Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan secara berkelanjutan. Penggunaan air bersih sangat penting untuk komsumsi rumah

tangga,kebutuhan industri dan tempat umum. Karena pentingnya kebutuhan akan air bersih, maka adalah hal yang wajar jika sektor air bersih mendapatkan prioritas penanganan utama karena menyangkut kehidupan orang banyak. Namun saat ini banyak sekali daerah-daerah yang mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih . Jika kita bisa meninjau hal ini lebih dalam. Hal ini terjadi karena pemanfaatan air yang kurang maksimal. Sebagian besar masalah ini ditimbulkan oleh manuisa itu sendiri yang kurang bijaksana dalam memanfaatkannya. Kesulitan dalam memperoleh air bersih sebenarnya dapat ditanggulangi dengan melakukan proses pengolahan pada air baku menggunakan teknologi sederhana pengolahan air. Salah satu teknologi sederhana pengolahan air baku yaitu dengan Saringan Pasir lambat (SPL). Sistem saringan pasir lambat merupakan teknologi pengolahan air yang sangat sederhana dengan hasil air bersih dengan kualitas yang baik. Dalam sistem ini tidak memerlukan bahan kimia dimana biasanya bahan kimia ini sering menjadi kendala dalam proses pengloahan di pedesaan. Jika air baku dialirkan ke saringan pasir lambat maka kotoran-kotoran yang ada di dalamnya akan tertahan oleh media pasir. Oleh karena itu adanya akumulasi kotoran baik dari zat organik maupun zat anorganik pada media filternya akan terbentuk lapisan biologis. Dengan terbentuknya lapisan ini maka di samping proses penyaringan secara fisika dapat juga menghilangkan kotoran secara bio-kimia. Biasanya amonia dengan konsentrasi yang rendah, zat besi, mangan dan zat-zat yang menimbulkan bau dapat dihilangkan dengan car ini. Hasil pengolahan ini memeliki kualitas ynag baik. Biaya operasinya pun juga rendah. Tetapi jika kekeruhan air baku cukup tinggi, maka saat pengendapan bisa menggunakan bahan kimia (koagulan ) agar beban filter tidak terlalu berat. Penggunaan Saringan Pasir lambat sebagai teknologi sederhana pengolahan air baku menjadi air bersih juga telah diterapkan oleh sebagian kecil masyarakat. Studi kasus

Kehandalan Saringan Pasir Lambat Dalam Pengolahan Air Di Instalasi Sabuga, Bandung merupakan salah satu contoh penerapan Saringan Pasir Lambat dalam masyarakat. Berdasarkan hal-hal di atas, dalam Makalah ini akan di bahas lebih lanjut mengenai Saringan Pasir lambat serta Analisa mengenai Studi Kasus Kehandalan Saringan Pasir Lambat Dalam Pengolahan Air Di Instalasi Sabuga, Bandung. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah Sistem Pengolahan Air Baku menjadi Air Bersih dengan

Teknologi Pengolahan Sederhana Saringan Pasir Lambat? 2. Bagaimanakah Analisa Kelayakan pada studi kasus “ Kehandalan Saringan Pasir Lambat Dalam Pengolahan Air Di Instalsi Sabuga, Bandung”? 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan yang diangkat dalam Makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui Sistem Pengolahan Air Baku menjadi Air Bersih dengan Teknologi Pengolahan Sederhana Saringan Pasir Lambat 2. Mengetahui Analisa Kelayakan pada studi kasus“ Kehandalan Saringan Pasir Lambat Dalam Pengolahan Air Di Instalsi Sabuga, Bandung”? . 1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi mahasiswa, dapat menambah pengetahuan tentang Sistem Pengolahan Air Baku menjadi Air Bersih dengan Teknologi Pengolahan Sederhana Saringan Pasir Lambat 2. Bagi masyarakat,dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan air agar dapat diperoleh air bersih untuk kebutuhan masyarakat 3. Bagi pemerintah, dapat membantu upaya memepermudah perolehan iar bersih bagi masyarakat mengingat air bersih merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan.

