Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN COMOTIO CEREBRI

A. Pengertian Dalam beberapa buku dan literatur ada beberapa definisi dari Comotio cerebri atau gegar otak, diantaranya yaitu: Kamus Kedokteran, 2000 Comotio cerebri atau gegar otak adalah gangguan fungsional sementara tanpa kelainan organik, disebabkan oleh benturan langsung atau tidak langsung. Hudak & Gallo,1996 Gegar serebral adalah sindrom yang melibatkan bentuk ringan dari cedera otak menyebar. ini adalah disfungsi neurologis sementara dan bersifat dapat pulih dengan atau tanpa kehilangan kesadaran. Engram B, 1998 Comotio Cerebri adalah suatu keadaan yang ditandai dengan kehilangan kesadaran sementara tanpa adanya kerusakan jaringan otak.

B. Kriteria Cedera Kepala Kategori penentuan keparahan Cedera Kepala berdasarkan nilai Glasgow Coma Scale (GCS). (Arif Mansjoer,dkk, 2000, hal 3) Ringan : GCS 14-15 Sedang : GCS 9-13 Berat : GCS 3-8 Kategori penentuan keparahan Cedera Kepala menurut Barbara C Long, 1996, hal 204 : Cedera Kepala bisa terbuka atau tertutup. Luka kepala terbuka akibat Cedera Kepala dengan pecahnya tengkorak, sedangkan Cedera Kepala tertutup diantaranya adalah : Comotio Cerebri : Tidak ada perubahan struktur Kontusio Cerebri : Ada perubahan struktur Laserasi : Ada perubahan struktur dan ada perdarahan. Menurut Mansjoer, (2000) cedera kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme, keparahan dan morfologi cedera :

a. Berdasarkan mekanisme cedera 1) Trauma tumpul Kecepatan tinggi (tabrakan otomobil), Kecepatan rendah (terjatuh, dipukul) 2) Trauma tembus Luka tembus peluru dan cedera tembus lainnya b. Berdasarkan keparahan cedera 1) Cedera kepala ringan a) Skor skala koma Glasgow (GCS) 15 (sadar penuh, atentif, dan orientatif) b) Tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi) c) Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang d) Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing e) Pasien dapat menderita abrasi, laserasi, atau hematoma kulit kepala f) Tidak ada kriteria cedera sedang-berat. 2) Cedera kepala sedang (kelompok resiko sedang) a) Skor skala koma Glasgow (GCS) 9-14 ( konfusi, letargi, ataustupor) b) Konkusi c) Amnesia pasca trauma d) Muntah e) Tanda kemungkinan fraktur kranium (mata rabun) f) Kejang 3) Cedera kepala berat (kelompok resiko berat) a) Skor skala koma Glasgow (GCS) 3-8 (koma) b) Penurunan derajat kesadaran secara progresif c) Tanda neurologi fokal d) Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium.

c. Berdasarkan morfologi 1) Fraktur tengkorak Kranium Basis nervus VII : linear/stelatum; depresi/nondepresi; terbuka/ tertutup : dengan/tanpa kebocoran cairan serebrospinal dengan tanpa kelumpuhan

2) Lesi intrakranial Fokal Difus : epidural, subdural, intracerebral : konkusi ringan, konkusi klasik, cedera aksonal difus.

C. Etiologi Etiologi Comotio Cerebri biasanya berasal dari trauma langsung dan tidak langsung pada kepala : 1. Trauma tidak langsung disebabkan karena tingginya tahanan atau kekuatan yang merobek terkena pada kepala akibat menarik leher. 2. Trauma langsung bila kepala langsung terluka. Yang bisa mengakibatkan trauma langsung maupun tidak langsung diantaranya adalah kecelakaan bermotor, jatuh, kecelakaan industri, dan olah raga. (Barbara, C.Long, 1996, hal. 203)

