Anda di halaman 1dari 34

BAB 9 SETASIUN & EMPLASEMEN

Umum : Moda transportasi kereta api dalam menjalankan fungsinya selain memerlukan ketersedian jalan rel dan kendaraan jalan rel (lokomotif dan kereta/gerbong) juga memerlukan fasilitas untuk : 1). Memberikan pelayanan naik dan turunnya penumpang 2). Tempat muat dan bongkar barang angkutan 3). Menyusun lokomotif/kereta/gerbong menjadi rangkaian yang dikehendaki dan penyimpanan kereta. 4). Memberi kemungkinan dan kesempatan kereta api berpapasan atau menyalip 5). Pemeliharaan dan perbaikan kendarann jalan rel Fasilitas tersebut di atas tidak harus selalu ada di tiap-tiap tempat, tetapi tergantung pada kebutuhan atas pelayanan yang perlu disediakan. Selain itu bisa juga beberapa fasilitas dijadikan satu di satu tempat. SETASIUN - Tempat pemberangkatan, persinggahan & pemberhentian Kereta Api - Tempat diadakan segala aktivitas yang berhubungan dengan jasa angkutannya sebelum atau sesudah perjalanan. - Tempat dimana bagi penumpang diberikan fasilitas seperti rumah makan, kantor pos dan giro, serta layanan lainnya. - Tempat calon penumpang untuk memberi kesempatan membeli karcis, menunggu datangnya kereta api sampai naik ke kereta api melalui peron. Kategori stasiun A. menurut ukuran ( Dimensi ) 1. Setasiun Kecil, kereta cepat tidak berhenti, melayanai penumpang local, fasilitas kereta untuk memberikan kesempatan bersusulan atau berpapasan, memfasilitasi percabangan. 2. Setasiun Sedang, memberikan pelayanan pada perjalanan kereta jarak jauh, jumlah sepur lebih banyak dibandingkan stasiun kecil. 3. Setasiun Besar, biasanya terdapat di kota besar, semua jenis kereta berhenti di stasiun ini, melayani awal keberangkatan dan akhir perjalanan, daya tampung calon penumpang lebih besar.

B. menurut kegiatan ( Fungsi ) 1. Setasiun Penumpang, berfungsi untuk menaikan dan turunnya penumpang. 2. Setasiun Barang, berfungsi untuk bongkar muat barang muatan. 3. Setasiun Penumpang dan Barang, berfungsi ganda yang kombinasi antara St. penumpang & St. barang. 4. Setasiun Langsiran, berfungsi menyusun rangkaian kereta. C. menurut bentuk ( Geometrik ) 1. Setasiun Terusan, letak gedung utama pada stasiun ini sejajar jalan rel. 2. Setasiun Pulau, letak gedung utama pada stasiun ini berada diantara dua jalan rel dan sejajar dengan jalan rel. 3. Setasiun Jazirah ( semenanjung ), gedung utama stasiun terletak di antara dua jalan rel yang bertemu. 4. Setasiun Kepala ( siku, buntu ), letak gedung utama siku-siku terhadap jalan rel yang berkahir di stasiun tsb. D. menurut operasional 1. Setasiun Akhir, merupakan tempat memulai atau berakhirnya perjalanan kereta. 2. Setasiun Antara, merupakan tempat persinggahan sementara. 3. Setasiun Hubung Alih (junction), merupakan kombinasi dari stasiun akhir dan stasiun antara, untuk melanjutkan perjalanan dengan lain kereta, bisa juga sebagai stasiun yang menghubungkan 3 jurusan. 4. Setasiun Penyilangan, merupakan tempat persinggahan yang terletak di persilangan 2 jalan rel. EMPLASEMEN - Sekumpulan bangunan sepur/jalan rel untuk memfasilitasi kereta agar dapat melakukan manuver. - Memungkinkan kereta api untuk bersilangan dan bersusulan - Terdapat lebih dari satu jalan rel Jenis Emplasemen a. Emplasemen Stasiun ( emplasemen penumpang ) Disebut juga emplasemen penumpang yang berfungsi untuk menaikan dan menurunkan penumpang atau menampung kereta datang dan berangkat serta kereta tunggu.

