PENGARUH STRUKTUR ORGANISASI, BUDAYA ORGANISASI, KEPEMIMPINAN, ALIANSI STRATEGIS TERHADAP INOVASI ORGANISASI DAN KINERJA ORGANISASI HOTEL

BINTANG TIGA DI JAWA TIMUR

FALIH SUAEDI Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP Unair Abstract To days, adaptive and innovative organizations are required within business environment which is more competitive, so that they will be able to take care of organization performance. This research aims to study the factors influencing organizational innovation and it s influence to organizational performance of three star hotel in East Java. Such factors are organizational structure, organizational culture, strategic alliance and leadership. Research results indicate that organizational innovation is directly influenced significantly by organizational structure, organizational culture, leadership, and strategic alliance. Organizational performance is also influenced directly and significantly by organizational structure, organizational culture, leadership, and strategic alliance. Organizational innovation influences the organizational performance of three star hotel in East Java directly and significantly. For more details, the result of this research are that organizational structure have a positively direct significant ly effect on organizational innovation. Key Words : organizational structure, organizational culture, leadership, strategic alliance, organizational innovation, and organizational performance.

Latar Belakang Masalah Perkembangan sektor pariwisata cukup menggembirakan, namun krisis ekonomi di pertengahan tahun 1997 dan berkembang menjadi krisis politik telah mempengaruhi jumlah penerimaan devisa, dimana pada tahun 1998 turun sebesar 13,5%. Mestinya, krisis ekonomi membawa berkah tersembunyi bagi sektor pariwisata sebab dengan terdepresiasinya rupiah terhadap dollar Amerika membuat perjalanan dan biaya hidup di Indonesia jauh lebih murah dari

sebelumnya. Namun aspek keamanan yang buruk seiring dengan krisis politik yang makin tak menentu, menyebabkan sektor pariwisata terpuruk. Pengaruh krisis ekonomi di Indonesia terhadap kedatangan wisatawan mancanegara (wisman), adalah makin menurunnya jumlah wisatawan

mancanegara pada tahun 1998 dan tahun 1999. Pada tahun 2002 jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia hanya mencapai 4,05 juta orang (Serikat Pekerja Mandiri, 2003). Dari sisi pasar wisman, jelas hal demikian tak menguntungkan bagi lingkungan bisnis industri pariwisata, khususnya bisnis di bidang industri perhotelan ( hospitality industry ) di Indonesia. Terpuruknya industri perhotelan ini dapat dilihat pula dari menurunnya tingkat hunian hotel terutama di daerah -daerah tujuan wisata (DTW). Secara nasional, tingkat hunian hotel pada tahun 1997 tercatat rata -rata 47 persen, namun tahun 1998 menurun jadi hanya 38 %, tahun 1999 naik lagi jadi 41 % dan pada tahun 2000 meningkat jadi 44 %, dan pada tahun 2001 turun lagi menjadi hanya 40 %. Sejak terjadinya tragedi bom di Bali, tingkat hunian hotel kembali menurun dan stagnan pada kisaran 35 % (Tempo Inter aktif, 6 Mei 2003). Penurunan tingkat hunian kamar hotel ini terutama terjadi pada hotel berbintang, sedangkan hotel melati justru masih bisa bertahan dan bahkan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Turunnya tingkat hunian kamar hotel terutama pad a hotel berbintang saja, hal ini mengingat mayoritas pengunjungnya adalah wisatawan mancanegara yang sejak terjadinya krisis politik dan keamanan cenderung berkurang drastis. Sedangkan untuk pengunjung di hotel tingkat melati relatif stabil atau bahkan

meningkat, mengingat pengunjungnya adalah wisatawan nusantara. Wisatawan nusantara yang melakukan perjalanan di Indonesia pada tahun 1991 sebesar 64 juta orang. Diperkirakan rata -rata per tahun meningkat sebesar 2%. Kenyataannya wisatawan nusantara yang melak ukan perjalanan justru meningkat lebih besar dari angka itu, sehingga perkiraan wisatawan nusantara yang bepergian pada tahun 1998 sebesar 84 juta orang, sudah dapat dicapai pada tahun 1995 (Mulahela, 1998: 3). Dua unsur sumber pangsa pasar yaitu wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus), telah merangsang investor untuk melakukan penanaman modalnya di bidang akomodasi hotel. Investor juga melihat angka angka hasil operasi hotel berbintang yang dianggap sangat memuaskan. Likuiditas tinggi, dimana rata-rata pengumpulan piutang tamu relatif cepat. Laba departemen kamar rata-rata antara 88% sampai 90%. Laba departemen lain seperti, makanan dan minuman, telepon, laundry dan lain -lain cukup tinggi. Diperkirakan tingkat pengembalian investasi (Pay back Period ) hanya memerlukan waktu enam sampai delapan tahun. Maka lirikan investor ini akhirnya berubah menjadi meningkatnya aplikasi permohonan penanaman modal dalam negeri maupun modal asing dalam bisnis perhotelan. Optimisme industri pariwisata terhadap prospek bisnis perhotelan ini terlihat dari makin meningkatnya jumlah hotel dan jumlah kamar. Namun krisis moneter yang membuat daya beli masyarakat Indonesia turun drastis serta keamanan yang tidak terjamin telah membuyarkan optimisme tersebut. Terbukti dari menurunnya jumlah devisa pada tahun 1998, menurunnya jumlah wisatawan

manca negara serta menurunnya tingkat okupansi hotel. Dengan demikian profitabilitasnya jelas menurun, secara nasional penurunan profitabilitas diperkirakan mencapai rata -rata 30%, sementara di Jawa Timur tidak jauh dari angka tersebut yakni sekitar rata -rata 33-35% . Dengan mencermati tingkat okupansi yang hanya 34,90% pada tahun 1998 serta angka pertumbuhan yang melorot hingga – 23,96% pada tahun tersebut, memberi gambaran konkrit yang tidak berbeda jauh dengan kondisi pariwisata secara nasional pada tahun yang sama. Perkembangan pada tahun selanjutnya juga belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Dengan rata-rata tingkat okupansi selama lima tahun yang mencapai 39,47% maka dapat dikatakan bahwa mendatangkan tamu untuk menginap di hotel merupakan tugas yang sangat berat. Kondisi demikian merupakan hasil konfigurasi aspek lingkungan eksternal dan kemampuan serta upaya aspek internal masing-masing organisasi hotel. Jumlah tamu yang menginap memberi kontribusi sangat besar pada tingkat profitabilitas hotel karena sebagian besar pendapatan hotel berasal dari tamu yang menginap maka dapat dikatakan bahwa tingkat okupansi juga mempengaruhi kinerja hotel. Menyangkut pertumbuha n wisatawan mancanegara juga mengalami hal sama, dimana daya serap jumlah kedatangan di Jawa Timur terhadap total kedatangan wisman secara nasional pada tahun 1997 sebesar 9,01 % (saat terjadinya krisis ekonomi) dan terus mengalami penurunan. Kontribusi Jawa Timur dalam menarik wisman semakin menurun drastis. Bila dilihat perkembangan dari tahun 1997 ke tahun 1998, baik dari dari aspek

persentase kontribusi terhadap kedatangan wisman secara nasional maupun kedatangan wisman ke Jawa Timur (dari 454.216 wisma n pada tahun 1997 menjadi 175.266 wisman pada tahun 1998, terjadi penurunan sebesar 61,41%). Hal demikian bila dikaitkan dengan lingkungan industri perhotelan cenderung tidak kondusif. Untuk itu tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan daya saing melalui penciptaan inovasi di bidang pelayanan ataupun produk -produk penunjang lainnya di era persaingan yang makin keras dan perjuangan untuk mempertahan hidup perusahaan semakin berat. Tabel 1. PERKEMBANGAN KEDATANGAN WISMAN DI JAWA TIMUR MENGINAP DI HOTEL BINTA NG TAHUN 1994 - 1999 Tahun Jumlah Pertumbuhan 1994 192.542 + 10,23 % 1995 267.622 + 38,99% 1996 289.557 + 8,20% 1997 300.819 + 3,89% 1998 161.652 - 46,26% 1999 124.992 - 34,12% Sumber : Pariwisata Jatim Dalam Angka, Kanwil Deparsenibud 1999 dan sumb er lain, diolah kembali. Tahun 1997 masih menunjukkan perkembangan yang baik, diperkirakan kinerja tahun tersebut akan jauh lebih baik apabila Indonesia tidak dilanda krisis ekonomi – awal krisis terjadi seputar bulan Agustus 1997. Pada Tahun 1998, terjadi perkembangan yang makin merosot hingga minus 46,26% dan berlanjut hingga tahun 1999 yang masih jauh dari fenomena “recovery” yaitu dengan perkembangan minus 34,12%. Dari sisi pasar wisatawan manca negara, pihak hotel bintang di Jawa Timur mengalami penuru nan jumlah tamu yang cukup konsisten. Bila dihubungkan dengan rata -rata lamanya tamu tinggal tahun 1999 Average Length of Stay (LOS) hanya mencapai 1,90 hari. Bila dicermati lebih

di sisi lain persaingan antar hotel semakin ketat (mengingat jumlah hotel yang terlanjur meningkat) akibatnya dunia perhotelan menghadapi suatu tantangan dan tekanan serta perubahan lingkungan yang dramatis. Krisis ekonomi yang melanda Asia (termasuk Indonesia) telah menyebabkan tingkat okupansi hotel menurun tajam. Dari sejumlah hotel bintang di Jawa Timur. Krisis ekonomi yang dimulai pada pertengahan tahun 1997 memberi pengaruh pada perolehan tamu yang berasal dari wisatawan nusantara. Ternyata tak hanya pelanggan asing saja yang ‘menekan’ industri perhotelan. Dengan jumlah kamar yang . Tekanan lingkungan bisnis terhadap industri perhotelan --khususnya hotel bintang di Jawa Timur-.92 hari sesudah tahun 1977. ternyata rata-rata Lama Tinggal sebelum krisis (tahun 1997) dan sesudahnya terdapat perbedaan yang signifikan yaitu 2.makin berat dan hal demikian akan sangat mengganggu kinerja perusahaan. dengan ‘pemain’ yang begitu banyak maka persainganpun makin keras untuk meningkatkan jumlah kunjungan tamu ke hotel.54 hari sebelum krisis dan 1. Hal ini disebabkan daya beli masyarakat secara umum berkurang. pelanggan ‘lokal’ yaitu wisatawan nusantara (wisnus) juga besar tekanannya. bahkan secara nyata terjadi pertumbuhan minus sebesar 79% pada tahun 1998.56 %. ternyata hotel bintang tiga menempati jumlah yang cukup dominan yaitu sebanyak 20 buah atau hampir mencapai 32% dari jumlah hotel bintang di Jawa Timur yang mencapai 63 buah. Mulai tahun 1999 terlihat tanda -tanda perkembangan yang positif yaitu terjadinya kenaikan pertumbuhan sebesar 13.lanjut.

Apakah Kepemimpinan berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Inovasi Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur ? 4.mencapai 2.204 orang) dari jumlah tenaga kerja yang tertampung pada hotel bintang di Jawa Timur sebesar 9. maka da pat dikatakan perubahan dan tekanan lingkungan yang dramatis pada hotel bintang di Jawa Timur sebagian besar mengenai hotel bintang tiga. Apakah Budaya Organisasi berpengaruh langsung signifikan terhadap Kinerja Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur ? 7. Apakah Aliansi Strategis berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Inovasi Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur ? 5.912 kamar serta penyerapan tenaga kerja mencapai 40% (3. 2001).073 orang (BPS Propinsi Jawa Timur. Apakah Struktur Organisasi berpengaruh langsung signifikan terhadap Kinerja Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur? 6. Apakah Struktur Organisasi berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Inovasi Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur ? 2. Perumusan Masalah Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah maka disusun rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apakah Budaya Organisasi berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Inovasi Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur ? 3. Apakah Kepemimpinan berpe ngaruh langsung signifikan terhadap Kinerja Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur? .354 buah (34%) dari jumlah k amar pada hotel bintang di Jawa Timur yang berjumlah 6.

banyak perusahaan tertarik mempelajari bagaimana menghasilkan inovasi dan mengelola proses inovasi tersebut dengan efektif (Lengnick -Hall.1996:336). Apakah Aliansi Strategis berpengaruh langsung signifikan terhadap Kinerja Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur? 9. apalagi menerapkannya.8. Walaupun demikian tidak mudah melahirkan ide -ide inovatif.1990:436). Apakah Inovasi organisasi berpengaruh langsung s ignifikan terhadap Kinerja organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur ? Landasan Teori .:1997:383).Jelaslah kiranya bahwa Hotel sebagai sebuah organisasi harus terus melakukan inovasi di tengah gencarnya arus perubahan agar tetap mampu mempertahankan kinerjanya atau bahkan meningkatkannya. Adanya hubungan yang jelas antara inovasi dengan pengembangan keunggulan bersaing dan perolehan keuntungan di atas rata -rata. Banyak faktor yang mempengaruhi penerapan inovasi organisasional secara efektif. Struktur . Dalam industri. inovasi terkait erat dengan keefektifan organisasi (Robbins. Inovasi adalah suatu gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk. Aspek struktural.1986:590-607). Apa yang dikatakan Robbins ternyata didukung oleh suatu tinjauan menyeluruh atas per soalan inovasi yaitu struktur organik secara positif mempengaruhi inovasi (Damanpour. proses atau jasa (Van de Ven.et al. budaya dan sumberdaya manusia merupakan karakteristik yang selalu muncul bila peneliti mempelajari organisasi yang inovatif (Robbins. dimana lingkungan yang dinamis telah menjadi kenyataan hidup.1991:557).. dalam Hitt.