D. Patofisiologi Kranium merupakan struktur kuat yang berisi darah, jaringan otak dan jaringan serebrospinal. Fungsi cerebral tergantung pada adekuatnya nutrisi seperti oksigen, glukosa. Berat ringannya cedera kepala tergantung pada trauma kranium atau otak. Cedera yang dialami dapat gegar otak, memar otak atau laserasi, fraktur dan atau hematoma (injury vaskuler, epudural ; epiduralatau subdural hematoma). Cedera kepala yang terjadi dapat berupa percepatan (aselerasi) atau perlambatan (deselerasi). Trauma dapat primer atau sekunder. Trauma primer adalah trauma yang langsung mengenai kepala saat kejadian. Sedangkan trauma sekunder merupakan kelanjutan dari trauma primer. Trauma sekunder dapat terjadi meningkatnya tekanan intrakranial, kerusakan otak, infeksi dan edema cerebral. Epidural hematoma merupakan injury pada kepala dengan adanya fraktur pada tulang tengkorak dan terdapat lesi antara tulang tengkorak dan dura. Perdarahan ini dapat meluas hingga menekan cerebral oleh karena adanya tekanan arteri yang tinggi. Gejalanya akan tampak seperti kebingungan atau kesadaran delirium, letargi, sukar untuk dibangunkan dan akhirnya bisa koma. Nadi dan nafas menjadi lambat, pupil dilatasi dan adanya hemiparese.

Subdural hematoma adalah cedera kepala dimana adanya ruptur pembuluh vena dan perdarahan terjadi antara dura dan serebrum atau antara duramater dan lapisan arakhnoid. Terdapat dua tipe yaitu subdural hematoma akut dan kronik. Bila akut dapat dikaitkan dengan kontusio atau laserasi yang berkembang beberapa menit atau jam. Manifestasi tergantung pada besarnya kerusakan pada otak dan usia anak, dapat berupa kejang, sakit kepala, muntah, meningkatnya lingkar kepala, iritabel dan perasaan mengantuk. Cerebral hematoma adalah merupakan perdarahan yang terjadi akibat adanya memar dan robekan pada cerebral yang akan berdampak pada perubahan vaskularisasi, anoxia dan dilatasi dan edema. Kemudian proses tersebut akan terjadilah herniasi otak yang mendesak ruang disekitarnya dan menyebabkan meningkatnya tekanan intrakranial. Dalam jangka waktu 24 72 jam akan tampak perubahan status neurologi. Fraktur yang terjadi pada cedera kepala dapat berupa fraktur linear, farktur depresi, fraktur basiler, fraktur compound (laserasi kulit dan fraktur tulang). Perubahan oksigenisasi akibat trauma otak dapat dilihat pada bagan berikut : Gangguan oksigenisasi Kekurangan suplay oksigen Gangguan metabolisme Edema jaringan otak Meningkatnya volume dan tekanan intrakranial Tekanan intrakranial meningkat Sumber : Suriadi dan Yuliani (2011)

Comotio Cerebri dengan disertai edema dapat menyumbat sirkulasi CSF baik langsung atau tidak yang berakibat tekanan intrakranial meningkat. Bersamaan dengan terjadinya edema otak gangguan sirkulasi lokal maupun sistemik dan dapat disertai anoksia. (Barbara C. Long, 1996, hal. 204)

Comotio Cerebri dapat menyebabkan perubahan fisiologis sehingga terjadi gangguan faal berbagai organ : 1) Pola Pernafasan Karena neurofisiologi pernafasan sangat kompleks, kerusakan neurologis dapat menimbulkan masalah pada beberapa tingkat. Beberapa lokasi pada hemisfer serebral mengatur kontrol volunter terhadap otot yang digunakan pada pernafasan pada sinkronisasi dan koordinasi serebelum pada upaya otot. Nukleus dan area otak tengah dari batang otak mengatur automatisasi pernafasan. Pusat ini bisa dicederai oleh peningkatan TIK dan hipoksia serta oleh cedera langsung atau interupsi aliran darah. Comotio Cerebri yang mengubah tingkat kesadaran biasanya menimbulkan hipoventilasi alveolar karena nafas dangkal. Faktor ini akhirnya dapat menimbulkan gagal pernafasan yang mengakibatkan laju mortalitas tinggi pola pernafasan berbeda dapat diidentifikasi bila terdapat disfungsi intrakranial. (Hudak dan Gallo, 1996, hal. 229).

