Anda di halaman 1dari 11

ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA TINDAKAN OBSTETRI

Komplikasi infeksi setelah prosedur bedah kebidanan merupakan sumber potensial morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Termasuk dalam hal ini yakni infeksi saluran kemih, endometritis, infeksi luka, infeksi perineum, dan sepsis, yang menyebabkan rawat inap berkepanjangan dan biaya perawatan kesehatan meningkat. Banyak hal telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh antibiotik profilaksis dalam mengurangi morbiditas penyakit infeksi. Kebanyakan jenis antibiotik, jadwal dosis, dan rute administrasi telah diselidiki. Telah pula didapatkan bukti untuk mendukung penggunaan antibiotik profilaksis untuk sejumlah prosedur dalam kebidanan. Sayangnya, beberapa percobaan

perbandingan yang telah dilakukan, belum memberikan kepastian mengenai rejimen lebih unggul.

Morbiditas dan mortalitas meningkat pada infeksi yang disebabkan oleh organisme yang resisten terhadap antibiotik, karena mungkin akan lebih ganas dan lebih sulit untuk mengobati karena pilihan terapi yang terbatas. Meningkatnya resistensi antibiotik ini terutama diakibatkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Pemberian terapi antibiotik yang tidak tuntas dan penggunaan yang tidak perlu dari rejimen spektrum yang lebih luas memainkan peran penting.2 Baik pedoman pengobatan dan pedoman profilaksis membantu dalam mengurangi kemungkinan infeksi dan resistensi antibiotik. Kepatuhan dokter terhadap pedoman profilaksis antibiotik sangat beragam dan biasanya bertentangan dengan pedoman yang telah dipublikasikan.3, 4

Selain profilaksis antibiotik, adalah penting untuk meninjau semua faktor yang mempengaruhi pengurangan risiko infeksi dalam tindakan obstetrik.5 Kepatuhan terhadap prosedur persiapan yang tepat, termasuk penutup rambut rambut, cukur, dan antisepsis yang efektif baik dari pasien maupun staf dibutuhkan.6 Daerah bedah steril harus dipastikan, dan penialaian kualitas teknik sterilisasi yang berkelanjutan, ventilasi udara, dan perawatan luka pasca operasi diperlukan. Pengawasan pengendalian infeksi secara konsisten dan pelaporan komplikasi infeksi meminimalkan morbiditas dan mungkin untuk
1

mengidentifikasi kelompok infeksi dan munculnya organisme resisten antibiotik. Ini akan menentukan perubahan rutinitas operasi untuk merespon perkembangan keragaman mikroba yang tampaknya tak terelakkan.

PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS Tujuan pemberian antibiotik profilaksis dalam prosedur bedah bukan untuk mensterilkan jaringan tetapi untuk mengurangi tekanan kolonisasi mikroorganisme pada saat operasi hingga pada tingkat dimana sistem kekebalan tubuh pasien mampu mengatasinya. 7 Profilaksis tidak mencegah infeksi yang disebabkan oleh kontaminasi pasca operasi. Penggunaan antibiotik profilaksis berbeda dari pengobatan dengan antibiotik dimana antibiotik profilaksis ini dimaksudkan untuk mencegah infeksi, sedangkan pengobatan antibiotik dimaksudkan untuk mengatasi infeksi yang sudah ada, biasanya membutuhkan waktu terapi yang lebih lama. Profilaksis dimaksudkan untuk prosedur elektif saat sayatan dilakukan di ruang operasi yang tertutup.

Sebelum sebuah agen antibiotik dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai antibiotik profilaksis, harus ada bukti bahwa agen tersebut dapat mengurangi infeksi pasca operasi. Agen antibiotik tersebut juga harus aman dan murah, dan harus efektif terhadap organisme yang mungkin dihadapi dalam prosedur pembedahan.

