Anda di halaman 1dari 20

Makalah MAQAMAT DAN AHWAL

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tasawuf Dosen Pengampu : Dr. Ahmad Barizi, MA

Disusun oleh : 1. 2. 3. 4. Anis Fathona Himda (09610112) Zahrotul Mufidah Dian Alvy Pratiwi (09610113) (09610115)

Sukris Tri Handayani (09610116)

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Maqamat dan ahwal adalah dua istilah penting dalam dunia tasawuf. Keduanya merupakan sarana dan pengalaman spiritual seseorang dalam berkomunikasi dengan Tuhan, Dzat tempat berasal dan kembali segala sesuatu yang ada di jagad raya ini. Bahkan menurut Khaja Khan, dua term tersebut berfungsi untuk mematahkan ketergantungan kepada sesuatu selain Dzat Allah dan untuk mencapai kebersatuan dengan sang Khalik. Dengan itu maqam dan hal merupakan cara untuk mencapai tujuan ideal para sufi. Melalui proses purifikasi jiwa terhadap kecenderungan materi agar kembali pada cahaya Tuhan. Dalam konterks ini, Abu Yazid al-Bustami (874-947 M) dalam suatu kesempatan pernah bertanya kepada Tuhan tentang jalan menuju kehadirat-Nya. Tuhan menjawab: Tinggalkan dirimu dan datanglah. Tinggalkan diri sendiri berarti seseorang mesti terbebas dari keinginan dan hawa nafsu pribadinya dan datang memiliki pengertian bahwa seorang sufi mengikuti keinginan dan iradah Tuhan. Maka dari itu, para sufi telah menciptakan jalan spiritual untuk merangkai hubungan dengan sang Tuhan yang disebut maqamat. Pada sisi lain ahwal merupakan keadaan yang diberikan oleh Tuhan di tengah seseorang melakukan perjalanan kerohanian melalui maqam tertentu. Ketika Tuhan memanifestasikan diri dalam jiwa dan hati bersih manusia baik dalam bentuk keagungan maupun keindahan-Nya. Selain itu, mereka juga pasti akan merasakan kegembiraan-kegembiraan tertentu, hati merasa dekat (qurb), rasa cinta (muhabbah), harap-harap cemas (raja), tentram (tumaninah) dan rasa yakin. Kondisi-kondisi kejiwaan tersebut dinamakan ahwal.

B. RUMUSAN MASALAH Runusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah :

1. 2. 3.

Apakah pengertian maqamat? Apakah pengertian ahwal? Apakah ada keterkaitan antara maqamat dan ahwal?

C. TUJUAN PEMBUATAN Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah : 1. 2. 3. Mengetahui pengertian maqamat Mengetahui pengertian ahwal Mengetahui keterkaitan antara maqamat dan ahwal.

BAB II PEMBAHASAN

A. MAQAMAT a) PENGERTIAN MAQAMAT Maqam yang arti dasarnya tempat berdiri, dalam terminologi sufis berarti tempat atau martabat seorang hamba di hadapan Allah pada saat ia berdiri menghadap-Nya. Ia merupakan proses training melatih diri dalam hidup kerohanian (riyadlah), memerangi hawa nafsu (mujahaddah) dan melepaskan kegiatan dunia untuk semata-mata berbakti kepada Allah. Hal ini senada dengan pendapat al-Qusairi (376-465 H) pada hamba Allah berkat ketinggian adab sopan santunnya yang dihasilkan dengan kerja keras. Menurut Al-Thusi (1200-1273 M), Kedudukan hamba di hadapan Allah yang diperoleh melalui kerja keras dalam ibadah, kesungguhan melawan hawa nafsu, latihan-latihan kerohanian serta menyerahkan seluruh jiwa dan raga semata-mata untuk berbakti kepada-Nya.

b)

URUTAN MAQAMAT MENURUT BEBERAPA SUFI a. Al-Qusyairi (376-465 H)

Al-Qusyairi dalam bukunya Ar Risalah Al Qusyairiyah, urutan maqom adalah sebagai berikut1: 1. Taubah 2. Mujahadah 3. Khalwat b. Al-Thusi (1200-1273 M) 4. Syukur 5. Sabar

Menurut Abu Nasr al-Sarraj al-Thusi dalam kitabnya al-Luma` menyebutkan jumlah maqamat ada tujuh2, yaitu: 1. 2. 3. 4. Al-Taubah Al-Wara Al-Zuhud Al-Faqr 5. 6. 7. Sabar Al-Tawakkal Al-Ridha

c.

