Anda di halaman 1dari 6

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan granul instant.

Pembuatan granul instant ini menggunakan metode granulasi basah. Granulasi basah yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi. Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, teknik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam

campuran serbuk dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang digunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat. Pada praktikum ini pembuatan granul instant menggunakan formula : R/ Jus mangga kental Laktosa Na-CMC 150 92,5 50 ml gram mg

Asam benzoat Vit. B1 Vit. B6 Vit. C Sukrosa serbuk Sorbitol Asam sitrat Na Bikarbonat NaCl

40 0,75 0,15 5 32,5 25 50 190 32

mg gram gram gram gram ml mg mg mg

Masing-masing bahan memiliki fungsi : a. Jus mangga kental yang dicampur dengan Na-CMC dan asam benzoate sebagai pengawet kemudian dipanaskan akan membentuk massa kental mucilago yang akan berfungsi sebagai pengikat. b. Sorbitol merupakan monosakarida turunan dari glukosa yang ditambahkan pada minuman. Sorbitol termasuk ke dalam gula alkohol, pada minuman sorbitol berguna untuk memberikan efek dingin saat diminum. Efek dingin tersebut timbul ketika sorbitol larut didalam mulut. Semakin kecil ukuran partikel sorbitol makan akan semakin terasa colling effect tersebut. Sorbitol, terdapat di dalam beberapa jenis buah dan secara komersial dibuat dari glukosa. c. Laktosa dan sukrosa serbuk digunakan untuk bahan pengisi yang larut air. d. Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang memberikan rasa asam pada sediaan. Apabila asam sitrat dicampurkan dengan natrium bikarbonat saat dimasukkan ke dalam air akan membentuk gas CO2 seperti buih yang dapat mempercepat kelarutan zat aktif, memberikan rasa segar dan dapat juga memperbaiki rasa. e. NaCl berfungsi sebagai pengisi (diluents) yang juga memberikan rasa asin pada sediaan. f. Vitamin B1, B6 dan C digunakan sebagai zat aktif yang larut dalam air.

Vitamin B1 mengubah karbohidrat menjadi energy, vitamin B6 diperlukan dalam proses asam amino dan lemak dan vitamin C berguna untuk membantu tubuh manusia berfungsi dengan normal salah satunya berfungsi untuk menigkatkan daya tahan tubuh. Tapi pada praktikum ini yang digunakan hanya vitamin C.

Hal yang pertama dilakukan adalah mempersiapkan bahan-bahan dalam formula untuk prosedur awal, yaitu jus buah mangga kental, vitamin B1, vitamin B6, asam benzoat, Natrium CMC, sorbitol, dan laktosa. Jus buah mangga sebanyak 150 ml dimasukkan ke dalam beker gelas. Kemudian dimasukkan 0,75 gr vitamin B1, 0,15 gr vitamin B6, dan 40 mg asam benzoat. Lalu diaduk sampai semua bahan tercampur dan menjadi homogen. Setelah itu, ke dalam jus buah mangga ditambahkan 50 mg Natrium CMC dan diaduk sampai homogen. Lalu ditambah 25 ml sorbitol dan diaduk sampai homogen. Jus buah mangga yang telah dicampur dengan bahan-bahan fase dalam dipanaskan pada suhu 70-800 C di atas pemanas kemudian didinginkan. Kemudian dipanaskan, dan didinginkan kembali. Seterusnya dilakukan sampai 3 kali. Hal tersebut dilakukan agar tercapai massa mucilago yang kental. Setelah itu, jus buah mangga ditimbang dan diperoleh massa sebesar 286,5 gr. Penimbangan dilakukan agar diperoleh massa jus buah mangga yang terpakai saat granulasi basah. Kemudian dipersiapkan baskom yang sudah mengandung 92,5 gr laktosa. Jus buah mangga yang telah menjadi massa mucilago perlahan-lahan dimasukkan ke dalam baskom dalam jumlah yang sedikit demi sedikit. Setelah dimasukkan, diaduk dengan tangan hingga memperoleh massa yang dapat dikepal. Kemudian sisa jus buah mangga ditimbang dan diperoleh massa sebesar 281,9 gr. Maka dapat diketahui massa jus buah mangga yang terpakai dalam proses granulasi basah, yaitu dari pengurangan jus buah mangga sebelum granulasi basah dan setelah granulasi basah, dan diperoleh massa sebesar 4,6 gr.

