Anda di halaman 1dari 20

o

MANAJEMEN FISIOTERAPI PADA Lymphodema Definisi Lymphoedema adalah suatu kondisi dimana pada sistem limfe beban cairan limfe melebihi kapasitas angkutnya, sehingga terjadi oedema. Olszewski (1991) mendefinisikan, bahwa lymphoedema sebagai gangguan yg progresif dengan karakteristik adanya gangguan pada aliran limfe dari jaringan menuju sirkulasi darah oleh karena adanya cedera pada sistem limfe. Piller (1994) mencatat bahwa International Society for Lymphology memperluas definisi atau menambahkan : Oedema karena tingginya protein (high-protein oedema) disebabkan berkurangnya kapasitas transport normal dan kapasitas proteolitic dari sistem limfatic Selanjutnya pendapat ini didukung oleh Foldi et al yang secara konsekuen mengakui bahwa problem ada pada beban cairan limfe dan kapasitas transportnya. Anatomi sistem limfatik. Sistem limfatik adalah aliran satu arah dari jaringan kembali ke sistem sirkulasi darah. Dibedakan menjadi sistem superficial termasuk aliran pada kulit dan subkutis, serta sistem yang lebih dalam (deep system) termasuk aliran yg terjadi pada otot dan facsia. Proses awal masuknya cairan ke kapiler diawali adanya tekanan pada interstisiil yg berasal dari berbagai pengaruh seperti kontraksi otot, gerakan, pernapasan, gelombang atau denyut dinding pembuluh darah, dan tekanan itu akan membuka dinding kapiler yang berbentuk swinging slap dan cairan masuk , baru setelah masuk kapiler benarbenar disebut limfe atau getah bening. Proses tsb melalui fase pengisian yg lebih kurang 5 detik kemudian fase pengosongan lebih kurang 1 detik , selanjutnya cairan masuk ke kantong penampungan (collecting lymphatic) yang berbentuk pembuluh yang mempunyai katup sehingga aliran mengarah ke kelenjar limfe.Diantara kedua katub disebut lymphangion. Adanya katub ini mencegah aliran kembali ke belakang , jika didalam lymphangion sudah penuh maka terjadi kontraksi dinding pembuluh limfe mendorong cairan ke arah kelenjar limfe dan seterusnya terjadi proses berulang. Proses ini disebut lymphangiomotoric Mulai dari kapiler limfe (lymph capillaries), masuk ke pembuluh limfe yg lebih besar selanjutnya menuju kelenjar limfe (lymphnode). Diseluruh tubuh hampir terdapat 600-700 kelenjar limfe, dimana fungsi kelenjar limfe adalah : 1. Filtrasi atau penyaringan, ini untuk mencegah adanya material yg rusak jangan masuk ke pembuluh darah.

2. Menghasilkan limfosit untuk daya tahan tubuh (immun system). 3. Mengatur jumlah cairan limfe 4. Mengatur jumlah protein dalam cairan limfe. Dengan pengaturan itu maka jumlah cairan limfe dan protein dapat dikendalikan. Jika terjadi kerusdakan pada pembuluh limfe akan dengan mudah regenerasi, tetapi bila kerusakan pada kelenjar limfe, misalnya diangkat atau terjadi scar, maka resiko terjadinya oedema sangat besar selam hidupnya. Kelenjar limfe lebih banyak terdapat di daerah ketiak (axilla) dan lipat paha (inguinale) , ini penting diketahui utk treatment lymphoedema.. Dari kelenjar limfe cairan limfe terus menuju ke Lymph trunk yang strukturnya sama dengan lymphangion, hanya lebih besar. Pada akhirnya beberapa lymph trunk ini menuju kembali kembali ke pembuluh vena, mereka saling berhubungan membentuk lymphatic trunk yang lebih besar disebut thoracic duct (ductus toracicus). Thoracic duct berawal dari level Lumbal 2 sampai Toraks 10, membentuk kantong disebut cisterna chyle. Ia ke atas bersama aorta menembus diafragma dan masuk ke internal yugolaris kiri dan vena subklavia kiri. Didalam thoracic duct cairan limfe bercampur dengan lemak hingga berubah warna dari bening menjadi seperti susu disebut chyle. Thoracic duct mengangkut cairan dari tigaperempat bagian tubuh masuk kesirkulasi vena yaitu dari : - kedua tungkai, setengah badan bawah, separo kiri leher dan kepala, separo kiri badan atas, dan lengan kiri.

Sedangkan Right lymphatic duct kembali ke pembuluh vena di internal yugolaris kanan dan subclavia kanan, berasal dari : - separo kanan leher dan kepala, separo kanan badan atas, dan lengan kanan. Titik kritis perjalanan cairan limfe terjadi pada daerah kelenjar limfe dimana cairan meninggalkan system superfisial masuk system yg lebih dalam atau deeper system di dalam tubuh. Jika kelenjar limfe di tubuh mengalami ganguuan, maka aliran dari anggota tubuh juga terganggu. Lymphatic watersheds, adalah pembagian tubuh menjadi empat bagian (kuadran) juga disebut Lymphatic territories. Watersheds adalah garis lurus yang membagi sesuai dengan arah katub dalam collecting lymphatic. Arah katub itu menuju ke area kelenjar limfe. Makna dari watersheds sangat jelas jika aliran menuju kelenjar limfe terputus dan terjadi swelling di kedua tungkai dan hubungannya dengan kuadran. Jika sistem lymphatic terputus satu dengan yang lain, maka dapat diatasi dengan watersheds yang memungkinkan aliran dari kuadran satu ke yang berikutnya. Ini penting utk treatment lymphoedema. Tubuh kita memiliki dua watersheds utama, yaitu vertical watersheds yang membagi tubuh menjadi sepero kiri dan kanan, dan horizontal watersheds atau tranverse, yang dimulai dari level umbilicus terus sedikit naik sampai ke level Lumbal2, sehingga membagi tubuh menjadi 4 kuadran, dua diatas atau thoracic dan dua dibawah atau abdominal.

Anastomoses, adalah struktur lain yang membantu system lymphatic jika terjadi gangguan atau terputusnya aliran limfe. Beberapa lymph collector vertical dan horizontal di dalam kuadran bertemu dengan collector dalam kuadran disisi yang berlawanan pada watersheds. Dan disini aliran lymphatic drain berubah, sebagai contoh : Untuk badan atas (upper trunk) arah aliran dari vertical watersheds menuju ke kiri kanan kelenjar ketiak, jika terputus terjadi swelling di salah satu kuadaran, maka aliran akan akan terjadi ke kuadran yang satu , dengan demikian dapat diatasi dengan watersheds. Axilloaxillary anastomoses atau hubungan antar axilla, menghubungkan axilla kanan dan kiri baik disi depan maupun belakang menyebrangi vertcal watersheds. Axilloinguinal anastomosis menghubungkan axilla dengan inguinal pada sisi tubuh yang sama menyebrangi tranverse watersheds. Suprapubic anastomosis, menghubungkan kiri dan kanan lower kuadran. Drain ini sangat penting dalam treatment lymphoedema. Ringkasan anatomi sistem limfatic. System limfatic terdiri dari sistem limfatic murni, dimana terdapat saling berhubungan yang membawa cairan masuk ke pre collector, terus ke collector yang terdapat katub, kemudian masuk ke kelenjar limfe, selanjutnya masuk lymph trunk, terus ke thoracic duct, dan berakhir ke pembuluh vena. Watersheds adalah garis yang membagi tubuh menjadi kuadaran berdasarkan arah katub menuju ke kelenjar limfe dan membentuk anastomoses yang menghubungkan diantara mereka. Fisiologi dan Patofisiologi Sistem limfatik tidak hanya berperan dalam sistem kekebalan tubuh ( immune system), tetapi juga penting dalam keseimbangan fungsi transportasi. Bagian yang sangat penting dari fungsi ini adalah transportasi partikel yang besar, khususnya protein. Demikian juga, substansi lain yang tidak dapat lebih lama di absorbsi oleh kapiler darah, memerlukan sistem limfatik sebagai kendaraan pengangkut utk meninggalkan jaringan intertisiil dan kembali ke sistem sirkulasi darah vena. Termasuk substansi tsb adalah limfosit, granulosit, monosit dan eritrosit, dan juga bacteri, sel kanker dan sel debris/rusak/puing (setelah trauma) . Untuk mengetahui fisiologi sistem limfatik perlu mengingat kembali beberapa istilah yang dapat membantu.