Al-Ghazali (450-505 H)

Bagi al-Ghazali, seluruh dari tingkatan-tingkatan keagamaan (maqamat ad-din) terdiri dari tiga bagian pokok, yaitu pengetahuan (marifat), keadaan (ahwal), dan tindakan (amal). Ilmu pengetahuan merupakan basis dari keadaan yang keadaan tersebut mengantarkan seseorang untuk berbuat dalam tindakan. Maqamat menurut Al-Ghazali ada sepuluh, urutannya sebagai berikut3: 1. Taubah 2. Sabar 3. Syukur 6. Zuhud 7. Al-isyq 8. Mahabbah

M. Sholohin, Ilmu Tasawuf Untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia , 2008), hlm. 76. 2 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Press, 2008), hlm. 194. 3 M. Jamil, Cakrawala Tasawuf, Sejarah, Pemikiran dan Kontextualitas, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), hlm. 47.

4. Raja 5. Khauf

9. Al-Uns 10. Ridha

d. Al-Kalabadzi ( wafat 390 H) Menurut Al-Kalabadzi dalam bukunya At Tarif Limadzhab At Tasawuf. Menjadikan Taubat sebagai kunci ketaatan yang disusul dengan zuhud, sabar, faqr, tawadhu, khauf, taqwa, ikhlash, syukur, tawakkal, ridha, yakin, dzikir, uns, qarrub, dan mahabbah4.

c)

URUTAN MAQAMAT SECARA UMUM Secara umum maqamat yang dijalani oleh para sufi antara lain taubat,

wara, zuhud, faqr, sabar, tawakkal, dan ridha. Penjelasan maqamat di atas adalah: 1. Taubat Taubat secara umum diartikan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan, serta berjanji secara sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya dan disertai dengan melaksanakan amal-amal shomaksudleh. Dua macam taubat dalam tasawuf menurut Dzu al-Nun al-Mishri (180-246 H), keduanya yaitu taubat orang awam dan taubat orang khawash5. Bagi orang awam taubat merupakan perbuatan penyesalan atas dosa yang telam mereka lakukan dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali, dan
4

M. Sholohin, Ilmu Tasawuf Untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS , (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 76. M. Jamil, Cakrawala Tasawuf, Sejarah, Pemikiran dan Kontextualitas, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), hlm. 48.

dikemudian harinya diisi dengan hal-hal terpuji dan amal shaleh. Dalam konteks ini, dosa diartikan sebagai pelanggaran-pelanggaran terhadap perintah dan larangan Tuhan. Bagi kehidupan para sufi atau khawash, taubat merupakan penyesalan atas dosa-dosa yang mereka lakukan berupa kelalaian mengingat Tuhan (ghaflah). Karena mereka berpandangan bahwa seseorang tidak akan melakukan kemaksiatan jika ia benar-benar mengingat Tuhan. Syarat-syarat taubat adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Bersungguh-sungguh Berhenti sejenak Berjanji untuk tidak mengulangi

Dalam surat An-Nur yang artinya: Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S. An-Nur:31).

2.

Zuhud Istialah ini dapat diartikan sebagai meninggalkan kehidupan dunia dan

sepenuhnya berkonsentrasi pada urusan akhirat. Seorang yang menjalani zuhud disebut zahid. Al-Ghazali (450-505 H) mengartikan zuhud sebagai kelakuan di mana seseorang itu menjauhi urusan dunia, mengurangi keterikatannya terhadap dunia dan hal ini dilakukan dengan kesadaran penuh dan didasarkan kerena kecintaannya kepada Allah semata6. Sedangkan Al-Qusyairi (376-465 H) mengartikan zuhud sebagai sikap dimana menerima segala kenikmatan yang telah diterimanya7.

