Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

MODEL-MODEL INTEGRASI AGAMA DAN SAINS


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teologi Islam Dosen Pengampu : Achmad Nasihuddin M.A

Disusun oleh : 1. Amalia Intifaada (09610090) 2. 3. 4. . 5. 6. Hikmah Maghfirotun N Lusiana Wati Fitriana Handayani Anis Fathona H Anis Safida (09610092) (09610101) (09610104) (09610112 ) (09610121)

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010 KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, dengan rasa syukur kehadirat ilahi robbi yang masih memberikan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Model-model Integrasi Agama dan Sains ini dengan baik. Shalawat maas salam semoga tetap terhaturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW. yang telah memberikan petunjuk dari kegelapan sehinga kita bisa merasakan cahaya kebenaran, yakni agama Islam. Selanjutnya saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Achmad Nasichuddin, yang telah memberikan bimbingan pembuatan makalah ini sehingga terselesaikan dengan tepat. Dan tak lupa ucapan terima kasih kepada teman-teman serta berbagai pihak yang telah membantu tersusunnya makalah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Penyusun makalah ini menyadari bahwa masih banyak kekukarangan dan kesalahan dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan untuk pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi seluruh umat islam di Indonesia agar mampu mengintegrasikan agama dan sains khususnya untuk seluruh civitas akedemika Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Amin.

Malang, 6 Juni 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam dunia internasional, pada jurnal Zygon yang khusus membahas sains dan agama menyebutkan pada tahun 1990 menjadi fenomena baru pembahasan antara sains dan agama. Muncul banyak buku yang terbit pada masa itu yang membahas keterkaitan antara sains dan agama, dan ini menjadi sebagai wacana intelektual yang dimuliakan. Sains dan agama sebenarnya sangatlah berkaitan. Keduanya jika dipadukan dapat saling menunjang satu sama lain. Sains yang merupakan hasil pemikiran manusia yang telah terealisasikan sebenarnya merupakan ilmu yang telah ada, dan telah dijelaskan dalam salah satu unsur dari agama itu sendiri. Namun yang masih menjadi pertanyaan, apakah ilmu itu lahir benar-benar tanpa agama yang dijadikan sebagai sumbernya? Ataukah ilmu itu lahir setelah penemu ilmu itu mempelajari sumber dari agama yang ada? Jika dilihat secara umum, ilmu itu memang bersumber dari agama yang ada, dan dikembangkan oleh si pengamat isi kitab suci yang merupakan dasar agama menjadi ilmu yang dikenal saat ini. Dalam Al-Quran pun telah terpaparkan bagaimana suatu ilmu itu bekerja. Ini yang menjadi perdebatan antara kaum muslim dengan kaum barat yang notabene dikenal sebagai penemu ilmu itu sendiri. Apakah mereka yang mengaku-akukan ilmu yang telah ada ataukah mereka memang telah menemukan ilmu itu dan secara kebetulan ilmu yang mereka temukan itu sama dengan yang ada di dalam kitab suci (Al-Quran). Ilmu yang dikenal saat ini telah berkembang dengan begitu pesatnya, bahkan ilmu yang seharusnya dipersembahkan untuk kemaslahatan ummat malah dapat menghancurkan manusia yang tidak mengetahui apapun tentang ilmu itu. Hal ini telah merugikan banyak pihak. Pengintegrasian agama dan sains dapatlah dijadikan sebagai pelurus hal ini. Perpaduan keduanya akan menjadi sebuah cahaya hebat yang akan membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik lagi. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini adalah: 1. Apakah pengertian integrasi agama dan sains?

2. Bagaimana awal pertemuan agama dan sains, pandangan serta hubungan antara keduanya? 3. Bagaimanakah integrasi agama islam dengan sains? 4. Bagaimana model-model integrasi agama dan sains? 1.3 Tujuan Tujuan penyusunan makalah ini adalah: 1. Mengetahui pengertian integrasi agama dan sains. 2. Mengetahui awal pertemuan antara agama dan sains, dan pandangan serta hubungan antara keduanya. 3. Mengetahui pengintegrasian agama islam dan sains. 4. Mengetahui model-model integrasi agama dan sains.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Integrasi Agama dan Sains

