Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah dikenal sangat heterogen dalam berbagai aspek, seperti adanya keberagaman suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Di lain pihak, perkembangan dunia yang sangat pesat saat ini dengan mobilitas dan dinamika yang sangat tinggi, telah menyebabkan dunia menuju ke arah desa dunia (global village) yang hampir tidak memiliki batas-batas lagi sebagai akibat dari perkembangan teknologi modern. Oleh karenanya masyarakat (dalam arti luas) harus sudah siap menghadapi situasisituasi baru dalam konteks keberagaman kebudayaan atau apapun namanya. Interaksi dan komunikasi harus pula berjalan satu dengan yang lainnya, adakah sudah saling mengenal atau pun belum pernah sama sekali berjumpa apalagi berkenalan. Proses komunikasi juga terjadi dalam konteks fisik dan konteks sosial, karena komunikasi bersifat interaktif sehingga tidak mungkin proses komunikasi terjadi dalam kondisi terisolasi. Konteks fisik dan konteks sosial inilah yang kemudian merefleksikan bagaimana seseorang hidup dan berinteraksi dengan orang lainnya sehingga terciptalah pola-pola interaksi dalam masyarakat yang kemudian berkembang menjadi suatu budaya. Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di masyarakat. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkanminat. Budaya dan komunikasi tak dapat

dipisahkan satu sama lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila

budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi yang berkembang. Kegagalan memahami pesan verbal itu dapat mengakibatkan bencana. Karena ada kesan enteng itulah, tidak mengherankan bila sebagian orang enggan mempelajari bidang komunikasi. Padahal, dimana pun manusia berada dan apa pun profesinya, selalu berkomunikasi dengan orang lain. Banyak orang gagal karena mereka tidak terampil berkomunikasi. Contoh lainnya konflik yang terjadi antara suku Dayak dan Madura Sambas di Kalimantan yang disebabkan adanya stereotip yang berlebihan dari kedua suku tersebut sehingga menyebabkan ratusan orang Madura tewas dan ratusan rumah musnah. Seperti dikemukakan Rachbini (1999 : 5) bahwa suku Madura dipandang warga setempat berkarakter kasar, tidak sopan dan tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan. Ketika berkomunikasi dengan orang dari suku, atau agama lain kita dihadapkan dengan sistem nilai dan aturan yang berbeda. Sulit memahami komunikasi mereka bila kita sangat etnosentrik. Di Indonesia masih sering terdengar stereotip-stereotip kesukuan. Misalnya orang-orang Jawa dan Sunda beranggapan bahwa mereka halus dan sopan, dan bahwa orang-orang Batak kasar, nekad, suka berbicara keras, pemberang dan suka berkelahi. Tetapi orang Batak sendiri menganggap bahwa mereka pemberani, terbuka, suka berterus terang, pintar, rajin, kuat dan tegar. Mereka menganggap orang-orang Jawa dan Sunda lebih halus dan spontan tetapi lemah dan tidak suka berterus terang. Apa yang orang anggap kekasaran, bagi orang Batak justru kejujuran. Apa yang orang Sunda dan Jawa anggap kehalusan, bagi orang Batak adalah kemunafikan dan kelemahan (Mulyana, 1999 : 13). Sekarang ini, peradaban manusia telah berkembang demikian

kompleksnya. Manusia sebagai individu-individu dengan latar belakang budaya yang berlainan saling bertemu, baik secara tatap muka maupun melalui media komunikasi. Media komunikasi di sini tidak hanya berbentuk media massa semata tetapi juga media umum (surat, e-mail, telepon, dan sebagainya). Maka tidaklah mengherankan, perkembangan dunia saat ini semakin menuju pada

suatu global village (desa dunia). Hal ini yang menimbulkan anggapan bahwa sekarang ini komunikasi antar budaya semakin penting dan semakin vital ketimbang di masa-masa sebelumnya (Dodd, 1987; Gudykunst & Kim, 1984; Samovar, Porter & Jain, 1981). Kontak-kontak antar warga berbeda sub-budaya pun tak terelakkan yang seringkali diwarnai kegagalan karena masalah-masalah yang muncul tidak cuma berkaitan dengan perbedaan bahasa,panjang rambut, pola penggunaan waktu,pakaian, warna kulit, tetapi lebih mendalam dan kompleks karena menyangkut perbedaan nilai dan cara memandang kehidupan.Pada titik inilah, maka kebutuhan untuk memahami dan berinteraksi dengan kelompok-kelompok sub-budaya demikian tadi menjadi pendorong dilakukannya studi tentang Komunikasi Antar Budaya. Di Indonesia, kebutuhan untuk studi tentang KAB kiranya merupakan hal yang tidak perlu ditunda lagi karena di Indonesia dengan banyaknya suku bangsa dengan bahasa, dialek, nilai-nilai dan falsafah pemikirannya masingmasing, tidak mustahil akan membuka kemungkinan terjadinya kesalahpaman dan bahkan sampai konflik fisik.Selain itu,ada gejala munculnya kelompokkelompok sub-budaya di kota-kota besar seperti kelompok kaum homoseks,anak gaul dengan geng dan bahasa prokemnya, menambah variasi kebudayaan di negeri kita semakin kaya. Namun dengan variasiini, tentunya kemungkinan timbulnya permasalahan sosial akan meningkat pula Dalam berkomunikasi dengan konteks keberagaman kebudayaan kerap kali menemui masalah atau hambatan-hambatan yang tidak diharapkan sebelumnya. Misalnya saja dalam penggunaan bahasa, lambang-lambang, nilai atau norma-norma masyarakat dan lain sebagainya. Pada hal syarat untuk terjalinnya hubungan itu tentu saja harus ada saling pengertian dan pertukaran informasi atau makna antara satu dengan lainnya. Dari itu mempelajari komunikasi dan budaya merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan Komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang berbeda bangsa, ras, bahasa, agama, tingkat pendidikan, status sosial atau bahkan jenis kelamin