M. Sholohin, Ilmu Tasawuf Untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS , (Bandung: Pustaka Setia, 2008) , hlm. 79. M. Sholohin, Ilmu Tasawuf Untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 79.

Berdasarkan maksud dari pengertiannya tersebut, zuhud dibagi atas tiga tingkatan, diantaranya yaitu (mulai dari terendah ke yang tertinggi) 8: 1. 2. 3. Menjauhkan dunia ini agar terhindar dari hukuman di akhirat. Menjauhi dunia dengan menimbang imbalan di akhirat. Mengucilkan dunia bukan karena takut terhadap Allah tetapi karena cinta kepada Allah. 3. Faqr (butuh akan akhirat) Faqr dapat diartikan sebagai rasa puas terhadap apa yang telah didapat dan tidak sekalipun menuntut lebih atas apa yang telah didapatnya.Tidak meminta walau tidak mempunyai apa-apa, namun tidak juga menolak jika diberi. Dengan sikap ini akan terhindar dari sifat serakah.

4.

Wara Wara secara lughah berarti hati-hati. Berhati-hati dalam menentukan

suatu hukum, terhindar dari syubhat dan menjauhkan diri dari perkara yang haram. Menurut ulama sufi, wara berarti meninggalkan segala sesuatu keraguraguan antara halal dan haram yaitu syubhat. Karena suatu perbuatan yang haram akan dapat mematikan hati sehingga jauh dari Allah. Ibrahim bin Adham (wafat, 777 M) mengatakan wara adalah meninggalkan setiap yang berbau subhat dan meninggalkan apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan berbagai macam kesenangan. Dalam artian bukan hanya kesyubhatan saja yang harus ditinggalkan namun suatu hal apapun yang berupa kenikmatan yang halal yang dianggap tidak bermanfaat. Sabda Rasul SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori:
8

M. Sholohin, Ilmu Tasawuf Untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 79.


Artinya: Maka siapa yang terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia terbebas dari yang haram. (HR. Bukhori)

5.

Sabar Sabar merupakan sifat yang tidak dapat dipengaruhi oleh hawa nafsu. Di

mana seseorang tersebut tidak tergoda oleh apa pun yang diperintahkan oleh hawa nafsu. Menurut Imam Al-Ghazali (450-505 H), sabar adalah tetap tegaknya dorongan agama yang berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Sabda Rasulullah, sabar adalah cahaya. Cahaya di sini adalah cahaya hati yang tidak terkontaminasi oleh suatu apapun, yang bisa membedakan mana jalan yang sesat dan mana jalan yang benar, dan ini merupakan hidayah atau petunjuk Allah. Sabar ada tiga macam, yang pertama sabar terhadap maksiat, kedua sabar terhadap musibah, ke tiga sabar dalam menjalankan ibadah.

6.

Tawakkal Tawakkal adalah sikap pasrah terhadap keputusan yang diputuskan oleh

Allah. Menurut Prof. Dr. Buya Hamka (1908-1981 M), tawakkal itu menyerahkan segala keputusan dan persoalan, ikhtiar dan usaha kepada Allah Taala yang kuat dan kuasa, sedangkan kita lemah dan tak berdaya. Tawakkal merupakan salah satu sikap muslim yang merupakan hasil dari keyakinan hati yang kuat terhadap Allah.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, dalam segi bahasanya, tawakkal berarti perwakilan9. Dalam menjalani kehidupan yang fana ini kita seorang muslim hendaknya bertawakkal kepada Allah. Semua urusan dunia maupun akhirat harusnya kita pasrahkan kepada Allah. Sebagaimana kata-kata yang dipegang manusia, manusia yang berusaha dan Allah yang menentukan. Namun jika belum berikhtiar sama sekali dan langsung bertawakkal, maka itu sama dengan kosong 10. Tidak pada tempatnya.

