Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PBL 2

BLOK KEDOKTERAN ADIKSI AMFETAMIN

Dibimbing oleh: dr. Florentina Marwisitaningrum Disusun oleh: Kelompok PBL 12 Anastasia Lilian Tia Listyana Edu William Alvince Thomas Antonia Valentine Puspasari Yohanes Iddo Adventa Natallia Batuwael Jessica Janice Luhur Mirsha Pauline Octaviani Handi Tri Effendi 2008-060-198 2008-060-218 2008-060-222 2008-060-226 2008-060-227 2008-060-236 2008-060-239 2008-060-242 2008-060-245 2008-060-248 2008-060-249

Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya JAKARTA

2011

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Adiksi merupakan kondisi dimana seseorang sudah tidak lagi mempunyai kendali terhadap perilaku kecanduannya. Dalam konteks kecanduan narkoba, maka zat-nya bisa Heroin (putau), sabu, ganja, pills, dll. Dalam pendekatan yang lain, Adiksi merupakan Penyakit. Chronicle relapsing disease atau penyakit kronis yang mudah relaps. Narkoba dikenal juga sebagai mood altering drugs. Narkoba mampu merubah tingkat kesadaran dan kondisi emosi orang yang menggunkannya efeknya seperti apa, tergantung dari jenis narkoba yang digunakan. Ada yang tergolong stimulan (mis: ekstasi, shabu, kokain, dll), ada yang tergolong depresan (putau, alkohol, dll), dan ada juga yang tergolong halusinogen (Ganja, magic mushroom, LSD). Dalam PBL kali ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai amfetamin atau yang sering disebut shabu-shabu (metamfetamin). Amfetamin adalah suatu senyawa sintetik yang tergolong perangsang susunan saraf pusat, seperti kafein yang terdapat dalam kopi dan nikotin yang terdapat dalam tembakau. Metamfetamin (sabu-sabu) merupakan salah satu jenis amfetamin. Metamfetamin adalah bubuk kristal putih yang tidak berbau, pahit rasanya dan mudah larut dalam air maupun alkohol. Metamfetamin baru dikenal dalam bidang terapi pada tahun 1940-an. Penggunaan metamfetamin mulai meluas di kota-kota besar di Indonesia pada tahun 1998. Di Indonesia, penggunaan metamfetamin untuk mengurangi berat badan dan untuk bertahan tidak tidur (supaya bisa bekerja atau belajar sampai larut malam). Di Indonesia, metamfetamin banyak disalahgunakan. Dalam dosis tinggi, metamfetamin meningkatkan suhu badan dan kejang, yang bisa berakibat kematian. Untuk itu, penting bagi kami mahasiswa kedokteran untuk mempelajari secara mendalam tentang metamfetamin.

1.2

Skenario Pasien laki-laki, 30 tahun datang dengan keluhan utama tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan. Pasien sudah mengalami hal ini selama kurang lebih 2 minggu. Setelah ditanya lebih lanjut, pasien mempunyai riwayat penggunaan sabu-sabu selama kurang lebih 3 tahun. Pasien terakhir menggunakan sabu-sabu adalah sekitar satu bulan yang lalu. Pada saat itu pasien mulai mendengar suara-suara yang membisikinya untuk melakukan berbagai hal negatif. Pasien juga mengatakan bertemu dengan temantemannya yang sudah meninggal karena overdosis obat. Pasien sering merasa gelisah dan mudah tersinggung. Pasien mengatakan ada orang-orang yang ingin mencelakakannya. Karena gelisah dan halusinasi yang terus menerus maka pasien menghentikan penggunaan sabu-sabunya.

BAB II HASIL DISKUSI


STEP 1 STEP 2 Define the problems Identify unfamiliar terms

1. Sabu-sabu termasuk apa? Nama lain? 2. Efek dan mekanisme sabu-sabu (patofisiologi hubungan dengan lama pemakaian)? 3. Gejala-gejala intoksikasi, putus zat dan overdosis? 4. Mekanisme gejala putus zat? 5. Kriteria diagnosis pemakai sabu-sabu? Cara diagnosis? 6. Tata laksana (detoksifikasi, pascadetoksifikasi dan after care program)? 7. Pada kasus termasuk intoksikasi atau putus zat? 8. Mengapa bisa terjadi halusinasi dan gelisah? 9. Mekanisme obat dikaitkan dengan efeknya pada otak? 10. Alasan pake sabu-sabu, dikaitkan dengan jenisnya? 11. Prognosis dalam putus zat atau overdosis? 12. Gejala-gejala halusinasi, gelisah, penurunan konsentrasi (psikosis) yang ditujukan dikaitkan dengan pemakaian sabu-sabu?