Agen antibiotik tersebut harus diberikan dengan cara yang memastikan bahwa kadar serum dan jaringan memadai sebelum sebuah insisi dibuat dan bahwa tingkat terapeutik agen dapat dipertahankan dalam serum dan jaringan selama operasi dan hingga beberapa jam setelah insisi adalah ditutup.7

Luka infeksi (infeksi pada luka pada daerah pembedahan) dapat berupa selulitis, abses, atau dehiscence dapat terjadi setelah laparotomi. Infeksi panggul, seperti abses atau hematoma yang terinfeksi, merupakan risiko pada prosedur bedah yang masuk dan melibatkan rongga abdomen. Cuff cellulitis adalah risiko spesifik untuk histerektomi. Endometritis dapat hasil dari operasi caesar atau aborsi bedah. Infeksi saluran kemih dapat terjadi sebagai akibat dari prosedur yang melibatkan kateterisasi kandung kemih.
2

Sebuah pedoman diterbitkan tahun 1999 oleh US Centers for Disease Control and Prevention berupa daftar kriteria khusus dan ketat yang harus dipenuhi untuk diagnosis infeksi pembedahan.7 Pemantauan yang akurat dari infeksi luka pembedahan memerlukan tindak lanjut selama 30 hari pasca operasi, dan kecenderungan pasien yang keluar lebih awal dari rumah sakit membuat tantangan tersendiri. Diperkirakan bahwa hingga 84% dari infeksi situs bedah terjadi pada saat keluar dari Rumah sakit.7

Jika antibiotik profilaksis harus diberikan, mereka harus diberikan segera sebelum atau pada saat inokulasi bakteri.
8,9

Mayoritas studi menunjukkan bahwa

dosis tunggal cukup efektif, tapi untuk prosedur yang panjang (> 3 jam) dosis harus diulangi pada interval 1 atau 2 kali waktu paruh obat. Hal ini juga disarankan apabila kehilangan darah dalam jumlah besar (> 1500 mL), maka dosis kedua harus diberikan.10

JENIS-JENIS ANTIBIOTIK YANG DIGUNAKAN 1. Antibiotik penisilin Penisilin menghambat pembentukan mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif, penisilin akan menghasilkan efek bakterisid pada mikroba yang sedang aktif membelah. Mikroba dalam keadaan metabolik tidak aktif (tidak membelah), yang disebut juga sebagai persisters, praktis tidak dipengaruhi oleh penisilin, kalaupun ada pengaruhnya hanya bakteriostatik (Ganiswara dkk., 2001). Ampisilin termasuk golongan antibiotik penisilin yang berspektrum luas. Ampisilin aktif terhadap organisme Gram positif dan Gram negatif tertentu, tapi di inaktivasi oleh penisilinase, termasuk yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus dan basilus Gram negatif yang umum seperti Escherichia coli (Anonim, 2008). 2. Antibiotik sefalosporin Sefalosporin termasuk golongan antibiotik betalaktam. Sefalosporin dibagi menjadi 4 generasi berdasarkan aktivitas antimikrobanya yang secara tidak langsung juga sesuai dengan urutan masa pembuatannya. Dewasa ini sefalosporin
3

yang lazim digunakan dalam pengobatan, telah mencapai generasi keempat (Tjay dan Rahardja, 2002). a). Sefalosporin generasi pertama: Terutama aktif terhadap kuman Gram positif. Golongan ini efektif terhadap sebagian besar staphylococcus aureus dan streptococcus termasuk streptococcus pyogenes, streptococcus viridans dan streptococcus

pneumoniae. Bakteri Gram positif yang juga sensitif adalah streptococcus anaerob, clostridium perfringens, listeria monocytogenes dan

corynebacterium diphteria. Kuman ini resisten antara lain MRSA, staphylococcus epidermidis dan streptococcus faecalis. Obat ini di indikasikan untuk infeksi saluran kemih yang tidak memberikan respon terhadap obat lain atau yang terjadi selama hamil, infeksi saluran napas, sinusitis, infeksi kulit dan jaringan lunak (Anonim, 2008). b). Sefalosporin generasi kedua: Di bandingkan dengan generasi pertama, sefalosporin generasi kedua kurang aktif terhadap bakteri Gram positif, tapi lebih aktif terhadap bakteri Gram negatif, misalnya Hemophilus influenzae, Pr. Mirabilis, Escherichia coli dan klebsiella. Golongan ini tidak efektif terhadap psedomonas aeruginosa dan enterokokus. Sefoksitin aktif terhadap kuman anaerob. Sefuroksim dan sefamandol lebih tahan terhadap penisilinase dibandingkan dengan generasi pertama dan memiliki aktivitas yang lebih besar terhadap Hemophilus influenzae dan N. Gonorrhoeae (Anonim, 2008). c). Sefalosporin generasi ketiga: Golongan ini umumnya kurang aktif terhadap kokus Gram positif dibandingkandengan generasi pertama, tapi jauh lebih efektif terhadap Enterobacteriaceae, termasuk strain penghasil penisilinase. Seftazidim aktif terhadap pseudomonas dan beberapa kuman Gram negatif lainnya. Seftriakson memiliki waktu paruh yang lebih panjang dibandingkan sefalosporin yang lain, sehingga cukup diberikan satu kali sehari (Anonim, 2008).

