Anda di halaman 1dari 11

TINJAUAN PUSTAKA

Jamur Tiram Putih Jamur terdiri dari bermacam-macam jenis, ada yang merugikan dan ada yang menguntungkan bagi kehidupan manusia. Jamur yang merugikan antara lain karena bersifat patogen yaitu dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan maupun tumbuhan. Diantara jamur yang menguntungkan manusia misalnya : penicillium yang menghasilkan antibiotik penisilin, jamur-jamur yang berperan dalam proses fermentasi makanan seperti kecap, tempe, tape, tauco dan lain-lain. Bahkan banyak jenis jamur yang dapat dikonsumsi (dimakan) antara lain jamur kuping, jamur tiram, jamur shiitake, jamur agaricus (campignon) dan jamur merang. Jamur tiram putih merupakan salah satu jamur kayu yang sekarang telah banyak dibudidayakan orang. Media tanam atau substratnya yang sudah umum digunakan adalah gergajian kayu alba (sengon), tetapi sembarang gergajian kayu sebetulnya dapat digunakan, tentunya kayu yang tidak beracun, kemudian di campur dengan bahan-bahan yang lain dengan perbandingan tertentu (Anonima, 2011).

Media Tanam Jamur Limbah industri penggergajian kayu dengan potensi 7,8 juta m3 per tahun belum banyak dimanfaatkan (Roliadi dan Pasaribu, 2011). Limbah serbuk gergaji dapat dimafaatkan menjadi berbagai olahan limbah yang sangat bermanfaat. Serbuk kayu yang dihasilkan dari limbah penggergajian kayu dapat dimanfaatkan menjadi briket arang, arang aktif, komposit kayu plastik (Setyawati, 2003), pot organik sebagai pengganti polybag (Cahyono, 2000), sebagai media tanam jamur (Sariyono, 2000) dan bentuk-bentuk lainnya, misalnya untuk energi, kompos, pupuk ataupun untuk bahan baku industri. Susunan kimia serbuk gergaji berbeda menurut jenis kayunya, berikut ini merupakan rata-rata komposisi kimia kayu :

Tabel 1. Rata-rata komposisi kimia kayu Komponen Karbon (C) Hidrogen (H) Oksigen (O) Nitrogen (N) Sulfur (S)
Sumber : Anonimb (2011)

Kandungan (% berat kering) 45-50 6,0-6,5 38-42 0,1-0,5 0,05

Penyakit dan hama sering timbul pada baglog (media tanam jamur) dan jamur karena kurangnya ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan penanganan produksi, salah satunya proses pemeliharaan. Hal tersebut menimbulkan pekerjaan baru karena penyakit dan hama yang menyerang harus segera ditangani. Hama dan penyakit seperti spora jamur pengkontaminasi, bakteri pengganggu, ataupun virus dapat menyebar dengan mudah melalui aliran udara. Bahkan hama serangga dapat menyebar dengan cara terbang melawan aliran udara. Demikian pula dengan air, tanah, manusia, dan bibit dapat membawa sumber penyakit yang sama seperti udara. Penyakit pada jamur tiram biasanya disebabkan oleh fungi, kapang, bakteri ataupun virus. Jamur tiram atau baglog yang terserang penyakit biasanya ditandai dengan timbulnya noda-noda berwarna, berlendir, atau kerusakan fisik tubuh buah jamur tiram sehingga tidak dapat dipanen. Secara umum, timbulnya penyakit pada jamur ini disebabkan karena kurang sterilnya proses produksi mulai dari pembibitan hingga inkubasi. Beberapa jenis penyakit yang umum terdapat pada jamur tiram diantaranya : 1. Trichoderma spp. Trichoderma dapat menyebar melalui udara atau terbawa oleh pekerja. Ciriciri kontaminasi yang disebabkan oleh jamur ini adalah timbulnya bintik-bintik atau noda hijau pada media baglog jamur tiram sehingga pertumbuhan miselium jamur tiram menjadi terhambat. Trichoderma biasanya banyak terdapat pada media log jamur yang telah mati atau pada permukaan tanah. Cara mengatasi masalah ini adalah dengan segera membuang media log jamur tiram yang telah terkontaminasi,