Pada Surah Al-Muzammil ayat 9, yang artinya: Dialah Tuhan masyrik dan maghrib, Tuhan hanya Dia. Maka ambillah (jadikanlah) Dia sebagai pelindung. Hatim Al-Hasan11, meyakini empat bekal untuk bertawakkal kepada Allah12, yaitu: 1. 2. 3. Keyakinanku bahwa dunia dan seisinya adalah milik Allah. Semua makhluk akan ku anggap hambanya. Segala daya dan upaya hanyalah penyebab saja, sedangkan rejeki urusannya di tangan Tuhan. 4. Aku yakin: Ketentuan-Nya pasti berlaku bagi setiap makhluk. Sabda Rasulullah, Apabila kalian berserah diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberikan rizki kepadamu, seperti Dia memberikan rizki kepada burung. Pada waktu fajar brung-burung keluar dari sarangnya dengan perut lapar. Senja hari ketika mereka kembali ke sarangnya dengan perut kenyang.

Ali Hasyim, Menuju Puncak Tasawuf, (Surabaya: Visi7, 2008), hlm. 118. Ali Hasyim, Menuju Puncak Tasawuf, ( Surabaya: Visi7, 2008), hlm. 118. 11 Seorang ulama sufi yang hidup pada periode Madzhab Arbaah.
10 12

Ali Hasyim, Menuju Puncak Tasawuf, (Surabaya: Visi7, 2008), hlm. 120.

Sebagaimana Luqman Al-Hakim13, berpesan kepada anaknya, tentang enam perkara, diantaranya yaitu14: 1. Janganterlalu sibuk dengan urusan duniawi, kecuali sekedar mencukupi kebutuhanmu untuk menyambung sisa umurmu. 2. 3. Sembahlah Tuahanmu menurut hajatmu kepada-Nya. Kerjakanlah sesuatu untuk akhirat sesuai dengan keinginanmu, untuk bermukin disana. 4. Berusahalah untuk membebaskan dirimu dari api neraka, selama engkau masih ragu jika engkau tak bebas dari neraka. 5. 6. Jika engkau kuat menghadapi siksa Allah maka berbuatlah maksiat. Berbuatlah maksiat jika engkau mampu mencari tempat yang ama dari pengelihatan Allah dan malaikat-Nya. Dunia yang hanya sementara jangan sampai dijadian tujuan utama dalam menjalani hidup yang hanya singkat ini, Kita harus bertawakkal kepada-Nya.

7.

Ridha Jika seseorang sudah sampai pada tingkatan ini maka dia akan selalu

merasa senang dan menerima pada semua yang diputuskan oleh Allah. Ketika manusia ridha, maka mereka akan dapat mengambil hikmah dan sisi kebaikan dibalik semua permasalahan yang diberikan oleh Allah. Bahkan mereka mampu melihat keagungan , kekuatan, kekuasaan dan keMahabesaran Allah.

13

Beliau bukan nabi dan juga bukan rasul, orang yang dimuliakan oleh Allah dan diabadikan namanya dalam Al-Quran. Ali Hasyim, Menuju Puncak Tasawuf, (Surabaya: Visi7, 2008), hlm. 121.

14

Dan hanya orang yang ahli makrifat dan mahabbah yang mampu bersikap seperti ini15, karena mereka merasakan musibah dan cobaan sebagai suatu nikmat, sebagai media pertemuan mereka dengan sang Khaliq yang dirindukannya. Jika telah sampai pada Ridha maka dia akan sampai pada mahabbah orang biasa.

B. AHWAL 1. PENGERTIAN AHWAL Ahwal yaitu keadaan yang meyentuh hati, berlangsung sekejap dan tidak menetap. Menurut al-Jurjani (400-471 H), ahwal dapat berarti sebagai berikut. Ahwal ialah makna atau kesan yang menyentuh hati begitu saja tanpa dibuatbuat, tanpa penyebab, dan tanpa diusahakan. Sentuhannya mengakibatkan perasaan-perasaan seperti haru, bahagia, sedih, senang, sesak, pengap, resah, segan dan sebagainya. Perasaan tersebut segera menghilang apabila sifat-sifat jiwa muncul. Sifat-sifat yang kemudian terbentuk, akibatnya silih bergantinya perasaan yang disebabkan oleh kesan yang menyentuh hati dan menjadi bagian kemampuan diri, dinamakan maqam. Dengan demikian, maqamat adalah hasil usaha dan ahwal adalah anugerah atau ahwal berasal dari Sang Sumber Kedermawanan dan maqamat terjadi atas upaya yang dilakukan. Dapat dikatakan pula Hal merupakan keadaan seorang sufi ketika menapaki maqamat. 2. MACAM AHWAL DALAM PERJALANAN SUFI Hal-hal atau ahwal yang sering dilaksanakan oleh seorang sufi adalah muhasabah dan muraqabah, qarb, mahabbah, khouf, raja, syauq, uns, thumaninah, musyahadah dan yaqin. a.
15