Integrasi dapat diartikan sebagai perpaduan, penyelarasan antara dua hal yang dapat dipadukan. Beberapa orang mengupayakan suatu integrasi yang lebih sistematik antara sains dan agama. Jajak pendapat di Amerika menyatakan bahwa 45% penduduknya mengakui keberadaan Tuhan sebagai pencipta manusia dalam bentuk yang sempurna. Dan sebanyak 40% dari mereka percaya bahwa manusia berkembang dalam kurun waktu jutaan tahun dari bentuk yang sederhana dan Tuhanlah yanng mengarahkan proses tersebut. Sebanyak 10% percaya bahwa Tuhan sama sekali tidak berperan dalam proses tersebut. Di kalangan negaranegara industri maju, kalangan yang menafsirkan Alkitab secara harfian dan menolak teori evolusi jumlahnya jauh lebih sedikit, hanya sekitar 7% di Inggris. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kebanyakan manusia, dari kalangan ilmuan tentu ikut dalam hal ini, mengakui adanya hubungan antara sains dan agama. Denagn berbagai temuan yang mereka lakukan, kebanyakan dari mereka menjadikan temuan yang mereka temukan tersebut merupakan bukti kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. 2.2 Awal Perjumpaan dan Beberapa Pandangan Agama dan Sains Awal perjumpaan antara Agama dan Sains adalah sebagai sahabat yang begitu mendukung, ini terjadi pada abad 18. Sekitar pada abad yang ke-19 mulai timbul masalah pada pemikiran masing-masing pemikir yang begitu signifikan perbedaannya antara Agama dan Sains. Sehingga beberapa dan Sains yang akhirnya berabad-abad mereka terpisah. Salah satu pandangan terhadap hubungan antara Agama dan Sains, yaitu integrasi. Pada kasus ini para Theolog Natural berharp dapat menemukan sebuah bukti akan kebenaran keberadaan Tuhan. Ada pula yang mengawali harapan ini dari tradisi keagamaan tertentu dan berusaha menunjukkan adanya keserasian dari keyakinannya terhadap ilmu pengetahuan modern. Beberapa versi pembahasan hubungan antara Agama dan Sains dalam segi pandang intregasinya, sebagai berikut: 1. Theology of Nature. Sumber utama terletak di luar Sains, yaitu teori ilmiah yang bisa berdampak kuat atas perumusan ulang doktrin-doktrin tertentu (penciptaan dan sifat dasar manusia). 2. Natural Theology. Eksistensi Tuhan terwujud atas bukti deasain alam semesta.

3. Sintesis Sistematis. Sains ataupun Agama memberikan konstruksi pada pengembangan metafisika inklusif (filsafat proses). 1) Theology of Nature Dalam segi pandang ini, tidak berangkat dari sains. Ini berangkat dari segi

keagamaan berdasarkan pengalaman keagamaan dan wahyu historis. Namun, ia berpendapat bahwa beberapa doktrin tradisional harus dirumuskan ulang dalam sinaran sains terkini. Di sini sains dan agama dipandang sebagai sumber ide-ide yang relatif independen, tetapi bertumpang tindih dalam minatnya. Secara khusus, doktrin tentang penciptaan dan sifat dasar manusia dipengaruhi oleh temuan-temuan sains. Jika kepercayaan keagamaan hendak diselaraskan dengan pengetahuan ilmiah, dan mesti melakukan penyesuaian dan modifikasi yang lebih besar daripada yang dilakukan oleh pendukung tesis Dialog. Dikatakan bahwa teolog harus mengambil bentangan luas sains yang telah diterima secara luas. Doktrin teologi harus konsisten dengan bukti ilmiah bahkan jika ia tidak dipengaruhi langsung oleh teori sains terkini. 2) Natural Theology Nurut Thomas Aquinas beberapa sifat Tuhan dapat diketahui hanya dari wahyu kitab suci, tapi eksistensi Tuhan itu sendiri dapat diketahui hanya dengan nalar. Argumen Kosmologis menegaskan bahwa setiap peristiwa harus mempunyai sebab sehingga untuk menghindari siklus yang tak berujung pangkal maka kita harus mengakui sebab Pertama (Sang Pencipta). Sains moderen sering menyatakan ketakjubannya terhadap koordinasi-koordinasi yang ada pada alam semesta sebagai wujud eksistensi Tuhan. Menurut Newton mata tidak dapat dirancang tanpa kecakapan yang tinggi pada bidang optik. Dan Robert Byle mengagumi bukti-bukti melimpah tentang alam semesta ini. Menurut David Hume ada beberapa prinsip yang bertanggung jawab atas pola-pola di alam semesta ini. Setidak-tidaknya mengarah pada eksistensi Tuhan yang terbatas atau eksistensi tuhan-tuhan yang tidak mengarah kepada eksistensi Pencipta Yang Maha Kuasa sebagai mana diyakini agama monoteis. Dia juga mengklaim bahwa adanya kejahatan dan penderitaan di dunia telah melemahkan argumen desain tradisional.