b. Emplasemen Langsir ( Marshaling yard ) Berfungsi untuk kereta melakukan manuver menyusun rangkaian/formasi kereta, atau melakukan manuver menarik, mendorong kereta/gerbong dan memilih. c. Emplasemen Gudang/ barang ( fraight station ) Berfungsi untuk melayani kereta melakukan manuver bongkar muat barang. d. Emplasemen Pelabuhan Berfungsi untuk melayani kereta melakukan manuver diseputar pelabuhan laut. e. Emplasemen Traksi Berfungsi untuk kereta/lok melakukan pemeriksaan, perawatan, reparasi, mengambil bbm/batubara, menginap

Contoh pola dasar aneka jenis Emplasemen


A. Emplasemen B. Tujuan/Fungsi 1. E. STASIUN Menampung : Kereta datang Kereta tunggu Kereta berangkat WW1 Skema inti Emplasemen Sepur2 berkas WW2 / buntu Ciri-ciri khas 1. Jarak antar sp berkas tergantung lebar peron 2. Panjang sp-berkas, diukur dari patok bebas sesudah wesel harus dpt menampung rangkaian kereta terpanjang. 3. ada Sp pengaman 1. lokasi di pojok 2. sp2-berkas pendek cukup untuk bbrp lok. 3. sp2 berkas // atau radial beserta putaran. 4. ada bengkel, depot,gudang sukucadang + bbm

Sp2-peron

l 2. E. TRAKSI Untuk lok/kereta: Diperiksa Dirawat Direparasi Mengambil BBM/BB Menginap sejajar radial

Lampiran gambar: Emplasemen barang/gudang

Emplasemen traksi

BAB 10 PERENCANAAN & PERANCANGAN


Tahapannya sebagai berikut : 1. tentukan alinemen 2. survai ( jalur dan lokasi ) 3. gambar perencanaan & perancangan ALINEMEN ialah letak garis sumbu ( central line ) jalan rel pada permukaan tanah. Alinemen horisontal meliputi jalan/garis lurus dan lengkung horisontal. Kelandaian dan lengkung vertikal termasuk dalam alinemen vertikal.

Penentuan alinemen

Data lapangan

Suvai rinci tentang jalur dan lokasi

Tentukan lebih jalur alternatif pada peta kontur lokasi antara titik awal dan titik akhir jalur jalan rel yang direncanakan. Alinemen jalan rel yang ideal ialah yang memenuhi tuntutan : Pendek, aman, mudah, ekonomis , nyaman. Dalam perencanaan alinemen perlu diusahakan agar pekerjaan tanah dapat minimal dan pekerjaan galian seimbang dengan pekerjaan timbunan. Penentuan alinemen tersebut secara umum harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut : 1. tempat-tempat yang akan dihubungkan oleh jalan rel 2. jenis dan jumlah lalulintas kereta yang akan melewatinya 3. topografi dan kondisi geoteknik 4. perancangan geometri 5. ketersedian bahan 6. estetika 7. ekonomi Dalam perencanaan dan perancangan jalan rel perlu dilakukan survai dan penyelidikan sebagai berikut : 1. survai jalur dan lokasi 2. penyelidikan geoteknik
10