STEP 3

Brainstorm - analyse/try to explain the problems

1. Shabu-shabu = CNS stimulant

Metamfetamin Psikosis: Waham kejar Halusinasi auditorik Flight of ideas Tilikan terganggu Delusi

2. 1 bulan berhenti, efeknya 2 minggu sulit konsentrasi (withdrawal syndrome). 3 tahun pakai sabu-sabu, efeknya (intoksikasi akut): Bersemangat Percaya diri Tidak butuh tidur Analgetik Kurangi napsu makan Euforia

Patofisiologi: Metamfetamin memicu keluarnya dopamin dapat menimbulkan kerusakan ireversibel neuron-neuron. 3. Gejala psikosis: akut dan kronis Gejala withdrawal: lesu, letih dan nafsu makan bertambah Gejala overdosis: bisa meninggal 4. Mekanisme gejala putus zat (withdrawal): negatif feedback untuk penurunan dopamin endogen. 5. Kriteria diagnosis pemakai sabu-sabu: Anamnesis: Tanyakan riwayat penggunaan zat? Tanyakan riwayat trauma atau penyakit lain? Tanyakan kapan gejala psikosis mulai muncul?

Tanyakan frekuensi dan dosis pemakaian zat? Apakah halusinasi timbul setelah berhenti obat? Sesuai dengan gejala Pupil midriasis Tekanan darah naik Pemeriksaan tanda-tanda vital

Pemeriksaan fisik:

Pemeriksaan penunjang: tes urin 6. Tata laksana awal: terapi simtomatik Detoksifikasi: terapi untuk melepaskan pasien dari overdosis, intoksikasi dan withdrawal. After care program: agar pasien dikuatkan kembali dan mendapat dukungan terus supaya tetap tidak menggunakan zat tersebut. 11. Prognosis: Overdosis: pasien bisa meninggal. Withdrawal: pasien memakai zat itu lagi.

STEP 4

Learning Objective

1. Mengetahui definisi, jenis, cara penggunaan amfetamin! 2. Mengetahui gejala intoksikasi, withdrawal, overdosis dan dosis-dosis metamfetamin! 3. Mengetahui patofisiologi metamfetamin! Efeknya ke otak atau ke perifer! 4. Mengetahui diagnosis penggunaan metamfetamin! 5. Mengetahui penggolongan metamfetamin menurut DSM / ICD 6. Mengetahui tata laksana gejala-gejala akibat penggunaan metamfetamin! 7. Mengetahui prognosis dan komplikasi gejala-gejala akibat penggunaan metamfetamin!

8. Mengetahui hubungan metamfetamin dengan psikosis!

STEP 5 STEP 6

Self Study Result

1. Amfetamin/speed = suatu senyawa sintetik yang menstimulasi kerja sistem saraf pusat atau psikostimulan. Nama kimia: alfa-metil-fenetilamin. Sejarah: Psikostimulan sudah dikenal sejak 5000 tahun silam di Tiongkok, yaitu ma-huang yang berasal dari tanaman Ephedra trifurka. Sekitar tahun 1887, Nagayoshi Nagai menemukan efedrin sebagai zat aktif dalam ma-huang. Pada tahun yang sama, seorang kimiawan asal Romania Lazar Edeleanu di Berlin berhasil mensintesis amfetamin yang merupakan salah satu komponen dari efedrin. Pada tahun 1933, salah satu derivat hasil sintesis amfetamin yaitu amfetamin rasemik (campuran laevo-isomer dan dekstro-isomer sulfas amfetamin) dipasarkan oleh Smith, Kline dan French dalam bentuk inhaler dengan merek dagang Benzedrine karena memiliki efek dilatasi bronchial pada penderita asma bronchial. Selain itu, dulu amfetamin juga digunakan untuk mengobati depresi ringan, parkinsonisme, penyakit menierre, buta malam, kolon iritabel, hipotensi, hiperkinetik dan obesitas. Pada tahun 1935, sebuah penelitian ilmiah oleh Nathanson meneliti efek subjektif dari amfetamin pada 55 pekerja rumah sakit yang diberi 20 mg Benzedrine, menyimpulkan bahwa amfetamin mengurangi kelelahan akibat bekerja dan memberikan perasaan gembira dan sehat. Penyalahgunaan amfetamin bermula pada saat PD II dimana banyak tentara menggunakan amfetamin untuk melawan kelelahan dan meningkatkan kesadaran. Setelah banyaknya laporan penyalahgunaan, pada tahun 1959 Food and Drug Administration (FDA) melarang inhaler Benzedrine dan membatasi amfetamin untuk resep dokter saja.