sedangkan pencegahannya dapat dilakukan dengan melakukan sterilisasi/desinfektasi tenaga kerja dan peralatan yang digunakan untuk perawatan kumbung. 2. Mucor spp. Kontaminasi Mucor ditandai dengan timbulnya noda hitam pada permukaan media baglog. Kontaminasi ini menyebabkan adanya persaingan pertumbuhan Mucor dengan miselium jamur tiram. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah susunan baglog jamur dan mengatur atau menurunkan suhu ruangan dengan membuka dan mengatur sirkulasi udara. 3. Neurospora spp. Neurospora dapat menghambat pertumbuhan miselium dan tubuh buah. Neurospora menimbulkan tepung orange pada permukaan kapas penyumbat baglog. Pencegahan dilakukan dengan melakukan sterilisasi media baglog dengan sempurna dan mengurangi jumlah susunan baglog jamur tiram. 4. Penicillium spp. Kontaminasi Penicillium ditandai dengan tumbuhnya miselium berwarna coklat atau merah tua. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan ruang inkubasi, sedangkan untuk mengatasi agar serangan Penicillium tidak menyebar adalah dengan membuang media baglog yang terkontaminasi (Sritopo, 1999). Limbah Baglog Baglog merupakan istilah lain dari media tanam jamur. Terdapat dua macam baglog yang berpotensi menjadi limbah bagi lingkungan, yaitu baglog tua dan baglog terkontaminasi. Baglog tua berasal dari baglog yang sudah tidak produktif lagi atau sudah tidak menghasilkan jamur. Baglog tua biasanya baglog yang telah berumur lebih dari tiga bulan. Baglog terkontaminasi disebabkan karena sebelum baglog ditumbuhi jamur, baglog mengalami masa inkubasi, yaitu masa penumbuhan mycellium hingga baglog full grown. Pada masa inkubasi terdapat baglog yang terkontaminasi atau gagal tumbuh. Baglog yang terkontaminasi dikeluarkan dari bedeng dan menjadi limbah (Maonah, 2010).

Gambar 1. Baglog tua (a) dan baglog terkontaminasi (b)

Pengomposan Kompos Kompos adalah hasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikrob pengurai (Novizan, 2007). Pengomposan didefinisikan sebagai proses biokimiawi yang melibatkan mikrob sebagai agnesia (perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip dengan humus. Hasil perombakan tersebut disebut kompos. Kompos memiliki keunggulan-keunggulan lain yang tidak dapat digantikan oleh pupuk kimiawi, yaitu kompos mampu: a. Mengurangi kepadatan tanah, sehingga memudahkan perkembangan akar dan kemampuannya dalam penyerapan hara. b. Meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air, sehingga tanah dapat menyimpan air lebih lama dan mencegah terjadinya kekeringan pada tanah. c. Menahan erosi tanah, sehingga mengurangi pencucian hara. d. Menciptakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jasad penghuni tanah seperti cacing dan mikrob tanah yang sangat berguna bagi kesuburan tanah (Aminah, Soedarsono, dan Sastro, 2003).

Bahan Baku Kompos Bahan dasar pupuk organik, baik dalam bentuk kompos maupun pupuk kandang dapat berasal dari limbah pertanian, seperti: jerami dan sekam padi, kulit

kacang tanah, ampas tebu, belotong, batang jagung, dan bahan hijauan lainnya; sedangkan kotoran ternak yang banyak dimanfaatkan adalah kotoran sapi, kerbau, kambing, ayam, dan itik. Dengan berkembangnya permukiman, perkotaan, dan industri, maka bahan dasar kompos semakin beraneka ragam. Bahan yang banyak dimanfaatkan diantaranya adalah limbah cair, sampah kota dan sampah permukiman (Sutantoa, 2002). Limbah media tanam jamur (baglog) yang dihasilkan dari industri budidaya jamur dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku pembuatan kompos. Pemanfaatan limbah baglog jamur tiram diantaranya untuk didaurulang lagi sebagai media baglog, dibuat pupuk kompos, dan digunakan sebagai bahan bakar dalam proses steamer baglog (Anonima, 2010).