Diffusi Bilamana dua larutan garam yang mempunyai perbedaan konsentrasi terletak dalam satu wadah, garam akan berpindah ke larutan yang kurang konsentrasinya, sementara air akan mencari larutan yang lebih tinggi konsentrasinya. Setelah itu dua larutan akan mencapai keseimbangan. Proses ini disebut diffusi.

Osmosis Bilamana dua larutan garam yang berbeda dipisahkan oleh membran yang semipermiabel dimana tidak dapat ditembus oleh molekul garam yang lebih besar, air akan berpindah dari larutan yang kurang konsentrasinya menuju ke larutan yang lebih tinggi konsentrasinya Peristiwa ini disebut osmosis. Takanan osmotik Tekanan osmotik berasal dari ruang dengan larutan berkonsentrasi tinggi dan ia akan menimbulkan energi dari garam tsb utk menarik air.

Filtrasi Filtrasi adalah kebalikan dari tekanan osmotik. Tekanan ini dapat dicapai dengan penggunaan tekanan dari sisi luar larutan yang tinggi konsentrasinya, dengan demikian dapat mengatasi tekanan osmotik dan terjadi proses kebalikannya Tekanan osmotik kolloid dan Ultrafiltrasi Jika contoh di atas digunakan larutan protein, tekanan osmotik akan diberi istilah tekanan osmotik kolloid, dan proses filtrasi akan disebut ultrafiltrasi. Dalam sirkulasi darah manusia dinding kapiler bekerja sebagai membran yang full permeable bagi senua molekul kecil yang larut dalam darah Membran itu tidak menghalangi diffusi dari kapiler ke jaringan intertisiil dan sebaliknya. Tetapi dinding kapiler kebanyakan tidak dapat ditembus (impermeable) oleh molekul protein Pada ujung kapiler arteri, tekanan darah kapiler lebih tinggi dari pada tekanan osmotik kolloid dari plasma darah. Pada pembuluh vena, tekanan darah kapiler lebih rendah dari tekanan osmotik kolloid dari plasma darah, akibatnya terjadi ultrafiltrasi pada sisi arteri dan reabsorbsi (ultrafiltrasi yg berlawanan arah) pada sisi vena. Ultrafiltrasi merupakan proses langsung menuju kesisi luar, selagi terjadi reabsorbsi kearah berlawanan ke sisi dalam. Bagaimananpun, beberapa molekul protein meninggalkan pembuluh darah kapiler menuju intertisiil, oleh karena itu menyebabkan tekanan osmotik kolloid bervariasi. Tekanan didalam intertisium berfluktuasi dan dari sinilah mempengaruhi ultrafiltrasi. Ringkasnya, empat tenaga yang bekerja pada setiap kapiler arteri dan vena, yaitu : 1. tekanan osmotik koloid dari plasma darah 2. tekanan darah dari kapiler 3. tekanan osmotik koloid dari intertisium 4. tekanan interstisium Pada arteri dan juga vena, tekanan darah kapiler mencoba membebaskan cairan dari molekul protein dan menekannya masuk ke interstisium, tetapi tekanan ini dikurangi atau dinaikkan oleh tekakan interstisium. Tekanan osmotik koloid dari plasma darah, dimana mencoba menahan cairan, dikurangi oleh takanan osmotik koloid dari interstisium. Hampir 20 liter cairan meninggalkan pembuluh darah selama 24 jam dan 80-90 % nya di absorbsi kembali. Sisanya yg berjumlah 2-4 liter dalam 24 jam, berisi sebagian besar molekul protein. Jika cairan itu tidak dapat melewati dinding kapiler, cairan itu akan kembali, sebagai limfe, menuju ke pembuluh vena melalui sistem limfatik. Jika terjadi ketidak seimbangan antara empat tenaga tsb di atas, oedema akan terjadi. Sebagai contoh, jika tekanan dalam pembuluh darah kapiler naik, ultrafiltrasi naik. Dan sebaliknya jika tekanan osmotik koloid dari plasma darah menurun, reabsorbsi menurun. Dalam situasi demikian sistem limfatik merespon dengan cara meningkatkan lymphangiomotoric. Untuk memenuhi kapasitas angkut, dimana akan terjadi peningkatan aliran limfe per unit waktu, lymphangiomotoric dapat meningkatkan aliran limfe sampai 10 kali.Oleh karena itu sistem limfatik yang normal mapu mengontrol meningkatnya air dan protein sehingga dapat mencegah oedema. Inilah yang disebut

lymphatic safety valve factor. Sepanjang kapasitas angkut lebih tinggi dari beban cairan tidak akan terjadi oedema. Jika beban cairan melebihi kapasitas angkut, maka akan terjadi oedema. Foldi, membedakan tiga bentuk insufisiensi sistem limfatic-vaskuler., yaitu : 1. Dynamic 2. Mechanical 3. Safety valve Dynamic..TC normal, LL naik ..High/low protein oedema Mechanical..TC turun, LL normalHigh protein oedema Safety valve.TC nurun, LL naik.High protein oedema. Keterangan : TC = transport capasity LL = lymphatic load. Dynamic insufisiensy, istilah yang digunakan untuk pembuluh limfe yang normal secara anatomi dan fisiologi, tetapi cairan limfe berlimpah sehingga beban berlebih, ini sebagai high flow oedema. Tergantung dari penyebabnya, ini dapat terjadi protein tinggi atau rendah. High-flow dengan low-protein oedema dapat disebabkan oleh naiknya tekanan darah kapiler, rendahnya tekanan osmotik koloid plasma darah atau rendahnya tekanan interstisium, dimana terjadi cedera pembuluh darah dan kekurangan vitamin dapat mengarah high-flow, high protein oedema. Mechanical insufiensy, penurunan kapasitas angkut disebabkan oleh gangguan pada sistem limfatik merupakan mechanical insufisiensy, dan ini disebabkan low- flow, high protein oedema. Safety valve insuffisiensy, istilah yg digunakan jika terdapat penurunan kapasitas angkut dan selanjutnya dapat dikompromikan dengan naiknya beban cairan. Sebagai contoh, setelah axillaries bersih (reduced transport capasity) terjadi infeksi (increased lymphatic load), menyebabkan nekrose jaringan cenderung menjadi inflamasi kronik, dan dari sinilah terjadi kenaikan beban cairan. Akibatnya low-flow, high protein oedema. Dari ketiga insuffisiensy tsb, hanya mechanical dan safety valve yang low-flow, high protein odema atau lympoedema, dengan demikian yang dapat ditreatmen secara physical therapy complex. Ringkasan Ada empat tenaga yang mempengaruhi ultrafiltrasi (proses mengarah ke sisi luar) dan reabsorbsi (proses mengarah ke sisi dalam)diantara kapiler arteri dan vena. Yaitu tekanan osmotik koloid dari plasma darah, tekanan darah kapiler, tekanan osmotik koloid dari interstisium, dan tekanan interstisium. Jika keempat tenaga tsb tidak seimbang, akan terjadi oedema. Sebelum oedema berkembang, pertama kali tubuh bereaksi dengan meningkatkan lymphangiomotoric utk meningkatkan/memaksimalkan kapasitas angkutnya. Lymphangiomotoric mampu meningkatkan sampai 10 kali lipat. Ini merupakan maximum lymph flow per unit waktu, dan tidak mungkin mencegah oedema dalam waktu pendek. Penyebab spesifik Lymphoedema Semua lymphoedema dapat dibagi menjadi primer dan sekunder lymphoedema dengan mempertimbangkan sifatnya dan kondisi patologi yg didapat. Lymphoedema primer yg tak diketahui kausanya. Ini perkembangan dari suatu gangguan dimana mekanisme patologi utama sbb : Aplasia, dimana collecting lymphatic tidak berkembang dan tidak ada. Hypoplasia, jumlah collector lymph berkurang dan atau diameter pembuluh limfe lebih kecil dp normal. Hyperplasia, pembuluh limfe dapat dibandingkan dengan varises. Mereka lebih lebar dan karena itu katubkatubnya tidak mampu melakukan fungsinya sehingga aliran limfe tidak terjadi secara normal. Tanpa melewati investigasi , kausa dari lymphoedema primer tidak akan jelas. Lymphoedema primer biasanya lebih banyak wanita daripada pria. Lebih banyak mengenai tungkai daripada lengan.