3. studi drainasi SURVAI JALUR DAN LOKASI Dilakukan terhadap alinemen yang dipilih/ditentukan, akan tetapi penentuan final dilakukan setelah memperhitungkan kondisi lokasi dan geoteknik daerah yang akan dilalui jalur. Survai jalur dilaksanakan melalui 3 tahap : 1. reconnaissance survey 2. preliminari survey 3. location survey Reconnaissance survey adalah untuk menyelidiki karakteristik umum lokasi dan untuk memilih alinemen alternatif, survai ini meliputi : -. Studi terhadap peta, -. Peta kontur, -. Tataguna lahan, -. Peta geologi, -. Foto udara, -. Data iklim dan cuaca, -. Sejarah lokasi, -. Sungai, -. Aliran drainasi, -. Jarak terhadap bahan yang akan digunakan. Semua itu harus mencakup seluruh area lokasi, tidak hanya pada lajur jalan rel saja serta asumsi2 yang dibuat selama survai harus mempunyai dasar dan alasan yang kuat. Preliminari survey pada survai jalur dan lokasi adalah untuk memungkinkan persiapan bagi perencana dapat berada pada garis yang benar dan tepat. Ketepatan dan kebenaran perencanaan sumbu final jalan rel tergantung pada ketepatan dan ketelitian survai ini. Oleh karena itu maka dalam pelaksanaan survai ini perlu diperhatikan beberpa hal berikut : 1. untuk pengukuran yang teliti sepanjang garis sumbu rencana, pengukuran dilakukan dengan alat ukur panjang berupa pita baja. pengukuran sudut dilakukan dengan teodolith. 2. titik pengukuran dengan teodolith sepanjang garis sumbu rencana perlu diberi tanda patok dan diberi nomor/kode Location survey ialah untuk menetapkan sumbu rencana jalan rel pada permukaan tanah dengan kontrol arah vertikal dan horisontal yang diperlukan, kegiatan ini secara garis besar dikelompokan sbb : 1. pematokan garis sumbu final di lapangan
11

2. penentuan ketinggian secara rinci PENYELIDIKAN GEOTEKNIK


( Peraturan dinas 10 ) perusahaan Jawatan Kereta Api, 10A, 10B, 10C, peraturan bahan, perawatan, pembangunan.

Umum Kajian terhadap geologi dan penyelidikan terhadap tanah yang terperinci sangat diperlukan untuk perencanaan geometric dan tubuh jalan. Selain faktor geoteknik perlu adanya kajian terhadap hidrologinya, hal ini penting untuk kemungkinan terhadap terjadinya penggenangan akibat dibangunnya jalan rel tersebu Data yang diperlukan untuk perencanaan tubuh jalan rel dapat digolongkan sbb : 1. data geologi 2. data hidrologi 3. data tanah Data Geologi Digunakan untuk mengetahui kondisi lokasi secara umum yang ditinjau dari disiplin ilmu geologi Hal hal yang perlu diketahui dari data geologi adalah : a). Jenis bentukan geologi dan sejarahnya. b). Deskripsi permukaan tanah dan batuan. c). Deskripsi masa tanah terutama mengenai sesar atau lipatanlipatan. d). Bentuk lereng dan evaluasinya serta kemungkinan adanya proses-proses, seperti gerakan tanah dan pelapukan batuan serta pengikisan permukaan. e). Kemiringan dan panjang rel, baik ditempat yang sudah stabil maupun yang memperlihatkan tanda-tanda kelongsoran. f). Keadaan yang khusus dari permukaan seperti lembah, jurang, sungai, danau dan hal-hal khusus lainnya. Data geologi umumnya dapat diperoleh dari jawatan geologi Data Hidrologi Digunakan untuk merencanakan drainase dari badan jalan dengan tujuan untuk mencegah kerusakan badan jalan tersebut akibat pengaruh air Kerusakan ini umumnya berupa timbulnya kelongsoran dari badan jalan tersebut akibat berkurangnya kekuatan tanah akibat pengaruh air Data hidrologi yang diperlukan adalah :