2) Kerusakan Mobilitas Fisik Akibat utama dari Comotio Cerebri dapat mempengaruhi gerakan tubuh. Hemisfer atau hemiplegia dapat terjadi sebagai akibat dari kerusaka pada area motorik otak. Selain itu, pasien dapat mempunyai kontrol volunter terhadap gerakan dalam menghadapi kesulitan perawatan diri dan kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan postur, spastisitas atau kontraktur. Pada disfungsi hemisfer bilateral atau disfungsi pada tingkat batang otak, terdapat kehilangan penghambat serebral dari gerakan atau nuclonter terdapat gangguan tonus otot dan penampilan postur abnormal yang pada saatnya dapat membuat komplikasi seperti peningkatan spasitisitas dan kontraktur. (Hudak dan Gallo, 1996, hal. 230).

3) Keseimbangan Hidrasi Hampir semua pasien Comotio Cerebri akan mempunyai masalah untuk mempertahankan status hidrasi yang seimbang. Dalam keadaan stress fisiologis makin banyak hormon antidiuretik dan makin banyak aldosteron di produksi mengakibatkan

retensi cairan dan natrium. Proses membaik dengan sendirinya dalam sehari atau dua hari bila diuresis terjadi. (Hudak dan Gallo, 1996, hal. 230-231).

4) Aktivitas Menelan Suatu keadaan katabolisme dan keseimbangan nitrogen negatif adalah temuan yang umumnya pada pasien dengan Comotio Cerebri. Gangguan area motorik dan sensorik dari hemisfer serebral akan merusak kemampuan untuk mendeteksi adaya makanan pada sisi mulut dipengaruhi dan untuk memanipulasinya dengan gerakan pipi dan lidah. Selain itu reflek menelan dari batang otak mungkin hiperaktif atau menurun sampai hilang sama sekali. Hasil fungsional adalah tersedak, batuk tidak efektif atau tidak dan aspirasi makanan atau cairan. (Hudak dan Gallo, 1996, hal. 231-233).

5) Kemampuan Komunikasi Pasien dengan Comotio Cerebri disertai gangguan, kemampuan komunikasi bukan tidak terjadi secara tersendiri. Kerusakan ini akibat dari kombinasi efek-efek disorganisasi dan kekacauan proses bahasa dan gangguan afasia khusus, bila ada. Pasien yang telah mengalami cedera pada area hemisfer serebral dominan dapat menunjukkan disfasia. Kehilangan kemampuan untuk menggunakan bahasa dalam beberapa hal bahkan mungkin semua bentuk dari bahasa tersebut. (Hudak dan Gallo, 1996, hal. 233).

E. Manifestasi Klinik Manifestasi Klinis Comotio Cerebri menurut Hudak & Gallo, 1996 : Penurunan kesadaran beberapa detik, disorientasi dan bingung dalam waktu yang relatif singkat. Sakit kepala Tidak mampu untuk berkonsentrasi Gangguan memori sementara Beberapa penderita mengalami amnesia retrograde

F. Penatalaksanaan Medis Menurut Mansjoer, (2000) penatalaksanaan cedera kepala adalah : a. Cedera Kepala Ringan Pasien dengan cedera kepala ini umumnya dapat dipulangkan ke rumah tanpa perlu dilakukan CT-Scan bila memenuhi kriteria berikut : 1. Hasil pemeriksaan neurologis (terutama status mini mental dan gaya berjalan) dalam batas normal. 2. Foto servikal jelas normal 3. Adanya orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasien 24 jam pertama, dengan instruksi untuk segera kembali kebagian gawat darurat jika timbul gejala yang lebih buruk. Kriteria perawatan di rumah sakit : 1) Adanya perdarahan intrakranial atau fraktur yang tampak pada CT Scan. 2) Konfusi, agitasi, atau kesadaran menurun 3) Adanya tanda atau gejala neurologis fokal 4) Intoksikasi obat atau alcohol 5) Adanya penyakit medis komorbid yang nyata 6) Tidak adanya orang yang dapat dipercaya untuk mengamati pasien di rumah.