Menumbuhkan kreativitas dan menerapkannya dalam bentuk inovasi sebagai respons terhadap tuntutan dan kebutuhan perusa haan atau organisasi agar tetap survive merupakan keharusan pada era dimana lingkungan bisnis berkembang. et al:1992:250 -274). organisasi organik mempermudah fleksibilitas. kreativitas serta inovasi. Dalam struktur organik juga mendorong terjadinya komunikasi antar unit tinggi. dalam banyak organisasi. berubah serta bergejolak dengan sangat dinamis. Dari hal ini sangat mungkin budaya organisasi secara potensial bersifat disfungsional –teristimewa budaya yang kuat —pada keefektifan suatu organisasi (Miller. orang diberi imbalan untuk tidak adanya kegagalan dan bukannya untuk hadirnya kesuksesan. Para individu akan menyarankan dan mencoba gagasan baru hanya jika mereka merasa perilaku semacam itu tidak mendatangkan hukuman. formalisasi dan sentralisasi. tim silang . penyesuaian dan inter aksi silang yang membuat penerapan inovasi lebih mudah. Organisasi mampu melaksanakan inovasi jika ditunjang oleh budaya organisasinya artinya organisasi inovatif cenderung mempunyai budaya yang serupa yaitu budaya yang mendorong eksperimentasi (Robbins. satuan tugas. kompleks dan sulit diprediksi. Budaya semacam ini memadamkan dan menyurutkan terjadinya pengambilan resiko.fungsional dan mekanisme lain yang mempermudah interaksi melintasi garis-garis departemental (Monge. inisiatif. Sayang.organik ini lebih rendah dalam diferensiasi vertikal. 1994:11-38). misalnya saja ada komite. dimana mendudukkan kesuksesan dan kegagalan dalam bobot yang ‘sama’ dan bahkan ‘merayakan’ kekeliruan. Namun upaya -upaya untuk menumbuhkan dan menerapkan inovasi .1996 :337).

Dengan demikian . Kecenderungan besar dalam aktivitas bisnis dewasa ini adalah kemitraan atau kerjasama. Oleh sebab itu manajer yang dibutuhkan untuk menunjang terjadinya proses inovasi adalah yang mempunyai kharakteristik kepemimpinan transformasional yaitu yang memberi inspirasi dan energi kepada orang lain melalui stimulasi intelektual (Yukl. hanya permainan inovatif yang akan berhasil dalam mengubah posisinya se cara radikal . tanpa menghilangkan esensi bisnis itu sendiri yaitu persaingan.1996:89).sering tidak didukung oleh para manajer di perusahaan tersebut. percaya bahwa ancangan lama –yang membawa keberhasilan —masih relevan. Padahal kemajuan yang sesungguhnya hanya dapat dicapai dengan membuat orang bertindak secara berbeda didalam bisnis. Memahami bagaimana membuat inovasi bekerja membutuhkan investasi yang besar dan perubahan pada model mental yang dianut para manajernya (Baden Fuller and Stopford. model mental dari manajer yang cenderung mempertahankan status -quo akan mempengaruhi inovasi. Buk annya mereka tak suka atas saran dan tindakan yang lebih baik namun lebih dari itu ada kepentingan tertentu untuk mempertahankan status -quo (Henry and Walker. Para manajernya seringkali terperangkap dalam pemikiran bahwa hanya ada satu resep yang benar.1991:143). pola pikir. menganggap industrinya stabil (Baden Fuller and Stopford:1996:28). Strategi kemitraan antara sesama pelaku bisnis pada dasarnya dimaksudkan untuk . Oleh William Davis hal demikian dikatakan sebuah ironi dimana halangan terbesar untuk melakukan inovasi justru datang dari individu yang mempunyai peran besar lebih dahulu dalam melakukan inovasi.1996:337). Robbins.1994:297. memproyeksikan masa lalu ke masa depan.

tukar pengalaman.1996:2). bekerjasama dalam pengambilan keputusan dengan partner. melengkapi. Selain itu. sehingga untuk dapat berusaha dan menghasilkan yang terbaik. Ketiga. transfer pengetahuan da n teknologi serta interaksi proses -proses binis lainnya. tidak ada perusahaan yang mampu menjadi yang terbaik dalam segala hal. perusahaan perlu memiliki kompetensi terbaik di bidangnya masing-masing. institusional dan resource-based—mempunyai hubungan yang kuat dengan terjadinya inovasi pelayanan dan teknologi pada industri rumah sakit. makin gencarnya tuntutan konsumen terhadap kualitas. ada beberapa alasan mengapa suatu perusahaan menerapkan strategi kemitraan. waktu penyerahan dan keanekaragaman produk dan jasa. Penelitian yang dilakukan Goes dan Park (1997:673 -696) menunjukkan bahwa interorganizational link –terutama pada aspek struktural. Kedua. sifat persaingan bisnis kini berkembang sangat kompleks. Dunia usaha semakin kompleks. Pertama. kesamaan strategi partner berhubungan positif dengan perolehan (outcomes ) aliansi strategi yaitu performance dan initial satisfaction . Dengan demikian aliansi strategis . Sementara Saxton (1997:443) membuktikan bahwa reputasi organisasi partner. suatu perusahaan tak mungkin lagi berbisnis sendiri tanpa kerja sama dengan perusahaan lain (Usahawan. Pennings dan Harianto (1992:29-46) mendapatkan bukti bahwa interorganizational link memperkuat terjadinya hubungan dengan peningkatan inovasi pelayanan di dunia perbankan. Dari model kemitraan itu akan timbul suatu kebutuhan untuk saling memberi dan menerima.meningkatkan keunggulan bersaing dari setiap perusahaan tanpa ada yang merasa kalah (win-win solution).

3. Ada pengaruh langsung signifikan antara Kepemimpinan terhadap Inovasi Organisasi Hotel bintang di Jawa Timur. 6.mampu mendorong terjadinya inovasi organisasional dan sekaligus juga kinerja organisasi. Ada pengaruh langsung signifikan antara Budaya organisasi terhadap Kinerja Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur. 3. 2. 4. 9. 5. Ada pengaruh langsung signifikan antara Struktur Organisasi terhadap kinerja organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur. . Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah. 7. Ada pengaruh langsung signifikan antara Aliansi Strategis terhadap Inovasi Organisasi Hotel bintang di Jawa Timur.2. Ada pengaruh langsung signifikan antara Aliansi strategis terhadap Kinerja Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur. Ada pengaruh langsung signifikan antara Budaya organisasi terhadap Inovasi Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur. Ada pengaruh langsung signifikan antara Inovasi organisasi terhadap Kinerja Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur. Ada pengaruh langsung signifikan antara Kepemimpinan terhadap Kinerja Organisas Hotel bintang tiga di Jawa Timur. tujuan penelitian dan kerangka proses berfikir serta landasan teori maka disusu n hipotesis penelitian sebagai berikut : 1. Ada pengaruh langsung signifikan antara Struktur organisasi terhadap Inovasi Organisasi Hotel bintang tiga di Jawa Timur. 8.

dan aliansi strategis. meramalkan dan mengontrol suatu gejala. Beberapa variabel yang diidentifikasi adalah variabel struktur organisasi. 2002: 76) yaitu untuk mengetahui beberapa variabel yang membentuk kin erja organisasi hotel bintang tiga di Jawa Timur. penelitian ini juga bertujuan untuk menilai inovasi organisasi. 1999: 27). Selain mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi. kepemimpinan.METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksplanatory. Di samping variabel yang telah disebutkan di atas. diidentifikasi terdapat variabel antara (intervening variable ) yang dalam penelitian ini adalah variabel inovasi organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional model (Arikunto. Ruang lingkup kajian dan pengujian adalah perusahaan hotel bintang tiga di Jawa Timur yang telah terdaftar secara resmi pada Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Propinsi Jawa Timur. Menurut tingkat eksplanasinya termasuk penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono. budaya organisasi. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang berfungsi untuk menjelaskan. Menurut Faisal (1995) penelitian eksplanatoris adalah untuk menguji hub ungan antar variabel yang dihipotesiskan. 2002: 10). . Sementara itu ada juga yang memakai istilah penelitian korelasional (Indriantoro dan Supomo.

penentuan besarnya sampel karyawan ( sample size ) atas . 4. Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian i ni adalah industri hotel bintang tiga di Jawa Timur yang seluruhnya berjumlah 20 hotel beserta seluruh karyawan pada hotel bintang tiga di Jawa Timur tersebut. Kemudian. Dengan demikian seluruh hotel bintang tiga di Jawa Timur yang b erjumlah 20 buah akan menjadi subyek penelitian. meliputi: (1) persiapan dan fisibilitas data yang akan dikumpulkan.2.1. Pelaksanaan penelitian selama 9 bulan.2. Untuk sampel hotel bintang tiga memakai metode pengambilan sampel yaitu Total Sampling atau Sensus. Penentuan Sampel dan besar sampel penelitian Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok sampel yaitu sampel hotel bintang tiga dan sampel karyawan tetap hotel bintang tiga di Jawa Timur.2. Sampel. Peneliti berasumsi sebaiknya mempertimbangkan untuk menginvestigasi seluruh elemen populasi.Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua tahap. Populasi. Cooper and Emory. (2) pengumpulan data sekunder dari pencatatan yang ada serta wawancara dengan karyawan tetap hotel bintang tiga. Besar Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 4.1996:200). S ebelum dilakukan penelitian. jika elemen -elemen populasi relatif sedikit dan variabilitas setiap elemen relatif tinggi (heterogen) (Indriantoro dan Supomo.1999:126. kajian terhadap fisibilitas data yang diambil dilakukan studi pendahuluan di 5 hotel bintang tiga di Jawa Timur. 4.2.

mendasarkan diri pada rumus Issac dan Michael (Arikunto.338 –di tabel dibulatkan menjadi 3.2002) sebagai berikut: Χ 2 NP (1 – P) S= d 2 (N – 1) + Χ 2 P(1 – P) dimana : S = Ukuran sampel N = Ukuran Populasi P = Proporsi dalam Populasi D = Ketelitian (error) Χ 2 = Harga Tabel Chi-kuadrat untuk α tertentu Dari rumus tersebut Issac dan Michael m enerbitkan tabel tentang penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu dengan taraf kesalahan.5% dari ukuran populasi). taraf kesalahan 5% maka didapat jumlah sampel sebanya k 317 orang (9. Dari tabel tersebut terlihat bahwa dengan N = 3. 5. 2002.500--. . 1.338 orang.karyawan hotel bintang di Jawa Timur yang berjumlah 3. dan 10 % . Sugiyono. Hal tersebut sesuai dengan ukuran sampel yang harus dipenuhi dalam pemodelan SEM adalah minimum 100 responden. Melihat kenyataan tersebut maka peneliti memutuskan untuk mengambil sampel sebanyak 15% dari jumlah karyawan hotel bintang tiga di Jawa Timur yaitu sebesar 501 karyawan.

