Anda di halaman 1dari 5

PROSIDING SEMINAR PENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR

Pusat Teknologi Akselerator don Proses Bahan Yogyakarta, 28 Agustus 2008

KARAKTERISASI KAPASITAS TUKAR KATION LEMPUNG KASONGAN UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR Tri Suyatno, Endro Kismolo
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN

ABSTRAK
KARAKTERISASI KAPASITAS TUKAR KA TION LEMPUNG KASONGAN UNTUK PENGOLAHAN LlMBAH RADIOAKTIF CAIR. Percobaan dilakukan dengan mengukur nilai kapasitas tukar kation lempung sebelum dan setelah pengaktifan kimia menggunakan larutan (NH4h S04 0,1 M; NH4N03 0,3 M dan NH4CI 0,3 M, dan pengakifan fisika dengan pemanasan pada suhu 150 DC sampai dengan 400 DC. Analisis kapasitas tukar kation (KTK) sebelum dan sesudah pengaktifan dilakukan di Balai Besar Keramik Bandung. Dari percobaan diperoleh data bahwa pemanasan sampai 300 DC dan penambahan ammonium sulfat baik untuk peningkatan nilai KTK lempung, yaitu memberikan ni/ai KTK sebesar 0,865 meq/g dan 1,084 meq/g Kata Kunci : KTK Lempung Kasongan - Sorpsi Cesium

ABSTRACT
CHARACTERIZA TION CATION EXCHANGE CAPACITY OF KASONGAN CLA Y FOR THE TREA TMENT OF RADIOACTIVE LIQUID WASTE. The experiment was done by measure of cation exchange capacity of clay before and after chemical activation using (NH4h S04 0,1 M; NH4N03 0,3 M dan NH4CI 0,3 M and physis activation by heating on temperature from 150 DC to 400 DC. Analysis of cation exchange capacity (CEC) was doing on Balai Besar Keramik Bandung. From the research can be result as the heating to 300 DC and ammonium sulphat added can be improved of the cation exchange capacity (CEC) value of clay, are gave of CEC value are 0,865 meq/g and 1,084 meq/g Key Word: CEC Kasongan Clay- Cesium Sorption

PENDAHULUAN
mengolah kontaminan limbah rendah dapat dilakukan selain dengan metode elektromagnetik platting dan metode floatasi, maka metode sorpsi (penjerapan) menggunakan mineral lokal merupakan salah satu metode altematif yang dapat dipilih, karena mudah dalam pengelolaan lanjut (1,2). Pada saat ini pemanfaatan lempung untuk proses penjerapan banyak digunakan secara mandiri atau bersama-sama dengan mineral alam lainnya misalnya zeolit. Pemaka:an secara bersama-sama dengan zeolit dimaksudkan untuk memudahkan pengelolaan lanjut pasca penjerapan, karena lempung lebih bersifat plastis dari pad a zeolit. Namun demikian lempung dapat digunakan secara mandiri dalam proses penjerapan, tetapi dilakukan secara catu karena lempung dalam sistem air
236

Pada aplikasinya, untuk radioaktif cair dengan kadar

mengalami swelling. Untuk meningkatkan kapasitas penjerapannya, dapat dilakukan dengan melakukan preparasi terlebih dulu yaitu dengan pengaktifan baik secara fisika atau secara kimia tergantung keperuntukannya (2). TEORI Lempung dapat digunakan sebagai bahan penjerap aItematif karena sifatnya sebagai penukar ion alamiah. Senyawa alumunium silikat dalam lempung yang memiliki struktur kerangka tiga demensi terbentuk oleh tetrahedral AIO/- dan Si044dengan rongga di dalamnya terisi ion-ion logam biasanya logam alkali tanah dan molekul air yang dapat bergerak bebas. Proses pertukaran kationkation dalam lempung dapat ditingkatkan dengan cara memperbesar luasan bidang kontak dan peningkatan sifat ionik logam-Iogam alkali tanah di