disebut komunikasi antarbudaya. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya peranan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari walaupun berbeda budaya.

1. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah yaitu Bagaimana menjalin komunikasi beda budaya didalam pergaulan seharihari.

BAB II PEMBAHASAN

2. 1.

Konsep

2. 1. 1 Pengertian Komunikasi Antar Budaya Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antar budaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosial ekonomi). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya. Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan: 1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan; 2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antar subjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;

3.

Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;

4.

Menunjukkan

fungsi

sebuah

kelompok

sehingga

kita

dapat

membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara. Jadi dapat disimpulkan bahwa, Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosial ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini.

2. 1. 2 Fungsi Komunikasi Antar Budaya Fungsi Pribadi Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu. Pendeta Budha Jepang menyatakan identitas melalui baju yang dikenakan a. Menyatakan Identitas Sosial Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku

komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang. b. Menyatakan Integrasi Sosial Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antar budaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip utama dalam proses pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah: saya

memperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka. c. Menambah Pengetahuan Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing. d. Melepaskan Diri atau Jalan Keluar Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu kita namakan komunikasi yang berfungsi

menciptakan hubungan yang komplementer dan hubungan yang simetris. Hubungan komplementer selalu dilakukan oleh dua pihak mempunyai perilaku yang berbeda. Perilaku seseorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplementer dari yang lain. Dalam hubungan komplementer, perbedaan di antara dua pihak dimaksimumkan. Sebaliknya hubungan yang simetris dilakukan oleh dua orang yang saling bercermin pada perilaku lainnya. Perilaku satu orang tercermin pada perilaku yang lainnya.

Fungsi Sosial Fungsi sosial adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui

perilaku komunikasi yang bersumber dari sekelompok masyarakat. a. Pengawasan Fungsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.

b. Menjembatani Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi massa. c. Sosialisasi Nilai Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain. d. Menghibur Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton tarian hula-hula dan "Hawaian" di taman kota yang terletak di depan Honolulu Zaw, Honolulu, Hawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.

2. 1. 3 Prinsip Komunikasi Antar Budaya Prinsip-prinsip komunikasi antar budaya antara lain : a. Relativitas Bahasa Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia. b. Bahasa Sebagai Cermin Budaya Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat

nonverbal. Makin besar perbedaan antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit komunikasi dilakukan.Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing). c. Mengurangi Ketidak-pastian Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga kita dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena ketidakpastian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna. d. Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat kita terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri. e. Interaksi Awal dan Perbedaan Antarbudaya Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun kita selalu menghadapi kemungkinan salah persepsi dan salah menilai orang lain, kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya. f. Memaksimalkan Hasil Interaksi Dalam komunikasi antarbudaya - seperti dalam semua komunikasi - kita berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank (1989) mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai contoh, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Karena komunikasi

10

antarbudaya itu sulit, anda mungkin menghindarinya. Dengan demikian, misalnya anda akan memilih berbicara dengan rekan sekelas yang banyak kemiripannya dengan anda ketimbang orang yang sangat berbeda. Kedua, bila kita mendapatkan hasil yang positif, kita terus melibatkan diri dan meningkatkan komunikasi kita. Bila kita memperoleh hasil negatif, kita mulai menarik diri dan mengurangi komunikasi. Ketiga, kita mebuat prediksi tentang mana perilaku kita yang akan menghasilkan hasil positif. dalam komunikasi, anda mencoba memprediksi hasil dari, misalnya, pilihan topik, posisisi yang anda ambil, perilaku nonverbal yang anda tunjukkan, dan sebagainya. Anda kemudian melakukan apa yang menurut anda akan memberikan hasil positif dan berusaha tidak melakkan apa yang menurut anda akan memberikan hasil negatif.