12

a). Data curah hujan harian maupun tahunan b). Keadaan vegetasi c). Parit-parit dan Sungai-sungai Data hidrologi dapat diperoleh dari jawatan Meteorologi dan Geofisika Data Tanah Diperlukan untuk perencanaan terperinci dari suatu badan jalan kereta api Data tanah dapat diperoleh dengan melakukan penyelidikan tanah di lapangan dan di laboratorium a. Penyelidikan tanah di lapangan (1). Bor tanah Interval jarak dapat diambil + 200 meter bila tanah diperkirakan sejenis dan lebih pendek lagi jika tanah bervariasi secara datar Kedalaman pemboran yang perlu diketahui diperkirakan + 10 meter atau minimum sedalam tinggi timbunan, diukur dari elevasi permukaan tanah asli Metode pelaksanaan pemboran untuk pengambilan contoh tanah baik yang asli (undisturb) maupun berdasarkan petunjuk pengawas dilapangan. (2). CBR ( California Bearing Ratio ) atau Plate Bearing Test. Pengeboran tanah dilakukan pada beberapa titik, agar dapat diperoleh hubungan data antara semua lintas sehingga untuk perencanaan kelak akan lebih ringan dan sedikit penyelidikan diperlukan. Bersamaan dengan uji coba ini juga dilakukan pengambilan contoh tanah terganggu untuk test klasifikasi sehingga kejelasan sifat tanah makin diketahui dan dengan demikian olah perbaikan tanah bila diperlukan dapat dilakukan dengan metode ASTM D. 1883. (3). Portable Cone Penetrometer (PCP) Dibeberapa tempat test CBR/PBT, Plate Bearing Test untuk menganalisa data antara semuanya, sehingga untuk perencanaan ataupun perbaikan di kemudian hari akan makin mudah dan cepat. b. Penyelidikan tanah di laboratorium, berupa : (1). Sifat-sifat indeks, adalah : (a). Kadar air (Wn), dilakukan berdasarkan metode ASTM D. 2216

13

(b). Berat isi tanah (m), dilakukan berdasarkan metode ASTM D. 2937 (c). Berat jenis tanah ( Gs), dilakukan berdasarkan metode ASTM D. 854 (d). Angka pori tanah (e), dapat dihitung dari data a, b, c. (e). Derajat kejenuhan tanah ( Sr), dapat dihitung dari data a, b, c. (2). Sifat-sifat karakteristik, adalah : (a). Gradasi, pemeriksaan dengan analisa saringan dan bila perlu diikuti dengan analisa hidrometer, yang dilakukan berdasarkan metode ASTM D. 422. (b). Batas-batas Atterberg yang meliputi batas cair, batas plastis dan susut, yang dilakukan berdasarkan metode ASTM D. 423 dan D.424. (3). Sifat-sifat fisik, adalah : (a). Kohesi (C) dan sudut geser () Penyelidikan dengan alat Triaxial dan/atau Direct Shear berdasarkan metode ASTM D.2580 dan D. 3080 (b). qu dan sensivitas (St) Penyelidikan dengan alat Unconfined Compression test berdasarkan metode ASTM D. 2166 (c). Modulus elastisitas (E) Penyelidikan dengan alat modulus elastisitas berdasarkan metode ASTM D. 2435 (4). Sifat sifat lain (a). Koefesien kompresi (Cc) dan koefesien konsolidasi (Cv), yang diperoleh dari test konsolidasi berdasarkan metode ASTM (b). koefesien permeabilitas (k), yang diperoleh dari test permeabilitas (k), yang diperoleh dari test permeabilitas berdasarkan metode ASTM (5). Tanah timbunan Khusus untuk tanah timbunan, pada contoh tanah terganggu perlu diperiksa dilaboratorium diantaranya : a. berat jenis b. gradasi c. batas-batas atterberg