Diantara filosof kontemporer, Richard Swinburn adalah pembela gigih Natural Theologi. Dia berangkat dari mendiskusikan teori konfirmasi dala filsafat sains. Swinburn mengatakan bahwa eksistensi Tuhan mempunyai kemasukakalan awal (Initial Plausibility) karena kesederhanaannya dan memberikan penjelasan secara terpadu tentang dunia dalam kerangka tujuan pelaku. Dia juga menganggap bukti-bukti tentang keteraturan dunia memperbesar kemungkinan bagi hipotesis teistik. Versi yang tersohor dari argumen desain adalah Prinsip Antropik dalam kosmologi. Menurut astrofisikawan, kehidupan di alam semesta akan menjadi mustahil jika beberapa tetapan fisika dan kondisi-kondisi lain pada alam semsta ini sedikit berbeda dengan nilai yang diketahui. Alam semesta tampaknya fine tuned dengan cermat sehingga memungkinkan munculnya kehidupan. 3) Sintesis Sistematis Dalam bahasan ini, jika sains dan agama dapat memberikan kontribusi kearah pandangan-dunia yang lebih koheren yang lebih dielaborasi dalam kerangka metafisika 1 yang komprehensif maka integrasi sains dapat dilakukan lebih sistematis lagi. Pada abad ke-13, Thomas Aquinas menuliskan metafisika yang impresif yang terus berpengaruh dealam pemikiran Katolik. Tulisan-tulisannya yang begitu banyak seara sistematis mengintegfrasikan gagasan penulis-penulis Kristen awal dengan filsafat dan sains kontemporer, sebagian besar diturunkan dari karya Aristoteles yang telah ditemukan kembali di Barat melalui terjemahan-terjemahan bahasa Arab2. 2.3 Hubungan Agama dan Sains Ian G. Barbour (2002:47) mencoba memetakan hubungan sains dan agama dengan membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui tipologi posisi perbincangan tentang hubungan sains dan agama, dia berusaha menunjukkan keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan agama. Tipologi ini berlaku pada disiplin-disiplin ilmiah tertentu, salah satunya adalah biologi. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi yang tiap-tiap variannya berbeda satu sama lain.
1

Pencarian seperangkat konsep umum yang dapat menafsirkan berbagai aspek realitas secara terpadu. (dok.) Entah ini masih bisa dibenarkan ataupun tidak, Islam yang mencontoh atau um at Kristen yang mengada-ada. (dok. Penulis)

1. Konflik Pandangan konflik ini mengemuka pada abad ke19, dengan tokoh-tokohnya seperti: Richard Dawkins, Francis Crick, Steven Pinker, serta Stephen Hawking. Pandangan ini menempatkan sains dan agama dalam dua ekstrim yang saling bertentangan. Bahwa sains dan agama memberikan pernyataan yang berlawanan sehingga orang harus memilih salah satu di antara keduanya. Masing-masing menghimpun penganut dengan mengambil posisi-posisi yang bersebrangan. Sains menegasikan eksistensi agama, begitu juga sebaliknya. Keduanya hanya mengakui keabsahan eksistensi masing-masing 2.Independensi Tidak semua saintis memilih sikap konflik dalam menghadapi sains dan agama. Ada sebagian yang menganut independensi, dengan memisahkan sains dan agama dalam dua wilayah yang berbeda. Masing-masing mengakui keabsahan eksisitensi atas yang lain antara sains dan agama. Baik agama maupun sains dianggap mempunyai kebenaran sendiri-sendiri yang terpisah satu sama lain, sehingga bisa hidup berdampingan dengan damai (Armahedi Mahzar, 2004:212). Pemisahan wilayah ini dapat berdasarkan masalah yang dikaji, domain yang dirujuk, dan metode yang digunakan. Mereka berpandangan bahwa sains berhubungan dengan fakta, dan agama mencakup nilai-nilai. Dua domain yang terpisah ini kemudian ditinjau dengan perbedaan bahasa dan fungsi masing-masing. 3.Dialog Pandangan ini menawarkan hubungan antara sains dan agama dengan interaksi yang lebih konstruktif daripada pandangan konflik dan independensi. Diakui bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan, bahkan bisa saling mendukung satu sama lain. Dialog yang dilakukan dalam membandingkan sains dan agama adalah menekankan kemiripan dalam prediksi metode dan konsep. Salah satu bentuk dialognya adalah dengan membandingkan metode sains dan agama yang dapat menunjukkan kesamaan danperbedaan. 4.Integrasi Pandangan ini melahirkan hubungan yang lebih bersahabat daripada pendekatan dialog dengan mencari titik temu diantara sains dan agama. Sains dan doktrin-doktrin keagamaan, sama-sama dianggap valid dan menjadi sumber koheren dalam pandangan dunia. Bahkan pemahaman tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat memperkaya pemahaman keagamaan bagi manusia yang beriman.