2.4.3. Selain menggunakan kuesioner.2002: 116) . Variabel laten dalam penelitian ini adalah kinerja organisasi. penelitian ini juga mendayagunakan beberapa data . 4.3. budaya organisasi. Teknik Pengambilan Sampel Setelah ditentukan jumlah sampel maka langkah selanjutnya adalah menentukan teknik penarikan sampel yaitu Proporsional Simple Random Sampling . Pengukuran variabel teramati pada penelitian ini dilakukan dengan cara langsung meminta kepada responden untuk memberikan penilaiannya terhadap daftar pertanyaan (kuesioner). Teknik pengambilan s ampel proporsi atau sampel imbangan ini dilakukan untuk memperoleh sampel yang lebih representative . kepemimpinan. sedangkan variabel teramati adalah struktur organisasi. pengambilan subyek dari setiap wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subyek dalam masing -masing wilayah tersebut (Arikunto. aliansi strategis dan inovasi organisasi. Instrumen penelitian Pada penelitian ini variabel laten ( latent variables ) diukur melalui pengukuran variabel teramati ( observable variables ). Kuesioner sebagai alat pengumpul data merupakan sejumlah daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden berdasarkan hal-hal yang diketahui. Dengan demikian setiap hotel bintang tiga di Jawa Timur diambil sebanyak 15% karyawan sebagai responden dari seluruh jumlah karyawan yang ada di hotel tersebut secara random dan akhirnya diperoleh sebanyak 501 karyawan.

4. Teknik wa wancara tatap muka mempunyai kelebihan yaitu bagi pewawancara dapat memahami kompleksitas masalah dan menjelaskan maksud penelitian kepada responden (Indriantoro dan Supomo.sekunder. terutama menyangkut data ordinal yang digunakan dalam kuesioner akan diuji reliabilitas dan validitasnya.7. tenaga dan biaya. Data yang dianalisis merupakan data primer yang bersumber dari hasil kuesioner melalui wawancara tatap muka. Model analisis yang dipergunakan adalah Structural equation Modelling (SEM). Pembatasan periode waktu tersebut dilakukan sebab adanya keterbatasan informasi data yang ada di lapangan serta keterbatasan peneliti terutama menyangkut waktu. data yang terkumpul dalam penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan beberapa model analisis. 2002:153).Prosedur Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen kuesioner melalui wawancara tatap muka.01.Teknik Analisis Data Berdasarkan hipotesis dan rancangan penelitiannya.5.6. Periode waktu yang diamati tahun 2000.0 for Windows dan program AMOS 4. 4. Seluruh analisis data akan dihitung dengan menggunakan program aplikasi komputer program SPSS 10. 4. Semua pengukuran vari abel.1. Langkah-Langkah Pemodelan SEM untuk Analisis Jalur .

b) Dari keluaran program AMOS 4 (Analysis of Moment Structure) juga akan diamati hubungan kausal antar variabel dengan melihat efek langsung dan efek tak langsung serta efek totalnya. dengan ketentuan apabila nilai p lebih kecil sama dengan 0. Yang dilakukan dalam Dalam . dan keakuratan reliabilitas indikator -indikator terbaik dapat dicapai dalam two-step approach ini.. Two-Step Approach bertujuan untuk menghindari interaksi model pengukuran dan model struktura l (Hair et al.05 signifikan. 1996).3. Structural Model adalah mengenai struktur hubungan yang membentuk atau menjelaskan kausalitas antara faktor. 1988). Sampel data dalam penelitian ini berjumlah 501.7.Sebuah pemodelan SEM yang lengkap pada dasarnya terdiri dari Measurement Model dan Structural Model. Pengujian Hipotesis Dan Hubungan Kausal a) Pengaruh langsung (Koefisien Jalur) diamati dari bobot regresi terstandar. dengan pengujian signifikansi pembanding Nilai CR (Critical Ratio) yang sama dengan Nilai t hitung dengan t table apabila t hitung lebih besar daripada t table berarti signifikan Intepretasi juga dapat dilakukan dengan mengamati nilai propability (p). 4. 4.2. Measurement Model atau Model Pengukuran ditujukan untuk mengkonfirmasi dimensi yang dikembangkan pada sebuah faktor. Pengujian model dengan Two-Step Approach Two-Step Approach digunakan untuk mengatasi masalah sampel data yang kecil jika dibandingkan dengan jumlah butir instrumentasi yang digunakan (Hartline dan Ferrell.7.

.two step approach to SEM adalah: Estimasi terhadap measurement model dan Estimasi terhadap structural model (Anderson dan Gerbing. 1988).

Evaluasi Asumsi Normalitas Data Uji normalitas sebaran dilakukan dengan Skweness Value dari data yang digunakan yang biasanya disa jikan dalam statistik deskriptif. maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak normal. Kuesioner disebarkan kepada 501 responden berdasarkan sampel yang telah ditentukan. semuanya memenuhi syarat untuk dianalisi s dengan menggunakan Structural Equation Modelling sebagaimana yang disarankan oleh Hair et al.HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN Hasil Analisis Data Penelitian ini menggunakan data cross sectional yang dikumpulkan dari 20 hotel berbintang tiga di Jawa Timur. Sebelum kuesioner digunakan dalam penelitian. Nilai statistik untuk menguji normalitas itu disebut z -value.1. dari Skweness Value pada variabel berada di bawah  . 5. Setelah itu dilakukan pengujian terhadap validitas dan reliabilitas instrumennya. Evaluasi Asumsi SEM 5. Dari 501 kuesioner yang terkumpul. Hasilnya diperoleh nilai C.01 (1%) yaitu sebesar  2. Dari hasil analisis diketahui item -item pertanyaan yang disajikan ternyata valid dan reliabel.1. (1998).58. Nilai kritis dapat ditentukan berdasarkan tingkat signi fikansi 0.1. Bila nilai-z lebih besar dari nilai kritis.1. Data diperoleh dengan menggunakan instrumen kuesioner yang dilengkapi dengan Indepth Interview dan Observasi. dilakukan pengujian terhadap 30 pegawai tetap hotel berbintang tiga di Jawa Timur yang direncanakan menjadi responden.r.1.

001 mak a terjadi multivariate outliers . semua kasus yang memiliki nilai z score  3. Dalam penelitian ini diketahui ada 32 variabel yang digunakan. Terlihat dari determinant of sample covariance matrix 5.1. 5.1. Evaluasi Outlier Data Uji outlier data dilakukan dengan mendeteksi terhadap univariat outliers yaitu mengamati nilai z score.8618e+001 dan angka ini jauh dari nol.3.2.001 atau 2 (32.0 berarti outliers dan deteksi terhadap multivariat outliers dengan menggunakan Jarak Mahalanobis pada tingkat p < 0. . Bila kasus yang mempunyai jarak Mahalanobis lebih besar dari nilai chi-square pada tingkat signifikansi 0. Disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas atau singularitas dalam data ini sehingga asumsi terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan semua kasus berada di bawah 37.001) = 37.58 dan itu berarti asumsi normalitas terpenuhi dan data layak untuk digunakan dalam estimasi selanjutnya. 5.1.6.1.001. Jarak Mahalanobis itu dievaluasi dengan menggunakan 2 pada derajat bebas sebesar jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian. sehingga jarak mahalanobis pada derajat bebas pada tingkat signifikansi 0.6 sehingga tidak terjadi multivariate outliers.2. 0. Evaluasi Multicolonierity dan Singularity Pengujian terhadap gejala multikolinieritas antar variabel bebas memperlihatkan tidak adanya gejala multikolinieritas yang merusak model.

Uji Validitas Dalam perpektif confirmatory factor analysis (CFA) sebagaimana yang dianjurkan Bollen (1989) dan lainnya dalam Mueller (1996).2.5) dan tingkat distribusi informasi (X 1.2. sentralisasi (X 1. 5. Nilai loading factor yang tinggi atau signifikan menunjukkan bahwa variabel -variabel yang diobservasi dapat digunakan atau valid untuk digunakan sebagai indikator dari varabel/faktor/konstruk latent.1. Faktor Struktur Organisasi Variabel yang diajukan sebagai indikator Struktur Organisasi adalah spesialisasi (X 1. Uji Reliabilitas Pengujian reliabilitas untuk multi -indikator sebagaimana dianjurkan Hair et. tim silang fungsional (X 1. Uji Validitas dan Reliabilitas 5.1).4).1.6).3). .2). 5.2. rentang kendali (X 1.2.al (2000) menggunakan composite reliability atau construct reliability dan extracted variance .7 dan extracted variance diterima dengan nilai minimal 0.7.5. pengujian validitas dari indikator dalam konstruk -konstruk latent dapat dilakukan dengan mengamati besarnya loading factor antara variabel teramati (observed variable) dan variabel laten (latent variable) . Hasil pengujian reliabilitas pada semua konstruk laten dengan construct reliability atau composite reliability dan extracted variance menunjukkan hasil yang reliabel yang ditunjukkan dengan semua n ilai construct reliability di atas 0.5. formalisasi (X 1. Construct reliability dapat diterima apabila memiliki nilai minimal 0.1.2.

000 0.881 0. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR STRUKTUR ORGANISASI (MODIFIKASI) Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI CFI Hasil 14.95  0. Tabel 5.839 0.00  0. Tabel 5.90  0. Dengan demikian model tersebut perlu di modifik asi dengan berpedoman pada modification indices .Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data.00  0.990 0.947 0.16.885 0.054 2.589 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.16). Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data.08  2.05  0.95  0.979 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.17).05  0.194 19.08  2.90  0.315 0. berarti model tidak sesuai dengan data.022 0.17.94 Evaluasi Model Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Dari hasil evaluasi terhadap model yang diajukan ternyata dari seluruh kriteria yang digunakan menunjukkan hasil yang kurang baik. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR STRUKTUR ORGANISASI Kriteri a ChiSquare Probabi lity RMSE A CMIN/ DF GFI TLI CFI Hasil 178. berikut disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5. berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5.473 0.94 Evaluasi Model Baik Kurang Baik Baik Kurang Baik Baik Baik Baik .963 0.

000 T hitung Probabilit y (p) Keteran gan Signifika n Signifika n Signifika n Signifika n Signifika n Signifika n Dari Tabel 5.05.136 0. pola komunikasi (X2.000 0. sistem imbalan (X 2.929 172. yang terlihat dari nilai t hitung dengan nilai probability (p) < 0.2).2.5) Tingkat Distribusi Informasi (X1.625 0.2).000 0.2. 5.581 16.9 terlihat bahwa variabel indikator spesialisasi (X 1.6) Loading Factor () 1.3) Sentralisasi (X 1.000 0.698 166.495 0.4) dan tingkat kontrol (X 2.Dari tabel Goodness of Fit beserta nilai kritisnya dapat dikemukakan dari berbagai kriteria model yang diajukan telah memiliki kesesuaian dengan data. Tabel 5.5) dan tingkat distribusi informasi (X 1. visi dan misi (X 2. LOADING FACTOR () PENGUKURAN STRUKTUR ORGANISASI Variabel indikator Spesialisasi (X 1. formalisasi (X 1.2) Rentang Kendali (X 1.1).4).3).1).993 0.000 0. sentralisasi (X 1.538 35.3).851 12.2.4) Tim Silang Fungsional (X1.6) adalah signifikan.5). Faktor Budaya Organisasi Variabel yang diajukan sebagai indikator Budaya Organisasi adalah tingkat toleransi terhadap tindakan berisiko (X 2. Selanjutnya untuk mengetahui variabel yang dapat digunakan sebagai indikator Stuktur Organisasi dapat diamati dari nilai loading factor atau koefisien lamda (Tabel 5. rentang kendali (X 1.18.18).992 0.000 0.1) Formalisasi (X 1. tim silang fungsional (X1. Untuk .

529 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.000 0.789 0.20). EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR BUDAYA ORGANISASI (MO DIFIKASI) Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI Hasil 3. Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data.90  0. berikut ini disajikan evaluasi goodness of Fit Indices (Tabel 5.mengetahui apakah model pengukuran tersebut memiliki kesesuaian dengan data.092 0.829 0. Tabel 5.947 0.05  0.213 0.05  0.90  0.19). Dengan demikian mode l tersebut perlu dimodifikasi. Tabel 5.20.95 Evaluasi Model Baik Baik Baik Baik Baik Baik . berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5.997 0.19. berarti model tidak sesuai dengan data.EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR BUDAYA ORGANISASI Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI CFI Hasil 333.00  0.363 66.95  0.033 1.992 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.08  2.546 0.94 Evaluasi Model Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Dari hasil evaluasi terhadap model yang diajukan ternyata dari seluruh kriteria yang digunakan menunjukkan hasil kurang baik.057 0.08  2.00  0.

