Anda di halaman 1dari 59

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit (Sunarko, 2006). Perkembangan disektor pertanian khususnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia semakin pesat, untuk itu dibutuhkan tenaga-tenaga terampil dan berwawasan global, dan juga harus didukung dengan pendidikan agar berimbang demi menciptakan tenaga kerja yang professional, berkualitas, serta berkompeten di bidang perindustrian kelapa sawit. Politeknik ketapang sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mempunyai program pendidikan Diploma III dengan waktu pendidikan selama 6 semester. Sebagai ahli Madya, lulusan Politeknik diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan, cerdas, terampil, dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Salah satu cara agar lulusan politeknik dapat dengan mudah langsung beradaptasi dalam lingkungan kerja, maka diadakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) (Anonim, 2013). Praktek kerja lapangan (PKL) merupakan salah satu kurikulum wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa Diploma III Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Ketapang. Selain untuk memenuhi kewajiban

akademik, diharapkan kegiatan tersebut dapat menjadi jembatan penghubung antara dunia industri atau perusahaan dengan dunia pendidikan serta dapat menambah pengetahuan tentang dunia industri sehingga mahasiswa akan mampu mengatasi persaingan di dunia kerja. Tuntutan akan peningkatan kompetensi, keahlian, dan profesi bidang ilmu terapan menjadikan pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan di PT. Gunajaya Karya Gemilang menjadi sarana pencapaian baik di dalam dunia industri maupun pendidikan.

1.2 Tujuan Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah sebagai berikut : 1. Membandingkan serta mengaplikasikan teori-teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan praktek kerja nyata di lapangan. 2. Mengetahui proses pengolahan kelapa sawit menjadi crude palm oil (cpo) dan kernel. 3. Mengetahui pengawasan proses pemanenan kelapa sawit yang baik dan benar.

1.3 Manfaat Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan praktek kerja lapangan adalah sebagai berikut : 1. Mahasiswa mampu menerapkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya selama di bangku perkuliahan, dan mendapatkan timbal balik ilmu terapan yang diperolehnya dari lapangan baik dalam sistem manajemen perusahaan, proses produksi, administrasi, dan lain-lainnya.

2. Memperoleh pengalaman kerja serta sebagai pengenalan awal dalam memasuki dunia kerja nantinya. 3. Sebagai bahan penelitian dan penulisan laporan praktek kerja lapangan.

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Gambaran Umum Perusahaan PT. Gunajaya Karya Gemilang merupakan bagian dari perusahaan Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Group, dan merupakan perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit serta pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO) dan Kernel. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2007, yang terletak di Desa Banjar Sari Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat. Perusahaan ini memiliki luas perkebunan 17.000 ha. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki pabrik pengolahan kelapa sawit sendiri yang bernama Kendawangan Mill (KNDM) dan berdirinya pabrik tersebut pada 2 januari 2011 dengan luas pabrik 12 ha. Bumitama Gunajaya Agro Group (BGA Group) adalah kelompok perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan pabrik kelapa sawit. BGA Group adalah salah satu divisi usaha dari Harita Group, yang berawal dari akusisi PT. Karya Makmur Bahagia (KMB) pada tahun 1997. Seiring dengan penambahan perusahaan baru pada tahun 2004 dibentuk kelompok perusahaan di bawah manajemen PT. Bumitama Gunajaya Agro yang kemudian dikenal dengan BGA Group. Saat ini BGA Group beroperasi di empat propinsi yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Riau. Perusahaan ini telah menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan perkebunan kelas dunia asal Malaysia. Kerja sama yang dimulai pada November 4

2007 dimaksudkan untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit seluas 82.350 ha di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dengan memiliki dua perusahaan, yaitu PT. Gunajaya Karya Gemilang dan PT. Gunajaya Ketapang Sentosa.

2.1.1 Visi dan misi perusahaan 1. Visi: "Menjadi Perusahaan Berkelas Dunia". 2. Misi: 1. Keuntungan bagi pemegang saham. 2. Manfaat dan kualitas hidup bagi karyawan. 3. Berkontribusi bagi Negara.

2.1.2 Struktur organisasi Struktur organisasi adalah suatu susunan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada suatu orang atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan pekerja antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktifitas dan fungsi dibatasi. Tugas dan wewenang dari masing-masing jabatan pada Struktur Organisasi Pabrik Kelapa Sawit Kendawangan Mill PT. Gunajaya Karya Gemilang (PKS Kendawanagan Mill, PT. G.K.G) adalah sebagai berikut : 1. Kepala Wilayah (Kawil) Kawil atau kepala wilayah merupakan pimpinan tertinggi dalam struktur organisasi Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya gemilang. Kawil mempunyai 5

tugas dan wewenang sebagai pengawas seluruh staf karyawan, baik mill manager, assisten, dan seluruh staff karyawan di miill maupun di kebun. 2. Mill Manager (Manajer Pabrik) Mill Manager mempunyai tugas mengendalikan operasional pabrik kelapa sawit, dengan memadukan sumber daya yang ada, untuk mencapai efisiensi, produktifitas dan kualitas yang tinggi yang ditetapkan menajemen. Tanggung jawab Mill Manager adalah : a. Memberikan pengarahan kepada bawahan yang menjadi tanggung jawabnya dalam mempersiapkan rencana kerja dan angaran PKS. b. Memastikan bahwa semua sarana operasi/produksi dan sarana penunjang lainnya terpelihara secara optimal untuk menjamin kelancaran produksi. c. Memastikan mutu bahan baku/TBS yang akam diolah dan telah melalui proses sortasi yang benar dan dapat dipertangung jawabkan. d. Tercapainya penghematan dalam kegiatan produksi dan pendayagunaan sumber daya secara efisien. e. Mengontrol pelaksanaan pembersihan dan persiapan pengolahan agar jadwal kerja dapat terlaksana dan tepat waktu sesuai standar operasi PKS. f. Senantiasa memonitor pembuangan limbah dalam batas ambang yang sudah di tentukan. g. Terlaksana pelaksanaan rencana kerja (bulanan, triwulan dan tahunan). h. Koordinasi dengan KTU dalam hal pengolahan administrasi pabrik. i. Melakukan pemahaman, petunjukan serta pembinaan mengenai peraturan dan kebijaksanaan perusahaan. 6

j. Menjaga nama baik dan rahasia perusahaan. 3. Asisten Proses Tugas Asisten proses adalah sebagai pemimpin dalam unit kerja bagian departemen proses pabrik kelapa sawit (PKS) dalam mengorganisir,

mengendalikan sumber daya yang ada, guna mencapai proses dengan lancar dan efisien untuk memaksimumkan pencapaian hasil crude palm oil (CPO) dan inti yang baik. Tanggung jawab asisten proses meliputi hal-hal berikut : a. Membuat rencana angaran tahunan untuk bagian proses pabrik untuk dibahas dengan pemimpin. b. Melakukan pemeriksaan masing-masing alat/mesin di setiap stasiun (loading ramp, sterilisasi, thresher, press, kernel, boiler, engine room, dan klarifikasi) water treatment, final effluent, dan lain-lain dalam kondisi kerja yang baik. c. Membuat laporan tandan buah segar (TBS) yang sudah diolah setiap harinya. d. Memastikan setiap saat pembungan limbah cair (effluent). e. Koordinasi dengan kebun / afdeling dalam hal kualitas tandan buah segar yang dikirim ke pabrik. f. Memastikan terpasangnya setiap rambu-rambu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di setiap tempat yang strategis. g. Memberi masukan dan pengarahan sistem pekerjaan yang baik dan benar guna keselamatan karyawan. h. Mengawasi posisi dan kondisi inventaris perusahaan baik alat pabrik dan perumahan agar tetap baik dan tidak menggangu kelancaran operasional. i. Menjaga nama baik dan rahasia perusahaan. 7

4. Asisten Laboratorium Tugas Asisten Laboratorium adalah sebagai pemimpin dalam unit kerja laboratorium/analisis untuk penerimaan TBS dan pemeriksaan mutu yang di hasilkan untuk menghasilkan mutu CPO dan inti yang baik. Tanggung jawab asisten laboratorium yaitu : a. Membuat rencana anggaran tahunan untuk bagian labotarium untuk dibahasan dengan pemimpin. b. Membuat rencana analisis sesuai dengan pengolahan di pabrik. c. Mengecek ketepatan hasil test dan segera mengambil tindakan sebagai reaksi atas kesalahan. d. Mengawasi pengambilan contoh/sampel. e. Penjaga pengeluaran CPO/kernel dari Storage Tank atau Bulk silo penjualan. f. Memeriksa secara berkala kualitas air minum karyawan. g. Membuat laporan proses produksi secara up to date setiap hari, mingguan, dan bulanan. h. Memberikan informasi mutu CPO dan inti kepada atasan. i. Memberikan masukan dan pengarahan sistem pekerjaan yang baik dan benar guna keselamatan karyawan. j. Mengawasi posisi dan kondisi inventaris perusahaan baik alat pabrik dan perumahan agar tetap baik dan tidak menganggu kelancaran operasional. k. Menjaga nama baik dan rahasia perusahaan. 5. Asisten Maintenance Tugas Asisten Maintenance sebagai pemimpin dalam perawatan pabrik dan sarana untuk merencanakan, mengorganisir, dan mengendalikan sumber daya yang ada, guna mencapai proses kerja pabrik yang optimal dalam mencapai target 8

jam kerja maupun mutu dari CPO dan kernel. Tanggung jawab asisten maintenance adalah : a. Membantu atasan dalam menyusun pembuatan anggaran maintenace. b. Mengawasi para pekerja dalam perbaikan alat dan pemeliharaan preventif supaya berjalan dengan baik. c. Mengatasi semua mesin yang tidak beroperasi dan memperbaiki kembali dalam waktu sesingkat mungkin. d. Mengawasi penerapan dan instalasi dalam pabrik bejalan dengan baik agar proses pengolahan berjalan dengan baik. e. Memonitor keadaan fisik bangunan pabrik dan lantai loading ramp. f. Memastikan terpasangnya setiap rambu-rambu K3 disetiap tempat yang strategis. g. Membuat laporan kerusakan dari seetiap stasiun. h. Memberikan masukan dan pengarahan sistem pekerjaan yang baik dan benar untuk keselamatan karyawan. i. Mengawasi posisi dan kodisi inventaris perusahaan, baik alat maupun perumahan agar tetap baik dan tidak mengganggu kelancaran operasional. j. Menjaga nama baik dan rahasia perusahaan. 6. Kasie Kasie memiliki tugas untuk mencatat serta mengurus administrasi mengenai pengeluaran keuangan yang menyangkut perusahaan, baik gaji karyawan, maupun yang lainnya. 9

Skema Struktur Organisasi PKS Kendawangan Mill PT. GKG dapat dilihat pada gambar 2.1 di bawah ini :

Kawil

Mill Manager

Ass. Proses Shift I

Ass. Proses Shift II

Ass, Maintenance

Ass. Laboratorium

Kasie

Sumber: PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PKS Kendawangan Mill, PT.GKG Berdasarkan struktur organisasi di atas dapat dilihat bahwa jabatan Kepala Wilayah (Kawil) merupakan pimpinan tertinggi di Pabrik Kelapa Sawit Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang.

2.2 Produk Yang Dihasilkan Produk yang dihasilkan PT. Gunajaya Karya Gemilang berupa minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dan kernel, yang berasal dari pabrik kelapa sawit Kendawangan Mill. Sedangkan di kebun menghasilkan tandan buah segar (TBS). a) Crude Palm Oil (CPO) adalah minyak yang berasal dari hasil ekstraksi daging buah kelapa sawit. b) Kernel adalah produk sampingan dari hasil pengolahan kelapa sawit.

10

Spesifikikasi mutu produk yang dihasilkan PT. Gunajaya Karya Gemilang dapat dilihat pada Tabel 2.1, di bawah ini : Tabel 2.1 Spesifikasi mutu CPO dan Kernel Kriteria Uji Mutu minyak sawit : %Moisture %Dirt %FFA Mutu kernel : %Moisture dalam limit %Dirt dalam limit %Kernel pecah
Sumber: PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

Standar

Max 0,150% Max 0,015% Max 3,00% 6,0 7,0% 5,0 6,0% max 15%

Berdasarkan tabel di atas, spesifikasi mutu atau standar mutu dari produk yang dihasilkan PT. Gunajaya Karya Gemilang yang berupa crude palm oil (CPO) adalah dengan kadar moisture (kadar air) maksimal 0,150%, dirt (kadar kotoran) maksimal 0,015%, dan free faty acid (FFA) maksimal 3,00%, sedangkan pada kernel standar mutunya adalah dengan Moisture (kadar air) dalam limit berkisar antara 6,0-7,0%, dirt (kadar kotoran) dalam limit berkisar anatara 5,0-6,0%, dan Kernel pecah maksimal 15%.

2.3 Teknologi Proses Produksi 2.3.1 Bahan baku 1. Bahan Baku Utama Bahan baku pengolahan kelapa sawit merupakan tandan buah segar (TBS) yang berasal dari dalam kebun PT. Bumitama Gunajaya Agro Group Wilayah VI dan VII yaitu dari PT. Gunajaya Karya Gemilang dan PT. Gunajaya

11

Ketapang Sentosa, serta pembelian bahan baku dari luar kebun Estate yaitu kebun Koperasi Unit Desa (KUD). Kriteria bahan baku berdasarkan tingkat kematangan dan persen (%) brondolan lepas yang dibagi dalam beberapa golongan sebagai berikut : a. Buah mentah Kategori buah mentah adalah bila tidak ada brondolan yang lepas dari janjangan sampai dengan brondolan lepas sebanyak 4 brondolan per janjang. b. Buah kurang matang Kategori buah kurang matang adalah bila hanya ada 1 brondolan per kg berat janjangan yang lepas sampai batas buah matang. c. Buah matang Kategori buah matang adalah bila ada 2 brondolan per kg berat janjangan yang lepas sampai batas kriteria buah terlalu matang. d. Buah terlalu matang Kategori buah terlalu matang adalah bila 75% brondolan lapisan luar telah lepas. e. Janjangan kosong Kategori janjangan kosong adalah bila tidak ada brondolan dalam janjangan/tandan. f. Parthenocarpie/buah pasir Kategori buah pasir adalah bila 75 % brondolan di janjangan merupakan brondolan gagal pembuahan/penyerbukan. Bentuk brondolan kecil dan tidak ada minyaknya. 12

g. Hard bunch/buah keras Kategori buah keras adalah bila tidak ada brondolan yang lepas walaupun dibanting, ujungnya pecah - pecah dan bentuk brondolan agak bulat. Tabel kriteria bahan baku yang akan di olah, dapat dilihat pada Tabel 2.2, di bawah ini : Tabel 2.2 Tabel Kriteria Buah Kriteria a. TBS Buah Mentah Buah Kurang Matang Buah Matang Buah Terlalu Matang Janjangan Kosong Total Buah Normal Buah Pasir Buah keras Total Buah Abnormal Brondolan lepas Brondolan busuk Tangkai panjang ( > 2,5 cm ) Kotoran BJR < 3,5 kg Buah Dura b . Kerusakan akibat digigit tikus Tidak rusak Kerusakan ringan Kerusakan berat Target Unripe Under Ripe Ripe Over Ripe Empty Bunch Parthenocarpie Hard bunch 0% Max. 5 % Min. 85 % Max. 5 % Max. 1 % 96% Max. 1 % Max. 3 % Max. 4 % Min. 7 % Max. 5 % 0% Dirty 0% 0% 0%

Rotten Lossen Fruit

Min. 95 % Max. 5 % 0%

Sumber: PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat standar jumlah bahan baku utama pengolahan kelapa sawit (tandan buah segar) yang akan diolah di pabrik kelapa sawit sesuai kriteria seperti buah matang, buah kurang matang, buah abnormal, buah dengan tangkai panjang, kebersihan, buah busuk, buah rusak, buah terlalu

13

matang, buah pasir, janjang kosong, brondolan lepas, brondolan busuk dan sebagainya. 2. Bahan Baku Pembantu Bahan baku pembantu dalam proses pengolahan kelapa sawit di Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang merupakan air pengolahan. Air tersebut berasal dari waduk yang telah mengalami pengolahan pada stasiun Water Treatment sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan boiler dan beberapa stasiun lainnya.

2.3.2 Teknologi pengolahan kelapa sawit Proses pengolahan kelapa sawit menjadi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) adalah proses ekstraksi CPO secara mekanis dari tandan buah segar (TBS) diikuti dengan proses pemurnian. Secara keseluruhan proses tersebut terdiri dari beberapa tahap proses yang berjalan secara berkesinambungan dan terkait satu sama lain. Stasiun yang berada di Pabrik Kelapa Sawit Kendawangan Mill PT. Gunajaya Karya Gemilang adalah sebagai berikut : 1. Stasiun Fruit Reception / Penerimaan Stasiun ini adalah Stasiun yang mengatur penerimaan TBS / barang dan pengeluaran hasil produksi / barang yang terdata. Secara garis besar ada tiga tahap kegiatan dalam stasiun penerimaan yaitu, meliputi : a. Pemeriksaan dan Pelaporan Truk tiba di PKS dan dilakukan pencatatan data dan pemeriksaan unit truknya maupun kelengkapan dokumen, seperti surat pengiriman buah (SPB). 14

b. Jembatan Timbang / Penimbangan Kapasitas maksimal jembatan timbang adalah 40 ton, kegiatan di jembatan timbang meliputi : 1. Truk Muat TBS Truk yang masuk ke pabrik ditimbang pertama di jembatan timbang, didapat berat Brutto. Setelah ditimbang, TBS dibongkar dari truk di penerimaan (hopper/lantai loading ramp) dan diteruskan ke jembatan timbang untuk penimbangan tarra kendaraan. Setelah penimbangan tarra didapat berat netto TBS, truk meninggalkan PKS. 2. Truk muat CPO atau Kernel Truk kosong yang masuk ditimbang pertama, didapat berat tarra, truk ke loading sheet / gudang kernel isi CPO atau kernel, kemudian timbang kedua didapat berat brutto. Setelah penimbangan berat brutto maka akan didapat berat netto CPO / kernel. c. Penampungan Proses penampungan terbagi menjadi dua macam, yaitu : 1) Penampungan sementara di Loading Ramp (TBS) TBS dipindahkan dari hopper loading ramp ke lori siap untuk direbus. Loading ramp berfungsi sebagai tempat penimbunan TBS dan sortasi. Dari jembatan timbang, buah di bawa ke tempat penerimaan buah. Sortasi dilakukan untuk memastikan bahwa buah masuk berada dalam kondisi yang optimal untuk

15

diekstrak minyaknya. Sudut kemiringan ramp adalah 45oC. Sortasi dilakukan berdasarkan fraksi buah. 2) Pengisian produksi ke truk (CPO dan Kernel) Pengisian produksi CPO dilakukan di loading sheet dan untuk kernel dilakukan di gudang kernel atau kernel bin. 2. Stasiun Sterilizer / Rebusan Stasiun ini adalah tempat Proses perebusan tandan buah segar (TBS) dengan menggunakan panas dari uap yang bertekanan, secara konveksi dan konduksi. Sterilizer adalah suatu bejana yang berfungsi untuk merebus TBS (tandan buah segar) dengan memakai uap bertekanan 2,8 bar. Sterilizer yang digunakan adalah horizontal sterilizer, kapasitas rebusan adalah 48 ton (4 buah lori) dengan sistem perebusan triple peak (tiga puncak), dengan tekanan pada puncak pertama adalah 1,5 bar, tekanan pada puncak kedua adalah 2-2,5 bar, tekanan pada puncak ketiga adalah 2,8-3 bar, dan pemanasannya dengan menggunakan steam (1350C dengan waktu 80 95 menit). Buah yang telah direbus bersama lori kemudian dituangkan ke bunch conveyor menggunakan tippler yang selanjutnya ditransfer ke threser. Hasil dari perebusan selain diperoleh tandan hasil rebusan juga diperoleh kondensat. Dimana terdiri dari material air dan minyak (bercampur sludge dan kotoran). Air akan teruapkan melalui blowdown (cerobong) sedangkan minyak (bercampur sludge dan kotoran) akan dikirim ke bak kondensat untuk dikutip minyaknya. Tujuan dari perebusan adalah: a) Memudahkan melepasnya berondolan dari janjangnya (bunch stalk).

16

b) Menonaktifkan enzym-enzym lipase yang dapat menyebabkan kenaikan Free Fatty Acid (FFA) c) Melunakkan berondolan untuk memudahkan pelepasan/pemisahan daging buah dari nut di digester. d) Memudahkan proses pemisahan molekul-molekul minyak dari daging buah (di stasiun press) dan mempercepat proses pemurnian minyak (di stasiun klarifikasi) e) Mengurangi kadar air biji sawit (nut) sampai <20%, sehingga meningkatkan efisiensi pemecahan biji sawit (nut). Hal-hal yang mempengaruhi rebusan: a. Tekanan steam dan lama perebusan. Tekanan steam dan lama perebusan sangat menentukan hasil perebusan, juga mempengaruhi efisiensi pabrik. Tekanan uap dan waktu yang tidak cukup akan berpengaruh terhadap: 1) Buah kurang masak, brondolan tidak bisa lepas dari tandan dengan sempurna pada saat proses di bantingan (thresher). 2) Pelumatan di digester kurang sempurna, karena sebagian daging buah sulit lepas dari nutnya, sehingga juga akan berpengaruh terhadap proses pengempaan (press). 3) Ampas fiber basah sehingga mengganggu proses pembakaran pada boiler, karena fiber nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar boiler. 4) Merusak mutu minyak dan inti. b. Pembuangan udara dan air kondensat.

17

Udara dan air kondensat dalam bejana jika tidak dikeluarkan secara maksimal akan terjadi pencampuran udara dan uap (turbulensi) yang mengakibatkan pemindahan panas ke dalam buah tidak sempurna, sebab udara dan air kondensat (uap yang terkondensasi sisa hasil rebusan) dapat mengganggu kenaikan uap (steam) yang masuk ke bejana Siklus perebusan Tandan Buah Segar (TBS) tampak pada gambar 2.2 di bawah ini :

Sumber: PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

Gambar 2.2 Siklus Perebusan TBS 3. Stasiun Thresher / Bantingan Threser merupakan drum yang berputar dengan kecepatan putaran 23-25 rpm yang berfungsi untuk pemipilan atau penebahan tandan setelah dari stasiun perebusan. Pemipilan adalah pemisahan brondolan buah dari janjangnya. Prinsip kerja pada threser 1 dan 2, buah masuk dari ujung drum menuju ujung drum satunya lagi ke dibantu oleh expeller arm (ulir) yang berada di bagian dalam threser dengan sudut kemiringan 15o, sehingga janjangan akan terbanting, buah akan membrondol dan tandan menjadi janjangan kosong. Fungsi expeller 18

arm selain sebagai pendorong, juga berfungsi untuk mempermudah janjangan terangkat ke atas drum. Terjadi 8 kali bantingan tandan di dalam setiap threser. Diameter threser 3 m, panjangnya 4 m. Brondolan yang terpipil jatuh ke under threser conveyor 1 dan 2, kemudian ke bottom cross conveyor, inclined fruit elevator,dan terakhir melalui distribution fruit elevator untuk didistribusikan ke digester, sedangkan janjangnya menuju empty bunch press untuk dipress minyaknya. 4. Stasiun Press / Kempa Stasiun ini memiliki 2 alat yaitu Digester dan Screw press. Digester merupakan bejana yang berfungsi untuk melumatkan brondolan dengan bantuan pisau pencincang atau pelumat dengan kapasitas 3500 Liter. Di dalam bejana digester terdapat 5 tingkatan pisau pencincang yang tersusun berselang seling pada suatu poros, dan satu tingkatan pisau pendorong yang terletak di bagian dasar bejana supaya masuk ke ruang press. Kecepatan putaran pisau ini adalah 57 rpm, dimana jenis-jenis pisau itu adalah: 1) Expeller arm, berfungsi sebagai pisau pendorong yang letaknya dibagian dasar digester. 2) Long arm, berfungsi menekan lumatan buah ke bawah. 3) Short arm, berfungsi menekan lumatan buah ke atas Digester merupakan pengadukkan berondolan dari thresher sampai homogen. Untuk mempermudah proses pengadukkan, diperlukan steam dengan suhu 85-90oC. Prinsip kerja digester yaitu: pertama-tama brondolan masuk melalui distribution fruit conveyor ke digester sebanyak volume. Brondolan dilumatkan

19

selama 15 menit sebagai umpan, kemudian katup penghubung digester dan press dibuka sehingga lumatan masuk ke screw press. Screw press berfungsi untuk memisahkan minyak kasar dari daging buah. Di dalam press ada 2 batang baja dengan ulir spiral (screw) yang saling berputar berlawanan arah. Lumatan bergerak ke arah depan menuju tekanan hidrolik yang berasal dari dua buah cone sebagai penahan hingga minyak terekstrak. Tekanan hidrolik tersebut sebesar 60-70 bar. Screw diselubungi oleh selubung baja yang disebut press cage, dimana pada dindingnya berlubang-lubang, melalui lubanglubang tersebut minyak yang telah terekstrak akan keluar sedangkan ampasnya akan keluar melalui celah cone. Kapasitas press adalah 15 ton/jam. Pada proses pengempaan atau pengepresan ditambahkan air panas untuk pengenceran (water dillution) dengan suhu 90oC sebanyak 15-20% sehingga massa bubur buah (lumatan) yang dikempa tidak terlalu rapat. Jika massa bubur buah (lumatan) terlalu rapat maka akan dihasilkan cairan minyak dengan viskositas tinggi yang akan menyulitkan proses pemisahan ataupun pengendapan kotoran. Minyak yang terekstrak akan ditampung sementara di oil gutter dan langsung dialirkan ke sand trap tank. Fungsi dan tujuan dari stasiun ini adalah : a) b) Mengkondisikan berondolan sebelum ke press. Mengekstraksi minyak semaksimal mungkin dari daging buah dengan Nut pecah seminimal mungkin. c) Menghantar press cake dan Nut ke cake breaker conveyor untuk dipisahkan antara Nut dan Fibre di Depericarper.

20

d)

Menyeimbangkan pencapaian kapasitas / jam, dengan operasional press yang normal (disesuaikan kapasitas unit press yang terpasang).

5. Stasiun Clarification / Pemurnian Stasiun ini adalah tempat perlakuan proses penjernihan crude oil dari ekstraksi stasiun press, yang masih mengandung sejumlah kadar air, sludge dan lumpur, melalui tahapan-tahapan klarifikasi sehingga tercapai CPO dengan kuantitas yang maksimal dan kualitas sesuai target. Stasiun ini terdiri dari

beberapa unit alat pengolah untuk memurnikan minyak produksi, yang meliputi : Sand Trap Tank, Vibrating Screen, Crude Oil Tank, Continous Settling Tank (CST), Oil Tank, Vacum Dryer, Sludge Oil Tank, Sludge Vibrating Screen, Sludge Centrifuge, Fat Pit, dan Storage Tank. 1. Sand Trap Tank Minyak kasar (Crude Oil) dari stasiun press akan dialirkan ke sand trap tank melalui oil gutter. Di sand trap tank terjadi proses pengendapan pasir berdasarkan gravitasi. Suhu Sand Trap Tank adalah 90-95oC. 2. Vibrating Screen Minyak dari sand trap tank akan melewati vibrating screen atau ayakan bergetar. Vibrating screen yang digunakan adalah double deck vibrating screen, dimana screen pertama berukuran 20 mesh (untuk tingkat atas) dan 40 mesh (untuk tingkat bawah). Minyak yang terlewatkan akan terpisah menjadi 2 bagian yaitu minyak bercampur sludge, dan kotoran padat (serat). Minyak dan sludge akan masuk ke Crude Oil Tank (COT), sedangkan kotoran/ampas hasil saringan akan dikirim kembali ke digester melalui Sludge Conveyor untuk dipress kembali.

21

3. Crude Oil Tank (COT) Minyak yang keluar dari vibrating screen dialirkan ke crude oil tank untuk ditampung sementara. Pada crude oil tank ini minyak dipanaskan dengan steam melalui sistem pipa pemanas, dan suhu dipertahankan 90-95oC agar mudah terjadi pemisahan. Di dalam Crude Oil Tank terdapat 2 sekatan, sehingga terbentuk 3 bak. Minyak akan mengalir dari bak yang satu ke bak selanjutnya secara overflow. Sekatan ini bertujuan untuk mengendapkan sisa-sisa kotoran yang lolos berdasarkan prinsip gravitasi. Fase yang memiliki berat jenis lebih berat akan mengendap di dasar tangki sedangkan fase yang lebih ringan (minyak) akan berada di lapisan atas yang selanjutnya akan dipompakan ke Continous settling tank (CST). 4. Continous settling Tank (CST) Minyak dari Crude Oil Tank (COT) dipompakan ke Continous settling Tank (CST) dimana sebelumnya dilewatkan ke buffer tank agar aliran minyak masuk ke CST tidak terlalu kencang. CST bertujuan untuk mengendapkan lumpur (sludge) berdasarkan perbedaan berat jenisnya. Di CST suhu dipertahankan 8690oC. Minyak pada bagian atas CST dikutip dengan bantuan skimmer menuju oil tank, sedangkan sludge (yang masih mengandung minyak) pada bagian bawah dialirkan secara underflow ke sludge vibrating screen sebelum ke sludge oil tank. Sludge dan pasir yang mengendap didasar CST di blowdown untuk dibawa ke sludge drain tank. 5. Oil Tank Minyak dari CST ditampung ke oil tank sementara waktu sebelum dikirim ke storage tank. Pemanasan dilakukan dengan menggunakan Steam Coil

22

untuk mendapatkan temperatur yang digunakan adalah 75 80oC. Kapasitas Oil Tank adalah 5-7 Ton/Jam. 6. Sludge Tank dan Sludge Buffer Tank Sludge yang dialirkan secara underflow dari CST, melewati lagi vibrating screen sehingga terpisah menjadi kotoran padat dan sludge. Kotoran padat (solid) akan masuk ke bak solid. Sedangkan sludge akan masuk ke sludge tank. Pada tangki ini terjadi pengendapan sludge. Suhu di sludge tank dipertahankan hingga 90-96oC agar densitas minyak menjadi lebih rendah dan lumpur halus yang melekat pada minyak akan terlepas dan mengendap di dasar tanki. Buffer tank merupakan tangki umpan ke separator. Dari sludge tank, minyak kasar dipompakan ke sludge buffer tank sedangkan sludgenya yang telah mengendap dialirkan ke sludge drain tank. Ketinggian buffer tank dan suhu yang dipertahankan 90-98oC akan mempengaruhi kinerja separator. 7. Sand Cyclone Sand cyclone berfungsi untuk mengambil pasir halus yang masih terdapat di dalam sludge sebelum diolah oleh separator, agar peralatan pada separator dapat terbebas dari keausan dini. Pemisahan dilakukan dengan prinsip gaya sentrifugal dan tekanan rendah karena adanya perputaran untuk memisahkan materi berdasarkan perbedaan massa jenis, ukuran dan bentuk. Partikel dengan ukuran dan kerapatan yang lebih besar (pasir dan kotoran) akan terlempar ke bagian luar vortex. Gaya gravitasi menyebabkan partikel padat jatuh kesisi kerucut menuju pengeluaran ke bagian bawah (ceramic cone). Sedangkan partikel dengan ukuran dan kerapatan yang lebih kecil (sludge) akan terlempar ke bagian tengah dan dialirkan ke outlet sand cyclone menuju sludge distribusi untuk di alirkan ke separator. 23

8. Sludge Centrifuge atau Separator Sludge centrifuge atau separator merupakan alat yang berfungsi untuk memisahkan sludge dan minyak berdasarkan gaya sentrifugal. Kapasitas separator adalah 6 ton/jam. Di dalam sludge centrifuge ini terdapat bowl yang berputar dengan kecepatan 1.400 rpm, bowl ini berbentuk bintang yang diujungnya terdapat 12 nozzle dengan diameter lubang per nozzle 1,7 mm. Prinsip kerja Sludge Centrifuge adalah nozzle separator berputar dengan gaya sentifugal dimana pemisahannya yaitu fraksi berat (sludge, kotoran) akan terlempar ke dinding bowl dan fraksi ringan (air dan minyak) akan terkumpul ke tengah. Minyak yang mempunyai densitas lebih kecil akan menuju poros dan terdorong keluar, kemudian ditampung di Oil Recovery Tank. Sedangkan sludge (mengandung air) yang mempunyai densitas lebih besar akan terdorong ke bagian dinding bowl dan keluar melalui saluran pembuangan menuju fat pit. 9. Vacuum Oil Dryer Vacuum oil dryer merupakan ruangan hampa yang berfungsi untuk mengurangi kadar air pada minyak. Di dalamnya terdapat 16 nozzle dengan diameter 3 mm. Minyak dari oil tank yang masih mengandung air dipompakan oleh feed oil pump ke vacuum oil dryer. Prinsip kerja vacuum oil dryer adalah minyak melalui nozzle akan dikabutkan sehingga campuran minyak dan air tersebut akan pecah saat menyentuh payung di dalam vacuum. Suhu pada Vacuum oil dryer sekitar 95105oC, tujuannya untuk mempermudah pemisahan air dalam minyak. Air yang mudah menguap akan terhisap karena ruangan yang hampa dan dialirkan menuju hot weel tank sedangkan minyak yang memiliki titik didih lebih tinggi dari air 24

akan turun ke bawah melalui pipa dan kemudian dipompakan oleh dryed oil pump menuju storage tank. 6. Stasiun Nut & Kernel Stasiun ini merupakan tempat pengutipan kernel (kernel extraction), di stasiun ini terdapat beberapa alat yaitu : a. Cake Breaker Conveyor (CBC) CBC merupakan suatu screw conveyor yang pada tepinya dipasang plat persegi sebagai tempat terlemparnya fiber dan nut. CBC berfungsi untuk mengurai gumpalan fiber dengan nut sehingga fiber dan nut terpisah atau tidak menggumpal. Ampas yang terdiri dari fiber dan nut hasil dari pengepresan yang masih menggumpal masuk ke CBC 1 kemudian ke CBC 2, dan membawanya ke depericarper. b. Depericarper Depericarper adalah alat untuk memisahkan fiber dengan nut dengan bantuan fan. Fiber dan nut dari CBC masuk ke depericarper. Disini fraksi ringan yang berupa fiber dihisap fibre cyclone dan di angkut oleh fibre and shell conveyor sebagai bahan bakar pada boiler. Sedangkan fraksi berat berupa nut turun ke bawah masuk ke nut polishing drum. c. Nut Polishing Drum Nut polishing drum berupa drum yang berputar yang ujungnya berlubang-lubang dengan kecepatan putaran 17 rpm. Fungsi nut polishing drum adalah sebagai pemisah kotoran dari nut. Nut yang jatuh dari depericarper akan mengalami perputaran sehingga nut dan kotoran terpisah. Selanjutnya nut diangkut

25

oleh wet nut cross conveyor, wet nut transport, kemudian dihisap destroner cyclone menuju nut grading. d. Nut Grading Nut grading merupakan drum yang berlubang-lubang dengan 3 variasi lubang grading. Disini akan tergrading nut yang kecil 8-14 mm, sedang 15-17 mm, dan nut yang besar >18mm. e. Nut Bin Fungsi dari alat ini sebagai tempat penampungan nut dari nut grading. f. Ripple Mill Ripple mil merupakan alat yang berfungsi untuk memecah nut sehingga inti terlepas dari cangkang, dimana alat ini terdiri dari rotor atau silinder besi yang berputar (rotaring rotor) dan plat persegi yang diam (stationary plate). Nut dari nut bin masuk ke ripple mill di atur oleh fibrating feeders. Rotating rotor berfungsi sebagai alat pemecah, sedangkan stationary plate merupakan plat bergerigi tajam yang berfungsi sebagai landasan biji. Rotating rotor terdiri dari 30 batang rotor (riplle bar) yang terbuat dari high carbon steel. Nut masuk melalui rotor yang berputar sehingga akan terhimpit atau tertekan dinding stationary plate dengan kuat dan menyebabkan cangkang pecah. g. Light Tenera Dry Separating (LTDS) 1 dan 2 LTDS merupakan tempat pemisahan cangkang, serat/fiber dan kernel dengan bantuan fan. Dari ripple mill kernel akan dibawa oleh Cracked Mixture Conveyor dan Cracked Mixture Elevator menuju LTDS 1. Di LTDS 1 terdapat air lock yang berfungsi untuk mengunci udara sehingga bagian di bawah air lock tidak

26

akan tehisap oleh fan kecuali yang berasal dari umpan dan belum melewati air lock. Proses pemisahan terjadi, karena fraksi-fraksi yang lebih ringan (fiber dan cangkang ringan) akan dihisap oleh fan dan masuk ke LTDS cyclone. Fraksi berat (kernel) akan jatuh ke wet elevator dan dikirim ke kernel silo dryer. Dan fraksi yang agak berat (cangkang dan kernel sedang) akan masuk ke LTDS 2 yang juga memiliki air lock dan hisapan fan lebih ringan dibanding LTDS 1. Cangkang kembali terhisap LTDS cyclone, sedangkan kernel dan sebagian cangkang agak berat yang belum dipisahkan lagi pada claybath. h. Claybath Claybath adalah alat pemisahan kernel dengan cangkang berdasarkan perbedaan berat jenis. Proses pemisahan ini secara basah menggunakan larutan CaCO3 (500kg/shift), dan air. Claybath berfungsi sebagai larutan pemisah antara kernel dan cangkang berdasarkan berat jenis. Berat jenis Kernel = 1,1, berat jenis cangkang = 1,3 sehingga berat jenis CaCO3 yang dibutuhkan adalah = 1,2 dengan partikel CaCO3 lolos mesh 400. Fraksi yang ringan akan mengapung (kernel) dan fraksi yang berat akan tenggelam (cangkang). Kernel yang merupakan fraksi ringan akan melalui Wet Kernel Conveyor dan Wet Kernel Elevator menuju kernel silo dryer, sedangkan cangkang melalui Wet Shell Transport Fan akan dibawa ke shell bin sebagai bahan bakar boiler. i. Kernel Silo Dryer Kernel silo dryer merupakan tempat pengeringan kernel dengan menggunakan temperatur 60-70oC selama 4 jam. Kernel yang masih mengandung air perlu dikeringkan sampai kadar airnya 7%. Prinsip kerjanya udara panas dari

27

heater fan dihembuskan ke dalam kernel silo. Kernel yang telah dikeringkan ini akan di bawa oleh Dryed Kernel Conveyor ke Bagging Kernel untuk di kemas dan selanjutnya dipasarkan. 7. Stasiun Final Effluent / Limbah (termasuk Land Application) a. Bak Recovery Bak recovery merupakan bak yang terdiri dari 2 sekatan sehingga membentuk 3 bak yang berfungsi untuk pengendapan sludge atau tempat akhir pengutipan minyak yang memiliki suhu sekitar 80-90oC. Sludge ini berasal dari fat pit. Minyak yang masih bercampur sludge mengalir melalui atas sekatan ke sekatan lainnya dan masuk ke bak kontrol yang terletak di bagian paling ujung sekatan. Setelah minyak terkumpul di bak kontrol, dengan bantuan skimmer minyak dipompakan kembali ke sludge drain tank. Dari sludge drain tank dikirim ke Oil Recovery Tank, kemudian dipompakan kembali ke CST untuk pengendapan. Sedangkan sludge yang tertinggal di bak recovery akan dialirkan ke cooling pond, kemudian ke kolam limbah 1-8 untuk mendapatkan penanganan sebelum diaplikasikan ke lapangan sebagai pupuk limbah cair. b. Cooling Pond Cooling pond merupakan kolam pendinginan sludge yang berasal dari recovery. Proses pendinginan pada cooling pond yaitu melalui kontak udara secara langsung sehingga waktu pendinginan yang dibutuhkan berkisar 1 hingga 2 minggu. Apabila sludge pada cooling pond telah mencapai batas maksimal ketinggian penampungan kolam dan menyentuh alat level switte, secara otomatis sludge akan dipompakan ke kolam limbah.

28

c. Kolam Limbah Cair Kolam limbah cair yang digunakan ada 8. Limbah cair (Effluent) yang telah melalui proses pendinginan pada cooling pond akan dipompakan ke kolam limbah untuk mendapatkan penanganan di kolam limbah cair 8. Storage Tank / Tanki Timbun. Storage tank atau tangki timbun merupakan tempat penyimpanan terakhir minyak CPO sebelum dipasarkan atau dijual. Kapasitas storage tank adalah 2500 ton. Ketinggian storage tank adalah 10,9954 m. setiap hari dilakukan pengujian mutu (analisa FFA, moist, dan dirt), pengukuran suhu, dan sounding. Fungsi sounding adalah untuk mengukur ketinggian minyak sehingga dapat mengetahui hasil produksi minyak/rendemen hariannya. Alat yang digunakan dinamakan sounding tape. Suhu rata-rata di storage tank adalah 4050oC agar tidak terjadi pengendapan yang dapat mengakibatkan minyak mengalami pembekuan atau viskositas tinggi. Di dalam storage, terdapat pipa-pipa yaitu: pipa steam coil (bentuknya spiral) sebagai penyalur panas. Letaknya pada bagian dalam dasar tangki, dan pipa steam trap untuk mengeluarkan kondensat.

2.3.3 Teknologi Penanganan Limbah Limbah merupakan hasil samping yang dihasilkan dari proses pengolahan di pabrik. Limbah tersebut meliputi limbah padat, cair dan gas. 1. Limbah padat Limbah padat berupa cangkang, serat/fiber dan tandan kosong. Cangkang dan serat digunakan sebagai bahan bakar boiler, sedangkan tandan kosong diaplikasikan ke kebun sebagai pupuk organik kelapa sawit. 29

2. Limbah Cair Limbah cair merupakan hasil samping pengolahan crude palm oil (CPO), sebelum diaplikasikan ke lapangan, limbah cair ini harus diolah terlebih dahulu karena sifatnya yang asam dapat merusak pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Penanganan limbah cair yang dilakukan di Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang belum ditangani secara maksimal. Kolam limbah yang ada di Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang terdiri dari 8 kolam dengan kapasitas volume tiap kolam adalah 13.000 m3. Setiap kolam belum berfungsi sempurna, karena masih digunakan untuk perkembang biakan bakteri, limbah dari Cooling Pond bisa dialirkan ke kolam mana saja tergantung kebutuhan makanan bakteri anaerobic yang sedang dikembang biakkan. Hal-hal yang berhubungan dengan penanganan limbah cair yaitu sebagai berikut. 1) Menaikkan pH, untuk menaikkan pH biasanya ditambahkan abu pada kolam yang berasal dari pembakaran tandan kosong. Abu yang ditambahkan ditebarkan di sepanjang kolam. pH pada kolam 3 dan 4 biasanya masih 5. pH yang diharapkan adalah 6,5 hingga 7. 2) Alkalinity atau pemberian umpan untuk proses perkembangbiakan bakteri. Pemberian umpan ini dibutuhkan untuk perkembangbiakan bakteri. Bakteri yang dikembangbiakkan adalah bakteri anaerobik. Kapasitas umpan (sludge) terhadap bakteri harus tepat sekitar 0,02-0,15 F/M rasio dan diberikan setiap 1 jam sekali. 3. Limbah gas Limbah gas di Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang belum mengalami penanganan. Limbah gas bekas steam pemakaian langsung dialirkan melalui cerobong (blowdown) ke lingkungan, dan asap, abu serta CO2 hasil 30

pembakaran di boiler di buang langsung ke udara melalui cerobong asap (chimney). Diagram alir proses pengolahan minyak kelapa sawit dan kernel dapat dilihat pada gambar 2.3, di bawah ini :

Sumber:Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

Gambar 2.3 Flow Chart Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit (CPO) dan Kernel 31

2.3.4

Pengawasan Mutu Minyak Kelapa Sawit Standar spesifikasi mutu minyak produksi, kernel produksi dan losses

dapat dilihat pada Tabel 2.3, di bawah ini : Tabel 2.3. Spesifikasi Mutu Minyak, Kernel, dan Losses di Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang No Kualitas Produksi Standar 1 Mutu Minyak %Moisture Maks 0,15 % %Dirt Maks 0,015 % %FFA Maks 3,00 % 2 Mutu Inti/Kernel %Moisture dalam limit 6,0 7,0%. %Dirt dalam limit 5,0 6,0%. %Kernel pecah maksimal Maks 15%. 3 Oil Losses %kehilangan minyak di janjang maks 0,43%
kosong %kehilangan minyak di brondolan terikut di janjang kosong %kehilangan minyak di fibre %kehilangan minyak di nut %kehilangan minyak di final effluent maksimal maks 0,06%

maks 0,61% maks 0,05% maks 0,55%

Kernel Losses
%Kehilangan kernel di brondolan terikut di janjang kosong %kehilangan kernel di fibre maks 0,03% maks 0,14% maks 0,04% maks 0,03%

cyclone

%kehilangan kernel di LTDS %kehilangan kernel di claybath

Sumber: Kendawangan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui spesifikasi mutu minyak, kernel dan losses yang meliputi kadar FFA, Dirt, Moisture, serta losses minyak dan losses kernel.

32

BAB III RUANG LINGKUP PEKERJAAN

3.1 Deskripsi Kerja. Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di PT. Gunajaya Karya Gemilang, desa Banjarsari, kecamataan Kendawangan, kabupaten Ketapang, selama delapan minggu mulai dari 11 februari hingga 06 april 2013.

1. Minggu pertama tanggal 11-16 Februari 2013 Kegiatan pertama adalah penjelasan-penjelasan program praktek kerja lapangan kepada Manager Membuluh Sejahtera Estate (MSJE) dan pembagian tugas. Setelah pembagian tugas dan ditempatkan di divisi III dengan dipandu oleh mandor 1 untuk mengawasi proses pemanenan di blok L33-L35, blok M33-M40, dan blok N33-N45. Panen merupakan suatu kegiatan memotong tandan buah yang matang dan mengutip brondolan kemudian selanjutnya di kumpulkan ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH). Sistem penghancakan adalah suatu metode atau cara menempatkan karyawan (pemanen) pada suatu daerah (jalur) tertentu. Hancak artinya daerah kerja atau jalur tempat karyawan melaksanakan pekerjaan. Sistem yang digunakan adalah hancak tetap, yaitu sistem hancakan diamana mandor dan karyawan telah memiliki daerah yang telah ditentukan (hancak tetap), tidak boleh pemanen lain memasukinya kecuali sepengatahuan mandor. Dengan sistem ini rasa tanggung jawab pemanen akan lebih tinggi dan mandor panen akan lebih mudah dalam melakukan kontrol terhadap hasil pekerjaan karyawan. Pedoman yang digunakan untuk menentukan buah siap dipanen didasarkan pada jumlah

33

brondolan yang lepas secara normal, yaitu 1 brondolan per kg Tandan Buah Segar (TBS).

2.

Minggu kedua tanggal 18-23 Februari 2013 Kegiatan yang dilakukan adalah pemeriksaan ancak dan mutu buah di

Tempat Pengumpulan Hasil (TPH). Pemeriksaan ancak dan mutu buah di tempat pengumpulan hasil merupakan kegiatan pemeriksaan ancak, gawangan, dan jalur dengan mengecek per pokok panen pada suatu blok tertentu setelah proses pemanenan. pemeriksaan ancak dan mutu buah di tempat pengumpulan hasil bertujuan untuk mengetahui adanya brondolan tidak terkutip, jajang tinggal, pelepah sengkleh, buah busuk, tinggi rendahnya losses (kehilangan janjang maupun brondolan yang menyebabkan kehilangan minyak), serta kualitas tenaga kerja (pemanen). Minggu ketiga tanggal 25 Fabruari 2 Maret 2013 Kegiatan yang dilakukan yaitu menetapkan Taksasi Potong Buah. Taksasi potong buah adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperkirakan produksi pada esok hari. Dengan mengetahui perkiraaan produksi esok hari maka dapat menentukan jumlah tenaga kerja atau HK yang dibutuhkan dan jumlah alat transportasi (Truk/trailer) yang digunakan. Taksasi ini didasarkan pada prsentase kerapatan panen yang ditentukan dari hasil sensus panen. Sensus dilakukan sebesar 10 % dari pokok produktif pada areal yang akan dipanen esok hari (semakin banyak semakin akurat data yang diperoleh). Sebagai contoh, seksi (areal panen besok) terdiri dari 6 blok, dengan 3 mandoran, maka tiap mandoran memdapat 2 blok, tiap mandoran harus melakukan taksasi

3.

34

sebesar 10% dari tiap total pokok produktif pada 2 blok tersebut. Jadi jika luas satu blok adalah 33Ha, maka panen besok adalah 66Ha. Sensus dilakukan 10% dari 66Ha, yaitu 7Ha. Jika kerapatan /populasi tanaman=136pokok/ Ha, maka akan melakukan sensus pada 882 pokok.

4.

Minggu ke-empat 4-9 Maret 2013 Kegiatan yang dilakukan pada minggu ini yaitu, melakukan pengawasan

panen, taksasi potong buah, dan mengisi administrasi di kantor divisi.

5.

Minggu kelima tanggal 11-16 Maret 2013 Aktifitas yang dilakukan di kantor divisi III dipandu oleh krani panen.

Materi yang disampaikan tentang administrasi sistem panen yaitu pengawas biaya berupa formulir administrasi, organisasi panen, rotasi panen, dan pengawasan dan denda panen. Kemudian kegiatan dilanjutkan di lapangan yang dipandu oleh mandor panen. Kegiatan yang dilakukan yaitu menyaksikan pelaksanaan panen, alat panen, dan cara panen pada areal tanaman menghasilkan (TM). Untuk memanen seluruh buah yang sudah matang panen dengan mutu yang baik dan konsisten sehingga potensi produksi minyak dan inti sawit maksimal dapat dicapai hal ini merupakan tujuan panen. Oleh karena itu bila terjadi ada buah matang yang tidak terpanen, mutu buah yang tidak sesuai dengan kriteria matang panen dan buah yang dipanen tidak dapat segera dikirim ke pabrik, akan segera dicari solusinya. Agar sistem panen dapat dilakukan lebih efektif perlu dibuat uraian tanggung jawab yang jelas terhadap pemanen dan petugas yang berkaitan dengan pelaksanaan panen. Masing-masing petugas tersebut diberikan wewenang oleh Manajer, untuk memberikan denda kepada bawahannya bila bawahannya

35

melakukan kesalahan dalam pengawasan/sortasi. Bila ternyata masih sering ada buah yang lolos tidak disortasi di tempat pengumpulan hasil (TPH) dan dijumpai di loading ramp, Manajer bisa langsung melakukan sortasi di tempat pengumpulan hasil (TPH) dengan konsekuensi seluruh petugas tersebut dikenakan denda.

6.

Minggu ke-enam tanggal 18-24 Maret 2013 Kegiatan yang dilakukan meliputi pengawasan panen, taksasi potong

buah, dan mengisi administrasi di kantor divisi. Aktivitas selanjutnya yaitu dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Gunajaya Karya Gemilang. Kegiatan yang dilakukan adalah perkenalan dengan Asisten Kepala Kendawagan Mill, PT. Gunajaya Karya Gemilang, serta diskusi tentang pengolahan kelapa sawit. Kegiatan dilanjutkan dengan melihat secara langsung proses pengolahan kelapa sawit hingga menjadi crude palm oil (CPO).

7.

Minggu ketujuh 25-30 Maret 2013 Kegiatan selama di pabrik, yaitu mempelajari kegiatan di departemen

proses, meliputi jembatan timbang, sterilizer, threser, digester dan press, stasiun klarifikasi dan stasiun kernel, dan departemen laboratorium meliputi pengambilan sampel basah, sonding, analisa kadar air, kadar kotoran serta kadar asam lemak bebas.

8.

Minggu kedelapan 1 Maret-6 April 2013 Kegiatan yang dilakukan di laboratorium adalah mengikuti Sample boy

cairan, yaitu merupakan orang yang bertanggung jawab untuk melakukan pengambilan sampel cair atau khusus minyak. Selama di laboratorium, selain belajar melakukan pekerjaan analisa juga belajar dalam melakukan pengambilan 36

sampel basah untuk mengetahui losses minyak di beberapa titik tertentu seperti di separator 1,2,3,4,5,6, final efluent, kondensat sebelum recovery, kondensat setelah recovery, dimana pengambilan sampel ini dilakukan setiap 2 jam sekali setelah pabrik mulai beroperasi. Pengambilan sampel basah untuk menganalisa asam lemak bebasnya pada beberapa tempat oil produksi setelah Vakum drier,. Dan yang terakhir pengambilan sampel basah untuk menganalisa persentase minyak, sludge, air dan pasir dengan sistem sentrifugasi yaitu pada, Sludge underflow, COT, dan fat pit.

3.2 Sistem Penugasan Selama melalukkan PKL di PT. Gunajaya Karya Gemilang dari tanggal 11 februari 2013 s.d 20 maret 2013, penulis ditempatkan di divisi III Membuluh Sejahtera Estate (MSJE) PT.G.K.S, yang berlokasi di kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Penulis diberi tugas dan tanggung jawab sebagai pengawas (Pembantu Mandor Panen) di divisi tersebut oleh Asisten kebun divisi III. Tanggal 21 maret 2013 sampai dengan 6 April 2013, penulis ditempatkan di Kendawangan Mill (KNDM) PT. Gunajaya Karya Gemilang, serta ditugaskan langsung oleh asisten kepala di bawah instruksi Mill Manager untuk belajar di berbagai departemen kecuali departemen maintenance dan administrasi karena jangka waktu yang singkat untuk melanjutkan praktek kerja lapangan. Selama di pabrik kelapa sawit, penulis ditempatkan di departemen laboratorium.

37

BAB IV TUGAS KHUSUS/ PROBLEM SOLVING ANALISA ASAM LEMAK BEBAS (ALB) dari CPO FRESH, CPO OUTSPEC DAN CPO BLENDING DI KENDAWANGAN MILL PT. GUNAJAYA KARYA GEMILANG

4.1 Latar Belakang Masalah Mutu minyak sawit (CPO) dalam dunia perdagangan mempunyai arti yang sangat penting. Adanya bahan-bahan yang tidak semestinya terikut dalam CPO akan menurunkan mutu dan harga jualnya, maka perlu diupayakan agar kualitas CPO selalu dapat dijaga. Salah satu standar mutu CPO yang harus diperhatikan adalah kadar asam lemak bebasnya (Tim Penulis, P.S, 2000) Asam lemak bebas (ALB) adalah suatu asam yang dibebaskan pada proses hidrolisis lemak oleh enzim. Proses hidrolisis dikatalisis oleh enzim lipase yang juga terdapat dalam buah, tetapi berada diluar sel yang mengandung minyak. Jika dinding sel pecah atau rusak karena proses pembusukan atau karena pelukaan mekanik, tergores atau memar karena benturan, enzim akan bersinggungan dengan minyak dan reaksi hidrolisis akan berlangsung dengan cepat sehingga membentuk gliserol dan asam lemak bebas (Mangoensoekarjo, 2003). Pembentukan asam lemak bebas juga dapat terjadi oleh adanya mikroorganisme pada keadaan lembab dan kotor. Oleh sebab itu, pada saat pengolahan harus diperhatikan kondisi buah kelapa sawit yang akan diolah serta proses pengolahan dan peralatan yang baik. Hal ini dilakukan untuk menekan 38

produksi asam lemak bebas didalam minyak sawit (CPO) yang dihasilkan (Pahan, 2006). CPO yang dihasilkan setelah proses pengolahan akan disimpan sementara didalam storage tank (tangki timbun). Kadar ALB pada CPO akan selalu bertambah seiring dengan adanya penyimpanan CPO tersebut di dalam tangki timbun sebelum dipasarkan. Sebelum dipasarkan, harus terlebih dahulu dilakukan analisa untuk mengetahui kadar ALB dalam minyak sawit. Kadar asam lemak bebas yang memenuhi standar mutu PKS adalah maksimal 3,0% dan untuk eksport (perdagangan) adalah maksimal 5%. Asam lemak bebas pada CPO didalam storage tank tidak dapat dihilangkan, melainkan akan selalu bertambah terlebih dalam waktu penyimpanan yang cukup lama. Jika kadar ALB pada CPO > 5%, maka CPO tersebut sudah dinyatakan outspec atau melewati batas standar mutu dan tidak layak untuk dipasarkan. ALB pada CPO outspec tersebut dapat diturunkan dengan cara melakukan blending (pencampuran) dengan CPO yang memiliki kadar ALB rendah (CPO fresh), sehingga CPO outspec tersebut tidak bermutu rendah dan dapat dipasarkan kembali. Proses blending (pencampuran) CPO tersebut dilakukan dengan menggunakan rumusan secara teoritis, dan pada dasarnya akan menghasilkan kadar ALB CPO blending rendah dibandingkan dengan CPO sebelumnya (CPO ALB tinggi/ CPO Outspec). Akan tetapi setelah dilakukan proses pemblendingan dan di analisa, kadar ALB CPO blending menghasilkan nilai yang berbeda dengan kadar ALB CPO blending secara perhitungan (teoritis). Atas dasar inilah penulis ingin membuat tugas khusus yang berjudul Analisa Asam Lemak Bebas (ALB)

39

dari CPO Fresh, CPO Outspec, dan CPO Blending di Kendawangan Mill Pt. Gunajaya Karya Gemilang .

4.2 Tujuan 1. Mengetahui kadar ALB dari CPO Fresh, CPO Outspec, dan CPO blending. 2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan kadar ALB dari CPO blending secara analisa dan secara teoritis.

4.3 Permasalahan Permasalahan yang terjadi adalah sebagai berikut. 1. Berapakah kadar ALB pada CPO fresh, CPO outspec, dan CPO blending ? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan kadar ALB dari CPO blending secara analisa dan secara teoritis?

4.4 Pembahasan/Problem Solving Kadar asam lemak bebas CPO yang memenuhi standar mutu perusahaan adalah 3,0% dan untuk eksport (perdagangan) adalah 5%, dan merupakan CPO yang berada pada keadaan fresh. Namun, jika kadar ALB pada CPO > 5%, maka CPO tersebut sudah dinyatakan outspec atau melewati batas standar mutu dan tidak layak untuk dipasarkan lagi, namun CPO outspec yang memiliki kadar asam lemak bebas > 5% tidak mungkin dibuang begitu saja. Dan dilakukanlah proses blendingan CPO outspec dengan CPO fresh. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kadar asam lemak bebas pada CPO meningkat, diantaranya adalah kadar air dan kadar zat pengotor. Kedua faktor ini menyebabkan aktifitas enzim lipase dan oksidase yang terdapat pada

40

CPO meningkat. CPO yang diolah dengan peralatan yang tidak 100% bersih dapat menyebabkan banyaknya zat pengotor pada CPO, selain itu CPO tidak langsung dipasarkan melainkan disimpan terlebih dahulu di dalam tangki timbun (storage tank). Proses pemblendingan yang telah dilakukan, menunjukan kadar ALB pada CPO fresh yang diperoleh di PKS Kendawangan Mill adalah 4,41% yaitu sampel yang ada pada storage 2 dengan stok 1.953.208 kg, sedangkan kadar ALB CPO outspec adalah 6,83% dengan stok 141.818 kg yaitu sampel dari storage 1. Hasil analisa, menunjukkan bahwa kadar ALB CPO blending secara teoritis diperoleh 4,12% dan secara analisa diperoleh kadar ALB yang mengalami sedikit kenaikan yaitu 4,20%. Adanya perbedaan pada hasil akhir ALB secara analisa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya, pada saat proses pemblendingan/pencampuran, suhu pada storage 1 adalah 300C, sedangkan pada storage 2 adalah 540C. Seharusnya ketika melakukan pencampuran, harus dilakukan pada suhu 50C dan diaduk agar CPO blending tersebut homogen. Kesalahan pada proses pengadukan serta pengaturan suhu dapat menyebabkan kadar ALB CPO blending yang dihasilkan akan lebih besar karena CPO blending tersebut tidak homogen. Jika suhu yang digunakan lebih besar dari 50C, struktur CPO akan rusak. Sedangkan jika lebih kecil, CPO fresh dan CPO outspec tidak akan homogen dan justru mengarah pada hasil CPO blending yang tetap outspec, selain faktor tersebut, CPO outspec (ALB = 6,83%) yang sudah melewati batas standar mutu tersebut dapat diturunkan kadar asam lemak bebasnya dengan proses blendingan sehingga diperoleh CPO blending dengan standar mutu yang sesuai, yaitu 4,20%. 41

Tabel 4.1 Hasil Analisa Asamlemak Bebas (ALB) Berat Storage Volume Naoh sampel Normalitas Naoh tank (ml) (gr) Storage 2 3,0012 4,5 0,1017 (fresh) Storage 1 3,0092 7,9 0,1017 (outspec) Storage 2 3,0085 4,8 0,1017 (blending)
Sumber : Kendawangan Mill, PT.GKG (4-april2013)

%Alb 3,93% 6,83% 4,20%

Tabel 4.2 analisa harian CPO di storage tank Storage tank Storage 1 Storage 2 Storage 2 (setelah blending) Stock (kg) 141.818 1.953.208 2.095.026 Temperatur 300c 540c 480c

Sumber : Kendawangan Mill, PT.GKG (4-april2013)

4.5 Kesimpulan 1. Kadar asam lemak bebas (ALB) CPO outspec yang digunakan adalah 6,83% dan kadar ALB CPO fresh yang digunakan adalah 3,93%. Setelah dilakukan proses blending, maka diperoleh kadar ALB 4,20%. 2. Faktor yang mempengaruhi perbedaan kadar ALB dari CPO blending secara analisa dan secara teoritis diantaranya adalah suhu, dan proses pengadukan.

42

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan 1. Setelah melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PT. Gunajaya Karya Gemilang (GKG), Desa Banjarsari, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, diperoleh pengalaman serta ilmu pengetahuan secara langsung (praktek) tentang proses pengolahan kelapa sawit. 2. Proses pengolahan kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) di Kendawangan Mill meliputi tahapan-tahapan proses yang saling

berkesinambungan, unit-unit proses tersebut adalah : stasiun penerimaan buah,stasiun sterilizer, stasiun threser, stasiun press, stasiun klarifikasi, storage tank. 3. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pengawasan panen kelapa sawit adalah pusingan potong buah, taksasi potong buah, dan Quallity Control ancak dan mutu buah di TPH.

5.2 Saran 1. Perlu adanya pengawasan yang baik dan tepat terhadap karyawan terutama dalam tahap pemanenan dan pengolahan kelapa sawit di PKS agar dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan sehingga output produksi lebih optimal. 2. Demi kerjasama yang lebih baik lagi dalam pengembangan Praktek Kerja Lapangan, akses antara institusi Politeknik Ketapang dan industri harus berjalan dengan lancar.

43

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. Buku Panduan Praktek Kerja Lapangan. Ketapang. Politeknik Ketapang. Mangoensoekarjo, S, 2003. Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit. Yogyakarta, UGM-Press. Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Cetakan Kedua. Jakarta: Penebar Swadaya. Sunarko, 2006. Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit. Penerbit UI-Press, Jakarta. Tim Penulis, P.S. 2000. Kelapa Sawit Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. Jakarta: Penebar Swadaya.

44

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran1. Dokumentasi SOP Penentuan % FFA

Sumber : PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

45

Lampiran2. Daftar Hadir Praktek Kerja Lapangan

46

47

Lampiran3. Laporan Mingguan Praktek Kerja Lapangan

48

49

50

51

52

53

54

55

56

Lampiran4. Dokumentasi Jembatan Timbang

Sumber : PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

Lampiran5. Dokumentasi Loading Ramp

Sumber : PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013) 57

Lampiran6. Dokumentasi sterilizer

Sumber : PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

Lampiran7. Dokumentasi Thresher

Sumber : PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013) 58

Lampiran8. Dokumentasi Storage Tank

Sumber : PT. Gunajaya Karya Gemilang (2013)

59