14

d. pemadatan untuk mengetahui gambar lengkung berdasarkan metode ASTM e. CBR terendam dan/atau tidak terendam STUDI DRAINASI Drainasi jalan rel menyangkut pembuangan kelebihan air pada batasbatas jalan rel dengan cara yang benar, maksudnya mungkin saja rencana jalan rel pada daerah yang mempunyai kemampuan drainasi alami. Ketinggian kedudukan jalan rel harus berdasarkan pada pertimbangan teknis yang mengacu pada ketinggian banjir tertinggi (High Flood Level). Untuk keperluan perencanaan dan perancangan drainasi diperlukan data hidrologi dan data yang berkaitan dengan drainasi, antara lain : 1. curah hujan 2. keadaan vegetasi 3. parit-parit, sungai dan drainasi alami. GAMBAR TEKNIK PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Berdasarkan pada data yang diperoleh dari penyelidikan/survai maka selanjutnya aktualisasikan berupa gambar teknik, yang meliputi sbb : 1. Site plan, merupakan peta kontur yang menunjukan alinemen rencana dan prasarana lain yang berkaitan, seperti jalan rel lainnya, jalan raya dsb. 2. Index map, peta ini dikembangkan dan diperbesar dari site plan dengan maksud untuk memberikan gambaran alinemen yang lebih rinci. 3. gambar potongan rinci jalan rel. Gambar ini merupakan saar untuk penghitungan pekerjaan tanah dan balas. 4. gambar rinci perpotongan dengan sungai/aliran air lainnya. 5. gambar rinci rencana jembatan 6. gambar rinci struktur jalan rel, termasuk persilangan dan wesel 7. gambar rencana stasiun dan emplasemen ( apabila perencanaan dan perancangan juga meliputi stasiun dan emplasemen ).

15

BAB 11
PEMBANGUNAN DAN PEMELIHARAAN JALAN REL Pendahuluan Pembangunan jalan rel dilaksanakan berdasarkan pada hasil perencanaan dan perancangan, yaitu gambar teknik dan spesifikasi, sedangkan perawatan jalan rel perlu dilakukan karena jalan rel harus senantiasa dapat menjalankan fungsinya dengan aman dan nyaman. I. Pembangunan Pada pembangunan jalan rel baru, bahan yang diperlukan dibawa ke lokasi dan dibangun/dipasang untuk membentuk sepur (track), karena masih terdapat kemungkinan terjadinya penurunan maka balas tidak dibangun awal, setelah selesai pekerjaan badan jalan dan tanah dasar, struktur bagian atas (bantalan, rel, penambat rel) dipasang lebih dahulu, baru setelah beberapa waktu ( memberi waktu untuk proses konsolidasi), struktur bagian atas diangkat, bahan balas disebarkan di bawah struktur bagian atas dan dipadatkan. Pembangunan jalan rel baru dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu sebagai berikut : a. pembangunan badan jalan rel dan tanah dasar b. pemasangan struktur bagian atas c. pembangunan balas a. Pembangunan badan jalan rel dan tanah dasar Tahap ini merupakan tahap pertama dalam pembangunan jalan rel setelah pemantapan dan penetapan alinemen di atas tanah. Tergantung pada topografi dan ketinggian rencana final, tanah dasar dapat berada pada timbunan, galian atau pada ketinggian/level permukaan tanah asli. Pekerjaan yang dilakukan pada tahap ini adalah : *. Pembersihan medan ( site clearing) *. Pekerjaan tanah (earthwork) *. Pemeriksaan tanah dasar Pembersihan medan Pembersihan medan meliputi pembersihan dan pembuangan semua tumbuh-timbuhan yang berada di lokasi yang akan dikerjakan. Untuk mencegah terjadinya masalah akibat pembusukan sisa-sisa tumbuhtumbuhan yang masih tertinggal, pembersihan medan sebaiknya
16

dilakukan hingga ke dalaman paling sedikit 50cm di bawah permukaan tanah dasar final.

Pekerjaan tanah
Pekerjaan tanah dilaksanakan setelah pekerjaan pembersihan medan selesai. Pada daerah yang datar karena pertimbangan teknis, sebagian terbesar jalur dibangun di atas timbunan. Ketinggian timbunan (embankment) tidak kurang dari 60 cm di atas ketinggian muka air banjir maksimum. Pada daerah pegunungan (rolling terrain), pekerjaan timbunan dan galian sering harus dilakukan. Sebagai arahan dan patokan kerja dalam membangun embankment perlu dipasang profil yang terbentuk dari patok dan tali, di setiap jarak 30 meter.