2. 1. 4 Hambatan dalam Komunikasi Antar Budaya Hambatan komunikasi (communication barrier) dalam komunikasi antar budaya (intercultural communication) mempunyai bentuk seperti sebuah gunung es yang terbenam di dalam air. Dimana hambatan komunikasi yang ada terbagi dua menjadi yang diatas air (above waterline) dan dibawah air (below waterline). Faktor-faktor hambatan komunikasi antar budaya yang berada dibawah air (below waterline) adalah faktor-faktor yang membentuk perilaku atau sikap seseorang, hambatan semacam ini cukup sulit untuk dilihat atau diperhatikan. Jenis-jenis hambatan semacam ini adalah persepsi (perceptions), norma (norms), stereotip (stereotypes), filosofi bisnis (business philosophy), aturan (rules),jaringan (networks), nilai (values), dan grup cabang (subcultures group). Sedangkan terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya yang berada diatas air (above waterline). Hambatan komunikasi semacam ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak yang berbentuk fisik. Hambatan-hambatan tersebut adalah (Chaney & Martin, 2004): 1. Fisik (Physical)

11

Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik. 2. Budaya (Cultural) Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya. 3. Persepsi (Perceptual) Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. 4. Motivasi (Motivational) Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.

5. Pengalaman (Experiantial) Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu. 6. Emosi (Emotional) Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui. 7. Bahasa (Linguistic) Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan. 8. Nonverbal Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan (receiver) ketika pengirim

12

pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan. 9. Kompetisi (Competition) Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua) kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal.

2. 1. 5 Hakekat Komunikasi Antar Budaya a. Enkulturasi Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka. Tarian adalah salah satu bentuk enkulturasi budaya yang ditransmisikan sejak kecil. b. Akulturasi Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsurangsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah. Cina dan Inggris yang berakulturasi.

13

2. 1. 6 Faktor-Faktor yang melatarbelakangi terjadinya Komunikasi Antar Budaya a. Mobilitas Pergerakan peradaban dunia bergerak dengan cepatnya, mereka dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya dalam sekejap. Transportasi telah mempermudah mereka untuk bergerak dengan cepat. Suraya mengatakan perjalanan dari satu negara ke negara lain dan dari satu benua ke benua lain. Hal ini lah yang sering kita sebut dengan mobilitas. Batasan-batasan yang dulu sebagai penghalang, seperti susahnya transportasi karena jarak, lautan dan samudera yang memisahkan antardaerah kini pupus sudah. Peristiwa mobilitas ini menyebabkan hubungan antarpribadi kita semakin menjadi hubungan antarbudaya. Individu-individu yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda saling berhubungan dan berinteraksi dari melakukan komunikasi antarpribadi sampai dengan melakukan komunikasi menggunakan media massa. Mobilitas yang tinggi memungkinkan terjadinya akulturasi budaya dan nilai-nilai yang sangat kompleks dalam global village ini. Bertemunya bermacam-macam budaya tersebut bisa terjadi dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hankam, dan lainnya.

b. Saling Ketergantungan Ekonomi Sekarang ini karena dunia sudah menjadi global village, maka kebanyakan negara secara ekonomis bergantung pada negara lain. Beberapa waktu yang lalu kehidupan ekonomi Amerika banyak terkait dengan negaranegara Eropa yang kulturnya banyak kemiripan dengan kultur Amerika. Tetapi, sekarang ini, banyak kegiatan perdagangan Amerika khususnya di bidang peralatan teknologi yang berorientasi ke Asia Timur (Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 3 No. 1, September 2003: 124-135 128) seperti Jepang, Korea, Taiwan yang kulturnya sangat berbeda dengan kultur Amerika. Kehidupan ekonomi bangsa Amerika bergantung pada kemampuan bangsa ini untuk berkomunikasi secara efektif dengan kultur-kultur yang berbeda itu. Hal yang

14

sama berlaku untuk bangsa-bangsa lain di dunia, termasuk Indonesia. Tragedi 11 September yang menimpa Amerika Serikat menyebabkan terganggunya hubungan ekonomi negara-negara di dunia. Banyak negara yang membuka kantor di gedung WTC ikut menjadi korban sehingga perekonomiannya terganggu. Suku bunga Dollar Amerika menjadi naik sehingga nilai tukar rupiah kita-pun ikut terpengaruh. Hal ini menyebabkan berubahnya harga-harga barang yang menggunakan nilai tukar dollar Amerika, yang dengan otomatis merembet ke pada hal yang lainnya, seperti sembilan bahan pokok, dan BBM.

c.