Di Indonesia, penggunaan amfetamin sudah dikenal sejak lama. Ditengarai metamfetamin dibawa oleh para tentara Jepang ke Indonesia pada saat PD II, sehingga dari sanalah nama sabu-sabu berasal.

Tujuan penggunaan medikasi: anak-anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) penderita narkolepsia obesitas karena efeknya yang meningkatkan konsentrasi dan menurunkan nafsu makan. Tujuan lain: digunakan oleh pekerja di bidang hiburan dan diskotik untuk meningkatkan performa mereka dan dipakai untuk tujuan rekreasional. Jenis amfetamin, yaitu: a) laevoamfetamin (Benzedrine) b) dextroamfetamin (Dexedrine) c) metamfetamin (Methedrine) Sediaan: Biasanya dalam bentuk bubuk putih yang tidak berbau, rasanya pahit, larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol, kecuali metamfetamin yang dapat larut dalam keduanya. Di pasar gelap warnanya bisa bermacam-macam seperti merah, oren, ungu, hijau, dan coklat tergantung bahan pencampurnya. Cara penggunaan: Amfetamin dapat dipakai dengan cara dihirup uapnya, ditelan, suntik intravena dan bisa juga dengan menyedot melalui lubang hidung (snorting). Peredaran: Derivat amfetamin yang paling banyak disalahgunakan adalah 3,4 metilen-di-oksi met-amfetamin (MDMA) dan met-amfetamin. MDMA dikenal sebagai ecstasy, Inex, yuppie drug, hug drug, Adam dan XTC. Sementara metamfetamin di Indonesia lebih dikenal sebagai sabu-sabu, ss, ubas, usab-usab atau ice dan crystal meth di luar negeri. 2. Gejala intoksikasi amfetamin: Pengaruh amfetamin terhadap pengguna bergantung pada: o jenis amfetamin

o jumlah yang digunakan, dan o cara menggunakannya Dosis amfetamin secara umum dosis rendah - sedang adalah 5-50 mg (oral) dosis tinggi adalah lebih dari 100 mg (intravena) (Kecuali untuk dektroamfetamin yang mempunyai 3-4 kali potensi amfetamin) Gejala dari dosis kecil semua jenis amfetamin: menaikkan tekanan darah mempercepat denyut nadi melebarkan bronkus meningkatkan kewaspadaan menimbulkan euphoria menghilangkan kantuk mudah terpacu menghilangkan rasa lelah dan rasa lapar meningkatkan aktivitas motorik, banyak bicara, dan merasa kuat. gangguan deksteritas dan keterampilan motorik halus (walaupun penampilan motorik meningkat) Gejala dari dosis sedang (20-50 mg) semua jenis amfetamin: menstimulasi pernapasan menimbulkan tremor ringan, gelisah meningkatkan aktivitas motorik insomnia, agitasi, mencegah lelah menekan nafsu makan menghilangkan kantuk mengurangi tidur Gejala penggunaan amfetamin berjangka waktu lama dengan dosis tinggi:

menimbulkan perilaku stereotipikal, yaitu perbuatan yang diulang terus menerus tanpa mempunyai tujuan tiba-tiba agresif melakukan tindak kekerasan waham curiga anoreksia yang berat Gejala penggunaan metamfetamin berulang kali dengan dosis tinggi: perilaku kekerasan psikosis paranoid dengan waham mirip skizofrenia paranoid. perubahan pola tidur, fungsi seksual depresi gangguan motorik Gejala putus obat amfetamin: berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari setelah pemberhentian atau pengurangan penggunaan amfetamin dalam jangka panjang dan berat (kriteria A dan B). Gejala putus obat pada umumnya berlawanan dengan gejala yang terjadi pada saat intoksikasi: mood disforik dua atau lebih perubahan fisiologis berikut: o lelah o mimpi buruk o insomnia atau hipersomnia o meningkatnya nafsu makan o mundurnya psikomotor atau agitasi

Dengan ketentuan: Gejala diatas menyebabkan gangguan pada sosial, pekerjaan, dan fungsi-fungsi lainnya. Gejala tersebut tidak boleh dikarenakan oleh kondisi medis umum dan tidak disebabkan oleh gangguan mental lainnya.

Gejala seperti crashing kadang mengikuti episode yang intens, penggunaan dosis tinggi. Crash dicirikan dengan perasaan bosan dan depresi, secara umum, membutuhkan waktu beberapa hari untuk istirahat dan penyembuhan Menurunnya berat badan terjadi pada pemakaian dosis tinggi, dan meningkatnya nafsu makan menyebabkan meningkatnya berat badan saat terjadi gejala putus obat Gejala depresi dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan minggu dan dapat muncul adanya ide bunuh diri. Kebanyakan orang yang ketergantungan amfetamin, pada suatu saat dalam hidup nya, mereka merasakan adanya gejala putus obat dan toleransi. Gejala overdosis akut amfetamin: kejang hipertensi takikardia 3. Mekanisme kerja amfetamin Amfetamin => analog dengan epinefrin; agonis katekolamin. Struktur amfetamin mirip dengan katekolamin endogen, antara lain: epinefrin, norepinefrin, dan dopamine. Penggunaan amfetamin dengan cara injeksi sensasi lari atau orgasme sebelum efek intoksikasi muncul. Farmakokinetik : Absorbsi amfetamin pada mukosa GIT, nasofaring, trakeobronkus, dan vagina baik. Pada penggunaan secara injeksi efeknya akan terjadi hanya dalam hitungan detik dan akan langsung menuju ke otak, sedangkan pada penggunaan inhalasi maka amfetamin akan berkondensasi di paru kemudian akan menuju ke pembuluh darah dengan cepat. Plasma puncak akan tercapai 1 3 jam kemudian. Metabolisme terjadi di hati dengan mengadakan degenerasi luas dan menghasilkan metabolit yang masih memiliki efek farmako. Eksresi melalui urin adalah sebesar 30%. Farmakodinamik : hipetermia psikosis/halusinasi stroke dan kematian

Amfetamin memiliki efek simpatomimetik secara tidak langsung pada sentral dan perifer. Efek adrenergic alfa dan beta terjadi oleh karena keluarnya neurotransmitter pada daerah prasinaps. Selain itu terjadi pula penghalangan reuptake katekolamin daerah presinap dan inhibisi aktivitas mengakibatkan konsentrasi neurotransmiter meningkat. 1. Otak (sentral) Pada penelitian dengan menggunakan dosis tinggi pada kera selama 3 6 bulan, pada daerah korteks frontal, hipotalamus, otak tengah, medulla, dan spons terjadi penurunan norepinefrin dan bahkan menghilang. Sedangkan dopamin menurun hanya pada darah diertai penurunan serotonin. Monitoring selama 1 tahun kemudian menunjukkan hilangnya neuron neuron esensial disertai peningkatan sel glia satelit. 2. Perifer Efek patofisiologis perifer terjadi pada jantung dimana serotonin mempengaruhi miokardium jantung sehingga dapat terjadi aritmia jantung. Dikatakan juga suhu yang diatur oleh hipotalamus anterior sebagai bagian dari proses patofisiologi amfetamin merupakan penyebab mortalitas terbesar akibat intoksikasi yang terjadi melalui hiperpireksia. Amfetamin menyebabkan: pelepasan norepinefrin, dopamin, dan serotonin (tidak terlalu kuat) dari neuron prasinaps menghambat sistem MAO pada neuron prasinaps menghambat re-uptake norepinefrin dan dopamin MAO yang

peningkatan aktivitas neuron dopaminergik dan adrenergik pascasinaps regio medial forebrain peningkatan norepinefrin euforia dan peningkatan libido

sistem ARAS peningkatan aktivitas motorik dan kelelahan menurun kumpulan neuron dopaminergik skizofrenia dan psikosis