21.5).21). pola komunikasi (X 2.000 0.654 8.2.94 Baik Dari tabel Goodness of Fit Indices beserta nilai kritisnya dapat dikemukakan bahwa dari berbagai kriteria model yang diajukan telah memiliki kesesuaian dengan data.998  0.000 T hitung Probabilit y (p) Ketera ngan Signifik an Signifik an Signifik an Signifik an Signifik an Dari Tabel 5. visi dan misi (X2.21. yang terlihat dari nilai t hitung dengan nilai probability (p) < 0.CFI 0.434 0. Untuk mengetahui variabel yang dapat digunakan sebagai indikator Budaya Organisasi dapat diamati dari nilai loading factor atau koefisien lamda (Tabel 5. terlihat bahwa indikator tingkat toleransi ter hadap tindakan berisiko (X 2.5) Loading Factor () 0. Tabel 5.000 0. sistem imbalan (X 2.3).453 0.3.4) Tingkat Kontrol (X2.1).1) Sistem Imbalan (X2.3) Visi dan Misi (X2.582 7. LOADING FACTOR () PENGUKURAN BUDAYA ORGANISASI Variabel indikator Tindakan Berisiko (X 2.464 0. pemberian penghargaan (X 3.000 0.2. 5.541 3.3). penggunaan nilai (X 3.5) adalah signifikan.2) Pola Komunikasi (X2.4) dan pemecahan masalah (X 3.2).05.610 7.940 0.195 0.1).4) dan tingkat kontrol (X 2.2). Untuk mengetahui apakah . tindakan administratif (X 3. Faktor Kepemimpinan Variabel yang diajukan sebagai indikator Kepemimpinan adalah kualitas pribadi (X 3.

000 0. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR KEPEMIMPINAN (MODIFIKASI) Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI Hasil 0.95 Evaluasi Model Baik Baik Baik Baik Baik Baik .23) Tabel 5.857 0.939 0.23.929 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0. Tabel 5.143 0.279 0.166 14.143 1.000 1.model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data. berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices . berarti model tidak sesuai dengan data.05  0.009 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.05  0. Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data. Dengan demikian model perlu dimodifikasi.856 0. berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5.90  0.94 Evaluasi Model Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Baik Kurang Baik Kurang Baik Dari hasil evaluasi terhadap model yang diajukan ternyata dari seluruh kriteria yang digunakan menun jukkan hasil kurang baik.08  2.22.00  0. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR KEPEMIMPINAN Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI CFI Hasil 74.705 0.000 0.95  0.90  0.08  2.00  0.

2) Penggunaan Nilai (X3. keseimbangan kontribusi mitra kerja (X 4. pemberian penghargaan (X 3.1).24. Untuk mengetahui variabel yan g dapat digunakan sebagai indikator Kepemimpinan dapat diamati dari nilai loading factor atau koefisien lamda (Tabel 5.24. 5.000 0.3).5) Loading Factor () 1. yang terlihat dari nilai t hitung dengan nilai probability (p) < 0.000  0.047 7.4) dan pemecahan masalah (X 3.4.5) adalah signifikan.2. penggunaan nilai (X 3.1).5).090 10.357 9.091 0.000 T hitung Probabilit y (p) Keteran gan Signifika n Signifika n Signifika n Signifika n Signifika n Dari Tabel 5.000 0.4).3).CFI 1. terlihat bahwa variabel kualitas pribadi (X 3. . LOADING FACTOR () PENGUKURAN KEPEMIMPINAN Variabel indikator Kualitas Pribadi (X3. seleksi atas partner (X 4.333 0.3) Pemberian penghrg (X3.24).567 0. dan frekuensi umpan balik kinerja (X 4. Tabel 5.547 0.1) Tindakan Administratif (X 3. tindakan administratif (X 3.2). kejelasan peran (X 4.659 0.2. Faktor Aliansi Strategis Variabel yang diajukan sebagai indikator Aliansi Strategis adalah kesesuaian tujuan (X 4.94 Baik Dari tabel Goodness of Fit Indices beserta nilai kritisnya dapat dikemukakan bahwa dari berbagai kriteria model yang diajukan telah memiliki kesesuaian dengan data.2).05.000 0.4) Pemecahan mslh (X3.727 11.

Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data.94 Evaluasi Model Kurang Baik Kurang baik Kurang baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Dari hasil evaluasi terhadap model yang diajukan ternyata dari seluruh kriteria yang digunakan menunjukkan hasil kurang baik.431 0.90 TLI 1.EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR ALIANSI STRATEGIS (MODIFIKASI) Nilai Evaluasi Kritis *) Model Chi-Square 0.08 CMIN/DF 0.000 Baik  0. Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5.000 Baik  0.25).08  2.26.95 CFI 1.00  0.463 0.000 Baik  0.000 0. berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5. Tabel 5.05 RMSEA 0.00 GFI 1.90  0.EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR ALIANSI STRATEGIS Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI CFI Hasil 227.240 Relatif Baik Kecil Probability 0.05  0.25. Kriteria Hasil .240 Baik  2.26) Tabel 5.625 Baik  0.009 Baik  0.298 45. berarti model tidak sesuai dengan data yang dengan demikian model perlu dimodifikasi.95  0.154 0.94 Dari tabel Goodness of Fit Indices beserta nilai kritisnya dap at dikemukakan bahwa dari berbagai kriteria model yang diajukan telah memiliki kesesuaian dengan data.731 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.834 0.

3). Loading Factor () T hitung Probabilit y (p) 5.2).27).Untuk mengetahui variabel yang dapat digunakan sebagai indikator Aliansi Strategis dapat diamati dari nilai loading factor atau koefisien lamda (Tabel 5.665 11. yang terlihat dari nilai t hitung dengan nilai probability (p) < 0.110 0.000 kinerja(X 4.6). .4) Signifika 0.4). perputaran penjualan dari produk/jasa baru (X5. berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5. pengenalan sistemsistem baru (X 5.2).4). Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data.635 n Keseimbangan Signifika 0. dan frekuensi umpabn balik kinerja (X 4. kejelasan peran (X 4.3) Signifika 0.845 11.419 0.2) n Seleksi partner (X 4.5.528 12.2.27 terlihat bahwa variabel indikator kesesuaian tujuan (X 4. adaptasi produk-produk/jasa-jasa yang sudah ada (X 5. perbaikan masa penggarapan (X 5.000 n Kejelasan Peran (X 4.794 0.5) adalah signifikan. Tabel 5.27.5) n Dari Tabel 5. Variabel indikator keseimbangan kontribusi (X 4.621 0.05.364 4. Faktor Inovasi Organisasi Variabel yang diajukan seb agai indikator Inovasi Organisasi adalah jumlah produk-produk/jasa-jasa baru (X 5.2. LOADING FACTOR () PENGUKURAN ALIANSI STRATEGIS Keteran gan Kesesuaian tujuan (X 4.000 kontribusi (X 4.000 n Frekuensi umpan balik Signifika 0. seleksi atas partner (X 4.3). pengenalan mesin-mesin baru (X5.1).1).1) Signifika 0.5).28).

08 CMIN/DF 0.120 0.95 CFI 1.05  0. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR INOVASI ORGANISASI Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI CFI Hasil 217. Kriteria Hasil .94 Dari tabel Goodness of Fit Indices beserta nilai kritisnya dapat dikemukakan bahwa dari berbagai kriteria model yang diajukan telah memiliki kesesuaian dengan data. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR INOVASI ORGANISASI (MODIFIKASI) Nilai Evaluasi Model Kritis *) Chi-Square 3.933 Baik  2.000 Baik  0.000 Baik  0.998 Baik  0.855 0.28.05 RMSEA 0.29.176 0.731 Relatif Baik Kecil Probability 0.90 TLI 1.003 Baik  0.580 0.90  0.94 Evaluasi Model Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Dari hasil evaluasi terhadap model yang diajukan ternyata dari seluruh kriteria yang digunakan menunjukkan hasil kurang baik.95  0. berarti model tidak sesuai dengan data yang dengan demikian model perlu dimodifikasi .00  0.Tabel 5.29) Tabel 5.000 0.472 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.444 Baik  0.215 24. Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5.08  2.00 GFI 0.

3).000 (X5. adaptasi produk-produk/jasa-jasa yang sudah ada (X5.6) Signifik 0.097 0.2).1).592 0.5).778 10. nilai dan sikap karyawan (X6.000 an Pengenalan Sistem Baru (X 5.319 0.30 terlihat bahwa variabel indikator jumlah produk Variabel indikator produk/jasa-jasa baru (X 5. Loading Factor () T Probabilit hitung y (p) 5.000 an Dari Tabel 5. pengenalan sistem-sistem baru (X5.4).6. perbaikan masa penggarapan (X 5. tingkat okupansi (X 6.000 sudah ada (X 5.5) Signifik 0.1) Signifik 0. Tabel 5.3).2.30).799 10.251 0.Untuk mengetahui variabel yang dapat digunakan sebagai indikator Inovasi Organisasi dapat diamati dari nilai loading factor atau koefisien lamda (Tabel 5.4).734 0. Untuk mengetahui . perputaran penjualan dari produk/jasa baru (X 5.30. public responsibility (X 6.526 an Perputaran Penjualan Signifik 0. yang terlihat dari nilai t hitung dengan nilai probability (p) < 0. produktivitas (X 6.546 9.1).4) an Pengenalan Mesin Baru (X 5.2.6) adalah signifikan.636 10. Faktor Kinerja Organisasi Variabel yang diajukan sebagai indikator Kinerja Organisasi adalah Pengembangan Personil (X 6.5).2) an Perbaikan masa penggarapan Signifik 0. LOADING FACTOR () PENGUKURAN INOVASI ORGANISASI Ketera ngan Produk/Jasa Baru (X 5. pengenalan mesin-mesin baru (X 5.000 Produk/Jasa Baru (X 5.05.3) an Adaptasi Produk/Jasa yang Signifik 0.2).356 5.

31).94 Evaluasi Model Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Dari hasil evaluasi terhadap model yang diajukan ternyata dari seluruh kriteria yang digunakan menunjuk kan hasil kurang baik. berarti model tidak sesuai dengan data.00  0.743 0.90  0.05  0.770 0.074 3.004 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.120 0.95  0.32.08  2. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR KINERJA ORGANISASI (MODIFIKASI) Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI Hasil 3.000 0.31. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES FAKTOR KINERJA ORGANISASI Kriteria Chi-Square Probability RMSEA CMIN/DF GFI TLI CFI Hasil 390.05  0. Untuk mengetahui apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5. Tabel 5.) Tabel 5.apakah model pengukuran memiliki kesesuaian dengan data.770 0.872 0.393 78.90  0.00  0.95 Evaluasi Model Baik Baik Baik Baik Baik Baik .602 0.08  2. berikut ini disajikan evaluasi Goodness of Fit Indices (Tabel 5. Dengan demikian model perlu dimodifikasi.871 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.997 1.52 0.32.

3) Pertanggungjawaban public (X 6.33 terlihat bahwa variabel indikator pengembangan personil (X6.600 0.CFI 1. LOADING FACTOR () PENGUKURAN KINERJA ORGANISASI Variabel indikator Pengembangan Personil (X 6.05.000 T hitung Probabilit y (p) Ketera ngan Signifik an Signifik an Signifik an Signifik an Signifik an Dari Tabel 5.33).000 0.5) adalah signifikan.3).378 8.536 1. . yang terlihat dari nilai t hitung dengan nilai probability (p) < 0.589 0.845 13.944 14. produktivitas (X 6.978 0.2). Untuk mengetahui variabel y ang dapat digunakan sebagai indikator Kinerja Organisasi dapat diamati dari nilai loading factor atau koefisien lamda (Tabel 5.000 0.4).000 0.000  0.1).33.4) Tingkat Okupansi (X6. tingkat okupansi (X 6. Tabel 5. nilai dan sikap karyawan (X 6. pertanggungjawaban publik (X 6.1) Produktivitas (X 6.2) Nilai dan sikap karyawan (X 6.527 15.94 Baik Dari tabel Goodness of Fit Indices beserta nilai kritisnya dapat dikemukakan bahwa dari berbagai kriteria model yang diajukan telah memiliki kesesuaian dengan data.5) Loading Factor () 0.000 0.

EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES MODEL LENGKAP Kriteria Chi-Square Probability CMIN/DF RMSEA GFI TLI CFI Hasil 4340. Evaluasi terhadap model di atas dapat dilihat pada Tabel 5. Aliansi Strategis dan Inovasi Organisasi terhadap Kinerja Hotel bintang Tiga di Jawa Timur dengan model persamaan struktural (structural equation modeling) . Aliansi Strategis dan Inovasi Organisasi terhadap Kinerja Hotel Berbintang Tiga di Jawa Timur. model perlu dimodifikasi.00  0.94 Evaluasi Model Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Dari hasil evaluasi terhadap model yang diajukan ternyata dari seluruh kriteria yang digunakan ada du a kriteria yang kurang baik. Kepemimpinan. Pengaruh Struktur Organisasi.05  2.35.000 723. Tabel 5.90  0.183 -1. Kepemimpinan. Budaya Organisasi.08  0. Selanjutnya dengan memasukkan indikator variabel yang signifikan.661 0.5.202 0.357 1. Budaya Organisasi.95  0.2. dilakukan pengujian model lengkap yang menjelaskan pengaruh Struktur Organisasi. .34. Oleh karena itu.000 Nilai Kritis *) Relatif Kecil  0.143 0. berarti model kurang sesuai dengan data.

854 0.774 0. Aliansi Strategis dan Inovasi Organisasi terhadap Kinerja Hotel Berbintang Tiga di Jawa Timur berikut disajikan koefisian jalur yang menunjukkan hubungan kausal antara variabel tersebut.017 0.209 0. Kepemimpinan. Budaya Organisasi.05 0.36.90 0.Tabel 5.893 0.999 Nilai Kritis *) Relatif Kecil 0.965 0. Untuk menguji hipotesis Pengaruh Struktur Organisasi.95 Evaluasi Model Baik Kurang Baik Baik Baik Baik Baik Dari tabel di atas dapat dikemukakan bahwa m odel dapat diterima atau sesuai dengan data.927 10. EVALUASI KRITERIA GOODNESS OF FIT INDICES MODEL LENGKAP MODIFIKASI Kriteria Chi-Square Probability RMSEA GFI TLI CFI Hasil 8.442 0.642 T hitung Probability Keterangan (p) Positif 12.075 0.08 0.35.000 Signifikan Positif 3326.671 0.888 9.989 0.995 0.000 Signifikan Positif Signifikan Positif Signifikan Positif Signifikan Positif Signifikan Positif Signifikan Positif 2273. Tabel 5.234 0.95 0.000 Signifikan .103 0. KOEFISIEN JALUR (REGRESI TERSTANDAR) HUBUNGAN ANTAR VARIABEL Jalur Stor Bud Kep Alstra Stor Bud Kep Alstra --> --> --> --> --> --> --> --> Inor Inor Inor Inor Kinor Kinor Kinor Kinor Koefisien Jalur 0.

8 0.9 0.291 Sumber : Hasil Analisis 8. Dengan kriteria tersebut terlihat semua jalur signifikan.0 0. dapat dilihat rekap efek langsung.8 0.80 0.182 0.2 0.26 0.EL : Efek Langsung .2 0.965. Efek tidak langsung struktur organisasi terhadap kinerja organisasi yang dimediasi oleh inovasi organisasi adalah sebesar –0.000 Positif Signifikan Pengujian hipotesis ( alternatif ) dilakukan dengan membandingkan nilai probability (p) dikatakan signifikan apabila ni lai p  0.96 6.0 09 0 09 00 00 00 9.2 0. Efek total struktur organisasi terhadap inovasi organisasi sebesar 0. Tabel 5.128.37 dapat dijelaskan bahwa terdapat efek langsung struktur organisasi terhadap inovasi organisasi sebesar 0.05.00 10.2 7 4 8 91 00 91 EL ETL ET EL ETL ET EL ETL ET 0. untuk melihat efek langsung.37.4 0.0 0.6 0.9 0. REKAP EFEK LANGSUNG.Inor --> Kinor 0.0 0.00 0. Selanjutnya.6 0.6 0 42 27 0 27 71 0 71 Inor 42 Kin 0.19 0. karena tidak ada hubungan lain yang dapat .77 2.ET : Efek Total Dari Tabel 5.00 0.12 0.4 8 37 88 9 18 42 5 47 or 65 Sumber : Hasil Analisis Keterangan: . efek tidak langsung dari masing-masing variabel. EFEK TAK LANGSUNG. efek tak langsung dan efek total antar variabel yang dite liti pada Tabel 5.37.6 0.00 0.442 sama besarnya dengan efek langsungnya.ETL : Efek Tak Langsung .4 0. DAN EFEK TOTAL ANTAR VARIABEL Struktur Organisasi Budaya Organisasi Aliansi Strategis Inovasi Organisasi Kepemimpinan ET EL ETL ET EL L ET 10.9 0.442 dan terhadap kinerja organisasi sebesar 0.

Efek langsung kepemimpinan terhadap inovasi organisasi sebesar 10.774.671 dan terhadap kinerja organisasi sebesar 0. Efek tidak langsung budaya organisasi terhadap kinerja organisasi yang dimediasi oleh inovasi organisasi adalah sebesar –0.671 sama besarnya dengan efek langsungnya.mempengaruhi inovasi organis asi. Efek total budaya organisasi terhadap inovasi organisasi sebesar 0.967. Efek total kepemimpinan terhadap inovasi organisasi sebesar 10. karena tidak ada hubungan lain yang dapa t mempengaruhi inovasi organisasi. Efek total budaya organisasi terhadap kinerja organisasi sebesar 0.888. Efek tidak langsung aliansi strategis terhadap kinerja organisasi yang dimediasi oleh inovasi organisasi adalah sebesar –2.642.447 lebih kecil dari efek langsungnya.195.442 sama besarnya dengan efek langsungnya.269.837 lebih kecil dari efek langsungnya.209 dan terhadap kinerja organisasi sebesar 9. Efek langsung aliansi strategis terhadap inovasi organisasi sebesar 0. Efek total struktur organisasi terhadap kinerja organisasi sebesar 0. Efek total struktur organisasi terhadap kinerja organisasi sebesar 0. Efek langsung budaya organisasi terhadap inovasi organisasi sebesar 0. Efek tidak langsung aliansi strategis terhadap kinerja organisasi yang dimediasi oleh inovasi organisasi adalah sebesar –0.209 sama besarnya dengan efek langsungnya.618 lebih kecil dari efek langsungnya. karena ti dak ada hubungan lain yang dapat mempengaruhi inovasi organisasi.927 dan terhadap kinerja organisasi sebesar 0. karena tidak ada hubungan lain . Efek total struktur organisasi terhadap inovasi organisasi sebesar 0.

berikut: Tabel 5. Hasil modifikasi ini ternyata model dapat diterima. serta dengan penelitian –penelitian sebelumnya.3. Melalui model tersebut dapat dijelaskan relevansinya dengan fakta empiris.808 lebih kecil dari efek langsungnya. RINGKASAN PENGUJIAN HIPOTESIS Hipote sis H1 H2 Pengujian Struktur organisasi terhadap inovasi organisasi Budaya organisasi terhadap inovasi organisasi Hasil pengujian Hipotesis Penerimaan Berpengaruh Diterima/ positive positif significant Berpengaruh Diterima/ positive positif significant . Efek langsung inovasi organisasi terhadap kinerja organisasi sebesa r 0. Efek total inovasi organisasi terhadap kinerja organisasi sebesar 0. Langkah berikutnya adalah dengan mengintepretasikannya dengan menjelaskan hubungan kausal antar variabel termasuk melalui efek langsung dan efek tak langsungnya. karena tidak ada hubungan lain yang dapat mempengaruhi inovasi organisasi. Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis Hasil evaluasi model dengan beberapa kriteria Goodness of Fit Indices menunjukkan hasil yang kurang baik maka model dimodifikasi dengan berpedoman pada modification indices .38.38. teori –teori yang ada. Efek total kepemimpinan terhadap kinerja organisasi sebesar 6. Dari hasil pengujian signifikansi masing -masing variabel beserta indikatornya maka sembilan hipotesis yang diajukan dapat diterima. 5.291 sama besarnya dengan efek langsungnya.yang dapat mempengaruhi inovasi organisasi.291. Ringkasan hasil pengujian hipotesis dapat dilihat dalam Tabel 5.

Kepemimpinan inovasi organisasi Aliansi strategis H4 inovasi organisasi Budaya organisasi H5 kinerja organisasi Struktur organisasi H6 kinerja organisasi Kepemimpinan H7 kinerja organisasi Aliansi strategis H8 kinerja organisasi Inovasi organisasi H9 kinerja organisasi Sumber : Hasil Analisis H3 terhadap terhadap terhadap terhadap terhadap terhadap terhadap Berpengaruh positif Berpengaruh positif Berpengaruh positif Berpengaruh positif Berpengaruh positif Berpengaruh positif Berpengaruh positif Diterima/ significant Diterima/ significant Diterima/ significant Diterima/ significant Diterima/ significant Diterima/ significant Diterima/ significant positive positive positive positive positive positive positive .

rentang kendali yang luas. tingkat kontrol yang rendah. Kesimpulan Dari hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1) Struktur organisasi berpengaruh langsung positif signifikan terhadap inovasi organisasi. Budaya yang dimaksud adalah yang mempunyai tingkat toleransi terhadap tindakan berisiko. adanya tim silang fungsional serta menyebarnya distribusi informasi. . 2) Budaya organisasi berpengaruh langsung positif signifikan terhadap inovasi organisasi.Dari berbagai analisis dan pembuktian secara kuantitatif dan kualitatif empirik maka dalam studi ini disusun kesimpulan dan saran sebagai berikut : 7. pola komunikasi yang ti dak hirarkhial. Berarti budaya organisasi hotel bintang tiga di Jawa Timur ‘adaptif’ sehingga mampu memberi kontribusi pada inovasi organisasi. sentralisasi yang renda h. mendukung system imbalan yang kompetitif. Dengan system pengertian dan nilai-nilai dominant yang diterima secara bersama itulah.1. budaya organisasi berpengaruh langsung positif signifikan terhadap inovasi organisasi. Hasil ini menolak tesis tentang hubungan strategi menentukan struktur. Struktur yang dimaksud adalah struktur organisasi yang organis yaitu yang rendah spesialisasinya. rendah formalisasinya. visi dan misi jelas.

tindakan administrative. yang inovatif dan transformative memberi dukungan dan distribusi terhadap terwujudnya inovasi organisasi. teknologi. pengalaman sehingga mampu mendorong munculnya nilai-nilai baru yang mendukung dan mendorong terjadinya inovasi organisasi. Kepemimpinan dalam hal ini ditinjau dari kualitas pribadi. 5) Struktur organisasi berpengaruh langsung positif signifikan terhadap kinerja organisasi. dan kredibilitas dari bawahan menuju perubahan yang inovatif. aliansi strategis yang dilakukan hote l bintang tiga di Jawa Timur mampu menjadi arena proses pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi sehingga mampu memberi kontribusi atas terwujudnya inovasi organisasi. Kepemimpinan para manajer di semua level organisasi memberi pemengaruhan terhadap perilaku bawahan sehingga dengan pola kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan. keseimbangan kontribusi. Dengan demikian. mempengaruhi. mampu menjadi agen perubahan dalam mendorong. pemberian penghargaan dan pemecahan masalah. kejelasan peran. penggunaan nilai. Struktur organisasi pada hotel bintang tiga di Jawa Timur. Dengan melakukan aliansi strategis yang efektif akan terjadi interaksi dengan mitra kerja menuju proses saling belajar. mendapatkan komitmen. saling tukar sumberdaya. lebih . memotivasi. inovasi organisasi ditinjau dari kesesuaian tujuan. Dalam hal ini. seleksi atas partner.3) Kepemimpinan berpengaruh langsung positif signifikan terhadap inovasi organisasi. Dengan demikian para manaj er dengan kepemimpinannya. kepercayaan. 4) Aliansi strategis berpengaruh langsung positif signifikan te rhadap inovasi organisasi. umpan balik kinerja.

menunjukkan struktur yang organis yaitu struktur yang rendah spesialisasi. 6) Budaya organisasi berpengaruh langsung positif signifikan terhadap kinerja organisasi. Budaya organisasi pada organisasi hotel bintang tiga di Jawa Timur. Hal demikian didukung oleh studi Kotter dan Heskett bahwa budaya yang tepat secara kontekstual da n strategis tidak akan mempromosikan kinerja organisasi selama periode yang panjang kecuali kalau budaya tersebut mengandung norma dan nilai yang dapat membantu perusahaan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah. rendah formalisasi. rentang kendali yang longgar. adanya tim silang fungsional dan distribusi inf ormasi yang merata mampu mendorong berkembangnya dinamika dalam lingkungan kerja. budaya yang mendorong terjadinya proses pembelajaran sehingga mampu mendukung kinerja organisasi. karena bisa mewujudkan interaksi untuk saling belajar dengan bagian -bagian struktur yang lain dalam rangka memperkaya nilai -nilai baru yang lebih holistic. Pembuktian ini mempertegas penelitian -penelitian sebelumnya bahwa kepemimpinan dari korporasi dapat mempunyai suatu kekuatan yang . lebih mencerminkan dan memberi ruang pada terjadinya perubahan dengan demikian lebih mudah beradaptasi terhadap dinamika lingkungan. Salah satu yang terdapat dalam struktur yang organis adalah adanya tim lintas fungsional. Tim ini mampu membangun spirit dan membangun sinerji untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Dengan demikian mampu memberi kontribusi yang bes ar pada kinerja organisasi. semangat kerja dan produktivitas kerja. desentralisasi. 7) Kepemimpinan berpengaruh langsung positif signifikan terhadap kinerja organisasi.

