Anda di halaman 1dari 112

JOOLU THE POMPOLOO Oleh : chasdian shah

SINOPSIS

Joolu merupakan seorang pemuda suku Pompoloo. Berdasarkan adat suku Pompoloo, anak suku Pompoloo harus melaksanakan misi pembuktian sebelum usia mereka genap menjadi 17 tahun. Begitu juga dengan Joolu, ia melakukan misi pembuktiannya pada usia sembilan tahun. Selama melaksanakan misinya, ia mengalami berbagai hal baru dalam petualangannya yang menarik. Ditengah-tengah petualangannya memenuhi misinya ia bertemu dengan sesosok ular misterius bernama Ou Slang Magie. Pertemuannya dengan Magie memberikannya sebuah misi baru yang sangat berbahaya, bahkan jauh lebih berbahaya dari pada misi pembuktiannya. Pengkhianatan, persahabatan, dan tentu saja petualangan yang seru juga hadir didalam misinya ini.

I MISI PEMBUKTIAN

Seorang anak duduk termangu di ujung sebuah tebing, entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang pasti kalau dilihat dari penampilannya, dia adalah seorang anak suku pompoloo yang kuat dan cerdas. Aku pasti bisa!!", Ujarnya tiba-tiba. Diapun segera berdiri dan berlari menuju kearah pemukiman. Selang berapa lama, diapun sudah sampai didepan sebuah gubuk adat suku Pompoloo. Ayah... ayah... aku sekarang tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku anggota suku pompoloo.., ujar si anak seraya memasuki gubuk tersebut. Namun dia langsung terdiam karena ayahnya tidak berada disana. Dia pun berpikir sejenak dan langsung berlari kearah ladang. "Ayah, aku sudah mengetahui hal apa yang akan aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku adalah anggota suku pompoloo....!!" ujarnya setiba diladang sembari menghampiri ayahnya dengan semangat yang membara. Ayahnya pun menoleh, dan menatap kearahnya. "Ayah aku sudah mendapatkannya..., Ujar anak itu. "Katakan anakku, katakan pada ayahmu ini.., sambut ayahnya. "Aku... aku akan terbang seperti burung ayah, aku ingin terbang... Sang ayahpun hanya terdiam terdiam sejenak, dia berpikir bahwa ide anaknya itu merupakan hal yang sangat mustahil untuk dilakukan. Tapi dia tidak ingin membuat anaknya kecewa, dia ingin agar anaknya memikirkan hal lain yang mungkin akan bisa dilakukan anaknya. "Joolu, kau anakku satu-satunya. dan kau juga putra kebanggaan suku pompoloo. Ayah berharap, kau dapat memikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan., ujar sang ayah. Ya ayah, aku tahu... tapi aku yakin ayah.. aku yakin aku bisa. Mungkin setelah aku mencari tahu rahasia para burung dan hewan terbang lainnya..., jawab Joolu. Mengapa kau tak berburu harimau saja seperti yang ayah lakukan dulu, atau mungkin berburu badak seperti yang dilakukan kakekmu. Berburu hewan dan tanaman langka juga bisa., kata sang ayah mencoba mengubah pemikiran anaknya.

Ayah... itu semua sudah biasa. Aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda, aku ingin menjadi anak ajaib suku pompoloo. Aku ingin menjadi anak angin.. Aku ingin membuat mu bangga ayah.. "Ayah mengerti anakku, tapi ingatlah resiko yang akan kau hadapi jika kau gagal melakukannya sebelum kau berumur 17 tahun. Walaupun, sekarang kau baru berumur 9 tahun. Tapi ayah yakin, waktu seumur hidup tak akan cukup untuk dapat melakukan keinginanmu itu., ucap sang ayah mengingatkan. "Ya ayah, aku sudah memikirkannya, dan aku sudah siap diasingkan jika aku gagal. Bukankah menurut legenda, suku kita dahulu bisa terbang ayah? bahkan kau menceritakan bahwa nenek moyang kita adalah anak angin. Bukankah begitu ayah?", ujar Joolu seraya bertanya. "Legenda memang menyebutkan seperti itu anakku, tapi kenyataannya kita belum pernah melihat seorang manusia seperti kita melayang kesana-kemari seperti burung. "Aku yakin legenda itu benar ayah, dan tekadku sudah bulat. Resiko apapun akan ku ambil untuk mewujudkan kepercayaanku ini., ujar Joolu. Ayahnya hanya bisa menarik napas panjang dan merelakan anaknya untuk melakukan misi yang aneh ini. "Baiklah, jika itu memang keinginanmu. Ayah memperbolehkanmu meninggalkan rumah dan memulai misi pembuktianmu. "Baik ayahku, aku tak akan mengecewakanmu., ujar Joolu. "Ini beberapa barang yang mungkin akan kau butuhkan selama perjalanan. Ingat, semua benda yang ada didalam tas ini hanya bisa dipakai satu kali. Dan satu lagi, jangan pernah kau coba untuk membuka tas ini. Kau cukup memasukan tanganmu pada saat kau membutuhkan sesuatu., kata ayahnya sambil memberikan tas anyaman yang sudah sangat tua. "Baik ayah... sekarang aku akan bersiap-siap sebelum pergi. Setelah melakukan beberapa persiapan kecil, Joolu pun pergi meninggalkan ayahnya menuju ke arah hutan Sempoloo Loloo. Sang ayah hanya bisa menatap penuh harap ke arah Joolu, sementara Joolu terus berjalan dengan langkah pasti

menuju hutan Sempoloo Loloo dan semakin jauh meninggalkan ayahnya ditengah ladang. Tak ada upacara adat yang mengiringi kepergian Joolu. Ini bukan karena Joolu ingin pergi diam-diam ataupun karena dia tidak di anggap, tapi inilah adat disuku Pompoloo. Anak suku Pompoloo yang ingin melakukan misi pembuktian hanya harus meminta restu dari orang tua sekaligus memberitahukan misinya kepada orang tua mereka. Nanti, orang tua merekalah yang akan menenemui dan menghadap kepala suku beserta para tetua untuk memberitahukan kepergian anak mereka dan misi apa yang akan anak mereka wujudkan.

II TAS AJAIB

Joolu memulai langkah pertamanya memasuki hutan Sempoloo Loloo dengan jantung yang berdegup kencang. Maklum saja, karena ini merupakan kali pertamanya menginjakkan kaki di hutan ini. Hutan ini sebenrnya berada tidak jauh dari pemukiman suku Pompoloo, namun aturan adat suku Pompoloo melarang anak kecil untuk memasuki kawasan hutan ini. Kecuali, bagi mereka yang sudah siap untuk melakukan misi Pembuktian. Hal ini tentu saja karena banyaknya hewan buas yang menghuni tempat ini. Mulai dari ular, serigala, harimau, badak, maupun beberapa hewan aneh yang tidak kalah berbahaya bagi manusia. Bahkan tak jarang anak suku Pompoloo tewas saat sedang melakukan misi pembuktian. Sebenarnya, para tetua suku sudah memberikan beberapa pengetahuan penting seputar keadaan hutan Sempoloo Loolo dan juga cara menghadapi berbagai macam hewan buas penghuninya. Namun, pengetahuan itu tentu saja belum cukup berguna karena terkadang ada situasi-situasi tertentu yang tidak seperti apa yang tetua katakan terjadi. Joolu terus berjalan mantap dengan menatap kedepan, seolah-olah dia sudah tahu pasti arah yang dia tuju. Disekiling Joolu hanya terdapat pohon-pohon ek yang sudah berumur ratusan atau bahkan ribuan tahun. Hal itu dapat dipastikan dari ukuran dan banyaknya lumut yang menempel pada pohon-pohon ek itu. Joolu berhenti sejenak, dan terlihat memikirkan sesuatu. "Perutku lapar, aku lebih baik mencari makanan terlebih dahulu disekitar sini., gumamnya. Dia pun meletakkan tas anyaman jerami yang diberikan ayahnya di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Lalu dia segera berkeliling untuk mencari buah-buahan dan hewan yang mungkin ada di sekitarnya. Setelah sekian lama ia mencari, ia merasa lelah. Ia tak berhasil menemukan apapun yang bisa dimakan, akhirnya dia berhenti dan berbalik kembali menuju tas anyaman jerami yang di berikan oleh ayahnya. Mungkin saja ayah meletakkan sedikit bekal didalam tas itu., gumamnya sambil terus berjalan menuju tas pemberian ayahnya itu. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya ia sampai di bawah pohon tempat ia meletakkan tas tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, segera saja ia memasukan tangannya ke dalam tas

pemberian ayahnya. Tiba-tiba terlihat senyum merekah di bibirnya dan tangannya pun ditarik keluar. Terlihat sebuah pepaya berukuran cukup besar dengan warna yang kemerahan. Ternyata dugaanku benar, ayah meletakkan makanan di dalam tas ini. Tapi, bagaimana mungkin didalam tas sekecil ini bisa ada pepaya sebesar ini? padahal tas ini sendiri tak terlihat berisi sesuatu., gumamnya dengan Raut wajah yang melukiskan kebingungan. "Ah, sudahlah, yang penting saat ini aku dapat mengisi perutku yang kelaparan., gumamnya sekali lagi. Tanpa pikir panjang lagi, Joolu pun langsung melahap buah pepaya yang dia dapat dari dalam tas pemberian ayahnya itu. Sete;lah measa kenyang, Jolu beristirahat sejenak. Hari sudah mendekati malam, dan Joolu pun memutuskan untuk mencari tempat berlindung. Segera saja ia memanjat ke atas sebuah pohon yang tak terlalu besar dan menyusun ranting-ranting yang ada pada pohon tersebut sehingga menyerupai tempat tidur. Namun, tentu saja itu bukanlah merupakan hal yang mudah. Berkali-kali ranting-ranting pohon itu di bentuk, berkalikali juga ranting-ranting itu kembali lagi ke posisi semula. Tiba-tiba saja ia langsung merogoh-rogoh tas pemberian ayahnya. Mungkin saja ayah juga meletakkan tali didalam tas ini., gumamnya sambil terus merogoh. Tak berapa lama kemudian, ia pun mengeluarkan tali yang terbuat dari akar tanaman merambat yang sangat kuat dan cukup panjang. Tanpa banyak berpikir lagi, ia pun langsung mempergunakan tali itu untuk mengikat ranting-ranting yang akan dia bentuk. Sebentar saja, tempat tidur buatannya telah selesai. Bagian bawah berfungsi sebagai tempat tidur, dan bagian atas berfungsi sebagai atap tanpa memiliki dinding di sekelilingnya. Malam pun menjelang dan Joolu sudah bersiap-siap di atas tempat tidur buatannya itu. Tempat tidur ini sebenarnya merupakan salah satu bekal yang telah diberikan para tetua suku Pompoloo. Tempat tidur ini dirancang untuk menghindari serangan dari hewan buas seperti harimau, singa, serigala dan badak. Ini karena tempatnya yang sengaja di buat lumayan tinggi. Malam semakin larut dan Joolu semakin lama semakin terlihat mengantuk. Namun, ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.Ya, aku akan kesana., gumamnya dalam hati. Bintang dan bulan sudah mulai menampakan

dirinya.

Terdengar

sayup-sayup

suara

hewan-hewan

malam

yang

cukup

menggetarkan hati. Jika bukan merupakan orang yang bermental kuat, tentu saja ia tak akan sanggup berada sendirian di tengah hutan pada saat malam hari. Namun, anak-anak suku Pompoloo, merupakan anak-anak yang dari kecil sudah di ajarkan untuk berani. Selang beberapa saat, Joolu pun sudah tertidur dengan lelapnya.

III AIR TERJUN DAN PADANG RUMPUT

Seminggu sudah lamanya Joolu berjalan menysuri hutan Sempoloo loloo, namun dia tidak terlihat lelah sedikitpun. Dia berjalan seolah mencari-cari sesuatu dengan langkah kakinya yang mantap menapaki setiap jengkal hutan Sempoloo loloo. Mata Joolu bersinar, terl;ihat sebuah snyum kegembiraan mnyeruak di bibirnya yang mungil. Dia segera berlari menerobos hutan menuju kearah tempat yg tampak bercahaya, "Akhirnya ketemu., gumamnya. Setelah berlari beberapa saat, kini ia berdiri di depan hamparan padang rumput yang luas. Padang rumput ini bernama padang rumput nirvana. Konon di padang rumput ini tersimpan banyak kekuatan magis, hal ini yang menyebabkan padang rumput ini tidak pernah berubah. Walaupun padang rumput ini rusak, namun dalam waktu singkat akan kembali lagi seperti semula. Aku akan mencari cara untuk mewujudkan misiku disini. Ya, di sini adalah tempat yang paling aman., gumam Joolu sekali lagi. Rupanya dia bermaksud mencari cara untuk mewujudkan misinya di padang rumput ini. memang, dibandingkan dengan hutan Sempolo loloo padang rumput ini jauh lebih aman. Joolu berjalan menghampiri air terjun yang berada di seberang padang rumput Nirvana untuk merasakan segarnya air dari air terjun tersebut. Joolu memang belum mandi semenjak pergi dari kampungnya, jadi wajar saja jika dia langsung berniat untuk mandi di air terjun tersebut. Setelah berada didekat air terjun, Joolu terdiam sejenak karena menemukan sesosok makhluk yang lumayan besar. Dia lalu mengamati sesosok makhluk yang sebesar seekor kuda dewasa berwana merah dengan leher dan ekor yang panjang. Makhluk tersebut juga memiliki sisik seperti ular dan kepalanya bertanduk. Selain itu, makhluk itu juga memiliki sayap seperti sayap kelelawar. Joolu mendekati makhluk yang terlihat seperti tertidur itu secara perlahan untuk mengetahu makhluk ap itu sebenarnya. Selangkah lagi dia berada tepat di samping makhluk tersebut, namun tibatiba makhluk itu terbangun dan menatap kea rah Joolu. Joolu terkejut dan kebingungan, dia tak tahu harus berbuat apa. Yang ada dibenaknya saat ini adalah jika makhluk itu menerkam dan kemudian memangsanya. Makhluk itu berdiri, dan mengembangkan sayapnya. Apakah ini yang namanya naga?? ", gumam joolu. Makhluk itu masih menatap tajam ke arah Joolu,

lalu dia mendekatkan hidungnya dan mulai mengendus. Joolu hanya bisa diam terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. Jika apa yang didapatkannya dalam bekal sebelum menempuh misi benar, seharusnya makhluk ini benar-benar seekor naga. Berdasarkan bekal pengetahuan dari para tetua di sukunya, naga adalah makhluk yang ganas dan berbahaya, bahkan bisa dibilang salah satu yang paling berbahaya. Naga itu mendekatkan mulutnya ke wajah Joolu dan keringat dingin mulai bercucuran di wajah anak suku Pompoloo itu. Sang naga membuka sedikit mulutnya, lalu menjulurkan lidahnya untuk menjilat wajah Joolu. Joolu semakin takut, dia benar-benar sudah merasa pasrah akan apa yang terjadi selanjutnya. Naga tersebut lalu duduk dan membungkukkan kepalanya dihadapan Joolu. Joolu merasa bingung karena sebelumnya dia yakin akan dijadikan santapan sang naga. Joolu lalu ikut sedikit membungkuk, dan mencoba untuk mengarahkan tangannya untuk mencoba mengusap kepala sang naga. Setelah karak tangannya dan kepala naga hanya berjarak beberapa helai rambut, ia berhenti sejenak karena masih ragu akan apa yang dia lakukan. Disaat Joolu masih ragu-ragu, tiba-tiba naga tersebut menaikan kepalanya sehingga tangan Joolu dapat memegangnya. Joolu Nampak sedikit terkejut, namu secara perlahan Joolu mengelus kepala naga tersebut dengan lembut. Sang naga terlihat sangat senang, tingkahnya seperti seekor anak anjing yang di elus majikannya. Rasa takut Joolu sirna perlahan, dia mulai yakin bahwa naga itu tak akan melukainya. Selang beberapa saat, sang naga berdiri kembali dan terbang entah kemana. Joolu masih dilanda kebingungan, namu dia masih penasaran pada naga itu. Ia kini hanya bisa berdiri menatap naga itu terbang menjauh meninggalkannya dipinggiran air terjun.

IV PERCOBAAN

Sebuah gubuk kecil telah berdiri di tengah padang Nirvana, terlihat sesosok anak muda tengah mempersiapkan sesuatu. Dia terlihat sangat asyik dengan pekerjaannya itu, dia bahkan seperti tak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ya, anak muda itu adalah Joolu. Dia tengah mempersiapkan sesuatu untuk memulai percobaan awal mewujudkan misinya untuk terbang. akhirnya selesai., gumamnya. Dia segera memegang dedaunan yang diikat dan dirangkai membentuk sayap. Ia mengepak-ngepakkan sayap buatan itu sambil meloncat-loncat. Hal ini dilakukannya berkali-kali, hingga dia merasa lelah dan akhirnya berhenti. Dia berdiam diri sejenak seolah memikirkan sesuatu. Tak lama, dia pun berjalan ke arah sebuah batu yang tingginya dua kali lipat tubuhnya, dan dia melompat. Sebelum terjatuh ia mengepakngepakkan sayap buatannya. Namun tentu saja itu tak berguna sedikit pun, dan ia pun terjatuh. Ia memang tidak terluka sedikit pun, namun jatuhnya tadi tetap saja terasa sakit. Joolu kembali berdiri, "Mungkin kurang tinggi., gumamnya. Diapun langsung berjalan menuju ke arah tebing di sisi air terjun. Tanpa banyak berpikir, ia segera memanjat tebing tersebut. Entah apa yang ada di benaknya sekarang, namun jika dia terjatuh tentu saja ia tak akan selamat. Setelah berusaha keras, akhirnya Joolu mencapai puncak tebing. Dari wajahnya tersirat bias-bias kelelahan, dia terengah-engah sambil membungkuk memegangi lututnya. Setelah beberapa saat melepas penat, ia mengambil sayap buatannya yang dari tadi ia gantungkan di punggungnya. Dia melangkah perlahan menuju pinggiran tebing, wajahnya terlihat yakin dan mantap. Setelah merasa siap, dia pun mengembangkan sayap buatannya. Dia menarik nafas panjang lalu melompat dari tebing yang tingginya sekitar 450 meter tersebut. Tubuhnya pun terus melesat kebawah sembari mengepakkan saya buatannya, namun ia tetap tidak bias untuk terbang atau melayang tak perduli seberapa kuat ia mengepakkan sayap palsu tersebut. Sayap buatannya pun mulai rontok, dan kini ia tinggal menunggu ajal menjemputnya. Ketika tubuhnya melewati separuh dari tinggi tebing, tiba-tiba sesosok bayangan muncul. Sosok itu lalu menyongsong tubuh Joolu dan menyelamatkannya.

Sesaat kemudian dia baru sadar bahwa makhluk itu adalah naga merah yang beberapa hari lalu dilihatnya. Sayap naga tersebut dikepakkan perlahan, sehingga naga tersebut melayang di udara. Semakin lama, mereka semakin mendekati tanah. Setelah benarbenar berada di atas tanah, Joolu segera turun dari punggung sang naga merah. "Terima kasih,,", ucapnya kepada naga merah. Naga merah membungkukan kepalannya mendekati wajah Joolu, lalu menjilatnya persis seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Kali ini tanpa ragu Joolu mengelus kepala naga tersebut. Aku akan membalas kebaikanmu.., ujar Joolu kemudian masuk kedalam gubuk. Selang beberapa saat dia lalu keluar membawa tas ajaib pemberian ayahnya. Dia mendekati naga merah sambil merogoh tas ajaibnya itu. Ia mengeluarkan beberapa ekor ikan segar, dan meletakkannya di depan naga merah. Tanpa ragu naga merah itu pun langsung memakan habis ikan-ikan itu dalam sekali lahap, lalu dia kembali berdiri tegak. "Bagaimana jika ku beri kau sebuah nama? ", ujar Joolu. Sang naga hanya terdiam menatap Joolu dengan tatapan yang lembut. Baiklah, namamu Rooi Draak., lanjut Joolu. Sang naga kemudian mendekati Joolu, lalu menjilatnya sekali lagi. Sang naga terlihat senang atas nama barunya itu. Joolu kembali mengelus naga merah yang kini bernama Rooi Draak. Ketika sedang mengelus sang naga, tiba-tiba sesosok makhluk lainnya muncul. Kali ini muncul seekor ular berukuran sebesar pohon kelapa. Joolu merasa sedikit takut ketika ular itu menegakkan kepalanya, namun Rooi tak menunjukan tanda-tanda jik ia terusik dengan kehadiran ular tersebut. Dalam benak Joolu terbersit berbagai pemikiran. Anak muda.., Ujar ular tersebut membuyarkan lamunan Joolu. Tenanglah, aku bukan musuhmu. Aku telah mengamatimu sejak kau memasuki hutan Sempoloo loloo., lanjut ular itu seolah mengerti apa yang dipikirkan Joolu. Nama ku adalah Ou Slang Magie. Kau cukup memanggilku Magie., Lanjut sang ular. Apa keperluan mu datang kepadaku wahai Magie? ", Ujar Joolu. Aku ingin memberitahumu sebuah rahasia,, rahasia tua tentang suku Pompoloo. Jika kau berminat, silahkan singgah ke gubukku di ujung dari aliran sungai ini., Jawab Magie tenang. Setalah menjawab pertanyaan Joolu, Magie langsung masuk kedalam aliran sungai. Dikarenakan tubuhnya yang besar

tubuh ular tersebut terlihat jelas meliuk-liuk di tengah-tengah aliran sungai. Namun, gerakannya sangat cepat. Sehingga selang beberapa detik, tubuhnya sudah tidak terlihat karena tertelan oleh kejauhan dan meninggalkan sejuta misteri dibenak Joolu.

V KENI AROORA

Sudah dua hari berlalu semenjak kedatangan Magie. Tapi sepertinya Joolu sama sekali tidak memikirkan hal itu, Ia hanya terfokus memikirkan bagaimana cara menyelesaikan misinya. Dia sedang termenung diatas sebuah meja didepan pondok buatannya. Bagaimana caranya agar aku bisa terbang??", Itulah yang ada dibenaknya saat ini. Tapi walau bagaimanapun juga misi yang di ambilnya adalah hal yang mustahil, kecuali ada keajaiban yang datang menghampirinya. Tak ada yang mengerti akan tindakan Joolu mengambil misi yang mustahil ini, Ayahnya pun tidak percaya akan keputusan anaknya ini yang seolah sudah tidak waras. Namun karena kebulatan tekad yang Joolu perlihatkan, ayahnya hanya bisa mendukungnya. Lama waktu yang dilalui Joolu dengan melamun. Tapi sepertinya ia tak kunjung menemukan cara untuk terbang. Ia hanya membuang waktu, sementara itu terlihat Rooi tengah asyik bermain. Rooi terlihat menggemaskan, ia berlari kesana kemari mengejar kupu-kupu yang beterbangan ditaman Nirvana. Sesekali ia terlihat mengejar-ngejar ekornya sendiri. Rooi memang sudah berusia sekitar 34 tahun, namun bagi naga umur tersebut masih terbilang sangat muda. Sehingga wajar saja jika Rooi bersikap seperti itu. Terlihat Joolu tiba-tiba berdiri, matanya yang berbinar seolah menyimpan berjuta harapan. Mungkin dia tahu bagaimana caranya. Mungkin dia tahu tentang legenda suku Pompoolo. Dan bukannya dia sendiri yang bilang begitu?", gumam Joolu. Dia" yang dimaksud Joolu sudah pasti Magie. Karena hanya dia yang datang pada Joolu dan mengatakan bahwa dia mengetahui rahasia suku Poompolo yang sudah sangat tua. Dan pasti Joolu berharap banyak pada Magie, karena memang dialah satu-satunya yang bisa diharapkan saat ini. Dia segera masuk kedalam pondok dan selang beberapa saat keluar kembali dengan membawa tas ajaib pemberian ayahnya. Dia segera menghampiri Rooi sang naga merah. Rooi langsung merendahkan tubuhnya, ia tahu maksud dari sikap Joolu. Joolu naik kepunggung Rooi, dan bersiap-siap untuk pergi mencari kediaman Magie. Ketika sayap Rooi mulai mengembang, tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arah Rooi. Dengan sigap Joolu meloncat dari pungung Rooi dan menghalau anak panah tersebut menggunakan kakinya. Setelah menghalau anak panah itu, Joolu segera mendarat ditanah dan

mencari asal anak panah tersebut. Ia menyapu sekelilingnya menggunakan kedua matanya. Pengamatan Joolu memang luar biasa, dia bisa melihat sesosok bayangan dibalik sebuah pohon yang berada di dalam hutan Sempoloo loloo yang jaraknya sangat jauh. "Siapa kau, keluarlah!!", teriak Joolu geram. Tak disangka sosok itu berjalan keluar hutan seperti yang Joolu perintahkan. Dia pasti adalah seorang pemanah handal, karena dari jarak sejauh itu ia bisa memanah dengan ketepatan yang sangat tinggi. Perlahan tapi pasti, sosok pemanah tersebut mulai terlihat jelas karena sinar mentari menyinari sedikit demi sedikit bagian tubuhnya. Setelah sosok tersebut keluar dari hutan, Joolu terlihat terdiam sejenak. Air mukanya berubah, dari yang tadinya sangat geram menjadi sangat senang. Ia lalu berteriak, "Keni!!". Setelah berteriak Joolu berlari menghampiri sesosok gadis seusianya. Ya, dia adalah salah satu teman Joolu, namanya Keni Aroora. Namun Rooi memperlihatkan wajah tidak senang atas kehadiran Keni. Bagaimana tidak, ternyata selama ini Keni selalu mengejar dan berusaha untuk membunuh Rooi. Hal itu dilakukan Keni karena memang misinya adalah untuk membawa jantung naga. Rooi yang selalu dikejar oleh Keni merasa terusik keberadaanya dengan kedatangan Keni. Ia sebenarnya ingin segera pergi, namun karena Joolu telihat gembira akan kedatangan Keni, Rooi pun mengurung niatnya itu. Ia hanya bia memandangi Joolu dengan tatapan waspada jika tiba-tiba Keni menyerang Joolu. "Keni, apa yang kau lakukan? kenapa kau ada disini?", Ujar Joolu setelah sampai di tempat Keni dengan senyum merekah. Keni hanya tersenyum simpul, wajahnya begitu imut. Aku melakukan misiku., jawabnya singkat. Joolu dengan tampang polos kembali bertanya, "Apa misimu?". Misiku adalah membawa jantung seekor naga., Jawab Keni. Apa? Jadi kau menghilang selama 2 bulan karena kau pergi mengemban misi? Kenapa kau tidak memberi tahuku? ", Potong Joolu. Keni hanya terdiam kemudian menjawab pertanyaan Joolu dengan bergumam, "Aku tahu kau akan menghalangiku melakukan misi yang berbahaya ini. aku hanya tak ingin kau cemas., Jawab gadis lugu ini. Joolu terdiam sejenak, dia tak tahu apa yang harus

dia lakukan. Lalu kenapa kau mencoba menyerang Rooi?", tanya Joolu dengan tampang serius. "Aku ingin segera menyelesaikan misiku, kurasa kau tahu itu., Jawab Keni. Tapi kau tak harus membunuhnya., Sergah Joolu. Keni menunjukan wajah kebingungan, dia tak tahu apa yang dimaksud Joolu. Lalu aku harus bagaimana?", Kali ini Keni yang balik bertanya. Kau hanya harus membawa jantung seekor naga tanpa menyebutkan dalam keadaan hidup atau mati. Jika kau membawa seluruh tubuh Rooi kembali ke kampung, berati kau juga telah membawa jantungnya, dan berarti misimu telah selesai., jawab Joolu. Keni terdiam sejenak, dia seolah mengerti apa yang dimaksud oleh Joolu. Joolu tersenyum simpul dan mengulurkan tangan kanannya kearah Keni. Keni menyambut tangan Joolu, dan mereka langsung berjalan menuju Rooi. Rooi terlihat menunjukan sikap tidak suka, dia mengambil sikap siap menyerang kapan saja. Joolu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Keni, lalu berjalan sendirian untuk mendekati Rooi. "Rooi, dia teman baikku. Kau tak usah khawatir, dia tak akan menyerangmu lagi. Aku menjamin setiap tindakannya terhadapmu., ujar Joolu. Rooi tampak sedikit tenang, Sikap waspadanya agak menghilang. Keni pun berjalan perlahan mendekati Rooi dan berdiri disebelah Joolu. Dia pun berbicara, "Rooi, maafkan aku karena telah memburumu selama beberapa bulan ini. Untung aku bertemu tuanmu yang pintar ini. Jika tidak, mungkin aku masih berusaha untuk memburumu.. Rooi mulai tenang, sikap waspadanya benar-benar telah hilang. Sedang Joolu terlihat tersipu malu karena pujian yang diberikan oleh Keni. Keni, kami mau pergi menemui seseorang di ujung sungai ini, kau mau ikut?", ujar Joolu menawarkan. Keni hanya terdiam, ia tampak sedang berpikr. Baiklah, aku akan ikut. Lagian, misiku sudah pasti berhasil. aku akan menemanimu menuntaskan misimu., Kata Keni menjawab tawaran Joolu. Joolu tampak tersenyum lalu segera meloncat ke atas punggung Rooi. Keni mengikuti Joolu, dia pun meloncat dan naik keatas punggung Rooi. Baiklah Rooi, ayo kita susuri sungai ini., ujar Joolu. Roi pun langsung mengembangkan sayapnya dan segera terbang ke atas sungai untuk menyusurinya.