Pemeriksaan tanah dasar


Ketinggian permukaan tanah dasar sepanjang alinemen dapat diperiksa dengan alat ukur ketinggian. Ketinggian akhir akan terbentuk tidak boleh meyimpang terlalu besar. Menurut Arora ( 1980) penyimpangan tidak boleh lebih dari 25 mm terhadap ketinggian rencana dalam gambar teknik b. Pemasangan Struktur Bagian atas Cara yang biasa digunakan untuk pemasangan struktur bagian atas, ialah : side method, telescopic method dan american method. b.1. Side Method cara ini digunakan apabila telah tersedia sepur/track, misalnya pada pekerjaan pembangunan jalur ganda (double track) yang merupakan pengembangan dari jalur tunggal (single track). Bahan yang dibutuhkan untuk pembangunan diangkut ke lokasi pekerjaan menggunakan kereta pengangkut bahan (material train) dan kemudian dipasang pada rencana jalur, sehingga cara ini juga disebut Tram-line method. Apabila belum tersedia sepur (excisting track), dapat digunakan sepur sementara (temporary track) atau jalan yang pararel dengan jalan rel yang dibangun. b.2. Telescopic method cara ini bahan yang akan dipasang diangkut dari tempat bahan ke lokasi pekerjaan menggunakan jalur track yang sama dengan yang baru selesai dibangun. Dengan cara ini struktur bagian atas dipasang pada arah depan track yang baru selesai dibangun, menuju titik tujuan. Gerakan maju membangun struktur bagian atas tersebut
17

seperti memindahkan teleskop untuk memungkinkan pengamatan obyek yang jauh menjadi lebih fokus, sehingga cara ini disebut dengan Telescopic Method b.3. American method cara ini pertama kali digunakan di Amerika sehingga dikenal sebagai American method. Pada cara ini rel dipasang pada bantalan menggunakan sistem penambat rel di tempat perakitan yaitu di bengkel perakitan. Struktur bagian atas yang dirakit dengan panjang tertentu diangkut ke lokasi pekerjaan dan diletakkan/dipasang menggunakan alat berat untuk meletakkan/memasang struktur bagian atas (track-laying machine) c. pembangunan balas pembangunan balas dilaksanakan setelah penurunan badan jalan rel dan tanah dasar secara teknis dipandang cukup. Pelaksanaan pembangunan balas dapat dilakukan dengan cara sbb : 1. bahan balas diangkut oleh kereta pengangkut ke lokasi pekerjaan, kemudian dituangkan di lokasi pekerjaan pada interval jarak tertentu dalam bentuk tumpukan-tumpukan bahan balas. Penyebaran dan pemadatan bahan balas dilakukan secara manual menggunakan sekop (shovel) dsb. 2. penyebaran bahan balas dilakukan oleh kereta balas (ballast train). Mekanisme penyebarannya ialah sewaktu kereta balas berjalan dengan kecepatan tertentu bahan balas ke luar melalui pintu yang ada di lantai kereta balas dan disebarkan secara merata pada sepur yang diabangun. II. Pemeliharaan jalan rel Setelah jalan rel dibangun dan digunakan untuk lalu lintas kereta, seluruh komponen dan struktur jalan rel dapat rusak akibat beban dan gerakan kereta, serta pengaruh cuaca. Apabila tidak dilakukan perawatan yang kontinu, baik dan tepat, komponen dan struktur jalan rel dapat semakin memburuk sehingga dapat mengakibatkan perjalanan kereta menjadi tidak aman, tidak nyaman, dan tidak lancar. Perawatan jalan rel dilakukan untuk memelihara komponen dan fasilitas yang diperuntukan bagi jalan rel dalam keadaan baik untuk memberikan gerakkan perjalanan lalulintas kereta yang aman, nyaman dan lancar. Selain itu perawatan yang baik juga memberikan keuntungan berupa umur komponen jalan rel dan kendaraan jalan rel yang lebih baik
18