Lymphoedema primer juga dikelompokkan berdasarkan waktu serangannya : Conatal, lymphoedema yg muncul saat kelahiran dan mungkin ada famili yg telah menderita, jadi mungkin faktor genetik sebagai penyebabnya, ini sering disebut Milroys atau Nonne Milroys disease Lymphoedema praecox, muncul sebelum usia 17 th. Ini bentuk yg paling banyak dijumpai sebagai lymphoedema primer. Lymphoedema tarda, nampak setelah usia 35 th. Lymphoedema primer disini kemungkinan adanya malignancy tidak dimasukkan atau dikecualikan. Lymohoedema sekunder, yang diketahui kausanya. Ini mudah didiagnosis dengan mengambil riwayatnya, penyebabnya karena adanya cedera, dan cedera itu dapat terjadi akibat berikut : Luka bedah atau terapi radiasi, yang paling sering adalah pengangkat kelenjar limfe sebagai bagian dari terapi kanker. Jika kelenjar limfe telah diangkat atau diradiasi dapat kehilangan fungsi karena akan mengalami inflamasi kronik, fibrosis dan bahkan terbentuk scar.Penelitian menunjukkan bahwa terapi kombinasi bedah dan radiasi menimbulkan resiko lymphoedema tiga kali lebih besar dari pada hanya pembedahan saja. Varicose vein stripping, pembuluih limfe yg terletak berdekatan dengan/atau menutupi vena akan ikut terpotong sehingga mengalami kerusakan. Liposuction, selama proses penyedotan lemak yang terangkat bukan lemak saja tetapi pembuluh limfe juga terangkat. Trauma, trauma yang mengenai permukaan kulit yg cukup luas akan merusakkan pembuluh limfe superfisial, misalnya abrasi, luka bakar. Tumor, baik tunor ganas maupun jinak dapat memblokir aliran limfe, apalagi dapat masuk ke kelenjar limfe sehingga terjadi obstruksi. Infeksi, infeksi oleh virus, fungi atau bacteri dapat menyebabkan gangguan sistem limfatik dan selanjutnya terjadi lymphoedema. Infeksi pada pembuluh limfe akan menyebabkan dinding pembuluh tersebut membengkak dan dan mampu berkontraksi sehingga kehilangan fungsi. Dinding pembuluh tsb tidak dapat sembuh sehingga menjadi fibrotik tak berfungsi lagi. Jika infeksi mengenai daerah luas akibatnya lymphoedema sekunder. Filaritic lymphoedema, cacing yang dibawa oleh nyamuk banyak terdapat di India, Malaysia, Indonesia, Papua New Guinea, terutama pada musim hujan, dapat masuk ke pembuluh limfe dan berkembang dan tumbuh sampai 20 cm panjang dan diameter 1-2 mm. Merupakan parasit protein tubuh, dan reaksi immunitas tubuh sangat minim sehingga cacing tak mengalami problem sampai dia mati dalam waktu 5-10 tahun setelah dia masuk ke tubuh. Dalam keadaan ini terjadi inflamasi yg serius dan cacing yg mati merupakan protein asing bagi tubuh menyebabkan fibrotis, akhirnya terjadi lymphoedema. Chronic Venous insuffisiensy. Lipoedema, dapat terjadi karena kedudukan sel lipid yang menekan pembuluh limfe sehingga menurunkan kapasitas angkut. Keadaan ini sering berkembang menjadi Lipolymphoedema. Perempuan lebih sering terkena dengan symptom sbb: - menyerang tungkai simetris, tungkai membesar mulai pinggul sampai ankle. - Kaki tidak terkena - Timbunan membesar di medial lutut - Palpasi sangat nyeri - Mudah luka memar - Jaringan seperti matras / spon - Terkadang lengan terlibat, tetapi hanya dari siku ke pergelangan. Ada empat faktor yang menghambat lymphoedema : 1. Lympholymphatic anastomoses, mekanisme kompensasi dimana terjadi anastomoses baru disekitar pembuluh limfe yang tersumbat/blokade. 2. Collateral lymphatic sirculation, adanya pelebaran pembuluh dan membentuk kolateral sirkulasi 3. Lymphovenous anastomoses, dimana pembuluh limfe mengalirkan langsung ke vena terdekat 4. Pagoshytic system, monoshit berpindah dari pembuluh darah ke interstisium dan berubah menjadi macrophages

dan menurunkan jumlah protein. Gradasi Lymphoedema 1985 Kongres International ke X International for Lymphology, memutuskan gtadasi lymphoedema sbb : Derajat I , terjadi swelling di anggota badan berisi cairan yang kaya protein, tanpa adanya perubahan jaringan. Pembengkaan itu sangat lunak dan nyata-nyata bentuk oedema. Swelling berkurang jika dielevasi dan hilang di malam hari. Derajat ini termasuk reversible stages, dan juga jika cairan dihilangkan maka jaringan akan kembali normal. Jadi derajat atau grade I : - Pitting oedema (reversible stage) - Berkurang bila dielevasikan dan sepanjang malam - Tidak terjadi perubahan jaringan menjadi fibrotic Derajat II, Jika tidak diobati dengan benar akan menjadi progresif , dimana masuk stadium ireverrsible (irreversible stage), jaringan bukan lagi bengkak berisi cairan (non pitting oedema), jika dielevasikan tidak berkurang, tingginya konsentrasi protein mendorong terjadinya fibrosis sehingga jaringan menjadi keras. Dalam keadaan ini mudah terjadi infeksi sehingga timbul inflamasi khronik dimana terjadi kematian sell, dan dengan matinya sell mulailah siklus kembali mengiritasi inflamasi dan seterusnya. Akibat lebih lanjut terjadi komplikasi elephantiasis (kaki gajah). Karena sering terjadi infeksi maka akan meningkatkan hiperami, selanjutnya meningkatkan ultrafiltrasi dan beban cairan limfe. Dinding pembuluh darah juga menjadi lebih permiable terhadap protein. Akhirnya mengakibatkan safety valve insuffisiensy, dimana volume semakin bertambah, lengan dan tungkai seperti kaki gajah, dan kulit berubah mudah mengelupas serta terdapat beberapa benjolan. Jadi pada derajat II : - Non pitting odema (spontaneous irreversible stage) - Tidak berkurang jika dielevasikan, terjadi perubahan fibrotik - Berkembang komplikasi kaki gajah (elephantiasis). - Volume semakin membesar, terjadi perubahan kulit, mudah infeksi.

MANAJEMEN LYMPHOEDEMA 1. Assessmen Setelah makin diketahuinya tentang lymphoedema dan meningkatnya kesadaran terhadap modalitas yang digunakan untuk pengobatan pada beberapa tahun akhir-akhir ini, menjadi menarik perhatian bahwa lymphoedema merupakan kondisi baru. 1892 Alexander Ritter von Winiwarter (Germany), menulis dalam bukunya Die Elephantiasis menjelaskan metode pengobatan lymphoedema dengan fisioterapi, yaitu kompres, elevasi dan massage ringan, dan dikombinasikan dg alat tertentu, tetapi metode tsb tidak berkembang bahkan dilupakan. 1932 dan 1936 Dr. Emil Voder dan istrinya Estrid mengembangkan MLD = manual lymphatic drainage di Perancis. Metode ini melibatkan stimulasi pada leher dimana terjadi pembengkakan pada kelenjar limfe dengan gerakan sirkuler yg gentel untuk membersihkan chronic colds dan kondisi kulit. Selanjutnya Professor Michael Foldi mengembangkan teknik bersama istrinya Dr.Ethel Foldi, dari sini dimulai sebuah klinik Fahklinik fur Lymphologie di Hinterzarten , Germany . Sekarang pengobatan ini menjadi terkenal di dunia. 1987 di Australia Fisioterapist (Michael Mason) mendirikan Lymphoedema Clinic di Adelaide. Kemudian Dr. Judith dan Casley Smith mengajarkan technik pengobatan lymphoedema pada th 1990 di Adelaide , bekerjasama dengan Lymphoedema Association of Australia dan Universitas Adelaide. Sekarang pada umumnya telah berkembang technik yg dikembangkan DR. Emil Voder dan Dr. Foldi Pengobatan ditentukan berdasarkan case by case (per kasus) oleh fisioterapis setelah melalui asesmen utk menentukan baik

penyebab maupun tipe lymphoedema , dan pendekatan terapinya. Diagnosis dan pengobatan dapat melibatkan multi disiplin. Ini sangat penting bahwa kedua pasien dan fisioterapis menjalin hubungan dengan medis atau dr yang merujuknya, disana persetujuan diagnosis dapat dibuat dengan melihat riwayat pengobatan, pemeriksaan yg telah dilakukan, investigasi yang dikembangkan tidak sekedar rutinitas dengan tes-tes yang tak diperlukan. Dr. Foldi merujuk ke fisioterapis setelah melakukan examination. Namun demikian fisioterapis sebagai praktisi sering pertama kali bertemu dg pasien, sehingga harus siap siaga atau memberi tanda dimana memerlukan investigasi lebih lanjut dan melalui proses asesmen, diantaranya menggunakan formulir sbb :