VI KAKEK TUA

Hari sudah sore, namun Joolu masih menyusuri sungai Duisternis. Ya, itulah nama sungai ini sebenarnya. Sungai Duisternis mempunyai arti sungai kegelapan. Sesuai namanya, sungai ini selalu memancarkan aura kegelapan dikala malam. Seolah-olah ada makhluk buas yang bersemayam di sungai tersebut. Joolu terus menyusuri sungai yang bagaikan tak berujung itu. Rooi sebenarnya terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga Joolu dan Keni kesulitan untuk bernafas. Namun sungai Duisternis itu memang sangat panjang yang membuatnya seperti tak berujung. Joolu tak putus asa sedikitpun, ia tetap menyuruh Rooi untuk terbang dengan kecepatan tinggi. Rooi yang mengerti tekad tuannya tak mengurangi kecepatannya sedikitpun walaupun tuannya mengalami kesulitan untuk bernapas. Keyakinan Joolu terbayarkan, samar-samar terlihat sebuah pantai di kejauhan dengan matahari yang sudah setengah terbenam sebagai latarnya. Joolu tersenyum bahagia, sedang Keni masih terlihat kesulitan mengatur napas. Sebenarnya memang dibutuhkan latihan khusus agar dapat menunggangi naga dengan kecepatan seperti itu. Selang beberapa saat, merekapun sampai di ujung sungai Duisternis. Terlihat sebuah pondok mungil berdiri tepat di sebelah aliran sungai yang membentuk jurang. Joolu memberikan isyarat kepada Rooi untuk berhenti di dekat pondok tersebut. Rooi yang memiliki kepekaan tinggi mengerti maksud tuannya itu. Ia segera mengurangi kecepatan dan mendarat tepat beberapa meter didepan pondok tersebut. Joolu dan Keni turun dari punggung Rooi, mereka berjalan dengan hati-hati untuk mendekati pondok mungil dihadapannya sedang Rooi hanya terdiam ditempat dia mendarat dan membaringkan tubuhnya. Rooi tak terlihat waspada sedikitpun, seolah-olah dia sudah sering ke tempat ini. Joolu membuka pintu pondok perlahan, tidak ada siapapun terlihat di dalamnya kecuali sebuah meja dan kursi yang sudah sangat tua. Joolu pun melangkah untuk memasuki ruangan lainnya disusul oleh Keni, namun tetap saja tidak ada siapa pun didalamnya. Namun ruangan ini jauh lebih besar dari pada ruangan pertama. Di ruangan ini terlihat sebuah tempat tidur dan perabotan-perabotan

tua serta dihiasi ornamen-ornamen yang sudah sangat tua. Keni terlihat mengamati dengan seksama beberapa ornamen. Setelah puas mengamati ruangan itu, merekapun berjalan kembali ke ruangan pertama. Namun betapa terkejutnya mereka melihat sesosok pria tua dengan rambut dan janggut panjang berwarna putih dengan tatapan lembut penuh kasih sayang. "Akhirnya kalian datang juga.., Ujar pria tua itu membuyarkan lamunan Joolu dan Keni. Hum.. maaf kami telah mengganggu dan masuk ke pondokmu tanpa ijin tapi kami kesini ingin mencari Ou Slang Magie. Dia memberitahuku bahwa rumahnya ada disekitar sini, apakah kau mengetahuinya kakek?", Potong Joolu sigap. "akulah Magie., Jawab kakek itu singkat. Joolu seolah tak percaya, yang ada dibenaknya Magie adalah seekor ular raksasa seukuran pohon kelapa yang sangat mengerikan. Keni yang tak tahu apa-apa bingung dengan sikap Joolu yang tampak sedang berpikir. Dengan polos dia memegang bahu Joolu dan lalu bertanya, "Ada apa Joolu? ". "Kau tak percaya Joolu? Sudah kuduga kau akan terkejut. Sebenarnya aku telah terkena kutukan., Potong kakek tua itu. Joolu masih terdiam, kakek tua itupun lanjut berbicara. Baiklah, sebenarnya ini ada hubungannya dengan legenda suku pompoolo. Kau pasti sudah tahu semua legenda itu, tak perlu ku ceritakan lagi. Namun tahukah kau ada banyak rahasia dan beberapa kebohongan membubuhi dongeng tua tersebut?", lanjut kakek tua itu. Apa maksudmu wahai kakek tua?", sergah Joolu tiba-tiba berbicara. Baiklah, sepertinya kau ingin tahu lebih lanjut. Dan sepertinya kau juga sudah membawa satu orang dari klan pelindung penyihir, klan Aroora., lanjut kakek tua itu. Keni terkejut mendengar nama klannya di sebut, tapi yang sebenarnya membuat ia terkejut adalah bahwa klannya adalah klan pelindung penyihir. Siapa kau sebenarnya kakek tua?", ujar Keni. Tampangnya yang polos berubah seketika. Tampangnya kini terlihat serius dan sedikit menakutkan. Kakek tua itu menarik napas panjang dan terdiam sejenak. "Jangan teburu-buru anak muda, biarkan aku menceritakan hal lain terlebih dahulu., jawab kakek tua itu. Kalian pasti sudah tahu bahwa suku Pompoloo dahulu didirikan oleh empat klan yang bersatu, klan-klan itu adalah klan dwerg, klan

menslike, klan aroora dan terakhir tentu saja klan pompoloo. Tapi tentu kalian tak mengetahui bahwa keempat klan ini berasal dari dunia yang berbeda, klan dwerg adalah klan yang berasal dari dunia kurcaci yang selalu melayani peri, klan menslike adalah klan yang berasal dari dunia manusia normal, klan aroora adalah klan yang berasal dari dunia peri yang merupakan peri pelindung penyihir dan klan pompoolo adalah klan yang berasal dari dunia penyihir. Keempat klan ini didirikan oleh mereka yang ingin meninggalkan dunia sihir seutuhnya dan tak ingin tersentuh oleh sihir. Tentu saja kalian juga mendengar bahwa nenek moyang kalian dahulunya bisa terbang? Tapi tentu saja kalian tak mengetahui sama sekali bahwa klan yang bisa terbang hanyalah klan aroora, dwerg, dan tentunya klan pompoloo. Mereka bisa terbang karena mereka berasal dari dunia sihir. Awalnya ketiga klan ini masih menggunakan kemampuan mereka untuk terbang, namun pada akhirnya mereka sepakat untuk tidak menggunakan kemampuan ini dan tidak menurunkannya pada generasi penerusnya. Hal ini mereka lakukan karena mereka benar-benar ingin meninggalkan dunia sihir., ujar kakek tua itu panjang lebar. Joolu masih terdiam dan Keni masih tampak serius. Hari sudah mulai malam, sebaiknya kita hentikan pelajaran sejarah ini. Besok aku akan melanjutkannya, sekarang kalian sebaiknya membersihkan diri dan beristirahat di kamar yang telah ku sediakan., lanjut kakek tua. Joolu dan Keni tampak bingung akan maksud dari kakek tua itu, setahu mereka dipondok itu hanya ada dua ruangan. Kakek tua itu tampak mengerti kebingungan kedua anak muda tersebut, dengan senyum simpul sang kakek menunjuk kesalah satu sudut di ruangan itu. Joolu dan Keni mengarahkan pandangan kearah jari kakek itu menunjuk, tampak sebuah lubang berbentuk segi empat muncul disana. Masuklah kesana., perintah kakek itu. Joolu dan Keni berdiri dan berjalan perlahan mendekati lubang berbentuk persegi empat tersebut. Telihat jejeran anak tangga yang tersusun rapi membentuk spiral. Merekapun menuruni anak tangga tersebut satu demi satu dengan hati-hati. Setelah sampai di ujung anak tangga, mereka melihat sebuah ruangan yang sangat besar dan mewah. Tampak banyak sekali pintu di tepi-tepi ruangan yang ternyata ruangan itu adalah sebuah lorong. Joolu, ini sangat menakjubkan. Aku tak

mengira akan menemukan tempat yang seperti ini di dunia ini., Ujar Keni kepada Joolu dengan tampang polosnya. Ya, aku juga sama sepertimu. Mungkinkah ini semua jebakan?", sambut Joolu. Ini bukanlah jebakan, tapi ini adalah sebuah bukti bahwa sihir itu ada. Aku yang menciptakannya menggunakan sihir. kalian tak perlu banyak bertanya saat ini, karena semua pertanyaan kalian akan ku jawab besok. Sebaiknya kalian memilih salah satu kamar yang ada disini. Dan kalian bisa membersihkan diri disana karena disetiap kamar memiliki kamar mandi sendiri., potong kakek tua yang tiba-tiba sudah ada dibelakang mereka. Joolu dan Keni terperangah dengan kehadiran kakek tersebut yang tiba-tiba ada dibelakang mereka. Apakah kita bisa mempercayainya?", gumam Keni dengan tampang sedikit di buatbuat dan menimbulkan kesan imut. Ya.. saat ini mau tak mau kita harus mempercayainya., sambut Joolu dengan tampang cuek seolah menjawab gumaman Keni. Joolu segera memilih sebuah kamar, lalu diikuti Keni yang mengambil kamar tepat disebelah kamar Joolu. Sang kakek tua tersenyum simpul, lalu menghilang entah kemana meninggalkan segumpalan asap putih tipis.

VII TAKDIR

Terlihat tiga orang tengah duduk di sebuah meja makan yang terletak di tengah ruangan yang megah. Sosok-sosok itu terdiri atas dua orang anak muda yang satunya lagi adalah sosok orang dewasa yang sudah sangat tua. Ketiga sosok ini adalah Joolu, Keni, dan tentu saja sang kakek tua Magie. Mereka telihat sedang menyantap makanan berupa buah-buahan yang di masak menggunakan berbagai bahan sehingga terlihat buah-buahan tersebut tertutupi oleh pasta berwarna merah. Suasana tampak sedkikit kaku, Joolu dan Keni terlihat sedikit waspada sementara Magie terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Kakek tua, apakah kau benar-benar Magie? , ujar Joolu membuka percakapan dengan nada serius. Ya, tentu aku Magie. Kalau kau tak percaya Joolu, aku akan memperlihatkan buktinya nanti. Dan jika ada pertanyaan lain, lebih baik nanti saja setelah sarapan., jawab Magie seolah bisa menerka pikiran kedua bocah suku Pompoloo tersebut. Keduanya hanya terdiam sesaat, lalu melanjutkan makan mereka. Memang sulit menghadapi kenyataan bahwa kakek tua itu adalah Magie, karena sepengetahuan Joolu Magie adalah seekor ular raksasa yang bisa berbicara. Tapi jika ini semua berkaitan dengan sihir, tentu semua menjadi mungkin. Semua telah selesai menyantap sarapan mereka. Kini mereka telah berada diruangan lain yang lebih luas. Diruangan ini terdapat banyak sekali buku, dan hampir kesuluruhannya adalah buku-buku mengenai sihir. Mereka duduk melingkar diatas sebuah karpet. Baiklah, sesuai janjiku kemarin, aku akan melanjutkan semua cerita yang seharusnya aku sampaikan. Untuk membuktikan bahwa aku Magie, itu akan aku lakukan nantinya., kata Magie membuka percakapan. Baiklah, seperti yang aku katakan kemarin, suku Pompoloo terdiri dari empat klan yang masingmasing klan berasal dari dunia yang berbeda. Sepertinya aku tak perlu menjelaskannya lebih lanjut. Baiklah, aku akan memulainya dari rahasia suku Pompoloo yang sudah sangat tua. Rahasia ini tentang ketua suku pertama dari suku

Pompoloo. Seperti yang kalian ketahui, kepala suku pertama suku Pompoloo bernama Alexander Pompoolo. Sama sepertimu Joolu, dia berasal dari klan Pompoloo. Dengan kata lain, dia adalah nenek moyang mu. Suatu hari, tepatnya seribu tahun yang lalu. Dia mengetahui adanya niatan buruk dari keturunannya. Dia berusaha menggagalkan usaha keturunannya tersebut, lebih tepatnya adalah anaknya yang bernama Ramones. Namun malang bagi Alexander, dia malah dijebak dan akhirnya diasingkan dan dikutuk menjadi seekor ular. Dengan tubuhnya yang sudah mulai tua, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya bukannya dia tak bisa melakukan apa-apa pada saat itu, hanya saja energi sihirnya sudah habis terkuras untuk menggagalkan niat buruk anaknya tersebut. Alexanderpun hanya bisa pasrah pada saat itu. Namun, Alexander tidak menyerah sampai disitu. Selama hampir lima puluh tahun dia terus mencari cara untuk mengembalikan tubuhnya kewujud semula. Ia terlunta-lunta kesana kemari tanpa tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Hingga suatu hari, dia menemukan sebuah kuil tua yang ternyata didalamnya terdapat sekumpulan energi sihir yang sangat kuat. Ia melihat penemuannya ini sebagai suatu hal yang bisa dijadikan sebuah jalan keluar. Setelah ia berhasil menemukan cara menggunakan energi tersebut, ia akhirnya dapat kembali kewujudnya semula sebagai manusia. Namun, dia masih dapat merubah wujudnya menjadi seekor ular. Selain hal tersebut, ada hal menakjubkan lain yang terjadi pada dirinya. Yaitu,, dia akan hidup abadi., lanjut Magie panjang lebar. Berarti kau..., ujar Joolu terpotong.Ya, aku adalah nenek moyangmu., ujar Magie seolah mengerti apa yang hendak Joolu katakan. Joolu hanya terdiam, dia tak tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Sementara Keni terlihat lebih bingung dari Joolu. Wajah bingungnya sungguh menggemaskan, Keni memang anak yang ekspresif. Aku mengubah namaku setelah kembali kewujud manusia. Tapi, bukan itu hal yang sebenarnya ingin ku beri tahu. Ada hal lain yang lebih penting., lanjut Magie. Hum, , apakah itu Magie? Eh, maksudku Alexander., tanya Keni. Kalian saat ini panggil aku Magie saja. Aku sudah lama membuang nama Alexander itu. Baiklah, aku akan memberi tahu kalian apa yang aku ketahui. Pada saat aku

memasuki kuil itu, aku menemukan sebuah ramalan yang menyatakan akan terjadi sebuah bencana yang disebabkan oleh para penyihir jahat. Dan menurut ramalan, itu akan terjadi pada tahun ketika naga merah tak ada yang tersisa kecuali seekor naga merah kecil. Itu berarti bencana itu akan segera datang sekarang. Naga merah milikmu adalah naga merah terakhir. Aku menemukannya 34 tahun yang lalu dalam keadaanya masih berbentuk telur dan menetas seminggu kemudian. Aku sama sekali tak menyangka bahwa naga yang ada di dalam telur itu adalah seekor naga merah kecil. Awalnya aku mengira ramalan itu akan segera terjadi 20 tahun sebelumnya, karena pada saat itu hanya ada satu naga merah. Namun umur naga tersebut sudah mencapai 450 tahun. Pada saat naga merah itu mati dalam pertempuran, aku mulai meragukan ramalan itu. Tapi ternyata secara tak sengaja aku menemukan telur seperti yang ku ceritakan sebelumnya., terang Magie. Joolu dan Keni terlihat sangat serius mendengarkan apa yang dikatakan Magie. Pernyataan Magie tersebut seolah menjawab rasa penasaran mereka terhadap sikap Rooi yang tenang sewaktu datang ke tempat itu. Tapi, ada satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah bencana itu terjadi. Yaitu ada seorang penyihir terpilih yang lahir ketika rasi bintang orion muncul dengan salah satu bintang yang bernama Saiph bersinar lebih terang dari bintang lainnya yang membentuk rasi bintang orion ini. Penyihir ini ditemani oleh seorang pelindung penyihir yang pada kelahirannya juga terdapat pada saat rasi bintang orion muncul, namun yang bersinar lebih terang adalah bintang Bellatrix. Karena bintang Bellatrix merupakan bintang para pejuang wanita, maka pelindung penyihir itu adalah perempuan. Dan kalian berdua adalah orang yang terpilih tersebut., lanjut Magie. Tapi Magie, bukankah aku ini hanya manusia biasa? Lagian ada banyak kelahiran pada saat yang sama di seluruh belahan dunia. Kenapa kau begitu yakin bahwa kami adalah orang yang terpilih tersebut? , sergah Joolu. Magie tampak diam sejenak, sikap tenang dan tatapannya yang menimbulkan aura lembut tak berubah sedikit pun. Kau memang belum bisa menggunakan sihir sekarang, tapi kau adalah keturunanku. Itu berarti kau pada dasarnya adalah seorang penyihir juga sama

sepertiku. Aku akan mengajarimu agar kau bisa menjadi penyihir yang sangat hebat nantinya. Kalau alasan aku begitu yakin, ada beberapa hal yang membuat aku begitu yakin. Yang pertama adalah kau kemari bersama Keni yang merupakan klan pelindung penyihir yang lahir pada saat bintang Bellatrix bersinar terang pada rasi Orion. Selain itu, kau bertemu dengan naga merah terakhir yang di dalam ramalan dinyatakan bahwa sang penyihir terpilih akan ditemani oleh naga merah tersebut. Dan kau memiliki semuanya, semua syarat yang ditunjukan oleh ramalan itu. Ini semua bukanlah suatu kebetulan, inilah yang disebut dengan takdir., Jawab Magie. Joolu tampak berpikir, sedang Keni masih sedikit tidak paham tentang apa yang di jelaskan oleh Magie. Tapi, apakah aku bisa terbang ketika aku berhasil menguasai sihir? Dan apakah itu akan memakan waktu yang lama? Karena aku hanya mempunyai batas waktu sampai aku berumur 17 tahun., Ujar Joolu. Ya, tentu saja. Itu hanyalah hal mudah bagi seorang penyihir. Kalau masalah waktu, itu semua tergantung padamu Joolu., jawab Magie. Joolu tampak diam, wajahnya menggambarkan raut serius. Dia merasa bahagia misinya akan segera berakhir, tapi dia tahu bahwa masih ada satu misi yang harus dia lakukan. Misi itu adalah misi menyelamatkan dunia dari sebuah bencana. Kalau begitu, segera ajari aku sihir Magie., Ujar Joolu. Ya, tentu saja. Tapi bukan hari ini, aku akan mulai mengajarimu besok. Sekarang aku ingin kau merenungkan jalan yang akan kau pilih. Apakah kau akan menerima takdir ini, atau kau akan meninggalkannya dan membiarkan dunia masuk ke dalam bencana besar., jawab Magie. Joolu masih terlihat berpikir, sedang Keni masih berusaha memahami cerita Magie tadi. Yah.. baiklah, aku akan pergi untuk sesuatu hal yang penting. Kuharap kalian bisa memilih, semua ada di tangan kalian., ujar Magie seraya berdiri dari duduknya. Selang beberapa saat magie telah menghilang dengan menyisakan asap putih tipis seperti kemarin. Keni mendekati Joolu, Apakah yang dia katakan itu benar Joolu? , tanya Keni. Aku tak tahu, tapi kita benar-benar harus mempercayainya saat ini., jawab Joolu.

VIII SIHIR

Hari telah berlalu, kini tiba saat yang dijanjikan oleh Magie untuk mengajarkan sihir kepada Joolu. Joolu dan Keni berdiri berhadapan dengan Magie di sebuah ruangan yang berbeda dengan ruangan yang pernah mereka masuki sebelumnya, wajah mereka merautkan keseriusan dan kebulatan tekad mereka. Baiklah, sebelum aku mengajarkan sihir kepada kalian aku akan memenuhi salah satu janjiku yang lainnya., ujar Magie. Joolu dan Keni tampak bingung akan apa yang dikatakan oleh Magie tentang sebuah janji. Selain itu mereka juga bingung maksud dari Mengajarkan sihir kepada kalian.. Setahu mereka yang akan di ajari sihir hanyalah Joolu yang merupakan keturunan penyihir. Terlihat tibia-tiba muncul asap putih menyelubungi tubuh Magie. Joolu dan Keni hanya terperangah melihat asap putih tersebut. Asap putih tersebut semakin lama semakin banyak, dan dalam waktu singkat telah memenuhi seluruh ruangan. Walaupun asap putih memenuhi ruangan, mereka sama sekali tak merasakan sesak. Perlahan asap putih tersebut hilang, dan samar-samar terlihat sosok yang dikenali oleh Joolu. Sosok itu adalah sosok seekor ular raksasa yang menemui Joolu beberapa waktu yang lalu. Jika tidak karena ruangannya sangat besar, tentu mereka akan berdesak-desakan dengan ular tersebut karena sosok ular itu sangatlah besar. Joolu termangu, sedang Keni tampak terkejut. Joolu!! Ular itu telah memakan Magie!! Ular itu telah memakan Magie!!, teriak Keni spontan. Joolu segera sadar dari lamunannya. Tidak Keni, dialah Magie., ujar Joolu. Keni tampak terdiam mendengar ucapan Joolu, sedang Joolu kembali berbaur dengan pemikirannya. Seperti yang telah aku katakan, aku akan membuktikan bahwa aku adalah Magie. Sekarang Kau tentu percaya., Ujar ular itu. Oh, , ternyata kau Magie? Huft, aku kira tadi kau adalah ular yang jahat., ujar Keni dengan tampang yang polos. Joolu masih terdiam, dia terpaku dengan pemikirannya. Namun, raut wajahnya jelas menunjukan bahwa dia mulai percaya. Selang beberapa saat, asap putih muncul kembali. Sama seperti tadi, hanya saja kali ini berbeda. Jika tadi asap putih muncul kemudian membesar dan memenuhi ruangan, sekarang asap putih langsung memenuhi ruangan dan secara perlahan menyusut dan mulai hilang. Dari kepulan

asap putih yang tersisa terlihat sosok tua Magie. Joolu kini mengerti apa yang dimaksud Magie dengan janji, tapi ia masih tak mengerti dengan maksud Magie mengajarkan Keni untuk menggunakan sihir. Bukankah hanya Joolu yang merupakan keturunan penyihir, berarti hanya dialah yang bisa menggunakan sihir. Baiklah, aku sudah memenuhi janjiku. Sekarang aku akan mengajarkan kepada kalian bagaimana cara menggunakan sihir. Kau pasti bingung Joolu, kau pasti berpikir aku hanya akan mengajarimu cara menggunakan sihir. Tapi kurasa itu adalah hal yang wajar, karena kau masih muda sehingga kau berpikir terlalu pendek. Tapi kau tentu ingat apa yang aku katakan ketika kita bertemu pertama kali., ujar Magie membuyarkan lamunan Joolu. Keni adalah klan pelindung penyihir. Sama seperti klan Pompoloo, klan Aroora juga berasal dari dunia sihir sehingga mereka juga bisa untuk menggunakan sihir. Hanya saja cara mereka menggunakan sihir berbeda dengan kita. Karena itu, aku akan mengajarinya dengan cara yang berbeda. Untuk itu ku rasa Keni harus meninggalkan ruangan ini dan kembali kekamarnya untuk menunggu aku mengajarinya sebentar lagi., lanjut Magie. Joolu masih terdiam, kini semua pertanyaan di benaknya telah terjawab. Magie seolah-olah bisa membaca pikiran Joolu. Apa? Aku harus meninggalkan Joolu?, Ujar Keni dengan tampang polosnya yang terlihat begitu imut. Magie tak menjawab pertanyaan Keni, Ia hanya melayangkan tatapan lembut seperti biasanya. Keni lalu mengarahkan pandangan kearah Joolu, namun Joolu hanya diam dengan raut wajah yang serius. Baiklah, aku akan pergi., gerutu Keni kemudian berjalan keluar dengan tampang sedikit kesal. Tapi tetap saja tampangnya masih terlihat imut. Setelah Keni keluar ruangan, kini hanya tinggal Joolu dan Magie. Sebelum aku mengajarimu secara langsung aku akan menerangkan sedikit tentang sihir., ucap Magie membuka pelajaran sihir untuk Joolu. Joolu masih terdiam dengan ekspresi serius, hanya saja kali ini ia sedikit lebih santai dibandingkan dengan yang sebelumnya. Setiap manusia sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi penyihir. Bukan hanya manusia, kurcaci, peri, dan juga semua makhluk hidup mempunyai potensi untuk memiliki sihir. Pada dasarnya, didalam tubuh makhluk hidup terdapat

energi sihir. Energi sihir ini pada awalnya hanya terbagi atas empat jenis, yaitu energi sihir api, air, tanah, dan udara. Namun seiring berjalannya waktu, energi sihir ini mulai berkembang. Seperti energi sihir air, bisa menjadi energi sihir es, dan energi sihir api menjadi energi sihir petir. Namun, energi sihir air menjadi es masih digolongkan dengan energi sihir air, sedangkan energi sihir petir digolongkan berbeda dengan energi sihir api. Hal ini dikarenakan untuk menciptakan es, dibutuhkan air. Sedangkan untuk menciptakan energi sihir petir, tak memerlukan energi sihir api. Sehingga sekarang ada lima energi sihir. Sebelum memulai menggunakan energi sihir tersebut, seorang penyihir harus mengetahui energi mana yang lebih menonjol didalam dirinya., terang Magie panjang lebar. Bagaimana caranya agar aku bisa mengetahui energi sihir mana yang paling menonjol didalam diriku? , tanya Joolu. Kau harus menemukannya sendiri. Tapi untuk itu aku akan memberitahumu sedikit. Kau harus memusatkan perhatianmu kearah bagian tubuh didekat hati, karena disanalah sumber energi sihir. Rasakan energi tersebut dan biarkan energi itu mengalir keseluruh tubuh mu. Kau boleh melakukannya sekarang, aku akan mengamatimu beberapa jam sebelum aku mengajari Keni., jawab Magie. Joolu segera duduk dan mengambil posisi bersila, ia memusatkan pikirannya kearah bagian tubuh yang disebutkan oleh Magie tadi dan mencoba merasakan apa yang disebut Magie dengan energi sihir. Joolu terus memusat pikirannya, sementara Magie terus mengamati. Dua jam telah berlalu semenjak Joolu memulai latihannya, tapi tak ada tanda-tanda bahwa akan berhasil. Hm.. sepertinya memang membutuhkan waktu yang cukup lama.., gumam Magie. Selang beberapa saat, tampak secara perlahan muncul sesuatu disekeliling Joolu. Itu ternyata adalah energi sihir. Tampak energi itu bergerak dan semakin lama semakin besar. Tampak api yang berkobar yang bergerakgerak kesana kemari dikarenakan energi udara yang sama besar. Magie tampak tenang, wajahnya menunjukan bahwa ia mengerti sesuatu. Cukup Joolu, kau sudah menyelesaikan tahap pertamamu., ujar Magie. Joolu segera membuka kedua matanya, ia menatap kearah Magie. Ia tak mengerti sama sekali dengan apa yang

dimaksudkan Magie. Energi sihirmu adalah energi sihir yang sangat langka. Tapi yang mebuatku terkejut bukanlah karena energi sihirmu, tapi karena kau bisa mengeluarkannya hanya dalam jangka waktu beberapa jam. Padahal biasanya membutuhkan waktu paling cepat tiga hari untuk mengeluarkannya. Kau benar-benar berbakat., Lanjut Magie. Tapi aku belum mengetahui energi sihir ku Magie.. apa maksudmu? , ujar Joolu seraya bertanya. Haha, kau tak perlu lagi mengetahuinya, energi sihirmu telah keluar. Padahal biasanya seorang penyihir harus mengetahui terlebih dahulu jenis energi sihir mereka yang menonjol. Tapi kau benar-benar orang yang terpilih., sambut Magie. Tapi apa energi sihirku Magie? Apakah energi sihir petir? Tanya Joolu masih tidak mengerti. Energi sihirmu ada dua yang menonjol, yang pertama adalah energi sihir api dan yang kedua adalah energi sihir udara. Dengan begitu kau bisa terbang dengan sangat mudah, karena sihir yang digunakan untuk terbang adalah sihir udara. Baiklah, latihanmu hari ini cukup sampai disini. Aku akan mengajarkan Keni sekarang., ujar Magie seraya pergi meninggalkan ruangan latihan. Joolu masih bingung, terlalu banyak yang tidak dia mengerti akan apa yang dikatakan oleh Magie. Sosok Magie telah hilang, Joolu segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan untuk menuju kekamarnya.