d). Sefalosporin generasi keempat: Sefepim dan sefpirom. Obat-obat baru ini sangat resisten terhadap laktamase; sefepim juga aktif sekali terhadap Pseudomonas (Tjay dan Rahardja, 2002). Sefepim merupakan satu-satunya sefalosporin generasi keempat yang digunakan di Amerika Serikat. Ini telah meningkatkan aktifitas melawan spesies enterobakter dan sitrobakter yang resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga. Sefepim mempunyai aktivitas yang sebanding dengan seftasidim melawan P. aeruginosa. Aktifitasnya melawan Streptococcus dan Stafilococcus yang peka nafsilin lebih besar dari pada seftasidim dan sebanding dengan generasi ketiga yang lain (Jawetz dkk., 2001).

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA KASUS OBSTETRI Prosedur yang dibahas yakni operasi caesar, persalinan pervaginam operatif, manual plasenta, penjahitan laserasi perineum derajat ketiga atau keempat, serklase serviks, serta dilatasi dan kuretase postpartum. Perubahan terbaru pedoman profilaksis endokarditis juga ditinjau.

Seksio Sesarea

Faktor risiko utama untuk infeksi post partum maternal adalah seksio sesarea.11 Perempuan yang menjalani operasi caesar berisiko infeksi 5 sampai 20 kali lipat lebih besar dibandingkan wanita yang melahirkan pervaginam. Tingkat infeksi luka dan komplikasi infeksi yang serius dapat mencapai hingga 25% .12 Tidak adanya definisi yang konsisten untuk SSI (Surgical Site Infection), dan serveilans yang dilakukan setelah pasien keluar dari RS memiliki hasil yang bervariasi.13 Sebuah penelitian prospektif baru-baru ini dengan aplikasi yang tepat dari definisi CDC untuk SSI dengan tindak lanjut untuk 30 hari pascacaesar mengidentifikasi tingkat luka infeksi sebesar 8,9% .14

Endomyometritis, infeksi saluran kemih, infeksi luka, dan sepsis dapat terjadi setelah operasi caesar. Telah banyak studi yang meneliti penggunaan antibiotik profilaksis untuk mengurangi komplikasi, dimana angka kejadian
5

komplikasi lebih tinggi terjadi pada tindakan seksio sesarea darurat, dengan atau tanpa adanya demam ibu dan / atau korioamnionitis.

Sebuah penelitian oleh Cochrane diterbitkan pada tahun 2002 mencakup 81 percobaan acak menilai efekifitas profilaksis antibiotik dibandingkan dengan plasebo atau tanpa pengobatan untuk seksio sesareabaik elektif dan darurat. Tinjauan tersebut mencakup lebih dari 2000 wanita, pemberian antibiotik dibandingkan plasebo atau tanpa pengobatan, mengurangi risiko relatif endometritis seksio sesarea baik elektif dan darurat (RR 0,38, 95% CI 0,22-0,64 dan RR0.39, 95% CI 0,34-0,46), seperti halnya risiko infeksi luka (RR 0,36, 95% CI 0,26-0,51 dan RR 0,73, 95% CI 0,53-0,99) .15

Terdapat kontroversi mengenai apakah antibiotik profilaksis pada operasi caesar harus diberikan sebelum sayatan kulit atau pada saat penjepitan tali pusat. Secara tradisional, profilaksis ditunda dalam upaya untuk menghindari efek masking dari infeksi neonatal dan untuk mencegah septik work-up yang tidak perlu. Antibiotik diberikan intraoperatif setelah penjepitan tali pusat untuk dua teori yang berhubungan dengan janin: 1) antibiotik dalam serum neonatal dapat menutupi hasil positif kultur bakteri bayi baru lahir, dan 2) paparan antibiotik pada janin dapat menyebabkan peningkatan kolonisasi atau infeksi organisme resisten terhadap antibiotik.(2-4)