FORMULIR ASESMEN LYMPHOEDEMA I. Identitis Nama , umur dan kelamin ; Alamat Telepon Diagnosis medis Nama perawat Area yg terserang Dr Umum/spesialis II.Riwayat pengobatan Tgl /tempat operasi ; (hanya utk lymphoedema sekunder) Dr. bedah Prosedur pembedahan Jumlah Cairan/Kelenjar yang diangkat Jumlah Cairan/kelenjar metastasis Problem setelah operasi (infeksi, serosis dsb) Tgl. Chemoterapi (utk memngetahui area yg disinar biasanya terjadi scar dan ini sulit dilakukan drainage). X-ray Pemeriksaan lain Bedah lainnya Problem medis lain Dokter III. Pemeriksaan subyektif Riwayat oedema Tgl mulai adanya oedema Penyebabnya : Trauma, infeksi dll) Di sisi yg mana Adakah infeksi Perilaku oedema ( fuktuasi atau stabil) Faktor yg menurunkan oedema Pengobatan terdahulu : Sequential/non sequensial pump Pakaian Perjalan ke luar negeri (mengantisipasi filariasis) IV.Pemeriksaan nyeri Perilaku/sifat nyeri Area nyeri (gunakan boy chart) Scala nyeri (0-10) catat dalam body chart Penjelasan tentang nyeri

Nyeri naik Nyeri turun Malam hari Sebeleum tengah malam sesudah tengah malam Perubahan sensasi Pins/needles/numbness Kegiatan sehari-hari (ADL) : Pekerjann/hoby

V. Objektif asesmen Tinggi badan Berat badan Type lymphoedema Grade lymphoedema (derajat) Kondisi kulit Kondisi kuku Scar (catat dibody chart) Luka bakar Telangiectasis : Permanent delatation of preexisting blood vessels). Colateral veins : Photo : (pre and post treatment, anterior, postrior, lateral view) Arterial pulse : Neural tension : Cording Skin fold : VI.Pengukuran Circumference Plethysmography / Volumetry ROM ; - shoulder/hip - Elbow/knee - wrist ankle Strength/kekuatan otot Posture Fungsional asesment jika perlu VII.Ringkasan . 1.Diagonse fisioterapi 2.Tujuan fungsional pasien dan perkiraan/hoby 3 Prognosis dan antisipasi 4. Kontrak pasien dan terapis 5.Rencana terapi VIII.Outcomes post treatment Pasien puas/kosmetik dipertimbangkan Tujuan pasien tercapai Pengukuran/penurunan dlm % Perbaikan fungsi tercapai Nyeri berkurang ROM sendi dan Kekuatan otot IX.Ringkasan post treatment Masalah terselesaikan

Masalah tak terselesaikan Manajemen yg akan datang= Home program Kapan /tgl berapa ditinjau kembali : 2. Pengukuran a. Dengan mengukur lingkar lengan/tungkai, mulai dari wrist/ankle kemudian 10 cm, 20 cm, 30cm, ke proxmal dst. Atau dapat dimulai dari bagian tulang yg menonjol kemudian jarak setiap 10 cm berikutnya. b. Pengkuran lingkar lengan/tungkai dengan menggunakan gambar yang diberi warna berbeda pada yg oedema dan yg tak oedema. c. Dengan rumus geometric yg diajukan Bunce at al, dimana lengan/tungkai dianggap sebagai bentuk slinder. Ambilah jarak dari procesus styloid/maleulus 40 cm ke proximal, kemudian setiap segmen (10 cm) diukur lingkar lengan. Kemudian volume lengan bisa dihitung dengan rumus volume slinder = luas alas x tinggi. Tinggi = jarak kedua segmen = 10 cm. Total volume lengan = jumlah volume setiap segmen tadi. d. Plethysmography, yaitu pengukuran dengan cara anggota yg oedema dimasukkan kedalam bak isi air, air yang dipindahkan kemudia diukur, kemudian dibandingkan dengan anggota yg tidak oedema. e. Tonometry, yang diukur adalah kompresibility dan elastisity anggota. Swolen dan atau fibrosis relatif tidak dapat ditekan dibandingkan dengan sedikit oedema yg berisi cairan.

Gejala kemungkinan adanya malignancies. Datangnya lymphoedema mendadak Perkembangan cepat, konstan dan cukup agresif. Berkurangnya jarak acromion dan neck Protrusion (penonjolan) atau adanya gumpalan di supraklavikuler Adanya gumpalan di area lain Perubahan pada kulit, yang a.l sbb : - Lymphangiosis carcinomatosa, adanya kemerahan dikulit yg berbeda dg infeksi. Pd Infeksi riwayatnya jelas, berkembangnya cepat dan dirasa gak enak, tapi pd lymphangiosis datangnya lambat dan tak dirasakan atau tak mempengaruhi kesehatan.. - Angiosarcoma, ada kebiruan seperti haematom, dapat dibedakan dengan riwayat datangnya.dengan pertanyaan. - Collateral vein, seperti thrombosis - Lymphocyts, terjadi dilatasi dan nampak ada blister - Lymphfistulae, terdapat diantara pembuluh limfe dan kulit. - Luka terbuka, mungkin ulcer atau tumor - Unbearable pain (nyeri tak tertahankan) - Paralyisis, pada anggota yg lymphoedematous. 3. Treatment lymphoedema Tujuannya untuk mengurangi oedema yg diswebabkan oleh malfungsi pada sistem limfatik. Modalitas yang digunakan terutama dengan ; Manual lymphatic drainage/self massage Bandaging dan compression garmen Skin care Exercise. Prinsip manual limfatic drain : Gerakan lambat , seperti gerakan cairan limfe Tekanan optimal penting, jika terlalu keras malah memblokade Treatment perlu seluruh tubuh, terutama trunk utk mengalifkan cairan limfe dari anggota. Kelenjar hrs distimulasi agar dikosongkan dan dapat mengabsorbsi lagi dari anggota. Anastomosis dibuka

Kuadran dari anggota yg oedema hrs ditreatmen Scar harus diangkat, karena bila lebih dari o,5-1mm tak dapat terbentuk kapiler. Kontra indikasi MLD : - malignance (relatif) - inflamasi akut - Chronic cordiac failure Bandaging dan compression garmen. Tujuan dan maksud bandaging adalah : - Menaikkan tekanan total pada jaringan - Membuat istirahat dan tekanan tetap bekerja - Mempertahankan penurunan oedema yg dicapai dg MLD. - Memperlunal area fibrotik dg spesial padding. Prinsip bandaging dan compression garmen. Pada hari pertama yg dipakai hanya sebatas lutut/siku Awalnya bandage ringan saja dan semakin hari makin keras Lebih kencang di bagian distal dp proximal Variasi tekanan bisa dibuat dari banyaknya overlaping atau dengan double verban. Sirkulasi harus dicek, pasien diminta informasi atas reaksi bandaging. Kontraindikasi bandaging - Chronic cardiac failure - Arterial insuffisiensy. Prosedur bandaging 1. Jika jari yang bengkak digunakan verban dimana dengan tekanan rendah dan ujung jari tetap terbuka agar dpt mengontrol sirkulasi. 2. Lapis pertama digunakan verban kain katun yang halus (socking), agar tetap hygenis dan melindungi bahan lapis verban selanjutnya yang terbuat dari bahan sintetis. 3. Lapis kedua dipasang padding (bantalan) terbuat dari sintetic cotton wool atau spon yg halus, terutama diatas tulang menonjol atau kulit yg terlipat. Biasanya di atas maleulus, bagian dorsal pedis, dorsum palm, dan bagian depan kaki. 4. Extra padding, untuk menghidari terjadinya penekanan saat melakukan gerakan, biasa dipasang di fosa poplitea dan fosa cubiti. 5. Chipbags, sejenis padding yang agak keras dibuat dari katun yang dilipat disi spon, dipasang diatas area fibrotic, agar terjadi pemecahan fibrotic. 6. Lapis ketiga baru verban elastis, agar terjadi penekanan pada anggota tubuh.Teknik pembalutan beri tekanan rendah disisi luar dg sedikit tarikan, dan beri tekanan lebih keras disisi dalam dg tarikan agak keras. Disamping itu tekanan lebih keras dibagian distal , dan semakin turun ke proksimal. Ujung verban gunakan tape /perekat jangan di klip untuk mencegah kulit terluka. Compression garment (pakaian ketat) Setelah oedema berkurang dg pengobatan bandaging dan masage limfatic , perlu memakai pakaian yg ketat untuk mempertahankan pengurang tsb jangan kembali lagi. Karena dalam satu bulan biasanya akan terakumulasi lagi cairan dan terbentuk oedema kembali. Denagn memakai garment kemungkinan terbentuknya fibrotic menurun. Jenis garment bermacam-macam tergantung buatan pabriknya, yang penting memenuhi syarat sbb : Dipakai pas tanpa ada lipatan, baik saat istirahat atau bekerja/gerak. Tidak terpotong di siku dan lutut saat ektensi/fleksi Cukup dapat menutupi anggota sampai pinggang atau axila tanpa ada potongan. Pasien mampu memakai sendiri

Tersedia dua stel satu dicuci satu dipakai. Dapat memberi tekanan pada kulit 25-40 mmHg,untuk rata-rata oedema, dan 40-60mmHg untuk oedema yg agak serius.