ISSN 1410 - 8178

Tri Suyatno, dkk

PROSIDING SEMINAR PENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan Yogyakarta, 28 Agustus 2008 dalamnya dengan menambah asam atau garam (sui fat, khlorida, nitrat) (2,3,4), Penambahan asam dan garam-garam pada pengolahan kimia lempung bertujuan untuk membersihkan permukaan pori-pori, membuang senyawa-senyawa pengotor dan reposisi letak atom yang dapat dipertukarkan dengan memperbesar kemungkinan naiknya pergerakan logam-Iogam alkali tanah yang ada di dalamnya (3,4,5), Pada pengaktifan secara kimia menggunakan larutan garam NH/ maka akan diperoleh (clay-NH/ ) sebagai penukar kation, sehingga dalam proses sorpsi (penjerapan) kation cesium yang ada dalam limbah akan terserap oleh pori permukaan lempung dan bersubtitusi dengan kation N~ + yang ada pada permukaan adsorben, seperti dalam reaksi di bawah ini: I, Reaksi pengaktifan lempung : akan diuji kemampuan sorpsi adsorb en lempung tersebut da]am mereduksi kadar cesium dalam limbah radioaktif cair fase air. Pada percobaan ini digunakan (NH4)2S04 0, I M, NH4N03 0,3 M dan NH4CI 0,3 M, yang merupakan kegiatan ]anjutan kondisi terbaik pada peningkatan nilai KTK untuk mineral zeolit yang saat ini masih dalam proses optimasi. HIPOTESIS Oengan memvariasi konsentrasi larutan garam (NH4h S04; NH4N03 dan NH4CI, serta suhu pemanasan diduga dapat diperoleh lempung yang memiliki nilai KTK total lebih tinggi, dan dapat diaplikasikan untuk penjerapan limbah radioaktif cesium cair fase air. METODE Bahan yang digunakan Lempung dari Kasongan, larutan cesium nitrat (Cs = 4,995 ppm), larutan ammonium sulfat 0,1 M, larutan ammonium nitrat, 0,3 M, larutan ammonium khlorida 0,3 M dan aquades Peralatan yang digunakan Ayakan standar Tyler yang digunakan untuk penyeragaman ukuran butir lempung, fumase Thermolyne Sybron untuk pemanasan lempung, perangkat pengaduk Jar test untuk penentuan dosis pengaktifan secara kimia, piranti gelas sebagai alat bantu kerja laboratorium dan perangkat spektrometri gamma untuk analisis kadar cesium dalam limbah dan dalam beningan hasil proses penjerapan. Cara Kerja I. Pengaktifan lempung secara fisis dengan pemanasan a. Lempung lolos saringan (-40+60) mesh sebanyak 500 gram dimasukkan ke dalam gelas piala atau cawan porse\in, dipanaskan dalam fumase pada suhu 150C se\ama 60 men it, didiamkan dalam fumase sampai suhu kamar, ditimbang, kemudian ditampung dalam wadah dan ditutup rapat, b. Oilakukan sama seperti di atas pada suhu 200, 250, 300, 350 dan 400C untuk masing-masing selama 60 men it. c. Oilakukan sama seperti di atas terhadap lempung dengan ukuran butir (-60+80) mesh dan (-80+ I00) mesh. 2. Pengaktifan lempung secara kimia a, Lempung ukuran butir (-60+80) mesh sebanyak 150 gram dimasukkan ke dalam gelas beker volume 1000 ml yang telah berisi larutan aktivan (NH4)2 S04 0, I M
237

Clay-Na= +NH~ ~ Clay-NH4 +Na+ (I)


2, Reaksi pertukaran ion pada penjerapan limbah cesium: aplikasi proses

(2) Clay-NH4 +Cs+ ~ Clayt-Cs+ +NH4 Lempung yang mempunyai kapasitas tukar kation (KTK) yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan zeolit, hal ini dapat diterangkan dari perbedaan struktur kristal kedua material yang mempengaruhi sifat serap dan pertukaran ion, Nilai KTK total dari lempung Kasongan yang belum dipreparasi bervariasi antara 0,2 meq/g sampai 1,15 meq/g(4,5,7), Sama dengan mineral zeolit yang memiliki ion CaH lebih dominant disbanding ion Na+, nilai KTK dari lempungjuga ditentukan sifat pergerakan logam-Iogam alkaJi tanah yang ada di dalamnya yaitu logam (K, Na, Ca, Mg dan Fe). Logam-Iogam alkali tanah tersebut secara terpisah mampu menaikkan nilai KTK total dari lempung tergantung dari kemudahan logam-Iogam alkali tersebut bergerak dalam sistem saluran-saluran kerangka struktur lempung. Kation-kation tersebut mempunyai mobilitas yang tinggi, sehingga dapat memudahkan proses pertukaran ion. Sehingga lempung dapat bersifat sebagai penukar ion, penyerap, dan penyaring molekul (5). Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan sorpsi dari sorben lempung dapat dilakukan dengan cara peningkatan kapasitas tukar kation lempung tersebut menggunakan larutan garam (NH4)2 S04; NH4N03 dan NH4CI atau HN03 dan pengaktifan secara fisika dengan pemanasan (1,6). Oalam percobaan ini selain ingin diperoleh karakteristik nilai tukar kation total dan masing-masing logam-Iogam alkali yang ada di dalam lempung sebelum dan sesudah pengaktifan,
Tri Suyatno, dkk.