b. Cedera Kepala Sedang Pasien yang menderita konkusi otak (comotio cerebri), dengan skala GCS 15 (sadar penuh, orientasi baik dan mengikuti perintah) dan CT Scan normal, tidak perlu dirawat. Pasien ini dapat dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat nyeri kepala, mual, muntah, pusing atau amnesia. Resiko timbulnya lesi intrakranial lanjut yang bermakna pada pasien dengan cedera kepala sedang adalah minimal.

c. Cedera Kepala Berat Setelah penilaian awal dan stabilitasi tanda vital, keputusan segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah saraf segera (hematoma intrakranial yang besar). Jika ada indikasi, harus segera dikonsultasikan ke bedah saraf untuk tindakan operasi. Penatalaksanaan cedera kepala berat sebaiknya perawatan dilakukan di

unit rawat intensif. Walaupun sedikit sekali yang dapat dilakukan untuk kerusakan primer akibat cedera kepala, tetapi sebaiknya dapat mengurangi kerusakan otak sekunder akibat hipoksia, hipertensi, atau tekanan intrakranial yang meningkat. Dalam unit rawat intensif dapat dilakukan hal-hal berikut : 1) Penilaian ulang jalan nafas dan ventilasi 2) Monitor tekanan darah 3) Pemasangan alat monitor tekanan intraktranial pada pasien dengan skor GCS < 8, bila memungkinkan. 4) Penatalaksanaan cairan : hanya larutan isotonis (salin normal dan ringer laktat) 5) Nutrisi 6) Temperatur badan 7) Anti kejang fenitoin 15 20 mg/kg BB bolus intravena 8) Steroid deksametason 10 mg intravena setiap 4 6 jam selama 48 72 jam 9) Antibiotik 10) Pemeriksaan Dapat menberikan manfaat terhadap kasus yang ragu-ragu. Harus dilakukan pemeriksaan sinar X tulang kepala, bila bertujuan hanya untuk

kepentingan medikolegal.

Menurut American College of Surgeons, (1997), penatalaksanaan pada cedera kepala adalah : a. Cedera Kepala Ringan (GCS 14-15) Semua penderita cedera kepala ringan diperiksa CT-Scan, terutama bila dijumpai adanya kehilangan kesadaran yang cukup bermakna, amnesia atau sakit kepala hebat. Kriteria perawatan dirawat di RS adalah : 1) CT-Scan tidak ada 2) CT-Scan abnormal 3) Semua cedera tembus 4) Riwayat hilang kesadaran 5) Sakit kepala sedang-berat 6) Intoksikasi alkohol/ obat-obatan

7) Fraktur tengkorak 8) Rhinorea otorea 9) Tidak ada keluarga di rumah 10) Tidak mungkin kembali ke RS segera 11) Amnesia. Pasien dengan cedera kepala ringan dipulangkan dari RS adalah : 1) Tidak memenuhi kriteria rawat 2) Kontrol ke Rumah Sakit/ dokter bila ada tanda seperti Mengantuk berat atau sulit dibangunkan (penderita harus dibagunkan setiap 2 jam selama periode tidur) Mual dan muntah Kejang Perdarahan atau keluar cairan dari hidung atau telinga Sakit kepala hebat Kelemahan atau rasa baal pada lengan atau tungkai. Bingung atau perubahan tingkah laku Salah satu pupil mata (bagian mata gelap) lebih besar dari yang lain, gerakangerakan aneh bola mata, melihat dobel atau gangguan penglihatan lain. Denyut nadi yang sangat lambat atau sangat cepat, atau pola nafas yang tidak biasa.

b. Cedera Kelapa Sedang (GCS 9-13) Pasien cedera kepala sedang biasanya tampak kebingungan/ mengantuk, namun masih mampu mengikuti perintah-perintah sederhana. Pemeriksaan awal sama dengan untuk cedera kepala ringan ditambah pemeriksaan sederhana, pemeriksaan CT-Scan Kepala, dirawat untuk diobservasi, amnesia retrograde adalah kehilangan kesadaran sewaktu kejadian. Setelah dirawat di Rumah sakit dilakukan pemeriksaan neurologis periodik, pemeriksaan CT-Scan ulang bila kondisi penderita memburuk, bila penderita tidak mampu melakukan perintah-perintah lagi segera lakukan pemeriksaan CT-Scan ulang

dan penatalaksanaan sesuai protokol cedera kepala berat. Bial kondisi membaik 90 %, penderita dipulangkan dan kontrol ke poliklinik.

