Anda di halaman 1dari 2

12

Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Gadung, Manfaat dan Perbanyakannya secara In Vitro


Gadung biasanya dikonsumsi sebagai makanan ringan atau keripik. Namun, umbi gadung juga memiliki khasiat sebagai obat luka luar dan untuk rematik. Umbi gadung mengandung dioskorin yang berpotensi sebagai racun bagi hewan atau pestisida. Gadung biasanya diperbanyak dengan umbi, namun baru bertunas setelah 2-3 bulan. Dengan teknik kultur in vitro, gadung dapat diperbanyak lebih cepat.

anaman gadung ( Dioscorea hispida Denust) berasal dari India bagian barat, kemudian menyebar luas sampai ke Asia Tenggara. Gadung tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian hingga 850 m di atas permukaan laut (dpl), tetapi ditemukan pula sampai ketinggian 1.200 m dpl. Di Indonesia, tanaman gadung dikenal dengan beberapa nama daerah, yaitu sekapa, bitule, bati, dan kasimun . Gadung merupakan tanaman perdu memanjat dengan tinggi tanaman 5-10 m. Batangnya bulat, berbulu, dan berduri di sepanjang batang dan tangkai daun. Umbinya bulat, diliputi rambut akar yang kaku. Kulit umbi berwarna gading atau coklat muda, daging umbi putih gading atau kuning. Umbi muncul di dekat permukaan tanah. Umbi gadung mengandung dioskorin yang dapat menimbulkan rasa pusing, tetapi dengan pengolahan yang benar, umbi gadung aman dikonsumsi. Pada tahun 2002, menurut Gizi.net, akibat tidak mampu membeli beras, sebagian penduduk di daerah Bengkulu selama beberapa waktu mengonsumsi gadung sebagai pengganti nasi. Keripik gadung, oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan dinyatakan sebagai ma-

kanan khas daerah dan mempunyai pasar yang potensial. Setiap tahun, petani gadung di Kelurahan Citangtu dapat menjual keripik gadung siap saji 100-150 ton tiap musim panen. Keripik gadung yang sepintas hanya sebagai makanan ringan, ternyata memiliki khasiat obat. Umbi gadung mengandung dioskorin (racun penyebab kejang), saponin, amilum, CaC 2 O 4 , antidotum, besi, kalsium, lemak, garam fosfat, protein, dan vitamin B1. Menurut pakar tanaman obat Prof. Hembing Wijayakusuma, dalam bukunya Tumbuhan Berkhasiat Obat, gadung dapat mengatasi penyakit rematik. Umbi gadung dapat digunakan sebagai obat luar maupun

obat dalam. Untuk obat luar, umbi gadung diparut lalu ditempelkan pada bagian yang sakit. Untuk obat dalam, 15-30 g umbi segar atau 5 g umbi kering direbus lalu airnya diminum, atau umbi dijadikan keripik lalu dikonsumsi. Untuk mengatasi rematik, umbi gadung 30 g dan jahe merah 10 g direbus dengan air 600 cc hingga tersisa 300 cc lalu disaring dan airnya diminum. Umbi gadung mentah mengandung alkaloid yang dapat digunakan sebagai bahan racun hewan atau obat luka. Sisa pengolahan tepungnya dapat digunakan sebagai insektisida. Pestisida nabati daun mimba dan umbi gadung efektif mengendalikan ulat dan hama pengisap.

Tanaman gadung dan umbinya (Sumber: Direktorat Budidaya Kacang-kacangan dan Umbi-umbian).

Tanaman gadung umumnya belum dibudidayakan secara baik, kecuali di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung. Perbanyakan gadung biasanya dilakukan dengan cara memotong umbi yang mempunyai mata tunas. Namun, umbi baru akan bertunas 2-3 bulan setelah dipanen sehingga perbanyakannya sangat lambat dibandingkan dengan umbi-umbian lain. Dengan teknik in vitro, masalah laju pertumbuhan yang lambat tersebut dapat diatasi, antara lain dengan menggunakan formulasi media tertentu yang mengandung garam-garam mineral dan komponen organik. Pada tahun 2000, Balai

Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian telah meneliti perbanyakan tanaman gadung secara in vitro . Bahan tanaman yang diteliti diambil dari berbagai lokasi, yaitu Bogor, Kuningan, Sumedang, Subang, dan Rembang. Ternyata, setiap bahan tanaman memberikan reaksi yang berbeda terhadap media pertunasan. Gadung yang berasal dari Bogor dan Kuningan lebih responsif daripada yang berasal dari daerah lain pada media Anderson dan WPM. Umumnya, semua aksesi gadung dapat ditumbuhkan dalam kultur in vitro. Oleh karena itu, teknik perbanyakan in vitro dapat digu-

nakan untuk menyediakan bibit gadung dalam jumlah banyak dan seragam ( Widiati H. Adil ) .

Informasi lebih lanjut hubungi: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Jalan Tentara Pelajar No. 3A Bogor 16111 Telepon : (0251) 8 3 3 7 9 7 5 8339793 Faksimile : (0251) 8 3 3 8 8 2 0 E-mail : bb-biogen@litbang.deptan.go.id

Volume 32 Nomor 6, 2010

13