Amfetamin berpengaruh pada neurotransmitter lain, seperti b, substansi P, opioida endogen, dan GABA

perubahan metabolisme dan aliran darah dalam otak

prefrontal frontal temporal subkortikal

stimulasi euforia

Penggunaan amfetamin secara berulang dalam waktu lama akan menyebabkan berkurangnya cadangan katekolamin (prekursor norepinefrin maupun dopamin). Neuron membutuhkan waktu beberapa hari untuk memproduksi katekolamin. Selama masa adaptasi produksi katekolamin itu pasien mengalami depresi. Amfetamin dimetabolisasi di hepar dan diekskresi dalam bentuk aslinya atau dalam bentuk metabolitnya, Kecepatan eliminasi amfetamin bergantung pH air seni. Semakin kecil pH, semakin besar kadar amfetamin yang dieksresikan dalam bentuk yang tidak berubah. Pada pH yang tinggi, metabolisme amfetamin dalam hepar berlangsung lebih lama. 4. Diagnosis penggunaan amfetamin Anamnesis ~Autoanamnesis 1) Identitas: Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan, agama, etnik, status perkawinan, anak nomor berapa dari orang tuanya, ayah/ibu 2) Mengenai zat aktifnya : - Zat psikoaktif apa yang pernah di konsumsi?

- Sejak umur berapa penggunaannya? - Zat psikoaktif apa yang dikonsumsi selama 1 tahun terakhir? - Zat psikoaktif apa yang dikonsumsi selama 1 bulan terakhir? - Bila dalam 1 bulan terakhir mengkonsumsi suatu zat psikoaktif, kapan terakhir kali penggunaannya? - Berapa kali setiap hari mengkonsumsi zat psikoaktif tersebut? - Dosis zat psikoaktif tersebut digunakan - Cara mengkonsumsi zat tersebut - Alasan menggunakan pertama kali - Alasan mengapa terus menerus menggunakan zat tersebut - Khasiat apa yang didapat dari mengkonsumsi zat tersebut - Pengaruh yang tidak disukai dari zat tersebut ~Aloanamnesis - Perubahan pola tidur - Apakah sering bepergian tanpa alasan yang jelas? - Sering absen dari sekolah atau pelajaran? - Apakah sifatnya berubah? - Apakah sering meminta uang tanpa tujan yang tidak jelas? - Apakah sering berbohong? - Apakah lebih sering menyendiri di dalam kamar? - Apakah lebih sering masuk kamar mandi dalam waktu yang lebih lama dari biasanya? - Apakah takut ruangan dingin? - Apakah pernah menemukan barang-barang seperti suntikan, botol plastik yang berlubang, kertas timah berkas bungkus rokok, dan barang-barang mencurigakan lainnya? - Bagaimana riwayat tumbuh kembang anak? Ciri-ciri masa remaja dan kanakkanak? Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Hasil Keterangan

Kesadaran

Somnolen Sopor Koma Berkabut

Putus amfetamin Kelebihan dosis Intoksikasi amfetamin Intoksikasi amfetamin Penggunaan amfetamin Penggunaan amfetamin Penggunaan amfetamin Penggunaan amfetamin Penggunaan amfetamin Intoksikasi amfetamin Penggunaan amfetamin Intoksikasi amfetamin Intoksiaksi amfetamin Sesekali amfetamin pada penggunaan

Denyut nadi Suhu badan Tekanan darah Mata Mulut Jantung Kulit

Naik Naik Naik Konjungtiva pucat Pupil dilatasi dan reaktif Kering Takikardia Semu merah dimuka Sianosis Banyak keringat Needle track