Setelah terbentuk massa granul, maka granul pun diayak dengan menggunakan ayakan mesh no. 10. Setelah itu massa granul dikeringkan dalam oven suhu 65-75oC. Pengeringan tidak boleh dilakukan pada suhu yang terlalu tinggi karena dapat merusak granul dan juga tidak terlalu rendah karena tidak sepenuhnya kering dan dapat mengganggu pada hasil akhir. Waktu pengeringan juga tidak boleh terlalu lama yaitu selama 12 jam. Setelah dikeringkan, massa granul ditimbang kembali dan diperoleh massa sebesar 91, 3 gr. Maka, pada proses pengeringan sejumlah 190,6 gr massa granul hilang. Kemudian dari granul kering tersebut diambil 10 gr untuk uji loss on drying. Uji loss on drying dilakukan dengan menyalakan alat kemudian meletakkan 10 gr serbuk di dalamnya dan diketahui berat awalnya. Kemudian ditekan tombol start dan alat bekerja selama 10 menit. Setelah 10 menit, dapat diketahui berat akhirnya dan tekan tombol stop, lalu alat dimatikan. Kemudian dihitung kadar airnya. Selama dilakukan uji loss on drying, sisa granulnya ditambahkan bahan-bahan fase luar yang telah disiapkan, yaitu sukrosa, vitamin C, asam sitrat, natrium bikarbonat, dan natrium klorida. Pertama, masing-masing fase luar ditimbang. Granul kering dicampur dengan sukrosa, natrium klorida, dan natrium bikarbonat. Pencampuran dilakukan dalam plastik dan dikocok sampai homogen (campuran I). Kemudian di plastik yang terpisah dicampurkan asam sitrat dan vitamin C lalu dikocok sampai homogen (campuran II). Kedua campuran kemudian digabung dan dikocok sampai homogen hingga semua bahan-bahan terdistribusi merata. Setelah dilakukan pencampuran dengan fase luar, dilakukan uji evaluasi serbuk selain uji loss on drying yaitu uji laju alir dan uji kerapatan serbuk. Uji laju alir dilakukan dengan memasukkan 25 gr serbuk ke dalam corong kemudian stopwatch dinyalakan bersamaan dengan penutup bawah dibuka. Serbuk pun mengalir dan jatuh ke bawah yang telah dialasi kertas perkamen. Lalu dihitung tinggi dan diameter serbuk yang jatuh dengan menggunakan penggaris. Kemudian dihitung

laju alir dan sudut istirahatnya. Pada uji kerapatan serbuk, sebanyak 25 gr serbuk dimasukkan ke dalam gelas ukur yang terpasang ke alat. Kemudian dilihat volume awalnya. Lalu alat dinyalakan dan tunggu selama 5 menit. Setelah 5 menit, alat dimatikan, dan dilihat volume akhirnya. Setelah itu, dihitung kerapatan nyata, kerapatan mampat, dan kompresibilitasnya. Setelah dilakukan pengujian granul instan LOD, laju alir , dan sieve tester. Kemudian dilakukan uji evaluasi akhir sediaan granul instan. Granul instan menurut literature yang ada yaitu memiliki ukuran partikel fines yang tidak terlalu banyak, sehingga berbentuk partikel pertikel kasar seperti pasirt. Sedangkan granul instan yang didapat pada kelompok 4 yaitu fines terlalu banyak dan terlalu halus sehingga didapat berbentuk serbuk. Beberapa factor yang menyebabkan bentuk granul yang terlalu halus atau fines yang terlalu banyak sehingga terbentuk serbuk, factor yang pertama yaitu kurangnya zat pengikat yang dicampurkan dengan talcum. Jus manga instan yang dimasukkan terlalu sedikit sehingga talcum masih dalam dalam berbentuk serbuk, walaupun masa sudah dapat dikepal namun zat pengikat yang terkandung pada talcum hanya sedikit. Ini menyebabkan pada saat proses pengayakan masa yang dapat dikepal dengan menggunakan mesh 10 tersebut tidak terbentuk granul secara sempurna. Tidak terjadi proses pengayakan secara sempurna sehingga granul setelah dikeringkan masih dalam bentuk serbuk. Kemudian factor kedua yaitu kurang merata pada saat pengadukan zat pengikat dengan talcum. Ini dapat terjadi karena proses mixing dilakukan dengan menggunakan tangan manusia sehingga besar kemungkinan tidak tercampur dengan merata dan homogen. Pencampuran yang tidak homogen tersebut yang menyebabkan ada bagian yang kering atau tidak terdapat pengikat yang terayak sehingga keluar setelah diayak masih dalam bentuk serbuk. Factor yang ketiga yaitu formulasi yang tidak tepat. Perbandingan talcum dan jus manga instan yang digunakan sebagai pengikat harus sesuai atau memiliki daya granulasi yang baik. Perbandingan ini dapat terbentuk dengan baik melalui proses percobaan terus menerus dengan komposisis formula yang berbeda beda sehingga dapat diambil hasil granulasi yang terbaik maka itulah perbandingan yang dapat dikatakan baik. Mungkin pada formulasi talcum terlalu banyak atau jus manga yang digunakan sebagai pengikat yang terlalu sedikit sehingga komposisi perbandingan antara kedua zat untuk membentuk granulasi instan yang baik tidak tercapai. Factor ketiga yaitu nomor mesh ayakan yang tidak cocok. Granul pada literature menggunakan ayakan mesh dengan nomor 8-14. Namun pada

praktikum kali ini mesh yang digunakan 10, seharusnya mesh yang digunakan lebih kecil yaitu 14 sehingga tekanan masa tersebuk lebih besar sehingga terbentuk granul granul halus. Kemudian selain uji evaluasi akhir secara bentuk granul kemudian berdasarkan warna atau bidang estetika. Granul instan yang terbentuk seharusnya terdapat waran kuning lemah sesuai dengan jus manga yang digunakan sebagai pengikat. Warna kuning alami akan terbentuk dengan penggunaan jus manga, warna kuning pada hasil granulasi tidak terlalu menonjol. Ini bisa terjadi karena juss manga yang digunakan terlalu sedikit. Sehingga warna jus manga tertutup dengan warna putih dari zat dasar tersebut yaitu talcum, lalu tertutup pula dengan zat zat fase luar yang dicampurkan terakhir. Oleh karena itu untuk mengatasi warna yang tidak menonjol maka pada fase sebelum dilakukan granulasi seharusnya juss manga yang dicampurkan banyak sehingga warna kuning menonjol dan warna tersebut terang sehingga tidak tertutup dengan warna putih dari zat zat lain yang dicampurkan.