Teknologi Komunikasi Teknologi komunikasi telah berkembang dengan pesat saat ini. Hal ini

ditandai dengan merebaknya pemakaian internet, multi media, dan sebagainya. Meningkat pesatnya teknologi komunikasi telah membawa kultur luar yang kadangkala asing masuk ke rumah kita. Film-film seri impor yang ditayangkan di televisi telah membuat kita mengenal adat kebiasaan dan riwayat bangsabangsa lain. Berita-berita dari luar negeri yang disiarkan baik dari stasiun televisi dalam negeri maupun luar negeri merupakan hal yang lumrah. Setiap malam kita menyaksikan apa yang terjadi di negara yang jauh melalui televisi. Teknologi telah membuat komunikasi menjadi mudah, praktis dan tidak terhindarkan. media massa memiliki karakter sendiri, dengan kelemahan dan kelebihan. Media Komunikasi merupakan saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan. Teknologi komunikasi menyebabkan individu-individu yang saling berinteraksi mengalami pertukaran budaya dan bahkan akulturasi. Kita juga setiap hari membaca, mendengar dan menyaksikan di media-media, berita tentang ketegangan rasial, pertentangan agama, diskriminasi seks, yang secara umum merupakan masalah-masalah yang di sebabkan oleh kegagalan komunikasi antarbudaya. Budaya yang dihantarkan oleh televisi inilah yang setiap hari hadir masuk ke dalam rumah kita dan membawa budaya-budaya asing yang ada di dunia ini. Budaya-budaya inilah yang sering diserap oleh

15

individu-individu dan melatarbelakangi tingkah lakunya sehari-hari dalam berinteraksi.

d.

Pola Migrasi Migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah

lainnya, baik secara domestik ataupun ke luar negeri. Bahkan ketika jaman penjajahan dulu telah dilakukan perpindahan penduduk/transmigrasi dengan tujuan penyebaran penduduk maupun sebagai tenaga kerja. Karena itu, di hampir setiap kota besar di dunia kita dapat menjumpai orang-orang dari etnis atau bangsa lain, kita bergaul, bekerja atau bersekolah dengan orang-orang yang berbeda dari kita. Pola migrasi ini yang menyebabkan kita mau tidak mau saling mengenal dan bergaul di antara individu-individu. Kita selalu bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda bangsa atau budaya setiap harinya. Pengalaman sehari-hari inilah yang menyebabkan kita telah menjadi semakin memahami komunikasi antar budaya.

e.

Kesejahteraan Politik Salah satu jembatan emas dalam komunikasi antarbudaya adalah apa

yang dinamakan kesejahteraan politik. Dalam era globalisasi dunia saat ini, kesejahteraan politik suatu negara sangat tergantung pada kondisi politik dan keamanan negara-negara lain. Penduduk Indonesia juga merasa tidak nyaman untuk saling berkomunikasi antar sesamanya apalagi dengan orang asing/bangsa lain. Karena itulah maka diperlukan komunikasi antarbudaya di antara manusia Indonesia.

2. 1. 7 Komunikasi Lintas Budaya Adapun komunikasi lintas budaya sendiri didefinisikan sebagai :

Komunikasi yang dilakukan oleh dua kebudayaan atau lebih, Komunikasi yang dilakukan sebagai akibat dari terjalinnya komunikasi antar unsur kebudayaan itu sendiri, seperti komunikasi antar

masyarakatnya.

16

Komunikasi Lintas budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih, tujuannya untuk saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk kebaikan sebuah kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi sebagai tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru).

2. 1. 8 Alasan Mempelajari Komunikasi Lintas Budaya Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain selalu mengandung potensi Komunikasi Lintas Budaya atau antar budaya, karena kita akan selalu berada pada budaya yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu. Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari

kesalahpahaman-kesalahpahaman itu banyak kita temui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antaretnis. Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman- kesalahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan mengerti atau paling tidak mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip-prinsip Komunikasi Lintas Budaya dan mempraktikkannya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kebutuhan untuk mempelajari Komunikasi Lintas Budaya ini semakin terasakan karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda, disamping kondisi bangsa Indonesia yang sangat

17

majemuk dengan berbagai ras, suku bangsa, agama, latar belakang daerah (desa/kota), latar belakang pendidikan, dan sebagainya.

2. 1. 9 Alasan Mempelajari Komunikasi Lintas Budaya Ada beberapa alasan mengapa mempelajari komunikasi lintas budaya itu menjadi hal yang penting dalam pergaulan sehari-hari, berikut alasannya: a. Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya sangat diperlukan. b. Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda. c. d. e. Nilai-nilai setiap masyarakat sebaik nilai-nilai masyarakat lainnya. Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilainya sendiri. Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berlaku. f. Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain. g. Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia. h. Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin mengancam pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus kita pelajari dari dia, tetapi semakin berbahaya untuk memahaminya. i. Pengalaman-pengalaman menumbuhkan kepribadian. j. Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan multikultural. antar budaya dapat menyenangkan dan

18

k.

Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah menyusahkan atau memudahkan.