Saraf motorik Reflex Pemeriksaan Psikiatrik

Termor halus Hiperrefleksi

Intoksikasi amfetamin Penggunaan amfetamin

Akan didapatkan hal-hal sebagai berikut: ~Pengguna Amfetamin: o Gelisah ~Intoksikasi Amfetamin: o Agitatif o Agresif o Euforia o Banyak bicara o Waham o Halusinasi ~Putus Amfetamin: o Depresi

o Apatis Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan air seni Air seni sebaiknya diambil kurang dari 49 jam, karena banyak zat psikoaktif yang tidak terdekteksi setelah 48 jam. Beberapa teknik pemeriksaan adalah paper chromatography, thin layer chromatography (TLC), gas chromatography (GC), enzyme immunoassay, atau high power TLC (HP-TLC) Apabila pasien menggunakan jarum suntik untuk mengkonsumsi zat: Tes hepatitis B atau C Tes HIV

Atas indikasi khusus: Darah rutin Kimia darah Tes fungsi hati Tes fungsi ginjal

5. Kriteria Diagnosis Menurut ICD-10 F15.0 Intoksikasi Akut Stimulan lain termasuk Kafein A. Harus memenuhi kriteria umum intoksikasi akut Bukti nyata baru saja mengkonsumsi zat psikoaktif dalam dosis tinggi sehingga menimbulkan intoksikasi Harus ada gejala dan keluhan intoksikasi sesuai zat yang digunakan Tidak ada gangguan medis yang menyebabkan gejala itu muncul Euforia atau kekuatan fisik bertambah Kewaspadaan berlebih Keyakinan Marah-marah atau agresif Suka berdebat Suasana perasaaan yang labil Perilaku yang diulang-ulang Ilusi pendengaran, penglihatan, atau perabaan Halusinasi, biasanya tanpa gangguan orientasi

B. Ada 1 atau lebih dari gejala:

Ide paranoid Interferensi fungsi personal Denyut jantung cepat (kadang-kadang lambat) Denyut tidak teratur Tekanan darah tinggi (kadang-kadang rendah) Berkeringat dan menggigil Mual atau muntah Berat badan berkurang Pupil melebar Agitasui atau retradasi psikomotor Kelemahan otot Nyeri dada Kejang

C. Paling sedikit ada 2 dari gejala

F15.3 Keadaan Putus Stimulan Lain, termasuk Kafein A. Harus memenuhi kriteria umum keadaan putus zat Bukti nyata bahwa akhir-akhir ini mengurangi atau menghentikan penggunaa zat psikoaktif Harus ada gejala dan keluhan intoksikasi sesuai zat yang digunakan Tidak ada gangguan medis yang menyebkan gejala itu muncul

B. Terdapat suasana disforia C. Ada 2 atau lebih dari gejala: Lesu dan letih Hambatan psikomotor atau agitasi Keinginan kuat untuk mengkonsumsi zat stimulan Nafsu makan bertambah Insomnia atau hipersomnia Mimpi bizarre atau tidak menyenangkan

Kriteria Diagnosis Menurut DSM-IV A. Intoksikasi amfetamin

Dikatakan sebagai intoksikasi apabila akhir- akhir ini menggunakan amfetamin atau substansi yang menyerupai amfetamin dalam kurun waktu yang dekat. Atau secara klinis mengalami kelainan perilaku yang signifikan yang berkembang sellama, segera setelah, penggunaan amfetamin atau substansi yang menyerupai amfetamin. Dua atau lebih dari tanda-tanda berikut, muncul selama, atau segera setelah penggunaan amfetamin atau substansi lain yang menyerupai amfetamin: 1. Tachycardia atau bradycardia 2. Dilatasi pupil 3. Peningkatan atau penurunan tekanan darah 4. Menggigil 5. Mual atau muntah 6. Adanya bukti dari penurunan berat badan 7. Agitasi atau retardasi psychomotor 8. Lemah otot, depresi sistem pernafasan, nyeri dada, atau aritmia jantung 9. Linglung, kejang, dyskinesia, dystonia, koma Dan gejala- gejala yang timbul tidak dikarenakan karena kondinisi medis umum. B. Gejala putus zat amfetamin Pengurangan dari penggunaan amfetamin setelah penggunaan yang lama dan berat. Terdapat disforia dan dua atau lebih dari perubahan psikologis berikut, yang timbul setelah beberapa jam sampai beberapa hari setelah pengurangan zat ini: 1. Lemah 2. Mimpi yang tidak menyenangkan, dan buram 3. Insomnia atau hypersomnia 4. Nafsu makan yang meningkat 5. Retardasi atau agitasi psikomotor Perlu dicatat bahwa gejala- gejala di atas harus menyebabkan adanya kerusakan dalam fungsi social dan fungsi- fungsi lain yang penting. Dan gejala ini tidak dikarenankan kondisi medis lain dan tidak dihubungkan dengan kelainan mental yang lain. 6. Tatalaksana:

a. Detoksifikasi pada keadaan intoksikasi: -bila suhu tubuh tinggi beri air dingin, kompres, minum -bila kejang beri diazepam -bila tekanan darah tinggi beri antihipertensi ( blocker) -bila timbul gejala psikosis beri antipsikosis (haloperidol) pada keadaan putus zat/withdrawal: -rawat pasien di tempat yang tenang -cukup makan, minum, dan istirahat -bila ada ide bunuh diri/depresi beri anti-depressan pada keadaan overdosis: -cek tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, respirasi, dan suhu tubuh) -jaga airway/jalur pernapasan -pemeriksaan fisik -pemasangan infus -pemeriksaan lab (periksa toksikologi pada darah dan urin) -simptomatik b. Rehabilitasi pasca-detoksifikasi dan after care -rehabilitasi di tempat yang menampung masalah ketergantungan zat (RSKO, BNN) -diberikan konseling, edukasi -diberikan ketrampilan life skills, komunikasi -harm reduction: penanggulangan HIV/AIDS, Hepatitis B dan C, metode substitusi, pembagian jarum suntik steril -pemulihan adiksi berbasis masyarakat 7. Prognosis dan Komplikasi dari gejala penggunaan amfetamin Pasien yang menggunakan zat psikoaktif dalam jangka waktu singkat dan dalam terapi asbtinence penggunaan zat masih bisa bertahan dengan baik memiliki prognosis yang baik untuk sembuh. Sedangkan pasien yang dalam tatalaksananya menggunakan substitusi zat, diperlukan jangka waktu yang lama untuk sembuh.

Pasien yang mengalami ketergantungan zat psikoaktif yang sudah kronis atau bertahuntahun, maka dalam masa penyembuhan dari masalah ketergantungan zat psikoaktif masih ada kemungkinan terjadinya relaps/kekambuhan untuk kembali menggunakan zat psikoaktif tersebut. Pada pasien yang terdapat dual diagnosis, yaitu ada gejala psikosis dan masalah ketergantungan zat psikoaktif yang tidak saling mendasari satu sama lain, maka kemungkinan untuk sembuh sangat kecil dan cenderung relaps. Oleh karena itu perlu adanya tatalaksana pada masalah psikosis dan masalah ketergantungan zat, dan tatalaksana yang diberikan perlu secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang panjang. Dalam menentukan prognosis masalah ketergantungan zat psikoaktif harus dilihat dari 3 faktor yang mendasari: 1. Faktor individu 2. Faktor lingkungan 3. Faktor zat psikoaktif Komplikasi berhubungan dengan keadaan overdosis (OD), dapat menyebabkan kematian. 8. Hubungan psikosis penggunaan amfetamin jangka panjang Efek penggunaan jangka panjang bisa menimbulkan kondisi yang disebut dengan amfetamin psikosis. Gangguan mental ini sangat mirip sekali dengan paranoid schizophrenia. Efek psikosis ini juga bisa muncul pada penggunaan jangka pendek dengan dosis yang besar. Kondisi psikosis inilah yang tidak disadari oleh kebanyakan pengguna amfetamin. Karena efeknya baru muncul jangka panjang maka sering kali efek ini disalah artikan. Pengalaman dari negara-negara lain yang sudah lebih lama muncul penggunaan amfetamin, telah banyak korban dengan gangguan psikosis atau gangguan kejiwaan yang parah. 5-12 % pengguna amfetamin dapat mengalami halusinasi. Halusinasi auditorik dan visual adalah halusinasi tersering yang ditemukan pada pengguna amfetamin. Dual diagnosis adalah diagnosis yang ditegakkan apabila terdapat bukti adanya 1. Penggunaan zat psikoaktif 2. Gangguan psikosis