2.4 Integrasi Agama Islam dan Sains Berdasarkan paparan yang ada, kemunculan sains moderen dan beberapa perkembangan dalam berbagai disiplinnya menunjukkan bahwa sains moderen sama sekali tidak mirip dengan apa yang dikenal sebagai sains sebelum Revolusi Sains abad ke-17. Dan juga menampakkan peran yang dimainkan oleh beberapa produsen utama sains ini, yang tak seorang pun muslim. Pada simposium Membaca Alam Menemukan Tuhan yang diadakan di Jakarta pada tanggal 6 Januari 2003, seorang ilmuan Perancis, Bruno Abdul Haqq Guiderdoni menyebutkan ada persamaan secara epistimologi3 antara agama dan sains, yaitu proses pencarian kebenaran yang terbuka. Tak ada yang absolut 4 di antara keduanya. Malah memiliki integritas tinggi yang harus ditemukan penghubung antara keduanya. Yang akhirnya akan mencapai kebenaran haqiqi, dan kebenaran ini akan segera terkuak jika keduanya dapat disatuka dan bisa bekerja sama. ''Meskipun berbeda, sains dan agama tidak bisa dipertentangkan. Justru keduanya bisa bersatu dalam mencari kesempurnaan yang esensial,'' kata Bruno (Media Indonesia, 7/1/2003) Antara sains dan agama sering kali dikontradiksikan. Sains yang dicap bersifat rasionalitas dianggap tidak dapat dipadukan dengan agama yang telah dicap identik dengan un-rasionalitas. Padahal secara sosiologis dan filosofis keduanya dapat dihubungkan dengan adanya modernitas. Dan ini memungkinkan unutk keduanya bekerjasama. Sains dan agama mereprentasikan dua sistem besar pemikiran manusia. Mayoritas manusia di bumi ini menjadikan agama sebagai faktor yang sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku dalam urusan mereka. Ketika sains menyentuh kehidupan mereka, tidak ada pola pikir dimana sains tersebut adalah bukti dari agama mereka. Dan pure teknologi yang mereka pegang sekarang. Perkembangan sains yang ada memunculkan pertanyaan berbagai pertanyaan yang begitu vital tentang asal-usul alam semesta dan kehidupan, dan agaknya sains moderen
3

Cabang dari filsafat yang menyelidiki sumber-sumber serta kebenaran pengetahuan; teori penngetahuan. (dok. Kamus ilmiah) Diartikan sebagai kuasa penuh, mutlak dan tidak terbatasi, tak bersyarat. (dok. Kamus ilmiah)

memiliki jawaban atas ini. Namun jawaban ini juga perlu ditafsirkan melalui perenungan religius. Berdasarkan sejarah yang ada, ada mitos antara perang sains dan agama. Pada abad pencerahan, sains dan teologi berjalan seiring bersama seperti yang telah diperlihatkan oleh Newton, Copernicus, dan Boyle. Menurut Newton dan Boyle, mengkaji alam adalah tugas keagamaan. Pengetahuan tentang kekuasaan dan kearifan Tuhan dapat dipahami melalui inteligensia yang tampak dalam desain alam semesta. Secara psikologis, kebersamaan sains dan agama adalah mungkin. Sains tidak memberikan sense of well-being5. Sains sangat diperlukan, namun belum dapat mencukupi kebutuhan yang memang dibutuhkan dalam kehidupan umat manusia secara kesuluruhan. Dan disinilah peran agama sebagai pelengkap, penyedia kebutuhan dari kekurangan sains. Kesadaran akan arah hidup dan harapan dalam hidup. Agama, menekankan caring for others 6 dan saving the earth7 (Holmes Rolston). Sementara sains sama sekali tidak berurusan dengan itu. Namun, agama bukanlah satu-satunya solusi ataupun sumber sains. Juga tidak bisa diartikan sains dapat disusun dari hanya membaca kitab suci saja, namun harus ada sumbersumber penguat ataupun fakta yang sesuai sebab pengetahuan juga pengajaran membutuhkan observasi dan pengukuran. Agama dan sains saling berpelengkap. Ini berarti, klaim bahwa kitab suci sumber dari segala sains sama bahayanya dengan klaim bahwa agama tidak dapat bersanding dengan sains.