2. 1. 10 Tujuan Mempelajari Komunikasi Lintas Budaya Ada beberapa tujuan dalam mempelajari komunikasi lintas budaya yaitu: a. b. c. Menyadari bias budaya sendiri Lebih peka secara budaya Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut. d. e. f. Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri. g. Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya h. Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasankebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya. i. Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antar budaya. j. Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan, dan dipahami.

2. 1. 11 Cara Berkomunikasi Antar Budaya Untuk menjalin hubungan dengan suku lain atau bangsa lain, kita harus menjadi komunikator yang efektif, karena hubungan dalam konteks apapun (keseharian, pendidikan, bisnis, politik, dsb.) harus di lakukan lewat komunikasi. Untuk menjadi komunikator yang efektif, seseorang harus memahami proses komunikasi (bagaimana komunikasi itu bekerja) dan prinsip-

19

prinsip dasar komunikasi yang efektif. Hubungan yang selaras dengan suku atau bangsa lain bukanlah suatu fenomena yang muncul tiba-tiba dari ruang hampa, melainkan suatu mata rantai dari suatu rangkaian atau proses komunikasi manusia yang terjadi sebelumnya yang mempengaruhi hubungan tersebut. Perkenalan pribadi, pembicaraan dari hati ke hati, gaya dan ragam bahasa (termasuk logat bicara), cara bicara (paralinguistik), bahasa tubuh, ekspresi wajah, cara menyapa, cara duduk, dan aktivitas-aktivitas lain yang di lakukan akan turut mempengaruhi berhasil tidaknya komunikasi antar budaya. Komunikasi antar budaya yang efektif haruslah bersifat win-win (menangmenang), bukan win-lose (menang-kalah). Artinya, kita tidak membuat mitra komunikasi kita dari budaya lain merasa tertekan, di rugikan atau tertipu oleh cara kita berkomunikasi. Kita harus mengenyahkan pikiran bahwa kesalah pahaman dan knflik yang terjadi antara berbagai kelompok budaya (suku, ras, agama) di Indonesia atau dengan bangsa-bangsa lain di dunia sebagai tidak tehindarkan, sementara kita tidak pernah berusaha mengatasi hambatan-hambatan tersebut, lewat jalur pendidikan misalnya. Pendidikan (komunikasi) antarbudaya atau multi budaya tampaknya perlu di terapkan dalam segala tingkatan, mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Begitu juga pelatihan dan lokakarya bagi para

pegawai/eksekutif perusahaan, pejabat pemerintah, pendidik, dan tokoh-tokoh masyarakat. Pada tingkat individual kita masing-masing dapat meningkatkan kemampuan kita berkomunikasi dengan orang lain, khususnya mereka yang berbeda budaya. Setidaknya terdapat empat syarat yang harus kita penuhi. Pertama, kita harus selalu mununda penilaian kita atas pandangan dan perilaku orang lain, karena penilaian kita tersebut sering kali bersifat subyektif, dalam pengertian berdasarkan persepsi kita sendiri yang di pengaruhi oleh budaya kita. Dengan kata lain jangan biarkan stereotip menjebak dan menyesatkan kita ketika kita berkomunikasi dengan orang lain. Kedua, kita harus berempati dengan mitra komunikasi kita, berusaha menempatkan diri kita pada posisinya. Gunakanlah sapaan yang layak, dengan

20

menyebut nama (atau menulis ejaannya) dengan benar, juga gelarnya jika itu di perlukan atau sesuai dengan budayanya. Ketiga, kita di tuntut untuk selalu tertarik kepada orang lain sebagai individu yang unik, bukan sebagai anggota dari suatu kategori rasial, suku, agama atau sosial tertentu. Poin ke tiga ini akan lebih memungkinkan bila kita memenuhi syarat ke empat. Keempat, yakni kita menguasai setidaknya bahasa verbal, dan bahasa nonverbal, dan sistem nilai yang di anut. Bahasa verbal khususnya adalah jendela budaya. Dengan memahami budaya suatu komunitas, hingga derajat tertentu kita memahami bagaimana komunitas tersebut melukiskan dunia, termasuk manusia yang ada di dalamnya. Pertimbangkanlah sistim nilai yang mereka anut, termasuk misalnya apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan, apa makna persahabatan bagi mereka, dan bagaimana mereka memandang orang asing.