Skin care (perawatan kulit) Kulit yang mengalami oedema cenderung menjadi kering, dan karena itu gunakan moisturizer (bahan pelembab), dan unutk mencegah jamur dan infeksi jaga hygiene dan jangan sampai terluka. Exercise (latihan) Aktifitas otot sama halnya dengan gerakan pasif yang dapat memperlancar aliran limfe. Tujuan latihan adalah utk : Meningkatkan aliran limfe Koreksi posture dan memperkuat otot yg lemah Pada latihan yg intensif bandaging tetap dipakai, selanjutnya bisa memakai kompresif garment Latihan dimulai pada tubuh terutama otot-otot yg besar, kemudian anggota tubuh mulai proksimal ke distal. Sesuaikan pase kontraksi otot dan relaksasi dengan proses pengisian dan pengosongan cairan di limpatik prekolektor yang mendekati 5 secon pase pengisian dan 1 second fase pengosongan, sehingga program latihan diatur agar fase relaks 5 second dan fase kontraksi 1 second.

Latihan juga termasuk pernapasan dalam agar menjadikan tekanan negatif di rongga dada utk memudahkan mengalirnya cairan di thoracic duct. Modalitas lain utk terapi lymphoedema 1 Hidroterapi Efek hidroterapi terhadap lymphoedema walaupun belum diteliti, tetapi dengan melihat sifat air dapat diterapkan dengan tujuan : Adanya tekanan hidrostatik dapat menekan permukaan lengan/tungkai shg dapat membantu aliran limfe. Suhu yang hangat membantu relaksasi otot (suhu 30-31) C. Adanya daya apung membuat gerakan lebih mudah dilakukan yg berarti membantu aliran limfe. Setelah aktifitas, sebaiknya posisi dielevasikan Sesuai dengan tekanan hidrostatik, maka setelah aktifitas (renang) memakai kompresif garment.

2. Intermittent compression divice. Semacam sarung plastik yg dipasang di lengan atau tungkai kemudian diberi tekanan bergelombang (intermitten), maksudnya akan mendorong cairan dari distal ke proximal. Tekanan ideal 45 mm Hg utk high protein oedema, dan 15 mmHG utk Low protein oedema. Penggunaan mesin ini menurut para peneliti, setelah di pompa cairan menuju proximal tetapi sebagian protein tertinggal dan menarik kembali cairan, bahkan protein tsb malah akan berubah menjadi fibrotic akhirnya menghambat aliran limfe. Jadi, penggunaan mesin ini justru membuat tubuh pasif, karena itu harus diikuti dengan massage. Disamping itu bagian tubuh yg berlaku sebagai reservoar harus di kososngkan dulu , baru kemudian diisi dari distal.

58 menit yang lalu

Nia Cahyania
o

Burger diesses Penyakit Buerger (Tromboangitis obliterans) adalah penyumbatan pada arteri dan vena yang berukuran kecil sampai sedang, akibat peradangan yang dipicu oleh merokok. ENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui, tetapi penyakit Buerger hanya menyerang perokok dan keadaan ini akan semakin memburuk jika penderita tidak berhenti merokok. Penyakit ini hanya terjadi pada sejumlah kecil perokok yang lebih peka. Mengapa dan bagaimana merokok sigaret menyebabkan terjadinya penyakit ini, tidak diketahui. PENGOBATAN Penderita harus berhenti merokok atau penyakitnya akan menjadi lebih buruk, sehingga akhirnya memerlukan tindakan amputasi. Penderita juga harus menghindari: - pemaparan terhadap dingin - cedera karena panas, dingin atau bahan (seperti iodine atau asam) yang digunakan untuk mengobati kutil dan kapalan - cedera karena sepatu yang longgar/sempit atau pembedahan minor - infeksi jamur - obat-obat yang dapat mempersempit pembuluh darah. Berjalan selama 15 30 menit 2 kali/hari sangat baik. Penderita dengan gangren, luka-luka atau nyeri ketika beristirahat, perlu menjalani tirah baring. Penderita harus melindungi kakinya dengan pembalut yang memiliki bantalan tumit atau dengan sepatu boot yang terbuat dari karet. Bagian kepala dari tempat tidur dapat ditinggikan 15-20 cm diatas balok, sehingga gaya gravitasi membantu mengalirkan darah menuju arteri-arteri. Pentoxifylline, antagonis kalsium atau penghambat platelet (misalnya aspirin) diberikan terutama jika penyumbatan disebabkan oleh kejang. Penderita yang berhenti merokok tetapi masih mengalami penyumbatan arteri, mungkin perlu menjalani pembedahan untuk memperbaiki aliran darah, dengan memotong saraf terdekat untuk mencegah kejang. Jarang dilakukan pencangkokan bypass karena arteri yang terkena terlalu kecil. (medicastore) http://cariobat.wordpress.com/category/penyakit-arteri-perifer/ 1. LATAR BELAKANG MASALAH Kebiasaan merokok blablabla Penyakit Buerger, adalah penyakit pembuluh darah nonatherosclerotic yang juga dikenal sebagai thromboangiitis obliterans (TAO), yang ditandai peradangan pada pembuluh darah, fenomena vasoocclusive, dan keterlibatan pembuluh darah (vena dan arteri) sedang dan kecil yang terletak di bagian yang lebih distal dari tubuh. Penyakit ini dilaporkan pertama kali pada tahun 1908 oleh Mr. Leo BuergerKondisi ini sangat dipengaruhi oleh penggunaan tembakau terutama pada perokok, dan dan penyakit ini akan semakin parah apabila kebiasaan merokok tidak dihentikan. Gejala yang khas adalah nyeri ketika istirahat, ischemic ulcerations, dan kelayuhan anggota gerak, dan apabila tidak ada penanganan lebih lanjut, pasien mungkin memerlukan beberapa tindakan bedah amputasi. Etiologi Walaupun etiologi penyakit Buerger tidak diketahui, terpapar tembakau sangat penting bagi inisiasi dan perkembangan penyakit. Kondisi ini terkait oleh penyebab utama yakni tembakau, serta didukung oleh fakta bahwa penyakit ini lebih umum terjangkit di negara-negara dengan penggunaan tembakau yang berat dan diantaranya adalah Indonesia yang mana jenis rokok tertentu bahan baku tembakau dan pembuatannya asli berada di Indonesia. Sementara itu, banyak pula pasien dengan penyakit Buerger adalah perokok pasif. Beberapa kasus