Karakteristik Kompos Rasio C/N. Setiap bahan organik mengandung unsur C (karbon) dan N (nitrogen) dengan perbandingan (komposisi) yang berbeda-beda antara bahan yang satu dengan yang lainnya. Perbandingan unsur C dan N dalam suatu bahan dinyatakan dengan rasio C/N. Kompos matang biasanya dilihat dari hasil uji rasio C/N (Isroia, 2008). Suatu bahan yang mengandung unsur C tinggi maka nilai C/N rasionya akan tinggi, sebaliknya bahan yang mengandung unsur N yang tinggi nilai C/N rasionya akan rendah. Nilai rasio C/N tersebut akan berpengaruh terhadap proses pengomposan. Semakin tinggi rasio C/N suatu bahan maka semakin lambat untuk diubah menjadi kompos; sebaliknya bahan dengan rasio C/N rendah akan mempercepat proses pengomposan, tetapi apabila nilai rasio C/N terlalu rendah maka proses pengomposan akan menghasilkan produk sampingan yaitu gas amoniak yang berbau busuk. Idealnya bahan-bahan yang akan dikomposkan bernilai rasio C/N 30:1. Pada nilai tersebut diperlukan lebih kurang satu bulan untuk mengubah bahan menjadi kompos. Namun demikian, di alam tidaklah begitu mudah memperoleh bahan yang memiliki rasio C/N 30:1. Untuk memperoleh bahan-bahan dengan rasio C/N mendekati angka tersebut, disarankan mencampur beberapa bahan. Bahan-bahan

yang mengandung C tinggi dicampur dengan bahan-bahan yang mengandung N tinggi sehingga diperoleh campuran bahan yang nilai C/N rasionya mendekati 30:1. Dengan demikian diharapkan proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat. Sebagai contoh, untuk mempercepat pengomposan dedaunan dapat ditambahkan kotoran hewan atau pupuk urea ke dalam campuran (Aminah et al., 2003). Bahan kompos, seperti sekam, jerami padi, batang jagung, dan serbuk gergaji, memiliki C/N rasio antara 50-100. Daun segar memiliki rasio C/N sekitar 10-20. Proses pembuatan kompos akan menurunkan rasio C/N hingga menjadi 12-15. Tahapan proses pembuatan kompos sebagai berikut: Kondisi kelembaban dan bahan dasar kompos menentukan rasio C/N dan nilai pupuk kompos. Hasil akhir pupuk kompos harus mengandung antara 30-60% bahan organik. Pengujian kimiawi termasuk pengukuran C, N dan rasio C/N merupakan indikator kematangan kompos. Apabila rasio C/N kompos 20 atau lebih kecil berarti kompos tersebut siap digunakan. Akan tetapi, rasio C/N bahan kompos yang baik dapat berkisar antara 5 dan 20 (Sutantob, 2002). Jika rasio C/N telah mencapai angka 12-20 berarti unsur hara yang terikat pada humus telah dilepaskan melalui proses mineralisasi sehingga dapat digunakan oleh tanaman (Novizan, 2007). Bahan organik tidak dapat digunakan secara langsung oleh tanaman karena rasio C/N bahan tersebut tidak sesuai dengan rasio C/N tanah. Penggunaan bahan organik segar (belum mengalami proses dekomposisi) dengan nilai C/N>25 yang dicampur/dibenam di dalam tanah akan mengalami proses penguraian secara aerob (pemberian bahan organik di lahan kering) atau anaerob (pemberian bahan organik di lahan sawah) lebih dahulu. Hal ini menyebabkan ketersediaan N, P, dan K tanah menurun, karena diserap dan digunakan oleh mikroba dekomposer untuk aktivitas peruraian bahan organik. Akibatnya terjadi persaingan antara tanaman dengan mikrob dekomposer dalam pengambilan unsur N, P, dan K. Selain terjadi persaingan dalam pengambilan hara, proses peruraian aerob juga menghasilkan energi/suhu sehingga suhu tanah meningkat. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan tanaman kekurangan hara (pertumbuhan tanaman terhambat) atau bahkan tanaman mati, oleh karena itu penggunaan bahan organik yang mempunyai kadar C tinggi tetapi kadar N, P, dan K