limpasan bawah tanah. seperti hujan. Terdapat 1.4 triliun kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. melainkan dari sisi kualitas air yang semakin buruk. mengalir menuju Samudera. Penghujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai. Danau atau laut.BAB II KAJIAN TEORI 2. 2.2 Air Bersih Air bersih yaitu air yang memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi.Sungai terdiri dari beberapa bagian. mata air. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan.TSS berat dan berbahaya. dan di beberapa .DO. atau ke sungai yang lain.1 Air zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi. konductivitimemenuhi aturan pemerintah setempat. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Air merupakan kebutuhan yang sangat penting dan dominan bagi kebutuhan manusia. fizik dan biologis. tidak berbau. Dan Secara Kimia air memiliki PH netral (bukan asam/basa)Tidak mengandung seperti racun dan logam TS. Permasalahan saat ini bukan dari segi kuantitas.Parameter-parameter BOD. tetapi tidak di planet lain. 2. Persyaratan disini ditinjau dari persyaratan kandungan kimia.Indonesia dianugerahi curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. COD. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air sangat mencukupi untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Hampir disetiap kegiatan manusia membutuhkan air.untuk rawatan air minum dan untuk rawatan air sanitasi.Secara Fisik air tidak berwarna. tidak berasa.3 Air sungai Sungai merupakan jalan air alami.embun.Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi.

. Saringan air sederhana / tradisional.4 Teknologi sederhana penyaringan air Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih. Ada beberapa cara yang mudah diaplikasikan oleh masyarakat yaitu dengan membuat saringan pasir lambat (SPL). perkotaan.negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air. 2. Saringan Kapas. industri dan banjir akibat kerusakan lahan dan hutan di daerah tangkapan air. sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu. Saringan Arang.kualitas air sungai sebagai sumber air baku cenderung semakin menurun akibat pencemaran air limbah rumah tangga. saringan pasir cepat (SPC). air yang jumlahnya banyak ini tidak bisa dimanfaatkan dan butuh biaya yang tinggi untuk mengubahnya menjadi air bersih. Akibatnya. biopori (Anonim.5 Saringan Pasir Lambat Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Saringan Kain Katun. 2011) 2. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil. Gravity-Fed Filtering System.

dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi disain saringan pasir lambat yakni dengan menggunakan proses saringan pasir lambat "UP Flow (penyaringan dengan aliran dari bawah ke atas). saringan pasir lambat dan bak penampung air bersih. Hal inilah yang sering menyebabkan saringan pasir lambat yang telah dibangun kurang berfungsi dengan baik. Untuk mengatasi problem sering terjadinya kebuntuan saringan pasir lambat akibat kekeruhan air baku yang tinggi. agar beban saringan pasir lambat tidak telalu besar. proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat konvensional terdiri atas unit proses yakni bangunan penyadap. Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan. sehingga memerlukan tenaga yang cucup banyak.2. setelah bersih dipasang lagi seperti semula.1 Saringan Pasir Lambat Konvensional Secara umum. dan cara pencucian media penyaringnya lebih mudah.1. Dengan sistem penyaringan dengan aliran dari bawah ke atas maka waktu operasi menjadi lebih panjang. terutama pada musim hujan.1. Air baku yang digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu tinggi.1. bak penampung. Teknologi saringan pasir lambat yang banyak diterapkan di Indonesia biasanya adalah saringan pasir lambat konvesional dengan arah aliran dari atas ke bawah (down flow).2 Proses Pengolahan 3. terutama pada waktu hujan.1 Penggunaan Teknologi Saringan Pasir lambat secara umum Saringan pasir lambat adalah saringan yang menggunakan pasir sebagai media filter dengan ukuran butiran sangat kecil. 3. sehingga perlu dilakukan pencucian secara manual dengan cara mengeruk media pasirnya dan dicuci. namun mempunyai kandungan kuarsa yang tinggi. maka perlu dilengkapi dengan peralatan pengolahan pendahuluan .1 Sistem Pengolahan Air Baku menjadi Air Bersih dengan Teknologi Pengolahan Sederhana Saringan Pasir Lambat 3.BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISIS 3. sehingga jika kekeruhan air baku naik. Unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat merupakan suatu paket. maka sering terjadi penyumbatan pada saringan pasir.