2.5 Model-Model Integrasi Agama dan Sains Telah banyak model yang diajukan orang untuk mengintegrasikan agama dan sains, Beberapa model-model tersebut diantaranya adalah: model IFIAS, model ASASI, model diadik komplementer, model diadik dialogis, model triadik tetradik. 1) Model IFIAS Model integrasi keilmuan IFIAS (International Federation of Institutes of Advance Study) muncul pertama kali dalam sebuah seminar tentang "Knowledge and Values", yang komplementer, dan model

Kepedulian terhadap sesama. (dok. Penrj) Menjaga bumi. (dok. Penrj)

diselenggarakan di Stickholm pada September 1984. Model yang dihasilkan dalam seminar itu dirumuskan dalam gambar skema berikut ini: Tauhid Khilafah

Ibadah

Ilmu Pengetahuan

halal

haram

Adl istishlah

zhulm dhiya

Gambar 1. Model IFIAS

Skema di atas kurang lebih dapat dijelaskan sebagai berikut: Iman kepada Sang Pencipta membuat ilmuwan Muslim lebih sadar akan segala aktivitasnya. Mereka bertanggungjawab atas perilakunya dengan menempatkan akal di bawah otoritas Tuhan. Karena itu, dalam Islam, tidak ada pemisahan antara sarana dan tujuan sains. Keduanya tunduk pada tolok ukur etika dan nilai keimanan. Ia harus mengikuti prinsip bahwa sebagai ilmuwan yang harus mempertanggungjawabkan seluruh aktivitasnya pada Tuhan, maka ia harus menunaikan fungsi sosial sains untuk melayani masyarakat, dan dalam waktu yang bersamaan melindungi dan meningkatkan institusi etika dan moralnya. Dengan demikian, pendekatan Islam pada sains dibangun di atas landasan moral dan etika yang

absolut dengan sebuah bangunan yang dinamis berdiri di atasnya. Akal dan objektivitas dianjurkan dalam rangka menggali ilmu pengetahuan ilmiah, di samping menempatkan upaya intelektual dalam batas-batas etika dan nilai-nilai Islam. Anjuran nilai-nilai Islam abadi seperti khilafala, ibadah, dan adl adalah aspek subjektif sains Islam. Emosi, penyimpangan, dan prasangka manusia harus disingkirkan menuju jalan tujuan mulia tersebut melalui penelitian ilmiah. Objektivitas lembaga sains itu berperan melalui metode dan prosedur penelitian yang dimanfaatkan guna mendorong formulasi bebas, pengujian dan analisis hipotesis, modifikasi, dan pengujian kembali teoriteori itu jika mungkin. Karena sains menggambarkan dan rnenjabarkan aspek realitas yang sangat terbatas, ia dipergunakan untuk mengingatkan kita akan keterbatasan dan kelemahan kapasitas manusia. Alquran juga mengingatkan kita agar sadar pada keterbatasan kita sebelum terpesona oleh keberhasilan penemuan-penemuan sains dan hasil-hasil penelitian ilmiah8. 2) Model Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI) Model yang dikembangkan oleh Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI) muncul pertama kali pada Mei 1977 dan merupakan satu usaha yang penting dalam kegiatan integrasi keilmuan Islam di Malaysia karena untuk pertamanya, para ilmuwan Muslim di Malaysia bergabung untuk, antara lain, menghidupkan tradisi keilmuan yang berdasarkan pada ajaran Kitab suci al-Quran. Tradisi keilmuan yang dikembangkan melalui model ASASI ini pandangan bahwa ilmu tidak terpisah dari prinsip-prinsip Islam. Model ASASI ingin mendukung dan mendorong pelibatan nilai-nilaidan ajaran Islam dalam kegiatan penelitian ilmiah; menggalakkan kajian keilmuan di kalangan masyarakat; dan menjadikan Alquran
8