IX RAHASIA LAIN

Seseorang tampak tengah termenung di depan sebuah gubuk kecil di tengah perkampungan suku Pompoloo. Dia terlihat tengah memikirkan sesuatu yang sangat membuatnya risau. Dia termenung sehingga tak menyadari seseorang telah berada didekatnya. Apa yang kau risaukan Aleoo? Apakah kau memikirkan anakmu?, ujar seseorang membuyarkan lamunan Aleoo, ayah Joolu. Ah,, iya, aku mengkhawatirkannya. Aku rasa dia tak akan menyelesaikannya., Jawab Aleoo. Hm.. memang sepertinya hal itu mustahil untuk dilakukan, tapi dia pasti bisa melakukannya., ujar seseorang tadi. Apa maksud anda kepala suku?, tanya Aleeo kepada seseorang tadi yang ternyata adalah kepala suku Pumpoloo. Sebenarnya ada banyak rahasia suku Pompoloo yang hanya boleh diketahui oleh kepala suku., jawab kepala suku. Rahasia?? Apa maksud anda?, potong Aleoo tampak semakin bingung. Ya,, Salah satunya adalah tentang sebuah ramalan kuno suku Pompoloo. Ramalan itu menyebutkan bahwa seorang anak yang lahir pada saat rasi orion muncul dengan bintang Saiph sebagai bintang yang paling terang di antara bintang lain yang membentuk rasi bintang tersebut akan menyelamatkan dunia dari bencana besar yang akan menimpa dunia. Joolu adalah anak itu., terang kepala suku panjang lebar. Tapi apa hubungannya dengan misi yang dijalani Joolu? , Sergah Aleoo. Ramalan itu menyebutkan bahwa anak tersebut akan melakukan misi yang terlihat mustahil bagi suku Pompoloo. Misi itu sebenarnya adalah misi yang akan membukakan jalan baginya untuk membuka ilmu dan kekuatan yang telah lama dibuang oleh suku Pompoloo, dan dia akan membawa ilmu dan kekuatan tersebut kembali ke suku ini untuk menghancurkan bencana yang disebabkan oleh dewa neraka., ujar kepala suku panjang lebar. Bukankah dewa neraka telah disegel disebuah kuil? Dan kuil itu tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya kecuali kepala suku kedua suku Pompoloo? , ujar Aleoo. Ya, dia memang telah disegel oleh Ramones sang kepala suku kedua. Tapi dia itu makhluk abadi, berkali-kali dia disegel namun dia bisa bangkit kembali. Dan sebentar lagi adalah saat kebangkitan yang berikutnya. Pada waktu Ramones menyegelnya dia baru saja dibangkitkan, Sehingga kekuatannya

sangat lemah, dan Ramones bisa menyegelnya kembali. Tapi kau tentu tak tahu siapa yang telah membangkitkan dewa neraka saat itu,, dia adalah Alexander, ayah Ramones sekaligus kepala suku pertama suku Pompoloo., jawab kepala suku. Aleoo tampak mulai mengerti, dia sedikit terkejut mendengar perkataan kepala suku. Tapi dia menjadi sedikit tenang, berdasarkan perkataan kepala suku tadi berarti Joolu akan mendapatkan ilmu yang akan membuatnya bisa terbang dan menyelesaikan misinya. Kau tadi mengatakan sesuatu tentang ilmu dan kekuatan yang dibuang suku Pompoloo, apakah ilmu dan kekuatan yang kau maksud itu kepala suku?, tanya Aleoo. Baiklah, ilmu dan kekuatan itu adalah sihir. Kau pasti tahu bahwa suku kita ini terdiri dari empat klan, yaitu klan dwerg, klan menslike, klan aroora dan tentu saja klan pompoloo. Tapi sebenarnya apakah kau tahu dari mana asal keempat klan tersebut? Tentu tidak, karena rahasia ini tak diberitahukan sedikitpun. Tiga dari empat klan tersebut berasal dari dunia sihir, yaitu klan aroora, klan dwerg, dan klan pompoloo. Tapi mereka berasal dari ras yang berbeda pula, klan dwerg berasal dari ras para kurcaci yang selalu melayani peri, klan aroora adalan ras para peri pelindung yang biasanya bertugas melindungi para penyihir, dan klan pompoloo adalah ras para penyihir. Ketiga klan ini punya kemampuan untuk menggunakan sihir, karena itulah mereka semua bisa terbang. Sedang klan menslike adalah klan yang berasal dari ras para kesatria di dunia manusia. Kau tahu kenapa aku memberitahukan tentang semua ini kepadamu?, ujar kepala suku. Aleoo tampak terdiam yang menandakan dia tak tahu. Itu karena kau adalah kepala suku selanjutnya., sambung kepala suku.Apa?, ujar Aleoo terkejut dengan pernyataan kepala suku. Ini karena hanya kaulah satu-satunya orang yang memenuhi persyaratan untuk menjadi kepala suku. Sebentar lagi waktuku tiba, aku akan segera pergi dari dunia ini, dan kaulah penggantiku., ujar kepala suku. Tapi aku tak tahu apa-apa, bagaimana caranya aku menjadi kepala suku? , tanya Aleoo. Belajarlah sendiri, semua ada di perpustakaan khusus kepala suku., jawab kepala suku. Aleoo tampak ingin menanyakan hal lain, namun tiba-tiba terlihat sosok kepala suku menimbulkan cahaya yang semakin lama semakin terang dan menyilaukan mata. Secara perlahan

cahaya itu semakin redup dan akhirnya menghilang. Kini tak terlihat lagi sosok kepala suku yang tadi berdiri tepat didepan Aleoo. Aleoo tampak mengerti bahwa yang datang kehadapannya adalah roh kepala suku, yang berarti kepala suku telah meninggal. Aleeo segera berlari ke arah gubuk yang dijadikan ruangan kepala suku Pompoloo. Dia segera masuk kedalam gubuk tersebut, dan terlihat kepala suku tengah duduk diatas kursi dengan keadaan tubuh tegap dan kedua tangannya menopang tubuhnya. Aleoo memeriksa denyut nadi kepala suku, dan ternyata tak ada sama sekali denyut nadi yang terasa. Aleoo segera mengumpulkan seluruh penduduk suku Pompoloo dengan cara memukul sebuah gong tua di sebelah gubuk kepala suku. Tak lama berselang, semua penduduk suku Pompoloo termasuk para tetua suku sudah berkumpul. Aleoo segera berdiri di tengah altar yang berada tak jauh dari gubuk tersebut. Wahai penduduk suku Pompoloo, hari ini.. Kepala suku kita yang bijaksana telah pergi, beliau adalah kepala suku yang baik dan selalu mengerti kondisi kita. Beliau pergi dengan keadaan baik, dan beliau telah menunjukku sebagai penggantinya sebelum kepergiannya. Ku harap aku bisa menjadi pengganti yang setara dengannya, karena aku sadar bahwa aku masih jauh dari siap untuk menggantikannya. Karena itu aku mohon bimbingan dan kerjasamanya dari kalian semua. Sekarang, lebih baik kita adakan upacara pemakaman untuk beliau., ujar Aleoo. Setelah mendengar perkataan Aleoo, para tetua suku yang tampak mengerti dengan keadaan ini segera masuk kedalam ruangan kepala suku untuk mempersiapkan jasad kepala suku agar dapat mengadakan upacara pemakaman. Sebagian besar penduduk masih bingung dengan maksud perkataan Aleoo tadi, namun beberapa saat mereka menyadarinya dan segera mencari bahan dan peralatan untuk mempersiapkan upacara pemakaman kepala suku.

X ALEOO POMPOLOO

Para tetua suku tengah mengadakan sebuah pertemuan khusus membahas tentang mangkatnya kepala suku. Upacara pemakaman telah dilaksanakan beberapa

hari lalu, dan kini tiba saatnya bagi mereka untuk membahas tentang pengganti kepala suku. Sebagian besar tetua suku tidak menyetujui Aleoo menjadi kepala suku berikutnya, karena menurut mereka Aleoo adalah orang yang tak mengerti sama sekali tentang menjadi seorang kepala suku. Mereka berniat menjadikan salah seorang dari mereka untuk menjadi kepala suku. Pemikiran mereka memang benar adanya, karena para tetua suku merupakan orang-orang yang sudah terbiasa membantu kepala suku melakukan tugasnya. Tapi mereka lupa akan satu hal, kepala suku yang baik bukanlah orang yang tahu segala hal melainkan orang yang bisa berpikir dan mengambil keputusan secara bijak. Aleoo adalah orang yang hidup dalam kesederhanaan, dan penuh rasa pengertian. Dia tak pernah mengambil keputusan berdasarkan perasaannya, itu terbukti ketika ia memberikan ijin kepada Joolu walaupun misinya terlihat tidak mungkin. Padahal jika dia mengutamakan perasaannya, ia pasti tidak akan mengijinkan Joolu untuk mengambil misi tersebut dan memaksanya untuk mencari misi lain. Para tetua suku sekalian, saya rasa anda semua tahu bahwa Aleoo merupakan seseorang yang tak tahu sama sekali tentang tugas kepala suku. Saya rasa anda sekalian akan lebih tenang jika salah seorang dari kita yang mengetahui tugas kepala suku dengan baik untuk menggantikannya., ujar salah seorang tetua suku. Hampir seluruh tetua suku terlihat setuju dengan apa yang dikatakan oleh teman mereka. Tapi, ada seseorang yang terlihat tidak setuju. Dia beranggapan, kepala suku sebelumnya adalah orang yang bijaksana dan tentu dia mengambil keputusan yang bukan hanya sekedar keputusan yang asal-asalan. Tapi dia tak berani berbicara saat ini, ia harus menemukan cara yang tepat agar yang ia sampaikan tidak membuat tetua suku yang lainnya merasa kesal dan memusuhinya. Baiklah, sepertinya anda semua setuju dengan pendapatku. Untuk memilih kepala suku selanjutnya, bagaimana jika kita melakukan pemilihan., sambung tetua suku tadi. Sekali lagi, hampir semua terlihat setuju kecuali satu orang. Orang itu bernama Stevan Menslike. Kali ini dia terlihat mengangkat tangannya, tetua suku yang menjadi pemimpin pertemuan itu mempersilahkan kepada Stevan untuk berbicara. Stevan pun berdiri dari kursinya dan

berbicara, Para tetua suku sekalian, saya rasa apa yang dikatakan oleh tetua Rimeraa tadi adalah sesuatu yang benar. Seorang kepala suku adalah orang yang mengetahui tugasnya secara pasti.., ujar Stevan membuka percakapan. Rimeraa tampak tersenyum, ia merasa Stevan akan mendukung argumen-argumennya tadi. Tapi, bukankah hal itu bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Aleoo adalah orang yang bijaksana dan cerdas. Saya rasa kepala suku sebelumnya sudah memperhitungkan dengan teliti apa yang menjadi keputusannya. Dan pasti kepala suku Aberaa menunjuk Aleoo sebagai penggantinya bukanlah sebagai keputusan yang sembarangan. Beliau adalah orang yang bijaksana dalam mengambil keputusan, dan kita semua setuju akan hal itu. Lalu kenapa kita harus meragukan keputusannya sekarang?, lanjut Stevan. Rimeraa tampak sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Stevan. Ia lalu segera berdiri dan berbicara, Maaf tetua Stevan, siapa disini yang bisa menjamin bahwa Aleoo tidak berbohong mengenai hal itu? Dia bisa saja hanya mengarang cerita agar dirinya dapat menjadi kepala suku., sergah Rimeraa. Salah seorang tetua suku lain tampak berdiri, dia adalah Ausie. Aku yang akan menjamin hal itu., ujar tetua Ausie. Semua tetua suku lain tampak terdiam, termasuk Stevan dan Rimeraa. Sebenarnya, suamiku yaitu Aberaa sudah mengatakannya kepadaku beberapa hari lalu bahwa dia akan segera pergi. Dia mengatakan padaku bahwa ia telah memilih penggantinya, dan orang itu adalah Aleoo. Aku bertanya akan alasannya memilih Aleoo sebagai kepala suku, namun ia menyatakan bahwa kita akan mengetahuinya nanti., lanjut Ausie. Semua tampak terkejut mendengar pengakuan Ausie. Tapi terlihat bahwa Rimeraa tidak senang akan apa yang dikatakan Ausie. Sebenarnya Rimeraa melakukan semua itu agar dirinya ditunjuk sebagai kepala suku berikutnya. Namun dengan keadaan ini, tentu pupuslah harapan Rimeraa. Para tetua suku mulai percaya dengan apa yang diceritakan oleh Aleoo. Baiklah, sudah diputuskan. Kepala suku selanjutnya adalah Aleoo. Dan kita sebagai tetua suku harus membimbingnya dalam melaksanakan tugasnya., ujar tetua suku yang bertugas menjadi pemimpin

pertemuan. Semua tetua suku menerima keputusan ini, tentu saja kecuali Rimeraa. Ia terlihat kesal dengan keputusan itu. Gong berbunyi, semua penduduk tampak berkumpul. Segera salah seorang tetua suku naik keatas altar. Baiklah, dari hasil pertemuan para tetua suku.. Didapatkan keputusan bahwa kepala suku selanjutnya yang akan menggantikan kepala suku Aberaa Aroora adalah Aleoo Pompoloo. Untuk itu, maka kami persilahkan kepada kepala suku Aleoo untuk memberikan beberapa kata sebagai wejangan kepada kita semua., ujar tetua suku tersebut lalu turun dari Altar. Aleoo keluar dari kerumunan penduduk suku Pompoloo, semua mata terarah kepadanya. Dia menaiki tangga altar satu persatu dan kini ia telah berada di atas altar tersebut. Aku, bukanlah orang yang bisa banyak berkata-kata. Tapi aku adalah orang yang ditunjuk oleh kepala suku untuk mengantikannya. Aku masih banyak sekali kekurangan, oleh karena itu aku hanya ingin bantuan semua anggota suku Pompoloo untuk membimbingku dan mengingatkanku jika aku melakukan kesalahan. Baiklah, mungkin hanya itu yang ingin kusampaikan., Aleoo kemudian turun dari altar dan berdiri tepat di sebelah Stevan Menslike dan Rimera Dwerg. Aku tahu kau adalah orang yang tepat Aleoo. Aku akan selalu mendukungmu., Ujar Stevan. Aleoo tampak tersenyum simpul, sedangkan Rimeraa menunjukan tampang kurang senang karena kegagalannya menjadi kepala suku. Aleoo sebenarnya tidak memiliki niat sedikitpun untuk menjadi kepala suku, tapi sebagai penghormatannya kepada Aberaa ia menerima jabatan tersebut. Hal lain yang membuatnya menerima keputusan Aberaa adalah karena ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang rahasia suku Pompoloo. Ia ingin mengetahui apakah yang dikatakan Aberaa itu benar atau hanya karangannya saja. Untuk membuktikan itu ia harus memasuki perpustakaan khusus kepala suku, karena disanalah disimpan berbagai dokumen-dokumen kuno. Dan karena perpustakaan itu sangat rahasia, hanya kepala sukulah yang bisa masuk dan keluar dari tempat itu. Dengan begitu tak ada pilihan lain bagi Aleoo selain menjadi kepala suku untuk menemukan kebenaran.

Semua penduduk suku Pompoloo sudah pulang ke rumah masing-masing. Aleoo segera berjalan menuju ke arah ruangan kepala suku. Setelah berada diruangan tersebut, ia tak melihat sama sekali adanya tanda-tanda adanya perpustakaan. Ia mencari kesekeliling ruangan, siapa tahu ada tuas yang membuka sebuah pintu rahasia. Ketika dia sedang mencari, tiba-tiba masuk sesosok bayangan yang ternyata adalah Ausie. Apa yang sedang kau cari Aleoo? , tanya Ausie dengan nada tenang. Hm.. Aku mencari pintu masuk ke perpustakaan khusus kepala suku. Apakah kau tahu dimana letaknya?, jawab Aleoo sembari bertanya. Hm.. kau benar-benar orang yang tepat untuk menggantikannya. Kau tahu kau tak tahu apa-apa tentang cara memimpin sehingga kau ingin belajar di perpustakaan itu., jawab Ausie. Ausie sama sekali tidak mengetahui bahwa Aleoo hanya ingin mencari beberapa informasi tentang rahasia suku Pompoloo. Baiklah, perpustakaan itu tidak ada disini. Tapi berada didalam kuil khusus kepala suku Pompoloo. Didalam kuil itu ada sebuah ruangan yang dikelilingi oleh sejumlah energi aneh yang kasat mata. Energi itu hanya bisa dilewati oleh kepala suku. Tapi bukan hanya energi pelindung itu yang ada disana, melainkan di luar kuil ada dua golem batu yang akan bergerak ketika ada hawa kehidupan didekatnya. Termasuk ketua suku itu sendiri. Aku tak tahu bagaimana cara Aberaa menghadapi golem-golem tersebut, dan kau harus mencari tahu itu sendiri., lanjut Ausie. Terima kasih Ausie.. kalau begitu, aku akan segera kesana., ujar Aleoo. Ausie memberikan sebuah senyuman, Aleoo membalas senyuman itu lalu pergi meninggalkan Ausie di ruangan kepala suku. XI KUIL

Terlihat sebuah bangunan tua berdiri dengan kokohnya. Bangunan tua itu adalah kuil khusus kepala suku. Di kuil tua itu tersimpan berbagai rahasia suku Pompoloo, dan tempat itulah yang hendak dituju oleh Aleoo. Dari kejauhan tampak dua buah Golem batu berada di kedua sisi pintu masuk. Golem batu sebenarnya hanyalah sebuah patung, namun pada proses pembuatannya di masukan sejumlah energi sihir yang berasal dari pembuatnya. Golem batu tersebut dibuat sewaktu sihir masih lazim digunakan di suku Pompoloo. Karena sihir telah menjadi rahasia suku Pompoloo, maka tak ada seorangpun dari suku Pompoloo yang mengetahui hal ini kecuali kepala suku. Aleoo berjalan menuju pintu masuk, namun beberapa meter sebelum pintu masuk, tiba-tiba kedua golem tersebut bergerak dan menyerang Aleoo secara bersamaan. Kontan saja Aleoo melompat kebelakang untuk menghindari serangan Golem tersebut. Kedua Golem itu menyerang Aleoo sekali lagi, kekuatan serangan mereka sangat kuat sehingga udara yang berada di sekitar golem tersebut bergerak sangat kencang. Kini Aleoo tak lagi hanya menghindar, ia meloncat kearah golem yang terlihat menggunakan gada sebagai senjatanya. Aleoo kemudian mendaratkan tendangan ke arah dada golem tersebut, tendangannya terlihat sangat kuat. Sang golem terjatuh ke belakang, bagian dadanya tampak pecah. Namun, tampak terlihat sebuah cahaya keluar dari dada golem yang pecah itu. Dalam waktu singkat, dada golem ini kembali utuh. Aleoo tampak terkejut dan terdiam. Namun tiba-tiba datang sebuah serangan dari sebelah kanan. Golem yang terlihat menggunakan kapak telah mengayunkan kapaknya ke arah Aleoo. Secara refleks Aleoo menunduk lalu mengarahkan tinjunya ke kaki golem tersebut, kaki golem itu patah dan golem tersebut jatuh ke arah Aleoo. Aleoo langsung menghindar dengan melompat kearah kiri. Baru saja ia melompat, sebuah serangan lain telah melayang kearahnya. Kali ini golem yang tadi dadanya hancur yang menyerang Aleoo. Golem tersebut mengarahkan gadanya dengan kekuatan yang sangat besar seperti sebelumnya. Karena Aleoo sedang berada dalam keadaan tak menginjak tanah, ia tak bisa

menghindari serangan kali ini. Gada sang golem tepat mengenai tubuh Aleoo, dan kontan Aleoo terpental sangat jauh dan membentur pohon yang berada di sekitar kuil itu. Jika orang lain yang terkena pukulan tersebut, tentu orang itu tak akan selamat. Tapi Aleoo lain, dia adalah petarung yang sangat kuat. Dia bahkan hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan misi pembuktiannya. Aleoo segera bangkit, terlihat kedua golem tersebut berjalan kearah tempat awal mereka berada. Setelah berada di tempat awal mereka, mereka berbalik dan kembali menjadi patung. Aleoo yang masih mengatur nafasnya tampak mengerti sesuatu. Jadi begitu.., gumam Aleoo. Kini ia telah dapat mengatur nafasnya dengan baik. Ia berjalan kembali kearah pintu masuk. Seperti tadi, beberapa meter sebelum pintu masuk kedua golem itu menyerang Aleoo. Kali ini Aleoo menghindar dan menerobos serangan kedua golem batu itu. Setelah berhasil menerobos, Aleoo langsung berlari sekuat tenaga ke arah pintu masuk dan masuk kedalam kuil. Kedua golem itu awalnya mengejar Aleoo, namun karena pergerakan dan kecepatan mereka jauh dibawah Aleoo kini jaraknya sudah cukup jauh. Aleoo terus berlari, setelah dirasa cukup iapun berhenti. Ternyata dugaanku benar, mereka hanya bisa merasakan hawa kehidupan dalam jarak tertentu., gumam Aleoo. Ternyata ia tadi telah mengamati dan dapat mengetahui bahwa kedua golem itu memiliki keterbatasan jarak untuk merasakan hawa kehidupan. Aleoo memang sungguh orang yang cerdas dan bijak, dan tentu inilah yang menyebabkan kepala suku Aberaa menunjuknya sebagai pengganti. Aleoo kini telah berada di dalam kuil, tampak banyak sekali patung yang menghiasi setiap sudut kuil. Tentu saja patung-patung itu hanyalah patung biasa, tak seperti kedua golem didepan tadi. Terlihat didalam kuil terdapat tiga ruangan, Aleoo tak tahu yang mana di antara ketiga ruangan itu yang merupakan ruangan perpustakaan. Ia segera masuk kedalam sebuah ruangan yang berada di sebelah kiri. Di ruangan itu tak terlihat adanya tanda-tanda perpustakaan. Ruangan itu terlihat seperti sebuah gudang penyimpanan. Terlihat berbagai bentuk benda ada didalam ruangan tersebut, benda-benda itu tentu saja bukanlah benda sembarangan. Aleoo

segera keluar dari ruangan tersebut dan masuk ke ruangan yang berada ditengah. Di ruangan ini terlihat kosong, hanya ada sebuah karpet dan sebuah batu yang berbentuk gepeng di sebrang ruangan. Aleoo kembali berjalan keluar ruangan itu, kini ia memasuki ruangan terakhir. Ketika memasuki ruangan, Aleoo terlihat sedikit terkejut. Ruangan ketiga ini ternyata bukanlah sebuah ruangan. Ruangan ini merupakan sebuah lorong yang disetiap sisinya ada sebuah pintu untuk masuk ke ruangan lain. Aleoo bingung karena disebelah kiri ruangan ini adalah ruangan kosong tadi, sedangkan disebelah kanan adalah hutan. Apakah kedua pintu ini merupakan pintu ke arah ruangan tengah dan pintu keluar?, itulah yang ada dipikiran Aleoo. Aleoo berjalan menghampiri pintu tersebut. Kini ia tengah berdiri diantara dua pintu itu, ia lalu menghadap kepintu yang ada disebelah kanan. Perlahan ia membuka pintu itu, dibalik pintu tersebut terlihat ruangan yang sangat gelap. Tapi tiba-tiba muncul sejumlah cahaya. Aleoo sedikit terkejut, tapi kemudian ia melihat beberapa rak yang dipenuhi buku-buku yang sudah sangat tua. Ia terlihat senang, akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Ia segera menghampiri salah satu rak dan langsung mengambil salah satu buku yang terlihat paling tua di rak itu. Ternyata buku itu adalah buku yang menceritakan tentang Kepala suku dan semua rahasia tentang kepala suku. Ia membacanya dengan seksama dan ia tampak mengerti sesuatu. Ternyata begitu.., gumam Aleoo. Ya, dia baru saja membaca halaman tentang kuil khusus kepala suku. Dibuku itu tertulis tentang golem yang ada di pintu masuk. Mereka bisa bergerak ketika merasakan hawa kehidupan dalam jarak yang pendek yaitu dalam jarak lima meter. Tapi mereka hanya bisa merasakan hawa kehidupan dari deru nafas. Sehingga kepala suku yang akan masuk kedalam kuil ini harus menahan nafasnya agar golemgolem itu tidak menyerangnya. Dibuku itu juga tertulis bahwa kedua pintu yang ditemukan oleh Aleoo tadi sebenarnya adalah pintu dimensi yang diciptakan dengan sihir. Selain ketua suku, tidak ada yang bisa masuk kedalam pintu itu yang sama-sama mengarah ke

perpustakaan khusus ini. Dan kalaupun ada yang berhasil melewati golem dan memaksa untuk membuka pintu itu dengan menghancurkannya, mereka hanya akan menemukan dinding. Aleoo tampak kagum dengan apa yang dibacanya. Ia kemudian menutup buku itu dan mengambil buku lainnya. Ia terlihat serius dengan bukunya itu dan terbenam dengan keseriusannya.