ISSN 1410 - 8178

PROSIDING SEMINAR PENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR


Pusat Teknologi Akselerator don Proses Bahan Yogyakarta, 28 Agustus 2008

sebanyak 500 ml. Selanjutnya diaduk peda kecepatan pengadukan cepat ISO rpm selama 10 menit menggunakan perangkat Jar Test. b. Hasilnya disaring dan padatan dalam kertas saring masukkan ke dalam gelas beker 1000 ml. Selanjutnya padatan dalam beker gelas dicuci dengan akuades yaitu dengan cara ditambahkan akuades 500 ml, diaduk lambat 50 rpm selama 10 men it, disaring dan diukur pH filtratnya. Pencucian terhadap padatan diulang dengan cara yang sarna sampai diperoleh pH filtrat = 7,0 c. Padatan yang diperoleh dipindahkan ke dalam beker gelas 1000 ml untuk dicuci dengan ethanol teknis sebanyak 500 ml dengan cara diaduk (30 rpm) selama 60 menit, disaring, dan padatan yang dalam kertas saring dipindahkan ke dalam cawan porselain, dikeringkan menggunakan lampu pemanas sampai diperoleh berat padatan yang tetap. d. Padatan lempung hasil pengaktifan digerus dan diayak dengan ayakan Tyler ukuran (60+80) mesh, hasilnya disimpan dalam eksikator. e. Dengan cara yang sarna dilakukan pengaktifan secara dilakukan terhadap lempung ukuran butir (-80+100) mesh. f. Dengan cara yang sarna dilakukan pengaktifan secara kimia menggunakan larutan NH4N03 0,3 M dan NH4CI 0,3 M. 3. Penentuan nilai kapasitas tukar kation (KTK) Penentuan nilai KTK terhadap lempung sebelum dan sesudah pengaktifan dilakukan di Balai Besar Keramik dan di Pusat Penelitian Teknologi Mineral Bandung. 4. Karakteristik sorpsi limbah cesium dengan lempung Kasongan. Ke dalam beker 100 ml yang berisi limbah cesium nitrat sebanyak 50,0 ml dengan konsentrasi cesium sebesar 4,995 ppm, ke dalamnya dimasukkan lempung alam dan lempung hasil pengaktifan terbaik sebanyak 10 % b/v. Campuran selanjutnya diaduk pada kecepatan pengadukan cepat 100 rpm selama 10 menit, dienapkan selama 120 men it. Selanjutnya dilakukan analisis kadar cesium dalam beningan hasil pengenapan dengan metode spektrofotometri gamma. HASIL DAN PEMBAHASAN pengaruh pemanasan karakteristik nilai kapasitas lempung Kasongan terhadap tukar kation

dapat diperoleh informasi bahwa pengaktifan dengan pemanasan sampai suhu 250C secara signifikan mampu meningkatkan nilai kapasitas tukar kation dari lempung. Tetapi apabila pemanasan dilanjutkan maka nilai KTK total yang diperoleh cenderung menurun kembali.
1,00

0.90 0.80 ~ 0.70


~ ~
::<

0,60 0,50 0,40 0,30 0,10 0.00 ......Le"l>ung ukur.n but.: (.40-tffi) rresh -. --Le"l>ung ukur.n but. : (-60-100) rresh

z 0,20
o
100

-0.200

Le"l>ung ukur.n but< : (80+100) rresh

300

400

500

Suhu pemanasan(C)

Gambar I.Grafik hubungan antara suhu pemanasan terhadap nilai KTK total lempung Kasongan pada berbagai kondisi ukuran butir dengan waktu pemanasan selama 60 men it. Hal ini terjadi karena pada kisaran suhu 300C diduga sudah mulai terjadi kerusakan pada kerangka struktur mineral lempung. Sedangkan struktur kerangka mineral lempung mengalami kerusakan pada suhu lebih dari 400C, hal ini ditunjukkan adanya penurunan nilai KTK yang cenderung semakin menurun secara signifikan. Hal ini diduga terjadi karena kerusakan struktur kerangka lempungt yang mengakibatkan terjadinya penurunan mobilitas logam-Iogam alkali (Ca, Mg, Na dan K) dalam lempung. Kondisi yang demikian akan menyebabkan terjadinya penurunan nilai KTK dari lempung tersebut. Pemanasan zeolit terbaik dicapai pada kisaran suhu 300C dengan nilai KTK total sebesar 0,865 meq/g. Terhadap ketiga kondisi ukuran butir lempung tersebut, maka lempung dengan ukuran butir (-80+ 100) mesh memberikan nilai kapasitas tukar kation total terbesar. Dengan demikian ukuran butir mineral lempung perlu dipertimbangkan karena terdapat batasan maksimum ukuran butir lempung yang memiliki kapasitas tukar kation maksimum. Selain itu untuk ukuran butir yang terlalu kecil cenderung memiliki nilai swelling yang lebih besar. Pengaruh pengaktifan secara kimia terhadap nilai kapasitas tukar kation (KTK) total dari lempung Kasongan. Pengaruh pengaktifan secara kimia terhadap nilai kapasitas tukar kation (KTK) total dari lempung Kasongan dapat dilihat pada Tabel I. Dari Tabel I, dapat dilihat bahwa nilai kapasitas tukar kation lempung dapat ditingkatkan dengan cara pengaktifan kimia, dalam percobaan ini