Efisie nsi yang mampu ditingkatkan dalam interaksi dengan mitra kerja merupakan hasil dari proses saling belajar. kepemimpinan transformative para manajer mampu memberikan kontribusi pada kinerja organisasi. inovasi organis asi sebagai suatu strategi dipandang cukup tepat untuk meningkatkan kinerja. meminimalisasi biaya transaksi. kekuasaan serta enerji yang dipunyainya. pertukaran pengalaman. 8) Aliansi strategis berpengaruh langsung positif signifikan terhadap kinerja organisasi. pertukaran sumberdaya. Dalam lingkungan yang berubah dengan cepat. pemimpin dapat bertindak sebagai agen perubahan menuju kondisi yang diinginkannya.cukup terhadap kinerja organisasi. kepercayaan dan kredibilitas dari bawahan. Melakukan aliansi strategis yang efektif akan meningkatkan kapabilitas dan kompetensi organisasi sehingga mampu memberi kontribusi terhadap kinerja organisasi. kemampuan baru. lebih responsif. Melalui bawahan. Organisasi belajar ( learning organization ) menjadi fokus dalam inovasi organisasi artinya inovasi organisasi yang berhasil merupakan pencerminan . menekan risiko financial. Melalui pemengaruhan yang dibangun. memaksimalkan nilai percepatan. Fungsi sebagai agen perubahan akan efektif jika mampu mendapatkan dukungan. Efisiensi tersebut diantaranya dapat berupa biaya rendah. 9) Inovasi organisasi berpengaruh langsung positif signifikan terhadap kinerja organisasi. share cost . komitmen dan kredibilitas dalam mendorong perilaku produktif untuk meningkatkan k inerja organisasi. Dengan kekuatan. para manajer mampu mendapatkan dukungan. adopsi teknologi. komitmen.

aliansi strategis yang efektif maka inovasi organisasi tak aka n terwujud. (1993). Newell et al. (1991). namun besar pengaruhnya paling rendah. Nadler dan Tushman (1990). Inovasi organisasi mampu memberi kontribusi terhadap kinerja organisasi. budaya organisasi. Kotter dan Heskett (1997). Burnside (1990). West (1997) serta Hunter (2002). Deshpande et al. Ekval (1993). kepemimpinan. Tanpa dukungan dari aspek struktur organisasi yang organis. semuanya memberi ruang yang lebih besar untuk terjadinya proses belajar dan mendorong terjadinya kreatifitas dan perubahan. hasil yang diperoleh studi ini justru sebaliknya. Goes dan Park (1997). Dav enport (1995).dari keberhasilan proses belajar u ntuk meningkatkan kapabilitas organisasi dan kompetensi organisasi. Copper dan Lybrand (1997). namun agar kontribusinya bisa maksimal maka dalam implementasinya harus memperhatikan prinsip bahwa inovasi organisasi adalah proses multikomponen dan positioning strategis serta tidak sekedar mengejar efektivitas operasional. budaya organisasi yang adaptif. (2002). serta adanya penjelasan tentang paling . Dari keempat aspek tersebut. Damanpour (1996). aliansi strategis berpengaruh signifikan terhadap inovasi organisasi dan juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. 10) Dari analisis dan pembuktian secara parsial ter sebut secara terintegrasi dapat disimpulkan bahwa variabel struktur organisasi. Dengan demikian hasil studi ini lebih memperkuat pendapat Robbins (1996). Inovasi organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. Barrick et al. kepemimpinan yang transformative. Macy dan Izumi (1993). Hasil studi ini juga menolak teori yang sudah mapan dari Chandler tentang thesis strategi menentukan struktur.

maka berikut ini dikemukakan beberapa saran yang akan menjadi implikasi dari hasil penelitian ini. S a r a n Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian. yaitu : 1) Merubah dan mendayagunakan struktur organisasi yang lebih organis. 7. merupakan tindakan yang strategis di organisasi hotel bintang tiga di Jawa Timur karena akan menghasilkan situasi yang kondusif untuk timbulnya kreatifitas dan kepuasan kerja sehingga hal demikian dapat dipakai sebagai instrumen untuk mendukung keberhasilan implementasi strategi perusahaan yang dinamis dan juga meningkatkan kinerja organisasi. mendorong dan mendayagunakan budaya organisasi yang lebih mempunyai nilai-nilai adaptif terhadap perubahan merupakan kebutuhan bagi . 2) Mengubah.2. 1996). yang memungkinkan terjadinya proses belajar dan empowerment . dimana strategi kerap kali disesuaikan dengan lingkungan eksternal maka agar struktur organisasi tidak membebani pilihan-pilihan strategi maka perlu diciptakan struktur organisasi yang lebih organis. yang memberikan ruang lebih besar untuk terjadinya interaksi. lebih fleksibel. dan program multiskilling (misalnya). Dalam situasi persaingan yang sangat dinamik.1997) dan hanya menonjolkan aspek efektivitas opersional (Porter.rendahnya kekuatan hubungan antara inovasi organisasi dengan kinerja organisasi yaitu disebabkan tida k memperhatikan aspek multi komponen (West. partisipasi dengan membentuk tim kerja lintas fungsi.

Perubahan strategi yang t idak sesuai dan karenanya tidak didukung oleh budaya organisasi akan menimbulkan cultural shock dan pembakangan. Misalnya. Oleh sebab itu bagi industri perhotelan terutama hotel bintang tiga di Jawa Timur. bukan beban. reaksi terhadap krisis. 4) Melakukan aliansi strategis merupakan k ebutuhan. pemodelan peran. mengkomunikasikan prioritas -prioritas dan sebagainya. mengurangi kontrol. partisipatif sehingga budaya organisasi akan mendukung perubahan dan implementasi strategi dan meningkatkan kinerja organisasi. Aliansi strategis dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan proses belajar . melakukan aliansi strategis yang efektif dapat menjadi alternative untuk mendongkrak kemampuan organisasi dalam mengembangkan kompetensinya. kreatif. kriteria menseleksi. memberi penda pat tentang suatu kejadian. menyusun system yang kompetitif. Misalnya lebih toleran terhadap perbedaan pendapat. mulai tindakan dalam memberikan perhatian. Dengan cara-cara demikian para manajer mampu mendorong terjadinya perubahan yang lebih baik dari pada sebelumnya. memuji. 3) Kepemimpinan para manajer di semua lini sangat strategis oleh karenanya kekuasaan dan enerji pemengaruhan yang dimilikinya harus diarahkan untu k mendorong terjadinya proses pembelajaran pada nilai -nilai perubahan bukan mempertahankan status quo. budaya tersebut akan mendorong anggota organisasi untuk selalu belajar dengan nilai -nilai baru. alokasi imbalan -imbalan.organisasi hotel bintang tiga di Jawa Timur karena hanya dengan budaya organisasi yang adaptif terhadap perubahan. mengkritik.

dan aktiv itas aliansi strategisnya. Dalam mengimplementasikan inovasi organisasi. perlu dilakukan lebih integrated. pola kepemimpinan yang transformative dan aliansi strategis yang efektif dimana keempat aspek tersebut akan mampu mendorong terjadinya proses pembelajaran ma ka inovasi organisasi akan diformulasikan dan diimplementasikan. Tanpa struktur organisasi yang organis. budaya organisasinya. pelaksanannya tidak cukup dengan menonjolkan aspek efektivitas operasional yaitu melakukan aktivitas yang sama secara lebih baik dari yang dilakukan oleh pesaing. hotel bintang tiga di Jawa Timur khususnya. pola kepemimpinannya. dan teknologi baru. harus mendapatkan dukungan dari struktur organisasinya. pengetahuan. Namun untuk memformulasikan dan mengimplementasikan inovasi organisasi dengan efektif. budaya organisasi yang adaptif. .dengan lebih baik melalui pengembangan ketrampilan. 5) Dalam lingkungan yang cepat berubah. proses yang lebih inovatif. inovasi organisasi merupakan suatu pilihan yang strategis. tidak parsial atau bagian per bagian namun harus menyangkut multi komponen. tetapi harus lebih dari pada itu yaitu melakukan aktivitas yang tidak sama dengan yang dilakukan pesaing atau melakukan aktivitas yang sama tetapi dengan cara yang berlainan. Disamping itu.

Barden. . 1994. unpublished PhD thesis. Barrick.C. N. Aldrich. Jr. Prentice-Hall. George T. and networks: making the most of simplicity .. Bass. Hand book of Organizational Design. Organization -sets. Organizational and environment .. 1.1991.. ”Relationships among risk. Charles Keating. 1. D. Milkovich.1979. Charles. “ The Knowledge Link:How Firms Compete Through Strategic Alliance ”. and Organization Performance”... Jakarta. dan B. Bragg and Andrews. MA. ”Assesing the utility of executive leadership”. T. “Management: Skills. in Richard B.com/NewCreating . Starbuck. Nystrom & W.K. J. 103-118. Kepemimpinan: Teori dan pengembangannya . .. Englewood Cliffs. B. Alliance Management International Ltd.. Functions.. Aldrich. 1995. H. Yogyakarta.. Oxford University Press. “ Hotel Occupancy Performance and the Marketing of Hotels ”. Matt.1998..M. J. Rinaka Cipta. Program Studi Magister Manajemen.Academy of Management Journal.L. Laporan internship . Bloom. “The proactive component of organizational behaviour a measure and correlates”. 1996. Action-sets.. 107-118. second edition. 283-297. Arikunto. “ Improving Organizational Effectiveness Through Transformational Leadership ”. 82-112 Anderson. Academy of Management Journal . Anal isis hubungan antara budaya perusahaan dan kepuasan kerja: Studi kasus pada Kantor Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perum Kereta Api Bandung. Boston. http://www. “Rejuvenating The Mature Business”..R.R. SAGE Publicat ions.E.and Whetten. and John M.M. Alves. R. “Culture and climate for innovation”. Inc. Leadership Quarterly .R. New York . Bradford. 1998. Journal of Organizational Behaviour. 25.1981. M. J.. 1991. P. incentives pay. Baden-Fuller..H.J.).Vol. Universitas Gadjah Mada. ”Creating strong alliances”.2.. Eroupean Journal of Innovation Management. Crant. Harvard Business School Press. Inc.. Harvard Business School Press . 41. Avolio.1988 . Manajemen Penelitian.DAFTAR PUSTAKA Ahmed. University of Bradford.Stopford.. et al..A. 14.1982. 1993.Thousand Oaks. Carl R. Allyn and Bacon.amiltd. New York.. Bateman. 1999.3. and organizational performance ”. Kanisius..S. H. (Eds. Needham Heights. 1986.Robinson Jr. ”The prediction of small business failure utilizing financial and non finan cial data”. 1995. In P. Anggraini. 1998. Bodaracco.