Muhasabah dan muraqabah

M. Sholohin, Ilmu Tasawuf Untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 82.

Menurut arti lughawinya muhasabah dan muraqabah adalah waspada dan mawas diri. Dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Dalam hal ini manusia harus menanamkan keyakinan dimana Allah Sang Khaliq selalu ada mengawasi tingkah polah yang dilakukan oleh manusia, dari segi lahir maupun batin. Menurut Imam Qusyairi (376-465 H) muraqabah adalah hamba Allah yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan selalu melihatnya16. Muraqabah dibagi menjadi tiga tingkatan17, yaitu: a) Muraqabah Al-qalbi, yaitu kewaspadan dan peringatan terhadap hati, agar tidak keluar dari pada kehadirannya dengan Allah. b) Muraqabah Al-ruhi, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap ruh, agar selalu merasa dalam pengawasan dan pengintaian Allah. c) Muraqabah Al-sirri, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap sirr (rahasia) agar selalu meningkatkan amal ibadahnya dan memperbaiki adabnya. b. Qarb

Istilah ini berarti mendekat. Dalam hal ini mendekat kepada Allah. Lebih agresif unutk mencapai pendekatan sedekat-dekatnya kepada Allah. c. Mahabbah

Berasal dari kata, ahabba, yuhibbu, mahabbatan. Secara harfiah berarti rasa cinta yang mendalam. Dapat diartikan pula dalam Mujam al-Falsafi, oleh Jamil Shaliba18- yang sangat kasih atau penyayang19. Mahabbah ini bertujuan memperoleh kebutuhan yang bersifat material juga spiritual, sebagaimana rasa kasmaran yang dialami oleh manusia seperti biasanya. d. Khauf

16 17

Ali Hasyim, Menuju Puncak Tasawuf, (Surabaya: Visi7, 2008), hlm. 102. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, (Jakarta: PT. Bina Ilmu, 1998), hlm. 218. 18 Penulis buku Al-Falsafah Al-Arabiyah
19

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Press, 2008), hlm. 207.

Menurut arti harfiahnya berarti takut. Dapat diartikan pula takut terhadap siksa Allah. Khauf ini dapat dijadikan sebagai penggiringan perbuatan manusia menuju kepada amal shaleh agar para hamba dapat mendekat kepada Tuhannya. Khauf juga merupakan sarana untuk mendorong diri agar lebih tekun dalam menjalankan perintah-Nya. Juga dapat mencegah terjadinya perbuatan maksiat yang dapat dilakukan oleh hamba-Nya. Rasulullah bersabda, yang artinya: Orang beriman itu berada di antara dua ketakutan, yaitu antara ajal terdahulu, tidak tahu persis apa tindakan Allah baginya. Dan ajal mendatang, juga tidak tahu persis bagamana keputusan Allah terhadapnya. Oleh sebab itu seseorang wajib berbekal amal shaleh demi keselamatan dirinya, dan dari dunia untuk akhirat, dari hidup untuk matinya. Maka demi Allah yang jiwa Muhammad di bawah tanganNya: sesudah mati, tiada kesempatran istighfar dari dosa, dan tiada tempat di sana kecuali surga dan neraka. (HR. Hasan Basri dari Jabir RA) Menurut Imam Alghazali (450-505 H) khauf terbagi menjadi dua macam20, yaitu khauf karena khawatir kehilangan nikmat yang membuat orang untuk memelihara dan memanfaatkan nikmat tersebut pada tempatnya. Kedua, khauf kepada siksaan karena kemaksiatan yang dilakukan. Hal inilah yang mendorong manusia untuk bertaqwa kepada Tuhannya. e. Raja Raja secara umum berarti berharap atau optimisme. Yaitu perasaan yang senantiasa berharap sesuatu yang diinginkan atau disenangi. Raja akan mendorong seseorang untuk taat kepada Tuhannya serta mencegah dari kemaksiatan. Raja menuntut tiga perkara21,diantaranya yaitu:
M. Jamil, Cakrawala Tasawuf, Sejarah, Pemikiran dan Kontextualitas, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), hlm. 60. 21 M. Sholohin, Ilmu Tasawuf untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS , (Bandung:Pustaka Setia , 2008), hlm. 85.
20

1. 2. 3.