Data penelitian mendukung pemberian antibiotik profilaksis, idealnya dalam waktu 30 menit hingga 2 jam sebelum sayatan kulit, untuk mencegah infeksi situs bedah (5). Dalam satu studi, 1,4% dari pasien yang menerima profilaksis antimikroba perioperatif dalam waktu 3 jam setelah insisi kulit mengalami infeksi luka, dibandingkan 0,6% dari pasien yang diberi profilaksis pra operasi dalam 2 jam sebelum insisi kulit (5). Infus harus diberi batas waktu sehingga tingkat serum bakterisidal dicapai pada saat insisi kulit, dan untuk mempertahankan tingkat terapeutik selama operasi (6). Untuk prosedur bedah yang lebih lama, pemberian ulang obat diindikasikan pada interval dari satu atau dua kali waktu paruh obat (menggunakan dosis yang sama) (7).

Dalam uji coba acak terkontrol tahun 2007 yang dirancang untuk menguji tingkat morbiditas ibu yang terinfeksi setelah persalinan sesar, 175 dan 182 wanita masing-masing menerima antibiotik sebelum operasi dan setelah penjepitan tali pusat(2). Penelitian ini dilakukan baik pada ibu inpartu maupun belum inpartu. Pemberian cefazolin (1 g, secara intravena) 15-60 menit sebelum persalinan sesar (kelompok pra operasi) mengalami penurunan yang signifikan dari endometritis sebesar 1% dibandingkan dengan angka 5% pada wanita yang menerima obat yang sama setelah penjepitan tali pusat (2). Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat infeksi luka pasca operasi dalam dua kelompok perlakuan. Secara keseluruhan, tingkat infeksi pasca operasi keseluruhan mengalami penurunan secara signifikan dari 11,5% menjadi 4,5% pada kelompok pra operasi dibandingkan dengan kelompok sesudah penjepitan tali pusat. Tidak ada perbedaan dalam tingkat sepsis neonatorum, neonatal yang masuk unit perawatan intensif, atau sepsis neonatorum karena organisme resisten, meskipun studi ini tidak dirancang dengan modalitas yang cukup untuk mengatasi komplikasi sekunder.

Sebuah uji coba secara acak membandingkan hasil ibu yang terinfeksi dan luaran bayi pada wanita secara acak untuk menerima cefazolin 15 sampai 60 menit sebelum insisi dibandingkan dengan pemberian setelah penjepitan tali pusat. Tiga ratus lima puluh tujuh perempuan yang terdaftar. Morbiditas infeksi secara keseluruhan berkurang pada kelompok yang diberikan antibiotik sebelum insisi (RR 0,4, 95% CI 0,18-0,87), endometritis berkurang (RR 0,2, 95% CI 0,150,94). Tidak ada peningkatan sepsis neonatorum, atau lama perawatan.17 Sebuah meta-analisis ini mendukung penggunaan antibiotik profilaksis sebelum insisi seksio caesar untuk mencegah morbiditas infeksi total (RR 50, 95% CI 0,33-0,78, P = 0,002 ). Luaran neonatal tidak mendapatkan efek.18 Antibiotik yang paling banyak dipelajari untuk profilaksis bedah adalah sefalosporin. Cefazolin adalah generasi pertama cephalosporin dan merupakan Obat Kategori Kehamilan B. Bila diberikan secara intravena, waktu paruhnya adalah 1,8 jam. Ini menyediakan cakupan yang baik untuk organisme gram positif dan gram negatif. Dalam pedoman US Centers for Disease Control dan
7

Prevention

1999

direkomendasikan penggunaannya pada seksio sesarea. Disarankan 1 sampai 2 gram harus diberikan secara intravena tidak lebih dari 30 menit sebelum kulit
7