Gambar 1 Komponen Dasar Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Inlet Keterangan : A. inlet. (Gambar 2). Umumnya disain konstruksi dirancang setelah didapat hasil dari survai lapangan baik mengenai kuantitas maupun kualitas. Saringan pasir lambat dengan kontrol pada outlet. ferosemen. Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. bata semen atau bak fiber glass untuk menampung air dan media penyaring pasir. Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak yang terbuat dari beton. Untuk sistem saringan pasir lambat konvensional terdapat dua tipe saringan yakni :   Saringan pasir lambat dengan kontrol pada inlet (Gambar 1). outlet dan peralatan kontrol. Kran untuk inlet air baku dan pengaturan laju penyaringan B. Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Dalam gambar desain telah ditetapkan proses pengolahan yang dibutuhkan serta tata letak tiap unit yang beroperasi. Kedua sistem saringan pasir lambat tersebut mengunakan sistem penyaringan dari atas ke bawah (down flow). Kran untuk penggelontoran air supernatant .misalnya bak pengendapan awal dengan atau tanpa koagulasi bahan dengan bahan kimia. Bak ini dilengkapi dengan sistem saluran bawah.

C. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih F. Kran distribusi H. Kran pengatur laju penyaringan F. Keterangan : A. Weir inlet E. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor G. Indikator laju alir G. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih D. Kran untuk penggelontoran air supernatant C. Weir inlet kran distribusi H. Bagian Inlet . Kran penguras bak air bersih Hal-hal yang perlu diperhatikan pada sistem saringan pasir lambat antara lain yakni : 1. Kran distribusi I. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor E. Indikator laju air D. Kran penguras bak air bersih Gambar 2 Komponen Dasa Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Outlet. Kran untuk inlet air baku B.

Di atas dinding pembatas ini dapat dilengkapi dengan weir agar limpasan air olahannya sedikit lebih tinggi dari lapisan pasir. . Lapisan Air di Atas media Penyaring (supernatant) Tinggi lapisan air yang berada di atas media penyaring (supernatant) dibuat sedemikian rupa agar dapat menghasilkan tekanan (head) sehingga dapat mendorong air mengalir melalui unggun pasir. 3. maka konsentrasi oksigen dalam air olahan akan bertambah besar. Saluran ini tediri dari saluran utama dan saluran cabang. Weir ini berfungsi untuk mencegah timbulnya tekanan di bawah atmosfir dalam lapisan pasir serta untuk menjamin saringan pasir beroperasi tanpa fluktuasi level pada reservoir. Media penyaring yang umum dipakai yakni pasir silika karena mudah diperoleh. Struktur inlet ini biasanya berbentuk segi empat dan dapat berfungsi juga untuk mengeringkan air yang berada di atas media penyaring (pasir). Dengan adanya air bebas yang jatuh melalui weir. berfungsi juga sebagai weir untuk kontrol tinggi muka air di atas lapisan pasir. Sisten Saluran Bawah (drainage) Sistem saluran bawah berfungsi untuk mengalirkan air olahan serta sebagai penyangga media penyaring.4 mm. harganya cukup murah dan tidak mudah pecah. 2. terbuat dari pipa berlubang yang di atasnya ditutup dengan lapisan kerikil. 4. 6. Lapisan kerikil ini berfungsi untuk menyangga lapisan pasir agar pasir tidak menutup lubang saluran bawah. Media Pasir (Unggun Pasir) Media penyaring dapat dibuat dari segala jenis bahan inert(tidak larut dalam air atau tidak bereaksi dengan bahan kimia yang ada dalam air).2-0. Di samping itu juga berfungsi agar dapat memberikan waktu tinggal air yang akan diolah di dalam unggun pasir sesuai dengan kriteria disain. 5. Bagian Pengeluaran (Outlet) Bagian outlet ini selain untuk pengeluran air hasil olahan. Ruang Pengeluaran Ruang pengeluran terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan dengan sekat atau dinding pembatas.Struktur inlet dibuat sedemikian rupa sehingga air masuk ke dalam saringan tidak merusak atau mengaduk permukaan media pasir bagian atas. Diameter pasir yang digunakan harus cukup halus yakni dengan ukuran 0.

