Anda di halaman 1dari 5

Bunuh Diri dan Skizofrenia: tinjauan sistematis terhadap angka kejadian dan faktor resiko

Abstrak Penilaian terhadap sebuah resiko merupakan keterampilan utama dalam ilmu psikiatri. Prediksi resiko bunuh diri pada skizofrenia diketahui sangat komplek. Penulis membuat sebuah tinjauan sistematis dari semua pelajaran yang membahas tentang bunuh diri pada penderita skizofrenia yang telah dipublikasikan tahun 2004. Penulis menemukan 51 data (dari 1281 data yang diskrinning) yang termasuk dalam kriteria inklusi dan diurutkan berdasarkan kriteria kualitas yang sudah distandarkan. Perkiraan tingkat kejadian bunuh diri dan faktor resiko dikaitkan dengan kejadian bunuh diri yang akan datang telah diidentifikasi, dan faktor resiko tersebut telah dikelompokkan berdasarkan tipe dan kekuatan dari keinginan bunuh diri. Dalam sebuah konsensus dikatakan bahwa resiko terjadinya bunuh diri sekitar 5%. Faktor resiko yang berkaitan kuat dengan kejadian bunuh diri di masa mendatang termasuk: usia muda, laki-laki, dan berpendidikan tinggi. Penyakit yang berhubungan dengan faktor resiko merupakan prediksi utama, dengan angka kejadian bunuh diri, gejala depresi, terdapatnya halusinasi dan delusi, serta didapatkannya bukti yang kuat. Riwayat bunuh diri dalam keluarga, dan faktor pemberat lannya juga perlu dipertimbangkan. Satu-satunya faktor protektif terhadap kejadian bunuh diri dapat dijadikan sebagai pengobatan yang efektif. Pencegahan kejadian bunuh diri pada pasien skizofrenia tergantung dari resiko pada masing-masing individu, dan cara mengatasi depresi serta hal-hal lain yang tidak berkaitan, sama efektifnya dengan menghasilkan pengobatan yang memadai untuk gejala psikotik.

Kata kunci Skizofrenia, bunuh diri, tinjauan sistematis

Pendahuluan Orang dengan skizofrenia akan lebih cepat mengalami kematian(Saha, et al., 2007) daripada yang diprediksikan. Lebih dari 40%(Bush et al., 2010) kematian dini dapat dikaitkan dengan bunuh diri dan kematian tidak wajar, dalam sebuah tinjauan(Palmer et al., 2005) mengatakan bahwa perkiraan angka kejadian bunuh diri sebesar 4,9% pada orang dengan skizofrenia. Deteksi terhadap faktorfaktor resiko tersebut sangatlah penting, tetapi prediksi terhadap resikonya tidak diketahui secara pasti(Goldney, 2000). Tinjauan sistemik terakhir(Hawton, et al., 2005) tentang faktor resiko terjadinya bunuh diri pada skizofrenia yang diidentifikasikan dengan

menggunakan 29 data kualitas tinggi yang dianalisis untuk mengetahui faktor resiko perseorangan. Hawton et al. (2005) menemukan bahwa banyak sekali faktor resiko bunuh diri pada skizofrenia yang mirip dengan yang terjadi pada orang normal, seperti gangguan mood, rasa kehilangan, keinginan untuk bunuh diri sebelumnya, dan penggunaan obat-obat terlarang. Namun, beberapa faktor diidentifikasi berkaitan dengan resiko tingginya kejadian bunuh diri pada skizofrenia, seperti ketakutan pada gangguan mental, agitasi atau kegelisahan, dan kepatuhan rendah saat pengobatan, yang terbukti tidak terlalu penting. Menariknya, Hawton et al. (2005) juga mengobservasi penurunan resiko bunuh diri yang dikaitkan dengan adanya halusinasi. Sejak saat itu, Tiihonen et al. (2006) mengatakan, bahwa tindak lanjut pada pasien episode pertama skizofrenia yang sudah keluar dari rumah sakit yang tidak teratur mengkonsumsi anti-psikotik dikaitkan dengan meningkatnya angka kejadian kematian sebesar 12 kali lipat dan 37 kali lipat menyebabkan kematian karena bunuh diri. Penilaian resiko dan manajemen resiko masih merupakan kemampuan utama dalam ilmu psikiatri. Sejak tahun 2005 tinjauan Hawton, dkk, yang dipublikasikan hingga juni 2004, dilakukan pemeriksaan dalam jumlah besar yang berkaitan dengan tingkatan dan korelasi dengan kejadian bunuh diri pada skizofrenia. Semisal, tinjauan non-sistematis terakhir oleh Carlborg et al. (2010) menemukan banyak sekali faktor resiko yang dianggap penting, sama seprti faktor spesifik penyakit yang dapat meningkatkan resiko bunuh diri pada tahun pertama

timbulnya penyakit serta keterkaitan antara tingginya fungsi premorbid dan tingginya IQ, tetapi faktor-faktor ini memiliki spesifitas yang rendah. Penulis mengambil tinjauan sistematis berdasarkan semua penelitian relevan yang dipublikasikan setelah tahun 2004 yang menampilkan data baru tentang faktor resiko bunuh diri pada skizofrenia untuk mendapatkan informasi yang lebih baik pada praktek kilinik. Penulis memutuskan hanya menggunakan penelitian serupa untuk menghasilkan faktor resiko yang pasti, dengan menggunakan randomized control trials, prospective dan retrospective cohort studies, serta case-control studies. Penulis memutuskan yang menjadi bagian dari tinjauan sistematis adalah tingkat kualitas dari bukti yang ada, perlu diingat bahwa penilaian terhadap buktibukti harus menggunakan kriteria yang standar.