21

BAB IV KASUS DAN PEMBAHASAN 4. 1 Kasus Selain makhluk individu, manusia juga sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial hidup berkelompok dan berkomunikasi dengan sesamanya. Banyak orang menganggap melakukan komunikasi itu mudah, semudah orang bernafas, karena manusia terbiasa melakukannya sejak lahir. Namun setelah orang pernah merasakan hambatan atau kemacetan ketika melakukan komunikasi khususnya yang disebabkan oleh perbedaan budaya, barulah disadari bahwa komunikasi itu ternyata tidak mudah. Kegagalan memahami pesan verbal dapat mengakibatkan bencana. Ketika kita berkomunikasi dengan orang dari suku atau agama lain, kita dihadapkan dengan sistem nilai dan aturan yang berbeda. Sulit memahami komunikasi mereka bila kita sangat etnosentrik. Di Indonesia masih sering terdengar stereotip-stereotip kesukuan. Misalnya orang-orang Jawa dan Sunda beranggapan bahwa mereka halus dan sopan, dan bahwa orang-orang Batak kasar, nekad, suka berbicara keras, pemberang dan suka berkelahi. Tetapi orang Batak sendiri menganggap bahwa mereka pemberani, terbuka, suka berterus terang, pintar, rajin, kuat dan tegar. Mereka menganggap orang-orang Jawa dan Sunda lebih halus dan spontan tetapi lemah dan tidak suka berterus terang. Apa yang orang anggap kekasaran, bagi orang Batak justru kejujuran. Apa yang orang Sunda dan Jawa anggap kehalusan, bagi orang Batak adalah kemunafikan dan kelemahan (Mulyana, 1999 : 13) Setiap orang pasti penah mengalami miskomunikasi dalam pergaulan sehari-hari khususnya dalam budaya yang berbeda. Sangat sering kita temui halhal yang kita sampaikan kepada seseorang ditindaklanjuti dengan aksi atau reaksi yang melenceng dari apa yang sempat kita bayangkan. Kita menginginkan seseorang melakukan tindakan A, tetapi ia malah mengerjakan tindakan B. Kita bermaksud mengatakan A, tetapi malah ditanggapi B. Semakin panjang rantai berita atau pesan yang tersampaikan, maka distorsi isi berita atau

22

pesan itu akan semakin lebar. Miskomunikasi juga akan terjadi jika terdapat perbedaan arti dalam satu kata saja, seperti pada percakapan di bawah ini. Percakapan I Dua sahabat berbeda suku yakni suku Sunda dan Batak Simalungun sedang jalan-jalan. Karena hari sudah siang dan perut lapar mereka singgah di sebuah warung untuk mengisi perut. Waktu membayar ke tukang warung ternyata dompet orang Batak tinggal. A B A B A : aduh.. dompet ku ketinggalan. : loh.. ko bisa?? : iya aku lupa tadi di kantong celana satu lagi. Gimana dong? : ya udah maneh pake uang ku aja. : o.. ga papa?? Makasi ya.. kau memang teman ku yang paling bujur

(bahasa simalungun bujur artinya baik). B : maksudmu apa? Aku udah bantuin tapi kau malah menghina aku!

Percakapan 2 Orang Sunda sedang makan dengan lahapnya. Sebenarnya orang Batak Simalungun pengen mencicipi makanan tersebut. Karena asyik makan orang Sunda sampai lupa nawarin ke orang Batak Simalungun. Orang Batak Simalungun diam saja sampai makanannya hampir habis baru dia sadar ada teman sedang melihatnya. Waktu nawarin orang Batak Simalungun sudah keburu kesal. A : eh... maneh hayang teu??

(eh... kamu mau ga??) B : maneh we nu hayang. (nada kesal)

(Bahasa Batak Simalungun artinya kamu aja yang pantat)

Pada percakapan pertama karena latar belakang yang berbeda mempengaruhi pemahaman dalam pembicaran mereka. Maksud dan tujuan orang Batak Simalungun mengungkapkan kata bujur untuk hal baik tapi dianggap menghina oleh orang Sunda karena memiliki maksud dan tujuan yang

23

berbeda. Dan pada percakapan kedua kata hayang dalam bahasa Sunda berarti mau sedangkan dalam bahasa Batak Simalungun artinya pantat. Dalam percakapan ini orang Sunda tidak tersinggung karena memiliki pengertian tersendiri pada kata tersebut. Selain itu mereka berada dalam setting Sunda jadi orang Sunda merasa mereka memiliki pemahaman yang sama terhadap kalimat tersebut. Tujuan dari orang Batak adalah melampiaskan rasa kesalnya, tapi orang Sunda beranggapan orang Batak Simalungun tidak mau makanan tersebut. Contoh lainnya yang dijelaskan oleh Mulyana (2001: 2), kata Mokusatsu yang digunakan Jepang dalam merespon ultimatum AS untuk menyerah diterjemahkan oleh Domei sebagai mengabaikan, alih-alih maknanya yang benar adalah jangan memberi komentar sampai keputusan diambil. Suatu versi lain mengatakan, Jendral McArthur memerintahkan stafnya untuk mencari makna kata itu. Semua kamus bahasa Jepang-bahasa Inggris diperiksa yang memberi padanan kata no comment. MacArthur kemudian melaporkan kepada Presiden Truman yang memutuskan untuk menjatuhkan bom atom. Padahal makna kata Mokusatsu itu adalah Kami akan menaati ultimatum Tuan tanpa komentar. Kekeliruan dalam Suraya Peranan Komunikasi dalam Penyatuan Budaya 125 menerjemahkan suatu pesan yang dikirimkan pemerintah Jepang menjelang akhir Perang Dunia II boleh jadi telah memicu pengeboman Hiroshima. Contoh ketidakefektifan komunikasi antar budaya yang berakibat fatal di Indonesia adalah konflik yang terjadi antara suku Dayak dan Madura Sambas di Kalimantan Tengah yang disebabkan adanya stereotip yang berlebihan dari kedua suku tersebut sehingga menyebabkan ratusan orang Madura tewas dan ratusan rumah musnah. Seperti dikemukakan Rachbini (1999 : 5) bahwa suku Madura dipandang warga setempat berkarakter kasar, tidak sopan dan tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan. Kasus kerusuhan Sampit merupakan konflik antara Etnis Dayak dan Etnis Madura. Berdasarkan laporan Buku Merah: Konflik Etnis Sampit, Kronologi Kesepakatan dan Aspirasi, yang dikeluarkan oleh Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah (LMMDDKT),