Jakarta. 367 -422. J. Academy of Management Journal . Day. Peterson. 628-639. 1997... 140-141 Chatman. Allan R.)”. 1986. Nopember 7. and C.3..V. Wiley. 1996.G.G... 6. terjemahan. (Eds.... Babson Centre for Entrepreneurship research. 1996.1991. Bill. K. Covin..R.L. dan R.A. ”Organisational vision and visionary organizations”. International Journal of Contemporary Hospitality Management . Process Innovation . Cooper. Journal of Product Innovation Management.G. Ernst & Young. 7-11. 1988. Young Center for Business Innovation. 1986. A.. McDonnell. Jatim. Academy of Management Journal .. ”Assessing the Relationship Between Industry Characteristics and Organizational Culture: How Different Can You Be”.. Harvard Business School Press.Lord. “Trans organizational Development. 1994. Cohen. J. Coopers and Lybrand Barometer . 1995. Danandjaja.. in B. Journal of Management.. Collins and Porras. Can Traditional Batik Service. Pradyot Sen & Sanjit Sengupta. 41. Binarupa Aksara. Academy of Management Journal. USA. Somnath. Chichester.Emory.. ”Improving corporate climates for creativity”. 25. 1989. The Portable MBA: Manajemen .. Covin. R..M.A.J. 37. 14.Staw & L. Business Week. Rondstandt.. Jehn.. Farr. Burnside. PPM. 1988. D. 1994. T. California Management Review. 2741. 79-87. Center for Information Technology and Strategy.W. 553-569. “Executive leadership and organizational performance: Suggestions for a new theory and methodology”.6. Coopers. Damanpour. and Lybrand. 1. Creech. Journal of Management Studies. Wellesley. J. 37. B.. Innovation and Creativity at Work.Brander-Brown. Irwin.A. ”The balanced score -card:short term guest or long term resident ?”. 1998. Andreas A. Lima Pilar TQM . D. Binarupa Aksara.M. Das. “ Strategic aliances ”.G. J. Jordan. “The developm ant and testing of an organizational-level entrepreneurship scale”.. Cummings. Slevin.J. Davenport. “Electrinic Comerce:The Next Generation”. 1984. terjemahan. 239-258. Hornaday. Sistem Nilai Manajer Indonesia: Tinjauan kritis berdasar penelitian. D. 1994. Chicago. 2.217-237. 522-553. Slevin. “The influence of organizational structure on the utility of an entrepreneurial top management style ”.P. MA..P .M.. . Business Research Methods .. F. D. West. 2001. J. “Succes and Failure in New Industrial Service”. K. 123-136. 7. 34. Biro Pusat Statistik. 1990. 1993. ”Impact of strategic alliances onfirm valuation”.. “Organizational Innovation: A Meta -Analysis of Effects of Determinants and Moderators”. Inc. IL. 1994 hal.Cummings. R. Research in Organizational Behavior. Frontier of Entrepreneurship Research.. Thomas H. Jakarta. 5th Edition. Jakarta. deBrentani.. Cohen. Vesper. 1995.. Richard D. R.

1993.Robinsons . Harper & Row Publishers. Fahey. PT. D. J. Dyer. 1995.1994. 1995. ”Measuring performance of international joint ventures”.. J. P. “Interorganizational Links and Innovation: The Case of Hospital Services”. June. and Kathawala. Format-Format Penelitian Sosial : Dasar -Dasar dan Aplikasi. Eisenbach. R. Dean. Bleakleyi.. Erlangga. Press. ”An overview of strategic alliances”. Pillai. Evans. Bina Aksara. Gibson.. 79-84.. Innovation and Entrepreneurship Practice and Principle . James L. John M.3. E.Deninson. Edmister. 11. Jr. Farley.. Friedlander. 39.. McDonagh.Robinson. James H. 12. New York : John Wiley & Sons. Geringer. 1993. 20. Elmuti.1982. 12. 1988. Journal of Marketing . 1985. 1995. Journal of Organizational Change Management. ”Corporate culture.. Gargan. F. Academy of Management Journal.1. ”Trans formational Leadership in the Context of Organizational Change”. F. terjemahan. terjemahan. K. Jakarta. 25. PT. 18-23. Strategic Management.O. 1989..A. . 205-218.1993. J. E.Donnel y. Webster. 2001. Randal.Watson dan R. Michael. 114-124. 282-296. 21. 249263.R. 40. The Academy of Management Journal.”Financial ratios as predictors of small business failure”. et al. customer orientation and innovativeness in Japanese firm: a quadrad analysis”.Ivancevich.1999. 1986. 1990. Friedman.. “Virtual Companies Leave the manufacturing to others”. 2001. 25. H. Rajawali. ”Effective collaboration: how firms maximise transaction cost and minimse tr ansaction value”. Peter F... Drucker. R. Organisasi dan Manajemen. Jakarta. Academy of Management Journal.. in Richard B. “Strategic aliances -guidelines for success”. 1997. H. European Commission. 17 Juli.. ”A framework for analyzing business performance. James B. 1. “The Strategic Decision Process and Organizational Structure”. Moutinho. 82-112. 5.. 18. 53.1. Pickle.. in Andy Neely. 1991. R. ” Green Paper on Innovation ”. in Richard B. S. Gramedia. 82-112. Integrated Manufacturing Systems. Yunus. 535-536. firm innovation and related contextual factors: perceptions of managers and policy makers in two European regions”.2. L. 18. Goes. New York Times.7. 3-15. ”Componens of effectiveness in small organizations” . “The coastal hotel sector performance and perseption analysis”. Long Range Planning. 3. 67-78 . terjemahan . New York. Strategic Management Journal. Frederickson. Devlin. M. Management Decision. The Portable MBA Strategi. 2. Faisal. 1997. Deshpande.U. James W. Sample Design in Busisiness Research. Journal Of International Business .. and Louis Hebert. 673-696. Jakarta. Built Environment. Academy of Management Review. Jakarta . and Seung Ho Park..E.

SAGE Publications Ltd. No:03 Th XXII Maret. Peter. Tourism Recreation Research . terjemahan.. Gordon.Robinson . Human Resources Management An Experiential Approach... R. Harvard Business Review.Ken. 246-255. Hamel. 1993. dan J.. Sage Publications. Gray. R. 371-385.1. Penerbit Erlangga. Jakart a. terjemahan. ”Understanding the rationale of strategic technology partnerin g: International modes of cooperation and sectoral differences”. Culture’s Consequences: International Differences in Work. “Suatu perspektif etikal atas peran dan tanggung jawab pucuk pimpinan eksekutif dalam bisnis global yang kompetitif”. 75-84. Matheson. Michael.4. 1987. Prentice-Hall International. Annual Reviews of Psychology. Glenda. Gramedia Pustaka Utama. 2000. London. Ekval l.H.. G... and David Walker. 1993. Academy of Management Journal. D. Harvey. Hersey. Michael P. ”Amoco Saves $ million in deepwater drillings operations”. ”Organizational behavior: Some new directions for I/O psychology”. 1996. Harris. Singh.B. Manajemen &Usahawan.69-75. Oil & Gas Journal. 1980. 38. terjemahan. Bakersfiled. PT.2. London.G. Hofstede. Manajemen Strategis: Menyongsong era persaingan dan globalisasi . Creativity and Innovation Management.Hoskisson. Harell. dan James Champy. S. Rekayasa Ulang Perusahaan ... 2000.4. 1998. Developing a better model of Market orientation European. Manajemen Perilaku Organisasi: Pendayagunaan Sumberdaya Manusia . Managing Innovation . 82-112 Hammer.J. G. Gru. Jakarta. H. 1991. Fryer. 17. at al. 1985. R.Boshoff. 1993. Michael A. 356368. Haynes.. ”The relationship between corporate culture to industry sector and corporate performance”. Hogedoorn. 14. multi ple discriminant analysis. Jossey -Bass. . L.K. Henry. Jane. House.Goran. R. ”Creativity in project work: a longitudinal study of product development project”. 1993. Inc. Jakarta. Beverly Hills. CA. C.V. Kilman. Journal of Marketing . 25. 9. 1994 . Gaining Control of Corporate Culture. Hitt. J. “Strategy as stretch and leverage”. 1996. Strategic Management Journal. San Francisco. 65 . and Bowin. International Journal of Contemporary Hospitality Management. MCB University Press.Duane Ireland dan Robert E. in Richard B. Frans Mardi.. 12.H. 21. Penerbit Erlangga.. 1992.Related Values . dan Blanc hard. 240 -248. 32. 884-903. Prahalad. Matear. Paul. Hartanto. and the prediction of small corporate failure”.. 1997. ”Financial ratios. “Deferences in perception of employee empowerment between managers and non-managers in the hotel industry”. “Human Resources Serv ice Quality and Performance: a Case Study”. May.

Irwin Inc. 1993. C. Strategic Management Journal.sized enterprises.T. 1.. 9. 3. 12. Roderick D. Jarratt. Hadyn. International Journal of Contemporary Hospitality Management.. James. Strategic Management Journal. 259-303. Massachusetts. Jones. “A strategic classification of business alliances: aqualitative perspective built from a study of small and medium . “ Menyikapi Kebijakan Pola Pemasaran Pariwisata Jawa Timur”. International Journal of Contemporary Hospitality Management. “Improving Organizational Performance Through the Use Effective Elements Organizati onal Structure”. 23. The TQM Magazine. 39-49. Bambang Supomo. Jeffrey & Barden. 2002. Judi. Iverson. T. 1998. Matteson. 1992.G.M. A Systems Approach to managing . 3141. Margaret.7. BPFE. Storey. A. C. 32. “On strategig networks”. Addison-Wesley Publishing Company.1997.2000. 3/ 4. in Jarratt. 1. R.. 1996. D. 1. Johne. Hymowitz. 184251..G. “A Strategic Classification of business aliances: a qualitative perspective built from a study of small and medium -sized enterprises”. 3 rd “.. Indiarto.. 1998. Jarrat. “ Improving your key busines s processes”. Denise G. . Hunter. 2000.. Qualitative Market Research: An InternationalJournal. Wall Street Journal. Behavior in Organizations. “ Exploring Corporate Strategy -Text and Cases. Ingram. C.1999.. second ed. 1. Makalah dalam Seminar Strategi Pemasaran Pariwi sata Jawa Timur di Surabaya. M. Organizational Behaviour and Management. 1985. Prentice Hall. 6.Hung. Hertfordshire. ”Performance management: processes. ”Which Culture Fits You ?”. Richard D.1. Hemel Hempstead. 179-189.. dan James L. Murphy. Long Range Planning. Edgar F. “An Analysis of Daily Occupancy Performance: a Basis for Effective Hotel Marketing?”. 1997.hal Ivancevich. Huse. D. Jarillo... Deery. Indriantoro. Lowry. Yogyakarta. 39-49. “New service development: a review o f the literature and annotated bibilograpi”..4. quality and teamworking”. MCB University Press. J. 345361. “Alliance: the new strategic focus”. 18. 17 Juli. C. “Building costumer relationships: a model of vocational educat ion and training delivery”.. Human Resources Management Journal. JC. Qualitative Market Research: An International Journal .. ”Turnover culture in Hospitality industry”.Homewood IL.. 9. 1998. International Journal of Health Care Quality Assurance Incorporating Leadership in Health Service. 7.G. Johnson. D. Metodologi Penelitian Bisnis .. “Efective collaboration: how firms maximise transaction costs and minimise transaction value”. 32. Aeropean Journal of Marketin. 1989 . 76-81.. 2.L.Bowditch. B.R. 1997. 1987. Nur. 1977. 1988.