dipotong. Dosis tambahan dapat dipertimbangkan jika kehilangan darah melebihi 1.500 mL atau 4 jam jika prosedur berlangsung lebih dari 4 jam (yaitu sampai 2 kali waktu paruh obat) .19 Dari data tersebut , dapat disimpulkan bahwa pemberian antibiotik profilaksis sebelum operasi diberikan tampaknya tidak memiliki efek merusak pada ibu atau neonatus. Pemberian preoperatif secara signifikan mengurangi endometritis dan morbiditas infeksi pada ibu dibandingkan dengan pemberian antibiotik setelah klem tali pusat (8). Data ini menunjukkan bahwa antibiotik profilaksis pra operasi untuk persalinan sesar tidak terkait dengan peningkatan morbiditas infeksi neonatal atau adanya bakteri resisten terhadap antibiotik yang menyebabkan sepsis neonatal. Namun, karena penelitian tersebut tidak dimemadai untuk menganalisis hasil tersebut, diperlukan evaluasi tambahan. The Committee on Obstetric Practice dari The American College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan antibiotik profilaksis untuk semua persalinan secara seksio sesarea kecuali pasien sudah menerima antibiotik yang tepat (misalnya, untuk korioamnionitis) dan profilaksis yang harus diberikan dalam waktu 60 menit sebelum insisi. Bila hal ini tidak mungkin (misalnya, pada kasus emergensi), profilaksis harus diberikan sesegera mungkin. Penelitian telah menunjukkan bahwa antibiotik spektrum yang lebih luas yang diberikan pada operasi caesar mengurangi morbiditas infeksi. Uji coba keunggulan cefazolin belum dilakukan. Mengingat potensi resistensi antibiotik bagi ibu dan neonatus, rekomendasi untuk penggunaan antibiotik spektrum yang lebih luas membutuhkan studi lebih lanjut.20

Ketuban Pecah Dini Risiko utama ketuban pecah dini adalah infeksi intrauterin. Risiko infeksi intrauterine meningkat seiring dengan durasi KPD. Beberpa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi KPD keduanya mempunyai hubungan yang bermakna dengan peningkatan kejadian infeksi dan komplikasi lain dari KPD. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan disebut periode latent = L.P = lag period. Makin muda umur kehamilan makin memanjang L.P-nya. (13)
8

Bukti yang mendukung gagasan bahwa induksi persalinan, sebagai kebalikan dari manajemen ekspektasi, mengurangi risiko korioamnionitis tanpa meningkatkan tingkat persalinan secara seksio sesarea [4, 5]. Hannah et al mempelajari 5041 wanita dengan KPD yang secara acak dilakukan induksi persalinan dengan oksitosin intravena atau prostaglandin E2 pervaginam dibandingkan manajemen ekspektasi selama 4[6]. Mereka menyimpulkan bahwa, pada wanita dengan KPD, induksi persalinan dan manajemen ekspektasi memiliki tingkat yang sama dalam hal kelahiran sesar dan infeksi neonatal. Namun, induksi dengan oksitosin mengakibatkan penurunan risiko infeksi ibu (endometritis) bila dibandingkan dengan managemen ekspektasi.

Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi pada ibu. Walaupun antibiotik tidak berfaeadah terhadap janin dalam uterus namun pencegahan terhadap chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatanya sehingga pemberian antibiotik profilaksis perlu dilakukan. Waktu pemberian antibiotik hendaknya diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakan dengan pertimbangan : tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi telah terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung lebih dari 6 jam.(1,2) Pemberian antibiotik mulai saat diagnosis ditegakkan dan selanjutnya stiap 6 jam.(3,8)

Persalinan Pervaginam Operatif Sebuah studi oleh Cochrane 2004 menyelidiki penggunaan antibiotik profilaksis untuk persalinan pervaginam operatif, baik dengan forceps atau vakum ekstraksi, untuk menentukan apakah antibiotik profilaksis mengurangi kejadian infeksi postpartum.21 pada studi ini diidentifikasi hanya satu sidang dari 393 wanita, dan hanya 2 dari 9 hasil yang dianggap tepat oleh pengulas yang dinilai dalam penelitian ini: endometritis dan lama perawatan di rumah sakit. Tidak didapatkan hasil yang berbeda antara mereka yang mendapatkan antibiotik profilaksis dan mereka yang tidak mendapat pengobatan. Kajian tersebut menyimpulkan ada data tidak memadai yang menjadi dasar rekomendasi untuk praktek dan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan. Tidak ada studi tambahan menangani masalah ini yang telah diterbitkan sampai saat ini. Manual Plasenta

Informasi mengenai penggunaan antibiotik profilaksis untuk mengurangi terjadinya endometritis postpartum setelah tindakan manual plasenta masih sangat terbatas. Sebuah tinjauan Cochrane, diperbarui pada bulan April 2009, tidak mengidentifikasi percobaan terkontrol secara acak mengenai hl tersebut.22 WHO menyarankan profilaksis yang harus diberikan, tetapi mengakui bahwa tidak ada bukti langsung dari nilai profilaksis antibiotik setelah tindakan manual plasenta dan dasar rekomendasi pada penelitian yang melibatkan operasi caesar dan aborsi dan pengamatan dari manipulations intrauterin lainnya.23

