Anda di halaman 1dari 5

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

Ekstraksi adalah salah satu proses pemisahan/pemurnian suatu senyawa dari campurannya dengan bantuan pelarut, dimana pelarut tersebut harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material atau bahan lainnya.Pada percobaan ini, ekstraksi dilakukan pada sistemkloroform-asam asetat-air. Air digunakan sebagai pelarut/solvent sedangkan asam asetat merupakan solute atau bahan yang akan diekstrak. Pelarut dicampurkan bersamasama dengan larutan(kloroformdan asam asetat). Campuran dipisahkan menjadi fasa ekstrak dan rafinat. Fasa ekstrak terdiri dari air dan asam asetat, sedangkan fasa rafinat terdiri dari kloroform dan sedikit asam asetat.

3.1

Pengaruh Penambahan Asam Asetat terhadap Nilai Koefisien Distribusi pada Sistem Kloroform-Asam asetat-Air. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan mengamati pengaruh penambahan

asam asetat terhadap nilai koefisien distribusi (K) pada sistemkloroform-asam asetat-air. Hasil percobaan dapat dilihat pada Tabel 3.1 dan Gambar 3.1.

Tabel 3.1 Pengaruh penambahan asam asetat terhadap koefisien distribusi Volum Asam Asetat (ml) Rafinat 0,9 1,5 2 Volum NaOH (ml) Ekstrak 23,2 33 50,4 Rafinat (x) 0,009 0,015 0,02 Konsentrasi asam asetat (M) Ekstrak (y) 0,232 0,33 0,504 25,778 22 23,6 25,2 Koefisien Distribusi (K)

3 4 5 6

26 25.5 Konstanta Distribusi (K) 25 24.5 24 23.5 23 22.5 22 21.5 0 2 4 Volum Asam Asetat (mL) 6 8

Gambar 3.1. Pengaruh Penambahan Asam Asetat terhadap Nilai K

Tabel 3.1 menunjukkan pengaruh variasi volum penambahan asam asetat terhadap nilai konstanta distribusi (K).Semakin besar volum asam asetat yang ditambahkan, maka konsentrasi asam asetat pada fasa ekstrak dan rafinat juga bertambah namun nilai koefisien distribusi tidak konstan. Koefisien distribusi merupakan rasio konsentrasi asam asetat pada fasa ekstrak terhadap konsentrasi asam asetat pada rafinat. Dari Gambar 3.1 dapat dilihat hubungan antara volum penambahan asam asetat dengan konstanta distribusi. Pada gambar tersebut tampak nilai K yang tidak konstan, namun dengan melihat tren pada kurva yaitu melihat nilai antara penambahan 4 mL dan 6 mL asam asetat dapat dilihat nilai K yang semakin besar.

3.2

Mempelajari Aliran Counter Current Hidrolis Dalam Kolom Packing Fasa Air Sebagai Fasa Kontinyu Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan dua cairan yang tidaksaling

larut yaitu kloroform dan air. Pada percobaan ini kolom packingdioperasikan dengan air sebagai fasa kontinyu. Sebelum mengoperasikan alat, terlebih dahulu

melakukan kalibrasi pompa pengatur aliran pelarut. Data hasil kalibrasi pompa dapat ditunjukkan pada Tabel 3.2 dan Gambar 3.2 sebagai berikut:

Tabel 3.2 Data kalibrasi pompa Presentase Stroke (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 Volum (ml) 50 50 50 50 50 50 50 50 50 Waktu (menit) 9,65 9,94 9,96 10,17 11,46 11,48 13,90 18,22 20,20 Laju alir pompa (ml/menit) 310,80 301,81 310,20 294,98 261,78 252,525 215,827 164,65 148,514

325 Laju Alir Pompa (mL/menit) 300 275 250 225 200 175 150 125 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 Persentase Stroke (%)

Gambar 3.2 Grafik Hubungan Presentase Stroke terhadap laju Alir Pompa

Gambar 3.2 menunjukan hubungan presentase stroke yanglinier terhadap laju alir pompa. Semakin besar bukaan valve (presentase stroke) maka laju alir

pada pompa semakin besar pula, dimana laju alir ini akan berpengaruh terhadap waktu flooding. Data pengaruh laju alir terhadap waktu flooding dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan Gambar 3.3.

Tabel 3.3 Pengaruh Laju Alir Terhadap Waktu Flooding Laju alir (ml/menit) 200 250 300 Waktu flooding (menit) 9,26 7,04 4,21

10 Waktu Flooding (menit) 9 8 7 6 5 4 150 200 250 Laju Alir (mL/menit) 300 350

Gambar 3.3. Pengaruh Laju Alir Pompa terhadap Waktu Flooding Laju alir pompa juga mempengaruhi waktu flooding, hal ini terlihat pada Gambar 3.3, yang mana waktu flooding semakin menurun dengan bertambahnya laju alir pompa. Hal ini disebabkan karena perpindahan massa per satuan volum pada laju alir yang lebih tinggi akan lebih kecil sehingga menyebabkan flooding lebih cepat terjadi karena waktu fasa kontinyu (air) mencapai bagian paling atas dari packing lebih singkat.Flooding merupakan fenomena yang harus dihindari pada proses ekstraksi cair-cair.Karenaflooding yang

merupakanperistiwaakumulasibutiranfasadispersi

terusbertambahdanbersatudenganlapisanbatasmenujualiranmasukfasadispersi, sehinggakondisimantaptidaktercapai (Tim penyusun, 2013).

3.3

Menghitung Neraca Massa dan Koefisien Transfer Massa pada Sistem Dari percobaan yang sudah dilakukan, dapat dilakukan perhitungan neraca

massa yang berguna untuk melihat perbedaan konsentrasi asam asetat dalam fasa umpan, fasa rafinat (X)dan dalam fasa ekstrak (Y). Perbedaan ini dapat dilihat pada Tabel 3.4 sebagai berikut :

Tabel 3.4. Perbedaan Konsentrasi Asam Asetat dalam Fasa Umpan, Fasa Rafinat (X) dan dalam Fasa Ekstrak (Y)
Sampel (10 ml) Volum NaOH (ml) Konsentrasi Asam Asetat (M) Koefisien transfer massa

Feed Rafinat Ekstrak

6 0,2 0,6

0,06 0,002 0,006 0,0278 0,0278

Dari Tabel 3.4 didapatkan konsentrasi asam asetat (solute) dalam fasa ekstrak lebih besar (0,006 M) dibandingkan konsentrasi asam asetat dalam fasa rafinat (0,002 M)). Hal ini dikarenakan sifat kimia dari asam asetat yang memiliki gugus polar dalam ikatannya. Gugus polar cenderung berikatan dengan gugus yang juga polar, misalnya air [Hart et al, 2003]. Oleh karena itu, asam asetat akan cenderung terkonsentrasi pada fasa air, karena ikatannya dengan air yang bersifat polar lebih kuat dibandingkan ikatannya dengan fasa organik (kloroform) yang bersifat non polar.Nilai koefisien transfer massa untuk sistem dengan air sebagai fasa kontinyu adalah 0,0278 baik berdasarkan fasa koroform ataupun pada fasa air. Hal ini berarti nilai K pada fasa kloroform sama dengan nilai K pada fasa air.