rendah, sebaiknya sebelum digunakan diproses lebih dahulu sampai bahan organik tersebut menjadi kompos. Pada bahan organik yang telah terdekomposisi (menjadi kompos) telah terjadi proses mineralisasi unsur hara dan terbentuk humus yang sangat bermanfaat bagi kesuburan dan kesehatan tanah (Sutantoa, 2002). Ukuran Bahan yang Dikomposkan. Semakin kecil ukuran bahan organik yang dikomposkan maka proses pengomposan akan berlangsung lebih cepat, sebab semakin kecil ukuran bahan maka semakin luas pula permukaan yang dapat dirombak oleh mikroba pengurai. Oleh sebab itu, untuk menyiasati agar proses pengomposan berlangsung lebih cepat maka sebaiknya bahan dicacah menjadi potongan-potongan kecil. Aerasi. Proses pengomposan dapat berlangsung dalam suasana aerob dan anaerob. Dalam aktivitasnya merombak bahan organik pada suasana aerob, mikrob aerobik memerlukan oksigen, sedangkan mikrob anaerobik tidak memerlukan oksigen. Proses pengomposan yang berlangsung tanpa oksigen (anaerob), biasanya akan menimbulkan bau busuk yang disebabkan terlepasnya gas-gas seperti amonia. Selain itu waktunya pun lebih lama. Untuk memberikan cukup aerasi dalam proses pengomposan dapat dilakukan dengan cara menyediakan celah-celah kosong di bagian bawah tumpukan bahan untuk memudahkan sirkulasi udara. Cara lainnya adalah dengan membalik tumpukan secara berkala, setiap seminggu sekali sampai kompos terbentuk. Kelembaban. Keadaan lingkungan yang lembab sangat diperlukan dalam aktivitas mikrob pengurai, sehingga mengatur kelembaban perlu dilakukan dalam pembuatan kompos. Bahan yang kering akan menghentikan aktivitas mikrob yang akan menghambat proses dekomposisi. Bahan yang terlalu basah akan menghambat aerasi yang pada akhirnya juga akan menghambat proses penguraian oleh mikrob. Kelembaban optimal yang disarankan adalah 40-60%. Jika bahan terlalu kering, air perlu ditambahkan, tetapi jika ternyata bahan-bahan yang dikompos banyak

10

mengandung air, maka perlu diupayakan drainase yaitu dengan cara menempatkan bahan pada dasar yang miring. Karena mikrob hanya dapat menyerap hara tanaman dalam bentuk larutan, maka kelembaban yang sesuai diperlukan selama proses dekomposisi berlangsung. Kelembaban paling sedikit 25-30% berat kering bahan. Di bawah kadar air 20%, proses dekomposisi praktis berhenti. Kandungan air limbah organik bervariasi antara 30 dan 75%. Makin banyak yang didekomposisi maka bahan menjadi padat. Ruang pori diisi air dan penghawaan menjadi menurun sehingga terjadi kekahatan oksigen. Kandungan air yang optimum paling sedikit 50-60%. Jumlah air maksimum yang diperbolehkan tergantung pada air yang dikandung bahan dasar dan besarnya air yang dapat diserap tanpa menyebabkan terjadinya perubahan struktur. Di wilayah tropika dan sub tropika perhatian yang lebih besar harus diberikan untuk meningkatkan kandungan air secara optimal selama proses dekomposisi berlangsung. Dalam kondisi yang lembab, maka kelembaban meningkat sangat tinggi karena aliran air rembesan, proses kondensasi dan genangan yang terjadi akibat lapisan tanah yang mampat dan bersifat impermeabel di bawah timbunan kompos. Kondisi anaerob ditunjukkan terjadinya proses peruraian yang menimbulkan bau. Komposisi substratum mempengaruhi kandungan air timbunan kompos. Penambahan bahan yang kasar dan kering dalam jumlah banyak dan disertai pembalikan kompos selama proses dekomposisi berlangsung akan memperbaiki pertukaran gas dan menekan kandungan air. Apabila fraksi tertentu harus dikeringkan di bawah terik matahari, cara ini akan menyebakan kehilangan hara tertentu. (Sutantoa, 2002). Suhu. Proses dekomposisi bahan organik menghasilkan panas sebagai akibat dari terjadinya metabolisme pada mikrob pengurai. Pada awal pengomposan suhu tumpukan bahan akan berada pada kisaran 320C dan akan terus naik sampai 600C bahkan 780C. Tinggi rendahnya suhu tergantung dari bahan yang dikomposkan. Bahan dengan rasio C/N tinggi akan sulit mencapai suhu tinggi, sebaliknya bahanbahan dengan rasio C/N rendah akan cepat mencapai suhu tinggi. Semakin tinggi