Dalam Alquran surat Yasin [36]:77-83, Allah Swt berfirman:

( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tibatiba ia menjadi penantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu." Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

sebagai sumber inspirasi dan petunjuk serta rujukan dalam kegiatan-kegiatan keilmuan. ASASI mendukung cita-cita untuk mengembalikan bahasa Arab, selaku bahasa Alquran, kepada kedudukannya yang hak dan asli sebagai bahasa ilmu bagi seluruh Dunia Islam, dan berusaha menyatukan ilmuwan-ilmuwan Muslim ke arah memajukan masyarakat Islam dalam bidang sains dan teknologi9. Pendekatan ASASI berangkat dari menguraikan epistemologi Islam dengan menggunakan pemikiran keilmuan para ulama klasik semacam al-Ghazali yang pada umumnya menggunakan pendekatan fiqh di satu sisi dan pendekatan para filosof seperti alFarabi di sisi lain. Model integrasi keilmuan ASASI berangkat pada pandangan klasik bahwa ilmu diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu ilmu fard ain yang wajib bagi setiap manusia Islam, ilmu fard kifayah yang wajib oleh masyarakat Islam yang perlu dikuasai oleh beberapa orang individu, ilmu mubah yang melebihi keperluan, dan ilmu sia-sia yang haram. Model ASASI menggagas kesatuan dan integrasi keilmuan sebagai satu ciri sains Islam yang berdasarkan Keesaan Allah. ASASI mengembangkan model keilmuan Islam yang memiliki karakteristikn menyeluruh, integral, kesatuan, keharmonisan dan keseimbangan.1 ASASI berpendapat bahwa ilmu tidak hanya diperoleh melalui indra persepsi (data empirik) dan induksi, dan deduksi, akan tetapi juga melalui intuisi, heuristik, mimpi dan ilham dari Allah.

3) Model Diadik Komplementer Model Diadik ini dapat dinyatakan dalam gambar sebuah lingkaran yang terbagi oleh sebuah garis lengkung menjadi dua bagian yang sama luasnya, seperti symbol Tao dalam tradisi Cina. Dalam model ini, sains dan agama adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Agama dan ilmu saling melengkapi karena keduanya sama-sama dibutuhkan untuk mencari kebenaran dalam hidup manusia.

Wan Ramli bin Wan Daud dan Shaharir bin Mohamad Zain, Pemelayuan, Pemalaysiaan dan Pengislaman Ilmu Sains dan Teknologi dalam Konteks Dasar Sains Negara, Jurnal Kesturi, No. 1. 1999, hal. 15-16

Gambar 2. Model Diadik Komplementer 4) Model Diadik Dialogis Model diadik dialogis ini dapat dilukiskan secara diagram dengan dua buah lingkaran sama besar dan saling berpotongan. Jika kedua lingkaran tersebut mencerminkan agama dan sains, maka akan terdapat sebuah kesamaan. Kesamaan itulah yang merupakan bahan bagi dialog antara sains dan agama. Misalnya Maurice Bucaille menemukan sejumlah fakta ilmiah di dalam kitab suci Al-Quran. Atau para ilmuwan yang menemukan sebuah bagian pada otak yang disebut sebagai the God Spot yang dipandang sebagai pusat kesadaran religious manusia. Model inilah yang disebut model diadik dialogis.

Agama Sains

Gambar 3. Model Diadik Dialogis

5) Model Triadik Komplementer Dalam model ini ada unsur ke 3 yang menjembatani sains dan agama. Jembatan itu adalah filsafat. Model ini diajukan oleh kaum teosofis yang bersemboyankan There is no religion higher than truth. Kebenaran atau truth adalah kesamaan antara sains, filsafat dan agama. Tampaknya model ini merupakan perluasan saja dari model diadik komplementer dengan memasukkan filsafat sebagai komponen ketiga yang letaknya diantara sains dan

agama.

Model

triadik

komplementer

ini

mungkin

dapat

di modifikasi

dengan

menggabungkan filsafat dengan humaniora atau ilmu-ilmu kebudayaan.