c. Cedera Kepala Berat (GCS 3-8) Penderita dengan cedera kepala berat tidak mampu melakukan perintah-perintah sederhana walaupun status kardiopulmonalnya telah di stabilisasi, pemeriksaan dan penatalaksaannya adalah : ABCDE a) Airway Membebaskan jalan nafas dengan memasang intubasi endotrakheal b) Breathing Diberikan ventilasi oksigen 100% sampai diperoleh hasil pemeriksaan analisis gas darah c) Circulation Hipotensi biasanya disebabkan oleh cedera otak itu sendiri kecuali pada stadium terminal dimana medulla oblongata sudah mengalami gangguan. Respon buka mata, respon motorik, respon verbal, reaksi cahaya pupil, reflek okulosefalik, reflek okulovestibuler. d) Drugs dan Fluids Pemberian obat-obatan kalau perlu cairan infus sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang yaitu monitol, steroid, furosemid, balbiturat, anti konvulsan. e) Elektro Cardio Graphy CT-Scan semua penderita, Ventrikulografi udara, angiogram.

G. Komplikasi Menurut Mansjoer, (2000) komplikasi yang dapat terjadi pada cedera kepala adalah : a. Kebocoran cairan serebrospinal dapat disebabkan oleh rusaknyaleptomeningen dan terjadi pada 2 6% pasien dengan cedera kepala tertutup. b. Fistel karotis-kavernosus ditandai oleh trias gejala : eksolelamos,kemosis,dan bruit orbita, dapat timbul segera atau beberapa hari setelah cedera.

c. Diabetes insipidus dapat disebabkan oleh kerusakan traumatik pada tangkai hipofisis, menyebabkan penghentian sekresi hormon antidiuretik d. Edema pulmonal, komplikasi paru-paru yang serius pada pasien cedera kepala adalah edema paru. Ini mungkin terutama berasal dari gangguan neurologis atau akibat dari sindrom distres pernapasan dewasa. e. Kejang pasca trauma dapat terjadi segera (dalam 24 jam), dan (minggu pertama) atau lanjut (setelah satu minggu).

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT TEORITIS COMOTIO CEREBRI

A. Pengkajian 1) Identitas pasien. Identitas pasien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa dan tanggal masuk ruangan. 2) Riwayat Kesehatan dan pemeriksaan fisik Menurut Smeltzer & Bare, (2001), riwayat kesehatan yang perlu dikaji/ ditanyakan adalah kapan cedera terjadi? apa penyebab cedera? Peluru kecepatan tinggi? Objek apa yang terbentur kepala? Dari mana arah dan kekuatan pukulan? Apakah ada kehilangan kesadaran? Durasi periode tidak sadar? Dapatkah pasien dibangunkan? Riwayat tidak sadar atau amnesia terhadap cedera kepala menunjukkan derajat kerusakan otak yang berarti, dimana perubahan selanjutnya dapat menunjukkan terjadi pemulihan kerusakan otak sekunder.

Menurut Engram.B,(1999), riwayat kesehatan yang perlu dilakukan adalah pengkajian neurologis cepat amati kepala dan belakang kepala bila terjadi luka atau edema. Periksa hidung dan telinga kalau memungkinkan ada darah atau cairan bening yang keluar. Bila ada gunakan kertas deabetik untuk memeriksa ada tidaknya cairan serebrospinal (CSS). Bila tes glukosa positif menunjukkan adanya CSS, bila pasien sadar dan orientasinya penuh, kaji respon klien terhadap kondisi dan pemahamannya tentang kondisi serta rencana penanganan.