24

dikemukakan bahwa kerusuhan yang terjadi di sampit merupakan rangkaian peristiwa kerusuhan yang sudah 15 (lima belas) kali terjadi antara kedua etnis sejak tahun 1972 dan puncaknya adalah kerusuhan sampit itu sendiri pada tahun 2001. Yekni Maunati, dalam Identitas Dayak; Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, mengemukakan bahwa Orang Dayak adalah masyarakat yang defensif dan tidak reaktif. Banyak orang bilang bahwa etnis ini adalah etnis yang penyabar dan jarang marah. Etnis Dayak punya sistem hubungan yang cukup baik dengan etnis lain seperti saling menghormati dan sangat percaya atas apa yang dilakukan orang pada dirinya. Namun kepercayaan mereka bukannya tanpa balasan artinya mereka bisa sangat kecewa jika dibohongi atau dikecewakan. Mereka bisa sangat baik dan menghamba jika di perlakukan baik namun akan sangat marah jika dikecewakan atau dibohongi. Perbedaan budaya pada dua komunitas ini melahirkan perbedaan pemaknaan tentang kehidupan masing masiang . Etnis Dayak menyatakan bahwa Orang Madura telah melanggar batas-batas nilai mereka dan Etnis Madura menganggap hal tersebut biasa bagi mereka. (Identitas Dayak; Komodifikasi dan Politi Kebudayaan, 2004)

4.2 Pembahasan Kasus Frekuensi interaksi antaretnik yang lebih sering akan mampu mengurangi pandangan stereotip dan prasangka orang dari suku yang berbeda, seperti pada kasus di atas antara suku Batak dan suku Sunda. Karena dengan sering melakukan interaksi antar individu yang berasal dari etnik-etnik yang berbeda memungkinkan individu-individu tersebut lebih saling mengenal kesamaankesamaan diantara mereka. Pengetahuan tersebut pada gilirannya bisa menimbulkan daya tarik di antara etnik Batak dan etnik Sunda. Melalui interaksi, individu bisa menambah informasi tentang adanya berbagai perbedaan. sehingga konflik antaretnik dapat dihindarkan dan komunikasi menjadi efektif. Selain bahasa Indonesia yang dipergunakan sebagai alat komunikasi utama, bahasa masyarakat asal juga sebaiknya dimengerti oleh

25

masyarakat pendatang untuk memperlancar dan mempermudah komunikasi antar etnik di lingkungan masyarakat. Tidak semua adaptasi budaya dapat diterima, namun taktik-taktik manipulasi identitas etnik dapat dilakukan antara lain dengan pengelolaan kesan baik verbal maupun nonverbal. Beberapa hal dapat menjadi pemikiran bagi kita dalam menemukan solusi tepat bagi kasus yang terjadi antara suku Dayak dan suku Madura di Sampit. Musyawarah dan mufakat merupakan aspek yang ditekankan oleh nilai-nilai Pancasila. Mengambil waktu untuk duduk bersama dan berdialog untuk bisa lebih mengerti dan memahami satu dengan lainnya merupakan perwujudan dari aspek tersebut. Beberapa dialog telah dilakukan utuk menyelesaikan beberapa konflik, tapi perlu lebih intensif pada kepentingan kesejahteraan masyarakat keseluruhan. Masing-masing kelompok tidak mencari keuntungan sendiri melalui pelaksanaan dialog. Seyogyanya dialog antar kelompok dapat menjadi agenda reguler dalam hidup bermasyarakat dan implementasinya tidak hanya pada jajaran atas saja, tapi harus menyentuh sampai masyarakat lapisan bawah. Dan mengusung agenda-agenda dalam konteks perwujudan masyarakat yang damai, adil, dan makmur. Sekiranya masing-masing kelompok dapat menemukan perannya masing-masing melalui dialog tersebut. Kemudian merumuskan bentuk kerja sama yang efektif antar kelompok. Konflik selalu diwarnai dengan kemarahan kolektif akibat melihat tindakan yang dinilai tidak adil terhadap salah satu atau beberapa anggota kelompok atau kelompok secara menyeluruh. Akibatnya aksi kekerasan komunal dilancarkan terhadap kelompok atau institusi yang dianggap sebagai pelaku ketidakadilan seperti kasus yang terjdi di Sampit. Untuk mengubahnya perlu dibangun gagasan positif tentang solidaritas dan kebersamaan dalam konteks negara berpancasila. Sebagai landasan dan falsafah hidup