panjang dan biaya operasi yang lebih rendah karena penggunaan bahan bakar yang lebih sedikit. Perawatan jalan rel dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan perlatan ringan/sederhana atau menggunakan alat-alat berat. Perawatan jalan rel umumnya harus dilakukan, secara garis besar dapat dikelompokan dalam 2 katagori, yaitu : 1. perawatan rutin ( routine maintenance ) 2. perawatan khusus ( special maintenance ) PERAWATAN RUTIN Perawatan rutin dimaksud meliputi perawatan harian dan perawatan berkala. Pada dasarnya beberapa jenis pekerjaan yang perlu dilakukan pada perawatan rutin ialah membetulkan kerusakan, cacat dan lain-lain yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, yang terjadi pada : a. alinemen jalan rel b. lebar sepur c. komponen struktur jalan rel d. permukaan kepala rel e. wesel dan persilangan f. persilangan dengan jalan raya g. jembatan, gorong-gorong h. Sistem dan konstruksi drainasi i. Terowongan PERAWATAN HARIAN Perawatan harian dilakukan oleh pekerja sepanjang tahun, yang tergabung dalam regu dan untuk pekerjaan perawatan harian ini jalur jalan rel dibagi dalam beberapa bagian panjang, setiap petak jalan rel sekitar 6 km. Perawatan harian meliputi : 1. pengetatan (tightening) baut yang kendor 2. pengetatan komponen struktur penambat 3. pembersihan celah jalur flens pada wesel, persilangan 4. pemberian pelumas pada balok gelincir wesel PERAWATAN BERKALA Dilakukan secara berkala dalam interval waktu tertentu, misalnya 2 kali dalam setahun, setiap 2 atau 3 tahun dsb. Pada perawatan ini pengontrolan dan evaluasi dilakukan secara menyeluruh terhadap : 1. lebar sepur dan alinemen. 2. kedudukan dan dimensi rel
19

3. wesel dan persilangan berdasarkan atas hasil pengontrolan dan evaluasi tersebut dilakukan perbaikan agar supaya jalan rel dapat berada pada kondisi yang baik. Pekerjaan khusus bisa dilakukan dalam setiap jangka waktu selama setengah bulan yang meliputi : 1. pelurusan dan pengangkatan sepur 2. pengetatan baut yang kendor, tirpon, paku rel 3. pemadatan balas 4. pengontrolan dan perbaikan lengkung 5. pengontrolan lebar sebur, peninggian rel, pelebaran sepur 6. pemeriksaan dan perbaikan wesel 7. pembersihan badan jalan rel PERAWATAN KHUSUS Diadakan sewaktu diperlukan saja, biasanya dilakukan karena keadaan yang mendesak akibat dari : 1. kereta anjlok (derailment) 2. kecelakaan kereta 3. kerusakan pada rel dan bantalan yang disebabkan oleh keausan dan atau koyakan yang berlebih, sehingga memerlukan penggantian segera. Beberapa jenis alat berat pembangunan/perawatan jalan rel NO Jenis Alat Berat Kegunaan
1 2 MTT/ Multiple Tie Tamper (Plain Track), Lining, Lifting, Leveling & Tamping Machine MTT for Switches, Plain Track & crossing ( Lining, Lifting, Leveling & Tamping Machine Ballast Regulator Mechine / BRM (Universal balast profiling) Crib Consolidator Machine / CCM Flash Butt Welding Machine /FBWM Ballast Cleaner Machine /BCM Ballast Regulating & Distributing Mechine /BRDM Universal Permanent Way Motor Vehicle Machine /UPWM Track Relaying System Machine /TRSM Hydraulic Rail Treader Machine Untuk mengangkat, meluruskan jalan rel dan memadatkan balas di bawah bantalan Mengangkat, meluruskan jalan rel dan memadatkan balas di bawah bantalan untuk wesel dan perlintasan Untuk mengatur posisi balas, membuat profil balas Untuk memadatkan permukaan balas di antara dua bantalan Untuk menyambung rel dengan sistem las Untuk membersihkan, Menyaring balas kotor Untuk mengatur dan mendistribusikan balas Mesin serba guna untuk membuat parit, mengeruk balas, pasir dsb. Untuk menyusun bantalan, merakit jalan rel Untuk memasang rel pada bantalan