Menurut Suriadi & Yuliani, (2001), pada saat melakukan pengkajian riwayat kesehatan perlu diperhatikan hal penting, saat kejadian, tempat, bagaimana posisi saat kejadian, serangan, lamanya, faktor pencetus adanya fraktur dan status kesadaran. Status neurologis yang perlu dikaji perubahan kesadaran, pusing kepala, vertigo, menurunnya refleks, malaise, kejang, iritabel, kegelisahan atau agitasi. Pupil yang diperiksa adalah ukuran, refleks terhadap cahaya, hemiparesis, letargi dan koma, mual muntah, kesukaran bernafas atau sesak, napas lambat, hipotensi , bradikardi.

1. Primary Survey 1) Airway : kaji adanya sumbatan parsial berupa cairan 2) Breathing : frekuensi respirasi cepat, serak, batuk, mengi, sianosis, gerakan dada tidak simetris, ditemukan pula frekuensi respirasi dalam rentang normal. 3) Circulation : Hipotensi (syok), penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera, vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin, takikardi (syok/ ansietas/ nyeri), disritmia (syok) pembentukan edema jaringan, perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi), perubahan frekuensi jantung (bradikardi, takikardi yang diselingi dengan bradikardi, disritmia. 4) Disability : a. Alert : Kehilangan kesadaran sementara, penurunan GCS, amnesia seputar kejadian, perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental orientasi kewaspadaan, perhatian, konsentrasi pemecahan masalah, perubahan pupil (respons terhadap cahaya, simetri) b. Verbal : dapat menunjukkan disfasia, tidak dapat mengikuti perintah, Afasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang, disartia, anomia. c. Pain : Wajah menyeringai, respons menarik pada rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa beristirahat, merintih. d. Unrespon : ditemukan klien yang tidak dapat merespom rangsangan nyeri.

2. Secondary Survey a. Keadaan Umum : tampak sakit ringan (GCS 15), sakit sedang (GCS 9-14), sakit berat (GCS 3-8) b. Kesadaran : compos mentis, somnolen, apatis, soporocomatous, coma c. TTV : perubahan tekanan darah (normal, hipertensi atau hipotensi), vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, d. Kepala : kaji adanya hematom, luas hematom dan regio hematom, adanya jejas e. Mata : kaji kesimetrisan mata, keadaan pupil, conjungtiva anemis -/+, sclera icteric /+, adanya hematom dan jejas

f. Hidung : kaji kesimetrisan hidung, adanya cairan (secret/darah), adanya jejas dan hematom g. Mulut : kaji kesimetrisan mulut, adanya cairan yang keluar (secret/darah), adanya jejas dan hematom h. Leher : kaji adanya jejas dan hematom i. Dada : kaji kesimetrisan dada, adanya jejas dan hematom j. Perut : kaji bentuk, adakah bayangan vena, adanya jejas/ hematom k. Kelamin : kaji adanya jejas dan hematom l. Ekstremitas atas : kaji adanya jejas dan hematom m. Ekstremitas bawah : kaji adanya jejas dan hematom n. Anus : kaji adanya jejas dan hematom o. Kulit : kaji akral (hangat/dingin), mukosa kulit, adanya sianosis p. Psikososial : kaji pola mekanisme koping terhadap stress, pola nilai dan kepercayaan, pola eliminasi dan nutrisi, dan lain-lain. q. Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan laboratorium, CT Scan, MRI (Magnetic Reaconance Imaging), Angiografi, BAER (Brain Auditory Evoked Respons), PET (Posttarn Emission Tomography), GDA (Gas Darah Arteri)

B. Pemeriksaan Diagnostik Menurut Tucker, et al (1998), pemeriksaan diagnostik yang dilakukan dalam menegakkan diagnosa adalah : 1) Pemeriksaan sinar X tulang tengkorak 2) Pemeriksaan sinar X servikal 3) CT Scan 4) MRI (Magnetic Reaconance Imaging) 5) Punksi lumbal, pengambilan contoh CSS 6) Pneumoensefalogram 7) Sistogram 8) GDA (Gas Darah Arteri) 9) EEG (Elektro Ensefalo Grafi) 10) EKG (Elektro Kardio Grafi)