Dan diantara keduanya tidak ada hubungan sebab akibat yang mendasarinya satu sama lain. Perlu dilihat kapan gangguan psikosis yang dialami oleh pasien muncul, apakah saat menggunakan obat saja, atau sejak sebelum menggunakan obat pun sudah ada gangguan psikosis tersebut, juga perlu dilihat, apakah gangguan psikosis yang timbul dapat hilang saat penggunaan obat dihentikan.

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan Amfetamin merupakan senyawa sintetik yang menstimulasi kerja sistem saraf pusat atau psikostimulan yang sudah dikenal sejak 5000 tahun silam di Tiongkok. Dahulu digunakan untuk terapi ADHD, obesitas dan narkolepsia. Derivat amfetamin yang paling banyak disalahgunakan adalah MDMA (ecstasy) dan metamfetamin (shabu-shabu). Gejala intoksikasi amfetamin pada dosis ringan dapat mempercepat denyut nadi, meningkatkan kewaspadaan, menghilangkan rasa lelah dan lapar hingga dosis tinggi yang dapat menimbulkan perilaku stereotipikal dan psikosis paranoid dengan waham mirip skizofrenia. Sedangkan gejala putus obat amfetamin antara lain mood disforik, lelah, meningkatnya nafsu makan, dll. Amfetamin memiliki efek simpatomimetik secara tidak langsung pada otak dan perifer. Efek adrenergic alfa dan beta terjadi oleh karena keluarnya neurotransmitter pada

daerah prasinaps. inhibisi re-uptake katekolamin dan inhibisi aktivitas MAO yang mengakibatkan konsentrasi neurotransmiter meningkat. Efek patofisiologis perifer terjadi pada jantung dimana serotonin mempengaruhi miokardium jantung sehingga dapat terjadi aritmia jantung. Diagnosis penggunaan amfetamin dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan psikiatrik dan pemeriksaan laboratorium dimana kriteria diagnosis gejala intoksikasi dan gejala putus zat dapat disesuaikan menurut ICD 10 maupun DSM IV. Terapi yang dapat dilakukan pada pengguna antara lain detoksifikasi misalnya terapi simptomatik, rawat inap, jaga tanda-tanda vital kemudian rehabilitasi atau after care dengan konseling dan edukasi. Dalam menentukan prognosis masalah ketergantungan zat psikoaktif harus dilihat dari faktor individu, faktor lingkungan dan faktor zat psikoaktif. Dual diagnosis adalah diagnosis yang ditegakkan apabila terdapat bukti adanya penggunaan zat psikoaktif dan gangguan psikosis dimana diantara keduanya tidak ada hubungan sebab akibat yang mendasarinya satu sama lain. Oleh karena itu, terapi pengguna amfetamin dapat ditunjang dengan sikap empati dan peduli dari dokter dan psikiater tanpa memojokkan para pengguna. 3.2. Saran Apabila terjadi perbedaan pendapat atau pertanyaan pada pertemuan pertama hendaknya dicatat terlebih dahulu kemudian dicari jawabannya saat pertemuan kedua Sebaiknya topik diskusi diurutkan secara sistematis dari awal pertemuan PBL kedua sehingga tidak perlu ada penambahan bahasan atau pertanyaan di tengah-tengah yang diluar topik diskusi saat itu Diperlukannya koordinasi lebih baik oleh ketua saat dilakukan PBL, karena peserta PBL sering mengungkapkan pendapat tanpa diminta

DAFTAR PUSTAKA
ICD 10, WHO

DSM IV. American Psychriatic Association Joewana, Satya (2004). Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penggunaan Zat Psikoaktif : Penyalahgunaan NAPZA/Narkoba. Jakarta: EGC. http://emedicine.medscape.com/article/812518-overview#a0199 http://en.wikipedia.org/wiki/Amphetamine http://www.drugs.com/amphetamine.html http://www.amphetamines.com/ Methamphetamin FAQ http://www.lycaeum.org/leda/docs/8731.shtml?ID=8731