bermasyarakat, Pancasila menonjolkan sebuah anggapan positif mengenai manusia. Warga negara dipandang sebagai makhluk bermartabat dan menyandang hak untuk menikmati kedamaian dan ketenangan hidup. Nilai positif ini seharusnya menjadi cara pandang dalam melihat sesama kita yang

26

berasal dari kelompok lain. Negara juga harus bisa memperlakukan semua warga sebagai pribadi-pribadi yang layak untuk disejahterakan tanpa melihat latar belakang identitas kelompok yang disandang oleh anggota masyarakat tertentu. Semua kebijakan pemerintahan harus dapat memfasilitasi dan mengakomodir semua elemen bangsa. Dengan demikian nilai-nilai Pancasila terimplementasi dalam gerak dinamika bangsa kita guna menciptakan masyarakat adil dan makmur.

27

BAB III PENUTUP

3. 1 Kesimpulan Manusia itu hidup berkelompok sebagai mahluk sosial dan

berkomunikasi dengan sesamanya. Kita harus memperhatikan secara khusus bahwa orang berbeda budaya akan berkomunikasi secara berbeda pula. Komunikasi antarbudaya sangat penting karena: 1) adanya mobilitas yang menyebabkan manusia berinteraksi dengan budaya yang heterogen; 2) saling ketergantungan ekonomi yang menyebabkan saling keterkaitan dalam bidang ekonomi dengan negara lain; 3) kemajuan teknologi komunikasi yang menyebabkan berinteraksinya berbagai budaya yang berbeda.

Setiap orang yang berkomunikasi antarbudaya harus bersikap terbuka terhadap perbedaan nilai, kepercayaan dan sikap. Menempatkan diri pada posisi lawan bicara yang berasal dari budaya yang berbeda; bersikap spontan dan deskriptif; mengkomunikasikan sikap positif; menganggap berkomunikasi setara; tetap percaya diri dan tenang dalam setiap situasi, serta menghindari sikap etnosentrisme dan stereotype yang berlebihan. Kontak-kontak antar warga berbeda sub-budaya pun tak terelakkan yang seringkali diwarnai kegagalan karena masalah-masalah yang muncul tidak cuma berkaitan dengan perbedaan bahasa, panjang rambut, pola penggunaan waktu, pakaian, warna kulit, tetapi lebih mendalam dan kompleks karena menyangkut perbedaan nilai dan cara memandang kehidupan. Pada titik inilah, maka kebutuhan untuk memahami dan berinteraksi dengan kelompok-kelompok subbudaya demikian tadi menjadi pendorong dilakukannya studi tentang

Komunikasi Antar Budaya. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi yang berkembang. Kegagalan memahami pesan verbal itu dapat mengakibatkan bencana. Karena ada kesan enteng itulah, tidak mengherankan bila sebagian orang enggan

28

mempelajari bidang komunikasi. Padahal, dimana pun manusia berada dan apa pun profesinya, selalu berkomunikasi dengan orang lain, sehingga perlu saling menghargai dan memahami komunikasi antar budaya agar terhindar dari konflik.

3. 2 Saran Untuk menjalin komunikasi dengan berbeda budaya, ras, dan etnik sangat dibutuhkan saling menghargai dan saling menghormati serta perlunya adanya pengetahuan dan pemahaman akan komunikasi antar budaya sebagai bekal dalam pergaulan sehari-hari sehingga akan terbentuknya keharmonisan dan persatuan bangsa serta terhindar dari konflik-konflik yang diakibatkan oleh komunikasi yang kurang baik dan tidak lancar.

29

DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. 2003. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal. 11-12,36-42 Andrik Purwasito. 2003. Komunikasi Multikultural. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hal. 123 Joseph A. Devito. Komunikasi Antarmanusia. Kuliah Dasar. Jakarta. Professional Books. Hal. 479-488 Liliweri, Alo. Gara - Gara Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Lubis, Suwardi. 1999. Komunikasi Antar Budaya. Studi Kasus Etnik Batak Toba dan Etnik Cina. USU Press. Medan. Available at

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya Diakses pada : 5 April 2013 pukul 13.30. Mulyana, Deddy. 1999. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya. Mulyana, Deddy. 2000. Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan orang-orang Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosda Karya. Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. Human Communication :Konteks-konteks Komunikasi. 1996. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal. 236-238.