XII LATIHAN KEDUA

Joolu tengah membaca sebuah buku tentang dasar menjadi penyihir yang diberikan oleh Magie. Ia tampak bingung dengan buku itu, karena ia sama sekali tak mengerti cara membaca buku tersebut. Di buku tersebut terdapat banyak sekali simbol aneh yang tidak ia mengerti. Bahasanyapun bukan bahasa yang ia mengerti. Ketika Joolu sedang sibuk mencoba memahami buku itu, Magie datang menghampiri Joolu. Bagaimana Joolu? Bisakah kau mengerti isi buku itu? , tanya Magie membuat Joolu sedikit terkejut. Hm.. aku sama sekali tidak mengerti Magie. Bahasanya pun tak ada yang aku mengerti., jawab Joolu. Ah, tentu saja. Aku lupa mengubah bahasanya sehingga bahasa yang ada disana adalah bahasa latin. Baiklah, aku pinjam dulu buku itu sebentar., ujar Magie. Joolu menyerahkan buku yang dibacanya itu kepada Magie. Magie mengambil buku itu kemudian membuka bagian sampulnya. Magie terlihat memusatkan pikirannya dan tiba-tiba muncul api di bagian tengah halaman awal buku itu. Joolu terkejut, dalam sekejap api telah menghanguskan buku itu tak bersisa. Terlihat senyuman kecil di wajah Magie, Sepertinya aku salah mantra... Joolu terlihat sedikit kecewa, ia memandang Magie dan terlihat raut wajah Magie masih tetap tenang dan lembut seperti biasanya. Baiklah, aku rasa buku itu adalah buku terakhir yang di jual. Maafkan aku Joolu, karena ini akibat kecerobohanku, aku akan memberitahumu isi buku itu., ujar Magie yang sebenarnya sengaja membakar buku itu untuk menarik rasa ingin tahu Joolu akan isinya. Sinar mata Joolu kembali muncul, ia kembali bersemangat. Lalu apa yang sebenarnya dibahas dalam buku itu Magie?, ujar Joolu. Buku itu berisi tentang bagaimana menjadi penyihir pemula. Didunia sihir, penyihir terbagi atas lima tingkatan. Yaitu penyihir bintang satu, bintang dua, bintang tiga, bintang empat, dan terakhir adalah bintang lima. Penyihir bintang lima adalah penyihir yang tingkatannya paling rendah. Mereka hanya bisa menggunakan sihir untuk keperluan sehari-hari. Penyihir tipe ini biasanya dibantu oleh tongkat sihir dan simbol-simbol untuk mengeluarkan energi sihir mereka. Penyihir bintang empat adalah penyihir yang memiliki kemampuan satu tingkat diatas penyihir bintang lima. Para penyihir pada tingkatan ini sudah bisa untuk menggunakan sihir sebagai senjata dalam pertarungan

dan tak lagi memerlukan simbol-simbol, namun mereka masih membutuhkan bantuan tongkat sihir untuk menyeimbangkan energi yang mereka keluarkan. Lalu ada penyihir bintang tiga yang mempunyai kemampuan sama dengan penyihir tingkat empat. Hanya saja penyihir bintang tiga tidak harus mengucapkan sebuah mantera dengan suara keras seperti penyihir bintang empat dan bintang lima. Selanjutnya adalah penyihir bintang dua yang tak memerlukan lagi adanya tongkat sihir. Mereka cukup merapalkan sejumlah mantra tanpa perlu mengucapkannya dan menggunakan tangannya untuk mengalirkan energi tersebut. Lalu yang terakhir adalah penyihir bintang satu. Penyihir dengan tingkatan bintang satu ini hanya ada tujuh orang. Mereka ini adalah para penyihir yang bisa menyeimbangkan kelima energi sihir didalam diri mereka. Kekuatan tempur mereka sangat mengerikan, dan ada seorang yang terkuat diantara mereka. Orang itu adalah Mariana Joseph. Dia adalah seorang penyihir wanita yang kejam dan menakutkan., Jawab Magie. Joolu tampak serius mendengar perkataan Magie. Tatapannya menunjukan bahwa ia mengerti semua yang dikatakan oleh Magie. Nah, buku itu menceritakan tentang bagaimana menjadi penyihir tingkatan bintang lima. Kau pasti sudah mengamati simbol-simbol yang ada didalam buku itu. Simbol-simbol itu merupakan simbol yang digunakan oleh para penyihir bintang lima. Karena bukunya sudah terbakar, maka aku akan menunjukanmu beberapa simbol. Simbol-simbol ini bisa kau kembangkan sendiri nantinya., lanjut Magie. Magie lalu berjalan keluar dan Joolu mengikutinya dari belakang. Setelah sampai diluar, Magie mengambil sebuah ranting dan membuat lambang lingkaran yang didalamnya terdapat sebuah bintang dengan lima sisi diatas tanah. nah, ini adalah lambang dasarnya. Setiap sisi dari bintang itu adalah kelima energi sihir, lingkaran itu adalah tubuh kita, dan bagian tengah bintang adalah pengendalian. Kau cukup mengambar ini, atau kau bisa menambahkan beberapa simbol lain kedalamnya. Setiap simbol lain yang kau tambahkan haruslah simbol yang ada maknanya dan kau mengetahui makna simbol tersebut., ujar Magie seraya menggambarkan lima simbol di setiap sudut bintang. Simbol pertama berbentuk api,

simbol kedua berbentuk pusaran angin, simbol ketiga berbentuk batu raksasa, simbol ke empat berbentuk ombak, dan yang terakhir berbentuk aliran petir. Nah, setelah selesai kau bisa menuliskan mantra di setiap sisi antara dua lambang. Lalu kau tinggal mengucapkan mantra itu. Untuk mantra, kau tak perlu menghapal mantra-mantra tersebut. Kau hanya harus menciptakan mantramu sendiri., jelas Magie. Tapi bagaimana caranya Magie?, tanya Joolu. Magie tersenyum simpul, lalu menuliskan sejumlah mantra di setiap sisi antara dua lambang. Magie lalu meletakkan sebuah gentong berisi air di atas lambang tersebut, lalu ia mengeluarkan sebuah tongkat. Magie mengayunkan tongkat tersebut sembari mengucapkan mantra. Viates Flies!!, ujar Magie seraya menghentakan tongkatnya. Tampak sebuah sinar berwarna ungu keluar dari ujung tongkat sihir Magie, sinar ini menuju gentong air yang berada di atas lambang pentagram yang telah dibubuhi oleh simbol dan mantra. Tampak simbol pusaran angin, lingkaran, gambar bintang, dan tulisan mantra mengeluarkan sinar berwarna hijau, sedang simbol yang lain tidak mengeluarkan cahaya. Perlahan-lahan gentong air yang berada diatas simbol itu melayang di udara. Joolu tampak terkejut, ia yang selama ini masih ragu terhadap sihir sekarang menjadi yakin dan percaya sepenuh hati. Magie menggerak-gerakkan tongkatnya, dan gentong itu pun mengikuti arah yang di tunjukan oleh tongkat Magie. Setelah dirasa cukup, magie kemudian menurunkan gentong yang berisi air tesebut dengan jarak semeter dari tempat semula. Magie lalu berjalan kearah pentagram tadi, lalu menghapus tulisan-tulisan mantra. Ia lalu menggambar dua buah sayap di setiap sisi diantara dua simbol. Lalu ia kembali meletakkan gentong berisi air diatas pentagram tersebut. Magie mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra yang berbeda dari yang sebelumnya. Querto pueroo!!, ujar Magie seraya menghentakan tongkat sihirnya. Sinar ungu kembali muncul mengarah kearah gentong yang berisi air. Gentong itu kembali melayang, semua simbol yang dibuat Magie bercahaya kecuali simbol api, tanah, ombak, dan aliran petir. Magie lalu memindahkan gentong itu dengan jarak yang sama dengan yang sebelumnya.

Joolu tampak heran, awalnya ia mengira akan terjadi sesuatu yang berbeda. Tapi ternyata semuanya sama. Magie melihat ke arah Joolu dan mengerti bahwa Joolu dalam keadaan heran dan tidak mengerti. Dengan sikap tenang dia menghampiri Joolu yang dari tadi memang di suruh untuk mengamati dari tempat yang cukup jauh. Kau lihat tadi Joolu? Simbol dan mantra sebenarnya bukanlah hal yang kaku. Kau boleh membuat simbol apa saja yang akan kau anggap sebagai simbol terbang atau melayang. Lalu kau bisa menyebutkan mantra apa saja yang kau suka. Yang terpenting adalah gambaran apa yang akan terjadi didalam benakmu dan juga keyakinanmu terhadap sihir itu sendiri., ujar Magie seolah menjawab kebingungan Joolu. Joolu sebenarnya masih sedikit tidak paham dengan penjelasan Magie tadi, namun ia menganggukan kepalanya seolah ia telah mengerti. Kalau begitu, sekarang giliranmu untuk mencoba Joolu. Kau membutuhkan tongkat sihir, kau bisa mendapatkannya di dalam tas ajaib klan Pompoloo. Kau pasti membawanya bukan? Cepat ambil tongkat sihirmu., perintah Magie kepada Joolu. Joolu lalu masuk kedalam gubuk dan berjalan menuju kamarnya. Setelah mendapatkan tas ajaib, ia segera memasukan tangannya ke dalam tas tersebut. Setelah ia merasakan sesuatu berada ditangannya, ia segera mengeluarkan tangannya dari tas ajaib. Tampak sebuah tongkat sihir berwarna ungu gelap dengan ukiran yang sungguh indah telah berada di tangan Joolu. Ia lalu kembali berjalan keluar gubuk menemui Magie. Bagaimana kau mengetahui akan adanya tas ajaib itu Magie?, tanya Joolu. Aku adalah nenek moyangmu. Kau lupa itu? Akulah yang mewariskan tas itu kepada klan Pompoloo., jawab Magie. Joolu tampak mengerti dia lalu terdiam sesaat. Magie, dimana Keni? Kenapa ia tak ada dikamarnya?, ujar Joolu.Keni sedang belajar sihir sama sepertimu., jawab Magie. Kenapa kami tak belajar secara bersama-sama?, sergah Joolu. Itu karena kau dan dia punya cara yang berbeda dalam menggunakan sihir. Akupun tak bisa mengajarinya, karena caranya memang berbeda. Aku membawanya ke tempat salah seorang temanku. Dia adalah seorang peri pelindung terhebat saat ini. Namanya adalah Edward The Elf. Kau tak perlu mencemaskannya, Edward adalah

orang yang baik. Lebih baik sekarang kau mencoba untuk melakukan apa yang kulakukan tadi., Jawab Magie tenang. Joolu terlihat sedikit tenang. Ia lalu menghapus gambar dua buah sayap tadi. Kemudian ia segera membuat gambar lain yang bentuknya sama sekali tidak jelas. Magie merasa bingung, ia sama sekali tak tahu gambar apa itu. Gambar apa itu Jolu?, tanya Magie. hum.. aku sebenarnya ingin menggambar sayap sepertimu. Tapi sepertinya aku tak terlalu mahir dalam menggambar., Jawab Joolu. Keduanya terdiam, lalu kemudian mereka tertawa. Setelah puas tertawa, Joolu memindahkan gentong berisi air ke atas pentagram. Setelah itu ia mengambil posisi dan mengayunkan tongkatnya. Melayang!!, ujarnya. Tiba-tiba sinar ungu keluar dari pangkal tongkat yang dipegang Joolu. Joolupun terpental dan tongkatnya terlepas dari pegangannya. Magie menghampiri Joolu yang terjatuh dan membantunya berdiri. Joolu pun berdiri dan segera berjalan untuk mengambil tongkatnya. Kau tahu apa kesalahanmu?, tanya Magie. Ya, aku lupa menghentakan tongkatku., jawab Joolu. Baguslah, kau memang anak yang cerdas., sambut Magie. Joolu kembali mengambil posisi, lalu ia mengayunkan tongkatnya sekali lagi. Melayang!!, ujarnya sembari menghentakan tongkatnya. Sinar berwarna ungu keluar, kali ini keluar dari ujung tongkat. Hanya saja, sinar itu tak tepat mengenai gentong berisi air tersebut. Melayang!! ujar Joolu sekali lagi sambil menghentakan tongkatnya. Kali ini sinar ungu mengenai gentong berisi air tersebut. Simbol-simbol dan pentagram bersinar kecuali tentu saja simbol kobaran api, simbol ombak, simbol batu, dan simbol aliran petir. Gentong itu lalu melayang perlahan, namun hanya sesaat dan lalu terjatuh lagi. Joolu merasa heran, ia lalu menatap kearah Magie. Magie membalas tatapannya dengan lembut. Kau tahu kenapa bisa terjadi seperti itu?, tanya Magie. Joolu tampak terdiam dan menggeleng. Itu karena energi yang kau keluarkan terlalu kecil, selain itu kau tak bisa mempertahankan koneksi antara dirimu dengan energi sihir yang telah engkau lepaskan., sambung Magie. Joolu tampak sedikit mengerti, ia lalu mencobanya sekali lagi. Kali ini ia berhasil membuat gentongnya melayang

dan membuat gentong itu bergerak kearah yang ditunjukan oleh tongkatnya. Gentong itu lalu di turunkan dengan jarak sekitar tiga puluh centimeter dari tempat awalnya. Ini menandakan bahwa Joolu masih perlu melakukan latihan. Magie tampak tersenyum, ia lalu berjalan mendekati Joolu. Bagus Joolu. Kalau begitu kau hanya harus mengulang hal yang sama hingga kau mahir melakukannya. Oh iya, kau juga bisa menciptakan mantera lain yang berfungsi sesuai kehendakmu. Aku ada urusan, jadi setelah ini kau harus latihan seorang diri., ujar Magie. Joolu tampak mengerti, tapi ia hanya terdiam. Magie segera mengambil jarak dengan Joolu, lalu tiba tiba ia menghilang dan meninggalkan segumpalan asap putih seperti biasa.

XIII TERBANG

Joolu tengah menyantap sarapan paginya ketika tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Ia lalu menoleh kebelakang, dan betapa terkejutnya dia. Keni!! Kapan kau

datang? Bagaimana latihanmu?, ujar Joolu seraya berdiri. Keni tampak tersenyum, ia seperti tak menggubris perkataan Joolu tadi. Aku baru saja sampai. Kau terlihat semakin kuat Joolu., ujar Keni. Joolu hanya terdiam, tapi dari raut wajahnya jelas ia merasa sedikit malu. Ah,, aku masih belum terlalu berkembang. Bagimana denganmu?, jawab Joolu. Ya.. bisa dibilang aku sudah berkembang pesat. Aku sudah menguasai semua yang di ajarkan oleh Edward. Dia benar-benar orang yang hebat., ujar Keni ekspresif. Joolu hanya terdiam mengamati wajah Keni yang memang imut. Kenapa Joolu? Kau sakit?, ujar Keni membuyarkan lamunan Joolu. Ah, tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu. Oh iya, lebih baik aku melanjutkan makanku. Apakah kau sudah makan Keni?, Jawab Joolu. Keni kembali tersenyum. Belum, aku belum makan apapun pagi ini., ujar Keni. Joolu lalu mengayunkan tongkat sihirnya ke arah sebuah lemari, dan tampak sebuah piring yang berisi makanan melayang keatas meja makan tepat disebelah tempat ia duduk. Nah, makanlah. Setelah itu kita akan berbicara lebih lanjut., ujar Joolu kemudian. Joolu sekarang sudah mencapai bintang tiga. Ia tak perlu lagi mengucapkan sejumlah mantra untuk melakukan sihir. Wah, hebat Joolu!! Kau bisa membuat piring ini terbang., ujar Keni kemudian duduk. Joolu kemudian duduk dan menyantap kembali makanannya tanpa sepatah katapun. Keni pun langsung melahap makanan yang telah disediakan Joolu. Keni dan Joolu telah selesai sarapan, mereka kini telah berada diluar gubuk. Perlihatkan kepadaku apa yang sudah kau pelajari Keni., ujar Joolu membuka percakapan. Keni tersenyum, senyumnya sungguh menawan. Baiklah, aku akan memperlihatkan kepadamu sedikit tentang apa yang aku pelajari., ujar Keni. Keni lalu maju beberapa langkah, ia merentangkan tangan kirinya. Terlihat sejumlah energi sihir berwarna biru mengalir ditangan yang ia rentangkan, energi sihir itu membentuk sebuah busur. Ia lalu ia meletakkan tangan kanannya pada tali busur yang terbentuk dari energi sihir tersebut. Ketika tali busur sudah mencapai batas maksimalnya, terlihat sejumlah energi sihir lainnya membentuk sebuah anak panah.

Ia lalu mengarahkannya kearah hutan dan melepaskan anak panah yang terbuat dari energi sihirnya. Anak panah itu melesat dan menembus beberapa batang pohon, namun anak panah tersebut tidak berhenti. Anak panah itu terus melesat hingga hilang di telan kejauhan. Keni tampak tersenyum kearah Joolu dan berjalan menghampiri Joolu. Itu salah satu yang aku pelajari. Banyak hal lainnya yang aku dapatkan selama bersama Edward. Aku bisa membuat pedang dari energi sihir, atau benda lainnya yang sangat berguna dalam pertarungan., ujar Keni dengan senyum merekah. Sekarang giliranmu Joolu., sambung Keni. Joolu tersenyum, ia lalu maju beberapa langkah. Baiklah, aku hanya akan memperlihatkanmu sedikit trik yang aku pelajari sendiri., ujar Joolu. Kau pelajari sendiri? Bukankah kau di ajari oleh Magie?, sambut Keni heran. Dia hanya mengajariku dasarnya, kemudian dia pergi untuk sesuatu urusan dan aku terpaksa belajar sendiri., jawab Joolu. Sudah berapa lama Magie pergi Joolu?, tanya Keni sekali lagi. Joolu berbalik menghadap Keni, ia lalu tersenyum. Dia sudah pergi selama tiga bulan dan belum kembali sampai sekarang. Baiklah, sekarang kau harus diam. Karena aku akan melakukan sedikit atraksi untukmu., ujar Joolu seraya kembali membalikkan badannya. Joolu mengacungkan tongkatnya, perlahan tampak muncul sebuah bola udara kecil yang berputar cukup kencang. Selang beberapa saat tampak api muncul membentuk sebuah cincin yang melingkari bola udara tersebut. Jumlah cincin itu bertambah hingga tedapat empat cincin api. Indah!!, gumam Keni dengan suara keras. Joolu sedikit terkejut, dan bola udara beserta cincin apinya langsung lenyap. Joolu tersenyum, ia melihat kearah Keni yang tampak gembira. Itu hanya atraksi kecil Keni, aku akan memperlihatkan sesuatu yang lebih baik lagi dari itu., ujar Joolu seraya membalikan badannya sekali lagi. Ia lalu mengayunkan tongkatnya kearah dirinya sendiri. Joolu perlahan-lahan melayang, ia kini berada beberapa meter diatas tanah. Ia lalu menghadap kearah Keni. Tampak raut kagum diwajah gadis lugu tersebut. Bagaimana Keni? Kau terkejut? Apa kau juga ingin terbang?, ujar Joolu seraya menawari. Keni tersenyum lalu mengangguk. Joolu

mengarahkan tongkatnya kearah Keni, kemudian tubuh Keni juga ikut melayang. Keni yang baru sekali ini melakukan apa yang Joolu lakukan itu, terlihat kesulitan untuk menjaga keseimbangan. Waw.. kau hebat Joolu., gumam Keni. Joolu hanya tersenyum simpul, ia lalu malayangkan tubuhnya kearah Keni. Joolu mengulur tangannya kearah Keni, dan Keni menyambutnya. Joolu melayangkan tubuhnya kesana kemari bersama Keni, mereka terlihat seperti dua ekor burung yang sedang terbang. Tampak senyum menghiasi wajah Keni, Joolu ikut tersenyum melihat senyum Keni yang begitu imut. Setelah diarasa cukup, Joolu menurunkan tubuhnya beserta tubuh Keni. Kini mereka sudah memijak tanah, Joolu lalu melepaskan pegangannya. Kau benar-benar hebat Joolu., ucap Keni. Joolu terlihat sedikit tersipu mendengar ucapan Keni. Kalau begitu, kita akan kembali ke desa sekarang., lanjut Keni. Joolu terdiam, ia tak mengerti maksud dari ucapan Keni. Bukankah kita masih ada satu misi lagi?, ujar Joolu. Keni tersenyum lembut kearah Joolu. Kita hanya kembali sebentar untuk menunjukan bahwa misi kita sudah berhasil, lalu kita kembali lagi kesini untuk menyelesaikan misi kita yang lain., ujar Keni. Joolu tampak mengerti, ia lalu tersenyum. Baiklah, tunggu sebentar. Aku ingin mengambil tas ajaibku., ujar Joolu kemudian berjalan memasuki gubuk. Selang beberapa saat ia kembali lagi dengan menyandang tas ajaib. Ia lalu memanggil Rooi, tak lama berselang tampak dari kejauhan Rooi tengah terbang ke arah mereka. Rooi segera mendarat tepat didepan Joolu dan merendahkan tubuhnya, Joolu langsung naik ke atas punggung Rooi. Ayo naik., ujar Joolu kepada Keni. Bagaimana jika Magie kembali?, sergah Keni. Joolu tampak terdiam dan berpikir. Ia pasti akan mengerti dan menunggu kita., jawab Joolu. Keni tampak tersenyum lalu naik kepunggung Rooi. Rooi segera mengembangkan sayapnya dan terbang meninggalkan gubuk Magie.

XIV RUMAH

Rooi kini tengah terbang diatas hutan Sempoloo loloo, dari kejauhan sudah mulai tampak perkampungan suku Pompoloo. Joolu dan Keni tampak tersenyum, mereka senang karena sebentar lagi mereka akan kembali ke rumah mereka masing-

masing dan bertemu lagi dengan orang tua mereka. Setelah menemukan tempat yang kosong di perbatasan antara perkampungan dan hutan, Rooi segera mendarat. Joolu dan Keni langsung turun dari punggung Rooi. Baiklah Keni, aku harus pergi ketempat ayahku., ujar Joolu. Aku juga akan menemui kedua orang tuaku., sambut Keni. Mereka lalu berjalan masuk ke perkampungan suku Pompoloo. Tak ada perubahan yang terlihat di perkampungan itu selama mereka pergi. Setelah sampai di persimpangan, mereka lalu berpisah. Sampai berjumpa di upacara penyambutan ya Joolu., ujar Keni. Joolu lalu terdiam dan tersenyum. Ya.., balasnya singkat. Joolu segera berjalan menuju gubuk ayahnya. Ditengah perjalanan tampak seorang pria tua yang ia kenal menyapanya. Kau sudah kembali Joolu? Apakah misimu sudah berhasil? Atau kau ingin di usir?, ujar pria tua itu. Selama Joolu pergi, sebenarnya hampir semua penduduk suku Pompoloo menertawakan misinya itu. Joolu hanya tersenyum lalu ia berjalan melalui pria tua itu. Pria tua itu lalu tersenyum seolah menertawakan Joolu. Joolu tak menggubrisnya sama sekali, baginya itu hanyalah sesuatu yang tidak penting dan tidak ada artinya sedikitpun. Kini Joolu telah berada didepan gubuk ayahnya, atau bisa disebut rumahnya. Dia lalu berjalan masuk kedalam gubuk, tapi ternyata tidak ada seorangpun didalamnya. Ia merasa bingung dan berjalan keluar. Ayahnya tidak mungkin berada di ladang, karena sekarang bukanlah musim untuk bercocok tanam. Tampak seorang baru saja keluar dari gubuk didekat gubuk Joolu, orang itu adalah Selemian Menslike. Dia adalah seorang yang tinggi, dan postur tubuhnya tegap. Selemian,, , ujar Joolu memanggil Selemian. Selemian lalu menatap kearah Joolu, dan ia lalu berjalan menghampiri Joolu. Apakah kau tahu dimana ayahku?, ujar Joolu sekali lagi. Selemian lalu terdiam sejenak dan perlahan melemparkan senyuman ke arah Joolu. Ayahmu sudah tak tinggal disana lagi., jawab Selemian. Joolu terdiam, ia tak mengerti maksud dari apa yang dikatakan Selemian barusan. Lalu dimana ayahku sekarang tinggal?, tanya Joolu heran.

Ia kini tinggal di kediaman kepala suku., jawab Selemian singkat. Joolu terlihat semakin bingung, ia semakin tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Selemian. Ayahmu sudah menjadi kepala suku. Kepala suku Aberaa sudah mangkat, ia meninggal beberapa bulan yang lalu., lanjut Selemian seolah mengerti kebingungan Joolu. Joolu terdiam, ia tak lagi memikirkan ayahnya. Yang ia pikirkan sekarang adalah Keni. Aberaa adalah ayahnya Keni, Joolu tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Keni jika ia mengetahui ayahnya sudah meninggal. Ada apa Joolu?, ujar Selemian membuyarkan lamunan Joolu. Tanpa menghiraukan Selemian, ia lalu berlari menuju kediaman kepala suku. Yang ia tuju saat ini bukanlah ayahnya, melainkan Keni. Kediaman kepala suku letaknya cukup jauh dari gubuk Joolu. Ia harus terus berlari agar segera sampai ke tempat kediaman kepala suku. Terlihat segerombolan ibu-ibu suku Pompoloo sedang mengobrol di depan sebuah gubuk, mereka lalu melihat kearah Joolu sambil berbisik. Mereka membicarakan tentang Joolu, sesaat kemudian mereka pun tertawa terbahak-bahak. Joolu sama sekali tak memperdulikan semua itu, ia terus berlari menuju kediaman kepala suku. Setelah berlari cukup jauh, ia akhirnya berhasil sampai ke kediaman kepala suku. Ia lalu memperlambat langkahnya dan berjalan perlahan menuju pintu masuk. Belum sempat ia melangkahkan kaki untuk masuk, tiba-tiba terlihat seorang tetua menghampirinya. Kau mencari ayahmu Joolu?, ujar Stevan. Joolu hanya terdiam. Ia berada di ruangan paling ujung sebelah kiri., lanjut Stevan. Joolu lalu tersenyum lalu berjalan meninggalkan Stevan. Kediaman kepala suku memang besar, jika tidak diberitahu oleh Stevan, mungkin akan memakan waktu lama untuk menemukan ayahnya. Ia mengurungkan niatnya untuk mencari Keni, ia harus menemui ayahnya terlebih dahulu. Ia berpikir ayahnya pasti tahu dimana Keni. Joolu sudah sampai didepan pintu ruangan yang disebutkan oleh Stevan tadi. Ia lalu menarik nafas panjang dan membuka pintu tersebut secara perlahan. Setelah pintu terbuka terlihat ayahnya tengah berbicara dengan dua orang lain. Mereka ternyata adalah Ausie Aroora dan Keni Aroora. Joolu terdiam, ia memperhatikan

wajah Keni. Keni lalu tersenyum ke arah Joolu, tak terlihat kesedihan sedikitpun diwajahnya. Joolu lalu terlihat lega, apa yang ia khawatirkan ternyata tidak terjadi. Masuklah Joolu., ujar Aleoo membuyarkan lamunan Joolu. Joolu lalu berjalan memasuki ruang tersebut. Aku sudah mendengar semuanya dari Keni, kau sepertinya sudah menyelesaikan misimu. Kau benar-benar anak ajaib Joolu. Kau membuatku bangga., lanjut Aleeo dengan senyum merekah. Aleoo lalu memeluk anaknya sekuat tenaga. Joolu terlihat sesak nafas, ia berusaha melepas pelukan ayahnya, namun pelukan itu begitu kuat. Hum.. ayah.., ujar Joolu. Ya, ada apa anakku?, sambut Aleoo tidak sadar dengan keadaan anaknya. Aku sedikit sesak disini., lanjut Joolu. Ah maaf,, , ujar Aleoo kemudian melepaskan pelukannya. Joolu terlihat terengah-engah mencoba untuk bernafas. Ausie dan Keni tampak tersenyum. Lebih tepatnya mereka mencoba menahan tawa. Setelah cukup mengambil nafas, Joolu lalu berjalan mendekati Keni. Kau tidak apa-apa Keni?, ujar Joolu berbisik. Keni lalu melihat kearah Joolu, lalu melayangkan senyumnya yang manis. Aku baik-baik saja., jawab Keni juga sambil berbisik. Ada apa?, ujar Aleoo kearah dua anak muda itu. Mereka hanya menjawabnya dengan mengggelengkan kepala. Baiklah, kalian harus bersiap-siap untuk sebuah perayaan keberhasilan misi kalian., ujar Aleoo. Joolu hanya terdiam sedang Keni, ia tersenyum seperti biasa. Ah, aku lupa.. sepertinya kalian berdua saling menyukai satu sama lain. Bagaimana jika acara penyambutan digabung dengan acara pernikahan kalian?, lanjut Aleoo. Joolu dan Keni saling bertatapan. Wajah Joolu memerah, dan wajah Keni jauh lebih merah lagi. Haha, aku hanya menggoda kalian. Aku sebaiknya segera menyuruh para penduduk untuk mempersiapkan upacara nanti malam., lanjut Aleoo kemudian keluar ruangan disusul Ausie. Kini hanya tinggal Keni dan Joolu diruangan tersebut. Joolu tampak sedikit kikuk, ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Kau menanggapi ucapan ayahmu dengan serius?, ujar Keni. Ah, tidak., Ujar Joolu menutupi. Padahal aku berharap kau mejawab sebaliknya., gumam Keni sambil menggembungkan pipinya kemudian pergi

meninggalkan Joolu. Joolu terdiam, tapi ia terlihat bahagia dengan apa yang di katakan Keni.