Pengaruh penggantian sarung tangan operator sebelum manual plasenta pada operasi caesar dipelajari dalam sebuah studi yang melibatkan 228 perempuan, dengan operator mengganti sarung tangan di setengah dari kasus. Tidak ada perbedaan dalam kejadian endometritis pasca-caesar yang tercatat antara 2 kelompok.24 Namun, kejadian endometritis mengalami penurunan ketika plasenta dilahirkan secara spontan bukannya secara manual pada operasi caesar dalam studi dari 333 wanita, yang semuanya menerima antibiotik profilaksis (15% vs 26%, RR 0,6, P = 0,01) .25

Laserasi Perineum Derajat Ketiga dan Keempat Sebuah studi oleh Cochrane 2005 yang membahas tentang hal ini menemukan tidak ada uji coba secara acak yang membandingkan efektifitas pemberian antibiotik profilaksis dengan plasebo atau tanpa pengobatan pada laserasi perineum derajat keempat setelah persalinan pervaginam. Sebuah percobaan yang acak dirancang dengan baik kemudian dilakukan oleh Duggal et al. dan diterbitkan pada tahun 2008.27 Ini merupakan percobaan prospektif yang diikuti 107 wanita pasca repair laserasi perineum derajat ketiga atau keempat selama 2 minggu, para wanita telah secara acak ditugaskan untuk menerima dosis tunggal intravena cefotetan, cefoxitin, atau plasebo. Empat dari 49 (8%) yang menerima antibiotik dan 14 dari 58 (24%) yang menerima plasebo mengakami komplikasi luka perineum (P = 0,037). Hal ini menunjukkan manfaat untuk menggunakan antibiotik profilaksis untuk mengurangi morbiditas infeksi laserasi perineum secara signifikan.27

10

Serklase Serviks Elektif dan Emergensi, Dengan atau Tanpa Eksposure Membran Amnion Ada bukti yang cukup untuk mendukung penggunaan antibiotik profilaksis dengan penempatan serklase serviks dalam penggunaan klinis. Satu studi menyelidiki penggunaan terus menerus antibiotik dosis rendah pada wanita dengan riwayat kehamilan abortus trimester kedua dengan penggunaan serklase pada usia kehamilan 14 sampai 24 minggu berdasarkan temuan sonografi transvaginal serviks terbuka. Setiap dari 10 pasien mengalami kelahiran hidup, dan kehamilan diperpanjang rata-rata 13,4 4,2 minggu dibanding kehamilan sebelumnya. Tidak ada kelompok kontrol.28 Dalam sebuah penelitian retrospektif 116 kehamilan mid-trimester yang mendapatkan serklase, penggunaan antibiotik tidak dikaitkan dengan penurunan risiko persalinan sebelum 28 minggu gestasi.29 Uji klinis acak diperlukan untuk mengkonfirmasi peran antibiotik dalam kehamilan berisiko tinggi.

Dilatasi dan Kuretase Postpartum

Belum ada penelitian yang menyelidiki penggunaan antibiotik profilaksis untuk dilatasi dan kuretase postpartum

REKOMENDASI BAGI ALERGI PENISILLIN DAN SEFALOSPORIN

Alergi penisilin dilaporkan sendiri hingga 10% pasien namun hanya 10% dari mereka yang benar-benar alergi ketika pengujian kulit dilakukan.31,33 Respon anafilaksis terhadap penisilin jarang terjadi dalam 1 sampai 4 dari 10 000 pemberian.34 Angka reaksi alergi terhadap sefalosporin pada mereka dengan alergi penisilin terjadi pada 0,17% hingga 8,4% pasien,35,3637 Sebuah alternatif untuk sefalosporin harus diberikan hanya bagi individu dengan riwayat penisilin anafilaksis (sesak napas atau bukti edema saluran napas lebih dari reaksi alergi hanya ruam atau lainnya) atau alergi sefalosporin. Antibiotik profilaksis alternatif termasuk klindamisin 600 mg IV atau eritromisin 500 mg IV.

11