3 4 5 6 7 8 9 10

20

/HRTM

tersusun

21

22

BAB 12 WESEL ( SWITCHES ) & PERSILANGAN ( CROSSINGS )


Fungsi Wesel Adalah untuk mengalihkan kereta dari satu sepur ke sepur yang lain. Jenis Wesel Wesel biasa a. Wesel biasa (1). Wesel biasa kiri (2). Wesel biasa kanan b. Wesel dalam lengkung (1). Wesel searah lengkung (2). Wesel berlawanan arah lengkung (3). Wesel simetris Wesel tiga jalan a. Wesel biasa (1). Wesel biasa searah (2). Wesel biasa berlawanan arah b. Wesel tergeser (1). Wesel searah tergeser (2). Wesel berlawanan arah tergeser Wesel Inggris Adalah wesel yang menggantikan 2 buah wesel biasa kiri & kanan dan panjangnya lebih pendek dari jumlah panjang 2 wesel biasa yang dipasang langsung bergandengan berurut atau kombinasi persilangan dgn sebuah wesel a. Wesel Inggris terlayan jajar (arah pemanduan keduanya belok ) b. Wesel Inggris terlayan silang (arah pemanduan keduanya lurus) Komponen Wesel 1. Lidah Wesel ( Tongue Rail ) 2. Rel Lantak ( Stock Rail ) 3. Rel Pancung ( Nose Rail ) 4. Rel Lengkung ( Closure Rail ) 5. Rel Sayap ( Wing Rail ) 6. Rel Paksa ( Guard Rail ) 7. Pembalik Wesel ( Swicth ) 8. Akar Wesel ( Clamping )

23

Lidah wesel adalah bagian dari wesel yang dapat bergerak, pangkal lidah disebut akar, bagian sebelumnya hanya sebagai penghantar, salah satu lidah harus selalu rapat pada rel lantak sedangkan yang lainnya harus terbuka sejauh minimal 100 mm dari rel lantak. Rel lantak adalah rel induk yang tetap, yang berfungsi sebagai sandaran rel lidah Pancung dan sayap rel untuk memberikan kemungkinan flens roda kereta berjalan melalui perpotongan rel-dalam wesel dipasang jarum beserta sayapnya. Kemungkinan tertabraknya ujung jarum oleh flens roda kereta diatasi dengan : a). ujung jarum dibuat lebih rendah dibandingkan dengan permukaan atas rel. b). menetapkan jarak antara rel paksa dengan jarum

Lampiran gambar

24

25

26

27

28

29

30

31

32

ALINEMEN JALAN REL


DEFINISI Alinemen Jalan rel adalah Arah dan posisi dari sumbu jalan rel. Alinemen jalan rel terdiri dari alinemen horisontal dan alinemen vertikal. Alinemen horisontal meliputi jalur lurus, lebar sepur dan pelebarannnya, lengkung horisontal, alinemen vertikal meliputi perubahan kelandaian (gradients) dan lengkung vertikal. Alinemen jalan rel yang baik harus memenuhi beberapa faktor berikut : 1. Fungsi dari Jalan Rel. Alinemen jalan rel harus memenuhi tujuan dari penggunaan jalan rel tersebut. Secara umum, jalan tersebut berfungsi sebagai berikut : a. Pelayanan transport, melayani lalu lintas angkutan penumpang, barang baik jarak pendek maupun jarak panjang b. Menghubungkan tempat-tempat pusat kegiatan, juga berkaitan dengan pertahanan dan keamanan 2. Keselamatan (safety) Jalan rel dirancang 3. Ekonomi 4. Aspek Lingkungan

33