XV UPACARA

Semua penduduk suku Pompoloo terlihat sudah berkumpul. Sebuah api unggun besar dan tarian-tarian khas suku Pompoloo yang diiringi taburan gendang terlihat menakjubkan. Para penduduk datang bukan dengan tujuan untuk menyaksikan keberhasilan Joolu, melainkan kebalikannya. Mereka yakin Joolu tidak

dapat memenuhi misinya yang aneh dan kekanak-kanakan. Haha, hari ini akan ada hiburan yang sangat mengasyikan., ujar salah seorang penduduk. Betul, aku pasti tak akan melupakan kejadian ini., sambut penduduk lainnya. Hiburan yang mereka maksud adalah kegagalan Joolu. Bagi mereka, menertawakan kegagalan orang lain merupakan hiburan yang sangat mengasyikan. Terlihat Aleoo berjalan diikuti oleh para tetua suku dan tentu saja Joolu dan Keni juga ikut. Aleoo lalu duduk disebuah kursi tinggi yang memang disediakan untuknya. Semua tarian yang dari tadi mengisi kekosongan dihentikan, keadaanpun menjadi hening. Keni dan Joolu lalu bersujud dihadapan Aleoo, lalu Aleoo mempersilahkan mereka berdua untuk berdiri. Baiklah, siapa diantara kalian yang akan maju lebih dulu untuk menunjukan bukti bahwa misi kalian sudah berhasil., ujar Aleoo kepada kedua anak muda didepannya. Keni maju selangkah kemudian berbicara, Aku kepala suku.. Baiklah, silahkan Keni., sambut Aleoo. Joolu lalu berjalan meninggalkan Keni dan berdiri di samping Aleoo, ayahnya. Keni lalu menghadap kearah api unggun dan membelakangi Aleoo. Ia lalu memanggil nama Rooi, Rooi!!. Tapi tak terlihat sesuatu terjadi. Ia lalu mengulanginya lagi dan lagi, tapi tetap saja tak terlihat apa-apa, para penduduk tampak bingung. Mereka mulai menganggap Keni gila seperti Joolu. Joolu yang melihat keadaan ini tak bisa hanya diam saja. Ia lalu menawarkan diri untuk membantu Keni. Aleoo tampak mempersilakan Joolu untuk membantu Keni. Joolu lalu menghampiri Keni dan berbisik. Keni, aku akan membantumu., ujar Joolu. Keni terdiam dan tersenyum, ia sadar bahwa Rooi hanya akan memenuhi panggilan Joolu. Rooi!!!, teriak Joolu. Para penduduk suku Pompoloo masih terdiam. Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan makhluk bersayap terbang dilangit malam dibelakang kursi Aleoo. Para penduduk lalu berteriak, mereka ketakutan. Joolu, Keni, dan Aleoo yang membelakangi sosok itu tak menyadari kehadirannya. Setelah mendengar teriakan penduduk, mereka lalu menghadap ke arah belakang. Joolu yang mengenal sosok itu lalu menenangkan semua penduduk. Tenang, makhluk itu tidak berbahaya, ialah misi Keni., ujar Joolu setengah

berteriak. Aleoo lalu merentangkan kedua tangannya dan semua penduduk lalu terdiam. Rooi segera mendarat tepat disebelah Joolu. Semua mata tertuju pada mereka. Tak ada seorangpun yang membayangkan akan kehadiran sesosok makhluk yang mereka kenal dengan naga. Rooi lalu mendekati Joolu lalu menjilat pipinya. Apa maksudnya ini? Bukankah misinya membawa jantung naga?, Ujar salah seorang tetua suku. Semua orang tampak terdiam dan menatap ke arah Aleoo. Aleoo tampak tenang, ia tampak sedikit berpikir. Ya, memang itulah misinya. Dan karena ia membawa seekor naga utuh, berarti ia telah membawa jantung naga tersebut bersamanya. Selain itu ia juga menjinakkannya. Itu berarti misinya jauh lebih berhasil dari tujuan awal. Dan juga, bukankah ia tak menyebutkan bahwa ia membawanya dengan cara membunuh naga?, jawab Aleoo. Semua orang terdiam, mereka sadar betapa bijaksananya pemimpin baru mereka. Baiklah Keni misimu selesai. Kau sudah di akui sebagai anggota suku Pompoloo pada usia sebelas tahun., lanjut Aleoo. Keni tersenyum, lalu berjalan kesamping Aleoo meninggalkan Rooi dan Joolu. Joolu kemudian memberikan isyarat kepada Rooi. Rooi mengerti maksud tuannya dan segera terbang meninggalkan Joolu. Baiklah Joolu, sekarang giliranmu., ujar Aleoo. Joolu segera

mengeluarkan tongkat sihirnya yang dari tadi ia selipkan dikaret celananya. Semua penduduk tampak serius menatap Joolu. Mereka bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Joolu dengan sebuah tongkat. Mereka beranggapan Joolu akan muncul dengan kostum menyerupai burung, dan saat itulah mereka berencana menertawakan Joolu. Joolu lalu menganggkat tongkatnya lalu menayunkannya kearahnya sendiri. Perlahan-lahan Joolu melayang, kemudian ia terbang kesana kemari. Semua orang mendesah, mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Setelah dirasa cukup, joolu kembali mendarat ditempat tadi ia berdiri. Semua orang terdiam, termasuk Aleoo. Aleoo sebenarnya sudah mendengar semuanya dari Keni, tapi melihatnya secara langsung benar-benar merupakan hal yang berbeda. Joolu kemudian bersujud dihadapan ayahnya. Aleoo segera tersadar, Baiklah Joolu, kau juga sudah

menyelesaikan misimu, sekarang kau juga telah di akui sebagai anggota suku Pompoloo di usiamu yang kesebelas.. Suasana masih hening, tak ada seorang pun yang bersuara. Yang terdengar hanyalah suara serangga dan hewan malam, serta suara rekahan kayu api unggun. Setelah menyelesaikan misi mereka, Joolu dan Keni lalu berdiri dihadapan Aleoo. Ayah, kami harus segera pergi., ujar Joolu. Pergi?, sambut Aleoo. Ya kami harus menyelesaikan misi kami yang lainnya., potong Keni. Tiba-tiba muncul asap putih, dari kepulan asap itu muncul sesosok pria tua berjanggut putih berjubah sama dengan warna janggutnya. Pria tua itu adalah Magie. Sepertinya kalian sudah menyelesaikan misi kalian., ujar Magie dengan senyum merekah. Semua orang tambah bingung dengan kehadiran Magie yang memang sedikit mencolok. Joolu dan Keni hanya terdiam. Baiklah ayah, kurasa kami harus segera pergi., ujar Joolu kemudian. Aleoo tampak mengerti dan mengangguk. Joolu lalu berhadapan dengan jarak beberapa langkah dengan Magie. Baiklah Magie kau duluan, kami akan menyusulmu bersama Rooi., ujar Joolu. Magie tampak tersenyum. Tatapannya terlihat lembut seperti biasa. Tak perlu, ia sekarang sudah berada di tempatku. Sekarang lebih baik kalian mendekat kepadaku., sambut Magie. Joolu dan Keni lalu berdiri disamping Magie. Tiba-tiba asap putih kembali muncul, dan sosok mereka bertiga lalu menghilang. Semuanya masih terdiam seperti tadi, mereka tak mengetahui apa-apa. Karena memang hanya Ausie dan Aleoolah yang mengetahui sedikit tentang Magie berdasarkan cerita Keni. Aleoo lalu berdiri, ia merentangkan kedua tangannya. Baiklah, mari kita lanjutkan kembali pesta ini., ujar Aleoo. Tabuhan gendang kembali terdengar, dan pesta pun berlanjut.

XVI ALEXANDER POMPOLOO

Pagi sudah menjelang, terlihat Keni baru bangun dari tidurnya. Ia melewati lorong dengan langkah sedikit gontai. Ketika tiba diruang makan, ia melihat Joolu dan Magie sedang berbicara. Ia lalu mengusap matanya dan langsung duduk

disebelah Joolu yang duduk berhadapan dengan Magie. Bagaimana tidurmu Keni?, tanya Joolu. Keni hanya melihat kearah Joolu dan meletakan kepalanya diatas kedua tangannya. Baiklah, sekarang kita akan membicarakan hal yang serius., ujar Magie. Joolu tampak menatap kearah Magie, sedang Keni masih dengan sikapnya yang tadi. Mungkin kalian sudah mendengar sedikit tentangku di kampung. Tapi aku ingin membetulkan cerita yang kalian dapat., lanjut Magie. Keni terlihat mengangkat kepalanya, ia teringat apa yang dikatakan oleh Aleoo tentang Alexander sebelum Joolu datang. Ya magie,, aku sudah mendapatkan ceritanya., potong Keni. Joolu bingung akan pembicaraan ini, dia sama sekali tak mendapatkan cerita apa-apa ketika berada dikampung suku Pompoloo. Apa yang kau dapat Keni?, tanya Joolu heran. Keni tersenyum kearah Joolu. Aku mendengar dari Aleoo ayahmu bahwa Alexander Pompoloo berusaha untuk membangkitkan dewa neraka. Apakah itu benar Magie?, jawab Keni seraya bertanya. Magie tampak terdiam sejenak. Sebenarnya bukan aku yang

membangkitkan Zot e Ferrot. Ramoneslah yang melakukannya. Aku berusaha mencegahnya, tapi kekuatannya hanya berada sedikit dibawahku, apa lagi dia didukung oleh Zot e Ferrot, aku tak bisa berbuat banyak. Ketika aku dalam keadaan terdesak, seseorang datang membantuku. Dia adalah dewa langit, Zeruaren Jainkoa. Zeruaren Jainkoa berhasil mengalahkan Zot e Ferrot, tapi Zot e Ferrot melarikan diri. Ketika Zeruaren Jainkoa mencoba mengejar, Ramones menghalanginya, dan ia berhasil menyegel Zeruaren Jainkoa didalam sebuah batu gepeng berwarna hitam. Aku yang saat itu sudah kehabisan energi sihir, tak bisa berbuat apa-apa. Ramones lalu mengubahku menjadi ular, dan itulah awal pengembaraanku. Aku terus berjalan dan seperti yang kalian ketahui, lima puluh tahun kemudian aku menemukan sebuah kuil, disana tersimpan energi yang sangat. Di kuil itu ternyata dulunya merupakan tempat orang-orang memuja dewa Apolo. Namun, kuil itu sudah ditinggalkan para pemuja Apolo ribuan tahun lamanya.Ketika itu aku sadar, bahwa aku bisa menggunakan energi ytang ada disana untuk menghilangkan kutukan Ramones. Tapi, energi itu sendiri tersegel dan aku tak tahu bagaimana cara membuka segel tersebut.

Aku terus mencoba membuka segel tersebut dengan berbagai cara selama beberapa tahun tahun, hingga suatu hari aku berhasil mendapatkan cara untuk membuka segel dan bisa menggunakan energi itu. Sekarang aku adalah salah satu dari penyihir terkuat di dunia sihir., terang Magie. Berarti musuh kita sekarang adalah Zot e Ferrot?, ujar Joolu mengerti. Ya, tapi musuh kita sekarang bukan hanya dia. Ramones memang telah meninggal sejak kejadian itu, tapi sekarang banyak penyihir memihak kepada Zot e Ferrot yang telah bangkit. Selain itu, ada beberapa penyihir dari tujuh penyihir bintang satu yang memihak kepadanya. Jadi kita harus berhati-hati., jawab Magie. Semuanya terdiam, Keni yang biasanya tidak terlalu serius kini terlihat mendengarkan penjelasan Magie dengan serius. Kenapa kita tak mencoba membangkitkan Zeruaren Jainkoa? Bukankah ia bisa mengalahkan Zot e Ferrot?, potong Keni. Magie tampak berpikir, tapi tampangnya masih terlihat tenang seperti biasa. Zeruaren Jainkoa memang waktu itu bisa mengalahkan Zot Eferrot, tapi saat itu Zot e Ferrot dalam keadan lemah karena baru dibangkitkan. Sekarang kekuatannya pasti sudah jauh lebih besar. Selain itu, Ramones menggunakan sihir kegelapan ketika menyegel Zeruaren Jainkoa. Aku sudah mencari informasi mengenai sihir yang dipakai Ramones, dan aku dapat mengetahui satu hal. Yang bisa menghilangkan segel itu adalah Zot e Ferrot., jawab Magie. Joolu tampak sedikit terkejut, ia berpikir tidak ada jalan yang bisa ditempuh untuk mengalahkan Zot e Ferrot. Sedang Keni hanya terdiam membisu. Tapi tenang, Zot e Ferrot bisa dimusnahkan. Dan orang yang bisa memusnahkan Zot e Ferrot adalah kau Joolu., lanjut Magie sambil menatap kearah Joolu. Tapi bagaimana mungkin aku yang baru mencapai bintang tiga bisa mengalahkan Zot e Ferrot?, sergah Joolu. Kau berhasil mencapai bintang tiga tanpa bantuanku dalam beberapa bulan, itu menunjukan bahwa kau istimewa. Biasanya dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menjadi bintang tiga. Tapi kau berbeda Joolu. Kau adalah utusan Apolo, setidaknya itulah yang aku temukan didalam kuil tua itu., ujar Magie. Joolu tampak terdiam, rasa percaya dirinya kembali muncul. Baiklah, lebih baik kalian sekarang makan kemudian mempersiapkan diri. Kita akan

mulai bergerak malam ini. Sekutu kita telah mengetahui dimana Zot e Ferrot berada., ujar Magie kemudian berdiri dan pergi. Joolu masih tampak terdiam. Keni memegang pundak Joolu dan tersenyum kearahnya. Kau pasti bisa Joolu, bukankah kau anak suku Pompoloo yang paling hebat, paling cerdas dan paling berani?, hibur Keni. Joolu hanya membalas pujian Keni dengan sebuah senyuman yang kecut. Joolu telah selesai menyantap semua sarapan paginya, dan kini ia berada di luar pondok untuk berlatih. Tampak bias-bias keringat membasahai wajahnya yang serius. Joolu sebenarnya masih merasa tidak yakin akan kemampuannya, terlebih lagi lawannya adalah Zot e Ferrot yang Mafie sendiri salah satu penyihir terhebat tidak sanggup melawannya. Hei, boleh aku ikut bergabung?, ujar Keni dari belakang. Joolu tampak sedikit terkejut lalu menyeka keringatnya tanpa membalas perkataan Keni. Aku tahu kau merasakan ketakutan, tapi bukan berarti aku mengatakan kau penakut Joolu. Aku juga sama sepertimu, aku juga merasakan takut. Tapi kau tahu? Ada satu hal yang menghilangkan rasa takutku. Dan itu adalah rasa percayaku padamu dan pada rekan-rekan kita diluar sana., lanjut Keni. Joolu tampak tertegun dengan ucapan Keni, ia lalu menatap dalam kearah mata Keni seolah hendak mencari sesuatu. Bagaimana kalau kita melakukan latihan bersama?, tanya Keni. Joolu hanya mengangguk perlahan dan membalikkan badannya untuk kembali berlatih. Joolu, maksudku itu bukan latihan bersama seperti ini., ujar Keni dengan wajah cemberut. Lalu?, ujar Joolu untuk pertama kalinya sejak Keni bergabung tadi. Hm,, ya maksudku kau dan aku, kita berdua berlatih tanding., jawab Keni sedikit tersenyum karena akhirnya Joolu mau membalas perkataannya. Baiklah, tapi kalau kamu kalah jangan nagis ya., ujar Joolu. Joolu dan Keni kini berdiri saling berhadapan, mereka saling menatap satu sama lain. Keni bergerak terlebih dahulu, dan tampak sebuah busur astral miliknya telah terbentang dengan sebuah anak panah telah melesat ke arah Joolu. Joolu dengan sigap meloncat kesamping dan membalas serangan Keni. Sebuah sinar berwarna biru melesat kearah Keni. Keni segera menghilangkan busurnya dan menggantinya dengan pedang berwarna jingga lalu menangkis serangan Joolu. Jolu lalu memberikan

serangan bertubi-tubi ke arah Keni. Keni dengan tenangnya menangkis semua serangan itu, lalu ia melompat mendekati Joolu dan balik menyerangnya. Kau tahu Joolu, kelemahan penyihir adalah serangan dengan senjata jarak dekat., ujar Keni. Tapi tidak untukku., balas Joolu sedikit tersenyum. Joolu menangkis pedang Keni menggunakan tongkatnya. Joolu ternyata sudah merapalkan beberapa mantra yang membuat tongkatnya menjadi sekuat baja. Mereka terus melakukan jual beli serangan tanpa adanya tanda salah satu dari mereka akan mengalah. Selama beberapa jam mereka bertarung tanpa dapat diketahui siapa pemenangnya. Mereka berdua benar-benar ingin utnuk saling mengalahkan, hingga akhirnya mereka berdua sama-sama merasakan lelah ditengah teriknya matahari. Mreka berdua lalu berhenti dan membaringkan tubuh secara bersamaan. Bias-bias kelelahan tampak dari wajah mereka berdua. Joolu, aku rasa kau tak akan terkalahkan., ujar Keni terengah-engah. Aku? Aku rasa malah sebaliknya. Melawan wanita saja aku sudah seperti ini., balas Joolu. Apa? Jadi selama ini kau meremehkan wanita?, ujar Keni terduduk dengan wajah cemberut. Joolupun ikut terduduk dan menatap wajah Keni. Oh iya, aku lupa. Kau inikan laki -laki., ledek Joolu. Keni lalu menggembungkan pipinya hingga kedua matanya seolah tersembunyi. Joolu tampak geli melihat tingkah Keni dan tertawa.

XVII AWAL

Joolu, Magie dan Keni telah mempersiapkan semuanya. Kini mereka akan segera pergi ke dunia sihir. Tampak beberapa orang yang tak dikenali oleh Joolu dan Keni sudah menunggu didepan gubuk. Bagaimana? Kalian sudah siap?, ujar salah

seorang yang menyambut mereka didepan gubuk. Magie mengangguk perlahan, semua orang tampak mengerti. Mereka lalu merapatkan tubuh mereka dan tentu saja Joolu dan Keni juga ikut merapatkan tubuh mereka. Beberapa saat kemudian tubuh mereka telah hilang bersama asap putih yang muncul. Mereka sampai disebuah hutan di dunia sihir. Hutan ini dikenal dengan sebutan hutan para elf. Sejumlah elf datang menghampiri mereka, elf-elf tersebut lalu mengantarkan mereka ke sebuah rumah pohon. Joolu tak tahu dimana ia berada, tapi Keni terlihat sudah kenal betul tempat yang baru mereka datangi ini. Dimana ini?, ujar Joolu pada Keni. Keni memandang kearah Joolu, ia terlihat tenang. Ini adalah tempatku berlatih. Sebentar lagi kita bertemu dengan guruku, Edward., jawab Keni singkat. Mereka telah sampai didepan pintu rumah pohon tersebut, Magie lalu langsung membuka pintu dan masuk. Orang-orang yang berada dibelakangnya juga ikut masuk, termasuk Joolu dan Keni. Ah,, kalian sudah datang., sambut seseorang yang terlihat seperti elf lainnya. Hanya saja tampangnya terlihat sedikit berbeda. Magie lalu memeluk orang itu yang ternyata adalah Edward. Joolu terlihat bingung. Yang ada dibenaknya Edward adalah pria tua yang seumuran dengan Magie, tapi yang ada didepannya sangat berbeda. Ia telihat masih berumur seklitar 25 tahun. Edward mempersilahkan tamunya untuk duduk. Semua orang yang ada disana langsung duduk dilantai membentuk lingkaran. Baiklah, seperti yang kita ketahui, kehancuran dunia sebentar lagi akan datang. Tapi tenanglah, teman kita Ou Slank Magie datang kesini membawa seseorang yang akan menghancurkan mereka yang hendak menghancurkan dunia. Ah,, apakah dia anak yang akan menyelamatkan dunia itu Magie?, ujar Edward menatap kearah Joolu. Semua orang lalu menatap kearah Joolu. Dia terlihat masih sangat muda, dan kelihatannya dia baru mencapai bintang tiga., ujar Edward tanpa menunggu jawaban dari Magie. Joolu terlihat kikuk dengan keadaan ini. Edward, bagaimana kabarmu?, ujar Keni seolah mengalihkan pembicaraan. Ah, ternyata kau juga ikut Keni. Aku hampir melupakanmu., ujar Edward lalu tertawa. Suasana tampak sedikit mencair, dan Keni terlihat memasang tampang cemberut. Baiklah, kita kembali ke pokok

permasalahn., lanjut Edward. Suasana kembali menjadi serius. Kita akan menjalankan rencana kita yang sebelumnya. Besok pagi, kita akan berangkat menuju Mendi Diabrua. Kita akan menyerang Zot e Ferrot. Magie dan aku bersama Anjie akan melewati jalur utara melalui Heriotza Haranean. Sedang yang lainnya pergi menemani Joolu dan Keni melewati jalur barat dengan sedikit memutar. Kalian bertugas menghancurkan sekutu-sekutu Zot e Ferrot yang berada di beberapa titik yang akan kalian lalui. Sedang kami akan melawan dan menghabisi musuh yang jauh lebih kuat. Yaitu Para penyihir bintang satu yang menjadi sekutu Zet e Ferrot. Mereka akan mengadakan pertemuan di Ezambusa. Setelah itu kami akan menngumpulkan sekutu lainnya di Alendasua. Kita akan bertemu di kota Azezura sebelum menuju ke Mendi Diabrua, tempat Zot e Ferrot sekarang berada., terang Edward. Semuanya tampak mengerti, tentu saja kecuali Joolu. Ia masih belum banyak mengetahui tentang rencana-rencana itu. Sedang Keni yang selama berbulan-bulan tinggal ditempat ini tentu sudah mengetahui semuanya. Setelah pengarahan, tampak para elf kembali muncul. Mereka mengantarkan semua yang hadir menuju kamar peristirahatan mereka masing-masing. Joolu dan Keni diantar oleh Rawman, seorang elf yang seusia dengan mereka. Apakah kau Joolu anak yang sering dibicarakan akan menyelamatkan dunia?, ujar Rawman membuka pembicaraan ditengah jalan. Ya., jawab Joolu singkat. Kau tak terlihat kuat. Sungguh aneh mereka berharap padamu., lanjut Rawman mengejek. Keni yang berada disana tampak geram. Apakah kau ingin aku habisi Rawman?, ujar Keni geram. Rawman hanya terdiam dan tertawa. Mereka telah sampai didepan rumah pohon lain yang lebih kecil. Yah, disinilah tempat kalian., ujar Rawman. Rawman lalu meninggalkan Keni dan Joolu. Rumah pohon itu hanya terdiri dari dua kamar, tentu saja satu untuk Joolu dan satu lagi untuk Keni. Joolu terdiam didepan pintu sedang Keni sudah masuk dan berjalan-jalan sedikit didalam rumah. Ada apa Joolu? Kau memikirkan apa yang dikatakan Rawman? Tenang saja, ia hanya mencoba menggodamu. Ia anak yang baik., ujar Keni menghibur.

Bukan, aku hanya tidak mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku buta sama sekali., jawab Joolu singkat. Keni memahami apa yang dimaksudkan Joolu. Tak heran bila Joolu tak mengetahui apapun, karena ia hanya berlatih tanpa mendapat informasi sedikitpun mengenai semua ini. Baiklah, aku akan menceritakan kepadamu apa yang aku ketahui., ujar Keni lalu duduk di kursi kecil yang ada didepan rumah itu. Keni menyuruh Joolu untuk ikut duduk di kursi disebelahnya. Joolupun duduk dan menatap Keni dengan serius. Ah, aku jadi malas bercerita jika kau serius seprti itu Joolu., ujar Keni kemudian dengan tampang dibuat buat. Joolu kemudian terdiam dan tertawa. Kenipun ikut tertawa bersamanya. Baiklah, kau pasti tadi sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Edward. Kita sebenarnya mempunyai rencana untuk menyerang Zot e Ferrot dengan kau sebagai pusatnya. Mereka percaya padamu sepenuh hati. Kaulah satu-satunya harapan mereka saat ini. Kita besok akan melewati jalur barat dan menumpas sekutu-sekutu Zot e Ferrot yang tidak begitu kuat. Kita akan menghadapi perkumpulan penyihir bintang tiga dengan nama guild Aswen. Lalu kita akan menghadapi beberapa guild penyihir bintang tiga lainnya. Nama guild itu masing-masing adalah Freza, Amera, dan Arima yang membentuk guild gabungan. Masing-masing dipimpin oleh penyihir bintang tiga yang sangat tangguh. Tujuan kita menghancurkan mereka agar tak ada bala bantuan untuk Zot e Ferrot ketika kita menyerang Mendi Diabrua. Misi ini hanyalah misi sampingan yang bertujuan untuk membuatmu tambah kuat. Nah, hanya itu yang aku ketahui. Sekarang lebih baik kita menyiapkan makan malam., terang Keni. Joolu tampak mengerti. Ia kini bisa tersenyum, karena ia sudah mengetahui sedikit informasi. Mereka berdua lalu berdiri dan masuk kedalam rumah pohon. Keni terlihat tengah memasak didapur. Sedang Joolu berada didalam kamarnya. Makanan sudah siap!!, ujar Keni memanggil Joolu. Joolu segera keluar kamar dan duduk di kursi, Keni lalu menghidangkan makanan buatannya. Apa ini Keni?, tanya Joolu. Kuberi nama masakanku Ayam semangat., jawab Keni. Joolu mengernyitkan keningnya, lalu menyantap masakan yang dihidangkan Keni. Waw!!

Kau berbakat Keni, masakan ini benar-benar lezat. Aku benar-benar bersemangat ketika memakannya., ujar Joolu. Keni tampak tersipu, wajahnya memerah.

XVIII GUILD ASWEN

Beberapa orang tengah berjalan dikegelapan malam menuju sebuah rumah tua yang sangat besar yang dijadikan markas oleh sebuah Guild penyihir. Mereka

adalah Joolu dan Keni yang disertai oleh tujuh orang lainnya. Ketujuh orang itu terdiri atas tiga orang penyihir tingkat tiga, dua orang penyihir tingkat dua, dan dua orang elf atau peri pelindung. Kita tak boleh menggunakan kekuatan yang berlebihan nanti., ujar salah seorang peri pelindung. Ya, kau benar Rawman, hal itu akan membahayakan teman kita sendiri., sambut salah seorang penyihir. Mereka lalu berjalan mengendap memasuki rumah tersebut. Ketika berada didalam rumah, tampak salah seorang penjaga guild memergoki mereka, secara mendadak sebuah serangan mengenai tubuh penjaga tersebut. Penjaga tersebut langsung terjatuh dan tak sadarkan diri. Namun sebelum serangan itu mengenai tubuhnya, tampak seberkas sinar berwarna orange telah melesat dari tongkat penjaga tersebut. Serangan itu tak mengenai salah seorang diantara tim Joolu, namun cahaya itu malah menuju keatas. Tenang, dia hanya pingsan, tapi kita harus bersiap-siap sekarang. Sepertinya tadi dia tidak berusaha menyerang kita, melainkan memanggil anggota guild lainnya., ujar salah seorang penyihir bintang dua. Yang lainnya segera mengeluarkan senjata masing-masing. Rawman, Keni dan peri pelindung lain segera membuat pedang dari energi sihir mereka. Joolu dan penyihir bintang tiga lainnya segera mengeluarkan tongkat masing-masing. Terdengar deru langkah sekitar dua puluh orang berjalan kearah mereka. Tak berapa lama, musuh telah berhasil mengepung Joolu dan tim kecilnya. Cih, mereka bermaksud menyerang kita dengan jumlah yang sekecil itu., ujar seseorang dipihak musuh yang terlihat sebagai pemimpin mereka. Joolu dan teman-temannya membentuk lingkaran dan tak terlihat sama sekali akan menanggapi perkataan musuhnya yang meremehkan mereka. Tiba-tiba salah seorang musuh menyerang mereka, secercah cahaya merah keluar dari tongkatnya. Serangan itu mengarah kearah Keni dan Keni langsung menangkisnya menggunakan pedangnya. Mereka lalu maju menerjang Joolu dan teman-temannya, Joolu dan teman-temanyapun maju kedepan dan lingkaran semakin membesar.