11

suhu yang bisa dicapai akan semakin cepat pula proses pengomposan. Kecenderungan tersebut digunakan untuk menyiasati agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat yaitu dengan cara menutup bahan yang dikomposkan dengan terpal sehingga panas yang dihasilkan tidak keluar tetapi bertahan di dalam. Dalam suhu yang stabil mikrob pengurai akan bekerja dengan lebih cepat. Pengomposan akan berlangsung efisien jika dapat mencapai suhu sekurang-kurangnya 600C. Proses pembuatan kompos dapat berlangsung dari enam bulan sampai dua tahun, namun dengan melakukan pengelolaan terhadap lima faktor tersebut di atas, kompos dapat disiapkan dalam satu bulan, bahkan dua minggu untuk kompos dari bahan sampah pasar. Ciri-ciri keberhasilan pembuatan kompos adalah selama proses pengomposan tidak menimbulkan bau busuk dan kompos yang dihasilkan berwarna cokelat kehitaman seperti warna tanah (humus) yang lembab (Aminah et al., 2003)

Sifat Fisik Tanah Bobot Isi Tanah Bobot is tanah merupakan salah satu sifat fisik tanah yang paling sering ditentukan, karena keterkaitannya yang erat dengan kemudahan penetrasi akar di dalam tanah, drainase dan aerasi tanah, serta sifat fisik tanah lainnya. Seperti sifat tanah yang lainnya, bobot isi mempunyai variabilitas spasial (ruang) dan temporal (waktu). Nilai bobot isi bervariasi antara satu tanah dengan tanah yang lain disebabkan oleh variasi kandungan bahan organik, tekstur tanah, kedalaman perakaran, struktur tanah, jenis fauna, dan lain-lain. Nilai bobot isi sangat dipengaruhi oleh pengelolaan yang dilakukan terhadap tanah. Nilai bobot isi terendah biasanya didapatkan di permukaan tanah sesudah pengolahan tanah. Pada tanah yang mudah mengembang dan mengkerut, bobot isi berubah-ubah seiring berubahnya kadar air tanah. Oleh sebab itu, untuk tanah yang mengembang dan mengkerut, nilai bobot isi perlu disertai dengan data kadar air. Tanah dengan bahan organik yang tinggi mempunyai bobot isi yang relatif rendah. Tanah dengan ruang pori total tinggi, seperti tanah liat, cenderung mempunyai bobot isi lebih