Pengolahan air bersih dengan menggunakan sistem saringan pasir lambat konvensional ini mempunyai keunggulan antara lain :    Tidak memerlukan bahan kimia. Sedangkan beberapa kelemahan dari sistem saringan pasir lambat konvensiolal tersebut yakni antara lain :  Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi.2. Pencucian filter dilakukan secara manual. terutama pada waktu hujan. Akibatnya waktu pencucian filter menjadi pendek. sehingga jika kekeruhan air baku naik. Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik. yakni dengan cara mengeruk lapisan pasir bagian atas dan dicuci dengan air bersih. Hal inilah yang sering menyebabkan saringan pasir lambat yang telah dibangun kurang berfungsi dengan baik. sehingga biaya operasinya sangat murah. Dapat menghilangkan zat besi. sehingga perlu dilakukan pencucian secara manual dengan cara mengeruk media pasirnya dan dicuci.2 Saringan Pasir Lambat (Up Flow) Teknologi saringan pasir lambat yang banyak diterapkan di Indonesia biasanya adalah saringan pasir lambat konvesional dengan arah aliran dari atas ke bawah (down flow). Untuk mengatasi problem sering terjadinya kebuntuan saringan pasir lambat akibat kekeruhan air baku yang tinggi.1. mangan. sehingga sering terjadi kebutuan. 3. dan setelah bersih dimasukkan lagi ke dalam bak saringan seperti semula. setelah bersih dipasang lagi seperti semula. dan warna serta kekeruhan.   Kecepatan penyaringan rendah.  Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana. sehingga memerlukan tenaga yang cucup banyak. maka sering terjadi penyumbatan pada saringan pasir. Ditambah lagi dengan faktor iklim di Indonesia yakni ada musim hujan air baku yang ada mempunyai kekeruhan yang sangat tinggi. dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi disain saringan pasir lambat yakni dengan menggunakan proses saringan pasir lambat "UP Flow” (penyaringan dengan aliran dari bawah ke atas). terutama pada musim hujan. sehingga memerlukan ruangan yang cukup luas. . beban filter menjadi besar.  Karena tanpa bahan kimia. karena proses penyaringan berjalan secara fisika dan biokimia. tidak dapat digunakan untuk menyaring air gambut.

maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar. Gambar (3) : Diagram proses pengolahan air bersih dengan teknologi saringan pasir lambat "Up Flow" ganda. dan pasir kwarsa / silika. jika saringan telah jenuh atau buntu. dapat dilakukan pencucian balik dengan cara membuka kran penguras. air bersih yang berada di atas lapisan pasir dapat berfungi sebagai air pencuci media penyaring (back wash). dan dapat dilakukan kapan saja. Diagram proses pengolahan serta contoh rancangan konstruksi saringan pasir lambat Up Flow ditunjukkan pada Gambar (3). . Dengan adanya pengurasan ini. serta hasilnya sama dengan saringan pasir yang konvesional.Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan. Air yang keluar dari bak saringan pasir Up Flow tersebut merupakan air olahan dan di alirkan ke bak penampung air bersih. Saringan pasir lambat "Up Flow" ini mempunyai keunggulan dalam hal pencucian media saringan (pasir) yang mudah. Selanjutnya dari bak saringan awal. maka perlu dilengkapi dengan peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan "Up Flow" dengan media berikil atau batu pecah. air dialirkan ke bak saringan utama dengan arah aliran dari bawah ke atas (Up Flow). selanjutnya didistribusikan ke konsumen dengan cara gravitasi atau dengan memakai pompa. Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Dengan demikian pencucian media penyaring pada saringan pasir lambat Up Flow tersebut dilakukan tanpa pengeluran atau pengerukan media penyaringnya. Dengan sistem penyaringan dari arah bawah ke atas (Up Flow).