yang telah dilaporkan, pada orang yang tidak merokok yang terkena penyakit ini besar kemungkinan disebabkan karena tembakau kunyah. Sebagian besar pasien dengan penyakit Buerger berusia produktif yakni sekitar 20-45 tahun. Meskipun penyakit ini umumnya terjadi pada laki-laki (laki-laki: perempuan = 3:1), insiden ini diyakini akan meningkat di kalangan perempuan, karena peningkatan prevalensi merokok di kalangan wanita. iv. Patofisiologi Penyakit Buerger mempunyai mekanisme yang tetap tapi tidak jelas, namun ada beberapa penelitian yang mengaitkan penyakit ini dengan reaksi autoimun tubuh, yakni sebuah fenomena yang mengarah ke vasodysfunction dan kobaran thrombi. Pasien dengan penyakit ini menunjukkan hypersensitivity pada penyuntikkan ekstrak tembakau intradermal, sehingga telah meningkatkan sensitivitas selular untuk tipe I dan kolagen III, telah ditinggikan serum anti-endothelial sel antibodi titers, dan pinggiran vasculature diburukkan endothelium-tergantung vasorelaxation. Peningkatan prevalensi HLA-A9, HLA-A54, dan HLA-B5 yang diamati dalam pasien, yang menunjukkan sebuah komponen genetik untuk penyakit tersebut. 2. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI i. Anamnesis Waktu anamnesa perlu ditanyakan apakah pasien merasa nyeri waktu bekerja, berjalan maupun berolahraga. Dan apakah nyeri tersebut hilang saat istirahat. The most common symptoms of Buergers Disease are rest pain, skin ulcerations and gangrene of the fingers and toes. Sometimes people with the disease also experience coldness, numbness or tingling of the feet and hands. "are you smoking?" I said yes. He then asked how much and how long? I told him not even a pack a day and for about 3 years. ii. Pemeriksaan Fisik Vital Sign Pengukuran : Blood pressure Heart rate Temperatur Tinggi badan Berat badan Inspeksi Palpasi Area ekstremitas bagian distal teraba dingin. Pada pemeriksaan fisik didapatkan rabaan pulsasi agak berkurang, Pulsasi arteri di proksimal harus teraba untuk mengkonfirmasi apakah aliran darah di proksimal baik. Palpasi harus dilakukan pada semua arteri yang terletak di superficial dari ekstremitas. Yaitu arteri femoralis, poplitea, dorsalis pedis dan tibialis posterior di tungkai bawah. Sedangkan di tungkai atas adalah arteri axillaris, cubiti, radialis dan ulnaris. iii. Pemeriksaan Spesifik Buerger Assesment Tes Ischemia VAS Arthopometri Pengukuran L G S iv. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang meliputi beberapa metode yaitu menggunakan oscillografi, rheografi, doppler dan

arteriografi. Paling sering digunakan adalah doppler dan arteriografi. Doppler memakai ultrasound (sonografi), mengukur flow darah secara kualitatif. Sedangkan pemeriksaan arteriografi menggunakan imaging sinar X dan injeksi kontras. Arteriografi yang mendukung penyakit ini menunjukkan gambaran ular dan arteria halus. Artherio Radiography Angiography Dokter memasukkan catheter ke dalam arteri utama pada kaki dekat lipat paha. Melalui chateter tersebut ditembakkan sebuah sinar pada aliran darah dengan menggunakan sinar X (X-ray). Hasilnya akan menunjukkan apakah terdapat gangguan sirkulasi aliran darah atau tidak. Ultrasound Ultrasound dipakai sebagai teknik penggambaran nondestruktif di bidang kedokteran. Citra yang dihasilkan memakai gelombang ultrasonik (frekuensi tinggi, gelombang suara tak terdengar manusia). Menggunakan transduser yang digerakkan di permukaan kulit,atau kadang disusupkan ke lubang tubuh (vagina atau anus). Kemudian tranduser tersebut akan mengirimkan gelombang ultrasonik ke dalam tubuh. Di tempat pertemuan jaringan yang berbeda kepadatan, atau tempat jaringan bertemu cairan sehingga gelombang itu terpantulkan. Transduser menangkap pantulannya dan meneruskannya ke komputer, membentuk citra di layar monitor. Citra terus diperbarui hingga gerakan bisa terlihat. Peralatan ini akan menunjukkan jaringan tubuh mana yang tidak menerima cukup aliran darah. Nadi tidak teraba Brachial (-1) / yang berhubung dengan tulang paha (-2) Arteriosclerosis, diabetes, hipertensi, hyperlipidemia Dibangun setelah diagnosa 5,1-10 tahun (-1) / 2,1-5 tahun kemudian (-2) vi. Diagnosis Fisioterapi Impairment Nyeri Gangguan gerak Functional Limitation Adanya keterbatasan kemampuan dalam aktivitas-aktivitas pada bagian tubuh yang terkena penyakit Buerger Participation Restriction Adanya perasaan malu karena perubahan tropik pada bagian tubuh yang terkena penyakit Buerger vii. Rencana dan Tujuan Terapi Jangka pendek Mengurangi nyeri Meningkatkan LGS Jangka panjang Mengembalikan sirkulasi darah pada ekstremitas agar tidak terdapat gangguan http://ortotik-prostetik.blogspot.com/2009/04/penyakit-buerger.html Thromboangiitis obliterans menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah arteri di bagian kaki dan tangan karena menggumpalnya sel darah. Tersumbatnya pembuluh darah ini akan membuat jaringan kulit dan otot di sekitarnya terkena infeksi, rusak, bahkan mati. Jaringan yang rusak ini bisa dilihat di beberapa bagian kaki dan tangan. Jika dibiarkan, akan menyebar ke seluruh daerah tangan dan kaki.

Jika Anda seorang pria, perokok, usia 20-40 tahun, sebaiknya mulai mewaspadai penyakit ini. Ketiga faktor tersebut merupakan pintu gerbang bagi masuknya buerger. Meski belum diketahui pasti penyebabnya, rokok dituding menjadi faktor pencetus utama. Kaki tangan membusuk Gejala awal penyakit buerger adalah kesemutan. Karena dianggap sepele, hal ini seringkali diabaikan. Padahal, jika dibiarkan, gejala lain akan muncul, misalnya penderita merasa kedinginan, mati rasa, dan kram otot di telapak kaki atau tungkai. Gejala tersebut menandakan pembuluh darah sedang mengecil atau tersumbat. Semakin lama gejala dibiarkan, semakin banyak pembuluh darah yang tersumbat. Kalau sudah tersumbat, keperluan oksigen dan zat makanan yang dialirkan lewat darah untuk daerah tangan dan kaki akan terhambat. Akibatnya, jaringan yang kekurangan asupan makanan akan rusak dan mati, lalu lama-kelamaan membusuk. Nyeri, Dingin, dan Kehitaman Penyakit buerger disebabkan peradangan pada pembuluh darah, terutama di tangan dan kaki. Ketika peradangan itu membuat pembuluh tersumbat aliran darah ke daerah itu berkurang, schingga muncul rasa nyeri dan akhirnya terjadi kerusakan jaringan. Penyakit buerger mengenai sekitar enam dari setiap 10 ribu orang. Memang tergolong jarang kasusnya, namun hampir selalu menghampiri pria usia produktif (20-40 tahun) yang merokok atau mengunyah tembakau. Kondisi ini mungkin saja berkaitan dengan riwayat penyakit raynaud. Pada anak-anak penyakit ini sangat jarang terjadi, tetapi bisa saja mengenai anak-anak dengan penyakit autoimun. Tanda-tanda penyakit buerger yang bisa dikenali: Tangan atau kaki terlihat pucat, kemerahan, atau kebiruan, bahkan sampai kehitaman. Tangan atau kaki terasa dingin. Tangan dan kaki terasa nyeri, yang meliputi rasa seperti terbakar atau kesemutan. Rasa ini sering terjadi ketika tubuh sedang istirahat. Rasa nyeri muncul di betis, pergelangan, atau kaki bagian bawah ketika sedang berjalan. Terjadi perubahan kulit atau muncul luka di kaki atau tangan. Gejala ini bisa memburuk jika terpapar suhu dingin atau ketika kondisi stres. http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|6074 BUERGERS DISEASE Kelainan-kelainan pada sumbatan arteri kronik dikelompokkan menjadi Angioneuropati yaitu kelainan vasomotor arteri, misalnya penyakit Raynaund, Penyakit arteri oklusi, dapat disebabkan oleh proses degenerasi, seperti arteriosklerosis (artherosklerosis) atau proses radang seperti pada endangitis obliterans (Winnewarter-Buerger) dan Angiopati angiopati adalah reaksi abnormal pada pembuluh darah terminal, misalnya akrosianosis esensial. Buergers Disease adalah proses inflamasi dari dinding arteri yang menyebabkan penebalan pada dinding berakibat sumbatan pada arteri. Biasanya menyerang pada usia muda. Penyakit ini menyerang arteri-arteri kecil dan menimbulkan sumbatan dan mikro aneurysma. Buergers disease / tromboangitis obliterans merupakan penyakit yang ditandai adanya inflamasi akut dan trombosis pada arteri, vena dan nervus pada tangan dan kaki. Obstruksi dari pembuluh darah akan menurunkan perfusi sehingga akan menimbulkan kerusakan jaringan, serta menimbulkan ulserasi dan ganggren pada jari tangan dan kaki. Hampir 100% penyakit ini menyerang perokok pada usia dewasa muda. Sebagian besar penderita yang didiagnosis sebagai penyakit Buerger, ternyata menderita