“ Wellsprings of Knowledge: Building and Sustaining the Sources of Inovation ”... Harvard Business Scho ol Press. R. “Managing More people in the ‘90s”. Analisa Pemasaran Pariwisata Jawa Timur. Heskett. McClenahen.. New York: Wiley. Gramedia Pustaka Utama. Implementasi dan Pengendalian. dan Barry Z. “Goodness-of-fift indexes in confirmatory factor nalysis: the effect of sample size ”. PT. Bella.KM. terjemahan. Kouzes. 1988. SPSS.. D. ”Global strategy. Lei.1. 1995. How to Manage Your Hotel. -------------. 1992. 103. Prenahallindo.Posner. Yogyakarta. Kredibilitas . D. Lorange. Kanter. John P. Lockwood.. Jakarta. 35 No. 20 Maret. NY. Kantor Wilayah Deparsenibud Jawa Timur. 81-97.02.W.P. 25.001/MKP. Kepemimpinan: Teori dan Pengembangannya . terjemahan.Innovation for Productivity in The American Corporation ”. “Building successful strategic alliances”. Prenhallindo. ” The Change Masters. BukuI dan II.Men. Keating.4. 47-60. Kebudayaan dan Pariwisata RI..Slocum Jr.M. Leonard-Barton.. LISREL VII: A Guide to the Program and Aplications. Robert. 6. 391-410.. Manajemen Pemasaran : Analisis Perencanaan. PT.W.. Seni dan Budaya Propinsi Jawa Timur. California Management Review. 1997. Jakarta. 1997. R.. Kanisius. terjemahan. terjemahan. D. H.. Desember. and J .G.Men Parpostel. “ World Class: Thriving Locally in the Global Economy ”..37/PW. MA. IL. No. Professional Books. NY. -------------. KM. 10-17. Kolter. Menjadi Pionir Perubahan . 1997. PS. . 1993. Long Range Planning. competence building and strategic alliance”. Jakarta.. D. Psychological Bulletin . and James L. Corporate Culture and Performance: Dampak Budaya Perusahaan terhadap Kinerja . Chicago. Philip. J. John P... New York. Boston. Sorbom. 1986. Industri Week. Tentang Penggolongan Kelas Hotel Bintang (1 -5) dan Golongan Kelas Hotel Melati hanya terdiri atas satu kelas sebagai Hotel Melati.. Simon and Schu ster. Gunung Agung. Jakarta. Kep. Terjemahan. 1984.. P.R. Simon and Schuster . PT. September.. Edisi 9e. The Social Psychology of Organizations. Kantor Wilayah Deparsenibud Jawa Timur.. Kotter.Joreskog. PT. No. “Supporting innovationand venture development in established companies”. Bronn. “The age of the Specialized Generalist”. Khan. 1978.. Ros. Training.No. Marsh. 1993. Kotter.304/MPT/1986 Kep. K. Charles J. 1990. New York. D. First Edition..A. 1997. Analisa Daerah Operasi Pariwisata.3/HK. 1998 . McDonald. Katz..1992. 1995. --------------. 1997 . 1985. James M. 1989. Journal of Business Venturing . L. J. Jakarta.

1990. Nonaka.K. Nonaka. PT. Mulyadi. California Management Review 32:3. D. Edisi 1. 107-119. Strategi Inovasi Sumber Daya Manusia . 52. Manajemen dan Usahawan ..G. Sisem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen.F.. Jakarta. Pengembangan Sumberdaya Manusia dalam rangka Pembangunan Nasional .. Integrated Manufacturing Systems. Harvard Business School Press . 4. PT. Nohria. “Strategic aliances: gateway to the new Europe?”. Elex Media Komputindo. Morgan. San Fransisco. Mintzberg. 1999. 31/2.. “Structure in Fives: Designing Effective Organizations” . Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. A. “Budaya Organisasi dan pengaruhnya terhadap kepuasan kerja” .Overlapping Organi zation: A Japanese Way”. Setyawan. Usahawan No. 102-111. 114-124. Long Range Planning. “ Visionary Leadership ”.Rajan Varadarajan & William M. September. 1. D.. M. Christopher. 2.1992. E. Boston. Thesis. “Aliansi Strategis:Konsep lama kemasan baru”. 1988.Contractor. P. 1981.M..R.L. Moeljono. Oxford University Press. 1983. 1979. Oxford University Press. Jakarta. “Competing by Design: The Power of Organizational Architecture ”. 21-32.D. 1995. ”What Happens After Succes: The Perils of Excellence”.1996. et al. Malang.1994. 1992.1996. Daryl O. Yogyakarta... Teuku.McHugh. Andy. Mujibur R. ”Redundant. Nanus. Englewood Cliffs.. New York. 77 – 97. ”Strategic adaptability and Firm Performance: A Market Contingent Perspective”. NY. Murray. Prentice-Hall.. 1990. 2003. Ikujiro..S. The Knowlegde Creating Company. PR. Mahon. “The 1992 Bankrupty Yearbook and Almanac”. eds. I. NY. J. California Management Review .Pride. 12. N. Jakarta. 224-237. 1989. Nadler. Mirza. Munandar. “Communication and Motivation al Predictors of the Dynamics of Organizational Innovation”. Aditya Media. Mulahela. New York. Roberto. 135-148. Michael. Monge. 1999. D. Jossey-Bass Publishers. Organization Science . terjemahan. Journal of Marketing. 1993.A.. LPPM. “ Networks and Organization ”. Journal of Management Studies. Boston.. 1992. Budaya Korporat dan Keunggulan Korporasi.A. “Beyond the Charismatic Leader: Leadership and Organizational Change”. T.11 Muluk. .1992... Winter 32:2. McKee. and Accles. and Tushman. PT. ------------. firm innovation and related contextual factors: perceptions of managers and policy makers in two European regions”. Elex Media Komputindo.. Burt.Cozzens and NS. 26. ”A framework for analyzing business performance. Henry. New York. Miller. “Tantangan bisnis hotel di tahun 1999 ”. Filipini. New generation Research . Hirotaka. Neely..

Organizational Behavior:Concepts. ______________.. “Financial success: elusive goal for the hotel trade”. Organization Theory: Structure. Management. et al. 487-516. 1986. 1986.M.Venkatraman. Journal of Marketing .. Prentice-Hall. ”Excellence.N.. 1986. Bernard C. 11 – 29.. 30.1990.P. Harvard Business Review. Design and Applications .. Robinson Jr.Inc. O’Reilly III. Englewood Clifs. et al. Free Press.Design and Applications . ”Planning activities related to independent retail firm performance”. 1990 .F.C. Mc Graw-Hill International Edition.R. H. West. “The logic of joint research and development”. --------------. & Salancik. 459 -474.. .Robinson. New Jersey... Richard B. and Performance”. Reimann. 25-39. P. O’McKee.. 1996. M. Englewood Cliffs. Strategic Management Planning .. San Francisco. 1985. N..1992. 80-112 Robinson Jr. Research Technology Management .Inc. W. Porter. 96.. J. J. Strategic Management Journal..(1999). Pillinger.. 12. Robbins. Ouchi. 25. Salem. T. .. Heenan. Seventh Edition.52. ”Formation of strategic alliances in business services”. Prentice-Hall.A.G..Chatman dan D. New York. John A. Ramanujam.. 9 – 33. 84-97. University of Sheffield and The Centre for Economic Performance. “ Compettive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance ”.J. Richard B..1. “Strategic Adaptability and Firm Performance: A Market Contingent Perspective”. 2. 87-99.. “People and Organizational Culture: A Profile Comparison Approach to Assesing Person -Organization Fit”. Summer. London School of Economics and Political Sciences. 1978.M. . ”The importance of ‘Outsiders’ in Small Firm Strategic Planning”..31.F.. Moragea Y. 9. O’Farrel. California Mangement Review.V.. Robbins. “Managing Invention and Innovation”. Prentice Hall. 13. Organization Theory: Structure. Januari-Pebruari. 1988. New York..Applications . Kremen-Bolton. 1. Service Industry Journal .Caldwell. & Harianto. American Journal of Small Business . P. Harper & Row. in Stephen P. Edward B. 69-74. New York. 142. 136-152. “Thinking ahead”. Planning. Pearce II. Roberts. 3. Wood. Free Press .Inc. Englewood Cliffs. 1985. M.A. 1.1991.1989. Permutter..1989.. Accountancy. Richard B.G. ”Dimensions of Structure in Effective Organizations: Some Empirical Evidence”. Stephen. “The diffusion of technological innovation in the commercial banking industry”. Pfeffer. 34.E. New Jersey. D. “ Innovation in UK Manufacturing ”.. “ Competitive Advantage ”. NY.Norkett..Controversies. 1982. “ The external control of organizations ”. New York. Vasudevan. 1988. Academy of Management Journal . Pennings.1995. Daryl. Academy of Management Journal . Institute of Work Psychology. 1988.

Tjiptono. Metode Penelitia Administratif. Devanna. 1. 442-438. “Cultural Leadership in organizations”. San Francisco: Jossey-Bass.B.. Metode Penelitian Survey . Oxford University Press. ”Organizations Throught the Lens of Gender: Introduction to the special issue". Jr. “ Kesiapan SDM bidang Pariwisata dalam pembangunan kepariwisataan Jawa Timur”. Organization Science . Autumn.M. M. The Academy of Management Journal . 1986. Manajemen Jasa. Schein. Disertasi . ”The Effect of Partner and Relations hip Characteristics on Alliance Outcomes”. Sularso. 31.M. Parvatiyar. 35. --------------------. J. 42-51.150. 1992. A. Trice. Learning alliances. in Morrison.. Oxford... James. terjemahan..1997. Inc . 2000. 351-357. Unlearning The Organization . And Offset. New York. 2002. 1992. 76-89. Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Administrative Science Quarterly .A. 33. Musim Panas. April. 150-162. 1994. . Szeto..A. Hedi Wahidin. 1989. Todd. 40.. PT.. 2. and C. Management Decision . H. Alfabeta. 1999. 2. “Towards a theory of business alliance formation”. Larissa Mezentseff. Stoner. How can organizations learn faster? The challenge of entering the green room .Rothschild. 1985. Elson. Jakarta.1996 . J.Jr. Manajemen.E. ” Knowledge-creating company:How Japanese companies create the dynamic of inovation ”. Thomas.. 585599. 1988. 2000. The TQM Magazine . 60-65.3.. 1992. Richard M. p. 1995. Masri. A. Steers. Bayer. New York. Singarimbun.. Sugiyono. Saleh. Russo. Efektivitas Organisasi . 4. 71-87. Fourth Edition. Prenhallindo. R. Yogyakarta. Management.1991. Bandung. Vol. Sheth. 2000. 1996. Tichy.. 5. J.. Michael 1997. Schemerhorn.Davies. 1988. Takeuchi. Vol 12. A.Freemen. dan J. 1985. Andi R.. LP3ES. John Wiley. Cornel Hotel & Restourant Administration Quarterly. ”Does leadership make a difference to organizational performance?”. Saxton. Makalah dalam seminar Strategi Pemasaran Pariwisata Jatim di Surabaya. Syakhroza. Jakarta.M. Human Relation . Slocum. Scandinavian International Business Review. ”Innovation capacity: working towards a mechanism for improving innovation within an inter -organizational network”. Gilbert. The Transformational Leader..N.F. John Wiley & Sons. Edgar H. Organizational Dynamics . “Variance analysis: evaluating hotel room sales”.a new dimension of strategic alliances . Organizational Culture and Leadership .. Jakarta. “ Analisis Faktor-Faktor Yang Dipertimbangkan oleh konsumen untuk menginap sehubungan dengan strategi pemasaran pada hotel berbintang di Jawa Timur ”. . Penerbit Erlangga. N. terjemahan. JR..

“The dynamic of strategic change in hospitals : Managed care strategies. M.11 Business Week .A.. “Innovation at work”. Farr. Basic Books. In the Age of the Smart Machine:The Future of Work and Power . 8. 1997. Leadership In Organizations .. 1995.Van de Ven. 1996. No. Chicester.l. New Jersey. BPS Books. UK. 7 Nopember 1994 Jawa Pos 22 Mei 1999 . 114-126. Journal of Business & Industrial Marketing. New York. Wiley. Management Decision . Niren M. 1986. Englewood Cliffs. 3-13. Developing Creativity in Organizations . ”An analysis of strategic alliances: forms. West. V.. 590-607.J. Published by The British Psichological Society. Gary. Yukl.. et al. Innovation and Creativity at Work: Psychological and Organizati onal Strategies .3. Zhuang. A. functions and frame work”. Prentice-Hall. 1998.7. J. organization design..32. Vol. “Control Problem in the Management of Innovation”. Shoshana. and Bittner. “Bridging the gap between technology business strategi: a pilot study on the innovation process” . Christoper G. Service Marketing. 1988.. and performance”. 13-21.. -------------.5 --------------. 1990.. No.1993. No.A.. 1998.. Inc. New Jersy: Prentice Hall.4. et al. Worley. Vyas. 1996. 1994.. 10. 47-60.. Management Science . third edition. M. L. Usahawan . J.A. Michael A. 33. Farr. Leicester. Zheitaml. Organization Science .L. West. M. Zuboff. West..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful