III 2 x (0,5 x 150 x 150) = 22500
(600/2)-120-(150/3) =
130
2925000
- (n-1) x Aps1 = (7-1) x 440 = 2640 (600/2)-60 = 240 633600
- (n-1) x Aps2 = (7-1) x 440 = 2640 -(600/2)+60 = -240 -633600
At = 291780 23085000
A
ps2
I
II II
III
III
e
Garis berat bagian I
c
a
c
b
c
I
A
ps1
Jarak dari titik berat penampang :
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 13
291780
23085000
=

=
t
i i
I
A
c A
c
= 79.118 mm
mm 882 . 220 118 . 79 300
2
600
= = =
I a
c c
mm 118 . 379 118 . 79 300
2
600
= + = + =
I b
c c
mm 882 . 160 60 882 . 220
2
120
a II
= = = c c
mm 882 . 50 50 120 882 . 220
3
150
120
a III
= = = c c
e1 = ca 60 = 220.882 60 = 160.882 mm
e2 = cb 60 = 379.118 60 = 319.118 mm
Momen Inersia Transformasi :
I. 1/12 x 300 x (600)
3
= 5.400 10
9
mm
4
300 x 600 x (79.118)
2
= 1.127 10
9
mm
4
II. 2 x 1/12 x 350 x (120)
3
= 1.008 10
8
mm
4
2 x 350 x 120 x (160.882)
2
= 2.174 10
9
mm
4
III. 2 x 1/36 x 150 x (150)
3
= 2.813 10
7
mm
4
2 x x 150 x 150 x (50.882)
2
= 5.825 10
7
mm
4
Aps1 (7-1) x 440 x (160.882)
2
= 6.833 10
7
mm
4
Aps2 (7-1) x 440 x (319.118)
2
= 2.68810
8
mm
4
It = 9.225 10
9
mm
4
Momen Inersia terhadap titik berat tendon diabaikan
- Berat sendiri = kN/m 00 . 7 24
10
291780
24
10
6 6
= = x x
A
t
- Beban mati = 0.40 kN/m
qbm = 7.40 kN/m
Mbm = 1/8 x qbm x L
2
= 1/8 x 7.40 x 16
2
= 236.80 kNm
Pi1 = Aps1 x fps = 440 x 1500 = 660.000 N

Pi2 = Aps2 x fps = 440 x 1500 = 660.000 N

Tegangan Awal
No
.
Tegangan
Awal
Tepi Atas Tepi Bawah
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
+
+
V - 14
MPa
1.
t
i
A
P
1
262 . 2
291780
660000
= 262 . 2
291780
660000
=
2.
t
i
I
c e P
1 1
542 . 2
10 225 . 9
882 . 220 882 . 160 660000
9
=
x
x x
364 . 4
10 225 . 9
118 . 379 882 . 160 660000
9
+ = +
x
x x
3.
t
i
A
P
2
262 . 2
291780
660000
= 262 . 2
291780
660000
=
4.
t
i
I
c e P
2 2
043 . 5
10 225 . 9
882 . 220 118 . 319 660000
9
+ = +
x
x x
656 . 8
10 225 . 9
118 . 379 118 . 319 660000
9
=
x
x x
5.
t
bm
I
c M
670 . 5
10 225 . 9
882 . 220 10 80 . 236
9
6
=
x
x x
732 . 9
10 225 . 9
118 . 379 10 80 . 236
9
6
+ = +
x
x x
Jumlah
-7.693
'
4
1
ci
f <
-7.693 < 1.299
'
6 , 0 916 . 0
ci
f <
0.916 < 16.2
Terjadi Loss of prestress = 20 %
P1 = (1-20%) x Pi1 = 528000 N
P2 = (1-20%) x Pi2 = 528000 N
Tegangan Akhir
No.
Tegangan
Akhir
MPa
Tepi Atas Tepi Bawah
1.
t
A
P
1
810 . 1
291780
528000
= 810 . 1
291780
528000
=
2.
t
I
c e P
1 1
034 . 2
10 225 . 9
882 . 220 882 . 160 528000
9
=
x
x x
491 . 3
10 225 . 9
118 . 379 882 . 160 528000
9
+ = +
x
x x
3.
t
A
P
1
810 . 1
291780
528000
= 810 . 1
291780
528000
=
4.
t
I
c e P
2 2
034 . 4
10 225 . 9
882 . 220 118 . 319 528000
9
+ = +
x
x x
925 . 6
10 225 . 9
118 . 379 118 . 319 528000
9
=
x
x x
5.
t
bm
I
c M
670 . 5
10 225 . 9
882 . 220 10 80 . 236
9
6
=
x
x x
732 . 9
10 225 . 9
118 . 379 10 80 . 236
9
6
+ = +
x
x x
6.
t
h
I
c M
h
h
M x
x
x M
8
9
10 394 . 2
10 225 . 9
882 . 220

=
h
h
M x
x
x M
8
9
10 109 . 4
10 225 . 9
118 . 379

+ = +
Jumlah
( )
'
8
45 , 0
10 394 . 2 290 . 7
c
h
f
M x



( )
'
8
5 , 0
10 109 . 4 678 . 2
c
h
f
M x

+

Tepi Atas
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 15
( ) 36 45 , 0 10 394 . 2 290 . 7
8
x M x
h
=

290 . 7 2 . 16 10 394 . 2
8
+ =

h
M x
910 . 8 10 394 . 2
8
=

h
M x
kNm Nmm x
x
M
h
2 . 372 10 722 . 3
10 394 . 2
910 . 8
8
8
= =

Tepi Bawah
( ) 36 5 , 0 10 109 . 4 678 . 2
8
x M x
h
= +

678 . 2 3 10 109 . 4
8
=

h
M x
322 . 0 10 109 . 4
8
=

h
M x
kNm Nmm x
x
M
h
836 . 7 10 836 . 7
10 109 . 4
322 . 0
6
8
= = =

Mh max yang digunakan adalah 7.836 kNm


Momen akibat beban hidup :
Mh = 1/8 x qh x L
2
7.836 = 1/8 x qh x 16
2

qh = 0.245 kN/m
Tegangan di kabel baja pada kondisi akhir
Kabel baja Aps1
0,8 fps = 0,8 x 1500 = +1200 MPa
n x
|
|

\
|
t
A
P
1
= 7 x |

\
|

291780
528000
= -12.667 MPa
t
a
a
I
c e P
x
c
e
x n
1 1 1
=
|
|

\
|

9
10 225 . 9
882 . 220 882 . 160 528000
882 . 220
882 . 160
7
x
x x
x x = -10.370MPa
n x
|
|

\
|
t
A
P
2
= 7 x |

\
|

291780
528000
= -12.667 MPa
t
a
a
I
c e P
x
c
e
x n
2 2
1
=
9
10 225 . 9
882 . 220 118 . 319 528000
882 . 220
882 . 160
7
x
x x
x x
= +20.570MPa
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
V - 16
t
a bm
a
I
c M
x
c
e
x n
1
=
|
|

\
|

9
6
10 225 . 9
882 . 220 10 80 . 236
882 . 220
882 . 160
7
x
x x
x x =-28.908 MPa
t
a h
a
I
c M
x
c
e
x n
1
=
|
|

\
|

9
6
10 225 . 9
882 . 220 10 836 . 7
882 . 220
882 . 160
7
x
x x
x x =-0.957 MPa
fspe1 =+1155.001 MPa
Kabel baja A
ps2
0,8 fps = 0,8 x 1500 = +1200 MPa
n x
|
|

\
|
t
A
P
1
= 7 x |

\
|

291780
528000
= -12.667 MPa
t
b
b
I
c e P
x
c
e
x n
1 1 2
=
9
10 225 . 9
118 . 379 882 . 160 528000
118 . 379
118 . 319
7
x
x x
x x
= 20.570 MPa
n x
|
|

\
|
t
A
P
2
= 7 x |

\
|

291780
528000
= -12.667 MPa
t
b
b
I
c e P
x
c
e
x n
2 2
2
=
|
|

\
|

9
10 225 . 9
118 . 379 118 . 319 528000
118 . 379
118 . 319
7
x
x x
x x = -40.801 MPa
t
b bm
b
I
c M
x
c
e
x n
2
=
9
6
10 225 . 9
118 . 379 10 80 . 236
118 . 379
118 . 319
7
x
x x
x x =+57.341 MPa
t
b h
b
I
c M
x
c
e
x n
2
=
9
6
10 225 . 9
118 . 379 10 836 . 7
118 . 379
118 . 319
7
x
x x
x x =+1.897 MPa
fspe2 =+1213.673 MPa
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ria Catur Yulianti ST.MT
BETON PRATEGANG
+
+