atherosklerosis. Gambaran Klinik Gambaran secara umum dari Buerger disease adalah terjadinya proses inflamasi. Keterlibatan arteri berbeda dengan atherosklerosis. Pada buerger disease menyerang arteri lebih perifer. Pada ekstremitas bawah diluar arteri poplitea, dimulai dari arteri tibialis meluas ke pembuluh darah kaki. Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya proliferasi dari sel intima dan fibroblast pada segmen arteri. Tidak dijumpai deposit lemak dan klasifikasi. Tidak dijumpainya adanya nekrosis dari dinding arteri. Periode eksaserbasi dan proses akut dimanifestasikan sebagai plebitis superficial akut adanya oklusi arteri dan oklusi. Keadaan ini diimbangi dengan adanya sirkulasi kolateral sehingga terjadi remisi terutama pada pasien muda. Berat dan luasnya iskemia di ekstremitas ditentukan oleh sering dan lamanya serangan akut dimana serangan ini dipengaruhi oleh beratnya merokok. Pada stadium akut trombosis terjadi di dalam arteri dan vena yang berukuran kecil sampai sedang dan biasanya pembuluh yang terkena adalah pembuluh darah pada jari. Didalam trombus tersebut terdapat agregasi yang padat dari sel-sel leukosit polimorfonuklear. Keadaan ini menyerupai panvaskulitis tetapi lamina elastika masih utuh. Tidak seperti pada atherosklerosis atau periarteritis nodusa pada penyakit Buerger tidak dijumpai nekrose dinding arteri. Diagnosis Secara pasti penyebab Buerger disease tidak diketahui. Biasanya menyerang umur dewasa muda (umur 20-40 tahun) pada perokok berat. Kasus pada bukan perokok sangat jarang, oleh karena itu rokok sigaret dipertimbangkan sebagai faktor penyebab. Tanda-tanda awal berupa iskemi. Rasa nyeri pada area yang terkena. Onset diawali dari kaki atau tangan. Pertama-tama inflamasi terjadi pada arteri dan vena kecil pada permukaan anggota tungkai atau lengan. Sedangkan pada stadium lanjut terjadi penurunan aliran darah pada daerah yang terkena. Pulsasi arteri pada tungkai menurun atau tidak dapat terdeteksi. Pengelompokan Fountaine tidak dapat digunakan karena nyeri terjadi waktu istirahat, bertambah pada waktu malam atau keadaan dingin, dan berkurang apabila ekstremitas digantung. Pada keadaan lanjut, ketika telah ada tukak atau ganggren maka nyeri akan sangat hebat dan menetap. Perubahan kulit seperti pada penyakit sumbatan arteri kronik lainnya kurang nyata. Pada awalnya kulit hanya tampak memucat ringan pada ujung jari. Pada fase lebih lanjut tampak vasokontriksi yang ditandai dengan campuran pucat sianosis kemerahan bila mendapat rangsangan dingin. Pasien mengeluh adanya kebas, perasaan seperti terbakar, penurunan atau hilangnya pulsasi dikaki. Perubahan kulit seperti pada penyakit sumbatan arteri kronik lainnya kurang nyata. Pada awalnya kulit hanya tampak memucat ringan pada ujung jari. Pada fase lebih lanjut tampak vasokontriksi yang ditandai dengan campuran pucat sianosis kemerahan bila mendapat rangsangan dingin. Pada penelitian Shionaya di India dari 255 pasien, 98% laki-laki dengan gejala sebagai berikut : Parestesia, sianosis (37%), Ulkus (18%), Foot Claudication (15%), Calf Claudication (16%), rest pain (10%), Thrombophlebitis (3%). Diagnosis biasanya ditegakkan dari pemeriksaan klinik. Pasien biasanya mengeluh adanya kebas, perasaan seperti terbakar. Pemeriksaan klinis kemungkinan terdapat penurunan atau hilangnya pulsasi di kaki. http://ilmubedah.info/buerger-disease-20120619.html efek kineosteping pada limfatik Kinesio Taping berpengaruh pada sistem limfatik. Ketika terjadi inflammasi sistem limfatik pada superficial dan deep limfatic vessels akan penuh. Kinesio Taping membantu aliran limfatik dibawahnya sehingga terjadi penurunan tingkat inflammasi. Kinesio Taping juga menciptakan gerakan massages yang lembut dengan gerakan. Perubahan tekanan dan gerakan pada kulit menyebabkan terbuka dan tertutupnya saluran limfatik berakibat peningkatan mekanisme aliran deeper limfatik. (Hancock) http://fisioterapimandiri.blogspot.com/2012/03/efek-kinesio-taping-pada-sistem.html gangguan vena vericosa Defenisi Varises Vena (vena varikosa) adalah pelebaran vena permukaan di tungkai. Penyebab Penyebab pasti dari varises vena tidak diketahui, tetapi kemungkinan penyebabnya adalah suatu kelemahan pada

dinding vena permukaan. Lama-lama kelemahan ini menyebabkan vena kehilangan kelenturannya. Vena akan meregang dan menjadi lebih panjang dan lebih lebar. Untuk menyesuaikan dengan ruangnya yang normal, vena yang memanjang ini menjadi berliku-liku dan jika menyebabkan penonjolan di kulit yang menutupinya, akan tampak gambaran yang menyerupai ular. Pelebaran vena menyebabkan terpisahnya daun-daun katup. Sebagai akibatnya, jika penderita berdiri, vena dengan cepat akan terisi oleh darah dan vena berdinding tipis yang berlikuliku ini akan semakin melebar. Pelebaran vena juga mempengaruhi beberapa vena yang berhubungan, yang dalam keadaan normal mengalirkan darah hanya dari vena permukaan ke vena dalam. Jika katup-katup pada vena tersebut gagal, maka pada saat otot menekan vena dalam, darah akan menyembur kembali ke dalam vena permukaan, sehingga vena permukaan menjadi lebih teregang. Gejala Selain tidak enak dilihat, varise vena sering terasa sakit dan menyebabkan kaki mudah lelah. Tetapi banyak juga penderita yang tidak merasakan nyeri, meskipun venanya sangat melebar. Tungkai bagian bawah dan pergelangan kaki bisa terasa gatal, terutama jika tungkai dalam keadaan hangat (setelah menggunakan kaos kaki atau stoking). Rasa gatal menyebabkan penderita menggaruk dan menyebabkan kulit tampak kemerahan atau timbul ruam. Hal ini sering disalah-artikan sebagai kulit yang kering. Gejala yang terjadi pada varises yang sedang berkembang kadang lebih buruk daripada gejala pada vena yang telah sepenuhnya teregang. Komplikasi Hanya sebagian kecil penderita yang memiliki komplikasi, yaitu berupa: Dermatitis, menyebabkan ruam kemerahan, bersisik dan terasa gatal atau daerah kecoklatan; biasanya pada bagian dalam tungkai, diatas pergelangan kaki. Penggarukan atau luka kecil bisa menyebabkan terbentuknya ulkus (borok) yang terasa nyeri dan tidak sembuhsembuh. Flebitis, bisa terjadi secara spontan atau setelah suatu cedera; biasanya menimbulkan nyeri tetapi tidak berbahaya. Perdarahan. Jika kulit diatas varises sangat tipis, cedera ringan (terutama karena penggarukan atau pencukuran) bisa menyebabkan perdarahan. Perdarahan juga bisa berasal dari borok. Diagnosa Varises vena biasanya dapat terlihat sebagai penonjolan dibawah kulit, tetapi gejalanya mungkin saja timbul sebelum vena terlihat dari luar. Jika varises belum terlihat, dilakukan peminjatan tungkai untuk menentukan beratnya penyakit ini. Rontgen atau USG dilakukan untuk menilai fungsi dari vena dalam. Pemeriksaan ini biasanya hanya dilakukan jika perubahan di kulit menunjukkan adanya kelainan fungsi dari vena dalam atau jika pergelangan kaki penderita bengkak karena edema (penimbunan carian di dalam jaringan dibawah kulit). Varisesnya sendiri tidak menyebabkan edema. Pengobatan Karena varises vena tidak dapat disembuhkan, pengobatan terutama ditujukan untuk mengurangi gejala, memperbaiki penampilan dan mencegah komplikasi. Mengangkat kaki bisa mengurangi gejala tetapi tidak dapat mencegah varises vena. Varises vena yang timbul selama kehamilan biasanya akan membaik dalam waktu 2-3 minggu setelah melahirkan. Stoking elastis bekerja dengan cara menekan vena dan mencegah peregangan dan perlukaan pada vena. Penderita yang tidak ingin menjalani pembedahan atau terapi suntikan atau penderita yang memiliki masalah medis sehingga tidak boleh menjalani pembedahan maupun terapi suntikan, bisa menggunakan stoking elastis ini. Pembedahan Tujuan dari pembedahan adalah untuk mengangkat sebanyak mungkin varises vena. Vena superfisial yang paling besar adalah vena safena magna, yang berjalan mulai dari pergelangan kaki sampai selangkangan, dimana vena ini bergabung dengan vena dalam. Vena safena dapat diangkat melalui prosedur yang disebut stripping. Vena permukaan memiliki peran yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan vena dalam, karena itu pengangkatan vena permukaan tidak mengganggu sirkulasi darah selama vena dalam berfungsi dengan normal. Terapi suntikan Pada terapi suntikan, vena ditutup, sehingga tidak ada darah yang dapat melewatinya. Suatu larutan disuntikkan