Pengaruh pemanasan terhadap karakteristik nilai kapasitas tukar kation lempung Kasongan dapat dilihat pad a gambar Grafik I. Dari Grafik I.
238

ISSN 1410 - 8178

Tri Suyatno, dkk

PROSIDING SEMINAR PENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan Yogyakarta, 28 Agustus 2008 KTK terbaik setelah pengaktifan secara fisika dengan cara pemanasan dan pengaktifan secara kimia. Tabel 2. Karakteristik lempung Kasongan terhadap efisiensi penjerapan limbah cesium pada kondisi beban adsorben 10 % b/v, kecepatan pengadukan cepat 150 rpm selama 10 menit dan waktu pengenapan selama 12 jam. dipanaskan 150 Kondisi adsorben kimia de zeolit alam C, 78,254 62,152 Efisiensi mesh, ngan mesh (-80+ pasca (-80+ I00) pemanasan 100) 300 mesh (-80+1 tanpa 00) pengaktifan fisika Penjerapan pasca 83,441 (%) Lempung

digunakan larutan (N H4)2S04 0, 1M, NH4N03 0,3 M dan NH4CI 0,3M. Dari Tabel I, juga dapat diperoleh informasi bahwa nilai kapasitas tukar kation total dari lempung Kasongan dengan ukuran butir (80+ I00) mesh memberikan nilai KTK yang lebih besar apabila dibandingkan dengan lempung dengan ukuran butir (-40+60) mesh dan (-60+80) mesh. Dari percobaan ini diperoleh informasi bahwa hasil pengaktifan secara kimia terbaik dicapai dengan penambahan larutan (NH4)20, S04 pengaktifan I M0,1 2. 1. dan kimia (NH4)2S04 No. C Lempung 3. total sebesar 1,084 M yaitu dengan nilai KTK meq/g terhadap lempung Kasongan dengan ukuran butir (-80+ 100) mesh. Larutan ammonium sulfat dapat diaplikasikan sebagai aktifator mineral lempung, karena peningkatan nilai kapasitas tukar kation cukup signifikan. Hal ini diduga larutan ammonium sulfat mampu membersihkan pori-pori dalam struktur meneral lempung lebih baik bila dibanding larutan aktifator yang lain.( N~N03 dan
NH4Cl)

1. Pengaruh pengaktifan secara kimia terhadap nilai kapasitas tukar kation (KTK) total dari lempung (-80+ I00) mesh, dipanaskan 150 C Perlakuan Pen2aktifan NH4CI NH4N03 NH4h 0,274 0,935 0,965 I(NH4)2 1(N~)2 NH4N03 0,3 S04 0,3 M 0,1 M M) mesh KTK (meq/2) 0,242 0,225 0,895 0,955 0,954 0,982 1,022 1,084 NoAwal 1,066 an butir (-60+80 (-80+ I00) mesh I. 1. Ukuran butir (-40+60 mesh

Tabel

Dari uji sorpsi (penjerapan) ini, diperoleh informasi bahwa perlakuan awal terhadap sorben alam lempung secara signifikan mampu meningkatkan kemampuan sorpsi terhadap limbah cesium. Dari data yang diperoleh dapat diperoleh informasi bahwa setiap perlakuan terhadap mineral memberikan nilai kemampuan serap yang berbeda, sehingga dalam aplikasi penjerapan dapat menghasilkan efisiensi penjerapan yang berbeda. Lempung hasil pengaktifan secara kimia menggunakan larutan ammonium sulfat, memberikan nilai efisiensi penjerapan yang terbesar bila dibandingkan dengan lempung dengan perlakukan lainnya. Dalam percobaan ini nilai efisiensi penjerapan limbah cesium yang dicapai oleh lempung hasil pengaktifan menggunakan ammonium suI fat yaitu sebesar 83,441 %. KESIMPULAN Dari hasil percobaan terhadap perlakukan lempung dari Kasongan terhadap reduksi kadar cesium dalam limbah radioaktif cair dapat diambil kesimpulan : I. Peningkatkan nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) total dari lempung dapat dilakukan melalui perlakuan awal dengan homogenisasi ukuran butitr, perlakuan fisika dan atau perlakuan kimia. 2. Karakteristik ukuran butir terbaik sorben lempung Kasongan dicapai pada kondisi ukuran butir (-80+100) mesh. Pada kondisi ini memberikan nilai kapasitas tukar kation terbesar