Cinta kepada apa yang diharapkannya. Takut harapannya itu hilang. Berusaha untuk mencapainya.

Raja tanpa dibarengi dengan tiga perkara di atas maka semua hal yang dia harapkan akan menjadi sebuah ilusi dan khayalan belaka.

f. Syauq (rindu) Di sini diartikan sebagai rindu akan pertemuan dengan Allah, sebagai yang dicinta. Selama masih ada kata-kata cinta dalam hatinya, maka masih tersimpan pula yang namanya Syauq. Menurut Imam Al-Ghazali (450-505 H), rindu kepada Allah dapat dijelaskan melalui pendefinisian cinta yang sebenarnya kepada Allah22. Ketika belum bertemu dengan yang dicntainya dan yang dicintainya belum berada di hadapannya, maka rindi itu akan memabukkannya. Pasti selalu merindukan yang dicintainya.

g. Uns Menurut para kaum sufi uns diartikan sebagai selalu berteman dan tak pernah merasa sepi23. Seperti halnya ketika berada di tempat yang ramai tetapi jiwa mereasa sepi, sebab selalu memikirkan yang dicintanya. Da ketika berada di kesepian yang dirasakan adalah keramaian, sebab selalu memikrkan rencanarencana untuk bertemu dengan yang dicintainya. Ini menunjukkan keakraban dan nilai kedekatan dengan Tuhan yang selalu dicintanya. Seseorang yang ada pada kondisi uns akan merasakan kebahagiaan,
22

M. Sholohin, Ilmu Tasawuf untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 86. 23 M. Sholohin, Ilmu Tasawuf untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS, (Bandung:Pustaka Setia , 2008), hlm. 86.

kesenangan, kegembiraan serta suka cita yang begitu dalam. Kondisi kejiwaan seperti ini dialami oleh seorang sufi ketika merasakan kedekatan sedekat-dekatnya dengan Allah. Hati dan perasaannya diselubungi oleh cinta yang begitu mendalam. Keadaan seperti ini dapat dialami oleh seorang sufi misalnya ketika menikmati keindahan panorama alam, keluasan bacaan atau merdunya alunan suara. Pengalaman yang seperti ini akan berbeda antar individu sufi.

h. Thumaninah Dalam sholat thumaninah berarti berhenti sejenak. Dalam konteks ini thumaninah berarti keteguhan atau ketentraman hati dari segala hal yang merusak hati itu sendiri. Di dasarkan atas firman Allah SWT, yang artinya: Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kehadirat Tuhanmu dengan hati yang puas dan diridlai-Nya. Masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS Al-Fajr: 27-30). Ibnu Qayim (691 H/1292 M 751 H/1350 M) membagi tumaninah dalam tiga tingkatan: 1. Ketenangan hati dengan mengingat Allah. 2. Ketentraman jiwa pada kashf, ketentraman perindu pada batas penantian. 3. Ketentraman menyaksikan Tuhan pada kelembutan kasihnya. i. Musyahadah Musyahadah berarti bersaksi. Bersaksi atas keberadan Allah dan RasulNya. Dengan berucap dua kalimat syahadah disertai dengan iman. Dalam hal ini musyahadah adalah kehadiran al-Haqq dengan tanpa dibayangkan. Orang yang berada pada puncak musyahadah hatinya senantiasa dipenuhi oleh cahaya-cahaya ketuhanan, ibarat cahaya matahari yang tiada hentinya menyinari bumi.

j. Yaqin Menurut arti bahasanya, yaqin bermakna mempercayai. Dalam konteks ini yaqin adalah, mempercayai terhadap segala sesuatu yang diberi oleh Allah merupakan anugrah yang tak ternilai harganya. Meyakini keberadaan Allah sebagai wujud keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Lebih tegasnya yakin adalah memantapkan hati kepada yang Maha Pencinta.