untuk mengiritasi vena dan menyebabkan terbentuknya gumpalan (trombus. Pada dasarnya prosedur ini menyebabkan flebitis permukaan yang tidak berbahaya. Penyembuhan trombus menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang akan menyumbat vena. Tetapi trombus mungkin saja terlarut dan varises vena kembali terbuka. Jika diameter dari vena yang disuntik ini bisa berkurang melalui penekanan oleh teknik pembebatan khusus, maka ukuran trombus bisa diperkecil sehingga lebih mungkin terbentuk jaringan parut, seperti yang diharapkan. Keuntungan lain dari pembebatan adalah bahwa penekanan yang tepat bisa menghilangkan nyeri, yang biasanya menyertai flebitis permukaan. Terapi suntikan biasanya dilakukan hanya jika varises kembali timbul setelah pembedahan atau jika penderita menginginkan tungkainya tampak cantik. http://www.artikel.indonesianrehabequipment.com/2011/01/diagnosis-dan-pengobatan-pada-penyakit.html Pengertian Varises Vena (vena varikosa) adalah pelebaran vena permukaan di tungkai atau pemanjangan, berkelok-kelok dan pembesaran suatu vena. Vena varikosa ekstremitas bawah adalah kelainan yang sangat lazim, yang mengenai 1520 % populasi dewasa (Sabiston 1994). Varises vena adalah distensi, dan bentuk berlekuk-lekuk dari vena-vena superficial (safena) dari kaki (Engram B., 1999). Varises tungkai bawah adalah pemanjangan, berkelok-kelok, pembesaran suatu vena superficial, profunda dan kommmunikan pada titik Dodd (pertengahan paha), Byod (sebelah medial lutut) dan gastronemicus (tempat keluarnya vana saphena parva). Etiologi Penyebab pasti dari varises vena tidak diketahui, tetapi kemungkinan penyebabnya adalah suatu kelemahan pada dinding vena permukaan. Lama-lama kelemahan ini menyebabkan vena kehilangan kelenturannya. Vena akan meregang dan menjadi lebih panjang dan lebih lebar. Untuk menyesuaikan dengan ruangnya yang normal, vena yang memanjang ini menjadi berliku-liku dan jika menyebabkan penonjolan di kulit yang menutupinya, akan tampak gambaran yang menyerupai ular. Pelebaran vena menyebabkan terpisahnya daun-daun katup. Sebagai akibatnya, jika penderita berdiri, vena dengan cepat akan terisi oleh darah dan vena berdinding tipis yang berliku-liku ini akan semakin melebar. Pelebaran vena juga mempengaruhi beberapa vena yang berhubungan, yang dalam keadaan normal mengalirkan darah hanya dari vena permukaan ke vena dalam. Jika katup-katup pada vena tersebut gagal, maka pada saat otot menekan vena dalam, darah akan menyembur kembali ke dalam vena permukaan, sehingga vena permukaan menjadi lebih teregang. Tanda & Gejala Selain tidak enak dilihat, varises vena sering terasa sakit dan menyebabkan kaki mudah lelah. Tetapi banyak juga penderita yang tidak merasakan nyeri, meskipun venanya sangat melebar. Tungkai bagian bawah dan pergelangan kaki bisa terasa gatal, terutama jika tungkai dalam keadaan hangat (setelah menggunakan kaos kaki atau stoking). Rasa gatal menyebabkan penderita menggaruk dan menyebabkan kulit tampak kemerahan atau timbul ruam. Hal ini sering disalah-artikan sebagai kulit yang kering. Gejala yang terjadi pada varises yang sedang berkembang kadang lebih buruk daripada gejala pada vena yang telah sepenuhnya teregang. Penegakan Diagnosa Varises vena biasanya dapat terlihat sebagai penonjolan dibawah kulit, tetapi gejalanya mungkin saja timbul sebelum vena terlihat dari luar.

Jika varises belum terlihat, dilakukan peminjatan tungkai untuk menentukan beratnya penyakit ini. Rontgen atau USG dilakukan untuk menilai fungsi dari vena dalam. Pmeriksaan ini biasanya hanya dilakukan jika perubahan di kulit menunjukkan adanya kelainan fungsi dari vena dalam atau jika pergelangan kaki penderita bengkak karena edema (penimbunan carian di dalam jaringan dibawah kulit). Varisesnya sendiri tidak menyebabkan edema.

f. Pemeriksaan fisik Status lokalis : 1. Dilatasi, lekuk-lekuk vena superfisialis pada kaki 2. Keluhan sakit dangkal, kelelahan, kram, dan kaki berat, khsusnya setelah berdiri lama 3. pigmentasi kecoklatan pada kulit 4. bengkak, yang secara umum berkurang dengan peninggian tungkai g. Pemeriksaan diagnostik 1. Venogram menunjukkan lokasi pasti dari varises kedua vena superficial dan dalam. 2. Test perfthes (klien berdiri sampai vena varikosa tampak dan digambar) h. Program Pengobatan Karena varises vena tidak dapat disembuhkan, pengobatan terutama ditujukan untuk mengurangi gejala, memperbaiki penampilan dan mencegah komplikasi. Mengangkat kaki bisa mengurangi gejala tetapi tidak dapat mencegah varises vena. Varises vena yang timbul selama kehamilan biasanya akan membaik dalam waktu 2-3 minggu setelah melahirkan. Stoking elastis bekerja dengan cara menekan vena dan mencegah peregangan dan perlukaan pada vena. Penderita yang tidak ingin menjalani pembedahan atau terapi suntikan atau penderita yang memiliki masalah medis sehingga tidak boleh menjalani pembedahan maupun terapi suntikan, bisa menggunakan stoking elastis ini. Tujuan dari pembedahan adalah untuk mengangkat sebanyak mungkin varises vena. Vena superfisial yang paling besar adalah vena safena magna, yang berjalan mulai dari pergelangan kaki sampai selangkangan, dimana vena ini bergabung dengan vena dalam. Vena safena dapat diangkat melalui prosedur yang disebut stripping. Vena permukaan memiliki peran yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan vena dalam, karena itu pengangkatan vena permukaan tidak mengganggu sirkulasi darah selama vena dalam berfungsi dengan normal. Pada terapi suntikan, vena ditutup, sehingga tidak ada darah yang dapat melewatinya. Suatu larutan disuntikkan untuk mengiritasi vena dan menyebabkan terbentuknya gumpalan (trombus. Pada dasarnya prosedur ini menyebabkan flebitis permukaan yang tidak berbahaya. Penyembuhan trombus menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang akan menyumbat vena. Tetapi trombus mungkin saja terlarut dan varises vena kembali terbuka. Jika diameter dari vena yang disuntik ini bisa berkurang melalui penekanan oleh teknik pembebatan khusus, maka ukuran trombus bisa diperkecil sehingga lebih mungkin terbentuk jaringan parut, seperti yang diharapkan. Keuntungan lain dari pembebatan adalah bahwa penekanan yang tepat bisa menghilangkan nyeri, yang biasanya menyertai flebitis permukaan. Terapi suntikan biasanya dilakukan hanya jika varises kembali timbul setelah pembedahan atau jika penderita menginginkan tungkainya tampak cantik. Penyakit Arteri Perifer | Cari Obat untuk Kesehatan cariobat.wordpress.com Penyakit Aorta Abdominalis & Percabangan Posted by IGM in Jantung dan Pembuluh Darah, Penyakit Arteri Perifer Agustus 26, 2009 Penyumbatan pada aorta abdominalis dan cabang utamanya bisa terjadi secara tibatiba maupun secara perlahan. PENYEBAB Penyumbatan total yang ter...

Bagikan