sambungan dll.100 cm (SNI – 3981 : 2008). Perpipaan menggunakan pipa PVC (poly vinyl chloride) diameter 4". .1.c.1 Kriteria Perencanaan Saringan Pasir Lambat “Up Flow” Untuk merancang saringan pasir lambat "Up Flow". 3.a sampai dengan gambar 4.2-0.1. Secara umum. Kecepatan penyaringan antara 0.2. Jika lebih besar dari 5 NTU perlu dilengkapi dengan bak pengendap dengan atau tanpa bahan kimia. dan pasir sungai/pasir silika untuk lapisan penyaring. Media filter yang digunakan yakni batu pecah (split) ukuran 2-3 cm untuk lapisan penahan.2 Gambar Teknis Saringan Pasir Lambat “Up Flow” Salah satu rancangan detail konstruksi sistem saringan pasir lampat “Up Flow" dengan kapasitas 100 M3 per hari ditunjukkan seperti pada Gambar 4.4 mm Jumlah bak penyaring minimal dua buah. Bahan yang digunakan untuk pembuatan percontohan unit pengolahan air bersih dengan proses saringan pasir lambat Up Flow antara lain :    Bak penenang manupun bak penyaring dibuat dengan konstruksi beton cor. beberapa kriteria perencanaan yang harus dipenuhi antara lain :  Kekeruhan air baku lebih kecil 5 NTU. Diameter pasir yang digunakan kira-kira 0.3.40 cm.4 m3/m2/jam (SNI – 3981 : 2008).1 – 0.150 cm (SNI – 3981 : 2008). proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat Up Flow terdiri atas unit proses:             Bangunan penyadap Bak Penampung / bak Penenang Saringan Awal dengan sistem "Up Flow" Saringan Pasir Lambat Utama "Up Flow" Bak Air Bersih Perpipaan. Tinggi ruang bebas antara 25.1.2. Tinggi Lapisan Pasir dan kerikil 60 . Tinggi muka air di atas media pasir 100 . kran.1.

b : Rancangan alat pengolah air bersih " Saringan Pasir Lambat Up Flow" kapasitas 100 M3/hari (Potongan A –A) .Gambar 4.a : Tampak atas Rancangan alat pengolah air bersih " Saringan Pasir Lambat Up Flow" kapasitas 100 m3/hari Gambar 4.

Dengan demikian pencucian pasir dapat dilakukan tanpa pengerukan media pasirnya. dan warna serta kekeruhan. sehingga air hasil saringan yang berada di atas lapisan pasir berfungsi sebagai air pencuci. Potongan B-B dan C-C.1.c : Rancangan " Saringan Pasir Lambat Up Flow" kapasitas 100 M 3/hari.1.4 Operasi Dan Perawatan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal pengoperasian saringan pasir lambat dengan arah aliran dari atas ke bawah antara lain yakni : . sehingga biaya operasinya sangat murah.2.2. Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik.1. karena proses penyaringan berjalan secara fisika dan biokimia. mangan. 3. Dapat menghilangkan zat besi. 3.3 Keunggulan Saringan Pasir Lambat Dengan Arah Aliran Dari Bawah Ke Atas Pengolahan air bersih menggunakan sistem saringan pasir lambat dengan arah aliran dari bawah ke atas mempunyai keuntungan antara lain :    Tidak memerlukan bahan kimia.  Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana.1.  Perawatan mudah karena pencucian media penyaring (pasir) dilakukan dengan cara membuka kran penguras.Gambar 4.

2. Penelitian dilakukan pada instalasi pasir lambat Sabuga. Bandung” 3. dari segi tingkat keefektifan pengolahannya. Bandung. Instalasi ini dioperasikan selama 12 jam dalam satu hari. dengan system saringan pasir dua tingkat dan ketebalan pasir masing-masing tingkat sebesar 40 cm.  Pencucian media penyaring (pasir) pada saringan awal (pertama) sebaiknya dilakukan minimal setelah 1 minggu operasi. Kondisi eksisting instalasi Sabuga dapat terlihat pada gambar 5 dengan titik sampling terlihat pada Gambar 6.4 minggu operasi.2 Studi kasus yang diambil adalah penelitian mengenai kehandalan unit saringan pasir lambat dalam pengolahan air. maka pencucian dapat dilakukan dengan mengalirkan air baku ke bak saringan pasir tersebut dari bawah ke atas dengan kecepatan yang cukup besar sampai lapisan pasir terangkat (terfluidisasi). . Studi Kasus “ Kehandalan Saringan Pasir Lambat Dalam Pengolahan Air Di Instalsi Sabuga. sedangkan pencucian pasir pada saringan ke dua dilakukan minimal setelah 3 .4 m3/m2/jam).1 Studi Kasus 3. Debit air yang masuk ke dalam unit saringan pasir lambat sebesar 1 L / menit. Kecepatan penyaringan harus diatur sesuai dengan kriteria perencanaan. Selanjutnya air yang bercampur lumpur yang ada di atas lapisan pasir dipompa keluar sampai air yang keluar dari lapisan pasir cukup bersih. Pengolahan pendahuluan yang digunakan pada instalasi ini adalah tanki aliran rata – rata (TAR).  Pencucian media pasir dilakukan dengan cara membuka kran penguras pada tiap-tiap bak saringan. dan bak pengendap. sehingga kotoran yang ada di dalam lapisan pasir terangkat ke atas. Unit saringan pasir pada instalasi ini memiliki dimensi sebesar 37 cm. Jika lupur yang ada di dalam lapisan pasir belum bersih secara sempurna.1 – 0.  Jika kekeruhan air baku cukup tinggi sebaiknya kecepatan diatur sesuai dengan kecepatan disain mimimum (0. kemudian lumpur yang ada pada dasar bak dapat dibersihkan dengan cara mengalirkan air baku sambil dibersihkan dengan sapu sehingga lumpur yang mengendap dapat dikelurakan. Instalasi ini baru beroperasi sejak 3 bulan yang lalu.

Titik sampling pada Instalasi Sabuga Gambar 7. Instalasi saringan pasir lambat Sabuga Gambar 6.Gambar 5. Instalasi pengolahan air sungai Cikapundung di Saboga .

Menurut SNI – 3981 : 2008. bagi pasir media yang baru pertama kali dipasang dalam bak saringan memerlukan masa operasi penyaringan awal.8% . dan mikroorganisme mikroskopik. Dengan demikian. secara normal dan . air bersih yang dihasilkan dari instalasi saringan pasir lambat sudah memenuhi standar baku mutu untuk air bersih. plankton. Sistemsaringan pasir lambat dua tingkat pada instalasi Saboga Berdasarkan hasil pemeriksaan di laboratorium diketahui bahwa saringan pasir lambat pada instalasi Sabuga dapat menghilangkan partikel – partikel penyebab kekeruhan hingga mencapai efisiensi 67.Gambar 8. dan efisiensi penyisihan untuk zat organik sebesar 23. Selain itu. menyisihkan kandungan mangan dengan efisiensi 90.6% . saringan pasir lambat dapat mengurangi kandungan besi pada air baku dengan efisensi 64. meskipun efisiensi belum mencapai yang diharapkan.10%.8%. Kekeruhan disebabkan oleh adanya partikel tersuspensi dan koloid seperti lumpur. senyawa organik dan anorganik dengan ukuran sangat halus.

Pemberhentian dan pengoperasian saringan pasir lambat yang tidak terkontrol dengan baik dapat merusak kualitas fitrat. sehingga saringan pasir lambat harus selalu dioperasikan 24 jam per hari. Hal inilah yang memungkinkan belum optimalnya proses biokimia dan biologis dalam unit ini. sehingga laju filtrasi yang tiba – tiba meningkat harus dicegah. saringan pasir lambat ini baru dioperasikan 2 bulan. Salah satu hal yang penting dalam pengoperasian saringan pasir lambat adalah kecepatan filtrasi (Q/A). Pada Instalasi Sabuga. hal tersebut bukanlah masalah karena air baku yang digunakan adalah air sungai sehingga akan tetap tersedia dalam debit yang besar. Pengaturan debit yang masuk harus selalu konstan. karena pada saat pemeriksaan efisiensi penyisihan. berdasarkan pengukuran debit yang dilakukan pada saat sampling diketahui bahwa kecepatan saringan pasir lambat pada instalasi Sabuga adalah 0. agar pengolahan tetap akan berjalan walaupun debit air baku dalam debit kecil. . Instalasi ini beroperasi selama 12 jam sehari sehingga dapat menghasilkan total produksi sekitar 1140 L/hari. Tujuan operasi awal adalah untuk mematangkan media pasir penyaring dan membentuk lapisan kulit saringan. Hal inilah yang membuat saringan pasir lambat pada Instalasi Sabuga belum terlalu efektif dalam mengurangi beberapa parameter seperti kekeruhan dan besi. pengoperasian dari saringan pasir lambat ini hanya dilakukan 12 jam dalam satu hari. seperti yang terlihat pada instalasi ini.terus menerus selama waktu kurang lebih tiga bulan. dan tidak dibutuhkan operator dalam jumlah yang banyak. Dari hasil pengamatan di lapangan diketahui bahwa unit saringan pasir lambat merupakan suatu teknologi yang sangat mudah untuk diterapkan. kualitas filtrat atau air hasil olahan dari saringan pasir lambat.095 m/jam. biasanya belum memenuhi persyaratan air minum. unit saringan pasir lambat ini tidak dioperasikan selama 24 jam penuh. karena saringan pasir lambat yang memang didukung oleh adanya bakteria yang dapat mengurangi besi dapat mengurangi besi sampai 95%. Pada instalasi ini. Kinerja dari saringan pasir lambat akan sangat baik pada saat laju filtrasi konstan. yang kelak akan berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses biokimia dan proses biologis. Kondisi inilah yang menyebabkan pada instalasi ini memiliki efisiensi yang kecil dalam penyisihan besi. Selama proses pematangan.