Menurut Doenges, (1999), pemeriksaan diagnostik menegakkan media adalah : 1) CT Scan 2) MRI (Magnetic Reaconance Imaging) 3) Angiografi 4) BAER (Brain Auditory Evoked Respons) 5) PET (Posttarn Emission Tomography) 6) GDA (Gas Darah Arteri)

yang dilakukan dalam

C. Patoflodiagram Cidera kepala TIK - oedem - hematom Respon biologi Hypoxemia

Kelainan metabolisme Cidera otak primer Kontusio Laserasi Kerusakan cel otak Cidera otak sekunder

Gangguan autoregulasi

rangsangan simpatis

Stress

Aliran darah keotak

tahanan vaskuler Sistemik & TD

katekolamin sekresi asam lambung

O2 ggan metabolisme

tek. Pemb.darah

Mual, muntah

Pulmonal

Asam laktat

tek. Hidrostatik

Asupan nutrisi kurang

Oedem otak

kebocoran cairan kapiler

NDx. Gangguan perfusi jaringan oedema paru cardiac out put Cerebral Difusi O2 terhambat NDx. Gangguan perfusi jaringan

NDx. Pola Nafas Tidak Efektif hipoksemia, hiperkapnea

D. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul 1. Airway : 1) Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif b/d Hambatan Jalan Nafas (parsial/total) 2) Gangguan Perfusi Jaringan Cerebral b/d penghentian aliran darah oleh (hemoragi, hematoma). 2. Breathing : 1) Pola Nafas Tidak Efektif b/d Kerusakan Neurovaskuler 2) Pertukaran Gas Tidak Efektif b/d 3. Circulation : 1) Perfusi Jaringan Kapiler Tidak Efektif b/d 2) Volume Cairan Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b/d Perdarahan

E. Intervensi dan Rasional 1) Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif b/d Hambatan Jalan Nafas (parsial/total) 1. Bersihkan Jalan Nafas Klien dengan Suction R : suction digunakan untuk membebaskan jalan nafas klien dari sumbatan cairan

2. Lakukan Jaw Trust R : untuk membebaskan jalan nafas klien dari sumbatan total 2) Gangguan Perfusi Jaringan Cerebral b/d penghentian aliran darah oleh (hemoragi, hematoma). 1. Pantau/ catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar (misalnya GCS) R : Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran adan potensi peningkatan TIK dan bermanfaaat dalam menentukan lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan susunan saraf pusat (SSP). 2. Pantau tekanan darah R : Normalnya, autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan pada saat ada fluktuasi tekanan darah sistemik. Kehilangan autoregulasi dapat mengikuti kerusakan vaskularisasi cerebral lokal atau menyebar (menyeluruh) 3. Evaluasi keadaan pupil, catat ukuran, ketajaman, kesamaan antara kiri dan kanan dan reaksinya terhadap cahaya. 3) Pola Nafas Tidak Efektif b/d Kerusakan Neurovaskuler 1. Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernafasan, catat ketidakteraturan pernafasan. R : Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal (umumnya mengikuti cedera otak) atau menandakan lokasi/ luasnya keterlibatan otak. Pernafasan lambat, periode apnoe dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis. 2. Lakukan pengisapan lendir dengan ekstra hati-hati selama 10 15 detik, catat sifat, warna dan kekeruhan dari sekret. R : Persiapan biasanya dibutuhkan jika pasien koma atau dalam keadaan imobilisasi dan tidak dapat membersihkan jalan nafasnya sendiri. 4) Pertukaran Gas Tidak Efektif b/d 1. Berikan O2 sesuai kebutuhan pasien R : memenuhi kebutuhan O2 pasien 2. Kaji frekuensi pernapasan, irama, dan bunyi napas R : untuk mengetahui keefektifan pemberian terapi O2 pada klien comotio cerebri 5) Perfusi Jaringan Kapiler Tidak Efektif b/d 1. Kaji lama Cavillary Time Refill klien

R : mengetahui kenormalan dari perfusi jaringan kapiler 2. Kaji apakah klien tampak sianosis R : mengetahui suplai dari O2 ke jarigan kapiler 6) Volume Cairan Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b/d Perdarahan 1. Berikan terapi cairan sesuai indikasi dokter R : rehidrasi segera mungkin dilakukan untuk mencegah dehidrasi lanjut 2. Kaji kebutuhan cairan klien R : memenuhi kebutuhan cairan yang di butuhkan