Data Primer: Metode anal isis: SNI. 15-0449 Sehingga mobilitas logam-logam alkali tanah dalam lempung lebih baik dan selanjutnya ion NH4+ menjadi lebih mudah menggantikan posisi kation-kation misalnya CaH dalam struktur lempung, sehingga nilai kapasitas tukar kationnya menjadi lebih besar. 5. Uji sorpsi (penjerapan) terhadap limbah cair cesium nitrat Karakteristik sorpsi lempung Kasongan hasil pengaktifan fisika dan secara kimia untuk penjerapan limbah cesium dapat dilihat pada Tabel 2. Pada percobaan ini hanya diperlakukan untuk lempung alam dan lempung yang memiliki nilai

Tri Suyatno, dkk.

ISSN 1410 - 8178

239

PROSIDING SEMINAR PENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR


Pusot Teknologi Akselerotor don Proses Bahan Yogyakarta, 28 Agustus 2008

pad a perlakuan dengan pemanasan dan perlakuan secara kimia. 3. Perlakuan awal terbaik dicapai pada lempung setelah pengaktifan dengan cara kimia menggunakan larutan ammonium sui fat dengan nilai kapasitas tukar kation KTK sebesar 1,084 meq/g. Sedangkan pengaktifan secara fisika dicapai pada pemanasan lempung sampai 300C selama 60 men it, yaitu menghasilkan nilai KTK sebesar 0,865 meq/g. Pada kondisi ini memberikan nilai efisiensi penjerapan sebesar 78,254 % untuk lempung yang dipanaskan sampai 300C dan 83,44 I % untuk lempung setelah perlakuan kimia menggunakan ammonium suI fat 0, I M. DAFT AR PUST AKA I. ANONIMOUS, TECHNICAL REPORT SERIES NO. 89, Chemical Treatment of Radioactive Waste, International Atomic Energy Agency, Veinna, 1968. 2. KAUFMAN, 1., NESBITT, 8.,J., GOLDMAN, I., M., ELIASEN, R., The Removal of Radioactive Anions by Water Treatment, Technical Information Service, Oak Ridge, Tennessee, 1951. 3. BRECK, D.W., Zeolite Molecular Sieves, Structure, Chemistry, and Use, John Wiley & Sons, Inc., New York, 1974. 4. SCHNEIDER, K., Use of Local Minerals in the Treatment of Radioactive Waste, Technical Report Series No. 136, IAEA, Vienna, 1974. 5. OTHMER, KIRCK., Molekular Sieve "Encyclopedia of Chemical Technology, 3th ed., vol. 15, John Wiley & Sons, New York, 1981

6. KHOMAR PRIA TNA ANW AR,"Prospek pemanfaatan Bentonit Kasongan Untuk Pembersih Minyak Kelapa Saw it", Deptan dan Energi , PPTM, Jakarta, (1983). 7. ENDRO KISMOLO, DKK, "Pemanfaatan Lempung Kasongan Untuk Mengolah Limbah Chrom", Seminar Nasional (11) Perkembangan Teknologi Keramik, Bandung, (2003)

TANYA JAWAB

Sri Wahyuningsih
~ Mengapa pada pemanasan 400 OC harga KTK tUTUn ? Tri Suyatno
-9-

Pada suhu tersebut diduga kerangka struktur mineral lempung telah rusak sehingga akan menurunkan mobilitas logam-Iogam alkali dalam pertukaran kation yang menyebabkan menurunkan nilai KTK.

Suparno
~ Apa fungsi aktivasi fisika dan kimia ? Tri Suyatno

Aktivasi fisika berfungsi untuk menghilangkan kristal air di dalam struktur minerallempung. -9- Aktivasi kimia berfungsi untuk membersihkan pori-pori dan senyawa-senyawa pengotor juga untuk reposisi letak atom-atom yang dapat dipertukarkan dalam minerallempung.
-9-

240

ISSN 1410 - 8178

Tri Suyatno, dkk