8%. system pada saringan pasir lambat sabuga merupakan system saringan pasir dua tingkat. Kecepatan filtrasi dari saringan pasir lambat filtrasi harus berada pada rentang 0. tidak memenuhi standar SNI. Padahal. air baku yang berasal dari air sungai Cikapundung memiliki kekeruhan 8 NTU. menurut SNI – 3981 : 2008. tinggi lapisan pasir hanya setebal 0.2.2 mm) setebal 0. sehingga diameter pasir memenuhi ketentuan yang disyaratkan. dan ketinggian air di atas media yang dianjurkan adalah 1 – 1. Media filter yang digunakan merupakan pasir silika terdegradasi. Bila ditotal.3 m diatas lapisan silika (0.35 mm) setebal 0. Namun pada instalasi Saboga kadar besi hanya berkurang 64. Bandung” 3. yaitu lapisan silika (0. Maka instalasi ini memang tidak didesain untuk mencukupi kebutuhan air bersih yang besar.2 Analisa Kelayakan Studi Kasus “ Kehandalan Saringan Pasir Lambat Dalam Pengolahan Air Di Instalsi Sabuga.2. Pada instalasi Sabuga.6m. dimana tiap tingkat memiliki tebal pasir 0.5 m.2 mm dan 0.095 m/jam. didapatkan unit saringan pasir lambat dengan metode kering sehingga tidak ada genangan air di atas permukaan saringan pasir lambat. dan pengoperasiannya juga tidak dilakukan 24 jam. 35 mm. Maka instalasi ini memenuhi persyaratan SNI. ketebalan pasir berkisar 0.2-0.4mm. menurut SNI – 3981 : 2008. Tingkat kekeruhan air baku harus lebih kecil 5 NTU. Pasir silica yang digunakan memiliki diameter 0. Untuk Instalasi Sabuga.2. sehingga instalasi ini memiliki unit pengolahan pendahuluan berupa bak pengendap. Saringan pasir lambat dapat mengurangi kadar besi hingga 95%. tidak memenuhi syarat minimal 0. Jika lebih besar dari 5 NTU perlu dilengkapi dengan bak pengendap dengan atau tanpa bahan kimia. Namun.1 m.1 – 0. Diperkirakan penyebab utama berkurangnya efisiensi karena instalasi ini baru dioperasikan 2 bulan. .6 – 1m.4m.4m. Salah satu parameter yang penting dalam mendesain saringan pasir lambat adalah ketinggian pasir.3.4 m/jam (SNI 2008). Telah diketahui bahwa kecepatan saringan pasir lambat pada instalasi Sabuga hanya 0.1 Analisa Teknis Dalam mendesain instalasi saringan pasir lambat harus diperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku sehingga didapatkan hasil yang maksimal. Ketentuan diameter pasir adalah sekitar 0. yaitu untuk keperluan labolatorium ITB. Hal ini disebabkan instalasi Sabuga hanya merupakan instalasi skala kecil.