Sains Filsafat Agama

Gambar 4. Model Triadik komplementer 6) Model Tetradik. Sebagai koreksi terhadap model diadik dan triadik komplementer, telah dikembangkan sebuah model tetradik. Salah satu interpretasi dari model diadik komplementer adalah identifikasi komplementasi sains/ agama dengan komplementasi luar/dalam, pemisahan luar/dalam identik dengan pemilihan objek/ subyek dalam persepektif epistimologi. Permulaan ini untuk sementara, menurut pemikiran Ken Wilber, dianggap tidak mencukupi untuk memahami fenomena budaya. Wilber tampaknya memerlukan komplementasi baru untuk melengkapi

komplementasi-komplementasi modernis yang disebut terdahulu. Komplementasi baru itu komplementasi postmodernis satu/banyak. Komplementasi itu disebut Ken Wilber sebagai komplementasi individu/sosial. Dengan adanya dua komplementasi, yang lama dan yang baru, maka realitas budaya dibagi menjadi empat kuadran dimana satu lingkaran dibelah oleh dua buah sumbu komplementasi yang saling tegak lurus satu sama lainnya, horizontal dan vertikal. Pada diagram empat kuadaran Wilber ini, sumbu individual/sosial diletakkan secara horizontal dengan individualitas di sebelah kiri dan sosialitas di sebelah kanan. Sedangkan sumbu interior /eksterior diletakkan pada arah vertical dengan interioritas sebelah kiri dan eksterioritas di sebelah kanan. Dalam diagram Wilber, kuadran kiri atas berkaitan dengan subjektivitas, yang menjadi topik bagi psikologi barat dan mistisme timur, dan kuadran kanan atas berkaitan dengan objektivitas yang menjadi topic bagi sains atau ilmu-ilmu kealaman. Sedangkan kuadrat kiri bawah berkaitan dengan intersubjektivitas yang menjadi topic bahasan humaniora dan kebudayaan. Sementara itu kuadaran kanan bawah menyangkut sebagai interobjektifiatas yang mempelajari gabungan objek-objek yang disebut Wilber masyaeakat, tetapi tampaknya lebigh seusai jika diberi judull teknologi.

Dengan demikian, ada empat kuadran keilmuawan, yaitu ilmu-ilmu kealaman (kanan atas), ilmu-ilmu keagaman (kiri atas), ilmu-ilmu kebudayaan (kiri bawah) dan ilmuilmu keteknikan (kanan bawah).
Individual

Subjektivitas

Objektivitas

Interior

Eksterior

Intersubjektivitas

Interobjektivitas

Sosial

Gambar 5. Model Tetradik

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari materi ini adalah: 1. Integrasi Agama dan Sains merupakan perpaduan, penyelarasan dan penyatuan antara sains dan agama. Perpaduan atau integrasi adalah hubungan yang bertumpu pada keyakinan bahwa pada dasarnya tujuan ilmu dan agama adalah satu dan sama, yaitu mencari kebenaran tentang rahasia besar alam ini. 2. Awal perjumpaan antara Agama dan Sains adalah sebagai sahabat yang begitu mendukung, ini terjadi pada abad 18. Sekitar pada abad yang ke-19 mulai timbul masalah pada pemikiran masing-masing pemikir yang begitu signifikan perbedaannya antara Agama dan Sains. 3. Tipologi hubungan antara agama dan sains terdiri dari empat macam pandangan, yaitu: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi yang tiap-tiap variannya berbeda satu sama lain. 4. Model-model integrasi antara agama dan sains diantaranya adalah: model IFIAS, model ASASI, model diadik komplementer, model diadik dialogis, model triadik komplementer, dan model tetradik.

3.2 Saran Penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu untuk menambah kesempurnaan, saran dan kritik yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan. Selain itu, untuk lebih memperluas wawasan mengenai pembahasan dalam makalah ini, maka diperlukan buku referensi yang lebih banyak lagi yang berhubungan dengan integrasi agama dan sains.

DAFTAR PUSTAKA Abidin, Zainal Bagir, dkk. 1960. Integrasi Ilmu dan Agama : Interpretasi dan Aksi. Yogyakarta: Mizan Pustaka.

Barbour, Ian G.. 2005. Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama. Bandung: Mizan. Davies, Paul. 2002. Tuhan, Doktrin dan Rasionalitas, dalam Debat Sains Modern. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. Barbour, Ian G.. 2002. Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama. Bandung: Mizan. Partanto, Pius A. dan Albarry, M. Dahlan. 2001. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola.