Anda di halaman 1dari 4

1. Sabun Cair Bahan utama sabun cair merupakan golongan surfaktan.

Sifat dari larutan surfaktan adalah berbusa, agen pembasah, pengelmusi dan pendispersi. Keunggulan dari surfaktan antara lain busa yang dihasilkan banyak, agen pembasah yang baik pengelmusi dan pengadsorbsi yang baik sertaketahanannya terhadap air sadah baik. Sabun merupakan garam lokal alkali (biasanya garam Kalium) dari asam lemak, terutama mengandung garam C16 (asam palmitat) dan C18 (asam stearat) namun juga dapat mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah (Fessenden, 1994 dan Ketaren, 1986). Alkali yang digunakan adalah larutan KOH/NaOH yang dapat membuat sabun menjadi cair. Sabun dihasilkan dari proses saponifikasi, yaitu hirolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam KOH /NaOH (minyak dipanaskan dengan KOH/NaOH) sampai terhidrolisis sempurna. Asam lemak yang berikatan dengan Kalium/Natrium ini dinamakan sabun. 2. Minyak dan Lemak Pada dasarnya, lemak dan minyak dihasilkan oleh alam yang bersumber dari hewan dan tanaman. Sedangkan berdasarkan pada sumbernya, minyak dan lemak dapat diklasifikasikan atas hewan dan tumbuhan. Perbedaan mendasar daripada lemak hewani dan lemak nabati adalah: 1) lemak hewani mengandung kolesterol, sedangkan lemak nabati mengandung fitosterol, 2) kadar lemak jenuh dalam lemak hewani lebih kecil daripada lemak nabati, dan 3) lemak hewani mempunyai bilangan ReicherMeiss lebih besar dan bilangan Polenshe lebih kecil dibanding dengan minyak nabati (Ketaren, 1986). Ada beberapa sifat fisik dari minyak dan lemak yang dapat dilihat dari minyak dan lemak, antara lain: warna, bau amis, odor dan flavor, kelarutan, titik cair dan polymerism, titik didih, splitting point, titik lunak, shot melting point, berat jenis, indeks bias dan kekeruhan. Zat warna dibedakan menjadi dua, yaitu warna alamiah dan warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia yang terdapat dalam minyak. Zat warna alamiah terdapat secara alamiah dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstraksi bersama minyak bersama dalam proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain alfa dan beta karoten, xanthofil dan anthosianin. Zat warna ini menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau-hijauan dan kemerah-merahan. Sedangkan, warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia yang terdapat pada minyak antara lain: warna gelap disebabkan oleh oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E). Warna coklat terdapat pada minyak atau minyak yang berasal dari bahan busuk atau memar. Bau amis pada minyak atau lemak disebabkan oleh interaksi trimetil aminoksida dengan ikatan rangkap dari minyak tak jenuh. Mekanisme pembentukan trimetri amin dari lesistin bersumber dari pemecahan ikatan C-N dari cholin dalam molekul lesitin. Ikatan C-N ini dapat diuraikan oleh zat pengoksidasi seperti gugus peroksida dalam lemak, sehingga menghasilkan trimetil-amin.

Odor dan flavor dalam minyak, selain terdapat secara alami juga terjadi karena pembentukan asam-asam lemak berantai pendek sebagai hasil penguraianpada kerusakan minyak atau lemak. Akan tetapi, odor atau flavor pada umumnya disebabkan oleh komponen bukan minyak. Sebagai contoh, bau khas dari minyak kelapa sawait disebabkan karena beta-ionone, sedangkan bau khas dari minyak kelapa disebabkan oleh nonyl methylketon (Ketaren, 1986). Adapun sifat kimia dari lemak dan minyak antara lain: hidrolisa, oksidasi, hidrogenasi, esterifikasi, dan pembentukan keton. Hidrolisa minyak atau lemak akan asam-asam lemak bebes dan gliserol. Reaksi hidrolisa yang dapat menyebabkan kerusakan pada minyak atau lemak karena terdapatnya air dalam minyak tersebut. Reaksi ini akan menyebabkan flavor dan bau tengik pada minyak tersebut (Ketaren, 1986). Pengujian minyak atau lemak berdasarkan pada penelitian dan penetapan bagian tertentu dari komponen kimia lemak dan minyak. Metode tersebut antara lain: total minyak atau lemak, bilangan penyabun, bilangan Iod, dan bilangan asam. 3. Natrium Hidroksida ( NaOH ) Natrium hidroksida (NaOH) seringkali disebut dengan soda kaustik atau soda api yang merupakan senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam. NaOH berbentuk kristal putih dengan sifat cepat menyerap kelembapan. Natrium hidroksida bereaksi dengan minyak membentuk sabun yang disebut dengan saponifikasi. 4. Etanol Etanol (etil alkohol) berbentuk cair, jernih dan tidak berwarna, merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol pada proses pembuatan sabun digunakan sebagai pelarut karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak. 5. Gliserin Gliserin adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati dengan air untuk menghasilkan asam lemak. Gliserin merupakan humektan sehingga dapat berfungsi sebagai pelembab pada kulit. Pada kondisi atmosfir sedang ataupun pada kondisi kelembaban tinggi, gliserin dapat melembabkan kulit dan mudah dibilas. Gliserin berbentuk cairan jernih, tidak berbau, dan memiliki rasa manis. 6. Natrium Klorida (NaCl) Natrium klorida (garam) merupakan bahan berbentuk kristal putih, tidak berwarna dan bersifat higroskopik rendah. Penambahan NaCl selain bertujuan untuk pembusaan sabun, juga untuk meningkatkan konsentrasi elektrolit agar sesuai dengan penurunan jumlah alkali pada kahir reaksi sehingga bahan-bahan pembuat sabun tetap seimbang selama proses pemanasan.

7. Asam Sitrat Asam sitrat memiliki bentuk berupa kristal putih. Berfungsi sebagai agen pengelat (chelating agent) yaitu pengikat ion-ion logam pemicu oksidasi, sehingga mampu mencegah terjadinya oksidasi pada minyak akibat pemanasan. Asam sitrat juga dapat dimanfaatkan sebagai pengawet dan pengatur pH. 8. Pewarna Pewarna ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk menghasilkan produk sabun yang beraneka warna. Bahan pewarna yang digunakan adalah bahan pewarna untuk kosmetik grade.

9. Pewangi Pewangi ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk memberikan efek wangi pada produk sabun. Pewangi yang sering digunakan dalam pembuatan sabun adalah dalam bentuk parfum dengan berbagai aroma (buah-buahan, bunga, tanaman herbal dan lain-lain). 10. Teknik Penjernihan Minyak Jelantah Langkah penjernihan minyak jelantah dapat dilakukan secara tradisional, yakni dengan menggunakan arang kayu. Minyak goreng bekas dikumpulkan lalu siapkan tumbukan arang kayu. Selanjutnya gerusan arang kayu dimasukkan ke dalamwadah minyak jelantah. Ukuran pemakaian, 2 kepal arang kayu untuk satu kilogram minyak jelantah. Aduk sampai rata, tunggu sampai 5 menit lalu saring dengan kain bersih. Cara ini menjadi alternatif terakhir bila memang ingin menghemat biaya (Ragan, 2010). Selain itu dapat juga dengan menggunakan perendaman ampas tebu di dalam minyak jelantah. Langkah ini menjadikan minyak lebih bersih. Warna hitam atau cokelat minyak jelantah akan berkurang drastis karena kotoran itu diserap oleh ampas tebu (Anonim, 2008). 11. Bilangan Penyabunan Bilangan penyabunan adalah jumlah milligram KOH/NaOH yang diperlukan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Apabila sejumlah sampel minyak atau lemak disabunkan dengan larutan KOH/NaOH berlebih dalam alcohol, maka KOH akan bereaksi dengan trigliserida, yaitu tiga molekul KOH/NaOH bereaksi dengan satu molekul minyak atau lemak. Larutan alkali yang tertinggal ditentukan dengan titrasi menggunakan HCL sehingga KOH/NaOH yang bereaksi dapat diketahui. 12. Pembuatan Bahan : 1. Minyak jelantah yang sudah dibersihkan 2. Arang kayu (sebagai adsorben pengotor minyak jelantah) 3. NaOH 40%

1L 500 ml

4. 5. 6. 7. 8.

*NaOH dan minyak jelantah 4:1 Gliserin atau TiO2 (sebagai pelembut) Etanol Asam Stirat Pewarna (bisa menggunakan pewarna makanan) Essential dan fragrance oils (sebagai pengharum)

800 ml 800 ml 500 gram secukupnya secukupnya

Alat : 1. Kain saring 2. Kompor 3. Panci stainless steel 4. Sarung tangan karet 5. Wadah plastik 6. Pengaduk kayu Proses : 1. Penjernihan minyak Sejumlah minyak dicampurkan dengan genggam gerusan arang kayu halus *setiap 1kg minyak jelantah dapat dibersihkan oleh 2 genggam gerusan arang kayu Tunggu sampai dengan 7 hari Saring dengan menggunakan kain penyaring 2. Pembuatan Sabun Panaskan 1L minyak jelantah yang sudah dibersihkan sampai suhu 60oC Masukkan larutan NaOH 30% 500 ml Panaskan dengan suhu 70oC sambil diaduk Aduk terus sampai proses saponifikasi sempurna (terbentuk larutan yang kental) Tambahkan 500 gram asam stirat Tambahkan 800 ml etanol dan 800 ml gliserin Pemanasan dan pengadukan terus dilakukan sampai seluruh campuran menjadi homogen Penambahan pewarna dan pewangi dilakukan pada suhu 40oC Tuangkan dalam wadah yang sudah disediakan