C. KETERKAITAN MAQAMAT DAN AHWAL Menurut Ibn Arabi (560-638 H), kesan yang bersifat temporal adalah ciri khusus ahwal, sedang potensi yang menjelma menjadi sifat adalah ciri khusus maqamat. Hakikat keduanya ditentukan oleh niat dan istiqamah dalam mempraktikkan keutamaan. Allah Swt menganugerahkan maqamat kepada jiwa melalui praktik keutamaan, meski Dia sesungguhnya Mahakuasa menentukan apakah akan memberi (atau tidak) anugerah yang dapat memungkinkan hamba melakukan perbuatan baik. Keterkaitan maqamat dan ahwal bersifat integral sehingga gejala ahwal yang terlihat pada sebagian orang terkadang dinilai sebagai gejala maqamat dalam pandangan orang lain. Hal ini disebabkan kenyataan bahwa ahwal itu sendiri dapat dapat berkembang menjadi maqamat. Dinamakan ahwal karena fungsinya mentransformasikan hamba dari posisi jauh dari Tuhan untuk dekat kepada-Nya, sedangkan maqamat pada dasarnya adalah cara yang ditempuh untuk mendapatkan anugerah-anugerah Ilahi tersebut. Secara historis konsep muqamat dan ahwal diduga muncul pertama kali pada abad pertama Hijriyah. Sosok yang memperkenalkan kedua term tersebut adalah Ali bin Abi Thalib. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib ketika ditanya, Apa makna iman? Beliau menjawab,Iman dibangun atas empat pilar, yaitu ketabahan, keyakina, keadilan, dan perjuangan. Kemudian Ali bin Abi Thalib menguraikan makna masing-masing hingga membentuk sepuluh bentuk kedudukan hamba.

Maqamat dan ahwal, menurut kaum sufi, masing-masing, memiliki peringkat tertentu dan setiap peringkat didasarkan kepada Al-quran dan Sunnah. Kenyataan ini membuktikan bahwa sumber-sumber disiplin tasawuf yang satu ini adalah bersifat murni dari Islam. Dengan demikian, setiap pandangan yang berupaya mencarikan sumber-sumber lain kiranya tidak beralasan.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN 1. Maqamat dan ahwal tidak dapat terpisahkan, keduanya memiliki hubungan yang erat. Jika sedang bermaqamat maka akan merasakan yang namanya ahwal. 2. Perjalanan maqamat dan ahwal para sufi pada zaaman dahulu dengan sekarang sangatlah berbeda. Mereka menjalankan unsur yang terdapat dalam maqamat dan ahwal tidak secara kontekstual, namun tersesuaikan dengan keadaan sekarang. Mereka lebih memilih kepada sosialitas. 3. Kehidupan sufi sekarang banyak yang lebih tercurahkan pada soal-soal keimanan, akhlaq dan aspek-aspek sosial. Bukan hanya soal-soal ritual muamalah dan ibadah mudhah secara tradisional.

DAFTAR PUSTAKA Hasyim, Ali. 2006. Menuju Puncak Tasawuf. Surbaya: Visi 7. Jamil, M.. 2004. Cakrawala Tasawuf, Sejarah, Pemikiran dan Kontextualitas . Jakarta: Gaung Persada Press. Muhayya, Abdul, dkk. 2001. Tasawuf dan Krisis. Semarang : Pustaka Pelajar. Nasution, Harun.. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam.:. Natta, Abuddin. 2006. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Press. Shihab, Alwi. 2009. Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi, Akar Tasawuf di Indonesia. Depok : Pustaka IIMaN. Solohin, M., Anwar, Rosihon. 2008. Ilmu Tasawuf untuk Mata Kuliah Ilmu Tasawuf
di Seluruh Jurusan PTAIN dan PTAIS. Bandung: Pustaka Setia.

Zahri, Mustafa. 1998. Kunci Memahami Ilmu Tasawuf. Jakarta: PT. Bina Ilmu.