12

rendah. Sebaliknya, tanah dengan tekstur kasar, walaupun ukuran porinya lebih besar, namun total ruang porinya lebih kecil, mempunyai bobot isi yang lebih tinggi. Komposisi mineral tanah, seperti dominannya mineral dengan berat jenis partikel tinggi di dalam tanah, menyebabkan bobot isi tanah menjadi lebih tinggi pula (Grossman dan Reinsch, 2002 dalam Kurnia, Agus, Adimihardja, dan Dariah, 2006). Permeabilitas Pergerakan air di dalam tanah merupakan aspek penting dalam hubungannya dengan bidang pertanian. Beberapa proses penting, seperti masuknya air ke dalam tanah, pergerakan air ke zona perakaran, keluarnya air lebih (excess eater) atau drainase, aliran permukaan dan evaporasi, sangat dipengaruhi oleh kemampuan tanah untuk melewatkan air (Kurnia et al., 2006). Parameter atau ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan tanah dalam melewatkan air disebut sebagai konduktivitas hidrolik (hydraulic conductivity) (Klute dan Dirksen, 1986 dalam Kurnia et al., 2006). Secara kuantitatif permeabilitas tanah diartikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan pada suatu media berpori dalam keadaan jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air, dan sebagai media berpori adalah tanah. Kemampuan Memegang Air (Water Holding Capacity) Tidak semua tanah mempunyai kemampuan memegang air yang sama. Kemampuan memegang air setiap jenis tanah ditentukan oleh agregasi tanah, yang sangat tergantung pada tekstur dan kandungan bahan organik dalam tanah. Untuk tanah-tanah bertekstur kasar (pasir) mempunyai kemampuan memegang air yang lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang bertekstur halus (liat). Demikian juga, untuk tanah-tanah dengan kandungan bahan organik yang rendah, kemampuan memegang airnya lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang mempunyai kandungan bahan organik tinggi. Agar tanah tetap mempunyai kemampuan memegang air yang tinggi diperlukan suatu bahan yang dapat meningkatkan agregasi tanah, yang berfungsi sebagai comenting agent, yang disebut bahan pembenah tanah atau soil conditioner. Soil conditioner dapat berupa bahan kimia (buatan) seperti PVA

13

(poly vinyl acid) atau yang bersifat alami yang berupa bahan organik seperti pupuk kandang atau kompos (Kurnia et al., 2006).

Karakteristik Tanaman Markisa Markisa tergolong ke dalam tanaman genus Passiflora sp., berasal dari daerah tropis dan sub tropis di Amerika. Di Indonesia terdapat dua jenis markisa, yaitu markisa ungu (Passiflora edulis Sims) yang tumbuh di dataran tinggi, dan markisa kuning (Passiflora edulis var. Flavicarpa Degner) yang tumbuh di dataran rendah. Sementara itu, ada pula varian markisa yang tumbuh di daerah Sumatera Barat yang disebut sebagai markisa manis (Passiflora edulis forma flavicarpa) (Anonimb, 2010). Tanaman markisa biasanya tumbuh dari biji. Untuk memperoleh bibit yang baik dari biji, diperlukan buah yang matang di pohon dengan ciri-ciri kulit buah berwarna keungu-unguan atau kira-kira 75 % ungu (jenis Passiflora edulis Sims), berwarna kekuning-kuningan atau kira-kira 60 % kuning untuk jenis Passiflora edulis var. Flavicarva Degner. Buah tersebut dipetik langsung dari pohon kemudian disimpan selama satu atau dua minggu sampai buah berkeriput dan matang sempurna sebelum bijinya dikeluarkan. Bila biji segera disemaikan, maka akan berkecambah Selama 2-3 minggu. Bila lendir yang melekat pada biji dibersihkan dan disimpan akan menurunkan daya kecambah (Anonimc, 2010). Jenis markisa yang umum ada dikembangkan di Indonesia ada tiga, yaitu markisa ungu, markisa kuning serta markisa manis. Ketiga jenis markisa ini hidup di dataran yang berbeda, markisa ungu biasanya tumbuh di daerah dataran tinggi, markisa kuning tumbuh di dataran rendah sementara markisa manis khusus tumbuh di daerah Sumatra Barat. Budidaya markisa tidak susah namun karena markisa merupakan jenis tanaman subtropis sehingga untuk hasil maksimal disarankan untuk ditanam pada daerah dengan ketinggian 800-1500 meter diatas permukaan laut dengan suhu sekitar 20-30 derajat celcius. Kemudahan lainnya karena markisa tidak bermasalah dengan jenis tanah apapun asalkan unsur hara serta bahan organiknya cukup. Satu hal lagi, seperti halnya tumbuhan yang lain, markisa akan tumbuh dengan baik dengan mendapatkan air yang cukup (Anonimc, 2011).