Metode Strategi penelitian dan kelayakan studi Tinjauan sistematis ini meliputi literatur yang dipublikasikan antara Juni 2004 hingga Januari 2010. Dalam pencarian di media elektronik dengan menggunakanEMBASE, PsychINFO dan OVID Medline (R). Judul subjek yang digunakan: a) Skizofrenia katatonik atau Skizofrenia paranoid atau Skizofrenia atau skizofrenia disorganisasi atau skizofrenia mp., Gangguan psikotik atau skizoafektif psikosis mp b) Bunuh diri c) Faktor resiko d) Studi kohort, studi case control, studi follow up

Hasil penelitian diskrinnining agar sesuai oleh kedua investigator. Penelitian ini lebih jauh diskrinning untuk menjadi lebih layak berdasarkan kriteria inklusi: a) Literatur dipublikasikan dalam bahasa Inggris b) Case-control, kohort atau follow-up studi c) Pasien dengan diagnosis skizofrenia (termasuk semua sub-tipe), psikosis dan gangguan skizoafektif.

Ekstraksi data Penelitian yang terpillih dianalisis dan diekstraksi sebagai berikut: a) Tingkat bunuh diri b) Informasi sosio-demografi: usia, jenis kelamin, suku, status, pekerjaan, pendidikan, sosial ekonomi c) Informasi genetik/biologi: genetik, riwayat keluarga yang pernah bunuh diri, biological marker d) Penyakit yang berhubungan: onset, durasi, penyakit fisik, gangguan afektif, gangguan berpikir, depresi, psikopatologi e) Gaya hidup f) Keinginan bunuh diri terdahulu g) Ketergantungan obat: alkohol, merokok, obat terlarang

Kualitas penelitian Tinjauan sistematis dalam penelitian ini dinilai kualitasnya. Nilai diberikan untuk metode penelitian: 4, randomized control trials; 3, prospective cohort/follow-up study; 2, retrospective cohort study; 1, case-control study. Penelitian ini juga dinilai berdasarkan beberapa karakteristik, seperti: tujuan eksplisit, definisi dan jumlah populasi yang diinvestigasi, keadaan demografi, faktor resiko eksplisit (jika penelitian mengenai faktor resiko), validitas dan realibilitas dari metode, respon dan tingkat drop-out, kebenaran dari respon dan tingkat drop-out, diskusi generalisasi serta diskusi tentang keterbatasan. Setiap kriteria yang ada diberi nilai 1 dan total nilai dari setiap artikel akan diakumulasikan. Dari 6 penelitian yang menyediakan data lebih dari 100 subjek dan memiliki total nilai tertinggi akan diekstraksi dan dianalisis lebih detail untuk mendapatkan kepastian tema.

Hasil Ekstraksi data Dari total 1281 artikel yang diidentifikasi menggunakan strategi penelitian, 12 artikel tidak menggunakan bahasa inggris dan dikeluarkan dari penelitian. 71 penelitian telah terpilih untuk dilakukan analisis melalui abstrak; 20

penelitian diantaranya tidak mencantumkan objek penelitian. Akhirnya terpilihlah 51 penelitian yang telah diidentifikasi untuk penelitian ini dan ditampilkan, digambarkan dalam gambar 1. Seluruh 51 penelitian tadi dianalisis lebih jauh tentang faktor resiko bunuh diri. Faktor resiko dikelompokkan menjadi 6 kategori, diantaranya: demografi, faktor yang berhubungan dengan penyakit, wawasan, keinginan bunuh diri, kejadian dalam hidup, dan genetik. Penelitian berikut menyediakan data baru tentang tingkat kejadian bunuh diri pada skizofrenia yang ditampilkan di tabel 1. Data baru tentang faktor resiko bunuh diri pada skizofrenia

dikelompokkan dalam 6 kategori utama seperti di atas. Karakteristik demogrfi individual diidentifikasi sebagai faktor resiko bunuh diri dan digambarkan pada tabel 2. Faktor resiko pada kejadian bunuh diri selanjutnya diidentifikasikan dari tinjauan sistematis dan dikaitkan dengan penyakit individu yang ditampilkan pada tabel 3. Penelitian karakteristik keluarga atau genetik dan, ditimbulkan oleh tinjauan sistematis, individu dengan skizofrenia yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri dirangkum dalam tabel 4. Tiga faktor resiko lainnya yang tidak kalah penting dikaitkan dengan kejadian bunuh diri pada skizofrenia di masa mendatang dipisahkan sebagai berikut: Jumlah total penelitian yang relevan = 1281 Penelitian yang tidak memenuhi kriteria inklusi nerupa abstrak = 1210

Penelitian yang diambil untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut = 71

Jumlah akhir penelitian = 51

Gambar 1. Flow chart yang menampilkan proses identifikasi penelitian