Joolu segera mengeluarkan serangan balasan. Ia melontarkan sejumlah mantra kearah pemimpin musuh, namun dengan sigap pemimpin musuh segera mematahkan sihir Joolu dengan mantra lainnya yang berwarna biru. Kedua cahaya berbenturan diudara, dan akhirnya menghilang. Joolu segera melancarkan serangan berikutnya, tapi kali ini yang diincar bukanlah pemimpin musuh, melainkan beberapa orang yang berada dibelakangnya. Mereka bermaksud menghindari serang itu, tapi serangan itu terlalu cepat dan mengenai salah satu dari mereka. Orang yang terkena mantra Joolu masih berdiri, namun tiba-tiba ia mengeluarkan darah dari mulutnya dan lalu tersungkur. Keni tak kalah gesit, ia terus menangkis serangan-serangan yang datang kearahnya. Perlahan tapi pasti ia terus berjalan menuju musuh-musuh didepannya. Setelah menangkis serangan yang berikutnya, ia segera meloncat dan berdiri tepat didepan salah seorang musuhnya. Ia lalu mengayunkan pedangnya dan membelah badan musuh didepannya. Musuhpun terjatuh dengan keadaan badan yang terbelah dua di bagian pinggang sampai dada sebelah kiri. Rawman dan teman-teman yang lainnya pun menunjukan tanda-tanda kemenangan. Kini semua musuh yang tadi menghadapi Joolu telah tewas, kecuali tentu saja sang pemimpin. Mereka berdua terus menerus melancarkan serangan bergantian. Mereka terlihat seimbang. Lalu Joolu mengeluarkan sedikit energi sihirnya sehingga muncullah sebuah bola api berdiameter kecil. Bola api itu melesat kearah pemimpin musuh, namun pemimpin musuh dapat menghindarinya dan bola api itu menghantam lantai sehingga menimbulkan ledakan yang cukup besar. Sembari meloncat, pemimpin musuh menyerang Joolu, tapi serangannya hanya mengenai tongkat Joolu. Tongkat Joolupun terpental. Saat itulah pemimpin musuh melesatkan sihir sekali lagi ke arah Joolu. Namun tiba-tiba seberkas cahaya berwana kuning melesat dan mematahkan sihir pemimpin musuh. Joolu berdiri dan berusaha mencari tongkat sihirnya, namun ia tidak dapat menemukan tongkat itu.

Salah seorang anggota musuh mendekati Joolu dan mengacungkan tongkatnya kearah kepala Joolu. Joolu lalu berdiri tegap dan memandang kearah musuhnya. Teman-temannya tengah sibuk menghadapi musuh yang lainnya. Seorang penyihir bintang dua tengah menghadapi sang pemimpin, sedang teman-teman yang lainnya menghadapi beberapa musuh sekaligus. Joolu lalu memegang ujung tongkat sihir musuhnya, terlihat sejumlah energi sihir berwarna kuning emas mengalir ketangan Joolu kemudian mengalir ketongkat musuhnya. Musuhnya yang menyadari bahwa ia dalam bahaya lalu mencoba mengeluarkan energi sihirnya. Namun semua terlambat, energi sihir Joolu sudah terlebih dahulu melewati separo tongkat sihirnya. Energi sihir yang ia keluarkan tak mampu menyaingi energi sihir Joolu. Ketika energi sihir Joolu mencapai tangan musuh dihadapannya, musuh tersebut langsung terpental dan menghantam tembok dengan posoi kepala terlebih dahulu menyentuh tembok. Musuhnya pun tewas seketika. Joolu tercengang, ia tak menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Kini musuh hanya tinggal setengahnya. Joolu segera kembali ke pertempuran, dan ia tak lagi menggunakan tongkat sihir. Ia lalu membantu Rawman yang tampak kesulitan menghadapi empat orang sekaligus. Butuh bantuan Rawman?, ujar Joolu sambil tersenyum. Rawman hanya tersenyum kecut, ia lalu menghadapi musuh didepannya dan menangkis seranganserangan yang melesat kearahnya. Joolu segera merentangkan tangannya dan tampak tiga berkas cahaya berwarna biru keluar dari jari-jarinya dan mengarah kepada tiga orang dihadapannya. Tiga orang musuhnya itu terkejut melihat serangan yang datang secara tiba-tiba. Mereka tidak menyangka Joolu dapat mengeluarkan sihir tanpa tongkat. Ketiga orang tersebut mencoba mengelak, namun semua sudah terlambat. Ketiga orang tadi langsung terdiam dan roboh ketika sinar biru tadi mengenai tubuh mereka. Kini hanya tinggal tujuh orang musuh yang tersisa. Joolu lalu berjalan menuju kearah Keni dan sekali lagi mengeluarkan sihirnya melalui jari telunjuknya. Serangan ini mengenai musuh yang dihadapi Keni, dan musuh itu langsug terlihat seperti terbakar sampai tewas. Huh, kau mengambil buruanku Joolu., gumam Keni

dengan tampang cemberut. Semua musuh sudah dikalahkan, kecuali tentu saja sang pemimpin Guild yang bernama Thomas. Ia ternyata mampu memberikan perlawanan imbang terhadap penyihir bintang dua yang bernama Elphias. Joolu dan teman-teman lainnya segera mengepung Thomas. Sekarang keadaan berbalik., ujar Rawman dengan wajah menghina. Thomas hanya tersenyum kecut. Ia lalu mengarahkan tongkat sihirnya kearahnya sendiri. Dalam sekejap Thomas telah hilang dari pandangan mereka dan meninggalkan sekepulan asap. hm.. sepertinya ia berhasil kabur., gumam Elphias. Semuanya tampak terdiam, mereka tidak merasakan kebahagiaan terhadap kemenangan ini. Mereka tahu, hal yang lebih besar telah menanti mereka didepan. Joolu, kau sudah bintang dua!!, ujar Keni lalu memeluk Joolu. Joolu terkejut, dan mukanya memerah. Ya Joolu, aku terkejut. Tapi bagaimana caranya kau mengeluarkan tiga mantra sekaligus?, ujar Rawman. Joolu hanya tersenyum, dan Keni melepaskan pelukannya. Semua teman-teman Joolu kini berdiri mengelilinginya. Apa? Kau mengeluarkan tiga mantra sekaligus?, ujar Elphias terkejut. Sebenarnya memang merupakan hal yang sulit untuk mengeluarkan energi sihir dalam jumlah banyak sekaligus. Elphias yang sudah bintang dua mengetahui itu. Bahkan belum ada yang mampu mengeluarkan energi sihir dan mantra seperti itu selain Joolu. Hum,, kau benar-benar orang yang ditakdirkan menyelamatkan dunia., ujar Dodey penyihir bintang dua lainnya. Yang lainnyapun tampak kagum. Mereka baru menyadari bahwa Joolu sudah mencapai bintang dua dan menggunakan sihir dengan cara yang mengagumkan. Mereka lalu berjalan menghampiri salah satu musuh yang masih hidup. Musuh itu adalah orang yang pertama kali mereka temui dan dibuat pingsan. Elphias lalu membangunkannya setelah mengambil tongkat sihir dari tangan musuhnya itu dan mengikat kedua tangannya. Setelah terlihat musuh mereka tersadar, Rawman segera maju dan menghampirinya. Dimana letak guild gabungan?, tanya Rawman

pada musuhnya. Musuh tersebut hanya terdiam dan membisu. Rawman tampak kesal. Tapi tiba-tiba Joolu maju dan menggantikan Rawman. Siapa namamu?, ujar Joolu bertanya. Rendi Brush., jawab Rendi singkat. Kenapa kau memihak Zot e Ferrot?, tanya Joolu. Rendi hanya terdiam, tampak kesedihan hadir diraut wajahnya. Aku terpaksa., jawab Rendi. Joolu memahami keadaan Rendi, ia terdiam sejenak untuk berpikir. Terpaksa? Apa maksudmu?, tanya Joolu lebih lanjut. Keluargaku telah tewas dibunuh Zot e Ferrot, dan ia berjanji akan membangkitkan keluargaku lagi jika aku bersamanya hingga ia berhasil menaklukan dunia., jawab Rendi. Joolu tidak menemukan adanya raut kebohongan diwajah Rendi. Kau tak seharusnya memihaknya. Keluargamu tewas dalam kebenaran. Jika mereka dihidupkan lagi, kau hanya akan membuat mereka kembali merasakan kesengsaraan yang kini tak ada lagi bagi mereka. Kau seharusnya sadar itu., ujar Joolu dengan tenang. Rendi tampak tertegun, ia menyadari semua kesalahannya. Baiklah, lepaskan ikatannya., seru Joolu. Yang lain hanya terdiam. Tampak sekali Rawman tidak menyetujui apa yang baru saja di ucapkan Joolu. Kau akan melepaskannya? Apakah kau sudah gila? Ia bisa saja berbohong., ujar Rawman geram. Tidak, ia tidak berbohong., ujar Joolu. Keni segera maju dan melepaskan ikatan Rendi. Rendi berdiri dan tampak menundukan kepalanya. Aku menyadarai kesalahanku. Sebagai ucapan terima kasihku karena telah diingatkan, aku akan membantu kalian. Ijinkanlah aku ikut bersama kalian menuju Guild gabungan di Pyll Ndaluar., ujar Rendi. Semua yang ada disana terkejut, mereka tak menyangka Rendi akan menyatakan hal itu. Bagi sebagian yang ada disana, mereka mencurigai Rendi hendak menipu mereka. Tapi Joolu tersenyum kearah Rendi, ia memahami perasaan Rendi. Baiklah, kau boleh ikut., ujar Joolu. Kau benar-benar sudah gila!, gumam Rawman mendongkol. Semua hanya menuruti apa yang diucapkan Joolu. Rendi tampak tersenyum bahagia dan bersujud dihadapan Joolu. Kau tak perlu seperti itu. Aku hanya ingin membantumu menghilangkan rasa bersalahmu.

Bangunlah., ujar Joolu sambil mengulurkan tangannya. Rendipun bangun dan menyambut tangan Joolu. Kini mereka langsung berjalan keluar rumah tua yang menjadi tempat pertempuran mereka tadi dan melanjutkan perjalanan.

XIX RENCANA

Joolu tengah beristirahat bersama teman-temannya dipinggiran danau Meermin. Danau ini adalah danau tempat tinggal para putri duyung. Terlihat Keni sedang membasuh mukanya didanau tersebut, sedang yang lainnya terlihat sedang duduk dibawah pohon didekat danau tersebut. Apa rencana kita selanjutnya?, tanya Remush salah seorang peri pelindung. Rawman tampak tersenyum. Tentu saja kita akan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Bukankah kita sangat kuat? Guild gabungan itu pasti akan segera kita taklukan., sambut Rawman menggebu. Rawman memang pemuda yang penuh semangat dan kuat, tapi ia terlalu ceroboh untuk takaran seorang peri pelindung. Rendi tampak termenung, ia tak mendengarkan pembicaraan yang tengah berlangsung didepannya. Kau memikirkan apa Rendi?, tanya Elphias. Rendi masih saja hanyut dalam pemikirannya sendiri, ia tak menggubris pertanyaan yang dilontarkan Elphias kepadanya. Lebih tepatnya ia seperti tak menyadarinya. Joolu yang tadinya duduk agak jauh dari Rendi kini mendekatinya, ia lalu memegang pundak Rendi. Rendi terkejut dan keluar dari semua yang ada dipikirannya. Terlihat olehnya Joolu tengah tersenyum kearahnya. Apa yang kau pikirkan Rendi?, tanya Joolu pada Rendi. Rendi hanya membalasnya dengan senyuman. Ayolah.. sekarang kau bagian dari kami. Kau seharusnya tak menggenggam kesulitanmu sendiri., ujar Joolu dengan ramah. Rendi menangkap raut ketulusan diwajah Joolu. Aku hanya memikirkan tentang Guild gabungan yang akan kita serang., ujar Rendi menanggapi Joolu. Yang lainnya tampak mulai serius mendengarkan Rendi. Mereka sadar, seseorang yang ada dihadapan mereka merupakan sunber informasi yang menguntungkan. Disana merupakan sebuah benteng. Para anggota guild gabungan itu berjumlah ratusan orang. Kita tentu akan kesulitan untuk menembusnya. Selain itu, pemimpin Guild gabungan yang sekarang adalah Raikusa., lanjut Rendi. Semua orang tampak termenung kecuali Joolu, hal itu tentu saja karena Joolu tak mengetahui bahwa Raikusa adalah salah satu dari tujuh penyihir bintang satu. Ia bukanlah lawan

yang mudah ditaklukan. Sedangkan mendengar guild itu berada disebuah benteng dan penghuninya berjumlah ratusan orang, tentu memberikan kesulitan yang teramat sangat. Jadi apa yang harus kita lakukan?, tanya Genta. Genta adalah salah seorang penyihir bintang tiga yang merupakan teman yang menyertai Joolu. Ada satu titik kelemahan di benteng itu, dan kita bisa masuk dengan mudah dari sana. Kecemasanmu tentu tak beralasan Rendi., ujar Rawman sedikit menghina. Semuanya tampak setuju dengan Rawman, mereka telah merencanakan dari awal akan melewati titik itu dan menyusup. Tidak, mereka pasti tahu kita akan menggunakan titik lemah tersebut. Mereka akan menyiagakan puluhan atau bahkan ratusan orang untuk menjaga titik itu., sergah Rendi. Semuanya tampak termenung, Mereka menyadari bahwa yang dikatakan Rendi ada benarnya. Keni yang telah selesai mencuci muka segera kembali dan duduk disebelah Rawman. Ia dari tadi tak mengikuti pembicaraan, tapi ia berusaha agar pembicaraan tak terganggu oleh kehadirannya. Apa maksudmu Rendi? Kalau memang seperti itu, rencana apa yang kau punya? Apakah kau bermaksud menjebak kami?, ujar Rawman. Semuanya mengerti dengan sikap Rawman. Ia bukanlah orang yang suka jika ada orang yang mematahkan pendapatnya. Kita harus menyerang dari gerbang utama. Pihak musuh pasti mengurangi penjagaan disana untuk mencegah orang lain menyusup dari titik lemah benteng mereka. Atau kita bisa menyamar dan membuatnya seolah-olah kita adalah pengikut guild Aswen yang tersisa., terang Rendi memberikan pendapatnya. Semua tampak mengangguk setuju, kecuali Rawman yang terlihat kesal karena yang lainnya menyetujui rencana itu. Bagaimana jika mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di guil Aswen? Bukankah itu hanya akan menjadikan kita masuk kedalam neraka?, sergah Rawman mencoba mematahkan. Tidak, mereka tidak akan tahu. Thomas pasti tidak akan pergi kesana karena ia akan mendapatkan cercaan dari orang-orang disana. Thomas akan langsung pergi ke tempat Zot e Ferrot. Dan ia tak akan mencapai tempat Zot e Ferrot dalam waktu seminggu. Selain itu, kita bisa memanfaatkan ini untuk menyerang benteng

guild gabungan dalam waktu dua hari ini. Mereka berada disebrang hutan ini, dan dalam waktu satu hari kita sudah dapat mencapainya. Saat itulah kita akan menyamar., jawaban Rendi terhadap sergahan Rawman. Semua orang sadar, orang yang lebih mengetahui situasi saat ini adalah Rendi. Semua orang tampak setuju, dan keputusanpun diambil. Mau tak mau Rawman pun setuju. Setelah dirasa cukup beristirahat, mereka pun berdiri dan bersiap melanjutkan perjalanan. Namun baru saja mereka berdiri, mendadak sesosok makhluk aneh muncul. Makhluk itu adalah Ogree. Raksasa dengan kulit tebal dan kekuatan otot yang besar, namun otak mereka bodoh. Ogre itu lalu menyerang dengan membabi buta. Tampak Aiger, salah seorang penyihir bintang tiga terhempas. Yang lainnya segera menyerang ogree itu dengan segenap kemampuan mereka, namun semua serangan mereka tak berpengaruh apa-apa. Aiger telah bangun dan bergabung dengan Joolu dan yang lainnya. Mereka terdesak, sang ogree semakin mengamuk. Wajahnya yang idot tak membuat mereka lengah sedikitpun. Tiba-tiba sebuah anak panah melesat dari belakang tubuh ogree itu, terlihat beberapa sosok manusia dengan sebagian tubuh menyerupai kuda berlari dari arah melesatnya anak panah. Mereka adalah centaur penghuni hutan. Salah satu centaur lalu berlari mengelilingi ogree dengan menggengam tali, sedang centaur lain terlihat memegang ujung tali. Centaur itu lalu terus berputar-putar melilitkan tali ke tubuh ogree. Selang beberapa saat, tubuh ogre telah terlilit oleh tali, dan iapun terjatuh. Centaur yang tadi melilitkan tali segera mengikat tali itu dengan kuat. Setelah selesai dengan ogree, ia pun berjalan menghampiri Joolu dan temantemannya. Aku Cerbai, pemimpin pasukan centaur di hutan ini. Aku melihat kalian membutuhkan bantuan., ujarnya ke arah Joolu. Joolu dan teman-temannya tampak terdiam. Mereka masih sedikit waspada, apalagi mereka tak mengetahui pihak centaur merupakan teman atau lawan. Tenang, aku teman kalian. Aku akan menyertai kalian menyerang benteng guild gabungan., ujar sang centaur. Joolu tampak melangkah mendekati Cerbai. Apa maksudmu?, ujar Joolu dengan tatapan bagai elang. Kami akan mengalihkan perhatian penghuni benteng dengan

menyerang titik lemah mereka saat kalian sudah masuk nanti. Aku mendengar semua rencana kalian. Ah, sebenarnya bukan aku yang mendengar, tapi salah satu dari anak buahku., ujar Cerbai tenang. Joolu langsung memahami situasi. Kenapa kau ingin membantu kami?, ujar Rawman curiga. Kehadiran benteng itu didekat hutan ini sudah mengusik ketenangan kami. Kami ingin agar benteng itu segera dihancurkan. Selain itu, kami telah mendengar tentang Zot e Ferrot yang akan menghancurkan dunia. Kami akan membantu sebisa kami., jawab Cerbai. Joolu mengangguk dan tersenyum. Ia sadar bahwa centaur didepannya adalah teman. Baiklah, kau boleh ikut., ujar Joolu. Cerbai lalu tersenyum dan berjalan membelakangi Joolu menuju hutan. Joolu mengerti bahwa sekutu barunya itu hendak menunjukan jalan. Joolupun mengikutinya disusul oleh teman-temannya.

XX GUILD GABUNGAN

Didepan gerbang sebuah benteng tampak berdiri dua orang penjaga. Mereka tak mengenakan baju perang, pakaian mereka terlihat seperti pakaian penyihir dengan jubah hitam menutup badan mereka. Huh, sepertinya hari ini akan membosankan., gumam salah seorang penjaga. Bukannya memang selalu begitu?, sambut temannya. Mereka berdua lalu terdiam dan kemudian tertawa. Terlihat sosok beberapa orang tengah berjalan menuju gerbang benteng, kedua penjaga itupun mulai serius. Hai! mau kemana kalian?, tanya penjaga kepada segerombolan orang didepannya. Kami dari guild Aswen, kami ingin bertemu dengan pemimpin guild gabungan., jawab salah seorang anggota rombongan. Penjaga yang tadi bertanya tampak terdiam. Ia lalu melangkah mendekati gerombolan itu untuk memeriksa. Baiklah, tunggu sebentar., ujar penjaga terebut sambil menggerakan tangannya menyuruh teman disampingnya untuk bertanya kedalam. Temannya pun langsung masuk kedalam. Selang beberapa saat, temannya kembali lagi. Bawa mereka masuk., ujarnya ketika sampai didepan gerbang. Penjaga yang tadipun segera membawa Joolu dan teman-temannya memasuki benteng. Mereka menyusuri bagian dalam benteng dan masuk kedalam benteng bagian dalam. Setelah itu mereka melanjutkan menuju sebuah rumah tua yang ada ditengah benteng. Didalam rumah itu, mereka langsung naik keatas menuju lantai dua. Didepan sebuah ruangan, penjaga benteng tadi langsung berhenti. Raikusa ada didalam, dia telah menunggu kalian. Masuklah., ujar sang penjaga benteng lalu berjalan meninggalkan Joolu dan teman-temannya. Rendi segera berjalan kedepan dan membuka pintu dihadapannya. Telihat seseorang yang sudah tua dengan jubah berwarna putih dan mengenakan topi runcing khas penyihir yang juga berwarna putih tersenyum lembut ke arah mereka. Duduklah., sambut Raikusa. Joolu dan temantemannya segera duduk di bangku yang sudah disediakan. Kalian dari guild Aswen?, tanya Raikusa. Rendi tampak berdiri. Ya, hanya kami yang tersisa. Orang yang akan menghancurkan Zot e Ferrot menyerang kami tiba-tiba, pertarungan sengitpun tak terelakan. Rekan-rekan kami yang lainnya sudah tewas, dan kami

berhasil meloloskan diri. Kami kira sebentar lagi mereka akan menyerang kesini., terang Rendi. Baiklah, aku mengerti. Kalian pasti telah bersusah payah untuk menyamar begini., ujar Raikusa. Rendi dan Joolu beserta teman-temannya tampak tercekat akan apa yang barusan dikatan Raikusa. Mereka tidak meyangka bahwa Raikusa akan bisa mengetahui penyamaran mereka. Tentu saja aku tahu, aku yang menyuruh Cerbai untuk menjemput kalian., lanjut Raikusa tenang. Tunggu, jadi maksudmu kami telah masuk kedalam jebakkanmu? Huh, aku sudah menduga ini semua., ujar Rawman langsung berdiri dengan geram. Raikusa hanya tersenyum, sorot matanya tak menunjukan garis-garis permusuhan. Tenang, aku ada dipihak kalian. Aku sengaja melakukan ini agar tidak terjadi pertempuran diantara kita. Aku memang berada dipihak Zot e Ferrot awalnya. Tapi aku berada dipihaknya hanya untuk mengamati situasi agar bisa menyerangnya. Kelihatannya kalian cukup tangguh, apakah diantara kalian ada seorang anak yang ditakuti oleh Zot e Ferrot? Kalu tidak salah, namanya Joolu., ujar Raikusa. Joolu hanya terdiam dan tampak berpikir. Ya, aku Joolu., ujar Joolu. Baiklah, kalian akan kuperlakukan dengan baik. Kalian tentu lelah, silahkan istirahat diruangan yang telah kusediakan., ujar Raikusa. Kemudian tampak pintu terbuka, dan seseorang masuk. Tuan, ruangan sudah siap., ujar orang yang baru masuk tadi sambil membungkuk. Raikusa lalu tersenyum dan memandang Joolu. Kau tentu bukan orang sembarangan. Sekarang kalian boleh beristirahat diruangan yang telah aku sediakan. Nanti aku menyusul bersama Cerbai., ujar Raikusa. Orang yang tadi masuk lalu mempersilahkan Joolu dan teman-temannya untuk mengikutinya. Tanpa aba-aba, mereka langsung menuruti orang itu. Disebuah ruangan yang megah, Joolu dan teman-temannya duduk disebuah bangku yang terletak disudut ruangan. Terlihat sebuah meja yang besar berada di tengah ruangan itu. Huh, apa kita harus mempercayainya? Bukankah dia sudah menjebak kita?, ujar Rawman. Tidak, kita lihat situasinya dahulu. Nanti baru kita

bisa memastikan dia benar atau tidak., sambut Aiger. Semua tampak terdiam. Seandainya Raikusa memang hendak membunuh mereka, tentu saja ia bisa melakukannya dari tadi. Tapi mereka bahkan tidak lecet sediktpun. Bagaimana keadaan kalian?, ujar seseorang membuyarkan lamunan mereka. Cerbai!! Kau menipu kami!, ujar Rawman tetap geram. Terlihat Raikusa berdiri disebelah Cerbai dan tersenyum. Maafkan aku, hanya itu cara agar kita bisa bertemu tanpa pertempuran. Kami tidak berbohong jika kami ada dipihak kalian. Raikusa adalah orang yang baik., sambut Cerbai. Joolu tampak berdiri, ia tak terlihat geram ataupun marah. Ya, aku bisa mengerti. Tapi apa tujuan kalian yang sebenarnya?, ujar Joolu.Hm.. kau memang cerdas, persis seperti berita yang telah tersebar. Jika kami memang berniat jahat, kami tentu sudah melakukannya dari tadi. Kami hanya ingin bergabung bersama kalian untuk menghancurkan Zot e Efferot., sambut Raikusa. Semua tampak terdiam, mereka menyadari bahwa kemungkinan itu memang ada. Tapi mereka tetap saja harus waspada. Bisakah kalian menceritakan semua rencana kalian?, lanjut Raikusa. Semua tersentak dengan pertanyaan Raikusa. Untuk apa kau menanyakan itu?, tanya Joolu. Raikusa hanya tersenyum. Jika kau ingin mengetahui rencana kami, bergabunglah bersama kami menuju Azezura. Disana kita akan menemui Magie dan sekutu yang lainnya., ujar Joolu. Baiklah, kalau begitu aku akan mempersiapkan diri. Kalian tunggu disini., ujar Raikusa lalu meninggalkan Joolu dan teman-temannya. Terlihat Cerbai mengikuti Raikusa. Joolu, kau bodoh. Bagaimana jika ia menjebak kita lagi?, ujar Rawman. Tenang, disana ada Magie. Kita akan aman disana., sambut Joolu. Semua tampak terdiam. Hanya Rawmanlah yang tampak tidak setuju akan semua itu.

XXI AZEZURA

Azezura adalah kota yang ramai. Kota ini terletak dibawah kaki Mendi Diabrua-Gunung iblis-. Ditengah kota Azezura, terdapat sebuah rumah yang cukup

mewah. Dirumah itulah tempat pertemuan Joolu dan teman-temannya dengan Magie dan Edward serta dengan sekutu yang lainnya. Joolu tengah berada disebuah ruangan yang terlihat seperti perpustakaan. Ia tengah asik membaca buku di sana ketika seseorang masuk menghampirinya. Bagaimana keadaanmu Joolu?, tanya Edward. Hum.. aku baik-baik saja. Kapan kau datang Edward? Di mana Magie?, ujar Joolu balik bertanya. Aku baru saja sampai. Magie dia tengah ada urusan., jawab Edward. Keduanya terdiam. Ah, sebaiknya kita segera pergi ke ruangan sebelah, mereka sedang mengadakan pertemuan., ujar Edward seraya berlalu. Joolu segera menutup bukunya dan meletakkannya kembali, kemudian iapun mengikuti Edward. Joolu duduk ditengah-tengah meja yang sudah dipenuhi sekitar delapan belas orang selain dirinya, ia kini seolah-olah menjadi pemimpin pertemuan ini. Sebenarnya bukannya ia ingin duduk di sana, tapi hanya tempat itulah yang kosong saat ia datang. Bagaimana keadaan kita saat ini?, tanya seseorang yang duduk dibarisan sebelah kanan. Saat ini kita sudah mengumpulkan sekutu sebanyak lebih dari dua juta penyihir. Sedang yang berada dipihak Zot e Ferrot hanya sekitar satu juta dua ratus orang, ditambah lagi dengan bergabungnnya guild yang dipimpin Raikusa. Jumlah sekutu kita jauh diatas jumlah sekutu Zot e Ferrot., jawab Elphias. Semua tampak tersenyum dan mengangguk. Tapi ingat, walau jumlah kita menang namun kekuatan sekutu Zot e Ferrot tak dapat diremehkan. Masih ada lima penyihir bintang satu dan banyak penyihir bintang dua yang berbakat. Kita tidak boleh lengah., sergah Raikusa. Semua tampak terdiam. Senyum yang tadi terlihat, kini sudah hilang tak berbekas. Mereka sadar akan kemampuan dari kelima penyihir bintang satu yang menjadi sekutu Zot e Ferrot. Belum lagi di sana ada Zot e Ferrot sendiri yang tentu sangat kuat. Haha, kenapa kalian takut? Bukankah penyihir terhebat ada dipihak kita? Dan lagi, ada Raikusa yang juga berbintang satu. Dan juga ada Edward sang peri pelindung terkuat. Ditambah Joolu, kita semua sudah hampir dipastikan meraih kemenangan., ujar Rawman dengan semangat. Kita tidak boleh gegabah, biar bagaimanapun kita menanggung keselamatan dunia ditangan kita. Musuh kita

bukanlah musuh sembarangan. Ingat itu., ujar Raikusa geram. Semua tampak mengerti sifat Rawman, tapi mereka tampak setuju dengan Raikusa. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?, ujar salah seorang yang duduk diujung bagian sebelah kiri. Kita akan membagi sejumlah sekutu kita. Aku tahu beberapa titik yang dijadikan tempat berkumpul para sekutu Zot e Ferrot. Mereka berada di lima titik mengelilingi Zot e Ferrot. Masing-masing dipimpin oleh penyihir bintang satu. Aku akan menyerang titik pertama yang dipimpin oleh Benedict, Edward akan menyerang titik kedua yang dipimpin oleh Sertafh. Titik ketiga yang dipimpin oleh Mariana Joseph akan diserang oleh Magie. Sedang titik yang keempat, akan diserang oleh para Centaur. Dan titik terakhir akan diserang oleh penyihir yang tersisa kecuali Joolu dan timnya. Masing-masing yang menyerang titik satu sampai tiga akan didukung dengan kekuatan seratus orang penyihir bintang tiga dan bintang dua. Joolu dan teman-temannya tak perlu cemaskan pertarungan dibelakang. Kalian hanya harus menuju ke tempat Zot e Ferrot yang hanya berisi beberapa orang selain Zot e Ferrot itu sendiri. Jadi, kalian akan bebas masuk kesana. Dan seriuslah menghadapi apa yang ada didepan kalian., terang Raikusa. Semua tampak setuju, saat ini memang hanya Raikusalah yang memahami betul keadaan di gunung Deabrua. Baiklah, sepertinya kita sudah selesai. Sekarang kita harus segera bergerak untuk menyiapkan pasukan penyihir masing-masing., lanjut raikusa. Semua yang hadir di sana segera berdiri dan keluar ruangan. Setelah semua orang keluar, Joolupun bergegas untuk keluar. Tapi ketika membuka pintu ia terkejut. Ia melihat sosok yang sangat dikenalinya. Sosok itu adalah ayahnya. Ayah? Kenapa ayah ada di sini?, tanya Joolu kaget. Aku tak akan membiarkanmu bersenang-senang sendiri anakku. Aku akan ikut bersamamu., jawab Aleoo. Bersama siapa ayah kemari? Ini sangat berbahaya ayah., ujar Joolu mendesah. Kau pikir aku lemah? Haha, aku pasti akan baik-baik saja tenanglah., sambut Aleoo. Lalu bagaimana dengan kampung kita? Bukankah ayah kepala suku?, sergah Joolu. Hal itu sudah ditangani. Aku menyerahkan jabatanku sementara kepada Stevan Menslike. Kau tak perlu khawatir., jawab Aleoo. Joolu

hanya terdiam. Aku punya sedikit informasi untukmu. Aku tahu kelemahan Zot e Ferrot., ujar Ayah Joolu berbisik. Joolu tampak terkejut, tapi ia tetap membisu. Kau tahu? Zot e Ferrot adalah dewa neraka. Tubuhnya berasal dari api kebencian dan kesengsaraan. Kau hanya harus memadamkannya., lanjut Aleoo. Maksud ayah? Aku bukanlah penyihir yang menggunakan air., ujar Joolu. Ya, aku juga tak tahu bagaimana caranya. Tapi aku tahu itu dari sebuah buku di perpustakaan khusus kepala suku. Kau bisa mempercayai itu., ujar Aleoo. Joolu tampak berpikir dengan serius. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan ayahnya mungkin akan berguna. Ya sudahlah, kau nampaknya lelah. Aku mau berjalan-jalan keluar, kau mau ikut?, ujar Aleoo. Joolu tampak mengangguk dan mengikuti ayahnya.

XXII SATU

Raikusa tengah berdiri dihadapan para penyihir yang menyertainya. Ingat, kita harus meraih kemenangan disini. Aku memilih kalian menyertaiku karena aku yakin akan kemampuan kalian. Selain orang yang memakai jubah kuning dengan

lambang bunga teratai adalah musuh. Basmi mereka semua., ujar Raikusa memberi pengarahan sebelum pertempuran. Setelah memberikan pengarahan, ia langsung memerintahkan untuk bergerak. Tempat yang akan mereka serang adalah berupa camp dengan tenda Benedict di bagian tengah. Benedict sebenarnya adalah sahabat kecil Raikusa. Mereka selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik, namun persaingan itu berakibat buruk. Benedict yang tak pernah bisa menyaingi Raikusa bergabung dengan Zot e Ferrot untuk mendapatkan kekuatan untuk mengalahkan Raikusa. Para penyihir berjubah kuning sudah menyerang, tampak kekacauan disanasini. Cahaya-cahaya mantra terlihat beterbangan kesana kemari membuat malam menjadi sedikit cerah seolah-olah sedang ada pesta kembang api. Raikusa yang dari awal bertujuan untuk melawan Benedict segera meninggalkan medan pertempuran didepannya dan langsung mencari Benedict. Tiba-tiba sejumlah cahaya muncul dan mengarah kepadanya. Langsung saja ia menangkis semua serangan itu dengan tangannya. Terlihat lima orang penyihir berbintang tiga kini berada dihadapannya. Ia lalu mengeluarkan cahaya yang berwarna ungu dari ujung jari telunjuknya. Cahaya itu bergerak menyerang lima orang dihadapannya. Satu orang terkena cahaya itu, dan dia langsung tewas membeku. Cahaya itu tak berhenti walau mengenai satu orang. Cahaya itu bergerak mengikuti arah jari telunjuk Raikusa. Satu persatu musuh dihadapannya kini telah tewas, iapun melanjutkan pencariannya. Setelah sampai di tenda yang terlihat seperti tenda pemimpin, iapun segera masuk. Terlihat disana seseorang yang seumuran dengannya tengah minum teh dengan tenang. Ah, akhirnya kita bertemu lagi. Pengkhianatanmu sungguh mengejutkan. Tapi itu malah bagus, karena kita bisa melihat siapa yang lebih kuat sekarang., ujar Benedict. Kau tentu tahu alasanku Benedict. Aku tak buta sepertimu dan yang lainnya., balas Raikusa. Raikusa lalu segera menyerang Benedict dengan cahaya berwarna putih yang keluar dari telunjuknya. Dengan tenang Benedict menangkisnya. Ah, kau terlalu terburu-buru. Setidaknya biarkanlah aku menghabiskan tehku ini., ujar Banedict kemudian melanjutkan meminum tehnya.

Ketika teh dihadapannya habis, Benedict segera berdiri. Ya, sekarang kita bisa bertarung, ujarnya. Raikusa tampak serius, ia tak mengalihkan pandangannya sedikitpun. Benedict mengangkat salah satu tangannya, lalu terlihat sebuah cahaya berwarna hitam mengarah ke arah Raikusa. Raikusa segera menangkisnya, namun ternyata kekuatan sihir Benedict jauh dari apa yang ia perkirakan. Ia pun terpental dan membuat tenda Benedict roboh. Tiba-tiba Api yang sangat besar dan dahsyat membakar tenda tersebut, Raikusa segera melindungi dirinya dengan cara membuat sebuah bola air disekeliling tubuhnya. Dalam sekejap, tenda yang begitu besar segera lenyap tak berbekas. Ah, sudah kuduga kau tak akan apa-apa dengan serangan selemah itu., gumam Benedict yang kini berdiri dibawah langit malam. Raikusa hanya tersenyum kecut, ia segera melepaskan mantra untuk menghilangkan bola air itu. Badannya basah kuyup. Raikusa lalu menarik nafas panjang, dan terlihat air yang berada dibadannya segera mengering dan menguap. Aku akan serius., ujarnya. Tiba-tiba keluar api dari kedua tangannya. Api itu sangat besar, dan api itu mengarah ke arah Benedict. Tubuh Benedict segera diselubungi oleh api Raikusa. Namun, samar-samar terlihat sebuah bola udara muncul didalam api tersebut. Bola udara itu semakin lama semakin membesar, dan membuat api dihadapannya padam. Haha, sihirmu lemah sekali Raikusa. Aku jadi tidak berminat menghadapimu., ujar Benedict. Raikusa hanya terdiam, ia terlihat tenang. Raikusa lalu mengerahkan sejumlah sihIr petir kearah Benedict, namun benedict segera menangkisnya menggunakan tanah yang ia angkat menggunakan sihir. Tanah memang adalah penetral petir yang baik, serangan Raikusapun tak berpengaruh apa-apa. Sekarang gilranku., gumam Benedict. Ia lalu mengeluarkan cahaya berwarna kuning keemasan dari telunjuk kirinya. Raikusa yang sadar bahwa serangan itu sangat kuat dan segera menghindar. Cahaya itu mengenai tanah dan terjadi ledakan yang sangat besar. Kini Raikusa tengah melayang diudara, Benedict segera ikut untuk melayangkan tubuhnya sejajar dengan tubuh Raikusa. Benedict lalu mengerahkan serangan lain kearah Raikusa. Serangan kali ini tak begitu kuat

sehingga Raikusa hanya perlu menangkisnya. Raikusa lalu melayang kearah Benedict. Setelah badannya berada didekat Benedict, ia langsung memegang lengan kiri Benedict dan berusaha mengalirkan sejumlah energi sihir berwarna merah. Benedict yang terkejut tak dapat mengelak, badannya terpental diudara karena energi sihir Raikusa. Tubuh Benedict berhenti setelah terpental diudara, namun ia tetap melayang. Huh, aku tak menyangka kau melakukan itu. Lain kali serangan itu tak akan mempan lagi padaku., ujar Benedict. Jubahnya tampak hancur dibagian Raikusa memegangnya, lengan kirinya itu tampak memerah karena memar. Kini Benedict melancarkan serangan, dan Raikusa mengelak dengan mendekati tubbuh Benedict sekali lagi. Benedict yang menyadari itu segera menggerakkan badannya untuk menghindar. Tapi kali ini Raikusa tak mencoba untuk memegang tubuh Benedict. Ia melancarkan sebuah serangan dengan sinar berwarna ungu keluar dari jari telunjuknya. Sinar itu langsung mengenai tubuh Benedict dan membuat Benedict pingsan dan terjatuh ke tanah. Raikusa langsung menyambut tubuh Benedict dan meletakkanya ditanah. Kau terlalu terpaut oleh kekuatan Benedict. Yang sebenarnya menentukan kemenangan bukanlah kekuatan, malainkan taktik., ujar Raikusa. Benedict yang pingsan tentu tak mendengar apapun yang dikatakan Raikusa. Sepertinya aku terpaksa melakukan ini. Kau tak bisa di ubah lagi., gumam Raikusa. Ia telah berusaha membujuk sahabatnya itu berulang kali, namun Benedict tetap pada pendiriannya untuk memihak Zot e Ferrot. Raikusa lalu mengarahkan telunjuknya ke arah Benedict, dan terlihat sinar berwarna biru melesat. Sinar itu mengenai tubuh Benedict dan membakarnya dengan api berwarna biru. Dalam sekejap tubuh Benedict terbakar dan menjadi abu. Maafkan aku. Aku tak ingin melihat kau terus melakukan kesalahan., gumam Raikusa dengan air mata mengalir di kedua pipinya.

XXIII DUA

Edward tengah berjalan bersama para penyihir yang menyertainya. Tak ada pengarahan yang ia berikan, semuanya sudah dia sampaikan ketika berada dikota Azezura. Itu mereka., ujar Edward menunjuk kearah sebuah camp. Semua penyihir

yang menyertainya segera maju untuk menyerang. Tapi sepertinya pihak musuh sudah menyadarinya, mereka berlari bergerombol kearah Edward dan para penyihir yang menyertainya. Edward segera merentangkan tangannya dan terlihat sebuah busur terbentuk dari energi sihirnya. Ia lalu menarik tali busur hingga batas maksimal. Sebuah anak panah muncul dan Edward segera melepaskan anak panah tersebut. Menunduk!!, teriak Edward. Semua penyihir berjubah hitam dengan lambang teratai dipunggungnya segera menunduk ditanah. Anak panah yang dilepas Edward tampak semakin membesar setelah melewati para penyihir yang menyertainya. Anak panah berwarna perak itu mengarah kepada segerombolan musuh yang tengah berlari. Anak panah Edward langsung mengenai mereka semua dan membuat mereka tewas seketika. Anak panah itu terus melesat sampai seseorang yang berjubah putih menangkisnya. Ia adalah Sertafh, pemimpin camp sekaligus penyihir berbintang satu. Para penyihir lain muncul dibalik Sertafh, jumlah mereka dua kali lipat dari yang pertama. Mereka langsung melancarkanrkan serangan. Serangan tersebut mengenai beberapa penyihir berjubah hitam dengan lambang teratai dipunggungnya yang masih menunduk ditanah. Penyihir pihak Edward pun segera berdiri dan membalas serangan. Edward segera berlari untuk melawan Sertafh, tampak sebuah pedang sinar berwarna biru kini berada ditangannya. Setelah berada dihadapan Sertafh, ia segera melayangkan serangan. Sertafh mengelak serangan Edward dengan memiringkan badannya kearah kiri. Ia lalu membalas serangan Edward dengan melayangkan cahaya berwarna ungu. Edward segera mengelak dan menyerang Sertafh, kali ini terlihat pedangnya semakin membesar. Sertafh tak mengelak, ia menangkap pedang Edward dengan tangan kananya. Energi sihir berwarna biru menyelubungi tangannya. Pedang Edward langsung menghilang dan Edward mundur beberapa langkah. Sertafh segera melancarkan serangan balik. Edward menangkisnya dengan tangan kiri. Iapun lalu tampak mengeluarkan sebuah cambuk. Edward lalu melayangkan cambuknya kearah sertafh. Sertafh

menghindarinya dengan cara berjongkok dan melepaskan serangan balasan. Edward

segera mengelak dan merubah cambuknya menjadi busur, lalu melepaskan anak panah kearah Sertafh. Sertafh menangkisnya seperti tadi. Edward lalu berganti senjata lagi menjadi pedang. Ia lalu menyerang Sertafh sekali lagi. Sertafh tidak mengelak, ia melancarkan serangan balasan ketika Edward sudah hampir mecapainya. Edward yang terkejut tak dapat mengelak, ia terkena serangan Sertafh dan terpental cukup jauh. Edward terlihat tengah pingsan dengan keadaan tubuh menghadap langit. Sertafh lalu berjalan menghampirinya dan telunjuknya segera diarahkan ke Edward. Tiba-tiba dari tangan Edward keluar sejumlah energi sihir yang membentuk tombak dan langsung menghunus ke perut Sertafh hingga tembus ke punggung. Sertafh terkejut, ia lalu mundur beberapa langkah, namun tombak Edward masih belum lepas dari tubuhnya. Lalu tampak sejumlah energi sihir mengalir dari tangan Edward yang membuat tombaknya semakin besar dan membuat lubang ditubuh sertafh juga semakin membesar hingga akhirnya tubuhnya terputus. Edward tampak berdiri dan tersenyum. Betapa bodohnya kau. Aku tak akan pingsan karena seranganmu. Seluruh tubuhku terselimuti energi sihir yang membentuk baju yang keras dan kuat ., ujar Edward kearah tubuh musuhnya. Tiba-tiba sebuah cahaya melesat kearah kepala Edward. Edward yang tak menyadari ini, langsung terkena serangan. Kepalanya tampak mengeluarkan cahaya berwarna merah, dan iapun tersungkur. Cahaya tadi segera hilang dari kepalanya. Lihat, aku berhasil membunuh Edward!! Aku akan mendapatkan hadiah dari Zot e Ferrot., ujar seseorang yang tadi menyerang Edward. Namun, baru saja ia merayakan kemenangannya, ia sudah terkepung oleh para penyihir berjubah hitam. Secara serentak mereka mengeluarkan mantra. Cahaya yang berwarna-warni segera mengenai tubuh orang tersebut, dan tubuhnyapun meledak. Tak ada musuh yang tersisa, namun Edward juga ikut tewas. Sedang para penyihir yang menyertainya hanya tinggal dua puluh atau mungkin dua puluh lima orang.

XXIV TIGA

Magie dan penyihir yang menyertainya tengah berada ditengah-tengah pertarungan sengit di camp Mariana Joseph. Telah lama mereka bertempur dan

hingga pasukan musuh terlihat tinggal sedikit, namun tak ada sedikitpun tanda-tanda kehadiran Mariana Joseph. Magie terus bertempur, tapi ia tak bisa mengeluarkan kekuatannya secara penuh karena akan mengenai orang-orang dipihaknya. Cahaya mantra tampak melayang kesana kemari, pihak musuh yang sebagian besar adalah penyihir bintang dua memberikan perlawanan yang sengit. Ketika pertarungan akan mencapai akhirnya, tiba-tiba angin yang sangat kencang menerbangkan semua yang ada di sana. Kecuali Magie, semua orang yang tadi berada di sana telah menghilang. Dari arah angin itu datang, tampak terlihat seorang wanita tua berdiri dengan angkuhnya. Mariana Joseph., gumam Magie. Mariana Joseph hanya tersenyum kearah Magie. Ia lalu mengeluarkan sejumlah petir dal;am satu rentangan tangan dari telunjuknya yang tentu saja mengarah kearah Magie. Magie segera mengangkat tangannya, terlihat sebuah dinding tanah yang cukup besar menghalangi sihir Mariana Joseph dan petir yang tadi melayang ke arah Magie pun lenyap. Magie menurunkan tangannya hingga dinding tanah tadi turun secara perlahan. Haha, kau masih cekatan., ujar Mariana. Ya, walau tulangku sebenarnya sudah mulai sering nyeri tapi aku masih tetap bisa membalas seranganmu., sambut Magie tenang. Mariana tampak tertawa terbahak-bahak. Selera humormu meningkat hey kakek tua., ujar Mariana kembali serius. Mariana sebenarnya kesal dengan Magie. Sepuluh tahun lalu, ia masih menjadi penyihir terkuat di dunia sihir. Namun sepuluh tahun lalu setelah Magie mengalahkannya dalam duel satu lawan satu, posisinya tergeser oleh Magie. Mungkin itu jugalah alasannya bergabung dengan Zot e Ferrot. Mariana lalu menyerang Magie dengan energi sihirnya yang berbentuk api. Magie terlihat tersenyum simpul. Ia merentangkan tangan kanannya dan menerima api Mariana. Api tersebut seperti tersedot ke tangan Magie. Mariana langsung menghentikan serangannya dan berlari ke arah Magie. Magie masih terpaku ditempatnya, ia tak bergeming sedikitpun. Mariana segera mengangkat tangannya dan mengarahkannya kearah Magie. Tampak cahaya berwarna hitam keluar dari jari telunjuknya. Magie membalasnya dengan mengangkat tangannya dan terlihat cahaya

putih keluar dari jarinya. Cahaya hitam dan putih segera beradu dan menimbulkan ledakan yang sangat besar. Tubuh Magie dan Mariana tampak terpental. Mariana langsung berdiri, dan terlihat Magie telah berdiri mendahulinya di kejauhan. Huh, tak kusangka kau bisa mematahkan sihir yang diajarkan oleh Zot e Ferrot. Sihir apa yang kau gunakan?, teriak Mariana geram. Magie tampak tenang. Sorot matanya tak memperlihatkan tanda-tanda ketakutan atau meremehkan. Itu adalah sihir dewa Apolo., jawab Magie. Keduanya terdiam. Mariana tampak memusatkan sejumlah energi sihir ditangannya, dan ia langsung melepaskan sebuah bola besar berwarna hitam dengan kecepatan tinggi kearah Magie. Magie segera mengelak dengan terbang keatas. Bola hitam itu lalu mengenai sebuah bukit kecil di sisi gunung Diabrua. Bukit itu langsung hilang tak berbekas. Sungguh menakutkan., gumam Magie tetap tenang. Mariana yang melihat hal itu merasa bahwa dirinya tengah diejek oleh Magie. Marianapun segera terbang dan berdiri sedikit diatas Magie. Kau pikir bisa mengalahkanku kakek tua? Haha, kau tak akan bisa melakukannya sekarang., ujar Mariana. Ia lalu segera melesatkan cahaya hitam kearah Magie. Magie lalu terbang menyongsong cahaya hitam itu. Tampak cahaya hitam itu terbelah dengan Magie berada ditengah-tengahnya. Seluruh tubuh Magie memancarkan cahaya berwarna putih. Ia lalu terus terbang kerah Mariana, dan ketika berada didekat Mariana ia melesatkan cahaya berwarna ungu kearah Mariana. Marianapun mengerahkan cahaya hitam sekali lagi untuk melawan serangan Magie. Kedua cahaya tampak beradu dan cahaya hitam menghancurkan cahaya ungu dan terus melesat jauh. Mariana yang terfokus kearah serangan Magie tak menyadari bahwa Magie kini berada dibelakangnya. Magie lalu menyerang Mariana dengan cahaya berwarna perak. Cahaya itu lalu mengenai tubuh Mariana. Mariana lalu terjatuh ke tanah. Dari tubuh Mariana yang masih tersadar, tampak cahaya hitam beterbangan. Mariana tampak menjerit kesakitan, setelah tak ada lagi cahaya hitam yang keluar dari tubuhnya iapun terdiam dengan posisi berlutut. Magie lalu segera mendarat tepat didepan Mariana. Sekarang sihir Zot e Ferrot telah hilang darimu., ujar Magie. Mariana tampak bermenung dalam keadaan berlutut. Kenapa kau tak membunuhku saja?,

gumam Mariana. Aku tak akan tega melakukannya. Kau hanya buta karena kekalahanmu waktu itu., jawab Magie. Mariana tertegun, ia sadar apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Ia teringat ketika pertama kali bertemu Magie. Bagaimana ia dan Magie selalu tertawa bersama, ketika mereka saling menceritakan pengalaman, dan ketika mereka bersama-sama melatih beberapa penyihir bintang lima. Namun semua hilang ketika Mariana mengajak Magie berduel satu lawan satu. Dialah yang bersalah, semua itu bukanlah kesalahan Magie. Andai saja ia mendengarkan Magie untuk tidak berduel, tentu semuanya tidak akan seperti ini. Kau benar Magie, aku telah buta., ujar Mariana. Magie tampak tersenyum, senyumnya lembut seperti biasa. Tidak, ini adalah takdir., ujar Magie. Mariana tampak ikut tersenyum. Kau memang kakek tua yang bijak Magie., ujar Mariana. Ya,, kaulah yang mengajariku dulu, kau ingat?, sambut Magie. Magie lalu mengulurkan tangannya kearah Mariana. Mariana menyambut tangan Magie sambil tersenyum.

XXV EMPAT

Para centaur tengah bertarung dengan para penyihir yang dipimpin oleh Cerena, penyihir bintang satu yang selama ini selalu disanjung oleh para Centaur karena dia selalu memberikan perhatian penuh pada mereka. Perhatian yang ia berikan itu karena ia dulu diasuh dan dibesarkan oleh para Centaur. Yang ada dibenak

para centaur saat ini adalah menghancurkan seseorang yang telah memberikan kekecewaan pada mereka. Cerbai tengah kesulitan menghadapi Cerena yang bahkan tak serius menghadapinya. Bagaimana Cerbai? Lebih baik kau berhenti melawan dan segera memihak kepada Zot e Ferrot., ujar Cerena menawarkan. Tidak! Aku tidak sudi berpaling dan mengkhianati teman-temanku sepertimu., jawab Cerbai. Cerena tampak tersenyum, lalu menyerang Cerbai dengan sinar berwarna merah. Cerbai menangkis dengan pedangnya, namun kekuatan sihir tersebut sangat kuat. Ia lalu terpental dan menabrak pohon dibelakangnya. Jika kau tak ingin bergabung, maka aku akan membunuhmu., ujar Cerena dengan nada serius. Ia lalu mengarahkan jari telunjuknya kearah Cerbai yang tengah kesulitan mengambil nafas. Ketika energi sihir tengah mengalir ketangannya, tiba-tiba sebuah cahaya berwana kuning melesat kearah Cerena. Cahaya itu langsung mengenai tubuhnya dan iapun terpental. Dengan samar-samar Cerbai melihat sesosok bayangan tengah berdiri menghadap ke arahnya di kejauhan. Cerbaipun kemudian pingsan. Cerena lalu berdiri dengan darah mengalir di mulutnya. Sialan kau Raikusa!! Dasar kau pengkhianat., ujar Cerena geram. Raikusa berdiri dengan tenang. Ia segera mendatangi tempat pertempuran keempat setelah memenangkan pertempuran sebelumnya. Tentu saja setelah ia selesai menangisi sahabatnya. Hm.. dia bukanlah lawanmu., ujar Raikusa. Cerena segera berlari kearah Raikusa sambil melepaskan beberapa mantra secara beruntun. Raikusa segera menangkis serangan-serangan itu dengan tangannya. Tampak cahaya-cahaya yang mengarah kepadanya berbelok dan menghantam tanah serta pohon didekatnya. Cerena yang sudah dekat dengan Raikusa segera menyerangnya sekali lagi. Dengan sigap Raikusa mengelak dan kembali ke posisinya semula. Cerena berhenti berlari ketika sudah berada dibelakang Raikusa. Ia lalu menyerang Raikusa dari belakang. Raikusa segera merunduk dan serangan Cerena sekali lagi meleset. Cerena adalah yang terlemah diantara tujuh penyihir bintang satu. Raikusa lalu berdiri dan berbalik. Ia langsung melancarkan serangan balasan kearah Cerena. Tampak cahaya biru melesat dari jarinya. Cerena segera meloncat untuk

mengelak. Ia lalu melancarkan serangan sekali lagi. Kali ini petir keluar dari tangannya. Raikusa tampak mengelak sekali lagi dan serangan Cerenapun melewatinya. Sudahlah Cerena, kau tak akan mampu mengalahkanku., ujar Raikusa. Cerena tampak semakin gusar. Ia sadar bahwa kemampuannya berada jauh dibawah gurunya itu. Raikusa dan Cerena adalah guru dan murid. Dari Raikusalah Cerena belajar sihir ketika tidak ada seorangpun yang mau menerimanya. Dan kini ia melawan gurunya sendiri. Cerena lalu melancarkan serangan, kali ini ia menggunakan sihir Zot e Ferrot. Raikusa yang telah mengetahui kekuatan sihir ini sebelumnya segera meloncat kekiri untuk mengelak. Cerena kembali menyerang dengan sihir yang sama ketika Raikusa masih berada diudara. Raikusa lalu menggunakan energi sihirnya untuk melesat keatas. Kini tubuh Raikusa tengah melayang. Cerena memang ahli menggunakan sihir, tapi ia tak bisa terbang seperti gurunya. Ia lalu melesatkan serangan sekali lagi dengan bertubi-tubi dari atas tanah. Raikusa hanya menggerakan tubuhnya kekiri dan kekanan, serangan Cerenapun tak ada yang mengenainya. Nafas Cerena kini terengah-engah. Ia terlihat kelelahan setelah

mengeluarkan energi sihir yang sangat banyak. Sepertinya kau lelah Cerena. Kau mau beristirahat?, ujar Raikusa. Cerena langsung mengarahkan tatapan tajam kearah Raikusa. Ia terlihat geram dan kesal. Raikusa lalu menyerang Cerena yang masih terengah-engah. Cerena yang kehabisan tenaga tak dapat mengelak ataupun menangkis. Cahaya berwarna merah lalu mengenai tubuhnya dan iapun terpental menabrak pohon dibelakangnya. Ia masih tersadar, namun ia tak dapat bergerak. Nampak darah segar mengalir di bagian yang terkena serangan Raikusa. Raikusa turun dan mendarat dihadapan Cerena. Kau memang berbakat Cerena, namun kau terlalu emosional., ujar Raikusa kepada muridnya. Cerena tampak tersenyum kecut. Seandainya kau tak melakukan ini, kau masih bisa berkembang. Ah, sudahlah. Semua telah terjadi. Sekarang kau akan segera mati tanpa perlu ku sentuh., lanjut Raikusa. Cerena tampak menangis. Ia tahu bahwa gurunya sangat mengasihinya.

Seandainya ia tak bertemu Raikusa, mungkin ia tidak akan bisa mencapai apa yang kini telah diraihnya. Cerena tampak menarik nafas panjang, dan iapun segera menghembuskan nafas terakhirnya. Raikusa sekali lagi tampak menangis. Sudah dua orang yang sangat dekat dengannya tewas di tangannya. Tapi ia sadar, semua itu adalah hal yang harus ia lakukan demi keselamatan seluruh dunia.

XXVI LIMA

Pasukan penyihir yang berjumlah sangat banyak berhasil mengalahkan semua musuhnya yang memihak Zot e Ferrot yang berbintang rendah. Sebenarnya ini bukanlah sebuah kemenangan. Karena yang tersisa kini hanyalah sebagian dari jumlah awal mereka. Semua dari yang tersisa segera mengepung Rafael. Rafael

tampak tersenyum. Mereka yang mengepung Rafael segera menyerangnya. Tampak banyak sekali cahaya mantra mengarah kearah tubuh Rafael. Rafael mengangkat tangannya lalu semua mantra yang melesat kearahnya segera terhisap oleh tangannya. Ia lalu membalikan semua serangan itu. Cahaya dalam jumlah banyak melesat kearah semua penyihir yang telah mengepungnya. Dalam sekejap para penyihir tersebut langsung terjatuh. Sebagian tewas dan sebagian lagi pingsan. Rafael segera membalikan badannya dengan tersenyum. Tapi ia terkejut ketika melihat Magie dan Mariana telah berada dihadapannya. Bagaimana kabarmu Rafael?, sapa Mariana lembut. Rafael hanya terdiam. Ia sadar jika ia menghadapi dua orang didepannya maka ia akan kalah telak. Huh, kau juga mengkhianati Zot e Ferrot Mariana?, ujar Rafael. Mariana tampak tersenyum, dan Magiepun ikut tersenyum. Rafael hanya tersenyum kecut. Dari awal ia hanya mengikuti ibunya, Mariana. Kini tak ada pilihan lain selain dirinya ikut menyebrang untuk melawan Zot e Ferrot. Ibu, aku akan selalu menyertaimu., ujar Rafael. Ya, aku tahu. Aku telah membuatmu melakukan kesalahan yang sama denganku., ujar Mariana. Ah, sudahlah. Semua sudah berlalu. Lebih baik kita sekarang merawat mereka yang terluka., ujar Magie. Magie tahu bagaimana perasaan kedua orang didepannya. Mereka bertiga lalu berjalan ditengah-tengah tubuh para penyihir dengan bintang rendah untuk mencari yang masih selamat. Mereka lalu menyadarkan mereka dan membawa mereka ke dalam sebuah tenda besar yang masih berdiri. Keadaan di dalam tenda kini sangat kacau, tampak para penyihir yang terluka ada di sana-sini. Sedang Magie, Rafael dan Mariana tampak tengah mengobrol. Bagaimana keadaan di tempat Zot e Ferrot?, tanya Magie. Disana masih terdapat tiga orang lagi., jawab Rafael. Tiga orang lagi?, tanya Magie terkejut. Ia menyangka bahwa di sana hanya ada Zot e Ferrot. Ya, di sana masih ada Abeera Aroora yang baru saja bergabung., jawab Mariana. Magie tertegun. Ia tak tahu bahwa Abeera ternyata masih hidup dan memihak Zot e Ferrot. Zot e Ferrot

sebenarnya sudah menebak semuanya. Ia tahu bahwa Raikusa akan berkhianat dan berharap Raikusa akan tewas dibentengnya atau anak terpilih akan tewas ditangan Raikusa. Namun dugaannya meleset. Hal itulah yang menyebabkan Raikusa hanya diberi sedikit informasi., lanjut Mariana. Tapi tadi kau berkata ada tiga orang lagi, siapa lagi yang ada di sana?, tanya Magie. Kau pasti tidak mengetahui bahwa dari awal ada seorang pengkhianat diantara orang yang menyertai anak terpilih. Orang tersebut adalah Rawman sang peri pelindung. Dan satu orang lagi adalah Thomas yang sempat melarikan diri ketika guildnya diserang., terang Rafael. Magie tampak mengerti, namun ia masih tak mengerti dengan keberadaan Abeera. Jika memang ia masih hidup, ia tak akan berguna Bagi Zot e Ferrot. Kecuali jika Abeera sudah bisa menggunakan energi sihir.

XXVII FAKTA

Joolu dan teman-temannya tengah berlari menuju tempat Zot e Ferrot dipuncak gunung Deabrua dengan Aleoo yang menyertai mereka. Kini mereka telah berada didepan sebuah rumah besar yang tak terurus. Baru saja mereka melewati pintu gerbang, tiba-tiba muncul seseorang dibalik kegelapan. Samar-samar mereka memperhatikan sosok orang tersebut. Abeera! Kau masih hidup?, ujar Aleoo

terkejut. Ya, aku masih hidup. Bagaimana kabarmu Joolu? Dan bagaimana kabarmu anakku?, sapa Abeera. Keni tampak terdiam, perasaannya bergolak. Jika ayahnya berada disini, hanya ada satu kemungkinan. Ia telah memihak Zot e Ferrot. Kau,, tidak mungkin kau memihak Zot e Ferrot ayah. Aku lebih baik melihat kau mati dengan penuh kehormatan dari pada melihatmu yang sekarang., ujar Keni dengan air mata mengalir dipipinya. Abeera tersenyum. Kau tak tahu apa-apa Keni. Zot e Ferrotlah yang telah menyelamatkanku ketika aku hampir mati dulu. Kini aku hanya ingin membalas kebaikannya. Dan kalian, takkan bisa lewat lebih dari ini., ujar Abeera. Tampak sebuah pedang terbuat dari energi sihir ditangannya. Tidak, hanya akulah yang akan menghadapimu., ujar Keni lalu juga mengeluarkan energi sihir dan membentuk pedang. Yang lainnya tampak mengerti lalu mencoba berlari menerobos pintu masuk. Abeera segera berusaha menyerang mereka, namun Keni ternyata cukup cepat untuk menghentikan langkah Abeera. Joolu dan yang lainnya berhasil lolos dan masuk kedalam rumah tua itu. Pertempuran antara anak dan ayah ini seperti tak dapat di elakkan. Mereka terus melakukan jual beli serangan. Mereka terlihat seimbang, sampai akhirnya Abeera mengeluarkan energi sihir berwarna hitam yang kini membentuk pedang lainnya. Kini terdapat dua pedang energi sihir ditangan Abera. Keni lalu melakukan hal yang sama, ia lalu membuat pedang lainnya ditangan kirinya. Kini terjadi pertarungan dengan menggunakan dua pedang sihir. Abeera selalu menyerang dengan pedang yang berwarna biru, sedang yang berwarna hitam tampak hampir tak ia pergunakan. Keni kini terus memberikan serangan balik dan Abeera terus menangkisnya. Mereka benar-benar seimbang. Abeera lalu menghilangkan

pedangnya yang berwarna biru. Dan menyerang Keni menggunakan pedangnya yang tersisa. Keni menangkis dengan kedua pedangnya yang berwarna hijau. Namun, energi dari pedang hitam Abeera sangat kuat. Keni terpental beberapa meter. Sementara itu, Joolu dan teman-temanya beserta Aleoo terus berlari menyusuri lorong yang begitu besar. Namun sekali lagi muncul seseorang. Dia adalah Thomas, anggota guild Aswen yang berhasil melarikan diri. Elphias segera memberi

kode kepada yang lainnya untuk meninggalkannya bersama Thomas. Ia terlihat ingin menyelesaikan urusan yang belum selesai. Yang lainnya mengerti dan terus berlari. Sama seperti Keni dan Abeera, mereka segera melakukan jual beli serangan tanpa banyak bicara. Serangan pertama berasal dari Elphias, Thomas menangkisnya dengan tongkatnya. Kemudian Thomas segera mengerahkan serangan balasan, dan Elphias lalu mengelak dengan cara melompat. Kemudian secara serentak mereka mengeluarkan serangan. Cahaya merah dan biru beradu dan segera menghilang tanpa menimbulkan ledakan. Seperti sebelumnya, mereka berdua seimbang. Thomas tak tampak menggunakan sihir Zot e Ferrot. Itu bukan karena ia tak ingin menggunakannya, namun sihir itu hanya diberikan kepada lima orang penyihir bintang satu dan tentu saja juga kepada Abeera. Elphias segera berlari kearah Thomas dan melancarkan serangan yang bertubi-tubi. Thomas tak dapat mengelak, dan ia terkena salah satu dari serangan Elphias. Ia lalu terpental dan nampak darah segar mengalir dari mulutnya. Huh, kau ternyata cukup kuat., gumam Thomas. Thomas tampak segera berdiri dan langsung melancarkan serangan. Elphias yang tak menduga hal ini terkena serangan secara te;lak. Iapun terpental, dan terlihat darah segar juga mengalir dari mulutnya. Sekarang kita impas., ujar Thomas tersenyum. Sementara Elphias dan Thomas bertarung, Joolu dan yang lainnya masih terus berlari untuk mencapai tempat Zot e Ferrot. Ketika mereka hampir sampai ditempat Zot e Ferrot, tiba-tiba Rawman berlari mendahului mereka dan memaksa mereka berhenti. Kalian cukup sampai disini. Tak ada yang boleh melewatiku selain Joolu., ujar Rawman. Semua tampak terkejut, mereka tak tahu apa yang dimaksud oleh Rawman. Aku adalah sekutu Zot e Ferrot. Dari awal akulah yang memberitahu Zot e Ferrot tentang pergerakan kita. Sekarang dia hanya ingin menemui sang anak terpilih., lanjut Rawman. Yang lainnya tampak tertegun, mereka tak menyangka bahwa diantara mereka terdapat seorang pengkhianat. Aiger yang geram berusaha untuk menyerang Rawman, namun Rawman menangkisnya dengan sangat mudah. Tidak ada gunanya kalian memaksa, aku akan tetap menahan kalian disini hingga Zot e Ferrot

membunuh Joolu., ujar Rawman. Pergilah Joolu, biarkan kami yang menangani ini. Ayah rasa ini tak akan memakan waktu lama., ujar Aleoo menyuruh Joolu untuk pergi ketempat Zot e Ferrot. Joolu tampak mengangguk dan meninggalkan ayahnya beserta teman-temannya yang lain untuk menghadapi Rawman. Joolu lalu terus menyusuri lorong seorang diri dan berbelok kekiri. Ia telah mengetahui keberadaan Zot e Ferrot berdasarkan apa yang dikatakan Raikusa. Joolu kini tengah berdiri disebuah pintu besar, dibalik pintu itu Zot e Ferrot tangah menunggu kedatangannya. Tanpa ragu-ragu lalu Joolu membuka pintu tersebut. Terlihat seseorang yang terlihat kira-kira usianya berkisar pada angka dua puluh tahunan. Ah kau akhirnya datang. Akulah orang yang kau cari., ujar orang itu. Joolu sama sekali tak menyangka musuhnya masih sangat muda. Ia selama ini membayangkan Zot e Ferrot adalah orang yang sudah sangat tua karena umunyra yang sebenarnya sudah ribuan tahun. Kau terkejut? Para dewa tidak terpengaruh oleh waktu. Kau tahu itu?, ujar Zot e Ferrot. Joolu tanpa basa-basi segera menyerang Zot e Ferrot. Serangannya seperti tak ditanggapi oleh Zot e Ferrot. Zot e Ferrot hanya tetap berdiri dan serangan Joolu tepat mengenainya. Namun, tak terjadi apa-apa setelah itu. Apa kau benar-benar yang terpilih? Kau bahkan tak dapat melukaiku. Sekarang akan ku berikan kau sebuah kehormatan dengan memperlihatkan wujudku yang sebenanrnya., ujar Zot e Ferrot. Ia lalu mengembangkan kedua tangannya, dan tiba-tiba api menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia kini menjadi manusia yang tubuhnya dipenuhi dengan api. Kau lihat? Inilah aku. Seluruh tubuhku terbuat dari api yang sangat panas. Dengan kata lain seluruh tubuhku adalah apa yang kau sebut dengan energi sihir. Sihirmu tentu tak dapat mengalahkanku., ujar Zot e Ferrot kemudian tertawa. Joolu hanya terdiam, ia tak tahu bagaimana caranya melawan musuh yang tak berpengaruh ketika diserang dengan sihir. Ia lalu teringat sesuatu yang pernah diajarkan oleh Ayahnya. Itu adalah gerakan-gerakan bela diri suku Pompoloo. Ia sadar, jika ia tak dapat mengalahkan Zot

e Ferrot dengan sihir maka ia akan menggunakan cara lain. Joolu lalu menyelubungi dirinya dengan energi sihir yang sangat tipis yang bahkan hampir tak terlihat. Zot e Ferrot bingung melihat apa yang dilakukan Joolu. Joolu lalu berlari kearah Zot e Ferrot dan melayangkan sebuah tendangan, Zot e Ferrot terkejut namun ia masih bisa menangkis serangan Joolu dengan tangannya. Joolu lalu menarik kakinya dan melayangkan sebuah tinju keperut Zot e Ferrot. Kali ini Zot e Ferrot tampak mengelak dengan meloncat. Dengan tinju masih terkepal kedepan Joolu alu meloncat dan berputar untuk mengarahkan kakinya ke kepala Zot e Ferrot. Zot e Ferrot kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi ini, tapi ia masih bisa mengelak dengan melangkah kebelakang. Joolu meletakan tangan ditanah dan mendorong tubuhnya kearah Zot e Ferrot. Joolu menggunakan energi sihir untuk membantu mendorong tubuhnya, dan serangannya kali ini tepat mengenai dada Zot e Ferrot. Zot e Ferrot terpental dan mengenai tembok dibelakangnya. Tembok tersebut langsung retak, namun tidak roboh. Zot e Ferrot segera bangkit, namun ternyata Joolu telah melayangkan serangan lain. Kini sebuah tinju melayang ketubuh Zot e Ferrot. Sekali lagi Joolu menggunakan energi sihir untuk menambah kekuatan tinjunya dengan cara mendorong bagian punggungnya sendiri. Joolu lalu melakukan serangan bertubi-tubi ketubuh Zot e Ferrot yang kini tampak bersandar. Tubuh Zot e Ferrot tampak retak dan pecah, abunya beterbangan kemana-mana. Tembok yang menjadi tempat bersandarnyapun runtuh, kini terlihat langit malam yang sedang menunggu datangnya pagi dari ruangan itu. Joolu tampak terengah-engah. Ia mengeluarkan segenap tenaganya untuk serangan tadi.

XXVIII SERANGAN AKHIR

Keni tampak tengah tersudut oleh serangan ayahnya sendiri. Pedang hitam milik ayahnya sangat kuat, ia bahkan tak bisa menangkis serangan ayahnya itu walaupun sudah berkali-kali ia coba. Kini Abeera tengah berdiri didepan Keni yang tengah terduduk karena kelelahan menghindari dan menangkis serangannya. Tak ada sedikitpun raut kasihan tertera diwajah Abeera. Ia tampak seperti setan yang sangat

kejam. Kini Aberaa mengangkat pedangnya dan mengayunkannya kearah Keni. Tibatiba sebuah cahaya mantra menghentikan serangannya saat hampir mencapai leher Keni. Terlihat sosok Aiger dan Prime tengah berdiri agak jauh disamping Keni. Mereka lalu mengeluarkan serangan-serangan secara bersamaan dan bertubi-tubi. Abeera segera menangkisnya menggunakan pedangnya. Ia lalu berlari kearah Aiger dan Prime, namun tiba-tiba sebuah cambuk cahaya berwarna hijau mengikat kakinya dan menghentikan langkahnya. Aiger dan Prime segera memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Abeera. Abeera terkejut, namun ia segera memotong cambuk cahaya Keni dengan pedangnya dan melompat untuk menghindar. Tiba-tiba saja sebuah pedang cahaya berwarna merah telah menghunus perutnya. Terlihat Keni telah berdiri dibelakangnya dengan memegang pedang tersebut. Keni lalu mencabut pedangnya dan Abeerapun tersungkur. Pedang hitam milik Abeera segera menghilang, dan ia tampak membalikan badan dan tersenyum. Kau benar-benar hebat Keni. Maafkan aku.., ujar Abeera kemudian

menghembuskan nafas terakhirnya. Keni menangis, air mata mengalir deras dipipinya. Aiger dan Prime yang melihat ini segera berjalan menghampiri Keni. Keni yang menyadari kehadiran Aiger dan Prime segera menghapus air matanya dan mencoba untuk terlihat tegar. Kenapa kalian ada disini? Dimana Joolu?, ujar Keni. Aiger dan Prime tampak terdiam. Rawman berkhianat. Kami berhasil mengalahkannya, namun ayah Joolu telah tewas ditangan Rawman., jawab Prime dengan tampang sedih. Aleoolah yang membuat kami bisa mengalahkan Rawman. Ia mengorbankan nyawanya untuk membunuh pengkhianat itu., ujar Aiger geram. Keni tampak terdiam, ia kini merasa semakin sedih. Ia sedih bukan karena telah membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri, melainkan karena ayahnya ternyata adalah orang jahat. Selain itu ia juga sedih karena memikirkan perasaan Joolu ketika mengetahui ayahnya meninggal. Lalu bagaimana dengan yang lainnya?, tanya Keni sekali lagi tanpa memperlihatkan kesedihannya. Mereka sedang membantu Elphias melawan Thomas

yang ternyata memiliki kemampuan hampir seperti Bintang satu., ujar Prime. Sebaiknya kita segera kesana dan menolong mereka., sambut Aiger. Mereka lalu berjalan memasuki rumah dihadapan mereka dan meninggalkan jasad Abeera. Kini mereka telah sampai ditempat pertarungan teman-teman mereka dengan Thomas. Elphias dan yang lainnya tampak terengah-engah. Keni lalu membuat busur dengan tangannya dan segera melesatkan anak panah kearah Thomas. Thomas yang menyadari hal ini segera menangkisnya dengan tangan kirinya. Aiger lalu melesatkan mantra secara bertubi-tubi kearah Thomas, namun Thomas masih bisa menangkis serangan-serangan tersebut tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya. Lalu tiba-tiba Keni dan yang lainnya menyerang secara bersamaan dengan serangan yang bertubitubi namun tak berpusat kesatu arah sehingga tak memberikan celah bagi Thomas untuk mengelak. Thomas yang tak memiliki tempat untuk mengelak terkena serangan tersebut dan tubuhnya tercerai-berai kesana kemari. Keni dan yang lainnya segera menghentikan serangan karena menyadari kemenangan mereka. Thomas sebenarnya belum mencapai bintang satu, ia hanya hampir mencapainya. Sehingga tentu saja ia masih tidak terlalu kuat dan masih sedikit pengalaman dalam hal bertarung dengan musuh banyak sekaligus. Joolu masih berdiri ditempatnya, mengamati puing-puing tubuh Zot e Ferrot yang masih membara. Tiba-tiba puing-puing tubuh Zot e Ferrot bergetar dan saling mendekat. Secara perlahan bergerak saling mendekat dan menyatu shingga terbentuk sesosok tubuh. Ternyata Zot e Ferrot belum mati. Ia kembali kewujudnya yang membara. Haha, kau cukup menarik. Kali ini aku akan serius., ujar Zot e Ferrot setelah tubuhnya kembali. Terlihat api ditubuh Zot e Ferrot semakin membara dan berkobar kesana kemari dengan begitu hebat. Lalu api itu berhenti dan berubah warna menjadi api biru. Aku sekarang tak akan bisa kau sentuh walau kau melindungi tubuhmu dengan energi sihir., ujar Zot e Ferrot tertawa. Joolu lalu menyerang Zot e Ferrot dengan serangan seperti sebelumnya. Ia melayangkan tinjunya, dan mengenai tubuh Zot e Ferrot. Tapi kali ini tak berpengaruh apa-apa pada Zot e Ferrot. Terlihat

Joolu segera menarik tangannya dan mengibas-ngibaskannya. Tangan Joolu melepuh, energi sihir yang menyelimuti tubuhnya tak berfungsi sedikitpun. Kini ia tampak tengah berpikir, namun tiba-tiba Zot e Ferrot menyerang Joolu dengan apinya. Api itu berhasil dihindari Joolu. Joolu lalu memusatkan energi sihirnya dan mengalirkannya kearah tangannya yang terluka. Perlahan tapi pasti, tangannya yang terbakar berangsur sembuh. Ia lalu teringat akan kata-kata ayahnya, Tubuh Zot e Ferrot terbuat dari api kebencian, kau hanya harus memadamkannya.. Joolu lalu mengangkat kedua tangannya dan terlihat sebuah bola udara lalu menyelubungi tubuh Zot e Ferrot. Bola udara itu terus berputar dan berputar dengan sangat cepat sehingga bagian tengahnya menjadi ruang hampa udara. Seperti apa yang dibacanya ketika berada di Azezura, api tak akan ada jika tak ada udara. Itulah taktik terakhir Joolu, ia ingin memadamkan api Zot e Ferrot dengan membuatnya berdiri ditengah ruangan hampa udara. Perlahan api ditubuh Zot e Ferrot tampak berubah menjadi merah dan akhirnya padam. Kini terlihat wujud Zot e Ferrot sebagai manusia tengah kesulitan untuk bernafas. Ingat Joolu!! Walau aku sekarang berhasil kau kalahkan, tapi Zot e Ferrot lain akan segera datang dan membawa dunia ini menuju ke kehancurannya!!! Hahaha!!!, teriak Zot e Ferrot sebelum tubuhnya berubah menjadi abu dan terbang tak bersisa. Joolu tak tersenyum menyambut kemenangannya. Ia sadar banyak korban yang jatuh akibat peristiwa ini.

XXIX KEMENANGAN

Setelah pertempuran berakhir, semua yang selamat segera berkumpul di kota Azezuraa. Semua orang telah hadir kecuali Joolu dan teman-temannya. Raiukusa,

Magie, Mariana Joseph, Rafael, dan yang lainnya tengah berkumpul pada sebuah ruangan yang dipakai untuk pertemuan sebelumnya. Namun kali ini yang terisi hanyalah sebagian. Edward tak terlihat karena ia memang sudah tewas. Apakah kita akan menyusul mereka?, ujar Raikusa. Tidak, kita akan menunggu sebentar lagi., sambut Magie tenang. Yang lainnya tampak terdiam. Aku tak menyangka Edward akan tewas., gumam Magie kemudian. Itu adalah takdir. Edward memang peri pelindung yang tangguh, namun ia tetap tak dapat menghindari maut., sambut Mariana menanggapi gumaman Magie. Sekutu kita juga banyak yang tewas. Cerbaipun terluka parah. Kini kita hanya berharap pengorbanan mereka tidak siasia., sambung Raikusa. Ketika suasana sedang serius, tiba-tiba tampak seseorang memasuki ruangan itu. Ia adalah seorang penyihir bintang tiga yang menyertai Raikusa. Mereka kembali. Joolu dan teman-temannya telah kembali., ujar orang itu. Magie dan yang lainnya segera berdiri dan berjalan keluar. Digerbang rumah yang dijadikan markas, tampak Joolu dan yang lainnya tengah berjalan. Tentu saja tanpa kehadiran Rawman dan Aleoo. Joolu telah mengetahui kematian ayahnya, namun ia tetap tersenyum. Ia tahu ayahnya tidak mati sia-sia. Ayahnya telah menjadi seorang pahlawan ditengah kekacauan. Magie dan yang lainnya segera menyambut kedatangan mereka. Selamat datang Joolu., sambut Magie. Joolu hanya tersenyum. Pakaiannya tampak sobek disana-sini. Bagaimana keadaanmu Magie?, tanya Joolu. Aku baik-baik saja, namun Edward tak lagi bersama kita., jawab Magie. Keni yang merupakan murid Edward tampak terkejut, airmata langsung mengalir dipipinya. Setelah ia membunuh ayahnya, berita kematian Edward membuatnya semakin sedih. Joolu, aku rasa kita harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang., ujar Keni menutupi keedihannya. Joolu hanya terdiam bingung dengan ucapan Keni. Kau benar Keni, kita harus bersiap-siap sebelum dia kembali., sambut Magie. Maksudnya?, Tanya Joolu. Ini semua belum berakhir, jawab Magie singkat.

XXX KEDAMAIAN

Joolu tengah duduk dibelakang sebuah meja. Ia tampak tengah mengenang kejadian setahun lalu ketika ia mengalahkan Zot e Ferrot. Joolu kini menjadi kepala

suku menggantikan ayahnya. Ayahnya ternyata telah memberi tahu kepada Stevan bahwa jika ia tewas, maka Joolu yang akan menggantikannya. Anak-anak suku Pompoloo kini mulai belajar lagi untuk menggunakan energi sihir. Magielah yang menjadi guru mereka. Keni masuk keruangan Joolu, ia tampak tersenyum. Kau sedang sibuk Joolu?, tanya Keni dengan wajah imutnya yang seperti biasa. Hum,, tidak, aku hanya sedikit merenung., jawab Joolu. Bagus!! Kalau begitu kau bisa ikut aku!, ujar Keni lalu menarik lengan Joolu. Joolu mengikuti Keni yang terus berjalan menuju gerbang desa. Keni lalu menghentikan langkahnya ketika sudah sampai didepan gerbang desa. Ia lalu bersiul, dan muncul Rooi dari dalam hutan. Aku ingin mengajakmu pergi berkeliling. Aku sering merasa bosan akhir-akhir ini karena kau terlalu sibuk., ujar Keni. Ya, boleh., ujar Joolu singkat. Mereka lalu menaiki punggung Rooi dan terbang mengelilingi berbagi tempat. Wajah mereka tampak bahagia ditengah-tengah kedamaian.

BIODATA PENULIS

NAMA LENGKAP NAMA PANGGILAN

: CHASDIAN SHAH : CHAS

TEMPAT/TANGGAL LAHIR : JAKARTA/07 AGUSTUS 1993 NOMOR TELPON NOMOR HP ALAMAT : (0751)765725 : 085272561038 : Jln. PARAK LAWEH NO.8 LUBUK BEGALUNG PADANG MOTIVASI RIWAYAT PENDIDIKAN : KEHIDUPAN ADALAH PERJUANGAN : - SDN 06 PULAU AIR (2004) - SMPN 17 PADANG (2007) - SMAK PADANG (2011) - UNIVERSITAS ANDALAS (2011-SEKARANG)