kebutuhan tersebut tidak akan dapat terpenuhi hanya dengan menggunakan teknologi saringan pasir lambat. Teknologi saringan pasir lambat hanya dapat mencukupi kebutuhan skala kecil. Hal tersebut akan secara langsung berdampak pada efisiensi saringan pasir lambat dalam mengolah air baku. Ini adalah resiko dari teknologi saringan pasir lambat. selain memberikan kemudahan kesulitan pada sistim up flow adalah resiko waktu operasi yang lebih lama sehingga memberikan imbas pada sisi ekonomi yaitu biaya operasional dan perawatannya. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan modifikasi sistemnya yaitu dengan saringan pasir lambat up flow dimana dengan saringan ini aliran yang terjadi dari bawah ke atas. Saringan pasir lambat juga memiliki resiko dilihat dari segi pengoperasiannya. meskipun pemerolehan air baku dapat di bilang mudah namun seperti yang telah kita ketahui. Dan kekeruhan air sungai rata-rata di indonesia melebihi syarat kekeruhan air baku yang bisa di saring oleh saringan pasir lambat. Hal ini disebabkan karena apabila kekeruhan sungai yang melebihi standart menggunakan teknologi sederhana saringan pasir lambat maka akan mempengaruhi kinerja filtrat yang terdapat pada saringan. . secara normal dan terus menerus selama waktu kurang lebih tiga bulan. sehingga apabila terjadi peningkatan kebutuhan air bersih secara signifikan. 3. Jika ditinjau dari segi air baku yang digunakan dalam instalasi (air baku yang di maksud disini yaitu air sungai).2.2 Analisa Resiko Pada saringan pasir lambat down flow pada saat musim hujan terjadi kekeruhan air baku naik yang menyebabkan tersumbatnya saringan pasir. dimana kebutuhan yang dapat tercukupi adalah konstan pada skala kecil. Namun.bagi pasir media yang baru pertama kali dipasang dalam bak saringan memerlukan masa operasi penyaringan awal.2. air sungai di indonesia sebagian besar telah banyak yang tercemar. Hal ini menyebabkan pembersihan yang dilakukan lebih mudah dan mengurangi resiko penyumbatan pada saat musim hujan. Saringan pasir lambat harus selalu dioperasikan 24 jam per hari karena pemberhentian dan pengoperasian saringan pasir lambat yang tidak terkontrol dengan baik dapat merusak kualitas fitrat.

. Proses pengolahan air tidak menggunakan bahan kimia sehingga biaya pengoperasiannya lebih murah.2. Dengan demikian dapat disimpulkan terjadi keseimbangan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya yang dibutuhkan. Biaya pemeliharaan juga mudah dan murah. yaitu hanya dengan pencucian media pasirnya. Namun.3 Analisa Ekonomi Keuntungan yang diperoleh dari teknologi saringan pasir lambat diitinjau dari segi outputnya. air bersih yang dihasilkan hanya sekitar 1000 L/hari sehingga tidak akan mencukupi kebutuhan skala besar. Instalasi saringan pasir lambat dapat dikatakan layak apabila hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan skala kecil. teknologi pada saringan pasir lambat menggunakan teknologi yang sederhana dan bahan baku yang digunakan mudah didapat di pasaran. hasil air yang didapat cukup bersih dan memenuhi standar baku kebersihan. Bila dilihat dari segi biaya.3.2.

4. Kelayakan dari perencanaan teknologi saringan lambat dapat ditinjau berdasarkan analisis teknis. Selain itu. Instalasi saringan pasir lambat Sibuga dapat dikatakan layak karena meskipun terdapat beberapa bagian yang tidak memenuhi standar.1 Kesimpulan Pengolahan air baku dengan saringan pasir lambat memiliki kehandalan dalam berbagai hal yaitu keefektifan pengolahan air baku serta pengoperasian dan perawatannya yang mudah dan murah. dan kontinuitas dari pengoperasian. dan analisis ekonomi. air bersih yang dihasilkan telah memenuhi standar baku mutu untuk air bersih. Karenanya.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.2 Saran Mutu air bersih yang dihasilkan pada instalasi saringan pasir lambat Sabuga belum optimal karena efisiensinya belum mencapai efisiensi yang diharapkan. dan zat organic dalam air baku. terjadi keseimbangan antara manfaat yang diperoleh dan biaya yang diperlukan. Keefektifan pengolahan air baku dapat dilihat dari efisiensi teknologi ini dalam mengurangi kadar besi. disarankan untuk menambah waktu pengoperasian menjadi 24 jam sehari dan dilakukan perawatan paling tidak selama 3 bulan sebelum dioperasikan. analisis resiko. kualitas air yang akan diolah. mangan. Dengan demikian diharapkan efisiensi saringan pasir lambat dalam mengolah air baku menjadi air bersih akan bertambah. . Namun terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian saringan pasir lambat agar mencapai pengolahan yang efektif yaitu kecepatan filtrasi.